of 152 /152
TINGKAT PENGETAHUAN K3 (KESELAMATAN DAN KEAMANAN KERJA) MAHASISWA PENDIDIKAN KIMIA DI LABORATORIUM KIMIA Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh AGIA GHALBY NIM 1110016200049 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H/ 2015 M

TINGKAT PENGETAHUAN K3 (KESELAMATAN DAN KEAMANAN KERJA) MAHASISWA PENDIDIKAN KIMIA …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/52520... · 2020. 9. 25. · Kimia . dalam

  • Author
    others

  • View
    11

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of TINGKAT PENGETAHUAN K3 (KESELAMATAN DAN KEAMANAN KERJA) MAHASISWA PENDIDIKAN KIMIA...

  • TINGKAT PENGETAHUAN K3 (KESELAMATANDAN KEAMANAN KERJA) MAHASISWA

    PENDIDIKAN KIMIA DI LABORATORIUM KIMIA

    SkripsiDiajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

    untuk Memenuhi Salah Satu Syarat MemperolehGelar Sarjana Pendidikan

    Oleh

    AGIA GHALBYNIM 1110016200049

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIAJURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUANUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA1437 H/ 2015 M

  • i

    ABSTRAK

    Agia Ghalby (NIM: 1110016200049). Tingkat Pengetahuan K3 (Keselamatan dan

    Keamanan Kerja) Mahasiswa Pendidikan Kimia di Laboratorium Kimia.

    Mahasiswa, terutama mahasiswa program studi pendidikan kimia, diharapkanmemiliki standar minimum tertentu pengetahuan tentang K3 (Keselamatan danKeamanan Kerja). Karena standar minimum belum ditetapkan, pengetahuanmahasiswa tentang K3 sulit untuk dapat diketahui. Namun, mengetahuibagaimana mahasiswa memahami K3 penting untuk memastikan bahwamahasiswa melakukan kerja praktek mereka dengan cara yang selamat dan aman.Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuanmahasiswa tentang K3. Seratus delapan puluh tiga (183) mahasiswa program studiKimia Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN SyarifHidayatullah Jakarta, berpartisipasi dalam menjawab tes mengenai K3. Tes inidikembangkan berdasarkan tiga indikator K3, yaitu menyimpan, prosedur kerjaumum (penanganan), dan pembuangan zat kimia berbahaya. Berdasarkan analisisdata, ditemukan bahwa rata-rata mahasiswa memiliki pengetahuan yang kurangmenganai ketiga indikator K3 (38%). Secara rinci, pada indikator menyimpansebesar 33%, prosedur kerja umum sebesar 34%, dan yang terakhir padapembuangan zat kimia berbahaya yaitu sebesar 47%. Hasil yang didapat belumdapat menunjukkan pengetahuan umum mahasiswa mengenai K3, namun dapatmenjadi peringatan awal untuk menyadari pentingnya pengetahuan K3 bagimahasiswa ketika bereksperimen di laboratorium kimia. Berdasarkan hasil inidisarankan agar pengetahuan tentang K3 harus lebih intensif diberikan kepadamahasiswa karena pengetahuan tersebut sangat penting bagi para mahasiswauntuk bereksperimen dengan benar, sehat, dan aman di laboratorium kimia.

    Kata kunci: tingkat pengetahuan, K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja),

    pendidikan kimia.

  • ii

    ABSTRACT

    Agia Ghalby (NIM: 1110016200049). Knowledge on Chemical Laboratory

    Safety and Security (CSS) Among Undergraduate Students.

    Undergraduate students, particulalry those who sit in a department wherechemistry practical work is part of the curriculum, are expected to have certainminimum standard of knowledge on Chemical Laboratory Safety and Security(CSS). Since the minimum standard has not been established, students’knowledge on CSS is difficult to know. Yet, knowing how students understandCSS is important in order to ensure that students do their practical work in a safeand secure manner. The main purpose of this research is to identify knowledge ofstudents on CSS. One hundred eighty three (183) students of Department ofChemistry Education, Faculty of Tarbiya and Teaching Science SyarifHidayatullah State Islamic University, participated in answering a test on CSS.The test was developed based on three indicators of CSS, namely; storing, generalworking procedure, and substance disposal. Based on data analysis, it was foundthat on average students had insufficient knowledge on all three indicators (38%).In detail, items on storing indicator only answered by 33% of the students, onworking procedur by 34%, and the last on substance disposal by 47%. Whilst theresult did not yet indicate general knowledge of students on CSS, it can be aninitial alarm to realize the important of the knowledge for students to do chemistrylaboratory work. Based on this result it is suggested that knowledge on CSSshould be more intensively administered to the students since such knowledge iscritical for the students to work rightly, safely, and securely in a lab environment.

    Keywords: level of knowledge, Chemical Laboratory Safety and Security (CSS),

    chemistry education.

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang senantiasa

    menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya di setiap waktu, sehingga peneliti

    mampu menyelesaikan laporan penelitian yang berjudul “Tingkat Pengetahuan K3

    (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Mahasiswa Pendidikan Kimia” yang

    dilaksankan di Pendidikan Kimia FITK UIN syarif Hidayatullah Jakarta. Sholawat

    serat salam tercurahkan kepada akhirul anbiya baginda Rasulullah Muhammad

    SAW karena tuntunan beliaulah kita dapat memeluk indahnya Islam sebagai

    agama yang sempurna, penuh rahmat dan berkah.

    Sebuah karya yang sederhana ini tidak akan mampu peneliti selesaikan

    tanpa bantuan dan dukungan dari tangan-tangan Allah yang senantiasa

    memberikan dukungan, raasa optimis, semangat, dan kemudahan-kemudahan

    yang dibentangkan sehingga peneliti mampu melewatinya dengan baik. Oleh

    karena itu pada ruang yang terbatas, peneliti mengucapkan terimakasih yang tak-

    terbatas kepada:

    1. Prof. Dede Rosyada, MA., selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    beserta purek dan para stafnya

    2. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

    Keguruan beserta Pudek dan beserta para stafnya

    3. Baiq Hana Susanti, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA beserta para

    stafnya

    4. Burhanudin Milama, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia

    5. Iwan Setiawan, S.Pd., selaku Laboran Pendidikan Kimia yang telah

    memberikan dukungan, pengarahan serta bantuan yang semaksimal mungkin

    6. Salamah Agung, Ph.D. dan Luki Yunita, M.Pd., selaku pembimbing srikpsi

    yang telah membimbing dalam penulisan skripsi beserta Dosen-dosen di UIN

    lainnya (Iting Shofwati, MKKK., Dedi Irwandi, M.Si., Adi Riyadi, M.Si.,

  • iv

    Nanda Saridewi, M.Si., Burhanudin Milama, M.Pd., Tonih Feronika, M.Pd.,

    dan Evi Sapinatul Bahriah, M.Pd.)

    7. Orangtua serta keluarga besar yang senantiasa memberikan dukungan moril

    maupun materil yang terbaik untuk putrinya

    8. Sahabat-sahabat Pendidikan Kimia dalam ACE (14, 13 12, dan 11) yang

    telah memberikan dukungan dan semangat kebersamaan, terutama angkatan

    2010 yang saling memberi semangat berjuang bersama-sama dalam

    menyelesaikan penulisan skripsi

    9. Sahabat-sahabat Asisten Laboran Pendidikan Kimia yang telah memberikan

    dukungan dan semangat kebersamaan, terutama angkatan 2010 yang

    membantu dalam kelancaran proses maupun penulisan skirpsi

    10. Sahabat-sahabat di No.8; Epi Ipeh dan Ping Enjun yang saling memberikan

    semangat berjuang serta menghibur pribadi bersama-sama dalam

    menyelesaikan penulisan skripsi

    11. Serta seluruh pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

    Semoga Allah SWT membalas kebaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam

    penyusunan skripsi ini dengan limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga

    penelitin ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa

    Program Studi Pendidikan Kimia.

    Sebagai karya ilmiah, peneliti menyadari bahwa terdapat ketidak

    sempurnaan pada karya ini, maka dari itu peneliti memohon maaf atas segala

    kekurangan di dalamnya dan berharap karya ini dapat memberikan kontribusi bagi

    pengingkatan kualitas pendidikan. Amiin.

    Jakarta, 21 September 2015

    Agia Ghalby

    NIM. 1110016200049

  • v

    DAFTAR ISI

    ABSTRAK ...................................................................................................... i

    KATA PENGANTAR .................................................................................... iii

    DAFTAR ISI ................................................................................................... v

    DAFTAR TABEL ........................................................................................... vii

    DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii

    DAFATAR LAMPIRAN ................................................................................ ix

    BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

    B. Identifikasi Masalah ...................................................................... 4

    C. Pembatasan Masalah ..................................................................... 5

    D. Rumusan Masalah ......................................................................... 6

    E. Tujuan Penelitian .......................................................................... 6

    F. Manfaat Penelitian ........................................................................ 6

    BAB II KAJIAN TEORI ................................................................................. 8

    A. Deskripsi Teoritik .......................................................................... 8

    1. Pembelajaran Ilmu Kimia ....................................................... 8

    2. K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) ................................. 12

    B. Penelitian yang Relevan ................................................................ 32

    C. Kerangka Berpikir ......................................................................... 33

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 35

    A. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 35

    B. Metode dan Desain Penelitian ....................................................... 35

    C. Populasi dan Sampel ..................................................................... 36

    D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 37

    E. Instrumen Penelitian ..................................................................... 38

    F. Teknik Analisis Data ..................................................................... 47

    BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................ 50

    A. Temuan Penelitian ......................................................................... 50

    B. Pembahasan ................................................................................... 59

  • vi

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 64

    A. Kesimpulan ................................................................................... 64

    B. Saran .............................................................................................. 64

    DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 65

    LAMPIRAN-LAMPIRAN .............................................................................. 69

  • vii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1. Rancangan Penelitian ................................................................. 35

    Tabel 3.2. Sampel Penelitian ...................................................................... 37

    Tabel 3.3. Kisi-kisi Instrumen Tes Tertulis ................................................ 40

    Tabel 3.4. Kisi-kisi Instrumen Non-tes ....................................................... 47

    Tabel 4.1. Perincian Indikator Pembelajaran pada Standar (Kompetensi)

    K3 ............................................................................................... 50

    Tabel 4.2. Perincian Indikator Menentukan Penyimpanan Zat Kimia

    Berbahaya .................................................................................. 51

    Tabel 4.3. Perincian Indikator Menentukan Prosedur Kerja Umum

    (Penanganan) Zat Kimia Berbahaya .......................................... 53

    Tabel 4.4. Perincian Indikator Menentukan Pembuangan Zat Kimia

    Berbahya .................................................................................... 54

    Tabel 4.5. Perincian 21 Nomor Item Soal pada Standar (Kompetensi) K3 56

  • viii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1. Lambang Zat Kimia Racun Akut ............................................... 15

    Gambar 2.2. Lambang Zat Kimia Iritan .......................................................... 17

    Gambar 2.3. Lambang Zat Kimia Korosif ...................................................... 19

    Gambar 2.4. Lambang Zat Kimia Asfiksian ................................................... 21

    Gambar 2.5. Lambang Zat Kimia Karsinogen ................................................ 23

    Gambar 2.6. Lambang Zat Kimia Mudah Terbakar ........................................ 25

    Gambar 2.7. Lambang Zat Kimia Mudah Meledak ........................................ 28

    Gambar 2.8. Lambang Zat Kimia Reaktif ....................................................... 30

    Gambar 4.1. Grafik Perincian 21 Nomor Item Soal pada Standar

    (Kompetensi) K3 ........................................................................ 56

  • ix

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 Perhitungan dan Hasil Tes Tertulis ......................................... 69

    Lampiran 2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Tertulis ............................................. 78

    Lampiran 3 Instrumen Tes Tertulis ............................................................. 87

    Lampiran 4 Kisi-Kisi Instrumen Non-tes Wawancara ................................ 97

    Lampiran 5 Instrumen Non-tes wawancara ................................................ 99

    Lampiran 6 Perhitungan dan Hasil Uji Validitas Isi ................................... 103

    Lampiran 7 Perhitungan dan Hasil Uji Validitas Empirik .......................... 108

    Lampiran 8 Perhitungan dan Hasil Uji Reabilitas ...................................... 111

    Lampiran 9 Perhitungan dan Hasil Uji Daya Beda ..................................... 117

    Lampiran 10 Perhitungan dan Hasil Uji Tingkat Kesukaran ........................ 119

    Lampiran 11 Perhitungan dan Hasil 5 (Lima) Pilihan/ Alternatif yang

    Dipilih (Oleh Sampel) ............................................................. 120

    Lampiran 12 Data Zat Kimia yang Digunakan di Laboratorium Pendidikan

    Kimia ...................................................................................... 122

    Lampiran 13 Hasil Uji Validitas Konstruk ................................................... 127

    Lampiran 14 Surat Permohonan Izin Penelitian ........................................... 131

    Lampiran 15 Hasil Uji Referensi .................................................................. 132

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Ilmu kimia yang merupakan bagian dari kelompok ilmu pengetahuan

    alam yaitu merupakan ilmu yang berfokus pada pengetahuan tentang zat atau

    materi yang ada di alam, serta perubahan dari suatu zat atau materi tersebut.1 Hasil

    dari observasi di lembaga pendidikan menunjukkan bahwa ilmu kimia masih

    dianggap rumit yang dikarenakan seringkali ilmu kimia digambarkan sebagai ilmu

    yang mempelajari prosedur kerja yang rumit serta menggunakan zat berbahaya

    yang dikerjakan dan hanya dimengerti oleh profesor berjas putih di laboratorium.

    Dengan adanya gambaran seperti yang telah dipaparkan, maka mahasiswa akan

    terprogram di dalam dirinya bahwa ilmu kimia adalah ilmu yang sulit untuk

    dipelajari serta dipahami. Sehingga tidak ada keinginan/ ketertarikan dari

    mahasiswa untuk mempelajari maupun mengembangkan ilmu kimia lebih lanjut.

    Proses pembelajaran untuk ilmu kimia pada umumnya yaitu

    mengutamakan mahasiswa memperoleh pengalaman secara langsung yang dapat

    dilakukan dengan cara melakukan eksperimen.2 Pemberian pengalaman langsung

    mengenai ilmu kimia kepada mahasiswa akan memberikan jawaban, penjelasan,

    serta bukti yang masuk akal mengenai ilmu kimia yang tadinya dianggap sulit

    untuk dipahami oleh mahasiswa menjadi ilmu sangat menyenangkan. Proses

    eksperimen akan lebih tepat jika dilakukan di laboratorium kimia. Laboratorium

    kimia merupakan tempat yang dapat digunakan untuk melakukan proses

    pembelajaran ilmu kimia serta merupakan suatu tempat yang telah dilengkapi

    dengan sistem keamanan agar dapat difungsikan sebagai tempat yang aman untuk

    melakukan eksperimen.3 Hasil dari observasi dan wawancara di laboratorium

    1 Raymond Chang, Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti, jilid I, Terj. MuhamadAbdulkadir Martoprawiro, (Jakarta: Erlangga, 2005), Cet. 3, h. 3.

    2 Ralph H. Petrucci, dkk., Kimia Dasar: Prinsip-prinsip dan Aplikasi Modern, jilid I,Terj. Suminar Setiati Achmadi, (Jakarta: Erlangga, 2011), Cet. 9, h. 2.

    3 Tonih Feronika, Kinkin Suartini, dan Zulfiani, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta:Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 171.

  • 2

    pendidikan kimia menunjukkan bahwa proses eksperimen di laboratorium kimia

    tidak difungsikan secara optimal dalam pembelajaran ilmu kimia.

    Laboratorium kimia di program studi pendidikan kimia, selain berfungsi

    sebagai pembelajaran mengenai ilmu kimia juga berfungsi untuk menanamkan

    sikap kesadaran akan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) ketika

    bereksperimen di laboratorium kimia.4 Bagi mahasiswa di program studi

    pendidikan kimia wajib untuk mengetahui serta membudayakan K3 karena

    mahasiswa ini yang nantinya diharapkan akan menjadi pendidik (guru maupun

    laboran) ilmu kimia yang baik di pendidikan tingkat menengah, pekerja yang baik

    dibidang insdustri, maupun menjadi ilmuwan kimia. Membudayakan K3 yang

    dimaksudkan yaitu bertujuan agar selama-lamanya mahasiswa pendidikan kimia

    dapat melaksanakan kegiatan eksperimen yang baik dan benar di laboratorium

    kimia dalam mempelajari maupun mengembangkan ilmu kimia.

    Proses eksperimen yang dilakukan di laboratorium kimia dengan

    menggunakan zat kimia akan menghasilkan suatu pengetahuan yang bermanfaat

    (seperti obat-obatan) dan juga akan menghasilkan suatu bahaya terhadap manusia

    serta lingkungan hidup (seperti limbah beracun). Tidak satupun zat kimia yang

    digunakan pada eksperimen adalah aman bagi mahasiswa maupun lingkungan,

    maka eksperimen yang dilakukan harus sesuai dengan prosedur K3 agar dapat

    mencegah serta menangani bahaya dari zat kimia.5 Pembudayaan K3 juga sesuai

    dengan amanat Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan

    Bahan Berbahaya dan Beracun, Permendikbud RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang

    Standar Nasional Pendidikan Tinggi, serta standar pendidikan tinggi oleh AUN-

    QA (ASEAN University Network Quality Assurance) yang akan dicapai oleh UIN

    Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001

    menjelaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan bagian dari komisi B3 (Bahan

    Berbahaya dan Beracun), serta setiap orang yang bekerja dengan B3 wajib

    4 Lisa Moran, Keselamatan dan Keamanan Laboratorium Kimia, (Washington DC: TheNational Academies Press, 2010), h. 2-3.

    5 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, Pengelolaan dan Manajemen Laboratorium Kimia,(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 1.

  • 3

    membudayakan K3.6 Permendikbud RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar

    Nasional Pendidikan Tinggi menjelaskan bahwa sarana dan prasarana, serta

    proses penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat harus memenuhi standar

    (kompetensi) K3.7 Pada standar pendidikan tinggi oleh AUN-QA menjelaskan

    bahwa universitas harus membuat, mengimplementasikan dan menjamin

    keseragaman pemenuhan dengan kebijaksanaan riset diseluruh bagian di

    universitas demi mengutamakan integritas universitas, menjaga keselamatan dan

    kesejahteraan karyawan, subjek penelitian serta menjamin pemenuhan terhadap

    semua peraturan lain yang memerintah proses riset.8

    Hasil dari observasi dan wawancara di laboratorium pendidikan kimia

    menunjukkan bahwa masih banyak ditemukan eksperimen ilmu kimia yang masih

    tidak sesuai dengan dengan standar (kompetensi) K3, sehingga berakibat sering

    terjadinya kecelakaan kerja yang menyebabkan luka parah pada tubuh maupun

    kerusakan/ kehancuran sarana dan prasarana di laboratorium kimia. Beberapa

    alasan pelaksanaan eksperimen tanpa K3 yaitu tidak adanya kurikulum yang

    memaparkan mengenai aturan K3 di dalam program studi pendidikan kimia, tidak

    tersedianya sarana dan prasarana yang lengkap di laboratorium kimia, tidak

    adanya pengawasan serta penilaian dari pendidik (dosen maupun laboran) selama

    proses eksperimen berlangsung, waktu yang sangat terbatas untuk melakukan

    eksperimen di laboratorium kimia, serta tidak adanya pemahaman mengenai

    pentingnya K3 pada pembelajaran ilmu kimia.

    Pengetahuan mengenai K3 merupakan pengetahuan dasar yang harus

    dimiliki mahasiswa sebelum dan saat berekseperimen di laboratorium kimia.

    Maka, untuk dapat mengetahui penguasaan terhadap pengetahuan dasar yaitu

    perlu dilakukan penilaian terhadap hasil belajar mengenai pengetahuan dasar

    6 Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah RI No. 74 Tahun 2001 tentangPengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, 2015, h. 258, (http://jdih.menlh.go.id/).

    7 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Peraturan MenteriPendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional PendidikanTinggi, 2015, h. 22-27, (http://mwa.itb.ac.id/).

    8 ASEAN University Network Quality Assurance, AUN-QA Manual For TheImplementation Of The Guidelines, 2015, h. 80, (http://www.aunsec.org/).

  • 4

    tersebut.9 Sehingga dosen maupun laboran sebagai pendidik harus memberikan

    pembelajaran K3 kepada mahasiswa serta melakukan penilaian terhadap hasil dari

    pembelajaran K3 mahasiswa sebelum mahasiswa bereksperimen di laboratorium

    kimia. Penilaian awal yang harus dilakukan yaitu terhadap tingkat pengetahuan

    (kognitif) mahasiswa karena hasil dari tingkat pengetahuan akan sangat

    berpengaruh terhadap hasil dari tingkatan sikap (afektif) serta tingkatan

    keterampilan (psikomotor) yang dimiliki mahasiswa.10 Penilaian awal terhadap

    tingkat pengetahuan (kognitif) mahasiswa juga perlu dilakukan, karena sebelum

    sampai kepada tingkat penerapan (mengaplikasikan) pada tingkatan dimensi

    pengetahuan (kognitif) utama pada revisi taksonomi Bloom, harus melewati

    tingkatan dimensi pengingatan serta pemahaman, sehingga tingkat pengingatan

    dari pengetahuan K3 akan sangat mempengaruhi hasil dari tingkatan penerapan

    (mengaplikasikan) K3 mahasiswa di laboratorium kimia. Pada proses penilaian

    untuk mengetahui tingkat pengingatan dari pengetahuan, diperlukan proses

    pengukuran yang kemudian dinilai dengan menggunkan instrumen tes dan non-

    tes.11 Maka, pada kesempatan kali ini peneliti mencoba melakukan penelitian

    untuk mengetahui tingkat pengetahuan (kognitif) K3 pada mahasiswa pendidikan

    kimia pada tingkat perguruan tinggi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehingga

    peneliti mengambil judul “Tingkat Pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan

    Kerja) Mahasiswa Pendidikan Kimia di Laboratorium Kimia”.

    B. Identifikasi Masalah

    Sesuai dengan latar belakang maslah yang telah diuraikan, maka dapat

    diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:

    1. pada saat mempelajari ilmu kimia peserta didik peserta didik akan

    menggunakan zat kimia yang dapat membahayakan dirinya beserta

    lingkungannya

    9 Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, dan Burhanuddin Milama, Evaluasi PembelajaranIPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 14.

    10 Siti Suryani, “Hubungan Kemampuan Ranah Kognitif dengan Kemampuan RanahPsikomotorik Pada Bidang Studi Biologi: Studi Kasus Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Ciputat”,Skripsi pada UIN Jakarta, Jakarta, 2006, h. 50, tidak dipublikasikan.

    11 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: RemajaRosdakarya, 2010), Cet. 14, h. 5.

  • 5

    2. proses eksperimen dengan zat kimia yang dilakukan di laboratorium

    kimia tanpa pengetahuan serta penerapan K3 akan membahayakan

    manusia serta lingkungan hidup

    3. pembelajaran K3 tidak menjadi fokus pada pembelajaran ilmu kimia oleh

    pendidik, sehingga sering terjadi kecelakaan kerja serta pencemaran

    lingkungan oleh mahasiswa pada saat melakukan eksperimen di

    laboratorium kimia.

    C. Pembatasan Masalah

    Untuk menghindari kesalahpahaman dan meluasnya masalah, maka perlu

    adanya pembatasan masalah sebagai berikut:

    1. pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di laboratorium

    kimia yaitu pengetahuan mengenai menentukan cara atau teknik

    pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia berbahaya di

    laboratorium kimia. Pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia

    berbahaya meliputi penyimpanan, pembuangan, dan prosedur kerja

    umum (penanganan) terhadap zat kimia berbahaya

    2. zat kimia berbahaya yaitu zat kimia yang memiliki sifat racun (racun

    akut, iritan, korosif, asfiksian, dan karsinogen), zat kimia yang memiliki

    sifat mudah terbakar, mudah meledak, dan reaktif

    3. tingkat pengetahuan yang digunakan yaitu berdasarkan pada 5 (lima)

    kategori tingkat kualitas Suharsimi Arikunto; sangat kurang (0 – 20 %),

    kurang (21 – 40 %), cukup (41 – 60 %), baik (61 – 80 %), sangat baik

    (81 – 100 %). Prosentase diperoleh dari perhitungan penilaian acuan

    patokan (0 – 100%)12

    4. instrumen tes yang digunakan untuk menilai berupa soal objektif dengan

    pilihan berganda (lima pilihan). Instrumen non-tes yang digunakan

    berupa lembar pedoman wawancara (yang terstruktur)

    5. mahasiswa yang menjadi sampel penelitian yaitu mahasiswa pendidikan

    kimia tingkat I, II, dan III di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

    12 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, op. cit., h. 271-272.

  • 6

    (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun

    2015.

    D. Rumusan Masalah

    Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan,

    maka perumusan masalah pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagau berikut:

    “Bagaimana tingkat pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di

    laboratorium kimia yang dimiliki mahasiswa pendidikan kimia di FITK UIN

    Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2015”.

    E. Tujuan Penelitian

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi serta

    mengetahui kualitas dari tingkat pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan

    Kerja) di Laboratorium Kimia yang dimiliki oleh mahasiswa pendidikan kimia di

    FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2015.

    F. Manfaat penelitian

    Dengan dilaksakannya penelitian ini, maka manfaat yang diharapkan

    adalah sebagai berikut:

    1. Bagi Mahasiswa Pendidikan Kimia

    Mengetahui tingkatan pengetahuan K3 yang dimilikinya, sehingga

    dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam mengevaluasi pengetahuan

    ilmu kimia yang telah dimilikinya terutama pada pengetahuan K3 untuk

    bereksperimen di laboratorium kimia

    2. Bagi Pendidik (Dosen atau Laboran) di Program Studi Pendidikan Kimia

    Mengetahui tingkat pengetahuan K3 yang dimiliki oleh mahasiswa

    pendidikan kimia, sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam

    mengevaluasi program pembelajaran ilmu kimia yang telah dilaksanakan

    (dengan cara melakukan eksperimen di laboratorium kimia)

    3. Bagi Program Studi Pendidikan Kimia

    Mengetahui kualitas dari pembelajaran ilmu kimia (yang diberikan

    dengan cara melakukan eksperimen di laboratorium kimia), sehingga dapat

    digunakan sebagai pertimbangan dalam mengevaluasi sistem, sarana dan

    prasarana laboratorium kimia di program studi pendidikan kimia

  • 7

    4. Bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Mengetahui kualitas serta kemampuan dari lulusan mahasiswa

    program studi pendidikan kimia FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

    sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam mengevaluasi

    kurikulum agar dapat terus meningkatkan kualitas lulusannya.

