of 28/28
1 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KARIR PUSTAKAWAN NON PEMERINTAH: Studi Kasus Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di Lingkungan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Fransisca Rahayuningsih Pustakawan Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Email:[email protected] Paulus Suparmo Pustakawan Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Email:[email protected] ABSTRAK Pengembangan karir merupakan proses peningkatan kemampuan kerja individu yang dicapai dalam rangka mencapai karir yang diinginkan. Pengembangan karir pustakawan dapat dilakukan dengan melakukan banyak hal, misalnya dengan pengangkatan dalam jabatan, promosi, melakukan pengkajian, melakukan penulisan ilmiah, menjadi narasumber, mengikuti call for paper. Pengembangan karir dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain motivasi, modal manusia dan diterapkannya Jabatan Fungsional Pustakawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh motivasi, modal manusia dan Jabatan Fungsional Pustakawan terhadap pengembangan karir pustakawan di lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik. Penelitian ini menggunakan metoda gabungan (mixed methods) dengan strategi penelitian eksplanatoris sekuensial (sequential explanatory strategy). Populasi penelitian Pustakawan di lingkungan perguruan tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Perpustakaan Tinggi Katolik (APTIK) di Indonesia yang terdiri dari 17 perguruan tinggi.Sampel diambil berdasarkan tabel Issac dan Michael sejumlah 97 orang.Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Simple Random Sampling.Informan untuk data kualitatif ditetapkan 15 orang.Analisis data dilakukan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan alat bantuSPSS for Windows versi 13.0. Hasil perhitungan validitas pada kuesioner penelitian menunjukkan bahwa dari keseluruhan item menunjukkan angka yang lebih besar dari 0,3. Jadi dapat disimpulkan bahwa keseluruhan pertanyaan dalam instrumen tersebut adalah valid.Hasil pengolahan data uji reliabilitas ditampilkan bahwa nilai Cronbach Alpha dari keseluruhan variabel melebihi 0,6. Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan dalam penelitian ini adalah reliabel.

1 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

  • View
    220

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of 1 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

  • 1

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KARIR PUSTAKAWAN NON PEMERINTAH:

    Studi Kasus Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di Lingkungan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK)

    Fransisca Rahayuningsih

    Pustakawan Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Email:[email protected]

    Paulus Suparmo

    Pustakawan Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Email:[email protected]

    ABSTRAK Pengembangan karir merupakan proses peningkatan kemampuan kerja

    individu yang dicapai dalam rangka mencapai karir yang diinginkan. Pengembangan karir pustakawan dapat dilakukan dengan melakukan banyak hal, misalnya dengan pengangkatan dalam jabatan, promosi, melakukan pengkajian, melakukan penulisan ilmiah, menjadi narasumber, mengikuti call for paper. Pengembangan karir dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain motivasi, modal manusia dan diterapkannya Jabatan Fungsional Pustakawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh motivasi, modal manusia dan Jabatan Fungsional Pustakawan terhadap pengembangan karir pustakawan di lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik.

    Penelitian ini menggunakan metoda gabungan (mixed methods) dengan strategi penelitian eksplanatoris sekuensial (sequential explanatory strategy). Populasi penelitian Pustakawan di lingkungan perguruan tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Perpustakaan Tinggi Katolik (APTIK) di Indonesia yang terdiri dari 17 perguruan tinggi.Sampel diambil berdasarkan tabel Issac dan Michael sejumlah 97 orang.Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Simple Random Sampling.Informan untuk data kualitatif ditetapkan 15 orang.Analisis data dilakukan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan alat bantuSPSS for Windows versi 13.0.

    Hasil perhitungan validitas pada kuesioner penelitian menunjukkan bahwa dari keseluruhan item menunjukkan angka yang lebih besar dari 0,3. Jadi dapat disimpulkan bahwa keseluruhan pertanyaan dalam instrumen tersebut adalah valid.Hasil pengolahan data uji reliabilitas ditampilkan bahwa nilai Cronbach Alpha dari keseluruhan variabel melebihi 0,6. Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan dalam penelitian ini adalah reliabel.

  • 2

    Hasil penelitian ini membuktikan bahwa motivasi, modal manusia dan Jabatan Fungsional Pustakawan berpengaruh terhadap pengembangan karir pustakawan di lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik. Motivasi memiliki hubungan dengan pengembangan karir pustakawan, terutama motivasi intrinsik yang berupa dorongan berkembang dan dorongan memperbaiki kekurangan. Motivasi intrinsik yang berupa pujian/sanjungan dan hadiah/penghargaan bukan merupakan motif utama karena keduanya akan mengikuti saat prestasi yang diperoleh baik dari usaha untuk berkembang dan memperbaiki kekurangan. Modal manusia yang berupa pendidikan, pelatihan dan pengalaman sangat mendukung pengembangan karir pustakawan.Jabatan fungsional pustakawan berpengaruh dalam pengembangan karir pustakawan di lingkungan perguruan tinggi anggota APTIK. Hal ini terbukti dari hasil analisis regresi yang diperkuat oleh jawaban informan, baik pustakawan yang tergolong tingkat ahli maupun tingkat terampil.

    Berdasarkan data penelitian, pengembangan karir pustakawan di lingkungan APTIK juga dipengaruhi oleh aktivitas di bidang perpusdokinfo. Hal ini ditunjukkan oleh data penelitian bahwa mayoritas pustakawan di lingkungan APTIK mengikuti kegiatan perpusdokinfo, seperti anggota organisasi kepustakawanan, studi banding, menjadi fasilitator/pelatih, menjadi ketua/anggota sebuah tim. Selain itu lama waktu menjadi pegawai (lama waktu kerja) tidak menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap pengembangan karir, karena pengembangan karir lebih dipengaruhi oleh motivasi, modal manusia dan jabatan fungsional pustakawan.

    Data penelitian menunjukkan bahwa pustakawan di lingkungan APTIK memerlukan kegiatan pelatihan dan seminar yang mendukung bidang pekerjaannya.Dari data mengindikasikan bahwa mayoritas responden telah melakukan pelatiham kepustakawanan 1-2 kali, namun demikian masih terdapat 20,61% pustakawan di lingkungan APTIK yang belum pernah mendapatkan pelatihan di bidang kepustakawanan. Selain itu ditemukan tingginya persentase jumlah pegawai perpustakaan di lingkungan APTIK sebesar 41, 23 % yang tidak mengikuti kegiatan seminar bidang Perpusdokinfo. Kata Kunci : Pengembangan Karir, Motivasi, Modal Manusia, Jabatan

    Fungsional Pustakawan, Jaringan Perpustakaan APTIK

  • 3

    1. PENDAHULUAN

    Muhi, Ali Hanapiah (2010) menyatakan bahwa manusia sejati adalah

    orang-orang yang memiliki kualitas tinggi secara fisik, intelektual, dan nurani.

