Case Papilloma Inverted

  • View
    134

  • Download
    29

Embed Size (px)

Text of Case Papilloma Inverted

LAPORAN KASUS

PAPILLOMA INVERTED

Pembimbing : Dr. Maranatha Lumban Batu, Sp.THT-KL

Disusun Oleh : Amelia Kristin Simanjuntak 0761050103

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN-BEDAH KEPALA LEHER PERIODE 26 SEPTEMBER 2011 - 22 OKTOBER 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA RUMAH SAKIT MARDI WALUYO METRO LAMPUNG 2011

KATA PENGANTARPuji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia dan rahmatNya saya dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Papilloma inverted. Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua Dosen pembimbing di bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia dan Dosen Pembimbing di bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher di RS Mardi Waluyo Metro Lampung, dr.Maranatha Lumban Batu, Sp.THT-KL. Semoga Laporant ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Tuhan memberkati.

Lampung, 14 Oktober 2011

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I 1.1 PENDAHULUAN .. 1

BAB II 2.1 Anatomi Hidung ................ 2.1.1 Perdarahan ........................... 2.1.2 Persarafan .......... 2.2 Histologi Hidung ........................ 2.2. 1 Mukosa Hidung ................. 2.2.2 Silia ........................... 2.2. 3 Area Olfaktorius ................. 2.3 Fisiologi Hidung ............. 2.3. 1 Fungsi Respirasi ................. 2.3.2 Fungsi Penghidu ......... 2.3. 3 Fungsi Fonetik .................. 2.3.4 Refleks Nasal ............ 2.4 Definisi ........... 2.5 Etiologi ...................... 2.6 Faktor Resiko ......................... 2.7 Gejala Klinis .............................. 2.8 Pemeriksaan Penunjang .......................... 2.9 Staging ........................................ 2.10 Tatalaksana ............................................ 2 5 6 6 6 8 9 9 10 11 11 11 12 13 13 13 14 15 16

2.11 Prognosis ........................................ 16

BAB III LAPORAN KASUS ....... BAB IV ANALISA KASUS ....... BAB V KESIMPULAN .............. DAFTAR PUSTAKA ...... 32 33 30 17

BAB I

PENDAHULUANPada tahun 1854, untuk pertama kalinya Ward memperkenalkan Schneiderian papilomas (Sps) dari hidung (misalnya, sinonasal papilloma). Lesi tumor jinak ini diberi nama sesuai dengan penemunya sekaligus untuk menghormati penemunya, yaitu C. Victor Schneider, yang mana pada tahun 1600-an menunjukkan bahwa mukosa hidung menghasilkan catarh dan bukan CSF yang diidentifikasi berasal dari ektoderm. Kramer dan Som mengklasifikasikan SPs sebagai neoplasma sejati pada hidung dan mendeskripsikannya sebagai papilloma sejati, yang mana dapat membedakannya dengan polip hidung. Ringertz adalah orang pertama yang menidentifikasi kecenderungan dari SPs menjadi stroma jaringan ikat, yang membedakannya dengan jenis papilloma.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKAII. 1 ANATOMI Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah: 1 1. pangkal hidung (bridge), 2. dorsum nasi, 3. puncak hidung, 4. ala nasi, 5. kolumela dan 6. lubang hidung (nares anterior).

Gambar 2.1 Anatomi Hidung Bagian Luar 2

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari: 1

1. tulang hidung (os nasalis), 2. prosesus frontalis os maksila dan 3. prosesus nasalis os frontal

Gambar 1.2. Anatomi Kerangka Hidung 3

sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu: 1

1. sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2. sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor), 3. beberapa pasang kartilago alar minor dan 4. tepi anterior kartilago septum.

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. 1

Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anteriror, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. 1

Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela. 1

Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung. 1

Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema disebut juga rudimenter. 1

Gambar 2.3. Anatomi Hidung Bagian Dalam 4

Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior.1

Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. 1

2. 1. 1. PERDARAHAN

Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmika, sedangkan a.oftalmika berasal dari a.karotis interna.1

Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris interna, di antaranya ialah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. 1

Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach. Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis terutama pada anak. 1

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial. 1

2. 1. 2. PERSARAFAN

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus. Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatina. 1

Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung.Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila, serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus.Ganglion sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media. 1

Fungsi penghidu berasal dari Nervus olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. 1

II. 2

HISTOLOGI HIDUNG

2. 2. 1. MUKOSA HIDUNG

Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan (mukosa respiratori) dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius). Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu (pseudo stratified columnar epithalium) yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel-sel goblet. 1 Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-kadang terjadi metaplasia, menjadi sel epitel skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut

lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukos