Biodata Paus Yohanes Paulus II

  • View
    316

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of Biodata Paus Yohanes Paulus II

Paus Yohanes Paulus II Nama lahir Mulai menjabat Pendahulu Pengganti Lahir Wafat Tanda tangan : Karol Wojtya : 16 Oktober 1978 Sampai 2 April 2005 : Yohanes Paulus I : Benediktus XVI :18 Mei 1920 Wadowice, Polandia :2 April 2005 Istana Apostolik, Vatikan

Paus bernama Yohanes Paulus lainnya Paus Yohanes Paulus II (Latin: Ioannes Paulus PP. II, Italia: Giovanni Paolo II, Polski: Jan Pawe II) yang nama aslinya: Karol Jzef Wojtya, lahir di Wadowice, Polandia, 18 Mei 1920 meninggal di Istana Apostolik, Vatikan, 2 April 2005 pada umur 84 tahun adalah Paus, Uskup Roma, dan kepala Gereja Katolik Roma sejak 16 Oktober 1978 hingga kematiannya. Dia juga pemimpin dari Negara Kota Vatikan, negara berdaulat dengan luas terkecil di dunia. Paus Yohanes Paulus II diangkat pada usia 58 tahun pada tahun 1978. Dia adalah Paus non-Italia pertama sejak Paus Adrianus VI, yang menjabat untuk sesaat antara tahun 15221523. Dia memerangi komunisme, kapitalisme yang tak terkendali dan penindasan politik. Dia dengan tegas melawan aborsi dan membela pendekatan Gereja Katolik Roma yang lebih tradisional terhadap seksualitas manusia. Dia telah melakukan lawatan 129 negara selama menjadi Paus dan menjadi pemimpin dunia yang paling banyak melawat dalam sejarah.[1][2] Dia berbicara dalam bahasa-bahasa Italia, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Portugis, Ukraina, Rusia, Kroasia, Esperanto, Yunani Kuno dan Latin selain bahasa ibunya bahasa Polski.[3] Sebagai bagian dari wewenang panggilan sucinya yang universal, ia telah melakukan beatifikasi terhadap 1.340 orang dan melakukan kanonisasi 483 santo/santa,[4][5][6] lebih banyak dari gabungan beatifikasi dan kanonisasi yang dilakukan pendahulunya selama lima abad terakhir.[6][7][8][9][10][11]

Selain itu, masa tugasnya sebagai Paus adalah yang ketiga terlama dalam sejarah, setelah Paus Pius IX dan Santo Petrus. Pada tahun 1989, ia mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang dikunjunginya adalah Jakarta, Medan (Sumatera Utara), Yogyakarta (Jawa Tengah, dan DIY) dan Dili (Timor Timur). Setelah berkunjung ke Indonesia, komentarnya ialah: "Tidak ada negara yang begitu toleran seperti Indonesia di muka bumi." [sic]

