Click here to load reader

KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKALmukhyi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/20242/KEBIJAKAN... · kebijakan moneter dan kebijakan fiskal dr. ... pengaruh kebijakan moneter

  • View
    216

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN...

  • 6/1/2010

    1

    KEBIJAKAN MONETER DAN

    KEBIJAKAN FISKAL

    DR. MOHAMMAD ABDUL MUKHYI, SE., MM

    DEFINISI Kebijakan dengan mengatur jumlah uang beredar.

    Instrumen kebijakan moneter :

    Open Market Operation

    Melalui surat berharga milik pemerintah (SBI, SBPU) repurchase agreement

    Discount Rate

    Tingkat bunga yang ditetapkan pemerintah atas bank-bank umum.

    Reserve Requirement Ratio

    Mengukur efek multiplier dari cadangan wajib yang diharuskan

    Moral Persuation

  • 6/1/2010

    2

    PENGARUH KEBIJAKAN MONETER

    TERHADAP KESEIMBANGAN

    PASAR UANG - MODAL

    Y

    r

    r1

    r2

    0Y0 Y

    0Y0 Y1

    r1

    r2

    MS0 r

    MD0(Y1)

    MD1(Y0)

    f1

    f2

    f1

    f2

    LM0

  • 6/1/2010

    3

    Y

    r

    r1

    r3

    r2

    0Y0 Y1 Y

    0Y0 Y1

    r1

    r3

    r4

    r2

    MS0 MS

    1 r

    MD0(Y1)

    MD1(Y0)

    f1

    f2

    f1

    f2

    LM1

    LM0

    Y

    r

    r1

    r3

    r4

    r2

    0Y0 Y1 Y

    0Y0 Y1

    r1

    r3

    r4

    r2

    MS0 MS

    1 r

    MD0(Y1)

    MD1(Y0)

    f1

    f2

    f3

    f4

    f1

    f2

    f3

    f4

    LM1

    LM0

  • 6/1/2010

    4

    Y

    r

    r1

    r2

    0Y0 Y

    0Y0 Y1

    r1

    r2

    MS0 r

    MD0(Y1)

    MD1(Y0)

    f1

    f2

    f1

    f2

    LM0

    Y

    r

    r1

    r2

    0Y2 Y0 Y

    0Y0 Y1

    r1

    r3

    r2

    MS2 MS

    0 r

    MD0(Y1)

    MD1(Y0)

    f1

    f2

    f1

    f2

    LM0

  • 6/1/2010

    5

    Y

    r

    r1

    r5

    r2

    r6

    0Y2 Y0 Y

    0Y0 Y1

    r1

    r3

    r5

    r2

    r6

    MS2 MS

    0 r

    MD0(Y1)

    MD1(Y0)

    f1

    f2

    f5

    f6

    f1

    f2

    f5

    f6LM0

    LM2

    Y

    r

    r1

    r3

    r4r5

    r2

    r6

    0Y2 Y0 Y1 Y

    0Y0 Y1

    r1

    r3

    r4r5

    r2

    r6

    MS2 MS

    0 MS

    1 r

    MD1(Y1)

    MD0(Y0)

    f1

    f2

    f3

    f4f5

    f6

    f1

    f2

    f3

    f4f5

    f6LM1

    LM0

    LM2

  • 6/1/2010

    6

    PENGARUH KEBIJAKAN MONETER

    TERHADAP KESEIMBANAN EKONOMI

    r

    0Y

    r0

    Y0

    E0

    LM0

    IS

  • 6/1/2010

    7

    r

    0Y

    r0

    r1

    Y0 Y1

    E0

    E1

    LM0

    LM1

    IS

    r

    0Y

    r2

    r0

    Y2 Y0

    E2

    E0

    LM2

    LM0

    IS

  • 6/1/2010

    8

    r

    0Y

    r2

    r0

    r1

    Y2 Y0 Y1

    E2

    E0

    E1

    LM2

    LM0

    LM1

    IS

    Efektivitas Kebijakan Fiskal

  • 6/1/2010

    9

    r IS0

    0Y

    r

    IS1

    0Y

  • 6/1/2010

    10

    r

    IS20

    Y

    Efektivitas Kebijakan Moneter

  • 6/1/2010

    11

    r

    0Y

    LM0

    r

    LM2

    0Y

  • 6/1/2010

    12

    r

    0Y

    LM3

    EFEKTIVITAS KEBIJAKAN

    FISKAL DAN MONETER

  • 6/1/2010

    13

    r

    0Y

    LM

    Interval Klasik

    (Clasical Range)