    Kesejatian diri sebagai manusia itu bernilai sosial, ekonomi, politik, dan

    kebudayaan pada umumnya. Setidaknya, ada dua ranah bagi manusia untuk

    menjadi berkualitas, yaitu kualitas pribadi yang didapat karena faktor-faktor yang

    bersumber dari bakat bawaan dan kualitas pribadi yang didapat melalui proses

    pembelajaran. Kualitas pribadi ini yang pada akhirnya akan membawa sesorang

    termasuk pustakawan untuk lebih bermakna, karena dengan kualitas pribadi

    seseorang pustakawan akan mampu mengembangkan karirnya demi produktivitas

    yang lebih baik.

    Berdasar Anggaran Dasar Ikatan Pustakawan Indonesia BAB I Pasal 1

    pustakawan adalah pegawai yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan

    hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan

    kepustakawanan pada unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi baik di

    instansi pemerintah maupun swasta. Sementara di dalam Undang-undang

    Perpustakaan nomor 43 tahun 2007 pada BAB VIII Pasal 29 (2) dinyatakan

    bahwa pustakawan harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional

    perpustakaan. Sementara pada pasal 31 (b) dinyatakan bahwa pustakawan berhak

    atas pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas. Selain itu,

    pustakawan telah mendapat pengakuan dari pemerintah Indonesia dengan

    dikeluarkannya Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor

    132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsonal Pustakawan dan Angka

    Kreditnya. Dengan amanat undang-undang mengenai pengembangan kualifikasi

    pustakawan dan disandangnya jabatan fungsional pustakawan, maka pustakawan

    dituntut untuk senantiasa mengembangkan karirnya dan tidak hanya terjebak

    dengan rutinitas harian, baik dalam pengadaan koleksi, pengorganisasian koleksi,

    maupun aktivitas pelayanan pengguna. Pustakawan harus selalu mengembangkan

    talenta yang dimiliki, karena Talenta yang tidak dikembangkan, akan diambil

    kembali oleh-Nya.

  • 4

    Pengembangan karir adalah proses peningkatan kemampuan kerja individu

    yang dicapai dalam rangka mencapai karir yang diinginkan (Veitzhal Rivai, 2003

    dalam Hutasuhut 2014). Pengembangan karir pustakawan dapat dilakukan dengan

    melakukan banyak hal, misalnya dengan pengangkatan dalam jabatan, promosi,

    melakukan pengkajian, melakukan penulisan ilmiah, menjadi narasumber,

    mengikuti call for paper. Semua hal yang dapat dilakukan pustakawan, tentu tidak

    dapat dicapai begitu saja, namun hanya dapat dicapai melalui pendidikan,

    pelatihan, dan belajar mandiri. Banyak faktor yang dapat menyebabkan yang

    mempengaruhi pengembangan karir pustakawan, diantaranya adalah pengakuan

    terhadap profesi pustakawan itu sendiri, adanya kesempatan yang diberikan dari

    lembaga/atasan, motivasi diri, modal yang dimiliki oleh setiap pustakawan.

    Pengembagan karir pustakawan bisa sangat beragam. Tidak semua pustakawan

    mendapatkan dukungan yang penuh dari lembaga atau atasan untuk

    mengembangkan diri. Tidak semua pustakawan memiliki motivasi yang kuat

    untuk mengembangkan diri, walaupun seringkali kesempatan terbuka luas.

    Seringkali pustakawan menjadikan kesibukan sebagai kambing hitam. Selain itu

    tidak semua pustakawan memiliki modal untuk mengembangkan diri.

    Jaringan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) adalah

    perkumpulan dari 17 perpustakaan perguruan tinggi katolik yang ada di Indonesia.

    Asosiasi ini telah berdiri sejak tahun 1989. Secara umum perpustakaan jaringan

    APTIK sudah melakukan berbagai aktivitas untuk pengembangan karir melalui

    pemberian beasiswa studi pada jurusan ilmu perpustakaan, pelatihan staf

    perpustakaan, penyusunan pedoman jabatan fungsional pustakawan walaupun

    belum semua perpustakaan di lingkungan APTIK mengimplementasikan Jabatan

    Fungsional Pustakawan, juga melalui rapat kerja perpustakaan yang harapannya

    dapat menampung usulan-usulan untuk pengembangan karir pustakawan.

    Melihat fakta-fakta yang ada di perpustakaan APTIK, di satu sisi

    perpustakaan sudah melakukan serangkaian usaha untuk mengembangkan diri

    melalui pendidikan, melakukan berbagai kegiatan. Namun di sisi lain bahwa jenis

    program pengembangan dan faktor-faktor yang menyebabkan pengembangan

    karir pustakawan tentu berbeda-beda diantara anggota perpustakaan APTIK. Dari

  • 5

    uraian itu kiranya sebuah penelitian diperlukan untuk dapat menjawab

    permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing perpustakaan APTIK, yaitu

    sejauh mana faktor motivasi, modal manusia dan jabatan fungsional berpengaruh

    terhadap pengembangan karir pustakawan di perpustakaan anggota APTIK.

    Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam

    penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Apakah motivasi berpengaruh terhadap

    pengembangan karir pustakawan di lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan

    Tinggi Katolik?Apakah modal manusia berpengaruh terhadap pengembangan

    karir pustakawan di lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi

    Katolik?Apakah jabatan fungsional berpengaruh terhadap pengembangan karir

    pustakawan di lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik?

    2. STUDI PUSTAKA

    Di dalam kajian ini digunakan definisi Perpustakaan Perguruan Tinggi

    (PPT) yang dikemukakan oleh Palmira Juceviciene & Gintare Tautkeviciene,

    yang mengatakan bahwa PPT adalah sebuah sub-sistem organisasi universitas

    yang berkedudukan bukan hanya sekedar devisi pelayanan pembelajaran dan

    penelitian namun menjadi unit infrastruktur informasi dan partisipan yang aktif di

    dalam proses pembelajaran di setiap program kajian

    (http://www.leeds.ac.uk/educol/documents/00003274.htm).Definisi ini secara

    tersirat menunjukkan adanya partisipasi aktif peran PPT. Peran aktif tersebut

    tentunya tidak dapat dipisahkan dari peran para pustakawan di dalamnya yang

    harus mampu menjadi partisipan di dalam proses pembelajaran dan bukan sekedar

    menjadi pelayan. Untuk itu mampu mengemban itu semua, pustakawan harus

    mengembangkan dirinya. Pengembangan karir pustakawan dapat dilakukan

    melalui pengembangan karir.

    Karir, secara sederhana dapat dikatakan sebagai perkembangan dan

    kemajuan dalam pekerjaan seseorang.Maka karir pustakawan dapat dikatakan

    sebagai perkembangan dan kemajuan pustakawan dalam mengemban profesinya.

  • 6

    Pengembangan diri pustakawan akan sangat tergantung pada masing-

    masing orang yang memasuki dunia profesi pustakawan. Di kalangan pustakawan

    pegawai negri sipil (PNS) di Indonesia telah disediakan secara lengkap dasar

    pengembangan karir pustakawan.Dasar pengembangan karir yang dimaksud yaitu

    ketentuan jabatan fungsional dan sertifikasi pustakawan. Dengan demikian

    pengembangan diri melalui dasar yang sudah disediakan tersebut akan sangat

    tergantung pada masing-masing orang yang telah memasuki profesi pustakawan.

