80
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang memerlukan gerak karena hampir seluruh aktifitas manusia dalam hidupnya dilakukan dengan bergerak. Dalam melakukan pekerjaan apapun profesinya manusia juga harus bergerak oleh karena itu apabila terjadi sakit atau cedera yang menyebabkan manusia terbatasi geraknya jelas akan mengurangi produktifitas kerja yang tentunya akan menurunkan pula keadaan sosial ekonomi manusia tersebut. Begitu pentingnya bergerak bagi manusia sehingga manusia akan selalu berusaha untuk mencegah supaya tidak cedera atau sakit yang menyebabkan pembatasan diri dalam bergerak. Namun, sayangnya masyarakat Indonesia masih kurang memperhatikan pentingnya pencegahan sakit atau cedera yang mengakibatkan penurunan gerak dan aktifitas fungsional tubuh ini. Salah satu usaha untuk mencegah sakit adalah dengan olahraga. Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. (AS Watson 1999). 1

peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

  • Upload
    vokhanh

  • View
    249

  • Download
    8

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang memerlukan gerak karena hampir

seluruh aktifitas manusia dalam hidupnya dilakukan dengan bergerak.

Dalam melakukan pekerjaan apapun profesinya manusia juga harus

bergerak oleh karena itu apabila terjadi sakit atau cedera yang

menyebabkan manusia terbatasi geraknya jelas akan mengurangi

produktifitas kerja yang tentunya akan menurunkan pula keadaan sosial

ekonomi manusia tersebut. Begitu pentingnya bergerak bagi manusia

sehingga manusia akan selalu berusaha untuk mencegah supaya tidak

cedera atau sakit yang menyebabkan pembatasan diri dalam bergerak.

Namun, sayangnya masyarakat Indonesia masih kurang memperhatikan

pentingnya pencegahan sakit atau cedera yang mengakibatkan penurunan

gerak dan aktifitas fungsional tubuh ini.

Salah satu usaha untuk mencegah sakit adalah dengan olahraga.

Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk

memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan

kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Olahraga merupakan

alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani

dan sosial. (AS Watson 1999).

1

Page 2: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

2

Masalahnya yang pertama adalah olahraga dirasakan bukan satu

hal yang penting ketika seseorang merasa sehat terlebih dalam lingkungan

yang serba sibuk dengan pekerjaan. Dalam sebuah polling yang

melibatkan sekitar 1100 wanita di Inggris menujukan empat dari lima

wanita tidak melakukan cukup olahraga untuk menjaga kesehatan mereka

satu dari empat bahkan tidak melakukan sama sekali dan hanya satu dari

lima yang berolahraga lima kali seminggu atau lebih dari 30 menit

(….www.pjnhk.go.id, 2010). Masalah kedua adalah seringkali olahraga

dilakukan secara tidak teratur sehingga hal ini justru lebih sering

menyebabkan kelelahan dan cedera yang membuat sesorang malas untuk

melakukan olahraga. Selain itu pemahaman tentang olahraga yang baik

dan benar dan keselamatan dalam berolahraga sering diabaikan sehingga

sering terjadi cedera saat melakukan olahraga

Atlet adalah seorang yang melakukan olahraga sebagai aktifitas

yang bertujuan yaitu untuk prestasi dan sebagai profesi sehingga mereka

akan sangat memperhatikan usaha pencegahan cedera saat berolahraga ini

namun sayangnya seringkali sebagai seorang atlet apalagi yang profesional

maka mereka akan menjalani rutinitas pelatihan dengan intensitas tinggi

dan jadwal pertandingan yang ketat sehingga mereka sering mengalami

sindroma penggunaan berlebihan/ overuse syndrome yaitu suatu cedera

dengan ciri adanya kumpulan berbagai gejala akibat penggunaan struktur

tubuh secara berlebihan. Dengan demikian atlit walaupun secara umum

memiliki kesehatan dan kebugaran yang lebih baik dibanding orang

Page 3: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

3

kebanyakan namun justru mereka lebih rentan terhadap suatu cedera yang

dapat mempengaruhi aktifitas gerak dan tentunya keadaan sosial ekonomi.

Untuk itulah sekarang ini dilakukan berbagai usaha untuk

mencegah cedera pada atlet agar mereka dapat tetap melakukan pelatihan

dan pertandingan dengan aman dan mempunyai umur prestasi yang lama.

Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang berkembang saat ini

menunjang dilakukannya penelitian mengenai tekinik – teknik dalam

mencegah cedera dan meningkatkan prestasi atlet serta mengaplikasikan

penelitian tersebut pada atlet. Sumber daya manusia yang terlibat di dalam

olahraga prestasi pun semakin banyak. Jika sebelumnya seorang atlet

hanya didampingi seorang pelatih maka sekarang ada pelatih fisik, dokter

spesialis olahraga dan fisioterapis hingga pemijat/ masseur dan manajer

atlet untuk menunjang kemampuan atlet (Kemenegpora, 2000).

Fisioterapis merupakan salah satu profesi kesehatan yang

mempunyai kompetensi dalam bidang latihan dan olahraga serta

mempunyai obyek forma gangguan gerak dan kemampuan fungsional.

Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok unutk mengembangkan, memelihara dan mengembalikan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis, mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi (Kepmenkes 1363/2001 pasal 1 ayat 2).

Sehingga fisioterapi sangat berperan didalam mengembangkan,

memelihara, dan memulihkan kemampuan fungsional klien yang

diantarnya adalah atlet olahraga

Page 4: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

4

Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah suatu fenomena

yang sering ditemui dan terdokumentasi dengan baik, sering terjadi

sebagai akibat dari latihan eksentrik yang tidak lazim atau intensitas tinggi

(Connolly et al. 2003; MacIntyre et al. 1995). Gejala-gejala yang

menyertai meliputi pemendekan otot, peningkatan kekakuan terhadap

gerak pasif, bengkak, penurunan kekuatan dan daya ledak otot, sakit lokal,

dan rasa posisisendi/ proprioception yang terganggu (Proske and Morgan

2001). Gejala - gejala akan sering muncul dalam 24 jam setelah latihan

dan biasanya menghilang setelah 3 – 4 hari (Clarkson and Sayers 1999).

DOMS ini lebih banyak terjadi pada olahraga yang banyak

melakukan gerakan yang sama dengan intensitas tinggi misal pada

olahraga berenang, bersepeda, bola basket, badminton dan sebagainya.

Untuk otot-otot yang berada di kuadran bawah maka yang sering

mengalami DOMS adalah otot erector spinae, kelompok otot adductor, otot

hamstring dan otot-otot quadriceps. Otot – otot tersebut memang otot yang

terus menerus melakukan kontraksi eksentrik dengan intensitas tinggi. Jika

melihat struktur serabut ototnya maka otot – otot tersebut adalah otot yang

dominan dengan serabut otot tipe I yaitu otot dengan tipe slow twitch yang

berfungsi sebagai stabilisator atau mempertahankan sikap tubuh dengan

kecepatan kontraktil lambat, kekuatan motor unit yang rendah, tahan

terhadap kelelahan, memiliki kapasitas aerobik yang tinggi, serta bila

terjadi patologi cenderung untuk tegang dan memendek, secara

mikroskopik otot ini berwarna merah. Jika tidak dicegah dengan cara

Page 5: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

5

pencegahan yang tepat maka akan terjadi DOMS sehingga mengakibatkan

seseorang melakukan pengurangan gerak dan aktifitas fisik karena adanya

nyeri dan pengurangan kemampuan gerak sehingga pada atlit dapat

mengganggu program latihan dan dapat menyebabkan penurunan prestasi.

Fisioterapis dapat menggunakan berbagai macam metode

intervensi untuk mencegah gejala dan tanda DOMS. Metode yang banyak

dipakai adalah melakukan gerakan serupa yang spesifik sebagaimana

olahraga yang akan dikerjakan sebelum atau sesudah olahaga, pijat

olahraga/ sport massage terutama gerakan vibrasi, peregangan/ stretching,

perendaman dengan air dingin atau es/ cryotherapy hingga elektroterapi

seperti terapi gelombang suara/ Ultrasound therapy dan Perangsangan

Saraf dengan gelombang listrik (Transcutaneus Electrotherapy Nerve

Stimulation/TENS)

Pemanasan dan pendinginan dengan melakukan latihan kontraksi

otot eksentrik ringan dengan gerakan yang spesifik sebagaimana latihan/

olahraga yang akan atau telah dilakukan dan peregangan sebelum dan

sesudah latihan/ olahraga adalah salah satu cara yang banyak dipakai

dalam mencegah terjadinya cedera termasuk DOMS. Sementara mobilisasi

saraf adalah metode yang relatif baru dan belum banyak diaplikasikan di

olahraga dalam mencegah DOMS. Adanya penelitian bahwa peregangan

yang diberikan sebelum olahraga justru melemahkan kinerja otot justru

menarik peneliti untuk melakukan penelitian yang menggabungkan

peregangan dengan mobilisasi saraf.

Page 6: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

6

Dari berbagai gejala dan tanda DOMS khususnya yang terjadi pada

otot-otot anggota gerak bawah maka yang paling mudah untuk dirasakan

secara subyektif oleh mereka yang mengalami dan diteliti secara obyektif

adalah nyeri tekan, lingkar otot-otot tungkai atas (lingkar paha) serta

kemampuan fungsi otot, yang dalam hal ini kemampuan lompat.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dalam mencegah

terjadinya DOMS perlu dilakukan penelitian mengenai perbandingan

efektifitas antara peregangan/ stretching ditambah mobilisasi saraf

khususnya pada otot punggung bawah dan otot paha atas depan dan

belakang serta saraf tepi yang mempersarafinya sebagai program

pemanasan sebelum latihan dibandingkan dengan peregangan/ stretching

ditambah mobilisasi saraf khususnya pada otot punggung bawah dan otot

paha atas depan dan belakang serta saraf tepi yang mempersarafinya

sebagai program pendinginan setelah latihan/ olahraga pada kelompok

yang gemar berolahraga basket.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis

merumuskan masalah yang diteliti adalah :

1.2.1 Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai

program pemanasan mencegah timbulnya nyeri tekan?

1.2.2 Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai

program pemanasan mencegah timbulnya pembengkakan otot – otot paha?

Page 7: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

7

1.2.3 Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai

program pemanasan memperbaiki kemampuan lompat?

1.2.4 Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai

program pendinginan mencegah timbulnya nyeri tekan?

1.2.5 Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai

program pendinginan mencegah pembengkakan otot – otot paha?

1.2.6 Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai

program pendinginan memperbaiki kemampuan lompat?

1.2.7 Apakah ada perbedaan antara peregangan otot dan mobilisasi saraf

sebelum latihan sebagai program pemanasan dan setelah latihan sebagai

program pendinginan dalam mencegah timbulnya nyeri tekan yang

merupakan sebagian gejala dan tanda DOMS?

1.2.8 Apakah ada perbedaan antara peregangan otot dan mobilisasi saraf

sebelum latihan sebagai program pemanasan dan setelah latihan sebagai

program pendinginan dalam mencegah timbulnya pembengkakan otot –

otot paha yang merupakan sebagian gejala dan tanda DOMS?

1.2.9 Apakah ada perbedaan antara peregangan otot dan mobilisasi saraf

sebelum latihan sebagai program pemanasan dan setelah latihan sebagai

program pendinginan dalam memperbaiki kemampuan lompat yang

merupakan sebagian gejala dan tanda DOMS?