    Interval

    Antara

    (Intermedia

    te Range)

    Interval

    Keynesian

    (Keynesian

    Range)

    r

    0Y

    LM

    IS1IS2

    Y1 Y2

  • 6/1/2010

    14

    r

    0Y

    LM

    IS3IS4

    Y3 Y4

    r

    0Y

    LM

    IS5

    IS6

    Y5

  • 6/1/2010

    15

    r

    0Y

    LM

    IS1IS2

    IS3IS4

    IS5

    IS6

    Y1 Y2 Y3 Y4 Y5

    r

    0Y

    LM1

    IS1

    IS2

    IS3

    Y1 Y2 Y4

    a

    b

    c

  • 6/1/2010

    16

    r

    0Y

    IS1

    IS2

    IS3

    Y1 Y3 Y5

    LM0

    a

    d

    e

    r

    0Y

    LM1

    IS1

    IS2

    IS3

    Y1 Y2 Y3 Y4 Y5

    LM0

    a

    b

    c

    d

    e

  • 6/1/2010

    17

    r LM0

    IS

    0Y0 Y

    r LM0 LM1

    IS

    0Y0 Y1 Y

  • 6/1/2010

    18

    r LM2 LM0

    IS

    0Y2 Y0 Y

    r LM2 LM0LM1

    IS

    0Y2 Y0 Y1 Y

  • 6/1/2010

    19

    r

    r0

    0Y0 Y

    LM0

    IS

    r

    r0

    r1

    0Y0 Y1 Y

    LM0 LM1

    IS

  • 6/1/2010

    20

    r

    r2

    r0

    0Y2 Y0 Y

    LM2 LM0

    IS

    r

    r2

    r0

    r1

    0Y2 Y0 Y1 Y

    LM2 LM0 LM1

    IS

  • 6/1/2010

    21

    r

    r0

    0Y0 Y

    IS

    LM

    Moneter

    Ekspansif

    Moneter

    Kontraktif

    r

    r0

    0Y0 Y

    IS

    LM

    Moneter

    Ekspansif

    Moneter

    Kontraktif

  • 6/1/2010

    22

    Efektivitas Kebijakan Moneter Terhadap Output

    dan Tingkat Harga (Bunga)

    KURVA IS DATAR

    ELASTISITAS

    SEMPURNA

    KURVA IS INELASTIS

    SEMPURNA

    KURVA IS

    NEGATIF

    KURVA LM ELASTIS

    SEMPURNA

    (INTERVAL KEYNES)

    Tidak terdefinisikan Moneter Ekspansif atau

    Kontraktif tidak efektif,

    Y* dan tingkat bunga

    tetap.

    Moneter Ekspansif atau

    Kontraktif tidak efektif,

    Y* dan tingkat bunga

    tetep.

    KURVA LM INELASTIS

    SEMPURNA

    (INTERVAL KLASIK)

    1. Moneter Ekspansif,

    Y* naik, tingat

    bunga tetap.

    2. Moneter Kontraktif,

    Y* turun, tingkat

    bunga tetap.

    Tidak terdefinisikan 1. Moneter Ekspansif,

    Y* turun, tingat

    bunga turun.

    2. Moneter Kontraktif,

    Y* turun, tingkat

    bunga naik.

    KURVA LM POSITIF

    (INTERVAL ANTARA)

    1. Moneter Ekspansif,

    Y* naik, tingat

    bunga tetap.

    2. Moneter Kontraktif,

    Y* turun, tingkat

    bunga tetap.

    1. Moneter Ekspansif,

    Y* tetap, tingat

    bunga turun.

    2. Moneter Kontraktif,

    Y* tetap, tingkat

    bunga naik.

    1. Moneter Ekspansif,

    Y* naik, tingat

    bunga turun.

    2. Moneter Kontraktif,

    Y* turun, tingkat

    bunga naik.

  • 6/1/2010

    23

    Kebijakan Fiskal

    Kebijakan Fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan

    pemerintah untuk mengelola atau mengarahkan

    perekonomian ke kondisi yang diinginkan

    dengan cara mengubah-ubah penerimaan dan

    pengeluaran pemerintah.

