of 22 /22
EFEK PENUAAN PADA SISTEM SARAF DAN MUSKULAR MAKALAH FAAL Oleh: Nurul Ramadhanty 160121110009 PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASAL FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

Aging Saraf Dan Otot

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Aging Saraf Dan Otot

EFEK PENUAAN PADA SISTEM SARAF DAN

MUSKULAR

MAKALAH FAAL

Oleh:

Nurul Ramadhanty

160121110009

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS

BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASAL

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

2012

Page 2: Aging Saraf Dan Otot

BAB I

PENDAHULUAN

Penuaan adalah proses yang dinamis dan kompleks yang dihasilkan oleh perubahan-

perubahan sel, fisiologis, dan psikologis. Menurut sumber lain mengatakan penuaan adalah

suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri

dan mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga lebih rentan terhadap

penyakit dan tidak dapat memperbaiki kerusakan yang diderita oleh seseorang.

Tanda-tanda  dari penuaan adalah dengan adanya perubahan anatomis, fisiologis, dan

biomekanik di dalam sel tubuh sehingga mempengaruhi fungsi sel jaringan dan organ   tubuh.

Dengan makin lanjutnya usia maka kemungkinan akan terjadinya penurunan anatomik (dan

fungsional) atas organ-organnya makin besar.

Proses menua ini tentunya berakibat terhadap penurunan dari fungsi sistem-sistem

tubuh, diantara sistem tubuh yang terpengaruh atau terganggu adalah sistem persyarafan dan

sistem muskular. Sistem persyarafan memiliki fungsi yang cukup vital dalam tubuh manusia,

dikarenakan sistem syaraf mengatur koordinasi dari organ-organ vital dalam tubuh dan juga

menjaga keseimbangan tubuh.

Page 3: Aging Saraf Dan Otot

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENUAAN PADA SISTEM NEUROLOGIS

Lansia menagalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktivitas

sehari-hari. Penuaan menyebabkan penurunan persepsi sensorik dan respon motorik pada

susunan saraf pusat dan penurunan reseptor proprioseptif. Hal ini terjadi karena susunan saraf

pusat pada lansia mengalami perubahan morfologis dan biokimia.

Struktur dan fungsi sistem saraf berubah dengan bertambahnya usia. Berkurangnya

massa otak progresif akibat berkurangnya sel saraf yang tidak bisa diganti.

Perubahan struktural yang paling terlihat terjadi pada otak itu sendiri, walaupun bagian

dari sistem saraf pusat juga terpengaruh.perubahan ukuran otak yang diakibatkan oleh atrofi

girus dan dilatasi sulkus dan ventrikel otak. Korteks cerebral adalah daerah otak yang paling

besar dipengaruhi oleh kehilangan neuron. .

Perubahan dalam sistem neurologis dapat termasuk kehilangan dan penyusutan neuron,

dengan potensial 10% kehilangan yang diketahui pada usia 80 tahun. Distribusi neuron

kolinergik, norepinefrin, dan dopamine yang tidak seimbang, dikompensasi oleh hilangnya

sel-sel, menghasilkan sedikit penurunan intelektual. Namun parkinsonisme ringan mungkin

dialami ketika reseptor penghambat dopamine dipengaruhi oleh penuaan. Peningkatan kadar

monoamine oksidase dan serotonin dan penurunan kadar norepinefrin telah diketahui, yang

mungkin dihubungkan dengan depresi pada lansia. Perubahan-perubahan ini menunjukkan

variasi yang luas diantara individu-individu.

Penurunan dopamine dan beberapa enzim dalam otak pada lansia berperan terhadap

terjadinya perubahan neurologis fungsional. Kehilangan jumlah dopamine yang lebih besar

terjadi pada klien dengan penyakit Parkinson. Defisiensi dopamine mengakibatkan ganglia

basalis menjadi terlalu aktif, sehingga menyebabkan terjadinya bradikinesia, kekakuan, dan

hilangnya mekanisme postural yang sering dilihat pada mereka yang menderita penyakit

Parkinson.

