of 23 /23
STIE Putra Perdana Indonesia STIE Putra Perdana Indonesia STIE Putra Perdana Indonesia STIE Putra Perdana Indonesia Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan Akuntansi STIE Putra Perdana Indonesia Nopember 09 InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 1 Analisa Perbandingan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional Dengan Sistem Based Costing Dalam Pengalokasian Biaya Overhead Pabrik Pada PT PP Farid Addy Sumantri, SE.,MM.,M.Si.,Ak. (Dosen Tetap STIE PPI) Abstraksi Dalam menentukan harga pokok produksi, suatu perusahaan akan membuat suatu perhitungan tertentu yang merupakan suatu dasar perencanaan yang dapat dijadikan sebagai pencapaian target dalam memperoleh laba yang diinginkan. Dengan adanya aktivitas produksi akan mengandung konsekuensi pengeluaran biaya yang pada akhirnya akan dibebankan pada harga pokok produksi. Sistem pengalokasian biaya yang menekankan kepada pemahaman terhadap aktivitas, sehingga akan diketahui aktivitas yang menambah nilai dan aktivitas yang tidak menambah nilai yang dikenal dengan Activity Based Costing. Selain itu dapat juga digunakan sistem biaya tradisional, dimana biaya yang terjadi tanpa adanya faktor pemicu untuk mencapai efisiensi/ Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui penentuan alokasi Biaya Overhead Pabrik (BOP) dengan menggunakan sistem Biaya Tradisional (traditional costing) dan Activity Based Costing. Selanjutnya akan dilakukan analisa apakah ada berbedaan yang timbul terhadap alokasi biaya overhead pabrik ke masing-masing produk dengan menggunakan sistem Biaya Tradisional (traditional costing) dan Activity Based Costing . Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif, yaitu dengan cara membandingkan alokasi biaya overhead pabrik ke masing-masing produk dengan menggunakan sistem Biaya Tradisional (traditional costing) dan Activity Based Costing. Berdasarkan analisa, membuktikan penggunaan sistem biaya tradisional sebagai dasar alokasi biaya overhead prabrik ke masing-masing produk terjadi ketidakakuratan (distorsi). Sedangkan pengalokasian biaya overhead pabrik dengan menggunakan Activity Based Costing lebih akurat, dimana biaya dapat ditelusuri ke aktivitas produksinya. Kata Kunci : Traditional Costing, Activity Based Costing, Biaya Overhead Pabrik

Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan ... 5.-Farid.pdf · Analisa Perbandingan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional Dengan Sistem Based Costing Dalam Pengalokasian Biaya

  • Upload
    others

  • View
    17

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 1

    Analisa Perbandingan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional Dengan SistemBased Costing Dalam Pengalokasian Biaya Overhead Pabrik Pada PT PP

    Farid Addy Sumantri, SE.,MM.,M.Si.,Ak.(Dosen Tetap STIE PPI)

    Abstraksi

    Dalam menentukan harga pokok produksi, suatu perusahaan akan membuat suatuperhitungan tertentu yang merupakan suatu dasar perencanaan yang dapat dijadikansebagai pencapaian target dalam memperoleh laba yang diinginkan. Dengan adanyaaktivitas produksi akan mengandung konsekuensi pengeluaran biaya yang padaakhirnya akan dibebankan pada harga pokok produksi. Sistem pengalokasian biayayang menekankan kepada pemahaman terhadap aktivitas, sehingga akan diketahuiaktivitas yang menambah nilai dan aktivitas yang tidak menambah nilai yang dikenaldengan Activity Based Costing. Selain itu dapat juga digunakan sistem biayatradisional, dimana biaya yang terjadi tanpa adanya faktor pemicu untuk mencapaiefisiensi/

    Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui penentuan alokasi BiayaOverhead Pabrik (BOP) dengan menggunakan sistem Biaya Tradisional (traditionalcosting) dan Activity Based Costing. Selanjutnya akan dilakukan analisa apakah adaberbedaan yang timbul terhadap alokasi biaya overhead pabrik ke masing-masingproduk dengan menggunakan sistem Biaya Tradisional (traditional costing) danActivity Based Costing .

    Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptifkomparatif, yaitu dengan cara membandingkan alokasi biaya overhead pabrik kemasing-masing produk dengan menggunakan sistem Biaya Tradisional (traditionalcosting) dan Activity Based Costing.

    Berdasarkan analisa, membuktikan penggunaan sistem biaya tradisional sebagaidasar alokasi biaya overhead prabrik ke masing-masing produk terjadi ketidakakuratan(distorsi). Sedangkan pengalokasian biaya overhead pabrik dengan menggunakanActivity Based Costing lebih akurat, dimana biaya dapat ditelusuri ke aktivitasproduksinya.

    Kata Kunci : Traditional Costing, Activity Based Costing, Biaya Overhead Pabrik

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 2 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    A. Latar Belakang Masalah

    Kemajuan teknologi memacu banyak perusahaan berusaha lebih fleksibel dalammenghadapi permintaan konsumen disamping tetap meningkatkan kualitas produk yangdihasilkan. Perusahaan – perusahaan yang akan dan telah memanfaatkan teknologi initidak akan memperoleh hasil yang diharapkan apabila tidak diikuti oleh sistempengelolaan biaya yang sesuai dengan kondisi tersebut.

    Dalam lingkungan produksi yang sudah maju, informasi yang dibutuhkanmanajemen adalah informasi yang sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Olehkarena itu diperlukan pembaharuan terhadap sistem pengelolaan biaya. Seiring dengankemajuan dibidang teknologi dan informasi, kini dominasi tenaga kerja lebih banyakdigantikan oleh mesin – mesin modern dalam pengelolaan proses produksi sehinggakecenderungan struktur biaya menjadi berubah. Pada saat ini kecenderungan strukturbiaya yang dijumpai pada berbagai perusahaan manufaktur menunjukkan :

    1. Biaya overhead pabrik cenderung naik sebagai persentase dari total biayaproduksi.

    2. Biaya tenaga kerja langsung cenderung turun sebagai persentase dari total biayaproduksi.

    Oleh karena biaya overhead pabrik telah meningkat, maka penanganan terhadappengelolaan dan pengendalian biaya ini harus dilakukan lebih seksama agar diperolehinformasi biaya produk yang akurat. Sistem akuntansi biaya tradisional yangmenggunakan dasar alokasi tingkat unit seperti banyaknya unit produksi, jam tenagakerja langsung, jam kerja mesin untuk mengalokasikan biaya overhead pabrik kepadaproduk sudah kurang relevan apabila perusahaan menghasilkan produk yang beranekaragam (diversifikasi produk) dan memanfaatkan teknologi modern penelusuran biayaproduksi.

    Terjadinya perubahan dalam lingkungan manufaktur akibat adanya otomatisasidan kompleksitas proses produksi, diperlukan pendekatan pengelolaan biaya baru yanglebih inovatif. Sistem baru ini dituntut untuk dapat mengidentifikasi aktivitas – aktivitasyang akan memacu timbulnya biaya. Pemacu biaya (cost driver) tersebut antara lainkegiatan pemesanan, penjadwalan, persiapan mesin produk (set-up), pemindahanbarang, inspeksi dan kegiatan lain yang berhubungan dengan proses produksi. Biaya –biaya yang ditimbulkan oleh aktivitas ini tidak bervariasi sesuai dengan input atauoutput tetapi sangat bervariasi menurut kebutuhan aktivitas itu sendiri. Manajemenperusahaan dituntut untuk memahami bahwa biaya terjadi karena adanya faktor atauaktivitas yang memacunya. Oleh karena itu, perhatian manajemen sebaiknya ditujukankepada aktivitas – aktivitas tersebut.

