of 25 /25
SISTEM PERKEMIHAN HEMODIALISADi susun Oleh : Melisa L. Manoppo 13011104008 A-1 UNIVERSITAS SAM RATULANGI FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN MANADO 2015

Tugas Hemodialisa 2

  • Upload
    frindi

  • View
    57

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hemodialisa

Citation preview

SISTEM PERKEMIHAN

”HEMODIALISA”

Di susun

Oleh :

Melisa L. Manoppo

13011104008

A-1

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

MANADO

2015

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan

karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada

waktunya.

Makalah dengan judul “ Hemodialisa “ disusun untuk memenuhi salah satu tugas

mata kuliah ″ Sistem Perkemihan ″, Program Studi S1 Keperawatan Unsrat.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,

oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan

dimasa yang akan datang.

Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermamfaat bagi kita semua, terutama

mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Unsrat, khususnya bagi penulis dan

umumnya bagi pembaca.

Manado, 1 September

2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. i

DAFTAR ISI.............................................................................................................ii

BAB I TINJAUAN TEORITIS.........................................................................

2.1. Definisi Hemodialisa..................................................................... 4

2.2. Indikasi Hemodialisa ................................................................... 5

2.3. Kontra Indikasi Hemodialisa....................................................... 6

2.4. Tujuan Hemodialisa.....................................................................6

2.5. Proses Hemodialisa....................................................................... 6

2.6. Komplikasi Hemodialisa.............................................................10

2.7. Peritoneal Dialisa.........................................................................11

2.8. Teknik Hemodialisa.....................................................................13

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN..............................................

3.1. Pengkajian..................................................................................... 18

3.2. Diagnosa Keperawatan................................................................. 21

3.3. Focus Intervensi............................................................................ 22

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi Hemodialisa

Menurut Price dan Wilson (1995) dialisa adalah suatu proses dimana solute dan air

mengalami difusi secara pasif melalui suatu membran berpori dari kompartemen cair

menuju kompartemen lainnya. Hemodialisa dan dialisa peritoneal merupakan dua tehnik

utama yang digunakan dalam dialisa. Prinsip dasar kedua teknik tersebut sama yaitu

difusi solute dan air dari plasma ke larutan dialisa sebagai respon terhadap perbedaan

konsentrasi atau tekanan tertentu.

Sedangkan menurut Tisher dan Wilcox (1997) hemodialisa didefinisikan sebagai

pergerakan larutan dan air dari darah pasien melewati membran semipermeabel

(dializer) kedalam dialisat. Dializer juga dapat dipergunakan untuk memindahkan

sebagian besar volume cairan. Pemindahan ini dilakukan melalui ultrafiltrasi dimana

tekanan hidrostatik menyebabkan aliran yang besar dari air plasma (dengan

perbandingan sedikit larutan) melalui membran. Dengan memperbesar jalan masuk pada

vaskuler, antikoagulansi dan produksi dializer yang dapat dipercaya dan efisien,

hemodialisa telah menjadi metode yang dominan dalam pengobatan gagal ginjal akut

dan kronik di Amerika Serikat. (Tisher & Wilcox, 1997)

Hemodialisa memerlukan sebuah mesin dialisa dan sebuah filter khusus yang

dinamakan dializer (suatu membran semipermeabel) yang digunakan untuk

membersihkan darah, darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam sebuah

mesin diluar tubuh. Hemodialisa memerlukan jalan masuk ke aliran darah, maka dibuat

suatu hubungan buatan antara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui

pembedahan. (NKF, 2006)

2.2 Indikasi Hemodialisa

Price dan Wilson (1995) menerangkan bahwa tidak ada petunjuk yang jelas

berdasarkan kadar kreatinin darah untuk menentukan kapan pengobatan harus dimulai.

Kebanyakan ahli ginjal mengambil keputusan berdasarkan kesehatan penderita yang

terus diikuti dengan cermat sebagai penderita rawat jalan. Pengobatan biasanya dimulai

apabila penderita sudah tidak sanggup lagi bekerja purna waktu, menderita neuropati

perifer atau memperlihatkan gejala klinis lainnya. Pengobatan biasanya juga dapat

dimulai jika kadar kreatinin serum diatas 6 mg/100 ml pada pria , 4 mg/100 ml pada

wanita dan glomeluro filtration rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit. Penderita tidak boleh

dibiarkan terus menerus berbaring ditempat tidur atau sakit berat sampai kegiatan sehari-

hari tidak dilakukan lagi.

Menurut konsensus Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2003) secara

ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG

kurang dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari 5

mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Selain indikasi tersebut juga

disebutkan adanya indikasi khusus yaitu apabila terdapat komplikasi akut seperti oedem

paru, hiperkalemia, asidosis metabolik berulang, dan nefropatik diabetik.

Kemudian Thiser dan Wilcox (1997) menyebutkan bahwa hemodialisa biasanya

dimulai ketika bersihan kreatinin menurun dibawah 10 mL/menit, ini sebanding dengan

kadar kreatinin serum 8–10 mg/dL. Pasien yang terdapat gejala-gejala uremia dan secara

mental dapat membahayakan dirinya juga dianjurkan dilakukan hemodialisa.

Selanjutnya Thiser dan Wilcox (1997) juga menyebutkan bahwa indikasi relatif dari

hemodialisa adalah azotemia simtomatis berupa ensefalopati, dan toksin yang dapat

didialisis. Sedangkan indikasi khusus adalah perikarditis uremia, hiperkalemia,

kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik (oedem pulmonum), dan asidosis

yang tidak dapat diatasi.

2.3 Kontra Indikasi Hemodialisa

Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari hemodialisa adalah

hipotensi yang tidak responsif terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan sindrom

otak organik.

Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari hemodialisa adalah

tidak mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa, akses vaskuler sulit,

instabilitas hemodinamik dan koagulasi.

Kontra indikasi hemodialisa yang lain diantaranya adalah penyakit alzheimer,

demensia multi infark, sindrom hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan

keganasan lanjut.

2.4 Tujuan Hemodialisa

Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain :

1. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa

metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang

lain.

2. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya

dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.

3. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.

4. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.

2.5 Proses Hemodialisa

Suatu mesin hemodialisa yang digunakan untuk tindakan hemodialisa berfungsi

mempersiapkan cairan dialisa (dialisat), mengalirkan dialisat dan aliran darah melewati

suatu membran semipermeabel, dan memantau fungsinya termasuk dialisat dan sirkuit

darah korporeal. Pemberian heparin melengkapi antikoagulasi sistemik. Darah dan

dialisat dialirkan pada sisi yang berlawanan untuk memperoleh efisiensi maksimal dari

pemindahan larutan. Komposisi dialisat, karakteristik dan ukuran membran dalam alat

dialisa, dan kecepatan aliran darah dan larutan mempengaruhi pemindahan larutan.

(Tisher & Wilcox, 1997)

Dalam proses hemodialisa diperlukan suatu mesin hemodialisa dan suatu saringan

sebagai ginjal tiruan yang disebut dializer, yang digunakan untuk menyaring dan

membersihkan darah dari ureum, kreatinin dan zat-zat sisa metabolisme yang tidak

diperlukan oleh tubuh. Untuk melaksanakan hemodialisa diperlukan akses vaskuler

sebagai tempat suplai dari darah yang akan masuk ke dalam mesin hemodialisa.

(NKF, 2006)

Suatu mesin ginjal buatan atau hemodializer terdiri dari membran semipermeabel

yang terdiri dari dua bagian, bagian untuk darah dan bagian lain untuk dialisat. Darah

mengalir dari arah yang berlawanan dengan arah dialisat ataupun dalam arah yang sama

dengan arah aliran darah. Dializer merupakan sebuah hollow fiber atau capillary dializer

yang terdiri dari ribuan serabut kapiler halus yang tersusun pararel. Darah mengalir

melalui bagian tengah tabung-tabung kecil ini, dan dialisat membasahi bagian luarnya.