Page 8: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

8

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui efektifitas peregangan otot dan mobilisasi saraf dalam

mencegah timbulnya nyeri tekan dan bengkak otot – otot paha serta

memperbaiki kemampuan lompat yang merupakan sebagian gejala dan

tanda DOMS

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf

sebelum latihan sebagai program pemanasan dapat mencegah

timbulnya nyeri tekan

2. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf

sebelum latihan sebagai program pemanasan dapat mencegah

timbulnya pembengkakan otot – otot paha

3. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf

sebelum latihan sebagai program pemanasan dapat memperbaiki

kemampuan lompat

4. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah

latihan sebagai program pendinginan dapat mencegah timbulnya nyeri

tekan

5. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah

latihan sebagai program pendinginan dapat mencegah timbulnya

pembengkakan otot – otot paha

Page 9: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

9

6. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah

latihan sebagai program pendinginan dapat memperbaiki kemampuan

lompat

7. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih

efektif dilakukan setelah latihan sebagai program pendinginan dalam

mencegah timbulnya nyeri tekan dibandingkan dengan peregangan otot

dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum latihan sebagai program

pemanasan

8. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih

efektif dilakukan setelah latihan sebagai program pendinginan dalam

mencegah pembengkakan otot – otot paha dibandingkan dengan

peregangan otot dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum latihan

sebagai program pemanasan

9. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih

efektif dilakukan setelah latihan sebagai program pendinginan dalam

memperbaiki kemampuan lompat dibandingkan dengan peregangan

otot dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum latihan sebagai

program pemanasan

Page 10: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

10

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Pengembangan ilmu pengetahuan

1. Untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan dalam

bidang fisioterapi khususnya fisiologi olahraga tentang peregangan dan

mobilisasi saraf terhadap pencegahan timbulnya nyeri tekan,

pembengkakan otot – otot paha serta memperbaiki kemampuan lompat

yang merupakan sebagian gejala dan tanda DOMS

2. Untuk melihat pengaruh peregangan dan mobilisasi saraf terhadap

pencegahan timbulnya nyeri tekan, pembesaran lingkar otot–otot

tungkai atas serta memperbaiki kemampuan lompat yang merupakan

gejala dan tanda DOMS

1.4.2 Bagi Institusi pendidikan

1. Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan informasi untuk program

fisioterapi khususnya fisiologi olahraga

2. Sebagai bahan penelitian selanjutnya

1.4.3 Bagi peneliti

1. Penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan

kesempatan bagi penulis untuk memperlajari manfaat peregangan otot

dan mobilisasi saraf terhadap terhadap pencegahan timbulnya nyeri

tekan dan bengkak otot – otot paha serta memperbaiki kemampuan

lompat yang merupakan gejala dan tanda DOMS

2. Kesempatan untuk menerapkan ilmu yang telah didapat selama

perkuliahan

Page 11: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS (DOMS)/ PEGAL OTOT

YANG TERLAMBAT MUNCUL

2.1.1 DEFINISI DOMS

Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah nama yang

diberikan oleh seorang fisiologis bernama Sonja Trierweiler, yang

mempunyai tipikal gangguan yang menyebabkan kekakuan, bengkak,

peurunan kekuatan dan nyeri pada otot (Szymanski, D. 2003). Deskripsi

tentang DOMS pertama kali secara detail diberikan oleh Hough pada tahun

1902. (Amir H Bakhtiary et al. 2007). DOMS adalah gangguan berupa

pegal otot yang terjadi akibat latihan yang tidak lazim yang menyebabkan

kerusakan pada membran sel otot sehingga meyebabkan terjadinya respon

inflamasi. DOMS sering dialami oleh semua individu yang melakukan

aktifitas fisik tanpa melihat tingkat kebugarannya dan ini adalah respon

fisiologis normal untuk meningkatkan penggunaan tenaga dan sebagai

pengenalan terhadap aktifitas fisk yang tidak dikenal sebelumnya.

Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah suatu fenomena

yang sering ditemui dan terdokumentasi dengan baik, sering terjadi

sebagai akibat dari latihan eksentrik yang tidak lazim atau intensitas tinggi

(Connolly et al. 2003; MacIntyre et al. 1995). Gejala-gejala yang

11

Page 12: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

12

menyertai meliputi pemendekan otot, peningkatan kekakuan terhadap

gerak pasif, bengkak, penurunan kekuatan dan daya ledak otot, sakit lokal,

dan rasa posisisendi/ proprioception yang terganggu (Proske and Morgan

2001). Gejala - gejala akan sering muncul dalam 24 jam setelah latihan

dan biasanya menghilang setelah 3 – 4 hari (Clarkson and Sayers 1999).

DOMS adalah sensasi ketidaknyamanan atau nyeri pada otot-otot

yang terjadi setelah melakukan latihan yang tidak biasa dilakukan atau

dengan intensitas tinggi. Pegal pada otot secara normal meningkat

intensitasnya selama 24 jam pertama setelah latihan dan mencapai

puncaknya pada 24 sampai 72 jam setelahnya, kemudian menghilang 5

sampai 7 hari setelah latihan. Gejala yang dirasakan adalah mobilitas dan

flexibilitas yang berkurang dan otot terasa sensitif saat disentuh atau

digerakkan. Ada beberapa alasan yang menerangkan mengapa DOMS

terjadi, diantaranya:

1) Robekan-robekan kecil pada otot itu sendiri

2) Terbentuknya cairan di jaringan sekitarnya

3) Spasme otot

4) Peregangan berlebih/ over stretching dan kemungkinan robekan dari

tendon dan jaringan konektif yang berhubungan dengan otot lainnya

(McCardle et al. 1986).

Semua alasan ini tidak didukung dengan berbagai hasil penelitian yang

sama. Bukti yang paling kuat menyatakan robekan mikroskopik pada otot

Page 13: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

13

dan kerusakan pada jaringan konektif yang berhubungan dengan otot

adalah faktor utama yang terlibat dalam timbulnya DOMS.

DOMS dilaporkan sebagai kejadian yang paling sering terjadi pada

peserta lomba lari marathon dan kompetisi angkat besi (Sohan P. Selkar et

al 2009).

2.1.2 PATOFISIOLOGI DOMS

Proses terjadinya DOMS sampai saat ini masih belum jelas namun

sebelumnya DOMS dihubungkan dengan pembentukan asam laktat di

dalam otot setelah kerja atau olahraga yang intens namun sekarang

terbukti bahwa ternyata asumsi ini tidak berhubungan langsung dengan

kejadian DOMS.

DOMS sering ditimbulkan terutama oleh latihan eksentrik seperti

lari menuruni bukit/ downhill running, plyometrics, dan latihan dengan

tahanan/ resistance training. Berbagai latihan ini menyebabkan kerusakan

pada sel membran otot sehingga akan memulai terjadinya respon

inflamasi, menyebabkan pembentukan produk-produk sampah metabolik,

yang berperan sebagai stimulus kimiawi kepada ujung saraf/ nerve

endings. Kontraksi eksentrik yang terjadi saat otot yang aktif sedang

memanjang ini berhubungan dengan kenaikan yang terlambat pada tingkat

serum dari enzyme spesifik otot seperti creatine kinase (CK) sehingga

menyebabkan kerusakan serabut otot (Jones et al. 1989). Karena itu latihan

yang menyebabkan kerusakan otot/ exercise-induced muscle damage

Page 14: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

14

seharusnya dihubungkan dengan inflamasi aseptik. Ini didukung beberapa

bukti bahwa otot yang terkena mengalami nyeri dan bengkak dan dari

pemeriksaan histologis dengan dari sampel biopsi mengindikasikan

disrupsi ultrastructural dari beberapa serabut otot (Newham 1988; Lieber

et al. 1991), infiltratsi leucocytes (Jones et al. 1986), degranulasi sel mast

dan peningkatan konstituen plasma di dalam ruang extracellular (Stauber

et al. 1990).

Gambar 1

Mikroskop elektron menunjukkan pola yang normal dari protein-protein otot (serabut yang secara teratur terulang disebut Z discs)

Gambar 2

Mikroskop elektron menunjukkan serabut yang terbelah (disebut cucuran Z disc)

Page 15: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

15

Delayed-onset muscle soreness yang terjadi setelah latihan yang

tidak lazim atau setelah latihan eksentrik berhubungan dengan inflasmasi,

nekrosis jaringan dan pengeluaran enzim-enzim otot. Percobaan ini

meginvestigasi lama waktu perubahan pada leukosit yang dalam sirkulasi

dan tingkat serum dari beberapa reaktan pada fase akut, aktivitas serum

creatine kinase (CK) dan nyeri otot setelah latihan naik turun bangku

selama 40 menit pada subyek yang sehat namun tidak terlatih. Nyeri pegal

otot tungkai terbesar terjadi 2 hari setelah latihan. Nilai puncak serum CK

[mean (SD) 540 (502) IU.l-1] terjadi 1-7 hari setelah latihan. Serum C-

reactive protein (CRP) tidak berubah dari level pre-exercise [7.8 (3.4)

mg.l-1] sampai segera setelah latihan [7.9 (2.3) mg.1-1] tetapi meningkat

pada puncak 17.0 (3.9) mg.1-1, 1 hari setelah latihan, setelah itu turun ke

level basal. Tingkat serum besi dan zinc turun dibanding pre-exercise pada

1 – 3 hari post-exercise. Serum albumin, IgG and IgM turun dibanding

tingkat pre-exercise dari 1 hari post-exercise, mencapai nilai minimal

(sekitar 80% dari tingkat basal) pada 7 hari post-exercise. Dua dan tiga

hari setelah latihan, jumlah leuksoit total, neutrophils, monocytes dan

basophils turun 15-20% dibawah tingkat pre-exercise, dimana

lymphocytes, eosinophils dan platelets tidak berubah. Hasil ini

menunjukkan bahwa respon inflamasi fase akut dimulai dalam 1 hari dari

latihan yang menyebabkan DOMS dan nekrosis jaringan yang terjadi

kemudian yang dapat terjadi tidak disertai perubahan tanda yang lebih jauh

pada reaktan fase akut seperti CRP. (Michael Gleeson et al 1995)

Page 16: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

16

2.1.3 BERBAGAI MACAM TEKNIK TERAPI UNTUK

MENCEGAH DOMS

Atlet-atlet elit sering mudah terkena kerusakan otot karena otot-

ototnya secara reguler dikenai kontraksi intensitas tinggi berulang (Allen

et al. 2004). Saat ini, penggunaan berbagai bentuk hidroterapi seperti cold

water immersion (CWI), hot water immersion (HWI), dan contrast water

therapy (CWT) sebagai intervensi recovery setelah latihan telah mendapat

popularitas dan sekarang adalah praktik yang biasa di dalam lingkungan

keolahragaan yang elit (Cochrane 2004; Vaile et al. 2007).

Berbagai macam bentuk cryotherapy menunjukkan dapat menghasilkan

repon-respon fisiologis yang berbagai macam meliputi menurunkan

pembengkakan (Yanagisawa et al. 2004), temperature jaringan

(Enwemeka et al. 2002), denyut jantung (heart rate) dan curah jantung

(cardiac output) (Sramek et al. 2000), meningkatkan pembersihan creatine

kinase (Eston and Peters 1999) dan efek-efek analgesik, menghasilkan

perubahan persepsi nyeri dan ketidaknyamanan (Bailey et al.2007).

Bagaimanapun, nampak ada konflik kesimpulan mengenai efek CWI pada

performa, dengan beberapa studi menyimpulkan efek-efek yang

menguntungkan (Bailey et al. 2007; Burke et al. 2000; Lane and Wenger

2004) dan yang lain yang mengindikasikan perubahan-perubahan yang

tidak berarti (Isabell et al. 1992; Paddon-Jones and Quigley 1997;

Sellwood et al. 2007; Yamane et al.2006). Sebaliknya, meskipun terbatas

risetnya, HWI mempengaruhi tubuh secara berbeda berupa kenaikan HR,

Page 17: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

17

cardiac output dan temperatur jaringan dan dapat meningkatkan respon

inflamasi (Wilcock et al. 2006). Contrast water therapy (CWT)

memasukkan kombinasi efek dari CWI dan HWI. Riset mengenai efek

fisiologis CWT dan perannya dalam mengembalikan atau mempertahnkan

performa setelah latihan yang mengakibatkan kelelahan otot masih

terbatas fatigue, pengetahuan saai ini menyarankan CWT menjadi

intervensi yang menjanjikan pemulihan/ recovery (CoVey et al. 2004; Gill

et al. 2006; Vaile et al. 2007).

Juga terlihat bahwa latihan eksentrik yang ringan melindungi atlet

dari DOMS. Penelitian Balnave dan Thompson menguak bahwa latihan

dengan kotraksi eksentrik otot sebagai program dasar pemanasan dapat

melindungi atlet dari kerusakan otot yang terlihat ataupun tidak. Yang juga

didukung oleh penelitian Schwane et al. Hortobagyi T et al. meneliti

respon adaptif pada pemanjangan dan pemendekan otot quadriceps pada

manusia. Studi ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap latihan dengan

kontraksi eksentrik berhubungan dengan adaptasi neural dan hipertrofi otot

yang lebih besar daripada latihan konsentrik. Johansson et al. menysatakan

bahwa latihan eksentrik mempunyai efek pencegahan pada pegal otot/

muscle soreness, gangguan keempukan otot/ tenderness dan kehilangan

daya. Armstrong juga menyatakan pandangan yang serupa juga bahwa

latihan yang spesifik terdahulu dari otot yang teribat dapat menjadi

pencegahan untuk DOMS. Studi saat ini dengan bantuan visual analog

scale mempunyai penemuan yang kontradiktif dibanding studi diatas.

