Danu dean asmoro pendekatan dalam pendidikan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan

  • Published on
    25-May-2015

  • View
    457

  • Download
    10

DESCRIPTION

Danu Dean Asmoro - Pendekatan dalam Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan

Transcript

<ul><li> 1. KOMUNIKASI LINGKUNGAN | 1Pendekatan dalam Pendidikan Lingkungan danPembangunan BerkelanjutanOleh : Danu Asmoro*This paper for discussion in Communication and Environmental class, lecturer : Yohanes Widodo, M.Sc.Di seluruh dunia, para pembuat kebijakan memperlihatkan cara atau jalan denganmenggunakan pendidikan/ edukasi dan strategi komunikasi, untuk menciptakan dunia yanglebih berkelanjutan daripada suatu prospek yang terjadi pada saat ini. Mereka salingmenjerat diantara instrumental ( perubahan kelakuan ), dan emancipatory ( pembangunanmanusia ) yang digunakan dalam kebanyakan strategi mereka. Salah satu outcomes dariadanya kajian mengenai para pembuat kebijakan EE ( Environmental Education ), jugaadanya kajian mengenai bagaimana para professional yang berada dalam bidang tersebut.Mereka inilah yang dapat menentukan bagaimana jenis edukasi, partisipasi, komunikasi,atau mix yang dilakukan dan bagaimana suatu hasil dapat dikejar ( mengejar suatu goal ),serta adanya monitoring dan sistem evaluasi yang baik untuk dikerjakan.IntroductionSustainable development is currently a major issue on the policy agendainternationally, nationally, and locally in many parts of the world. The Dutchgovernment, for instance, considers Environmental Education (EE) and Learningfor Sustainable Development (LSD) as communicative policy instruments topromote sustainable development in society. ( Sollart dalam Walls &amp; Eijff. 2008 : p.55 )Pembangunan berkelanjutan adalah suatu issue besar terkini dalam agenda politik dilingkup internasional, nasional, dan lokal yang menjadi suatu bagian terpenting bagi duniasaat ini. Misalnya pemerintah Jerman yang mempertimbangkan Environmental Education (EE ) atau edukasi mengenai lingkungan dan Learning for Sustainable Development ( LSD )atau pembelajaran mengenai pembangunan berkelanjutan sebagai suatu instrumentkebijakan komunikatif, untuk mempromosikan bagaimana pembangunan dapatdilaksanakan secara berkelanjutan di masyarakat sosial. Terakhir, juga terdapat kebijakanmengenai EE yang telah diuji oleh Netherlands Environmental Assessment Agency ( MNP )atau agen penafisiran mengenai lingkungan di Belanda. Kajian tersebut memberikan sedikitinformasi mengenai bagaimana cara indtrumen pendidikan untuk mempertinggi tingkatkeberlanjutan tersebut dalam praktek kerja masyarakat. MNP tersebut mendeskripsikanbagaimana perbedaan suatu kebijakan mengenai EE direfleksikan dalam praktek EE. Hasilkajian tersebut dijelaskan dalam laporan yang berjudul From Adopt a Chicken toSustainable Urban Distics. Kajian tersebut menguji bagaimana kebijakan membujukadanya suatu manifestasi dari EE, dengan menjawab beberapa pertanyaan, yaitu:1. Bagaimana pendekatan EE yang berbeda dapat berkontribusi dalam proses memimpin adanya praktek praktek baru dimana semakin sifatnya keberlanjutan maka mereka akan terlihat menjadi berbeda?</li></ul><p> 2. KOMUNIKASILINGKUNGAN | 22. Bagaimana bisa pembuat kebijakan ( EE ) menjadi lebih kompeten danefektif dalam penggunaan instrument instrument komunikasi dalammenggerakkan masyarakat ke arah sustainability ( adanya ketahanan ).3. Apakah peran dari pengetahuan dalam pendekatan pendekatantersebut? Proyek penelitian tersebut melakukan tiga pendekatan untuk EE : salah satunya dapat diklasifikasikan sebagian besar ke dalam Instrumental, salah satunya dapat diberikan label Emancipatory, dan yang lain merupakan mix keduanya ( antara Instrumental dengan Emanicpatory ).Instrumental Environmental Education and CommunicationAn instrumental approach assumes