Download (DOC, 407KB)

  • View
    216

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Download (DOC, 407KB)

Microsoft Office 2000

Better Work Indonesia Laporan Sintesis Tematik Kesehatan dan Keselamatan Kerja Dibuat : Desember 2014

Copyright International Labour Organization (ILO) and International Finance Corporation (IFC) (2014)First published (2014)Publications of the ILO enjoy copyright under Protocol 2 of the Universal Copyright Convention. Nevertheless, short excerpts from them may be reproduced without authorization, on condition that the source is indicated. For rights of reproduction or translation, application should be made to the ILO, acting on behalf of both organisations: ILO Publications (Rights and Permissions), International Labour Office, CH-1211 Geneva 22, Switzerland, or by email: pubdroit@ilo.org. The IFC and ILO welcome such applications.

Libraries, institutions and other users registered with reproduction rights organisations may make copies in accordance with the licenses issued to them for this purpose. Visit www.ifrro.org to find the reproduction rights organization in your country.

ILO Cataloguing in Publication Data

Better Work Indonesia: Thematic Synthesis Report: OSH / International Labour Organization; International Finance Corporation Geneva: ILO 20141 v.

ISSN 2227-958X (web pdf)

International Labour Organization; International Finance Corporation

clothing industry / textile industry / working conditions / workers rights / labour legislation / ILO Convention / international labour standards / comment / application / Indonesia08.09.3

The designations employed in this, which are in conformity with United Nations practice, and the presentation of material therein do not imply the expression of any opinion whatsoever on the part of the IFC or ILO concerning the legal status of any country, area or territory or of its authorities, or concerning the delimitation of its frontiers.

The responsibility for opinions expressed in signed articles, studies and other contributions rests solely with their authors, and publication does not constitute an endorsement by the IFC or ILO of the opinions expressed in them.

Reference to names of firms and commercial products and processes does not imply their endorsement by the IFC or ILO, and any failure to mention a particular firm, commercial product or process is not a sign of disapproval.

ILO publications can be obtained through major booksellers or ILO local offices in many countries, or direct from ILO Publications, International Labour Office, CH-1211 Geneva 22, Switzerland. Catalogues or lists of new publications are available free of charge from the above address, or by email: pubvente@ilo.org

Visit our website: www.ilo.org/publns

Copyright International Labour Organization (ILO) and International Finance Corporation (IFC) (2014)

First published (2014)

Ucapan Terimakasih Better Work Indonesia didukung oleh pihak-pihak berikut ini (dalam urutan alphabet):

Pemerintah Australia Kementerian Luar Negeri Belanda Kementerian Ekonomi [State Secretariat for Economic Affairs (SECO)], SwissProgram Better Work Global didukung oleh pihak-pihak berikut ini (dalam urutan alphabet):

Pemerintah Australia Kementerian Luar Negeri Denmark, DANIDA Kementerian Luar Negeri Belanda Kementerian Ekonomi [State Secretariat for Economic Affairs, Switzerland (SECO)], SwissPublikasi ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan dari organisasi atau lembaga yang namanya disebut di atas, atau menyebutkan nama dagang, produk komersial atau organisasi yang didukung oleh mereka. Daftar IsiDaftar IsiiiUcapan Terimakasih

iiiDaftar Isi

4Ringkasan

6BAB I: Pendahuluan dan Metodologi

6Pendahuluan

7Metodologi Better Work untuk Laporan Tematik

8BAB II : Hasil Temuan

14BAB III : Inisiatif Sistem Manajemen K3 hingga saat ini

15BAB IV: Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

17Lampiran

17Lampiran A: Pabrik-pabrik yang diliput dalam laporan ini

RingkasanProgram Better Work Indonesia yang merupakan kemitraan antara International Labour Organization (ILO) dan International Finance Corporation (IFC) diluncurkan pada tahun 2011. Program ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing pada industri pakaian jadi dengan meningkatkan kinerja ekonomi di tingkat perusahaan dan dengan meningkatkan kepatuhan terhadap undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia serta prinsip-prinsip Deklarasi ILO mengenai Prinsip Dasar dan Hak di tempat kerja.