    Pengembangan karir pustakawan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor,

    diantaranya adalah motivasi, modal manusia dan jabatan fungsional.

    Motivasi adalah faktor pertama dalam pengembangan karir. Dalam hal

    pengembangan karir motivasi merupakan unsur yang penting, selain kemampuan

    yang harus dimiliki. Motivasi merupakan dorongan mental yang menggerakkan

    seseorang dalam bertingkah atau mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan

    sebelumnya (Uno, 2007). Sementara Siagian (1989) mendefinisikan motivasi

    sebagai daya dorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan

    rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian dan ketrampilan

    tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi

    tanggungjawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian

    tujuan dan berbagai sasaran organiasi yang telah ditentukan sebelumnya.

    Motivasi muncul sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu,

    maka seringkali muncul bahwa kekuatan motivasi antara seseorang dengan yang

    lain berbeda-beda. Berkaitan dengan perbedaan kekuatan motivasi tersebut,

    Siagian (1989) menyatakan bahwa apabila berbicara mengenai motivasi salah

    satu yang hal yang amat penting untuk diperhatikan adalah bahwa tingkat

    motivasi berbeda antara seorang dengan orang lain dan dalam diri seseorang pada

    waktu berlainan. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri seseorang yang sering

    dikenal dengan istilah motivasi internal atau motivasi intrinsik akan tetapi dapat

    pula bersumber dari luar diri orang yang berangkutan yang dikenal dengan istilah

    motivasi eksternal atau ekstrinsik.

    Modal manusia adalah faktor kedua dalam pengembangan karir. Seringkali

    kita mendengar bahwa manusia bukan sekedar sumber daya namun merupakan

  • 7

    modal untuk menghasilkan produktivitas yang lebih baik. Kwon (2009) dalam

    Setyowati (2013) menyatakan bahwa Istilah modal manusia pertama kali

    dikemukakan oleh Arthur Pigou, pada tahun 1928. Istilah ini merupakan

    gabungan dari dua kata, yakni modal dan manusia. Modal, dari sudut pandang

    ilmu ekonomi, diartikan sebagai faktor produksi yang digunakan dalam

    menciptakan barang atau layanan. Modal manusia merupakan akumulasi

    pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan seseorang melalui pendidikan,

    pelatihan atau dari pengalaman hidup (Hubbard, O'Brien, dan Rafferty, 2012

    dalam Setyowati (2013).

    Jabatan Fungsional Pustakawan adalah faktor ketiga dalam pengembangan

    karir. Keputusan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur

    Negara132/KEP/M.PAN/12/2002, BAB II Pasal 3 (2) dinyatakan bahwa Jabatan

    fungsional pustakawan adalah jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh

    seseorang yang telah berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil.Mengingat

    pentinganya pedoman untuk pengembangan karier pustakawan, maka pada

    perkembangan selanjutnya, pegawai di instansi swasta juga mulai

    mengimplementasikan Jabatan fungsional pustakawan.Jabatan fungsional

    pustakawan sesuai dengan Kepmenpan tersebut terdiri dari Pustakawan Tingkat

    Terampil dan Pustakawan Tingkat Ahli.Tugas pokok Pustakawan Tingkat

    Terampil meliputi pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan

    pustaka/sumber informasi, pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan

    informasi.Tugas pokok Pustakawan Tingkat Ahli meliputi pengorganisasian dan

    pendayagunaan koleksi bahan pustaka/sumber informasi, pemasyarakatan

    perpustakaan, dokumentasi dan informasi serta pengkajian pengembangan

    perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

    Terkait dengan pengembangan karir pustakawan, dalam penelitian ini

    disusun hipotesis penelitian sebagai berikut:

    1. Motivasi berpengaruh terhadap pengembangan karir pustakawandi

    lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik.

    2. Modal manusia berpengaruh terhadap pengembangan karir pustakawandi

    lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik.

  • 8

    3. Jabatan fungsional pustakawan berpengaruh terhadap pengembangan karir

    pustakawandi lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik.

    3. METODOLOGI PENELITIAN

    Penelitian mengenai Pengembangan Karir di Lingkungan Perpustakaan

    APTIKini didesain menggunakan metoda gabungan (mixed methods). Strategi

    penelitian metoda gabungan pada penelitian ini menggunakan eksplanatoris

    sekuensial (sequential explanatory strategy).Untuk lebih jelasanya model

    eksplanatoris sekuensial tersebut digambarkan sebagai berikut:

    KUAN Kual

    KUAN KUAN kual kual Interpretasi

    Pengumpulan

    Data

    Analisis

    Data

    Pengumpulan

    Data

    Analisis

    data

    Keseluruhan

    Analisis

    Gambar 3.1 Strategi Eksplanatori Sekuansial

    Sumber: Cresswell (2007)

    Pengumpulan data pada pendekatan kuantitatif data survey dilakukan

    dengan menggunakan kuesioner. Survey ditujukan kepada responden yaitu 97

    orang. Untuk menentukan jumlah sampel yang akan diambil, peneliti akan

    menggunakan teknik Simple RandomSampling.Pengumpulan data pada

    pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara terhadap 15 responden untuk

    menguatkan jawaban kualitatif yang telah diberikan melalui kuesioner terbuka.

    Variabel yang digunakan adalah X1: Motivasi, X2: Modal Manusia, X3:

    Jabatan Fungsional Pustakawan dan Y: Pengembangan Karir. Tahap pengolahan

    data dilakukan peneliti menggunakan program SPSS versi 13.0. Uji validitas

    dilakukan dengan cara mengkorelasikan jumlah skor faktor dengan skor totaldan

    realibilitas kuesioner dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbach

    Alpha.Analisis data dilakukan menggunakan analisis regresi linier berganda,

  • 9

    yaitu metode analisis data statistik untuk mengetahui hubungan beberapa variabel

    independen (prediktor atau bebas) dan variabel dependen (kriteria atau

    tergantung).

    4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner

    Hasil perhitungan validitas pada kuesioner penelitian menunjukkan bahwa

    dari keseluruhan item menunjukkan angka yang lebih besar dari 0,3. Jadi dapat

    disimpulkan bahwa keseluruhan pertanyaan dalam instrumen tersebut adalah

    valid.

    Hasil pengolahan data uji reliabilitas ditampilkan bahwa nilai Cronbach

    Alpha dari keseluruhan variabel melebihi 0,6. Jadi dengan demikian dapat

    disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan dalam penelitian ini adalah reliabel.