Dializer ini sangat kecil dan kompak karena memiliki permukaan yang luas akibat

adanya banyak tabung kapiler. (Price & Wilson, 1995)

Menurut Corwin (2000) hemodialisa adalah dialisa yang dilakukan di luar tubuh.

Selama hemodialisa darah dikeluarkan dari tubuh melalui sebuah kateter masuk ke

dalam sebuah mesin yang dihubungkan dengan sebuah membran semipermeabel

(dializer) yang terdiri dari dua ruangan. Satu ruangan dialirkan darah dan ruangan yang

lain dialirkan dialisat, sehingga keduanya terjadi difusi. Setelah darah selesai dilakukan

pembersihan oleh dializer darah dikembalikan ke dalam tubuh melalui arterio venosa

shunt (AV-shunt).

Selanjutnya Price dan Wilson (1995) juga menyebutkan bahwa suatu sistem dialisa

terdiri dari dua sirkuit, satu untuk darah dan satu lagi untuk dialisat. Darah mengalir dari

pasien melalui tabung plastik (jalur arteri/blood line), melalui dializer hollow fiber dan

kembali ke pasien melalui jalur vena. Dialisat membentuk saluran kedua. Air kran

difiltrasi dan dihangatkan sampai sesuai dengan suhu tubuh, kemudian dicampur dengan

konsentrat dengan perantaraan pompa pengatur, sehingga terbentuk dialisat atau bak

cairan dialisa. Dialisat kemudian dimasukan ke dalam dializer, dimana cairan akan

mengalir di luar serabut berongga sebelum keluar melalui drainase. Keseimbangan

antara darah dan dialisat terjadi sepanjang membran semipermeabel dari hemodializer

melalui proses difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi.

Kemudian menurut Price dan Wilson (1995) komposisi dialisat diatur sedemikian

rupa sehingga mendekati komposisi ion darah normal, dan sedikit dimodifikasi agar

dapat memperbaiki gangguan cairan dan elektrolit yang sering menyertai gagal ginjal.

Unsur-unsur yang umum terdiri dari Na+, K+, Ca++, Mg++, Cl-, asetat dan glukosa.

Urea, kreatinin, asam urat dan fosfat dapat berdifusi dengan mudah dari darah ke dalam

dialisat karena unsur-unsur ini tidak terdapat dalam dialisat. Natrium asetat yang lebih

tinggi konsentrasinya dalam dialisat, akan berdifusi ke dalam darah. Tujuan

menambahkan asetat adalah untuk mengoreksi asidosis penderita uremia. Asetat

dimetabolisme oleh tubuh pasien menjadi bikarbonat. Glukosa dalam konsentrasi yang

rendah ditambahkan ke dalam dialisat untuk mencegah difusi glukosa ke dalam dialisat

yang dapat menyebabkan kehilangan kalori dan hipoglikemia. Pada hemodialisa tidak

dibutuhkan glukosa dalam konsentrasi yang tinggi, karena pembuangan cairan dapat

dicapai dengan membuat perbedaan tekanan hidrostatik antara darah dengan dialisat.

Ultrafiltrasi terutama dicapai dengan membuat perbedaan tekanan hidrostatik

antara darah dengan dialisat. Perbedaaan tekanan hidrostatik dapat dicapai dengan

meningkatkan tekanan positif di dalam kompartemen darah dializer yaitu dengan

meningkatkan resistensi terhadap aliran vena, atau dengan menimbulkan efek vakum

dalam ruang dialisat dengan memainkan pengatur tekanan negatif. Perbedaaan tekanan

hidrostatik diantara membran dialisa juga meningkatkan kecepatan difusi solut. Sirkuit

darah pada sistem dialisa dilengkapi dengan larutan garam atau NaCl 0,9 %, sebelum

dihubungkan dengan sirkulasi penderita. Tekanan darah pasien mungkin cukup untuk

mengalirkan darah melalui sirkuit ekstrakorporeal (di luar tubuh), atau mungkin juga

