• 1. S1 Akuntansi 2013/2014 STIE Muhammadiyah Fachrul Nisa (2013001017) 2013/2014
  • 2. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 1 BAB I MANAJEMEN A. Pengertian Manajemen Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Secara umum, manajemen ialah suatu rangkaian aktivitas (termasuk perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengadilan) yang di arahkan pada sumber-sumber daya organisasi (manusia, financial, dan informasi) untuk mencapai tujuan organisasi dengan cara yang efektif dan efisien. B. Latar belakang Kebutuhan Manajemen Secara spesifik ada tiga alasan utama dibutuhkannya manajemen, yaitu : 1. Mencapai tujuan, manajemen mempermudah pencapaian tujuan organisasi dan pribadi 2. Menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan, manajemen menyeimbangkan tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan di antara pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi (stakeholders) seperti pemilik, karyawan, konsumen, pemasok dan lain-lain. 3. Mencapai efisiensi dan efektifitas, efisiensi dan efektifitas merupakan ukuran prestasi organisasi. C. Definisi Manajemen Begitu luasnya pengertian manajemen sehingga tidak ada definisi yang secara konsisten digunakan oleh semua orang. Dalam hal ini dua definisi manajemen dikemukan sebagi berikut :
  • 3. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 2 1. Mary Parker Follet, manajemen merupakan seni (art) dalam meyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. 2. James AF Stoner, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 3. Luther Gullick, manajemen suatu ilmu (science) 4. James H. Donnelly Jr.; James L. Gibson; dan Jhon M. Ivancevich, manajemen adalah proses dari seseorang atau beberapa individu untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan dari orang lain untuk memperoleh hasil yang tidak dapat dilakukan seorang individu saja. 5. Karthryn M. Bartol dan David C. Marten, manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan- kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). 6. Chuck Williams (2001), manajemen adalah menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Jadi seorang manajer bukanlah mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Dia bekerja melalui orang-orang yang memiliki kemampuan-kemampuan teknis di lapangan, tanpa mengerjakan teknisnya (walaupun bukan berarti seorang manajer tidak memiliki kemampuan teknis). 7. Murti Sumarni-John Soeprihanto (1995), manajemen merupakan suatu proses yang terdiri atas kegiatan-kegiatan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain. Pemanfaatan sumber daya-sumber daya lain dalam perusahaan meliputi
  • 4. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 3 sumber daya bahan baku produksi, sumber keuangan, mesin-mesin, dan cara yang digunakan dalam pemanfaatan yang efisien dan efektif. Berdasarkan uraian tersebut manajemen dapat diartikan sebagai bekerja dengan orang-orang dengan memanfaatkan sumber daya-sumber daya organisasi untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan- tujuan melalui pelaksanaan atau proses fungsi-fungsi POLC (Planning, OrganizingLeading, Controlling) Secara umum, manajemen juga dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengajarkan tentang proses untuk memperoleh tujuan organisasi melalui upaya bersama dengan sejumlah orang atau sumber milik organisasi. Dalam hal ini manajemen dibedakan menjadi 3 bentuk karakteristik, diantaranya adalah:  Sebuah proses atau seri dari aktivitas yang berkelanjutan dan berhubungan.  Melibatkan dan berkonsentrasi untuk mendapatkan tujuan organisasi.  Mendapatkan hasil-hasil ini dengan berkerja sama dengan sejumlah orang dan memanfaatkan sumber-sumber dimiliki si organisasi. D. Manajemen Sebagai Ilmu dan Seni Manajemen merupakan suatu ilmu dan seni, mengapa disebut demikian?  Manajemen sebagai ilmu (science) Ilmu adalah kumpulan dari berbagai pengetahuan yang sistematis dan diterima berdasarkan kebenaran umum mengenai subjek dan objek tertentu. Suatu pengetahuan dapat diakatakan sebagai suatu ilmu apabila berdasarkan fakta yang ada, objektif, menggunakan prinsip analisis, dan melalui serangkaian hipotesis, objektif dan langkah kuantitatif. Seorang manajer harus mempunyai kapabilitas pengetahuan dan ilmu dalam usaha memimpin kegiatan-kegiatan bawahannya melalui fungsi- fungsi manajemen.  Manajemen sebagai Seni
  • 5. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 4 Sedangkan Seni adalah suatu kreatifitas pribadi yang kuat dan disertai keterampilan. Seni dalam manajemen dapat meliputi kecakapan untuk melihat totalitas dari bagian-bgian yang terpisah dan berbeda-beda, kecakapan untuk menciptakan sesuatu gambaran tentang visi tertentu, dan kecakapan untuk menyatukan visi dengan keterampilan yang ada Seorang manajer dapat dikatakan gagal apabila tidak menguasai seni manajemen. dalam hal ini, seorang manajer harus mempunyai firasat yang tajam, keyakinan-keyakinan, kreatifitas, serta menguasai penerapannya. Selain itu, seni dalam manajemen juga mengatur berbagai macam manusia dari berbagai macam latar belakang untuk mencapai suatu tujuan. Berikut perbadaan antara Ilmu dan Seni Ilmu Seni  Berkembang secara teoritis  Membuktikan sesuatu  Memberikandasar permasalahan  Merencanakan kegiatan 1. Berkembang secara praktis 2. Merasakan sesuatu 3. Menguraikan suatu permasalahan 4. Melakukan kegiatan Tabel Fungsi dan Manajemen 1 Dari tabel diatas menunjukkan bahwa Ilmu dalam manajemen mengajarkan dan memberikan dasar dalam mengatur kegiatan-kegiatan antara manajemen dan bawahannya, sedangkan suatu seni dalam manajemen menunjukkan bagaimana cara mengatur kegiatan manajemen dan bawahannya dari berbagai latar belakang dalam rangka mencapai suatu tujuan.
  • 6. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 5 E. Manajemen Sebagai Profesi Banyak usaha telah dilakukan untuk mengaplikasikan menajemen sebagai suatu profesi. Edgar H. Schein telah menguraikan kriteria-kriteria untuk menentukan sesuatu sebagai profesi yang dapat diperinci sebagai berikut: 1. Para profesional membuat keputusan atas dasar prinsip - prinsip umum. Adanya pendidikan, kursus - kursus dan program - program latihan formal menunjukan bahwa ada prinsip - prinsip manajemen tertentu yang dapat diandalkan. 2. Para profesional mendapat status mereka karena mencapai standar prestasi kerja tertentu, bukan karena favoritis politik atau sosial lainnya. 3. Para profesional harus ditentukan oleh suatu kode etik yang kuat, dengan disiplin untuk mereka yang menjadi kliennya Manajemen telah berkembang menjadi bidang yang semakin profesional melalui perkembangan yang menyolok, program-program latihan manajemen di universitas maupun diberbagai lembaga manajemen swasta, dan melalui pengembangan para eksekutif organisasi (perusahaan).
  • 7. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 6 BAB II MANAJEMEN dan MANAJER A. Tingkatan Manajemen 1. Top Manager Manajer eksekutif yang bertanggungjawab atas kinerja organisasi secara keseluruhan. Mereka yang merumuskan tujuan organisasi dan memonitor kerja middle manager. 2. Middle Manager Manajer yang bertanggungjawab atas penentuan tujuan sesuai dengan tujuan top manajemen, merencanakan dan menetapkan strategi sub unit untuk mencapai tujuan tersebut. Top Manajers (Presiden Direktur, Wakil Direktur, Kepala Perwakilan) Middle Managers (Kepala Departemen, Manajer Cabang, kepala Pengawas) First-Line Managers (Penyelia, Mandor) Non-Management (Tenaga penjualan, akuntansi, operasional)
  • 8. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 7 3. First Line Manager Manajer yang bertanggungjawab atas operasional organisasi. Manajer ini bertugas melatih dan mengawasi kinerja bawahan non manajerial dan secara langsung bertanggungjawab untuk menghasilkan produk atau jasa perusahaan 4. Non-Management Staff Mereka adalah staf yang bertanggungjawab atas pelaksanaan operasional sehari-hari organisasi; bekerja sesuai dengan keahlian masing-masing, misal; tenaga produksi, tenaga penjualan, dan tenaga akuntansi.
  • 9. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 8 B. Fungsi-Fungsi Manajer Fungsi-fungsi manajerial menurut Henry Fayol, yang menyatakan bahwa perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pemberi perintah dan pengawasan adalah fungsi-fungsi utama. Berikut beberapa pendapat para ahli tentang fungsi-fungsi manajemen: Hanry Fayol Luther Gullick George Terry Ernest Dale Planning Organizing Commanding Coordinating Planning Organizing Staffing Direccting Coordinating Reporting Controlling Planning Organizing Actuating Controlling Planning Organizing Staffing Directing Inovating Representing Controlling Koontz & O’donnel Oey Liang Lee William Newman James Stoner Planning Organizing Staffing Direccting Controlling Planning Organizing Staffing Direccting Controlling Planning Organizing Asembling Direccting Controlling Planning Organizing Leading Controlling Tabel Fungsi-fungsi Manajer menurut para ahli Dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa persamaan yang tercermin pada fungsi-fungsi planning, organizing, dan controlling. Sedangkan fungsi- fungsi lainnya merupakan cara penyebutan yang berbeda tetapi mengandung arti yang sama, di mana pada dasar- nya adalah fungsi staffing, directing atau leading.
  • 10. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 9 Bagan Fungsi Manajemen 1. Perencanaan (Planning) Perencanaan adalah proses yang dilakukan oleh manajer untuk memilih dan menetapkan tujuan-tujuan organisasi serta menentukan metode/cara terbaik untuk mencapainya. Pertanyaan yang harus dijawab dalam proses perencanaan:  Tujuan-tujuan apa yang ingin dicapai?  Bagaimana cara mencapai tujuan tersebut?  Bagaimana sumber daya akan dialokasikan? Perencanaan menentukan seberapa efektifitas dan efisiensi organisasi serta menentukan strategi organisasi tersebut. 2. Pengorganisasian (Organizing) Hal-hal yang dilakukan dalam pengorganisasian:  Penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi. Planning (Choose Goalas) Organizing (Working Together) Leading (Coordinate) Controling (Monitor and Measure)
  • 11. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 10  Pengelompokan seluruh personil ke dalam kelompok kerja/departemen sesuai tujuan organisasi.  Penugasan tanggung jawab tertentu  Pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu-individu untuk melaksanakan tugas-tugasnya. 3. Personalia (Staffing) Staffing meliputi perekrutan, pelatihan dan pengembangan, serta penempatan dan pemberian orientasi para karyawan dalam lingkungan kerja yang menguntungkan dan produktif, seperti: pembuatan sistem penggajian untuk pelaksanaan kerja yang efektif, penilaian karyawan, serta latihan dan pengembangan karyawan. 4. Pengarahan (Leading) Penyusunan Fungsi pengarahan ini sering juga disebut leading, directing, motivating, actuating. Manajer memberikan arahan yang jelas untuk diikuti bawahan dan membantu bawahan memahami peran yang harus mereka mainkan untuk mencapai tujuan organisasi. Fungsi ini melibatkan kualitas, gaya, dan kekuasaan pemimpin serta kegiatan-kegiatan kepemimpinan seperti komunikasi, motivasi dan disiplin. 5. Pengawasan (Controlling) Penemuan dan penerapan (cara dan peralatan) untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan.  Pengawasan Positif : mencoba untuk mengetahui apakah tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien dan efektif.  Pengawasan Negatif : mencoba untuk menjamin bahwa kegiatan yang tidak diinginkan atau tidak dibutuhkan tidak terjadi. Dalam pelaksanaan pengendalian dan pengawasan, pimpinan atau manajer perusahaan hendaknya melakukan hal-hal sebagai berikut:
  • 12. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 11 a) Menentukan sistem laporan b) Menentukan standar prestasi kerja c) Mengukur hasil pekerjaan d) Mengadakan koreksi e) Memberikan imbalan dan melakukan antisipasi terhadap penyimpangan. C. Kegiatan-kegiatan Manajer Dalam menjalanani peranannya sebagai pemimpin, manajer mempunyai beberapa tugas penting, yaitu: 1. Manajer bekerja dengan dan melaui orang lain, tidak hanya mencakup atasan dan bawahan, tetapi juga manajer lainnya dalam organisasi. 2. Manajer memadukan dan menyeimbangkan tujuan-tujuan yang saling bertentangan dan menetapkan prioritas-prioritas. 3. Manajer bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan. 4. Manajer harus berpikir analitis dan konseptual, merinci dan memisahkan masalah, menganalisa dan mencari penyelesaian yang layak dan akurat. 5. Manajer adalah seorang mediator (penengah) 6. Manajer adalah seorang politisi, mengembangkan hubungan baik untuk mendapatkan dukungan atas kegiatan, usulan, atau keputusan- keputusannya dengan efektif. 7. Manajer adalah seorang diplomat (wakil resmi organisasi dalam urusan pelanggan, pejabat pemerintah, atau organisasi lain). 8. Manajer mengambil keputusan-keputusan sulit, yang nantinya diharapkan dapat menemukan jalan keluar dari berbagai masalah sulit dan mengambil keputusan yang akurat.
  • 13. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 12 D. Penggunaan Waktu Manajer Sebagai pemegang peranan penting yang menjadikan maju mundurnya suatu perusahaan, seorang manajer harus pandai dalam berbagai bidang, dan yang terpenting adalah kemampuan mengelola waktu dengan baik . Jadi seorang manajer harus mempunyai cara – cara khusus untuk mengelola waktu agar suatu perusahaan yang mereka pimpin tetap bisa berkembang secara berkelanjutan. Menurut Prof. John W. Lee dari The Florida State University, seorang manajer dapat mengelola waktu dengan baik jika menjalankan 10 prinsip di bawah ini: 1. Prinsip Analisis Waktu. Analisis waktu adalah pra-syarat bagi pengelolaan waktu. Pembuatan catatan waktu harian dari kegiatan yang mencatat jarak waktu 15 sampai 30 menit, selama waktu tidak kurang dari dua minggu, adalah esensial sebagai dasar dari analisis. 2. Prinsip Perencanaan Harian. Rencana harian yang dirumuskan setelah jam kerja hari sebelumnya, atau di pagi hari sekali sebelum jam kerja dimulai; dan disesuaikan secara obyektif dengan kejadian yang hampir selesai; ini esensial untuk penggunaan efektif dari waktu pribadi. 3. Prinsip Menjadwalkan Menurut Prioritas. Waktu yang tersedia dalam hari kerja harus dijadwalkan untuk menyelesaikan item kerja yang mempunyai prioritas tertinggi. 4. Prinsip Keluwesan. Keluwesan atau fleksibilitas harus menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan rencana mengenai pemanfaatan waktu pribadi. Atau jika dikatakan dengan sederhana: janganlah menjadwalkan waktu lebih atau kurang! 5. Prinsip Pendelegasian. Pendelegasian dari semua item kerja konsisten dengan pembatasan pekerjaan manajer, penting untuk menyediakan waktu yang lebih diperlukan bagi pekerjaan manajerial.
  • 14. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 13 6. Prinsip Segmentasi Aktif. Item pekerjaan yang serupa sifatnya, yang memerlukan sumber dan keadaan lingkungan serupa untuk penyelesaiannya, harus dikelompokkan dalam pembagian hari kerja. 7. Prinsip Pengendalian Gangguan. Pengendalian dan / atau pengaturan kegiatan lain, yang mencukupi untuk meminimalkan banyak dan lamanya gangguan, sangat penting bagi pengelolaan waktu. 8. Prinsip Meminimalkan Pekerjaan Rutin. Item pekerjaan yang bersifat rutin dan tidak mengandung banyak nilai secara obyektif pada umumnya, harus diminimalkan 9. Prinsip Penerapan Rencana dan Tindak-Lanjut. Penerapan rencana harian dan tindak-lanjut harian, sangat penting bagi pengelolaan waktu. 10. Prinsip Analisis Berulang. Analisis penggunaan waktu harus diulang, paling tidak sekali setiap enam bulan, untuk mencegah kembali ke kebiasaan pengelolaan waktu yang buruk. E. Ketrampilan Manajerial Pada umumnya, untuk menjadi manaker yang efektif dibutuhkan ketrampilan- ketrampilan : 1. Ketampilan konseptual (Conceptual skill), adalah kemampuan untuk mengkoordinasikan seluruh kepentingan dan kegiatan organisasi. 2. Ketrampilan Kemanusiaan, yaitu kemampan untuk bekerja dengan memahami dan memotivasi orang lain baik sebagai individu ataupun kelompok. 3. Kemampuan administrasi, seluruh ketrampilan yang berkaitan dengan perencanaan, pengoranisasian, penyusun, kepegawaian, dan pengawasan mencakup pula kemampuan untuk mengikuti kebijaksanaan dan prosedur dengan anggaran terbatas. 4. Keterampilan teknik (technicial Skill), Kemampuan untuk menggunakan peralatan-peralatan, prsedur-prosedur/ teknik dari suatu bidang tertentu, seperti akuntansi, produksi, penjualan/permesinan.
  • 15. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 14 Setiap ketrampilan harus dimiliki oleh setiap manajer, hanya untuk tingkatan manajemen yang berbeda akan berbeda proporsi masing-masing kebutuhan. Tabel Fungsi-fungsi Manajer menurut para ahli Tabel Fungsi-fungsi Manajer menurut para ahli Grafik ketrampilan manajerial
  • 16. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 15 BAB III PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN A. Teori Manajemen Klasik Secara keilmuan, manajemen baru terumuskan kurang lebih di abad 18 atau awal abad 19 Masehi. Diantara tokoh-tokoh yang mula-mula memperkenalkan manajemen secara keilmuan adalah: 1) Robert Owen (1771 - 1858)  Owen adalah seorang pembaru dan indrustrialisasi dari Inggris, tokoh pertama yang menyatakan perlunya sumber daya manusia di dalam organisasi dan kesejahteraan pekerja  berkesimpulan bahwa manajer harus menjadi pembaharu (reformer).  peranan pekerja merupakan aset perusahaan. Pekerja bukan saja merupakan input, tetapi merupakan sumber daya perusahaan yang signifikanberpendapat dengan memperbaiki kondisi kerja atau invertasi pada sumber daya manusia, perusahaan dapat meningkatkan output dan juga keuntungan.  memperkenalkan sistem penilaian terbuka dan dilakukan setiap hari agar manajer diharapkan bisa melokalisir masalah yang ada dengan cepat. 2) Charles Babbage (1792 - 1871)  seorang ahli matematika dari Inggris orang yang pertama kali berbicara mengenai pentingnya efisiensi dalam proses produksi.  Menganjurkan untuk mengadakan pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian pekerjaan. Sehingga setiap pekerja dapat dididik dalam suatu keterampilan khusus. Setiap pekerja hanya dituntut tanggungjawab khusus sesuai dengan spesialisasinya. Dengan metode kuantitatifnya beliau percaya :
  • 17. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 16 a) Bahwa prinsip-prinsip ilmiah dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, produksi naik biaya operasi turun. b) Pembagian Kerja (division of labor); dengan ini kerja/operasi pabriknya bisa dianalisis secara terpisah. Dengan cara semacam ini pula training bisa dilakukan dengan lebih mudah. c) Dengan melakukan pekerjaan yang sama secara berulang-ulang, maka pekerja akan semakin terampil dan berarti semakin efisien. B. Teori Manajemen Ilmiah 1) Frederick W. Taylor (1856-1915) Merupakan titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah hasil penelitian tentang studi waktu kerja (time & motion studies).  Taylor memfokuskan perhatiannya pada studi waktu untuk setiap pekerjaan (time and motion study); dari sini ia mengembangkan analisis kerja. Taylor kemudian memperkenalkan sistem pembayaran differential (differential rate). Manajemen Taylor didasarkan pada langkah atau prinsip sebagai berikut : a) Mengambangkan Ilmu untuk setiap elemen pekerjaan, untuk menggantikan pikiran yang didasari tanpa ilmu. b) Mamilih karyawan secara ilmiah, dan melatih mereka untuk melakukan pekerjaan seperti yang ditentukan pada langkah I c) Mengawasi karyawan secara ilmiah, untuk memastikan mereka mengikuti metode yang telah ditentukan d) Kerjasama antara manajemen dengan pekerja ditingkatkan. Persahabatan antara keduanya juga ditingkatkan 2) Hennry L. Gantt (1861 - 1919)
  • 18. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 17  Gantt melakukan perbaikan metode sistem penggajian Taylor (differential system) karena menurutnya metode tersebut kurang memotivasi kerja.  Sistem Pengawasan (supervisor) diterapkannya sebagai upaya untuk memacu semangat kerja karyawan  memperkenalkan sistem penilaian terbuka yang awalnya merupakan ide Owen.  Gantt chart (bagan Gantt) kemudian populer dan gigunakan untuk perencanaan, yaitu mencatat scedul (jadwal) pekerja tertentu. 3) Frank B dan Lillian M. Gilbreth (1868 - 1924 dan 1878 - 1972) Keduanya adalah suami istri yang mempunyai minat yang sama terhadap manajemen. Menurut Frank pergerakan yang dapat dihilangkan akan mengurangi kelelahan. Semangat kerja akan naik karena bermanfaat secara fisik pada karyawan. Sedang Lilian memberikan kontribusi pada lapangan psikologi industri dan manajemen personalia. Beliau percaya bahwa tujuan akhir manajemen ilmiah adalah membantu pekerja mencapai potensi penuhnya sebagai seorang manusia Keduanya mengembangkan rencana promosi tiga tahap, yaitu :  Menyiapkan Promosi  Malatih Calon Pengganti  Melakukan Pekerjaan Menurut metode tersebut, seorang pekerja akan bekerja seperti biasa, sambil menyiapkan promosi karir, dan melatih calon penggantinya. Dengan demikian pekerja akan menjadi pelaksana, pelajar yaitu menyiapkan karir yang lebih tinggi, dan pengajar dalam arti mengajari calon pengganti. Sumbangan Manajemen Ilmiah  Teknik-teknik efisiensi menyebabkan kegiatan dapat dilaksanakan lebih efisien
  • 19. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 18  Seleksi dan pengembangan ilmiah karyawan menimbulkan kesadaran pentingnya kemampuan dan latihan untuk meningkatkan efektivitas karyawan.  Desain kerja mendorong manajer mencari “cara terbaik” pelaksanaan tugas. Keterbatasan:  Kenaikan produktivitas sering tidak diiringi kenaikan pendapatan.  Perilaku manusia bermacam-macam menjadi hambatan.  Pendekatan rasional hanya memuaskan kebutuhan ekonomis dan fisik, tidak memuaskan kebutuhan sosial karyawan.  Manajemen ilmiah mengabaikan keinginan manusia terhadap kepuasan kerja. C. Teori Organisasi Klasik 1) Henry Fayol (1841-1925)  Teori Administrasi, dengan Fungsionalisme Fayol: manajemen terdiri dari 5 unsur, yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian dan pengawasan.  Kegiatan operasional perusahaan terdiri atas: teknik, komersal, keuangan, keaamanan, akuntansi, dan manajerial. 2) James D. Mooney  Organisasi sebagai sekelompok, dua orang atau lebih, orang yang bergabung untuk mencapai tujuan tertentu.  Empat kaidah dasar merancang organisasi: prinsip saklar, prinsip fungsional, dan prinsip staff. 3) Mary Porker Follet (1868-1933)  Melakukan aplikasi praktik ilmu-ilmu sosial dalam administrasi perusahaan.
