Kuis Teori Dan Kritik Arsitektur

  • Published on
    14-Sep-2015

  • View
    5

  • Download
    0

DESCRIPTION

arch

Transcript

NAMA : ABD GAFFAR AGUSKELAS: II/ ANIM: 60100114091RESUMEKritik Arsitektur adalahmerupakan rekaman dari tanggapan terhadap lingkungan buatan (built environment). Kritik meliputi semua tanggapan termasuk tanggapan negatif dan pada hakekatnya kritik bermaksud menyaring dan melakukan pemisahan.Metode kritik arsitektur terdiri dari : Kritik Normatif; kritik ini berdasarkan pada pedoman baku normatif. Kritik Penafsiran atau Kritik Interpretif; kritik ini merupakan penafsiran dan bersifat pribadi. Kritik Deskriptif; bersifat tidak menilai, tidak menafsirkan, semata-mata membantu orang melihat apa yang sesungguhnya ada, menjelaskan proses terjadinya perancangan bangunan.Seperti yang dapat kita saksikan di sekeliling kita, dewasa ini muncul fenomena menjamurnya rumah-rumah bergaya minimalis di Indonesia. Menurut saya, arsitektur minimalis ini merupakan turunan dari teori yang dikemukakan oleh Walter Gropius, pelopor International Style pada sekitar tahun 1930. Yang menekankan pada fungsionalitas. Bahkan ada jargon yang berbunyi ornament is crime atau less is more yang dikemukakan Mies Van Der Rohe.Dan sekarang arsitektur minimalis ini kembali banyak digunakan. Awalnya di negara-negara barat yang menekankan pada fungsionalitas, misal atap beton, tidak ada ornamen, bukaan-bukaan dibuat sefungsional mungkin, tidak ada dekorasi. Lalu rumah-rumah di Indonesia pun banyak menggunakan arsitektur minimalis ini.Namun apa yang terjadi kemudian sangatlah melenceng dari seperti apa arsitektur minimalis seharusnya. Arsitektur minimalis yang menampilkan keindahan dari kesederhanaan dan fungsionalitas ini bergeser menjadi mindset minimalis yang sama sekali berbeda. Minimalis menjadi identik dengan garis-garis horizontal maupun vertikal pada fasade bangunan. Seringkali garis-garis tersebut tidak fungsional sama sekali. Hanya tempelan tanpa fungsi.

Selain itu meniru mantah-mentah desain minimalis dari luar negeri, seperti penggunaan atap beton, juga sangat tidak cocok diterapkan di Indonesia yang beriklim tropis. Pada musim kemarau, bagian dalam bangunan akan menjadi sangat panas, dikarenakan udara panas yang biasanya pada rumah beratap kuda-kuda dapat mengalir ke atas, pada atap beton tidak bisa. Pada musim hujan, atap beton ini seringkali menimbulkan masalah kebocoran. Maka diperlukan banyak treatment khusus jika ingin menggunakan atap beton. Dan ini tentu membuat biaya membengkak.Sistem estetika tidak lagi dikembangkan dari teori arsitektur. Padahal teori-teori arsitektur tersebut biasanya memiliki dasar, alasan, dan filosofi yang kuat. Dan pencetusnya sudah melakukan research dan kajian mengenai teori tersebut. Sehingga ketika merancang dengan langgam dan teori tertentu, bangunan tersebut memiliki makna dan nilai. Tidak demikian yang terjadi di Indonesia, gaya minimalis telah dirusak makna dan nilai yang terkandung di baliknya, berbalik arah menjadi sebuah bangunan yang mahal, perawatannya pun mahal, banyak ornamen minimalis yang tidak perlu, bahkan seringkali di cat dengan warna-warna yang mencolok. Hal ini jauh dari kesederhanaan dan fungsionalitas yang diusung.

Recommended

View more >