2 pemahaman terhadap_agroindustri_dgrims

  • Published on
    28-May-2015

  • View
    297

  • Download
    5

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li> 1. 2.1 PEMAHAMAN DASAR TENTANG AGRO INDUSTRI2.1.1 Definisi Agro IndustriBanyak definisi yang pernah dikemukakan tentang Agro Industri. Beberapa diantaranya:a. Agroindustri adalah industri yang memberi nilai tambah pada produk pertanian dalam arti luas termasuk hasil laut, hasilk hutan, peternakan dan perikanan (Handito Hadi Joewono)b. Agribisnis adalah serangkaian kegiatan yang melibatkan subsistem input, subsistem produksi, subsistem pengolahan (agro-industri), subsistem pemasaran hasil dan sub sistem penunjang. Agro-industri adalah usaha yang berkaitan dengan pengolahan yang melibatkan kegiatan pengolahan, pengawetan, penyimpanan, dan pengepakan hasil pertanian khususnya hasil budidaya pesisir dan laut (Ngangi, E.L.A. 2001)2.1.2 Prinsip-prinsip Agro industriWibowo (1997) mengemukakan perlunya pengembangan agroindustri di pedesaan denganmemperhatikan prinsip-prinsip dasar diantaranya:1) Memacu keunggulan kompetitif produk/komoditi serta komparatif setiap wilayah,2) Memacu peningkatan kemampuan suberdaya manusia dan menumbuhkan agroindustri yang sesuai dan mampu dilakukan di wilayah yang dikembangkan,3) Memperluas wilayah sentra-sentra agribisnis komoditas unggulan yang nantinya akan berfungsi sebagai penyandang bahan baku yang berkelanjutan, PEMAHAMAN TERHADAP MASTERPLAN 2- 1</li></ul><p> 2. 4) Memacu pertumbuhan agribisnis wilayah dengan menghadirkan subsistem-subsitem agribisnis,5) Menghadirkan berbagai sarana pendukung berkembangnya industri pedesaan.Pengembanganagroindustri sebagai pilihan modelmodernisasi pedesaan haruslah dapatmeningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan petani. Untuk itu perumusan perencanaanpembangunan pertanian, perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan ketersediaan teknologitepat guna. Sehingga alokasi sumberdaya dan dana yang terbatas, dapat menghasilkan output yangoptimal, yang pada gilirannya akan berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Agarmodel pembangunan pedesaan yang berkelanjutan dapat terwujud diperlukan pedoman pengelolaansumberdaya melalui pemahaman wawasan agroekosistem secara bijak, yaitu pemanfaatan asset-asetuntuk kegiatan ekonomi tanpa mengesampingkan aspek-aspek pelestarian lingkungan.2.1.3 Tujuan &amp; sasaran Agro industriTujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan agroindustri perdesaan adalah untuk meningkatkankesejahteraan masyarakat perdesaan melalui upaya peningkatan nilai tambah dan daya saing hasilpertanian. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pengembangan agroindustri perdesaan diarahkanuntuk:(a) Mengembangkan kluster industri, yakni industri pengolahan yang terintegrasi dengan sentra-sentra produksi bahan baku serta sarana penunjangnya,(b) Mengembangkan industri pengolahan skala rumah tangga dan kecil yang didukung oleh industripengolahan skala menengah dan besar, dan(c) Mengembangkan industri pengolahan yang punya daya saing tinggi untuk meningkatkan ekspordan memenuhi kebutuhan dalam negeri (www.litbang.deptan.go.id)2.2 PEMAHAMAN DASAR KAWASANSetelah memahami spesifikasi substansi dan konteks pembahasan, pemahaman penting berikutnyayang perlu disepakati dan diketahui Pihak Konsultan adalah pemahaman terhadap Kawasan.2.2.1 Ruang Lingkup Perencanaan Tata RuangLingkup perencanaan secara umum sangat luas, karena mencakup seluruh aspek kehidupan, salahsatunya ruang. Ruang yang dimaksud dapat merupakan kota atau wilayah, termasuk semua aspekyang terdapat di dalamnya. Perencanaan yang terkait dengan ruang disebut sebagai perencanaan tataruang. PEMAHAMAN TERHADAP MASTERPLAN 2- 2 3. Ruang lingkup perencanaan tata ruang terdiri dari lingkup teritorial dan ruang