    Sistem pengelolaan biaya yang menekankan kepada pemahaman terhadapaktivitas – aktivitas sehingga diketahui aktivitas penambah nilai (value added activities)atau aktivitas bukan penambah nilai (non value-added activities) bagi produk dikenaldengan nama Activity Based Costing System (sistem ABC). Sistem ini bekerja dengananggapan bahwa aktivitas mengkonsumsi sumber daya dan produk memerlukanaktivitas.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 3

    Pengukuran biaya produksi menurut sistem akuntansi biaya tradisionalsebagaimana terjadi diberbagai perusahaan, ditentukan bahwa biaya terjadi tanpaadanya faktor pemacu sehingga untuk mencapai efisiensi, perhatian utama manajemenditujukan kepada cara penekanan biaya agar diperoleh keuntungan yang diharapkan.Apabila sistem pengelolaan biaya lama ini diterapkan dalam proses produksi yangsudah maju dan menghasilkan diversifikasi produk maka kemungkinan akanmengakibatkan terjadinya distorsi informasi biaya dan pengaruhnya terhadappengambilan keputusan manajemen.

    Pada sistem akuntansi biaya tradisional pembebanan biaya overhead pabrik keproduk biasanya dilaksanakan melalui tarif yang ditentukan dimuka (predeterminedoverhead rate). Pada umumnya tarif overhead pabrik tersebut ditetapkan secara tariftunggal (plant-wide rate) atau tarif per departemen produksi (departement rate).Dengan tarif tunggal, seluruh biaya overhead pabrik dikumpulkan dan dibagi dengansatu dasar tarif yang lazimnya dipakai yaitu jam kerja langsung, jam mesin, upah buruhlangsung, bahan baku yang dipakai ataupun unit yang diproduksi. Pada tarif perdepartemen produksi (departementalisasi biaya overhead pabrik) biaya overhead pabrikdepartemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi, kemudian dibuatkan tarifper masing-masing departemen produksi.

    Cara sistem tradisional ini mengandung kelemahan dimana pembebanan biayaoverhead pabrik ke produk, jika hasil produksinya lebih dari satu jenis menjadi terlaluarbiter. Maksudnya akan terjadi distorsi biaya dari yang seharusnya menjadi bebanproduk yang satu ke yang lain. Sebagai akibat dari gambaran yang terdistorsi ini, makakeputusan yang akan diambil tentunya juga akan menjadi kurang tepat. Untukmeminimalkan distorsi tersebut maka dapat dipakai suatu sistem yang dinamakansistem ABC.

    Sistem ABC bekerja dengan asumsi bahwa suatu produk atau jasa yang dihasilkansebenarnya merupakan hasil akhir dari suatu rangkaian kegiatan (aktivitas). Karena ituadalah tidak wajar jika suatu produk yang dihasilkan dari rangkaian aktivitas prosesproduksi dibebankan biayanya ke produk lain (terjadi distorsi biaya).

    Karena aktivitas – aktivitas yang dilaksanakan mengandung konsekuensi biayamaka biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas produksi tersebut harus dibebankan keproduk yang bersangkutan. Dengan berdasarkan diri pada aktivitas maka pembebananbiaya overhead pabrik ke produk juga akan didasarkan pada aktivitas yangdiserap/dikonsumsi oleh masing – masing produk.

    Pada saat ini PT. P.P memproduksi particle board dengan ukuran dan ketebalanyang berbeda - beda dan untuk menghasilkan particle board dengan ukuran danketebalan yang berbeda - beda ini, perusahaan menggunakan berbagai jenis mesin yangmerupakan 1 line produksi sehingga biaya overhead pabrik yang terjadi disebabkanoleh seluruh produk. Hal ini menimbulkan masalah bagi perusahaan didalammengidentifikasikan jumlah biaya overhead pabrik yang disebabkan atau dikonsumsioleh setiap jenis produk karena perusahaan masih menggunakan sistem akuntansi biayatradisional dengan dasar alokasi unit yang tunggal untuk mengalokasikan seluruh biayaoverhead pabrik ke masing-masing produk.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 4 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    Perusahaan memproduksi produknya secara terus menerus dimana dilakukanpenyetelan pada mesin press setiap ingin mengganti tingkat ketebalan dari setiapproduk, tapi perusahaan tidak menghitung berapa produksi yang hilang pada saatdilakukan penyetelan dan hal yang sama juga terjadi apabila mesin produksi tidak jalanakibat mengalami gangguan teknis. Selain itu perusahaan memproduksi tidakberdasarkan pesanan melainkan berdasarkan perkiraan mengenai permintaan pasardimana produk yang pada masa lalu sering diminta oleh konsumen, itu yang diproduksilebih banyak sedangkan produk yang diminta sedikit maka produksinya pun tidakterlalu banyak.

    Didalam penetapan harga jual masing - masing produk perusahaan menetapkanlaba kotor sebesar 30% sampai dengan 40% dimana semakin besar dan semakin tebalsuatu produk maka produk tersebut semakin mahal. Tetapi berhubung pada saat itusudah banyak saingan didalam menjual produksi particle board ke pasaran, makaperusahaan makin lama perusahaan makin kesulitan dalam menjual produknya apalagiharga di pasar mancanegara seperti Jepang dan Korea Selatan.

    Dengan dilatar belakangi permasalahan tersebut di atas maka penulis merumuskanpermasalahan yang hendak dibahas dalam penelitian ini adalah: Apakah ada perbedaanantara sistem akuntansi biaya tradisional dengan sistem activity based costing dalampengalokasian biaya overhead pabrik ke masing – masing produk dengan menggunakandasar alokasi tingkat unit ?

    B. Kajian Teritis1. Pengertian Biaya

    Konsep dan pengertian biaya telah dikembangkan selaras dengan kebutuhanpara akuntan dan ekonomi. Dalam Bukunya Akuntansi Biaya (1999:8) Mulyadimenjabarkan biaya sebagai berikut : “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomiyang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadiuntuk tujuan tertentu”.

    2. Definisi Sistem Akuntansi Biaya TradisionalMenurut Supriyono (1997:221), mendefinisikan Sistem akuntansi biaya

    tradisional sebagai berikut : “Sistem akuntansi biaya tradisional adalah sistemkalkulasi biaya yang menghitung biaya overhead pabrik berdasarkan jumlah unityang dihasilkan yang diukur dalam jam kerja langsung, jam mesin atau rupiahtenaga kerja langsung”.

    Sistem ini dapat mengakibatkan informasi biaya produksi yang terdistorsi.Dalam kenyataannya perusahaan yang menjual produk yang banyak melakukankeputusan kritikal tentang penetapan harga produk berdasarkan biaya yang tidakakurat.

    Dalam segala kemungkinan masalahnya bukan pada membebankan biayaupah langsung atau bahan langsung. Biaya utama tersebut dapat ditelusuri keproduk individual dan kebanyakan sistem akuntansi biaya tradisional didesainuntuk memastikan bahwa penelusuran tersebut terjadi. Namun pembebanan biaya

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 5

    overhead pabrik ke produk individual merupakan masalah lain, menggunakanmetode tradisional untuk pembebanan biaya overhead pabrik ke produk danmenggunakan tarif overhead pabrik ditentukan di muka berdasarkan satu tolak ukuraktivitas dapat menghasilkan biaya produk terdistorsi. Ketepatan pembebanan biayaoverhead pabrik menjadi masalah apabila banyak produk yang diproduksi dalamsatu fasilitas. Apabila hanya satu produk yang dihasilkan maka seluruh biayaoverhead pabrik yang terjadi disebabkan karena produk itu dan dapat dilacak padaproduk itu sendiri. Biaya overhead pabrik perunit adalah sebesar total biayaoverhead pabrik dibagi dengan jumlah jam atau unit yang dihasilkan.

    Dengan demikian suatu cara untuk memastikan ketepatan kalkulasi produkadalah memfokuskan pada memproduksi satu produk karena alasan ini perusahaanmemilih memanfaatkan seluruh pabrik untuk memproduksi hanya satu produk.Dengan hanya memfokuskan satu atau dua produk pabrikan yang kecil dapatmenghitung biaya produksi dan produk yang bervolume tinggi lebih akurat danmenetapkan hanya produk tersebut lebih lebih efektif biaya pada sistem biayatradisional.

