GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI YOGYAKARTA /Galeri... · Untuk itu kritik dan saran yang dapat menambah serta memperluas ... Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Islam 55 3. Arsitektur Vernakuler Indonesia 62

  • Published on
    01-Feb-2018

  • View
    227

  • Download
    12

Transcript

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

    GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI YOGYAKARTA

    TUGAS AKHIR

    Diajukan Sebagai Syarat Untuk Mencapai

    Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

    Universitas Sebelas Maret

    DISUSUN OLEH:

    ANINDITA PRASASTI ISWARI

    I 0207006

    DOSEN PEMBIMBING:

    Ir. Widi Suroto, MT

    Fauzan Ali Ikhsan, ST, MT

    JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user ii

    MATA KULIAH : TUGAS AKHIR

    PERIODE : JULI-SEPTEMBER 2011

    JUDUL : GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI

    YOGYAKARTA

    PENYUSUN : ANINDITA PRASASTI ISWARI ( I 0207006 )

    Menyetujui,

    Surakarta, 10 Oktober 2011

    Mengesahkan,

    Pembimbing I

    Ir. Widi Suroto, MT NIP. 19560905 198601 1 001

    Pembimbing II

    Fauzan Ali Ikhsan, ST, MT NIP. 197312272 00003 1 003

    Pembantu Dekan I

    Fakultas Teknik UNS

    Kusno Adi Sambowo, ST, M.Sc, Ph.D

    NIP. 19691026 199503 1 002

    Ketua Jurusan Arsitektur FT UNS

    Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, MT NIP. 19620610 199103 1 002

    Ketua Prodi Arsitektur FT UNS

    Kahar Sunoko, ST. MT NIP. 19690320 199503 1 002

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user iii

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT yang menguasai

    alam semesta dan dengan kemurahan-Nya telah memberikan kesempatan dan

    kesehatan dalam menyelesaikan pengerjaan Tugas Akhir ini.

    Tugas Akhir ini penulis susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar

    kesarjanaan strata satu pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas

    Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari bahwa proses Tugas akhir ini hanya

    merupakan sebagian kecil ribuan kilometer jalan yang harus penulis tempuh.

    Semoga dengan terselesaikannya Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat

    untuk menapaki jalan selanjutnya.

    Tugas Akhir ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan, bimbingan dari

    berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terimakasih yang tulus kepada :

    1. Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, MT selaku Ketua Jurusan Arsitektru Fakultas

    Teknik UNS

    2. Kahar Sunoko, ST, MT, selau Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas

    Teknik UNS

    3. Sri Yuli, ST, MT dan Yosafat Winarno, ST, MT selaku Panitia Tugas Akhir

    4. Ir. Widi Suroto, MT selaku pembimbing I yang telah dengan sabar

    memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis

    5. Fauzan Ali Ikhsan, ST, MT, selaku pembimbing II. Terima kasih atas

    pencerahan-pencerahan yang telah diberikan

    6. Ir. Musyawaroh, MT selaku Pembimbing akademik yang telah memberikan

    bimbingan dan arahannya

    7. Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, MT dan Avi Marlina, ST, MT, selaku dosen

    penguji. Terimakasih atas segala masukan sebagai penyempurna tugas saya

    8. Seluruh Bapak dan Ibu dosen serta staff pengajar Jurusan Arsitektur, Fakultas

    Teknik Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan ilmunya

    9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

    membantu memberikan dorongan dan bantuan dalam penyusunan laporan ini

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user iv

    Menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan akan keterbatasan

    kemampuan, maka tentu terdapat kelemahan-kelemahan dan kekurangan dari

    tulisan ini. Untuk itu kritik dan saran yang dapat menambah serta memperluas

    lingkup pengetahuan penulis akan diterima dengan senang hati. Akhir kata

    semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

    Surakarta, Oktober 2011

    Penulis

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user v

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user vi

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL i

    HALAMAN PENGESAHAN ii

    KATA PENGANTAR iii

    SPECIAL THANKS TO v

    DAFTAR ISI vi

    DAFTAR TABEL xi

    DAFTAR GAMBAR xii

    BAB I. PENDAHULUAN

    A. Judul 1

    B. Pemahaman Judul

    1. Galeri 1

    2. Arsitektur Nusantara 1

    3. Yogyakarta 1

    C. Latar Belakang

    1. Melestarikan Arsitektur Nusantara 2

    2. Bentuk Apresiasi terhadap Karya-karya Arsitektur 3

    3. Arsitektur merupakan Karya Seni 4

    4. Arsitektur terus Berkembang 5

    D. Permasalahan dan Pesoalan

    1. Permasalahan 6

    2. Persoalan 6

    E. Tujuan dan Sasaran

    1. Tujuan 7

    2. Sasaran 7

    F. Batasan dan Lingkup Pembahasan

    1. Batasan 7

    2. Lingkup Pembahasan 8

    G. Metode Pembahasan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user vii

    1. Metode Penemuan Masalah 8

    2. Metode Mencari Data 8

    3. Metode Pengolahan Data 9

    4. Metode Pemecahan Masalah 9

    5. Metode Penulisan 9

    H. Sistematika dan Kerangka Penulisan 10

    BAB II. TINJAUAN GALERI SENI DAN KOTA YOGYAKARTA

    SEBAGAI LOKASI TERPILIH

    A. Galeri Seni

    1. Pemahaman Galeri 11

    2. Sejarah Galeri 11

    3. Perkembangan Fungsi Galeri 12

    4. Tipe Galeri 15

    5. Macam Galeri Seni 17

    6. Lingkup Kegiatan Galeri 19

    7. Macam Seni dalam Arsitektur 20

    8. Ruang Pamer 23

    B. Yogyakarta sebagai Lokasi Terpilih

    1. Kondisi Fisik 25

    2. Kondisi Non Fisik 27

    C. Beberapa Pameran Arsitektur di Yogyakarta

    1. Jogja Istimewa Merangkul Dunia 28

    2. Seminar dan Workshop GIS Urban Thermal Comfort 29

    3. Pameran Arsitektur Urbanizing World 30

    4. Pameran Arsitektur UAJY Warner Sobek-Designing the

    Future 30

    5. Pameran Karya Lomba Fotografi dan Desain Poster Sepekan

    Arsitektur 2011 31

    6. Pameran Architecture for All di FTSP UII 31

    7. Pameran dan Diskusi Arsitektur 32

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user viii

    D. Studi Banding

    1. Empiris

    Selasar Sunaryo Art Space 32

    2. Preseden

    Rumah Seni Cemeti Yogyakarta 37

    Museum Soekarno di Blitar 39

    BAB III. TINJAUAN ARSITEKTUR NUSANTARA

    A. Arsitektur Nusantara

    1. Pemahaman Arsitektur Nusantara 42

    2. Sejarah Nusantara 42

    3. Nusantara dan Jaringan Asia 45

    4. Sejarah Perkembangan Arsitektur Indonesia 46

    B. Arsitektur di Nusantara

    1. Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha 46

    2. Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Islam 55

    3. Arsitektur Vernakuler Indonesia 62

    C. Konsepsi Arsitektur Nusantara 77

    D. Arsitektur Nusantara sebagai Tampilan Fisik Bangunan 79

    BAB IV. GAGASAN GALERI YANG DIRENCANAKAN

    A. Pemahaman Galeri 82

    B. Fungsi, Visi dan Misi Galeri

    1. Fungsi 82

    2. Visi 83

    3. Misi 83

    C. Jenis Galeri 84

    D. Status Galeri 84

    E. Pengelola Galeri 84

    F. Lingkup Kegiatan 84

    G. Materi Pameran dan Koleksi 85

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user ix

    H. Sasaran Pengguna 86

    I. Frekuensi Kegiatan 88

    J. Bentuk dan Sistem Pelayanan

    1. Bentuk Pelayanan 88

    2. Sistem Pelayanan 88

    BAB V. ANALISA PENDEKATAN PERENCANAAN DAN

    PERANCANGAN GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA

    A. Analisa Makro

    1. Proses Penentuan Pemilihan Lokasi 89

    2. Analisa Tapak

    a) Klimatologi 97

    b) Pencapaian 98

    c) Sirkulasi 98

    d) View 101

    e) Noise 101

    f) Tampilan Fisik Bangunan Sekitar 102

    g) Vegetasi 102

    B. Analisa Mikro

    1. Analisa Pola Kegiatan 104

    2. Analisa Peruangan

    a) Analisa Kebutuhan Ruang 106

    b) Analisa Besaran Ruang 108

    3. Analisa Pola Hubungan Ruang 113

    4. Analisa Persyaratan dan Perencanaan Ruang 115

    5. Analisa Zonifikasi Kelompok Kegiatan 119

    6. Analisa Gubahan Massa 120

    7. Analisa Bentuk dan Tampilan Bangunan 124

    8. Proses Penentuan Landscape Bangunan 127

    9. Analisa Struktur dan Utilitas

    a) Struktur 129

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user x

    b) Utilitas 131

    BAB VI. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

    GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI YOGYAKARTA

    A. Konsep Makro

    1. Penentuan Pemilihan Lokasi 136

    2. Tapak

    a) Klimatologi 138

    b) Pencapaian 138

    c) Sirkulasi 138

    d) View 139

    e) Noise 140

    f) Tampilan Fisik Bangunan Sekitar 141

    g) Vegetasi 141

    B. Konsep Mikro

    1. Pola Kegiatan 142

    2. Peruangan

    a) Kebutuhan Ruang 143

    b) Besaran Ruang 145

    3. Pola Hubungan Ruang 147

    4. Persyaratan dan Perencanaan Ruang 150

    5. Zonifikasi Kelompok Kegiatan 153

    6. Gubahan Massa 154

    7. Bentuk dan Tampilan Bangunan 156

    8. Penentuan Landscape Bangunan 157

    9. Struktur dan Utilitas

    c) Struktur 157

    d) Utilitas 158

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xi

    DAFTAR TABEL

    Tabel ii.1. Nama Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang Memiliki Jurusan

    Arsitektur 27

    Tabel ii.2. Aktifitas dan Fasilitas Selasar Sunaryo Art Space 37

    Tabel iii.1. Tinggalan Sejarah Kerajaan-kerajaan selama Era Hindu-

    Buddha 47

    Tabel iii.2. Perbedaan Bentuk dan Langgam Candi Jawa Tengah dan Jawa

    Timur 54

    Tabel iii.3. Rumah Tradisional di Indonesia 74

    Tabel iv.1. Jumlah Rumah Tradisional Indonesia 86

    Tabel iv.2. Jumlah Tinggalan Sejarah Kerajaan era Hindu-Buddha 86

    Tabel v.1. Data Pusat Pertumbuhan Kabupaten Sleman 91

    Tabel v.2. Data Potensi Tiap Kecamatan di Kabupaten Sleman 92

    Tabel v.3. Penilaian masing-masing Site 95

    Tabel v.4. Alternatif Jenis Sirkulasi 99

    Tabel v.5. Penentuan Kelompok Kegiatan dan Pelaku Kegiatan 106

    Tabel v.6. Kebutuhan Ruang berdasar Pelaku dan Kelompok Kegiatan 106

    Tabel v.7. Besaran Ruang 109

    Tabel v.8. Perencanaan Ruang Dalam 115

    Tabel v.9. Perencanaan Ruang Luar 118

    Tabel v.10. Analisa Zonifikasi Kelompok Kegaiatan 120

    Tabel v.11. Alternatif Massa Dasar Bangunan 121

    Tabel v.12. Alternatif Tata Massa Bangunan 121

    Tabel v.13. Alternatif Organisasi Massa Bangunan 122

    Tabel v.14. Ciri khas Langgam/ Gaya Arsitektur Nusantara di Indonesia 124

    Tabel vi.1. Penentuan Kelompok Kegiatan dan Pelaku Kegiatan 143

    Tabel vi.2. Kebutuhan Ruang berdasar pelaku dan Kelompok Kegiatan 143

    Tabel vi.3. Besaran Ruang 145

    Tabel vi.4. Perencanaan Ruang Dalam 150

    Tabel vi.5. Perencanaan Ruang Luar 152

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar ii.1. Pengumpulan Karya Seni 13

    Gambar ii.2. Pameran Karya Maket 13

    Gambar ii.3. Pemeliharaan Karya Seni 14

    Gambar ii.4. Apresiasi Karya Maket 14

    Gambar ii.5. Transaksi Jual Beli Produk 14

    Gambar ii.6. National Gallerry, London 15

    Gambar ii.7. Neue Staatsgalirie, Jerman 16

    Gambar ii.8. Wexner Centre, Ohio 16

    Gambar ii.9. Seni Grafik 20

    Gambar ii.10. Fotografi Arsitektur 20

    Gambar ii.11. Sketsa 21

    Gambar ii.12. Maket 21

    Gambar ii.13. Seni Instalasi 22

    Gambar ii.14. Furniture dan Properti 22

    Gambar ii.15. Seni Pertunjukkan Film 22

    Gambar ii.16. Ruang Pamer berupa Ruang 23

    Gambar ii.17. Ruang Pamer Hall 23

    Gambar ii.18. Ruang Pamer Koridor 23

    Gambar ii.19. Replika 1:1 24

    Gambar ii.20. Miniatur Candi Prambanan 25

    Gambar ii.21. Miniatur Ruamh Tradisional 25

    Gambar ii.22. Enlargement Kursi 25

    Gambar ii.23. Peta Yogyakarta 26

    Gambar ii.24. 1.Seminar, 2.Pameran Karya, 3.Pameran Foto dan Sketsa, 4.

    Maket 29

    Gambar ii.25. Pameran Urbanizing World 30

    Gambar ii.26. Pameran Architecture for All 31

    Gambar ii.27. Selasar Sunaryo Art Space 32

    Gambar ii.28. Gallery A 33

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xiii

    Gambar ii.29. Stone Garden 34

    Gambar ii.30. Wing Gallery 34

    Gambar ii.31. Gallery B 34

    Gambar ii.32. Kopi Selasar 34

    Gambar ii.33. Selasar Shop 34

    Gambar ii.34. Amphiteater 35

    Gambar ii.35. Bamboo House 35

    Gambar ii.36. Bale Handap 35

    Gambar ii.37. Bale Tonggoh 36

    Gambar ii.38. Pustaka Selasar 36

    Gambar ii.39. Mushola 36

    Gambar ii.40. Area Parkir 37

    Gambar ii.41. Denah dan Interior Rumah Seni Cemeti 38

    Gambar ii.42. 1.Museum Soekarno, 2.Menuju Museum, 3.Gerbang

    Museum, 4.Rumah Makam Soekarno 39

    Gambar ii.43. Bangsal dan Gerbang Candi Bentar 39

    Gambar ii.44. Patung Bung Karno dan Relief Dinding 41

    Gambar ii.45. 3D Siteplan Museum Soekarno 41

    Gambar iii.1. Indonesia dan Jaringan Asia 45

    Gambar iii.2. Struktur Candi 49

    Gambar iii.3. Teknik Konstruksi Dinding Berdaun Ganda 50

    Gambar iii.4. Tata Cara Urutan Pembangunan Candi 51

    Gambar iii.5. Peta Pengelompokan Candi 51

    Gambar iii.6. Candi Gedong Songo dan Candi Badut 52

    Gambar iii.7. Candi-candi di Jawa Tengah Selatan 52

    Gambar iii.8. Candi Penataran dan Candi Jago 53

    Gambar iii.9. Salah Satu Tipe Denah Candi 53

    Gambar iii.10. Candi Biara Bahal 1, Padang Lawas, Sumatera 54

    Gambar iii.11. Candi pada Masa Klasik Akhir 55

    Gambar iii.12. Persebaran Kota-kota Islam Awal di Nusantara 56

    Gambar iii.13. Pelabuhan di Lingkungan Banda Aceh 57

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xiv

    Gambar iii.14. Bentuk Batu Nisan di Beberapa Daerah 58

    Gambar iii.15. Masjid yang Mendapat Pengaruh Arsitektur Candi dan

    Arsitektur Vernakuler 59

    Gambar iii.16. Masjid yang Mendapat Pengaruh India (Arsitektur Moghul) 60

    Gambar iii.17. Masjid yang Mendapat Pengaruh Arsitektur Kolonial

    (Modern Eropa) 60

    Gambar iii.18. Kompleks Kraton Yogyakarta 61

    Gambar iii.19. Bekas Istana Ternate (awal abad ke-18) 62

    Gambar iii.20. Lokasi Persebaran Austronesia 62

    Gambar iii.21. Arsitektur Vernakuler Indonesia yang Menggunakan

    Tanduk Kerbau dan Atap Pelana 63

    Gambar iii.22. Sebaran Lokasi Arsitektur Vernakuler Indonesia 65

    Gambar iii.23. Macam Ragam Arsitektur Vernakuler Indonesia 65

    Gambar iii.24. Pembagian Pola Perkampungan 67

    Gambar iii.25. Pembagian horizontal Bangunan Vernakuler 68

    Gambar iii.26. Tipe Rumah Komunal 69

    Gambar iii.27. Penyambungan Tiang dan Balok di Tanah 69

    Gambar iii.28. Teknik Konstruksi Rumah Vernakuler 70

    Gambar iii.29. Batang Silang X dan V pada Rumah Nias 70

    Gambar iii.30. Bangunan Lumbung di Indonesia 70

    Gambar iii.31. Upacara Pendirian Bangunan 71

    Gambar iii.32. Raga-raga yang digantung di Bawah Atap Rumah Batak

    Toba 72

    Gambar iii.33. Perwujudan Jagad Kecil dikaitkan dengan Mata Angin 72

    Gambar iii.34. Pembagian Jagad Kecil Rumah Batak Toba 73

    Gambar iv.1. Struktur Organisasi Galeri Arsitektru Nusantara 84

    Gambar v.1. Peta Kabupaten Sleman 90

    Gambar v.2. Daerah sepanjang Ringroad Utara 93

    Gambar v.3. Site Alternatif 1 93

    Gambar v.4. Site Alternatif 2 94

    Gambar v.5. Site Alternatif 3 95

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xv

    Gambar v.6. Site Terpilih 96

    Gambar v.7. Eksisting Site 96

    Gambar v.8. Analisa Klimatologi 97

    Gambar v.9. Analiosa Pencapaian 98

    Gambar v.10. Alternatif jalan keluar-masuk site 98

    Gambar v.11. Sirkulasi dalam Site 99

    Gambar v.12. Kantong Parkir 100

    Gambar v.13. Analisa View 101

    Gambar v.14. Analisa Noise 101

    Gambar v.15. Tampilan Fisik Bangunan Sekitar 102

    Gambar v.16. Analisa Perletakan Vegetasi 104

    Gambar v.17. Skema Pola Kegiatan Galeri Arsitektur Nusantara 105

    Gambar v.18. Bagan Hubungan Ruang Makro 113

    Gambar v.19. Bagan Hubungan Ruang Mikro 115

    Gambar v.20. Zonifikasi Kelompok Kegiatan 120

    Gambar v.21. Tata Massa pada Denah 125

    Gambar v.22. Gubahan Massa Analogi Candi 126

    Gambar v.23. Gubahan Massa bangunan Tradisional 126

    Gambar v.24. Keadaan terhadap Ancaman Bencana 129

    Gambar v.25. Skema Sistem Penyediaan Listrik 131

    Gambar v.26. Skema Sistem Penyediaan Telekomunikasi 133

    Gambar v.27. Skema Sistem Penyediaan Air Bersih 133

    Gambar v.28. Skema Sistem Pengolahan Sanitasi 134

    Gambar v.29. Skema Sistem Pengolahan Air Hujan 134

    Gambar v.30. Skema Sistem Penyediaan AC 134

    Gambar v.31. Skema Sistem Pengolahan Sampah 135

    Gambar vi.1. Peta Kabupaten Sleman 136

    Gambar vi.2. Daerah sepanjang Ringroad Utara 136

    Gambar vi.3. Site Terpilih 137

    Gambar vi.4. Eksisting Site 137

    Gambar vi.5. Hasil Analisa Klimatologi 138

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user xvi

    Gambar vi.6. Jalan keluar-masuk site 138

    Gambar vi.7. Hasil analisa Sirkulasi 139

    Gambar vi.8. Kantong Parkir 139

    Gambar vi.9. Hasil alternative parkir 139

    Gambar vi.10. Hasil Analisa View 140

    Gambar vi.11. Hasil Analisa Noise 140

    Gambar vi.12. Perletakan Vegetasi 141

    Gambar vi.13. Skema Pola Kegiatan Galeri Arsitektur Nusantara 143

    Gambar vi.14. Bagan Hubungan Ruang Makro 147

    Gambar vi.15. Bagan Hubungan Ruang Mikro 149

    Gambar vi.16. Zoning Horizontal 153

    Gambar vi.17. Zoning Vertikal bangunan utama dan pendukung 154

    Gambar vi.18. Massa Dasar 154

    Gambar vi.19. Tata massa 155

    Gambar vi.20. Organisasi Massa 155

    Gambar vi.21. Tata massa pada Denah 156

    Gambar vi.22. Gubahan Massa Bangunan Utama 156

    Gambar vi.23. Gubahan Massa Bangunan Pendukung 156

    Gambar vi.24. Skema Sistem Penyediaan Listrik 158

    Gambar vi.25. Skema Sistem Penyediaan Telekomunikasi 158

    Gambar vi.26. Skema Sistem Penyediaan Air Bersih 159

    Gambar vi.27. Skema Sistem Pengolahan Sanitasi 159

    Gambar vi.28. Skema Sistem Pengolahan Air Hujan 159

    Gambar vi.29. Skema Sistem Penyediaan AC 160

    Gambar vi.30. Skema Sistem Pengolahan Sampah 160

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Judul

    Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta

    B. Pemahaman Judul

    1. Galeri

    sebuah ruang yang digunakan untuk menyajikan hasil karya seni, sebuah

    area memajang aktifitas publik, area publik yang kadangkala digunakan

    untuk keperluan khusus.1

    2. Arsitektur Nusantara

    adalah semua karya arsitektur yang ada di Indonesia dan untuk

    menampilkan satu ciri tidak dapat digunakan parameter kedaerahan

    (dengan memasukkan sisi kultur, religi dan adat istiadat yang spesifik),

    tapi dengan menonjolkan ciri arsitektur tropisnya sebagai jiwa atau ciri

    dari arsitektur Nusantara.2

    3. Yogyakarta

    merupakan salah satu kota yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa.

