of 159/159
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user PROGRAM PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) MENUJU SOLO SEHAT 2010 (Studi Evaluasi Kualitatif Tentang Implementasi Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Untuk Tatanan Rumah Tangga Warga Bantaran Kalianyar Menuju Solo Sehat 2010) Disusun Oleh : Nama : Ipho Adhita Wahanani NIM : D0306044 SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Sosiologi FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS … · Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat. Tujuan dari penelitian dalam studi ini adalah untuk mengetahui Impementasi Program Perilaku

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS … · Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat. Tujuan...

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    PROGRAM PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)

    MENUJU SOLO SEHAT 2010

    (Studi Evaluasi Kualitatif Tentang Implementasi Program Perilaku Hidup

    Bersih dan Sehat (PHBS) Untuk Tatanan Rumah Tangga Warga Bantaran

    Kalianyar Menuju Solo Sehat 2010)

    Disusun Oleh :

    Nama : Ipho Adhita Wahanani

    NIM : D0306044

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi

    Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

    Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

    Jurusan Sosiologi

    FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2010

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ii

    PERSETUJUAN

    Skripsi dengan judul PROGRAM PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT

    (PHBS)

    MENUJU SOLO SEHAT 2010

    (Studi Evaluasi Kualitatif Tentang Implementasi Program Perilaku Hidup Bersih

    dan Sehat (PHBS) Untuk Tatanan Rumah Tangga Warga Bantaran Kalianyar

    Menuju Solo Sehat 2010)

    Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing dan siap diuji oleh Dewan Penguji

    Skripsi

    Pada Jurusan Ilmu Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

    Universitas Sebelas Maret Surakarta

    Pembimbing Skripsi

    Siti Zunariyah, S.Sos, M.Si NIP. 197707192008012016

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    iii

    LEMBAR PENGESAHAN

    Telah Diterima dan Disahkan Oleh Panitia Penguji Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

    Universitas Sebelas Maret Surakarta

    Hari : Tanggal : Oktober 2010

    Panitia Penguji Skrisi :

    1. Prof. Dr. RB. Soemanto, MA ( )

    NIP. 19470914 197603 1 001 Ketua 2. Dra. Hj. Trisni Utami, M.Si ( )

    NIP.19631014 198803 2 001 Sekretaris 3. Siti Zunariyah, S.Sos, M.Si ( )

    NIP. 197707192008012016 Penguji

    Mengetahui

    Dekan FISIP UNS

    Drs. H. Supriyadi, SN., SU

    NIP. 19530128 198103 1001

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    iv

    MOTTO

    “Maka eratkanlah pegangan tanganmu pada tali Allah yang akan

    melindungimu karena sesungguhnya tali Allah itu pengaman yang

    dapat dipercaya manakala semua pengaman tidak dapat diandalkan”

    (Dr. ‘Aidin bin ‘Abdullah Al-Qarni : 145 : 2004)

    Kamu tidak akan disedihkan tanpa disiapkan kebahagiaan, juga

    tidak akan digalaukan tanpa dibangunkan kedamaian, dan kamu

    tidak mungkin direndahkan tanpa disusunkan derajat yang tinggi

    (Mario Teguh)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    v

    PERSEMBAHAN

    v Allah SWT

    v Ayah (Almarhum) dan Ibu

    tercinta

    v Adikku, Nenek, serta

    Keluarga Besar Atmadja

    v Mas Farid

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vi

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala

    berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan

    skripsi dengan judul PROGRAM PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT

    (PHBS) MENUJU SOLO SEHAT 2010 (Studi Evaluasi Kualitatif Tentang

    Implementasi Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Untuk Tatanan

    Rumah Tangga Warga Bantaran Kalianyar Menuju Solo Sehat 2010).

    Penulis sangat menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak mudah

    dan tidak terlepas dari campurtangan, bimbingan, arahan, bantuan, motivasi dan

    saran-saran dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis ingin mengucapkan

    terimakasih kepada :

    1. Drs. Supriyadi, SN. SU. selaku Dekan FISIP UNS.

    2. Siti Zunariyah, S.sos, M.Si. selaku dosen pembimbing yang dengan sabar

    telah memberikan bimbingannya berupa masukan-masukan dan arahan

    serta memberikan motivasi kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini

    hingga dapat terselesaikan.

    3. Dra. Suyatmi, M.S. selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan

    bimbingannya kepada penulis dalam menyelesaikan studi di FISIP UNS.

    4. Dra. Hj. Trisni Utami, M.Si. selaku Ketua Jurusan Sosiologi dan segenap

    Dosen Jurusan Sosiologi FISIP UNS yang telah memberikan arahan dan

    membekali ilmu pengetahuan selama penulis menempuh studi di FISIP

    UNS.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vii

    5. Ayah (Almarhum) dan Ibuku tercinta untuk doa restu dan kasih sayang

    yang telah diberikan. Adikku Lila, Kakakku Bogie (Almarhum), Nenek,

    Tante Mimit, Om Didik, Om Sus serta semua keluarga besar Atmadja

    yang telah memberikan semangat dan motivasinya untuk menyelesaikan

    skripsi ini.

    6. Muhammad Faried Darmawan. Terima kasih atas kasih sayang, dukungan,

    semangat dan motivasinya. Banyak hal yang kamu ajarkan padaku selama

    ini, semoga selalu mendampingiku.

    7. Seluruh Informan dalam penelitian yaitu warga bantaran Kalianyar,

    khususnya Kampung Sabrang Lor RT 05 RW 08 Kelurahan Mojosongo,

    Pihak dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta, serta Kader Posyandu

    Anggrek.

    8. Fita Itonk. Terima kasih atas kesetiaan, kebersamaan motivasi dan serta

    semangatnya. Persahabatan kita sangat berarti buatku.

    9. Teman-teman Kos MP2 beserta Alumni, Eka, Puji, Tia, Nana, Ervin, Fitri,

    Ajeng, Ira, Ema, Ijah, Akmal, Deni, Iyo. Terima kasih atas

    kebersamaannya.

    10. Teman-teman Sosiologi, terutama angkatan 2006 Vita, Fita, Indah, Indra,

    Tegar, Dito. Angkatan 2005 Sukro, Penyol, Pak Ndut, Bram dan semua

    teman-teman yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

    11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu demi satu,

    terimakasih atas bantuan dalam penyusunan skripsi ini.

    Dengan kerendahan hati, penulis menyadari bahwa penyusunan

    skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    viii

    mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Akhir kata, penulis kata,

    penulis berharap semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat dengan

    sebaik-baiknya bagi semua pihak.

    Surakarta, Oktober 2010

    Penulis,

    Ipho Adhita Wahanani

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ix

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i

    HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... ii

    HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii

    HALAMAN MOTTO ...................................................................................... iv

    HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... v

    KATA PENGANTAR ...................................................................................... vi

    DAFTAR ISI .................................................................................................... vii

    DAFTAR TABEL ........................................................................................... xi

    DAFTAR DIAGRAM ...................................................................................... xii

    ABSTRAK ......................................................................................................... xiii

    BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1

    A. Latar Belakang ............................................................................. 1

    B. Rumusan Masalah ........................................................................ 7

    C. Tujuan .......................................................................................... 7

    D. Manfaat ........................................................................................ 7

    E. Konsep dan Kerangka Pemikiran ................................................ 8

    F. Landasan Teori ............................................................................ 19

    G. Penelitian Terdahulu .................................................................... 32

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    x

    H. Definisi Konseptual ..................................................................... 37

    I. Metode Penelitian ........................................................................ 38

    1. Lokasi Penelitian ................................................................... 38

    2. Jenis Penelitian ...................................................................... 39

    3. Teknik Penganmbilan Sampel ............................................... 40

    4. Sumbe Data ............................................................................ 41

    5. Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 42

    6. Analisis Data .......................................................................... 44

    7. Validitas Data ........................................................................ 45

    BAB II DESKRIPSI LOKASI ...................................................................... 47

    A. Gambaran Umum ........................................................................ 47

    1. Kota Surakarta ....................................................................... 47

    2. Kecamatan Jebres .................................................................. 50

    3. Profil Kelurahan Mojosongo ................................................. 51

    a. Kondisi Geografis ............................................................. 51

    b. Kondisi Demografis ......................................................... 52

    c. Sarana Prasarana ............................................................... 55

    B. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Promosi Kesehatan Kota

    Surakarta ....................................................................................... 58

    C. Pengertian dan Sasaran ................................................................. 61

    D. Kondisi Bantaran Kalianyar ........................................................ 63

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xi

    BAB III PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA ........................................... 68

    A. Identitas Informan ........................................................................ 68

    B. Implementasi Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

    (PHBS) pada Tatanan Rumahtangga ........................................... 70

    1.Petunjuk Pelaksanaan Program PHBS ..................................... 72

    2.Tahap Pelaksanaan Program PHBS .......................................... 76

    C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku ............................... 103

    D. Evaluasi Implementasi Program Perilaku Hidup Bersih dan

    Sehat (PHBS) pada Tatanan Rumahtangga ................................. 126

    BAB IV PENUTUP ......................................................................................... 140

    A. Kesimpulan .................................................................................. 140

    B. Saran ............................................................................................ 143

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 2.1 Luas Wilayah Kota Surakarta .......................................................... 49

    Tabel 2.2 Komposisi Penduduk Dalam Kelompok Umur dan Jenis

    Kelamin ...................................................................................................... 53

    Tabel 2.3 Komposisi penduduk menurut Mata Pencaharian ........................... 54

    Tabel 2.5 Komposisi Penduduk Menurut Pendidikan ..................................... 55

    Tabel 2.6 Sarana Pendidikan ........................................................................... 56

    Tabel 2.7 Sarana Kesehatan ............................................................................ 57