memerlukan pompa darah untuk membantu aliran dengan quick blood (QB) (sekitar 200

sampai 400 ml/menit) merupakan aliran kecepatan yang baik. Heparin secara terus-

menerus dimasukkan pada jalur arteri melalui infus lambat untuk mencegah pembekuan

darah. Perangkap bekuan darah atau gelembung udara dalam jalur vena akan

menghalangi udara atau bekuan darah kembali ke dalam aliran darah pasien. Untuk

menjamin keamanan pasien, maka hemodializer modern dilengkapi dengan monitor-

monitor yang memiliki alarm untuk berbagai parameter. (Price & Wilson, 1995)

Menurut PERNEFRI (2003) waktu atau lamanya hemodialisa disesuaikan dengan

kebutuhan individu. Tiap hemodialisa dilakukan 4–5 jam dengan frekuensi 2 kali

seminggu. Hemodialisa idealnya dilakukan 10–15 jam/minggu dengan QB 200–300

mL/menit. Sedangkan menurut Corwin (2000) hemodialisa memerlukan waktu 3–5 jam

dan dilakukan 3 kali seminggu. Pada akhir interval 2–3 hari diantara hemodialisa,

keseimbangan garam, air, dan pH sudah tidak normal lagi. Hemodialisa ikut berperan

menyebabkan anemia karena sebagian sel darah merah rusak dalam proses hemodialisa.

Price dan Wilson (1995) menjelaskan bahwa dialisat pada suhu tubuh akan

meningkatkan kecepatan difusi, tetapi suhu yang terlalu tinggi menyebabkan hemolisis

sel-sel darah merah sehingga dapat menyebabkan pasien meninggal. Robekan pada

membran dializer yang mengakibatkan kebocoran kecil atau masif dapat dideteksi oleh

fotosel pada aliran keluar dialisat. Hemodialisa rumatan biasanya dilakukan tiga kali

seminggu, dan lama pengobatan berkisar dari 4 sampai 6 jam, tergantung dari jenis

sistem dialisa yang digunakan dan keadaan pasien.

Gambar 2.1 Skema Proses Hemodialisa

(National Kidney Foundation, 2001)

2.6 Komplikasi Hemodialisa

Menurut Tisher dan Wilcox (1997) serta Havens dan Terra (2005) selama tindakan

hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi, antara lain :

1. Kram otot

Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya hemodialisa

sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot seringkali terjadi

pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan volume yang tinggi

2. Hipotensi

Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat, rendahnya

dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati otonomik, dan

kelebihan tambahan berat cairan.

3. Aritmia

Hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa, penurunan

kalsium, magnesium, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh

terhadap aritmia pada pasien hemodialisa.

4. Sindrom ketidakseimbangan dialisa

Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat diakibatkan dari

osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang cepat dibandingkan dari

darah, yang mengakibatkan suatu gradien osmotik diantara kompartemen-

kompartemen ini. Gradien osmotik ini menyebabkan perpindahan air ke dalam

otak yang menyebabkan oedem serebri. Sindrom ini tidak lazim dan biasanya

terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan azotemia berat.

5. Hipoksemia

Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu dimonitor pada

pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.

6. Perdarahan

Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat dinilai

dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama hemodialisa juga

merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan.

7. Ganguan pencernaan

Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang

disebabkan karena hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai dengan

sakit kepala.

8. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.

9. Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak

adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.

2.7 Peritoneal Dialisa

2.7.1 Definisi

Dialisis peritoneal adalah salah satu bentuk dialisis untuk membantu

penenganan pasien GGA (gagal ginjal akut) maupun GGK (gagal ginjal

kronik), menggunakan membran peritoneum yang bersifat semipermiabel.

Melalui membran tersebut darah dapat difiltrasi. Keuntungan dialisis

peritoneal (DP) bila dibandingkan dengan hemodialasis, secara teknik lebih

sederhana, cukup aman serta cukup efisien dan tidak memerlukan fasilitas

khusus, sehingga dapat di lakukan di pati kedudukan cukup penting untuk

menengani kasus–kasus tertentu dalam rumah sakit besar dan modern.