    3. Konsep Pembebanan Biaya Pada Sistem Biaya TradisionalPada konsep pembebanan biaya pada sistem biaya tradisional, biaya yang

    terjadi dibebankan ke produk hanya dengan satu macam pemicu biaya yaitu unitbased driver. Menurut Hansen dan Mowen (2000:315), secara garis besar untukkalkulasi biaya produk pada sistem akuntansi biaya tradisional berdasarkanpengalokasian biaya overhead pabrik ada dua yaitu :

    a. Tarif overhead seluruh pabrik (Plant-Wide Overhead Rates)

    Penelusuran biaya

    Pendorong berdasarkan unit

    Gambar 1. Tarif overhead seluruh pabrik

    Untuk tarif overhead seluruh pabrik, biaya overhead pabrik terlebihdahulu diakumulasikan pada satu kelompok pabrik yang besar (tahap pertamapembebanan biaya) biaya overhead pabrik dibebankan pada kelompok biaya

    Biaya overhead

    Kelompok

    diseluruh pabrik

    Produk

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 6 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    hanya dengan menambahkan semua biaya overhead pabrik yangdiidentifikasikan pada jurnal umum, karena biaya overhead merupakan biayapabrik, pembebanan pada kelompok biaya dilakukan dengan keakuratan tinggi.

    Pada tahap pertama, obyek biaya adalah pabrik dan penelusuran dapatdigunakan untuk membebankan biaya pada kelompok pabrik. Dalam hal ini kitadapat mengatakan bahwa biaya tersebut dibebankan pada kegiatan makro yangsangat luas yaitu produksi. Sekali biaya diakumulasikan pada kelompok ini kitadapat menghitung tarif pabrik dengan menggunakan pendorong tunggal yangumumnya jam tenaga kerja langsung. Produk diasumsikan mengkonsumsisumber daya overhead pabrik sebanding dengan penggunaan jam tenaga kerjalangsung.

    Dan pada tahap kedua. Biaya overhead pabrik dibebankan pada produkdengan mengalikan tarif dengan jam kerja langsung sesungguhnya yangdigunakan oleh tiap produk.

    Perusahaan dapat memakai tarif overhead seluruh pabrik untukmembebankan atau mengalokasikan biaya overhead pabrikasi ke produk –produk. Apabila hanya satu produk saja yang diproduksi, maka alokasi tadirelatif muda dilakukan. Tarif overhead pabrik secara keseluruhan diperoleh daripembagian overhead pabrik total (dasar aktivitas seluruh pabrik).

    Dasar aktivitas yang dipakai biasanya berkaitan dengan volume. Dasaraktivitas yang berkaitan dengan volume produksi seperti ekuivalen unit, jamtenaga kerja atau jam mesin langsung.

    b. Tarif overhead departemen / departementalisasi.Departementalisasi biaya overhead pabrik adalah pembagian ke dalam

    bagian – bagian yang disebut departemen atau pusat biaya overhead pabrik.Tarif biaya overhead pabrik yang dihitung untuk setiap departemen produksidengan dasar pembebanan yang mungkin berbeda diantara departemen-departemen produksi yang ada.

    Oleh karena itu departementalisasi biaya overhead pabrik memerlukanpembagian perusahaan kedalam departemen-departemen untuk memudahkanpengumpulan biaya overhead pabrik yang terjadi. Departemen – departemeninilah yang merupakan tempat ditandingkannya biaya dengan prestasi yangdihasilkan oleh departemen tersebut.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 7

    Penelusuran langsungPenelusuran pendorong Alokasi

    Pendorong berdasarkan unit pendorong berdasarkan unit

    Gambar 2. Tarif Overhead Pabrik Departemen

    Untuk tarif departemen biaya overhead pabrik dibebankan pada masing– masing departemen produksi, menciptakan kelompok biaya departemen. Padatahap ini departemen merupakan obyek biaya dan biaya overhead dibebankandengan menggunakan penelusuran langsung, penelusuran pendorong danalokasi.

    Sekali biaya dibebankan pada masing – masing departemen produksi,kemudian pendorong berdasarkan kegiatan seperti jam tenaga kerja langsungdan jam mesin digunakan untuk menghitung tarif departemen. Produk yangmelalui departemen tersebut diasumsikan mengkonsumsi biaya overhead pabriksebanding dengan pendorong departemen berdasarkan unit (jam mesin atau jamtenaga kerja yang digunakan).

    Karenanya pada tahap kedua. Overhead pabrik dibebankan pada produkyang mengalikan tarif departemen dengan jumlah pendorong yang digunakan padamasing – masing departemen. Seluruh overhead yang dibebankan pada produkhanya merupakan penjumlahan dari jumlah yang diterima dari masing – masingdepartemen.

    Setidaknya ada dua faktor utama yang menyebabkan pemacu biayaberdasarkan unit tidak mampu unutk mengalokasikan biaya overhead pabrik secaratepat yaitu:

    a. Proporsi biaya overhead pabrik yang tidak berkaitan dengan unitterhadap biaya overhed pabrik total.

    Pemacu biaya tidak berdasarkan unit adalah faktor - faktor penyebab selainjumlah unit yang diproduksi yang menjelaskan konsumsi biaya overhead pabrik.

    Biaya overhead pabrik

    KelompokDepartemen A

    KelompokDepartemen B

    Produk Produk

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 8 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    Maka pemacu biaya berdasarkan unit tidak dapat membebankan biaya – biayasecara akurat terhadap produk.

    Penggunaan pemacu biaya yang berdasarkan unit saja untuk membebankanbiaya overhead pabrik yang tidak berhubungan dengan unit dapat menimbulkandistorsi pada biaya produk. Intensitas distorsi ini tergantung dari berapa proporsidari biaya yang tidak berdasarkan unit terhadap total biaya overhead pabrik. Hal inimembuktikan bahwa manajemen harus memberikan perhatian pada pembebananbiaya overhead pabrik yang tidak berdasarkan unit. Jika biaya overhead pabrikyang tidak berdasarkan unit hanya merupakan persentase yang kecil dari total biayaoverhead pabrik, distorsi pada biaya produk juga akan kecil. Dalam keadaan biayaoverhead pabrik yang tidak berhubungan dengan unit jumlah relatif kecil,penggunaan pemacu biaya berdasarkan unit dapat diterima.

    b. Tingkat diversitas produkDiversitas produk terjadi jika dalam suatu perusahaan menghasilkan berbagai

    jenis produk yang mengkonsumsi aktivitas overhead pabrik dalam proporsi yangberbeda-beda. Ada beberapa alasan yang menyebabkan suatu produk dapatmengkonsumsi overhead pabrik dalam proporsi yang berbeda - beda dibandingkanproduk lainnya misalnya :

    1). Perbedaan ukuran produk2). Kerumitan produk3). Waktu set up4). Ukuran batch

    Semuanya dapat menyebabkan produk mengkonsumsi overhead dalamproporsi yang berbeda. Untuk mengambarkan pemakaian aktivitas oleh setiap jenisproduk digunakan rasio konsumsi. Rasio konsumsi adalah proporsi dari setiapaktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk.

    Karena biaya overhead pabrik yang tidak berdasarkan unit merupakanproporsi yang signifikan dari total biaya overhead pabrik dan rasio konsumsiberbeda antara kategori masukkan dengan dasar unit dan masukkan dengan dasarnon unit, maka produk dapat terdistorsi jika pemacu biaya yang digunakan hanyaberdasarkan unit untuk menghilangkan/mengurangi distorsi biaya produk, makadiciptakanlah suatu sistem biaya tradisional yang baru berdasarkan aktivitas yaitusistem ABC.