Pada 19 Desember 2009, Yohanes Paulus II telah mendapat gelar venerabilis dari penerusnya Paus Benediktus XVI[12][13][14][15] dan sebagai langkah pendahulu sebelum beatifikasi pada 1 Mei 2011.[16] BIOGRAFI KELAHIRAN DAN MASA MUDA Karol Jzef Wojtya (dilafazkan sebagai: voi-TI-wa; IPA: /karl juzef vjtwa/) lahir pada 18 Mei 1920 di Wadowice, Polandia selatan,[17][18][19] sebagai seorang anak ketiga dari opsir pada Tentara Kekaisaran Habsburg Austria, yang juga bernama Karol Wojtya[20] dan Emilia Kaczorowska, yang seorang keturunan Lithuania.[19][20] Ibunya meninggal pada 13 April 1929,[21] ketika ia berusia delapan tahun.[22] Kakak perempuan Karol, Olga meninggal di waktu bayi sebelum kelahiran Karol; dengan demikian dia tumbuh dan dekat dengan kakaknya Edmund yang lebih tua 14 tahun, dan punya panggilan Mundek. Namun, pekerjaan Edmund sebagai dokter mengakibatkan kematiannya karena skarlatina (scarlet fever). Hal ini sangat mempengaruhi Karol.[20][22] Sebagai remaja, Wojtya adalah seorang atlit dan sering bermain sepak bola sebagai penjaga gawang[23][24] Masa kecilnya terpengaruh kontak intensif dengan komunitas Yahudi. Pertandingan sepak bola sering diadakan antara tim Yahudi dan Katolik, dan Wojtya biasanya secara sukarela akan menawarkan diri menjadi penjaga gawang cadangan di tim Yahudi jika kekurangan pemain.[20][23] Pada pertengahan 1938, Karol Wojtya dan ayahnya meninggalkan Wadowice dan pindah ke Krakw, dimana dia masuk ke Universitas Jagiellonian. Sambil belajar filologi dan berbagai bahasa di universitas, dia menjadi pustakawan sukarela dan juga harus ikut serta dalam wajib militer di Legiun Akademik Resimen Infanteri ke 36 Polandia, namun dia penganut pasifisme dan menolak menembakkan senjata. Dia juga tampil di beberapa grup teater dan menjadi penulis naskah drama.[25] Selama masa itu, kemampuan berbahasanya berkembang dan dia belajar 12 bahasa asing, sembilan diantaranya kemudian dipakai terus ketika menjadi Paus (Bahasa Polandia, Slovakia, Rusia, Italia, Perancis, Spanyol, Portugis, Jerman, dan Inggris, ditambah dengan pengetahuan akan Bahasa Latin Gerejawi).[18] Pada tahun 1939 terjadi pendudukan pendudukan Nazi dan menutup universitas tempatnya belajar setelah invasi terhadap Polandia.[18] Semua warga yang sehat diwajibkan bekerja, dari tahun 1940 sampai 1944, Wojtya bekerja berbagai macam mulai dari pencatat menu di restoran, pekerja kasar tambang batu kapur, dan di pabrik kimia Solvay untuk menghindari dideportasi ke Jerman.[19][25] Ayahnya, seorang bintara di Angkatan Darat Polandia, meninggal karena serangan jantung pada 1941, meninggalkan Karol seorang diri dari sisa keluarga.[20][21][26] "Saya tidak ada pada saat kematian ibu saya, saya tidak ada pada saat kematian kakak saya, saya tidak ada pada saat kematian ayah saya" katanya, menceritakan masa-masa kehidupannya ketika itu, hampir empat puluh tahun kemudian, "Pada usia 20, saya sudah kehilangan semua orang yang saya cintai"[26]