Page 18: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

18

Studi saat ini menunjukkan bahwa DOMS dapat dicegah sampai tingkat

tertentu dan keempukan otot dapat diturunkan dengan latihan otot

eksentrik. Penemuan pada studi saat ini menunjukkan bahwa khasiat

latihan otot eccentric quadriceps femoris mengurangi keparahan DOMS

pada subyek atletik. Latihan otot eksentrik ini karenanya dapat diberikan

sebagai komponen tambahan pada program pemanasan/ warm up seorang

atlet terutama latihan otot eksentrik mungkin vital dalam mengurangi

DOMS otot qudriceps pada pelari jarak jauh.

Peregangan otot/ stretching sering digunakan untuk memfasilitasi

pemulihan setelah latihan yang intensif meskipun hal ini telah

didiskusikan kontroversinya sehubungan dengan khasiatnya. Program

peregangan gagal untuk mengurangi terjadinya atau membesarnya

kerusakan otot setelah latihan yang intensif. Mempertimbangkan sifat

fisiologis dari muscle spindle maka kita mungkin berharap beberapa efek

stretching pada tonus otot dan pengurangannya seharusnya bermakna pada

pemulihan fungsional otot yang digunakan berlebih/ overexerted.

Perubahan pada aktivitas EMG menemukan setelah peregangan dari otot

yang dilatih dalam hal pengurangan tonus otot. Stretching sendiri telah

menunjukkan dapat merangsang peningkatan aktifitas serum creatine

kinase secara moderat yang bagaimanapun jauh lebih sedikit dibanding

peningkatan yang ditemukan setelah latihan yang berat.

Page 19: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

19

2.2 PEREGANGAN/ STRETCHING

Stretching atau peregangan merupakan istilah umum yang

digunakan untuk menggambarkan suatu manuver terapeutik yang

bertujuan untuk memanjangkan struktur jaringan lunak yang memendek

secara patologis maupun non patologis sehingga dapat meningkatkan Luas

Gerak Sendi (LGS). Pada umumnya stretching dibagi dalam dua

kelompok yaitu aktif stretching (peregangan aktif) latihan fleksibilitas dan

pasif stretching (peregangan pasif). Ada beberapa tipe stretching yaitu:

auto stretching (peregangan aktif) latihan fleksibilitas, stretching pasif dan

contract relax stretching. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam

melakukan stretching, yaitu fleksibilitas dan peregangan berlebih/

overstretch. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk menggerakan sendi

atau beberapa sendi melalui LGS yang bebas nyeri. Fleksibilitas

bergantung pada ekstensibilitas otot, yang menyebabkan otot dapat

melewati suatu sendi dengan relaks, memanjang dan berada dalam medan

gaya stretch. Arthrokinematik dari sendi yang bergerak serta kemampuan

jaringan konektif periartikular untuk berubah bentuk (memanjang) juga

mempengaruhi LGS sendi dan fleksibilitas secara keseluruhan. Seringkali

istilah “fleksibilitas” digunakan merujuk lebih spesifik pada kemampuan

unit muskulotendinogen untuk memanjang sebagaimana segmen tubuh

atau sendi bergerak melalui LGS penuh.

Fleksibilitas dinamik merupakan LGS yang dilakukan sendi secara

aktif. Aspek fleksibilitas ini bergantung pada derajat LGS sendi yang

Page 20: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

20

dihasilkan oleh kontraksi otot dan besarnya tahanan jaringan yang terulur

selama pergerakan aktif.

Fleksibilitas pasif merupakan derajat LGS sendi yang secara pasif

dapat digerakkan melalui LGS yang ada dan bergantung pada

ekstensibilitas otot dan jaringan konektif yang melewati dan mengelilingi

sendi. Pasif fleksibilitas biasanya merupakan prasyarat untuk dinamik

fleksibilitas, tetapi tidak mutlak.

Sementara peregangan berlebih/ Overstretch adalah suatu

peregangan melampaui LGS normal sendi dan jaringan lunak disekitarnya,

sehinga menghasilkan hipermobilitas. Overstretch diperlukan bagi orang-

orang tertentu yang sehat dengan kekuatan dan stabilitas normal yaitu

orang-orang tertentu berperan aktif dalam olahraga yang memerlukan

fleksibilitas berlebihan. Overstretch menjadi abnormal ketika struktur

penopang sendi dan kekuatan otot disekitar sendi tidak cukup dan tidak

dapat mempetahankan stabilitas sendi dan posisi fungsional selama

aktivitas. Kondisi ini seringkali dikenal sebagai “stretch weakness”.

Peregangan/ Stretching diindikasikan untuk berbagai kasus antara

lain:

- Miostatik kontraktur: merupakan kasus yang paling sering terjadi

biasanya tanpa disertai patologis pada jaringan lunak (soft tissue) dan

dapat diatasi dengan gentle stretching exercise dalam waktu yang

pendek misalnya pada otot hamstring, otot rektus femoris dan otot

gastroknemius.

Page 21: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

21

- Scar Tissue Contracture Adhession: paling sering terjadi pada kapsul

sendi bahu dan bila pasien menggerakkan bahu terdapat nyeri sehingga

pasien cenderung melakukan imobilisasi akibatnya kadar

glikoaminoglikans dan air dalam sendi berkurang sehingga fleksibilitas

dan ekstensibilitas sendi berkurang.

- Fibrotic Adhession: kasus yang lebih berat dari kondisi kedua di atas

karena biasanya bersifat kronis dan terdapat jaringan fibrotik sepeti

pada kondisi tortikolis.

- Kontraktur: biasanya digunakan untuk mengembalikan lingkup gerak

sendi dengan tindakan operatif karena dengan penanganan manual

tidak menghasilkan dampak yang baik.

Sementara kontraindikasi dari stretching antara lain

- Terdapat fraktur yang masih baru pada daerah persendian otot yang

akan diregang,

- Post immobilisasi yang lama karena otot sudah kehilangan tensile

strength,

- Ditemukan adanya tanda-tanda inflamasi akut.

Page 22: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

22

2.2.1 KONSEP DASAR DAN KONSEP NEUROFISIOLOGIS

PEREGANGAN

Sebelum menerapkan teknik stretching ada beberapa konsep dasar

dan konsep neurofisiologis yang berperan penting saat terjadi stretching

otot seperti propioseptor, stretch refleks dan komponennya, reaksi

pemanjangan otot dan juga resiprokal inhibisi.

2.2.1.1 Propioseptor

Akhir suatu serabut saraf yang menerima seluruh informasi tentang

sistem muskuloskeletal dan menyampaikannya kepada sistem saraf pusat

dikenal dengan nama propioseptor. Propioseptor juga disebut dengan

nama mekanoreseptor yang merupakan sumber dari seluruh propiosepsi

yaitu persepsi tentang gerak dan posisi tubuh. Propioseptor mendeteksi

setiap perubahan gerak dan posisi tubuh, tegangan atau usaha yang terjadi

di dalam tubuh. Propioseptor dapat ditemukan diseluruh akhir serabut

saraf pada sendi, otot, dan tendon. Propioseptor yang berhubungan dengan

stretching otot terletak di tendon dan di serabut otot.

Ada dua jenis serabut otot yaitu serabut intrafusal dan serabut

ekstrafusal. Serabut ekstrafusal merupakan satu-satunya yang mengandung

miofibril sehingga sering disamakan artinya dengan serabut otot.

Sedangkan serabut intrafusal disebut sebagai spindel otot dan terletak

sejajar dengan serabut ekstrafusal. Pada saat serabut ekstrafusal

memanjang maka serabut intrafusal juga memanjang (spindel otot juga

ikut memanjang).

Page 23: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

23

Spindel otot atau reseptor stretch merupakan propioseptor pertama

dan terutama di dalam otot. Adalah organ sensoris utama pada otot yang

terdiri dari serabut kecil intrafusal yang terletak sejajar dengan serabut

ekstrafusal. Spindel otot atau reseptor stretch merupakan propioseptor

utama di dalam otot. Spindel otot terdiri dari dua serabut yang sensitif

terhadap perubahan panjang otot. Spindel otot berfungsi memonitor

kecepatan dan durasi penguluran sehingga pada saat otot terulur maka

serabut intrafusal dan ekstrafusal akan terulur. Pada saat otot di stretch

secara aktif dengan perlahan dan lembut, spindel otot tidak terstimulasi

optimal. Bila di stretch secara tiba-tiba, maka spindle otot akan

terstimulasi dan berkontraksi dan menahan perubahan panjang pada otot

karena adanya stretch reflex pada muscle spindle.

Propioseptor kedua yang ikut berperan selama proses stretching

otot terjadi berlokasi di tendon dekat dengan akhir serabut otot yang

disebut dengan golgi tendon organ yaitu suatu mekanisme proteksi yang

menginhibisi kontraksi otot dan memiliki treshold yang sangat lambat

untuk melaju setelah otot berkontraksi serta mempunyai treshold yang

tinggi saat dilakukan penguluran secara pasif. Golgi tendo organ

dikelilingi oleh ujung serabut ekstrafusal yang peka terhadap tegangan otot

yang disebabkan oleh pemberian pasif stretching. Pada saat otot

berkontraksi akan mengakibatkan peningkatan tegangan pada tendon

dimana golgi tendon terletak. Golgi tendon organ sensitif terhadap

perubahan tegangan dan menilai rata-rata tegangan dalam otot. Bila

Page 24: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

24

penyebaran tegangan meluas maka golgi tendon organ melaju dan

menimbulkan rileksasi otot. Ketika otot di stretch secara aktif dengan

perlahan dan lembut, maka golgi tendon akan terstimulasi optimal,

sehingga penguluran akan terjadi pada serabut otot serta fascia dimana

jumlah sarkomer bertambah dan fascia terulur.

Tipe ketiga dari propioseptor disebut dengan pacinian corpuscle

yang terletak dekat dengan golgi tendon organ dan bertanggung jawab

untuk mendeteksi perubahan gerak dan tekanan dalam tubuh.

2.2.1.2 Reflek regang/ Stretch Reflexs dan Komponennya

Pada saat otot terulur maka spindel otot juga terulur. Spindel otot

akan melaporkan perubahan panjang dan seberapa cepat perubahan

panjang itu terjadi serta memberikan sinyal ke medula spinalis untuk

meneruskan informasi ini ke susunan saraf pusat. Spindel otot akan

memicu stretch refleks yang biasa disebut juga dengan refleks miostatis

untuk mencoba menahan perubahan panjang otot yang terjadi dengan cara

otot yang diulur tadi kemudian berkontraksi. Semakin tiba-tiba terjadi

perubahan panjang otot maka akan menyebabkan otot berkontraksi

semakin kuat. Fungsi dasar spindel otot ini membantu memelihara tonus

otot dan mencegah cidera otot.

Salah satu alasan untuk mempertahankan suatu penguluran dalam

jangka waktu yang lama adalah pada saat otot dipertahankan pada posisi

terulur maka spindel otot akan terbiasa dengan panjang otot yang baru dan

Page 25: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

25

akan mengurangi sinyal tadi. Secara bertahap reseptor stretch akan terlatih

untuk memberikan panjang yang lebih besar lagi terhadap otot.

Stretch refleks mempunyai dua komponen yaitu komponen statis

dan komponen dinamis. Komponen statis ditemukan di sepanjang pada

saat otot terulur. Komponen dinamis ditemukan hanya pada akhir saat otot

diulur dan responnya menyebabkan perubahan panjang otot yang segera.

Alasan yang mendasari stretch refleks mempunyai dua komponen adalah

karena terdapat dua serabut otot intrafusal yaitu serabut rantai nuklear

(nuclear chain fibers) yang bertanggung jawab untuk komponen statis dan

serabut tas nuklear (nuclear bag fibers) yang bertanggung jawab untuk

komponen dinamis.

Serabut rantai nuklear (nuclear chain fibers) panjang dan tipis dan

segera memanjang pada saat diulur. Pada saat serabut ini diulur saraf

stretch refleks akan meningkatkan tingkat sinyalnya yang diikuti dengan

segera peningkatan panjang otot. Hal ini merupakan komponen statis

stretch refleks. Serabut tas nuklear (nuclear bag fibers) berkumpul

ditengah otot sehingga mereka lebih elastis. Nerve ending stretching pada

serabut ini terbungkus di daerah tengah yang memanjang dengan cepat

saat serabut otot terulur. Daerah tengah bagian luar adalah kebalikannya

beraksi seperti terisi cairan kental yang menghambat kecepatan penguluran

dan kemudian memanjang di bawah pengaruh tegangan otot yang panjang.

Jadi ketika menginginkan penguluran yang cepat pada serabut ini daerah

tengah luar memanjang dan daerah tengah menjadi sangat memendek.