  • 8

    BAB II

    KAJIAN TEORI

    A. Deskripsi Teoritik

    Deskripsi teoritik berisikan teori-teori mengenai pembelajaran ilmu

    kimia, dan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di Labaoratorium Kimia.

    Berikut perinciannya:

    1. Pembelajaran Ilmu Kimia

    Pembelajaran merupakan salah satu cara untuk mewujudkan tujuan

    pendidikan secara nasional. Maka pembelajaran mengenai ilmu kimia juga

    merupakan suatu usaha untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan secara

    nasional yang dilakukan dengan terencana dan telah diatur didalam

    kurikulum. Tujuan pendidikan secara nasional yaitu mengembangkan

    kemampuan peserta didik terhadap ketaatan beragama, mengendalikan diri,

    kecerdasan, berprilaku mulia, keterampilan yang dibutuhkan untuk peserta

    didik, masayarakat, bangsa, dan negara.1

    Pembelajaran ilmu kimia merupakan bagian dari pembelajaran ilmu

    pengetahuan alam. Pembelajaran ilmu kimia pada dasarnya diberikan pada

    pendidikan secara formal maupun non-formal di Indonesia mulai dari tingkat

    dasar, menengah dan hingga pendidikan tinggi yang tentunya disesuaikan

    dengan kurikulum pada masing-masing tingkat pendidikan. Kurikulum

    merupakan pedoman yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan

    pembelajaran agar mencapai tujuan pendidikan yang disesuaikan dengan

    jenjang pendidikan (pendidikan dasar, menengah, dan tinggi) masing-

    masing.2 Kurikulum pada umumnya terdapat tujuan, isi, materi, dan cara yang

    digunakan untuk pembelajaran agar pendidik lebih terarah dalam memberikan

    proses pembelajaran ilmu kimia kepada peserta didik.

    1 Direktoral Jendral Pendidikan Islam, Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RItentang Pendidikan, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2006), h. 5.

    2 H. A. R. Tilaar, Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis, (Jakarta:Rineka Cipta, 2006), h. 79.

  • 9

    Pada proses pembelajaran ilmu kimia yang dilaksanakan pada hari

    dan waktu yang terbatas, maka pendidik harus membuat tujuan instruksional.

    Tujuan instruksional merupakan tujuan yang ditentukan oleh pendidik agar

    mengarahkan proses pembelajaran serta penilaian terhadap hasil dari

    pembelajaran (ilmu kimia) yang telah dilakukan.3 Tujuan instruksional juga

    lebih dikenal dengan sebutan indikator pembelajaran. Setelah menentukan

    tujuan instruksional pada pembelajaran, kemudian dilajutkan dengan

    melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar, hal ini dikarenakan

    proses pembelajaran mempunyai 3 (tiga) pokok kegiatan yang saling

    berhubungan.4 Hasil dari pengukuran serta penilaian terhadap tujuan

    instruksional tersebut akan mengindikasikan kemampuan-kemampuan yang

    telah diwujudkan peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran ilmu

    kimia yang telah dilakukan oleh pendidik. Namun tidak mudah bagi seorang

    pendidik untuk menentukan indikator-indikator yang harus dikuasai peserta

    didik dengan memperhatikan segala faktor yang ada.

    Ilmu kimia yang merupakan bagian dari kelompok ilmu pengetahuan

    alam memerlukan proses pembelajaran yang mengutamakan peserta didiik

    memperoleh pengalaman secara langsung yang dapat dilakukan dengan cara

    melakukan eksperimen.5 Pemberian pengalaman langsung mengenai ilmu

    kimia kepada mahasiswa akan memberikan jawaban, penjelasan, serta bukti

    yang masuk akal mengenai zat atau materi yang ada di alam, serta perubahan

    dari suatu zat atau materi tersebut. Metode pembelajaran menggunakan

    eksperimen yaitu suatu teknik yang digunakan pada proses pembelajaran

    dengan cara melakukan percobaan secara langsung mengenai suatu materi

    pembelajaran.6 Sehingga metode eksperimen sangat tepat jika digunakan

    3 M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip & Oprasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara,2009), Cet. 3, h. 71.

    4 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. RemajaRosdakarya, 2010), Cet. 14, h. 2.

    5 Ralph H. Petrucci, dkk., Kimia Dasar: Prinsip-prinsip dan Aplikasi Modern, jilid I,Terj. Suminar Setiati Achmadi, (Jakarta: Erlangga, 2011), Cet. 9, h. 2.

    6 Tonih Feronika, Kinkin Suartini, dan Zulfiani, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta:Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 104.

  • 10

    untuk pembelajaran ilmu kimia. Pemilihan serta penggunaan metode

    eksperimen dalam pembelajaran kimia dikarenakan pertimbangan kelebihan

    serta kekurangan yang ada pada metode eksperimen.7 Kelebihan metode

    eksperimen yaitu:

    a. dapat memberikan pembelajaran langsung kepada peserta didik yang

    merupakan inti dari pembelajaran ilmu pengetahuan alam

    b. dapat dipadukan dengan pendekatan proses serta model

    pembelajaran inquri

    c. dapat melatih peserta didik dalam mengembangkan kegiatan limiah

    d. dapat mengkonstruk pembelajaran peserta didik

    e. dapat menilai tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang

    dimiliki peserta didik.

    Kelemahan yang ada pada metode eksperimen yaitu:

    a. terdapat percobaan yang memerlukan waktu yang lama

    b. terkadang memerlukan alat dan bahan yang sukar ditemukan dan

    berharga tinggi

    c. pendidik maupun peserta didik harus memiliki pengetahuan dasar

    K3 serta tujuan pembelajaran sebelum melakukan percobaan

    d. terdapat percobaan yang harus dilakukan di laboratorium sebagai

    tempat yang lebih aman pada saat melakukan percobaan.

    Setelah dilakukannya pembelajaran mengenai ilmu kimia, maka

    terdapat 3 (tiga) kemungkinan hasil dari suatu proses pembelajaran ilmu

    kimia yang diberikan kepada peserta didik oleh pendidik. 3 (tiga)

    kemungkinan itu berupa: a. peserta didik tidak memiliki pengetahuan (ilmu

    kimia), b. peserta didik hanya mampu menghafal/ mengingat pengetahuan

    (ilmu kimia), dan c. peserta didik mampu menghafal serta memahami

    pengetahuan (ilmu kimia) dari hasil pembelajaran (ilmu kimia) yang telah

    diberikan oleh pendidik.8 Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil

    7 Ibid., h. 104-105.8 Lorin W. Anderson, Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan

    Asesmen Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom, Terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta: PustakaPelajar, 2010), h. 95.