    Klasifikasi Pajak

    a. Pajak Obyektif : pajak yang dikenakan berdasarkan aktivitas

    ekonomi para wajib pajak.

    b. Pajak Subyektif : pajak yang dipungut dengan melihat kemampuan

    wajib pajak.

    c. Pajak Langsung : beban pajak yang tidak dapat digeser kepada

    wajib pajak lain

    d. Pajak tidak Langsung : beban pajak yang dapat digeser kepada

    wajib pajak lain

  • 6/1/2010

    24

    Tarif Pajak

    1. Pajak Nominal : pajak yang pengenaannya berdasarkan

    sejumlah nilai nominal tertentu.

    2. Pajak Prosentase : pajak yang pengenaannnya berdasarkan

    persentase tertentu dari dasar pengenaan pajak.

    a. Pajak Proporsional : tarif persentasenya tetap.

    b. Pajak Progresif : tarif makin tinggi bila dasar pengenaan

    pajak makan tinggi.

    c. Pajak Regresif : tarif makin rendah bila dasar pengenaan

    pajak makin tinggi.

    Pengaruh Pajak Terhadap

    Pendapatan dan Konsumsi

    Pajak Nominal:

    Yd = Y T

    C = C0 + bYd

    C = C0 + b(Y T)

    C = C0 + bY bT

    C = 100 + 0,8Yd dan T = 25

    C = 100 + 0,8(Y 25)

    C = 100 + 0,8Y 20

    C = 80 + 0,8Y

  • 6/1/2010

    25

    C,Y

    100

    C = 100 + 0,8Yd

    0Y

    C,Y

    80

    C = 80 + 0,8Y

    0Y

  • 6/1/2010

    26

    C,Y

    80

    100

    C = 100 + 0,8Yd

    C = 80 + 0,8Y

    0Y

    Pengaruh Pajak Terhadap

    Pendapatan dan Konsumsi

    Pajak ProporsionalPajak = tY

    Yd = Y tY = Y(1-t)

    C = C0 + bYd

    C = C0 + b{Y(1 t)}

    C = C0 + bY btY

    C = C0 + (b bt)Y

    C = 100 + 0,8Yd dan T = 25%

    C = 100 + 0,8(1 0,25)Y

    C = 100 + 0,8(0,75)Y

    C = 80 + 0,6Y

  • 6/1/2010

    27

    C,Y

    0Y

    C = 100 + 0,8Yd

    C,Y

    0Y

    C = 80 + 0,6Y

  • 6/1/2010

    28

    C,Y

    0Y

    C = 80 + 0,6Y

    C = 100 + 0,8Yd

    Pengaruh Pajak Terhadap

    Keseimbangan EkonomiC = 100 + 0,80Yd

    I = 150

    G = 250

    T = 100

    Y = C + I + G

    Y = 100 + 0,80(Y 100) + 150 + 250

    Y = 100 + 0,80Y 80 + 150 + 250

    Y 0,80Y = 420

    Y = 420/0,2 = 2100

    Y = C + I + G

    Y = 100 + 0,80Y + 150 + 250

    Y 0,80Y = 500

    Y = 500/0,2 = 2500

  • 6/1/2010

    29

    0

    100

    200

    300

    400

    500

    600

    0 100 200 300 400 500 600

    Ko

    nsu

    msi

    , In

    ve

    sta

    si,

    Pe

    ng

    elu

    ara

    n P

    em

    eri

    nta

    h

    Pendapatan Nasional

    I=150

    C = 100 + 0,80Y

    G= 250

    Y=Y

    0

    50

    100

    150

    200

    250

    300

    350

    400

    450

    0 100 200 300 400 500 600

    Ko

    nsu

    smsi

    , In

    ve

    sta

    si,

    Pe

    ng

    elu

    ara

    n P

    em

    eri

    nta

    h

    Pendapatan Nasional

    Y=Y

    I=150

    G= 250

    C = 20 + 0,80Y

  • 6/1/2010

    30

    0

    100

    200

    300

    400

    500

    600

    0 100 200 300 400 500 600

    Ko

    nsu

    msi

    , In

    ve

    sta

    si,

    Pe

    ng

    elu

    ara

    n P

    em

    eri

    nta

    h

    Pendapatan Nasional

    Y=Y

    I=150

    G= 250

    C = 20 + 0,80Y

    C = 20 + 0,80Y

    Politik Anggaran

    a. Anggaran berimbang.

    b. Anggaran tidak berimbang

    Anggaran Defisit

    Pengeluaran pemerintah lebih besar dari penerimaan pemerintah

    digunakan untuk menstimulir pertumbuhan ekonomi, karena

    perekonomian dalam keadaan resesi.