lingkup substantif.Ruang lingkup teritorial akan mencakup luas kawasan perencanaan dari segi perwilayahan, sedangkanruang lingkup substantif akan mencakup materi yang menjadi sasaran perencanaan.2.2.2 Ruang Lingkup TeritorialTeritorial pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang berkaitandengan pengertian dan batasan wilayah. Beberapa pengertianterminologi mengenai teritori dalam perencanaan wilayah dan kotaadalah : Wilayah adalah suatu bagian dari permukaan bumi yangLingkup wilayah(teritorial) teritorialnya ditentukan atas dasar pengertian, batasan dan merupakan salah satu yang penting dalam perencanan tata ruang perwatakan geografis seperti wilayah aliran sungai, wilayah hutan, wilayah pantai, wilayah negara yang secara geografis ditentukan oleh suatu batasan geografis tertentu. Daerah adalah suatu wilayah yang diartikan sebagai suatu teritorial dimana batasan dan perwatakannya didasarkan pada wewenang administrasi pemerintahan yang ditentukan dengan peraturan perundangan tertentu seperti provinsi, kabupaten dan kota. Kawasan adalah suatu wilayah yang teritorialnya didasarkan pada pengertian dan batasan fungsional yaitu memiliki perwatakan tersendiri, misalnya kawasan industri, kawasan pusat kota, kawasan perdagangan, dll.2.2.3 Ruang Lingkup SubstantifDari segi substantif, perencanaan wilayah dan kota menyangkut tiga lingkup perencanaan yaituperencanaan sosial, perencanaan ekonomi, dan perencanaan fisik. Perencanaan fisik selalu dikaitkandengan pengertian aspek keruangan dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Sosial (Social Planning) adalah segala usaha perencanaan pembangunan yang berorientasi dan bermotivasi kepada segi kehidupan kemasyarakatan. Produk perencanaan sosial merupakan arahan dan pedoman pengembangan dan pembangunan sosial, misalnya rencana pengembangan pendidikan, kependudukan, kelembagaan, dan lain-lainPEMAHAMAN TERHADAP MASTERPLAN 2- 3 4. Perencanaan Ekonomi (Economic Planning) adalah segala upaya perencanaan pembangunan yangberorientasi dan bermotivasi ke pengembangan ekonomi. Produk perencanaan ekonomi termasukrencana pengembangan produksi, pengembangan pendapatan per kapita, regional, nasional, danlain-lain.Perencanaan Fisik (Physical Planning) adalah segala upaya perencanaan yang berorientasi danbermotivasi pada aspek fisik. Untuk perencanaan wilayah dan kota, perencanaan fisikdilakukanuntuk mengefisienkan dan mengefektifkan pemanfaatan ruang dan sumber daya. Perencanaanfisik merupakan upaya untuk mewujudkan wadah dan struktur nyata dalam rangka menjabarkankebutuhan sosial ekonomis masyarakat. Produk perencanaan fisik meliputi perencanaan tataruang, tata guna lahan, perencanaan prasarana dan sarana fisik.Ketiga ruang lingkup substansi tersebut tidak terlepas satu sama lain dalam suatu prosesperencanaan.2.3 PEMAHAMAN TERHADAPKONSEPPENGEMBANGANKAWASAN BERBASIS PERTANIAN (AGROPOLITAN)Dalam kaitannya dengan kawasan agro industri tersebut, maka Pihak Konsultan memandangpentingnya memahami konsep agropolitan dalam pengembangan kawasan dan bagaimanamewujudkan konsep tersebut ke dalam struktur dan pola keruangan.2.3.1 Agropolitan sebagai Alternatif Konsep Pengembangan KawasanMunculnya konsep agropolitan dilatarbelakangi oleh gagalnya beberapa teori dan konseppembangunan dimasa lalu. Penerapan model pusat-pusat pertumbuhan di negara berkembang sepertiIndonesia, melalui strategi industrialisasi dan Agroindustri yang relatif memiliki pertumbuhan cepat,ternyata justru menyebabkan ketimpangan yang semakin besar antara kawasan perdesaan yangberbasis pertanian dengan kawasan Agroindustri yang berbasis manufaktur dan jasa. Ciri-ciri darikonsep agropolitan ini meliputi:(a) merupakan sebuah skala geografi yang kecil;(b) memiliki kemandirian (self-sufficiency dan self-reliance) tingkat tinggi didalam perencanaan danpengambilan