    Kota Yogyakarta dan sekitarnya merupakan jangkauan radius pelayanan

    galeri yang akan dihadirkan.

    Jadi pengertian dari judul adalah sebuah ruang atau gedung yang

    digunakan untuk menyajikan hasil karya seni arsitektur di Indonesia serta

    sebuah area memajang aktifitas publik yang kadangkala digunakan untuk

    keperluan khusus dengan mengangkat potensi-potensi arsitektur nusantara

    sebagai wujud galeri ini. Merancang dengan potensi arsitektur nusantara

    berarti mencari karakteristik arsitektur dari sebuah wilayah geografis

    pulau-pulau yang tidak terbatasi oleh luasnya wilayah satu negara. 3

    Secara keseluruhan Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta

    diartikan sebagai galeri yang diselenggarakan untuk masyarakat umum

    1 Dictionary of Architecture and Construction, 29 Maret 2011 2 Galih W.Pangarsa, Memaknai Kembali Arsitektur Nusantara, Univ. Brawijaya 3 Tjahja Tribinuka, Antara Arsitektur Vernakuler, Tradisional, Nusantara dan Indonesia, ITS

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    2

    dari berbagai lapisan masyarakat dengan radius pelayanan yang meliputi

    kota Yogyakarta dan sekitarnya.

    C. Latar Belakang

    1. Melestarikan Arsitektur Nusantara

    Arsitektur merupakan salah satu seni produk kebudayaan. Sementara

    kebudayaan nusantara berakar pada kebudayaan tradisionalnya, begitupun

    arsitektur tradisional juga merupakan akar dari arsitektur nusantara.

    Arsitektur tradisional sangat beraneka ragam di Indonesia, seiring dengan

    keanekaragaman suku bangsanya.4

    Arsitektur nusantara tinggal remah-remah, bahkan nyaris punah.

    Sementara itu, kita perlu sadar sepenuhnya, betapa pentingnya identitas

    pribadi, baik bagi individu maupun bangsa, karena sudah menjadi kodrat

    manusia ia berperan sebagai subjek yang dimintai pertanggungjawaban.

    Kebudayaan bukanlah hanya berarti sempit berupa kesenian.

    Kebudayaan dalam arti luas adalah pola pikir dan mentalitas suatu

    masyarakat. Arsitektur adalah bagian sangat kecil dari padanya. Karena

    itu, siapa pun berhak memaknai arsitektur, termasuk dan justru terutama

    generasi muda. Karena merekalah yang memiliki masa depan. Memaknai

    arsitektur bukan hak mutlak para arsitek. Benarkah bahwa kaum arsitek

    lepas dari pertanggung-jawabannya selaku bagian dari anak negeri yang

    tengah dikepung bencana ini? Jika tidak benar, lalu apa yang bermanfaat

    untuk disumbangkan mereka pada negeri ini?

    Hancurnya identitas manusia dan masyarakat serta rusaknya alam

    lingkungan nusantara, pengembangan ilmu arsitektur di negeri ini mesti

    menanggapinya dengan berupaya menempatkan arsitektur di titik

    perimbangan yang adil-bijak. Arsitektur nusantara sebagai peradaban

    arsitektur lokal, nasional, regional dan sekaligus mondial. Itu akan tercapai

    bila nilai universalitas arsitektur negeri ini ditemu-kenali kembali, lalu

    ditumbuh-kembangkan sebagai rerumpunan kebudayaan yang tetap

    4 www.arsiteka.com 29 Maret 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    3

    majemuk, yang terjagai oleh perangai dan sifat kasih-sayang

    masyarakatnya.5

    Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu wujud arsitektur tradisional dari

    suku bangsa tertentu pasti akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi

    masyarakat suku bangsa tersebut. Namun demikian, apakah suatu suku

    bangsa tertentu akan merasa bangga dengan arsitektur tradisional dari

    daerah lain?6 Bahkan mungkin saja masyarakat di daerah yang satu dengan

    yang lain tidak mengenal ataupun mengetahui macam rumah tradisional

    yang ada di Indonesia. Tentu perlu adanya upaya untuk melestarikan dan

    memperkenalkan berbagai macam rumah tradisional di Indonesia guna

    menahan tenggelamnya peradaban arsitektur nusantara.

    2. Bentuk Apresiasi terhadap Karya-karya Arsitektur

    Secara umum, apresiasi diterjemahkan sebagai penilaian atau

    penghargaan terhadap sesuatu. Jadi apresiasi arsitektur berarti penilaian

    atau penghargaan terhadap arsitektur. Untuk dapat menilai dan menghargai

    arsitektur, tentunya perlu modal pengetahuan yang tidak sederhana.

    Ketidak sederhanaan pengetahuan ini setara dengan kerumitan yang

    melekat pada arsitektur itu sendiri. Selain ilmu, seseorang yang

    berapresiasi dengan arsitektur membutuhkan alat, yaitu segenap indera

    yang dimiliki dan paling memungkinkan untuk digunakan dalam menilai

    atau menghargai arsitektur.7

    Arsitektur merupakan sebuah karya yang dapat diapresiasi manusia.

    Agar dapat dibedakan nilainya, arsitektur bahkan perlu untuk diapresiasi

    baik secara nyata maupun maya. Sebuah karya arsitektur paling mudah

    diapresiasi menggunakan penglihatan dan rabaan kulit, selain itu karya

    tersebut juga memiliki dampak dalam menimbulkan suara, bau, suhu,

    kelembaban, tekanan udara yang mempengaruhi perasaan tertentu. Jauh

    atau dekatnya obyek arsitektur dengan manusia yang mengapresiasi

    5 Galih W.Pangarsa, Arsitektur di Negeri Bencana, Univ. Brawijaya 6 Galih W.Pangarsa, Memaknai Kembali Arsitektur Nusantara, Univ. Brawijaya 7 www.architect-news.com 13 maret 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    4

    mempengaruhi indera mana yang berperan. Jika obyek tersebut memiliki

    jarak yang tidak dapat direkam oleh indera pendengar, pencium dan

    peraba, maka indera penglihatlah yang paling dominan dapat

    didayagunakan untuk berapresiasi. 8

    Akhir-akhir ini cukup banyak diselenggarakannya berbagai macam

    sayembara yang berhubungan dengan arsitektur mulai dari sayembara

    perencanaan dan desain, sayembara fotografi maupun sayembara tugas

    akhir yang akhir-akhir ini sedang banyak dibicarakan. Fenomena ini

    membuktikan bahwa arsitektur sedang mulai berkembang. Salah satu yang

    sedang disoroti adalah sayembara Tugas Akhir yang merupakan puncak

    akademis tertinggi bagi mahasiswa S1 jurusan Arsitektur. Sangat

    disayangkan karya-karya yang akan menjadi master pieces ini kurang

    mendapatkan wadah yang mampu menampung karya dengan tujuan untuk

    diperkenalkan kepada khalayak umum. Padahal seluruh kemampuan

    mahasiswa tercurah pada proyek tugas akhir ini, dengan demikian Tugas

    Akhir menentukan kualitas calon arsitek masa depan.9

    3. Arsitektur merupakan Karya Seni

    Keunikan dan nilai seni yang terkandung pada karya-karya arsitektur

    tersebut memunculkan pemahaman bahwa karya arsitektur juga dapat

    dikategorikan sebagai suatu karya seni karena mengandung unsur

    metafora, perumpamaan, keindahaan serta elemen-elemen artistik lainnya.

    Di sisi lain, untuk memahami suatu karya arsitektur itu tidak cukup hanya

    memahami dari sisi luar bangunan, tetapi juga harus memahami bagaimana

    karya arsitektur itu terbentuk, dengan kata lain kita harus memahami dari

    segi ilmiahnya juga barulah kita dapat memahami karya tersebut.10

    Dari sebuah buku pula didapatkan sebuah kalimat yang semakin

    meyakinkan bahwa karya arsitektur juga merupakan sebuah karya seni,

    Architecture as a fne art has nothing to do with arts of expression... The

    8 www.iai-jateng.web.id 13 Maret 2011 9 Kompetisi Tugas Akhir Mahasiswa Arsitektur Tingkat Jawa Tengah 2009 10 TGA Rachardian Hadiwibowo Galeri Arsitektur Jakarta UNDIP 2010

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    5

    business of buildings is not to tell tales about the world or of humanity,

    or of technology 11

    Sedangkan paham Vitruviuspun berujar, "Arsitektur adalah ilmu yang

    timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar:

    dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni".12

    Selayaknya sebuah karya seni arsitektur yang setara dengan karya seni

    lainnya seperti karya seni lukis, ukir, maupun patung yang telah banyak

    mendapat perhatian dan wadah khusus, tentu karya arsitektur sangat perlu

    diwadahi pula. Cukup banyak karya arsitektur nusantara hingga dunia yang

    layak untuk dipamerkan dan diketahui lebih jauh oleh masyarakat pada

    umumnya dan mahasiswa arsitektur pada khususnya.

    4. Arsitektur terus Berkembang

    Perkembangan yang terus menerus ini telah membawa karya arsitektur

    ke arah modern, dengan gaya yang semakin beragam dan ditunjang dengan

    perkembangan teknologi, hasil yang ditampilkan semakin unik dan

    beragam. Hal ini juga tidak lepas dari dorongan kebutuhan masyarakat

    akan sesuatu yang berbeda sehingga mampu meningkatkan kreatifitas para

    arsitektur dalam merancang suatu karya. Perkembangan teknologi rancang

    bangun juga memungkinkan para arsitek mengeksplorasi lebih jauh

    karyanya sehingga tiap bangunan memiliki keunikan dan ciri khas yang

    yang menjadi ikon bagi lingkungan sekitarnya. Meskipun tidak memiliki

    nilai historis yang tinggi seperti karya arsitektur pada masa lalu, tetapi

    karya-karya arsitektur pada masa ini tetap memiliki nilai seni dan

    kreatifitas yang tinggi sebagai cerminan perkembangan pemahaman

    teknologi dan ideologi pada masa itu.13

    Melihat fenomena di atas, maka timbul pemikiran perlu adanya suatu

    wadah atau lembaga yang dapat digunakan sebagai tempat untuk

    melestarikan, menjaga, mendokumentasikan dan mengkomunikasikan

    11 Rusell Sturgis, Address, in American Architect and building news, 1890 12 www.forumdesain.com 13 Maret 2011 13 TGA Rachardian Hadiwibowo Galeri Arsitektur Jakarta UNDIP 2010

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    6

    karya arsitektur yang ada. Sarana tersebut haruslah edukatif, karena

    sebagai salah satu produk yang terbentuk dari hasil pemikiran dan logika

    ilmiah, maka harus dapat mengkomunikasikan hal tersebut dengan baik

    sehingga bagi orang yang meninjau dapat memahami karya arsitektur

    secara lebih mendalam.

    Di sisi lain karena arsitektur juga memiliki nilai seni maka sarana itu

    juga harus bersifat rekreatif dan menyenangkan, agar dapat menarik minat

    masyarakat untuk datang serta menunjang kemampuan pengamatan dan

    daya imajinasi bagi yang melihatnya.

    Berdasarkan pemikiran di atas maka konsep berupa sebuah galeri dirasa

    tepat untuk mengomunikasikan suatu karya arsitektur. Sebuah galeri,

    seperti juga museum memiliki nilai edukatif, namun tidak terlalu intens

    seperti museum, sehingga pengunjung serta kegiatan-kegiatan lain yang

    terkait dapat dilakukan dengan lebih fleksibel.

    Diharapkan dari Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta ini selain

    sebagai sarana untuk melestarikan, menjaga, mendokumentasikan dan

    mengkomunikasikan karya arsitektur, juga dapat mendorong ketertarikan

    masyrakat terhadap dunia arsitektur sehingga masyarakat dapat memahami

    pentingnya menjaga karya-karya arsitektur yang ada.

    D. Permasalahan dan Persoalan

    1. Permasalahan

    Merancang dan mendesain suatu bangunan Galeri Arsitektur Nusantara

    di Yogyakarta dengan mengangkat potensi-potensi arsitektur nusantara

    yaitu dengan mengambil ciri khas umum sebagai wujud galeri ini.

    2. Persoalan

    a) Menentukan site yang strategis dan sesuai untuk penempatan Galeri

    Arsitektur Nusantara di Yogyakarta menurut peraturan tata ruang kota

    dari pemerintah daerah tentang Rencana Tata Guna Tanah yang

    difungsikan sebagai fungsi pendidikan yang bersifat rekreatif

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    7

    b) Menentukan macam ruang, besaran ruang, serta organisasi ruang

    sebagai pola tata ruang yang mendukung mekanisme kegiatan,

    pengelola serta pengunjung

    c) Menampilkan bangunan Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta

    yang dapat mencerminkan kegiatan di dalamnya dan kesesuaian dengan

    lingkungan sekitarnya

    E. Tujuan dan Sasaran

    1. Tujuan

    a) Menyusun konsep perencanaan dan perancangan fisik bangunan Galeri

    Arsitektur Nusantara di Yogyakarta sebagai tempat untuk mewadahi

    hasil karya arsitektur serta yang berhubungan dengan arsitektur.

    b) Menciptakan suasana yang nyaman untuk kegiatan pameran dan

    penunjang

    2. Sasaran

    Mewujudkan Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta dengan

    pendekatan:

    a) Menentukan site yang tepat untuk mendukung pengembangan kegiatan

    pameran

    b) Menentukan pola tata ruang yang mendukung mekanisme kegiatan

    pameran yaitu macam, besaran, dan kegiatan ruang

    c) Menampilkan bentuk Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta yang

    sesuai dengan fungsi bangunan dan lingkungannya

    F. Batasan dan Lingkup Pembahasan

    1. Batasan

    Pembahasan dibatasi pada lingkup disiplin ilmu arsitektur, serta

    pembahasan dari disiplin ilmu lainnya antara lain ilmu sosial budaya, ilmu

    sejarah, dan ilmu agama bila terkait dengan ilmu arsitektur dan diperlukan

    dalam pembahasan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    8

    2. Lingkup Pembahasan

    Pembahasan ditekankan dalam lingkup mengangkat potensi-potensi

    asitektur nusantara pada visualisasi bangunan galeri untuk menentukan

    konsep perancangan dari Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta.

    G. Metode Pembahasan

    1. Metode Penemuan Masalah

    Penemuan masalah berdasarkan realita yang ditemukan di lapangan

    yang diutarakan responden seperti sulitnya mencari informasi mengenai

    konsultan dan komunitas arsitektur yang ada, kurangnya fasilitas yang ada

    untuk mewadahi aktifitas pengembangan, padahal animo masyarakat

    terutama mahasiswa arsitektur yang cukup tinggi.

    2. Metode mencari data

    Dalam mencari data yang dibutuhkan, dilakukan beberapa cara yaitu:

    a) Survey lapangan

    Metode yang dilakukan dengan mendatangi dan melihat tempat-tempat

    yang dapat memberikan informasi mengenai data-data yang

    dibutuhkan. Seperti data mengenai jumlah universitas yang memiliki

    jurusan Arsitektur di Yogyakarta, biro konsultan dan komunitas

    arsitektur yang ada di Yogyakarta, peminat karya seni arsitektur di

    Yogyakarta, dan mengenai data lokasi site.

    b) Wawancara

    Metode yang dilakukan dengan cara diskusi, bertukar pikiran dan

    mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan data yang

    dibutuhkan. Wawancara dilakukan dengan praktisi, pakar, pelaku

    bisnis dengan obyek pameran Arsitektur . Hal ini penting dilakukan

    mengingat data yang didapat harus di cross check dengan realita.

    Macam data yang dikumpulkan dengan metode ini seperti event-event

    yang melibatkan karya arsitektur, perkembangan peminat dan jenis

    karya arsitektur serta komunitas-komunitas arsitektur di Yogyakarta,

    keadaan dan standar pameran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    9

    c) Literatur

    Metode yang dilakukan dengan membaca buku-buku, tugas akhir yang

    berhubungan dengan judul, dan pencarian dari situs-situs internet

    sesuai batasan dan lingkup pembahasan untuk mendapatkan referensi

    berupa teori-teori seperti standar ukuran peruangan dan karakter ruang

    pamer, sejarah perkembangan arsitektur nusantara hingga arsitektur

    masa kini, jenis-jenis media pamer yang berhubungan dengan karya

    arsitektur, data kota Yogyakarta, event-event yang melibatkan karya

    arsitektur, banyaknya universitas yang memiliki jurusan Arsitektur di

    Yogyakarta, perkembangan jenis dan peminat arsitektur serta

    komunitas-komunitas arsitektur di Yogyakarta, penggabungan dalam

    lingkup arsitektur dan budaya.

    3. Metode pengolahan data

    Mengolah data yang ada sehingga mempermudah pemecahan masalah

    dengan mengidentifikasi data yang diperoleh, mengklasifikasi data,

    menyusun data secara sistematis, menganalisa data, dan mengaitkan data

    satu dengan yang lain untuk menunjang pembahasan tentang Galeri

    Arsitektur Nusantara di Yogyakarta.

    4. Metode pemecahan masalah

    Menganalisa dengan cara mencocokkan teori yang ada dengan eksisting

    kemudian menghasilkan alternatif penyelesaian masalah. Kemudian

    dipilih hasil analisa sebagai pemecahan masalah berdasarkan pedoman dan

    standar perancangan sehingga menghasilkan konsep perancangan Galeri

    Arsitektur Nusantara di Yogyakarta yang sesuai.

    5. Metode penulisan

    Menuliskan konsep perancangan Galeri Arsitektur Nusantara di

    Yogyakarta secara sistematis berupa deskripsi yang disertai dengan

    gambar maupun chart sebagai penunjang visualisasi deskripsi.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    10

    H. Sistematika dan Kerangka Penulisan

    Tahap I

    Mengungkapkan permasalahan dan persoalan dari latar belakang untuk

    mendapatkan tujuan dan sasaran yang akan dicapai, mengungkapkan batasan,

    lingkup pembahasan dan metode pembahasan yang digunakan serta

    sistematika penulisannya.

    Tahap II

    Mengungkapkan tinjauan galeri seni, tinjauan arsitektur nusantara yang

    akan diwadahi, keberadaan Yogyakarta dan minat masyarakat Yogyakarta

    akan karya arsitektur, geleri seni yang sudah ada di Yogyakarta, tinjauan

    lokasi, studi banding bangunan sejenis galeri.

    Tahap III

    Mengungkapkan tinjauan mengenai potensi arsitektur nusantara, hubungan

    antara arsitektur dan budaya, tinjauan penggabungan dan perwujudannya

    menjadi langgam arsitektur dalam wujud fisik.

    Tahap IV

    Deskripsi Galeri Arsitektur Nusantara yang akan direncanakan di

    Yogyakarta meliputi pengertian dan fungsi, visi dan misi, status kepemilikan,

    lingkup kegiatan, karya terwadahi, sasaran pengguna, frekuensi kegiatan dan

    fasilitas-fasilitas yang ada dalam bangunan galeri tersebut.

    Tahap V

    Mengungkapkan alternatif-alternatif kebutuhan peruangan yang terdapat

    dalam bangunan galeri meliputi aktivitas dan fasilitas, kebutuhan ruang,

    besaran ruang, pola hubungan ruang, utilitas bangunan dan sistem struktur

    yang digunakan sebagai referensi untuk perwujudan bangunan galeri arsitektur

    nusantara di Yogyakarta dengan tampilan fisik yang merepresentasikan

    perpaduan potensi-potensi arsitektur nusantara.

    Tahap VI

    Konsep perancangan dari Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta

    dengan dengan tampilan fisik yang merepresentasikan perpaduan karakter

    arsitektur nusantara sebagai hasil analisa yang dilakukan dan merupakan

    pemecahan dari permasalahan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user 11

    BAB II

    TINJAUAN GALERI SENI

    DAN KOTA YOGYAKARTA SEBAGAI LOKASI TERPILIH

    A. Galeri Seni

    1. Pemahaman Galeri

    Galeri diartikan sebagai ruangan, rangkaian ruangan atau bangunan

    yang disediakan untuk memamerkan dan juga menjual karya seni (Stein &

    Urdang, 1967:173), yang dimaksud dengan karya seni disini adalah karya-

    karya arsitektur.

    Sebagai ruang pamer dapat berupa museum, galeri atau showroom. Bila

    museum khusus hanya memajang tanpa menjual, di showroom obyek

    dipajang untuk dijual karena fungsi komersial adalah yang paling utama.