Program ini melibatkan pabrik-pabrik yang berpartisipasi dengan melakukan penilaian independen dan menawarkan pelayanan konsultasi dan pelatihan. Sebagai bagian dari mandatnya untuk berbagi informasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam program dan mendorong peningkatan yang berkelanjutan, Better Work Indonesia membuat laporan sintesis publik tahunan yang menyatukan berbagai informasi mengenai kinerja dari pabrik-pabrik yang ikut serta pada periode pelaporan. Sampai tahun 2013, Better Work juga akan membuat laporan sintesis tematik pada tema terpilih dengan keterkaitannya dengan industri garmen nasional. Laporan ini akan memberikan keleluasaan bagi program untuk membahas secara lebih dalam isu-isu terkait. Ini adalah laporan sintesis tematik kedua untuk Better Work Indonesia yang berfokus pada sistem manajemen Kesehatan dan Keselamatan kerja (K3). Sejak memulai pelayanannya pada 2011, program Better Work Indonesia menilai kesehatan dan keselamatan kerja sebagai sesuatu yang memiliki tingkat ketidakpatuhan tertinggi dibandingkan dengan tujuh kelompok lain yang juga dinilai. Analisis awal yang dilakukan oleh penasihat perusahaan dan manajemen pabrik menunjukkan bahwa peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja dilakukan dengan cara yang tidak sistematis; karenanya peningkatan kualitas K3 tidak dapat bertahan dan ketidakpatuhan tidak dapat dikurangi secara drastis. Better Work Indonesia juga mencatat bahwa isu kesehatan dan keselamatan kerja tidak akan dapat ditingkatkan tanpa adanya komite K3 yang bekerja dengan baik, yang masih menjadi permasalahan pada kebanyakan perusahaan yang menjadi sample dalam penilaian ini. Meskipun pabrik-pabrik di Indonesia telah mendirikan komite K3, komite menggunakan piranti untuk meningkatkan K3, namun tidak memiliki program khusus atau ahli-ahli K3. Isu utamanya adalah manajemen senior jarang yang memberikan perhatian dalam hal K3 di tempat kerja dan seringkali hanya menyatakan kebijakan K3 tanpa benar-benar melaksanakannya. Tidak ada budaya keselamatanSecara keseluruhan ada kecenderungan menurunnya ketidakpatuhan untuk semua pertanyaan yang berhubungan dengan manajemen K3 pada kunjungan penilaian kedua oleh Better Work Indonesia, dengan pengecualian akan persyaratan adanya pemadam kebakaran terlatih dan ahli di bidang keselamatan kebakaran, karena baru diperkenalkan pada Alat Penilaian Kepatuhan pada September 2013. Peningkatan yang cukup kentara adalah tersedianya tempat duduk bagi para pekerja yang berdiri dalam melakukan pekerjaannya. Berikut ini adalah hasil-hasil temuan utama: Dari 78 pabrik yang menjadi sample, 53 diantaranya (68%) memiliki komite K3 yang tidak berjalan. Tidak terdapat ahli K3 yang memiliki sertifikasi yang menjadi sekretariat komite, manajemen tidak mengepalai komite, tidak adanya pertemuan bulanan atau kegiatan komite tidak dilaporkan pada Dinas Tenaga Kerja setempat. 43 pabrik (55%) belum melakukan evaluasi awal tentang masalah keselamatan dan kesehatan atau telah melakukan evaluasi awal namun tidak pada semua bidang atau bagian produksi yang dievaluasi. Pada beberapa kasus, evaluasi itu tidak pernah diperbaharui sehingga bisa sejalan dengan perubahan yang dilakukan di pabrik misalnya pengaturan ulang denah pabrik atau penambahan proses produksi Hanya 30 pabrik dari 78 pabrik yang telah menandai dan memasang jalur keluar dan penyelamatan diri yang jelas, sementara 48 pabrik lainnya (63%) memiliki kasus dimana tanda panah, jalur penyelamatan diri dan/atau tanda keluar sudah tidak jelas lagi, jalur penyelamatan diri tidak mengarah keluar bangunan, atau tidak diperbarui setelah perombakan denah produksi. Beberapa jalur penyelamatan diri dan pintu keluar darurat pada 39 pabrik (50%) terhalang oleh pekerjaan perbaikan atau lebarnya jalur penyelamatan diri terlalu sempit untuk evakuasi yang aman.

53 pabrik (68%) tidak memiliki sistem deteksi kebakaran otomatis (pengindria asap atau pengindria panas) pada wilayah-wilayah dimana jumlah pekerja sedikit, atau dimana pekerja jarang berada misalnya di gudang atau daerah bongkar/muat. Pada beberapa pabrik, sistem pengindria api telah terpasang namun tidak dilakukan inspeksi teratur. Dari 78 pabrik yang menjadi sampel, 43 diantaranya telah membentuk tim pengendalian kebakaran, namun tidak memiliki pemadam kebakaran bersertifikat atau ahli keselamatan kebakaran, atau belum membentuk tim pengendalian kebakaran di lokasi. Persyaratan perlunya memiliki ahli keselamatan kebakaran yang bersertifikat yang menjadi bagian dari tim pengendalian kebakaran dimasukkan ke dalam CAT pada bulan September 2013.

75 pabrik (95%) tidak memiliki Surat Laik Fungsi (SLF), tidak menyimpan salinan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) di lokasi, atau memiliki IMB. Penasihat perusahaan mengamati retak pada dinding atau kebocoran pada langit-langit bangunan produksi. Kesemua 75 pabrik tidak mengetahui mengenai peraturan keselamatan bangunan sebelum adanya Better Work. 39 pabrik (50%) tidak memasang pengaman mesin pada beberapa mesin misalnya mesin jahit, mesin pemasang kancing, mesin penggiling atau mesin pemotong kain. 44 pabrik (56%) telah melakukan pelatihan mengenai alat pelindung diri; namun tidak terlalu efektif karena sejumlah besar pekerja (40-60% dari total pekerja) tidak menggunakan alat pelindung diri yang disediakan saat bekerja.

41 pabrik (53%) tidak menyediakan tempat duduk bagi para pekerja yang melakukan p