of 28 /28
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Gagal Ginjal Kronis 1. Definisi Gagal Ginjal Kronis Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya, gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006). Menurut Nursalam (2006), gagal ginjal kronis (chronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal. Gagal ginjal kronis (GGK) atau penyakit ginjal tahap akhir merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lainnya dalam darah) (Smeltzer dan Bare, 1997 dalam Suharyanto dan Madjid, 2009). Menurut Brunner & Suddarth (2002), gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Gagal Ginjal …repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27561/4/Chapter II.pdfMenurut Nursalam (2006), gagal ginjal kronis (chronic renal failure)

  • Author
    lexuyen

  • View
    220

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Gagal Ginjal...

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Konsep Gagal Ginjal Kronis

    1. Definisi Gagal Ginjal Kronis

    Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan

    etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang

    progresif, dan umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya, gagal

    ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi

    ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi

    pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal

    (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006).

    Menurut Nursalam (2006), gagal ginjal kronis (chronic renal

    failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan

    ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar

    dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau

    transplantasi ginjal. Gagal ginjal kronis (GGK) atau penyakit ginjal tahap

    akhir merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel

    dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme

    dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi

    urea dan sampah nitrogen lainnya dalam darah) (Smeltzer dan Bare, 1997

    dalam Suharyanto dan Madjid, 2009).

    Menurut Brunner & Suddarth (2002), gagal ginjal kronis atau

    penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal

    yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk

  • mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,

    menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam

    darah). Gagal ginjal kronis menurut The Kidney Outcomes Quality

    Initiative (K/DOQI) of National Kidney Foundation (NKF) pada tahun

    2009 adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama atau lebih tiga bulan

    dengan laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/men./1,73 m2

    (Perhimpunan Nefrologi Indonesia, 2003).

    2. Kalsifikasi Gagal Ginjal Kronis

    Menurut Suharyanto dan Madjid (2009), gagal ginjal kronis dapat

    diklasifikasikan berdasarkan sebabnya, yaitu :

    Klasifikasi Penyakit Penyakit Penyakit infeksi dan peradangan Pielonefritis kronik

    Glomerulonefritis Penyakit vaskuler hipertesif Nefrosklerosis benigna

    Nefrosklerosis maligna Stenosis arteri renalis

    Gangguan jaringan penyambung Lupus eritematosus sistemik Poliartritis nodusa Sklerosis sistemik progresif

    Gangguan kongenital dan herediter Penyakit ginjal polikistik Asidosis tubulus ginjal

    Penyakit metabolik Diabetes Melitus Gout Disease Hipertiroidisme

    Nefropati toksi Penyalahgunaan analgesic Nefropati timbale

    Nefropati obstruksi Saluran kemih bagian atas : kalkuli, neoplasma, fibrosis retroperineal. Saluran kemih bagian bawah : hipertropi prostat, striktur uretra, anomali leher kandung kemih dan uretra.

    Berdasarkan perjalanan klinis, gagal ginjal dapat dibagi menjadi

    tiga stadium (Suharyanto dan Madjid, 2009), yaitu :

  • a. Stadium I, dinamakan penurunan cadangan ginjal

    Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal, dan

    penderita asimptomatik. Gangguan fungsi ginjal hanya dapat

    diketahui dengan tes pemekatan kemih dan tes GFR yang teliti.

    b. Stadium II, dinamakan insufisiensi ginjal

    Pada stadium ini dimana lebih dari 75 % jaringan yang berfungsi

    telah rusak. GFR besarnya 25 % dari normal. Kadar BUN dan

    kreatinin serum mulai meningkat dari normal. Gejala-gejala nokturia

    atau seting berkemih di malam hari sampai 700 ml dan poliuria

    (akibat dari kegagalan pemekatan) mulai timbul.

    c. Stadium III, dinamakan gagal ginjal stadium akhir atau uremia

    Sekitar 90 % dari massa nefron telah hancur atau rusak, atau hanya

    sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh. Nilai GFR hanya 10 %

    dari keadaan normal. Kreatinin serum dan BUN akan meningkat

    dengan mencolok. Gejala-gejala yang timbul karena ginjal tidak

    sanggup lagi mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit

    dalam tubuh, yaitu : oliguri karena kegagalan glomerulus, sindrom

    uremik.

    Menurut The Kidney Outcomes Quality Initiative (K/DOQI)

    (dalam Desita, 2010), gagal ginjal kronis dapat diklasifikasikan

    berdasarkan tahapan penyakit dari waktu ke waktu sebagai berikut :

    Stadium 1 : kerusakan masih normal (GFR > 90 ml/min/1,73 m2)

    Stadium 2 : ringan (GFR 60-89 ml/min/1,73 m2)

    Stadium 3 : sedang (GFR 30-59 ml/min/1,73 m2)

  • Stadium 4 : gagal berat (GFR 15-29 ml/min/1,73 m2)

    Stadium 5 : gagal ginjal terminal (GFR

  • albuminuria, hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia. Terdapat variabilitas

    interindividual untuk terjadinya sklerosis dan fibrosis glomerulus

    maupun tubulointerstitial.