Secara fungsional, mungkin terdapat suatu perlambatan refleks tendon profunda.

Terdapat kecenderungan ke arah tremor dan langkah yang pendek-pendek atau gaya berjalan

dengan langkah kaki melebar disertai dengan berkurangnya gerakan yang sesuai. Peningkatan

tonus otot juga diketahui, dengan kaki yang lebih banyak terlibat dengan lengan, lebih kearah

proksimal daripada distal. Selain itu penurunan kekuatan otot juga terjadi, dengan kaki yang

menunjukkan kehilangan yang lebih besar lebih kearah proksimal daripada distal. Penurunan

Page 4: Aging Saraf Dan Otot

konduksi saraf perifer mungkin dialami oleh klien. Walaupun reaksi menjadi lebih lambat,

dengan penurunan atau hilangnya hentakan pergelangan kaki dan pengurangan refleks lutut,

bisep dan trisep, terutama karena pengurangan dendrite dan perubahan pada sinaps, yang

memperlambat konduksi.

Perubahan fungsional termasuk penurunan diskriminasi rangsang taktil dan

peningkatan ambang batas nyeri. Hal ini khususnya dapat secara nyata pada perubahan

baroreseptor. Namun, perubahan pada otot dan tendon mungkin merupakan factor yang

memiliki konstribusi lebih besar dibanding dengan perubahan yang nyata ini dalam arkus

reflex.

Fungsi sistem saraf otonom dan simpatis mungkin mengalami penurunan secara

keseluruhan. Plak senilis dan kekusutan neurofibril berkembang pada lansia dengan dan tanpa

dimensia. Akumulasi pigmen lipofusin neuron menurunkan kendali sistem saraf pusat

terhadap sirkulasi. Kongesti sistem saraf diperkirakan dapat menurunkan aktivitas sel dan sel

kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan dirinya sendiri. Semakin aktif sel

tersebut, semakin sedikit lipofusin yang disimpan.

Patofisiologi Defisit Neurologis

1. Fisik

Dampak dari penuaan pada SSP sukar untuk ditentukan, karena hubungan fungsi sistem

ini dengan sistem tubuh yang lain. Dengan gangguan perfusi dan terganggunya aliran darah

serebral, lansia beresiko lebih besar untuk mengalami kerusakan serebral tambahan, gagal

ginjal, penyakit pernafasan, dan kejang. Terdapat suatu pengurangan aliran darah sel saraf

serebral dan metabolisme yang telah diketahui. Dengan penurunan kecepatan konduksi saraf,

refleks yang lebih lambat, dan respon yang tertunda untuk berbagai stimulasi yang dialami,

maka terdapat pengurangan sensasi kinestetik.

2. Fungsi

Defisit fungsional pada gangguan neurologis mungkin berhubungan dengan penurunan

mobilitas pada klien lansia, yang disebabkan oleh penurunan kekuatan, rentang gerak, dan

kelenturan. Dengan berkurangnya kebebasan gerak, lansia mungkin memiliki kesukaran

untuk berdandan, toileting, dan makan. Penurunan pergerakan mungkin merupakan akibat

dari kifosis, pembesaran sendi-sendi, kejang dan penurunan tonus otot. Atrofi dan penurunan

jumlah serabut otot, dengan jaringan fibrosa secara berangsur-angsur menggantikan jaringan

otot dengan penurunan massa otot, kekuatan, dan pergerakan secara keseluruhan, lansia

Page 5: Aging Saraf Dan Otot

mungkin memperlihatkan kelemahan secara umum. Tremor otot mungkin dihubungkan

dengan degenerasi sistem ektrapiramida. Kejang dapat diakibatkan oleh cedera motor neuron

didalam SSP. Kejang yang berat dapat mengakibatkan berkurangnya fleksibilitas, postur

tubuh, dan mobilitas fungsional, juga nyeri sendi, kontraktur, dan masalah dengan pengaturan

posisi untuk memberikan kenyamanan dan hygiene. Tendon dapat mengalami sklerosis dan

penyusutan, yang menyebabkan suatu penurunan hentakan tendon. Reflex pada umumnya

tetap ada pada lutut, berkurang pada lengan, dan hamper secara total hilang pada bagian

abdomen. Kram otot mungkin merupakan suatu masalah yang sering terjadi. Defisit mobilitas

fungsional dan pergerakan membuat lansia menjadi sangat rentan untuk mengalami gangguan

integritas kulit dan jatuh.