Page 26: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

26

2.2.2 RESPON MEKANIK DAN NEUROFISIOLOGI PADA

OTOT TERHADAP PEREGANGAN/ STRETCHING

Stretching yang diberikan pada otot maka akan memiliki pengaruh

yang pertama akan terjadi pada komponen elastin (aktin dan miosin) dan

tegangan dalam otot meningkat dengan tajam, sarkomer memanjang dan

bila dilakukan terus-menerus otot akan beradaptasi dan hal ini hanya

bertahan sementara untuk mendapatkan panjang otot yang diinginkan

Respon mekanik otot terhadap peregangan bergantung pada

myofibril dan sarkomer otot. Setiap otot tersusun dari beberapa serabut

otot. Satu serabut otot terdiri atas beberapa myofibril. Serabut myofibril

tersusun dari beberapa sarkomer yang terletak sejajar dengan serabut otot.

Sarkomer merupakan unit kontraktil dari myofibril dan terdiri atas filamen

aktin dan miosin yang saling tumpang tindih. Sarkomer memberikan

kemampuan pada otot untuk berkontraksi dan relaksasi, serta mempunyai

kemampuan elastisitas jika diregangkan.

Ketika otot secara pasif diregang, maka pemanjangan awal terjadi

pada rangkaian komponen elastis (sarkomer) dan tension meningkat secara

drastis. Kemudian, ketika gaya regangan dilepaskan maka setiap sarkomer

akan kembali ke posisi resting length. Kecenderungan otot untuk kembali

ke posisi resting length setelah peregangan disebut dengan elastisitas.

Respon neurofisiologi otot terhadap peregangan bergantung pada

struktur muscle spindle dan golgi tendon organ. Ketika otot diregang

dengan sangat cepat, maka serabut afferent primer merangsang α (alpha)

Page 27: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

27

motorneuron pada medulla spinalis dan memfasilitasi kontraksi serabut

ekstrafusal yaitu meningkatkan ketegangan (tension) pada otot. Hal ini

dinamakan dengan monosynaptik stretch refleks. Tetapi jika peregangan

dilakukan secara lambat pada otot, maka golgi tendon organ terstimulasi

dan menginhibisi ketegangan pada otot sehinggga memberikan

pemanjangan pada komponen elastik otot yang paralel.

Gambar 3. Struktur otot rangka

Page 28: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

28

2.2.3 PEREGANGAN METODE KONTRAKSI RILEKSASI/

CONTRACT RELAX STRETCHING

Contract relax stretching merupakan kombinasi dari tipe stretching

isometrik dengan stretching pasif. Dikatakan demikian karena teknik

contract relax stretching yang dilakukan memberikan kontraksi isometrik

pada otot yang memendek dan kemudian dilanjutkan dengan rileksasi dan

stretching pasif pada otot tersebut. Adapun tujuan dari pemberian contract

relax stretching adalah untuk memanjangkan/ mengulur struktur jaringan

lunak (soft tissue) seperti otot, fasia tendon dan ligamen yang memendek

secara patologis maupun non patologis sehingga dapat meningkatkan

lingkup gerak sendi dan mengurangi nyeri akibat spasme, pemendekan

otot/ akibat fibrosis.

Secara umum contract relax stretching dilakukan untuk

mendapatkan efek rileksasi dan pengembalian panjang dari otot dan

jaringan ikat. Jaringan ikat membutuhkan waktu 20 detik untuk mencapai

efek rileksasi sedangkan otot membutuhkan waktu 2 menit untuk dapat

mencapai efek rileksasi. Efek contract relax stretching jangka panjang

pada manusia didapatkan bahwa individu yang mendapatkan contract

relax stretching dengan durasi 15-45 detik menunjukkan panjang otot

yang maksimum. Contract relax stretching dengan durasi 20 dan 30 detik

dapat mencapai efek yang maksimal pada minggu ke-7 dan contract relax

stretching dengan durasi 10 detik mencapai efek maksimal pada minggu

ke-10 sedangkan contract relax stretching yang diberikan dengan durasi

Page 29: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

29

30 detik dapat menghasilkan efek maksimal pada minggu keenam dan

ketujuh.

Dalam penerapan prosedur contract relax stretching pasien

menunjukkan suatu kontraksi isometrik dari otot yang mengalami

ketegangan sebelum secara pasif otot dipanjangkan. Alasan penerapan

teknik ini adalah bahwa kontraksi isometrik yang diberikan sebelum

stretching dari otot yang mengalami ketegangan akan menghasilkan

rileksasi sebagai hasil dari autogenic inhibition. Adanya kontraksi

isometrik akan membantu menggerakkan stretch reseptor dari spindel otot

untuk segera menyesuaikan panjang panjang otot yang maksimal. Golgi

tendon organ dapat terlibat dan menghambat ketegangan otot sehingga

otot dapat dengan mudah dipanjangkan.

Respon Otot Terhadap Contract Relax Stretching pada dasarnya

terjadi pada komponen elastik (aktin dan miosin) dan tegangan dalam otot

meningkat dengan tajam, sarkomer memanjang dan bila hal ini dilakukan

terus-menerus otot akan beradaptasi dan hal ini hanya bertahan sementara

untuk mendapatkan panjang otot yang diinginkan (Kischner & Colby,

2007). Contract relax stretching yang dilakukan pada serabut otot pertama

kali mempengaruhi sarkomer yang merupakan unit kontraksi dasar pada

serabut otot. Pada saat sarkomer berkontraksi area yang tumpang tindih

antara komponen miofilamen tebal dan komponen miofilamen tipis akan

meningkat. Apabila terjadi penguluran (stretch) area yang tumpang tindih

ini akan berkurang yang menyebabkan serabut otot memanjang. Pada saat

Page 30: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

30

serabut otot berada pada posisi memanjang yang maksimum maka seluruh

sarkomer terulur secara penuh dan memberikan dorongan kepada jaringan

penghubung yang ada disekitarnya. Sehingga pada saat ketegangan

meningkat serabut kolagen pada jaringan penghubung berubah posisinya

di sepanjang diterimanya dorongan tersebut. Oleh sebab itu pada saat

terjadi suatu penguluran maka serabut otot akan terulur penuh melebihi

panjang serabut otot itu pada kondisi normal yang dihasilkan oleh

sarkomer. Ketika penguluran terjadi hal ini menyebabkan serabut yang

berada pada posisi yang tidak teratur dirubah posisinya sehingga menjadi

lurus sesuai dengan arah ketegangan yang diterima. Perubahan dan

pelurusan posisi ini memulihkan jaringan parut untuk kembali normal.

Mekanisme Penambahan Panjang Otot dengan dengan intervensi

contract relax stretching adalah dengan kontraksi isometrik pada contract

relax stretching akan meningkatkan rileksasi otot melalui pelepasan

analgesik endogenus opiat sehingga nyeri regang dapat diturunkan atau

dihilangkan. Adanya komponen stretching pada contract relax stretching

maka panjang otot dapat dikembalikan dengan mengaktifasi golgi tendon

organ sehingga rileksasi dapat dicapai dan nyeri akibat ketegangan otot

dapat diturunkan dan mata rantai viscous circle dapat diputuskan.

Pemberian intervensi contract relax stretching dapat megurangi iritasi

terhadap saraf Aδ dan C yang menimbulkan nyeri akibat adanya abnormal

crosslinks dapat diturunkan. Hal ini dapat terjadi karena pada saat

diberikan intervensi contract relax stretching serabut otot ditarik keluar

Page 31: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

31

sampai panjang sarkomer penuh. Ketika hal ini terjadi maka akan

membantu meluruskan kembali beberapa kekacauan serabut atau akibat

abnormal cross links pada ketegangan akibat pemendekan otot.

Adanya kontraksi isometrik pada intervensi contract relax

stretching akan membantu menggerakkan stretch reseptor dari spindel otot

untuk segera menyesuaikan panjang otot maksimal. Pada kontraksi

isometrik ini terjadi penurunan stroke volume jantung, diafragma menekan

organ dalam dan pembuluh darah yang ada di dalamnya sehingga menekan

darah agar keluar dari organ dalam. Pada kontraksi isometrik selama 6

detik yang diikuti dengan inspirasi maksimal akan mengaktifkan motor

unit maksimal yang ada pada seluruh otot. Menurut Jacobson kontraksi

maksimal ini juga akan menstimulus golgi tendo organ sehingga memicu

rileksasi otot setelah kontraksi (reverse innervation) yang menyebabkan

terjadinya pelepasan adhesi yang terdapat di dalam intermiofibril dan

tendon dengan perbandingan 2:3.

Pada metode contract relax stretching rileksasi setelah kontraksi

isometrik maksimal dilakukan selama 9 detik dimana dalam proses ini

diperoleh rileksasi maksimal yang difasilitasi oleh reverse innervation

tadi. Proses rileksasi yang diikuti ekspirasi maksimal akan memudahkan

perolehan pelemasan otot. Apabila dilakukan peregangan secara

bersamaan pada saat rileksasi dan ekspirasi maksimal maka diperoleh

pelepasan adhesi yang optimal pada jaringan ikat otot (fasia dan tendo).

Pada intervensi contract relax stretching dengan adanya kontraksi

Page 32: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

32

isometrik dengan inspirasi dalam dan stretching yang diikuti ekspirasi

maksimal yang dilakukan dengan ritmis menimbulkan reaksi pumping

action yang ritmis pula sehingga akan membantu memindahkan produk

sampah/ zat-zat iritan penyebab nyeri otot kembali ke jantung.

Gambar 4. Contoh peregangan dengan metode contract-relax yang

dilakukan sendiri (peregangan aktif)

Gambar 5. Contoh peregangan dengan metode contract-relax yang

dilakukan dengan bantuan fisioterapis

Page 33: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

33

2. 3. Peregangan/ Mobilisasi saraf (Neural Mobilisation/ Neural stretching)

Berbagai faktor seperti trauma, jaringan parut/ scar tissue dan

perubahan sendi yang menglami arthritis dapat mempengaruhi mobilitas

saraf karena mereka berjalan melalui otot dan pembungkus otot/ fascia di

dalam tubuh. Tes penekanan saraf/ neural tension tests banyak digunakan

oleh fisioterapis untuk memeriksa mobilitas saraf tersebut. Mobilisasi

saraf sendiri berarti penggunaan berbagai macam tes tersebut (kadang-

kadang dengan modifikasi) untuk penggunaan terapi selain juga untuk

pemeriksaan/ asesmen.

Contoh tes mobilisasi saraf pada kuadran bawah, antara lain:

straight leg raise (SLR)

prone knee bend (PKB)

Slump test

Gambar 6. straight leg raise (SLR)

Page 34: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

34

Gambar 7. prone knee bend (PKB)

.Gambar 8. Slump test

Istilah mobilisasi saraf sendiri masih rancu karena memasukkan tes

penekanan saraf juga pergerakan meluncur saraf/ neural gliding dalam

satu istilah. Tujuan dari gerakan meluncur saraf/ neural gliding sendiri

adalah untuk memfasilitasi gerakan saraf yang kemungkinan terhambat

tanpa menekannya namun sekarang istilah yang digunakan untuk

Page 35: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

35

mencakup gerakan penekanan dan peluncuran saraf disebut

neurodynamics.

Untuk menyelidiki mengapa slump stretching dapat menjadi terapi

pada penaganan strain otot hamstring tingkat 1 (Grade 1 hamstring

strains), sebuah penelitian menguji efek slump stretch pada aliran keluar

simpatis/ sympathetic outflow pada anggota gerak bawah 10 orang normal

dan atlet elit atletik (Bersama dengan beberapa hal lain, saraf simpatis

menyebabkan penyempitan pembuluh darah pada kulit dan pelebaran

pembuluh darah pada otot, yang mungkin terlibat pada proses

penyembuhan jaringan otot).

Gambaran Telethermographic diambil pada empat lokasi sebelum

dan setelah peregangan pada kedua sisi tungkai yang diregang maupun

yang tidak. Gambaran ini menunjukkan perubahan pada temperatur kulit

sebagai respon terhadap refleks. Peningkatan temperatur kulit pada tungkai

yang diulur mengindikasikan bahwa efek vasodilator secara signifikan

terjadi pada tungkai ini, sementara pada tungkai yangtidak diulur

menunjukkan sedikit penurunan temperatur sehingga peneliti

berkesimpulan bahwa slump stretching dapat mempunyai efek

penghambatan simpatik yang dapat menjadi mekanisme fisiologis yang

mendasari untuk efek terapi slump stretch pada strain hamstring tingkat 1.

Studi pada kadaver mengindikasikan bahwa posisi-posisi dimana

anggota gerak ditempatkan saat neural tension tests benar – benar

memberikan regangan pada struktur saraf. Pada studi dengan tubuh hidup

Page 36: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

36

yang utuh kaliper digital digunakan untuk menguji gerakan saraf/ nerve

excursion dan ukuran microstrain mengukur regangan ketika upper limb

neural tension test dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa tes median

nerve tension menyebabkan regangan pada median nerve sebesar 7.6%

dan tes ulnar-nerve tension test menyebabkan peregangan sebesar 2.1%

pada ulnar nerve.