    Pada stadium yang paling dini penyakit ginjal kronik, terjadi

    kehilangan daya cadang ginjal (renal reserve), pada keadaan mana basal

    LFG masih normal atau malah meningkat. Kemudian secara perlahan

    tapi pasti, akan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif, yang

    ditandai dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Sampai

    pada LFG sebesar 60 % pasien masih belum merasakan keluhan

    (asimptomatik), tapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin

    serum. Sampai pada LFG sebesar 30 % mulai terjadi keluhan pada

    seperti nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan kurang dan penurunan

    berat badan. Sampai pada LFG kurang 30 % pasien memperlihatkan

    gejala dan tanda uremia yang nyata seperti anemia, peningkatan tekanan

    darah, gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, pruritus, mual, muntah

    dan lain sebagainya. Pasien juga mudah terkena infeksi seperti infeksi

    saluran kemih, infeksi saluran nafas, maupun infeksi saluran cerna. Juga

    akan terjadi gangguan keseimbangan air seperti hipo atau hipervolumia,

    gangguan keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan kalium. Pada

    LFG di bawah 15 % akan terjadi gejala dan komplikasi yang lebih serius

    dan pasien sudah memerlukan terapi pengganti ginjal (renal replacement

    therapy) antara lain dialisis atau transplantasi ginjal. Pada keadaan ini

    pasien dikataan sampai pada stadium gagal ginjal.

  • 4. Etiologi Gagal Ginjal Kronis

    Menurut Brenner dan Lazarus (1987, dalam Suharyanto dan

    Madjid, 2009) penyebab penyakit ginjal stadium terminal yang paling

    banyak di New England adalah :

    Penyebab Insiden Glomerulonefritis 24 % Nefropati Diabetik 15 % Nefrosklerosis Hipertensif 90 % Penyakit ginjal polikistik 8 % Pielonefritis kronis dan nefritis interstitial lain 8 %

    Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2000

    (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006)

    mencatat penyebab gagal ginjal yang menjalani hemodialisa di Indonesia,

    yaitu :

    Penyebab Insiden Glomerulonefritis 46, 39 % Diabetes Melitus 18,65 % Obstruksi dan infeksi 12,85 % Hipertensi 8,46 % Sebab lain 13,65 %

    5. Manifestasi Klinis Gagal Ginjal Kronis

    Pada gagal ginjal kronis, setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh

    kondisi uremia, maka pasien akan memperlihatkan sejumlah tanda dan

    gejala. Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat

    kerusakan ginjal, kondisi lain yang mendasari dan usia pasien (Brunner

    & Suddarth, 2002).

  • Menurut Nursalam (2006), manifestasi klinis yang terjadi :

    a. Gastrointestinal : ulserasi saluran pencernaan dan

    perdarahan.

    b. Kardiovaskuler : hipertensi, perubahan EKG, perikarditis,

    efusi pericardium, tamponade pericardium.

    c. Respirasi : edema paru, efusi pleura, pleuritis.

    d. Neuromuskular : lemah, gangguan tidur, sakit kepala, letargi,

    gangguan muskular, neuropati perifer,

    bingung dan koma.

    e. Metabolik/ endokrin : inti glukosa, hiperlipidemia, gangguan

    hormon seks menyebabkan penurunan

    libido, impoten dan ammenore.

    f. Cairan-elektrolit : gangguan asam basa menyebabkan

    kehilangan sodium sehingga terjadi

    dehidrasi, asidosis, hiperkalemia,

    hipermagnesemia, hipokelemia.

    g. Dermatologi : pucat, hiperpigmentasi, pluritis, eksimosis,

    uremia frost.

    h. Abnormal skeletal : osteodistrofi ginjal menyebabkan

    osteomalaisia.

    i. Hematologi : anemia, defek kualitas flatelat, perdarahan

    meningkat.

    j. Fungsi psikososial : perubahan kepribadian dan perilaku serta

    gangguan proses kognitif.

  • B. Konsep Hemodialisa

    1. Definisi

    Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien

    dalam keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisys jangka pendek

    (beberapa hari hingga beberapa minggu) atau pasien dengan penyakit

    ginjal stadium akhir atau end stage renal disease (ESRD) yang

    memerlukan terapi jangka panjang atau permanen. Tujuan hemodialisa

    adalah untuk mengeluarkan zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah

    dan mengeluarkan air yang berlebihan (Suharyanto dan Madjid, 2009).

    Menurut Nursalam (2006) hemodialisa adalah proses

    pembersihan darah oleh akumulasi sampah buangan. Hemodialisa

    digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien

    berpenyakit akut yang membutuhkan dialisis waktu singkat.

    Bagi penderita gagal ginjal kronis, hemodialisa akan mencegah

    kematian. Namun demikian, hemodialisa tidak menyembuhkan atau

    memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya

    aktivitas metabolik atau endokrin yang dilaksanakan ginjal dan dampak

    dari gagal ginjal serta terapinya terhadap kualitas hidup pasien (Brunner

    & Suddarth, 2002).

    2. Prinsip yang Mendasari Kerja Hemodialisa

    Pada hemodialisis, aliran darah yang penuh dengan toksin dan

    limbah nitrogen dialihkan dari tubuh pasien ke dializer tempat darah

    tersebut dibersihkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tubuh pasien.