3. Kognisi-Komunikasi

Perubahan sensasi dan persepsi dapat mengganggu penerimaan pengungkapan

informasi dan perasaan. Gangguan pengecapan, penciuman, nyeri, sentuhan, temperature, dan

merasakan posisi-posisi sendi dapat mengubah komunikasi yang kita alami. Dengan

disorientasi dan konfusi, kesadaran kita terhadap kenyataan menurun secara nyata. Penurunan

ini mungkin progresif, permanen, atau temporer, bergantung pada sifat dan tingkat kerusakan

cerebral.

Memori mungkin berubah dalam proses penuaan. Pada umumnya, memori untuk

kejadian masa lalu lebih banyak diretensi dan lebih banyak diingat dari pada informasi yang

masih baru. Deprivasi sensori dapat diakibatkan oleh kerusakan pada pusat cerebral yang

bertnggung jawab umtuk memproses stimulus. Halusinasi, disorientasi, dan konfusi mungkin

menyebabkan deprivasi sensori, bukan gangguan kemampuan mental. Sensasi dan persepsi

dapat berkurang lebih jauh lagi ketika obat depresan SSP digunakan dalam terapi

farmakologis.

Agnosia, afasia, dan apraksia mungkin terlihat pada klien dengan storke atau demensia

progresif. Agnosia adalah ketidak mampuan untuk mengenali objek yang umum (sisir, sikat

gigi, cermin) dengan menggunakan salah satu indra, walaupun indra tersebut masih utuh.

Agnosia penglihatan, pengengaran, dan taktil terkadi ketika ada kerusakan pada lobus parietal

dan oksipital, girus presental, daerah perieto-oksipital dan korpus kolosum.

Terdapat disintegrasi fonetik, semantik, atau sintaksis yang diketahui pada tingkat

produksi atau tingkat pemahaman dalam berkomunikasi. Afasia mungkin dicerminkan dalam

kata-kata klien yang samar-samar, bicara ngelantur, kesukaran dalam berbicara dan kesulitan

dalam menemukan kata-kata yang benar untuk menyatakan suatu gagasan.

Page 6: Aging Saraf Dan Otot

Apraksia adalah suatu ketidakmampuan untuk menunjukkan suatu aktivitas yang

dipelajari yang memiliki fungsi motorik yang diperlukan. Misalnya kesalahan pengguanaan

kata-kata dalam menyebutkan hal-hal tertentu dan ketidakmampuan untuk mengenali dan

menyebutkan objek umum dan orang-orang yang dikenal. Gangguan citra tubuh, ruang, jarak

dan persepsi pergerakan sering terjadi pada orang dengan stroke.

4. Persepsi-Sensoris

Panca indera mungkin menjadi kurang efisien dengan proses penuaan, bahaya bagi

keselamatan, aktivitas, kehidupan sehari-hari (AKS) yang normal dan harga diri secara

keseluruhan. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)

Meskipun semua lansia mengalami kehilangan sensorik dan sebagai akibatnya berisiko

mengalami deprivasi sensorik, namun tidak semua akan mengalami deprivasi sensorik. Salah

satu indra dapat mengganti indera dalam mengobservasi dan menerjemahkan ransangan.

(Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 179)

a. Perubahan Indera Penglihatan

Defisit sensori (misalnya, perubahan penglihatan) dapat merupakan bagian dari

penyesuaian yang berkesinambungan yang datang pada usia lanjut, perubahan penglihatan

dapat mempengaruhi pemenuhan AKS pada lansia.