    Uji Hipotesis

    Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan untuk melihat adanya

    pengaruh motivasi, modal manusia dan jabatan fungsional pustakawan terhadap

    pengembangan karir pustakawandi lingkungan Perpustakaan Asosiasi Perguruan

    Tinggi Katolik.Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi linier

    berganda dengan alat bantu SPSS for windows versi 13.0. Tahap pertama

    dilakukan uji hipotesis terhadap pustakawan tingkat ahli dan tahap kedua

    dilakukan uji hipotesis terhadap pustakawan tingkat terampil pada variabel

    motivasi, modal manusia dan jabatan fungsional.

    Uji hipotesis terhadap pustakawan tingkat ahli dengan hasil secara rinci

    ditampilkan dalam tabel sebagai berikut:

  • 10

    Tabel 4.1 Hasil Uji Hipotesis Jabatan Fungsional Pustakawan Tingkat Ahli

    Variabel Koef. t hitung Sig. Keputusan

    Konstan -7,771 -6,402 0,000 Signifikan

    Motivasi 0,177 2,182 0,035 Signifikan

    Modal Manusia 0,119 3,206 0,003 Signifikan

    Jabatan Fungsional 0,174 2,614 0,012 Signifikan

    Fhitumg 34,524 0,000 Signifikan

    Adjusted R Square 0,696

    Berdasarkan Tabel di atas didapatkan persamaan regresi sebagai berikut:

    Pengembangan Karir = -7,771+ 0,177X1+0,119X2+0,174X3+e

    Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan metode regresi

    berganda.Tabel 4.1 menunjukkan bahwa Adjusted R2 mempunyai nilai sebesar

    0,696. Hal ini berarti 69,6 % pengembangan karirdapat dijelaskan oleh variabel-

    variabel independen, yakni motivasi, modal manusia dan jabatan fungsional

    tingkat ahli sedangkan sisanya (100% - 69,6% = 30,4%) dijelaskan oleh variabel

    lain di luar penelitian ini. Hasil uji ANOVA atau F test pada Tabel 4.1

    menunjukkan nilai F hitung sebesar 34,524 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 di

    bawah nilai (0,05), sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi

    variabel pengembangan karir.

    1. Hubungan Motivasi dengan Pengembangan Karir Pustakawan Tingkat Ahli

    Hipotesis pertama dalam penelitian ini dinyatakan sebagai

    berikut:Motivasi berpengaruh pada pengembangan karir. Berdasarkan Tabel di

    atas diperoleh koefisien regresi motivasi sebesar 0,177 dan t sebesar 2,182 yang

    lebih besar dari t tabel (0,05: 96) = 1,98. Pada taraf signifikansi 5% (0,05), maka

    sig. 0,035

  • 11

    Motivasi merupakan dorongan yang mengakibatkan pustakawan mau dan

    rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian dan ketrampilan

    hingga tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yag

    menjadi tanggungjawabnya dan menunaikan kewajibannya dalam rangka

    pencapaian tujuan dan berbagai sasaran atau motif yang telah ditentukan

    sebelumnya. Motif untuk hal ini adalah bagi pengembangan karir pustakawan. Hal

    ini kuatkan melalui wawancara berikut ini:

    dengan meningkatkan kompetensi yang saya miliki jelas akan

    memudahkan saya dalam melakukan pekerjaan dan jelas karir saya akan

    meningkat. (INF-2, 3-5)

    kebutuhan saya untuk meningkatkan karir adalah untuk menambah

    pengetahuan dan meningkatkan layanan bagi pemustaka. (INF-6, 9-10)

    fokus meningkatkan karir bukan pada hadiah tetapi lebih kepada

    kesadaran diri, pada prinsipnya meningkatkan karir bukan karena ada

    sesuatu hal tetapi lebih kepada keinginan dari diri sendiri untuk

    memberikan yang terbaik. (INF-9, 13-17)

    Kutipan wawancara tersebut menjelaskan bahwa motivasi yang dimiliki

    bukan sekedar keinginan dan harapan namun diwujudkan melalui tindakan yang

    berupa usaha menambah pengetahuan dan kompetensi diri dan fokus pada profesi

    pustakawan.Usaha tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk motivasi instrinsik

    yang berupa dorongan untuk berkembang. Selain dorongan untuk berkembang

    informan juga memiliki motivasi yang berupa dorongan untuk memperbaiki

    kekurangan, hal ini seperti yang diungkapkan melalui kutipan wawancara berikut

    ini;

    saya merasa sangat kurang dalam bidang kepustakawanan maka dari itu

    saya terus mempelajari hal-hal yang baru untuk mengembangkan

    pengetahuan saya mengenai kepustakawanan. (INF-2, 9-13)

    perpustaakan berkembang pesat dan banyak hal baru yang perlu

    dipelajari. (INF-12, 8-9)

  • 12

    Berbeda dengan motivasi instriksik, untuk motivasi ekstrinsik yang berupa

    pujian/sanjungan dan hadiah atau penghargaan bukan menjadi motif utama dalam

    pengembangan karir sebagai pustakawan.hal ini ditunjukan dari kutipan

    wawancara berikut ini:

    sanjungan bukan jaminan untuk meningkatkan karir. (INF-9, 11-12)

    hadiah atau pengharagaan akan datang dengan sendirinya kalau saya

    berprestasi. (INF-10, 10-11)

    karir bukan karena sanjungan dan penghargaan diperoleh karena

    kompetensi. (INF-12, 11-12)

    Berdasarkan data dari kuisioner maupun wawancara motivasi memiliki

    hubungan dengan pengembangan karir pustakawan, terutama motivasi

    instrinsik.Motivasi instrinsik yang berupa dorongan berkembang dan dorongan

    memperbaiki kekurangan dengan salah satu usaha yang dipilih adalah

    meningkatkan kompetensi dan wawasan. Untuk motivasi instrinsik yang berupa

    pujian/sanjungan dan hadiah/penghargaan bukan merupakan motif utama karena

    keduanya akan mengikuti saat prestasi yag diperoleh baik dari usaha untuk

    berkembangan dan memperbaiki kekurangan.

    2. Hubungan Modal Manusia dengan Pengembangan Karir Pustakawan Tingkat Ahli

    Hipotesis kedua dalam penelitian ini dinyatakan: Modal manusia

    berpengaruh pada pengembangan karir. Berdasarkan Tabeldi atas diperoleh

    koefisien regresi modal manusia sebesar 0,119 dan t sebesar 3,206 yang lebih

    besar dari t tabel (0,05: 96) = 1,98. Pada taraf signifikansi 5% (0,05), maka sig.