    Pajak b)-(1

    Tb.- Y

    Pemerintah Pendapatan b)-(1

    G Y

    =

    =

  • 6/1/2010

    31

    Politik Anggaran

    b)-(1

    W T Y

    b)-(1

    Tb- WG Y

    b)-(1

    Tb-G Y

    b)-(1

    Tb

    b)-(1

    G Y

    T-G W

    b)-(1

    T

    b)-(1

    G Y

    +=

    +=

    =

    +

    =

    =

    +

    =

    Kasus :C = 100 + 0,80YdI = 150

    G = 250 G = 250

    T = 150 T = 150

    Kondisi keseimbangan awal :

    Y = C + I + G

    Y = 100 + 0,8(Y 250) + 150 + 250

    Y = 500 + 0,8Y 200 = 300 + 0,8Y

    Y = 300 /0,2 = 1500

    Anggaran Defisit :

    Jika pemerintah menempuh anggaran defisit, (G = 250 dan T =

    150).

    G1 = 250 + 250 = 500

    Yd1= Y 250 150 = Y 400

  • 6/1/2010

    32

    C1 = 100 + 0,8 Yd1

    C1 = 100 + 0,8 (Y 400)

    C1 = 100 + 0,8 Y 320

    C1 = -220+ 0,8 Y

    Y = C + I + G

    Y = 220 0,8Y + 150 + 500 = 430 + 0,8Y

    Y = 430 / 0,2 = 2150

    Y = 2150 1500 = 650

    Y = T + (W/(1 b) = 150 + (100/(1-0,8)) = 150 + 500 = 650

    Anggaran Surplus (Kebijakan fiskal kontraktif):

    Penerimaan lebih besar dari pengeluaran, bila C < T, dimana

    G dan T 0

    Kasus :

    C = 100 + 0,80Yd

    I = 150

    G = 250 G = 150

    T = 150 T = 250

    Kondisi keseimbangan awal :

    Y = C + I + G

    Y = 100 + 0,8(Y 250) + 150 + 250

    Y = 500 + 0,8Y 200 = 300 + 0,8Y

    Y = 300 /0,2 = 1500

  • 6/1/2010

    33

    Jika pemerintah menempuh anggaran defisit, (G = 150 dan T =

    250).

    G1 = 250 + 150 = 400

    Yd1= Y 250 250 = Y 500

    C1 = 100 + 0,8 Yd1

    C1 = 100 + 0,8 (Y 500)

    C1 = 100 + 0,8 Y 400

    C1 = -300+ 0,8 Y

    Y = C + I + G

    Y = -300 0,8Y + 150 + 400 = 250 + 0,8Y

    Y = 250 / 0,2 = 1250

    Y = 1250 1500 = -250

    Y = T + (W/(1 b) = 250 - (100/(1-0,8)) = 250 - 500 = -250

    Anggaran Berimbang :

    Pengeluaran = penerimaan (G = T atau G = T)

    G T Y

    T.b)-(1

    b)-(1 Y

    b)-(1

    Tb.

    b)-(1

    T Y

    b)-(1

    Tb.

    b)-(1

    C Y

    b)-(1

    Tb.- T karena Y

    b)-(1

    C G karena Y

    ==

    =

    =

    =

    =

    =

  • 6/1/2010

    34

    Kasus :

    C = 100 + 0,80Yd

    I = 150

    G = 250 G = 150

    T = 150 T = 250

    Bila pemerintah melakukan kebijakan anggaran berimbang

    dimana G = 150 dan T = 150.

    G1 = 250 + 150 = 400

    Yd1= Y 250 150 = Y 400

    C1 = 100 + 0,8 Yd1 = 100 + 0,8 (Y 400)