  • Sebagian besar dializer merupakan lempengan rata atau ginjal serat

    artificial berongga yang berisi ribuan tubulus selofan yang halus dan

    bekerja sebagai membran semipermeabel. Aliran darah akan melewati

    tubulus tersebut sementara cairan dialisat bersirkulasi di sekelilingnya.

    Pertukaran limbah dari darah ke dalam cairan dialisat akan terjadi melalui

    membrane semipermeabel tubulus (Brunner & Suddarth, 2002).

    Terdapat tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisa, yaitu

    difusi, osmosis, ultrafiltrasi. Toksin dan zat limbah di dalam darah

    dikeluarkan melalui proses difusi dengan cara bergerak dari darah yang

    memiliki konsentrasi tinggi, ke cairan dialisat dengan konsentrasi yang

    lebih rendah. Cairan dialisat tersusun dari semua elektrolit yang penting

    dengan konsentrasi ekstrasel yang ideal. Kelebihan cairan dikeluarkan

    dari dalam tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat

    dikendalikan dengan menciptakan gradien tekanan, dimana air bergerak

    dari daerah dengan tekanan yang lebih tinggi (tubuh pasien) ke tekanan

    yang lebih rendah (cairan dialisat). Gradient ini dapat ditingkatkan

    melalui penambahan tekanan negative yang dikenal sebagai ultrafiltrasi

    pada mesin dialisis. Tekanan negative diterapkan pada alat ini sebagai

    kekuatan penghisap pada membran dan memfasilitasi pengeluaran air

    (Suharayanto dan Madjid, 2009).

    3. Akses pada Sirkulasi Darah Pasien

    Akses pada sirkulasi darah pasien terdiri atas kateter subklavikula

    dan femoralis, fistula, tandur (Suharayanto dan Madjid, 2009).

  • a. Kateter subklavikula dan femoralis

    Akses segera ke dalam sirkulasi darah pasien pada

    hemodialisis darurat dicapai melalui kateterisasi subklavikula untuk

    pemakaian sementara. Kateter femoralis dapat dimasukkan ke dalam

    pembuluh darah femoralis untuk pemakaian segera dan sementara.

    b. Fistula

    Fistula yang lebih permanen dibuat melalui pembedahan

    (biasanya dilakukan pada lengan bawah) dengan cara menghubungkan

    atau menyambung (anastomosis) pembuluh arteri dengan vena secara

    side to side (dihubungkan antara ujung dan sisi pembuluh darah).

    Fistula tersebut membutuhkan waktu 4 sampai 6 minggu menjadi

    matang sebelum siap digunakan. Waktu ini diperlukan untuk

    memberikan kesempatan agar fistula pulih dan segmenvena fistula

    berdilatasi dengan baik sehingga dapat menerima jarum berlumen

    besar dengan ukuran 14-16. Jarum ditusukkan ke dalam pembuluh

    darah agar cukup banyak aliran darah yang akan mengalir melalui

    dializer. Segmen vena fistula digunakan untuk memasukkan kembali

    (reinfus) darah yang sudah didialisis.

    c. Tandur

    Dalam menyediakan lumen sebagai tempat penusukan jarum

    dialisis, sebuah tandur dapat dibuat dengan cara menjahit sepotong

    pembuluh arteri atau vena dari sapi, material Gore-tex (heterograft)

    atau tandur vena safena dari pasien sendiri. Biasanya tandur tersebut

  • dibuat bila pembuluh darah pasien sendiri tidak cocok untuk dijadikan

    fistula.

    4. Sistem Kerja Dializer

    Terdapat 2 (dua) tipe dasar dializer (Suharyanto dan Madjid, 2009),

    yaitu :

    a. Pararel plate dializer

    Pararel plate dializer, terdiri dari dua lapisan selotan yang dijepit oleh

    dua penyokong. Darah mengalir melalui lapisan-lapisan membran,

    dan cairan dialisa dapat mengalir dalam arah yang sama seperti darah,

    atau dengan daerah berlawanan.

    b. Hollow Fiber atau capillary dializer

    Darah mengalir melalui bagian tengah tabung-tabung kecil, dan cairan

    dialisa membasahi bagian luarnya. Aliran cairan dialisa berlawanan

    dengan arah aliran darah.

    Suatu sistem dialisa terdiri dari dua sirkuit, satu untuk darah dan

    satu lagi untuk cairan dialisa. Bila sistem ini bekerja, darah mengalir dari

    penderita melalui tabung plastik (jalur arteri), melalui dializer hollow fiber

    dan kembali ke penderita melalui jalur vena.

    Dialisat kemudian dimasukkan ke dalam dializer, dimana cairan

    akan mengalir di luar serabut berongga sebelum keluar melalui drainase.

    Keseimbangan antara darah dan dialisat terjadi di sepanjang membrane

    dialisis melalui proses difusi, osmosis dan ultrafiltrasi.

  • Komposisi cairan dialisis diatur sedemikian rupa sehingga

    mendekati komposisi ion darah normal, dan sedikit dimodifikasi agar

    memperbaiki gangguan cairan dan elektrolit yang sering menyertai gagal

    ginjal. Unsur-unsur yang umum terdiri dari Na+, K+, Ca++, Mg++, Cl-, asetat

    dan glukosa. Urea, kreatinin, asam urat, dan fosfat dapat berdifusi dengan

    mudah dari darah ke dalam cairan dialisis karena unsur-unsur ini tidak

    terdapat dalam cairan dialisis. Natrium asetat yang lebih tinggi

    konsentrasinya dalam cairan dialisis, akan berdifusi ke dalam darah.