  • 20. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 19  Konflik dapat dibuat konstruktif dengan menggunakan proses integrasi.  Organisasi ideal dengan koordinasi melalui komunikasi yang terkendali. 4) Chaster I. Barnad (1886-1961)  Fungsi utama manajemen adalah perumusan tujuan dan pengadaan sumner daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.  Menekankan pentingnya peralatan komunikasi untuk pencapaian tujuan kelompok. Follet dan Branard bertindak sebagai “jembatan” antara teori klasik dan hubungan manusiawi. D. Teori Hubungan Manusiawi (Neo Klasik) Aliran hubungan manusiawi (neo klasik) muncul karena ketidakpuasan bahwa pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja. 1) Huga Munsterberg (1863-1916)  Disebut sebagai Bapak Psikologi Industri. Menyarankan penggunaan teknik dari psikologi eksperimen.  Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui: penemuan best possible person, penciptaan best possible work, dan penggunaan best possible effect untuk memotivasi karyawan. 2) Elton mayo (1880=1949)  Bersama Fritz J. Roethlisberger dan William J. Dickson menemukan Hawthorne Effect  Penemuan lainnya adalah pengaruh kelompok kerja informal terhadap produktivitas dan konsep “makhluk sosial” menggantikan konsep “makhluk rasional”. Sumbangan Pendekatan Hubungan Manusiawi:
  • 21. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 20  Penekanan kebutuhan sosial dalam aliran hubungan manusiawi melengkapi pendekatan klasik sebagai usaha meningkatkan produktivitas.  Mengilhami pembahasan selanjutnya tentang motivasi manusia. Keterbatasan:  Konsep “makhluk sosial” tidak menggambarkan secara lengkap individu- individu dalam tempatnya bekerja.  Perbaikan kondisi kerja dan kepuasan karyawan tidak menghasilkan peningkatan produksi yang dramatik seperti yang diharapkan.  Lingkungan sosial tempat kerja hanya merupakan salah satu faktor; produktivitas dan kepuasan kerja menjadi semakin kompleks. E. Perilaku Organisasi Merupakan pengembangan dari aliran hubungan manusiawi. Prinsip-prinsip dasar perilaku organisasi yang dapat di simpulkan dari pendapat para tokoh manajemen modern adalah sebagai berikut:  Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketat (peranan, prosedur, prinsip)  Manajemen harus sistematik, dan pendekatan yang digunakan harus dengan pertimbangan secara hati-hati  Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi  Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen kekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan. Sebagai tambahan beberapa gagasan yang lebih khusus dari berbagai riset perilaku adalah:  Unsur manusia adalah faktor kunci penentu sukses atau kegagalan pencapaian tujuan organisasi
  • 22. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 21  Manajer masa kini harus diberi latihan dalam pemahaman prinsip- prinsip dan konsep-konsep manajemen.  Organisasi harus menyediakan iklim yang mendatangkan kesempatan bagi karyawan untuk memuaskan seluruh kebutuhan mereka  Komitmen dapat dikembangkan melalui partisipasi dan keterlibatan para karyawan.  Pekerjaan setiap karyawan harus disusun yang memungkinkan mereka mencapai kepuasan diri dari pekerjaan tersebut.  Pola-pola pengawasan dan manajemen pengawasan harus dibangun atas dasar pengertian positif yang menyeluruh mengenai karyawan dan reaksi mereka terhadap pekerjaan. Tokoh-tokoh Perilaku Organisasi antara lain:  Abraham Maslow : Hierarki kebutuhan manusia  Douglas McGregor : Teori X dan Y  Frederick Herzberg : Teori motivasi-higienis/teori dua factor  Chris Argyris : Teori Kepribadian dan Organisasi  Robert Black : Kisi-kisi Manajerial  Rensis Likert : Sistem Manajemen (Autoritatif Partisipatif)  Fred Fiedler : Pendekatan Kontijensi Kepemimpinan  Edgar Scein : Dinamika kelompok dalam organisasi F. Pendekatan Kontigensi 1) Mencoba menerapkan konsep dari berbagai aliran manajemen. 2) Tugas manajer adalah mengidentifikasikan teknik mana, pada situasi tertentu, di bawah keadaan tertentu dan pada waktu tertentu akan membantu pencapaian tujuan manajemen. 3) Perbedaan kondisi dan situasi membutuhkan aplikasi teknik manajemen yang berbeda karena 4) tidak ada teknik, prinsip dan konsep universal yang dapat diterapkan di seluruh kondisi.
  • 23. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 22 BAB IV MANAJER DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL ORGANISASI A. Faktor-Faktor Lingkungan Eksternal Para manajer seharusnya tidak hanya memusatkan perhatiannya pada lingkungan internal organisasi, tetapi juga menyadari pentingnya pengaruh lingkungan eksternal terhadap organisasi yang dikelolanya. Manajer harus mempertimbangkan unsur-unsur dan kekuatan-kekuatan lingkungan eksternal dalam setiap kegiatannya. Manajer harus mengidentifikasi, menganalisa, mengevaluasi, mendiagnosa dan bereaksi terhadap kekuatan-kekuatan lingkungan, baik berupa kesempatan-kesempatan, risiko-risiko, maupun ancaman-ancaman, yang mempunyai pengaruh pada operasi organisasi (perusahaan). Manajemen dituntut untuk selalu bersikap tanggap dan adaptif, selalu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Manajer perlu menentukan cara atau pendekatan yang akan memungkinkannya menjaga dan mengembangkan organisasi dalam lingkungan yang selalu berubah. Dengan pendekatan system dan contingency, akan dibahas factor-faktor lingkungan esternal yang berpengaruh dan dipengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung terhadap / oleh operasi-operasi organisasi, dan tanggung jawab sosial manajer. Lingkungan eksternal terdiri atas unsur-unsur diluar organisasi, yang sebagian besar tidak dapat dikendalikan dan berpengaruh dalam pembuatan keputusan oleh manajer. Organisasi mendapatkan masukan-masukan (input) yang dibutuhkan, seperti : bahan baku, dana tenaga kerja dan energi dari lingkungan eksternal,
  • 24. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 23 menstranformasikan menjadi produk dan jasa, dan kemudian menghasilkan keluaran-keluaran (output) kepada lingkungan eksternal. Unsur-unsur Lingkungan Eksternal : 1) Berpengaruh langsung (lingkungan eksternal mikro), terdiri dari; para pesaing (competitors), pemasok / penyedia (suppliers), pelanggan (customers), lembaga-lembaga keuangan (financial intitutions), pasar tenaga kerja (labour supply), dan perwakilan-perwakilan pemerintah (government councils) 2) Berpengaruh tidak langsung (lingkungan eksternal makro), mencakup; teknologi (technology), ekonomi (economy), politik (politic) dan sosial (social), yang mempengaruhi iklim dimana organisasi beroperasi dan mempunyai potensi menjadi kekuatan-kekuatan sebagai lingkungan eksternal mikro. B. Lingkungan Eksternal Mikro Lingkungan eksternal mikro penting diperhatikan, walaupun tingkat pengaruhnya berbeda.  Para pesaing: Lingkungan persaingan perusahaan tercermin dari tipe, jumlah dan norma-norma perilaku organisasi-organisasi pesaing. Dengan pemahaman akan lingkungan persaingan yang dihadapi, organisasi dapat mengetahui posisi persaingannya, sehingga lebih mampu mengoptimalkan operasi-operasinya. Misalnya: untuk meningkatkan bagian pasarnya (market share), dimana produk dan harga sama dengan pesaing, perusahaan harus menciptakan perbedaan-perbedaan (differences), dalam pembungkusan (packaging), pelayanan (services), atau promosi (promotion). Pemahaman arena, sifat persaingan (competitors), serta kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) para pesaing, memungkinkan perusahaan dapat mempergunakan kekuatan bersaingnya lebih efektif dan efisien.
  • 25. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 24  Pelanggan : Strategi, kebijakan dan taktik-taktik pemasaran perusahaan sangat tergantung situasi pasar dan pelanggan. Biasanya manajer pemasaran menganalisa profil pelanggan sekarang dan potensial serta kondisi pasar dan mengarahkan kegiatan-kegiatan pemasaran perusahaan berdasarkan hasil analisa tersebut.  Pasar tenaga kerja : Organisasi memerlukan sejumlah karyawan (personalia) dengan bermacam-macam ketrampilan, kemampuan dan pengalaman, sehingga perlu menggunakan banyak saluran untuk menarik dan mendapatkan karyawan-karyawan tersebut. Tiga faktor yang paling berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan karyawan perusahaan, yaitu : 1) reputasi perusahaan di mata angkatan kerja, 2) tingkat pertumbuhan angkatan kerja, 3) tersedianya tenaga kerja sesuai kebutuhan.  Lembaga-lembaga keuangan : organisasi tergantung pada bermacam- macam lembaga keuangan, seperti perbankan, perusahaan asuransi, termasuk pasar modal, untuk menjaga dan memperluas kegiatan- kegiatannya, jangka pendek untuk membiayai opearasionalnya, jangka panjang untuk membangun fasilitas baru dan membeli peralatan baru (investasi).  Para pemasok: setiap organisasi sangat tergantung pada sumber-sumber dari sumberdaya-sumberdayanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku (mentah), bahan pembantu, pelayanan, energi dan peralatan, yang digunakan untuk berproduksi.  Perwakilan-perwakilan pemerintah : hubungan organisasi dengan perwakilan-perwakilan pemerintah berkembang semakin kompleks. Mereka biasanya menetapkan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi organisasi dalam operasinya, prosedur prosedur perijinan, dan pembatasan-pembatasan lainnya untuk melindungi masyarakat.
  • 26. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 25 C. Lingkungan Eksternal Makro Lingkungan eksternal makro mempengaruhi organisasi dengan dua cara : 1) Kekuatan-kekuatan di luar tersebut mempengaruhi organisasi secara langsung atau tidak langsung melalui satu atau lebih unsur-unsur lingkungan eksternal mikro. 2) Unsur-unsur lingkungan makro menciptakan iklim, misalnya teknologi tinggi, keadaan perekonomian cerah atau lesu dan perubahan- perubahan sosial, dimana organisasi ada dan harus memberikan tanggapan. Lingkungan Eksternal makro meliputi :  Perkembangan teknologi : dalam setiap masyarakat atau industri, tingkat kemajuan teknologi memainkan peranan berarti pada penentuan produk dan jasa yang akan diproduksi, peralatan yang akan digunakan, dan cara bermacam-macam operasi akan dikelola. Inovasi teknologi dapat juga menimbulkan persaingan baru dalam industri- industri yang berbeda, misalnya; pengembangan produksi jam digital elektronik telah menimbulkan persaingan baru bagi perusahaan- perusahan jam mekanik tradisional, kemajuan industri mesin foto kopi menimbulkan kesukaran-kesukaran bagi perusahaan kertas karbon.  Variabel-variabel Ekonomi : para manajer akan selalu terlibat dengan masalah-masalah biaya sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan organisasi, yang selalu berubah-ubah karena pengaruh faktor-faktor ekonomi, seperti ; kecenderungan inflasi dan deflasi harga barang-barang dan jasa-jasa, kebijakan moneter, devaluasi atau revaluasi, tingkat bunga, kebijakan fiskal, keseimbangan neraca pembayaran,harga yang ditetapkan oleh para pesaing dan pemasok.  Lingkungan sosial budaya : merupakan pedoman hidup yang menentukan bagaimana hampir serluruh organisasi dan manajer akan beroperasi. Lingkungan ini mencakup ; agama dan
  • 27. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 26 kepercayaan, nilai-nilai, sikap, pandangan dan pola kehidupan yang dibentuk oleh tradisi, pendidikan, kelompok ethnis, ekologi, demografis,geografis.  Variabel-variabel Politik dan Hukum : dalam suatu periode tertentu akan menentukan operasi perusahaan. Manajer tidak mungkin mengabaikan iklim politik, peraturan-peraturan pemerintah maupun konsekuensi-konsekuensi atau dampaknya terhadap pemerintah dalam pembuatan keputusan, contohnya, kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang: perdagangan, undang-undang perpajakan, upah minimum, undang-undang hak patent, undang-undang perlindungan konsumen, pemasok dan pesaing.  Dimensi Internasional : komponen internasional dalam lingkungan eksternal juga menyajikan kesempatan-kesempatan dan tantangan- tantangan, serta mempunyai potensi menjadi factor yang berpengaruh langsung pada operasi perusahaan. Kekuatan-kekuatan internasional ini berpengaruh melalui ; perkembangan politik dunia, ketergantungan ekonomi, penularan nilai-nilai dan sikap hidup, serta transfer teknologi. D. Organisasi dan Lingkungan Lingkungan eksternal mempengaruhi manajer-manajer bervariasi menurut tipe dan tujuan organisasi. Hal ini berbeda di antara posisi-posisi dan fungsi- fungsi dalam suatu organisasi dan bahkan antara tingkatan-tingkatan hirarki di dalam organisasi. Karena mempunyai kekuasaan yang lebih besar dan pandangan yang lebih luas, para manajer di tingkat atas dalam organisasi memikul tanggung jawab lebih besar untuk pengelolaan hubungan dengan lingkungan eksternal dibanding para manajer tingkatan bawah. Manajer dan organisasi memberikan tanggapan terhadap lingkungan eksternal, melalui :
  • 28. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 27  Usaha mempengaruhi lingkungan eksternal mikro manajer harus memusatkan usaha-usahanya pada aspek-aspek kunci lingkungan bagi tujuan organisasi. Bila mereka memperlakukan setiap komponen secara sama, mereka akan menghabiskan waktu dan energi dengan cara-cara yang tidak produktif. Tetapi melalui pemusatan pada variable-variabel kunci, manajer dapat mencapai sasarannya untuk mempengaruhi lingkungan, misalnya mempengaruhi lingkungan mikro, yaitu pelanggan melalui iklan.  Peramalan (forecasting) dan lingkungan eksternal makro kelangsungan operasi perusahaan sering sangat tergantung pada antisipasi dan adaptasi terhadap perkembangan lingkungan eksternal makro. Kecenderungan perkembangan lingkungan ini hendaknya dimonitor secara terus menerus, agar manajer mampu mengembangkan kedudukan yang kuat dalam menghadapi lingkungan tersebut. Penggunaan teknik-teknik peramalan, seperti ; analisa statistik, model- model ekonometrika, simulasi, delphi, dan sebagainya, memungkinkan manajer dapat mengantisipasi perubahan-perubahan dalam peraturan-peraturan pemerintah, sikap masyarakat, biaya-biaya pengadaan bahan, tersedianya bahan mentah, kegiatan-kegiatan pesaing, dan lain-lain sehingga dapat mempersiapkan sejumlah kegiatan-kegiatan di waktu yang akan datang (Sukanto Reksohadiprodjo, “Business Forecasting”).  Perencanaan, perancangan organisasi dan lingkungan cara paling penting bagi manajer untuk menyesuaikan dengan lingkungan eksternal adalah melalui pengembangan dan implementasi rencana- rencana bagi organisasinya. Rencana-rencana ini mungkin sederhana, jangka pendek dan terbatas ruang lingkupnya, atau mungkin rumit, jangka panjang, dan ruang lingkupnya luas. Rencana-rencana mewujudkan konsep dasar organisasi dan strategi-strategi akan
  • 29. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 28 mengikutinya untuk mencapai tujuan. Rencana-rencana strategik ini tidak hanya menjadi pedoman adaptasi organisasi terhadap lingkungan eksternal mikro dan makro, tetapi juga menuntut usaha-usaha organisasi untuk mempengaruhi perilaku-perilaku factor-faktor dalam lingkungan eskternal mikro. Suatu tipe khusus penyesuaian manajerial terhadap lingkungan, mencakup perubahan-perubahan dalam struktur formal organisasi, aliran kerja, pola wewenang, hubungan-hubungan pelaporan diantara manajer dan sebagainya. Bentuk penyesuaian ini sering disebut perancangan organisasi (organizational design). E. Tanggung Jawab Sosial Manajer Tanggung jawab sosial, berarti bahwa manajemen mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi di dalam pembuatan keputusan. Tanggung jawab sosial perusahaan ini merupakan salah satu tugas yang harus dilakukan oleh para manajer organisasi perusahaan, karena aspek ini merupakan syarat utama bagi berhasilnya perusahaan, terutama untuk jangka panjang. Dengan demikian manajer dituntut untuk mengimplementasikan “etika berusaha” (the ethics of managers), terutama dalam hubungannya dengan pelanggan, karyawan, penemu teknologi, lembaga pendidikan, perusahaan lain, para pemasok, pemegang saham, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya (Harol Koontz, Cyril O’Donnell, dan Heinz Weihrich, “Management”). Ada lima factor yang mempengaruhi keputusan-keputusan pada masalah etika, yaitu : 1) hukum, 2) peraturan-peraturan pemerintah 3) kode etik industri dan perusahaan, 4) tekanan-tekanan sosial, 5) tegangan antara standar perorangan dan kebutuhan organisasi.