    Tabel 3.1 Data PHBS Warga Bantaran Kalianyar RT 05 RW 08,

    Kampung Sabrang Lor, Kelurahan Mojosongo .............................. 81

    Tabel 3.2 Nilai Indeks Potensi Keluarga Sehat (IPKS) Warga Bantaran

    Kalianyar RT 05 RW 08, Kampung Sabrang Lor, Kelurahan

    Mojosongo ....................................................................................... 83

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xiii

    DAFTAR DIAGRAM

    Diagram 3.1 Pengelolaan Manajemen Program PHBS ..................................... 71

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xiv

    ABSTRAK Ipho Adhita Wahanani, Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Menuju Solo Sehat 2010, Skripsi, Surakarta : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Oktober, 2010. Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah telah mencanangkan visi Indonesia Sehat 2010. Visi Depkes RI tentang Indonesia Sehat 2010 merupakan pijakan awal bagi setiap kabupaten/kota untuk menjalankan visi tersebut di tiap wilayahnya masing-masing. Salah satunya adalah kota Surakarta dengan visinya yaitu Solo Sehat 2010. Salah satu upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Surakarta (DKK) menuju Solo Sehat 2010 adalah mulai diberlakukannya paradigma sehat yaitu perpindahan paradigma sakit yang selama ini dianut oleh masyarakat. Upaya untuk merubah paradigma masyarakat tersebut salah satunya dengan digalakkan pelaksanaan program Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat. Tujuan dari penelitian dalam studi ini adalah untuk mengetahui Impementasi Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) warga bantaran Kalianyar untuk mencapai Solo Sehat 2010 yang sesuai dengan indikator PHBS tatanan rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode evaluasi kualitatif. Dengan observasi yaitu pengamatan langsung yang dilakukan peneliti di lokasi, wawancara yang dilakukan dengan pedoman wawancara. Informan adalah warga bantaran Kalianyar, pihak dari Dinas Kesehatan serta Kader Posyandu Anggrek. Informan ditentukan berdasarkan purpossive sampling atau sampel bertujuan. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan model analisa interaktif. Model interaktif ini terdiri dari tiga komponen utama diantaranya adalah reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui trianggulasi sumber. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : Pertama, pelaksanaan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ini melibatkan petugas-petugas kesehatan yang meliputi petugas puskesmas, kelurahan, petugas posyandu serta ibu-ibu PKK sebagai pelaksana program. Kedua, pelaksana program tersebut mendapatkan pembekalan berupa pelatihan, seminar, lokakarya serta diskusi yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan yang selanjutnya mereka akan memberikan sosialisasi, pemahaman, keteladanan serta dukungan kepada masyarakat untuk mau menerapkan perilaku kesehatan yang sesuai dengan keenambelas indicator PHBS tatanan rumahtangga. Ketiga, program ini belum bisa dikatakan berhasil karena standar nilai keberhasilan dari Dinas Kesehatan adalah berdasarkan nilai IPKS yaitu Sehat Utama dan Paripurna sebanyak 65%

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xv

    ABSTRACT

    Ipho Adhita Wahanani, Program Behavior Clean and Healthy (PHBS) Towards Healthy Solo 2010, Thesis, Surakarta: Faculty of Social and Political Sciences, University of Surakarta Eleven March, October, 2010.

    Health is a fundamental human right and is one of the factors that determine the quality of human resources. Therefore, health should be maintained and improved quality. To achieve this goal, the government has launched the Healthy Indonesia 2010 vision. MOH vision of Healthy Indonesia 2010 was a first step for each district to carry out that vision in each area respectively. One is the city of Surakarta Solo with his vision of Healthy 2010. One of the efforts the City Health Office of Surakarta (DKK) towards Healthy Solo 2010 is the entry into force of the health paradigm is the paradigm shift that had been sick embraced by the community. Efforts to change the paradigm of community is one of them with the intensified implementation of the program Clean And Healthy Lifestyle. The aim of the research in this study is to determine Impementasi Program Behavior Clean and Healthy (PHBS) resident banks to reach Solo Kalianyar Healthy 2010 in accordance with indicators PHBS household order.

    This study used qualitative methods of evaluation. With the observation of direct observations conducted by researchers at the site, interviews conducted with the guidance interview. The informant is a citizen Kalianyar banks, the Departments of Health and Kader Posyandu Orchid. Informants are determined based on sampling or sample purpossive aims. Analysis of the data in this study using the model of interactive analysis. This interactive model consists of three main components such as data reduction, data and conclusion. The validity was tested through triangulation of data sources. Based on research results can be summarized as follows: First, the implementation of the program Clean and Healthy Behavior involve officers of health that includes health center staff, village, neighborhood health center staff and the PKK as an implementer of the program. Second, implementing the program get a debriefing form of training, seminars, workshops and discussions held by the Public Health Service which in turn they will provide socialization, understanding, modeling and support to people to want to apply health behavior according to the order of the sixteen indicators PHBS household. Third, this program can not be said to succeed because the standard value of the success of the Public Health Service is based on the value that is healthy IPKS President and the Plenary as much as 65%.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. LATAR BELAKANG

    Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor

    yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, kesehatan perlu

    dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk mewujudkan hal tersebut,

    pemerintah telah mencanangkan visi Indonesia Sehat 2010. Visi Indonesia Sehat

    2010 yang telah diterapkan Departemen Kesehatan merupakan visi yang ideal

    tentang gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yaitu kehidupan

    masyarakat Indonesia yang hidup dalam lingkungan yang sehat dan dengan

    perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan

    kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan

    yang setinggi-tingginya diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republic Indonesia

    (Depkes RI. 2006).

    Hal tersebut dipertegas lagi dengan tujuan pembangunan kesehatan

    menuju sehat 2010, yaitu meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan

    hidup sehat bagi setiap orang agar dapat terwujud derajat kesehatan yang optimal.

    Lingkungan sehat yang diharapkan adalah lingkungan yang kondusif bagi

    terwujudnya keadaan sehat. Adapun ciri khas lingkungan sehat, yaitu :

    1. Lingkungan yang terbebas dari polusi, tersedianya air bersih

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    2

    2. Sanitasi lingkungan yang memadai

    3. Pemukiman yang sehat

    4. Perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan

    5. Serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong

    menolong.

    Dari segi perilaku sehat, perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang

    diharapkan adalah perilaku yang bersifat produktif memelihara dan meningkatkan

    kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman

    penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.

    Pencapaian Visi Indonesia Sehat 2010 didukung dengan telah ditetapkannya

    Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Salah satu subsistem dari SKN adalah

    subsistem pemberdayaan masyarakat. Selain itu, kebijakan nasional promosi

    kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi

    Nasional serta program dari Pusat Promosi Kesehatan yaitu :”Perilaku Hidup

    Bersih dan Sehat 2010 (PHBS 2010)”.

    Melalui visi ini pembangunan kesehatan dilansaskan kepada paradigma

    sehat, yang ini pokoknya menekankan pentingnya kesehatan sebagai hak asasi

    manusia, kesehatan sebagai investasi bangsa dan kesehatan menjadi titik sentral

    pembangunan nasional. Paradigma ini yang akan mengarahkan pembangunan

    kesehatan untuk lebih mengutamakan upaya-upaya peningkatan kesehatan

    (promotif), pencegahan pemnyakit atau pencegahan kesehatan (preventif), dengan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    3

    tanpa mengessampingkan upaya-upaya penanggulangan atau penyembuhan

    penyakit (kuratif) serta pemulihan kesehatan (rehabilitatif).

    Promosi kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat sendiri

    bertujuan untuk memberdayakan setiap individu agar sadar, mau dan mampu

    mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan tujuan memelihara dan

    meningkatkan kualitas kesehatannya. Selain itu bermanfaat pula untuk mencegah

    terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan

    aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Sehingga bertambah juga tingkat

    pengetahuan seseorang tentang sehat-sakit. Sedangkan masalah yang dihadapi

    dalam pelaksanaan program perilaku hidup bersih dan sehat adalah kemitraan atau

    dukungan lintas sector yang rendah, kemampuan teknis petugas rendah, mutasi

    petugas terlatih, alokasi dana terbatas, perubahan struktur organisasi, indicator

    PHBS skala nasional.

    Sesuai dengan salah satu dari Grand Strategy Depkes RI yaitu bahwa

    pembangunan kesehatan harus lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif

    tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Visi Depkes RI tentang

    Indonesia Sehat 2010 merupakan pijakan awal bagi setiap kabupaten/kota untuk

    menjalankan visi tersebut di tiap wilayahnya masing-masing. Salah satunya

    adalah kota Surakarta dengan visinya yaitu Solo Sehat 2010. dalam mewujudkan

    visi tersebut telah ditetapkan misi pembangunan yaitu menggerakkan

    pembangunan nasional berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    4

    masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan pelayanan

    kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau serta memelihara dan

    meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta

    lingkungannya. Untuk melaksanakan misi pembangunan kesehatan diperlukan

    perilaku hidup bersih dan sehat dari masyarakat.

