Biografi Mbah Hasyim Asy'Ari

  • View
    88

  • Download
    5

Embed Size (px)

Text of Biografi Mbah Hasyim Asy'Ari

  • 1

    KH. Hasyim Asyari KH Hasyim Asyari tokoh pendiri Nahdlatul Ulama NU Siapa yang tidak kenal KH Hasyim Asyari?, Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional dan Kyai dari Jawa Timur yang sekaligus pendiri salah satu organisasi Muslim terbesar dalam bingkai Islam berhaluan Ahlussunah Wal Jamaah di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama. KH. Muhammad Hasyim Asyari yang biasa terkenal dipanggil KH. Hasyim Asyari beliau dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 M, atau menurut penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287 H. di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. K.H Hasjim Asy'ari adalah putra ketiga dari 10 bersaudara1, Ayahnya bernama Kyai Asyari, merupakan seorang pemimpin Pondok Pesantren Keras (nama Desa), yang berada di sebelah selatan Jombang, Jawa timur. Sedangkan Ibunya bernama Halimah. Diantara kesepuluh saudaranya antara lain: Nafi'ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Berdasarkan silsilah garis keturunan ibu, K.H. Hasjim Asy'ari memiliki garis keturunan dari Sultan Pajang (Jaka Tingkir) juga mempunyai keturunan ke raja Hindu Majapahit, Raja Brawijaya V (Lembupeteng). Berikut silsilah berdasarkan K.H. Hasjim Asy'ari berdasarkan garis keturanan ibu; Hasjim Asy'ari putra Halimah putri Layyinah putri Sihah Putra Abdul Jabar putra Ahmad

    1 Khuluq, L. 2000, Fajar Kebangunan Ulama Biografi K.H. Hasjim Asy'ari, LKiS. hal. 18

  • 2

    putra Pangeran Sambo putra Pengeran Benowo putra Joko Tingkir (Mas Karebet) putra Prabu Brawijaya V (Lembupeteng)2 SEJARAH PENDIDIKAN KH. HASYIM ASYARI K.H. Hasjim Asy'ari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asy'ari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmisi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi. Di Makkah, awalnya K.H. Hasjim Asy'ari belajar dibawah bimgingan Syaikh Mafudz dari Termas (Pacitan) yang merupakan ulama dari Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah. Syaikh Mafudz adalah ahli hadis dan hal ini sangat menarik minat belajar K.H. Hasjim Asy'ari sehingga sekembalinya ke Indonesia pesantren ia sangat terkenal dalam pengajaran ilmu hadis. Ia mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, dimana Syaikh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadis dari 23 generasi penerima karya ini. 3. Selain belajar hadis ia juga belajar tassawuf (sufi) dengan mendalami Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah. K.H. Hasjim Asy'ari juga mempelajari fiqih madzab Syafi'i di bawah asuhan Syaikh Ahmad Katib dari Minangkabau yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu hisab), dan aljabar. Di masa belajar pada Syaikh Ahmad Katib inilah K.H. Hasjim Asy'ari mempelajari Tafsir Al-manar karya monumental Muhammad Abduh. Pada prinsipnya ia mengagumi rasionalitas pemikiran Abduh akan tetapi kurang setuju dengan ejekan Abduh terhadap ulama tradisionalis.

    2 Akarhanaf, Kiai Hasjim Asj'ari, hal. 55 atau lihat Khuluq, L. 2000, Fajar Kebangunan Ulama Biografi K.H.

    Hasyim Asy'ari, LKiS. hal. 17 3 Arifin, Kepemimpinan Kiai, hal. 72; lihat juga Anam, Pertumbuhan, hal. 60.

  • 3

    Gurunya yang lain adalah termasuk ulama terkenal dari Banten yang mukim di Makkah yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani. Sementara guru yang bukan dari Nusantara antara lain Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang merupakan ulama terkenal pada masa itu.4 SEJARAH PERJUANGAN KH. HASYIM ASYARI Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan & kecerdasan KH Hasyim Asyari memang sudah tampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu Ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Pada Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, untuk berkelana memperdalam ilmu dari satu Pondok Pesantren ke Pondok Pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pondok Pesantren Wonokoyo, Probolinggo, Jawa Timur. Kemudian pindah ke Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Kemudian Pindah lagi ke Pondok Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang diperolehnya, ia melanjutkan di Pondok Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, di bawah asuhan Kyai Cholil. Dan juga pernah nyantri di Pesantren Siwalan, Sidoarjo, Jawa Timur. Di Pondok Pesantren yang diasuh Kyai Yaqub inilah, agaknya, Hasyim Asyari merasa benar-benar menemukan sumber ajaran Islam yang diinginkan. Kyai Yaqub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas & alim dalam ilmu agama. Cukup lama (lima tahun) Hasyim Asyari menyerap ilmu di Pondok Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Yaqub tertarik dan kagum kepada pemuda yang cerdas & alim itu. Pada usia 21 tahun, Hasyim Asyari dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Yaqub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air.

    4 Zamaksari, Tradisi Pesantren. hal. 95

  • 4

    Dan pada tahun 1892, setelah istri & anaknya wafat, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap dan menimba ilmu di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim Asyari mengajar di Pondok Pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng. Kyai Hasyim Asyari bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani & pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim Asyari istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi ke Surabaya berdagang kuda, besi & menjual hasil pertaniannya. Dari bertani & berdagang itulah, Kyai Hasyim Asyari menghidupi keluarga & pesantrennya. Tahun 1899, Kyai Hasyim Asyari membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal. Dari tratak kecil inilah cikal bakal Pondok Pesantren Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim Asyarimengajar & salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, & tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang. Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kyai Hasyim Asyari kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Kyai Hasyim Asyarikemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim Asyaridikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf.

  • 5

    Pada akhir dekade 1920-an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim Asyari menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri, Jawa Timur. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim Asyari dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Yakub. Di kisahkan, pernah terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, yaitu antara KH Muhammad Hasyim Asyari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan, kata Mbah Cholil, begitu Kyai dari Madura ini populer dipanggil. Kyai Hasyim Asyari menjawab, Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, & juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya. Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. Keputusan & kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar & diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, & berguru kepada Tuan, katanya. dikarenakan sudah hafal dengan watak gurunya, Kyai Hasyim Asyari tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri. Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, dikarenakan hendak memasangkan ke kaki gurunya. Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan hal tersebut sering terjadi. Namun yang ditunjukkan Kyai Hasyim Asyar ijuga Kyai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati & saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid & guru-guru kita. Mbah Cholil adalah Kyai yang sangat termasyhur pada zamannya. Hampir semua pendiri NU & tokoh-tokoh pe

Search related