of 29/29
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Komunikasi Terapeutik 1. Pengertian Komunikasi Terapeutik Istilah komunikasi mengandung makna bersama-sama (common, commones; Inggris), berasal dari bahasa Latin communication yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Kata sifatnya adalah communis yang artinya bersifat umum atau bersama- sama, kata kerjanya adalah communicare yang artinya berdialog, berunding atau bermusyawarah. Komunikasi merupakan proses yang dilakukan manusia untuk berinteraksi sosialnya (Wijaya, 2017). Salah satu kajian ilmu komunikasi ialah komunikasi kesehatan, yang dimana selalu dilakukan saat berhubungan dengan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya. Komunikasi yang terjalin antara perawat dan pasien disebut sebagai komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Seorang penolong atau perawat dapat membantu pasien mengatasi masalah yang dihadapinya melalui komunikasi (Suryani, 2005). Dikatakan lagi oleh Mundakir (2006), bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan, dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan. Selanjutnya Fatmawati (2010), mengatakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Komunikasi Terapeutik 1. Pengertian Komunikasi Terapeutik · 2020. 10. 15. · 5. Sikap Perawat dalam Berkomunikasi Sikap sebagai kehadiran perawat dalam

  • View
    7

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Komunikasi Terapeutik 1. Pengertian Komunikasi Terapeutik · 2020. 10....

  • 6

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Komunikasi Terapeutik

    1. Pengertian Komunikasi Terapeutik

    Istilah komunikasi mengandung makna bersama-sama (common,

    commones; Inggris), berasal dari bahasa Latin communication yang berarti

    pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si

    pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya.

    Kata sifatnya adalah communis yang artinya bersifat umum atau bersama-

    sama, kata kerjanya adalah communicare yang artinya berdialog,

    berunding atau bermusyawarah. Komunikasi merupakan proses yang

    dilakukan manusia untuk berinteraksi sosialnya (Wijaya, 2017).

    Salah satu kajian ilmu komunikasi ialah komunikasi kesehatan, yang

    dimana selalu dilakukan saat berhubungan dengan pasien, keluarga, dan

    tenaga kesehatan lainnya. Komunikasi yang terjalin antara perawat dan

    pasien disebut sebagai komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik

    adalah komunikasi yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi.

    Seorang penolong atau perawat dapat membantu pasien mengatasi

    masalah yang dihadapinya melalui komunikasi (Suryani, 2005). Dikatakan

    lagi oleh Mundakir (2006), bahwa komunikasi terapeutik adalah

    komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan, dan kegiatannya

    dipusatkan untuk kesembuhan. Selanjutnya Fatmawati (2010), mengatakan

  • 7

    pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional

    yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien.

    Komunikasi terapeutik adalah modalitas dasar intervensi utama yang

    terdiri atas teknik verbal dan nonverbal yang digunakan untuk membentuk

    hubungan antara terapis dan pasien dalam pemenuhan kebutuhan. Oleh

    karena itu, komunikasi terapeutik merupakan hal penting dalam

    kelancaran pelayanan kesehatan yang dilakukan terapis untuk mengetahui

    apa yang dirasakan dan diinginkan pasien (Mubarak, 2012).

    2. Tujuan Komunikasi Terapeutik

    Tujuan komunikasi terapeutik menurut Damaiyanti (2014), adalah:

    a. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan

    dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi

    yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.

    b. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang

    efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.

    c. Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.

    3. Manfaat Komunikasi Terapeutik

    Manfaat komunikasi terapeutik menurut Anas (2014), adalah:

    a. Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan

    pasien melalui hubungan perawat-pasien.

    b. Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, mengkaji masalah, dan

    mengevaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat.

  • 8

    4. Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik

    Menurut Mundakir (2006), untuk mengetahui apakah komunikasi

    yang dilakukan bersifat terapeutik atau tidak, maka dapat dilihat apakah

    komunikasi tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip berikut:

    a. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati,

    memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.

    b. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling

    percaya dan saling menghargai.

    c. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik

    maupun mental.

    d. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas

    berkembang tanpa rasa takut.

    e. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien

    memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah

    lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan

    masalah-masalah yang dihadapi.

    f. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap

    untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah,

    keberhasilan, amupun frustasi.

    g. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat

    mempertahankan konsistensinya.

    h. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan

    sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.

  • 9

    i. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan

    terapeutik.

    j. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan

    meyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat

    perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik mental, spiritual, dan

    gaya hidup.

    k. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap

    mengganggu.

    l. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain

    secara manusiawi.

    m. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin

    mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.

    n. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap

    diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap

    orang lain.