2.7.2 Indikasi

Dialisis peritoneal dapat digunakan pada pasien :

1. Gagal ginjal akut (dialisat peritoneal akut )

2. Gangguan keseimbangan cairan , elektrolit atau asam basa

3. Intoksikasi obat atau bahan lain .

4. Gagal ginjal kronik (dialisat peritoneal kronik)

5. Keadaan klinis lain di mana DP telah terbukti manfaatnya

2.7.3 Kontra Indikasi

1. Kontra indikasi absolute : tidak ada

2. Kontra indikasi relative : keadaan–keadaan yang kemungkinan secara

teknik akan mengalami kesulitan atau memudahkan terjadinya

komplikasi seperti gemuk berlebihan, perlengketan peritoneum,

perotinitis local, operasi atau trauma abdomen yang baru saja terjadi,

kelainan intra abdomen yang belum di ketahui sebabnya, luka bakar

dinding abdomen yang cukup luas terutama bila disertai infeksi atau

perawatan yang tidak adekuat, salah satu cara yang sering digunakan

untuk menilai efisiensi peritoneal dialisa adalah dengan menentukan

peritoneal clearance dengan rumus :

Cp = U

Cp : peritoneal clearance

U: konsentrasi zat tersebut dalam cairan dialisat yang keluar dari

kavum peritoneal (mg%)

P: konsentrasi zat tersebut dalam darah atau plasma (mg%)

V: volume cairan dialisat tiap menit (mL)

Faktor yang mempengaruhi klirens peritoneal adalah besar kecilnya

melekul, kecepatan cairan dialisat, equilibration-time(dwell time yaitu

lamanya cairan dialisat berada dalam kavum peritoneum), suhu cairan

dialisat, tekanan osmosis cairan dialisat, permeabilitas peritoneum,

dan aliran darah dalam kapiler peritoneum.

2.7.4 Komplikasi

1. Komplikasi Mekanis

o Perforasi organ abdomen (usus, aorta, kandung kencing atau hati)

o Perdarahan yang kadang-kadang menyumbat kateter

o Gangguan drainase (aliran cairan dialisat)

o Bocornya cairan dialisat

o Perasaan tidak enak dan sakit dalam perut

2. Komplikasi metabolik

o Gangguan keseimbangan cairan,elektrolik dan asam basa .

o Gangguan metabolisme karbohidrat perlu diperhatikan terutama

pada penyandang DM berupa hiperglikemia post dialisis.

o Kehilangan protein yang terbuang lewat cairan dialisat

o Sindrom disequilibrium.

2.8 Teknik Hemodialisa

2.8.1 Persiapan Mesin dan Perangkat HD

1. Pipa pembuangan sudah masuk dalam saluran pembuangan

2. Sambungkan kabel mesin dengan stop kontak

3. Hidupkan mesin ke rinse selama 15-30 menit

4. Pindahkan ke posisi dialyze lalu sambungkan slang dialisat ke

jaringan tempat dialisat yang telah disiiapkan.

5. Tunggu sampai lampu hijau

6. Tes conductivity dan temperatur

7. Gantungkan saline normal sebanyak 4 flatboth yang telah diberikan

heparin sebanyak 25-30 unit dalam masing-masing flatboth

8. Siapkan ginjal buatan sesuai dengan kebutuhan pasien

9. Siapkan blood lines dan AV fiskula sebanyak banyaknya

10. Ginjal buatan dan blood lines diisi saline normal (priming)

11. Sambungkan dialisatelines pada ginjal buatan

12. Sambil mempersiapkan pasien slang inlet dan outlet disambungkan

lalu jalankan blood pump (sirkulasi tertutup)

2.8.2 Persiapan Penderita

Indikasi hemodialisa :

1. Segera/indikasi mutlak : over hidrasi atau edema paru, hiperkalemi,

oliguri berat atau anuria, asidosis, hipertensi maligna.

