BAB III - .dari para pendahulu keturunan keluarga Blongkod-Pulumoduyo mengenai silsilah keluarga

  • View
    235

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of BAB III - .dari para pendahulu keturunan keluarga Blongkod-Pulumoduyo mengenai silsilah keluarga

48

BAB III

HASIL PENELITIAN

3.1 Sejarah Gorontalo utara

Salah satu ciri dari kajian sejarah adalah adanya periodesasi masa sebagai

manifestasi dari bentuk kajian yang memanjang dalam waktu. Pembagian periodesasi

ini diantaranya dapat dilihat pada kesamaan cirri peristiwa yang terjadi dalam masa

yang sama. Dalam membahas Sejarah Gorontalo Utara, berdasarkan data yang

diperoleh, peneliti membagi 2 periodesasi masa yakni Periode Kerajaan dan Periode

Kolonial.

3.1.1 Periode Kerajaan

Letak geografis Gorontalo bagian utara (Kabupaten Gorontalo Utara

sekarang) terletak dibagian utara pulau Sulawesi-antara Bolang Mongondow, Buol

dan kerajaan dikawasan teluk tomini. Peristiwa-peristiwa masa lalu Gorontalo hanya

dapat dipetakan dengan pertama-tama memahami cirri-ciri sosio-kulturalnya dan

pengaruhnya dengan wilayah teritorial lain di Sulawesi dan sekitarnya, serta

bagaimana hal itu mempengaruhi dinamika budaya dan politik di wilayahnya. Salah

satu ciri mendasar dari wilayah ini adalah peranan Limo lo Pohalaa (Persekutuan

Lima Kerajaan) yang terdiri dari Gorontalo (Hulondalo) Limboto (Limoeto) Bone

Suwawa-Bintauna, Bulango selanjutkan digantikan oleh Boalemo (Baolemo) dan

48

49

terakhir Atinggola (Andagile). G.W.W.C baron van howel (dalam Hasanudin dan

Basri)

Dari penjelasan diatas, bahwa sebelum masuknya kolonial di wilayah

Gorontalo bahwa sudah terdapat kerajaan--kerajaan kecil yang sudah membentuk satu

pemerintahan tersendiri salah satunya adalah persekutuan lima kerajaan Limo Lo

Pohalaa.

Kerajaan-kerajaan tertua yang pernah berkuasa dikawasan Gorontalo bagian

utara tersebut telah menampilkan berbagai hubungan yang saling mempengaruhi satu

sama lain dalam berbagai aspek kehidupan kerajaan pada masa itu. Namun dalam hal

ini peneliti akan membahas mengenai wilayah kerajaan yang berada diwilayah

Gorontalo bagian utara (Kab. Gorontalo Utara sekarang) yang tergabung dalam Lima

Lo Pohalaa sala satunya adalah Pohalaa Atinggola dan kerajaan-kerajaan kecil lainya

yang pemerintahanya berada di wilayah kerajaan Limboto dan Gorontalo.

Berdasarkan sumber Lokal di wilayah timur Kabupaten Gorontalo Utara,

dikisahkan bahwa kerajaan Atinggola dipimpin oleh Raja Gobel Blongkod yang

memerintah pada tahun 1712, ibu kota kerajaanya berada di wilayah perbukitan Desa

Buata yang berada di hulu Sungai Andagile. Andagile merupakan sungai yang

dulunya dikenal dengan nama Iningolre (dalam Bahasa Atinggola ) yang artinya di

minta. wilayah kekuasanya berada diwilayah Kerajaan Kaidipang sebagian (Desa

Kayogu, Tontulow berada di seberang sungai Andagile) sedangkan di wilayah bagian

50

utara yaitu desa Gentuma Ilomata (Kecamatan Gentuma Raya sekarang) dan Desa di

sekitar Kecamatan Atinggola seperti Monggupo, Bintana dan Pinontoyonga.