    5. Sikap Perawat dalam Berkomunikasi

    Sikap sebagai kehadiran perawat dalam berkomunikasi agar

    terapeutik klien mempunyai peran yang penting untuk tercapainya tujuan

    komunikasi/interaksi (hubungan). Sikap (kehadiran) yang harus

    ditunjukkan perawat dalam berkomunikasi terapeutik ada dua, yaitu sikap

    (kehadiran) secara fisik dan secara psikologis. Dalam kehadiran secara

    psikologis, ada dua dimensi, yaitu dimensi respons dan dimensi tindakan

    (Anjaswarni, 2016).

  • 10

    a. Sikap (kehadiran) secara fisik

    Sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat

    memfasilitasi komunikasi yang terapeutik sebagai berikut (Anjaswarni,

    2016):

    1) Berhadapan. Posisi berhadapan berarti bahwa dalam komunikasi

    perawat harus menghadap ke pasien, tidak boleh membelakangi,

    atau duduk menyamping. Sikap ini harus dipertahankan pada saat

    kontak dengan klien. Dengan posisi ini, perawat dapat melihat

    secara jelas apa yang tampak secara verbal maupun nonverbal

    klien. Arti posisi ini adalah saya siap membantu Anda.

    2) Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama

    berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap

    berkomunikasi.

    3) Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan

    untuk mengatakan atau mendengarkan sesuatu.

    4) Mempertahankan sikap terbuka. Selama berkomunikasi, perawat

    tidak melipat kaki atau tangan karena sikap ini menunjukkan

    keterbukaan perawat dalam berkomunikasi.

    5) Tetap relaks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara

    ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons pada klien.

    6) Berjabat tangan. Menunjukkan perhatian dan memberikan

    kenyamanan pada pasien serta penghargaan atas keberadaannya.

  • 11

    Berjabatan tangan juga dapat memberi kesan keakraban dan

    kedekatan antara perawat dan klien.

    b. Sikap (kehadiran) secara psikologis

    Dalam berkomunikasi dengan klien, mulai awal sampai akhir

    hubungan, perawat harus menunjukkan sikap (kehadiran) secara

    psikologis dengan cara mempertahankan sikap dalam dimensi respons

    dan dimensi tindakan seperti berikut (Anjaswarni, 2016) :

    1) Sikap dalam dimensi respons

    a) Ikhlas (Genuiness): perawat menyatakan dan menunjukkan

    sikap keterbukaan, jujur, tulus, dan berperan aktif dalam

    berhubungan dengan klien. Perawat merespons tidak dibuat-

    buat dan mengekspresikan perasaan yang sesungguhnya secara

    spontan.

    b) Menghargai: perawat menerima klien apa adanya. Sikap tidak

    menghakimi, tidak mengejek, tidak mengkritik, ataupun tidak

    menghina; harus ditunjukkan oleh perawat melalui, misalnya,

    duduk diam menemani klien ketika klien menangis; bersedia

    menerima permintaan klien untuk berdiskusi atau bercerita

    tentang pengalaman; bahkan minta maaf atas ucapan dan

    perilaku perawat yang menyinggung klien.

    c) Empati (empathy) merupakan kemampuan perawat untuk

    memasuki pikiran dan perasaan klien sehingga dapat

    merasakan apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan klien.

  • 12

    Melalui rasa empati, perawat dapat mengidentifikasi kebutuhan

    klien dan selanjutnya membantu klien mengatasi masalahnya.

    d) Konkret: perawat menggunakan kata-kata yang spesifik, jelas,

    dan nyata untuk menghindari keraguan dan ketidakjelasan

    penyampaian.

    2) Sikap dalam dimensi tindakan

    Dimensi ini termasuk konfrontasi, kesegaran, pengungkapan

    diri perawat, katarsis emosional, dan bermain peran. Dimensi ini

    harus diimplementasikan dalam konteks kehangatan, penerimaan,

    dan pengertian yang dibentuk oleh dimensi responsif (Anjaswarni,

    2016).

    a) Konfrontasi

    Pengekspresian perawat terhadap perbedaan perilaku

    pasien yang bermanfaat untuk memperluas kesadaran diri

    pasien. Carkhoff mengidentifikasi tiga kategori konfrontasi

    sebagai berikut (Anjaswarni, 2016):

    (1) Ketidaksesuaian antara konsep diri pasien (ekspresi pasien

    tentang dirinya) dengan ideal diri (cita-cita/keinginan

    pasien).

    (2) Ketidaksesuaian antara ekspresi nonverbal dan perilaku

    pasien.

    (3) Ketidaksesuaian antara pengalaman pasien dan perawat

    seharusnya dilakukan secara asertif bukan agresif/marah

  • 13

    (konfrontasi). Oleh karena itu, sebelum melakukan

    konfrontasi, perawat perlu mengkaji, antara lain tingkat

    hubungan saling percaya dengan pasien, waktu yang tepat,

    tingkat kecemasan, dan kekuatan koping pasien.