2. Dini/profilaksi : gejala uremia (mual muntah) perubahan mental,

penyakit tulang, gangguan pertumbuhan dan seks, perubahan kualitas

hidup. Bila penderita baru yang datang di ruang HD, sebelum kita

melakukan HD terlebih dahulu periksa kembali hasil-hasil

pemeriksaan yang penting (Hb, hematokrit, ureum, kreatinin, dan

HbsAg), hal ini perlu untuk menentukan tindak lanjut suatu HD.

Langkah-langkah HD :

1. Timbang dan catat berat badan

2. Ukur dan catat tekanan darah (dapat digunakan untuk

menginterpretasikan kelebihan cairan)

3. Tentukan akses darah yang akan ditusuk

4. Bersihkan daerah yang akan ditusuk dengan betadine 10% lalu

alcohol 70% kemudian ditutup pakai duk steril

5. Sediakan alat-alat yang steril didalam bak spuit kecil : spuit 2,5 cc

sebanyak 1, spuit 1 cc 1 buah, mangkok kecil berisi saline 0,9% dan

kasa steril

6. Sediakan obat-obatan yang perlu yaitu lidonest dan heparin

7. Pakai masker dan sarung tangan steril

8. Lakukan anestesi local didaerah akses darah yang akan ditusuk

9. Tusuk dengan AV fistula lalu berikan heparin sebanyak 2000 unit

pada inlet sedangkan outlet sebanyak 1000 unit

10. Siap sambungkan ke sirkulasi tertutup yang telah disediakan

11. Aliran darah permulaan sampai 7 menit 75 ml/menit kemudian

dinaikkan perlahan sampai 200 ml/menit

12. Tentukan TMP sesuai dengan kenaikkan berat badan

13. Segera ukur kembali tekanan darah, nadi, pernapasan, akses darah

yang digunakan dicatat dalam status yang telah tersedia.

2.8.3 Perawatan Pasien Hemodialisa

Terbagi 3 yaitu :

1. Perawatan sebelum hemodialisa

o Mempersiapkan perangkat HD

o Mempersiapkan mesin HD

o Mempersiapkan cara pemberian heparin

o Mempersiapkan pasien baru dengan memperhatikan factor bio

psiko sosial, agar penderita dapat bekerja sama dalam hal program

HD

o Mempersiapkan akses darah

o Menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, nadi,

pernapasan

o Menentukan berat badan kering

o Mengambil pemeriksaan rutin dan sewaktu

2. Perawatan Selama Hemodialisa

Selama HD berjalan ada 2 hal pokok yang diobservasi yaitu penderita

dan mesin HD

a. Observasi terhadap pasien HD

o Tekanan darah, nadi diukur setiap 1 jam lalu dicatat dalam

status

o Dosis pemberian heparin dicatat setiap 1 jam dalam status

o Cairan yang masuk perparenteral maupun peroral dicatat

jumlahnya dalam status

o Akses darah dihentikan

b. Observasi terhadap mesin HD

o Kecepan aliran darah /Qb, kecepatan aliran dialisat/Qd dicatat

setiap 1 jam

o Tekanan negatif, tekanan positif, dicatat setiap jam

o Suhu dialisa, conductivity diperhatikan bila perlu diukur

o Jumlah cairan dialisa, jumlah air diperhatikan setiap jam

o Ginjal buatan, slang darah, slang dialisat dikontrol setiap 1

jam.