    Tujuan menambahkan asetat adalah untuk mengoreksi asidosis penderita

    uremia. Asetat dimetabolisme oleh tubuh penderita menjadi bikarbonat.

    Glikosa dalam konsentrasi yang rendah (200 mg/100 ml) ditambahkan ke

    dalam bak dialisis untuk mencegah difusi glukosa ke dalam bak dialisis

    yang dapat mengakibatkan kehilangan kalori.

    Heparin secara terus menerus dimasukkan pada jalur arteri melalui

    infuse lambat untuk mencegah pembekuan. Bekuan darah dan gelembung

    udara dalam jalur vena akan menghalangi udara atau bekuan darah

    kembali ke aliran darah. Waktu yang dibutuhkan seseorang untuk

    melakukan hemodialisa adalah tiga kali seminggu, dengan setiap kali

    hemodialisa 3 sampai 5 jam.

    5. Penatalaksanaan Pasien yang Menjalani Hemodialisa

    Hemodilisa merupakan hal yang sangat membantu pasien sebagai

    upaya memperpanjang usia penderita. Hemodialisa tidak dapat

    menyembuhkan penyakit ginjal yang diderita pasien tetapi hemodialisa

  • dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan pasien yang gagal ginjal

    (Wijayakusuma, 2008 dalam Desita, 2010).

    Pasien hemodialisa harus mendapat asupan makanan yang cukup

    agar tetap dalam gizi yang baik. Gizi kurang merupakan prediktor yang

    penting untuk terjadinya kematian pada pasien hemodialisa. Asupan

    protein diharapkan 1-1,2 gr/kgBB/hari dengan 50 % terdiri atas asupan

    protein dengan nilai biologis tinggi. Asupan kalium diberikan 40-70

    meq/hari. Pembatasan kalium sangat diperlukan, karena itu makanan

    tinggi kalium seperti buah-buahan dan umbi-umbian tidak dianjurkan

    untuk dikonsumsi. Jumlah asupan cairan dibatasi sesuai dengan jumlah air

    kencing yang ada ditambah insensible water loss. Asupan natrium

    dibatasi 40-120 meq.hari guna mengendalikan tekanan darah dan edema.

    Asupan tinggi natrium akan menimbulkan rasa haus yang selanjutnya

    mendorong pasien untuk minum. Bila asupan cairan berlebihan maka

    selama periode di antara dialisis akan terjad kenaikan berat badan yang

    besar (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006).

    Menurut Lumenta (1992) anjuran pemberian diet pada pasien

    hemodialisa 2 x/ minggu :

    Protein : 1 1,2 gr/kgBB/hari

    Kalori : 126 147 kj/ kgBB (30 35 kal/kgBB/hari)

    Lemak : 30 % dari total kalori

    Hidrat arang : sedikit gula (55 % total kalori)

    Besi : 1,8 mmol/hari (100 mg)

    Air : 750 1000 ml/hari (500 + sejumlah urin/24 jam)

  • Ca : 25 50 mmol/hari (1000 2000)

    Banyak obat yang diekskresikan seluruhnya atau sebagian melalui

    ginjal. Pasien yang memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung,

    antibiotik, antiaritmia, antihipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk

    memastikan agar kadar obat-obatan ini dalam darah dan jaringan dapat

    dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik. Risiko timbuknya

    efek toksik akibat obat harus dipertimbangkan (Brunner & Suddarth,

    2002).

    6. Indikasi dan Komplikasi Terapi Hemodialisa

    Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia

    (2006) umumnya indikasi dialisa pada GGK adalah bila laju filtrasi

    glomerulus (LFG sudah kurang dari 5 ml/menit) sehingga dialisis baru

    dianggap perlu dimulai bila dijumpai salah satu dari hal di bawah :

    a. Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata

    b. K serum > 6 mEq/L

    c. Ureum darah > 200 mg/L

    d. Ph darah < 7,1

    e. Anuria berkepanjangan (> 5 hari)

    f. Fluid overloaded.

    Komplikasi terapi dialisis sendiri dapat mencakup hal-hal berikut

    (Brunner & Suddarth, 2002) :

    a. Hipotensi dapat terjadi selama terapi dialisis ketika cairan

    dikeluarkan.

  • b. Emboli udara merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat saja

    terjadi jika udara memasuki sistem vaskuler pasien.

    c. Nyeri dada dapat terjadi karena pCO2 menurun bersamaan dengan

    terjadinya sirkulasi darah di luar tubuh.

    d. Pruritus dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk akhir

    metabolisme meninggalkan kulit.

    e. Gangguan keseimbangan dialisis terjadi karena perpindahan cairan

    serebral dan muncul sebagai serangan kejang. Komplikasi ini

    kemungkinan terjadinya lebih besar jika terdapat gejala uremia yang

    berat.

    f. Kram otot yang nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat

    meninggalkan ruang ekstrasel.

    g. Mual dan muntah merupakan peristiwa yang sering terjadi.

    Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia

    (2006) komplikasi yang jarang terjadi misalnya sindrom disekuilibirum,

    reaksi dializer, aritmia, temponade jantung, perdarahan intrakranial,

    kejang, hemolisis, neutropenia, serta aktivasi komplemen akibat dialisis

    dan hipoksemia.