    Salah satu upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Surakarta (DKK)

    menuju Solo Sehat 2010 adalah mulai diberlakukannya paradigma sehat yaitu

    perpindahan paradigma sakit yang selama ini dianut oleh masyarakat. Dimana

    paradigma sakit selama ini masyarakat beranggapan bahwa apabila sakit,

    masyarakat miskin dapat berobat dengan mudah dan murah. Namun dalam

    paradigma sehat ini pemerintah ingin mengubah pola pikir masyarakat tersebut,

    agar tidak lagi berfikir untuk berobat, namun berfikir untuk berperilaku hidup

    sehat dan tidak sakit. Upaya untuk merubah paradigma masyarakat tersebut salah

    satunya dengan digalakkan pelaksanaan program Perilaku Hidup Bersih Dan

    Sehat. Upaya peningkatan perilaku sehat dirumah tangga belum menunjukkan

    hasil yang optimal. Hal ini antara lain dapat dilihat dari data hasil Survey Sosial

    Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2004 menunjukkan bahwa Indonesia

    sebesar 35% masyarakat merokok dalam rumah ketika bersama anggota keluarga

    yang lain. Perokok laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan (65% banding

    45%). Sebanyak 82% penduduk 15 tahun keatas kurang melakukan aktifitas fisik

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    5

    atau olahraga, dengan kategori (75%) kurang bergerak dan (9%) tidak terbiasa

    melakukan aktifitas fisik. Berdasarkan hasil pendataan untuk PHBS tatanan

    rumah tangga Provinsi Jawa Tengah 73% belum menjadi peserta dana sehat dan

    sebesar 68% keluarga belum bebas rokok (Dinas Kesehatan Jawa Tengah tahun

    2006).

    Berdasarkan data-data tersebut diatas, maka peneliti memfokuskan

    penelitian ini pada pelaksanaan program Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat

    khususnya dalam tatanan rumah tangga masyarakat yang tinggal disekitar

    bantaran Kalianyar untuk mengetahui perilakunya untuk mewujudkan hidup

    bersih dan sehat serta mewujudkan Visi Solo Sehat 2010. Rumah tangga atau

    keluarga merupakan langkah dan sarana awal bagi seseorang untuk menerapkan

    pola perilaku tersebut. Selama ini, bantaran selalu identik dengan kekumuhan dan

    padat penduduk. Pilihan masyarakat untuk bermukim di sekitar bantaran sungai

    tak terlepas dari air sebagai kebutuhan hidup manusia. Akan tetapi, terlepas dari

    kebutuhan tersebut, perilaku masyarakat didaerah bantaran itupun belum

    menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat, misalnya masyarakat masih

    membuang sampah disungai tepatnya dibelakang rumah mereka. Hal tersebut

    akan berakibat tercemarnya air sungai dan apabila dikonsumsi akan menimbulkan

    berbagai macam penyakit. Sehingga menjadikan penurunan kualitas kesehatan

    masyarakat yang tinggal disekitar bantaran sungai tersebut akibat penyalahgunaan

    fungsi bantaran sungai.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    6

    Berangkat dari argumentasi tersebut, dengan mengingat dari dampak

    perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, maka diperlukan berbagai upaya

    untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat, khususnya untuk

    masyarakat yang tinggal disekitar bantaran Kalianyar. Upaya tersebut salah

    satunya termasuk dalam pelaksanaan Program PHBS, yaitu dengan memberikan

    pelatihan atau penyuluhan kepada petugas kesehatan seperti petugas Puskesmas,

    Posyandu, PKK dan lain-lain. Penyuluhan kepada petugas kesehatan tersebut

    dilakukan oleh pembuat kebijakan yaitu Dinas Kesehatan Kota Surakarta. Setelah

    mendapatkan penyuluhan, selanjutnya, petugas kesehatan tersebut melakukan

    sosialisasi kepada masyarakat mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan

    kesehatan. Hal tersebut sesuai dengan upaya yang dilakukan oleh Dinas

    Kesehatan Kota Surakarta dengan mulai diberlakukannya perubahan paradigma

    sakit ke paradigma sehat. Dimana paradigma sakit, masyarakat berfikir bahwa

    masyarakat miskin apabila sakit dapat berobat dengan murah dan mudah. Namun

    dalam paradigma sehat ini pemerintah ingin mengubah pola pikir masyarakat

    tersebut, agar tidak lagi berfikir untuk berobat, namun berfikir untuk berperilaku

    hidup sehat dan tidak sakit. Agar selanjutnya dapat diketahui bagaimana

    pelaksanaan program tersebut agar visi Dinas Kesehatan Kota Surakarta Menuju

    Solo Sehat 2010 tersebut dapat tercapai.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    7

    B. PERUMUSAN MASALAH

    Sesuai dengan latar belakang diatas, maka batasan dalam penelitian ini

    adalah : Bagaimana Impementasi Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

    (PHBS) warga bantaran Kalianyar untuk mencapai Solo Sehat 2010 yang sesuai

    dengan indikator PHBS tatanan rumah tangga ?

    C. TUJUAN

    Sesuai perumusan masalah diatas, yang menjadi tujuan penelitian dalam

    studi ini adalah untuk mengetahui Impementasi Program Perilaku Hidup Bersih

    dan Sehat (PHBS) warga bantaran Kalianyar untuk mencapai Solo Sehat 2010

    yang sesuai dengan indikator PHBS tatanan rumah tangga.

    D. MANFAAT

    1. Manfaat teoritis

    Penelitian diharapkan mampu menjadi pijakan bagi penelitian

    berikutnya agar dapat dikaji lebih mendalam.

    2. Manfaat praktis

    Dapat memberikan gambaran yang obyektif dan nyata tentang

    Impementasi Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) warga

    bantaran Kalianyar untuk mencapai Solo Sehat 2010 yang sesuai dengan

    indikator PHBS tatanan rumah tangga

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    8

    E. KONSEP DAN KERANGKA PEMIKIRAN

    e.1 Konsep Yang Digunakan

    Penelitian Evaluasi merupakan aspek penting dari penelitian sosial

    terutama yang diarahkan pada evaluasi social action program yang disebut juga

    perubahan sosial yang direncanakan. Program-program yang direncanakan untuk

    memeperbaiki kehidupan manusia misalnya bidang pendidikan, bidang kesehatan

    dan lain-lain. Berdasarkan hal diatas maka dalam penelitian ini akan membahas

    serangkaian kajian yang berkaitan dengan Evaluasi Pelaksanaan Program Perilaku

    Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Tatanan Rumah Tangga Warga Bantaran

    Kalianyar Menuju Solo Sehat 2010

    Menurut Herbert H. Hyman penelitian evaluasi adalah prosedur penemuan

    fakta tentang aksi-aksi social yang direncanakan. Dari definisi tersebut

    didalamnya mencakup 2 substansi yaitu, aspek konseptual : yaitu adanya

    hubungan aktifitas dengan tujuan yang diinginkan, serta aspek metodologis yeitu

    bagaimana mengukur akibat atau dampak yang ditimbulkan oleh aktifitas

    program.

    Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi mengandung

    pengertian:

    1. sudut spesifikasi obyeknya berarti menilai hasil berbagai macam program

    yang dilaksanakan pemerintah berkaitan dengan problem yang dihadapi

    masyarakat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    9

    2. sudut teknik penilaian merupakan cara untuk mengumpulkan data yang

    diperlukan untuk menilai hasil dari program pemerintah tadi.

    3. sudut analisisnya akan dapat menunjukkan hasil akhir (kesimpulan) dari

    kegiatan menilai program pemerintah tersebut, apakh efektif atau tidak,

    mempunyai dampak positif lebih daripada negatifnya atau sebaliknya.

    M. T. Feurstein (1986 : 8) menyatakan bahwa hasil evaluasi berarti

    membantu mereka yang terlibat dalam banyak jenis program pengembangan

    untuk menafsir nilai pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Menurut Feurstein

    ada 10 alasan pokok melakukan evaluasi yaitu:

    1. Keberhasilan : untuk mengetahui apa yang telah dicapai

    2. mengukur kemajuan : apakah sesuai dengan sasaran program

    3. Memperbaiki monitoring : agar manajemennya lebih baik

    4. Mengetahui apakah sudah efektif : perubahanm apakah yang

    ditimbulkan oleh program

    5. Identifikasi kekuatan dan kelemahan : untuk memperkuat program

    6. Keuntungan biaya : apakah biayanya masuk akal

    7. Mengumpulkan informasi : untuk merencanakan dan mengelola

    aktifitas program secara lebih baik.

    8. Berbagai pengalaman : mencegah orang lain tidak melakukab

    kesalahan yang sama untuk mendorong mereka agar menggunakan

    metode yang sama.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    10

    9. Meningkatkan efektivitas ; agar lebih memberi dampak

    10. Memungkinkan perencanaan yang lebih baik : agar sesuai dengan

    kebutuhan orang banyak khususnya masyarakat tingkat bawah.

    M. T. Feurstein memberikan sembilan indikator yang digunakan untuk

    menilai keserhasilan suatu program yaitu :

    1. Availabilitas : indikator yang menunjukkan apakah sesuatu itu ada dan

    tersedia

    2. Relevansi : indikator yang menunjukkan seberapa jauh sesuatu hal dapat

    dikatakan relevan atau tepat

    3. Accesabilitas ; indikator yang menunjukkan apakah sesuatu itu benar-

    benar dapat terjangkau oleh mereka yang memerlukan

    4. Kebergunaan : indikator yang menunjukkan sejauh mana sesuatu yang

    telah disediakan dipakai untuk tujuan semula

    5. Ketercakupan : indikator yang menunjukkan apakah proporsi mereka yang

    memerlukan sesuatu itu dapat menerimanya

    6. Kualitas : indikator yang menunjukkan kualitas atau standar tertentu

    7. Usaha : indikator yang menunjukkan apa dan berapa banyak yang

    diinvestasikan untuk mencapai sasaran

    8. Efisiensi : indikator yang menunjukkan apakah sumber daya dan aktifitas

    telah dimanfaatkan dengan cara yang terbaik

    9. Hasil : Merupakan hasil akhir dari pelaksanaan program

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    11

    Pada intinya evaluasi merupakan proses penilaian untuk mengukur

    performance dan hasil yang diperoleh dengan tujuan atau target yang telah

    ditentukan sebelumnya, yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan

    pertimbangan dalam pelaksanaan program dimasa mendatang.