    0,003

  • 13

    membutuhkan kemampuan khusus yang berasal dari pendidikan, pelatihan dan

    pengalaman karena pekerjaan ini bukan hanya sekedar menata buku pada rak yang

    tersedia melainkan mengorganisir buku-buku tersebut agar lebih mudah

    dimanfaatkan saat dibutuhkan.Selain menunjang dalam tugas dan kewajiban

    pustakawan sehari-hari, modal manusia ini juga berpengaruh pada pengembangan

    karir sebagai pustakawan. Kondisi ini seperti yang ditunjukan melalui kutipan

    wawancara berikut ini:

    Dalam pendidikan formal banyak sekali dijelaskan tentang teori-teori

    kepustakawanan. (INF-2, 16-17)

    Karir merupakan suatu jabatan strategis dan politis selain itu juga ada

    masa jabatan, sedangkan karir dihubungkan dengan pendidikan formal

    akan membawa dampak pada golongan. (INF-3, 69-72)

    Saya kuliah S-2 tidak untuk mengejar karir tetapi untuk memperdalam

    pengetahuan saya karena basic pendidikan saya bukan dari pendidikan

    perpustakaan. (INF-5, 17-19)

    Pendidikan formal ini menjadi dasar untuk mengembangkan kegiatan

    operasional di perpustakaan. (INF-6, 21-23)

    Bukan hanya modal pendidikan saja yang dibutuhkan dalam

    mengembangkan karir, perlu juga pelatihan-pelatihan dan ditambah pengalaman

    seperti yang disampaikan melalui kutipan wawancara berikut ini:

    pelatihan-pelatihan yang saya ikuti sangat berguna bila diaplikasikan

    pada perpustakaan kami. (INF-6, 19-20)

    pada prinsipnya, semua pelatihan tidak ada yang sia-sia karena

    semua kembali kepada masing-masing pribadi untuk mengolahnya

    menjadi hal yang berguna dan dapat dikembangkan. (INF-9, 36-39)

    Untuk meningkatkan mutu profesional, disamping pendidikan formal,

    terdapat pula pendidikan non-formal. Pembinaan melalui pendidikan

    nonformal adalah upaya peningkatan kualitas pustakawan secara

    bersama-sama, dan dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan

    (diklat), penataran (upgrading), simposium, seminar, lokakarya, kursus,

  • 14

    magamg (on the job training), studi banding dan lain sebagainya. (INF-

    14, 28-36)

    Selain ditunjang oleh pendidikan dan pelatihan pengembangan karir juga

    dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki oleh pustakawan. Seperti yang

    disampaikan informan melalui wawancara berikut ini:

    buktinya saya sudah 22 tahun bekerja dan mengembangkan

    kepustakawanan di lingkungan universitas yang sudah membawa dampak

    bagi sivitas akademika. (INF-3, 51-54)

    Dari pengalaman-pengalaman bekerja saya menjadi tahu. (INF-11, 26)

    Dari kutipan tersebut menguatkan bahwa untuk mengembangkan karir

    sebagai pustakawan dibutuhkan modal manusia yang berupa pendidikan pelatihan

    dan pengalaman.Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh melalui kuesioner

    dan wawancara bahwa modal manusia yang berupa pendidikan, pelatihan dan

    pengalaman berpengaruh pada pengembangan karir pustakawan.

    3. Hubungan Jabatan Fungsional dengan Pengembangan Karir Pustakawan Tingkat Ahli

    Hipotesis ketiga dalam penelitian ini dinyatakan: Jabatan fungsional

    tingkat ahli berpengaruh pada pengembangan karir. Berdasarkan Tabel di atas

    diperoleh koefisien regresi jabatan fungsional tingkat ahli sebesar 0,174 dan t

    sebesar 2,614 yang lebih besar dari t tabel (0,05: 96) = 1,98. Pada taraf

    signifikansi 5% (0,05), maka sig. 0,012

  • 15

    Promosi tidak berkaitan dengan karir, tetapi merupakan kegiatan yang

    harus dilakukan. Dengan berpendidikan kepustakawanan, cara

    promosinya lebih tepat ke sasaran. Kajian dan karier dua hal yang

    berbeda. (INF-12, 21-25)

    Saya mengembangkan pelayanan dan menciptakan kemudahan bagi

    pemustaka.promosi merupakan sarana agar perpustakaan semakin

    diterima dihati pemustaka dan menambah pengetahuan meneliti. (INF-

    13, 26-30)

    Tahap kedua adalah dilakukan uji hipotesis terhadap pustakawan tingkat

    terampil. Berdasarkan hasil analisis dari kuesioner dan wawancara dapat ditarik

    kesimpulan bahwa jabatan fungsional berpengaruh pada pengembangan

    karir.Pengembangan karir untuk pustakawan memiliki tahapan dan tahapan ini

    dilalui dalam bentuk jabatan fungsional yang dinilai dari prestasi dan kompetensi

    kerja.

    Tabel 4.2 Hasil Uji Hipotesis Jabatan Fungsional Pustakawan Tingkat

    Terampil

    Variabel Koef. t hitung Sig. Keputusan

    Konstan -4,725 -4,097 0,000 Signifikan

    Motivasi 0,169 2,491 0,016 Signifikan

    Modal Manusia 0,100 2,949 0,005 Signifikan

    Jabatan Fungsional 0,290 3,569 0,001 Signifikan

    Fhitumg 30,880 0,000 Signifikan

    Adjusted R Square 0,624

    Berdasarkan Tabel 4.2 di atas didapatkan persamaan regresi sebagai

    berikut:

    Pengembangan Karir = -4,725+ 0,169X1+0,100X2+0,290X3+e

    Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan metode regresi

    berganda. Tabel4.2 menunjukkan bahwa Adjusted R2 mempunyai nilai sebesar

  • 16

    0,624. Hal ini berarti 62,4 % pengembangan karirdapat dijelaskan oleh variabel-

    variabel independen, yakni motivasi, modal manusia dan jabatan fungsional

    tingkat terampil sedangkan sisanya (100% - 62,4% = 37,6%) dijelaskan oleh

    variabel lain di luar penelitian ini. Hasil uji ANOVA atau F test pada Tabel

    4.2menunjukkan nilai F hitung sebesar 30,880 dan nilai signifikansi sebesar 0,000

    di bawah nilai (0,05), sehingga model regresi dapat digunakan untuk

    memprediksi variabel pengembangan karir.

    1. Hubungan Motivasi dengan Pengembangan Karir Pustakawan Tingkat Terampil

    Hipotesis pertama dalam penelitian ini dinyatakan: Motivasi berpengaruh

    pada pengembangan karir. Berdasarkan Tabel di atas diperoleh koefisien regresi

    motivasi sebesar 0,169 dan t sebesar 2,491 yang lebih besar dari t tabel (0,05: 96)

    = 1,98. Pada taraf signifikansi 5% (0,05), maka sig. 0,016

  • 17

    Untuk meningkatkan karir sebagai pegawai perpustakaan tidak perlu

    sanjungan tetapi bekerja dengan baik, benar sesuai dengan peraturan

    yang telah di tetapkan oleh perpustakaan tempat bekerja. (INF-1, 7-10)

    Dasar saya bukan perpustakaan tapi sedikit demi sedikit saya dapat

    menguasainya dengan belajar sendiri melalui observasi pekerjaan dan

    juga bertanya dan minta diajari oleh teman kerja. (INF-5, 7-10)

    Semakin kita bisa menambah ilmu semakin pemustakan puas dalam

    pelayanan dan sebagai bahan introspeksi dalam pelayanan, untuk

    motivasi ekstrensik berupa pujian maupun hadiah membuat saya takut

    akan menjadi sombong. (INF-11, 4-8)

    Berdasarkan hasil analisis diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

    motivasi berpengaruh pada pengembangan karir.motivasi yang lebih dominan

    untuk pengembangan karir adalah motif intrinsik yang berupa dorongan

    berkembang dan memperbaiki kekurangan sedangkan motivasi ekstrinsik hanya

    sebagai motif penguat dalam pengembangan karir.