    C. Konsep Kualitas Hidup

    1. Definisi Kualitas Hidup

    Mc Carney & Lason (1987, dalam Yuwono, 2000) mendefinisikan

    kualitas hidup sebagai derajat kepuasan hati karena terpenuhinya

    kebutuhan ekternal maupun persepsinya. WHO (1994, dalam Desita,

  • 2010) kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu sebagai laki-

    laki atau perempuan dalam hidup, ditinjau dari konteks budaya dan sistem

    nilai dimana mereka tinggal, dan hubungan dengan standart hidup,

    harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Hal ini dipadukan secara

    lengkap mencakup kesehatan fisik, psikologis, tingkat kebebasan,

    hubungan sosial dan hubungan mereka dengan segi ketenangan dari

    lingkungan mereka.

    Menurut Suhud (2009) kualitas hidup adalah kondisi dimana pasien

    kendati penyakit yang dideritanya dapat tetap merasa nyaman secara fisik,

    psikologis, sosial maupun spiritual serta secara optimal memanfaatkan

    hidupnya untuk kebahagian dirinya maupun orang lain. Kualitas hidup

    tidak terkait dengan lamanya seseorang akan hidup karena bukan domain

    manusia untuk menentukannya. Untuk dapat mencapai kualitas hidup

    perlu perubahan secara fundamental atas cara pandang pasien terhadap

    penyakit gagal ginjal terminal (GGT) itu sendiri.

    2. Kualitas Hidup dari Berbagai Aspek

    Kualitas hidup bisa dipandang dari segi subjektif dan objektif. Dari

    segi subjektif merupakan perasaan enak dan puas atas segala sesuatu

    secara umum, sedangkaan secara objektif adalah pemenuhan tuntutan

    kesejahteraan materi, status social dan kesempurnaan fisik secara social

    atau budaya (Trisnawati, 2002 dalam Fatayi, 2008). Menurut Cella (1994,

    dalam Fatayi, 2008), penilaian kualitas hidup penderita gagal ginjal dapat

  • dilihat pada aspek kesehatan fisik, kesehatan mental, fungsi sosial, role

    function dan perasaan sejahtera.

    Menurut Ventegodt (2003, dalam Desita, 2010) kualitas hidup

    dapat dikelompokkan dalam tiga bagian yang berpusat pada aspek hidup

    yang baik, yaitu :

    a. Kualitas hidup subjektif yaitu suatu hidup yang baik yang dirasakan

    oleh masing-masing individu yang memilikinya. Masing-masing

    individu secara personal mengevaluasi bagaimana mereka

    menggambarkan sesuatu dan perasaan mereka.

    b. Kualitas hidup eksistensial yaitu seberapa baik hidup seseorang

    merupakan level yang berhak untuk dihormati dan dimana individu

    dapat hidup dalam keharmonisan.

    c. Kualitas hidup objektif yaitu bagaiman hidup seseorang dirasakan

    oleh dunia luar. Kualitas hidup objektif dinyatakan dalam kemampuan

    seseorang untuk beradaptasi pada nilai-nilai budaya dan menyatakan

    tentang kehidupannya.

    3. Dimensi Kualitas Hidup

    Menurut WHOQoL (The World Health Organization Quality of

    Life) group (Yuliaw, 2010) kualitas hidup terdiri dari 4 bidang. Keempat

    bidang dari WHOQoL BREF meliputi :

    a. Kesehatan fisik berhubungan dengan kesakitan dan kegelisahan,

    ketergantungan pada perawatan medis, energi dan kelelahan, mobilitas,

    tidur dan istirahat, aktifitas kehidupan sehari-hari, dan kapasitas kerja.

  • b. Kesehatan psikologis berhubungan dengan pengaruh positif dan negatif

    spiritual, pemikiran pembelajaran, daya ingat dan konsentrasi, gambaran

    tubuh dan penampilan, serta penghargaan terhadap diri sendiri.

    c. Hubungan sosial terdiri dari hubungan personal, aktifitas seksual dan

    hubungan sosial.

    d. Dimensi lingkungan terdiri dari keamanan dan kenyamanan fisik,

    lingkungan fisik, sumber penghasilan, kesempatan memperoleh

    informasi, dan keterampilan baru, partisipasi dan kesempatan untuk

    rekreasi, atau aktifitas pada waktu luang.

    4. Komponen Kualitas Hidup

    Ada tiga macam komponen utama kualitas hidup (Yuwono, 2000)

    yaitu kapasitas fungsional, persepsi, dan keluhan penderita akibat

    penyakit yang dideritanya. Kapasitas fungsional atau status fisiologis

    meliputi kemmpuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, fungsi sosial,

    sungsi intelektual, dan fungsi emosional. Kapasitas fungsional merupakan

    kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang biasa

    dilakukannya. Elemen terpenting adalah mobilitas, ketidaktergantungan

    dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Fungsi intelektual

    meliputi kapabilitas mental seperti memori dan ketajaman perhatian,

    kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan membuat keputusan. Status

    emosional dan kesehatan mental termasuk perubahan perasaan hati,

    marah, rasa bersalah, rasa permusuhan, kecemasan, depresi.