Gambar 9. Diseksi gerakan di dalam pelvis pada komponen proksimal dari saraf sciatica sepanjang gerak fleksi lateral tulang belakang bagian lumbal.

Kiri – neutral. Tengah – fleksi lateral ke kiri (ipsilateral). Right – fleksi lateral ke kanan (contralateral).

Jaringan saraf mengendur saat fleksi ipsilateral dan menegang saat fleksi kontralateral

Page 37: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

37

Atas — saat mengendur, serabut saraf dan arachnoid berkerut.

Bawah — saat menegang. © NDS 2007

Mobilisasi saraf ini bila dikombinasikan dengan peregangan

diharapkan dapat membawa hasil yang positif baik pada struktur jaringan

saraf maupun otot (tendon dan fascia/ pembungkus otot) sehingga dicapai

hasil yang maksimal dalam perbaikan gerakan dan fungsi dari otot

tersebut. Chris Mallac, pada artikelnya mengenai diagnosis dan penyebab

strain hamstring, menemukan bagaimana treatment pada jaringan non saraf

menghasilkan perbaikan pada neural test yang selumnya positif memiliki

gejala neural

Ellis dan Hing, dalam ulasan sistematis mereka pada uji acak

dengan kontrol/ randomised controlled trials, melihat apakah mobilisasi

saraf efektif sebagai modalitas terapi. Dari 10 uji yang sesuai dengan

kriteria mereka, disimpulkan: ‘Bahwa bukti terbatas untuk mendukung

penggunaan mobilisasi saraf.’ Dibutuhkan pendekatan yang lebih

terstandar dan grup subyek yang homogen

Page 38: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

38

BAB III

KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Berpikir

Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah gangguan berupa

pegal otot yang terjadi akibat latihan yang tidak lazim yang menyebabkan

kerusakan pada membran sel otot sehingga meyebabkan terjadinya respon

inflamasi. DOMS sering dialami oleh semua individu yang melakukan

aktifitas fisik tanpa melihat tingkat kebugarannya dan ini adalah respon

fisiologis normal untuk meningkatkan penggunaan tenaga dan sebagai

pengenalan terhadap aktifitas fisk yang tidak dikenal sebelumnya.

Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah suatu fenomena

yang sering ditemui dan terdokumentasi dengan baik, sering terjadi

sebagai akibat dari latihan eksentrik yang tidak lazim atau intensitas tinggi

(Connolly et al. 2003; MacIntyre et al. 1995). Gejala-gejala yang

menyertai meliputi pemendekan otot, peningkatan kekakuan terhadap

gerak pasif, bengkak, penurunan kekuatan dan daya ledak otot, sakit lokal,

dan rasa posisi sendi/ proprioception yang terganggu (Proske and Morgan

2001). Gejala - gejala akan sering muncul dalam 24 jam setelah latihan

dan biasanya menghilang setelah 3 – 4 hari (Clarkson and Sayers 1999).

DOMS dilaporkan sebagai kejadian yang paling sering terjadi pada

peserta lomba lari marathon dan kompetisi angkat besi.

Atlet-atlet elit sering mudah terkena kerusakan otot karena otot-

ototnya secara reguler dikenai kontraksi intensitas tinggi berulang (Allen

38

Page 39: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

39

et al. 2004). Saat ini, penggunaan berbagai bentuk hidroterapi seperti cold

water immersion (CWI), hot water immersion (HWI), dan contrast water

therapy (CWT) sebagai intervensi recovery setelah latihan telah mendapat

popularitas dan sekarang adalah praktik yang biasa di dalam lingkungan

keolahragaan yang elit (Cochrane 2004; Vaile et al. 2007).

Juga terlihat bahwa latihan eksentrik yang ringan melindungi atlet

dari DOMS. Penelitian Balnave dan Thompson menguak bahwa latihan

dengan kotraksi eksentrik otot sebagai program dasar pemanasan dapat

melindungi atlet dari kerusakan otot yang terlihat ataupun tidak. Yang juga

didukung oleh penelitian Schwane et al. Hortobagyi T et al. meneliti

respon adaptif pada pemanjangan dan pemendekan otot quadriceps pada

manusia. Studi ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap latihan dengan

kontraksi eksentrik berhubungan dengan adaptasi neural dan hipertrofi otot

yang lebih besar daripada latihan konsentrik. Johansson et al. menysatakan

bahwa latihan eksentrik mempunyai efek pencegahan pada pegal otot/

muscle soreness, keempukan otot/ tenderness dan kehilangan daya.

Armstrong juga menyatakan pandangan yang serupa juga bahwa latihan

yang spesifik terdahulu dari otot yang teribat dapat menjadi pencegahan

untuk DOMS.

Peregangan otot/ stretching sering digunakan untuk memfasilitasi

pemulihan setelah latihan yang intensif meskipun hal ini telah didiskusikan

kontroversinya sehubungan dengan khasiatnya. Program peregangan gagal

untuk mengurangi terjadinya atau membesarnya kerusakan otot setelah

Page 40: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

40

latihan yang intensif. Mempertimbangkan sifat fisiologis dari muscle

spindle maka kita mungkin berharap beberapa efek stretching pada tonus

otot dan pengurangannya seharusnya bermakna pada pemulihan fungsional

otot yang digunakan berlebih/ overexerted. Pada kenyataanya, perubahan

pada aktivitas EMG menemukan setelah peregangan dari otot yang dilatih

dalam hal pengurangan tonus otot.

Mobilisasi saraf saat ini juga banyak dilakukan untuk terapi

mengurangi nyeri akibat iritasi saraf tepi sciatica serta strain otot

hamstring. Dari berbagai macam netode mobilisasi saraf untuk anggota

gerak bawah maka yang paling populer digunakan adalah slump test/

slump stretching. Untuk menyelidiki mengapa slump stretching dapat

menjadi terapi pada penaganan strain otot hamstring tingkat 1 (Grade 1

hamstring strains), sebuah penelitian menguji efek slump stretch pada

aliran keluar simpatis/ sympathetic outflow pada anggota gerak bawah 10

orang normal dan atlet elit atletik. Gambaran Telethermographic diambil

pada empat lokasi sebelum dan setelah peregangan pada kedua sisi tungkai

yang diregang maupun yang tidak. Gambaran ini menunjukkan perubahan

pada temperatur kulit sebagai respon terhadap refleks. Peningkatan

temperatur kulit pada tungkai yang diulur mengindikasikan bahwa efek

vasodilator secara signifikan terjadi pada tungkai ini, sementara pada

tungkai yang tidak diulur menunjukkan sedikit penurunan temperatur

sehingga peneliti berkesimpulan bahwa slump stretching dapat

mempunyai efek penghambatan simpatik yang dapat menjadi mekanisme

Page 41: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

41

fisiologis yang mendasari untuk efek terapi slump stretch pada strain

hamstring tingkat 1.

Atas dasar kerangka teori tersebut maka penulis melakukan

penelitian peregangan otot – otot paha dan mobilisasi saraf metode slump

test untuk melihat pengaruhnya terhadap pencegahan timbulnya nyeri

tekan dan pembengkakan otot – otot paha serta memperbaiki kemampuan

lompat pada orang dewasa normal yang biasa bermain bola basket.

3.2 Kerangka Konsep

Faktor eksternal Kurangnya pemanasan Kurangnya pendinginan Latihan yang tidak

lazim atau fokus terus menerus pada grup otot tertentu

Faktor internal Inflamasi akut

jaringan otot Genetik

Peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan

Menaikkan temperature jaringan Meningkatkan elastisitas otot Menurunkan reaksi neuromuskuler

Peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan

- Mempertahankan metabolisme - Meningkatkan elastisitas otot - Mengurangi nyeri

Pegal otot yang terlambat muncul/ DOMS

Spasme/ penambahan lingkar otot Nyeri tekan otot Penurunan kemampuan fungsi otot

HASIL Spasme/ penambahan lingkar otot setelah

latihan berkurang Nyeri tekan otot setelah latihan berkurang Kemampuan fungsi otot tidak berkurang

Page 42: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

42

3.3 Hipotesis Penelitian

Dalam gambaran keadaan di atas, maka yang menjadi hipotesis penelitian ini

adalah :

1. Peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai program

pemanasan dapat mencegah timbulnya nyeri tekan

2. Peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai program

pemanasan dapat mencegah timbulnya bengkak otot–otot tungkai atas

3. Peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai program

pemanasan dapat memperbaiki kemampuan lompat.

4. Peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai program

pendinginan dapat mencegah timbulnya nyeri tekan

5. Peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai program

pendinginan dapat mencegah timbulnya bengkak otot–otot paha

6. Peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai program

pendinginan dapat memperbaiki kemampuan lompat.

7. Peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih efektif setelah latihan sebagai

program pendinginan dalam mencegah timbulnya nyeri tekan

dibandingkan dengan peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan

sebagai program pemanasan

8. Peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih efektif setelah latihan sebagai

program pendinginan dalam mencegah timbulnya bengkak otot–otot paha

dibandingkan dengan peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan

sebagai program pemanasan

Page 43: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

43

9. Peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih efektif setelah latihan sebagai

program pendinginan dalam memperbaiki kemampuan lompat

dibandingkan dengan peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan

sebagai program pemanasan

Page 44: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

44

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan:

1. Rancangan penelitian experimental murni.

2. Rancangan pre test dan post test, control group design. dengan skema

peneitian digambarkan sebagai berikut

P1 Q

Q P2

Gambar. 4.1 Rancangan desain penelitian pre test dan post test

P = Populasi

S = Sampel

R = Randomisasi

P1 = Perlakuan 1 (peregangan otot-otot paha dan slump test sebelum latihan)

P2 = Perlakuan 2 (peregangan otot-otot paha dan slump test setelah latihan)

O1 = Pre tes kelompok kontrol

O2 = Pos tes kelompok kontrol

Q = Pelatihan kontraksi eksentrik untuk menimbulkan DOMS

O3 = Pre tes kelompok perlakuan

O4 = Pos tes kelompok perlakuan

P

O1

S

O3

R

O2

O4

44

Page 45: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

45

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

4.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pusat Kebugaran Mandira RS.Dr.Suyoto

Bintaro - Jakarta Selatan.

4.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan mulai 30 Juli 2010 sampai dengan 1

Desember 2010

4.3 Penentuan Sumber Data

4.3.1 Variabilitas Populasi

4.3.1.1 Populasi target

Dalam penelitian ini populasi target adalah warga kompleks

Sawangan Regensi Depok serta fisioterapis RS.Aminah, RS.Dr.Soeyoto

dan klinik Retna yang gemar berolahraga dan bisa bermain bola basket.

4.3.1.2 Populasi terjangkau

Dalam penelitian ini populasi terjangkau adalah warga kompleks

Sawangan Regensi Depok serta fisioterapis RS.Aminah, RS.Dr.Soeyoto

dan klinik Retna yang bersedia ikut dalam program penelitian.

4.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian adalah jumlah sampel yang diambil dari populasi

terjangkau, disesuaikan dengan kriteria inklusi yang dibahas dalam kriteria

eligibilitas.

Page 46: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

46

4.3.3 Kriteria eligibilitas,

Kriteria pemilihan yang membatasi karakteristik populasi terjangkau,

yaitu:

4.3.3.1 Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

1. Berbadan sehat (tidak sedang cedera atau mendapatkan terapi akibat

cedera)

2. Berusia 18 – 35 tahun

3. Bersedia menjadi sampel dalam penelitian

4. Mampu mengerti instruksi yang diberikan.

4.3.3.2 Kriteria ekslusi

1. Mengalami kondisi yang tidak memungkinkan diterapkan pelatihan.

2. Menderita sakit atau cedera pada sistem muskuloskeletal

4.3.3.3 Kriteria Penggugur

Adalah sampel yang memenuhi kriteria inklusi, karena sesuatu

keadaan dikeluarkan dari sampel, antara lain

1. Tidak memenuhi jumlah waktu perlakuan yang ditetapkan yaitu

selama 3 (tiga) kali (segera setelah perlakuan, 1 hari sesudah dan 2 hari

sesudah)

2. Meminum obat pereda nyeri ketika dalam rentang penelitian

Page 47: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

47

4.4 Besar Sampel

Besar sampel yang diperlukan dalam penelitian ini berdasarkan rumus Pocock :

,2

212

2

n

Keterangan :

n = Jumlah Sampel

= Simpang baku (dari tes awal)

= Tingkat kesalahan I (ditetapkan 0,05)

Interval kepercayaan 95,0)1(

= Tingkat kesalahan II (ditetapkan 0,2)

Interval kepercayaan 8,0)1(

),( = Integral interval kepercayaan 7,9

1 = rerata nilai pada kelompok kontrol (dari penelitian sebelumnya)

2 = rerata nilai pada kelompok perlakuan (dari penelitian sebelumnya)

Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan didapatkan hasil rerata

nyeri tekan pada kelompok yang diberi latihan eksentrik saja (kontrol) 24 jam

setelah perlakuan, 1 = 75,0 mm dengan standar deviasi = 1,1019 dan rerata

kelompok yang diberi perlakuan latihan eksentrik diikuti peregangan diharapkan

naik nilai ambang nyerinya sebesar 20% menjadi 2 = 76,66. Dengan demikian

dapat dihitung sebagai berikut :

9,7

0,756,76)019,1(2

2

2

xn

Page 48: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

48

9,756,242,2 xn

48,7n

Dari hasil penghitungan di atas maka sampel ditetapkan berjumlah 8 sampel per

kelompok perlakuan sehingga total sampel adalah 16 orang, dengan perincian:

1. Kelompok I, akan diberikan perlakuan peregangan otot – otot paha dan slump

test sebelum latihan.

