Kritik Arsitektur Kampung Budaya Sindang Barang

  • Published on
    11-Aug-2015

  • View
    98

  • Download
    5

Transcript

TAR 478 Pengantar Kritik Arsitektur Tania 2009420142

KAMPUNG BUDAYA SINDANGBARANGKampung Budaya Sindangbarang terletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari Bogor. Berdasarkan naskah Pantun Bogor dan Babad Padjajaran, kampung ini merupakan kampung tertua untuk wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Menurut Pantun Bogor, diperkirakan Sindangbarang sudah ada sejak jaman Kerajaan Sunda lebih kurang abad ke XII. Konon, di tempat inilah berdiri pusat kerajaan Padjajaran. Kampung Budaya Sindangbarang (KBS), merupakan sebuah revitalisasi dari kampung Sunda Bogor dengan tujuan melestarikan budaya dan arsitektur tradisional masyarakat Sunda. Saat ini rumah-rumah adat dan tradisi budaya di KBS telah direkontruksi dan direvitalisasi dengan bimbingan dan petunjuk dari Bapak Anis Djatisunda, seorang Sesepuh Sindangbarang dan Budayawan Jawa Barat. Di dalam KBS, terdapat banyak jenis bangunan, layaknya sebuah kampung adat. Bangunan tersebut antara lain, leuit, imah gede, saung telu, imah pasanggrahan, imah pangeuneun, imah pangiwa, bale pasanggrahan, imah girang serat, tampian, saung lisung, bale pertemuan, alun-alun, dll. Pun Sapun Ka Nu Agung, Papayung Buana Ruhur,Papayung Buana Panca tengah, Papayung Buana handap, Sapun Ieu Kaula deuk nyatur, menta widi ti para karuhun, lalakon Pajajaran nu Baheula, Paralun balungbungkeun galurna catur ,Caangkeun inget nu samar, nu laas diusap jaman, panglancarkeun lakon carita, Singkahkeun nu saralah Sapun. Meskipun KBS merupakan bangunan yang masih baru, tetapi tata letak dan penyusunan bangunan disesuaikan dengan adat orang Sunda. KBS dirancang berdasarkan Kitab Warugan Lemah. Kitab ini memuat pengetahuan tentang pola pemukiman (kampung, wilayah kota, dan umbul) masyarakat Sunda. Isi dari kitab ini tertera dalam tiga lampir daun lontar berukuran 28,5 x 2,8 cm, yang mengandung 4 baris tulisan tiap lampirnya. Ini warugan lemah. Inge(t)keun di halana, di hayuna. Na pidayeuheun, na pirembuleun, na piu(m)buleun. Lamunna bah ka k(n)ca ngara(n)na Talaga Ha(ng)sa, asih wong sajagat. Panyudana pacar pimula di pahoman....(Terjemahan : Inilah warugan lemah (bentuk tanah), untuk diingat dalam kesusahan dan keselamatan. Ketika akan mendirikan wilayah, kampung, dan umbul. Jika condong ke kiri dinamakan talaga hangsa, dikasihi semua orang. Untuk mensucikannya menanam pacar di tempat sesaji....) Pada paragraf 02-05, dapat disimpulkan bahwa Talaga Hangsa juga merupakan sebutan untuk tanah yang cenderung menurun (bahe) ke arah utara. Berdasarkan deskripsi naskah tersebut, KBS termasuk ke dalam Talaga Hangsa, yang artinya topografi KBS condong ke kiri, serta menurun ke arah utara. Untuk bangunannya sendiri, masih mengikuti budaya tradisional Sunda. Hal ini dapat dilihat dari pembagian ruang dalam bangunan, penggunaan material, serta bentuk bangunan itu sendiri. Sayangnya konstruksi yang digunakan oleh KBS ini sudah merupakan konstruksi modern. Namun, filosofi yang ada tetap dipertahankan.Dalem

Dapat dilihat dari pembagian ruang yang ada pada Imah Gede. Terdapat 4 bagian rumah, yaitu Tepas, Depan, Tengah, dan Dalem. Tepas merupakan area yang sangat publik, digunakan untuk menerima tamu, dan bersantai. Depan merupakan area peralihan antara area publik

Tengah Depan Tepas

TAR 478 Pengantar Kritik Arsitektur Tania 2009420142 dan privat. Disini bisa juga digunakan untuk menerima tamu. Area Tengah merupakan area bertemunya Bapak, Anak, dan Ibu. Untuk area Dalem, dikhususkan hanya untuk wanita, pria dilarang masuk. Pembagian ini sudah sesuai dengan budaya Sunda, dimana pembagian ruangan juga disesuaikan dengan jenis kelamin. Bentuk rumah tradisional Sunda adalah panggung. Hal ini dilakukan karena filosofi masyarakat Sunda, dimana manusia harus hidup berdampingan dengan alam. Alam yang dimaksud, bukan saja alam berupa tanaman atau pohon, tetapi juga makhluk halus. Masyarakat Sunda membagi bangunan menjadi 3 bagian, Buana Handap (bawah), tempat bersemayamnya makhluk-makhluk halus, Buana Panca Tengah (tengah), tempat manusia, serta Buana Luhur (atas), tempat bersemayamnya Sang Penguasa. Pondasi yang digunakan masih menggunakan pondasi Umpak. Sistem pondasi ini merupakan pondasi yang efektif meredam gempa. Hal ini terbukti dengan masih berdirinya Imah Gede walaupun sudah diguncang oleh gempa berulang kali, bahkan sampai 6,2 SR. Pada bangunan tradisional Sunda, biasanya sambungan antara kayu menggunakan pasak. Namun, pada KBS sambungan kayu sudah menggunakan paku, sehingga sambungannya lebih kaku (mati). Di beberapa tempat dapat terlihat ada beberapa yang sedikit retak akibat gempa. Penggunaan material injuk sebagai penutup atap juga bukan hal yang sembarangan. Menurut Babad Kawung, Sang Hyang Tunggal sering menurunkan wahyu di Pohon Kawung (aren). Hal ini digunakan oleh masyarakat Sunda sebagai tradisi agar rumah yang memakai penutup atap injuk, mendapatkan perlindungan dan berkah dari Sang Hyang Tunggal.

Arah atap bangunan juga disesuaikan dengan alam, yaitu arah matahari. Atap bangunan diarahkan melintang Timur Barat. Hal ini juga dipercaya menjadi sebuah lambang perjalanan manusia dari lahir sampai akhir hayat. Konsep bangunan tradisional Sunda Bogor memiliki perbedaan dengan rumah adat Sunda di Jawa Barat lainnya. Ciri khasnya ada pada suhunan yang disebut Gado Bangkong. Filosofinya adalah agar penduduk 'siap siaga' ketika ada ancaman. Dapat dilihat bahwa KBS merupakan sebuah bangunan baru yang menggunakan tradisi lama sebagai daya tariknya. Hal ini bukannya tidak mungkin dilakukan. Ketertarikan masyarakat Indonesia dengan budaya dan tradisi sudah hampir hilang, oleh karena itu dibutuhkan pengingatan kembali akan budaya serta tradisi yang sudah sepatutnya dilestarikan. Berbeda dengan tempat penginapan lainnya yang hanya menggunakan elemen tradisional secara harafiah, KBS mengambil nilai tradisi dan kebudayaan Sunda secara sepenuhnya.