Perubahan indra penglihatan pada awalnya dimulai dengan terjadinya awitan presbiopi,

kehilangan kemampuan akomodatif. Ini karena sel-sel baru terbentuk dipermukaan luar lensa

mata, maka sel tengah yang tua akan menumpuk dan menjadi kuning, kaku, padat dan

berkabu. Jadi, hanya bagian luar lensa yang masih elastic untuk berubah bentuk (akomodasi)

dan berfokus pada jarak jauh dan dekat. Karena lensa menjadi kurang fleksibel, maka titik

dekat fokus berpindah lebih jauh. Kondisi ini disebut presbiopi, biasa bermula pada usia

40an.

Kerusakan kemampuan akomodasi terjadi karena otot-otot siliaris menjadi lebih lemah

dan lebih kendur dan lensa kristalin mengalami sklerosis, dengan kehilangan elastisitas dan

kemampuan untuk memusatkan pada (penglihatan jarak dekat). Kondisi ini dapat dikoreksi

dengan lensa seperti kacamata jauh dekat (bifokal).

Ukuran pupil menurun (miosis pupil) dengan penuaan karena sfinkter pupil mengalami

sklerosis. Miosis pupil ini dapat mempersempit lapangan pandang seseorang dan

memengaruhi penglihatan perifer pada tingkat tertentu, tetapi tampaknya tidak benar-benar

mengganggu kehidupan sehari-hari.

Page 7: Aging Saraf Dan Otot

Perubahan warna (misalnya ; menguning) dan meningkatnya kekeruhan lensa yang

terjadi dari waktu ke waktu dapat menyebabkan katarak. Katarak menimbulkan berbagai

tanda dan gejala penuaan yang mengganggu penglihatan dan aktivitas setiap hari. Penglihatan

yang kabur dan seperti terdapat suatu selaput diatas mata dalah suatu gejala umum, yang

mengakibatkan kesukaran dalam memfokuskan penglihatan dan membaca. Kesukaran ini

dapat dikoreksi untuk sementara dengan penggunaan lensa.

b. Perubahan Indera Pendengaran

Perubahan indra pendengaran pada lansia disebut presbikusis. Mhoon menggambarkan

fenomena tersebut sebagai suatu penyakit simetris bilateral pada pendengaran yang

berkembang secara progreif lambat terutama memengaruhi nada tinggi dan dihubungkan

dengan penuaan.

Lansia sering tidak mampu mengikuti percakapan karena nada konsonan frekuansi

tinggi ( huruf f, s, th, ch, sh, b, t, p ) semua terdengar sama. Penyebabnya tidak diketahui,

tetapi berbagai faktor yang telah diteliti adalah nutrisi, faktor genetika, suara gaduh,

hipertensi, stress emosional, dan arteriosklerosis.

Penurunan pendengaran terutama berupa komponen konduksi yang berkaitan dengan

presbikusis. Penurunan pendengaran sensorineural terjadi saat telinga bagian dalam dan

komponen saraf tidak berfungsi dengan baik (saraf pendengaran, batang otak atau jalur

kortikal pendengaran) penyebab dari perubahan konduksi tidak diketahui, tetapi masih

mungkin berkaitan dengan perubahan pada tulang telinga tengah, dalam bagian koklear atau

didalam tulang mastoid.

c. Perubahan Indera Perabaan

Indera peraba memberikan pesan yang paling intim dan yang paling mudah untuk

diterjemahkan. Bila indera lain hilang, rabaan dapat mengurangi perasaan terasing dan

memberi perasaan sejahtera.

d. Perubahan Indera Pengecapan

Ketika seseorang telah bertambah tua, jumlah total kuncup-kuncup perasa pada lidah

mengalami penurunan dan kuncup pada lidah juga mengalami kerusakan, ini dapat

menurunkan sensitivitas pada terhadap rasa. Kuncup-kuncup perasa mengalami regenerasi

sepanjang kehidupan manusia, tetapi lansia mengalami suatu penurunan sensitivitas terhadap

rasa manis, asam, asin, dan pahit. Perubahan tersebut lebih dapat disadari oleh beberapa

Page 8: Aging Saraf Dan Otot

orang dibanding yang lainnya.