  • Universitas of Toronto pada tahun 2004 (dalam Desita, 2010;

    Diana, 2010) menyebutkan kualitas hidup dapat dibagi dalam tiga bagian

    yaitu :

    a. Kesehatan

    Kesehatan dalam kualitas hidup dapat dibagi menjadi tiga bagian

    yaitu secara fisik, psikologis dan spiritual. Secara fisik yang terdiri

    dari kesehatan fisik, personal hiegine, nutrisi, olah raga, pakaian dan

    penampilan fisik secara umum. Secara psikologis yang terdiri dari

    kesehatan dan penyesuaian psikologis, kesadaran, perasaan, harga diri,

    konsep diri dan kontrol diri. Secara spiritual terdiri dari nilai-nilai

    pribadi, standar-standar pribadi dan kepercayaan spiritual.

    b. Kepemilikan

    Kepemilikan (hubungan individu dengan lingkungannya) dalam

    kualitas hidup dibagi menjadi dua bagian yaitu secara fisik dan social.

    Secara fisik terdiri dari rumah, tempat kerja/ sekolah, tetangga/

    lingkungan dan masyarakat. Secara sosial dekat dengan orang lain,

    keluarga, teman/ rekan kerja, lingkungan dan masyarakat.

    c. Harapan

    Merupakan keinginan dan harapan yang akan dicapai sebagai

    perwujudan dari individu seperti terpenuhinya nilai (prestasi dan

    aspirasi individu) sehingga individu tersebut merasa berharga atau

    dihargai di dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya

    melalui suatu tindakan nyata yang bermanfaat dari hasil karyanya.

  • D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal

    Kronis

    Avis (2005, dalam Desita, 2010) menyatakan bahwa ada beberapa

    faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dimana faktor ini dapat

    dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama adalah sosio demografi

    yaitu jenis kelamin, umur, suku/ etnik, pendidikan, pekerjaan dan status

    perkawinan. Bagian kedua adalah medis yaitu lama menjalani hemodialisa,

    stadium penyakit, dan penatalaksanaan medis yang dijalani. Penelitian

    Yuliaw (2010) menemukan bahwa karakateristik individu yang terdiri dari

    terdiri dari pendidikan, pengetahuan, umur dan jenis kelamin merupakan

    faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik.

    Yuwono (2000) dalam penelitiannya mengatakan bahwa faktor-faktor yang

    mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal adalah umur, jenis kelamin,

    etiologi gagal ginjal, cara terapi pengganti, status nutrisi dan kondisi

    komorbid.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien GGK

    menurut Avis (2005, dalam Desita, 2010), Yuliaw (2010), Yuwono (2000)

    yaitu :

    1. Umur

    Pada umumnya kualitas hidup menurun dengan meningkatnya

    umur. Penderita GGK usia muda akan mempunyai kualitas hidup yang

    lebih baik oleh karena biasanya kondisi fisiknya yang lebih baik

    dibanding yang berusia tua. Penderita yang dalam usia produktif merasa

    terpacu untuk sembuh mengingat dia masih muda mempunyai harapan

  • hidup yang tinggi, sebagai tulang punggung keluarga, sementara yang tua

    menyerahkan keputusan pada keluarga atau anak-anaknya. Tidak sedikit

    dari mereka merasa sudah tua, capek hanya menunggu waktu, akibatnya

    mereka kurang motivasi dalam menjalani terapi haemodialisis. Usia juga

    erat kaitannya dengan prognose penyakit dan harapan hidup mereka yang

    berusia diatas 55 tahun kecenderungan untuk terjadi berbagai komplikasi

    yang memperberat fungsi ginjal sangat besar bila dibandingkan dengan

    yang berusia dibawah 40 tahun (Indonesiannursing, 2008).

    2. Jenis Kelamin

    Laki-laki mempunyai kualitas hidup lebih jelek dibanding

    perempuan dan semakin lama menjalani hemodialisa akan semakin

    rendah kualitas hidup penderita.

    3. Etiologi gagal ginjal terminal

    Penderita gagal ginjal terminal karena nefropati diabetik

    mempunyai kualitas hidup yang lebih jelek dibanding dengan penderita

    gagal ginjal terminal karena sebab lain (Bergstrom, 1985). Hanya 20 %

    penderita non DM yang tidak mempu merawat dirinya sendiri dibanding

    dengan 50 % penderita DM.

    4. Status nutrisi

    Penderita gagal ginjal terminal yang dilakukan hemodialisa kronis

    sering mengalami protein kalori malnitrisi. Malnutrisi akan menyebabkan

    defisiensi respon imun, sehingga penderita mudah mengalami infeksi dan

    septikemia. Ternyata semakin jelek status nutrisi semakin jelek kualitas

    hidup penderita gagal ginjal terminal.

  • Malnutrisi pada gagal ginjal terminal disebabkan oleh toksin

    uremi dan oleh prosedur hemodialisa. Anoreksi pada penderita gagal

    ginjal terminal yang dilakukan hemodialisa kronis sering terjadi, hal ini

    disebabkan oleh hemodialisa yang kurang memadai, sehingga toksin

    uremi masih menumpuk di dalam tubuh. Selain itu, toksik uremi juga

    memacu pemecahan protein dan menghambat sintesis protein. Uremi

    menyebabkan aktivitas hormon anabolik seperti insulin dan somatomedin

    menurun, sedang hormon katabolik seperti glukagon dan hormon

    paratiroid kadarnya meningkat. Adanya kelainan asam amino akan

    menyebabkan sintesis protein terganggu.