  • 11

    dari pembelajaran yaitu faktor dari dalam peserta didik, faktor dari luar

    peserta didik, dan faktor kurikulum pembelajaran.9 Berikut perinciannya:

    a. Faktor dari dalam peserta didik

    Faktor dari dalam peserta didik merupakan keadaan dari jasmani

    dan rohani yang dimiliki peserta didik. Faktor-faktor yang berasal dari

    dalam peserta didik yang dapat mempengaruhi hasil pembelajaran yaitu

    berupa nutrisi yang dikonsumsi oleh peserta didik, penyakit yang sering

    dijangkit oleh peserta didik, keadaan panca indra yang dimiliki oleh

    peserta didik, tingkat kecerdasan bawaan peserta didik, minat, bakat,

    motivasi, kesiapan dan kematangan.10

    b. Faktor dari luar peserta didik

    Faktor dari luar peserta didik merupakan keadaan di sekitar

    lingkungan peserta didik. Faktor-faktor yang berasal dari luar peserta

    didik yang dapat mempengaruhi hasil pembelajaran yaitu berupa

    keadaan cuaca, waktu belajar, tempat belajar, alat tulis, alat peraga,

    media pembelajaran, lingkungan sosial di masyarakat, sekolah, dan

    keluarga.11

    c. Faktor kurikulum pembelajaran

    Kurikulum pembelajaran merupakan seperangkat perencanaan

    serta pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan ajar, dan cara yang

    digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran.12 Maka

    faktor-faktor yang berasal dari kurikulum pembelajaran yaitu berupa

    indikator pembelajaran (tujuan pembelajaran) yang ditentukan, strategi

    pembelajaran (metode dan pendekatan pembelajaran) yang digunakan,

    teknik serta instrumen penilaian yang digunakan untuk menilai hasil dari

    pembelajaran.

    9 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendetakan Baru, (Bandung: PTRemaja Rosdakarya, 2010), Cet. 15, h. 129.

    10 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,2010), Cet. 5, h. 54-60.

    11 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pres, 2010), h. 233-234.12 Direktoral Jendral Pendidikan Islam, op. cit., h. 7.

  • 12

    2. K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di Laboratorium Kimia

    Pada umumnya laboratoium kimia merupakan suatu tempat yang

    digunakan untuk melakukan eksperimen, namun laboratorum kimia memiliki

    fungsi bukan hanya sekedar tempat bereksperimen. Laboratorium kimia

    memiliki beberpa fungsi yaitu tempat untuk melakukan pembelajaran ilmu

    kimia, tempat untuk melakukan percobaan/ pembuktian terhadap

    pembelajaran ilmu kimia, tempat melakukan riset/ penemuan ilmu kimia, dan

    sebagai tempat untuk penyimpanan seperti museum kecil.13 Pada umumnya

    laboratorium kimia digunakan untuk bereksperimen karena laboratorium

    kimia merupakan suatu tempat yang telah dilengkapi dengan sistem

    keamanan agar dapat difungsikan sebagai tempat yang aman untuk

    melakukan eksperimen. Untuk mengoptimalkan fungsi laboratorium kimia

    sebagai tempat untuk bereksperimen maka perlu memperhatikan beberapa

    item yang ada pada laboratorium kimia. Item-item yang perlu diperhatikan

    meliputi tata usaha, tata bangunan, tata ruang, tata tertib, sistem perlindungan,

    sistem penanganan, keterampilan SDM, serta infrastruktur yang sangat

    diperlukan untuk laboratorium kimia.14

    Sebelum pendidik maupun peserta didik melakukan proses

    pembelajaran dengan melakukan eksperimen di laboratorium kimia, pendidik

    maupun peserta didik harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan dasar

    mengenai K3. Proses eksperimen yang dilakukan di laboratorium kimia

    dengan menggunakan zat kimia akan menghasilkan suatu pengetahuan yang

    bermanfaat dan juga akan menghasilkan suatu bahaya terhadap manusia serta

    lingkungan hidup. Tidak satupun zat kimia yang digunakan pada eksperimen

    adalah aman bagi mahasiswa maupun lingkungan, maka eksperimen yang

    dilakukan harus sesuai dengan prosedur K3 agar dapat mencegah serta

    menangani bahaya dari zat kimia berbahaya.15

    13 Feronika, op. cit., h. 166.14 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, Pengelolaan dan Manajemen Laboratorium Kimia,

    (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 2.15 Ibid., h. 1.

  • 13

    Keselamatan kerja di laboratorium dengan keamanan kerja di

    laboratorium kimia hampir tidak dapat dibedakan spesifikasi tindakan yang

    berkategorikan keselamatan kerja maupun keamanan kerja karena keduanya

    mempunyai tujuan yang saling erat berkaitan. Ketika seseorang bekerja

    dengan zat kimia secara tepat maka ia akan selamat dan juga aman begitupun

    sebaliknya. Jika zat kimia tidak digunakan dan diperlakukan dengan benar,

    maka dapat membahayakan keselamatan dan juga mengancam keamanan

    karena setiap zat kimia memiliki bahaya keselamatan serta keamanannya

    masing-masing. Didalam satu zat kimia dapat memiliki beberapa bahaya

    keselamatan maupun bahaya keamanan pada kondisi maupun keadaan yang

    tidak dapat diketahui dengan mudah dan yang tidak terduga, maka dari itu

    diperlukan merencanakan kegiatan di laboratorium kimia dengan optimal.

    Keselamatan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

    mempunyai makna yaitu adalah keadaan selamat. Kata selamat mempunyai

    arti yaitu terbebas atau terhindar dari bahaya, bencana dan malapetaka, tidak

    kurang suatu apa, dan tidak mendapat gangguan atau kerusakan.16 Keamanan

    di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti yaitu

    keadaan aman. Kata aman mempunyai arti yaitu bebas dari bahaya, bebas dari

    gangguan, terlindungi dan tentram.17 Kata selamat juga diartikan sebagai

    aman dan terhindar dari celaka.18 Maka yang dimaksud dengan keselamatan

    dan keamanan kerja di laboratorium kimia menurut bahasa yaitu merupakan

    segala upaya agar kegiatan yang dilakukan di laboratorium selalu dalam

    keadaan bebas dari bahaya.

    Agar dapat bereksperimen secara selamat dan aman di dalam

    laboratorium kimia maka selain memiliki pengetahuan ilmu kimia juga harus

    memiliki pengetahuan K3 pada pembelajaran kimia dengan cara

    bereksperimen di laboratorium kimia. Pengetahuan K3 yang harus dimiliki

    16 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: BalaiPustaka, 2007), Cet. 4, h. 46-47.