e. Perubahan Indera Penciuman

Penurunan yang paling tajam dalam sensasi penciuman terjadi selama usia pertengahan,

dan untuk sebagian orang, hal tersebut akan terus berkurang. Kecepatan penurunan sensasi

penciuman pada lansia bervariasi. Orang bereaksi terhadap bau dengan cara berbeda, dan

respon seseorang mungkin dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, etnik, dan pengalaman

sebelumnya tentang bau tersebut. Sensasi penciuman tidak secara serius dipengaruhi oleh

penuaan saja tetapi bisa terjadi oleh factor lain yang berhubungan dengan usia. Penyebab

lainnya juga dianggap sebagai pendukung untuk terjadinya kehilangan kemampuan sensasi

penciuman termasuk pilek, influenza, merokok, obstruksi hidung, secret dari hidung, sinusitis

kronis, kebiasaan tertentu dengan bau/ aroma, epitaksis, alergi, penuaan serta factor

lingkungan.

5. PERSEPSI-SENSASI

Persepsi terganggu baik pada hemiplegia bagian kanan maupun kiri. Deficit penglihatan

atau kebutaan lapangan pandang pada satu sisi, yaitu sisi yang terpengaruh, yang dikenal

dengan hemianopsia dan umumnya mengacu pada defek penglihatan bilateral. Kelainan yang

terjadi pada bagian kanan dan kiri dapat terjadi dengan atau tanpa defek lapangan pandang.

Distorsi persepsi ini membuat lansia sulit untuk menilai kedalaman dan orientasi vertikal dan

horizontal dilingkungannya. Karena dampak negatifnya pada keseimbangan duduk, persepsi

visual, mobilitas kursi roda, kesadaran terhadap keamanan, perlindungan kulit dan sendi, dan

resiko jatuh, kelalaian hemispasial ( sindrom kelalaian ) turut berperan kearah kecacatan

setelah stroke.

CEREBROVASCULAR ACCIDENT

CVA, atau stroke, merupakan penyebab utama kematian pada 144.070 orang pada

tahun 1991, tetap menjadi penyebab kematian utama ketiga di Amerika Serikat. Data statistic

dari framington Heart study menunjukkan bahwa insidensi stroke di Amerika Serikat kira

kira 500.000 setiap tahun.

Serangan stroke mungkin terjadi dengan atau tanpa peringatan serangan iskemik

temporer (Transient Ischemic Attrack) TIA sebelumnya. Stroke dapat dibedakan antara suatu

sindrom dan suatu penyakit. Sindrom stroke disebabkan oleh kelainan pembuluh darah

Page 9: Aging Saraf Dan Otot

serebra, secara kolektif disebut penyakit serebrovaskuler. Sebagian besar stroke melibatkan

distribusi vascular carotid.

Stroke thrombosis sering didahului oleh adanya satu atau lebih TIA. TIA adalah suatu

syndrome yang dimanifestasikan oleh awitan nonkonvulsi yang mendadak atau cepat dengan

deficit neurologis yang sesuai sengan daerah vaskuler yang diketahui, berlangsung kurang

dari 24 jam. Pasein dapat kembali normal kembali. TIA dapat disebabkan oleh berbagai

keadaan yang menurunkan sirkulasi darah. Contoh : keadaan tersebut termasuk hiperekstensi,

fleksi kepala ketika tidur dikursi, penurunan tekanan darah akibat anemia, obat-obatan

tertentu (diuretic dan anti hypertensi), dan merokok.

Jenis stroke yang sering terjadi stroke trombotik, emboli dan hemoragik.

Stroke trombotik dimulai dengan arteroma dan lesi ulseratif didalam pembuluh darah

besar serebral. Stroke thrombosis dihubungkan dengan pembentukan plak

aterosklerosis, paling sering terlihat dalam cabang pembuluh darah. Suatu pembuluh

darah menyempit karena adanya plak yang memperlambat atau mengganggu aliran

darah.