keputusan, yang didasarkan kepada tindakan partisipasi dan koperatif di tingkatanlokal;(c) diversifikasi tenaga kerja perdesaan yang meliputi baik kegiatan pertanian maupun non-pertanian;PEMAHAMAN TERHADAP MASTERPLAN 2- 4 5. (d) merupakan fungsi-fungsi perindustrian perdesaan dan Agroindustri yang memiliki keterkaitandengan struktur ekonomi dan sumberdaya-sumberdaya lokal dan(e) penilaian dan pemanfaatan teknologi-teknologi dan sumberdaya lokal (Ruben G. Mercado, 2002 :hal.14).Menurut pemikiran Friedmann (1975), konsep agropolitan terdiri dari distrik-distrik agropolitan dandistrik agropolitan didefinisikan sebagai kawasan pertanian pedesaan yang memiliki kepadatanpenduduk rata-rata 200 jiwa per km2. Efisiensi usaha tani akan terjadi apabila diiaksanakan onedistrict one commodity. Dalam distrik agropolitan ini akan dijumpai kota-kota tani yang berpenduduk10.000 25.000 jiwa.2.3.2 Konsep Struktur Ruang Kawasan AgropolitanSalah satu pendekatan yang digunakan untuk mengimplementasikan konsep agropolitan secaraspasial pada saat ini adalah mengintegrasikan antara desa dan kota sebagai keterkaitan ekonomi yangsating membutuhkan dan bersifat interdependensi. Keterkaitan dan interdependensi menurut MikeDouglass (1998) menempatkan fungsi kota sebagai pusat transportasi dan perdagangan pertanian,sedangkan fungsi desa sebagai produksi dan produktivitas pertanian. Desa dan kota merupakan satukesatuaan muatanfungsional wilayah yang seharusnya saling bersinergi dan melengkapi(komplementer).Menurut Antonius Tarigan (2003) pendekatan keterkaitan desa-kota dalam pembangunan wilayahperdesaan juga dapat menaikkan nilai tukar produk/jasa masyarakat perdesaan melalui : (1) upayamemindahkan proses produksi dari kota ke desa untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambahproduk/jasa yang dihasilkan oleh masyarakat perdesaan melalui bantuan modal, sarana produksi danpelatihan; (2) memperpendek jalur produksi, distribusi, dan pemasaran produk/jasa masyarakat untukmengurangi biaya ekonomi tinggi melalui pembentukan satuan partisipatif bagi pengembanganproduk/jasa secara spesifik; (3) memberikan akses yang lebih besar bagi masyarakat perdesaanterhadap faktor-faktor produksi barang/jasa seperti modal, bahan baku, teknologi, sarana danprasarana.Pembangunan agropolitan yang terintegrasi bertujuan untuk menghasilkan sistem ruang terencanayang berperan didalam melayani dan menghubungkan berbagai aktivitas sosial dan ekonomi darimanusianya. Sistem ruang ini membentuk keterkaitan antar lokasi-lokasi secara berhirarki(berjenjang) berupa struktur ruang agropolitan. Menurut ESCAP (1979 : hal. 63) jenjang pusat-pusatyang melayani wilayah pembangunan pertanian terdiri dari kota regional (regional city), kota distrikPEMAHAMAN TERHADAP MASTERPLAN 2- 5 6. (district town), dan kota lokal (local town). Masing-masing pusat ini memiliki fungsi yang didasarkankepada kemampuan melayani sejumlah ukuran penduduk. Apabila dikaitkan dengan konsep secondarycities pemikiran Rondinelli, maka kota kedua tersebut adalah kota distrik. Rondinelli dan Ruddle(ESCAP, 1979 : hal 65) mengemukakan bahwa kota distrik merupakan saluran utama didalammemenuhi kebutuhan dasar barang dan jasa penduduk (petani) sebagai pengganti dari hasil-hasilpertanian yang mereka jual. Dalam konsep agropolitan, kota kedua ini dapat dianggap sebagai lokasipusat-pusat pelayanan pertanian dan perdesaan atau pusat agropolitan. Pusat agropolitan bersamadengan unit-unit pengembangan (setingkat kecametan) membentuk satu kawasan agropolitan,dimana masing-masing memiliki fungsi sebagai berikut (Douglass, 1986; diambil dari Ruchyat DeniDjakapermana, 2003 : hal. 7). Pusat agropolitan, berfungsi sebagai:a. Pusat pedagangan dan transportasib. Penyedia jasa pendukung pertanianc. Pasar konsumen produk non-pertaniand. Pusat industri pertanian (agro-based industry)e. Penyedia pekerjaan non pertanianf. Pusat agropolitan dan hinterlandnya terkait dengan sistem permukiman nasional, propinsi, dan kabupatenUnit-unit kawasan pengembangan, berfungsi sebagaia. Pusat produksi pertanianb. Intensifikasi pertanianc. Pusat pendapatan perdesaan dari permintaan untuk barang-barang dan jasa non pertaniand. Produksi tanaman siap jual dan diversifikasi pertanian2.4 KAITAN RENCANA TATARUANGDENGANPROGRAMPEMBANGUNANRencana pembangunan harus dilakukan dengan pendekatan wilayah. Oleh karena itu, rencana tataruang harus dijabarkan secara jelas sehingga mampu mengarahkan pembangunan, menetapkanfungsi dan peran setiap kawasan (bagian suatu ruang) dalam wilayah atau ruang secara keseluruhan.PEMAHAMAN TERHADAP MASTERPLAN 2- 6 7. Selain itu rencana tata ruang harus dapat menjadi acuan lokasi bagi program-program / proyek -proyek pembangunan. Oleh karenanya, rencana tata ruang diharapkan dapat menjadi pedoman untukmengarahkan jenis lokasi investasi pada suatu kawasan. Gambar 2.1.Konsep Pengembangan Kawasan Agropolitan di IndonesiaPemasaran hasilPermodalan/ Teknologi/Pertanian sarana pertanian/ investasi Sarana Pertanian,Kaji Teknologi Pengolahan JasaAgribisnispenunjangLembaga Permodalan Balai PenyuluhanAgribisnis Pembangunan (Agribisnis)Pasar Hasil Pertanian L a h a n p e rta n ia n (d e s a -d e s aP e rm u k im a n te r m a s u k h in te rla n ) y a n g m e m a s o k p ro d u kd id a la m n y a te r d a p a t k e le m b a g a a n s e g a r d a n ju g a p ro d u k o la h a nd a n p e ta n i y a n g in o v a tif h a s il p e r ta n ia n . P u s a t A g ro p o lita n P r a s a ra n a ja la n Sumber: Pedoman Umum Pengembangan Kawasan Agropolitan, Departemen Pertanian, 2003Pada skala nasional, rencana-rencana pembangunan yang memuat kebijakan nasional digariskandalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Rencana ini kemudian diturunkan dalam suatuprogram pembangunan nasional lima tahunan yakni Program Pembangunan Nasional (PROPENAS).Program lima tahunan ini kemudian dirinci lagi menjadi Program Pembangunan Tahunan (PROPETA).Tingkatan rencana seperti dijelaskan diatas, dimiliki pula oleh daerah, yakni dengan adanya rencanapembangunan yang bersifat jangka panjang disebut Pola Dasar Pembangunan Daerah (POLDAS).Poldas dirinci ke dalam program pembangunan daerah jangka menengah/lima tahun, yakni ProgramPembangunan Daerah (PROPEDA). Program jangka menengah ini selanjutnya dijabarkan lagi kedalam Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (REPETADA). Ketiga dokumen perencanaan inimenjadi referensi pokok dalam pelaksanaan program-program pembangunan di daerah.PEMAHAMAN TERHADAP MASTERPLAN 2- 7 8. Pada pembangunan di daerah (kota/kabupaten), Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota(RTRWK) merupakan dimensi ruang dari Poldas dan Propeda, serta menjadi acuan bagi penyusunanRepetada. Poldas dan Propeda memuat arahan kebijakan pengembangan sektor-sektor, sementarapengembangan sektor memerlukan ruang sebagai wadah kegiatannya. Dengan demikian, rencanatata ruang akan terkait langsung dengan Poldas dan Propeda, dengan arahan ruangnya secaralangsung (untuk sektor tertentu) maupun tidak langsung. Kebijaksanaan tata ruang dalam Poldas danPropeda masih bersifat makro (berupa struktur) dan belum dapat memberikan arahan pemanfaatanruang secara definitif. Dengan rencana tata ruang, maka investasi atau kegiatan pembangunan dapatdiarahkan ke dalam ruang yang sesuai. Selain itu, rencana tata ruang dapat menjadi acuan bagiketerkaitan atau kesinambungan antar sektor dan antar ruang di wilayah perencanaannya, maupunacuan bagi penyusunan rencana yang lebih rinci serta perijinan pemanfaatan ruang. Dengan kata lain,rencana tata ruang merupakan bagian dari penataan ruang yang merupakan penjabarandari tujuan pembangunan dal...</p>