3. Perawatan Sesudah Hemodialisa

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan yaitu cara menghentikan

HD pada pasien dan mesin HD.

a. Cara mengakhiri HD pada pasien

o Ukur tekanan darah dan nadi sebelum slang inlet dicabut

o Ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium

o Kecilkan aliran darah menjadi 75 ml/menit

o Cabut AV fistula intel/ lalu bilas slang inlet memakai saline

normal sebanyak 50-100 cc, lalu memakai udara hingga

semua darah dalam sirkulasi ekstrakorporeal kembali ke

sirkulasi sistemik

o Tekan pada bekas tusukan inlet dan outlet selama 5-10 menit,

hingga darah berhenti dari luka tusukan

o Tekanan darah, nadi, pernapasan ukur kembali lalu catat

o Timbang berat badan lalu dicatat

o Kirimkan darah ke laboratorium

b. Cara mengakhiri mesin HD

o Kembalikan tekanan negative, tekanan positif, ke posisi nol

o Sesudah darah kembali ke sirkulasi sistemik cabut selang

dialisat lalu kembalikan ke Hansen connector

o Kembalikan tubing dialisat pekat pada konektornya

o Mesin ke posisi rinse, lalu berikan cairan desifektan

(hipoclhoride pekat) sebanyak 250 cc, atau cairan formalin 3%

sebanyak 250 cc

o Bila formalin dibiarkan selama 1-2 x 24 jam, baru mesin

dirinsekan kembali.

Gambar 2.2 Proses Hemodialisa

BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

A. Biodata

1. Nama :

2. Umur : Biasanya terjadi pada usia lebih dari 50 tahun

3. Jenis Kelamin :

4. Pekerjaan :

5. Agama :

6. Alamat :

7. Pendidikan :

B. Riwayat Kesehatan

1. Keluhan utama

Pada pasien GGK yang akan dilakukan hemodialisa biasanya mengeluh

mual, muntah, anorexia, akibat peningkatan ureum darah dan edema

akibat retensi natrium dan cairan.

2. Riwayat kesehatan yang lalu

Perlu ditanya penyakit-penyakit yang pernah diderita klien sebagai

penyebab terjadinya GGK, seperti DM, glomerulonefritis kronis,

pielonefritis. Selain itu perlu ditanyakan riwayat penggunakan analgesik

yang lama atau menerus.

3. Riwayat kesehatan keluarga

Perlu ditanyakan apakah orang tua atau keluarga lain ada yang menderita

GGK erat kaitannya dengan penyakit keturunannya seperti GGK akibat

DM.

C. Data Biologis

1. Makan & minum

Biasanya terjadi penurunan nafsu makan sehubungan dengan keluhan

mual muntah akibat peningkatan ureum dalam darah.

2. Eliminasi

Biasanya terjadi gangguan pengeluaran urine seperti oliguri, anuria,

disuria, dan sebagainya akibat kegagalan ginjal melakukan fungsi filtrasi,

reabsorsi dan sekresi.

3. Aktivitas

Pasien mengalami kelemahan otot, kehilangan tonus dan penurunan gerak

sebagai akibat dari penimbunan ureum dan zat-zat toksik lainnya dalam

jaringan.

4. Istrahat/tidur

Pasien biasanya mengalami gangguan pola istrahat tidur akibat keluhan-

keluhan sehubungan dengan peningkatan ureum dan zat-zat toksik seperti

mual, muntah, sakit kepala, kram otot dan sebagainya.

D. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : lemah dan penurunan tingkat kesadaran akibat

terjadinya uremia

Vital sign : biasanya terjadi hipertensi akibat retensi cairan dan

natrium dari aktivitas sistim renin

BB : Biasanya meningkat akibat oedema

1. Inspeksi

o Tingkat kesadaran pasien biasanya menurun

o Biasanya timbul pruritus akibat penimbunan zat-zat toksik pada kulit

o Oedema pada tungkai, acites, sebagai akibat retensi cairan dan

natrium

2. Auskultasi

Perlu dilakukan untuk mengetahui edema pulmonary akibat penumpukan

cairan dirongga pleura dan kemungkinan gangguan jantung (perikarditis)

akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksik uremik serta pada

tingkat yang lebih tinggi dapat terjadi gagal jantung kongestif.

3. Palpasi

Untuk memastikan oedema pada tungkai dan acietas.

4. Perkusi

Untuk memastikan hasil auskultasi apakah terjadi oedema pulmonar yang

apabila terjadi oedema pulmonary maka akan terdengar redup pada

perkusi.