    Evaluasi terhadap pelaksanaan suatu program dilakukan untuk mengetahui

    proses kerja dari pelaksanaan program, apakah program yang dilaksanakan sesuai

    dengan petunjuk pelaksanaan program yang telah ditetapkan, dan untuk

    mengetahui sejauh mana program yang telah dilaksanakan berhasil memberikan

    dampak atau manfaat bagi kelompok sasaran dari program tersebut.

    e.2 Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

    e.2.1 Pengertian

    PHBS adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau

    menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat

    dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan

    pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan sikap, perilaku melalui pendekatan

    pimpinan, bina suasana dan pemberdayaan masyarakat agar mengenali dan

    mengatasi masalah sendiri dalam tatanan rumah tangga, institusi pendidikan dan

    tempat ibadah, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka

    menjaga, memelihara dan meningkatkan. PHBS merupakan wujud keberadaan

    masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih

    dan sehat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    12

    e.2.2 Tujuan

    Tujuan dari pelaksanaaan program PHBS adalah untuk meningkatkan

    pengetahuan, sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat baik tatanan rumah

    tangga, institusi pendidikan dan tempat ibadah.

    e.2.3 Tatanan

    Program PHBS dapat dilakukan berbagai tatanan, seperti tatanan rumah

    tangga, tempat ibadah, instansi pendidikan, warung makan, pasar dan sebagainya.

    Khusus untuk Provinsi Jawa Tengah memfokuskan pada 3 jenis tatanan yaitu

    tatanan rumah tangga, tatanan instansi pendidikan dan tatanan tempat ibadah.

    Pemilihan pada tiga jenis tatanan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa

    ketiga tatanan tersebut mempunyai daya ungkit yang besar dalam pencapaian

    derajat kesehatan

    1. Tatanan Rumah Tangga

    Rumah tangga adalah wahana atau wadah dimana orang tua (bapak

    dan ibu) dan anak serta anggota keluarga yang lain dalam melaksanakan

    kehidupan sehari-hari. Bertolak dari pengertian di atas sehingga PHBS

    ditatanan rumah tangga adalah suatu upaya yang dilaksanakan untuk

    memberdayakan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam

    berperilaku hidup bersih dan sehat.

    2. Institusi Pendidikan

    Institusi pendidikan adalah tempat diselenggarakannya proses belajar

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    13

    mengajar secara formal, dimana terjadi transformasi ilmu pengetahuan

    dari para guru atau pengajar kepada anak didiknya. PHBS di institusi

    pendidikan berarti suatu upaya yang dilakukan untuk memberdayakan dan

    meningkatkan kemampuan pengajar maupun anak didiknya dalam

    berperilaku hidup bersih dan sehat. Institusi pendidikan yang dimaksud

    adalah tingkat SD atau MI, SLTP atau MTS-SLTA atau MA.

    3. Tempat Ibadah

    Tempat ibadah adalah sarana yang digunakan untuk kegiatan

    keagamaan atau ibadah bagi masyarakat sesuai dengan agama yang dianut.

    PHBS ditempat ibadah adalah merupakan suatu upaya yang dilakukan

    untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan pengurus maupun

    pengunjung dalam berperilaku hidup bersih dan sehat.

    e.3 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga

    e.3.1 Pengertian

    Pada bagian ini akan dibahas mengenai pengertian rumah dan PHBS

    tatanan rumah tangga, untuk penjelasan lebih rinci sebagai berikut:

    e.3.1.1 Rumah

    1) Keputusan Menteri Kesehatan RI. NO.829/MENKES/SK/VII/1999 rumah

    adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan

    sarana pembinaan keluarga dalam.

    2) UU NO.4 Tahun 1992 rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    14

    tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga.

    e.3.1.2 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga

    PHBS tatanan rumah tangga adalah upaya pemberdayaan dan peningkatan

    kemampuan untuk berperilaku bersih dan sehat

    e.3.2 Tujuan

    Adapun tujuan pelaksanaan program PHBS di tatanan rumah tangga

    adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku anggota keluarga di

    tatanan rumah tangga terhadap program kesehatan ibu dan anak, gizi, kesehatan

    lingkungan, gaya hidup sehat dan jaminan pelayanan kesehatan masyarakat.

    Menjelaskan tujuan khusus dari program PHBS adalah meningkatkan

    pengetahuan dan kemauan anggota rumah tangga untuk melakukan PHBS dan

    agar anggota rumah tangga berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat

    e.3.3 Manfaat

    Manfaat dilaksanakanya program PHBS ini adalah:

    1. Setiap anggota rumah tangga meningkatkan kesehatannya dan tidak

    mudah sakit.

    2. Rumah tangga sehat dapat meningkatkan produktifitas kerja anggota

    rumah tangga.

    3. Dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga maka biaya

    kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi lain seperti pendidikan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    15

    dan usaha lain.

    4. Guna meningkatkan kesejahteraan anggota rumah tangga.

    5. Sebagai salah satu indikator keberhasilan pemerintah kabupaten atau kota

    dalam bidang pembangunan kesehatan.

    6. Dapat menjadi percontohan rumah tangga sehat bagi daerah lain.

    e.4 Indikator PHBS

    e.4.1 Indikator

    Indikator merupakan suatu alat ukur untuk menunjukkan suatu keadaan

    atau kecenderungan keadaan dari suatu hal yang menjadi pokok perhatian

    Persyaratan indikator yaitu:

    1. Sahih dapat mengukur sesuatu yang sebenarnya diukur oleh indikator

    tersebut,

    2. Obyektif harus memberikan hasil walaupun dipakai orang yang berbeda

    pada waktu yang berbeda,

    3. Sensitif dapat mengukur perubahan sekecil apapun,

    4. Spesifik dapat mengukur perubahan situasi yang dimaksud

    e.4.2 Indikator PHBS

    Mengacu pada pengertian pada perilaku sehat indikator ditetapkan pada

    area atau wilayah yaitu:

    a. Indikator Nasional

    Indikator nasional terdiri dari 3 indikator yaitu:

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    16

    1. presentase penduduk tidak merokok

    2. persentase penduduk yang memakan sayuran dan buah-buahan

    3. persentase penduduk melakukan aktifitas olahraga

    b. Indikator Lokal Spesifik

    Indikator lokal spesifik yaitu indikator nasional ditambah indikator local

    spesifik masing-masing daerah sesuai dengan situasi dan kondisi daerah. Ada 16

    indikator yang dapat digunakan untuk perilaku sehat adalah sebagai berikut:

    1. Ibu hamil memeriksakan kehamilan.

    2. Ibu melahirkan ditolong tenaga kesehatan.

    3. Pasangan usia subur memakai alat kontrasepsi (KB).

    4. Bayi ditimbang.

    5. Penduduk sarapan pagi sebelum melaksanakan aktivitas.

    6. Bayi diimunisasi lengkap.

    7. Penduduk minum air bersih yang dimasak.

    8. Penduduk menggunakan jamban sehat.

    9. Penduduk mencuci tangan pakai sabun.

    10. Penduduk menggosok gigi sebelum tidur.

    11. Penduduk tidak menggunakan NAPZA.

    12. Penduduk mempunyai askes atau tabungan atau emas atau uang.

    13. Penduduk wanita memeriksakan kesehatan secara berkala dengan

    SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    17

    14. Penduduk memeriksakan kesehatan secara berkala untuk mengukur

    hipertensi.

    15. Penduduk wanita memeriksakan kesehatan secara berkala dengan

    Papsmear.

    16. Perilaku seksual dan indikator lain yang diperlukan sesuai prioritas

    masalah kesehatan yang ada di daerah.

    e.4.3 Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga

    Indikator PHBS tatanan rumah tangga yaitu suatu alat ukur atau suatu

    petunjuk yang membatasi fokus perhatian untuk menilai keadaan atau

    permasalahan kesehatan rumah tangga. Indikator PHBS tatanan rumah tangga

    diarahkan pada aspek program prioritas yaitu: kesehatan ibu dan anak, gizi,

    kesehatan lingkungan, gaya hidup dan upaya kesehatan masyarakat. Indikator

    lokal Jawa Tengah menggunakan 10 indikator nasional ditambah dengan 6

    indikator lokal menurut yaitu :

    1. Persalinan dengan tenaga kesehatan.

    2. Pemberian ASI eksklusif pada bayi.

    3. Penimbangan balita.

    4. Mengkonsumsi beraneka ragam makanan dalam jumlah yang

    seimbang.

    5. Memanfaatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari.

    6. Menggunakan jamban sehat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    18

    7. Membuang sampah pada tempatnya.

    8. Setiap anggota rumah tangga menempati ruangan rumah minimal 9

    meter persegi.

    9. Lantai rumah kedap air.

    10. Anggota rumah tangga berumur 10 tahuan keatas melakukan

    olahraga atau aktifitas fisik 30 menit per hari, dilakukan 3-5 kali per

    minggu.

    11. Anggota keluarga tidak merokok.

    12. Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar.

    13. Menggosok gigi minimal 2 kali sehari.

    14. Tidak minum Miras dan tidak menyalahgunakan narkoba.

    15. Menjadi peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).

    16. Melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal

    seminggu sekali.

    Berdasarkan indikator tersebut dapat ditentukan klasifikasi PHBS yang

    ditunjukkan melalui nilai Indeks Potensi Keluarga Sehat (IPKS) yaitu:

    1. Sehat pratama (warna merah) : indikator rumah tangga yang

    memenuhi antara 0-5.

    2. Sehat madya (warna kuning) : indikator rumah tangga yang

    memenuhi antara 6- 10.