2. Kelompok II akan diberikan perlakuan peregangan otot – otot paha dan slump

test setelah latihan.

4.5 Variabel Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa variabel antara lain:

1. Variabel bebas

Peregangan dan Mobilisasi saraf sebelum dan setelah latihan.

2. Variabel terikat

Nyeri tekan, Bengkak Otot paha dan Kemampuan lompat.

3. Variabel kontrol

- Umur, tinggi dan berat badan, kebiasaan berolahraga

Page 49: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

49

4.6 Definisi Operasional

- Stretching atau peregangan yang dilakukan dengan metode contract-

relax yaitu peneliti/ fisioterapis memberikan tahanan ketika atlet

mengkontraksikan otot yang akan diregang selama 10 detik setelah itu

maka dilakukan gerakan yang berlawanan/ otot diregang lagi oleh

fisioterapis selama 20 detik (dilakukan pada otot hamstring,

quadriceps, illiotibial band/ tensorfaciae latae, glutei, dan adductors).

- Mobilisasi saraf yang diberikan berupa gerakan slump test yaitu atlet

duduk dengan posisi sedikit membungkuk, kedua tangan bertemu di

belakang punggung dengan jari-jari tangan saling terjalin. Gerakan

berikutnya yaitu tungkai diangkat 900 dengan lutut lurus dan

pergelangan kaki dorsoflexi 900 lalu gerakan terakhir kepala

ditundukkan pelan-pelan sampai dagu menyentuh dada

- Nyeri tekan adalah rasa tidak nyaman apapun yang dirasakan ketika

otot diberi tekanan. Dilakukan dengan spuit 10 cc (yang sudah diambil

jarumnya) dan diberi nilai dari 0 – 10 dengan satuan sentimeter

- Bengkak otot paha adalah pembesaran lingkar paha yang patologis.

Diukur dengan mengambil lingkar paha tepat pada setengah panjang

paha

- Kemampuan lompat adalah kemampuan otot untuk membuat tubuh

bergerak vertikal keatas. Diukur dengan meteran

Page 50: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

50

4.7 Cara Pengumpulan Data.

Data tentang gejala dan tanda DOMS didapat dengan melakukan

pencatatan dari beberapa indikator, meliputi:

1. Kemampuan lompat (jump performance)

2. Pengukuran lingkar paha (thigh circumference)

3. Ambang Nyeri tekan/ Pressure pain threshold (PPT)

4.8 Prosedur penelitian.

4.8.1 Prosedur administrasi

1. Pengumpulan buku, jurnal baik melalui perpustakaan maupun

internet sebagai sumber penelitian.

2. Menyusun blangko isian data sampel.

3. Mengundang sampel untuk mengisi blangko dan menjelaskan

prosedur penelitian

4.8.2 Prosedur pengukuran Awal

Sampel diambil data tentang karakteristik sampel dengan

menggunakan kuesioner penelitian yang ditetapkan kemudian

diberi perlakuan berupa protokol latihan yang merangsang

terjadinya DOMS yaitu dengan alat leg press dengan rangkaian

latihan yang terdiri dari 3 set kontraksi eksentrik bi-lateral leg press

selama 10 kali dengan beban 120% dari repetisi maksimum sekali

[1-RM (concentric)] diikuti oleh 2 set masing – masing 10 kali

Page 51: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

51

dengan beban 100% 1-RM. (Hortobagyi and Katch 1990).

Sepanjang tiap kontraksi eksentrik, beban ditahan dengan kedua

tungkai dari ekstensi penuh ke sudut 900 (Vaile et al. 2007) dengan

kontraksi berlangsung selama 3–5 detik. Subyek menyelesaikan

satu kali kontraksi setiap 15 detik dan mempunyai periode istirahat

3 menit diantara satu set (Nosaka & Newton 2002; Vaile. 2007).

1. Kemampuan lompat (jump performance)

Subyek diminta untuk melompat dengan barbell (seberat 30% dari

kemampuan saat isometric squat) sebanyak 3 kali dan yang paling

ttinggi dicatat untuk analisis. Subyek diminta untuk meletakkan

barbell dipundak kemudian lutut jongkok 90°, tahan selama 2

detik, dan kemudian lompat keatas (Vaile et al. 2007).

2. Pengukuran lingkar paha (thigh circumference)

Menggunakan meteran ukur, dilakukan pengukuran pada titik tepat

setengah panjang paha atas.

3. Ambang Nyeri tekan/ Pressure pain threshold (PPT)

Dilakukan pada 3 titik 5, 10 dan 15 cm diatasa kedua patella diukur

dengan alat semprot 20 ml dengan pegas didalam dan diberi skala

dari 0 sampai 10. Ujung yang bulat pada alat semprot diletakkan

tepat diatas titik dengan posisi vertical dan pistonnya ditekan.

Subyek diminta untuk menyatakan sensasi apapun yang tidak enak

(nyeri) dan kemudian angka indikator pada alat semprot dicatat

sebagai nilai ambang nyeri tekan.

Page 52: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

52

4.9 Instrumen Penelitian

Intrumen penelitian adalah sebagai berikut:

1. Form pencatatan data awal

2. Timbangan berat badan dan tinggi badan

3. Multi Gym equipment merek cybex yang memiliki fungsi leg press

4.10 Tahap pelaksanaan Penelitian

Secara garis besar pelaksanaan penelitian dilakukan dengan tatacara dan tata

urutan sebagai berikut :

1. Seluruh subyek penelitian diundang untuk diberikan penjelasan

mengenahi tujuan penelitian dan tatacara penelitian.

2. Secara acak subyek penelitian di pisah 8 orang dimasukan dalam

kelompok I dan 8 orang dimasukkan dalam kelompok II.

3. Untuk kelompok satu diberikan tata cara melakukan pelatihan dengan

menggunakan alat multi gym dengan urutan sebagai berikut :

a. Pertama mereka diukur data lingkar paha, nyeri tekan dan

kemampuan lompat untuk mendapat data awal sesuai dengan

prosedur.

b. Lima menit awal diberikan pemanasan dengan peregangan dan

mobilisasi saraf

c. Berikutnya subyek penelitian melakukan pelatihan sebagaimana

prosedur penelitian dengan alat leg press

d. Begitu selesai maka dilakukan pendinginan dengan lari–lari kecil

e. Diukur data lingkar paha, nyeri tekan dan kemampuan lompat 0, 24

dan 48 jam setelah Pelatihan.

Page 53: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

53

4. Untuk Kelompok dua diberikan tatacara sebagai berikut:

a. Pertama mereka diukur data lingkar paha, nyeri tekan dan

kemampuan loncat untuk mendapat data awal sesuai dengan

prosedur.

b. Lima menit awal diberikan pemanasan dengan lari – lari ringan

c. Berikutnya subyek penelitian melakukan pelatihan sebagaimana

prosedur penelitian dengan alat leg press

d. Diberikan pendinginan dengan peregangan dan mobilisasi saraf

e. Diukur data lingkar paha, nyeri tekan dan kemampuan lompat 0,

24 dan 48 jam setelah Pelatihan.

5. Setiap perlakukan di jalankan maka di ceklis oleh peneliti.

4.11 Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisa dengan langkah langkah sebagai berikut :

1. Statistik Diskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik fisik dan

kemampuan fungsi sampel yang meliputi umur, kebiasaan olah raga, tinggi

badan dan berat badan, lingkar paha, nyeri tekan dan kemampuan lompat.

2. Uji normalitas data dengan Saphiro Wilk Test, bertujuan untuk

mengetahui distribusi data masing-masing kelompok perlakuan. Batas

kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Jika hasilnya p > 0,05

maka dikatakan bahwa data berdistribusi normal dan apabila p < 0,05

menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal.

3. Uji homogenitas data dengan Levene Test, bertujuan untuk mengetahui

variasi data. Batas kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Apabila

Page 54: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

54

hasilnya p > 0,05 maka data homogen dan apabila p < 0,05 berarti data tidak

homogen.

4. Uji komparasi data tiga gejala dan tanda DOMS yaitu lingkar paha,

kemampuan lompat dan nyeri tekan sebelum dan setelah perlakuan pada

masing-masing kelompok perlakuan dengan menggunakan uji parametrik (t-

related test). Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis nomor-1 sampa 6.

Batas kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Jika hasilnya p > 0,05,

maka Ho diterima dan Ha ditolak (hipotesis penelitian ditolak atau tidak ada

perbedaan yang signifikan) dan jika p < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha

diterima (hipotesis penelitian diterima atau ada perbedaan yang signifikan).

Uji komparsi data tiga gejala dan tanda DOMS yaitu lingkar paha,

kemampuan lompat dan nyeri tekan sebelum dan setelah perlakuan antara

kelompok-1 dan kelompok-2 dengan menggunakan uji komparasi parametrik

(Independent t-test) karena data berdistribusi normal. Uji ini bertujuan untuk

membandingkan efek dari perlakuan terhadap tiga gejala dan tanda DOMS

yaitu lingkar paha, kemampuan lompat dan nyeri tekan sebelum sebelum dan

sesudah pelatihan antar kelompok-1 dan kelompok-2. Uji ini digunakan

untuk menguji hipotesis nomor-7 sampai 9. Batas kemaknaan yang

digunakan adalah α = 0,05. Jika hasilnya p > 0,05 maka Ho diterima atau Hi

ditolak (hipotesis penelitian ditolak atau tidak ada perbedaan yang signifikan)

dan apabila p < 0,05 maka Ho ditolak atau Hi diterima (hipotesis penelitian

diterima atau ada perbedaan yang signifikan).

Page 55: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

55

4.12 Kelemahan Penelitian

Setelah penelitian dijalankan maka peneliti melihat adanya beberapa

kelemahan diantaranya adalah :

1. Penelitian terpaksa hanya dilakukan selama dua hari karena keterbatasan

waktu sampel dan peneliti.

2. Pekerjaan yang berbeda menyebabkan pola istirahat berbeda, dimana ada

sampel yang berprofesi sebagai security dan profesi lain yang berlaku

jam kerja shift.

Page 56: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

56

4.13 Alur Penelitian

Gamabar 4.2 Bagan Alur Penelitian

Acak sampel sederhana

Populasi

Kriteria Inklusi dan Ekslusi

Kelompok II

sampel

Kelompok I

sampel acak

Pengukuran awal

Perlakuan dengan peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan

Perlakuan dengan peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan

Pengukuran awal

Pengukuran Akhir

Analisis Data

Penyusunan Tesis

Page 57: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

57

BAB V

HASIL PENELITIAN

Dari hasil perlakuan yang telah dilakukan terhadap dua kelompok

perlakuan masing-masing kelompok 1 dengan peregangan dan mobilisasi saraf

sebelum latihan dan kelompok 2 dengan peregangan dan mobilisasi saraf setelah

latihan, di dapatkan data untuk dilakukan analisa. Data awal yang didapat berupa

karakteristik kondisi fisik subyek penelitian yang meliputi, umur, tinggi, berat

badan, kebiasaan olah raga, lingkar paha, kemampuan lompat dan nyeri tekan.

Sesuai dengan rumus pocock pada bab IV maka penelitian ini

menggunakan 16 subyek penelitian yang dibagi dua kelompok. Penelitian

dilakukan secara single blind dimana peneliti melakukan sendiri perlakukan yang

diberikan untuk kedua kelompok subyek penelitian.

5.1 Deskripsi data awal kondisi fisik Subyek

Deskripsi karakteristik fisik subyek penelitian disajikan pada Tabel 5.1 di

bawah ini.