    17 Bahasa, op. cit., h. 1017.18 Adi Riyadhi, dkk., Panduan Praktikum Kimia Dasar, (Jakarta: UIN Jakarta Press,

    2006), h. 1.

  • 14

    berupa cara atau teknik pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia

    berbahaya.19 Pengetahuan mengenai cara atau teknik pengelolaan serta

    penanganan yaitu meliputi pembelian, penyimpanan, inventaris, penanganan,

    pengiriman, dan pembuangan terhadap zat kimia berbahaya.20 Pada

    pengetahuan akan pembelian, inventaris, serta pengiriman hanya dapat

    dilakukan oleh pemilik instansi pendidikan, maka pengetahuan mengenai

    pengelolaan serta penanganan yang harus dimiliki oleh mahasiswa

    pendidikan kimia yaitu meliputi penyimpanan, pembuangan, dan prosedur

    kerja umum (penanganan) terhadap zat kimia berbahaya karena agar dapat

    melaksanakan kegiatan eksperimen yang baik dan benar di laboratorium

    kimia dalam mempelajari maupun mengembangkan ilmu kimia. Jenis zat

    kimia berbahaya yang ada di laboratorium kimia berupa zat kimia yang

    memiliki sifat racun, mudah terbakar, mudah meledak, reaktif, bahaya fisik,

    dan bahaya hayati.21 Namun pada laboratorium kimia, keselamatan dan

    keamanan di laboratorium pendidikan kimia lebih sering terganggu oleh

    bahaya dari zat kimia yang memiliki sifat racun, mudah terbakar, mudah

    meledak, dan reaktif serta jarang terdapat bahaya fisik dan bahaya hayati,

    maka pengetahuan mengenai zat kimia berbahaya yang harus dimiliki oleh

    mahasiswa pendidikan kimia yaitu meliputi zat kimia yang memiliki sifat

    racun, dan zat kimia yang memiliki sifat mudah terbakar, mudah meledak,

    serta reaktif. Berikut perinciannya:

    a. Zat kimia yang memiliki sifat racun

    Zat kimia yang memiliki sifat racun akan sangat berpengaruh

    langsung terhadap keselamatan dan keamanan peserta didik ketika

    melakukan eksperimen yang menggunakan zat tersebut. Maka diperlukan

    pengetahuan mengenai sifat serta karakter zat kimia beracun yang

    digunakan, cara masuk zat kimia tersebut ke dalam tubuh, dan reaksinya

    terhadap tubuh agar dapat dilakukan tindakan pencegahan serta

    19 Lisa Moran, Keselamatan dan Keamanan Laboratorium Kimia, (Washington DC:The National Academies Press, 2010), h. v.

    20 Ibid., h. 23.21 Ibid., h. 5.

  • 15

    penanganan terhadap bahaya zat tersebut.22 Beberapa jenis bahaya racun

    dari zat kimia berbahaya yang ada di laboratorium yaitu: racun akut,

    racun terhadap organ hati, racun terhadap organ ginjal, dan racun

    terhadap organ paru-paru, iritan, korosif, alergen dan pemeka, asfiksian,

    neurotoksin, toksin reproduktif dan perkembangan janin, dan

    karsinogen.23 Namun jenis bahaya racun dari zat kimia berbahaya yang

    sering mengganggu keselamatan dan keamanan di laboratorium

    pendidikan kimia yaitu racun akut, iritan, korosif, asfiksian, dan

    karsinogen. Berikut perinciannya:

    1) Racun akut

    Zat kimia yang memiliki sifat racun akut yaitu zat kimia

    yang dapat memberikan efek sakit pada pada sebagian tubuh atau

    seluruh tubuh hingga kematian secara mendadak (≤ 24 jam jika

    melalui kulit dan saluran cerna, (≤ 4 jam jika melalui hirupan) ketika

    terpapar zat kimia tersebut.24 Zat kimia yang memiliki sifat racun

    akut dalam wadah berkemasan memiliki lambang tulang menyilang

    dengan tengkorak kepala di atasnya.25 Berikut gambar untuk

    lambang yang memiliki sifat racun akut:

    Gambar 2.1. Lambang Zat Kimia Racun Akut

    22 Ridley, op. cit., h. 123.23 Moran, op. cit., h. 5-6.24 United Nations, Globally Harmonized System of Classification and Labelling of

    Chemicals (GHS), (New York and Geneva: United Nations, 2011), Cet. 4, h. 109.25 UCLA, Laboratory Safety Manual, (California: Office of Enviromental, Health and

    Safety, 2011), h. (2-5).

  • 16

    Contoh zat kimia yang memiliki sifat racun akut yang ada

    di dalam laboratorium yaitu raksa dan klorin.26 Pengetahuan

    mengenai pengelolaan serta penanganan zat kimia yang memiliki

    sifat racun akut untuk zat mercury atau raksa dengan rumus kimia

    Hg, yaitu:

    a) zat Hg di dalam laboratorium tidak digunakan sebagai

    reagen percobaan, namun zat Hg berada di dalam

    termometer yang digunakan untuk pengukuran suhu hingga

    200 ºC. Maka, termometer yang berisikan zat Hg tersebutdisimpan di wadah anti-pecah berlapis (2 lapis) pada lemari

    khusus, dan aman.27

    b) menghindarkan zat Hg (pada penyimpanan, saat bekerja,

    tumpahan maupun limbah) dari zat yang reaktif terhadap zat

    Hg. Zat yang reaktif terhadap zat Hg yaitu zat pengoksidasi,

    dan amonia.28

    c) jika akan bekerja dengan termometer yang berisikan zat Hg,

    maka harus membaca informasi mengenai zat Hg serta

    menggunakan alat perlindungan diri yang tepat

    d) jika zat Hg tertumpah (keluar dari termometer), maka

    segera memberi tanda peringatan disekitar tumpahan dan

    segera memberitahu laboran (karena hanya ditangani oleh

    ahli). Upaya penanganannya berupa menberikan campuran

    belerang dan soda kering pada tumpahan.29

    e) jika zat Hg masuk kedalam tubuh, maka berikan

    pertolongan pertama pada bazgian tubuh yang terpapar zat

    26 Moran, op. cit., h. 80.27 Steven Leath, Laboratory Safety Manual, (A.S.: Iowa State University, 2013), Cet. 2,

    h. 21.28 Nancy A. Nord, School Chemistry Laboratory Guide, (Columbia: Department of

    Health and Human Services, 2006), h. 45.29 Adi Riyadhi, dkk., op. cit., h. 3.