Stroke embolik mungkin akan terjadi ketika suatu thrombus terbentuk disuatu

pembuluh darah besar dan tiba-tiba pecah, kemudian masuk ke otak. Suatu stroke

embolik mungkin mengikuti atau terjadi secara simultan. Penyebab umum stroke

embolik adalah suatu mikroembolus yang dibawah keotak sebagai akibat dari fibriasi

atrial. Embolus bergerak dan masuk ke sistem serebral, biasanya melalui arteri

karotis. Embolus terus mengalir sampai pembuluh darah terlalu sempit untuk dilalui

lebih lanjut, menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan iskemia, yang kemudian

menimbulkan terjadinya infark.

Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya suatu pembuluh darah didalam otak,

biasanya pembuluh darah bagian dalam. Ada dua kategori stroke hemoragik:

a. Stroke hemoragik intraserebral adalah perdarah masuk kedalam jaringan otak

dari pembuluh darah kecil yang pecah, paling sering kesuatu pembuluh darah

yang berpenetrasi dalam.

b. Stroke hemoragik subarachnoid diakibatkan oleh perdarahan yang masuk

kedalam ruang subrachnoid, sering ada hubungan dengan pecahnya suatu

aneurisma; atau malformasi arteriovenosa. Hal ini menghalangi aliran darah

dan darah itu masuk kedalam jaringan.

PENYAKIT PARKINSON

Page 10: Aging Saraf Dan Otot

Satu dari setiap 100 orang yang berusia diatas 50 tahun didiagnosi menderita penyakit

Parkinson. Penyakit ini adalah penyakit neurologis yang paling diderita oleh lansia. Dari

semua orang yang didiagnosis dengan penyakit Parkinson, 50% berusia lebih dari 70 tahun.

Penyakit Parkinson lebih sering terjadi pada pria dan memiliki manifestasi lebih sering dalam

decade kelima kehidupan. Empat hipotesis yang menonjol tentang penyebab penyakit

Parkinson adalah penuaan yang dipercepat, terpajan zat beracun, predisposisi genetic, dan

stress oksidatif.

Lansia dengan penyakit Parkinson dapat menunjukkan bradikinesia, kekakuan,

hilangnya mekanisme postural,dan tremor. Dapat juga terjadi hilangnya kemampuan rentang

gerak sendi dengan fleksi pada leher, panggul, lutut, dan siku, oleh karena itu menjadikan

postur tubuh orang lanjut usia bungkuk. Gaya berjalan yang diseret dengan atau tanpa

pergerakan yang bersifat propulsive atau retropulsif, tidak adanya ayunan lengan, wajah

seperti topeng, mengeluarkan air liur, dan inkontinensia atau retensi usus dan urine juga

merupakan karakteristik penyakit Parkinson.

Gangguan kognitif seperti gangguan tidur dan halusinasi penglihatan berkembang

menjadi paranoia dan disiorentasi umumnya terjadi pada tahap-tahap lanjut dari penyakit ini.

Perubahan konsep diri dan gangguan interaksi sosial sering menurunkan kualitas hidup lansia

dengan penyakit Parkinson.

B. PENUAAN PADA SISTEM MUSKULAR

Gangguan muskuloskeletal pada usia lanjut merupakan salah satu dan demikian banyak

kasus geriatri yang lazim dijumpai di praktik sehari-hari. Pada kenyataannya, sedikit sekali

jenis kelainan muskuloskeletal yang bersifat endemis pada usia lanjut. Tidak dapat disangkal

bahwa kaum usia lanjut lebih sering menderita osteoarthritis, penggantian sendi melalui

tindakan bedah, maupun kelainan kronis pada rotator cuff. Untuk dapat memahami kelainan

muskuloskeletal pada kelompok usia lanjut, perubahan-perubahan seiring dengan

pertambahan usia yang timbul pada otot, tulang, persendian, jaringan ikat, dan persarafan

harus diketahui.

Efek dari Ketuaan dan Disuse Terhadap Tubuh

Sistem Otot

Hampir tidak mungkin dibedakan efek dari ketuaan dengan disuse pada tubuh manusia

karena keduanya saling berkaitan. Pada umumnya, seseorang yang mulai tua akan berefek

pada menurunnya aktivitas. Penurunan aktivitas akan menyebabkan kelemahan serta atropi

Page 11: Aging Saraf Dan Otot

dan mengakibatkan kesulitan untuk mempertahankan serta menyelesaikan suatu aktivitas.