    2. Hubungan Modal Manusia dengan Pengembangan Karir Pustakawan Tingkat Terampil

    Hipotesis kedua dalam penelitian ini dinyatakan: Modal manusia

    berpengaruh pada pengembangan karir. Berdasarkan Tabel di atas diperoleh

    koefisien regresi modal manusia sebesar 0,100 dan t sebesar 2,949 yang lebih

    besar dari t tabel (0,05: 96) = 1,98. Pada taraf signifikansi 5% (0,05), maka sig.

    0,005

  • 18

    Pendidikan formal pustakawan dapat dilakukan pada tingkat diploma,

    sarjana atau pascasarjana.Pendidikan formal adalah sarana tempat

    dimana pustawakan atau calon pustakawan mempersiapkan diri menjadi

    professional. (INF-14, 23-27)

    Bukan hanya pendidikan formal saja yang dibutuhkan oleh pustakawan

    dalam mengembangkan karirnya ada faktor lain yang berupa pelatihan dan

    pengalaman. Hal ini dipaparkan pada kutipan wawancara berikut ini:

    Kembali lagi pelatihan dan pendidikan informal tidak secara otomatis

    berpengaruh terhadap karir, namun peningkatan kompetensi diri sebagai

    pustakawan yang kemungkinan dapat juga berdampak terhadap karir.

    (INF-3, 22-26)

    Pelatihan-pelatihan tersebut dapat semakin melengkapi wawasan saya

    dan membuat pustakawan lebih kaya ilmu. (INF-6, 24-27)

    Pengalaman-pengalaman diluar pendidikan formal seperti pelatihan-

    pelatihan yang pernah diikuti dibutuhkan dalam pengembangan karir

    sebagai pegawai perpustakaan. (INF-7, 13-16)

    Pelatihan sangat mendukung demi pengembangan kariri saya. (INF-14,

    42-43)

    Pendidikan adalah investasi modal manusia dalam bentuk waktu dan

    biaya. Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi modal manusia yang

    paling penting. Dengan modal pendidikan, karyawan dapat meningkatkan tingkat

    pendapatan dan juga pengembangan karir.Hal ini berlaku pula untuk profesi

    pustakawan.profesi ini membutuhkan pendidikan khusus ditambah pelatihan dan

    pengalaman. Melalui ketiga faktor tersebut akan berdampak pada pengembangan

    karir yang diinginkan.

  • 19

    3. Hubungan Jabatan Fungsional dengan Pengembangan Karir Pustakawan Tingkat Terampil

    Hipotesis ketiga dalam penelitian ini dinyatakan: Jabatan fungsional

    tingkat terampil berpengaruh pada pengembangan karir. Berdasarkan Tabel di atas

    diperoleh koefisien regresi jabatan fungsional tingkat terampil sebesar 0,290 dan t

    sebesar 3,569 yang lebih besar dari t tabel (0,05: 96) = 1,98. Pada taraf

    signifikansi 5% (0,05), maka sig. 0,012

  • 20

    Berdasarkan hasil jawaban untuk 6 pertanyaan mengenai variabel

    motivasi, yaitu 11,2% responden menyatakan sangat tidak setuju, 12,0%

    responden menyatakan tidak setuju, 20,6% responden menyatakan netral, 33,5%

    responden menyatakan setuju dan 22,9% responden menyatakan sangat setuju.

    Dengan demikian jawaban Pustakawan didominasi jawaban setuju dengan

    presentase sebesar 33,5%. Jika dilihat dari motivasi intrinsik dan ekstrinsik,

    nilainya sangat berbanding terbalik. Pada motivasi intrinsik, jawaban responden

    didominasi jawaban setuju, artinya bahwa pustakawan selalu meningkatkan

    kompetensi, mempelajari hal-hal baru di bidang kepustakawanan dan

    memperbaiki kekurangan saya sebagai pegawai perpustakaan/pustakawan.

    Sedangkan pada motivasi ekstrinsik, jawaban responden didominasi jawaban

    Tidak setuju dan Sangat Tidak Setuju, artinya bahwa pustakawan tidak suka

    dengan sanjungan dan hadiah/penghargaan, namun pustakawan termotivasi untuk

    dapat melaksanakan pekerjaan untuk lebih dapat berkembang dan memperbaiki

    kekurangan.

    Jika dikaitkan dengan teori yang ada, bahwa motivasi merupakan

    dorongan mental yang menggerakkan seseorang dalam bertingkah atau mencapai

    tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya (Uno, 2007), pustakawan di

    lingkungan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) memiliki daya dorong

    yang luar biasa untuk melakukan pengembangan karir.Sementara Siagian (1989)

    mendefinisikan motivasi sebagai daya dorong yang mengakibatkan seseorang

    anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk

    keahlian dan ketrampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan

    berbagai kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya dan menunaikan

    kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organiasi

    yang telah ditentukan sebelumnya. Pustakawan di lingkungan Asosiasi

    Perguruan Tinggi Katolik (APTIK)mengerahkan kemampuan dalam bentuk

    keahlian dan ketrampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan

    berbagai kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya dan menunaikan

    kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organiasi

    yang telah ditentukan sebelumnya.Motivasi intrinsik berupa dorongan

  • 21

    berkembang dan memperbaiki kekurangan lebih dominan dari pada motivasi

    ekstrinsik bagi pustakawan di lingkungan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik

    (APTIK) dalam pengembangan karir.

    2. Analisis Faktor Modal Manusia Modal manusia terdiri dari pendidikan, pelatihan dan pengalaman.

    Berdasarkan hasil jawaban untuk 12 pertanyaan mengenai variabel modal

    manusia, yaitu 10,4% responden menyatakan sangat tidak setuju, 8,7% responden

    menyatakan tidak setuju, 17,5% responden menyatakan netral, 36,1% responden

    menyatakan setuju dan 27,3% responden menyatakan sangat setuju. Dengan

    demikian jawaban Pustakawan didominasi jawaban setuju dengan presentase

    sebesar 36,1%, itu artinya bahwa pustakawan memandang bahwa pendidikan,

    pelatihan dan pengalaman penting dimiliki pustakawan dalam mendukung

    pengembangan karir pustakawan. Hal itu sejalan dengan teori yang disampaikan

    oleh Hubbard, O'Brien, dan Rafferty, 2012 dalam Setyowati (2013) bahwa modal

    manusia merupakan akumulasi pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan

    seseorang melalui pendidikan, pelatihan atau dari pengalaman hidup.