Sedangkan wilayah (desa kotajin , Imana dan Oluhuta) merupakan wilayah dari

kerajaan kaidipang yang dipimpin oleh Raja Korompot yang pusat pemerintahanya

berada di Boroko, ini disampaikan oleh Bapak Ahmad Pulumoduyo.

Berdasarkan data yang di peroleh, peneliti mendapatkan salah satu catatan

dari para pendahulu keturunan keluarga Blongkod-Pulumoduyo mengenai silsilah

keluarga dari Raja Atinggola yang ditulis pada tahun 1929 (Pulumoduyo 2004,30-

31). Raja Blongkod dengan istri pertama Boki Bambing kemudian menurunkan

seorang putri bernama Manu. Putri manu kemudian menikah dengan seorang laki-laki

Putra mahkota yang bernama Hatibae, Manu dan Hatibae dianugrahi seorang anak

laki-laki bernama Gobel. Gobel kemudian mempersunting Gadis turunan Mayor

Bintang Berdarah Suku Minahasa bernama Olinggina, yang masuk dan menganut

agama Islam sebelum Menikah dengan sang Pangeran Gobl Blongkod. Hasil

pernikahan Olinggina ini melahirkan 3 (Tiga) orang Putri dan seorang Putra masing-

masing anak tertua Jubalo Blongkod, di ikuti oleh adiknya Juboki Blongkod, Juporou

Blongkod dan Alimudi Blongkod. Di wilayah ini tepatnya di Desa Monggupo dan

Kotajin terdapat beberapa makam keluarga Raja Blongkod yaitu Jubalo Blongkod

putri dari Pangeran Gobl Blongkod, yang semasa hidup beliau di kenal oleh

masyarakat setempat sebagai orang yang sakti, dan seorang pangeran Kerajaan

Atinggola yang Bernama Frans Mopangka Gobel Blongkod makam tersebut berada

51

di Desa Kotajin sedangkan makam dari Raja Blongkod berada di Desa Donggala

kecamatan Tapa Kabupaten Bonebolango, didialam sistem kerajaan ini juga terdapat

seorang jogugu yang bernama Pulumoduyo (Jogugu Saboto) yang bertugas sebagai

perantara dari masyarakat ke pemerintah kerajaan dan sebaliknya, juga terdapat

seorang ketua adat bate dan pengatur adat wuu.

Kata Atinggola sebelum resmi dipakai sebagai nama negri, memang melalui

proses yang dibahas lewat Jakalra( Perkumpulan yang dihadiri oleh petua-petua

negri) sebagaimana rapat atau pertemuan maka Jakalra menghasilkan suatu

keputusan yang digali dari pokok-pokok adat dan nilai-nilai agama. Keluruhan adat

dan agungnya agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat kerajaan atinggola itu

sendiri kemudian melahirkan pegangan (Dasar) kehidupan yang tertuju pada

kebesaran maha pencipta Allah S.W.T. Itulah pegangan yang dalam bahasa resmi

disebut Otinogolra yang sekarang kita kenal Atinggola dalam artian (Otinongolra)

yaitu punya Pegangan. Punya pegangan yaitu masyarakat Otinogolra (Atinggola)

meiliki pengangan seperti Bahasa, Adat Istiadat,dan Budaya Tersendiri sebagai

landasan hidup dan bermasyarakat yang berlandaskan Al-Quran. (lihat Pulumoduyo

hal.29-31).