    4. Definisi Sistem Activity Based CostingMenurut T. Hongren, George Foster dan Srikant Datar (1999:939), sistem

    ABC adalah suatu pendekatan biaya yang memfokuskan pada aktivitas sebagaiobyek biaya yang fundamnetal. ABC menggunakan biaya dari aktivitas tersebutsebagai dasar untuk mengalokasikan biaya ke obyek biaya yang lain sepertiproduk, jasa atau pelanggan.

    Ray H. Garisson (2001:342), mempunyai pendapat bahwa sistem ABCadalah suatu metode costing yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 9

    bagi manajer untuk keputusan stratejik dan keputusan lainnya yang mungkin akanmempengaruhi kapasitas dan juga biaya tetap.

    Berdasarkan pengertian – pengertian sistem ABC diuraikan di atas, makadapat ditarik kesimpulan bahwa struktur sistem ABC menjadikan aktivitasproduksi sebagai fokus dasar pembebanan biaya. Sistem ABC memfokuskanaktivitas yang dilakukan dalam memproduksi produk untuk membuat produkdiperlukan berbagai aktivitas dan setiap aktivitas memerlukan sumber daya untukpelaksanaan aktivitas tersebut.

    Asumsi dan prinsip dasar yang menjadi landasan sistem ABC tidaklahsama dengan yang dianut sistem akuntansi biaya tradisional yang sudah ada selamaini. Sistem akuntansi biaya tradisional mengasumsikan bahwa produkmenyebabkan biaya, sedangkan sistem ABC mengasumsikan bahwa aktivitas yangmenyebabkan biaya dan obyek biaya mnciptakan permintaan untuk aktivitas. Jadisumber daya tidak langsung atau biaya overhead pabrik perusahaan bukan sekedarmenciptakan sejumlah biaya yang harus dialokasikan, melainkan memberikankemampuan kepada perusahaan untuk melakukan berbagai aktivitas operasional.

    5. Manfaat Penerapan Sistem ABCAmin Wijaya Tunggal (1995:24-26), menyimpulkan bahwa sistem ABC

    memiliki manfaat antara lain sebagai berikut :a. Memperbaiki keputusan yang diambil

    Kemungkinan kesalahan yang dibuat oleh manajer dalam pengambilankeputusan dapat dikurangi apabila manajer memperoleh informasimengenai biaya produk yang akurat.

    b. Memperbaiki aktivitas secara kontinue untuk mengurangi biayaoverhead pabrikBiaya overhead pabrik diidentifikasikan dengan aktivitas yangmenimbulkan biaya tersebut oleh sistem ABC. Oleh karena itu manajerdapat menggunakan informasi tersebut untuk memperhatikan danmenganalisa aktivitas – aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan untukmenghasilkan produk dan melayani konsumen sekaligus menimbulkanbiaya – biaya yang ditimbulkannya. Berdasarkan informasi yang disediakanoleh sistem ABC, manajer dapat memperbaiki aktivitas danmenghilangkan/mengurangi aktivitas yang tidak bernilai tambah.

    c. Mengurangi penentuan biaya relevanDengan informasi biaya – biaya yang dihubungkan dengan kegiatanperusahaan dalam menjalankan operasi usahanya, maka manajemen dapatmemperoleh kemudahan dalam menganalisa keputusan mengenai biayarelevan yang akan diambil atas kegiatan tersebut.

    Jika dicermati lebih jauh, sesungguhnya sistem ABC memiliki lebih banyaklagi manfaat dan kelebihan bila kita bandingkan dengan sistem biaya tradisional,

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 10 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    misalnya saja bila ditinjau dari segi kegiatannya maka sistem ABC berguna untukmenghilangkan aktivitas yang tidak memberi nilai tambah. Untuk menggantiaktivitas yang mahal dengan aktivitas sejenis yang lebih murah dan untukmendorong efisiensi terhadap penggunaan aktivitas dalam proses produksi.

    Selain itu, jika ditinjau dari segi produk yang dihasilkannya, maka sistemABC bermanfaat untuk menentukan harga jual produk baru, untuk menentukantingkat produksi dan untuk menentukan tingkat harga baru bagi produk lama yangterlanjur beredar di pasar.

    Dari segi penggunaan sumber daya, sistem ABC sangat berguna untukmenentukan perlu tidaknya penggunaan teknologi baru didalam proses produksiyang akan diimplementasikan oleh perusahaan serta untuk memperbaiki prosesproduksi yang telah ada di perusahaan.

    Sistem ABC sangat berguna untuk mengambil keputusan yang tepat olehmanajemen karena sistem ABC mampu mengidentifikasikan hubungan sebabakibat antara aktivitas dan biaya secara terperinci dan tepat terutama dalammengalokasikan biaya tidak langsung. Sistem ABC sangat besar manfaatnya biladibandingkan dengan sistem biaya tradisional yang hanya menggunakan satu dasarperhitungan atas seluruh aktivitas sehingga cenderung kurang tepat.

    Sistem ABC menekankan pada aktivitas – aktivitas yang terdapat dalamperusahaan bukan hanya menitik beratkan perhatian pada produk jadi yangdihasilkan oleh perusahaan. Karena itu sistem ABC berpandangan jika aktivitas –aktivitas yang terdapat dalam perusahaan dapat dikelola dengan baik, makahasilnya biaya produksi produk akan menjadi lebih murah dan kemampuan produktersebut untuk bersaing pasar akan meningkat.

    6. Keunggulan Sistem ABCKeunggulan sistem ABC antara lain sebagai berikut :

    a. Sistem ABC mempunyai sistem pembebanan biaya berdasarkan tingkatidentifikasi yang lebih luas (berdasarkan unit batch, produk dan fasilitaspenopang). Hal ini mengakibatkan sistem ABC menjadi lebih mampumengakomodasi berbagai macam biaya yang terjadi dan berbagai macampemicu biaya yang berbeda – beda yang menyertai. Ini terbukti bahwakalkulasi biaya dengan menggunakan sistem ABC memerlukan analisisvarians yang jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan sistem biayatradisional.

    b. Sistem ABC menyediakan informasi mengenai berbagai macam aktivitasperusahaan secara menyeluruh dan telah dipilah-pilah berdasarkan 4 tingkataktivitas utama hal ini memungkinkan manajer memfokuskan perhatianpada aktivitas dan efisiensi yang telah dilakukan perusahaan secaramenyeluruh. Disamping hal ini kemungkinan manajer untuk melakukanperbaikan serta efisiensi secara terus menerus atas aktivitas dan kinerjaperusahaan, sehingga diharapkan kinerja perusahaan dapat semakinramping, efektif dan efisien dari waktu ke waktu.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 11

    7. Keterbatasan Sistem ABCMeskipun sistem ABC memberikan alternatif penelusuran biaya ke produk

    individual secara lebih baik tetapi juga mempunyai keterbatasan yang harusdiperhatikan oleh manajer sebelum menggunakannya untuk menghitung biayaproduk, antara lain :a. Alokasi. Bahkan jika data aktivitas tersedia, beberapa biaya mungkin

    membutuhkan alokasi ke departemen atau produk berdasarkan ukuranvolume yang arbiter sebab secara praktis tidak dapat ditemukan aktivitasyang dapat menyebabkan biaya tersebut. Contoh beberapa biayamempertahankan fasilitas, seperti aktivitas membersihkan pabrik danpengelolaaan proses produksi.

    b. Mengabaikan biaya. Keterbatasan lain dari sistem ABC adalah beberapabiaya yang diidentifikasi pada produk tertentu diabaikan dari analisisaktivitas yang biayanya sering diabaikan adalah pemasaran, advertensi, risetdan pengembangan, rekayasa produk dan klaim garansi. Tambahan biayasecara sederhana ditambahkan ke biaya produksi untuk menentukan biayaproduk total. Secara tradisional biaya pemasaran dan advertensi tidakdimasukkan ke dalam biaya produk karena persyaratan pelaporan keuanganyang dikeluarkan oleh GAAP (generally accepted accounting principles)yang merupakan prinsip akuntansi yang dapat diterima secara umummengharuskan memasukkan ke dalam biaya periode.

    c. Pengeluaran dan waktu yang dikonsumsi. Sistem ABC sangat mahal untukdikembangkan dan diimplementasikan. Disamping itu juga membutuhkanwaktu yang banyak seperti sebagian besar sistem akuntansi dan manajemenyang inovatif, biasanya diperlukan waktu lebih dari satu tahun untukmengembangkan dan mengimplementasikan ABC dengan sukses.