    Konfrontasi sangat berguna untuk pasien yang telah

    mempunyai kesadaran diri, tetapi perilakunya belum

    berubah.

    b) Kesegeraan

    Terjadi jika interaksi perawat-klien difokuskan untuk

    membantu pasien dan digunakan untuk mempelajari fungsi

    pasien dalam hubungan interpersonal lainnya. Perawat sensitif

    terhadap perasaan pasien dan berkeinginan untuk membantu

    dengan segera (Anjaswarni, 2016).

    c) Keterbukaan perawat

    Tampak ketika perawat memberikan informasi tentang

    diri, ide, nilai, perasaan, dan sikapnya sendiri untuk

    memfasilitasi kerja sama, proses belajar, katarsis, atau

    dukungan klien. Melalui penelitian yang dilakukan oleh

    Johnson, ditemukan bahwa peningkatan keterbukaan antara

    perawat klien menurunkan tingkat kecemasan perawat klien

    (Anjaswarni, 2016).

    d) Katarsis emosional

  • 14

    Klien didorong untuk membicarakan hal-hal yang sangat

    mengganggunya untuk mendapatkan efek terapeutik. Dalam hal

    ini, perawat harus dapat mengkaji kesiapan klien untuk

    mendiskusikan maslahnya. Jika klien mengalami kesulitan

    mengekspresikan perasaanya, perawat dapat membantu dengan

    mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi klien

    (Anjaswarni, 2016).

    e) Bermain peran

    Membangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan

    penghayatan klien dalam hubungan antara manusia dan

    memperdalam kemampuannya untuk melihat situasi dari sudut

    pandang lain serta memperkenankan klien untuk mencobakan

    situasi yang baru dalam lingkungan yang aman (Anjaswarni,

    2016).

    6. Teknik-Teknik Komunikasi Terapeutik

    Supaya komunikasi yang kita lakukan dapat mencapai tujuan yang

    diharapkan, seorang perawat harus menguasai teknik-teknik ber-

    komunikasi agar terapeutik dan menggunakannya secara efektif pada saat

    berinteraksi dengan klien. Berikut ini teknik komunikasi Stuart & Sundeen

    (1998 dalam Anjaswarni, 2016):

    a. Mendengarkan dengan penuh perhatian (listening)

    Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk

    mengerti seluruh pesan verbal dan nonverbal yang sedang

  • 15

    dikomunikasikan. Keterampilan mendengarkan dengan penuh

    perhatian dapat ditunjukkan dengan sikap berikut:

    1) Pandang klien ketika sedang bicara.

    2) Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk

    mendengarkan.

    3) Hindarkan gerakan yang tidak perlu.

    4) Anggukkan kepala jika klien membicarakan hal penting atau

    memerlukan umpan balik.

    5) Condongkan tubuh ke arah lawan bicara.

    b. Menunjukkan penerimaan (accepting)

    Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia

    untuk mendengarkan orang lain, tanpa menunjukkan keraguan atau

    tidak setuju. Tentu saja sebagai perawat kita tidak harus menerima

    semua perilaku klien. Perawat sebaiknya menghindarkan ekspresi

    wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti

    mengerutkan kening atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya.

    Sikap perawat yang menunjukkan penerimaan dapat diidentifikasi

    seperti perilaku berikut:

    1) Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.

    2) Memberikan umpan balik verbal yang menampakkan pengertian.

    3) Memastikan bahwa isyarat nonverbal cocok dengan komunikasi

    verbal.

  • 16

    4) Menghindarkan untuk berdebat, menghindarkan mengekspresikan

    keraguan, atau menghindari untuk mengubah pikiran klien.

    5) Perawat dapat menganggukan kepalanya atau berkata “ya” atau

    “saya mengerti apa yang bapak-ibu inginkan”.

    c. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan

    Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi

    yang spesifik mengenai klien. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan

    dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks

    sosial budaya klien.

    d. Mengulang (restating/repeating)

    Maksud mengulang adalah teknik mengulang kembali ucapan

    klien dengan bahasa perawat. Teknik ini dapat memberikan makna

    bahwa perawat memberikan umpan balik sehingga klien mengetahui

    bahwa pesannya dimengerti dan mengharapkan komunikasi berlanjut.

    e. Klarifikasi (clarification)

    Teknik ini dilakukan jika perawat ingin memperjelas maksud

    ungkapan pasien. Teknik ini digunakan jika perawat tidak mengerti,

    tidak jelas, atau tidak mendengar apa yang dibicarakan klien. Perawat

    perlu mengklarifikasi untuk menyamakan persepsi dengan klien.