    Dapat dikatakan bahwa galeri merupakan perpaduan antara museum dan

    showroom, di mana kaya seni yang dipamerkan dapat dibeli.1

    2. Sejarah Galeri

    Galeri pada awalnya adalah bagian dari museum yang berfungsi sebagai

    ruang pamer. Robillard (1982) membagi ruang publik pada museum

    menjadi empat bagian, yaitu: entrance hall, jalur sirkulasi, galeri dan

    lounge (ruang duduk).

    Galeri adalah ruang utama dan paling penting dalam suatu bentuk

    pameran karena galeri berfungsi mewadahi karya-karya seni yang

    dipamerkan. Pada perkembangannya, galeri kemudian berdiri sendiri,

    menjadi institusi tersendiri dan terlepas dari keberadaan museum. Fungsi

    dari galeri tetap merupakan tempat untuk pameran tetapi mengalami

    perkembangan, bukan hanya sekedar sebagai tempat untuk memajang

    namun juga sebagai ruang untuk menjual karya seni.

    Pada tahun 1950, para seniman Avan Garde dan neo-Dada

    meruntuhkan kesakralan galeri dengan menjadikannya sebagai ruang

    1 http://digilib.petra.ac.id/ 3 oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    12

    publik barang seni. Galeri dan museum pada masa neo-Dada tidak lagi

    menjadi media seni bagi barang elit tetapi juga seni pemberontakan. Neo-

    Dada menyerang ekslisivisme dari galeri dan museum dengan

    mendudukinya dan membuat batasan baru pada galeri dan museum, yaitu

    sebagai media dari seni yang terbuka (Barbara Rose, 1974), Slogan Lart

    pour lart (seni untuk seni) bergeser kepada Lart pour lepublic (seni

    untuk publik). Seni tidak menjadi suatu kawasan elit, di mana semua orang

    bisa dan berhak untuk membuat dan menghasilkan karya seni. Seni untuk

    publik dipelopori oleh Joseph Beuys yang memajang seni pemberontakan

    di sebuah galeri. Karya seni yang berupa Jambang Putih dianggap sebagai

    karya seni instalasi pertama dan sekaligus menjadikan galeri sebagai ruang

    publik segala bentuk apresiasi seni.

    3. Perkembangan Fungsi Galeri

    Perkembangan galeri seni dapat dilihat bahwa fungsi awalnya adalah

    memamerkan hasil karya seni agar dapat dikenal oleh masyarakat (sebelum

    itu koleksi-koleksi seni hanya sebagai dekorasi ruang saja atau media bagi

    seni elit). Dengan demikian terlihat adanya usaha:

    a) mengumpulkan hasil-hasil karya seni sebagai koleksi

    b) memamerkan hasil-hasil karya seni agar dikenal masyarakat

    c) memelihara hasil-hasil karya seni agar tidak rusak (bersifat memelihara

    atau konservasi)

    Terjemahan dari fungsi baru yang terjadi adalah sebagai berikut:

    a) Sebagai tempat mengumpulkan karya seni, yaitu dengan melakukan

    penyimpanan karya seni pada ruang penyimpanan yang pada akhirnya

    dapat dipamerkan kembali. Sebagai contoh karya-karya seni rupa

    koleksi Galeri Nasional Indonesia yang sebagian besar ditempatkan di

    ruang penyimpanan (storage) yang sudah memenuhi persyaratan

    penyimpanan karya seni rupa karena ruang penyimpanan tersebut sudah

    dilengkapi dengan fasilitas mesin penyejuk ruang, alat pengatur suhu

    udara, lemari kayu, panel geser dan panel kayu, serta dilengkapi juga

    dengan alarm system sebagai sarana pengamanannya. Begitu pula

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    13

    dengan penyimpanan karya arsitektur berupa maket, standar

    penyimpanan mengacu pada persyaratan penyimpanan karya seni rupa.

    b) Sebagai tempat memamerkan hasil karya seni agar dikenal masyarakat.

    Ini merupakan fungsi utama sebuah galeri, sehingga pada umumnya

    ruang digunakan sebagai tempat memamerkan karya seni. Ruang-ruang

    di desain memiliki bentuk yang menarik baik dari segi pencahayaan

    yang menggunakan lampu-lampu spot, warna dinding yang kontras

    dengan karya seni yang akan dipamerkan sehingga membuat karya seni

    tersebut menjadi point of interest

    c) Sebagai tempat memelihara karya seni agar tidak rusak. Ruang yang

    digunakan untuk memelihara karya seni ini biasa disebut dengan ruang

    restorasi-konservasi.

    Gambar ii.1. Pengumpulan Karya Seni Sumber. http://www.galeri-nasional.or.id/galeri-

    nasional/data/upimages/collecting1.gif 3 Oktober 2011

    Gambar ii.2. Pameran Karya Maket Sumber.http://2.bp.blogspot.com/_65R0rK15t30/TUm8x8wl0jI/AAAAAA

    AAAHU/yK_EqG1rwJs/s1600/100_0756.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    14

    d) Sebagai tempat mengajak atau mendorong atau meningkatka apresiasi

    masyarakat terhadap karya seni yang dipamerkan tersebut memiliki

    sebuah arti yang ingin disampaikan oleh para seniman kepada

    masyarakat sehingga masyarakat dapat mengapresiasi karya-karya seni

    yang dipamerkan. Ruang-ruang yang digunakan merupakan ruang

    pameran untuk karya seni.

    e) Sebagai tempat transaksi jual beli merupakan salah satu kegiatan utama

    pada galeri. Karya seni yang dipamerkan dalam kegiatan ini bersifat

    karya seni komersial berupa furniture, fotografi dengan obyek arsitektur

    Gambar ii.3. Pemeliharaan Karya Seni Sumber. http://suci-senikarya.blogspot.com/2010/01/perawatan-

    karya-seni-rupa-lukisan.html 3 Oktober 2011

    Gambar ii.4. Apresiasi Karya Maket Sumber. http://euro.okezone.com/images-

    data/photo/2009/05/09/1/2841/image0.jpg 3 Oktober 2011

    Gambar ii.5. Transaksi jual beli produk Sumber. http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1257851518/peristiwa-

    pameran-furniture-18.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    15

    Pada hakekatnya galeri seni berfungsi sebagai servis bagi publik. Servis

    pelayanan ini menunjukkan aktivitas utama yang mempengaruhi sifat dan

    yang menjadi dasar falsafahnya. Servis dimaksudkan dengan memberikan

    pelayanan bagi kepuasan public sebagai kelompok social maupun individu

    ataupun masyarakat umum. Oleh sebab itu servis harus memenuhi:

    a) Kepuasan fisik: merupakan kepuasan yang dicapai melalui panca indera

    yaitu penglihatan, perasaan, dan peraba

    b) Kepuasan psikis: merupakan kepuasan jiwa sebagai reaksi pada suasana

    dan kesan dari bangunan dan pelayanan yang diberikan baik oleh

    pengelola atau pegawai maupun materi seninya.

    4. Tipe Galeri

    a) Tipe Shrine

    Galeri tipe ini menempatkan seni di atas banyak hal lain. Koleksinya

    sangat terpilih, di tata pada ruang yang memungkinkan pengunjung

    melakukan kontemplasi. Kasus perluasan National Gallery di London

    yang menganulir juara kompetisi perancangan akibat program ruang

    yang direncanakan telah mengakomodasi secara signifikan. Peran

    fasilitas komersial di dalamnya untuk menunjang pembiayaan galeri

    menunjukkan betapa tegarnya galeri tipe ini memisahkan dari kegiatan

    yang tidak berhubungan langsung dengan seni. Nilai koleksi dan

    penghargaan terhadap seni pada galeri ini sangatlah tinggi.

    b) Tipe Warehouse

    Galeri ini mewadahi berbagai koleksi yang bernilai, sedemikian

    beragamnya koleksi ini sehingga wadahnyapun memiliki fleksibilitas

    yang tinggi untuk menanggapi perubahan dan perkembangan yang

    Gambar ii.6. National Gallery, London Sumber. http://www.bookingonlinetravel.net/wp-content/uploads/2011/02/london_guide_national_gallery.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    16

    dinamis. Contoh dari bangunan tipe warehouse adalah Pompi dou

    Centre di Paris, Perancis. Pengabdian diri pada kefleksibelan dalam

    galeri ini tercipta dalam bentuk dan artikulasi arsitekturnya. Segala

    fungsi selain fungsi pameran dialokasikan di luar untuk memperolah

    ruang dalam yang bebas dan karenanya mampu menjawab tuntutan

    fleksibilitas tersebut. Tipe galeri ini sangat populer dalam berbagai

    bentuk dan strategi perancangan arsitektur.

    c) Tipe Cultural Shopping Mall

    Strategi pemasaran galeri telah membaurkan distingsi mengenai seni dan

    komersial, antara lain melalui maraknya aktivitas komersial dalam galeri

    dengan bentuk yang elaborate. Strategi pameranpun tidak terbatas pada

    display melainkan juga memberi takanan pada penjualan cinderamata

    yang lebih beragam ketimbang sekedar poster, kartu pos, dan katalog

    seperti halnya shopping mall memperluas layanan pemasaran lewat

    fasilitas gedung bioskop, pameran seni, ataupun konser-konser. Tipe

    baru galeri ini bahkan mencakup fasilitas-fasilitas seperti restoran,

    auditorium sampai gedung teater. Dalam hal ini galeri dan mall

    mempunyai satu kesamaan aktivitas utamanya adalah mendorong

    pemasukan melalui konsumsi termasuk ke dalam tipe galeri ini adalah

    Neue Staatsgalerie, Jerman karya James Starling Michael Wilford and

    Associateds, 1984

    d) Tipe Spectacle

    Gambar ii.7. Neue Staatsgalerie, Jerman Sumber. http://www.architecturememe.com/wp-content/plugins/rss-poster/cache/71e2b_1301844710-staatsgalerie-flickr-user-pov-steve-528x396.jpg 3 Oktober 2011

    Gambar ii.8. Wexner Centre, Ohio Sumber.http://www.rootsweb.ancestry.com/~ohfrankl/Franklin/Pics/1.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    17

    Kurt Foster mengidentifikasikan tipe galeri yang tidak lazim. Tipe

    baru galeri ini mendorong pengunjung untuk menikmati pengalaman

    estetik justru karena arsitektur bangunan galeri itu sendiri.

    Arsitektur pada tipe galeri ini diorganisasikan untuk mencapai

    pengharaagn dan kebanggan pada seni sama seperti yang terjadi pada

    tipe galeri shrine yang mengharap pengalaman estetik lebih pada

    pengamat yang bercitra tinggi. Namun secara tipikal sesungguhnya

    galeri ini juga seperti galeri yang bertipe cultural shopping mall. Gallery

    as Spectacle mengharap audiens yang melek artistik, hingga definisi

    estetika bahkan dapat diperluas dari sebelumnya. Termasuk di dalam

    tipe ini adalah Wexner Centre, karya Peter Einseman di Ohio, 1990.

    merupakan sebuah galeri yang lebih kepada tempat pameran dan

    pertunjukkan yang sangat luas untuk berbagai kegiatan pertunjukkan

    film atau video, teater dan pertunjukkan seni lainnya beserta

    perlengkapan pendukungnya. Galeri ini memiliki berbagai fasilitas

    seperti gedung teater, ruang pertunjukkan, concert hall, auditorium,

    perpustakaan seni, perpustakaan dan penelitian tempat kartun, lobby,

    retail atau toko perhiasan, aksesoris, buku-buku seni dan cafe.

    5. Macam Galeri Seni

    Sebenarnya belum ada klasifikasi yang jelas mengenai macam-macam

    galeri seni terlebih akan materi khusus yang dipublikasikan, akan tetapi

    dengan pendekatan bentuk, sifat dan isinya yang menonjol, maka akan

    digolongkan sebagai berikut:

    a) Galeri seni berdasarkan bentuk

    1) Traditional art gallery yaitu suatu galeri yang aktivitasnya

    diselenggarakan pada selasar-selasar atau lorong-lorong panjang.

    Walaupun bentuk galeri ini tradisional namun belum tentu juga karya

    yang dipamerkan berupa karya-karya yang dinilai kuno sehingga

    berkesan tradisional

    2) Modern art gallery yaitu suatu galeri dengan perencanaan ruang

    secara modern atau merupakan kompleks bangunan. Kompleks

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    18

    bangunan ini biasanya terdiri dari beberapa ruang pameran. Sebagai

    contoh adalah Galeri Nasional Indonesia yang memiliki beberapa

    massa bangunan dengan fungsi sebagai ruang pameran dan kegiatan

    pendukung lainnya. Karya-karya seni yang dipamerkan pada modern

    art gallery biasanya adalah sebuah karya seni yang modern atau

    kontemporer. Sehingga hal ini sesuai dengan perencanaan ruang.

    b) Galeri seni berdasarkan sifat kepemilikan

    1) Privat art gallery merupakan suatu galeri milik perseorangan atau

    sekelompok orang. Pada galeri ini biasanya karya-karya yang

    dipamerkan adalah karya pemiliki galeri ini sendiri yang juga

    merupakan seorang seniman. Seniman ini sudah tentu adalah seorang

    seiman terkenal sehingga mereka berani untuk membuka galeri karya

    mereka sendiri tanpa takut galeri tersebut akan dikunjungi banyak

    orang atau tidak karena setiap orang memiliki pandangan tersendiri

    terhadap karya mereka. Pemilik lain privat galeri ini biasanya

    merupakan sebuah institusi dimana karya-karya yang dipamerkan

    berasal dari institusi itu sendiri.

    2) Public art gallery yaitu suatu galeri yang merupakan milik

    pemerintah dan terbuka untuk umum. Karya-karya yang dipamerkan

    pada galeri ini bermacam-macam sesuai dengan keinginan seniman.

    Sehingga karya yang dipamerkan biasanya sesuai dengan kondisi

    atau trend pada saat itu. Pengguna dari galeri ini dari berbagai macam

    seniman baik muda ataupun tua serta dengan berbagai macam bentuk

    aliran yang dianutnya.

    c) Galeri seni berdasarkan isi atau materi seni

    1) Gallery of primitive art yaitu suatu galeri yang menyelenggarakan

    aktivitas dibidang seni primitive. Hal ini biasanya untuk

    mempertahankan budaya suatu bangsa yang muncul ketika zaman

    prasejarah hingga dikenal sampai luar negeri. Kebudayaan ini

    mungkin menjadi sesuatu yang menarik dikalangan pecinta seni dari

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    19

    luar dan dalam negeri. Bentuk seni ini masih natural dan belum

    terjamah dari luar pada saat budaya tersebut dulu ada.

    2) Gallery of classic art yaitu suatu galeri yang menyelenggarakan

    aktivitas dibidang seni klasik. Seni ini menggambarkan bentuk-

    bentuk budaya tradisional di suatu bangsa.

    3) Gallery of modern art yaitu suatu galeri yang menyelenggarakan

    aktivitas dibidang seni modern. Dalam seni modern, bentuk karya

    seni yang dipamerkan biasanya mengandung maksud atau arti yang

    mengkritik sesuatu baik itu budaya, social, ataupun politik suatu

    bangsa sehingga karya seni ini pasti sejalan beriringan dengan

    perkembangan jaman atau bisa disebut dengan karya seni kekinian.

    Dengan adanya karya ini seseorang dapat mengerti tujuan dari karya

    ini dibuat.

    Berdasarkan macam seni yang disajikan beberapa galeri (yang

    sudah umum) biasanya merupakan galeri seni terwujud (2D atau 3D)

    dengan berbagai macam karya seni.

    6. Lingkup Kegiatan Galeri

    Ada beberapa penggolongan kegiatan yang biasa di jumpai pada galeri seni

    antara lain:

    a) Kegiatan rekerasional

    Pameran sebagai alternatif tujuan rekreasi yang mendidik bagi

    masyarakat, diadakan secara rutin dan manjadi kegiatan utama yang

    bertujuan untuk memperkenalkan dan menjual hasil karya seni

    b) Kegiatan pendidikan

    1) Diikuti oleh masyarakat umum peminat seni atau para arsitek muda

    lewat kursus pendalaman seni arsitektur

    2) Para pengamat seni arsitektur yang ingin melakukan studi baik

    secara teori maupun praktek

    3) Pengadaan seminar, acara diskusi, studi literatur melalui

    perpustakaan maupun dunia maya yang menunjang perkembangan

    seni arsitektur

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    20

    4) Eksperimen yang dapat dilakukan di workshop atau studio yang

    disediakan setelah menambah wawasan melalui studio demi

    memantapkan ide-ide baru para arsitek muda

    c) Kegiatan Pendukung

    Kegiatan yang mendukung saat akan pembukaan sebuah pameran galeri

    seperti art performance.

    7. Macam Seni dalam Arsitektur

    Seperti halnya seni secara umum, seni dalam bidang arsitektur dapat

    dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu seni rupa (baik 2 dimensi

    maupun 3 dimensi) dan seni pertunjukkan

    a) Seni Rupa 2 Dimensi

    1) Seni Grafik

    Seni membuat gambar 2 dimensi dengan alat cetak (klise). Seorang

    pencipta dapat memasukkan unsur-unsur estetis dalam karyanya.

    Representasi dapat melalui poster-poster yang berisi imbuhan atau

    kritik arsitektur.2

    2) Seni Fotografi Arsitektur

    Seni yang menggunakan alat sebuah kamera

    yang digunakan untuk mencari karya arsitektur

    yang unik, indah maupun kontroversial. Obyek

    utama yang diambil tentu saja adalah obyek

    bangunan.3

    2 TGA Tomy Arief, Galeri Seni Urban di Yogyakarta, UNS, Surakarta, 2010 3 Ibid

    Gambar ii.9. Seni Grafik Sumber.http://www.hgd.com/gallery/images_gallery/art_deco_lady_silver_250.jpg 3 Oktober 2011

    Gambar ii.10. Fotografi Arsitektur Sumber. http://photos.ibibo.com/photo/7014774/art-wall-photography-architecture 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    21

    3) Sketsa

    Secara umum dapat juga diartikan sebagai seni gambar atau lukis dan

    memiliki pemahaman sebagai cakupan visual ekspresi seseorang.4

    Secara lebih jelas dapat disebutkan bahwa seni lukis adalah

    penggunaan garis, warna, tekstur, ruang dan bentuk pada suatu

    bidang 2 dimensional yang disusun sedemikian rupa sehingga

    terbentuk sebuah harmoni. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suatu

    image yang merupakan pengungkapan pengalaman artistik serta

    pengekspresian ide-ide dan emosional. Media yang biasa digunakan

    adalah kertas serta menggunakan alat tulis maupun pensil warna atau

    pewarna apapun. Pesan yang ingin disampaikan bisa seperti

    penggambaran sebuah bentuk bangunan, penyampaian suasana

    sebuah sketsa bangunan maupun kritik mengenai arsitektur.5

    b) Seni Rupa 3 Dimensi

    1) Maket

    Maket adalah sebuah alat mempermudah orang awam mengenali

    dan mengerti apa yang dimaksud oleh para arsitek lewat setiap

    karyanya, dimana setiap orang dapat melihat dan merasakan secara

    langsung sebuah bangunan dalam bentuk ukuran mini, dengan ukuran

    terskala yang presisi tinggi.6

    4 TGA Tomy Arief, Galeri Seni Urban di Yogyakarta, UNS, Surakarta, 2010 5 Ibid 6 http://maket.inilahkita.com/ maret 2011

    Gambar ii.12. Maket Sumber. http://skalaindonesia.com/node/256 3 Oktober 2011

    Gambar ii.11. Sketsa Sumber.http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/files/2007/07/gambar-rumah.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    22

    2) Seni Instalasi

    Merupakan seni 3 dimensi, dimana pada karya-karya instalasi ini

    memiliki maksud yang ingin disampaikan oleh pencipta walaupun

    dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang. Seni instalasi adalah

    seni yang memasang, menyatukan dan mengkonstruksi sejumlah

    benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran

    makna tertentu. Sebagai turunan seni rupa yang bersifat kontemporer,

    seni jenis ini memiliki keterkaitan erat dengan dunia arsitektur.

    Dengan sifatnya yang abstrak, instalasi bahkan mampu menciptakan

    identitas sebuah ruangan. 7

    3) Furniture dan Properti

    c) Seni Pertunjukan Film

    7 Seni-Instalasi-Merdeka-Untuk-Merdesa-1103-id.html

    Gambar ii.14. Furniture dan Properti Sumber. http://bisnis-

    jabar.com/show_image_NpAdvSinglePhoto.php?filename=/2011/05/060511-AJB-BISNIS-02-FURNITUREb.jpg 3 Oktober 2011

    Gambar ii.15. Seni Pertunjukkan Film Sumber.http://bisnisukm.com/wp-content/uploads/2010/01/Bioskop-mini1.jpg 3 Oktober 2011

    Gambar ii.13. Seni instalasi Sumber.http://1.bp.blogspot.com/_b5lABnOqz4s/SJkpU28mUOI/AAAAAAAAC

    t8/O8NXutMcQhQ/s400/chilean%20rural%20puzzle4.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    23

    8. Ruang Pamer8

    a) Model Ruang Pamer

    Menurut bentuk ataupun kebutuhan dan perkembangan yang ada pada

    ruang pamer dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

    1) Ruang Pamer berupa ruang-ruang

    Susunan ruang terdiri dari rangkaian kamar-kamar terbuka yang

    saling bersebelahan, dengan masing-masing mempunyai tema

    sendiri-sendiri sesuai dengan urutan periodesasi koleksi

    2) Berupa hall

    Merupakan susunan ruang cukup luas dan merupakan salah satu

    bentuk tertua serta banyak dijumpai pada museum yang bercorak

    lama seperti renaissance dan romawi.