    Pada saat dilakukan hemodialisa ternyata banyak protein dan

    vitamin yang terbuang bersama dialisat. Selama hemodialisa penderita

    dapat kehilangan 10-12 gr asam amino, karena masuk ke dalam cairan

    dialisat dan toksin lainnya. Sepertiga asam amino yang terbuang tadi

    adalah asam amino esensial. Disamping apabila sewaktu hemodialisa

    digunakan cairan dialisat yang tidak mengandung glukosa, maka setiap

    kali hemodialisa akan dikeluarkan glukosa sebanyak 20-30 gr, masuk ke

    dalam dialisat untuk kemudian dibuang keluar. Oleh karena itu penderita

    gagal ginjal terminal yang dilakukan hemodialisa kronis, wajar bila

    mengalami malnutrisi protein dan kalori yang telah dilaporkan banyak

    peneliti.

    Seperti diketahui untuk evaluasi status nutrisi berdasarkan

    antropometri dan laboratorium antara lain :

    a. Berkurangnya cadangan lemak subkutan

  • b. BMI (body mass index) rendah

    c. Penurunan konsentrasi albumin, prealbumin, transferin dan protein

    visceral lainnya.

    Antropometri dapat menunjukkan kadar protein serum (kecuali

    immunoglobulin), respon imun biasanya lebih rendah dari orang normal

    yang menunjukkan penderita mengalami malnutrisi. Masukan protein

    biasanya normal, tapi masukan kalori cenderung rendah dibanding orang

    normal. Masukan protein mempunyai korelasi secara bermakna dengan

    urea nitrogen serum predialisis. Malnutrisi biasanya terjadi pada

    penderita uremia kronis, baik yang mendapat dialisis namun

    prevalensinya tidak diketahui. Dengan dasar tersebut diatas, penderita

    perlu diberikan asam amino essensial.

    Saat ini konsep protein catabolic rate (PCR) digunakan sebagai

    maker untuk status nutrisi pada penderita dengan dialisis. Hasil penelitian

    NCDS (National Cooperative Dialiyis Study) terdapat hubungan antara

    PCR dan tingkat morbiditas dan mortalitas. PCR < 0,6 berhubungan

    dengan kenaikan morbiditas dan mortalitas, PCR > 1 angka kesakitan

    dan kematian menurun.

    5. Kondisi komorbid

    Telah dikemukakan di atas bahwa pada penderita gagal ginjal

    terminal diperlukan terapi pengganti, sebab bila tidak diberi terapi

    penderita akan segera meninggal. Hemodialisa merupakan salah satu

    terapi pengganti, namun sayang tidak semua toksin uremi dapat

    dikeluarkan, sehingga masih dapat menyebabkan kelainan sistem organ

  • yang lain, antara lain kelainan sistem kardiovaskuler, sistem pernafasan,

    gastrointestinal, kelainan neurologis, kelainan muskuloskletal, kelainan

    hematologi, dan lain-lain. Menurut Brunner & Suddarth (2002),

    manifestasi klinis akibat kondisi uremi pada kardiovaskuler (hipertensi,

    piting edema), pulmoner (nafas dangkal, pernafasan kusmaul),

    gastrointestinal ( nafas bau ammonia, ulserasi atau pendarahan pada

    mulut, mual dan muntah), neurologis (lemah, letih, disorientasi, kejang,

    kelemahan pada otot), muskuloskletal (kram otot, kekuatan otot hilang).

    Selain itu penderita gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisa

    kronis mempunyai insiden hepatitis yang lebih tinggi dibanding dengan

    populasi umum. Semakin banyak kondisi kormoboid yang diderita oleh

    penderita gagal ginjal terminal semakin jelek kualitas hidup penderita.

    6. Pendidikan

    Pada penderita yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan

    mempunyai pengetahuan yang lebih luas juga memungkinkan pasien itu

    dapat mengontrol dirinya dalam mengatasi masalah yang di hadapi,

    mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, berpengalaman, dan

    mempunyai perkiraan yang tepat bagaimana mengatasi kejadian serta

    mudah mengerti tentang apa yang dianjurkan oleh petugas kesehatan,

    akan dapat mengurangi kecemasan sehingga dapat membantu individu

    tersebut dalam membuat keputusan (Sapri, 2008). Hasil penelitian ini

    didukung dengan teori dimana pengetahuan atau kognitif merupakan

    domain yang sangat penting untuk terbentuknya suatu tindakan, perilaku

  • yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak

    didasari pengetahuan (Notoatmodjo, 1985 dalam Sapri, 2008).

    7. Pekerjaan

    Pekerjaan adalah merupakan sesuatu kegiatan atau aktifitas

    seseorang yang bekerja pada orang lain atau instasi, kantor, perusahaan

    untuk memperoleh penghasilan yaitu upah atau gaji baik berupa uang

    maupun barang demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari

    (Rohmat, 2010). Penghasilan yang rendah akan berhubungan dengan

    pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang

    kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin karna

    tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau membayar

    tranportasi (Notoadmodjo,1997 dalam Indonesiannursing, 2008)).