    f. Memfokuskan (focusing)

    Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan

    pembicaraan sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Perawat tidak

    seharusnya memutus pembicaraan klien ketika menyampaikan masalah

  • 17

    yang penting, kecuali jika pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang

    baru. Perawat membantu klien membicarakan topik yang telah dipilih

    dan penting.

    g. Merefleksikan (reflecting/feedback)

    Perawat perlu memberikan umpan balik kepada klien dengan

    menyatakan hasil pengamatannya sehingga dapat diketahui apakah

    pesan diterima dengan benar. Perawat menguraikan kesan yang

    ditimbulkan oleh syarat nonverbal klien. Menyampaikan hasil

    pengamatan perawat sering membuat klien berkomunikasi lebih jelas

    tanpa harus bertambah memfokuskan atau mengklarifikasi pesan.

    h. Memberi informasi (informing)

    Memberikan informasi merupakan teknik yang digunakan dalam

    rangka menyampaikan informasi-informasi penting melalui pendidikan

    kesehatan. Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter, perawat

    perlu mengklarifikasi alasannya. Setelah informasi disampaikan,

    perawat memfasilitasi klien untuk membuat keputusan.

    i. Diam (silence)

    Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk

    mengorganisasi pikirannya. Penggunaan metode diam memerlukan

    keterampilan dan ketetapan waktu. Diam memungkinkan klien untuk

    berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisasi pikirannya,

    dan memproses informasi. Bagi perawat, diam berarti memberikan

    kesempatan klien untuk berpikir dan berpendapat/berbicara.

  • 18

    j. Identifikasi tema (theme identification)

    Identifikasi tema adalah menyimpulkan ide pokok/utama yang

    telah dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk

    membantu topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada

    pembicaraan berikutnya. Teknik ini penting dilakukan sebelum

    melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.

    k. Memberikan penghargaan (reward)

    Menunjukkan perubahan yang terjadi pada klien adalah upaya

    untuk menghargai klien. Penghargaan tersebut jangan sampai menjadi

    beban bagi klien yang berakibat klien melakukan segala upaya untuk

    mendapatkan pujian.

    l. Menawarkan diri

    Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal

    dengan orang lain atau klien tidak mampu untuk membuat dirinya

    dimengerti. Sering kali perawat hanya menawarkan kehadirannya, rasa

    tertarik, dan teknik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih.

    m. Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan

    Memberi kesempatan pada klien untuk berinisiatif dalam

    memilih topik pembicaraan. Perawat dapat berperan dalam

    menstimulasi klien untuk mengambil inisiatif dalam membuka

    pembicaraan.

  • 19

    n. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan

    Hal ini merupakan teknik mendengarkan yang aktif, yaitu

    perawat menganjurkan atau mengarahkan pasien untuk terus bercerita.

    Teknik ini mengindikasikan bahwa perawat sedang mengikuti apa

    yang sedang dibicarakan klien dan tertarik dengan apa yang akan

    dibicarakan selanjutnya.

    o. Refleksi

    Refleksi menganjurkan klien untuk mengemukakan serta

    menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri.

    Dengan teknik ini, dapat diindikasikan bahwa pendapat pasien adalah

    berharga.

    p. Humor

    Humor yang dimaksud adalah humor yang efektif. Humor ini

    bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara ketegangan dan

    relaksasi. Perawat harus hati-hati dalam menggunakan teknik ini

    karena ketidaktepatan penggunaan waktu dapat menyinggung perasaan

    pasien yang berakibat pada ketidakpercayaan klien kepada perawat.

    7. Tahapan (Fase) Hubungan dan Komunikasi Terapeutik Perawat-

    Pasien

    Tahapan (fase) hubungan dan komunikasi terapeutik perawat-pasien

    menurut Anjaswarni (2016), yaitu:

  • 20

    a. Fase prainteraksi

    Fase ini merupakan fase persiapan yang dapat dilakukan perawat

    sebelum berinteraksi dan berkomunikasi dengan klien. Pada fase ini,

    perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri, serta

    menganalisis kekuatan dan kelemahan profesional diri. Perawat juga

    mendapatkan data tentang klien dan jika memungkinkan

    merencanakan pertemuan pertama dengan klien. Perawat dapat

    bertanya kepada dirinya untuk mengukur kesiapan berinteraksi dan

    berkomunikasi dengan klien.

    b. Fase orientasi/introduksi

    Fase ini adalah fase awal interaksi antara perawat dan klien yang

    bertujuan untuk merencanakan apa yang akan dilakukan pada fase

    selanjutnya. Pada fase ini, perawat dapat:

    1) Memulai hubungan dan membina hubungan saling percaya.