  • 30. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 29 Para manajer semakin dituntut untuk mengikuti atau mentaati hukum dan standar-standar etika masyarakat. Pada saat yang sama, perhatian manajer harus dipusatkan pada pemberian tanggapan-tanggapan organisasi pada masalah-masalah sosial. Hal ini mempunyai dua konsekuensi utama :  Banyak organisasi sekarang mengesampingkan tujuan utamanya maksimalisasi keuntungan, dan mengalihkan ke pemenuhan kebutuhan- kebutuhan masyarakat dengan perolehan keuntungan secukupnya,  Pencapaian hasil-hasil yang lebih baik dalam pelaksanaan fungsi tanggung jawab sosial perusahaan menjadi semacam peralatan untuk membantu sukses organisasi. Cara para manajer memelihara penanganan masalah-masalah sosial akan mencerminkan etika pribadinya, kebijakan-kebijakan organisasi, dan nilai- nilai sosial perusahaan pada periode waktu tertentu.
  • 31. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 30 BAB V PERENCANAAN A. Pengertian Perencanaan Menurut George R. Terry, perencanaan adalah kegiatan memilih dan menghubungkan fakta serta membuat dan menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa yang akan datang dengan jualan dan merumuskan kegiatan- kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Perencanaan yaitu fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan pemilihan dari sekumpulan kegiatan-kegiatan dan pemutusan tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan serta programprogram yang dilakukan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan berjalan. Unsur perencanaan yaitu : • Rasional : dibuat dengan pemikiran yang rasional; tidak secara khayalan/angan-angan; harus dapat dilaksanakan • Estimasi : dibuat berdasarkan analisa fakta dan perkiraan yang mendekati/estimate; untuk pelaksanaan yang akan segera dikerjakan • Preparasi : dibuat sebagai persiapan/pre-parasi; pedoman/patokan tindakan yang akan dilakukan/bukan untuk yang telah lalu • Operasional : dibuat untuk dilaksanakan; untuk keperluan tindakan- tindakan kemudian dan seterusnya; bukan yang telah lalu B. Tahap – Tahap Dasar Menurut T. Hani Handoko (1999) kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap sebagai berikut :
  • 32. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 31 1) Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan 2) Merumuskan keadaan saat ini 3) Mengidentifikasikan segala kemudhan dan hambatan 4) Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan C. Hubungan Perencanaan dengan Fungsi Lain Perencanaan adalah fungsi yang paling dasar dari fungsi manajemen lainnya. Fungsi perencanaan dan fungsi-fungsi serta kegiatan manajerial lainnya adalah saling berhubungan saling tergantung dan berinteraksi.  Pengoranisasian (organizing) adalah perencanaan untuk menunjukkan car dan perkiraan bagaimana mengoranisasikan sumber daya-sumber daya orgnisasi untuk mencapai efektivitas paling tinggi.  Pengarahan (directing) adalah perencanaan untuk menentukan kombinasi paling baik dari sumber daya-sumber daya yang diperlukan untuk mengarahkan, mempengaruhi dan memotivasi karyawan.  Pengawasan (controlling) adalah perencanaan dan pengawasan yang saling berhubungan erat. Pengawasan bertindak sebagai kriteria penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana. D. Tipe Perencanaan dan Rencana Tipe utama perencanaan adalah: 1. Perencanaan Strategik Suatu proses perencanaan jangka panjang (lebih dari 5 tahun) yang disusun untuk mencapai tujuan organisasi 2. Perencanaan Operasional Rencana yang memberikan rincian tentang bagaimana rencana –rencana strategik akan dicapai
  • 33. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 32 Perencanaan Operasional Perancanaan Strategis Pusat Bahasan Masalah-masalah pengoperasian Kelangsungan dan pengembangan jangka panjang Sasaran Laba Sekarang Laba di waktu yang akan datang Batasan Lingkungan SD sekarang Lingkungan SD waktu yang akan datang Hasil yang diperoleh Efisiensi dan Stabilitas Pengembangan potensi mendatang Informasi Dunia bisnis sekarang Kesempatan di waktu yang akan datang Organisasi Kepemimpinan Birokrasi/stabil konservatif Kewiraswastaan/fleksibel mengilhami perubahan radikal Pemecah masalah Berdasarkan pengalaman masa lalu Antisipasi, menemukan pendekatan-pendekatan baru Resiko Rendah Tinggi Tabel Perbedaan Peranan Strategik dan Operasional Tipe perencanaan menurut George R. Terry 1. Objective (Sasaran) Sasaran yang mempertimbangkan aktivitas-aktivitas masa mendatang, tinjauan ke masa depan, menentukan proyeksi, dan bagian integral dari aktivitas perencanaan secara keseluruhan. 2. Policy (Kebijaksanaan)
  • 34. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 33 Pernyataan atau pemahaman umum yang membantu mengarahkan pengambilan keputusan (khususnya cara berpikirnya) 3. Procedure (Prosedur) Suatu kumpulan tugas-tugas yang berhubungan satu sama lain, yang merupakan bagian dari urutan kronologis dan cara yang ditetapkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. 4. Method (Metode) Suatu cara yang ditetapkan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu, dengan cukup memperhatikan sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia, dan pengeluaran total berupa waktu, uang, serta usaha. 5. Standard Suatu kesatuan pengukuran yang ditetapkan sebagai suatu patokan atau tingkat referensi. 6. Budget (anggaran) Sebuah rencana untuk pendapatan, atau pengeluaran, ataupun untuk keduanya, yang menyangkut uang, personil, barang-barang yang dibeli, barang-barang penjualan, ataupun entitas lain mengenai penetapan tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang yang akan membantu usaha-usaha manajerialnya. 7. Program Jaringan kompleks yang terdiri dari tujuan, kebijakan, prosedur, aturan, penugasan, langkah yang harus dilakukan, alokasi sumber daya, dan elemen lainnya, berdasarkan alternatif tindakan yang dipilih. 8. Techno factor (factor teknis) Suatu rencana berhubungan dengan adanya faktor-faktor teknis, seperti waktu, biaya, atau arus bahan. E. Perencanaan yang Baik 1. Mengetahui sifat/ciri/prinsip rencana yang baik, sebagai berikut:  Mempermudah tercapainya tujuan,
  • 35. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 34  Dibuat oleh orang yang memahami tujuan organisasi,  Dibuat oleh orang yang mendalami teknik perencanaan,  Disertai perincian yang teliti,  Tidak boleh lepas dari pemikiran pelaksanaan,  Bersifat sederhana,  Luwes,  Dalam perencanaan terdapat tempat pengambilan resiko,  Bersifat praktis/pragmatis,  Merupakan forcasting. 2. Memandang proses perencanaan sebagai suatu rangkaian pertanyaan yang harus dijawab, sebagai berikut:  What (apa)= tujuan (tindakan apa yang perlu dilakukan)  When (kapan)= waktu (kapan hal tersebut perlu dilakukan)  How (bagaimana)= cara mengerjakannya (bagaimana cara melakukan pekerjaan tersebut)  Who (siapa)= tenaga kerja (siapa yang melakukan pekerjaan tersebut)  Where (dimana)= tempat (dimana pekerjaan itu harus dilakukan)  Why (mengapa)= keperluannya (mengapa pekerjaan itu harus dilakukan). F. Hambatan dalam Membuat Perencanaan 1. Kurang pengetahuan tentang organisasi 2. Kurang pengetahuan tentang lingkungan 3. Ketidakmampuan melakukan peramalan secara efektif 4. Kesulitan perencanaan operasi-operasi yang tidak berulang 5. Biaya 6. Takut gagal 7. Kurang percaya diri 8. Ketidaksediaan untuk menyingkirkan tujuan-tujuan alternatif.
  • 36. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 35 G. Cara Mengatasi Hambatan dalam Membuat Perencanaan 1. Melibatkan para pegawai, terutama mereka yang terkena pengaruh dalam proses perencanaan. 2. Memberikan banyak informasi kepada para pegawai tentang rencana dan kemungkinan akibat-akibatnya sehingga mereka memahami perlunya perubahan, manfaat yang diharapkan dan apa yang diperlukan untuk pelaksanaan yang efektif. 3. Mengembangkan suatu pola perencanaan dan penetapan yang efektif, suatu “track record” yang berhasil mendorong kepercayaan kepada para pembuat rencana serta menyebabkan rencana baru tersebut diterima. 4. Menyadari dampak dari perubahan-perubahan yang diusulkan terhadap para anggota organisasi dan memperkecil gangguan yang tidak perlu. BAB VI ORGANISASI A. Penetapan Tujuan Organisasi dan Pembuatan Keputusan Visi, Misi, dan Tujuan Organisasi Sebelum organisasi menentukan tujuan-tujuan, terlebih dahulu harus menetapkan misi atau maksud organisasi.  Misi adalah suatu pernyataan umum dan abadi tentang maksudorganisasi. Misi suatu organisasi adalah maksud khas (unik) dan mendasar yangmembedakan organisasi dari organisasi-organisasi lainnya dan mengindentifikasikan ruanglingkup operasi dalam hal produk dan pasar.
  • 37. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 36 Misi merupakan perwujudan dasar filsafat para pembuat keputusan strategik perusahaan, mencerminkan konsep diri perusahaan, serta menunjukan bidang-bidang produk atau jasa pokok dan kebutuhan- kebutuhan langgananutama yang akan dipuaskan perusahaan.  Tujuan organisasi ialah suatu pernyataan tentang keadaan yang diinginkan di manaorganisasi bermaksud untuk merealisasikan dan sebagai pernyataan tentang keadaan diwaktu yang akan datang di mana organisasi sebagai kolektifitas mencoba untukmenimbulkannya. Tujuan organisasi merupakan pernyataan tentang keadaan atau situasiyang tidak terdapat sekarang tetapi dimaksudkan untuk dicapai di waktu yang akan datangmelalui kegiatan-kegiatan organisasi. Tipe-tipe Tujuan Organisasi: 1. Tujuan kemasyarakatan (Societal goals) 2. Tujuan keluaran (Output goals) 3. Tujuan sistem (Sistem goals) 4. Tujuan produk (Product goals) 5. Tujuan turunan (Derived goals) Bidang-bidang Tujuan Peter Drucker, selama bekerja sebagai konsultan untuk GE, mengidentifikasikan secaraterperinci 8 bidang pokok dimana perusahaan harus menetapkan tujuan. Bidang-bidang itu adalah : 1. Posisi pasar. Perusahaan harus menetapkan tujuan mengenai bagian pasar yang akan “direbut”. 2. Produktifitas. Adalah rasio antara masukan dengan keluaran organisasi. 3. Sumber daya phisik dan keuangan. 4. Profitabilitas. Tujuan-tujuan laba penting untuk mencapai tujuan- tujuan lain.
  • 38. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 37 5. Inovasi. Ada kebutuhan terus menerus akan produk atau jasa baru dan inovatif. 6. Prestasi dan pengembangan manajer. Kelangsungan hidup banyak organisasi tergantung pada kekuatan manajemen yang inovatif. 7. Prestasi dan sikap karyawan. Karyawan operatif melaksanakan sebagian besarpekerjaan normal dan rutin di setiap organisasi. 8. Tanggung jawab sosial dan publik. Tujuan-tujuan ini ditetapkan perusahaan untuk “menangani” boikot publik, kegiatan-kegiatan hukum, kegiatan-kegiatanpemerintah, kelompok-kelompok berkepentingan, dan sebagainya. B. Management By Objectives (MBO) Management By Objectives atau MBO pertama kali diperkenalkan oleh Peter Drucker dalam bukunya The Practice of Management pada tahun 1954. Prosesnya juga berjalan dengan nama-nama lain, termasuk “manajemen berdasarkan sasaran”, “manajemen berdasarkan hasil”, atau “management by results”, “goals management”, “work planning and review”,“goals and controls”, “joint target setting”, dan sebagainya. Walaupun menggunakan nama-nama yang berbeda prosesnya adalah sama. MBO telah berkembang sangat terkenal,terutama dalam-organisasi-organisasi besar. Pada hakekatnya MBO menekankanpentingnya peranan tujuan dalam perencanaan efektif. 1. Sistem MBO Berikut ini akan diuraikan unsur-unsur umum yang selalu ada dalam berbagai sistem MBO yang efektif : 1) Komitmen pada program 2) Penetapan tujuan manajemen puncak 3) Tujuan-tujuan perseorangan 4) Partisipasi
  • 39. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 38 5) Otonomi dalam implementasi rencana 6) Peninjauan kembali prestasi. 2. Kekuatan dan Kelemahan MBO Dalam suatu survey terhadap para manajer, Tosi dan Carroll mengemukakan kebaikan-kebaikan berbagai program MBO, yang dapat diperinci sebagai berikut : Kekuatan Kelemahan  Meningkatkan koordinasi antara tujuan & rencana  Memperjelas prioritas & ekspektasi  Memungkinkan komunikasi horizontal & vertikal  Meningkatkan motivasi karyawan  Dapat menjalankan pengawasan yg lebih efektif  Cenderung gagal jika tidak ada komitmen yg kontinu dari manajemen puncak  Terlalu menekankan pada tujuan jangka pendek  Memerlukan bayak waktu & usaha dalam implementasinya  Tidak cocok untuk manajer yg otoriter & mereka yg menerapkan birokrasi secara ketat Tabel Kekuatan dan Kelemahan MBO C. Proses Pembuatan Keputusan Pembuatan keputusan adalah bagian kunci kegiatan manajer. Kegiatan ini memainkan peranan penting, terutama bila manajer melaksanakan fungsi perencanaan. Pembuatan keputusan (decision making) menggambarkan
  • 40. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 39 proses melalui mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu. Secara teoritis, ada empat metode pengambilan keputusan yaitu: 1) Kewenangan Tanpa Diskusi  Sering digunakan oleh para pemimpin otokratik atau dalam kepemimpinan militer.  Keuntungan menggunakan metode ini cepat memutuskan apa yang harus dilakukan.  Cukup sempurna dan dapat diterima jika pengambilan keputusan yang dilaksanakan berkaitan dengan persoalan rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya.  Kelemahannya jika terlalu sering digunakan, akan menimbulkan persoalan seperti munculnya ketidakpercayaan para anggota organisasi terhadap keputusan yang ditentukan pimpinannya, karena mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan 2) Pendapat Ahli  Seorang anggota organisasi oleh anggota lainnya diberi predikat sebagai ahli (expert), sehingga memungkinkannya memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk membuat keputusan.  Metode pengambilan keputusan ini akan bekerja dengan baik, apabila seorang anggota organisasi yang dianggap ahli dan memang benar- benar tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh anggota lainnya. Dalam banyak kasus, persoalan orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah masalah yang sederhana, karena sangat sulit menentukan indikator yang dapat mengukur orang yang dianggap ahli (superior). Ada yang berpendapat bahwa orang yang ahli adalah orang yang memiliki
  • 41. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 40 kualitas terbaik; untuk membuat keputusan, namun sebaliknya tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan ukuran tersebut. Karenanya, menentukan apakah seseorang dalam kelompok benar-benar ahli adalah persoalan yang rumit. 3) Kewenangan Setelah Diskusi  mempertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota organisasi dalam proses pengambilan keputusan, sehingga akan meningkatkan kualitas dan tanggung jawab para anggotanya  munculnya aspek kecepatan (quickness) dalam pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha sehingga menghindari proses diskusi yang terlalu meluas.  Pendapat anggota organisasi sangat diperhatikan dalam proses pembuatan keputusan, namun perilaku otokratik dari pimpinan, kelompok masih berpengaruh.  Kelemahannya, anggota organisasi akan bersaing untuk mempengaruhi pengambil atau pembuat keputusan. Artinya bagaimana para anggota organisasi yang mengemukakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan, berusaha mempengaruhi pimpinan kelompok bahwa pendapatnya yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. 4) Kesepakatan  Kesepakatan terjadi jika semua anggota dari suatu organisasi mendukung keputusan yang diambil.  keuntungannya, partisipasi penuh dari seluruh anggota organisasi akan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, sebaik seperti tanggung jawab para anggota dalam mendukung keputusan tersebut. Selain itu metode konsensus sangat penting khususnya yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks.
  • 42. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 41  Kekurangannya adalah dibutuhkannya waktu yang relatif lebih banyak dan lebih lama, sehingga metode ini tidak cocok untuk digunakan dalam keadaan mendesak atau darurat. Keempat metode pengambilan keputusan di atas, menurut Adler dan Rodman, tidak ada yang terbaik dalam arti tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan bahwa satu metode lebih unggul dibandingkan metode pengambilan keputusan lainnya. Metode yang paling efektif yang dapat digunakan dalam situasi tertentu, bergantung pada faktor-faktor:  jumlah waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan,  tingkat pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan  kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin kelompok dalam mengelola kegiatan pengambilan keputusan tersebut. Pengambilan keputusan merupakan proses yang kompleks yang memerlukan penanganan yang serius. Secara umum, proses pengambilan keputusan meliputi tujuh langkah beriktu (Gibson dkk, 1987): 1. Menerapkan tujuan dan sasaran : Sebelum memulai proses pengambilan keputusan, tujuan dan sasaran keputusan harus ditetapkan terlebih dahulu. apa hasil yang harus dicapai dan apa ukuran pencapaian hasil tersebut. 2. Identifikasi persoalan : Persoalan-persoalan di seputar pengambilan keputusan harus diidentifikasikan dan diberi batasan agar jelas. Mengidentifikasikan dan memberi batasan persoalan ini harus tepat pada inti persoalannya, sehingga memerlukan upaya penggalian. 3. Mengmbangkan alternatif : Tahap ini berisi pengnidentifikasian berbagai alternatif yang memungkinkan untuk pengambilan keputusan yang ada. Selama alternatif itu ada hubungannya, walaupun sedikit, harus ditampung dalam tahap ini. Belum ada komentar dan analisis.
  • 43. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 42 4. Menentukan alternatif : Dalam tahap ini mulai berlangsung analisis tehadap berbagai alternatif yang sudah dikemukakan pada tahapan sebelumnya. Pada tahap ini juga disusun juga kriteriatentang alternatif yang sesuai dengan tujuan dan sasaran pengambilan keputusan. Hasil tahap ini mungkin masih merupakan beberapa alternatif yang dipandang layak untuk dilaksanakan. 5. Memilih alternatif : Beberapa alternatif yang layak tersebut di atas harus dipilih satu alternatif yang terbaik. pemilihan alternatif harus harus mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya, keefektifan alternatif dalam memecahkan persoalan, kemampuan alternatif untuk mencapai tujuan dan sasaran, dan daya saing alternatif pada masa yang akan datang. 6. Menerapkan keputusan : Keputusan yang baik harus dilaksanakan. Keputusan itu sendiri merupaka abstraksi, sedangkan baik tidaknya baru dapat dilihat dari pelaksanaannya. 7. Pengendalian dan evaluasi : Pelaksanaan keputusan perlu pengendalian dan evaluasi untuk menjaga agar pelaksanaan keputusan tersebut sesuai dengan yang sudah diputuskan. Banyak manajer yang harus membuat keputusan dengan metoda-metoda pembuatan keputusan informal untuk memberikan pedoman bagi mereka. Tidak ada pendekatan pembuatan keputusan yang dapat menjamin bahwa manajemen akan selalu membuat keputusan yang benar, tetapi bagaimanapun juga, para manajer yang menggunakan suatu pendekatan yang rasional, intelektual dan sistematik akan lebih berhasil dibanding para manajer yang menggunakan pendekatan informal. Proses dasar pembuatan keputusan rasional hampir sama dengan proses perencanaan strategik formal. Ini mencakup identifikasi dan diagnosa masalah,pengumpulan dan analisa data yang relevan, pengembangan alternatif-alternatif, penilaian berbagai alternatif penyelesaian, pemilihan alternatif terbaik, implementasi keputusan dan evaluasi terhadap hasil-hasil.