    Sementara menurut Salehudin, (2010) menyampaikan bahwa beberapa hal

    yang diyakini dapat mengembangkan modal manusia:

    1. Pengalaman

    Pengalaman merupakan modal manusia yang secara alami berkembang

    seiring dengan investasi seorang karyawan. Di sini dapat dikatakan bahwa

    karyawan yang sudah memiliki pengalaman pada suatu bidang akan

    beradaptasi lebih cepat dari pada karyawan yang sama sekali belum memiliki

    pengalaman pada suatu bidang. Pengalaman pustakawan di lingkungan

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) tidak saja ditunjukkan dari

    lamanya mereka berkerja, namun dari aktivitas aktivitas lain yang dilakukan

    pustakawan di bidang kepustakawanan, misalnya dalam hal studi banding,

    manjadi narasumber, menulis, menjadi tutor, dll.

  • 22

    2. Pendidikan

    Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi modal manusia yang

    paling penting. Dengan modal pendidikan, karyawan dapat meningkatkan

    tingkat pendapatan dan juga pengembangan karir. Pustakawan di lingkungan

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) walaupun mayoritas belum

    menempuh pendidikan di bidang perpustakaan, namun mereka mengakui

    bahwa pendidikan merupakan faktor yang penting dalam pengembangan karir

    pustakawan.

    3. Pelatihan

    Becker (1993) dalam Salehudin (2010) menyatakan bahwa pelatihan sebagai

    kegiatan investasi modal manusia yang terpenting kedua setelah pendidikan

    dan salah satu alat utama perusahaan untuk mengembangkan modal manusia

    yang dimiliki oleh karyawan mereka. Modal manusia ini dikembangkan

    dalam wujud kompetensi berupa keahlian (skill), pengetahuan (knowledge)

    dan sikap (attitude) yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan

    dengan baik. Pustakawan di lingkungan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik

    (APTIK) telah melakukan pelatihan kepustakawanan 1-2 kali, dan masih

    terdapat 20,61% pustakawan di lingkungan APTIK yang belum pernah

    mendapatkan pelatihan di bidang kepustakawanan.Namun mayoritas

    pustakawan menyadari pentingnya pelatihan ini untuk pengembangan karir

    mereka.

    3. Analisis Faktor Jabatan Fungsional Pustakawan Jabatan fungsional pustakawan terdiri dari pustakawan tingkat ahli dan

    pustakawan tingkat terampil. Berdasarkan hasil jawaban untuk 6 pertanyaan

    mengenai variabel jabatan fungsional, yaitu 7,9% responden menyatakan sangat

    tidak setuju, 9,2% responden menyatakan tidak setuju, 23,4% responden

    menyatakan netral, 38,5% responden menyatakan setuju dan 21,0% responden

    menyatakan sangat setuju. Dengan demikian jawaban Pustakawan didominasi

    jawaban setuju dengan presentase sebesar 38,5%, artinya bahwa pustakawan di

    lingkungan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) mengembangkan karir

  • 23

    melalui bidang pengorganisasian informasi dan pendayagunaan koleksi bahan

    pustaka atau sumber informasi lainnya di perpustakaan tempat bekerja,

    memproses informasi dan koleksi perpustakaan agar mudah digunakan oleh

    pengguna perpustakaan, promosi perpustakaan, melakukan kajian-kajian tentang

    kepustakawanan, dokumentasi dan informasi.Hal itu sesuai dengan Keputusan

    Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur

    Negara132/KEP/M.PAN/12/2002terdiri dari Pustakawan Tingkat Terampil dan

    Pustakawan Tingkat Ahli.Tugas pokok Pustakawan Tingkat Terampil meliputi

    pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka/sumber informasi,

    pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi.Tugas pokok

    Pustakawan Tingkat Ahli meliputi pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi

    bahan pustaka/sumber informasi, pemasyarakatan perpustakaan, dokumentasi dan

    informasi serta pengkajian pengembangan perpustakaan, dokumentasi dan

    informasi. Walaupun secara fakta bahwa dari 97 responden hanya terdapat 37

    responden yang memiliki jabatan fungsionalpustakawan atau 38.1% dan 60

    responden tidak memiliki jabatan fungsional atau 61.9%.

    4. Analisis Pengembangan Karir Pengembangan karir adalah proses peningkatan kemampuan kerja individu

    yang dicapai dalam rangka mencapai karir yang diinginkan (Veitzhal Rivai, 2003

    dalam Hutasuhut 2014). Pengembangan karir pustakawan dapat dilakukan dengan

    melakukan banyak hal, misalnya dengan pengangkatan dalam jabatan, promosi,

    melakukan pengkajian, melakukan penulisan ilmiah, menjadi narasumber,

    mengikuti call for paper.

    Berdasarkan hasil jawaban untuk 2 pertanyaan mengenai variabel

    pengembangan karir, yaitu 32.9% responden menyatakan sangat tidak setuju,

    29.9% responden menyatakan tidak setuju, 24.2% responden menyatakan netral,

    10.8% responden menyatakan setuju dan 2.1% responden menyatakan sangat

    setuju. Dengan demikian jawaban Pustakawan didominasi jawaban sangat tidak

    setuju dengan presentase sebesar 32.9%.

  • 24

    Dari data di atas mengindikasikan bahwa pustakawan di lingkungan

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) melakukan peningkatan kemampuan

    kerja individu yang dicapai dalam rangka mencapai karir yang diinginkan, yaitu

    dengan memanfaatkan kesempatan (peluang) yang ada dalam situasi persaingan

    meraih kedudukan yang lebih baik di sisi lain perpustakaan di lingkungan APTIK

    juga merencanakan karir pegawai dengan baik.

    5. KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan 1. Hasil perhitungan validitas pada kuesioner penelitian menunjukkan bahwa

    dari keseluruhan item menunjukkan angka yang lebih besar dari 0,3, sehingga

    disimpulkan bahwa keseluruhan pertanyaan dalam instrumen tersebut adalah

    valid.Hasil pengolahan data uji reliabilitas ditampilkan bahwa nilai Cronbach

    Alpha dari keseluruhan variabel melebihi 0,6, sehingga disimpulkan bahwa

    semua butir pertanyaan dalam penelitian ini adalah reliabel.

    2. Hasil pengujian hipotesis penelitian ini membuktikan bahwa: motivasi, modal

    manusia dan jabatan fungsional berpengaruh terhadap pengembangan karir.

    3. Motivasi intrinsik yang berupa dorongan berkembang dan dorongan

    memperbaiki kekurangan lebih dominan berpengaruh dalam pengembangan

    karir pustakawan di lingkungan APTIK daripada motivasi ekstrinsik yang

    berupa pujian/sanjungan dan hadiah/penghargaan.

    4. Lama waktu bekerja tidak menjadi faktor penghambat bagi pustakawan di

    lingkungan APTIK untuk mengembangkan karir, hal ini terlihat dari data

    yang ditunjukkan bahwa lama waktu bekerja tidak memiliki perbedaan yang

    mencolok antara pustakawan yang lama waktu bekerjanya baru sebentar (20 tahun.