    8. Lama menjalani hemodialisa

    Pada awal menjalani HD respon pasien seolah-olah tidak

    menerima atas kehilangan fungsi ginjalnya, marah dengan kejadian yang

    ada dan merasa sedih dengan kejadian yang dialami sehingga

    memerlukan penyesuaian diri yang lama terhadap lingkungan yang baru

    dan harus menjalani HD dua kali seminggu. Waktu yang diperlukan

    untuk beradaptasi masing-masing pasien berbeda lamanya, semakin lama

    pasien menjalani HD adaptasi pasien semakin baik karena pasien telah

    mendapat pendidikan kesehatan atau informasi yang diperlukan semakin

    banyak dari petugas kesehatan (Sapri, 2008). Hal ini didukung oleh

    pernyataan bahwa semakin lama pasien menjalani HD, maka semakin

    patuh pasien tersebut karena pasien sudah mencapai tahap accepted

  • (menerima) dengan adanya pendidikan kesehatan dari petugas kesehatan

    (Kubler-Ross, 1998 dalam Sapri 2008).

    9. Penatalaksanaan Medis

    Sartika (2009) mengatakan bahwa penatalaksanaan medis pada

    pasien hemodialisa meliputi terapi diet baik itu makanan ataupun cairan

    dan juga pertimbangan medikasi. Diet merupakan faktor penting bagi

    pasien yang menjalani hemodialisa mengingat adanya efek uremi.

    Dengan penggunaan hemodialisa yang efektif, asupan makanan dan

    cairan pasien harus dapat disesuaikan sesuai dengan diet yang

    dianjurkan. Pembatasan asupan makanan dapat berupa penyesuaian atau

    pembatasan pada asupan protein, natrium, kalium, karbohidrat. Pada

    pembatasan cairan bertujuan untuk meminimalkan resiko kelebihan

    cairan karena jika jumlah cairan tidak seimbang dapat menyebabkan

    terjadinya edema paru ataupun hipertensi. Pemberian medikasi pada

    pasien hemodialisa haruslah dipertimbangkan dengan cermat dan

    pemberian obat pada pasien hemodialisa harus diturunkan dosisnya agar

    kadar obat dalam darah dan jaringan tidak menjadi racun karena

    metabolismenya yang toksik misalnya digoksin, aminiglikoliosid,

    analgesic opiat (Mansjoer, 2001 dalam Bogor Kidney Care Forum,

    2009). Pada penatalaksanaan medis ini perlu dilakukan pemeriksaan

    penunjang (Suharjono, 2001 dalam Bogor Kidney Care Forum, 2009)

    seperti pemeriksaan labolatorium (BUN, kalium, Mg, kalsium, protein),

    pemeriksaan foto dada (edema paru), pemeriksaan EKG.

  • Ibrahim (2009) mengatakan bahwa dalam penelitiannya ia tidak

    menemukan perbedaan yang bermakna pada kualitas hidup pasien

    menurut tingkat usia, tingkat pendidikan dan lamanya menjalani

    hemodialisa. Ia mengatakan bahwa yang merupakan kunci penting dalam

    menumbuhkan persepsi positif terhadap kualitas hidup adalah dengan

    mengoptimalkan status kesehatan pasien atau meminimalisir masalah

    kesehatan yang menyertai.

    Yuliaw (2010) menyatakan dalam penelitiannya bahwa beberapa

    peneliti lain menemukan bahwa faktor yang mempengaruhi kualitas

    kehidupan secara signifikan adalah pendidikan, ras, status perkawinan. Ia

    juga menyatakan bahwa penderita yang memiliki pendidikan lebih tinggi

    akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dan juga memungkinkan

    pasien itu dapat mengontrol dirinya dalam mengatasi masalah yang di

    hadapi, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, berpengalaman, dan

    mempunyai perkiraan yang tepat bagaimana mengatasi kejadian serta

    mudah mengerti tentang apa yang dianjurkan oleh petugas kesehatan,

    akan dapat mengurangi kecemasan sehingga dapat membantu individu

    tersebut dalam membuat keputusan. Hasil penelitian ini didukung dengan

    teori dimana pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat

    penting untuk terbentuknya suatu tindakan, perilaku yang didasari

    pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari

    pengetahuan (Sapri, 2004).

    Pada usia yang lebih tua belum tentu akan lebih mengetahui bila

    tidak ditunjang dengan pengetahuan dan pengalaman yang pernah

  • dialami, sementara pada penderita yang tidak patuh dipandang sebagai

    seorang yang lalai lebih mengalami depresi, ansietas, sangat

    memperhatikan kecemasannya , dan memiliki keyakinan ego yang lebih

    lemah ditandai dengan kekurangan dalam hal pengendalian diri sendiri

    dan kurangnya penguasaan terhadap lingkungan, dan bukan hanya karena

    pengaruh tingkat usia penderita (Sapri, 2004).

    Menurut Ketua YGDI (Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia) Dr

    Mohamad Suhud (2009), pengukuran kualitas hidup terdiri dari beberapa

    faktor. Faktor tersebut meliputi simptom yang dialami selama terapi,

    kualitas interaksi sosial, fungsi kognitif pasien dan kualitas tidur.