that a desired behavioral outcome of an EEactivity is known, (more or less) agreed on, and can be influenced by carefullydesigned interventions. Put simply, an instrumental approach to EE starts byformulating specific goals in terms of preferred behavior, and regards the targetgroup as a mainly passive receivers who need to be well understood ifcommunicative interventions are to have any effect. The models underlying such anapproach have become more sophisticated over the years than the classic fromawareness to action models that emerged in the sixties and seventies of the lastcentury. ( Wals &amp; Eijff. 2008 : p. 56 )Asumsi dari pendekatan instrumental adalah adanya keinginan atau hasrat mengenaioutcome atau hasil yang berhubungan dengan kelakuan dari adanya aktivitas EE yangdiketahui, secara lebih atau kurang dapat disetujui, dan dapat terpengaruh dari intervensiyang didesain secara berhati hati. Mengambil contoh simpel, pendekatan instrumentaluntuk EE dapat dimulai dengan memformulasikan goals atau tujuan secara spesifik dalamsuatu terjemahan atau istilah dari suatu kelakuan yang lebih disukai, dan memberikanbagaimana target group juga didesain sebagai receivers/ apara penerima yangsebagian besar bersifat pasif dimana mereka membutuhkan untuk lebih dapat memahamiapabila intervensi intervensi secara komunikatif akan mempunyai suatu efek tertentu.Model ini mendasari pendekatan serupa yang menjadikannya lebih canggih selamabeberapa tahun daripada klasik awareness to action model yang muncul pada akhir abadke 16 atau ke 17.Model pertama berdasarkan kerangka kerja dari Ajzen dan Fishbein, dimana dalammodel tersebut terdapat poin mengenai instrument pendidikan lingkungan dan komunikasidapat digunakan tergantung pada hasil dari analisis mengenai tingkah laku yang akandiintervensi ( contohnya meningkatnya terhadap kesadaran mengenai permasalahantersebut, mempengaruhi norma norma sosial, sikap, dan meningkatnya kemujaraban dariprogram yang dilaksanakan atau kontrol dari personal, dan atau secara berhati hatimencoba untuk mengombinasikan desain.Pemerintah di berbagai negara di dunia menggunakan dan mendukung adanyaaktivitas pendidikan dan strategi komunikasi yang mempengaruhi bagaimana tingkah lakuwarga negara terhadap lingkungan, yang biasanya meliputi : kampanye mengenaipentingnya kesadaran lingkungan, pengumuman atau adanya suatu publikasi layananmasyarakat, pemberian etiket mengenai lingkungan atau yang mengggunakan nama ataudalih lingkungan, skema dengan adanya suatu sertifikasi, tetapi juga program dan aktivitas 3. KOMUNIKASI LINGKUNGAN | 3pendidikan lingkungan dengan jelas keluar dari obyektif yang sudah disusun pada mulanyadari sifat dasar tingkah laku yang akan diubah.A characteristic of proponents and designers of more instrumental approaches istheir continuous quest for well articulated, more measurable outcomes andsophisticated indicators in order to make these interventions more effective and tobe able to prove that they indeed are effective. Critics of the instrumental use ofenvironmental education argue that using education to change peoples behavior ina pre- and expert-determined direction has more to do with manipulation andindoctrination than with education. ( Wals &amp; Eijff. 2008 : p. 56 )Karakteristik dari pendukung dan para perancang dari model pendekatan instrumentaladalah mereka melanjutkan penyelidikan atau pencarian dari adanya pelafalan/ pemahamanyang lebih baik, dimana outcomes/ hasil lebih akan terukur dan adanya indikator indikatorcanggih dalam urutan untuk membuat intervensi intervensi tersebut lebih efektif dansedapat mungkin membuktikan bahwa mereka sungguh sungguh efektof. Kritik daripenggunaan instrumental dalam pendidikan lingkungan tersebut adalah mengenai pendapatbahwa penggunaan pendidikan atau edukasi untuk mengubah tingkah