E. Data Psikologis

Pasien biasanya mengalami kecemasan akibat perubahan body image,

perubahan peran baik dikeluarga maupun dimasyarakat. Pasien juga biasanya

merasa sudah tidak berharga lagi karena perubahan peran dan ketergantungan

pada orang lain.

F. Data Sosial

Pasien biasanya mengalami penurunan aktivitas sosial akibat penurunan

kondisi kesehatan dan larangan untuk melakukan aktivitas yang berat.

G. Data Penunjang

1. Rontgen foto dan USG yang akan memperlihatkan ginjal yang kecil dan

atropik

2. Laboratorium :

o BUN dan kreatinin, terjadi peningkatan ureum dan kreatinin dalam

darah.

o Elektrolit dalam darah : terjadi peningkatan kadar kalium dan

penurunan kalium.

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan pengeluaran urin,

diet berlebihan dan retensi air.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membram mukosa

mulut.

3. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penangananya

3.3 Perencanaan Keperawatan

DIAGNOSA

KEPERAWATAN

PERENCANAAN KEPERAWATAN

Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Kelebihan volume

cairan berhubungan

dengan penurunan

pengeluaran urin, diet

berlebihan dan retensi

air.

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan volume cairan tubuh

dapat normal kembali

Kriteria Hasil :

Volume cairan tubuh normal

kembali

1. Kaji status pasien

o Timbang berat badan tiap hari

o Keseimbangan masukan dan

keluaran

o Turgor kulit dan adanya oedema

o Tekanan darah, denyut nadi dan

irama nadi

2. Batasi masukan cairan

3. Bantu pasien dalam menghadapi

ketidaknyamanan akibat pembatasan

cairan

1. Pengkajian merupakan dasar dan

data dasar berkelanjutan untuk

memantau perubahan dan

mengevaluasi intervensi

2. Pembatasan cairan akan

menentukan berat tubuh ideal,

keluaran urin dan respon terhadap

terapi dan sumber kelebihan cairan

yang tidak diketahui dapat

diidentifikasi

3. Pemahaman meningkatkan

kerja sama pasien dan

keluarga dalam pembatasan

cairan.

2. Kekurangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan

anoreksia, mual, muntah,

pembatasan diet dan

perubahan membram mukosa

mulut.

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan nutrisi klien dapat

terpenuhi

Kriteria Hasil :

Nutrisi terpenuhi

Mual dan muntah teratasi

Program diet terlaksana

1. Kaji faktor berperan dalam merubah

masukan nutrisi

o Anoreksia, mual, muntah

o Diet yang tidak

menyenangkan bagi

pasien

o Depresi

o Kurang memahami

pembatasan diet

o Stomatis

2. Menyediakan makanan kesukaan

pasien dalam batas diet

1. Menyediakan informasi

mengenai faktor lain yang

dapat diubah atau dihilangkan

untuk meningkatkan masukan

diet.

2. Mendorong peningkatan

masukan diet.

3. Protein lengkap diberikan

untuk mencapai

keseimbangan nitrogen yang

diperlukan untuk

pertumbuhan dan

3. Tingkatkan masukan protein yang

mengandung nilai biologis tinggi,

telur, produk susu, daging

penyembuhan

3. Kurang pengetahuan tentang

kondisi dan penangananya

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan klien/keluarga

mampu memahami tentang kondisi

klien

Kriteria Hasil :

Klien maupun keluarga

mampu memahami tentang

kondisi klien

1. Bantu pasien untuk mengidentifikasi

cara-cara untuk memahami berbagai

perubahan akibat penyakit dan

penanganan yang mempengaruhi

hidupnya.

1. Pasien dapat melihat bahwa

kehidupannya tidak harus

berubah akibat penyakitnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Price dan Wilson. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit Edisi 2.

Jakarta : EGC, 1991.

2. UNPAD Bandung. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Perkemihan Bagi

Dosen Dan Instruktur Klinik Keperawatan. Bandung : UNPAD Bandung, 2000.