    8. Konsep Pembebanan Biaya Pada Sistem ABCDalam bukunya Manajemen Biaya Hansen dan Mowen (2000:321),

    dijelaskan bahwa Pembenanan biaya pada sistem ABC berbeda dengan sistemakuntansi biaya tradisional. Pada sistem ABC pembebanan biaya terdiri dari duatahap :a. Pengumpulan biaya (cost pool) didefinisikan sebagai aktivitas dari pada pusat

    biaya.b. Pemacu biaya yang digunakan untuk membebankan biaya aktivitas kepada

    output secara struktural berbeda dengan yang digunakan dalam sistem biayatradisional.

    Modifikasi ini menjadikan sistem ABC dapat melaporkan informasibiaya yang lebih akurat dibanding dengan sistem akuntansi biaya tradisional,karena sistem ABC mengidentifikasikan secara jelas biaya – biaya dariaktivitas yang berbeda yang dilakukan dalam perusahaan dan sistem ABCmembebankan biaya dari aktivitas – akivitas ini kepada output dengan

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 12 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    menggunakan pengukuran – pengukuran yang mewakili jenis – jenispermintaan dari tiap-tiap output terhadap aktivitas-aktivitas tersebut.

    Pengetahuan atas biaya dari berbagai aktivitas tersebutmemungkinkan para manajer untuk memfokuskan diri pada aktivitas –aktivitas yang memberikan peluang untuk melakukan penghematan biayadengan cara : menyederhanakan aktivitas, melaksanakan aktivitas denganlebih efisien, meniadakan aktivitas yang tidak bernilai tambah dansebagainya.

    Tahap pertama

    Tahap kedua

    Gambar 3. Pembebanan dua tahap sistem ABC

    Tahap pertama dari pembebanan biaya pada sistem ABC adalahmenelusuri biaya overhead pabrik pada aktivitas penyebab terjadinya biaya,meliputi 4 langkah sebagai berikut :1) Penggolongan berbagai aktivitas2) Pengasosasian berbagai biaya dengan berbagai aktivitas3) Penentuan kelompok – kelompok biaya yang homogen4) Penentuan tarif kelompok (pool rate)

    9. Merancang Sistem ABCMenurut Robin Cooper dan Robert S Kaplan (1992:12), untuk merancang

    suatu sistem ABC harus melalui beberapa tahap yang penting yaitu:a. Pengidentifikasian aktivitas

    Merupakan hal yang penting untuk mengidentifikasikan aktivitasdalam sistem ABC karena dasar alokasi dari biaya ke produk adalahaktivitas, sehingga untuk memahami perilaku biaya yang ada dalamperusahaan perlu dilakukan pengidentifikasian aktivitas. Usaha yang dapatdilakukan adalah dengan mengidentifikasikan aktivitas yang relevan denganproduk yang bersangkutan.

    Aktivitas adalah tindakan gerakan atau serangkaian pekerjaan yangdilakukan dalam suatu organisasi untuk menghasilkan suatu produk atau

    Sumber daya

    Aktivitas

    Produk

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 13

    jasa tertentu. Menurut Robin Cooper Dan Robert S Kaplan (1992:19), ada 3metode pengidentifikasian aktivitas yang paling umum digunakan yaitu :1) Pusat aktivitas (activity center)

    Adalah kumpulan kegiatan yang membentuk suatu prosesproduksi. Pusat aktivitas cocok digunakan dalam sistem ABC apabilajumlah kegiatan atau aktivitas sangat banyak karena metode inimemberikan pelaporan ikhtisar dari biaya – biaya proses. Metode inimemberikan jarak antara suatu kelompok aktivitas dengan kelompokaktivitas lainnya.

    Pusat aktivitas dapat dibentuk menurut struktur organisasi sepertidepartemen – departemen atau pusat – pusat pertanggung jawaban.Sebagai contoh departemen perakitan dapat dijadikan menjadi tigapusat aktivitas yaitu bagian pengecetan, bagian perakitan dan bagianpengemasan.

    2) Tingkat aktivitas (activities hierarchies)Suatu perbedaan yang signifikan dari sistem akuntansi biaya

    tradisional dan ABC adalah pada konsep yang menyatakan biayaadalah berjenjang (hierarchies). Biaya-biaya terjadi pada tingkat yangberbeda. Beberapa biaya ditimbulkan oleh unit, beberapa oleh batchdan beberapa biaya ditimbulkan oleh produk.

    Biaya dibebankan ke berbagai tingkat agar analisis dapatmengidentifikasi biaya apa yang inkremental untuk tipe keputusanmanajemen yang berbeda. Beberapa biaya adalah biaya variabel yangberjangka pendek secara langsung berhubungan dengan volumeproduksi seperti upah langsung, peralatan yang dapat dihabiskan. Biaya– biaya yang lain merupakan biaya variabel yang berjangka panjangyang bervariasi dengan terjadinya aktivitas seperti set-up, inspeksi.

    3) Value added activityAktivitas – aktivitas dapat diklasifikasikan sebagai bernilai tambah

    atau tidak bernilai tambah. Definisi value added activity berbeda antaraperusahaan yang satu dengan yang lain. Definisi yang umum untuk valueadded activity adalah aktivitas yang menambah nilai bagi pelanggan,aktivitas yang dilakukan secara efisien atau aktivitas yang mendukungtujuan utama dalam menghasilkan output. Aktivitas – aktivitas yangtidak bernilai tambah merupakan pemborosan dan diindikasikan olehaktivitas – aktivitas yang tidak menambah nilai terhadap produk.Beberapa contoh mencakup penyimpanan persediaan, pengujian mutudan waktu transportasi ke dan dari berbagai fungsi.

    Pengidentifikasian aktivitas yang dilakukan secara tidak efisienmemberikan petunjuk mengenai kesempatan – kesempatan yang adauntuk memperbaiki proses produksi.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 14 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    10. Perbedaan Antara Sistem Akuntansi Biaya Tradisional Dengan SistemABC

    Perbedaan – perbedaan sistem perhitungan biaya menurut sistem akuntansibiaya tradisional dengan sistem ABC, berdasarkan teori – teori yang sudah adadikemukakan adalah sebagai berikut :

    a. Sistem akuntansi biaya tradisional memberi sedikit ide kepada pihakmanajemen dimana harus dikurangi pengeluaran pada waktu mendesak.Sistem tersebut memberikan laporan kepada pihak manajemen denganmenunjukkan dimana biaya yang dikeluarkan dan tidak ada indikasi atautidak memberitahukan apa yang menimbulkan biaya. Pada sistem ABCmenganggap bahwa produk merupakan kumpulan dari berbagai aktivitasdan untuk memahami perilaku biaya yang ada dalam perusahaan perludilakukan pengidentifikasian aktivitas. Dimana usaha yang dapatdilakukan adalah dengan mengidentifikasikan aktivitas yang relevandengan produk yang bersangkutan, sehingga dengan pengidentifikasianaktivitas tersebut dapat diketahui mana aktivitas yang bernilai tambah danaktivitas yang tidak bernilai tambah. Oleh karena itu sistem ABCmembantu memperbaiki penulusuran dari aktivitas yang menghasilkanbiaya – biaya tersebut, sehingga informasi yang dihasilkan oleh sistemABC adalah informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan .

    b. Sistem akuntansi biaya tradisional mengasumsikan bahwa pordukmenyebabkan biaya. Sedangkan ABC mengasumsikan bahwa aktivitasyang menyebabkan biaya dan obyek biaya menciptakan permintaan untukaktivitas.

    c. Sistem ABC menggunakan aktivitas – aktivitas sebagai pemacu biayaunutk menentukan berapa besar setiap overhead pabrik yang dikonsumsisetiap produk. Sistem akuntansi biaya tradisional mengalokasikan biayaoverhead pabrik secara arbiter berdasarkan satu atau dua basis alokasiyang non representatif. Selain itu sistem ABC menggunakan banyakkelompok biaya (multiple overhead cost pool) dengan pemacu biaya yangberbeda – beda untuk setiap kelompok biayanya sedangkan sistemakuntansi biaya tradisional menggunakan satu kelompok biaya (single costpool) diaman seluruh kelompok biaya dijelaskan dengan dasar alokasiyang tunggal.

    d. Pada tahap pertama pembebanan dua tahap terhadap biaya overheadpabrik, sistem akuntansi biaya tradisional biaya – biaya ditelusuri ke pusatbiaya sedangkan sistem ABC menelusuri biaya berdasarkan aktivitaspenyebab timbulnya biaya. Kemudian pada tahap kedua baik sistemakuntansi biaya tradisional maupun sistem ABC meliputi penelusuranbiaya ke berbagai produk. Sehingga pengumpulan biaya pada sistem ABCdidefinisikan sebagai aktivitas dari pada sebagai pusat biaya.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 15

    Pada sistem ABC dinyatakan bahwa biaya adalah berjenjang. Biaya – biayaterjadi pada tingkat aktivitas yang berbeda yaitu aktivitas tingkat unit, batch, produkdan fasilitas.

    C. Analisis dan Pembahasan

    1. Perhitungan Biaya Menurut Sistem Akuntansi Biaya Tradisional

    PT P.P memproduksi particle board dengan ukuran dan ketebalan yangberbeda - beda, sehingga menghasilkan produk yang berbeda (ukurannyabesar/kecil, ketebalannya tipis/tebal). Selain itu volume produksinya juga berbeda -beda yaitu apakah produksi tersebut bervolume tinggi atau bervolume rendah.Ukurannya, ketebalannya serta volume produksi dari masing - masing jenis produkparticle board tersebut dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.

    Tabel 2. Jenis dan produk particle board tahun 2005Kode

    Produk Ukuran

    Jumlah lembarunit yang

    diproduksi

    Ukuranstandar

    (M3)

    JumlahVolume ygdiproduksi

    Persentaseproduk

    (M3)

    A 9 mm 4” x 6 “ 397.284 0,0268 10.647 14,84B 9 mm 4” x 8 “ 93.465 0,0201 1.879 2,62C 12 mm 4’ x 6 “ 150.741 0,0357 5.381 7,50D 12 mm 4” x 8 “ 245.463 0,0268 6.578 9,17E 15 mm 4’ x 6 “ 720.868 0,0447 32.223 44,90F 15 mm 4’ x 8 “ 167.424 0,0335 5.609 7,82G 18 mm 4’ x 6 “ 41.814 0,0536 2.241 3,12H 18 mm 4’ x 8 “ 6.286 0,0402 253 0,35I 20 mm 4’ x 6 “ 6.036 0,0595 359 0,50J 20 mm 4’ x 8 “ 24.103 0,0447 1.077 1,50K 25 mm 4’ x 6 “ 22.521 0,0744 1.676 2,33L 25 mm 4’ x 8 “ 39.805 0,0553 2.201 3,07M 30 mm 4’ x 6 “ 8.496 0,0893 759 1,06N 30 mm 4’ x 8 “ 13.212 0,0670 885 1,23

    Total 1.937.518 71.768 100,00

    Sumber data : PT Parindo Permai

    Produk particle board ini diproduksi dengan peralatan/mesin yang sama dandengan menggunakan proses yang sama, sehingga yang menjadi masalah PT P.Padalah bagaimana biaya overhead dialokasikan ke masing -masing produk.Sedangkan biaya utama (biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung)tidak dibahas dalam penelitian ini karena biaya utama tersebut dapat ditelusuri keproduk secara individu.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 16 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    PT P.P menggunakan suatu sistem akuntansi biaya yang terdiri dari 1 pusatbiaya-fasilitas secara keseluruhan (produk diproduksi dalam satu fasilitas). Padasistem akuntasni biaya PT P.P tersebut mengalokasikan biaya overhead ke produkdengan dasar keluaran fisis atau unit produksi, yang merupakan metode yang palingsederhana dan paling langsung guna membebankan biaya overhead pabrik.Penggunaan jumlah unit produksi sebagai dasar alokasi biaya overhead pabrik olehperusahaan merupakan salah satu ciri dari sistem akuntansi biaya tradisional yangmenggunakan dasar alokasi tingkat unit.

    Langkah pertama dalam mengalokasikan biaya overhead pabrik ke masing -masing unit produk dalam ukuran lembar adalah dengan menghitung jumlah lembarunit yang diproduksi oleh masing - masing jenis produk particle board tersebut.Setelah itu mengalikannya dengan ukuran standar dalam M3 (didalammenghasilkan 1 lembar berapa volume per M3 karena masing - masing unitproduksi menggunakan ukuran yang berbeda - beda) yang ditetapkan olehperusahaan. Maka akan didapat jumlah volume masing - masing produk yangdiproduksi (dalam M3). Selanjutnya tarif overhead pabrik per M3 didapat daripembagian antara total biaya overhead pabrik dengan total volume yang diproduksi(M3). Langkah selanjutnya adalah mengalikan tarif biaya overhead pabrik per M3

    dengan jumlah volume yang diproduksi (M3) maka akan didapat biaya overheadpabrik untuk setiap jenis produk lalu dibagi dengan jumlah unit yang diproduksisehingga akan didapat biaya overhead pabrik per unit masing-masing jenis produkparticle board tersebut.

    Tabel 3. Pengalokasian biaya Overhead Pabrik Menurut SistemAkuntansi Biaya Tradisional

    Produk Jumlahlembar unit

    yangdiproduksi

    Ukuranstandar(M3)

    Volumeproduk ygdiproduksi

    (M3)

    Tarifoverhead

    pabrik(Rp)

    Biaya overheadpabrik U/ setiap

    Jenis produk(Rp)

    Biayaoverheadpabrik perunit (Rp)

    A 397.284 0,0268 10.647 101.545 1.081.175.751 2.721B 93.465 0,0201 1.879 101.545 190.767.986 2.041C 150.741 0,0357 5.381 101.545 546.462.086 3.625D 245.463 0,0268 6.578 101.545 668.007.379 2.721E 720.868 0,0447 32.223 101.545 3.272.078.379 4.539F 167.424 0,0335 5.609 101.545 569.538.318 3.402G 41.814 0,0536 2.241 101.545 227.586.728 5.443H 6.286 0,0402 253 101.545 25.660.248 4.082I 6.036 0,0595 359 101.545 36.469.223 6.042J 24.103 0,0447 1.077 101.545 109.405.474 4.539K 22.521 0,0744 1.676 101.545 170.145.722 7.555L 39.805 0,0553 2.201 101.545 223.523.499 5.615M 8.496 0,0893 759 101.545 77.041.795 9.068N 13.212 0,0670 885 101.545 89.888.430 6.804

    Total 1.937.518 71.768 7.287.751.029 3.761Sumber data : PT. Parindo Permai

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 17

    2. Perhitungan Biaya Menurut Sistem ABCPada pembahasan selanjutnya penulis akan mencoba untuk merancang

    sistem ABC pada PT P.P untuk mengalokasikan biaya overhead pabrik ke masing- masing produk dimana harus melewati tahap sebagai berikut :

    a. Pengidentifikasian dan pengelompokkan aktivitasLangkah pertama dalam menghitung biaya overhead pabrik menurut

    sistem ABC adalah pengidentifikasian aktivitas - aktivitas yang berhubungandengan proses produksi karena sistem ABC beranggapan bahwa produk adalahmerupakan akumulasi dari himpunan beraneka ragam aktivitas sepanjang matarantai nilai produk tersebut.