    Kegiatan ini mengindikasi kesiapan perawat untuk membantu

    pasien;

    2) Memperjelas keluhan, masalah, atau kebutuhan klien dengan

    mengajukan pertanyaan tentang perasaan klien; serta

    3) Merencanakan kontrak/kesepakatan yang meliputi lokasi, kapan,

    dan lama pertemuan; bahan/materi yang akan diperbincangkan;

    dan mengakhir hubungan sementara.

  • 21

    Tiga kegiatan utama yang harus dilakukan perawat pada fase

    orientasi ini sebagai berikut.

    1) Memberikan salam terapeutik

    Contoh: “Assalamualaikum, selamat pagi”, dan sebagainya.

    2) Evaluasi dan validasi perasaan klien

    Contoh: “Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Ibu tampak segar hari

    ini”.

    3) Melakukan kontrak hubungan dengan klien meliputi kontrak tujuan

    interaksi, kontrak waktu, dan kontrak tempat.

    Contoh: “Tujuan saya datang ke sini adalah membantu Ibu

    menemukan masalah yang membuat Ibu selalu merasa tidak

    nyaman selama ini”, “Menurut Ibu, berapa lama waktu yang akan

    kita butuhkan untuk tujuan ini? Bagaimana kalau 15 menit?”,

    “Untuk tempat di dalam ruang ini saja atau di taman belakang?”

    c. Fase kerja

    Fase ini adalah fase terpenting karena menyangkut kualitas

    hubungan perawat-klien dalam asuhan keperawatan. Selama

    berlangsungnya fase kerja ini, perawat tidak hanya mencapai tujuan

    yang telah diinginkan bersama, tetapi yang lebih bermakna adalah

    bertujuan untuk memandirikan pasien. Pada fase ini, perawat

    menggunakan teknik-teknik komunikasi dalam berkomunikasi dengan

    klien sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (sesuai kontrak).

  • 22

    d. Fase terminasi

    Pada fase ini, perawat memberi kesempatan kepada klien untuk

    mengungkapkan keberhasilan dirinya dalam mencapai tujuan terapi

    dan ungkapan perasaannya. Selanjutnya perawat merencanakan tindak

    lanjut pertemuan dan membuat kontrak pertemuan selanjutnya bersama

    pasien. Ada tiga kegiatan utama yang harus dilakukan perawat pada

    fase terminasi ini, yaitu melakukan evaluasi subjektif dan objektif;

    merencanakan tindak lanjut interaksi; dan membuat kontrak dengan

    pasien untuk melakukan pertemuan selanjutnya.

    B. Persalinan

    1. Pengertian Persalinan

    Persalinan normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang

    dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar dengan

    presentasi belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan

    istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung

    dalam waktu kurang dari 24 jam (Rukiyah dkk., 2009).

    Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

    plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan

    melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa

    bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini dimulai dengan adanya kontraksi

    persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara progresif

    dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Sulistyawati, 2011).

  • 23

    2. Tahapan persalinan

    Tahapan persalinan menurut Rukiyah dkk (2009), adalah sebagai

    berikut:

    a. Kala I

    Pada kala I persalinan dimulainya proses persalinan yang

    ditandai dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat, dan

    menyebabkan perubahan pada serviks hingga mencapai pembukaan

    lengkap, fase kala I persalinan terdiri dari fase laten yaitu dimulai dari

    awal kontraksi hingga pembukaan mendekati 4 cm. Kontraksi mulai

    teratur tetapi lamanya masih di antara 20 – 30 detik, tidak terlalu

    mules. Fase aktif dengan tanda-tanda kontraksi di atas 3 kali dalam 10

    menit, lamanya 40 detik atau lebih dan terasa mules, pembukaan 4 cm

    hingga lengkap, penurunan bagian terbawah janin. Fase pembukaan

    dibagi 2 fase, yaitu fase laten: berlangsung selama 8 jam, pembukaan

    terjadi sangat lambat sampai pembukaan 3 cm. Fase aktif: dibagi

    dalam 3 fase yaitu fase akselerasi dalam waktu 2 jam pembukaan 3

    menjadi 4 cm menjadi 9 cm, fase deselerasi pembukaan jadi lambat

    kembali dalam 2 jam pembukaan dari 9 menjadi lengkap. Lama kala I

    untuk primigravida berlangsung 2 jam dengan pembukaan 1 cm

    perjam, sedangkan pada multigravida 8 jam dengan pembukaan 2 cm

    perjam. Komplikasi yang dapat timbul pada kala I yaitu: ketuban pecah

    dini, tali pusat menumbung, obstrupsi plasenta, gawat janin, inersia

    uteri.

  • 24

    b. Kala II

    Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir.

    Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada

    multi. Pada kala pengeluaran janin telah turun masuk ruang panggul

    sehingga terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara

    reflektoris menimbulkan rasa mengedan, karena tekanan pada rektum

    ibu merasa seperti mau buang air besar dengan tanda anus membuka.

    Pada waktu his kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka,

    perineum membuka, perineum meregang. Dengan adanya his ibu

    dipimpin untuk mengedan, maka lahir kepala diikuti oleh seluruh

    badan janin. Komplikasi yang dapat timbul pada kala II yaitu:

    eklampsi, kegawatdaruratan janin, tali pusat menumbung, penurunan

    kepala terhenti, kelelahan ibu, persalinan lama, ruptur uteri, distosia

    karena kelainan letak, infeksi intra partum, inersia uteri, tanda-tanda

    lilitan tali pusat.

    c. Kala III

    Dimulai dari setelah lahirnya bayi sampai proses pengeluaran

    plasenta. Tanda-tanda lepasnya plasenta: terjadi perubahan bentuk

    uterus dan tinggi fundus uteri, tali pusat memanjang atau terjulur

    keluar melalui vagina/vulva, adanya semburan darah secara tiba-tiba.

    Berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba

    keras dengan fundus uteri agak diatas pusat, beberapa menit kemudian

  • 25

    uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya.

    Biasanya plasenta lepas dalam 6 menit – 15 menit setelah bayi lahir

    dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.

    Pengeluaran plasenta, disertai dengan pengeluaran darah. Komplikasi

    yang dapat timbul pada kala III adalah perdarahan akibat atonia uteri,

    retensio plasenta, perlukaan jalan lahir, tanda gejala tali pusat.

    d. Kala IV

    Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama

    postpartum. Komplikasi yang dapat timbul pada kala IV adalah: sub

    involusi dikarenakan oleh uterus tidak berkontraksi, perdarahan yang

    disebabkan oleh atonia uteri, laserasi jalan lahir, sisa plasenta.

    C. Nyeri Persalinan

    1. Pengertian Nyeri

    Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan

    bersifat sangat subjektif, karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang

    dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat

    menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Hidayat,

    2008).

    Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak

    menyenangkan, bersifat sangat subjektif. Perasaan nyeri pada setiap orang

    berbeda dalam hal skala ataupun tingkatannya, dan hanya orang

    tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang

    dialaminya (Tetty, 2015).

  • 26

    Batasan atau definisi nyeri yang diusulkan oleh “The International

    Association for the Study of Pain” adalah suatu pengalaman perasaan dan

    emosi yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan

    sebenarnya ataupun yang potensial pada suatu jaringan. Nyeri merupakan

    perasaan tubuh atau bagian dari tubuh manusia, yang senantiasa tidak

    menyenangkan dan keberadaan nyeri dapat memberikan suatu pengalaman

    alam rasa (Judha, 2012).

    2. Fisiologi Nyeri

    Nyeri disebabkan oleh stimulus yang dapat menyebabkan kerusakan

    jaringan. Oleh karena itu, sensasi nyeri dapat dibedakan dengan sensasi

    lainnya, meskipun emosi seperti rasa takut dan ansietas juga dialami

    secara bersamaan sehingga mempengaruhi persepsi seseorang terhadap

    rasa nyeri. Juga harus diingat bahwa dengan adanya system saraf simpati,

    stimulus nyeri juga dapat mengakibatkan berbagai perubahan, seperti

    peningkatan frekuensi jantung, peningkatan tekanan darah, pelepasan

    adrenalin (epinefrin) kedalam aliran darah dan peningkatan kadar glukosa

    darah. Terdapat juga penurunan mortilitas lambung dan penurunan suplai

    darah ke kulit yang menyebabkan berkeringat. Dengan demikian, stimulus

    yang menyebabkan akan mengakibatkan insiden atau peristiwa sensorik

    (Fraser dkk., 2009).

    Nyeri merupakan campuran reaksi fisik, emosi, dan perilaku. Cara

    yang paling baik untuk memahami pengalaman nyeri, akan membantu

    untuk menjelaskan tiga komponen fisiologis sebagai berikut :

  • 27

    a. Resepsi: semua kerusakan selular, yang disebabkan sirkulasi thermal,

    kimiawi, atau stimulus listrik menyebabkan pelepasan substansi yang

    menghasilkan nyeri,

    b. Persepsi: titik kesadaran seseorang terhadap nyeri,

    c. Reaksi: respon fisiologis dan perilaku yang terjadi setelah

    mempersepsikan nyeri (Potter & Perry, 2005).