  • 44. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 43 D. Keterlibatan Bawahan dalam Pembuatan Keputusan Para manejer akan sulit untuk membuat keputusan tanpa melibatkan bawahan, keterlibatan ini dapat formal, seperti pengunaan kelompok dalam pembuatan keputusan, atau informal, seperti permintaan akan gagasan. 1) Pembuatan Keputusan Kelompok Banyak manajer merasa bahwa keputusan yang dibuat kelompok, seperti panitia, lebih efektif karena mereka memaksimumkan pengetahuan yang lain. Para manajer lainnya sangat keras menghindari keterlibatan kelompok, karena mereka merasa bahwa hal itu lambat, tidak praktis dan sering menghasilkan yang kurang berbobot. Kebaikan a) Dalam pengembangan tujuan, kelompok memberikan jumlah pengetahhuan yang lebih besar. b) Dalam pengembangan alterna-tif, usaha individual para anggota kelompok dapat memungkinkan pencarian lebih luas dalam berbagai bidang fungsional organisasi. c) Dalam penilaian alternatif, kelompok mempunyai kerangka pandangan yang lebih lebar. d) Dalam pemilihan alternatif kelompok lebih dapat meneri-ma risiko disbanding pembuat keputusan individual. e) Karena berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan, para anggota kelompok secara individudal lebih termotivasi untuk melaksanakan keputus-an. f) Kreativitas yang lebih besar dihasilkan dari interaksi antar individu dengan berbagai pandangan yang berbeda- beda. g) Implementasi suatu keputusan apakah dibuat oleh kelompok atau tidak, haru diselesaikan oleh para manejersecara individual. Karena kelompok tidak diberikan tanggung jawab, keputusan kelompok dapat
  • 45. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 44 menghasilkan situasi dimana tidak seorangpun merasa bertanggung jawab dan saling melempar tanggung jawab. h) Berdasarkan pertimbangan nilai dari waktu sebagai salah satu sumber daya organisasi, keputusan kelompok sangant memakan biaya. i) Pembuatan keputusan kelompok adalah tidak efesien bila keputusan harus dibuat dengan cepat. j) Keputusan kelompok, dalam berbagai kasus, dapat merupakan hasil kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok. k) Bila atasan terlilbat, atau salah satu anggota mempunyai kepribadian yang dominan, keputusan yang dibuat kelompok dalam kenyataannya bukan keputusan kelompok. Kelemahan Implementasi suatu keputusan apakah dibuat oleh kelompok atau tidak, haru diselesaikan oleh para manejersecara individual. Karena kelompok tidak diberikan tanggung jawab, keputusan kelompok dapat menghasilkan situasi dimana tidak seorangpun merasa bertanggung jawab dan saling melempar tanggung jawab. a) Berdasarkan pertimbangan nilai dari waktu sebagai salah satu sumber daya organisasi, keputusan kelompok sangant memakan biaya. b) Pembuatan keputusan kelompok adalah tidak efesien bila keputusan harus dibuat dengan cepat. c) Keputusan kelompok, dalam berbagai kasus, dapat merupakan hasil kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok. d) Bila atasan terlilbat, atau salah satu anggota mempunyai kepribadian yang dominan, keputusan yang dibuat kelompok dalam kenyataannya bukan keputusan kelom.
  • 46. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 45 E. Metode-metode Kuantitatif dalam Pembuatan Keputusan Berbagai teknik dan peralatan kuntitatif dalam pembuatan keputusan telah dikembangkan lebih dari 40 tahun yang lalu, dan dikenal sebagai teknik- teknik “ manajemen scient “ dan “ oprations research”. Pada umumnya, kedua istilah tersebut digunakan berganti-ganti dengan pengertian sama. Riset operasi bermaksud untuk menggambarkan, memahami, dan memperkirakan atau meramal perilaku senagai sistem yang kompleks dari kehidupan manusia dan peralatan. Tujuan riset operasi adalah untuk menyediakan informasi yang akurat sebagai dasar pembuatan keputusan. 1. Pohon Keputusan dan Pembuatan Keputusan Pohon keputusan (decision tree) dikembangkan untuk membantu para manajer membuat serangkaian keputusan yang melibatkan peristiwa- peristiwa ketidak pastian. Pohon keputusan adalah suatu peralatan yang menggambarkan secara grafik berbagai kegiatan yang dapat diambil dan hubungan kegiatan-kegiatan ini dengan berbagai peristiwa di waktu mendatang yang dapat terjadi. Seperti teknik-teknik riset operasi lainnya, pohon keputusantidak akan membuat keputusan bagi manajer kebijakan masih akan diperlukan.Bagaimanapun juga, dalam berbagai situasi yang tepat, penggunaan pohon keputusan akan mengurangi kekacauan potensial dalam suatu masalah kompleks dan memungkinkanmanajer untuk menganalisa masalah secara rasional. Ciri-ciri Riset Operasi Ada tujuh ciri utama riset operasi, yang dapat diperinci sebagai berikut 1) Terpusat pada pembuatan keputusan 2) Penggunaan metoda ilmiah. 3) Penggunaan model matematik.
  • 47. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 46 4) Efektivitas ekonomis 5) Bergantung pada Komputer. 6) Pendekatan tim. 7) Orientasi sistem. Tahap-tahap Pendekatan Riset Operasi mempunyai 5 tahap : 1) Diagnosa masalah 2) Perumusan masalah 3) Pembuatan model 4) Analisa model 5) Implementasi penemuan. Wegner telah mengemukakan bahwa program riset operasi akan paling berguna dengan delapan unsure berikut: 1. Dukungan manajemen puncak. Tanpa dukungan manajemen puncak, suatu program riset opersi akan cenderung kurang mempunyai kerja sama para manajer. 2. Tanggung jawab manajerial bagi program. Bila para manajer mempunyai tanggung jawab akhir keberhasilan suatu proyek riset operasi. 3. Partisipasi manajer. Bila manajer berpartisipasi dalam penetapan tujuan-tujuan program. 4. Penggunaan kebijakan manajerial. Saran seorang manajer hanya harus ikut mempertimbagkan dalam proses riset operasi. 5. Pengumpulan data secara cepat. Proses pengadaan informasi yang lama dan berkepanjangan akan tidak berguna bagi manajer yang memerlukannya untuk membuat keputusan secara secepat mungkin. 6. Aspek-aspek teknik tidak dibiarkan mendominasi. 7. Persiapan untuk kesulitan-kesulitan awal . 8. Penyimpanan laporan secara akurat.
  • 48. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 47 BAB VII PENGORGANISASIAN dan STRUKTUR ORGANISASI A. Pengorganisasian Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Dua aspek utama proses penyusunan struktur organisasi adalah :  Departementalisasi, merupakan pengelompokan kegiatan-kegiatan kerja suatu organisasi agar kegiatan-kegiatan yang sejenis dan saling berhubungan dapat dikerjakan bersama.  Pembagian kerja, adalah pemerincian tugas pekerjaan agar setiap individu dalam organisasi bertanggung jawab untuk dan melaksanakan sekumpulan kegiatan yang terbatas. Kedua aspek ini merupakan dasar proses pengorganisasian suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secaraefisien dan efektif. B. Struktur Organisasi Struktur organisasi adalah mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola.Struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian- bagian, maupun orang-orang yang menunjukankedudukan , tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatuorganisasi. Adapun faktor-faktor utama yang menentukan perancangan struktur organisasi adalah sebagai berikut : 1. Strategi organisasi untuk mencapai tujuannya. 2. Teknologi yang digunakan
  • 49. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 48 3. Anggota (karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi 4. Ukuran organisasi. Unsur-unsur Struktur Organisasi 1. Spesialisasi kegiatan berkenaan dengan spesifikasi tugas-tugas individual dan kelompok kerja 2. dalam organisasi dan penyatuan tugas-tugas tersebut menjadisatuan- satuan kerja. 3. Standardisasi kegiatan 4. Koordinasi kegiatan 5. Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan 6. Ukuran satuan kerja. C. Pembagian Kerja Tujuan suatu organisasi adalah untuk mencapai dimana individu-individu tidak dapat mencapainya sendiri. Sebagai contoh, pada pembagian kerja di dalam perusahaan PT Zhaahirah, yaitu pembagian kerja untuk direktur operasional dan hukum, direktur pemasaran, direktur keuangan dan administrasi, manajer keuangan dan administrasi, administrasi operasional, surveyor, staf pemasaran, staf accounting, staf keuangan. Indikator Pembagian Kerja a) Penempatan Karyawan, sesuai dengan kemampuan, keahlian dan pendidikan yang dimiliki. b) Beban kerja adalah tugas pekerjaan yang dipercayakan untuk dikerjakan dan tanggung jawabkan oleh satuan organisasi atau seorang pegawai tertentu. c) Spesialisasi pekerjaan adalah pembagian kerja berdasarkan keahlian atau ketrampilan khusus.
  • 50. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 49 D. Bagan Organisasi Formal Struktur organisasi adalah terlalu kompleks untuk disajikan secara variabel. Bagan organisasi menggambarkan lima aspek utama suatu struktur organisasi, yang secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Pembagian kerja. Setiap kotak menunjukan individual atau satuan organisasi mana yang bertanggung jawab. 2. Manajer dan bawahan atau rantai-perintah. Rantai pe ntah menunjukan hubungan wewenang tanggung jawab yang menghubungkan atasan dan bawahan dalam keseluruh organisasi. 3. Tipe pekerjaan yang dilaksanakan. Label dan deskripsi pada tiap kotak menunjukan pekerjaan organisasioanal. 4. Pengelompokan segmen-segmen pekejaan. Keseluruh bagan menunjukan atas dasar apa organisasi dibagi. 5. Tingkatan manajemen. Suatu bagan tidak hanya menunjukan manajer dan bawahan tetapi juga keseluruh hiarki manajemen. E. Bentuk-bentuk Bagan Oraganisasi Henry G. Hognes mengemukakan empat bentuk bagan oraganisasi yaitu: 1. Bentuk piramida. Bentuk ini yang paling banyak digunakan karena sederhana, jelas, dan mudah di mengerti. 2. Bentuk vertikal. Bentuk vertkal agak menyerupai bentuk pyramid. 3. Bentuk horizontal. Bagan ini digambarkan secara mendatar. 4. Bentuk lingkaran. Bagan ini menekankan pada hubungan antara satu jabatan lain.
  • 51. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 50 F. Departemen Organisasi dan Macam-macamnya 1) Departementalisasi Proses penetuan cara bagaimana kegiatan-kegiatan dikelompokan disebut departementalisasi atau departementasi. Dasar-dasar pembentukan departementalisasi:  Fungsi : pemasaran, akuntansi, produk, atau keuangan.  Produk atau jasa : divisi mesin cuci, lemari es, televise atau radiao.  Wilayah: divisi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, atau Indonesia Timur dan Operasi Internasional.  Langganan : penjuala industri, pedagang eceran, pemerintah, militer atau konsumen.  Proses atau peralatan : departemen pemotongan, kelompok perakitan, pembagian pembungkusan atau bagian finishing.  Waktu : kelompok kerja bisa dibagi menjadi shift pertama, shift kedua, dan shift ketiga.  Pelayanan : bisa mencerminkan kelas bisnis, kelas ekonomi, dan kelas turis dalam pelayanan pesawat terbang.  Alpha-numerical : bisa digunakan pada pelayanan telefon dimana, misal nomer 00000-50.000 ditempatkan dalam departemen dan nomer 50.001-99.999 dalam departemen lain.  Proyek dan matriks : digunakan oleh perusahaan-perusahaan kontribusi dengan teknologi tinggi, perusahaan konsultan atau orientasi-energi. 2) Pembagian Departementasi Macam bentuk departementasi yaitu: 1) Departemen Fungsional adalah pengelompokan fungsi yang sama atau kegiatan yang sejenis untuk membentuk satuan organisasi. Ini
  • 52. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 51 merupakan bentuk organisasi yang paling umum dan bentuk dasar departementasi. Individu dikelompokkan berdasarkan ketrampilan, pengetahuan, dan tindakan yang dilakukan. Pembentukan satuan satuan organisasi yang masing masing diserahi mengurus sekelompok aktivitas yang tergolong sejenis menurut sifatnya atau pelaksanaan pekerjaan pekerjaan yang berkaitan. Kebaikan Departemen Fungsional :  Pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama.  Menciptakan efisiensi melalui spesialisasi.  Memusatkan keahlian organisasi.  Memungkinkan pengawasan manajemen puncak  Tugasnya jelas  Pengetahuan yang dibutuhkan tidak banyak  Hanya membutuhkan manajer saja yang harus berwawasan luas  Mudah dijelaskan pada anggota bila ada persoalan Kelemahan Departemen Fungsional  Menciptakan konflik antar fungsi.  Adanya kemacetan pelaksanaan tugas  Umpan balik yang lambat.  Memusatkan pada kepentingan tugasnya.  Para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif  Kejenuhan akibat monotonnya aktivitas  Komunikasi antar area tidak lancar terutama bila ada problem  Individu dalam bekerja hanya memperhatikan struktur hierarki 2) Departementasi Devisional adalah Departementasi berdasarkan divisi melihat produk, layanan, dan klien sebagai faktor dasar
  • 53. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 52 pengelompokan. Pola ini digunakan untuk memudahkan usaha antisipasi ancaman atau oportuniti dari luar organisasi. Misalnya pada organisasi otomotif, organisasi terbagi atas divisi otomotif, divisi internasional, divisi keuangan. Kelebihan Departementasi Devisional  Semua kegiatan, ketrampilan, keahlian untuk memproduksi dan memasarkan dikelompokan menjadi satu dibawah seorang kepala.  Semua kegiatan mudah untuk dikoordinasidan prestasi kerja terpelihara.  Kualitas dan kecepatan membuat keputusan meningkat.  Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan  lingkungan divisi yang khas  Merumuskan tanggung – jawab dengan jelas dan perhatian dipusatkan pertanggungjawaban atas prestasi kerja.  Membebaskan para kepala eksekutif dalam pembuatan keputusan strategi lebih luas.  Cocok untuk lingkungan yang cepat berubah.  Mempertahankan spesialisasi fungsional dalam setiap divisi. Kelemahan Departementasi Devisional  Berkembangnya persaingan disfungsional potensial atas sumber daya perusahaan dan konflik antara tugas dan prioritas.  Seberapa besar delegasi wewenang diberikan  Masalah kebijaksanaan dalam alokasi biaya sumber daya dan distribusi overhead perusahaan  menimbulkan konsistensi kebijaksanaan antar divisi.  Masalah duplikasi sumber daya dan peralatan yang tidak perlu  Masing-masing divisi bisa menghadapi problem yang sama sehingga terjadi pengulangan dalam pengatasannya
  • 54. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 53  Target divisi bisa mengalahkan target organisasi  Konflik antar divisi bisa terjadi, bila terjadi problem organisasi,maka membutuhkan orang yang sangat ahli dan menguasai banyak hal. 3) Strukur Organisasi Proyek dan Matriks  Strukur organisasi proyek. Departementalisasi proyek menyangkut pembentukan tim-tim, spesilis, yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan khusus.  Struktur organisasi matriks. Departementalisasi matriks adalah sama dengan departementalisasai proyek dengan satu perbedaan pokok. Kebaikan organisasi matriks. Berbagai kebaikan organisasi matriks dapat diperinci sebagai berikut:  Memaksimumkan efisiensi penggunaan manajer fungsional.  Mengembangkan ketrampilan karyawan.  Melibatkan, memotivasi dan menantang karyawan.  Memberikan fleksibelitas kepada organisasi dan membantu perkembangan kreativitas.  Menstimulasi kerja sama antar disiplin dan mempermuda kerja karyawan.  Membebaskan manajemen puncak untuk perencanaan. Kelemahan organisasi matriks adalah:  Pertanggung jawaban ganda dapat menciptakan kebingungan.  Sangat memerlukan koordinasi horizontal dan vertikal.  Memerlukan lebih banyak ketrampilan-ketranpilan antar pribadi.
  • 55. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 54  Mendorong pertentangan kekuasaan dan lebih mengarah perdebatan dari pada kegiatan.  Mengandung resiko timbulnya persaan anarki.  Sangat mahal untuk diimplemntasikan. G. Kelompok-kelompok Kerja Formal Organisasi Organisasi mempunyai tiga tipe utama kelompok-kelompok kerja formal: kesatuan tugas khusus, panitia dan dewan atau komisi. a. Kesatuan tugas khusus ( task focces ). Kesatuan tugas khusus atau tim proyek dibentuk menangani suatu masalah atau tugas khusus. b. Panitia tetap ( standing commit tees ) dan panitia Ad hoc. Panitia tetap ( dikenal sebagai panitia structural ) adalah bagian tetap dari sruktur suatu organisasi yang dibentuk guna menangani tugas yang terus menerus ada dalam organisasi, seperti panitia anggaran, panitia pengembangan produk baru, panitia pembelia, dan sebagainya. c. Panitia ad hoc mempunyai fungsi yang serupa dengan panitia tetap, hanya tidak bersifat tetap. Tujuan dibentuknya panitia manajemen terutama adalah untuk mengkoordinasikan dan mempertukarkan informasi, member suara manajemen puncak. Dewan dan komisi. Dewan ( boards) dibentuk dari individi-individu yang dipilih atau ditugaskan untuk mengelola suatu organisasi mayarakat atau swasta. H. Kegunaan dan Kerugian Panitia 1. Kegunaan Panitia Berbagai kegunaan yang ditimbulkan panitia adalah:
  • 56. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 55 1. Keputusan-keputusan dengan kualitas lebih baik. 2. Meningkatkan penerimaan. 3. Memperbaiki koordinasi. 4. Tempat latihan bagi manajer. 5. Penyebaran kekuasaan. 6. Menghindari kosekuensi-kosekuensi yang tidak menyenangkan. 2. Kerugian Panitia Adapun kerugian yang dapat di timbulkan panitia adalah: 1. Pemborosan waktu dan uang. 2. Dominasi individu. 3. Adanya persatuan dan kompromi terlebih dahulu. 4. Kurangnya tanggung jawab. I. Organisasi Informal Salah satu bagian penting organisasi adalah pengelompokan in formal dan hubungan pribadi yang dapat lebih berpengaruh dibanding hubungan formal seperti yang ditunjukan pada bagan organisasi. Organisasi informal memainkan peranan penting dalam dinamika perilaku organisasi. Perbedaan pokok antara organisasai formal dan informal adalah bahwa organisasi formal mempunyai tujuan, struktur dan pola hubungan kerja yang teratur melalui manajemen, organisasi informal berdiri atas struktur yang tidak jelas. Argeris mengemukakan empat bidang utama di mana organisasi formal dan informal berbeda: 1. Hubungan-hubungan pribadi. Dalam organisasi formal hubungan dengan orang digmabarkan jelas, sedangakan dalam hubungan informal sangat tergantung.
  • 57. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 56 2. Kepemimpinan. Para pemimpin dirancang dan ditentukan dalam formal serta muncul dipilih dalam informal. 3. Pengendalian perilaku. Organisasi formal mengendalikan perilaku karyawan melalui penghargaan dan hukuman, sedangakan kelompok informal mengendalikan anggota dengan pemenuhan kebutuhan. 4. Ketergantungan. Karena kapasitas pemimpin formal terletak pada penghargaan dan hukuman, bawahan lebih tergantung dari pada para anggota suatu kelompok informal. Fungsi-fungsi yang dilaksanakan kelompok-kelompok informal: 1) menetapkan, memperkuat, dan meneruskan norma-norma dan nilai-nilai sosial budaya 2) memberikan dukungan terhadap tujuan organisas 3) menstimulasi komunikasi efektif 4) memberikan keputusan. Masalah-masalah yang diciptakan. Kelompok informal ini walaupun tidak di tetapkan secara formal oleh organisasi, dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah bagi manajer. Sikap manajemen terhadap organisasi informal. Sikap manajemen yang paling baik adalah memahami, mencari persesuaian, dan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan dengan kelompok informal.
  • 58. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 57 Sumber Referensi :  www.wikipedia.com  http://blog.re.or.id/fungsi-fungsi-manajemen.htm  http://boby32.blogspot.com/2011/07/hal-yang-harus-dilakukan-seorang.html  http://trickyeko.blogspot.com/2012/03/1-keputusan-manajerial- menentukan_09.html  http://amalia-tirta.blogspot.com/2011/11/pembuat-keputusan.html  http://rezkyevlynputra.blogspot.com/2011/12/departementasi-dan-macam- macam.html
    Please download to view
  • All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
    ...

    Manajemen bab 1 7 BY FACHRUL NISA

    by nisa26

    on

    Report

    Download: 0

    Comment: 0

    963

    views

    Comments

    Description

    tugas kampus Manajemen semester2 yang dikumpulkan sebelum MID

    semoga bermanfaat ya..