Selain itu bapak Ahmad pulumoduyo menuturkan, bahwa wilayah kerajaan

atinggola sebelumnya berada di pingiran sungai Andagile. namun terjadi perselisihan

antara pangeran kerajaan atinggola yang bernama Frans Mopangka Gobel Blongkod

dengan pasukan dari kerajaan kaidipang dimana pangeran ini melewati wilayah dari

52

kerajaan kaidipang kemudian dihalangi oleh pasukan dari kerajaan tersebut,

mendengar kabar tersebut kemudian raja Gobel Blongkod memberi pesan kepada

kerajaan kaidipang dengan tujai yang artinya Bahwa Raja dari Kerajaan Atinggola

ini sedang haus Kelapa Muda yang Warnah Merah. Pasukan dari Kerajaan

kaidipang mengartikan bahwa Raja Atinggola ingin Membunuh orang, kemudian

pasukan kerajaan kaidipang melaporkan kepada rajanya dan terjadi pertukaran

wilayah. Dimana wilayah dari kerajaan kaidipang yang berada di seberang sungai

andagile (Desa Kotajin Oluhuta dan Imana sekarang) diserahkan kepada kerajaan

Atinggola sebagai gantinya Wilayah dari Kerajaan Atinggola yang berada di seberang

Sungai Andagile (Desa Kayuogu, dan Tontulow) diserahkan kepada Kerajaan

Kaidipang, hal ini untuk mengantisipasi supaya dikemudian hari tidak terjadi

perselisihan yang akan menimbulkan konflik, hal ini dikarenakan karena, menurut

sumber lokal bahwa Raja dari Kerajaan Atinggola ini suka menentang dan keras

kepala, dalam penulisan sejarah Atinggola peneliti mendapat kesulitan mengenai

rentang waktu kapan peristiwa terjadi terjadi

Sedangkan Dibagian Barat dari wilayah ini (,Sumalata dan Tolinggula)

berdasarkan sumber lokal, bahwa wilayah tersebut merupakan kekuasaan dari

Kerajaan Limboto yang dipimpin oleh raja amai, Yang tergabung dalam persekutuan

lima kerajaan yang ada di Gorontalo. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosial

masayarakat seperti adat istiadat serta budaya dari masyarakat setempat dan dari segi

bahasa, secara umum menggunakan bahasa Gorontalo. Karena wilayah ini merupakan

53

wilayah dari kerajaan Limutu (limboto). (Wawancara dengan Bpk. Kasmir Boki 5

juli 2013)

Sebuah sumber mengatakan bahwa dalam proses terjadinya janjia u duwluwo

(perdamaian antara pohalaa hulontalo dan pohala,a limutu) pada tahun 1673 yang

dipelopori oleh Hohuhu (Jogugu) Bumulo dan Khatibi Daa Eyato dari Hulontalo

serta Hohuhu Popa dan Wuleya Lo Lipu Pomalo dari Limutu, di sebutkan bahwa

ketika Putri Ntobango dan Putri Tiliaya kembali ke Limutu yang dikawal oleh

armada laut Kerajaan Gowa dengan maksud untuk menguasai Hulontalo melalui

Limutu. Ketika Armada Laut Kerajaan Gowa yang membawa 2 putri tersebut sampai

di Tolinggula, bertemulah mereka dengan para penjemput dari Kerajaan Limutu.

Diantaranya para penjemput tersebut ikut pula Hohuhu (Patih atau Perdana Mentri)

Popa dan Wuleya Lo Lipu Pomalo. Kemudian Rombongan ini singgah di sebuah

Pulau di Sumalata yang bernama Lito Hutokalo. Di Pulau Hutokalo ini, Hohuhu

Popa dan Wuleya Lo Lipu Pomalo berusaha membujuk para Pemimimpin Kerajaan

Gowa agar tidak menyerbu Kerajaan Hulontalo (Sumber: Janjia U Duluwo;

www.hungguli.hulondhalo.com).

Sumber lain mengatakan bahwa Rombongan Putri Ntobango dan Tiliaya

terpaksa singgah di Lito Hutokalo ketika akan menuju Limutu karena ditengah laut

dihadang badai kencang (Barubu), dan akhirnya sangat terpaksa rombongan tersebut

harus merubah rute perjalanan mereka dengan memutar langsung menuju pelabuhan

Hulontalo.

http://www.hungguli.hulondhalo.com/

54

Dari kisah