Tabel 5.1 Karakteristik kondisi fisik subyek

Karakteristik Subyek

Rerata + SD Kelompok 1 (N=8) Kelompok 2 (N=8)

Umur (th) 32,75 ± 6,49 30,75 ± 3,45 Berat badan (kg) 65.75 ± 7.978 72,54 ± 10.056 Tinggi Badan (cm) 169.63 ± 2.669 170.75 ± 5.548 Lingkar paha middle (cm) 51.588 ± 6.5283 47.825 ± 5.7797 Kemampuan Lompat Cm) 59.88 ± 3.603 57.38 ± 3.462 Nyeri tekan (cm) 7.563 ± 1.0836 7.500 ± 1.1019

57

Page 58: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

58

Disamping data diatas subyek penelitian juga terdistribusi dalam data

lain berupa kebiasan olah raga. Dari data kebiasaan olah raga didapatkan bahwa

bahwa 4 orang (25,0%) rutin menjalankan olah raga, 8 orang (50,0%) jarang olah

raga dan 4 orang (50,0%) hampir tidak pernah olah raga.

5.2 Uji Normalitas dan Homogenitas Data

Untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan maka terlebih dahulu

dilakukan uji normalitas dan homogenitas data hasil tes tiga parameter gejala dan

tanda DOMS yaitu lingkar paha, kemampuan lompat dan nyeri tekan sebelum dan

sesudah pelatihan dan uji homogenitas data sebelum pelatihan. Karena jumlah

sampel < 30 orang maka Uji normalitas dengan menggunakan uji shapiro wilk,

sedangkan uji homogenitas menggunakan Levene Test, yang hasilnya tertera pada

Tabel 5.2 dan 5.3.

Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas tiga parameter DOMS Sebelum dan Sesudah Perlakuan

Variabel p. Uji Normalitas

(Saphiro Wilk-Test)

Kelompok 1 Kelompok 2

Lingkar paha sebelum latihan Nyeri tekan sebelum latihan Kemampuan lompat sebelum latihan Lingkar Paha sesudah latihan Nyeri tekan sesudah latihan

0.466

0.595

0.673

0.479

0.426

0.502

0.314

0.691

0.494

0.453

Kemampuan lompat sesudah latihan

0.796

0.754

Page 59: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

59

Tabel 5.3 Hasil Uji Homogenitas tiga parameter DOMS Sesudah Perlakuan

Variabel p. Uji Homogenitas

(Lavene-Test)

Lingkar Paha sesudah intervensi kelompok I dan II Nyeri tekan sesudah intervensi kelompok I dan II

0.406

0.661

0.580 Kemampuan lompat sesudah intervensi kelompok I dan II

Hasil uji normalitas (Saphiro Wilk-Test) ketiga parameter gejala dan tanda

DOMS sebelum pelatihan semua kelompok berdistribusi normal (p > 0,05).

Demikian juga dengan data setelah pelatihan pada kedua kelompok berdistribusi

normal (p > 0,05).

Hasil uji homogenitas (Levene-Test) menunjukkan ketiga parameter

sesudah pelatihan pada kedua kelompok p > 0,05, yang berarti data adalah

homogen.

5.3 Uji hipotesis I - VI parameter DOMS sebelum dan sesudah pelatihan pada masing – masing kelompok

Untuk mengetahui perbedaan parameter DOMS sebelum dan sesudah

pelatihan pada masing-masing kelompok digunakan Paired Samples Test yang

hasilnya tertera pada Tabel 5.4

Page 60: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

60

Tabel 5.4 Uji hipotesis parameter DOMS sebelum dan Sesudah Pelatihan

Kelompok I dan II Kelompok I Kelompok II

Mean t p Mean t p Lingkar Paha Sebelum - Sesudah Perlakuan

-0.35000 -7.561 .021 -.28750 -4.952 .002

Nyeri Tekan Sebelum - Sesudah Perlakuan

0.87500 1.673 .010 .43750 2.966 .021

Kemampuan Lompat Sebelum - sesudah Perlakuan

1.0000 5.584 0.138 -2.0000 -3.528 .010

Tabel 5.4 memperlihatkan bengkak paha antara sebelum dan sesudah

pelatihan pada kelompok I yang dianalisis dengan dengan uji Paired Samples

Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan

menghasilkan penurunan bengkak yang bermakna (p < 0,05) demikian pula untuk

nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I juga

menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p < 0,05). Bengkak Paha

setelah pelatihan yang dipakai adalah lingkar paha yang diukur seketika begitu

selesai pelatihansedangkan nyeri tekan diukur 48 jam setelah pelatihan.

Kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I

menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan tidak

menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p > 0,05).

Kemampuan lompat setelah pelatihan yang dipakai adalah kemampuan lompat 48

jam setelah selesai pelatihan.

Page 61: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

61

Bengkak paha antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II yang

dianalisis dengan dengan uji Paired Samples Test menunjukkan bahwa

peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan menghasilkan penurunan bengkak

yang bermakna (p < 0,05) demikian pula untuk nyeri tekan antara sebelum dan

sesudah pelatihan pada kelompok II juga menghasilkan penurunan nyeri tekan

yang bermakna (p < 0,05). Bengkak Paha setelah pelatihan yang dipakai adalah

lingkar paha yang diukur seketika begitu selesai pelatihan sedangkan nyeri tekan

diukur 48 jam setelah pelatihan. Kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah

pelatihan pada kelompok II menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf

setelah latihan juga menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna

(p < 0,05). Kemampuan lompat setelah pelatihan yang dipakai adalah kemampuan

lompat 48 jam setelah selesai pelatihan.

5.4 Uji hipotesis VII – IX beda perubahan ketiga parameter DOMS pada

kedua kelompok

Uji beda ini bertujuan untuk membandingkan selisih hasil tiga parameter

DOMS antara kelompok I (peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan)

dan kelompok II (peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan). Hasil

analisis kemaknaan dengan uji independent t-test (tidak berpasangan) disajikan

pada Tabel 5.5

Page 62: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

62

Tabel 5.5 Uji hipotesis beda pengaruh perlakuan pada tiga parameter DOMS sebelum

dan Sesudah Pelatihan Variabel t p Mean

Difference Lingkar Paha Sebelum - Sesudah Perlakuan

0.842 0.414 0.06250

Nyeri Tekan Sebelum - Sesudah Perlakuan

-2.033 0.061 -0.43750

Kemampuan Lompat Sebelum - sesudah Perlakuan

-3.642 0.003 3.0000

Tabel 5.5 memperlihatkan perbedaan penurunan bengkak paha antara

sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan uji

Independent Samples Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf

yang diberikan sebelum atau setelah pelatihan tidak memiliki perbedaan yang

bermakna (p > 0,05).

Sedangkan untuk kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah

pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan dengan uji Independent

Samples Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf yang

diberikan setelah pelatihan menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang

bermakna (p < 0,05) dibandingkan peregangan dan mobilisasi saraf yang

diberikan sebelum pelatihan

Untuk nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I

dan II yang dianalisis dengan dengan uji Independent Samples Test menunjukkan

bahwa peregangan dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum atau setelah

pelatihan juga menghasilkan perubahan nyeri tekan yang bermakna (p < 0,05)

Page 63: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

63

BAB VI

PEMBAHASAN

6.1. Kondisi Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah karyawan dengan beragam profesi berjumlah 16

orang yang dibagi menjadi dua kelompok masing–masing beranggotakan 8 orang.

Data karakteristik fisik yang didapat adalah umur, kebiasaan olah raga, tinggi

badan, berat badan, dan lingkar paha serta data karakterisitk kemampuan fungsi

yaitu kemampuan lompat dannyeri tekan.

Secara rata-rata umur kelompok satu adalah 32,75 tahun sedangkan rata-

rata umur kelompok dua adalah 30,75 tahun. Selain itu penelitian ini juga

mendapatkan data kebiasaan olah raga yang mana didapatkan bahwa bahwa 4

orang (25,0%) rutin menjalankan olah raga, 8 orang (50,0%) jarang olah raga dan

4 orang (50,0%) hampir tidak pernah olah raga sehingga memang dari kriteria

umur dan kebiasan olahraga ini subyek memenuhi kriteria untuk melakukan

tindakan pelatihan yang diberikan.

6.2. Distribusi dan Varians Subyek Penelitian

Distribusi subyek penelitian kedua kelompok sebelum dan sesudah

pelatihan, dilakukan uji normalitas dengan Shapiro-Wilk Test, sedangakan

homoginitas varians antara kedua kelompok pelatihan diuji dengan Levene Test.

Variabel yang diuji adalah tiga parameter DOMS sebelum dan sesudah pelatihan

pada masing-masing kelompok dan selisih antara tiga parameter DOMS sebelum

63

Page 64: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

64

pelatihan dan sesudah pelatihan pada kedua kelompok. Hasil uji normalitas

(Saphiro Wilk-Test) ketiga parameter gejala dan tanda DOMS sebelum pelatihan

semua kelompok berdistribusi normal (p < 0,05). Demikian juga dengan data

setelah pelatihan pada kedua kelompok berdistribusi normal. (p < 0,05).

Sementara hasil uji homogenitas (Levene-Test) menunjukkan ketiga parameter

sebelum pelatihan p > 0,05, yang berarti data adalah homogen.

. Dengan demikan kedua kelompok baik sebelum perlakuan, setelah

perlakuan berdistribusi normal dan data sebelum perlakuan bersifat homogen

sehingga merupakan data parametrik.

6.3. Pengaruh peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan

terhadap gejala dan tanda DOMS otot – otot tungkai atas

Tabel 5.4 memperlihatkan lingkar paha antara sebelum dan sesudah

pelatihan pada kelompok I yang dianalisis dengan dengan uji Paired Samples

Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan

menghasilkan poenurunan bengkak paha yang bermakna (p < 0,05) demikian pula

untuk nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I juga

menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p < 0,05). Hal ini sesuai

dengan penelitian Gladson R. F. Bertolini et al dari Laboratorium Studi Cedera

dan sumber daya Fisioterapi, Universidade Estadual do Oeste do Paraná

(UNIOESTE), Cascavel, Brazil tahun 2009 yang menyatakan peregangan dan

mobilisasi saraf efektif dalam mengurangi nyeria akiat sciatica/ nyeri akibat iritasi

saraf tepi

Page 65: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

65

Kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I

menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan tidak

menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p > 0,05). Hal ini

sesuai dengan penelitian Nelson et al tahun 2005 yang menyatakan mayoritas

penelitian pada peregangan/ stretching hingga 60 menit sebelum olahraga

menunjukkan efek yang negatif pada daya ledak eksplosif otot/ explosive power

6.4. Pengaruh peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan terhadap

gejala dan tanda DOMS otot – otot tungkai atas

Tabel 5.4 memperlihatkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf setelah

pelatihan menghasilkan penurunan bengkak paha dan nyeri tekan yang bermakna

(p < 0,05) antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II demikian juga

untuk kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II

menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan

menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p < 0,05). Hal ini

sesuai dengan penelitian meta-analisis Rob D Herbert dan Michael Gabriel dari

Sekolah Fisioterapi Universitas Sydney tahun 2002 bahwa peregangan sebelum

atau sesudah latihan tidak terlihat bermanfaat secara praktis dalam pencegahan

cedera dan pegal otot namun memang penelitan mengenai efek peregangan

terhadap kemampuan olahraga masih kurang sehingga perlu diteliti lebih lanjut.

Page 66: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

66

6.5. Perbedaan pengaruh pemberian peregangan dan mobilisasi saraf

setelah pelatihan dibandingkan sebelum pelatihan terhadap gejala

dan tanda DOMS otot – otot tungkai atas.

Tabel 5.5 memperlihatkan perbedaan penurunan bengkak paha antara

sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan

dengan uji Independent Samples Test tidak menghasilkan perbedaan yang

bermakna (p > 0,05).

Sedangkan untuk nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada

kelompok I dan II dan untuk kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah

pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan dengan uji Independent

Samples Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf yang

diberikan setelah pelatihan menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang

bermakna (p < 0,05) dibandingkan peregangan dan mobilisasi saraf yang

diberikan sebelum pelatihan

Dengan hasil uji statistik ini mengisyaratkan bahwa pemberian peregangan

dan mobilisasi saraf setelah pelatihan tidak mempunyai pengaruh yang bermakna

dalam mengurangi bengkak pada otot tungkai atas dibandingkan jika diberikan

sebelum pelatihan karena tetapi pemberian peregangan dan mobilisasi saraf

setelah pelatihan mampu mengurangi nyeri tekan dan memperbaiki kemampuan

lompat secara bermakna jika dibandingkan dengan pemberian seblum latihan

sebagai program pemanasan.