    Download Manajemen bab 1 7 BY FACHRUL NISA

    Transcript

    • 1. S1 Akuntansi 2013/2014 STIE Muhammadiyah Fachrul Nisa (2013001017) 2013/2014
  • 2. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 1 BAB I MANAJEMEN A. Pengertian Manajemen Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Secara umum, manajemen ialah suatu rangkaian aktivitas (termasuk perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengadilan) yang di arahkan pada sumber-sumber daya organisasi (manusia, financial, dan informasi) untuk mencapai tujuan organisasi dengan cara yang efektif dan efisien. B. Latar belakang Kebutuhan Manajemen Secara spesifik ada tiga alasan utama dibutuhkannya manajemen, yaitu : 1. Mencapai tujuan, manajemen mempermudah pencapaian tujuan organisasi dan pribadi 2. Menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan, manajemen menyeimbangkan tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan di antara pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi (stakeholders) seperti pemilik, karyawan, konsumen, pemasok dan lain-lain. 3. Mencapai efisiensi dan efektifitas, efisiensi dan efektifitas merupakan ukuran prestasi organisasi. C. Definisi Manajemen Begitu luasnya pengertian manajemen sehingga tidak ada definisi yang secara konsisten digunakan oleh semua orang. Dalam hal ini dua definisi manajemen dikemukan sebagi berikut :
  • 3. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 2 1. Mary Parker Follet, manajemen merupakan seni (art) dalam meyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. 2. James AF Stoner, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 3. Luther Gullick, manajemen suatu ilmu (science) 4. James H. Donnelly Jr.; James L. Gibson; dan Jhon M. Ivancevich, manajemen adalah proses dari seseorang atau beberapa individu untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan dari orang lain untuk memperoleh hasil yang tidak dapat dilakukan seorang individu saja. 5. Karthryn M. Bartol dan David C. Marten, manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan- kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). 6. Chuck Williams (2001), manajemen adalah menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Jadi seorang manajer bukanlah mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Dia bekerja melalui orang-orang yang memiliki kemampuan-kemampuan teknis di lapangan, tanpa mengerjakan teknisnya (walaupun bukan berarti seorang manajer tidak memiliki kemampuan teknis). 7. Murti Sumarni-John Soeprihanto (1995), manajemen merupakan suatu proses yang terdiri atas kegiatan-kegiatan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain. Pemanfaatan sumber daya-sumber daya lain dalam perusahaan meliputi
  • 4. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 3 sumber daya bahan baku produksi, sumber keuangan, mesin-mesin, dan cara yang digunakan dalam pemanfaatan yang efisien dan efektif. Berdasarkan uraian tersebut manajemen dapat diartikan sebagai bekerja dengan orang-orang dengan memanfaatkan sumber daya-sumber daya organisasi untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan- tujuan melalui pelaksanaan atau proses fungsi-fungsi POLC (Planning, OrganizingLeading, Controlling) Secara umum, manajemen juga dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengajarkan tentang proses untuk memperoleh tujuan organisasi melalui upaya bersama dengan sejumlah orang atau sumber milik organisasi. Dalam hal ini manajemen dibedakan menjadi 3 bentuk karakteristik, diantaranya adalah:  Sebuah proses atau seri dari aktivitas yang berkelanjutan dan berhubungan.  Melibatkan dan berkonsentrasi untuk mendapatkan tujuan organisasi.  Mendapatkan hasil-hasil ini dengan berkerja sama dengan sejumlah orang dan memanfaatkan sumber-sumber dimiliki si organisasi. D. Manajemen Sebagai Ilmu dan Seni Manajemen merupakan suatu ilmu dan seni, mengapa disebut demikian?  Manajemen sebagai ilmu (science) Ilmu adalah kumpulan dari berbagai pengetahuan yang sistematis dan diterima berdasarkan kebenaran umum mengenai subjek dan objek tertentu. Suatu pengetahuan dapat diakatakan sebagai suatu ilmu apabila berdasarkan fakta yang ada, objektif, menggunakan prinsip analisis, dan melalui serangkaian hipotesis, objektif dan langkah kuantitatif. Seorang manajer harus mempunyai kapabilitas pengetahuan dan ilmu dalam usaha memimpin kegiatan-kegiatan bawahannya melalui fungsi- fungsi manajemen.  Manajemen sebagai Seni
  • 5. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 4 Sedangkan Seni adalah suatu kreatifitas pribadi yang kuat dan disertai keterampilan. Seni dalam manajemen dapat meliputi kecakapan untuk melihat totalitas dari bagian-bgian yang terpisah dan berbeda-beda, kecakapan untuk menciptakan sesuatu gambaran tentang visi tertentu, dan kecakapan untuk menyatukan visi dengan keterampilan yang ada Seorang manajer dapat dikatakan gagal apabila tidak menguasai seni manajemen. dalam hal ini, seorang manajer harus mempunyai firasat yang tajam, keyakinan-keyakinan, kreatifitas, serta menguasai penerapannya. Selain itu, seni dalam manajemen juga mengatur berbagai macam manusia dari berbagai macam latar belakang untuk mencapai suatu tujuan. Berikut perbadaan antara Ilmu dan Seni Ilmu Seni  Berkembang secara teoritis  Membuktikan sesuatu  Memberikandasar permasalahan  Merencanakan kegiatan 1. Berkembang secara praktis 2. Merasakan sesuatu 3. Menguraikan suatu permasalahan 4. Melakukan kegiatan Tabel Fungsi dan Manajemen 1 Dari tabel diatas menunjukkan bahwa Ilmu dalam manajemen mengajarkan dan memberikan dasar dalam mengatur kegiatan-kegiatan antara manajemen dan bawahannya, sedangkan suatu seni dalam manajemen menunjukkan bagaimana cara mengatur kegiatan manajemen dan bawahannya dari berbagai latar belakang dalam rangka mencapai suatu tujuan.
  • 6. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 5 E. Manajemen Sebagai Profesi Banyak usaha telah dilakukan untuk mengaplikasikan menajemen sebagai suatu profesi. Edgar H. Schein telah menguraikan kriteria-kriteria untuk menentukan sesuatu sebagai profesi yang dapat diperinci sebagai berikut: 1. Para profesional membuat keputusan atas dasar prinsip - prinsip umum. Adanya pendidikan, kursus - kursus dan program - program latihan formal menunjukan bahwa ada prinsip - prinsip manajemen tertentu yang dapat diandalkan. 2. Para profesional mendapat status mereka karena mencapai standar prestasi kerja tertentu, bukan karena favoritis politik atau sosial lainnya. 3. Para profesional harus ditentukan oleh suatu kode etik yang kuat, dengan disiplin untuk mereka yang menjadi kliennya Manajemen telah berkembang menjadi bidang yang semakin profesional melalui perkembangan yang menyolok, program-program latihan manajemen di universitas maupun diberbagai lembaga manajemen swasta, dan melalui pengembangan para eksekutif organisasi (perusahaan).
  • 7. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 6 BAB II MANAJEMEN dan MANAJER A. Tingkatan Manajemen 1. Top Manager Manajer eksekutif yang bertanggungjawab atas kinerja organisasi secara keseluruhan. Mereka yang merumuskan tujuan organisasi dan memonitor kerja middle manager. 2. Middle Manager Manajer yang bertanggungjawab atas penentuan tujuan sesuai dengan tujuan top manajemen, merencanakan dan menetapkan strategi sub unit untuk mencapai tujuan tersebut. Top Manajers (Presiden Direktur, Wakil Direktur, Kepala Perwakilan) Middle Managers (Kepala Departemen, Manajer Cabang, kepala Pengawas) First-Line Managers (Penyelia, Mandor) Non-Management (Tenaga penjualan, akuntansi, operasional)
  • 8. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 7 3. First Line Manager Manajer yang bertanggungjawab atas operasional organisasi. Manajer ini bertugas melatih dan mengawasi kinerja bawahan non manajerial dan secara langsung bertanggungjawab untuk menghasilkan produk atau jasa perusahaan 4. Non-Management Staff Mereka adalah staf yang bertanggungjawab atas pelaksanaan operasional sehari-hari organisasi; bekerja sesuai dengan keahlian masing-masing, misal; tenaga produksi, tenaga penjualan, dan tenaga akuntansi.
  • 9. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 8 B. Fungsi-Fungsi Manajer Fungsi-fungsi manajerial menurut Henry Fayol, yang menyatakan bahwa perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pemberi perintah dan pengawasan adalah fungsi-fungsi utama. Berikut beberapa pendapat para ahli tentang fungsi-fungsi manajemen: Hanry Fayol Luther Gullick George Terry Ernest Dale Planning Organizing Commanding Coordinating Planning Organizing Staffing Direccting Coordinating Reporting Controlling Planning Organizing Actuating Controlling Planning Organizing Staffing Directing Inovating Representing Controlling Koontz & O’donnel Oey Liang Lee William Newman James Stoner Planning Organizing Staffing Direccting Controlling Planning Organizing Staffing Direccting Controlling Planning Organizing Asembling Direccting Controlling Planning Organizing Leading Controlling Tabel Fungsi-fungsi Manajer menurut para ahli Dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa persamaan yang tercermin pada fungsi-fungsi planning, organizing, dan controlling. Sedangkan fungsi- fungsi lainnya merupakan cara penyebutan yang berbeda tetapi mengandung arti yang sama, di mana pada dasar- nya adalah fungsi staffing, directing atau leading.
  • 10. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 9 Bagan Fungsi Manajemen 1. Perencanaan (Planning) Perencanaan adalah proses yang dilakukan oleh manajer untuk memilih dan menetapkan tujuan-tujuan organisasi serta menentukan metode/cara terbaik untuk mencapainya. Pertanyaan yang harus dijawab dalam proses perencanaan:  Tujuan-tujuan apa yang ingin dicapai?  Bagaimana cara mencapai tujuan tersebut?  Bagaimana sumber daya akan dialokasikan? Perencanaan menentukan seberapa efektifitas dan efisiensi organisasi serta menentukan strategi organisasi tersebut. 2. Pengorganisasian (Organizing) Hal-hal yang dilakukan dalam pengorganisasian:  Penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi. Planning (Choose Goalas) Organizing (Working Together) Leading (Coordinate) Controling (Monitor and Measure)
  • 11. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 10  Pengelompokan seluruh personil ke dalam kelompok kerja/departemen sesuai tujuan organisasi.  Penugasan tanggung jawab tertentu  Pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu-individu untuk melaksanakan tugas-tugasnya. 3. Personalia (Staffing) Staffing meliputi perekrutan, pelatihan dan pengembangan, serta penempatan dan pemberian orientasi para karyawan dalam lingkungan kerja yang menguntungkan dan produktif, seperti: pembuatan sistem penggajian untuk pelaksanaan kerja yang efektif, penilaian karyawan, serta latihan dan pengembangan karyawan. 4. Pengarahan (Leading) Penyusunan Fungsi pengarahan ini sering juga disebut leading, directing, motivating, actuating. Manajer memberikan arahan yang jelas untuk diikuti bawahan dan membantu bawahan memahami peran yang harus mereka mainkan untuk mencapai tujuan organisasi. Fungsi ini melibatkan kualitas, gaya, dan kekuasaan pemimpin serta kegiatan-kegiatan kepemimpinan seperti komunikasi, motivasi dan disiplin. 5. Pengawasan (Controlling) Penemuan dan penerapan (cara dan peralatan) untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan.  Pengawasan Positif : mencoba untuk mengetahui apakah tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien dan efektif.  Pengawasan Negatif : mencoba untuk menjamin bahwa kegiatan yang tidak diinginkan atau tidak dibutuhkan tidak terjadi. Dalam pelaksanaan pengendalian dan pengawasan, pimpinan atau manajer perusahaan hendaknya melakukan hal-hal sebagai berikut:
  • 12. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 11 a) Menentukan sistem laporan b) Menentukan standar prestasi kerja c) Mengukur hasil pekerjaan d) Mengadakan koreksi e) Memberikan imbalan dan melakukan antisipasi terhadap penyimpangan. C. Kegiatan-kegiatan Manajer Dalam menjalanani peranannya sebagai pemimpin, manajer mempunyai beberapa tugas penting, yaitu: 1. Manajer bekerja dengan dan melaui orang lain, tidak hanya mencakup atasan dan bawahan, tetapi juga manajer lainnya dalam organisasi. 2. Manajer memadukan dan menyeimbangkan tujuan-tujuan yang saling bertentangan dan menetapkan prioritas-prioritas. 3. Manajer bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan. 4. Manajer harus berpikir analitis dan konseptual, merinci dan memisahkan masalah, menganalisa dan mencari penyelesaian yang layak dan akurat. 5. Manajer adalah seorang mediator (penengah) 6. Manajer adalah seorang politisi, mengembangkan hubungan baik untuk mendapatkan dukungan atas kegiatan, usulan, atau keputusan- keputusannya dengan efektif. 7. Manajer adalah seorang diplomat (wakil resmi organisasi dalam urusan pelanggan, pejabat pemerintah, atau organisasi lain). 8. Manajer mengambil keputusan-keputusan sulit, yang nantinya diharapkan dapat menemukan jalan keluar dari berbagai masalah sulit dan mengambil keputusan yang akurat.
  • 13. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 12 D. Penggunaan Waktu Manajer Sebagai pemegang peranan penting yang menjadikan maju mundurnya suatu perusahaan, seorang manajer harus pandai dalam berbagai bidang, dan yang terpenting adalah kemampuan mengelola waktu dengan baik . Jadi seorang manajer harus mempunyai cara – cara khusus untuk mengelola waktu agar suatu perusahaan yang mereka pimpin tetap bisa berkembang secara berkelanjutan. Menurut Prof. John W. Lee dari The Florida State University, seorang manajer dapat mengelola waktu dengan baik jika menjalankan 10 prinsip di bawah ini: 1. Prinsip Analisis Waktu. Analisis waktu adalah pra-syarat bagi pengelolaan waktu. Pembuatan catatan waktu harian dari kegiatan yang mencatat jarak waktu 15 sampai 30 menit, selama waktu tidak kurang dari dua minggu, adalah esensial sebagai dasar dari analisis. 2. Prinsip Perencanaan Harian. Rencana harian yang dirumuskan setelah jam kerja hari sebelumnya, atau di pagi hari sekali sebelum jam kerja dimulai; dan disesuaikan secara obyektif dengan kejadian yang hampir selesai; ini esensial untuk penggunaan efektif dari waktu pribadi. 3. Prinsip Menjadwalkan Menurut Prioritas. Waktu yang tersedia dalam hari kerja harus dijadwalkan untuk menyelesaikan item kerja yang mempunyai prioritas tertinggi. 4. Prinsip Keluwesan. Keluwesan atau fleksibilitas harus menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan rencana mengenai pemanfaatan waktu pribadi. Atau jika dikatakan dengan sederhana: janganlah menjadwalkan waktu lebih atau kurang! 5. Prinsip Pendelegasian. Pendelegasian dari semua item kerja konsisten dengan pembatasan pekerjaan manajer, penting untuk menyediakan waktu yang lebih diperlukan bagi pekerjaan manajerial.
  • 14. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 13 6. Prinsip Segmentasi Aktif. Item pekerjaan yang serupa sifatnya, yang memerlukan sumber dan keadaan lingkungan serupa untuk penyelesaiannya, harus dikelompokkan dalam pembagian hari kerja. 7. Prinsip Pengendalian Gangguan. Pengendalian dan / atau pengaturan kegiatan lain, yang mencukupi untuk meminimalkan banyak dan lamanya gangguan, sangat penting bagi pengelolaan waktu. 8. Prinsip Meminimalkan Pekerjaan Rutin. Item pekerjaan yang bersifat rutin dan tidak mengandung banyak nilai secara obyektif pada umumnya, harus diminimalkan 9. Prinsip Penerapan Rencana dan Tindak-Lanjut. Penerapan rencana harian dan tindak-lanjut harian, sangat penting bagi pengelolaan waktu. 10. Prinsip Analisis Berulang. Analisis penggunaan waktu harus diulang, paling tidak sekali setiap enam bulan, untuk mencegah kembali ke kebiasaan pengelolaan waktu yang buruk. E. Ketrampilan Manajerial Pada umumnya, untuk menjadi manaker yang efektif dibutuhkan ketrampilan- ketrampilan : 1. Ketampilan konseptual (Conceptual skill), adalah kemampuan untuk mengkoordinasikan seluruh kepentingan dan kegiatan organisasi. 2. Ketrampilan Kemanusiaan, yaitu kemampan untuk bekerja dengan memahami dan memotivasi orang lain baik sebagai individu ataupun kelompok. 3. Kemampuan administrasi, seluruh ketrampilan yang berkaitan dengan perencanaan, pengoranisasian, penyusun, kepegawaian, dan pengawasan mencakup pula kemampuan untuk mengikuti kebijaksanaan dan prosedur dengan anggaran terbatas. 4. Keterampilan teknik (technicial Skill), Kemampuan untuk menggunakan peralatan-peralatan, prsedur-prosedur/ teknik dari suatu bidang tertentu, seperti akuntansi, produksi, penjualan/permesinan.