    5. Modal manusia yang berupa pendidikansangat mutlak mendukung

    pengembangan karir pustakawan di lingkungan APTIK, namun mayoritas

    pustakawan APTIK (48,45%) belum menempuh pendidikan formal di bidang

    kepustakawanan.

  • 25

    6. Modal manusia yang berupa pelatihan dan seminar sangat mutlak mendukung

    pengembangan karir pustakawan di lingkungan APTIK, namun mayoritas

    pustakawan APTIK (24,74%) baru mengikuti pelatihan bidang

    kepustakawanan 1-2 kali dan sebanyak 41,23% pustakawan belum pernah

    diikutkan seminar tentang perpustakaan.

    7. Modal manusia yang berupa pengalaman sangat mutlak mendukung

    pengembangan karir pustakawan di lingkungan APTIK hal ini didukung oleh

    keikutsertaan pustakawan dalamorganisasi kepustakawanan, pernah

    mengikuti studi banding, pernah menjadi fasilitator/pelatih, serta mejadi

    ketua/anggota sebuah tim.

    8. Jabatan fungsional pustakawan berpengaruh terhadap pengembangan karir

    pustakawan di lingkungan APTIK, meskipun sebanyak 61.9% pustakawan

    tidak memiliki jabatan fungsional pustakawan.

    5.2 Saran 1. Bagi Perguruan Tinggi Asosiasi Perguruan Tinggi Katholik

    a. Mengingat pentingnya pendidikan bidang kepustakawanan dalam

    mendukung pengembangan karir pustakawan di lingkungan APTIK,

    maka APTIK perlu memotivasi anggotanya agar membuat program

    perencanaan pengembangan karir melalui studi lanjut.

    b. Mengingat pentingnya pelatihan dan seminar bidang kepustakawanan

    dalam mendukung pengembangan karir pustakawan di lingkungan

    APTIK, maka APTIK perlu mendorong anggotanya untuk mengikuti

    pelatihan dan seminar bidang kepustakawanan.

    c. Mengingat pentingnya pengalaman dalam mendukung pengembangan

    karir pustakawan di lingkungan APTIK, maka APTIK perlu mendorong

    dan mendukung anggotanya untuk mengikuti kegiatan lain yang

    berkaitan dengan perpusdokinfo, misalnya keikutsertaan pustakawan

    dalamorganisasi kepustakawanan, mengikuti studi banding, menjadi

    fasilitator/pelatih, serta menjadi ketua/anggota sebuah tim dll.

  • 26

    d. Mengingat jabatan fungsional pustakawan berpengaruh terhadap

    pengembangan karir pustakawan di lingkungan APTIK, meskipun

    mayoritas pustakawan tidak memiliki jabatan fungsional pustakawan

    tetapi APTIK perlu mendorong anggotanya untuk memberlakukan

    jabatan fungsional pustakawan.

    2. Bagi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

    a. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk mendorong

    implementasi jabatan fungsional pustakawan di lingkungan perguruan

    tinggi swasta.

    b. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia segera mengusulkan ke

    Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera untuk membuat keputusan

    tentang pemberlakukan jabatan fungsional pustakawan di lingkungan

    perguruan tinggi swasta.

    c. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia lebih gencar lagi dalam

    menyelenggarakan kegiatan yang mendukung pengembangan karir bagi

    perpustakaan perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia.

  • 27

    DAFTAR PUSTAKA

    Creswell, John W. (2010). Research Design. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Creswell, John W.; Clark, Vicki L. Plano. (2007). Designingand Conducting

    Mixed Method Research. California: Sage Publications.

    Erwan Agus Purwanto. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Gava

    Media.

    http://www.leeds.ac.uk/educol/documents/00003274.htm. Diakses pada tanggal

    22 Juli 2015.

    Hutasuhut, Falik Zulfikar. (2014). Pengembangan Karir : Career Acceleration

    Development Program (CADP) Pada PT PLN (Persero) Distribusi Jawa

    Tengah Dan D.I. Yogyakarta. Diakses pada tanggal 13 Juli 2015 dari

    http://eprints.undip.ac.id/42834/1/HUTASUHUT.pdf

    Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga.

    Ikatan Pustakawan Indonesia.(1999). Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah

    Tangga Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Jakarta: Ikatan Pustakawan

    Indonesia.

    Indonesia. (2004). Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya.

    Jakarta: Perpustakaan nasional Republik Indonesia.

    Indrawan, Rully; Yuniawati, Poppy. (2014). Metodologi Penelitian: kuantitatif,

    kualitatif, dan campuran untuk manajemen, pembangunan dan pendidikan.

    Bandung: Refika Aditama.

    Kumpulan kesan dan pesan mantan Badan Pengurus APTIK. Jakarta: APTIK,

    2009.

    Jogiyanto (2008).Pedoman Survei Kuesioner: memembangkan kuesioner,

    mengatasi bias dan meningkatkan respon. Yogyakarta: Badan penerbit

    Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

    Muhi, Ali Hanapiah. (2010). Analisis Investasi Modal Manusia Dalam Perspektif

    Pendidikan dan Pelatihan. Diakses pada tanggal 13 Juli 2015 dari

    http://alimuhi.staff.ipdn.ac.id/wp-content/uploads/2011/04/INVESTASI-

    MODAL-MANUSIA-jurnal.2010.pdf

    Perpustakaan Nasional.(2007). Undang-undang Republik Indonesia no. 43

  • 28

    Tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional

    Salehudin, Imam. (2010) INVEST IN YOURSELF: Aplikasi Konsep Human

    Capital dari Sudut Pandang Karyawan. Manajemen Usahawan Indonesia.

    No. 06/TH. XXXIX 2010. ISSN: 0302-859 diakses tanggal 13 Juli 2015

    dari

    http://staff.ui.ac.id/system/files/users/imams/material/artikel_usahawan_inv

    est_in_yourself1.pdf

    Setyowati, Lis. (2013). Pengaruh Modal Manusia, Literasi Informasi Dan

    Motivasi terhadap Produktivitas Karya Ilmiah Pustakawan (Studi Pada

    Pustakawan Di Universitas Diponegoro Semarang). Yogyakata: UGM.

    Siagian, Sondang P. (1989). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Bina

    Aksara.

    Singarimbun, Masri. (1989). Metode Penelitian Survei Edisi Revisi. Jakarta:

    LP3ES.

    Sugiyatno, Agustinus Yosef; Iswara, Vincentius Widya; Tampubolon, Sisca.

    Mengelola Jaringan Perpustakaan APTIK (JPA).

    Sugiyono.(2009). Metode Penelitian Bisnis (pendekatan kuantitatif, kualitatif dan

    R&D). Bandung: Alfabeta.

    Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:

    Alfabeta.

    Uno, H. B. (2007). Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang

    Pendidikan. Jakarta: Rineka.

    www.aptik.or.id.