    3. Sehat utama (warna hijau) : indikator rumah tangga yang memenuhi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    19

    antara 11- 15.

    4. Sehat paripurna (warna biru) : apabila indikator rumah tangga

    mempunyai nilai 16.

    F. LANDASAN TEORI

    Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sosiologis dimana dalam

    sosiologi yang menjadi obyek utamanya adalah masyarakat, dengan melihat dari

    sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia

    dalam masyarakat. Dalam penelitian ini digunakan paradigma yang berlaku dalam

    ilmu sosiologi. Paradigma merupakan hal yang sangat penting dalam ilmu

    pngetahuan karena paradigma merupakan kesatuan konsensus yang terluas.

    Secara lebih jelas, George Ritzer merumuskan paradigma sebagai berikut,

    “Pandangan dasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang

    mestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (dicipline).

    Selanjutnya Ritzer membagi paradigma menjadi 3 yaitu paradigma fakta

    sosial, paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial. Sedangkan

    paradigma yang dipakai dalam penelitian ini adalah paradigma perilaku sosial.

    Ada dua teori yang termasuk ke dalam paradigma perilaku sosial yaitu :

    1) Behaviour Sociology;

    2) Teori Exchange.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    20

    Berkaitan dengan ini, perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat bantaran

    sungai adalah bagian dari behavioral sociology.

    Paradigma perilaku Sosial memusatkan perhatiannya kepada antar

    hubungan antara individu dan lingkungannya yang terdiri atas bermacam-macam

    obyek sosial dan non sosial. Pokok persoalannya adalah tingkah laku individu

    yang berlangsung dalam hubungannnya dengan faktor lingkungan yang

    menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan yang

    menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.

    Teori ini dikembangkan oleh Burrhus Frederic Skinner yang lahir 20

    Maret 1904, di kota kecil Pennsylvania Susquehanna. Skinner mengadakan

    pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Teori ini biasa juga

    disebut Teori belajar dalam Ilmu Psikologi. Konsep dasar dari teori ini adalah

    penguat / ganjaran (reward). Teori ini lebih menitikberatkan pada tingkah laku

    aktor dan lingkungan.

    Bagi Skinner, respon muncul karena adanya penguatan. Ketika dia

    mengeluarkan respon tertentu pada kondisi tertentu, maka ketika ada penguatan

    atas hal itu, dia akan cenderung mengulangi respon tersebut hingga akhirnya dia

    berespon pada situasi yang lebih luas. Maksudnya adalah pengetahuan yang

    terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.

    Manusia pada dasaranya tidak mencari keuntungan maksimal, tapi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    21

    senantiasa ingin mendapatkan keuntungan dari interaksi tersebut. Manusia tidak

    bertindak secara rasional sepenuhnya, tapi senantiasa berfikir untung rugi pada

    saat berinteraksi walau manusia tidak memiliki info yang cukup untuk

    mengembangkan alternatif, tapi dapat menggunakan info yang terbatas tersebut

    untuk mengembangkan alternatif guna memperhitungkan untung rugi.

    Manusia terbatas, tapi dapat berkompetisi untuk mendapat keuntungan.

    Walau manusia senantiasa berusaha mendapat keuntungan dari hasil interaksi,

    tapi mereka dibatasi oleh sumber-sumber yang tersedia. Manusia berusaha

    memperoleh wujud materi tapi mereka melibatkan dan menghasilkan sesuatu

    yang non materi (benci, suka, dll).

    Ada 5 bentuk Perilaku Sosial yaitu :

    a. Proposisi keberhasilan

    Jika tindakannya sering mendapatkan ganjaran, maka semakin sering

    dilakukan

    b. Proposisi stimulus

    Jika stimulus merupakan kondisi dimana seseorang mendapatkan

    ganjaran, maka semakin besar kemungkinan untuk mengulangi seperti

    pada waktu lalu

    c. Proposisi nilai

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    22

    Semakin bermanfaat maka semakin sering kemungkinan tindakan tersebut

    diulangi

    d. Proposisi kejenuhan kerugian

    Semakin sering seseorang mendapatkan ganjaran yang isitimewa, maka

    bagian yang lebih mendalam dari ganjaran tersebut mejadi kurang

    bermakna bagi orang lain

    e. Proposisi persetujuan dan perlawanan

    Jika tidak mendapat ganjaran atau hukuman yang tidak diharapkan, ia

    akan marah dan semakin besar kemungkinan orang tersebut akan

    melakukan perlawanan dan hasil tingkah lakunya makin berharga bagi

    dirinya. Jika dapat ganjaran atau lebih, maka akan menunjukan tingkah

    laku persetujuan. Dan hasil tingkah lakunya semakin berharga baginya

    f.1 Asumsi Dasar

    1. Behavior is lawful (perilaku memiliki hukum tertentu)

    2. Behavior can be predicted (perilaku dapat diramalkan)

    3. Behavior can be controlled (perilaku dapat dikontrol)

    Berdasarkan asumsi dasar tersebut menurut Skinner unsur yang terpenting

    dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman

    (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    23

    probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman

    (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu

    perilaku. Penguatan boleh jadi kompleks. Skinner membagi penguatan ini

    menjadi dua bagian:

    1. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi

    respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung

    (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah

    (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala

    untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau

    penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).

    2. Penguatan negatif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi

    respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang

    merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif

    antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas

    tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening

    berkerut, muka kecewa dll).

    Berdasarkan Skiner pembentukan perilaku pada masyarakat dibedakan

    menjadi 2 respon yaitu:

    1. Respondent respons yaitu respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-

    rangsangan tertentu, perangsangan yang semacam ini disebut eliciting stimuli,

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    24

    karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap.

    2. Operant respons adalah respon yang timbul dan berkembang diikuti oleh

    perangsang tertentu. Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli, atau

    reirforcer, karena perangsangan-perangsangan tersebut memperkuat perilaku

    yang telah dilakukan.

    Hal ini didasari pada asumsi-asumsi berikut:

    1. Belajar itu adalah tingkah laku.

    2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan

    adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi

    lingkungan.

    3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya

    dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya

    di definisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi

    yang di kontrol secara seksama.

    4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya

    sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya

    tingkah laku.

    Menurut Skinner, bahwa proses pembentukan dan perubahan perilaku

    masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam individu

    dan dari luar individu yaitu:

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    25

    1) Faktor dari dalam individu, berupa karakteristik orang yang bersangkutan,

    yang bersifat bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional,

    jenis kelamin dan sebagainya.

    2) Faktor dari luar individu, berupa lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial,

    budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering

    merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang.

    Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa faktor yang mempengaruhi

    perilaku sehubungan dengan kesehatan menurut Eunike R. Rustiana (2005:75)

    antara lain faktor–faktor umum dalam perilaku kesehatan, beberapa faktor umum

    yang memepengaruhi perilaku kesehatan seseorang yaitu:

    1. Keturunan,

    2. Belajar dengan operan conditing dengan tipe seperti penguatan,

    pemadaman dan hukuman,

    3. Belajar dengan meniru,

    4. Status emosional seseorang,

    5. gejala kesakitan yang dirasakan seseorang,

    6. Kognitif.

    Dalam berbicara mengenai perilaku sosial, Skinner tidak membahas

    mengenai personality traits atau karakteristik yang dimiliki seseorang. Bagi

    Skinner, deskripsi kepribadian direduksi dalam kelompok atau respon spesifik

    yang cenderung diasosiasikan dalam situasi tertentu.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    26

    f.2 Perilaku Kesehatan

    Dari batasan ini perilaku kesehatan dapat diklasifikan menjadi 3

    kelompok:

    1. Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (health maintenance)

    Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau

    menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.

    Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek :

    a. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit,

    serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.

    b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sakit.

    c. Perilaku gizi (makanan dan minuman).

    2. Perilaku Pencarian dan Penggunaan Sistem atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan

    Adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita

    dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri

    (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.

    3. Perilaku Kesehatan Lingkungan

    Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik

    maupun sosial budaya dan bagaimana, sehingga lingkungan tersebut tidak

    mempengaruhi kesehatannya. Seorang ahli lain yaitu Becker membuat klasifikasi

    lain tentang perilaku kesehatan ini.

    a. Perilaku hidup sehat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    27

    Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan

    seseorang untuk mempertahankan dan meningkatikan kesehatannya. Perilaku ini

    mencakup antar lain :

    1. Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). menu seimbang di

    sini dalam arti kualitas (mengandung zat-zat gizi yang diperlukan

    tubuh), dan kuantitas dalam arti jumlahnya cukup untuk memenuhi

    kebutuhan tubuh (tidak kurang, tetapi juga tidak lebih). Secara kualitas

    mungkin di Indonesia dikenal dengan ungkapan empat sehat lima

    sempurna.

    2. Olahraga teratur, yang juga mencakup kualitas (gerakan), dan

    kuantitas dalam arti frekuensi dan waktu yang digunakan untuk

    olahraga. dengan sendirinya kedua aspek ini akan tergantung dari usia,

    dan status sesehatan yang bersangkutan.

    3. Tidak merokok. merokok adalah kebiasaan jelek yang mengakibatkan

    berbagai macam penyakit. Ironisnya kebiasaan merokok ini,

    khususnya di Indonesia seolah-olah sudah membudaya.

    4. Tidak minum-minuman keras dan narkoba. Kebiasaan minuman keras

    dan mengkonsumsi narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya

    lainnya) juga cenderung meningkat.

    5. Istirahat cukup. dengan meningkatnya kebutuhan hidup akibat tuntutan

    untuk penyesuaian lingkungan modern, mengharuskan orang untuk

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    28

    bekerja keras dan berlebihan, sehingga kurang waktu istirahat. hal ini

    dapat juga membahayakan kesehatan.