Selain itu, berbagai kondisi medis yang lebih prevalen di saat usia lanjut cenderung akan

menghambat aktivitas rutin pada individu tersebut.

Perubahan yang jelas pada sistem otot saat usia lanjut adalah berkurangnya massa otot,

terutama mengenai serabut otot tipe II. Penurunan massa otot ini lebih disebabkan oleh

atropi. Namun demikian, kehilangan dari serabut otot juga dijumpai.

Perubahan ini akan menyebabkan laju metabolik basal dan laju konsumsi oksigen

maksimal berkurang. Otot menjadi lebih mudah capek dan kecepatan kontraksi akan

melambat. Selain dijumpai penurunan massa otot, juga dijumpai berkurangnya rasio otot

dengan jaringan lemak.

Perubahan-perubahan yang timbul pada sistem otot lebih disebabkan oleh disuse.

Seseorang yang selalu aktif sepanjang umurnya, cenderung lebih dapat mempertahankan

massa otot, kekuatan otot, dan koordinasi dibanding dengan mereka yang pola hidupnya

santai (sedentary). Tetapi, harus diingat bahwa latihan/olah raga yang sangat rutin pun tidak

dapat mencegah secara sempuma proses penurunan massa otot.

Jaringan Ikat

Kelenturan merupakan salah satu komponen dari kebugaran. Jaringan ikat yang tidak

fleksibel lebih mudah timbul trauma. Pada manusia usia lanjut, dijumpai kehilangan sifat

elastisitas dari jaringan ikat. Proses disuse dapat menyebabkan pengerutan dari jaringan ikat

sehingga kurang mampu mengakomodasikan berbagai pergerakan. Karena menjadi tidak

fleksibel maka kelompok usia lanjut ini kurang dapat mentoleransi berbagai pergerakan yang

berpotensi membawa kecelakaan dan lebih mudah terjatuh. Pada manusia berusia muda,

diperkirakan kelenturan, kekuatan otot, dan koordinasi merupakan bufer dari kemungkinan

trauma, tetapi bufer ini jelas berkurang, bahkan hilang pada kaum usia lanjut.

Sistem Tulang

Pada usia lanjut dijumpai proses kehilangan massa tulang dan kandungan kalsium

tubuh, serta perlambatan remodelling dari tulang. Massa tulang akan mencapai puncak pada

pertengahan usia duapuluhan (di bawah usia 30 tahun). Penurunan massa tulang lebih

dipercepat pada wanita pasca menopause. Sama halnya dengan sistem otot, proses penurunan

massa tulang ini sebagian disebabkan oleh usia dan disuse. Dengan menambah aktivitas

tubuh, dapat memperlambat proses kehilangan massa tulang, bahkan mengembalikannya

secara temporer. Tetapi, tidak terdapat bukti nyata bahwa aktivitas yang intensif dapat

Page 12: Aging Saraf Dan Otot

mencegah secara sempurna kehilangan massa tulang tersebut. Latihan yang teratur hanya

dapat memperlambat laju kehilangan massa tulang. Dengan demikian, hanya mereka yang

mampu hidup pada usia yang sangat lanjut yang mungkin akan menderita berbagai

komplikasi dari hilangnya massa tulang seperti osteoporosis dan fraktur.

BENTUK GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA USIA LANJUT

Penyakit Sendi Degeneratif (PSD)

Dengan alasan yang tidak diketahui, sendi cenderung mengalami deteriorasi seiring

dengan pertambahan usia. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau

osteoarthritis. Proses ketuaan sendiri tidak menyebabkan deteriorasi, tetapi mengkomplikasi

proses tersebut.