    3. Pengertian Nyeri Persalinan

    Ibu yang mengalami persalinan pasti mengalami nyeri. Nyeri

    persalinan adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak

    menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang nyata dan yang

    potensial. Nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang timbul,

    bila ada jaringan rusak dan hal ini akan menyebabkan individu bereaksi

    dengan cara memindahkan stimulus nyeri (Andarmoyo dan Suharti, 2013).

    Rasa nyeri dalam persalinan adalah manifestasi dari adanya

    kontraksi otot rahim. Kontraksi inilah yang menimbulkan rasa sakit pada

    pinggang. daerah perut, dan menjalar ke arah paha. Kontraksi ini

    menyebabkan adanya pembukaan mulut rahim (servik) (Judha, 2012).

    Intensitas nyeri sebanding dengan kekuatan kontraksi dan tekanan yang

    terjadi. Nyeri bertambah ketika mulut rahim dalam dilatasi penuh akibat

    tekanan bayi terhadap struktur panggul diikuti regangan dan perobekan

    jalan lahir (Andarmoyo dan Suharti, 2013).

  • 28

    4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nyeri Persalinan

    Menurut Andarmoyo dan Suharti (2013), faktor-faktor yang

    mempengaruhi nyeri persalinan, yaitu:

    a. Faktor internal

    1) Pengalaman dan pengetahuan tentang nyeri

    Pengalaman sebelumnya seperti persalinan terdahulu akan

    membantu mengatasi nyeri. Karena ibu telah memiliki koping

    terhadap nyeri. Ibu primipara dan multipara kemungkinan akan

    merespon secara berbeda terhadap nyeri walaupun menghadapi

    kondisiyang sama, yaitu persalinan. Hal ni disebabkan ibu

    multipara telah memiliki pengalaman pada persalinan sebelumnya.

    2) Usia

    Usia muda cenderung dikaitkan dengan kondisi psikologis

    yang masih labil, yang memicu terjadinya kecemasan sehingga

    nyeri yang dirasakan menjadi lebih hebat. Usia juga dipakai

    sebagai salah satu faktor dalam menentukan seiring bertambahnya

    usia dan pemahaman terhadap nyeri.

    3) Aktifitas fisik

    Aktifitas ringan bermanfaat mengalihkan perhatian dan

    mengurangi rasa sakit menjelang persalinan, selama ibu tidak

    melakukan latihan-latihan yang terlalu keras dan berat, serta

    menimbulkan keletihan pada wanita karena hal ini juga justru akan

    memicu nyeri yang lebih berat.

  • 29

    4) Kondisi psikologis

    Situasi dan kondisi psikologis yang labil memegang peranan

    penting dalam memunculkan nyeri persalinan yang lebih berat.

    Salah satu mekanisme pertahanan jiwa terhadap stress adalah

    konversi, yaitu memunculkan gangguan secara psikis menjadi

    gangguan fisik.

    b. Faktor eksternal

    1) Agama

    Semakin kuat kualitas keimanan seseorang, mekanisme

    pertahanan tubuh terhadap nyeri semakin baik karena berkaitan

    dengan kondisi psikologis yang relatif stabil.

    2) Lingkungan fisik

    Lingkungan yang terlalu ekstrem, seperti perubahan cuaca,

    panas, dingin, ramai, bising, memberikan stimulus terhadap tubuh

    yang memicu terjadinya nyeri.

    3) Budaya

    Budaya tertentu akan mempengaruhi respon seseorang

    terhadap nyeri. Ada budaya yang mengekspresikan rasa nyeri

    secara bebas, tetapi ada pula yang menganggap nyeri adalah

    sesuatu yang tidak perlu diekspresikan secara berlebihan.

    4) Support system

    Tersedianya sarana dan support system yang baik dari

    lingkungan dalam mengatasi nyeri, dukungan dari keluarga dan

  • 30

    orang terdekat sangat membantu mengurangi rangsang nyeri yang

    dialami oleh seseorang saat menghadapi persalinan.

    5) Sosial ekonomi

    Tersedianya sarana dan lingkungan yang baik dapat

    membantu mengatasi rangsang nyeri yang dialami. Sering status

    ekonomi mengikuti keadaan nyeri persalinan. Keadaan ekonomi

    yang kurang, pendidikan yang rendah, informasi yang minimal,

    dan kurang sarana kesehatan yang memadai akan menimbulkan ibu

    kurang mengetahui bagaimana mengatasi nyeri yang dialami dan

    masalah ekonomi berkaitan dengan biaya dan persiapan persalinan

    sering menimbulkan kecemasan tersendiri dalam menghadapi

    persalinan.

    6) Komunikasi

    Komunikasi tentang penyampaian informasi yang berkaitan

    dengan hal-hal seputar nyeri persalinan, bagaimana mekanismenya,

    apa penyebabnya, cara mengatasi, dan apakah hal ini wajar akan

    memberikan dampak yang positif terhadap manajemen nyeri.