laku manusia dalamperencanaan dan penunjukan ahli mempunyai suatu tindakan yang manipulasi dan adanyapengindoktrinasian dalam sisi edukasi/ pendidikan. Model ini memungkinkan kita untukmembaca bagaimana ahli tersebut dapat memanipulasi apa yang diajarkan dan adanyadoktrinasi yang sesuai dengan pemahaman mereka, model ini merupakan model pengajaransatu arah, yang cenderung akan membuat guru mempunyai kuasa untuk memainkan paramuridnya.Pendukung tersebut menggunakan pendidikan dengan berargumentasi bahwa,dikarenakan masa yang akan datang dari planet kita itu dipertaruhkan, digunakan sebagaisesuatu yang sah. Pendukung tersebut di Belanda dapat ditemukan pada agenda kebijakandalam departemen pertanian, penggunaan lahan, konservasi alam, perlindungan lingkungan,pengamanan makanan, dan energi. Paling parah, kritik tersebut juga justru berada didepartemen pendidikan.Emancipatory Environmental EducationAn emancipatory approach, in contrast, tries to engage citizens in an activedialogue to establish co-owned objectives, shared meanings, and a joint, self-determined plan of action to make changes they themselves consider desirable andof which the government hopes they, ultimately, contribute to a more sustainablesociety as a whole. ( Wals &amp; Eijff. 2008 : p. 56 - 57 )Pendekatan emancipatory sangat kontras dan berbeda dengan pendekatan enstrumental,pendekatan ini mencoba untuk mengajak para warga negara untuk dapat terlibat aktif dalamproses dialog untuk menentukan bagaimana penyusunan obyektif, membagi bersamamengenai makna dari suatu permasalahan, dan bergabung bersama, dan dengan sendirinyasecara bersama sama dapat menetapkan rencana aksi untuk merubah mereka sendiridengan mempertimbangkan keinginan keinginan dan bagaimana harapan daripemerintahan itu sendiri, dan pada akhirnya, dapat memberikan kontribusi terhadap suatuprogram dalam masyarakat yang dapat berkelanjutan secara keseluruhan. Metode yangdilakukan dalam pendekatan ini biasanya bersifat mekanisme secara mempelajari proses proses sosial yang ada dala masyarakat. 4. KOMUNIKASI LINGKUNGAN | 4Skema dari pendaketan emancipatory adalah sebagai berikut :Fig. 1. An instrumental behavioral change model (based on Ajzen &amp; Fishbein, 1985).Model tersebut memberikan penjelasan bahwa model emancipatory sangatlah tidak mudahdalam aplikasinya ketika pendidikan lingkungan diaplikasikan. Misalnya dalam mengubahtingkah laku measyarakat terhadap lingkungan dimulai dari permasalahan mengenaikesadaran terhadap lingkungan, dimana kita juga harus mempertimbangkan bagaimananorma norma individu, baru setelah itu disusun dalam suatu tujuan tersendiri. Penglihatanpada sikap juga didasari pada bagaimana evaluasi kognitif dan kecenderungan respons danbagaimana penyesuaian diri dari tingkah laku didasarkan pada norma norma secarasubyektif. Tujuan tersebut kemudian diturunkan ke dalam tingkah laku dan adanyapertimbangan dengan adanya kontrol serta antisipasi yang pada akhirnya akan menentukanbagaimana pengalaman nyata individu apakah menganali perubahan tingkah laku atautidak. Satu hal yang penting dalam pendekatan emancipatory adalah bahwa feedback sangatpenting, untuk mempertimbangkan bahan dialog. Sebenarnya aplikasi pendekatan model emancipatory juga banyak dilakukan diBelanda. Banyak kebijakan yang diambil dari metode partisipasi multi stakeholder.Partisipasi tersebut menentukan bagaimana melihat situasi terkini agar ke depan,pembangunan yang dilakukan dapat berkelanjutan. Model ini tidak hanyamempertimbangkan outcomes, tetapi juga memberikan ruang kepada masyarakat untukterlibat secara aktif, menampung suara suara yang berbeda, termasuk dari suara suarakaum marjinal yang kadangkala terlupakan. Poin penting dari contoh kasus di Belandaadalah adanya learning arrangements atau bagaimana kita belajar untuk menyusun suatu 5. KOMUNIKASI