    3) Koridor sebagai ruang pamer

    Bentuk lain dari ruang pamer yang berfungsi sebagai ruang meski

    tidak bisa disebut ruang karena pada awalnya hanya sebagai

    sirkulasi antar ruang.

    8 Hatmadhi SP, Rhengo. 2008. Museum Wayang di Surakarta. UNS. Surakarta

    Gambar ii.16. Ruang Pamer berupa Ruang Sumber : http://1.bp.blogspot.com/_V7kM3Yd-i0c/TC4EKPuAE8I/AAAAAAAAAeI/QuSfAhOI2oQ/s400/20090731100109Ruang%20sejarah%201.png 3 Oktober 2011

    Gambar ii.17. Ruang pamer Hall Sumber : http://www.asianafrican-museum.org/images/Ruang_pameran.jpg 3Oktober 2011

    Gambar ii.18. Ruang pamer koridor Sumber : http://1.bp.blogspot.com/_FIifMQ--TMw/TO3miL42pjI/AAAAAAAAAVc/SYbJjyxrDDs/s1600/mus3.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    24

    b) Teknik Pameran

    1) Berdasar Obyek

    a. Teknik dasar untuk memamerkan dibagi dalam 3 jenis:

    Open (meletakkan seluruh koleksi galeri pada ruang pamer)

    Selective Display (menampilkan sebagian koleksi galeri)

    Thematic Grouping (menampilkan dalam topik tertentu)

    b. Bentuk dalam memameran adalah sebagai berikut:

    Unsecured Object, cara ini diterapkan untuk benda-benda

    yang tidak butuh peragaan dan pengamanan khusus

    Fastened Object, dengan cara mengikat benda-benda agar

    tidak berpindah tempat

    Enclose Object, benda-benda yang dipamerkan dilindungi

    dengan pagar atau kaca

    Hanging Object, benda-benda yang dipamerkan dengan cara

    digantung

    Animed Object, benda koleksi yang dipamerkan berupa

    atraksi yang akan menarik pengunjung

    Diorama, benda koleksi yang dipamerkan melalui tiruan

    miniatur atau seukuran benda aslinya

    Recreated strees and villages, penyajian dengan

    menggunakan artefak-artefak seperti aslinya untuk

    menggambarkansejarah aslinya.

    2) Teknik Panel

    Panel berfungsi dalam membantu mempresentasikan benda-benda

    yang dipamerkan

    3) Teknik model

    a. Suatu tiruan benda asli dengan skala 1:1

    Gambar ii.19. Replika 1:1 Sumber:http://blog.firstari.com/images/chicago_fieldmuseum8.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    25

    b. Miniatur, suatu tiruan benda asli dengan ukuran lebih kecil

    c. Enlargement, suatu tiruan benda asli dengan ukuran lebih besar

    4) Teknik Simulasi

    Bertujuan untuk mengajak pengunjung berpetualang atau

    menggambarkan kondisi aslinya dalam pameran

    5) Teknik audiovisual

    Teknik pameran menggunakan slide, film, video, dan sebagainya

    B. Yogyakarta sebagai Lokasi Terpilih

    Yogyakarta merupakan salah satu Daerah Istimewa yang memiliki banyak

    kekhasan dari berbagai sektor.

    1) Kondisi Fisik

    a) Letak geografis

    Letak geografis Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terletak di

    antara 7o33 8o15 LS dan 110o5 110o50 BT. DIY merupakan

    salah satu provinsi yang memiliki luas 3.185,81 km2 atau sekitar

    0,17% dari luas negara Indonesia, dan memiliki batas-batas wilayah:

    Gambar ii.20. Miniatur candi Prambanan Sumber:http://tjokrosuharto.com/catalog/images/sepuhan/miniatur/emg-018-19x19x20.jpg 3 Oktober 2011

    Gambar ii.21. Miniatur Rumah Tradisional Sumberz: http://www.tembi.org/museum-prev/images/candrakiranan/candrakiranan3.jpg 3 Oktober 2011

    Gambar ii.22. Enlargement kursi Sumber:http://i.telegraph.co.uk/telegraph/multimedia/archive/00979/giant-chair-460_979899c.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    26

    Sebelah selatan : Lautan Indonesia

    Sebelah timur laut : kabupaten Klaten

    Sebelah tenggara : kabupaten Wonogiri

    Sebelah barat : kabupaten Purworejo

    Sebelah barat laut : kabupaten Magelang

    Kotamadya Yogyakarta memiliki ketinggian 25 m sampai dengan 200

    m diatas permukaan laut dengan tingkat kemiringan 0-2%. Kontur

    paling curam dapat ditemukan pada bantaran kali Code dan Winongo.

    b) Klimatologi

    Secara umum keadaan iklim di Yogyakarta dipengaruhi oleh dua

    angin musim sebagai berikut:

    Angin musim barat laut, bertiup pada bulan Desember hingga

    Maret, biasanya musim penghujan

    Angin musim tenggara, bertiup pada bulan Mei hingga Oktober,

    biasanya merupakan musim kemarau

    Temperatur rata-rata berkisar antara 26,6C dengan 28,8C

    sedangkan temperature minimum mencapai 18C dan temperatur

    maksimum dapat mencapai 35C. Kelembapan udara rata-rata adalah

    74% dengan kelembaban minimum 65% dan maksimum 85%.

    Curah hujan bervariasi antara 33 mm sampai dengan 496 mm.

    curah hujan di atas 300 mm terjadi pada bulan Januari, Februari dan

    April. Curah hujan tertinggi yaitu 496 mm biasa terjadi pada bulan

    Februari dan curah hujan terendah berkisar antara 3 mm sampai

    dengan 24 mm terjadi pada bulan Mei sampai Oktober. Curah hujan

    tahunan rata-rata adalah 1855 mm.

    Gambar ii.23. peta Yogyakarta Sumber : http://www.yogyes.com/plug-in/map/1.gif 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    27

    2) Kondisi non fisik

    Banyak predikat yang dimiliki oleh kota Yogyakarta, seperti kota

    pendidikan, kota budaya, kota pariwisata, dan lain-lain. Hal ini

    mengakibatkan banyaknya masyarakat yang melirik kota ini untuk

    berbagai kepentingan, bahkan menetap secara permanen maupun

    sementara. Masyarakat yang ada pun sangat heterogen, sehingga banyak

    sektor kegiatan-kegiatan yang ikut berkembang. Berikut potensi yang ada

    di Yogyakarta sehubungan dengan seni Arsitektur:

    a) Pendidikan

    Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota pelajar memiliki sarana

    pendidikan dengan kualitas baik. Jumlah perguruan tinggi dan sekolah

    terus bertambah. Dari data terakhir diketahui bahwa terdapat 55

    perguruan tinggi, belum termasuk sarana pendidikan nonformal

    lainnya. Hal ini menarik masyarakat untuk bersekolah, menimba ilmu

    di Yogyakarta. Banyak masyarakat dari segala latar belakang

    berkumpul dan berbaur dengan masyarakat Yogyakarta. Jurusan

    Asitektur merupakan salah satu jurusan favorit yang menjadi pilihan di

    beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta. Berikut ini adalah tabel

    Perguruan Tinggi yang memiliki jurusan Arsitektur.

    Tabel ii.1. Nama Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang memiliki

    jurusan Arsitektur

    Nama Perguruan Tinggi di Yogyakarta Swasta 1 Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta 2 Universitas Janabadra, Yogyakarta 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta 4 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta 5 Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta 6 Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta 7 Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta 8 Universitas Teknologi Yogyakarta Negeri 1 Universitas Gadjah mada 2 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

    Sumber. Data pribadi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    28

    b) Kebudayaan

    Yogyakarta masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Seni dan

    budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat

    Yogyakarta. Kesenian khas di Yogyakarta antara lain adalah kethoprak,

    jathilan, dan wayang kulit. Yogyakarta juga dikenal dengan perak dan

    gaya yang unik membuat batik kain dicelup serta musik gamelan.

    c) Sarana dan Prasarana

    Kebutuhan akan listrik telah cukup mampu menjangkau seluruh wilayah

    kota. Sementara dari segi transportasi, terdiri dari transportasi darat (bus

    umum, taksi, kereta api, andong atau kereta berkuda, dan becak) serta

    udara (pesawat terbang) Bandar Udara Adi Sutjipto, akses menuju

    beberapa bagian utama kota pun sudah dapat dicapai dengan TransJogja.

    d) Pariwisata

    Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya memiliki banyak obyek wisata

    seni dan budaya yang menarik untuk dikunjungi. Peninggalan seni-

    budaya dapat disaksikan pada monumen-monumen peninggalan sejarah

    seperti Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Borobudur, istana

    Sultan, tempat lain yang masih berkaitan dengan kehidupan istana,

    museum budaya serta galeri kesenian. Beberapa contoh obyek wisata

    budaya adalah Museum Sonobudoyo, Museum Sri Sultan HB IX,

    Museum Kereta dan Kraton. Sedangkan contoh obyek wisata kesenian

    antara lain Museum Batik Ulen Sentalu, Museum Batik, Museum

    Affandi, Galeri Seni Rupa Tembi, Museum Wayang Kekayon, Rumah

    Seni Cemeti. Banyaknya obyek wisata di Yogyakarta membawa kota ini

    menempati peringkat kedua setelah Bali sebagai kota tujuan wisata.

    C. Beberapa Pameran Arsitektur di Yogyakarta

    1) Jogja Istimewa Merangkul Dunia9

    Sebuah persembahan dari para mahasiswa/i angkatan 2008 Teknik

    Arsitektur UGM berupa kegiatan pameran arsitektur yang menampilkan

    9 http://jogjasiana.com/events/jogja-istimewa-merangkul-dunia-pameran-arsitektur 16 Mei 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    29

    proposal desain dari tugu km 0, yang menggunakan berbagai media,

    seperti poster, maket, animasi, foto, sketsa, dan sebagainya. Acara ini juga

    diramaikan dengan talkshow dan art performance. Pameran ini

    diselenggarakan pada tanggal 6-8 Mei 2011 di Monumen Serangan Umum

    Satu Maret Yogyakarta.

    2) Seminar dan Workshop GIS Urban Thermal Comfort10

    Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta

    mengadakan seminar nasional yang bertemakan Urban Thermal

    Comfort. Seminar ini bertujuan untuk membangun sebuah pemahaman

    yang komprehensif mengenai pengaruh atau dampak berbagai elemen

    desain suatu kawasan terhadap kondisi termal atau klimatik lingkungan

    sekitar dan akhirnya akan menentukan tingkat kenyamanan manusia

    sebagai penghuni.

    Seminar ini menghadirkan Keynote Speech Herry Zudianto (Walikota

    Yogyakarta), serta pembicara Djoko Widodo (Walikota Solo), M. Ridwan

    Kamil, ST., MUD (PT. Urbane Indonesia), Dr. Steve Kardinal Jusuf

    (Center for sustainable Asian Cities, National University of Singapore), Dr.

    I Wayan Runa, MT (Universitas Marwadewa), Prof. Ir. Prasasto Satwiko,

    MBSc., Ph. D ( Guru Besar Prodi Arsitektur, FT UAJY)

    10 http://www.uajy.ac.id/agenda/seminar-nasional-arsitektur-urban-thermal-comfort-scan12010/ 16 Mei 2011

    Gambar ii.24. 1. Seminar, 2. Pameran karya , 3. Pameran foto dan sketsa, 4. Maket Sumber. Data pribadi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    30

    3) Pameran Arsitektur Urbanizing World 11

    Program Studi Teknik Arsitektur

    Fakultas Arsitek dan Desain UKDW

    bekerjasama dengan Universitas

    Stuttgart Jerman serta Goethe Institut

    Jakarta menyelenggarakan Pameran

    Urbanizing World di gedung Agape

    UKDW Yogyakarta, 18-22 Januari

    2011.

    Pameran ini menampilkan poster-poster besar horizontal yang berisi

    foto-foto dokumentasi yang sudah dicetak dalam printing media yang

    menggambarkan situasi perkembangan kota di negara-negara berkembang.

    Gambar-gambar berupa bangunan rumah, kehidupan masyarakat kota

    dalam poster tersebut merupakan hasil penelitian Prof. Dr.-ing Eckhart

    Ribbeck dari universitas Stuttgart Jerman yang telah melakukan penelitian

    mengenai persoalan urbanisasi di banyak negara berkembang serta

    mengerjakan proyek perencanaan kota.

    Hasil penelitian ditampilkan dalam 40 hingga 50 panel, yang memuat

    perkembangan tata kota di 30 kota di dunia. Pameran juga menampilkan

    bangunan permukiman berusia 2500 tahun, hingga bangunan pencakar

    langit di kota besar. Terdapat bangunan cagar budaya dan historis yang

    memudar, tergerus, dan tergantikan oleh bangunan yang dibangun atas

    landasan kapitalistik.

    4) Pameran Arsitektur UAJY Werner Sobek Designing The Future12

    Universitas Atma Jaya Yogyakarta(UAJY) menjadi tuan rumah

    penyelenggaraan pameran keliling WERNER SOBEK-designing the future.

    Pameran ini merupakan pameran keliling yang diselenggarakan UAJY

    bekerjasama dengan Goethe-Institut Jakarta dan Universitas Pelita Harapan

    11 http://jogjanews.com/2011/01/20/pameran-urbanizing-world-tampilkan-kesamaan-persoalan-kota-di-dunia/16 Mei 2011 12 http://www.uajy.ac.id/berita/pameran-arsitektur-uajy-werner-sobek%E2%80%93designing-the-future/ 16 Mei 2011

    Gambar ii.25.Pameran urbanizing World Sumber. http://jogjanews.com/ 3 Oktober

    2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    31

    berlangsung pada tanggal 8 sampai 21 Juni 2009 di gedung Perpustakaan

    Pusat Jl. Babarsari No 5 Yogyakarta. Pameran ini menyorot secara khusus

    hasil riset yang telah dilakukan oleh Institut Werner Sobek mengenai

    struktur ringan dan design konseptual. Tujuan yang lebih penting dari

    pameran ini ialah, ingin menunjukkan kepada publik Indonesia, bahwa

    selain beton dan baja ada materi lain yang dapat digunakan untuk

    bangunan. Terutama di kota-kota besar, tampaknya fungsi bangunan

    bercampur dengan arsitektur yang tanpa fantasi.

    5) Pameran Karya Lomba Fotografi dan Desain Poster Sepekan

    Arsitektur 201113

    Pameran karya lomba fotografi dan desain poster peserta sepekan

    Arsitektur 2011 ditampilkan pada tanggal 6-12 Maret 2011 di Lobby dan

    selasar Kampus II Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

    6) Pameran Architecture for All di FTSP UII14

    Waktu : 29 Agustus - 4 September 2006

    Tempat: Hall FTSP UII

    Pameran Karya Mahasiswa Trash.Arsitektur UII

    Panel Stupa (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7), Perancangan Tapak (1 dan 2), Lansekap,

    mata kuliah pilihan (Perumahan, Waterfront Building, Perancangan

    Ergonomis, Urban Desain, dan Trash.Arsitektur Bioklimatis) dan

    Simulasi Komputer

    Panel Dokumentasi Stupa (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7)

    Panel Struktur

    Maket Stupa (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7)

    13 http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=3194406398 16 Mei 2011

    Gambar ii.26. Pameran Architecture for All Sumber.http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=3194406398 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    32

    Maket Struktur dari mata kuliah KBG (1, 2) serta Perancangan Struktur

    dan Konstruksi (1, 2, 3, 4)

    Pameran Karya Dosen Trash.Arsitektur UII, Unit Pendukung FTSP,

    Diskusi, Pemutaran Film Trash.Arsitektur

    7) Pameran dan Diskusi Arsitektur15

    Dalam rangka Ulang Tahun Emas Ikatan Arsitek Indonesia (1959

    2009), IAI-DIY akan menggelar Pameran dan Diskusi Arsitektur bertempat

    di Hall Gedung Lama Bank Indonesia Jogja. Pergelaran tersebut

    bertemakan Jogja Kontemporer; Membaca Keragaman Arsitektur Jogja

    dengan Wawasan Global dan dibuka untuk umum tanggal 26-30

    November 2009.

    Pameran ini berupaya menghadirkan apa yang telah dialami Jogja dalam

    berarsitektur. Menyajikan berbagai rupa ungkapan bentuk yang membuat

    ramai Jogja, dengan maksud agar semua kita merasakan betapa kaya dan

    besar toleransi dunia berkesenian dan berarsitektur Jogja. Pembicara adalah

    peserta pameran, penulis buku arsitektur serta arsitek.

    D. Studi Banding

    1. Empiris

    Selasar Sunaryo Art Space16

    Nama Selasar Sunaryo Art Space diambil dari nama seniman yang

    memiliki galeri ini yaitu Sunaryo. Istilah selasar mengacu pada filosofi

    14 http://architecture.uii.ac.id/index.php/Daily-News/Pameran-Arsitektur-FTSP-UII 16 Mei 2011 15 http://jogjanews.com/ 3 Oktober 2011 16 www.selasarsunaryo.net dan analisa studi pribadi

    Gambar ii.27. Selasar Sunaryo Art Space Sumber. www.selasarsunaryo.net 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    33

    bahwa karya seninya adalah suatu proses kreatif yang terus berjalan.

    Bangunan Art space terbangun pada satu tanah di Bukit Pakar Timur

    seluas kira-kira 5,000 meter2 . Bentuk dasar dari bangunan diilhami oleh

    bentuk "kuda lumping", satu artefak budaya tradisional Indonesia. Kata

    "Selasar" mencerminkan konsep desain: untuk satu ruang terbuka yang

    menghubungkan satu ruang dengan ruang lain, dan sebagai jembatan

    penghubung antar bangunan. Konsep terakhir dari "Selasar", juga

    mencerminkan arah dari ruang untuk menghubungkan artworks dengan

    pendengar dan untuk membawa budaya yang berbeda secara bersama-

    sama. Selasar adalah salah satu ' open space yang memberikan rasa ruang

    untuk bebas masuk dan galeri seni yang terbuka bagi para komunitas.

    Dalam perancangan penataan ruang dilakukan pemisahan massa

    bangunan berdasarkan pengelompokan fungsi aktifitas. Berikut

    pengelompokan massa bangunan berdasarkan fungsinya :

    1) Fungsi Bangunan Utama, dengan dimensi sekitar 8,4x22 m2 yang

    terdiri atas tiga lantai yang berbeda dengan split level yang

    memanfaatkan pola kontur eksisting.

    2) Fungsi Bangunan Penunjang, yang terdiri atas dua lantai yang berbeda

    dengan split level.

    3) Ruang Amphiteater terbuka berbentuk setengah lingkaran dengan

    diameter sekitar 20m dari lingkar luar amphiteater dan 10m dari

    lingkar luar panggung.

    Ruang A (Gallery A)

    Ruang A (seluas 177 m2), dipergunakan

    untuk pondokkan karya Sunaryo. Ruang ini

    juga digunakan untuk pameran besar bagi

    seniman Indonesia dan asing untuk

    memperkenalkan karyanya.

    Stone Garden

    Taman batu (seluas 190 m2), satu ruang terbuka yang dipergunakan

    untuk memamerkan hasil karya Sunaryo yang terbuat dari bebatuan

    Gambar ii.28. Gallery A Sumber. www.selasarsunaryo.net

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    34

    Ruang Sayap (Wing Gallery)

    Ruang Sayap (seluas 48 m2),

    dipergunakan untuk pameran hasil karya

    para seniman muda dari Indonesia dan luar

    negeri.

    Ruang B (Gallery B)

    Ruang B (seluas 210 m2), dipergunakan

    untuk pameran hasil karya para seniman

    muda dari Indonesia dan luar negeri.

    Kopi Selasar (Kedai Kopi Selasar)

    Kopi Selasar (seluas 157 m2), sebuah kedai kopi outdoor yang luas

    Cinderamata Selasar (Selasar Shop)

    Cinderamata Selasar, merupakan satu toko dimana pengunjung dapat

    membeli karya seni dan buku budaya serta jurnal sebagai cendera mata.

    Gambar ii.29. Stone Garden Sumber. www.selasarsunaryo.net

    Gambar ii. 30. Wing Gallery Sumber. www.selasarsunaryo.net

    Gambar ii.31. Gallery B Sumber. www.selasarsunaryo.net

    Gambar ii.32. Kopi Selasar Sumber. www.selasarsunaryo.net

    Gambar ii.33. Selasar Shop Sumber. www.selasarsunaryo.net

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    35

    Ampiteater

    Ampiteater (seluas 198 m2), suatu ruang

    lingkar terbuka dengan layar besar, dengan

    kapasitas maksimum 300 orang,

    dipergunakan untuk performing arts event,

    pembacaan puisi, pemutaran film, panel

    diskusi, kumpul-kumpul, resepsi, konser

    musik dan seni budaya yang lain

    Rumah bambu (Bamboo House)

    Rumah bambu (seluas 76 m2), sebuah rumah yang terbuat dari bambu

    dan merupakan salah satu rumah tradisional masyarakat Sunda, dibangun

    untuk kediaman seniman yang akan pameran di sana dan berfungsi sebagai

    satu pesanggrahan untuk pengunjung khusus.