    6. Mengendalikan stres. Stres akan terjadi pada siapa saja, dan akibatnya

    bermacam-macam bagi kesehatan. Lebih-lebih sebagai akibat dari

    tuntutan hidup yang keras seperti diuraikan di atas. Kecenderungan

    stres akan meningkat pada setiap orang. stres tidak dapat kita hindari,

    maka yang penting agar stres tidak menyebabkan gangguan kesehatan,

    kita harus dapat mengendalikan atau mengelola stres dengan kegiatan-

    kegiatan yang positif.

    7. Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya :

    tidak berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks, penyesuaian diri

    kita dengan lingkungan, dan sebagainya

    Kemampuan berfikir seseorang adalah sebagai penentu dalam menentukan

    pilihan. Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan

    dan perubahan perilaku, karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari

    pendidikan kesehatan. Perubahan perilaku kesehatan merupakan tujuan

    pendidikan kesehatan. Berdasarkan teori dari Lawrence Green perilaku

    dipengaruhi 4 faktor yaitu:

    b. Faktor Pemudah, factor pemicu terhadap perilaku yang menjadi dasar

    atau motivasi bagi perilaku. Misalnya pengetahuan, sikap, keyakinan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    29

    dan nilai yang dimiliki oleh seseorang. Contoh seseorang tidak merokok

    karena mereka yakin bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan.

    c. Faktor Pemungkin, factor pemicu terhadap perilaku yang

    memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. Termasuk

    didalamnya ketrampilan petugas kesehatan, ketersediaan sumber daya

    dan komitmen masyarakat atau pemerintah terhadap kesehatan.

    d. Faktor Penguat, factor yang menentukan apakah tindakan kesehatan

    memperoleh dukungan atau tidak. Factor ini terwujud dalam bentuk

    sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lainnya yang

    merupakan kelompok yang dipercaya oleh masyarakat

    e. Faktor Lingkungan, adalah segala factor baik fisik, biologis maupun

    social budaya yang langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi

    derajat kesehatan

    Dr. M.a. Suleiman dalam jurnalnya yang berjudul “The Influence Of

    Environmental Factors On The Adolescent’s” Health menjelaskan tentang :

    To understand how people participate in health maintenance, comprehensive information is needed on how people think and act in relation to health, including details of their beliefs, attitudes, knowledge and awareness of health matters. It has been suggested that the individual strives to maintain a healthy balance and an equilibrium achievement by reducing health risks and improving healthy resources, including health potential. Health is influenced by a variety of external factors based on the complex interactions between the individual and his immediate environment. Numerous among these are social, psychological and environmental factors.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    30

    The social environment role in the adolescents’ capacity to maintain and promote their health and to prevent diseases.

    (Untuk memahami bagaimana orang-orang berpartisipasi dalam

    pemeliharaan kesehatan, diperlukan informasi yang komprehensif tentang

    bagaimana orang berpikir dan bertindak dalam hubungannya dengan kesehatan,

    termasuk rincian dari keyakinan mereka, sikap, pengetahuan dan kesadaran akan

    masalah-masalah kesehatan. Telah diusulkan bahwa individu berusaha untuk

    menjaga keseimbangan yang sehat dan pencapaian ekuilibrium dengan

    mengurangi risiko kesehatan dan meningkatkan sumber daya yang sehat,

    termasuk kesehatan potensial. Kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor

    eksternal yang didasarkan pada interaksi yang kompleks antara individu dan

    lingkungan. Banyak di antaranya adalah sosial, psikologis dan faktor lingkungan.

    Lingkungan sosial memainkan peran penentu untuk mempertahankan dan

    meningkatkan kesehatan mereka dan untuk mencegah penyakit)

    f.3 Perilaku Sakit

    Mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya

    terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan

    penyakit dan sebagainya, dsb. Perilaku ini mencakup:

    a. Tindakan untuk memperoleh kesembuhan

    b. Mengenal/mengetahui fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan

    penyakit yang layak.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    31

    c. Mengetahui hak (misalnya: hak memperoleh perawatan, dan pelayanan

    kesehatan).

    Berdasarkan teori-teori diatas, maka penelitian ini memfokuskan pada

    dampak atas pelaksanaan program perilaku masyarakat yang hidup bersih dan

    sehat agar dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perilaku

    masyarakat yang diharapkan di kota Surakarta, khususnya masyarakat yang

    tinggal di bantaran Sungai Kalianyar adalah perilaku-perilaku yang berkaitan

    dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatikan

    kesehatannya sesuai dengan upaya preventif yang ditekankan pemerintah kota

    surakarta tanpa mengabaikan usaha kuratif dan rehabilitatif. Hal ini dilakukan

    mengingat masyarakat yang tinggal di Bantaran Sungai identik dengan kumuh

    dan mayoritas penduduknya berasal dari masyarakat kalangan bawah dimana

    untuk menjangkau layanan kesehatan, sebagian masyarakat masih mengeluh

    dengan mahalnya biaya pengobatan saat ini, oleh karena itu untuk mencegah

    terjadinya penyakit dan angka KLB (Kejadian Luar Biasa), masyarakat harus

    lebih menekankan kepada usaha preventive atau upaya pencegahan. Perilaku

    masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Kalianyar akan dilihat berdasarkan

    indikator-indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah

    tangga dimana indikator tersebut akan digunakan untuk mengukur derajat

    kesehatan untuk tercapainya Visi Dinas Kesehatan Kota Surakarta yaitu Menuju

    Solo Sehat 2010.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    32

    G. PENELITIAN TERDAHULU

    Untuk pertimbangan dalam penelitian ini, maka akan di jelaskan beberapa

    penelitian terdahulu tentang perilaku kesehatan. Salah satunya adalah penelitian

    tentang Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Dengan Terapan

    Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada Tatanan Rumah Tangga Desa Dempet

    Kabupaten Demak. Penelitian ini dilakukan oleh Siti Nurhamidah pada tahun

    2007. Penelitian ini merupakan explanatory survey dan bertujuan untuk

    mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu rumah tangga dengan terapan

    perilaku hidup bersih dan sehat pada tatanan rumah tangga di Desa Dempet,

    Kabupaten Demak. Hasil dari penelitian ini menggambarkan sebagian besar

    responden mempunyai pengetahuan sedang mengenai PHBS, namun dalam

    terapan PHBS, responden masih berada ditingkat Sehat pratama (warna merah) :

    indikator rumah tangga yang memenuhi antara 0-5. Hasil dari penelitian

    menunjukkan 37,7% responden dengan tingkat pengetahuan rendah dengan

    terapan PHBS diringkat pratama. Selanjutnya 45,3% responden dengan tingkat

    pengetahuan sedang dengan terapan PHBS ditingkat pratama. Responden dengan

    tingkat pengetahuan tinggi dengan terapan PHBS ditingkat pratama dalam persen

    sebesar 17,0%. Responden dengan tingkat pengetahuan rendah dengan terapan

    PHBS ditingkat madya dalam persen sebesar 31,6%. Selanjutnya menunjukkan

    52,6% responden dengan tingkat madya. Responden dengan pengetahuan tinggi

    dengan terapan PHBS ditingkat madya dalam persen sebesar 15,8%. Analisa dari

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    33

    hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara

    pengetahuan ibu rumah tangga dengan terapan PHBS tatanan rumah tangga di

    Desa Dempet, Kabupaten Demak. Hal tersebut menunjukkan bahwa sedikit ibu

    rumah tangga yang mempunyai pengetahuan tinggi namun tidak diterapkan pada

    perilaku kesehatan sehari-hari. Pernyataan tersebut didukung dengan indikator

    klasifikasi PHBS ditunjukkan melalui nilai indeks potensi keluarga sehat (IPKS)

    yaitu sehat pratama dan sehat madya.

    Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Imanda Amalia pada tahun 2009

    tentang hubungan antara pendidikan, pendapatan dan perilaku hidup bersih dan

    sehat pada pedagang hidangan istimewa kampong (HIK) di pasar Kliwon dan

    Jebres Kota Surakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik

    dan bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pendidikan, pendapatan dan

    perilaku hidup bersih dan sehat pada pedagang hidangan istimewa kampong

    (HIK) di pasar Kliwon dan Jebres Kota Surakarta. Hasil dari penelitian ini adalah

    proporsi PHBS berdasarkan tingkat pendidikan yaitu pedagang HIK

    berpendidikan SLTP/SMA memiliki PHBS lebih baik daripada pedagang HIK

    berpendidikan SD/tak sekolah. Proporsi tersebut menunjukkan adanya hubungan

    sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS. Tingkat pendidikan

    pedagang HIK sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap menuju perilaku

    hidup bersih dan sehat. Tingkat pendidikan pedagang HIK yang rendah akan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    34

    mempengaruhi pedagang HIK dalam memeperoleh dan mencerna informasi untuk

    kemudian menentukan pilihan dalam menerapkan hidup sehat. Sedangkan tingkat

    pendapatan pedagang HIK juga sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap

    menuju perilaku hidup bersih dan sehat. Pedagang HIK yang belum dapat

    mencukupi kebutuhan sehari-hari juga mengakibatkan pedagang HIK lebih

    berorientasi pada pemenuhan kebutuhan hidup daripada pengobatan penyakit dan

    pencegahan penyakit berupa PHBS baik dirumah maupun ditempat kerja.