    Komunikasi yang kurang akan menyebabkan ibu dan keluarga

    tidak tahu bagaimana yang harus dilakukan jika mengalami nyeri

    saat persalinan.

    5. Intensitas Nyeri

    Intensitas nyeri adalah gambaran seberapa parah nyeri dirasakan

    oleh individu. Pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual

  • 31

    dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat

    berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan

    pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon

    fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan

    teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu

    sendiri (Tamsuri, 2007).

    Menurut Potter & Perry (2005), terdapat beberapa skala nyeri yang

    dapat digunakan untuk mengetahui skala nyeri.

    a. Verbal Descriptor Scale (VDS)

    Skala pendeskripsi verbal merupakan sebuah garis yang terdiri

    dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak

    yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diurutkan dari “tidak

    terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahan”. Perawat

    menunjukkan klien tentang skala tersebut dan meminta klien untuk

    memilih intensitas nyeri terbaru yang dirasakannya. Perawat juga

    menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan

    seberapa jauh nyeri terasa tidak menyakitkan. Alat VDS ini

    memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan

    rasa nyeri.

    b. Visual Analog Scale (VAS)

    VAS merupakan suatu garis lurus yang mewakili intensitas nyeri

    yang terus menerus. Skala ini memberikan kebebasan penuh pada klien

    untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS merupakan pengukur

  • 32

    keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi

    setiap titik pada rangkaian dari pada di paksa memilih satu kata (Potter

    & Perry, 2005).

    Mengkaji intensitas nyeri sangat penting walaupun bersifat

    subyektif dan banyak dipengaruhi berbagai keadaan seperti tingkat

    kesadaran, konsentrasi dan harapan keluarga, intensitas nyeri dapat

    dijabarkan di dalam sebuah skala nyeri dengan deskriptif: tidak nyeri,

    ringan, sedang, sangat nyeri, tetapi masih dapat terkontrol, dan sangat

    nyeri tetapi tidak dapat dikontrol oleh pasien berdasarkan VAS.

    Penjelasan tentang intensitas digambarkan sebagai berikut:

    Gambar 2.1 Visual Analog Scale (VAS)

    Intensitas nyeri pada skala 0 tidak terjadi nyeri, intensitas nyeri

    ringan pada pada skala 1–3, intensitas nyeri sedang pada skala 4–6,

    intensitas nyeri berat nyeri pada skala 7–9, intensitas nyeri sangat berat

    pada skala 10 nyei tidak terkontrol. Cara penggunaan skala ini adalah:

    berilah tanda salah satu angka sesuai dengan intensitas nyeri yang

  • 33

    dirasakan pasien. VAS merupakan pengukuran nyeri yang benar dan

    sah, dapat mendeteksi perbedaaan nyeri lebih sederhana dibandingkan

    dengan skala lainnya, dan VAS lebih mudah mengaturnya

    dibandingkan dengan kumpulan pertanyaan yang berderet (Ludington

    & Dexter, 1998 dalam Astuti, 2009).

    Menurut Potter & Perry (2005), inetnsitas nyeri pada skala 0

    tidak terjadi nyeri, intensitas nyeri pada skala 1–3, rasa nyeri seperti

    gatal atau tersetrum atau nyut-nyutan atau melilit atau terpukul atau

    perih atau mulas. Intensitas nyeri pada skala 4–6, seperti keram atau

    kaku atau tertekan atau sulit bergerak atau terbakar atau ditusuk-tusuk.

    Sangat nyeri pada skala 7–9 tetapi masih dapat dikontrol oleh klien.

    Intensitas nyeri sangat berat pada skala 10 nyeri tidak terkontrol.

    c. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale

    Skala ini terdiri dari enam wajah dengan profil kartun yang

    menggambarkan mulai dari wajah yang sedang tersenyum, hal ini

    menunjukkan tidak adanya nyeri kemudian secara bertahap meningkat

    menjadi wajah kurang bahagia, wajah yang sangat sedih, sampai wajah

    yang sangat ketakutan hal ini menunjukkan adanya nyeri yang sangat

    hebat (Kozier, 2009).

  • 34

    Gambar 2.2 ( Wong-Baker Faces Pain Rating Scale )

    Keterangan dari gambar di atas adalah angka 0 menunjukkan

    sangat bahagia sebab tidak ada rasa sakit, angka 2 menunjukkan sedikit

    menyakitkan, angka 4 menunjukkan lebih menyakitkan, angka 6

    menunjukkan lebih menyakitkan lagi, angka 8 menunjukkan jauh lebih

    menyakitkan, dan angka 10 menunjukkan benar-benar menyakitkan

    (Wong, 2004).