Mengingat kemampuan lompat adalah karakteristik kemampuan fungsi

yang terpenting pada olahragawan yang cidera maka pemberian peregangan dan

Page 67: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

67

mobilisasi saraf setelah pelatihan tetap dapat dijadikan alternatif terbaik untuk

mengurangi gejala dan tanda DOMS terutama untuk mengurangi nyeri tekan pada

otot-otot tungkai atas dan memperbaiki kemampuan lompat

Sehubungan dengan perbedaan yang kurang bermakna untuk pemberian

peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan pada parameter lingkar paha

setelah pelatihan terjadi karen pelatihan yang diberikan mungkin tidak cukup kuat

untuk menimbulkan bengkak pada otot-otot paha. Pemulihan juga akan menjadi

lebih optimal lagi jika diikuti dengan istirahat yang cukup.

Page 68: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

68

BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

7.1. Simpulan

Berdasar analisis penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut

1. Peregangan otot – otot paha dan slump test sebelum pelatihan sebagai

pemanasan menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p <

0,05) sebesar 0.001 dan bengkak paha yang bermakna (p < 0,05)

sebesar 0.000 akan tetapi kemampuan lompat tidak mengalami

perubahan yang bermakna (p > 0,05) yaitu sebesar 0.138 sehingga

dapat disimpulkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum

pelatihan sebagai pemanasan mencegah timbulnya nyeri tekan dan

bengkak paha akan tetapi tidak memperbaiki kemampuan lompat.

2. Peregangan otot – otot paha dan slump test setelah pelatihan sebagai

pendinginan menghasilkan penurunan bengkak paha yang bermakna (p

< 0,05) sebesar 0.002, penurunan nyeri yang bermakna sebesar 0,021

juga menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p <

0,05) sebesar 0.010 sehingga dapat disimpulkan bahwa peregangan

otot – otot paha dan slump test setelah pelatihan sebagai pendinginan

mencegah timbulnya bengkak paha, nyeri tekan dan memperbaiki

kemampuan lompat

68

Page 69: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

69

3. Peregangan otot – otot paha dan slump test setelah pelatihan sebagai

pendinginan menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna yaitu

sebesar 0,061 (p < 0,05) juga menghasilkan perubahan kemampuan

lompat yang bermakna (p < 0,05) sebesar 0.003 jika dibandingkan

dengan Peregangan otot – otot paha dan slump test sebelum pelatihan

sebagai pemanasan, akan tetapi untuk pengurangan bengkak paha tidak

memiliki perbedaan yang bermakna p > 0,05 yaitu sebesar 0.414

sehingga dapat disimpulkan bahwa peregangan otot – otot paha dan

slump test setelah pelatihan sebagai pendinginan mencegah timbulnya

nyeri tekan dan memperbaiki kemampuan lompat, akan tetapi tidak

mencegah timbulnya bengkak paha jika dibandingkan dengan

peregangan otot – otot paha dan slump test sebelum pelatihan sebagai

pemanasan

7.2. Saran

Beberapa saran yang dapat diajukan berdasarkan temuan dan kajian dalam

penelitian ini adalah :

1. Peregangan otot – otot paha dan slump test setelah latihan dapat

digunakan dalam mencegah timbulnya nyeri tekan dan meningkatkan

kemampuan lompat sehingga dapat digunakan sebagai pilihan utama

untuk program pendinginan setelah olahraga bagi guru olahraga,

pelatih, fisioterapis atau orang awam yang melakukan olahraga

Page 70: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

70

2. Perlu diadakan penelitian lanjutan tentang peregangan dan mobilisasi

saraf dengan metode lain

3. Pola istirahat perlu diseragamkan untuk mendapat hasil yang lebih

baik

.

Page 71: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

71

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2010………. www.pjnhk.go.id, diakses pada tanggal 10 oktober 2010 Amir H Bakhtiary. 2007. Influence of vibration on delayed onset of muscle

soreness following eccentric exercise. Br J Sports Med;41:145–148. Armstrong RB. 1984. Mechanism of exercise-induced delayed onset muscular

soreness: A brief review. Med Sci Sports Exerc 16: 529-38. Bertolini R.F Gladson, Silva ST, Trindade LD, Ciena PA, Carvalho RA. 2009.

Neural mobilization and static stretching in an experimental sciatica model –an experimental study. Rev Bras Fisioter, São Carlos, v.13, n.6, p. 493-8: ISSN 1413-3555

Cochrane DJ. 2004 Alternating hot and cold water immersion for athlete recovery:

a review. Phys Ther Sport 5:26–32 Clarkson PM, Sayers SP. 1999. Etiology of exercise-induced muscle damage. Can

J Appl Physiol 24(3):234–248 Connolly, D. A., Sayers, S. P. & McHugh, M. P. 2003. Treatment and prevention

of delayed onset muscle soreness (abstract). Journal of Strength Conditioning Research, 17(1):197-208. Retrieved from PubMed.gov on July 24, 2006.

Ellis RF, Hing WA. 2008. Neural mobilization: a systematic review of

randomized controlled trials with an analysis of therapeutic efficacy. The Journal of Manual and Manipulative Therapy 16 (1), 8-22

Guyton, A.C., J. E. Hall, 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokeran.Edisi 11. Jakarta:

Buku Kedokteran EGC.

Hortobagyi T, Hill JP, Houmard JA. 1996. Adaptive responses to muscle

lengthening and shortening in humans. Appl Physiol; 80: 765-72. Herbert D Rob, Gabriel Michael. 2002. Effects of stretching before and after

exercising on muscle soreness and risk of injury: systematic review. BMJ volume 325 31; 325:468

Johansson PH, Lindstrom L, Sundelin G. 1999.The effects of preexercise

stretching on muscular soreness, tenderness and force loss following heavy eccentric exercise. Scan J Med Sci Sports. 9: 219-25

Page 72: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

72

Kemenegpora. 2000. Lokakarya peran tenaga kesehatan di bidang olahraga, Bogor

Kysner Caroline & Colby Lyn Allen. 2007. Therapeutic Exercise Foundation and

Techniques. Philadephia : FA. Davis. Mallac C. 2006. What the slump test can reveal. Sports Injury Bulletin: 62, 6 MacIntyre DL, Reid WD, McKenzie DC. 1995. Delayed muscle soreness. The

inflammatory response to muscle injury and its clinical implications. Sports Med 20(1):24–40.

Michael Gleeson et al. 1995. Haematological and acute-phase responses

associated with delayed-onset muscle soreness in humans. Eur J Appl Physiol 71:137-142

Morgan L. David, Proske Uwe. 2004. Popping sarcomere hypothesis explains

stretch induced muscle damage. Proceedings of the Australian Physiological and Pharmacological Society 34: 19-23

Nosaka K, Newton M. 2002. Repeated eccentric exercise bouts do not exacerbate

muscle damage and repair. J Strength Cond Res;16:117–22. Pocock, 2007. Clinical Trial, A Practical Approach. New York: A Willey

Medical Publication.

Proske U, Morgan DL. 2001. Muscle damage from eccentric exercise.

Mechanism, mechanical signs, adaptation and clinical applications. J Physiol 537(Pt 2):333–345

Reisman Simone, Allen J. Trevor, Proske Uwe. 2009. Changes in passive tension

after stretch of unexercised and eccentrically exercised human plantar flexor muscles. Exp Brain Res (2009) 193:545–554

Sohan P. Selkar. 2009. Effect of Eccentric Muscle Training to Reduce Severity of

Delayed Onset Muscle Soreness in Athletic Subjects. Eur J Gen Med; 6(4): 213-217

Szymanski, D. 2003. Recommendations for the avoidance of delayed-onset muscle

soreness. Strength and Conditioning Journal 23(4): 7–13. Torres R, Appell H.J, Duarte J. A. 2007. Acute Effects of Stretching on Muscle

Stiffness After a Bout of Exhaustive Eccentric Exercise. Int J Sports Med. New York: ISSN 0172-4622

Page 73: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

73

Vaile J, Gill N, Blazevich AJ. 2007. The effect of contrast water therapy on symptoms of delayed onset muscle soreness (DOMS) and explosive athletic performance. J Strength Cond Res 21(3):697–702

Watson AS dalam Bloomfield, J, Fricker PA dan Fitch KD. 1995 : Science and

medicine in Sport, 2nd edition. Victoria: Blackwell science Wang, SS, Whitney SL, Burdett RG, Janosky, JE. 1993. Lower extremity muscular flexibility in long distance runners. J Orthop Sports Phys Ther 17:102-107.

Page 74: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

74

Lampiran 1.1

SURAT PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN ( INFORMED CONSENT)

Pada hari ini Tanggal…….Bulan……..Tahun…………yang bertanda tangan

dibawah ini saya :

Nama :

Jenis Kelamin : laki-laki / Perempuan

Umur : th

Alamat : Telp/Hp :

dengan ini menyatakan bahwa setelah saya mendapatkan arahan dan penjelasan

secara terbuka dan rinci tentang pelaksanaan dan prosedur seta manfaat dari

penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti, maka saya bersedia menjadi

responden dengan hak, kewajiban dan prosedur penelitian yang telah disepakati

bersama, apabila terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan saya akan

menarik diri secara otomatis.

Demikian Surat Pernyataan ini dibuat dan ditanda tangani bersama dengan

sadar tanpa ada paksaan agar dapat dipergunakan sebagaiana mestinya.

Peneliti, Yang membuat persetujuan,

( ) ( )

Page 75: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

75

Lampiran 1.2

LAMPIRAN INFORMED CONSENT

A. Judul Penelitian

PEREGANGAN OTOT – OTOT PAHA DAN SLUMP TEST SETELAH LATIHAN MENCEGAH TIMBULNYA NYERI TEKAN DAN BENGKAK OTOT – OTOT PAHA SERTA MEMPERBAIKI

KEMAMPUAN LOMPAT PADA ORANG DEWASA

B. Tujuan Penelitian :

Secara umum penelitian ini untuk mengetahui manfaat peregangan dan

mobilisasi saraf terhadap pengurangan bengkak paha dan nyeri tekan dan

perbaikan kemampuan lompat pada mereka yang biasa berolahraga bola basket.

C. Lama penelitian :

6 bulan.

D. Hak dan kewajiban sampel penelitian pengguna komputer

1. Hak sampel:

a. Sampel berhak menerima pengarahan dan penjelasan yang terbuka dan

rinci tentang tujuan penelitian.

b. Sampel berhak mengundurkan diri apabila terjadi hal-hal yang

menyimpang dari tujuan penelitian

c. Sampel berhak mengundurkan diri karena alasan responden mendapatkan

kendala yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

2. Kewajiban sampel :

a. Sampel wajib mengikuti proses pelaksanaan dari awal sampai akhir

penelitian.

Page 76: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

76

b. Sampel wajib memberikan keterangan yang jujur dan keluhan-keluhan apa

yang dialami selama pelaksanaan penelitian

E. Prosedur penelitian:

Prosedur penelitian yang melibatkan pengguna komputer terutama dalam

pengambilan data adalah sebagai berikut :

1. Data pribadi sampel dan pemeriksaan fisik

2. Perlakuan dengan memberi peregangan dan mobilisasi saraf sebelum dan

sesudah latihan, kemudian diukur parameter:

1) Pemeriksaan nyeri tekan

2) Pemeriksaan lingkar paha

3) Pemeriksaan kemampuan lompat

Page 77: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

77

Lampiran 1.3

FORMULIR PENGUMPULAN DATA PRIBADI RESPONDEN

Bapak / Ibu/ Sdr Yang terhormat,

Untuk memperoleh persamaan informasi bagi kita semua, maka mohon diisi

dengan benar beberapa hal, sebagai berikut :

A. Diisi oleh responden :

1. Nama : ……………………………………………….

2. Umur : ……………………. Tahun (dihitung berdasarkan tanggal kelahiran yang tercatat di akte kelahiran, dengan pembulatan ke baweah ) 3. Jenis kelamin : Laki-laki / perempuan

B. Disi oleh peneliti :

Status kesehatan : 1. Pemeriksaan Fisik : ………………………………. 2. Tekanan Darah : Sistolik…….../ Diastik……… 3. Denyut Nadi : …………….per menit

Page 78: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

78

Lampiran 1.4

Lembar checklist

Pelaksanaan aplikasi peregangan dan mobilisasi saraf

Nama : Saksi / pengamat : Waktu pelaksanaan :

Tgl pelaksanaan

Stretching Slump Test Paraf saksi / pengamat

Keterangan

Ket : Beri tanda ( V ) bila kegiatan aplikasi stretching dan mobilisasi saraf dilakukan

Page 79: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

79

Page 80: peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan mencegah

80