  • 15. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 14 Setiap ketrampilan harus dimiliki oleh setiap manajer, hanya untuk tingkatan manajemen yang berbeda akan berbeda proporsi masing-masing kebutuhan. Tabel Fungsi-fungsi Manajer menurut para ahli Tabel Fungsi-fungsi Manajer menurut para ahli Grafik ketrampilan manajerial
  • 16. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 15 BAB III PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN A. Teori Manajemen Klasik Secara keilmuan, manajemen baru terumuskan kurang lebih di abad 18 atau awal abad 19 Masehi. Diantara tokoh-tokoh yang mula-mula memperkenalkan manajemen secara keilmuan adalah: 1) Robert Owen (1771 - 1858)  Owen adalah seorang pembaru dan indrustrialisasi dari Inggris, tokoh pertama yang menyatakan perlunya sumber daya manusia di dalam organisasi dan kesejahteraan pekerja  berkesimpulan bahwa manajer harus menjadi pembaharu (reformer).  peranan pekerja merupakan aset perusahaan. Pekerja bukan saja merupakan input, tetapi merupakan sumber daya perusahaan yang signifikanberpendapat dengan memperbaiki kondisi kerja atau invertasi pada sumber daya manusia, perusahaan dapat meningkatkan output dan juga keuntungan.  memperkenalkan sistem penilaian terbuka dan dilakukan setiap hari agar manajer diharapkan bisa melokalisir masalah yang ada dengan cepat. 2) Charles Babbage (1792 - 1871)  seorang ahli matematika dari Inggris orang yang pertama kali berbicara mengenai pentingnya efisiensi dalam proses produksi.  Menganjurkan untuk mengadakan pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian pekerjaan. Sehingga setiap pekerja dapat dididik dalam suatu keterampilan khusus. Setiap pekerja hanya dituntut tanggungjawab khusus sesuai dengan spesialisasinya. Dengan metode kuantitatifnya beliau percaya :
  • 17. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 16 a) Bahwa prinsip-prinsip ilmiah dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, produksi naik biaya operasi turun. b) Pembagian Kerja (division of labor); dengan ini kerja/operasi pabriknya bisa dianalisis secara terpisah. Dengan cara semacam ini pula training bisa dilakukan dengan lebih mudah. c) Dengan melakukan pekerjaan yang sama secara berulang-ulang, maka pekerja akan semakin terampil dan berarti semakin efisien. B. Teori Manajemen Ilmiah 1) Frederick W. Taylor (1856-1915) Merupakan titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah hasil penelitian tentang studi waktu kerja (time & motion studies).  Taylor memfokuskan perhatiannya pada studi waktu untuk setiap pekerjaan (time and motion study); dari sini ia mengembangkan analisis kerja. Taylor kemudian memperkenalkan sistem pembayaran differential (differential rate). Manajemen Taylor didasarkan pada langkah atau prinsip sebagai berikut : a) Mengambangkan Ilmu untuk setiap elemen pekerjaan, untuk menggantikan pikiran yang didasari tanpa ilmu. b) Mamilih karyawan secara ilmiah, dan melatih mereka untuk melakukan pekerjaan seperti yang ditentukan pada langkah I c) Mengawasi karyawan secara ilmiah, untuk memastikan mereka mengikuti metode yang telah ditentukan d) Kerjasama antara manajemen dengan pekerja ditingkatkan. Persahabatan antara keduanya juga ditingkatkan 2) Hennry L. Gantt (1861 - 1919)
  • 18. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 17  Gantt melakukan perbaikan metode sistem penggajian Taylor (differential system) karena menurutnya metode tersebut kurang memotivasi kerja.  Sistem Pengawasan (supervisor) diterapkannya sebagai upaya untuk memacu semangat kerja karyawan  memperkenalkan sistem penilaian terbuka yang awalnya merupakan ide Owen.  Gantt chart (bagan Gantt) kemudian populer dan gigunakan untuk perencanaan, yaitu mencatat scedul (jadwal) pekerja tertentu. 3) Frank B dan Lillian M. Gilbreth (1868 - 1924 dan 1878 - 1972) Keduanya adalah suami istri yang mempunyai minat yang sama terhadap manajemen. Menurut Frank pergerakan yang dapat dihilangkan akan mengurangi kelelahan. Semangat kerja akan naik karena bermanfaat secara fisik pada karyawan. Sedang Lilian memberikan kontribusi pada lapangan psikologi industri dan manajemen personalia. Beliau percaya bahwa tujuan akhir manajemen ilmiah adalah membantu pekerja mencapai potensi penuhnya sebagai seorang manusia Keduanya mengembangkan rencana promosi tiga tahap, yaitu :  Menyiapkan Promosi  Malatih Calon Pengganti  Melakukan Pekerjaan Menurut metode tersebut, seorang pekerja akan bekerja seperti biasa, sambil menyiapkan promosi karir, dan melatih calon penggantinya. Dengan demikian pekerja akan menjadi pelaksana, pelajar yaitu menyiapkan karir yang lebih tinggi, dan pengajar dalam arti mengajari calon pengganti. Sumbangan Manajemen Ilmiah  Teknik-teknik efisiensi menyebabkan kegiatan dapat dilaksanakan lebih efisien
  • 19. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 18  Seleksi dan pengembangan ilmiah karyawan menimbulkan kesadaran pentingnya kemampuan dan latihan untuk meningkatkan efektivitas karyawan.  Desain kerja mendorong manajer mencari “cara terbaik” pelaksanaan tugas. Keterbatasan:  Kenaikan produktivitas sering tidak diiringi kenaikan pendapatan.  Perilaku manusia bermacam-macam menjadi hambatan.  Pendekatan rasional hanya memuaskan kebutuhan ekonomis dan fisik, tidak memuaskan kebutuhan sosial karyawan.  Manajemen ilmiah mengabaikan keinginan manusia terhadap kepuasan kerja. C. Teori Organisasi Klasik 1) Henry Fayol (1841-1925)  Teori Administrasi, dengan Fungsionalisme Fayol: manajemen terdiri dari 5 unsur, yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian dan pengawasan.  Kegiatan operasional perusahaan terdiri atas: teknik, komersal, keuangan, keaamanan, akuntansi, dan manajerial. 2) James D. Mooney  Organisasi sebagai sekelompok, dua orang atau lebih, orang yang bergabung untuk mencapai tujuan tertentu.  Empat kaidah dasar merancang organisasi: prinsip saklar, prinsip fungsional, dan prinsip staff. 3) Mary Porker Follet (1868-1933)  Melakukan aplikasi praktik ilmu-ilmu sosial dalam administrasi perusahaan.
  • 20. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 19  Konflik dapat dibuat konstruktif dengan menggunakan proses integrasi.  Organisasi ideal dengan koordinasi melalui komunikasi yang terkendali. 4) Chaster I. Barnad (1886-1961)  Fungsi utama manajemen adalah perumusan tujuan dan pengadaan sumner daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.  Menekankan pentingnya peralatan komunikasi untuk pencapaian tujuan kelompok. Follet dan Branard bertindak sebagai “jembatan” antara teori klasik dan hubungan manusiawi. D. Teori Hubungan Manusiawi (Neo Klasik) Aliran hubungan manusiawi (neo klasik) muncul karena ketidakpuasan bahwa pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja. 1) Huga Munsterberg (1863-1916)  Disebut sebagai Bapak Psikologi Industri. Menyarankan penggunaan teknik dari psikologi eksperimen.  Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui: penemuan best possible person, penciptaan best possible work, dan penggunaan best possible effect untuk memotivasi karyawan. 2) Elton mayo (1880=1949)  Bersama Fritz J. Roethlisberger dan William J. Dickson menemukan Hawthorne Effect  Penemuan lainnya adalah pengaruh kelompok kerja informal terhadap produktivitas dan konsep “makhluk sosial” menggantikan konsep “makhluk rasional”. Sumbangan Pendekatan Hubungan Manusiawi:
  • 21. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 20  Penekanan kebutuhan sosial dalam aliran hubungan manusiawi melengkapi pendekatan klasik sebagai usaha meningkatkan produktivitas.  Mengilhami pembahasan selanjutnya tentang motivasi manusia. Keterbatasan:  Konsep “makhluk sosial” tidak menggambarkan secara lengkap individu- individu dalam tempatnya bekerja.  Perbaikan kondisi kerja dan kepuasan karyawan tidak menghasilkan peningkatan produksi yang dramatik seperti yang diharapkan.  Lingkungan sosial tempat kerja hanya merupakan salah satu faktor; produktivitas dan kepuasan kerja menjadi semakin kompleks. E. Perilaku Organisasi Merupakan pengembangan dari aliran hubungan manusiawi. Prinsip-prinsip dasar perilaku organisasi yang dapat di simpulkan dari pendapat para tokoh manajemen modern adalah sebagai berikut:  Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketat (peranan, prosedur, prinsip)  Manajemen harus sistematik, dan pendekatan yang digunakan harus dengan pertimbangan secara hati-hati  Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi  Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen kekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan. Sebagai tambahan beberapa gagasan yang lebih khusus dari berbagai riset perilaku adalah:  Unsur manusia adalah faktor kunci penentu sukses atau kegagalan pencapaian tujuan organisasi
  • 22. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 21  Manajer masa kini harus diberi latihan dalam pemahaman prinsip- prinsip dan konsep-konsep manajemen.  Organisasi harus menyediakan iklim yang mendatangkan kesempatan bagi karyawan untuk memuaskan seluruh kebutuhan mereka  Komitmen dapat dikembangkan melalui partisipasi dan keterlibatan para karyawan.  Pekerjaan setiap karyawan harus disusun yang memungkinkan mereka mencapai kepuasan diri dari pekerjaan tersebut.  Pola-pola pengawasan dan manajemen pengawasan harus dibangun atas dasar pengertian positif yang menyeluruh mengenai karyawan dan reaksi mereka terhadap pekerjaan. Tokoh-tokoh Perilaku Organisasi antara lain:  Abraham Maslow : Hierarki kebutuhan manusia  Douglas McGregor : Teori X dan Y  Frederick Herzberg : Teori motivasi-higienis/teori dua factor  Chris Argyris : Teori Kepribadian dan Organisasi  Robert Black : Kisi-kisi Manajerial  Rensis Likert : Sistem Manajemen (Autoritatif Partisipatif)  Fred Fiedler : Pendekatan Kontijensi Kepemimpinan  Edgar Scein : Dinamika kelompok dalam organisasi F. Pendekatan Kontigensi 1) Mencoba menerapkan konsep dari berbagai aliran manajemen. 2) Tugas manajer adalah mengidentifikasikan teknik mana, pada situasi tertentu, di bawah keadaan tertentu dan pada waktu tertentu akan membantu pencapaian tujuan manajemen. 3) Perbedaan kondisi dan situasi membutuhkan aplikasi teknik manajemen yang berbeda karena 4) tidak ada teknik, prinsip dan konsep universal yang dapat diterapkan di seluruh kondisi.
  • 23. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 22 BAB IV MANAJER DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL ORGANISASI A. Faktor-Faktor Lingkungan Eksternal Para manajer seharusnya tidak hanya memusatkan perhatiannya pada lingkungan internal organisasi, tetapi juga menyadari pentingnya pengaruh lingkungan eksternal terhadap organisasi yang dikelolanya. Manajer harus mempertimbangkan unsur-unsur dan kekuatan-kekuatan lingkungan eksternal dalam setiap kegiatannya. Manajer harus mengidentifikasi, menganalisa, mengevaluasi, mendiagnosa dan bereaksi terhadap kekuatan-kekuatan lingkungan, baik berupa kesempatan-kesempatan, risiko-risiko, maupun ancaman-ancaman, yang mempunyai pengaruh pada operasi organisasi (perusahaan). Manajemen dituntut untuk selalu bersikap tanggap dan adaptif, selalu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Manajer perlu menentukan cara atau pendekatan yang akan memungkinkannya menjaga dan mengembangkan organisasi dalam lingkungan yang selalu berubah. Dengan pendekatan system dan contingency, akan dibahas factor-faktor lingkungan esternal yang berpengaruh dan dipengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung terhadap / oleh operasi-operasi organisasi, dan tanggung jawab sosial manajer. Lingkungan eksternal terdiri atas unsur-unsur diluar organisasi, yang sebagian besar tidak dapat dikendalikan dan berpengaruh dalam pembuatan keputusan oleh manajer. Organisasi mendapatkan masukan-masukan (input) yang dibutuhkan, seperti : bahan baku, dana tenaga kerja dan energi dari lingkungan eksternal,
  • 24. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 23 menstranformasikan menjadi produk dan jasa, dan kemudian menghasilkan keluaran-keluaran (output) kepada lingkungan eksternal. Unsur-unsur Lingkungan Eksternal : 1) Berpengaruh langsung (lingkungan eksternal mikro), terdiri dari; para pesaing (competitors), pemasok / penyedia (suppliers), pelanggan (customers), lembaga-lembaga keuangan (financial intitutions), pasar tenaga kerja (labour supply), dan perwakilan-perwakilan pemerintah (government councils) 2) Berpengaruh tidak langsung (lingkungan eksternal makro), mencakup; teknologi (technology), ekonomi (economy), politik (politic) dan sosial (social), yang mempengaruhi iklim dimana organisasi beroperasi dan mempunyai potensi menjadi kekuatan-kekuatan sebagai lingkungan eksternal mikro. B. Lingkungan Eksternal Mikro Lingkungan eksternal mikro penting diperhatikan, walaupun tingkat pengaruhnya berbeda.  Para pesaing: Lingkungan persaingan perusahaan tercermin dari tipe, jumlah dan norma-norma perilaku organisasi-organisasi pesaing. Dengan pemahaman akan lingkungan persaingan yang dihadapi, organisasi dapat mengetahui posisi persaingannya, sehingga lebih mampu mengoptimalkan operasi-operasinya. Misalnya: untuk meningkatkan bagian pasarnya (market share), dimana produk dan harga sama dengan pesaing, perusahaan harus menciptakan perbedaan-perbedaan (differences), dalam pembungkusan (packaging), pelayanan (services), atau promosi (promotion). Pemahaman arena, sifat persaingan (competitors), serta kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) para pesaing, memungkinkan perusahaan dapat mempergunakan kekuatan bersaingnya lebih efektif dan efisien.
  • 25. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 24  Pelanggan : Strategi, kebijakan dan taktik-taktik pemasaran perusahaan sangat tergantung situasi pasar dan pelanggan. Biasanya manajer pemasaran menganalisa profil pelanggan sekarang dan potensial serta kondisi pasar dan mengarahkan kegiatan-kegiatan pemasaran perusahaan berdasarkan hasil analisa tersebut.  Pasar tenaga kerja : Organisasi memerlukan sejumlah karyawan (personalia) dengan bermacam-macam ketrampilan, kemampuan dan pengalaman, sehingga perlu menggunakan banyak saluran untuk menarik dan mendapatkan karyawan-karyawan tersebut. Tiga faktor yang paling berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan karyawan perusahaan, yaitu : 1) reputasi perusahaan di mata angkatan kerja, 2) tingkat pertumbuhan angkatan kerja, 3) tersedianya tenaga kerja sesuai kebutuhan.  Lembaga-lembaga keuangan : organisasi tergantung pada bermacam- macam lembaga keuangan, seperti perbankan, perusahaan asuransi, termasuk pasar modal, untuk menjaga dan memperluas kegiatan- kegiatannya, jangka pendek untuk membiayai opearasionalnya, jangka panjang untuk membangun fasilitas baru dan membeli peralatan baru (investasi).  Para pemasok: setiap organisasi sangat tergantung pada sumber-sumber dari sumberdaya-sumberdayanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku (mentah), bahan pembantu, pelayanan, energi dan peralatan, yang digunakan untuk berproduksi.  Perwakilan-perwakilan pemerintah : hubungan organisasi dengan perwakilan-perwakilan pemerintah berkembang semakin kompleks. Mereka biasanya menetapkan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi organisasi dalam operasinya, prosedur prosedur perijinan, dan pembatasan-pembatasan lainnya untuk melindungi masyarakat.
  • 26. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 25 C. Lingkungan Eksternal Makro Lingkungan eksternal makro mempengaruhi organisasi dengan dua cara : 1) Kekuatan-kekuatan di luar tersebut mempengaruhi organisasi secara langsung atau tidak langsung melalui satu atau lebih unsur-unsur lingkungan eksternal mikro. 2) Unsur-unsur lingkungan makro menciptakan iklim, misalnya teknologi tinggi, keadaan perekonomian cerah atau lesu dan perubahan- perubahan sosial, dimana organisasi ada dan harus memberikan tanggapan. Lingkungan Eksternal makro meliputi :  Perkembangan teknologi : dalam setiap masyarakat atau industri, tingkat kemajuan teknologi memainkan peranan berarti pada penentuan produk dan jasa yang akan diproduksi, peralatan yang akan digunakan, dan cara bermacam-macam operasi akan dikelola. Inovasi teknologi dapat juga menimbulkan persaingan baru dalam industri- industri yang berbeda, misalnya; pengembangan produksi jam digital elektronik telah menimbulkan persaingan baru bagi perusahaan- perusahan jam mekanik tradisional, kemajuan industri mesin foto kopi menimbulkan kesukaran-kesukaran bagi perusahaan kertas karbon.  Variabel-variabel Ekonomi : para manajer akan selalu terlibat dengan masalah-masalah biaya sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan organisasi, yang selalu berubah-ubah karena pengaruh faktor-faktor ekonomi, seperti ; kecenderungan inflasi dan deflasi harga barang-barang dan jasa-jasa, kebijakan moneter, devaluasi atau revaluasi, tingkat bunga, kebijakan fiskal, keseimbangan neraca pembayaran,harga yang ditetapkan oleh para pesaing dan pemasok.  Lingkungan sosial budaya : merupakan pedoman hidup yang menentukan bagaimana hampir serluruh organisasi dan manajer akan beroperasi. Lingkungan ini mencakup ; agama dan
  • 27. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 26 kepercayaan, nilai-nilai, sikap, pandangan dan pola kehidupan yang dibentuk oleh tradisi, pendidikan, kelompok ethnis, ekologi, demografis,geografis.  Variabel-variabel Politik dan Hukum : dalam suatu periode tertentu akan menentukan operasi perusahaan. Manajer tidak mungkin mengabaikan iklim politik, peraturan-peraturan pemerintah maupun konsekuensi-konsekuensi atau dampaknya terhadap pemerintah dalam pembuatan keputusan, contohnya, kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang: perdagangan, undang-undang perpajakan, upah minimum, undang-undang hak patent, undang-undang perlindungan konsumen, pemasok dan pesaing.  Dimensi Internasional : komponen internasional dalam lingkungan eksternal juga menyajikan kesempatan-kesempatan dan tantangan- tantangan, serta mempunyai potensi menjadi factor yang berpengaruh langsung pada operasi perusahaan. Kekuatan-kekuatan internasional ini berpengaruh melalui ; perkembangan politik dunia, ketergantungan ekonomi, penularan nilai-nilai dan sikap hidup, serta transfer teknologi. D. Organisasi dan Lingkungan Lingkungan eksternal mempengaruhi manajer-manajer bervariasi menurut tipe dan tujuan organisasi. Hal ini berbeda di antara posisi-posisi dan fungsi- fungsi dalam suatu organisasi dan bahkan antara tingkatan-tingkatan hirarki di dalam organisasi. Karena mempunyai kekuasaan yang lebih besar dan pandangan yang lebih luas, para manajer di tingkat atas dalam organisasi memikul tanggung jawab lebih besar untuk pengelolaan hubungan dengan lingkungan eksternal dibanding para manajer tingkatan bawah. Manajer dan organisasi memberikan tanggapan terhadap lingkungan eksternal, melalui :
  • 28. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 27  Usaha mempengaruhi lingkungan eksternal mikro manajer harus memusatkan usaha-usahanya pada aspek-aspek kunci lingkungan bagi tujuan organisasi. Bila mereka memperlakukan setiap komponen secara sama, mereka akan menghabiskan waktu dan energi dengan cara-cara yang tidak produktif. Tetapi melalui pemusatan pada variable-variabel kunci, manajer dapat mencapai sasarannya untuk mempengaruhi lingkungan, misalnya mempengaruhi lingkungan mikro, yaitu pelanggan melalui iklan.  Peramalan (forecasting) dan lingkungan eksternal makro kelangsungan operasi perusahaan sering sangat tergantung pada antisipasi dan adaptasi terhadap perkembangan lingkungan eksternal makro. Kecenderungan perkembangan lingkungan ini hendaknya dimonitor secara terus menerus, agar manajer mampu mengembangkan kedudukan yang kuat dalam menghadapi lingkungan tersebut. Penggunaan teknik-teknik peramalan, seperti ; analisa statistik, model- model ekonometrika, simulasi, delphi, dan sebagainya, memungkinkan manajer dapat mengantisipasi perubahan-perubahan dalam peraturan-peraturan pemerintah, sikap masyarakat, biaya-biaya pengadaan bahan, tersedianya bahan mentah, kegiatan-kegiatan pesaing, dan lain-lain sehingga dapat mempersiapkan sejumlah kegiatan-kegiatan di waktu yang akan datang (Sukanto Reksohadiprodjo, “Business Forecasting”).  Perencanaan, perancangan organisasi dan lingkungan cara paling penting bagi manajer untuk menyesuaikan dengan lingkungan eksternal adalah melalui pengembangan dan implementasi rencana- rencana bagi organisasinya. Rencana-rencana ini mungkin sederhana, jangka pendek dan terbatas ruang lingkupnya, atau mungkin rumit, jangka panjang, dan ruang lingkupnya luas. Rencana-rencana mewujudkan konsep dasar organisasi dan strategi-strategi akan
  • 29. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 28 mengikutinya untuk mencapai tujuan. Rencana-rencana strategik ini tidak hanya menjadi pedoman adaptasi organisasi terhadap lingkungan eksternal mikro dan makro, tetapi juga menuntut usaha-usaha organisasi untuk mempengaruhi perilaku-perilaku factor-faktor dalam lingkungan eskternal mikro. Suatu tipe khusus penyesuaian manajerial terhadap lingkungan, mencakup perubahan-perubahan dalam struktur formal organisasi, aliran kerja, pola wewenang, hubungan-hubungan pelaporan diantara manajer dan sebagainya. Bentuk penyesuaian ini sering disebut perancangan organisasi (organizational design). E. Tanggung Jawab Sosial Manajer Tanggung jawab sosial, berarti bahwa manajemen mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi di dalam pembuatan keputusan. Tanggung jawab sosial perusahaan ini merupakan salah satu tugas yang harus dilakukan oleh para manajer organisasi perusahaan, karena aspek ini merupakan syarat utama bagi berhasilnya perusahaan, terutama untuk jangka panjang. Dengan demikian manajer dituntut untuk mengimplementasikan “etika berusaha” (the ethics of managers), terutama dalam hubungannya dengan pelanggan, karyawan, penemu teknologi, lembaga pendidikan, perusahaan lain, para pemasok, pemegang saham, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya (Harol Koontz, Cyril O’Donnell, dan Heinz Weihrich, “Management”). Ada lima factor yang mempengaruhi keputusan-keputusan pada masalah etika, yaitu : 1) hukum, 2) peraturan-peraturan pemerintah 3) kode etik industri dan perusahaan, 4) tekanan-tekanan sosial, 5) tegangan antara standar perorangan dan kebutuhan organisasi.