    Dalam tahap ini tidak perlu mengidentifikasikan aktivitas – aktivitassecara terperinci tapi cukup aktivitas - aktivitas utama saja karena bila aktivitas -aktivitas mikro juga diidentifikasi, maka justru akan menghabiskan waktu danmenambah biaya. Misalnya untuk menjalankan mesin (set-up) cukupdiidentifikasikan aktivitas set-up mesin, tidak perlu mengidentifikasi aktivitas -aktivitas mikro yang mendukung aktivitas set-up mesin tersebut sepertiidentifikasi peralatan yang diperlukan, pergi ke tempat penyimpanan peralatan,pilih peralatan, gunakan peralatan pada mesin dan sebagainya.

    Aktivitas yang telah teridentifikasi di atas kemudian dikelompokkan kedalam kelompok biaya. Agar dapat dimasukkan ke dalam suatu kelompok biayayang homogen. Aktivitas - aktivitas overhead pabrik harus dihubungkan secaralogis dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk yangmenunjukkan eksistensi dari sebuah pemacu biaya. Dua aktivitas denganpemacu biaya yang sama dan memiliki tarif yang berbeda dapat dikelompokkandalam satu kelompok biaya. Dua aktivitas yang tidak berhubungan dapatdikelompokkan dalam satu kelompok biaya apabila pemacu biayanya sama.

    Pengelompokkan aktivitas - aktivitas yang berhubungan dengan prosesproduksi pada PT P.P ke dalam kelompok biaya dilakukan dengannmengelompokkan aktivitas - aktivitas tersebut ke dalam aktivitas yangberhubungan dengan unit, batch, produk dan fasilitas.

    b. Pembebanan biaya sumber daya ke aktivitasPembebanan biaya sumber daya ke aktivitas melewati dua tahap di bawah

    ini yaitu :1) Pengidentifikasian biaya

    Untuk membebankan biaya sumber daya ke aktivitas terlebih dahuluharus dilakukan pengindentifikasian elemen biaya produksi. Penentuanelemen biaya ini dapat dilihat pada buku besar perusahaan. Biaya yang perludiperhatikan adalah biaya overhead pabrik karena pembebanan biaya utama(biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung) dapat dilakukantanpa analisa biaya. Biaya overhead pabrik merupakan biaya yangdikonsumsi secara tidak langsung oleh produk.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 18 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    2) Penentuan hubungan aktivitas dengan biayaLangkah selanjutnya adalah menentukan hubungan antara aktivitas

    dalam kelompok biaya dengan biaya overhead pabrik di atas. Langkah inibertujuan untuk membebankan biaya pada kelompok biaya yang layakmendapatkan pembebanan biaya tersebut. Satu kelompok biaya dapat terdiridari lebih satu elemen biaya.

    c. Pengidentifikasian outputOutput yang diproduksi oleh PT P.P yang akan mendapatkan pengalokasian

    biaya overhead pabrik adalah particle board dengan ukuran dan ketebalan sebagaiberikut :

    1) Ukuran panjang x lebar :a) 4”x 8” atau 122 cm x 244 cmb) 4”x 6” atau 122 cm x 183 cm

    2) Ketebalan :a) 9 mmb) 12 mmc) 20 mmd) 25 mme) 15 mmf) 30 mm

    Produk particle board dengan ukuran dan ketebalan di atas merupakanoutput yang menjadi biaya yang menyebabkan timbulnya aktivitas.

    d. Pembebanan biaya aktivitas ke outputPembebanan biaya aktivitas ke output pada sistem ABC adalah melalui 2

    tahap di bawah ini yaitu ; a) Penentuan pemacu biaya, b) Pengalokasian biaya.

    Langkah terakhir adalah pengalokasian biaya - biaya overhead pabrik darimasing - masing produk dengan menggunakan pemacu biaya yang telahditetapkan sebagai dasar alokasinya. Pengalokasian biaya tersebut dapat dilihatpada tabel 4 sampai dengan tabel berikut ini.

    Tabel 4. Dasar alokasi biaya overhead pabrik per kelompok biaya

    Produk Cost poolKelompok biaya I (unit)

    Dasar alokasi : jam kerja mesin(mesin )

    Kelompok biaya II (fasilitas)Dasar alokasi : kapasitas normal

    (lembar)A 2.403 531.587B 424 125.134C 1.215 201.681D 1.485 347.463E 7.274 731.275F 1.266 224.095G 506 113.731

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 19

    H 57 26.746I 81 8.067J 243 32.215K 378 67.742L 497 48.344M 171 56.331N 200 17.545

    Total 16.200 2.531.956Sumber data : PT. Parindo Permai

    Tabel 5. Pengalokasian biaya overhead pabrik ke kelompok biaya (Rp)

    Biaya overhead pabrik Kelompok I Kelompok II TotalGaji Manager/staff/karyawanPabrik

    414.440.898 414.440.898

    Lembur karyawan 25.272.386 25.272.386Tenaga ahli 515.331.097Bahan bakar solar 3.013.200.000 3.013.200.000Penyusutan mesin pabrik 204.840.729 204.840.729Peralatan mesin pabrik 1.202.484.990 1.202.484.990Asuransi mesin pabrik 1.168.153.868 1.168.153.868Penyusutan bangunanPabrik

    260.000.000 260.000.000

    Perawatan bangunanPabrik

    294.914.716 294.914.716

    Asuransi bangunan pabrik 59.112.345 59.112.345Asuransi mesin pabrik 130.000.000 130.000.000Total 3.243.313.115 4.044.437.914 7.287.751.029

    Sumber data : PT. Parindo Permai

    Setelah menghitung besarnya pengalokasian biaya overhead pabrik darimasing - masing kelompok biaya berdasarkan masing - masing pemacu biaya padasetiap produk, maka selanjutnya adalah menghitung biaya overhead pabrik per unitmenurut sistem ABC yang didapat dari penjumlahan alokasi biaya overhead pabrikdari 2 kelompok biaya masing - masing produk kemudian dibagi dengan kuantitasproduk yang dihasilkan per unit (lembar) yang tertera pada tabel 6.

    3. Perbandingan Perhitungan Biaya Menurut Sistem Akuntansi BiayaTradisional Dengan Sistem ABC

    Perbandingan antara perhitungan biaya overhead pabrik per unit (lembar) menurutsistem akuntansi biaya tradisional dengan sistem ABC dapat dilihat pada tabel 6 dibawah ini :

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 20 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    Tabel 6. Perbedaan biaya overhead pabrik per unitmenurut sistem akuntansi biaya tradisional dan sistem ABC

    Berdasarkan tabel perbandingan di atas, terlihat adanya perbedaan perhitunganbiaya overhead pabrik menurut sistem akuntansi biaya tradisional dengan sistem ABC,dimana terlihat tingkat distorsi yang terjadi pada biaya overhead pabrik per lembar darimasing - masing jenis produk pada sistem akuntansi biaya tradisional. Sumber daridistorsi pada sistem akuntansi biaya tradisional terletak pada pemilihan suatu dasaralokasi biaya tingkat unit yang tunggal, dalam kasus ini adalah jumlah unit particleboard yang diproduksi untuk mengalokasikan seluruh biaya overhead pabrik ke masing- masing produk tidak hanya dengan mengkonsumsi biaya overhead pabrik yangberhubungan dengan unit saja tetapi juga mengkonsumsi biaya overhead pabrik yangberhubungan dengan non unit. Dan hal ini dapat lebih jelas apabila dilakukanperhitungan biaya overhead pabrik menurut sistem ABC, karena juga menggunakandasar alokasi non unit yaitu tingkat fasilitas.