    Dalam usaha untuk mencapai Solo Sehat 2010, maka perlu juga dilihat

    penelitian Takehito Takano dan Keiko Nakamura dalam jurnalnya yang berjudul

    “Participatory research to enhance vision sharing for Healthy Town initiatives in

    Japan”. Jurnal tersebut menjelaskan tentang :

    This is of participatory research project conducted by the Tokyo Citizen’s Council for Health Promotions to enchance vision sharing, there by aiding the implementation of healthy town initiative. The Citizen’s Cuoncil conducted a survey to elucidate citizen interest and expectations regarding healthy town. The project had three stage: (i) a survey; (ii) dissemination of the result; and (iii) evaluation of the impact of the survey’s finding. The survey was conducted among ordinary citizen’s council. Responses from 476 ordinary citizen, 400 community group members, 316 health promotion practicioner and 387 members of the citizen’s council were received and analyzed. Major criteria that respondent required of a healthy town were : adequate sports facilites and walking/jogging trails (44,5%); easy access for senior citizens, small children and people with disabilities (42,2%); and parks, clean rivers and natural features (33,1%). Prioritized criteria given by specific respondent garoup were (i) a town with little crime and few traffict accident (ordinary citizen :37,2%) and (ii) a town were people help aech other (health promotion practicioners :36,7%; members of the citizen council: 31,5%). Factor analysis revealed that the following three dimensions : (i) helath conducine physical living environment ; (ii) social

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    35

    network and mutual help; and (iii) social discipline/rules and good access to services. The research result were disseminated to the general public, community groups and members of the Citizen’s Council. The result substantiated citizen views, which were then incorporated into plants toward realizing Healthy Town initiative. This research effort generated a vision of the creation of healthy town by the participation of citizen in a megacity.

    (Penelitian ini merupakan penelitian partisipatif yang dilakukan oleh

    Dewan Warga Negara Tokyo untuk mempromosikan kesehatan dalam rangka

    meningkatkan berbagi visi untuk membantu pelaksanaan inisiatif Kota Sehat.

    Dewan Warga Negara melakukan survei untuk menjelaskan kepentingan dan

    harapan warga mengenai Kota Sehat. Proyek ini memiliki tiga tahap: (i) survei;

    (ii) penyebaran hasil; dan (iii) evaluasi dampak dari temuan survei. Survey

    dilakukan antara warga negara biasa, anggota kelompok masyarakat, kelompok

    promosi kesehatan dan anggota Dewan Warga Negara. Tanggapan dari 476 warga

    negara biasa, 400 anggota kelompok masyarakat, 316 kelompok promosi

    kesehatan dan 387 anggota Dewan Warga Negara diterima dan dianalisis. Kriteria

    yang dituntut untuk mencapai Kota Sehat 2010 adalah sebagai berikut: fasilitas

    olah raga yang memadai dan aktifitas jogging (44,5%); kemudahan akses bagi

    warga negara senior, anak-anak kecil dan para penderita cacat (42,2%),

    membersihkan sungai dan fitur alam lainnya (33.1%). Kriteria prioritas yang

    diberikan oleh kelompok-kelompok responden tertentu adalah : (i) kota dengan

    beberapa sedikit kejahatan dan kecelakaan lalu lintas (warga negara biasa: 37,2%)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    36

    dan (ii) sebuah kota di mana orang membantu satu sama lain (kelompok promosi

    kesehatan : 36.7%; anggota Dewan: 31,5%). Analisis faktor menunjukkan bahwa

    struktur pandangan mengenai kriteria warga negara untuk menuju Kota Sehat

    memiliki tiga dimensi berikut: (i) kesehatan fisik lingkungan hidup yang

    kondusif, (ii) jaringan sosial dan saling membantu, dan (iii) masyarakat disiplin

    terhadap peraturan dan akses yang baik ke layanan. Hasil-hasil penelitian

    disebarluaskan kepada masyarakat umum, kelompok masyarakat dan anggota

    Dewan Warga Negara. Hasil tinjauan didukung oleh warga, yang kemudian

    dimasukkan ke dalam rencana menuju inisiatif mewujudkan Kota Sehat. Upaya

    penelitian ini menghasilkan visi penciptaan Kota Sehat oleh partisipasi warga

    dalam kota besar).

    Berdasarkan penjelasan mengenai penelitian tentang perilaku kesehatan

    yang terdahulu, maka peneliti menyimpulkan bahwa penelitian kali ini berbeda

    dengan penelitian-penelitian terdahulu. Penelitian ini lebih memfokuskan pada

    Evaluasi Impementasi Program Pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada

    masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran kalianyar sesuai dengan indikator

    PHBS pada tatanan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

    tingkat keberhasilan Visi yang dicetuskan oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta

    yaitu “Menuju Solo Sehat 2010”.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    37

    H. DEFINISI KONSEPTUAL

    1. Perilaku

    Menurut ensiklopedi Amerika bahwa perilaku diartikan sebagai

    suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungan. Hal ini berarti

    bahwa perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk

    menimbulkan reaksi yakni yang disebut rangsangan, dengan demikian

    suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi perilaku tertentu

    2. Perilaku Sehat

    Adalah pengetahuan, sikap dan tidakan proaktif untuk memelihara

    dan mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman

    penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat

    (Departemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan (2002 : 3)).

    3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

    Adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan

    mampu mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat. (Departemen

    Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan (2002 : 4).

    4. Tatanan Rumah Tangga

    Rumah tangga adalah wahana atau wadah dimana orang tua (bapak

    dan ibu) dan anak serta anggota keluarga yang lain dalam melaksanakan

    kehidupan sehari-hari.

    5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tatanan Rumah Tangga

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    38

    PHBS tatanan rumah tangga adalah upaya pemberdayaan dan

    peningkatan kemampuan untuk berperilaku bersih dan sehat.

    I. METODE PENELITIAN

    A. Lokasi Penelitian

    Penelitian ini mengambil lokasi di Bantaran Kalianyar, Kampung Sabrang

    Lor RT 05 RW 08, Kelurahan Mojosongo. Alasannya pemilihan lokasi tersebut

    adalah :

    1. Lokasi merupakan salah satu tempat atau daerah di wilayah

    Surakarta dimana program PHBS itu dilakukan.

    2. Lokasi tersebut adalah tempat berkumpulnya warga dari

    kalangan menengah ke bawah yang mayoritas penduduknya

    kurang dapat menjangkau layanan kesehatan, sehingga untuk

    meminimalisir terjadinya penyakit, warganya harus dapat

    membiasakan hidup bersih dan sehat sebagai upaya dan

    preventif dalam rangka menuju Solo Sehat 2010.

    3. Bantaran Sungai identik dengan kekumuhan, jadi perlu dikaji

    bagaimana perilaku masyarakat sekitarnya untuk menjaga

    kesehatan keluarga maupun lingkungannya.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    39

    B. Jenis Penelitian

    Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif, dimana

    penelitian ini menggunakan metode evaluasi kualitatif yaitu penelitian

    terhadap program yang sudah atau sedang berjalan dimana bertujuan untuk

    mengukur akibat dan dampak dari suatu program sebagai landasan bagi

    penyusunan kebijaksanaan dan rancangan program yang akan datang. Proses

    evaluasi dimaksudkan untuk menguraikan dan memahami dinamika internal

    berjalannya suatu program. (Michael Quinn Patton, 2006: 30).

    Penelitian ini merupakan evaluasi implementasi suatu program yaitu

    Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tujuannya adalah untuk

    mengetahui sejauh mana pelaksanaan program PHBS tersebut.

    Penulis dalam penelitian ini menggunakan indikator-indikator untuk

    mengetahui seberapa tingkat keberhasilan program yang penulis evaluasi.

    Sebuah indikator merupakan sebuah petunjuk atau tanda. Indikator-indikator

    menunjukkan kemajuan yang telah dicapai dan membantu dalam mengukur

    perubahan. Indikator-indikator yang penulis gunakan dalam penelitian ini

    adalah :

    1. Availabilitas : indikator yang menunjukkan apakah sesuatu itu ada dan

    tersedia

    2. Relevansi : indikator yang menunjukkan seberapa jauh sesuatu hal dapat

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    40

    dikatakan relevan atau tepat

    3. Accesabilitas ; indikator yang menunjukkan apakah sesuatu itu benar-

    benar dapat terjangkau oleh mereka yang memerlukan

    4. Kebergunaan : indikator yang menunjukkan sejauh mana sesuatu yang

    telah disediakan dipakai untuk tujuan semula

    5. Ketercakupan : indikator yang menunjukkan apakah proporsi mereka yang

    memerlukan sesuatu itu dapat menerimanya

    6. Kualitas : indikator yang menunjukkan kualitas atau standar tertentu

    7. Usaha : indikator yang menunjukkan apa dan berapa banyak yang

    diinvestasikan untuk mencapai sasaran

    8. Efisiensi : indikator yang menunjukkan apakah sumber daya dan aktifitas

    telah dimanfaatkan dengan cara yang terbaik

    9. Hasil : merupakan hasil akhir dari pelaksanaan program.

    C. Teknik Pengambilan Sampel

    1. Populasi

    Populasi adalah keseluruhan daripada unit-unit analisis yang

    memiliki spesifikasi atau ciri-ciri tertentu dan populasi survei adalah

    kumpulan unsur-unsur yang dipilih secara nyata dari sampel survei.

    Berkaitan dengan penelitian ini maka yang menjadi populasinya adalah

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    41

    warga masyarakat yang tinggal disekitar Bantaran Kalianyar.

    2. Sampling

    Besarnya sampel tidak ditentukan berdasarkan ketentuan mutlak,

    tetapi disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Jumlah sampel tidak harus

    mewakili populasi, dimana peneliti menggunakan pertimbangan

    berdasarkan konsep teoritis serta karakteristik empiris.

    3. Teknik pengambilan sampel

    Dalam penelitian ini bersifat purpossive sampling, yaitu

    pengambilan sampel yang sesuai dengan maksud dan tujuan peneliti.

    Pilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan

    kemantapan peneliti dalam memperoleh data. Pengambilan sampel dalam

    penelitian ini mewakili karakteristik dari masyarakat yaitu dari tingkat

    pendidikan dan pekerjaan serta penghasilan.

    D. Sumber Data

    1. Data Primer

    Data ini diperoleh dari wawancara kepada warga yang tinggal

    disekitar Bantaran Kalianyar tentang pola Perilaku Hidup Bersih dan

    Sehat sesuai dengan indikator PHBS tatanan rumah tangga

    2. Data Sekunder

    Diperoleh melalui buku kesehatan maupun data Program

    Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Posyandu setempat, Buku

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    42

    Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat, Dinas

    Kesehatan Kota Surakarta (DKK), Badan Pemberdayaan Masyarakat

    (BAPERMAS) kota Surakarta maupun literatur lainnya.

    E. Teknik Pengumpulan Data

    Sesuai dengan bentuk pendekatan kualitatif terhadap sumber data

    yang digunakan, maka teknik pengumpulan data dalam penelitian ini

    adalah :

    1. Wawancara

    Teknik wawancara ini dilakukan dengan struktur yang tidak ketat atau

    informal guna menanyakan pendapat informan dan responden tentang

    kesadaran untuk berperilaku hidup bersih dan sehat dalam rangka menuju

    Solo Sehat 2010.

    Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan perorangan atau

    per keluarga/tatanan rumah tangga selaku sumber informasi kunci, melalui

    serangkaian tanya jawab yang bersifat terbuka dan mendalam. Dalam

    wawancara ini :

    v Pewawancara adalah seseorang yang menggali informasi

    secara mendalam sesuai dengan tujuannya

    v Sumber informasi kunci adalah warga yang dipandang

    memenuhi kriteria batasan masalah peneliti

    v Tanya jawab dilakukan secara terbuka dan mendalam

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    43

    2. Pedoman wawancara (Interview Guide)

    Teknik pengumpulan data dengan cara menyusun daftar pertanyaan

    yang sudah dipersiapkan sebelumnya secara sistematis sehingga dapat

    berfungsi sebagai pedoman wawancara. Interview guide dalam penelitian

    ini bersifat fleksibel artinya pertanyaan yang diajukan kepada informan

    akan berkembang dan tidak hanya terpancang pada daftar pertanyaan,

    karena sifat dari penelitian kualitatif yaitu semakin banyak informasi yang

    diperoleh maka akan semakin valid data yang diperoleh dalam penelitian

    ini.

    3. Observasi Langsung

    Yaitu merupakan pengamatan perilaku yang relefan dengan kondisi

    lingkungan yang tersedia di lokasi penelitian (HB Sutopo, 1998). Menurut

    Koentjoroningrat observasi merupakan pengamatan langsung terhadap

    obyek penelitian. Teknik ini biasanya diartikan sebagai pengamatan dari

    system fenomena yang diselidiki, dimana observasi dalam penelitian ini

    dilakukan dengan observasi langsung yaitu suatu cara pengumpulan data

    yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatan gejala-gejala yang

    tampak pada obyek penelitian, pelaksanaannya langsung dimana suatu

    peristiwa terjadi. Adapun sistem yang dilakukan pada observasi langsung

    adalah Non Participation Obervation dimana kedudukan peneliti hanya

    sebagai pengamat bukan anggota penuh dari obyek yang diteliti.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    44

    Kegiatan observasi dalam penelitian ini meliputi observasi terhadap

    kegiatan sehari-hari warga Bantaran Kalianyar yang sesuai dengan

    indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan Rumah

    Tangga.

    F. Analisis Data

    Analisis data adalah proses mengatur urutan data,

    mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar

    sehingga dapat diketemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja

    seperti disampaikan oleh data. Sesuai dengan judul penelitian, maka

    pnelitian ini menggunakan teknik analisis data model interaktif yang terdiri

    dari tiga komponen analisis, yaitu : reduksi data, penyajian data dan

    penarikan kesimpulan.

    1. Reduksi Data

    Merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan. Reduksi

    data dilakukan selama proses penelitian ini berlangsung yang dimulai

    sebelum pengumpulan data dilakukan. Data reduksi dimulai sejak peneliti

    mengambil keputusan dalam memilih kasus, pertanyaan yang akan

    diajukan dan tentang cara pengumpulan data yang dipakai.

    2. Penyajian Data

    Penyajian data merupakan kegiatan merakit informasi atau

    mengorganisasikan data serta menyajikan dalam bentuk tabel berupa data

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    45

    statistik sederhana dan selanjunya diinterpretasikan serta evaluasi dalam

    bentuk cerita agar dapat diambil suatu kesimpulan.

    3. Penarikan Kesimpulan

    Menarik kesimpulan dari keseluruhan data yang diperoleh dari

    hasil melakukan penelitian terhadap objek penelitian.

    G. Validitas Data

    Validitas data yang dimaksudkan adalah sebagai pembuktian

    bahwa data yang diperileh peneliti sesuai dengan apa yang terjadi di

    lapangan. Untuk menguji data yang telah terkumpul, peneliti menggunakan

    teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data atau sebagai

    pembanding terhadap data. Teknik triangulasi yang digunakan adalah

    triangulasi sumber, dimana data tidak hanya diambil dari satu sumber saja

    tetapi dari beberapa sumber.

    Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik

    derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat

    yang berbeda. Hal tersebut dapat dicapai dengan jalan: (1) Membandingkan

    data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. (2) Membandingkan

    apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan

    secara pribadi. (3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang

    tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. (4)

    Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    46

    pendapat dan pandangan orang. (5) Membandingkan hasil wawancara

    dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

    Berkaitan dengan hal tersebut, maka dalam penelitian ini yang

    digunakan untuk mengecek keabsahan data adalah dengan cara

    membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen, yaitu data

    PHBS Kota Surakarta maupun data PHBS di Posyandu setempat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    47

    BAB II

    DESKRIPSI WILAYAH

    A. Gambaran Umum

    1. Kota Surakarta

    Kota Surakarta atau yang lebih dikenal dengan “Kota Solo”

    secara umum memang dataran rendah dan berada diantara pertemuan

    Sungai Pepe, Sungar Anyar, Sungai Jenes yang kesemuanya bermuara

    di Sungai Bengawan Solo, yang mempunyai ketinggian kurang lebih

    92 meter di atas permukaan air laut dan terletak antara 110°45’15”-

    110°45’35” Bujur Timur, 70°36’00”-70°56’00” Lintang Selatan. Kota

    Surakarta terletak di Propinsi Daerah Tingkat 1 Jawa Tengah bagian

    selatan dan merupakan daerah perhubungan antara propinsi Jawa

    Tengah – Jawa Timur dan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

    dengan keadaan mobilitas masyarakat yang tinggi.

    Berbicara tentang letak daerah Surakarta, sebenarnya kota

    ini sangat strategis. Hal ini dikarenakan kota Surakarta sendiri

    merupakan jalur utama transportasi ke beberapa kota besar di Pulau

    Jawa. Kota – kota tersebut antara lain adalah Semarang, Yogyakarta

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    48

    dan Surabaya. Karena kota Surakarta yang strategis maka

    perkembangan kota ini memicu kegiatan ekonomi di berbagai sudut

    kota kecil disekitar wilayahnya antara lain Boyolali, Klaten, Sragen,

    Sukoharjo, Karanganyar dan Wonogiri. Kotamadya Surakarta dibatasi

    oleh :

    a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten

    Karanganyar dan Kabupaten Boyolali

    b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo

    dan Kabupaten Karangnanyar

    c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo

    d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo

    dan Kabupaten Karanganyar

    Dengan 51 Kelurahan, 595 RW dan 2.669 RT yang bergabung

    dalam 5 Kecamatan yaitu : Kecamatan Banjarsari 33% dari luas

    wilayah secara keseluruhan, Kecamatan Jebres 29%, Kecamatan

    Laweyan 20%, Kecamatan Pasar Kliwon 11% dan Kecamatan

    Serengan 7%. Kelima Kecamatan dan 51 Kelurahan tersebut adalah :

    a. Kecamatan Laweyan : Pajang, Laweyan, Bumi, Panularan,

    Penumping, Sriwedari, Purwosari, Sondakan, Kerten, Jajar

    dan Karangasem.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    49

    b. Kecamatan Serengan : Danukusuman, Serengan, Tipes,

    Kratonan, Jayengan dan Kemlayan

    c. Kecamatan Pasar Kliwon : Joyontakan, Semanggi, Pasar

    Kliwon, Gajahan, Baluwarti, Kampung Baru, KedungLumbu,

    Sangkrah, dan Kauman.

    d. Kecamatan Jebres : Kepatihan Kulon, Kepatihan Wetan,

    Sudiroprajan, Gandekan, Kampung Sewu, Pucang Sawit,

    Jagalan, Purwodiningratan, Tegalharjo, Jebres, Mojosongo.

    e. Kecamatan Banjarsari : Kadipiro, Nusukan, Gilingan,

    Stabelan, Kestalan, Keprabon, Timuran, Ketelan,

    Punggawan, Mangkubumen, Manahan, Sumber dan

    Banyuanyar.

    Untuk lebih jelasnya perhatikan table dibawah ini :

    Tabel 2.1

    Luas Wilayah Kota Surakarta

    No Kecamatan Luas Wilayah (km2)

    1 Laweyan 8,64

    2 Serengan 3,19

    3 Pasar Kliwon 4,82

    4 Jebres 12,58

    5 Banjarsari 14,81

    TOTAL 44,04

    Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Surakarta

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    50

    Data kependudukan menurut catatan Surakarta dalam angka tahun

    2007 adalah ; berdasarkan Survei Sosial Ek