  • 30. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 29 Para manajer semakin dituntut untuk mengikuti atau mentaati hukum dan standar-standar etika masyarakat. Pada saat yang sama, perhatian manajer harus dipusatkan pada pemberian tanggapan-tanggapan organisasi pada masalah-masalah sosial. Hal ini mempunyai dua konsekuensi utama :  Banyak organisasi sekarang mengesampingkan tujuan utamanya maksimalisasi keuntungan, dan mengalihkan ke pemenuhan kebutuhan- kebutuhan masyarakat dengan perolehan keuntungan secukupnya,  Pencapaian hasil-hasil yang lebih baik dalam pelaksanaan fungsi tanggung jawab sosial perusahaan menjadi semacam peralatan untuk membantu sukses organisasi. Cara para manajer memelihara penanganan masalah-masalah sosial akan mencerminkan etika pribadinya, kebijakan-kebijakan organisasi, dan nilai- nilai sosial perusahaan pada periode waktu tertentu.
  • 31. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 30 BAB V PERENCANAAN A. Pengertian Perencanaan Menurut George R. Terry, perencanaan adalah kegiatan memilih dan menghubungkan fakta serta membuat dan menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa yang akan datang dengan jualan dan merumuskan kegiatan- kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Perencanaan yaitu fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan pemilihan dari sekumpulan kegiatan-kegiatan dan pemutusan tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan serta programprogram yang dilakukan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan berjalan. Unsur perencanaan yaitu : • Rasional : dibuat dengan pemikiran yang rasional; tidak secara khayalan/angan-angan; harus dapat dilaksanakan • Estimasi : dibuat berdasarkan analisa fakta dan perkiraan yang mendekati/estimate; untuk pelaksanaan yang akan segera dikerjakan • Preparasi : dibuat sebagai persiapan/pre-parasi; pedoman/patokan tindakan yang akan dilakukan/bukan untuk yang telah lalu • Operasional : dibuat untuk dilaksanakan; untuk keperluan tindakan- tindakan kemudian dan seterusnya; bukan yang telah lalu B. Tahap – Tahap Dasar Menurut T. Hani Handoko (1999) kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap sebagai berikut :
  • 32. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 31 1) Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan 2) Merumuskan keadaan saat ini 3) Mengidentifikasikan segala kemudhan dan hambatan 4) Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan C. Hubungan Perencanaan dengan Fungsi Lain Perencanaan adalah fungsi yang paling dasar dari fungsi manajemen lainnya. Fungsi perencanaan dan fungsi-fungsi serta kegiatan manajerial lainnya adalah saling berhubungan saling tergantung dan berinteraksi.  Pengoranisasian (organizing) adalah perencanaan untuk menunjukkan car dan perkiraan bagaimana mengoranisasikan sumber daya-sumber daya orgnisasi untuk mencapai efektivitas paling tinggi.  Pengarahan (directing) adalah perencanaan untuk menentukan kombinasi paling baik dari sumber daya-sumber daya yang diperlukan untuk mengarahkan, mempengaruhi dan memotivasi karyawan.  Pengawasan (controlling) adalah perencanaan dan pengawasan yang saling berhubungan erat. Pengawasan bertindak sebagai kriteria penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana. D. Tipe Perencanaan dan Rencana Tipe utama perencanaan adalah: 1. Perencanaan Strategik Suatu proses perencanaan jangka panjang (lebih dari 5 tahun) yang disusun untuk mencapai tujuan organisasi 2. Perencanaan Operasional Rencana yang memberikan rincian tentang bagaimana rencana –rencana strategik akan dicapai
  • 33. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 32 Perencanaan Operasional Perancanaan Strategis Pusat Bahasan Masalah-masalah pengoperasian Kelangsungan dan pengembangan jangka panjang Sasaran Laba Sekarang Laba di waktu yang akan datang Batasan Lingkungan SD sekarang Lingkungan SD waktu yang akan datang Hasil yang diperoleh Efisiensi dan Stabilitas Pengembangan potensi mendatang Informasi Dunia bisnis sekarang Kesempatan di waktu yang akan datang Organisasi Kepemimpinan Birokrasi/stabil konservatif Kewiraswastaan/fleksibel mengilhami perubahan radikal Pemecah masalah Berdasarkan pengalaman masa lalu Antisipasi, menemukan pendekatan-pendekatan baru Resiko Rendah Tinggi Tabel Perbedaan Peranan Strategik dan Operasional Tipe perencanaan menurut George R. Terry 1. Objective (Sasaran) Sasaran yang mempertimbangkan aktivitas-aktivitas masa mendatang, tinjauan ke masa depan, menentukan proyeksi, dan bagian integral dari aktivitas perencanaan secara keseluruhan. 2. Policy (Kebijaksanaan)
  • 34. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 33 Pernyataan atau pemahaman umum yang membantu mengarahkan pengambilan keputusan (khususnya cara berpikirnya) 3. Procedure (Prosedur) Suatu kumpulan tugas-tugas yang berhubungan satu sama lain, yang merupakan bagian dari urutan kronologis dan cara yang ditetapkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. 4. Method (Metode) Suatu cara yang ditetapkan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu, dengan cukup memperhatikan sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia, dan pengeluaran total berupa waktu, uang, serta usaha. 5. Standard Suatu kesatuan pengukuran yang ditetapkan sebagai suatu patokan atau tingkat referensi. 6. Budget (anggaran) Sebuah rencana untuk pendapatan, atau pengeluaran, ataupun untuk keduanya, yang menyangkut uang, personil, barang-barang yang dibeli, barang-barang penjualan, ataupun entitas lain mengenai penetapan tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang yang akan membantu usaha-usaha manajerialnya. 7. Program Jaringan kompleks yang terdiri dari tujuan, kebijakan, prosedur, aturan, penugasan, langkah yang harus dilakukan, alokasi sumber daya, dan elemen lainnya, berdasarkan alternatif tindakan yang dipilih. 8. Techno factor (factor teknis) Suatu rencana berhubungan dengan adanya faktor-faktor teknis, seperti waktu, biaya, atau arus bahan. E. Perencanaan yang Baik 1. Mengetahui sifat/ciri/prinsip rencana yang baik, sebagai berikut:  Mempermudah tercapainya tujuan,
  • 35. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 34  Dibuat oleh orang yang memahami tujuan organisasi,  Dibuat oleh orang yang mendalami teknik perencanaan,  Disertai perincian yang teliti,  Tidak boleh lepas dari pemikiran pelaksanaan,  Bersifat sederhana,  Luwes,  Dalam perencanaan terdapat tempat pengambilan resiko,  Bersifat praktis/pragmatis,  Merupakan forcasting. 2. Memandang proses perencanaan sebagai suatu rangkaian pertanyaan yang harus dijawab, sebagai berikut:  What (apa)= tujuan (tindakan apa yang perlu dilakukan)  When (kapan)= waktu (kapan hal tersebut perlu dilakukan)  How (bagaimana)= cara mengerjakannya (bagaimana cara melakukan pekerjaan tersebut)  Who (siapa)= tenaga kerja (siapa yang melakukan pekerjaan tersebut)  Where (dimana)= tempat (dimana pekerjaan itu harus dilakukan)  Why (mengapa)= keperluannya (mengapa pekerjaan itu harus dilakukan). F. Hambatan dalam Membuat Perencanaan 1. Kurang pengetahuan tentang organisasi 2. Kurang pengetahuan tentang lingkungan 3. Ketidakmampuan melakukan peramalan secara efektif 4. Kesulitan perencanaan operasi-operasi yang tidak berulang 5. Biaya 6. Takut gagal 7. Kurang percaya diri 8. Ketidaksediaan untuk menyingkirkan tujuan-tujuan alternatif.
  • 36. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 35 G. Cara Mengatasi Hambatan dalam Membuat Perencanaan 1. Melibatkan para pegawai, terutama mereka yang terkena pengaruh dalam proses perencanaan. 2. Memberikan banyak informasi kepada para pegawai tentang rencana dan kemungkinan akibat-akibatnya sehingga mereka memahami perlunya perubahan, manfaat yang diharapkan dan apa yang diperlukan untuk pelaksanaan yang efektif. 3. Mengembangkan suatu pola perencanaan dan penetapan yang efektif, suatu “track record” yang berhasil mendorong kepercayaan kepada para pembuat rencana serta menyebabkan rencana baru tersebut diterima. 4. Menyadari dampak dari perubahan-perubahan yang diusulkan terhadap para anggota organisasi dan memperkecil gangguan yang tidak perlu. BAB VI ORGANISASI A. Penetapan Tujuan Organisasi dan Pembuatan Keputusan Visi, Misi, dan Tujuan Organisasi Sebelum organisasi menentukan tujuan-tujuan, terlebih dahulu harus menetapkan misi atau maksud organisasi.  Misi adalah suatu pernyataan umum dan abadi tentang maksudorganisasi. Misi suatu organisasi adalah maksud khas (unik) dan mendasar yangmembedakan organisasi dari organisasi-organisasi lainnya dan mengindentifikasikan ruanglingkup operasi dalam hal produk dan pasar.
  • 37. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 36 Misi merupakan perwujudan dasar filsafat para pembuat keputusan strategik perusahaan, mencerminkan konsep diri perusahaan, serta menunjukan bidang-bidang produk atau jasa pokok dan kebutuhan- kebutuhan langgananutama yang akan dipuaskan perusahaan.  Tujuan organisasi ialah suatu pernyataan tentang keadaan yang diinginkan di manaorganisasi bermaksud untuk merealisasikan dan sebagai pernyataan tentang keadaan diwaktu yang akan datang di mana organisasi sebagai kolektifitas mencoba untukmenimbulkannya. Tujuan organisasi merupakan pernyataan tentang keadaan atau situasiyang tidak terdapat sekarang tetapi dimaksudkan untuk dicapai di waktu yang akan datangmelalui kegiatan-kegiatan organisasi. Tipe-tipe Tujuan Organisasi: 1. Tujuan kemasyarakatan (Societal goals) 2. Tujuan keluaran (Output goals) 3. Tujuan sistem (Sistem goals) 4. Tujuan produk (Product goals) 5. Tujuan turunan (Derived goals) Bidang-bidang Tujuan Peter Drucker, selama bekerja sebagai konsultan untuk GE, mengidentifikasikan secaraterperinci 8 bidang pokok dimana perusahaan harus menetapkan tujuan. Bidang-bidang itu adalah : 1. Posisi pasar. Perusahaan harus menetapkan tujuan mengenai bagian pasar yang akan “direbut”. 2. Produktifitas. Adalah rasio antara masukan dengan keluaran organisasi. 3. Sumber daya phisik dan keuangan. 4. Profitabilitas. Tujuan-tujuan laba penting untuk mencapai tujuan- tujuan lain.
  • 38. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 37 5. Inovasi. Ada kebutuhan terus menerus akan produk atau jasa baru dan inovatif. 6. Prestasi dan pengembangan manajer. Kelangsungan hidup banyak organisasi tergantung pada kekuatan manajemen yang inovatif. 7. Prestasi dan sikap karyawan. Karyawan operatif melaksanakan sebagian besarpekerjaan normal dan rutin di setiap organisasi. 8. Tanggung jawab sosial dan publik. Tujuan-tujuan ini ditetapkan perusahaan untuk “menangani” boikot publik, kegiatan-kegiatan hukum, kegiatan-kegiatanpemerintah, kelompok-kelompok berkepentingan, dan sebagainya. B. Management By Objectives (MBO) Management By Objectives atau MBO pertama kali diperkenalkan oleh Peter Drucker dalam bukunya The Practice of Management pada tahun 1954. Prosesnya juga berjalan dengan nama-nama lain, termasuk “manajemen berdasarkan sasaran”, “manajemen berdasarkan hasil”, atau “management by results”, “goals management”, “work planning and review”,“goals and controls”, “joint target setting”, dan sebagainya. Walaupun menggunakan nama-nama yang berbeda prosesnya adalah sama. MBO telah berkembang sangat terkenal,terutama dalam-organisasi-organisasi besar. Pada hakekatnya MBO menekankanpentingnya peranan tujuan dalam perencanaan efektif. 1. Sistem MBO Berikut ini akan diuraikan unsur-unsur umum yang selalu ada dalam berbagai sistem MBO yang efektif : 1) Komitmen pada program 2) Penetapan tujuan manajemen puncak 3) Tujuan-tujuan perseorangan 4) Partisipasi
  • 39. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 38 5) Otonomi dalam implementasi rencana 6) Peninjauan kembali prestasi. 2. Kekuatan dan Kelemahan MBO Dalam suatu survey terhadap para manajer, Tosi dan Carroll mengemukakan kebaikan-kebaikan berbagai program MBO, yang dapat diperinci sebagai berikut : Kekuatan Kelemahan  Meningkatkan koordinasi antara tujuan & rencana  Memperjelas prioritas & ekspektasi  Memungkinkan komunikasi horizontal & vertikal  Meningkatkan motivasi karyawan  Dapat menjalankan pengawasan yg lebih efektif  Cenderung gagal jika tidak ada komitmen yg kontinu dari manajemen puncak  Terlalu menekankan pada tujuan jangka pendek  Memerlukan bayak waktu & usaha dalam implementasinya  Tidak cocok untuk manajer yg otoriter & mereka yg menerapkan birokrasi secara ketat Tabel Kekuatan dan Kelemahan MBO C. Proses Pembuatan Keputusan Pembuatan keputusan adalah bagian kunci kegiatan manajer. Kegiatan ini memainkan peranan penting, terutama bila manajer melaksanakan fungsi perencanaan. Pembuatan keputusan (decision making) menggambarkan
  • 40. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 39 proses melalui mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu. Secara teoritis, ada empat metode pengambilan keputusan yaitu: 1) Kewenangan Tanpa Diskusi  Sering digunakan oleh para pemimpin otokratik atau dalam kepemimpinan militer.  Keuntungan menggunakan metode ini cepat memutuskan apa yang harus dilakukan.  Cukup sempurna dan dapat diterima jika pengambilan keputusan yang dilaksanakan berkaitan dengan persoalan rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya.  Kelemahannya jika terlalu sering digunakan, akan menimbulkan persoalan seperti munculnya ketidakpercayaan para anggota organisasi terhadap keputusan yang ditentukan pimpinannya, karena mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan 2) Pendapat Ahli  Seorang anggota organisasi oleh anggota lainnya diberi predikat sebagai ahli (expert), sehingga memungkinkannya memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk membuat keputusan.  Metode pengambilan keputusan ini akan bekerja dengan baik, apabila seorang anggota organisasi yang dianggap ahli dan memang benar- benar tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh anggota lainnya. Dalam banyak kasus, persoalan orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah masalah yang sederhana, karena sangat sulit menentukan indikator yang dapat mengukur orang yang dianggap ahli (superior). Ada yang berpendapat bahwa orang yang ahli adalah orang yang memiliki
  • 41. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 40 kualitas terbaik; untuk membuat keputusan, namun sebaliknya tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan ukuran tersebut. Karenanya, menentukan apakah seseorang dalam kelompok benar-benar ahli adalah persoalan yang rumit. 3) Kewenangan Setelah Diskusi  mempertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota organisasi dalam proses pengambilan keputusan, sehingga akan meningkatkan kualitas dan tanggung jawab para anggotanya  munculnya aspek kecepatan (quickness) dalam pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha sehingga menghindari proses diskusi yang terlalu meluas.  Pendapat anggota organisasi sangat diperhatikan dalam proses pembuatan keputusan, namun perilaku otokratik dari pimpinan, kelompok masih berpengaruh.  Kelemahannya, anggota organisasi akan bersaing untuk mempengaruhi pengambil atau pembuat keputusan. Artinya bagaimana para anggota organisasi yang mengemukakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan, berusaha mempengaruhi pimpinan kelompok bahwa pendapatnya yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. 4) Kesepakatan  Kesepakatan terjadi jika semua anggota dari suatu organisasi mendukung keputusan yang diambil.  keuntungannya, partisipasi penuh dari seluruh anggota organisasi akan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, sebaik seperti tanggung jawab para anggota dalam mendukung keputusan tersebut. Selain itu metode konsensus sangat penting khususnya yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks.
  • 42. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 41  Kekurangannya adalah dibutuhkannya waktu yang relatif lebih banyak dan lebih lama, sehingga metode ini tidak cocok untuk digunakan dalam keadaan mendesak atau darurat. Keempat metode pengambilan keputusan di atas, menurut Adler dan Rodman, tidak ada yang terbaik dalam arti tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan bahwa satu metode lebih unggul dibandingkan metode pengambilan keputusan lainnya. Metode yang paling efektif yang dapat digunakan dalam situasi tertentu, bergantung pada faktor-faktor:  jumlah waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan,  tingkat pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan  kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin kelompok dalam mengelola kegiatan pengambilan keputusan tersebut. Pengambilan keputusan merupakan proses yang kompleks yang memerlukan penanganan yang serius. Secara umum, proses pengambilan keputusan meliputi tujuh langkah beriktu (Gibson dkk, 1987): 1. Menerapkan tujuan dan sasaran : Sebelum memulai proses pengambilan keputusan, tujuan dan sasaran keputusan harus ditetapkan terlebih dahulu. apa hasil yang harus dicapai dan apa ukuran pencapaian hasil tersebut. 2. Identifikasi persoalan : Persoalan-persoalan di seputar pengambilan keputusan harus diidentifikasikan dan diberi batasan agar jelas. Mengidentifikasikan dan memberi batasan persoalan ini harus tepat pada inti persoalannya, sehingga memerlukan upaya penggalian. 3. Mengmbangkan alternatif : Tahap ini berisi pengnidentifikasian berbagai alternatif yang memungkinkan untuk pengambilan keputusan yang ada. Selama alternatif itu ada hubungannya, walaupun sedikit, harus ditampung dalam tahap ini. Belum ada komentar dan analisis.
  • 43. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 42 4. Menentukan alternatif : Dalam tahap ini mulai berlangsung analisis tehadap berbagai alternatif yang sudah dikemukakan pada tahapan sebelumnya. Pada tahap ini juga disusun juga kriteriatentang alternatif yang sesuai dengan tujuan dan sasaran pengambilan keputusan. Hasil tahap ini mungkin masih merupakan beberapa alternatif yang dipandang layak untuk dilaksanakan. 5. Memilih alternatif : Beberapa alternatif yang layak tersebut di atas harus dipilih satu alternatif yang terbaik. pemilihan alternatif harus harus mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya, keefektifan alternatif dalam memecahkan persoalan, kemampuan alternatif untuk mencapai tujuan dan sasaran, dan daya saing alternatif pada masa yang akan datang. 6. Menerapkan keputusan : Keputusan yang baik harus dilaksanakan. Keputusan itu sendiri merupaka abstraksi, sedangkan baik tidaknya baru dapat dilihat dari pelaksanaannya. 7. Pengendalian dan evaluasi : Pelaksanaan keputusan perlu pengendalian dan evaluasi untuk menjaga agar pelaksanaan keputusan tersebut sesuai dengan yang sudah diputuskan. Banyak manajer yang harus membuat keputusan dengan metoda-metoda pembuatan keputusan informal untuk memberikan pedoman bagi mereka. Tidak ada pendekatan pembuatan keputusan yang dapat menjamin bahwa manajemen akan selalu membuat keputusan yang benar, tetapi bagaimanapun juga, para manajer yang menggunakan suatu pendekatan yang rasional, intelektual dan sistematik akan lebih berhasil dibanding para manajer yang menggunakan pendekatan informal. Proses dasar pembuatan keputusan rasional hampir sama dengan proses perencanaan strategik formal. Ini mencakup identifikasi dan diagnosa masalah,pengumpulan dan analisa data yang relevan, pengembangan alternatif-alternatif, penilaian berbagai alternatif penyelesaian, pemilihan alternatif terbaik, implementasi keputusan dan evaluasi terhadap hasil-hasil.