    Produk MenurutTradisional (Rp)

    Menurut sistemABC (Rp)

    Selisih(Rp)

    Perbedaan(%)

    A 2.721 3.348 (627) (23)B 2.041 3.047 (1.006) (49)C 3.625 3.751 (126) (3)D 2.721 3.472 (751) (28)E 4.539 3.641 898 20F 3.402 3.652 (250) (7)G 5.443 6.767 (1.324) (24)H 4.082 8.612 (4.530) (111)I 6.042 4.821 1.221 20J 4.539 4.153 384 9K 7.555 8.165 (610) (8)L 5.615 4.440 1.175 21M 9.068 14.620 (5.552) (61)N 6.804 5.152 1.655 24

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 21

    D. Kesimpulan dan Saran

    1. KesimpulanSetelah melakukan penelitian terhadap sistem akuntansi biaya dan data

    biaya yang ada pada PT.P.P dan kemudian dilanjutkan dengan mencoba merancangdan menghitung kembali alokasi biaya – biaya overhead pabrik denganmenggunakan sistem ABC, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

    a. PT. P.P menggunakan sistem akuntansi biaya tradisional didalammengalokasikan biaya overhead pabrik ke masing - masing produk denganmenggunakan dasar alokasi tingkat unit yang tunggal yang termasuk dalampemacu biaya berdasar unit yaitu jumlah unit yang diproduksi (dalam M3).Dimana terjadi distorsi atau timbul ketidak akuratan dalam pengalokasianbiaya overhead pabrik. Hal itu dikarenakan adanya dua faktor yang salingberkaitan yaitu proporsi biaya overhead pabrik yang tidak berdasarkan unitterhadap total biaya overhead pabrik dan tingkat diversitas produk.

    b. Apabila proporsi biaya overhead pabrik yang tidak berdasarkan unitmerupakan persentase yang besar dari total biaya overhead pabrik, distrosipada perhitungan biaya overhead pabrik akan besar dan jika sebaliknyamaka distorsi juga akan kecil. Bila dilihat dari tingkat diversitas produkyang terdiri dari diversitas volume produksi dan diversitas ukuran produkmaka penggunaan dasar alokasi tingkat unit yang tunggal dapatmengakibatkan satu produk mensubsidi produk lainnya, dimana produkyang bervolume tinggi dan berukuran besar mengkonsumsi biaya overheadpabrik lebih banyak dibandingkan produk yang rendah dan berukuran kecil.

    c. Oleh karena itu hal-hal tersebut di atas maka pengalokasian dan perhitunganbiaya overhead pabrik dengan sistem akuntansi biaya tradisional dapatmenyesatkan pihak perusahaan PT. P.P sehingga informasi biaya yangdihasilkan menjadi kurang akurat dan relevan dalam penentuan harga jual.

    d. Pengalokasian biaya overhead pabrik ke masing – masing produk dengansistem ABC adalah berfokus pada aktivitas yang dilakukan untukmemproduksi produk dimana aktivitas menjadi titik akumulasi biaya yangfundamental. Biaya dapat ditelusuri ke aktivitas dan aktivitas dapatditelusuri ke produk berdasarkan pemakaian aktivitas dari setiap produk.Dengan demikian pihak manajemen dapat mengetahui apa yang sebenarnyamenimbulkan biaya sehingga hal tersebut dapat memuat informasi biayamenjadi lebih akurat.

    e. Selain itu sistem ABC dapat memperbaiki akurasi perhitungan biayaoverhead pabrik dimana biaya overhead pabrik variabel dapat dilacak padaproduk secara individual dan dapat menggunakan pemacu biaya berdasarunit. Sedangkan biaya overhead pabrik tetap sebaiknya menggunakanpemacu biaya yang mempunyai hubungan yang logis dengan aktivitas yangberhubungan dalam kasus ini pemacu biaya yang digunakan adalahberhubungan dengan fasilitas yaitu banyaknya unit yang diproduksi padakapasitas normal. Sehingga tidak akan timbul pengalokasian biaya secara

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    Page 22 Inovasi Volume 2 ; Nopember 2009

    bias atau terdistorsi bila ditelusuri sampai kepada produknya dan tidak akantimbul sebagian produk mengalami undercsoted sedangkan biaya produklainnya mengalami overcosted.

    2. Saran – saranBerdasarkan kesimpulan yang telah diambil maka saran – saran yang dapat

    dikemukakan sebagai berikut :a. PT. P.P termasuk industri yang telah melaksanakan otomatisasi dengan

    menggunakan suatu sistem proses produksi yang telah terintegrasi mulaidari proses awal sampai menjadi produk jadi dan merupakan proses yangtak terputus karena antara mesin yang satu dengan mesin yang laindihubungkan dengan sistem ban berjalan. Karena hal ini semuamembutuhkan investasi yang tinggi dengan teknologi canggih maka untukbiaya overhead pabrik yang cukup tinggi tersebut perlulah digunakan suatusistem yang dapat mengalokasikan biaya overhead pabrik secara akuratyang dikenal dengan sistem ABC.

    b. Untuk menghadapi persaingan yang semakin tajam di pasar dalam negrimaupun di pasar internasional (karena PT. P.P juga menjual produknya kepasar internasional) maka PT. P.P sebaiknya menggunakan sistem ABCyang melakukan pengidentifikasian aktivitas yang dapat memberi petunjukbagi pihak manajemen perusahaan untuk melakukan perbaikan prosesproduksi dan mengurangi pemborosan biaya pada aktivitas yang tidakbernilai tambah pada proses produksi.

    c. Dan apabila memungkinkan untuk dilakukannya perhitungan aktivitas yangtidak bernilai tambah tersebut sehingga dengan demikian biaya yang terjadidapat dikurangi atau ditekan karena biaya merupakan faktor penting dalammenjamin kemenangan perusahaan dalam persaingan di pasar. Konsumenakan memilih produsen yang mampu menghasilkan produk yang memilikikualitas yang tinggi dengan harga yang murah.

  • STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    STIE Putra PerdanaIndonesia

    Jurnal Penelitian, Pengembangan Ilmu Manajemen dan AkuntansiSTIE Putra Perdana Indonesia

    Nopember 09

    InoVasi Volume 2; Nopember 2009 Page 23

    DAFTAR PUSTAKA

    Blocher, J. Edward. Kung H. Chen. Thomas W. Lin. Terjemahan: Dra. Susty Ambarini.Manajemen Biaya, Buku 1, Jakarta: BPFE, 2000.

    Cooper Robin Dan Robert S. Kaplan. The Design Of Cost Management System:Text, Cases And Reading. Englewood, Cliffs: Prenticle-Hall, Inc, 1992.

    Garrison, Ray H & Eric W Nooren. Terjemahan A Totok Budi Santoso, SE Ak.Akuntansi Manajerial, Edisi 1, Buku 1, Jakarta: Salemba Empat, 2001.

    Hongren, Charles T. & George Foster Dan Srikant Datar. Costing Accounting: AManagerial Emphasis, Edisi 11, Prentich-Hall International, Inc, 2006.

    Hansen Dan Mowen. Manajemen Biaya: Akuntansi Dan Pengendalian, Edisi 1,Buku 1 Jakarta, 2000.

    Mulyadi. Activity Based Cost System, Edisi 6, Cetakan Ke-1, Yogyakarta: UPP AMPYKPN, 2005.

    Mulyadi. Akuntansi Biaya, Edisi 5, Cetakan Ke-6, Yogyakarta STIE YayasanPahlawan Negara, 1999.

    Supriyono. Akuntansi Biaya Dan Akuntansi Manajemen Untuk Teknologi MajuDan Globalisasi, BPFE, Yoyakarta, 1997.

    Supriyono. Manajemen Biaya, Edisi 1, Cetakan Ke-1, Yogyakarta: BPFE, 1999.

    Simamora Henry. Akuntansi Manajemen, Cetakan 1, Jakarta: Salemba Empat, 1999.