Pada tahap awal dari, PSD terlihat tulang rawan dari sendi mengalami kerusakan dan

timbul usaha untuk memperbaiki proses tersebut. Pada beberapa keadaan tertentu, proses

perbaikan berjalan mulus, tetapi karena proses degenerasi berjalan lebih cepat melebihi

proses perbaikan maka tulang rawan akan kehilangan kandungan proteoglikan dan kondrosit

sehingga timbul pitting serta fissura disertai erosi. Untuk menkompensasi perubahan struktur

tersebut, tulang yang berada di bawah tulang rawan akan mengalami sklerosis dan tulang

yang berada di tepi persendian akan membentuk osteofit (spurs).

Proses degenerasi pada persendian dapat dijumpai pada hampir semua manusia usia

lanjut. Namun, kenyataannya tidak sedikit dari mereka yang berusia 30 tahun atau lebih muda

juga mengalami proses tersebut pada beberapa sendi. Fenomena wear and tear dapat

merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap proses degenerasi tersebut, terutama

pada sendi yang abnormal. Faktor- faktor lain seperti predisposisi genetik, riwayat trauma

pada persendian, obesitas, nutrisi, dan overusedapat berinteraksi secara kompleks dalam

proses degenerasi sendi. Proses degenerasi sendi cenderung mengenai sendi tertentu dan

nyeri sendi tidak selalu timbul. Hingga saat ini, sulit mencari penjelasan mengapa individu

tertentu yang jelas terlihat kerusakan sendi sedemikian parah secara radiologis hanya

mengeluh sedikit nyeri dan bahkan sama sekali tidak ada keluhan. Sementara, pada individu

lain, dengan sedikit saja perubahan patologis pada sendi menyebabkan keluhan yang berat,

bahkan menyebabkan inkapasitasi (ketidakberdayaan).

Nyeri Bahu

Page 13: Aging Saraf Dan Otot

Penyebab yang tersering dijumpai adalah chronic rotator cuff tears. Terapinya serupa

dengan yang dilakukan pada kaum berusia muda, hanya pada kasus yang lebih kronis

tindakan konservatif lebih berfaedah dibanding dengan operatif. Jika telah dilakukan tindakan

operatif maka harus dicegah imobilisasi yang terlalu lama karena akan

menimbulkan capsulitis adhesiva.

Kelainan yang juga sering menyebabkan nyeri bahu pada usia lanjut adalah ruptur dari

tendon biseps. Ruptur menyebabkan pengurangan kekuatan otot biseps dan tindakan

pembedahan diperlukan untuk mengembalikan kekuatan otot biseps.

Kelainan PSD pada bahu sering menyebabkan keluhan yang berat. Pada kebanyakan

kasus caput humeri akan bermigrasi ke superior dan terkunci ke dalam akromion sehingga

akan menyebabkan nyeri yang serius. Tindakan seperti arthrodesis dapat dilakukan walau

pada kenyataannya tindakan penggantian sendi total jauh lebih berguna dalam mengurangi

nyeri dan disfungsi anggota gerak.

Nyeri bahu pada usia lanjut juga dapat disebabkan oleh adanya pengalihan nyeri dari

tempat yang lain (referred pain). Kelainan patologis yang primer umumnya terletak pada

vertebra cervicalis, otot paraspinal dan otot leher, plexus brachialis, ataupun suatu tumor paru

apical (Pancoast's tumor).

Page 14: Aging Saraf Dan Otot

DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner and Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 3. Jakarta:

EGC.

2. Darmojo dan Martono. 2004. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Edisi

ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

3. Albert ML, Knoefel JE (eds): Clinical Neurology of Aging, 2nd ed. New York,

Oxford University Press, 1994.

4. Albert MS. Memory Decline: The Boundary Between Aging And Agerelated Disease.

Ann Neurol. 51:282, 2002. [PMID: 11891821]

5. Crafr S, Cholerron B, Reger M. Aging and Cognition: What is Normal? In: Hazzard

WR, Blass JP, , er aI, eds., Principles of Geriatric Medicine & Gerontology), 5th Ed.

NY: McGraw-Hill, 2003:1370-1.

6. http://areasoft.wordpress.com. Perubahan-Perubahan yang Terjadi pada Lansia.

05/05/2008.

7. Beers MH (Ed). The Merck Manual ofGeriatrics. 3th Ed NJ: Merck & Co., Inc, 2006.