  • 44. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 43 D. Keterlibatan Bawahan dalam Pembuatan Keputusan Para manejer akan sulit untuk membuat keputusan tanpa melibatkan bawahan, keterlibatan ini dapat formal, seperti pengunaan kelompok dalam pembuatan keputusan, atau informal, seperti permintaan akan gagasan. 1) Pembuatan Keputusan Kelompok Banyak manajer merasa bahwa keputusan yang dibuat kelompok, seperti panitia, lebih efektif karena mereka memaksimumkan pengetahuan yang lain. Para manajer lainnya sangat keras menghindari keterlibatan kelompok, karena mereka merasa bahwa hal itu lambat, tidak praktis dan sering menghasilkan yang kurang berbobot. Kebaikan a) Dalam pengembangan tujuan, kelompok memberikan jumlah pengetahhuan yang lebih besar. b) Dalam pengembangan alterna-tif, usaha individual para anggota kelompok dapat memungkinkan pencarian lebih luas dalam berbagai bidang fungsional organisasi. c) Dalam penilaian alternatif, kelompok mempunyai kerangka pandangan yang lebih lebar. d) Dalam pemilihan alternatif kelompok lebih dapat meneri-ma risiko disbanding pembuat keputusan individual. e) Karena berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan, para anggota kelompok secara individudal lebih termotivasi untuk melaksanakan keputus-an. f) Kreativitas yang lebih besar dihasilkan dari interaksi antar individu dengan berbagai pandangan yang berbeda- beda. g) Implementasi suatu keputusan apakah dibuat oleh kelompok atau tidak, haru diselesaikan oleh para manejersecara individual. Karena kelompok tidak diberikan tanggung jawab, keputusan kelompok dapat
  • 45. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 44 menghasilkan situasi dimana tidak seorangpun merasa bertanggung jawab dan saling melempar tanggung jawab. h) Berdasarkan pertimbangan nilai dari waktu sebagai salah satu sumber daya organisasi, keputusan kelompok sangant memakan biaya. i) Pembuatan keputusan kelompok adalah tidak efesien bila keputusan harus dibuat dengan cepat. j) Keputusan kelompok, dalam berbagai kasus, dapat merupakan hasil kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok. k) Bila atasan terlilbat, atau salah satu anggota mempunyai kepribadian yang dominan, keputusan yang dibuat kelompok dalam kenyataannya bukan keputusan kelompok. Kelemahan Implementasi suatu keputusan apakah dibuat oleh kelompok atau tidak, haru diselesaikan oleh para manejersecara individual. Karena kelompok tidak diberikan tanggung jawab, keputusan kelompok dapat menghasilkan situasi dimana tidak seorangpun merasa bertanggung jawab dan saling melempar tanggung jawab. a) Berdasarkan pertimbangan nilai dari waktu sebagai salah satu sumber daya organisasi, keputusan kelompok sangant memakan biaya. b) Pembuatan keputusan kelompok adalah tidak efesien bila keputusan harus dibuat dengan cepat. c) Keputusan kelompok, dalam berbagai kasus, dapat merupakan hasil kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok. d) Bila atasan terlilbat, atau salah satu anggota mempunyai kepribadian yang dominan, keputusan yang dibuat kelompok dalam kenyataannya bukan keputusan kelom.
  • 46. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 45 E. Metode-metode Kuantitatif dalam Pembuatan Keputusan Berbagai teknik dan peralatan kuntitatif dalam pembuatan keputusan telah dikembangkan lebih dari 40 tahun yang lalu, dan dikenal sebagai teknik- teknik “ manajemen scient “ dan “ oprations research”. Pada umumnya, kedua istilah tersebut digunakan berganti-ganti dengan pengertian sama. Riset operasi bermaksud untuk menggambarkan, memahami, dan memperkirakan atau meramal perilaku senagai sistem yang kompleks dari kehidupan manusia dan peralatan. Tujuan riset operasi adalah untuk menyediakan informasi yang akurat sebagai dasar pembuatan keputusan. 1. Pohon Keputusan dan Pembuatan Keputusan Pohon keputusan (decision tree) dikembangkan untuk membantu para manajer membuat serangkaian keputusan yang melibatkan peristiwa- peristiwa ketidak pastian. Pohon keputusan adalah suatu peralatan yang menggambarkan secara grafik berbagai kegiatan yang dapat diambil dan hubungan kegiatan-kegiatan ini dengan berbagai peristiwa di waktu mendatang yang dapat terjadi. Seperti teknik-teknik riset operasi lainnya, pohon keputusantidak akan membuat keputusan bagi manajer kebijakan masih akan diperlukan.Bagaimanapun juga, dalam berbagai situasi yang tepat, penggunaan pohon keputusan akan mengurangi kekacauan potensial dalam suatu masalah kompleks dan memungkinkanmanajer untuk menganalisa masalah secara rasional. Ciri-ciri Riset Operasi Ada tujuh ciri utama riset operasi, yang dapat diperinci sebagai berikut 1) Terpusat pada pembuatan keputusan 2) Penggunaan metoda ilmiah. 3) Penggunaan model matematik.
  • 47. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 46 4) Efektivitas ekonomis 5) Bergantung pada Komputer. 6) Pendekatan tim. 7) Orientasi sistem. Tahap-tahap Pendekatan Riset Operasi mempunyai 5 tahap : 1) Diagnosa masalah 2) Perumusan masalah 3) Pembuatan model 4) Analisa model 5) Implementasi penemuan. Wegner telah mengemukakan bahwa program riset operasi akan paling berguna dengan delapan unsure berikut: 1. Dukungan manajemen puncak. Tanpa dukungan manajemen puncak, suatu program riset opersi akan cenderung kurang mempunyai kerja sama para manajer. 2. Tanggung jawab manajerial bagi program. Bila para manajer mempunyai tanggung jawab akhir keberhasilan suatu proyek riset operasi. 3. Partisipasi manajer. Bila manajer berpartisipasi dalam penetapan tujuan-tujuan program. 4. Penggunaan kebijakan manajerial. Saran seorang manajer hanya harus ikut mempertimbagkan dalam proses riset operasi. 5. Pengumpulan data secara cepat. Proses pengadaan informasi yang lama dan berkepanjangan akan tidak berguna bagi manajer yang memerlukannya untuk membuat keputusan secara secepat mungkin. 6. Aspek-aspek teknik tidak dibiarkan mendominasi. 7. Persiapan untuk kesulitan-kesulitan awal . 8. Penyimpanan laporan secara akurat.
  • 48. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 47 BAB VII PENGORGANISASIAN dan STRUKTUR ORGANISASI A. Pengorganisasian Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Dua aspek utama proses penyusunan struktur organisasi adalah :  Departementalisasi, merupakan pengelompokan kegiatan-kegiatan kerja suatu organisasi agar kegiatan-kegiatan yang sejenis dan saling berhubungan dapat dikerjakan bersama.  Pembagian kerja, adalah pemerincian tugas pekerjaan agar setiap individu dalam organisasi bertanggung jawab untuk dan melaksanakan sekumpulan kegiatan yang terbatas. Kedua aspek ini merupakan dasar proses pengorganisasian suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secaraefisien dan efektif. B. Struktur Organisasi Struktur organisasi adalah mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola.Struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian- bagian, maupun orang-orang yang menunjukankedudukan , tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatuorganisasi. Adapun faktor-faktor utama yang menentukan perancangan struktur organisasi adalah sebagai berikut : 1. Strategi organisasi untuk mencapai tujuannya. 2. Teknologi yang digunakan
  • 49. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 48 3. Anggota (karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi 4. Ukuran organisasi. Unsur-unsur Struktur Organisasi 1. Spesialisasi kegiatan berkenaan dengan spesifikasi tugas-tugas individual dan kelompok kerja 2. dalam organisasi dan penyatuan tugas-tugas tersebut menjadisatuan- satuan kerja. 3. Standardisasi kegiatan 4. Koordinasi kegiatan 5. Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan 6. Ukuran satuan kerja. C. Pembagian Kerja Tujuan suatu organisasi adalah untuk mencapai dimana individu-individu tidak dapat mencapainya sendiri. Sebagai contoh, pada pembagian kerja di dalam perusahaan PT Zhaahirah, yaitu pembagian kerja untuk direktur operasional dan hukum, direktur pemasaran, direktur keuangan dan administrasi, manajer keuangan dan administrasi, administrasi operasional, surveyor, staf pemasaran, staf accounting, staf keuangan. Indikator Pembagian Kerja a) Penempatan Karyawan, sesuai dengan kemampuan, keahlian dan pendidikan yang dimiliki. b) Beban kerja adalah tugas pekerjaan yang dipercayakan untuk dikerjakan dan tanggung jawabkan oleh satuan organisasi atau seorang pegawai tertentu. c) Spesialisasi pekerjaan adalah pembagian kerja berdasarkan keahlian atau ketrampilan khusus.
  • 50. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 49 D. Bagan Organisasi Formal Struktur organisasi adalah terlalu kompleks untuk disajikan secara variabel. Bagan organisasi menggambarkan lima aspek utama suatu struktur organisasi, yang secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Pembagian kerja. Setiap kotak menunjukan individual atau satuan organisasi mana yang bertanggung jawab. 2. Manajer dan bawahan atau rantai-perintah. Rantai pe ntah menunjukan hubungan wewenang tanggung jawab yang menghubungkan atasan dan bawahan dalam keseluruh organisasi. 3. Tipe pekerjaan yang dilaksanakan. Label dan deskripsi pada tiap kotak menunjukan pekerjaan organisasioanal. 4. Pengelompokan segmen-segmen pekejaan. Keseluruh bagan menunjukan atas dasar apa organisasi dibagi. 5. Tingkatan manajemen. Suatu bagan tidak hanya menunjukan manajer dan bawahan tetapi juga keseluruh hiarki manajemen. E. Bentuk-bentuk Bagan Oraganisasi Henry G. Hognes mengemukakan empat bentuk bagan oraganisasi yaitu: 1. Bentuk piramida. Bentuk ini yang paling banyak digunakan karena sederhana, jelas, dan mudah di mengerti. 2. Bentuk vertikal. Bentuk vertkal agak menyerupai bentuk pyramid. 3. Bentuk horizontal. Bagan ini digambarkan secara mendatar. 4. Bentuk lingkaran. Bagan ini menekankan pada hubungan antara satu jabatan lain.
  • 51. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 50 F. Departemen Organisasi dan Macam-macamnya 1) Departementalisasi Proses penetuan cara bagaimana kegiatan-kegiatan dikelompokan disebut departementalisasi atau departementasi. Dasar-dasar pembentukan departementalisasi:  Fungsi : pemasaran, akuntansi, produk, atau keuangan.  Produk atau jasa : divisi mesin cuci, lemari es, televise atau radiao.  Wilayah: divisi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, atau Indonesia Timur dan Operasi Internasional.  Langganan : penjuala industri, pedagang eceran, pemerintah, militer atau konsumen.  Proses atau peralatan : departemen pemotongan, kelompok perakitan, pembagian pembungkusan atau bagian finishing.  Waktu : kelompok kerja bisa dibagi menjadi shift pertama, shift kedua, dan shift ketiga.  Pelayanan : bisa mencerminkan kelas bisnis, kelas ekonomi, dan kelas turis dalam pelayanan pesawat terbang.  Alpha-numerical : bisa digunakan pada pelayanan telefon dimana, misal nomer 00000-50.000 ditempatkan dalam departemen dan nomer 50.001-99.999 dalam departemen lain.  Proyek dan matriks : digunakan oleh perusahaan-perusahaan kontribusi dengan teknologi tinggi, perusahaan konsultan atau orientasi-energi. 2) Pembagian Departementasi Macam bentuk departementasi yaitu: 1) Departemen Fungsional adalah pengelompokan fungsi yang sama atau kegiatan yang sejenis untuk membentuk satuan organisasi. Ini
  • 52. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 51 merupakan bentuk organisasi yang paling umum dan bentuk dasar departementasi. Individu dikelompokkan berdasarkan ketrampilan, pengetahuan, dan tindakan yang dilakukan. Pembentukan satuan satuan organisasi yang masing masing diserahi mengurus sekelompok aktivitas yang tergolong sejenis menurut sifatnya atau pelaksanaan pekerjaan pekerjaan yang berkaitan. Kebaikan Departemen Fungsional :  Pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi-fungsi utama.  Menciptakan efisiensi melalui spesialisasi.  Memusatkan keahlian organisasi.  Memungkinkan pengawasan manajemen puncak  Tugasnya jelas  Pengetahuan yang dibutuhkan tidak banyak  Hanya membutuhkan manajer saja yang harus berwawasan luas  Mudah dijelaskan pada anggota bila ada persoalan Kelemahan Departemen Fungsional  Menciptakan konflik antar fungsi.  Adanya kemacetan pelaksanaan tugas  Umpan balik yang lambat.  Memusatkan pada kepentingan tugasnya.  Para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inovatif  Kejenuhan akibat monotonnya aktivitas  Komunikasi antar area tidak lancar terutama bila ada problem  Individu dalam bekerja hanya memperhatikan struktur hierarki 2) Departementasi Devisional adalah Departementasi berdasarkan divisi melihat produk, layanan, dan klien sebagai faktor dasar
  • 53. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 52 pengelompokan. Pola ini digunakan untuk memudahkan usaha antisipasi ancaman atau oportuniti dari luar organisasi. Misalnya pada organisasi otomotif, organisasi terbagi atas divisi otomotif, divisi internasional, divisi keuangan. Kelebihan Departementasi Devisional  Semua kegiatan, ketrampilan, keahlian untuk memproduksi dan memasarkan dikelompokan menjadi satu dibawah seorang kepala.  Semua kegiatan mudah untuk dikoordinasidan prestasi kerja terpelihara.  Kualitas dan kecepatan membuat keputusan meningkat.  Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan  lingkungan divisi yang khas  Merumuskan tanggung – jawab dengan jelas dan perhatian dipusatkan pertanggungjawaban atas prestasi kerja.  Membebaskan para kepala eksekutif dalam pembuatan keputusan strategi lebih luas.  Cocok untuk lingkungan yang cepat berubah.  Mempertahankan spesialisasi fungsional dalam setiap divisi. Kelemahan Departementasi Devisional  Berkembangnya persaingan disfungsional potensial atas sumber daya perusahaan dan konflik antara tugas dan prioritas.  Seberapa besar delegasi wewenang diberikan  Masalah kebijaksanaan dalam alokasi biaya sumber daya dan distribusi overhead perusahaan  menimbulkan konsistensi kebijaksanaan antar divisi.  Masalah duplikasi sumber daya dan peralatan yang tidak perlu  Masing-masing divisi bisa menghadapi problem yang sama sehingga terjadi pengulangan dalam pengatasannya
  • 54. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 53  Target divisi bisa mengalahkan target organisasi  Konflik antar divisi bisa terjadi, bila terjadi problem organisasi,maka membutuhkan orang yang sangat ahli dan menguasai banyak hal. 3) Strukur Organisasi Proyek dan Matriks  Strukur organisasi proyek. Departementalisasi proyek menyangkut pembentukan tim-tim, spesilis, yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan khusus.  Struktur organisasi matriks. Departementalisasi matriks adalah sama dengan departementalisasai proyek dengan satu perbedaan pokok. Kebaikan organisasi matriks. Berbagai kebaikan organisasi matriks dapat diperinci sebagai berikut:  Memaksimumkan efisiensi penggunaan manajer fungsional.  Mengembangkan ketrampilan karyawan.  Melibatkan, memotivasi dan menantang karyawan.  Memberikan fleksibelitas kepada organisasi dan membantu perkembangan kreativitas.  Menstimulasi kerja sama antar disiplin dan mempermuda kerja karyawan.  Membebaskan manajemen puncak untuk perencanaan. Kelemahan organisasi matriks adalah:  Pertanggung jawaban ganda dapat menciptakan kebingungan.  Sangat memerlukan koordinasi horizontal dan vertikal.  Memerlukan lebih banyak ketrampilan-ketranpilan antar pribadi.
  • 55. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 54  Mendorong pertentangan kekuasaan dan lebih mengarah perdebatan dari pada kegiatan.  Mengandung resiko timbulnya persaan anarki.  Sangat mahal untuk diimplemntasikan. G. Kelompok-kelompok Kerja Formal Organisasi Organisasi mempunyai tiga tipe utama kelompok-kelompok kerja formal: kesatuan tugas khusus, panitia dan dewan atau komisi. a. Kesatuan tugas khusus ( task focces ). Kesatuan tugas khusus atau tim proyek dibentuk menangani suatu masalah atau tugas khusus. b. Panitia tetap ( standing commit tees ) dan panitia Ad hoc. Panitia tetap ( dikenal sebagai panitia structural ) adalah bagian tetap dari sruktur suatu organisasi yang dibentuk guna menangani tugas yang terus menerus ada dalam organisasi, seperti panitia anggaran, panitia pengembangan produk baru, panitia pembelia, dan sebagainya. c. Panitia ad hoc mempunyai fungsi yang serupa dengan panitia tetap, hanya tidak bersifat tetap. Tujuan dibentuknya panitia manajemen terutama adalah untuk mengkoordinasikan dan mempertukarkan informasi, member suara manajemen puncak. Dewan dan komisi. Dewan ( boards) dibentuk dari individi-individu yang dipilih atau ditugaskan untuk mengelola suatu organisasi mayarakat atau swasta. H. Kegunaan dan Kerugian Panitia 1. Kegunaan Panitia Berbagai kegunaan yang ditimbulkan panitia adalah:
  • 56. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 55 1. Keputusan-keputusan dengan kualitas lebih baik. 2. Meningkatkan penerimaan. 3. Memperbaiki koordinasi. 4. Tempat latihan bagi manajer. 5. Penyebaran kekuasaan. 6. Menghindari kosekuensi-kosekuensi yang tidak menyenangkan. 2. Kerugian Panitia Adapun kerugian yang dapat di timbulkan panitia adalah: 1. Pemborosan waktu dan uang. 2. Dominasi individu. 3. Adanya persatuan dan kompromi terlebih dahulu. 4. Kurangnya tanggung jawab. I. Organisasi Informal Salah satu bagian penting organisasi adalah pengelompokan in formal dan hubungan pribadi yang dapat lebih berpengaruh dibanding hubungan formal seperti yang ditunjukan pada bagan organisasi. Organisasi informal memainkan peranan penting dalam dinamika perilaku organisasi. Perbedaan pokok antara organisasai formal dan informal adalah bahwa organisasi formal mempunyai tujuan, struktur dan pola hubungan kerja yang teratur melalui manajemen, organisasi informal berdiri atas struktur yang tidak jelas. Argeris mengemukakan empat bidang utama di mana organisasi formal dan informal berbeda: 1. Hubungan-hubungan pribadi. Dalam organisasi formal hubungan dengan orang digmabarkan jelas, sedangakan dalam hubungan informal sangat tergantung.
  • 57. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 56 2. Kepemimpinan. Para pemimpin dirancang dan ditentukan dalam formal serta muncul dipilih dalam informal. 3. Pengendalian perilaku. Organisasi formal mengendalikan perilaku karyawan melalui penghargaan dan hukuman, sedangakan kelompok informal mengendalikan anggota dengan pemenuhan kebutuhan. 4. Ketergantungan. Karena kapasitas pemimpin formal terletak pada penghargaan dan hukuman, bawahan lebih tergantung dari pada para anggota suatu kelompok informal. Fungsi-fungsi yang dilaksanakan kelompok-kelompok informal: 1) menetapkan, memperkuat, dan meneruskan norma-norma dan nilai-nilai sosial budaya 2) memberikan dukungan terhadap tujuan organisas 3) menstimulasi komunikasi efektif 4) memberikan keputusan. Masalah-masalah yang diciptakan. Kelompok informal ini walaupun tidak di tetapkan secara formal oleh organisasi, dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah bagi manajer. Sikap manajemen terhadap organisasi informal. Sikap manajemen yang paling baik adalah memahami, mencari persesuaian, dan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan dengan kelompok informal.
  • 58. Fachrul Nisa (2013001017) | STIE Muhammadiyah Pekalongan | S1 Akuntansi 57 Sumber Referensi :  www.wikipedia.com  http://blog.re.or.id/fungsi-fungsi-manajemen.htm  http://boby32.blogspot.com/2011/07/hal-yang-harus-dilakukan-seorang.html  http://trickyeko.blogspot.com/2012/03/1-keputusan-manajerial- menentukan_09.html  http://amalia-tirta.blogspot.com/2011/11/pembuat-keputusan.html  http://rezkyevlynputra.blogspot.com/2011/12/departementasi-dan-macam- macam.html
  • Fly UP