    Bale Handap

    Bale Handap adalah satu ruang multi yang dipergunakan untuk diskusi,

    bekerja, teater, sharing, pemutaran video serta berbagai events dan

    workshops. Kapasitas maksimum untuk 250 orang. Bangunan diilhami

    dari arsitektur tradisional jawa dengan teras terbuka. 'Bale Handap'

    terpisah dari bangunan utama, ditempatkan di antara Rumah Bambu pada

    lantai dasar dari Selasar.

    Gambar ii.36. Bale Handap Sumber. www.selasarsunaryo.net

    Gambar ii.34. Amphiteater Sumber. www.selasarsunaryo.net

    Gambar ii.35. Bamboo House Sumber. www.selasarsunaryo.net

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    36

    Bale Tonggoh (Balai bagian atas)

    Bale Tonggoh (seluas 190 m2), adalah satu

    bangunan semi permanen berfungsi sebagai

    satu kamar proyek dan ruang pameran

    temporary.

    Pustaka Selasar

    Koleksi Pustaka Selasar terdapat kurang lebih 1500 data meliputi, Seni

    rupa, Fotografi, Katalog pameran, Selasar Sunaryo Art Space arsip catalog

    dan daftar pustaka dari buku, monograf, majalah, jurnal, Klip media, Foto

    dan negatif film, slides, film (DVD, VCD/ VHS/ MiniDVD), serta Poster,

    terbuat dari kertas dan catatan diskusi dari wawancara serta ilmu

    pengetahuan tentang teknik para seniman dalam berproses.

    Mushola

    Terdapat sebuah mushola di sudut utara

    bangunan yang memiliki ukuran kurang lebih

    10 m2, desain mushola detail dan menarik.

    Area Parkir

    Area parkir yang disediakan berupa parkir terbuka yang berada disisi

    selatan bangunan yang dapat menampung kurang lebih 25 mobil. Ground

    cover berupa conblok dengan penataan lansekap pohon rindang

    Gambar ii.37. Bale Tonggoh Sumber.www.selasarsunaryo.n

    et

    Gambar ii.39. Mushola Sumber. www.selasarsunaryo.net

    Gambar ii.38. Pustaka Selasar Sumber. www.selasarsunaryo.net

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    37

    Sistem Sirkulasi

    Konsep sirkulasi cenderung menggunakan pola linier yang mengusung

    pola ruang yang menerus. Citra bangunan menampilkan image modern

    abstrak yang menjadi ekspresi karya-karya seni kontemporer dari

    Sunaryo. Tampilan interior tidak menonjol dan cenderung netral untuk

    lebih menonjolkan karya-karya seni yang dipamerkan di dalamnya.

    Aktifitas dan Fasilitas

    Berikut ini tabel Aktifitas dan Fasilitas yang ada di Selasar Sunaryo Art

    Space di Bandung :

    Tabel ii.2. Aktifitas dan Fasilitas Selasar Sunaryo Art Space

    NO Aktifitas Fasilitas Kelompok ruang 1. Pameran tetap karya-karya

    milik Sunaryo dan pameran temporer

    Ruang pamer tetap Ruang pamer temporer Ruang pamer outdoor

    Publik

    2. Produksi karya seni Studio seni Privat 3. Konvensi dan diskusi seni Ruang pertemuan Publik 4. Performance seni Amphitheater Publik 5. Kegiatan komersial Artshop, Caf Publik 6. Kegiatan informasi Lobby Publik 7. Kegiatan pengelolaan Ruang pengelola Privat 8 Mencari info tentang seni,

    membaca, melihat video Pustaka selasar publik

    9. Kegiatan service Lavatory, Dapur, Storage, dan Stock Room

    Service

    10. Kegiatan istisahat Rumah bambu privat 11. ibadah mushola publik

    sumber : analisa pribadi

    2. Preseden

    Rumah Seni Cemeti Yogyakarta17

    Rumah Seni Cemeti/ Cemeti Art House terletak di D.I. Panjaitan no.41

    Gambar ii.40. Area Parkir Sumber. www.selasarsunaryo.net

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    38

    Yogyakarta. Galeri seni kontemporer ini dikelola oleh Yayasan Seni

    Cemeti yang aktif mengadakan berbagai pameran seni kontemporer yang

    diadakan secara periodik. Rumah Seni Cemeti sejak tahun 1988 telah

    secara aktif memamerkan dan mengkomunikasikan karya dari seniman

    kontemporer baik dari Indonesia maupun mancanegara. Setiap tahun

    diselenggarakan paling sedikit sebelas proyek pameran baik pameran

    tunggal, pameran kelompok, seni pertunjukkan, site spesifik, maupun

    happening art, diskusi, presentasi slide serta perbincangan seniman.

    Bangunan Rumah Seni Cemeti ini bergaya arsitektur vernakuler. Hal

    ini terlihat pada ruang lobby penerima yang bergaya joglo yang

    mencirikan bangunan tradisional Jawa. Dari ruang penerima ini,

    pengunjung digiring menuju ke ruang pamer melewati sebuah ruang

    selasar dengan salah satu sisi yang terbuka. Terdapat sebuah taman hijau

    kecil berukuran kurang lebih 25 m2 pada sebelah sisi yang terbuka pada

    selasar. Di sisi sebelah kanan terdapat ruang penunjang berupa lavatory

    dan pantry serta stockroom. Terdapat ceruk dinding yang berisi display

    buku dokumentasi seniman dan kegiatan yang dilakukan oleh Rumah Seni

    Cemeti yang berada di sisi kanan dan kiri pintu stockroom.

    Ruang pamer berukuran 105 m2 dengan konsep ruang yang semi

    terbuka yang salah satunya menghadap selasar yang menghubungkannya

    ke ruang lobby penerima. Ruang pamer dilengkapi dengan sistem

    17 TGA Tomy Arief. Galeri Seni Urban di Yogyakarta. UNS. Surakarta. 2010

    Gambar ii.41. Denah dan Interior Rumah Seni Cemeti Sumber.http://www.archive.cemetiarthouse.com/_file/others/denah_large.jpg 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    39

    pencahayaan alami dari bukaan atap dan sistem pencahayaan artifisial dari

    lampu sorot. Finishing dinding ruang pamer menggunakan warna putih

    netral tanpa ornamentasi. Plafond dibiarkan tanpa finishing untuk

    pencahayaan alami yang merata pada seluruh ruang pamer. Sedangkan

    finishing lantai dari ubin dengan warna krem merata dari ruang penerima

    hingga ruang pamer.

    Museum Soekarno di Blitar18

    Salah satu tempat wisata di Kota Blitar adalah makam Soekarno,

    seorang pembaca proklamasi Indonesia dan Presiden pertama Republik

    Indonesia yang berada di Jalan Slamet Riyadi 60, desa Bendogerit,

    kecamatan Sunan wetan, sekitar 2 kilometer dari kota Blitar.

    18 Http://www.bungkarno.net 9 Juni 2011

    Gambar ii.42. 1. Museum Soekarno, 2.Menuju Museum,3. Gerbang Museum, 4. Rumah makam Sokearno

    Sumber.Http://www.bungkarno.net 3 Oktober 2011

    Gambar ii.43 Bangsal dan Gerbang Candi Bentar Sumber. Http://www.bungkarno.net 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    40

    Arsitektur "Joglo" gaya Jawa Timur mendominasi makam dikombinasikan

    dengan Gerbang Candi Bentar. Selain bangunan utama dibentuk meliputi

    rumah makam 'Bung Karno', kompleks kuburan juga dilengkapi dengan

    beberapa bangunan pendukung, yakni Gapura Agung, Masjid dan Bangsal.

    Terdapat pula bangunan pelengkap yang terdiri rumah pengurus makam,

    tempat peristirahatan umum, halaman parkir, dan pertamanan.

    Selain berziarah, pengunjung juga dapat menggali wawasan sejarah

    seputar sosok Soekarno. Yakni dengan adanya sebuah perpustakaan

    Soekarno lengkap dengan mini museum. Koleksi perpustakaan saat ini

    sudah mencapai 120 ribu eksemplar yang terdiri dari buku umum,

    referensi dan termasuk koleksi Soekarno. Jenis koleksi sebagai berikut:

    a) Koleksi Khusus (Gedung A, Lantai 1 Timur)

    Berupa biografi Bung Karno, buku-buku karya Bung Karno, buku-

    buku tentang Bung Karno, dan buku tentang koleksi lukisan dan

    patung Bung Karno.

    b) Koleksi Referensi (Gedung A, Lantai 1 Timur)

    Kamus, elektronika, fisika, kimia, komputer, filsafat, pariwisata,

    istilah perbankan, ensiklopedia, perundangan, buku-buku langka

    c) Terbitan Berkala (Gedung A, Lantai 1 Timur)

    Koran, majalah, tabloid

    d) Koleksi Umum (Gedung A, Lantai 2 Timur/Barat

    Jenis koleksinya berupa karya umum, filsafat, agama, ilmu-ilmu

    sosial, bahasa, ilmu-ilmu murni, ilmu-ilmu terapan (teknologi),

    kesenian dan olahraga, kesusasteraan, sejarah dan geografi.

    e) Koleksi Non buku (Gedung A, Lantai 1 Barat)

    Lukisan Bung Karno, Peninggalan Bung Karno, berupa baju dan

    koper, Uang seri Bung Karno, tahun 1964, serial lukisan Bung

    Karno di Rengasdengklok sebelum kemerdekaan, foto-foto Bung

    Karno sejak muda sampai menjadi presiden

    f) Koleksi Audio-visual

    Berupa CD pidato Bung Karno, VCD ilmu pengetahuan dan

    dokumenter, dan sebagainya.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    41

    g) Koleksi Anak dan Remaja (Gedung B)

    Jenis koleksinya berupa karya umum, filsafat, agama, ilmu-ilmu

    sosial, bahasa, ilmu-ilmu murni, ilmu-ilmu terapan (teknologi),

    kesenian dan olahraga, kesusasteraan, sejarah dan geografi.

    Disamping bangunan Perpustakaan, PPBK ini diisi dengan 2 karya

    seni, yang berupa Patung Bung Karno yang terletak di tengah gedung A

    lantai 1, serta dinding relief berisi perjalanan hidup Bung Karno yang

    membentang di pinggir kolam dari arah perpustakaan ke arah makam.

    Relief itu akan bercerita tentang Bung Karno di masa muda, di masa

    perjuangan, serta di masa tuanya.

    Untuk museumnya, dipajang beberapa peninggalan Soekarno. Seperti

    foto-foto keluarga Bung Karno dan foto perjalanannya ketika menjadi

    Presiden, ada juga jas yang biasa digunakan saat melawat di dalam

    maupun luar negeri, dan bendera merah-putih pertama buatan Fatmawati

    (istri Bung Karno) yang dikibarkan di Rengasdengklok pada 16 Agustus

    1945 silam.

    Gambar ii.44. patung Bung karno dan Relief dinding Sumber. Http://www.bungkarno.net 3 oktober 2011

    Gambar ii.45. 3D Siteplan Museum Soekarno Sumber. Http://www.bungkarno.net 3 Oktober 2011

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user 42

    BAB III

    TINJAUAN ARSITEKTUR NUSANTARA

    A. Arsitektur Nusantara

    1. Pemahaman Arsitektur Nusantara

    Arsitektur nusantara berasal dari istilah nusantara yang mengambil

    sumber dari sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada dengan arti gugusan

    pulau-pulau kecil atau sedang yang terletak di antara dua benua dan dua

    samudera.1 Kata Nusantara terdiri dari kata-kata nusa yang berarti pulau

    dan antara berarti lain. Istilah ini digunakan dalam konsep kenegaraan

    Jawa artinya daerah di luar pengaruh budaya Jawa.2 3Tahun 1920-an Dr. Setiabudi mendistorsikan arti dari istilah nusantara

    demi persatuan bangsa, yaitu gugusan pulau antara dua benua dan

    samudra. Kondisi geografis wilayah di antara kathulistiwa berbagai

    macam, ada yang berupa laut, ada yang berupa pulau besar dan ada yang

    berupa pulau kecil/sedang. Gugusan pulau yang terdapat di antara garis

    kathulistiwa itulah yang disebut sebagai Nusantara.

    Proses rancang arsitektur nusantara dilandasi oleh pemikiran rasional

    dan spiritual. Merancang dengan potensi arsitektur nusantara berarti

    mencari karakteristik arsitektur dari sebuah wilayah geografis pulau-pulau

    yang tidak terbatasi oleh luasnya wilayah satu negara. Baik asli maupun

    paduan, baik diterapkan dalam aspek rinupa maupun tanrinupa, karya

    arsitektur masa kini yang sudah berusaha dirancang dengan penggalian

    adat dan budaya nusantara pantas disebut sebagai arsitektur nusantara.

    Aspek esensial perancangan arsitektur nusantara adalah hasil eksplorasi

    dari potensi yang ada di bumi nusantara sendiri.

    2. Sejarah Nusantara4

    Dalam penggunaan bahasa modern, istilah nusantara biasanya meliputi

    daerah kepulauan Asia Tenggara atau wilayah Austronesia. Sehingga pada

    1 Tjahja Tribinuka, Antara Arsitektur Vernakuler, Tradisional, Nusantara dan Indonesia, ITS 2 Isnen Fitri, ST, M.Eng. Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang. 3 Tjahja Tribinuka, Antara Arsitektur Vernakuler, Tradisional, Nusantara dan Indonesia, ITS 4 Isnen Fitri, ST, M.Eng. Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    43

    masa sekarang ini banyak orang menggunakan istilah geografis ini untuk

    menunjukkan sebagai satu kesatuan pulau di Nusantara termasuk wilayah-

    wilayah di Semenanjung Malaya (Malaysia, Singapura) dan Filipina

    bahkan beberapa negara di wilayah Indochina seperti Kamboja akan tetapi

    tidak termasuk wilayah Papua. Di sisi lain, istilah geografis Nusantara saat

    ini sering diartikan sebagai Indonesia yang merupakan satu entitas politik.

    a) Sejarah Singkat Nusantara5

    Wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera

    Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan

    Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai

    tempat persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari China ke

    India atau sebaliknya. Persinggahan para pelayar dan pedagang dari

    berbagai mancanegara telah menjadikan Nusantara sebagai tempat

    kehadiran semua kebudayaan besar didunia. Abad ke-5 sampai ke-15,

    kebudayaan-kebudayaan India mempengaruhi Sumatra, Jawa -Bali, dan

    Kalimantan bersamaan dengan dataran-dataran rendah yang luas di

    Semenanjung Indocina. Kebudayaan India ini awalnya pada penyebaran

    agama Hindu dan Buddha dan Islam di Indonesia. Di Jawa Tengah,

    candi Borobudur dan Prambanan adalah monumen yang sama nilainya

    dengan Angkor dan Pagan. Pada abad ke-7 hingga ke-14, kerajaan

    Budha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Pada abad ke-14

    bangkitnya kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Islam tiba di

    Indonesia sekitar abad ke-12, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan

    utama pada akhir dekad ke-16 di Jawa dan Sumatra. Hanya Bali yang

    tetap mempertahankan mayoriti Hindu. Agama Islam ini dibawa oleh

    pedagang Arab dari Parsi dan Gujarat melalui pembauran. Islam

    diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada

    mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan

    tersebut. Peradaban Eropa, hadir sejak abad ke-16. Mulai tahun 1602

    Belanda perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah Nusantara dengan

    5 Ibid

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    44

    memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah

    menggantikan Majapahit. Pada dekade ke-17 dan 18 Hindia-Belanda

    tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh

    perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC).

    Pemerintah Hindia Belanda mendirikan kota-kota dengan bermacam

    fasilitas seperti bangunan perkantoran, rumah sakit, bangunan ibadah

    (masjid dan gereja) dan sebagainya. Penetrasi Jepang di Asia Tenggara

    pada tahun 1941 disambut pada bulan yang sama.

    b) Geografi dan Lingkungan6

    Nusantara beriklim tropis sesuai dengan letaknya yang melintang di

    sepanjang garis khatulistiwa. Dataran Indonesia kurang lebih 1.904.000

    kilometer persegi terletak antara 60 LU dan 110 LS serta 950 dan 1400

    garis BT. Dataran ini dibagi menjadi empat satuan geografis yaitu

    kepulauan Sunda Besar (Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi),

    Kepulauan Sunda Kecil (Lombok, Sumba, Sumbawa, Komodo, Flores,

    Alor, Savu, dan Lembata), Kepulauan Maluku (Halmahera, Ternate,

    Tidore, Seram dan Ambon), dan Irian Jaya beserta kepulauan Aru.

    Seluruh pulau di Indonesia termasuk dalam zona iklim khatulistiwa

    dengan suhu yang hampir konstan serta dipengaruhi oleh angin musim

    dan angin pasat. Secara geologis, Nusantara terdiri dari bentukan

    vulkanik dan nonvulkanik yang saling terjalin, sehingga Indonesia

    merupakan wilayah seismik paling aktif di dunia. Wilayah Nusantara

    juga merupakan wilayah yang rawan tsunami.

    c) Keragaman Budaya7

    Indonesia memiliki 18,018 buah pulau yang tersebar di sekitar

    khatulistiwa. Diantara puluhan ribu pulau, terdapat lima pulau besar,

    yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya, dengan

    pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, sekitar 65% populasi

    Indonesia hidup dipulau ini. Berdasarkan sosial linguistik, kebanyakan

    6 Ibid 7 Ibid

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    45

    orang Indonesia berbahasa Austronesia yang kelompok wilayah

    persebarannya meliputi banyak pulau di Asia Tenggara, sebagian dari

    Vietnam Selatan, Taiwan Mikronesia, Polinesia dan Madagaskar

    sehingga memiliki banyak kesamaan warisan budaya. Pengaruh budaya

    Austronesia terlihat dalam budaya materi, organisasi sosial,

    kepercayaan, mitos, serta bahasa. Indonesia, selain kekayaan bahasa,

    masing-masing etnis memiliki keunikan adat istiadat dan budaya yang

    sering direfleksikan dalam keunikan arsitektur lokal atau vernakular.

    3. Nusantara dan Jaringan Asia8

    Wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera

    Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan Australia.

    Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat

    persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari China ke India atau

    sebaliknya. Selain kedua bangsa Asia ini, terdapat juga pengaruh lain dari

    berbagai budaya hebat di dunia seperti peradaban Iberia (Spanyol dan

    Portugis), kemudian Britania Raya, dan Belanda. Kebudayaan India

    8 Ibid

    Gambar iii.1. Indonesia dan Jaringan Asia Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    46

    pengaruhnya mencakup terhadap penyebaran dan perkembangan Hindu

    Buddha dan Islam di Indonesia yang bisa diketahui dari tinggalan

    budayanya yaitu arsitektur candi dan arsitektur masjid bergaya Moghul di

    Indonesia. Kebudayaan China hingga sekarang ini masih sangat besar dapat

    terlihat dalam berbagai sapek kehidupan; kepercayaan, bahasa, makanan,

    sistem pertanian dan lain sebagainya. Terdapat banyak tinggalan sejarah

    yang mendapat pengaruh peradaban Cina di Indonesia terutama pada

    klenteng dan bangunan pertokoan yang tersebar pada kota-kota lama di

    seluruh wilayah Indonesia. Budaya Jepang pertama kali masuk ke

    Nusantara pada sepertiga abad ke 20. Kemiripan pada arsitektur vernakular

    yang sangat dipengaruhi oleh budaya Austronesia.

    4. Sejarah Perkembangan Arsitektur Indonesia9

    Perkembangan kebudayaan erat kaitannya dengan sejarah kebangsaan.

    Secara umum periodisasi sejarah budaya Indonesia dibagi atas tiga bagian

    besar yaitu Zaman Hindu-Budha, Zaman Islamisasi dan Zaman Modern,

    dengan proses oksidentalisasi. Sebenarnya terdapat satu zaman lagi

    sebelum zaman Hindu Buddha yaitu Zaman prasejarah akan tetapi tidak

    banyak contoh yang tersisa dalam bidang arsitektur terutama pada masa

    prasejarah awal. Sejarah budaya melahirkan peninggalan budaya termasuk

    arsitektur sejalan dengan periodisasi tersebut, maka dapat dikategorikan

    sebagai arsitektur percandian, arsitektur selama peradaban Islam (arsitektur

    lokal atau tradisional, dan pra modern) dan arsitektur modern (arsitektur

    kolonial dan pasca kolonial).

    B. Arsitektur di Nusantara

    1. Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha10

    Selama era kerajaan Hindu dan Buddha terdapat dua dinasti yang

    berkuasa sekitar abad ke-8 hingga ke-10 yaitu dinasti Sanjaya dan

    Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu aliran Siwa, sementara dinasti

    9 Ibid 10 Ibid

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    47

    Syailendra menganut agama Buddha Mahayana atau Vajrayana.

    Peninggalan dari kedua dinasti ini berupa prasasti dan candi. Keluarga

    Sanjaya memiliki kekuasaan di bagian utara Jawa Tengah, dan keluarga

    Syailendra di bagian Selatan Jawa Tengah. Pembangunan candi terkait

    dengan kerajaan di Nusantara pada masa perkembangan agama Buddha dan

    Hindu di Indonesia. Keberadaan kerajaan-kerajaan Hindu Budha dimasa

    lampau diketahui dari prasasti-prasasti. Prasasti dari kerajan tertua di

    nusantara ditemukan di Kutei, Kalimantan Timur. Setelah itu terdapat

    ratusan prasasti yang bercerita tentang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha

    di Nusantara sekaligus juga bercerita tentang bangunan suci (candi).