LINGKUNGAN | 5program yang membutuhkan dukungan dari para stakeholder, warga negara, dan organisasiyang harusnya semua dilibatkan dalam situasi situasi tersebut. Kapasitas yang dilakukanadalah sejauh bagaimana kita mempelajari masyarakat sosial. Struktur misalnya dilihatbukan hanya sebagai garis komando, tetapi bagaimana lini antar struktur dapat salingmembantu dan bersama sama menentukan kebijakan yang akan dilaksanakan.Pendekatan emancipatory ini juga mengingatkan kepada kita bahwa tidak mudah untukmenentukan bagaimana problem solving atau suatu pemecahan masalah didekati.Transisi dari pemecahan permasalahan tersebut bagaimana dampak sistemik dan refleksidari apa yang dipikirkan dengan apa yang dilakukan dengan realisasi yang kadangkalaselalu berubah.Fig. 2. Emancipatory spiraling towards sustainability (source: Dyball et al., 2007). Skema diatas menjelaskan mengenai bagaimana bentuk spiral dari pendekatanemancipatory dalam berkontribusi kea rah pembangunan yang berkelanjutan. Dalam skematersebut dapat dijelaskan bahwa pendekatan emancipatory berkontribusi ke arah suatubentuk ketahanan dalam suatu kondisi atau situasi tertentu. Awal permulaannya denganmengarahkan kita pada diagosa, dimana kita memulai dari tempat para stakeholder yangakan diikutkan dalam berpartisipasi. Awalnya dengan mendiagnosa apa sebenarnyapermasalahannya. Kedua adalah mendesain dimana kita membutuhkan ide baru,keterampilan, dan konten apa yang akan dibahas serta disusun. Ketiga adalah doing ataumelakukannya, apa yang dapat kita lakukan adalah dengan mencoba yang lama danmencoba hal yang baru. Keempat adalah developing atau mengembangkan dari apa yang 6. KOMUNIKASILINGKUNGAN | 6telah dilakukan dengan belajar terhadap apa yang sudah dilakukan denganmengevaluasinya. Karena skema ini harus berulang ( sustainable ) dan tidak berhenti padasatu titik, maka harus dilakukan kembali dari awal secara terus menerus. Critics of such an approach tend to argue that we do know a lot about what is sustainable and what is not, and that by the time we have all become emancipated, empowered, reflexive, and competent, the Earths carrying capacity will have been irreversibly exhausted. ( Wals &amp; Eijff. 2008 : p. 57 - 58 )Kritik dari pendekatan emancipatory adalah mengenai pendapat bahwa kita mengetahuibanyak mengenai sustainable dan apa itu yang tidak sustainable, dan pada waktunya kitaakan membebaskan diri, terberikan kekuasaaan, refleksi, dan dapat kompeten, bumimempunyai kapasitas untuk membuat kita lelah dan tidak dapat mengubahnya. Dalamartian pendekatan ini dikritik karena pada intinya setiap orang akan teremansipasi,terberikan kekuasaan, merefleksikan apa yang dilakukan, dan mempunyai kompetensi padasuatu saat nanti. Banyak pihak menyatakan bahwa pada akhirnya bumi yang mempunyaikapasitas bahwa suatu keadaan tidak dapat diubah, misalnya orang yang kemudian menjadilelah untuk menaggulangi dampak global warming ( karena tanda tanda global warmingsemakin jelas dan nyata, dan bahkan tidak berkurang .Blunded Environmental Education, Communication, and ParticipationSpaargaren does so by putting social practices at the center where human agency ismediated by lifestyles. The interplay between agency and structure constitutes awide range of social practices. Spaargarens model might be regarded as a bridgebetween the classic instrumental, environmental attitude and behavior approachand a more emancipatory, agency-based approach. At the same time, the modeltakes into account the influence of social (technological) structures on behavior.( Wals &amp; Eijff. 2008 : p. 58 )Seorang sosiologis asal Belanda yaitu Gert Sppargaren dimana memberikan suatumodel strkturasi dari teori strukturasi Giddens yang menghubungkan adanya aktor,orientasinya, dan bagaimana pendekatan pada strut...</p>

Recommended

View more >