Dia kemudian mulai berpikir serius untuk menjadi pastor setelah kematian ayahnya, kemudian panggilan imamatnya perlahan menjadi sesuatu yang mutlak dan tak terbantahkan.[27] Pada Oktober 1942, dengan meningkatnya keinginan untuk menjadi pastor, dia mengetuk pintu Wisma Uskup Agung di Krakw, dan menyatakan bahwa dia ingin belajar menjadi pastor.[27] Tidak lama kemudian, dia mulai belajar di seminari rahasia yang dijalankan oleh uskup agung Krakw Kardinal Adam Stefan Sapieha. Pada 29 Februari 1944, Wojtya tertabrak oleh truk Nazi Jerman. Tak diduga, perwira Wehrmacht Jerman kasihan padanya dan mengirimkannya ke rumah sakit. Dia menghabiskan waktu dua minggu untuk pulih dari gegar otak dan luka bahu. Kecelakaan ini dan penyelamatannya membuatnya makin yakin dengan panggilan imamatnya. Pada 6 Agustus 1994, Minggu Hitam,[28] Gestapo mengumpulkan para pria muda di Krakw untuk menghindari demonstrasi yang serupa dengan demonstrasi di Warsawa.[28][29] [30] Wojtya selamat dengan bersembunyi di ruang bawah tanah rumah pamannya di 10 Tyniecka Street, ketika tentara Jerman mencari di lantai atas.[27][29][30] Lebih dari 8000 pria dan pemuda ditangkap hari itu, namun dia kemudian bersembunyi di Wisma Uskup Agung, [27][28][29] dimana dia tetap bersembunyi sampai Jerman pergi.[20][27][31] Pada 17 Januari 1945 malam, Jerman meninggalkan kota, dan para pelajar mengambil kembali reruntuhan seminari. Wojtya dan seminaris lainnya secara sukarela bertugas membersihkan tumpukan kotoran beku dari jamban.[32] Bulan itu, Wojtya menolong seorang gadis pengungsi Yahudi berusia 14 tahun bernama Edith Zierer[33] yang melarikan diri dari perkampungan buruh di Czstochowa.[33] Setelah terjatuh dari peron stasiun kereta, Wojtya membawanya ke kereta dan menemaninya hingga selamat sampai Krakw. Zierer sangat berterima kasih pada Wojtya yang menyelamatkan hidupnya hari itu.[34][35][36] B'nai B'rith sebuah organisasi Yahudi dan beberapa otoritas lainnya menyatakan bahwa Wojtya telah menolong dan melindungi banyak Yahudi Polandia lainnya dari Nazisme. MENJADI PASTOR Setelah menyelesaikan pendidikan seminari di Krakw, Karol Wojtya ditahbiskan sebagai pastor di hari para orang kudus pada 1 November 1946,[21] oleh uskup agung Krakw, Kardinal Adam Stefan Sapieha.[19][37][38] Dia kemudian berangkat untuk belajar teologi di Roma, di Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas (Pontifical International Athenaeum Angelicum),[37][38] dimana dia kemudian mendapat Diploma Teologi Suci dan kemudian Doktor Teologi Suci.[18] Gelar Doktorat ini yang pertama dari dua, didasarkan pada disertasi Latin "Doktrin Iman Menurut Santo Yohanes dari Salib Suci" Dia kembali ke Polandia pada musim panas 1948 dengan tugas pertama pastoral di desa Niegowi, lima belas mil dari Krakw. Setibanya di Niegowi pada musim panen, tindakan pertama yang dilakukannya adalah berlutut dan mencium lantai.[39] Tindakan ini diadaptasi dari kebiasaan santo Jean Marie Baptiste Vianney yang berasal dari Perancis,[39] yang kemudian menjadi ciri khasnya ketika menjadi Paus.

Pada Maret 1949, dia dipindah ke paroki Santo Florian di Krakw, dia mengajar ilmu etika di Universitas Jagiellonian kemudian di Universitas Katolik Lublin (John Paul II Catholic University of Lublin). Sambil mengajar, Wojtya bergabung dengan grup terdiri dari 20 pemuda, yang kemudian mereka juluki Rodzinka, atau "keluarga kecil". Mereka berkumpul untuk berdoa, diskusi filosofi, serta menolong orang buta dan sakit. Grup ini kemudian berkembang sampai sekitar 200 anggota, dan kegiatannya bertambah dengan bermain ski tahunan dan kayak.[4] Tahun 1954 dia memperoleh doktorat kedua, dalam bidang filosofi,[40] mengevaluasi kelayakan etika Katolik berdasarkan sistem etis dari fenomenologi Max Scheler. Namun, otoritas Komunis menghalanginya memperoleh gelar sampai 1957.[38] Selama periode ini, Wojtya menulis seri artikel di koran Katolik Krakw Tygodnik Powszechny (Mingguan Umum) berkaitan dengan masalah kontemporer gereja.[41] Dia juga fokus pada pembuatan literatur asli selama dua belas tahun pertama menjadi pastor. Perang, hidup dalam Komunisme, dan tanggung jawab pastoralnya mempengaruhi puisi dan naskah dramanya. Namun, dia mempublikasikan karya-karyanya dalam dua nama samaran Andrzej Jawie dan Stanisaw Andrzej Gruda[25][41][42] - untuk memisahkan antara literatur dan tulisan religiusnya (yang diterbitkan dengan nama aslinya) dan agar karya literaturnya mendapat penghargaannya sendiri tanpa pengaruh masalah religi kepastorannya.[25][41][42] Pada 1960, Wojtya menerbitkan buku teologis berpengaruh Cinta dan Tanggungjawab sebuah pembelaan terhadap ajaran-ajaran tradisional Gereja tentang pernikahan dari sudut pandang filosofis baru.[25][43] MENJADI USKUP , USKUP AGUNG , DAN KARDINAL Pada 4 Juli 1958,[38] ketika Wojtya sedang berlibur bermain kayak di sebuah danau di utara Polandia, Paus P