    Umumnya prasasti tersebut dibuat pada abad ke-9. Berikut beberapa

    prasasti dan candi peninggalan kerajaan-kerajaan pada era Hindu dan

    Buddha atau sebelumnya.

    Tabel iii.1. Tinggalan Sejarah Kerajaan-kerajaan selama era Hindu-Buddha

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    48

    Arsitektur Candi

    a) Fungsi Candi

    Kata Candi pada umumnya dianggap berasal dari kata

    candikagrha, nama tempat tinggal Candika, Dewi Kematian dan

    Permaisuri Siwa. Secara harfiah Candi bisa ditafsirkan sebagai

    bangunan yang digunakan untuk keperluan pemakaman, atau bahkan

    sebagai makam. Seringkali candi digunakan sebagai tempat

    pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal. Akan tetapi,

    Candi dibangun bukan semata hanyalah sebagai makam atau tempat

    pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal, lebih dari itu,

    candi juga difungsikan sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa

    yang dilambangkan sebagai arca. Arca diletakan di ruang tengah

    candi dahulu kala hanya Pendeta yang memimpin acara pemuajaan

    yang diperkenankan masuk kedalam ruang tersebut. Candi lebih

    diyakini sebagai kuil atau tempat pemujaan daripada sebagai makam.

    b) Tatanan, Bagian dan Konsep Arsitektural Candi

    Secara vertikal, struktur Bangunan candi terdiri dari tiga bagian

    yang melambangkan kosmologi atau kepercayaan terhadap

    pembagian dunia sebagai satu kesatuan alam semesta yang sering

    disebut dengan Triloka terdiri dari dunia manusia (bhurloka), dunia

    tengah untuk orang-orang yang disucikan (bhuvarloka) kemudian

    dunia untuk para dewa (svarloka).

    Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    49

    Ketiga tingkatan ini, dalam struktur candi adalah digambarkan

    sebagai bagian kaki, badan dan kepala. Arsitektur candi sering juga

    diidentikan dengan makna perlambangan Gunung Meru. Dalam

    mitologi Hindu-Buddha, Gunung Meru adalah sebuah gunung di

    pusat jagat yang berfungsi sebagai pusat bumi dan mencapai tingkat

    tertinggi surga. Keyakinan seolah-olah mengatakan bahwa gunung

    sebagai tempat tinggal para dewa. Pada bangunan candi di Indonesia,

    selain berbagai macam arca Budha dan para dewa yang terdapat di

    ruang dalam candi, elemen atau bagian bangunan yang terdapat pada

    arsitektur candi baik candi Hindu dan Buddha yaitu kala-mekara,

    peripih, stupa, ratha (mahkota), lingga dan yoni.

    c) Teknik Konstruksi dan Pembangunan Candi

    Bangunan candi di Indonesia umumnya dibangun dengan cara a

    joint vif, yaitu bebatuan yang saling ditumpuk diatasnya tanpa ada

    bahan pengikat. Pada awalnya teknik penumpukan batu dilakukan

    dengan cara membuat perkuatan dengan memotong bagian balok

    batu untuk membuat semacam lidah dan tekukan yang saling

    Gambar iii.2. Struktur Candi Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    50

    mengunci dengan balok-balok yang bersebelahan baik secara

    mendatar maupun ke atas. Pada awal abad ke-9, ahli bangunan Jawa

    menggunakan teknik India mengenai dinding batu berdaun ganda.

    Teknik ini memerlukan pembuatan sepasang dinding sejajar dan

    pengisian rongga diantaranya dari puing atau dari batu dengan bentuk

    yang tidak beraturan direkatkan dengan lumpur, kadang-kadang

    ditambah sedikit kapur. Lapisan luar batu biasanya diarahkan ke

    bagian luar dalam serangkaian bebatuan menggantung berjarak tidak

    rata yang menghasilkan kesan bagian luar bagikan dipahat. Setelah

    abad ke 9, teknik kontruksi candi agak sedikit berubah.

    Pembangunan candi memiliki tata cara dan upacara ritual.

    Upacara yang dilaksanakan serigkali dicatat dalam tulisan batu

    (piagem) atau lempengan perak atau tembaga. Yang berinisiatif

    membangun candi pada pertama kalinya adalah bangsawan (orang

    suci) dengan mengajak orang-orang di kampungnya (sekelilingnya)

    untuk bergotong royong membangun candi. Tata cara urutan

    pembangunan candi seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.

    Gambar iii.3. Teknik Konstruksi Dinding Berdaun Ganda Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    51

    d) Pembagian Kelompok Arsitektur Candi

    Melihat dari masa pembangunan candi-candi di Nusantara, maka

    dibagi atas tiga periode, yaitu masa Klasik Awal (600 M-900 M),

    dimana candi Prambanan dan Borobudur dibangun pada masa ini,

    kemudian masa Klasik Madya (900 M- 1250 M) yaitu candi-candi

    yang terdapat di Sumatera seperti candi-candi yang ada di Padang

    Lawas, Muara Takus, dan Muara Jambi. Candi-candi yang dibangun

    pada Masa Klasik Akhir (1250 M 1500 M) umumnya terdiri dari

    konstruksi bata yang secara meluas banyak terdapat di Jawa Timur

    dimana candi berundak di lereng gunung popular pada akhir periode

    ini. Jika dilihat dari sudut pengelompokkan langgam atau jenis serta

    Gambar iii.4. Tata cara Urutan Pembangunan Candi Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.5. Peta pengelompokan Candi Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    52

    agama yang mewakili keberadaan candi tersebut, Soekmono

    membagi menjadi tiga jenis yaitu jenis Jawa tengah Utara mewakili

    agama Hindu (Siwa), jenis Jawa Tengah Selatan mewakili agama

    Budha (Mahayana) dan jenis Jawa Timur mewakili aliran Tantrayana

    (baik Siwa maupun Budha). Pengelompokkan ini sejalan dengan

    pengelompokkan candi berdasarkan masa pembangunannya.

    Candi-candi di Jawa Tengah Utara merupakan candi pada masa

    klasik awal. Candi di wilayah ini merupakan pemujaan terhadap

    Siwa dengan bentuk mendekati tipe candi di India. Beberapa candi

    yang terpenting lain pada masa dan wilayah ini adalah Candi Gunung

    Wukir (732 M), Candi Badut (760 M), kelompok candi Gedong

    Songo di lereng gunung Ungaran.

    Candi-candi di Jawa Tengah Selatan merupakan candi-candi

    Budha pertama di Jawa atau dikategorikan sebagai candi pada masa

    Klasik awal. Candi yang termasuk adalah candi Kalasan(778 M),

    Gambar iii.6. Candi Gedong Songo dan Candi Badut Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.7. Candi-candi di Jawa Tengah Selatan Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    53

    candi Sari, candi Borobudur, candi Mendut, kelompok candi Sewu,

    kelompok candi Plaosan. Tidak ada perbedaan yang mendasar antara

    candi di Jawa tengah Utara dengan candi di Jawa tengah Selatan,

    hanya candi di Jawa tengah Selatan lebih mewah dan lebih megah

    dari segi bentuk dan hiasan daripada candi di Jawa Tengah Utara.

    Oleh karena itu, sering tipe candi di kedua wilayah ini disatukan,

    perbedaan yang mendasar terlihat pada candi di Jawa Timur.

    Candi-candi terpenting di Jawa Timur adalah candi-candi di

    sekitar Malang : candi Kidal (candi Anusapati), candi Jago (candi

    Wisnuwardhana), candi Singosari (candi Krtanagara). Kemudian

    candi Jawi, kelompok candi Panataran, candi Jabung.

    Gambar iii.8. Candi Penataran dan Candi Jago Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.9. salah satu tipe Denah Candi Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    54

    Tabel iii.2. Perbedaan bentuk dan langgam candi Jawa Tengah dan

    Jawa Timur.

    Di pulau Sumatra seperti candi Muara takus, candi-candi di

    Padang Lawas terdapat beberapa candi yang digolongkan sebagai

    candi pada masa klasik madya. Candi ini diperkirakan dibangun pada

    abad ke-11 dan ke- 13.

    Terdapat tipe lain dari candi yang berbeda yang sering disebut

    dengan pertirtaan dan candi padas. Kelompok ini dimasukan ke

    dalam candi pada masa klasik akhir. Pentirtaan dan Candi padas

    yang terkenal adalah candi belahan di lereng gunung Penanggungan

    dekat Mojokerto, dikenal dengan candi berundak, candi Tikus di

    bekas kota Majapahit (abad ke-14), dan gunung kawi di

    Tampaksiring (Bali). Kemudian ada lagi jenis bangunan candi yang

    berupa gapura, terdapat dua jenis gapura yaitu yang pertama, bagian

    pintu keluar masuk yang mana bagian tubuhnya terdapat lobang

    Gambar iii.10. Candi Biaro Bahal 1, Padang Lawas, Sumatera Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    55

    pintu, misalnya candi Jedong, candi Plumbangan, dan candi Bajang

    Ratu. Jenis gapura kedua, rupanya seperti bangunan candi yang

    dibelah dua atau disebut juga dengan candi bentar yang biasanya

    identik dengan seni bangunan pada masa Majapahit. Selain candi

    Waringin Lawang di Majapahit, juga terdapat di Kapal, Bali.

    2. Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Islam11

    Islam masuk ke Indonesia kurang lebih abad ke-13 sangat terkait dengan

    perkembangan perdagangan di wilayah Nusantara. Pada tahun 1297 di

    Samudra, sebuah kerajaan di Aceh, ditemukan makam raja Islam, salah

    satunya makam Sultan Malik al- Saleh. Dari bukti sejarah ini, disimpulkan

    bahwa Kerajaan Samudra menjadi kerajaan Islam yang pertama di

    Nusantara. Pada awal abad ke-15, Malaka timbul sebagai pusat

    perdagangan dan pangkal penyebaran agama Islam. Sementara di bagian

    Timur Nusantara timbul pula pusat kegiatan Islam, yaitu Ternate (1430)

    yang meluaskan ajaran Islam hingga ke pantai timur Sulawesi. Kejayaan

    Malaka mencapai daerah Riau (Kampar, Indragiri). Majapahit digantikan

    kedudukannya oleh Kerajaan Demak yang kemudian meluaskan agama

    Islam ke seluruh Jawa hingga bagian selatan Kalimantan sehingga tersebut

    kerajaan Mataram dan Banten menjadi kerajaan Islam yang besar setelah

    11 Ibid

    Gambar iii.11. Candi pada masa Kalsik Akhir Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    56

    Demak. Pada abad ke-16 juga timbul kerajaan Brunei yang meluaskan ke

    Islaman hingga bagian barat Kalimantan, dan juga Filipina. Atas kegiatan

    orang-orang Bugis, maka Islam masuk ke Kalimantan Timur dan Sulawesi

    Tenggara dan juga beberapa pulau di Nusa Tenggara. Dari Ternate

    (Kesultanan Ternate dan Tidore), Islam meluas meliputi pulau-pulau di

    seluruh Maluku, dan di daerah pantai Timur Sulawesi serta Sulawesi Utara.

    Hingga akhir abad ke 16, boleh dikata bahwa Islam telah tersebar dan

    mulai mengakar di Nusantara.

    a) Pertumbuhan Kota-Kota Islam Awal

    Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kota pertama di

    Indonesia adalah peningkatan perdagangan kelautan Asia secara umum

    pada abad ke-13 dan ke-14. Disamping itu pusat kerajaan Islam yang

    tumbuh setelah pudarnya kejayaan kerajaan Hindu Budha menjadi

    bandar-bandar baru sebagai titik pintu masuk menuju perairan

    internasional bersamaan dengan perkembangan kota-kota pelabuhan

    yang mulai dikuasai oleh Potugis dan VOC.

    Pada saat itu, ada dua jenis kota yang muncul; pertama, kota sebagai

    pelabuhan dagang dengan pintu masuk menuju jalur perairan

    internasional, dan kedua, kota sebagai pusat administratif dengan

    daerah pertanian yang makmur. Kota yang terletak di pesisir dan

    muara-muara sungai besar disebut sebagai pusat Kerajaan Maritim

    Gambar iii.12. Persebaran Kota-kota Islam Awal di Nusantara Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    57

    berfungsi sebagai pelabuhan atau titik masuk dan keluar pelayaran

    seperti Sriwijaya/Palembang, Aceh/Pasai, Banten, Batavia,

    Banjarmasin, Semarang, Demak, Jepara, Gersik, Tuban, Surabaya,

    Makassar, Ternate dan Banda. Sedangkan kota jenis kedua, kota yang

    berada di pedalaman seperti Pagaruyung, Jambi dan Mataram.

    Pertumbuhan kota dan permukiman pada kedua kota memiliki

    karakteristik dan pola sendiri. Kota pedalaman dicirikan dengan kota

    dengan istana yang memiliki upacara yang rumit dengan arsitektur

    yang didasarkan pada penduduk yang bermata pencaharian utama

    pertanian. Sementara disepanjang pantai utara digambarkan sebagai

    masyarakat kosmopolitan dengan sederet bandar perdagangan yang

    lebih cenderung memandang ke luar daripada ke dalam.

    Elemen lain dalam kota masa Islam awal adalah lebuh agung atau

    alun-alun, lapangan yang terletak di tengah-tengah kota dan berfungsi

    sebagai tempat berkumpul atau upacara ritual kerajaan/kota dan

    kegiatan hiburan. Perkembangan pesat pada kota-kota pelabuhan

    dagang Islam membentuk titik perhatian utama pembaharuan arsitektur

    dan pembangunan kota saat itu. Sementara itu, masjid menggantikan

    candi sebagai titik utama kehidupan keagamaan.

    b) Makam dan Pekuburan Orang Islam

    Masa Islam Awal ditandai dengan ditemukannya bentuk monumen

    seperti makam, mesjid, kuburan dan keraton. Salah satu ciri utama

    bentuk makam yaitu balok batu persegi panjang yang menyerupai

    Gambar iii.13. Pelabuhan di Lingkungan Bada Aceh Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    58

    bangunan, terukir dengan ayat-ayat yang diambil dari Al Quran serta

    dibubuhi ragam hias yang disebut sayap; sedangkan jenis yang satu lagi

    lebih umum disebut sebagai bentuk jada atau club.

    c) Mesjid sebagai Tempat Suci

    Mesjid menjadi tempat peribadatan menggantikan fungsi candi pada

    masa tersebut. Letak mesjid di kota-kota pusat kerajaan di Jawa di

    sebelah barat alun-alun dan tidak terpisahkan dari komponen inti kota

    yaitu keraton.

    1) Kronologis Perkembangan Arsitektur Masjid

    Mesjid-mesjid kuno di Indonesia menunjukkan kekhasan yang

    membedakannya arsitektur mesjid-mesjid di negeri Islam. Mesjid-

    mesjid kuno pada awal perkembangan Islam yang mengadopsi

    konsep-konsep arsitektur Candi (Hindu/Budha), arsitektur lokal

    serta arsitektur Cina. Kekhasan gaya arsitektur mesjid-mesjid kuno

    ini dinyatakan oleh bentuk atap tumpang atau bertingkat 2,3,5,

    dengan puncaknya dihiasi mustaka atau memolo, denahnya

    persegiempat atau bujursangkar dengan serambi di depan atau di

    samping; fondasinya pejal dan tinggi, pada bagian depan atau

    samping terdapat parit berair (kulah) serta gerbang. Umumnya

    mesjid tua di Jawa berciri seperangkat empat tiang yang dikenal

    dengan saka guru seperti:

    Gambar iii.14. Bentuk batu nisan di beberapa daerah Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    59

    Masjid Menara Kudus, di Kudus,Jawa Tengah

    Masjid Sendang Dawur di Lamongan, Cirebon

    Masjid Mantingan di Jepara, Jawa Tengah

    Masjid Lima Kaum, Tanah Datar di Sumatera Barat

    Surau Syeh Burhanuddin, di Ulakan, Padang Pariaman,

    Sumatera Barat.

    Masjid Sultan Abdul Rahman, Kalimantan

    Masjid Agung Anke di Jakarta

    Masjid Sumenep di Madura

    Mesjid Angke dan Marunda di Jakarta

    Mesjid Agung Demak

    Mesjid Agung Banten

    Mesjid Baiturrahman pada masa Sultan Iskandar Muda

    Mesjid di Ternate tahun abad ke 19 (sebelum perubahan)

    Kemudian, sekitar awal abad ke-19, arsitektur mesjid-mesjid yang

    mendapat pengaruh arsitektur India, Timur Tengah dan Kolonial

    Belanda. Beberapa mesjid yang mendapat pengaruh gaya ini adalah :

    Masjid Raya Baiturahman di Aceh

    Masjid Raya Al Osmani di Labuhan, Deli

    Gambar iii.15. Masjid yang mendapat pengaruh arsitektur Candi dan arsitektur Vernakular Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    60

    Masjid Azizi Tanjung Pura, Langkat

    Masjid Raya Al Maksum di Deli, Medan

    Masjid Agung di Palembang

    Masjid Al Azhar di Jakarta

    Masjid Agung Yogyakarta

    Masjid Syuhada Yogyakarta

    Masjid Agung di Banyuwangi

    2) Tatanan, Bagian dan Konsep Arsitektural Mesjid

    Pada umumnya arsitektur mesjid Indonesia mempunyai konsep

    dan elemen ruang utama, mihrab, mimbar, maksurah, halaman

    terbuka, serambi, menara, tempat bersuci. Dibagian belakang dan

    samping mesjid kuno di Indonesia biasanya terdapat pula makam

    raja-raja atau sultan-sultan, anggota keluarga raja dan orang-orang

    yang dianggap keramat, contohnya mesjid Demak, mesjid

    Kadilangu, mesjid Ampel, mesjeid Kuto Gede, Mesjid banten.

    Gambar iii.16. Masjid yang mendapat pengaruh India (arsitektur Moghul) Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.17. Masjid yang mendapat pengaruh arsitektur kolonial (modern Eropa)

    Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    61

    d) Istana Kerajaan Islam

    Keraton atau istana selama masa Islam tumbuh subur di Indonesia

    meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sumbawa, Sulawesi dan

    Maluku. Umumnya keraton atau istana berada di dalam pagar keliling

    dan di pusat kota kerajaan. Sehingga terdapat perbedaan di antara dunia

    dalam dan dunia luar yang diwakili oleh istana (di Jawa terkadang

    dikenal dengan Dalem) serta lingkungan alam sekitar di luar istana.

    Lingkungan di dalam istana dikenal sebagai ruang yang bersifat sakral,

    beradab dan halus, dan lingkungan di luar istana sebagai sesuatu yang

    liar, kasar dan profan. Tata letak istana/keraton diibaratkan berporos

    pada gunung yang suci atau berada dalam satu garis imajiner dengan

    gunung dan laut, seperti halnya yang terjadi di Jawa, Sumatera,

    Sumbawa, dan ternate, dibelakang keraton/istana terdapat gunung yang

    dianggap suci. Didalam satu kompleks istana terdapat beberapa

    bangunan yang mana orientasi atau penempatannya mengekspresikan

    perumpamaan tingkatan atau hierarki dalam masyarakat tersebut. Unsur

    arsitektur lokal dan kolonial mendominasi konsep arsitektural istana

    pada abad ke-19 dan ke-20.

    Gambar iii.18.Kompleks Kraton Yogyakarta Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    62

    3. Arsitektur Vernakular Indonesia

    a) Sejarah Perkembangan12

    1) Hubungan Austronesia dan Indonesia

    Pengaruh budaya Austronesia terlihat dalam budaya materi,

    organisasi sosial, kepercayaan, mitos, dan bahasa. Kearifan nenek

    moyang, mitos, animisme, penguburan mayat dalam peti, tempat

    pemujaan yang terletak di tempat yang tinggi merupakan pengaruh

    dalam kepercayaan.

    Begitu pula halnya pengaruh dalam konsep dan bentuk rumah

    Austronesia di Indonesia, bagi orang Austronesia rumah bukan

    sekedar tempat tinggal, melainkan merupakan bangunan teratur

    berlambang yang menunjukkan sejumlah ide penting perwujudan

    12 Ibid

    Gambar iii.19.Bekas Istana Ternate (awal abad ke-18) Sumber. Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.20.Lokasi Persebaran Austronesia Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    63

    keramat para leluhur, perwujudan fisik jati diri kelompok, dunia

    kecil di jagad raya, dan ungkapan tingkat dan kedudukan sosial.

    Ciri dan karakteristik mendasar dari rumah austronesia yaitu terdiri

    atas bangunan persegi empat, berdiri di atas tiang-tiang, beratap

    ilalang. Bentuk dasar ini mengalami pembaharuan di daerah

    Austronesia dan ditemukan di rumah Batak, rumah gadang di

    Minangkabau, rumah Tongkonan di Toraja, dan rumah

    panjang di dayak, Kalimantan.

    Perlambangan dalam rumah austronesia nampak pada struktur

    dan bentuk atap menggambarkan berbagai macam bentuk dan

    simbol dari benda seperti kipas, perahu, dan tanduk kerbau yang

    mencerminkan kekuasaan dan nilai kesakralan. Simbol tersebut

    umumnya juga terdapat pada dinding penutup atap (gable-end).

    Status sosial atau hierarki dari rumah sering digambarkan dalam

    dekorasi yang ada di dinding penutup atap.

    2) Pengertian Arsitektur Vernakular Gambar iii.21.Arsitektur vernakular Indonesia yang menggunakan tanduk kerbau dan atap pelana

    Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    64

    Kata Vernakular berasal dari vernaculus (latin) berarti asli

    (native). Maka vernakular arsitektur dapat diartikan sebagai

    arsitektur asli yang dibangun oleh masyarakat setempat. Paul

    Oliver dalam bukunya Ensikolopedia Arsitektur Vernakular

    menjabarkan bahwa arsitektur vernakular konteks dengan

    lingkungan sumber daya setempat yang dibangun oleh suatu

    masyarakat dengan menggunakan teknologi sederhana untuk

    memenuhi kebutuhan karakteristik yang mengakomodasi nilai

    ekonomi dan tantanan budaya masyarakat dari masyarakat tersebut.

    Arsitektur vernakular ini terdiri dari rumah dan bangunan lain

    seperti lumbung, balai adat dan lain sebagainya.

    Pengertian vernakular arsitektur sering disamakan dengan

    arsitektur tradisional. Josep Prijotomo berpendapat bahwa secara

    konotatif kata tradisi dapat diartikan sebagai pewarisan atau

    penerusan norma-norma adat istiadat atau pewarisan budaya yang

    turun temurun dari generasi ke generasi. Kemudian, Ismunandar

    menjelaskan bahwa arsitektur traditional, yang diturunkan dari

    generasi ke generasi. Arsitektur dan bangunan tradisional

    merupakan hasil seni budaya tradisional, yang merupakan bagian

    yang tak terpisahkan dari hidup manusia budaya tradisional, yang

    mampu memberikan ikatan lahir batin.

    Kata tradisional berasal dari kata tradisi yang di Indonesia sama

    artinya dengan adat (custom), kata adat ini di adopsi dari bahasa

    Arab. Pada prinsipnya, baik di dunia global dan Indonesia, kata

    tradisional diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan secara turun

    temurun dari generasi ke generasi.

    b) Tipe Arsitektur Vernakular Indonesia: Keberagaman dan

    Kesamaannya13

    Indonesia adalah negara kaya dengan ratusan etnis yang mana setiap

    etnis memiliki kekhususan budaya tersendiri, sehingga terdapat pula

    13 Ibid

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    65

    ratusan tipe rumah vernakular di Indonesia. Dari semua tipe tersebut,

    terdapat beberapa tipe yang memiliki keunikan dan karakteristik yang

    sangat kuat seperti yang terlihat pada gambar berikut

    Dari keberagaman arsitektur vernakular Indonesia, terdapat

    kesamaan dari keberagaman tersebut yang berasal dari akar yang sama

    yaitu budaya Austronesia. Bahkan kesamaan nampak pada arsitektur

    non-austronesia seperti Papua. Kesamaan ciri-ciri arsitektur vernakular

    Nusantara yang juga merupakan ciri dari arsitektur austronesia:

    Tipe rumah panggung

    Sebagian besar rumah vernakular Indonesia kecuali rumah Jawa,

    Bali, Lombok dan Papua, menggunakan struktur rangka tiang kayu

    Gambar iii.23. Macam ragam arsitektur vernakular Indonesia Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.22.Sebaran Lokasi Arsitektur vernakular Indonesia Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    66

    atau tipe rumah panggung sebagai upaya adaptasi dengan iklim dan

    geografi, menggunakan sistem sambungan tarik dan tekan (sistem

    pen) tanpa menggunakan paku dan sistem cros-log foundation

    (balok kayu yang saling tumpang tindih secara horizontal).

    Tiang bangunan mempunyai alas batu. Tiang tidak ditanam

    didalam tanah, melainkan beralas batu sehingga lebih fleksibel

    ketika ada guncangan atau gempa.

    Lantai bangunan didukung oleh tiang dan balok kayu yang saling

    mengikat satu sama lain, biasanya tanpa menggunakan paku.

    Pemanjangan bubungan atap sering dangan sopi-sopi mencondong

    keluar. Seringklai pemanjangan dibuat lekukan sehingga

    menimbulkan daya tarik estetis. Dominasi atap tampak pada

    keseluruhan bangunan. Proporsi atap lebih besar dari pada badan

    dan kaki (bagian bawah) bangunan. Selain itu itu atap pelana

    (saddle roof) lebih umum digunakan.

    Memiliki ornamen pada dinding penutup atap (gable end) yang

    menyimbolkan status sosial, kekuasaan dan karakteristik budaya.

    1) Pola Perkampungan

    Di Indonesia, terdapat dua tipe tatanan permukiman dan rumah

    dari kampung-kampung tradisional yaitu linear dan konsentris. Di

    masa mendatang tatanan ini mengalami evolusi dalam

    perkembangannya seperti bentuk radial, bentuk huruf T dan

    bentuk silang (cross type). Kampung-kampung dengan tantanan

    linear biasanya terdapat di pesisir-pesisir pantai Indonesia, namun

    juga terdapat di pedalaman Sumatra, Nias, Kalimantan, Sulawesi,

    Bali, dan beberapa wilayah di Jawa. Bangunan pada kampung

    bersifat linear letaknya berbaris dan berhadapan satu sama lainnya,

    diantara barisan bangunan tersebut terdapat ruang bersama yang

    digunakan untuk berbagai macam kegiatan seperi berkumpul,

    pemujaan atau ritual keagamaan, acara kesenian dan lain

    sebagainya. Pada ruang terbuka ini pula sering ditempatkan batu

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    67

    megalith, tugu dan tiang sakral keagamaan. Bangunan pemimpin

    (chief house) atau raja ditempatkan dekat batu atau tugu tersebut

    atau di ujung pelataran yang membelah barisan rumah dan menjadi

    akhir dari deretan rumah dan kampung, tetapi ada juga yang

    ditempatkan di tengah-tengah barisan.

    Ditinjau dari fungsinya, bangunan vernakular Indonesia

    umumnya terdiri dari tiga bagian ; rumah tinggal, bale adat atau

    ruang pengadilan atau ruang musyawarah, dan lumbung. Letak

    ketiga bangunan tersebut bisa saling berhadapan seperti halnya

    yang terjadi di perkampungan Batak Toba dan Bali Aga.

    Perkampungan dengan pola konsentris terdapat di Flores dan

    Sumba dan Jawa Tengah. Tantanan ini memiliki bagian tengah

    yang dianggap sakral dan penting, misalnya ruang terbuka (tempat

    berkumpul), batu megalith, tugu atau kuburan para nenek moyang.

    Beberapa kampung memiliki pola gabungan dari linear dan

    kosentris yang sering disebut dengan compound type. Pola

    kosentris menyimbolkan penerapan sistem pemerintahan pada

    kekuatan tunggal yang memusat. Sementara pola linear

    menggambarkan demokrasi dari distribusi kekuasaan dengan strata

    sosial lebih sederhana. Ada juga pola menyebar (scattered type)

    atau disperse settlement pattern. Pola perkampungan ini seringkali

    menggambarkan persamaan struktur sosial (less stratified social

    struktur) dan kelompok masyarakat yang lebih kecil.

    Gambar iii.24. pembagian pola perkampungan

    Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    68

    2) Rumah dan Tatanan Ruang

    Pembagian ruang dapat dikategorikan secara vertikal dan

    horizontal, pembagian ruang ini sebagai respon terhadap sistem

    sosial kekerabatan, kosmologi dan kondisi alam sekitar. Secara

    horizontal, terdapat bagian dari rumah yang dianggap paling sakral

    atau suci adalah bagian yang paling dalam atau belakang, sehingga

    menjadi tempat pemujaan atau penyimpanan benda-benda keramat

    atau warisan leluhur.

    Secara vertikal, pembagian ruang terdiri dari bagian atas,

    tengah dan bawah, dengan bagian atas sebagai ruang yang paling

    sakral sehingga barang-barang yang dianggap keramat disimpan di

    dalam ruang atas ini. Ruang tengah untuk kehidupan manusia dan

    ruang bawah untuk binatang ternak atau gudang.

    Umumnya masyarakat primitif memiliki kepercayaan terhadap

    pembagian dunia atau alam ke dalam tiga bagian yaitu dunia atas

    sebagai tempat para dewa, dunia tengah bagi kehidupan manusia,

    dan dunia bawah bagi roh-roh jahat. Dari segi bentuk dan

    morphologi ruang, umumnya rumah vernakular di Indonesia terdiri

    dari persegi panjang dan bujur sangkar seperti halnya rumah Aceh,

    Melayu, Batak, Nias Selatan, Mentawai, Jawa, Kalimantan,

    Sulawesi, Bali dan Sumba. Ada juga yang menggunakan bentuk

    lingkaran dan ellips seperti rumah di Nias Utara, Lombok dan

    Papua. Beberapa rumah vernakular Indonesia merupakan tipe

    rumah komunal artinya terdapat beberapa keluarga yang memiliki

    Gambar iii.25. pembagian horizontal bangunan vernakular Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    69

    kekerabatan dengan beberapa generasi yang berbeda, tinggal dalam

    satu rumah besar seperti rumah Batak Toba, Karo, Minangkabau,

    Mentawai, Kalimantan, Lio (Flores), Sumba. Ruang dibatasi oleh

    dinding, perbedaan tinggi lantai, alas (tikar) saja. Ruang-ruang

    tersebut dihubungkan oleh ruang bersama.

    3) Teknologi Bangunan:Bahan Bangunan dan Teknik Konstruksi

    Salah satu ciri arsitektur vernakular adalah menggunakan bahan

    yang alami dan teknik konstruksi yang sederhana dengan cara

    menyusun tiang dan balok. Penyatuan semua bagian bangunan

    dilakukan dengan cara membentuk dan menyambung bagian kayu

    dengan beberapa alat khusus sederhana seperti kampak, gergaji,

    pahat, golok (parang). Untuk kemudahan pemasangan, tiang dan

    balok disambung di tanah sebelum diletakkan di atas batu pondasi.

    Penyusunan tiang dan balok a tidak menggunakan paku, tapi

    menggunakan sambungan lubang dengan pasak, sambungan

    pangku dan sambungan takik. Susunan tiang-tiang tersebut

    bersandar di atas batu pondasi dengan stabilitas didapat dari rel-rel

    melintang yang masuk ke lubang yang dibuat di dalam tiang.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    70

    Perkuatan sistem konstruksi rumah untuk mengantisipasi

    kondisi alam yang rawan gempa terlihat pada rumah Nias, dengan

    menambahkan penopang yang membentuk huruf X dan V.

    Pada bangunan lumbung di Indonesia memiliki kekhususan

    dari teknik konstruksi yaitu pemasangan piringan kayu besar

    disusun di atas puncak tiang dasar untuk mencegah hewan pengerat

    mencapai tempat penyimpanan padi.

    Gambar iii.28. Teknik konstruksi rumah vernakular Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.29. Batang silang X dan V pada rumah Nias Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.30. bangunan Lumbung di Indonesia Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    71

    4) Upacara Pendirian Bangunan

    Rumah menjadi perlambang status kedudukan seseorang dalam

    masyarakat, sehingga diperlukan tata cara dalam pendirian rumah.

    Upacara dilakukan mulai dari pembersihan lahan rumah, penentuan

    titik pembangunan rumah, pendirian tiang utama/seri/tengah,

    pemasangan bubungan atau atap rumah, sampai upacara

    masuk/penghunian rumah. Hal ini dilakukan secara bertahap dan

    melibatkan pemilik rumah dan pemuka kampung atau ahli tukang

    (chief carpenter) atau orang yang dianggap keramat atau sakti.

    Misalnya, proses pembersihan dan pendirian tanda rumah

    dilakukan pemilik rumah dalam hal ini ibu atau perempuan pemilik

    rumah dengan orang sakti yang tahapannya dapat dilihat pada

    gambar berikut ini.

    Ritual ini bertujuan untuk memberikan spirit atau jiwa bagi

    kehidupan yang berlangsung didalam rumah atau bangunan yang

    didirikan yang sering disimbolkan dalam benda keramat yang

    diletakkan di dalam rumah, seringkali di letakkan pada bagian

    tengah atau atas (atap) rumah. Misalnya raga-raga yang digantung

    dibawah atap rumah Batak Toba. Selain menjadi jiwa atau nyawa

    dari rumah, berfungsi juga mengusir roh-roh atau gangguan dari

    luar terhadap keselamatan penghuni rumah.

    Gambar iii.31. Upacara Pendirian Bangunan Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    72

    Selain itu, rumah juga dianggap sebagai perwujudan jagad kecil

    dari jagat raya. Rumah adalah tempat kelahiran, perkawinan dan

    kematian. Seringkali upacara yang berhubungan dengan ketiga hal

    tersebut dikaitkan dengan arah mata angin dan pergerakan

    matahari. Sehingga unsur kejagadan ini menciptakan tatanan

    upacara yang mengatur kegiatan di dalam rumah. Sebagai contoh

    timur dianggap serupa dengan hal-hal memberi kehidupan dan

    barat identik dengan kematian.

    Sebagian besar masyarakat tradisional Indonesia membagi

    alam kedalam tiga bagian; dunia atas, dunia tengah dan dunia

    bawah. Kosmologi ini juga mempengaruhi pembagian ruang dalam

    Gambar iii.32. raga-raga yang digantung dibawah atap rumah Batak Toba Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Gambar iii.33. Perwujudan jagad kecil dikaitkan dengan mata angin Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    73

    rumah; ruang dibawah atap disamakan dengan alam dewa dan

    leluhur, lantai mewakili dunia biasa pengalaman sehari-hari dan

    ruang kosong dibawah rumah dihubungkan dengan alam baka yang

    dihuni oleh roh jahat, jiwa orang mati dan hal-hal gaib lainnya.

    Pembagian ini sangat jelas terlihat pada rumah-rumah di Sumatra

    khususnya Batak Toba, rumah di Kalimantan, Tongkonan di

    Toraja, Sulawesi dan beberapa rumah Sumba di Nusa Tenggara.

    Ada pula pembagian dengan konsep berdasar gender serta

    gagasan mengatur perilaku pria dan wanita. Seringkali wanita

    dikaitkan dengan bagian dalam atau belakang rumah, dan pria

    serupa dengan bagian depan atau luar rumah. Pengaturan ruangan

    keluarga di dalam rumah suku Minangkabau di Sumatera Barat

    sangat dipengaruhi oleh konsep gender tersebut.

    5) Macam Arsitektur Vernakuler Indonesia

    Arsitektur merupakan salah satu seni produk kebudayaan.

    Sementara kebudayaan nusantara berakar pada kebudayaan

    tradisionalnya, begitupun arsitektur vernakuler juga merupakan

    akar dari arsitektur nusantara. Arsitektur vernakuler sangat

    beranekaragam di Indonesia, seiring dengan keanekaragaman suku

    bangsanya. Salah satu contoh arsitektur vernakuler adalah rumah

    Gambar iii.34. Pembagian jagad kecil rumah Batak Toba Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

    Dunia Atas, tempat para dewa \ Dunia Tengah, tempat kehidupan manusia Dunia Bawah, tempat para roh jahat dan simbol kesuburan/ kemakmuran

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    74

    tradisional Indonesia.14

    Pada hakikatnya arsitektur adalah keterpaduan antara ruang

    sebagai wadah, dengan manusia sebagai isi yang menjiwai wadah

    itu sendiri. Dengan kata lain dalam arsitektur terdapat perwujudan

    ruang (meliputi fungsi, tata-susunan, dimensi, bahan, dan tampilan

    bentuk) yang sangat ditentukan oleh keselarasan kehidupan daya

    dan potensi dari manusia di seluruh aspek hidup dan kehidupannya

    (meliputi norma/tata-nilai, kegiatan, populasi, jatidiri, dan

    kebudayaannya).15

    Tabel iii.3. Rumah Tradisional di Indonesia

    NO GAMBAR NAMA PROVINSI

    NAMA RUMAH ADAT

    KETERANGAN

    1

    DI Aceh/ Nanggro Aceh Darussalam/ NAD

    Rumoh aceh Bentuk: persegi panjang, panggung Atap: pelana Bahan: kayu

    2

    Sumatera Utara

    Rumah balai batak toba

    Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana bertanduk Bahan: ijuk, pelepah enau, kayu bulat, papan, bambu dan batu

    3

    Sumatera Barat

    Rumah gadang Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana bertanduk Bahan: ijuk, pelepah enau, kayu bulat, papan, bambu dan batu

    4

    Riau Rumah melayu selaso jatuh kembar

    Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    5

    Jambi Rumah panggung

    Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    6

    Sumatera Selatan

    Rumah limas Bentuk: panggung Atap: pelana Bahan: kayu

    714 Ibid 815 Ibid

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75 7

    Lampung Nuwo sesat Bentuk: panggung Atap: pelana Bahan: kayu

    8

    Bengkulu Rumah bubungan lima

    Bentuk: panggung Atap: pelana Bahan: kayu

    9

    DKI Jakarta Rumah kebaya Bentuk: menapak tanah Atap: pelana Bahan: kayu

    10 Jawa Barat Kesepuhan Bentuk: menapak tanah Atap: limasan Bahan: kayu

    11

    Jawa Tengah Rumah joglo Bentuk: menapak tanah, bujur sangkar Atap: limasan Bahan: kayu

    12

    DI Yogyakarta

    Rumah joglo Bentuk: menapak tanah Atap: limasan Bahan: - kayu jati - kayu nangka: pemakaian arah vertikal. - Glugu: sebagai kerangka rumah misalnya:

    balder, pengerat, sunduk, kili usuk - Bambu: untuk kap rumah, yaitu usuk, reng,

    gendong, juga untuk dinding (bilik) - Ulelitan: bahan penutup atap dari daun kelapa,

    daun tebu, daun bambu, atau ijuk - Sirap: bahan penutup atap - Ragum: tali dari ijuk untuk mengikat

    hubungan-hubungan kayu. 13

    Jawa Timur Rumah joglo Bentuk: menapak tanah Atap: limasan Bahan: kayu

    14

    Bali

    Gapura candi bentar

    Bentuk: menapak tanah Atap: limasan Bahan: kayu

    15

    Nusa Tenggara Barat

    Dalam loka samawa

    Bentuk: panggung Atap: pelana Bahan: kayu

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    76 16

    Nusa Tenggara Timur

    Sao ata mosa lakitana

    Bentuk: panggung Atap: pelana Bahan: kayu

    17

    Kalimantan Barat

    Rumah panjang Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    18

    Kalimantan Tengah

    Rumah betang Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    19

    Kalimantan Selatan

    Rumah banjar Bentuk: panggung Atap: pelana Bahan: kayu

    20

    Kalimantan Timur

    Rumah lamin Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    21

    Sulawesi Utara

    Rumah bolaang mongondow

    Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    22

    Sulawesi Tengah

    Souraja / Rumah besar

    Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    23

    Sulawesi Tenggara

    Laikas Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    24

    Sulawesi Selatan

    Tongkonan Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: daun nipah, batang nipau, bambu, kayu, anyam dahan atau rotan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    77 25

    Maluku Baileo Bentuk: panggung, persegi panjang Atap: pelana Bahan: kayu

    26

    Irian Jaya / Papua

    Rumah honai Bentuk: lingkaran, menapak tanah Atap: berbahan ijuk Bahan: kayu

    Sumber: www.google.com 10 April 2011

    C. Konsepsi Arsitektur Nusantara

    Pembicaraan tentang lingkungan, kiranya tidak hanya akan terbatas pada

    lingkungan alam saja. Sesungguhnya, istilah lingkungan mempunyai

    pengertian yang sangat luas. Lingkungan dapat bermakna sebagai lingkungan

    alam atau fisik, yaitu lingkungan yang terbentuk bukan atas hasil sentuhan

    tangan manusia. Selanjutnya, lingkungan dapat bermakna sebagai lingkungan

    fisik terbangun atau lingkungan buatan; yaitu lingkungan fisik yang terbentuk

    dari hasil sentuhan tangan manusia, misalnya gedung-gedung. Lingkungan

    pun dapat bermakna sebagai lingkungan sosial, yaitu lingkungan yang

    berwujud sebagai suasana-suasana kemasyarakatan, dengan kata lain

    merupakan hubungan manusia dengan manusia. Namun lingkungan tersebut

    juga tidak lepas dengan hubungannya pada hal-hal yang metafisik, ini berarti

    dalam lingkungan ada hubungan manusia dengan yang gaib, khususnya

    dengan Sang Pencipta (Allah).

    Menurut Silas dalam Tanudjaja (1991), adanya hubungan-hubungan ini

    nampak pada wujud arsitektur tradisional masyarakat Jawa, khususnya

    bangunan candi, yang melambangkan alam atas (dewa, leluhur dan masa

    mendatang), alam tengah (kehidupan masa kini), dan alam bawah (masa lalu

    atau dosa).