    C1 = 100 + 0,8 Y 320 = -220+ 0,8 Y

    Y = C + I + G

    Y = -220 0,8Y + 150 + 400 = 330 + 0,8Y

    Y = 330 / 0,2 = 1650

    Y = 1650 1500 = 150

    Y = T + (W/(1 b) = 150 (0/(1-0,8)) = 150 - 0 = 150

  • 6/1/2010

    35

    Efektivitas Kebijakan Fiskal

    r1

    0YY0

    r

    IS0

    Efektivitas Kebijakan Fiskal

    IS1

    r1

    0YY1 Y0

    Fiskal

    kontraktif

    b)-(1

    GY

    =

    r

    IS0

  • 6/1/2010

    36

    Efektivitas Kebijakan Fiskal

    IS1

    r1

    0YY0 Y2

    Fiskal

    ekspansifb)-(1

    GY

    =

    r

    IS0 IS2

    Efektivitas Kebijakan Fiskal

    IS1

    r1

    0YY1 Y0 Y2

    Fiskal

    kontraktifFiskal

    ekspansifb)-(1

    GY

    =

    b)-(1

    GY

    =

    r

    IS0 IS2

  • 6/1/2010

    37

    Kebijakan Fiskal Ekspansif Terhadap Inflasi

    r

    0Y

    r0

    Y*0

    IS0

    LM0

    Kebijakan Fiskal Ekspansif Terhadap Inflasi

    r

    0Y

    r1

    r0

    Y*0 Y*2

    IS0IS1

    LM0

    Ekspansi

    Fiskal

  • 6/1/2010

    38

    Kebijakan Fiskal Ekspansif Terhadap Inflasi

    r

    0Y

    r0

    Y*0

    IS0

    LM0

    Kebijakan Fiskal Ekspansif Terhadap Inflasi

    r

    0Y

    r2

    r0

    Y*0 Y*2

    IS0

    LM0 LM1Ekspansi

    Moneter

  • 6/1/2010

    39

    Kebijakan Fiskal Ekspansif Terhadap Inflasi

    r

    0Y

    r1

    r0

    Y*0 Y*2 Y

    *1

    IS0IS1

    LM0 LM1Ekspansi

    Moneter

    Ekspansi

    Fiskal

    Efektivitas Kebijakan Fiskal Terhadap Output dan

    Tingkat harga (bunga)

    Kurva LM

    Elastis Sempurna

    (Interval Keynes

    Kurva LM Positif

    (Interval Antara)

    Kurva LM

    Inelastis Sempurna

    (Interval Klasik)

    Kurva IS Elastis

    Sempurna

    Tidak terdefinisikan Fiskal Ekspansif:

    Y naik, r naik.

    Fiskal Kontraktif :

    Y turun, r turun.

    Kebijakan Fiskal

    tidak efektif semprna

    Fiskal Ekspansif :

    Y tetap, r naik.

    Kurva IS Negatif Kebijakan Fiskal

    efektif sempurna

    Fiskal Ekspansif:

    Y naik, r tetap.

    Fiskal Kontraktif :

    Y turun, r tetap.

    Fiskal Ekspansif:

    Y naik, r naik.

    Fiskal Kontraktif :

    Y turun, r turun.

    Kebijakan Fiskal

    tidak efektif semprna

    Fiskal Ekspansif :

    Y tetap, r naik.

    Kurva IS Inelastis

    Sempurna

    Kebijakan Fiskal

    efektiff sempurna :

    Fiskal Ekspansif:

    Y naik, r tetap.

    Fiskal Kontraktif :

    Y turun, r tetap.

    Fiskal Ekspansif:

    Y naik, r naik.

    Fiskal Kontraktif :

    Y turun, r turun.

    Tidak terdefinisikan

  • 6/1/2010

    40

    APBN Indonesia APBN sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi Trilogi

    Pembangunan (pertumbuhan, pemerataan dan stabilisasi)

    Fungsi Fiskal : alokasi barang publik, distribusi pendapatan

    dan stabilisasi perekonomian.

    Fungsi APBN dilihat dari sisi penerimaan dan pengeluaran

    (dana mencakup 18 sektor) :

    1. Sarana, prasarana ekonomi : pembangunan jalan raya, pelabuhan,

    kapasitas listri, energi dan lain-lain.

    2. Peningkatan sumberdaya ma nusia : pendidikan, kesehatan dan

    peranan wanita.

    3. Peningkatan kesejahteraan rakyat ; pembangunan perumahan,

    pengembangan kehidupan beragama

    4. Peningkatan kapasitas pemerintahan : anggaran pengembangan

    aparatur pemerintahan.

    Struktur Dasar APBNPenerimaan Pengeluaran

    A. Penerimaan Dalam Negeri:

    1. Penerimaan Migas

    2. Penerimaan Pajak

    3. Penerimaan Bukan Pajak

    C. Pengeluran Rutin :

    1. Belanja Pegawai

    2. Belanja Barang

    3. Subsidi Daerah Otonom

    4. Bunga dan Cicilan Hutang

    5. Lain-lain

    B. Penerimaan Pembangunan :

    1. Bantuan Program

    2. Bantuan Proyek

    D. Pengeluaran Pembangunan

    1. Pengeluaran Pembangunan

    2. Pembiayaan Rupiah

    A+B=C+D

    Tabungan pemerintah = Penerimaan dalam negeri Pengeluaran

    rutin

  • 6/1/2010

    41

  • 6/1/2010

    42