    Ketergantungan manusia terhadap alamnya, adalah satu hal yang menjadi

    orientasi nilai di dalam masyarakat tradisional, yang akan dimanifestasikan ke

    dalam wujud-wujud arsitektural yang sangat tergantung pada karakter-karakter

    alam. Sehingga menghasilkan karya-karya arsitektural yang akrab atau santun,

    selaras, dan serasi dengan alamnya.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    78

    Perumusan tentang arsitektur nusantara memang cukup sulit, mengingat

    bahwa keanekaragaman suku bangsa di Indonesia menghadirkan pula

    keanekaragaman arsitekturnya. Di satu sisinya, keanekaragaman ini mungkin

    akan menimbulkan perasaan bangga di dalam diri masyarakatnya karena

    adanya ke-bhineka tunggal ika-an. Namun demikian kebanggaan yang

    dilandasi oleh pemikiran bahwa keragaman budaya tidak menjadi penghalang

    bagi terwujudnya keserasian, kesatuan, dan kehidupan yang berdampingan

    secara serasi; di dalam kesatuan terdapat keragaman. Dengan demikian, perlu

    adanya upaya-upaya memecahkan permasalahan tersebut, akhirnya Tanudjaja

    (1991), mengemukakan dua buah alternatif pemecahan masalah, yaitu:

    1. Tidak perlu diadakan rumusan tentang arsitektur nasional Indonesia;

    arsitektur-arsitektur tradisional di Indonesia tetap menjadi bagian yang

    mandiri di dalam kancah arsitektur Indonesia. Arsitektur-arsitektur

    tradisional daerah-daerah di Indonesia tersebut dibiarkan dan diberi

    kebebasan untuk berkembang dan tumbuh subur sesuai dengan ciri dan

    jiwanya. Arsitektur-arsitektur tersebut tidak perlu saling dirujuksilangkan

    atau dikawinkan untuk dijadikan arsitektur Indonesia, karena hal ini bisa

    mengakibatkan terjadinya arsitektur eklektik yang kurang mendasar. Nilai-

    nilai budaya tradisional yang terkandung pada arsitektur tradisional

    tersebut dibiarkan dan diberi kebebasan untuk berkembang di dalam

    ekosistemnya. Dengan demikian, tidak ada rumusan tentang arsitektur

    Indonesia, melainkan arsitektur di Indonesia (atau mungkin, arsitektur

    Indonesiawi yang bukan arsitektur Indonesia). Langkah ini bisa disertai

    dengan konsekuensi bahwa pada suatu saat kelak, mungkin ada suatu

    wujud arsitektur tradisional tertentu yang akan diakui oleh segenap

    anggota masyarakat di Indonesia, tidak terbatas hanya pada sekelompok

    masyarakat atau sekelompok suku bangsa, sebagai arsitektur Indonesia.

    2. Upaya kedua ini merupakan upaya yang sangat berlainan, atau bahkan

    berlawanan, dengan upaya yang pertama. Perumusan tentang arsitektur

    Indonesia dilakukan melalui langkah-langkah yang bertahap dan mendasar.

    Asal-muasal dari setiap komponen arsitektural; seperti atap, tiang, dinding,

    lantai, langit-langit, jendela, dan pintu bangunan dan suprasegmen

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    79

    arsitektural; seperti bentuk, warna, tekstur, dan ukuran dari setiap

    komponen arsitektural ditelaah secara mendasar. Asal-muasal dari setiap

    suprasegmen komponen arsitektural yang terdapat di dalam setiap

    arsitektur tradisional (maupun non-tradisional) di Indonesia ini ditelaah;

    menyangkut dasar-dasar filosofisnya, nilai-nilai sosial budaya yang

    dikandungnya, dan konsepsi-konsepsi lain yang mendasari perwujudannya.

    Selanjutnya, diadakan penelusuran terhadap benang-benang penghubung

    antar masing-masing konsepsi yang menjadi jiwa dan asal-muasal

    perwujudan tersebut. Akhirnya, jika terdapat kemiripan di dalam setiap

    konsepsi, maka konsepsi tersebut dapat dinyatakan sebagai konsepsi yang

    mewakili arsitektur-arsitektur di Indonesia. Namun demikian, langkah-

    langkah ini hampir pasti tidak akan menghasilkan rumusan tentang bentuk

    atap, tiang, langit-langit, dan komponen-komponen arsitektur lainnya,

    ataupun gambaran nyata tentang warna, tekstur, dan ukuran dari setiap

    komponen arsitekturalnya. Hal ini mungkin, disebabkan karena

    keanekaragaman arsitektur di Indonesia.

    D. Arsitektur Nusantara sebagai Tampilan Fisik Bangunan

    Kesamaan ciri-ciri arsItektur candi di Indonesia adalah sebagai berikut:

    1. Candi juga difungsikan sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa yang

    dilambangkan sebagai arca.

    2. Secara vertikal, struktur Candi terdiri dari tiga bagian yang melambangkan

    kosmologi atau kepercayaan terhadap pembagian dunia sebagai satu

    kesatuan alam semesta yang disebut dengan Trilok;dunia manusia

    (bhurloka), dunia tengah untuk orang-orang yang disucikan (bhuvarloka)

    kemudian dunia untuk para dewa (svarloka). Ketiga tingkatan ini, dalam

    struktur candi digambarkan sebagai bagian kaki, badan dan kepala

    3. Bangunan candi di Indonesia umumnya dibangun dengan cara a joint vif,

    yaitu bebatuan yang saling ditumpuk diatasnya tanpa ada bahan pengikat.

    Awalnya teknik penumpukan batu dilakukan dengan cara membuat

    perkuatan dengan memotong bagian balok batu untuk membuat semacam

    lidah dan tekukan yang saling mengunci dengan balok-balok yang

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    80

    bersebelahan baik secara mendatar maupun ke atas. Awal abad ke-9, ahli

    bangunan Jawa menggunakan teknik dinding batu berdaun ganda.

    Kesamaan ciri-ciri arsitektur vernakuler Nusantara adalah sebagai berikut:

    1. Arsitektur vernakuler Nusantara merupakan ciri dari arsitektur Austronesia:

    a) Tipe rumah panggung

    Sebagian besar rumah vernakular Indonesia kecuali rumah Jawa, Bali,

    Lombok dan Papua, menggunakan struktur rangka tiang kayu,

    menggunakan sistem sambungan tarik dan tekan (sistem pen) tanpa

    menggunakan paku dan sistem cros-log foundation (balok kayu yang

    saling tumpang tindih secara horizontal).

    b) Tiang bangunan mempunyai alas batu. Tiang tidak ditanam didalam

    tanah, melainkan beralas batu sehingga lebih fleksibel ketika ada

    guncangan atau gempa.

    c) Lantai bangunan didukung oleh tiang dan balok kayu yang saling

    mengikat satu sama lain, biasanya tanpa menggunakan paku.

    d) Pemanjangan bubungan atap sering dangan sopi-sopi mencondong

    keluar. Proporsi atap lebih besar dari pada badan dan kaki (bagian

    bawah) bangunan. Atap pelana (saddle roof) lebih umum digunakan.

    e) Memiliki ornamen pada dinding penutup atap (gable end) yang

    menyimbolkan status sosial, kekuasaan dan karakteristik budaya.

    2. Pola Perkampungan

    a) Tatanan permukiman dan rumah kampong tradisional yaitu linier dan

    konsentris, terdapat pula pola radial, huruf T, dan silang.

    b) Selalu terdapat ruang bersama untuk berkumpul, pemujaan atau ritual

    agama, acara kesenian dan sebagainya

    c) Tatanan perkampungan memiliki bagian tengah yang dianggap sacral,

    sebagai ruang terbuka (tempat berumpul),batu megalith, tugu atau

    kuburan nenek moyang

    d) Pola menyebar mencerminkan persamaan struktur social

    3. Rumah dan Tatanan Ruang

    a) Pembagian ruang dikategorikan secara vertical dan horizontal

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    81

    Horizontal: bagian yang dianggap paling suci atau sacral adalah bagian

    paling dalam atau belakang

    Vertical: bagian atas sebagai ruang paling sacral, bagian tengah untuk

    kehidupan manusia, bagian bawah untuk binatang ternak atau gudang

    b) Pembagian dengan konsep gender (pemisahan ruang serta gagasan

    mengatur perilaku wanita dan pria)

    c) Dari segi bentuk dan morphologi ruang, rumah vernakuler Indonesia

    umumnya terdiri dari persegi panjang dan bujur sangkar namun ada

    juga yang berbentuk lingkaran dan ellips

    d) Dalam tipe rumah komunal, tiap ruang dibatasi oleh dinding, perbedaan

    tinggi lantai atau alas tikar yang dihubungkan oleh ruang bersama

    4. Teknologi Bangunan: Bahan Bangunan dan Teknik Konstruksi

    a) Menggunakan bahan yang alami berupa kayu dengan penyusunan tiang

    dan balok tanpa paku namun menggunakan sambungan lubang dengan

    pasak, sambungan pangku dan sambungan tarik

    b) Tiang bangunan beralas batu tanpa ditanam dalam tanah sebagai

    perkuatan sistem konstruksi pengantisipasian kondisi alam yang rawan

    gempa karena akan lebih fleksibel ketika terjadi guncangan

    5. Upacara Pendirian Bangunan

    a) Rumah lebih dari tempat tinggal namun juga menjadi perlambang

    status kedudukan seseorang sehingga perlu tata cara dalam pendirian

    rumah yang bertujuan memberikan spirit/ jiwa, disimbolkan dalam

    bentuk benda keramat yang diletakkan di dalam rumah

    b) Rumah merupakan tempat kelahiran, perkawinan dan kematian

    sehingga dikaitkan dengan arah mata angin. Bagian timur memberi

    kehidupan (awal) dan bagian barat merupakan kematian (akhir)

    6. Kesamaan untuk mengantisipasi permasalahan termal dengan kondisi

    iklim yang sama yaitu tropis lembab (arsitektur tropis)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    82

    BAB IV

    GAGASAN GALERI YANG DIRENCANAKAN

    A. Pemahaman Galeri

    Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta yang direncanakan merupakan

    sebuah wadah untuk menyajikan hasil karya seni arsitektur serta sebuah area

    memajang aktifitas publik yang diselenggarakan untuk masyarakat umum dari

    berbagai lapisan masyarakat dengan radius pelayanan meliputi kota

    Yogyakarta dan sekitarnya dengan menerapkan potensi arsitektur nusantara

    yang akan diwujudkan dalam tampilan fisik, guna menciptakan image baru

    dari sebuah galeri yang tentunya akan menarik minat masyarakat untuk datang

    ke galeri.

    Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta ini berusaha untuk

    mewujudkan galeri yang berbeda dengan menggunakan karakter arsitektur

    nusantara yang diangkat dari filosofi candi-candi dan potensi rumah-rumah

    tradisional Indonesia sebagai solusi permasalahan terkait dengan kegiatan

    yang berlangsung di dalamnya serta lokasi galeri ini nantinya, sekaligus

    sebagai usaha untuk menampilkan desain arsitektur galeri yang mewujudkan

    citra ke-nusantara-an sesuai dengan fungsi di dalam galeri ini.

    B. Fungsi, Visi dan Misi Galeri

    1. Fungsi

    Fungsi Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta yang direncanakan yaitu

    a) Fungsi Perlindungan

    yaitu perlindungan aset arsitektur nusantara berupa replika candi dan

    arsitektur rumah tradisional di Indonesia

    b) Fungsi Edukatif

    yaitu mengembangkan daya pikir dan kreativitas bagi pengguna serta

    menunjang penyelenggaraan pendidikan Arsitektur dalam masyarakat.

    c) Fungsi Informasi

    yaitu memberi/ menyediakan fasilitas dalam mencari informasi

    terutama mengenai arsitektur

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    83

    d) Fungsi Rekreasi

    yaitu galeri merupakan tempat untuk mengisi waktu luang.

    e) Fungsi Apresiasi

    yaitu memberikan apresiasi terhadap karya seni arsitektur

    2. Visi

    Visi atau tujuan dari Galeri Arsitektur Nusantara yang direncanakan

    adalah sebagai pusat pelestarian arsitektur nusantara di Indonesia serta

    wadah penyajian karya seni arsitektur dan wadah bagi masyarakat kota

    Yogyakarta untuk memperoleh informasi arsitektur melalui berbagai

    media atau sumber informasi yang tersedia. Dengan demikian diharapkan

    dapat diwujudkan masyarakat yang terdidik terpelajar, kreatif, apresiatif

    dan berbudaya tinggi. Masyarakat yang demikian diharapkan bisa

    senantiasa mengikuti perkembangan arsitektur di era globalisasi serta tidak

    melupakan dan lebih mengenal arsitektur nusantara di Indonesia sejak era

    hindu-buddha (candi-candi) hingga ke rumah tradisional Indonesia.

    3. Misi

    Misi dari Galeri Arsitektur Nusantara yang direncanakan sebagai berikut:

    a) Melestarikan arsitektur nusantara di Indonesia

    b) Mewadahi penyajian karya seni arsitektur dalam lingkup nasional

    maupun internasional.

    c) Mengkaji dan menyebarluaskan data dan informasi tentang koleksi

    Galeri Arsitektur Nusantara

    d) Meningkatkan kreativitas dan apresiasi seni arsitektur dikalangan

    arsitek, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum

    e) Mengembangkan pemikiran (wacana), pandangan dan tanggapan

    terhadap karya seni arsitektur dalam kerangka peningkatan wawasan,

    perluasan komunitas dan jaringan kerjasama

    f) Memberikan bimbingan (guiding) dan pembelajaran arsitektur melalui

    publik program yang bersifat edukatif-kultural dan rekreatif.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    84 C. Jenis Galeri

    Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta ini direncanakan sebagai sebuah

    Galeri karya arsitektur secara umum, sehingga dapat melayani berbagai

    lapisan masyarakat sesuai dengan visi dan misinya.

    D. Status Galeri

    Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta yang direncanakan adalah galeri

    yang dimiliki dan dikelola oleh lembaga swasta non-pemerintah, dimana

    lembaga tersebut memiliki kepedulian terhadap dunia arsitektur.

    E. Pengelola Galeri

    Untuk kelancaran sistem pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan dalam ruang

    galeri, maka struktur organisasi dibentuk sebagai berikut:

    F. Lingkup Kegiatan

    Kegiatan pokok yang dilakukan dalam Galeri Arsitektur Nusantara yang

    direncanakan berdasarkan jenis kegiatan utama terdiri dari:

    1. Kegiatan Pengembangan, yang kemudian dibagi menjadi:

    a) Kegiatan Informasi, yaitu kegiatan pemberian dan pertukaran

    informasi yang berhubungan dengan karya arsitektur

    b) Kegiatan Pemutaran Film, yaitu kegiatan pemutaran film yang

    berkaitan dengan arsitektur, isu lingkungan, perkotaan, baik

    Gambar iv.1. Struktur Organisasi Galeri Arsitektur Nusantara Sumber: Analisa Pribadi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    85

    dokumenter maupun fiksi dari lingkupnya. Kegiatan ini dapat diadakan

    baik untuk umum maupun untuk pengunjung terbatas

    c) Kegiatan Pameran, yaitu kegiatan pameran karya-karya seni arsitektur.

    Obyek pameran merupakan karya seni visual

    1) Pameran Tetap,mengoleksi miniatur replika candi dan rumah

    tradisional Indonesia

    2) Pameran Temporer, merupakan pameran yang menampilkan karya-

    karya yang berhubungan dengan arsitektur

    3) Kegiatan Diskusi Umum/ Terbuka, yaitu kegiatan diskusi umum

    terkait dengan isu lingkungan yang sedang berkembang. Termasuk

    dalam diskusi ini yaitu kegiatan peluncuran buku, pembicaraan

    seputar arsitek dan karyanya, pemutaran film dan lain sebagainya.

    2. Kegiatan Pengelolaan, yaitu kegiatan administrasi yang meliputi tata

    usaha, keuangan, personalia, pemeliharaan bangunan dan kawasan,

    keamanan, serta kegiatan koordinasi

    3. Kegiatan Penunjang, dibagi atas:

    a) Kegiatan Komersiil/ Commercial Activity, yaitu kegiatan yang bersifat

    komersial namun tidak berhubungan dengan kegiatan jual beli karya

    seni. Kegiatan ini difasilitasi oleh toko cinderamata, restaurant, coffee

    shop, dan book store

    b) Kegiatan Pelayanan dan Servis

    Meliputi kegiatan penyimpanan, penjagaan dan pengawasan

    keamanan, pemeliharaan, dan bongkar muat

    G. Materi Pameran dan Koleksi

    Pada umumnya lingkungan seni arsitektur cukup luas, dengan berbagai bentuk

    bidang yang dibedakan menurut media, material dan bentuk hasil karyanya.

    Secara umum dibagi menjadi seni 3 dimensi dan 2 dimensi. Macam karya

    yang diwadahi diantaranya:

    a) Seni dua dimensi (fotografi, film, sketsa, seni grafik) penjelasan pada

    bab II hal.20

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    86

    b) Seni tiga dimensi (maket, instalasi, furniture, miniatur rumah

    tradisional dan candi) penjelasan pada bab II hal.21 dan 24

    Berdasarkan data pada Bab III hal.47 dan hal.74, jumlah materi

    pameran untuk rumah tradisional dan candi adalah sebagai berikut:

    Tabel iv.1. Jumlah Rumah Tradisional di Indonesia

    NO Rumah Tradisional Jumlah

    1 Sumatera 8

    2 Jawa 5

    3 Kalimantan 4

    4 Nusa Tenggara, Bali 3

    5 Sulawesi 4

    6 Maluku, Papua 2

    Total 26 buah

    Sumber: www.google.com 10 April 2011

    Tabel iv.2. Jumlah Tinggalan Sejarah Kerajaan era Hindu-Buddha

    Tinggalan

    Sejarah

    Agama Jumlah

    Hindu Buddha Siwa Hindu-Buddha Siwa-Hindu Siwa-Buddha

    Candi 9 12 1 5 1 2 30

    Prasasti 7 11 14 - 2 5 2 41

    Arca/

    Monumen

    5 2 - 2 1 2 12

    H. Sasaran Pengguna

    Berdasarkan jenisnya, pelaku kegiatan dalam galeri terdiri dari:

    1. Pengunjung umum (masyarakat)

    Kelompok ini merupakan pengunjung yang paling mendominasi. Motivasi

    kelompok ini biasanya mempunyai dua arah yaitu umum (general) dan

    detail. Kerangka pameran yang jelas dan didukung oleh tata pameran yang

    mendetail akan sangat membantu mereka. Pengunjung ini memiliki

    motivasi untuk berekreasi dan memanfaatkan liburan dengan aktivitas

    yang dapat merangsang kreativitas. Dari jumlahnya, kelompok ini dapat

    Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    87

    terdiri dari perorangan maupun rombongan. Untuk memenuhi minat

    mereka, bantuan perpustakaan sangat diperlukan.

    2. Peneliti

    Yang tergolong dalam hal ini adalah peneliti ilmiah, dan atau untuk hal-hal

    yang langsung terpakai dalam kehidupan sehari-hari. Keterangan-

    keterangan detail dan tepat sangat dibutuhkan oleh mereka. Biasanya

    kelompok ini terdiri dari perorangan, kecuali bila sedang ada seminar yang

    menyangkut koleksi/ pameran museum. Perpustakaan merupakan syarat

    mutlak bagi mereka.

    3. Seniman dan Arsitek

    Merupakan tulang punggung dari kelangsungan galeri ini. Setiap periode

    pameran, akan diwakili oleh karya-karya beberapa arsitek maupun

    seniman yang berbeda.

    4. Kurator

    Bertanggung jawab atas segala macam kegiatan yang berlangsung di

    dalam galeri. Terdiri dari orang-otrang yang memiliki pegetahuan dibidang

    arsitektur dan bertugas memberikan informasi bagi pengunjung, menilai

    dan menganalisa suatu karya, memnentukan metode penyimpanan dan

    pameran karya seni serta mengatur dan mengorganisir acara-acara yang

    diadakan di galeri.

    5. Pengelola

    Bertugas mengelola manajemen dari organisasi galeri ini, terdiri dari:

    a) Direktur dibantu oleh Wakil Direktur

    Bertanggung jawab penuh atas segala kegiatan yang berjalan di galeri

    b) Sekretaris membantu tugas dan tanggung jawab yang dijalankan oleh

    Direktur dan Wakil Direktur

    c) ManajerAdministrasi dan Keuangan

    d) Manajer Program yang terdiri dari kurator pelaksana harian dan

    koordinator commercial area

    e) Manajer Informasi dan Penelitian yang terdiri dari dokumentasi dan

    kepustakaan, front desk dan litbang teknologi dan informasi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    88

    f) Manajer Keamanan dan Perawatan yang tediri dari koordinator

    perawatan dan rumah tangga serta koordinator keamanan.

    I. Frekuansi Kegiatan

    Frekuensi kegiatan dalam Galeri Arsitektu Nusantara di Yogyakarta yang

    direncanakan dibagi dalam tiga kategori pelayanan, yaitu :

    1. Kegiatan Pameran

    Pameran Tetap dan Temporer berlangsung setiap hari pukul 09.00-18.00

    kecuali hari minggu mulai pukul 08.00

    2. Kegiatan Pendidikan

    a) Perpustakaan buka setiap hari pukul 09.00-15.00

    b) Konferensi, seminar, diskusi dikhususkan pada hari sabtu dan minggu

    3. Kegiatan Pendukung

    a) Toko cinderamata dan book store buka setiap hari pukul 09.00-15.00

    b) Restaurant dan coffee shop buka setiap hari pukul 09.00-21.00

    c) Kegiatan Penunjang (koordinasi, pengelolaan, administrasi) dilakukan

    secara rutin setiap hari pukul 09.00-15.00

    J. Bentuk dan Sistem Pelayanan

    1. Bentuk Pelayanan

    Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta yang direncanakan menerapkan

    bentuk pelayanan langsung, yaitu masyarakat atau pengunjung datang

    secara langsung ke Galeri.

    2. Sistem Pelayanan

    Sistem Pelayanan yang diterapkan pada galeri yang direncanakan

    menggunakan sistem pelayanan terbuka (open access). Sistem ini

    diterapkan pada semua ruang pameran dan perpustakaan umum.

    Pengunjung dapat melihat karya pameran dengan bebas, memilih dan

    mengambil sendiri bahan pustaka yang tersedia di ruang perpustakaan

    tanpa harus dilakukan oleh petugas perpustakaan.

Recommended

View more >