  • 17

    Hg dengan segera.30 Jika masuk melalui kulit maupun mata,

    maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama 15

    menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan

    maupun pernapasan), maka diberikan (pengurasan

    lambung) obat cuci perut atau air minum, kemudian segera

    periksakan diri ke dokter agar mendapatkan antidot (anti-

    racun) yang tepat.

    f) pembuangan limbah maupun tumpahan zat Hg yaitu

    dikumpulkan dalam wadah khusus zat Hg sebelum di olah

    (dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli.31

    2. Iritan

    Zat kimia yang memiliki sifat iritan yaitu zat kimia yang

    dapat menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh yang terpapar zat

    kimia, namun bersifat sementara.32 Sehingga kerusakan tersebut

    dapat pulih kembali. Zat kimia iritan dalam wadah berkemasan

    memiliki lambang tanda seru.33 Berikut gambar untuk lambang zat

    kimia iritan:

    Gambar 2.2. Lambang Zat Kimia Iritan

    Contoh dari zat kimia iritan di dalam laboratorium

    sangatlah banyak. Zat tersebut lebih sering dianggap tidak berbahaya

    ketika masuk ke dalam tubuh dengan jumlah yang sedikit walaupun

    zat tersebut memiliki konsentrasi yang pekat. Salah satu contoh zat

    30 Sartono, Racun dan Keracunan, (Jakarta: Widya Medika, 2001), h. 216..31 Feronika, op. cit., h. 181.32 World Health Organization, Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan

    Lingkungan, Terj. Palupi Widyastuti, (Jakarta: EGC, 2005), h. 39.33 Moran, op. cit., h. 194.

  • 18

    kimia yang memiliki sifat iritan yang ada di dalam laboratorium

    yaitu ZnSO4.34 Pengetahuan mengenai pengelolaan serta penanganan

    zat kimia iritan untuk zat zinc sulfate atau seng sulfat dengan rumus

    kimia ZnSO4, yaitu:

    a) jika menyimpan zat ZnSO4, maka di dalam wadah tertutup

    rapat, pada lemari penyimpanan khusus zat kimia iritan

    yang bersuhu rendah, berventilasi baik, serta hindarkan dari

    semua faktor yang dapat menyebabkan zat ZnSO4 reaktif.35

    b) jika akan bekerja dengan zat ZnSO4, maka harus membaca

    informasi mengenai zat ZnSO4 serta menggunakan alat

    perlindungan diri yang tepat

    c) jika zat ZnSO4 tertumpah, maka berikan air (pegenceran)

    pada tumpahan, kemudian serap tumpahan dengan pasir.36

    d) jika zat ZnSO4 masuk ke dalam tubuh, maka berikan

    pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat

    ZnSO4 dengan segera.37 Jika masuk melalui kulit maupun

    mata, maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama

    15 menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan

    maupun pernapasan), maka diberikan obat penurun demam

    atau panas, kemudian segera periksakan diri ke dokter agar

    mendapatkan antidot (anti-racun) yang tepat.

    e) pembuangan limbah maupun tumpahan zat ZnSO4 yaitu

    dikumpulkan dalam wadah khusus zat ZnSO4 sebelum di

    olah (dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli atau

    dapat langsung dibuang di saluran pembuangan air

    (drainase).38

    34 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Zinc Sulfate, 0.05M MSDS, 2015, h. 1,(https://www.sciencelab.com/).

    35 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 14.36 Science Lab, op. cit., h. 2.37 Sartono, op. cit., h. 210.38 Moran, op. cit., h. 173-174.

  • 19

    2) Korosif

    Zat kimia yang memiliki sifat korosif zat kimia yang dapat

    menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh yang terpapar zat kimia

    yang bersifat permanen.39 Zat kimia korosif utamanya merupakan zat

    kimia yang dapat menghancurkan logam ketika zat tersebut bereaksi

    dengan logam dan juga dapat merusak bagian tubuh ketika zat

    tersebut mengenai bagian tubuh. Zat kimia korosif dalam wadah

    berkemasan memiliki lambang batang logam dan organ tangan yang

    rusak akibat tumpahan zat kimia.40 Berikut gambar untuk lambang

    zat kimia korosif:

    Gambar 2.3. Lambang Zat Kimia Korosif

    Contoh zat kimia korosif di dalam laboratorium yaitu

    H2SO4, HNO3, HCl, Ca(OH)2 dan NaOH.41 Pengetahuan mengenai

    pengelolaan serta penanganan zat kimia korosif untuk zat sodium

    hydroxide atau natrium hidroksida dengan rumus kiimia NaOH,

    yaitu:

    a) jika menyimpan zat NaOH, maka di dalam wadah tertutup

    rapat, pada lemari penyimpanan khusus zat kimia korosif

    yang bersuhu rendah, berventilasi baik, serta hindarkan dari

    semua faktor yang dapat menyebabkan zat NaOH reaktif.42

    b) menghindarkan zat NaOH (pada penyimpanan, saat bekerja,

    tumpahan maupun limbah) dari zat yang reaktif terhadap zat

    39 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, Teknik Laboratorium Kimia Organik,(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 105.

    40 United Nations, op. cit., h. 29.41 Achadi Budi Cahyono, Keselamatan Kerja Bahan Kimia Di Industri, (Yogyakarta:

    Gadjah Mada University Press, 2010), Cet. 2, h. 12.42 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, op. cit., h. 112.

  • 20

    NaOH. Zat yang reaktif terhadap zat NaOH yaitu aldehid,

    alkohol, benzen, H2O2, H2, dan Zn.43

    c) jika akan bekerja dengan zat NaOH, maka harus membaca

    informasi mengenai zat NaOH serta menggunakan alat

    perlindungan diri yang tepat

    d) jika zat NaOH tertumpah, maka berikan air (pengenceran)

    pada tumpahan, kemudian serap tumpahan dengan kain atau

    pasir.44

    e) jika zat NaOH masuk kedalam tubuh, maka berikan

    pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat

    NaOH dengan segera.45 Jika masuk melalui kulit maupun

    mata, maka bilas dengan larutan garam yang mengalir

    selama 15 menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran

    pencernaan maupun pernapasan), maka diberikan air minum

    atau susu, kemudian segera periksakan diri ke dokter agar

    mendapatkan antidot (anti-racun) yang tepat.

    f) pembuangan limbah maupun tumpahan zat NaOH yaitu

    dikumpulkan dalam wadah khusus zat NaOH sebelum di

    olah (dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli atau

    dapat langsung dibuang (setelah pengenceran serta

    penetralan) di saluran pembuangan air (drainase).46

    3) Asfiksian

    Zat kimia yang memiliki sifat asfiksian yaitu zat kimia yang

    mampu menggantikan dan mengurangi kadar O2 di dalam darah.47

    Zat kimia asfiksian dalam wadah berkemasan memiliki lambang

    43 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Sodium Hydroxide MSDS, 2015, h. 2-3,(https://www.sciencelab.com/).

    44 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 47.45 Sartono, op. cit., h. 228-229.46 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, loc. cit.47 Ridley, op. cit., h. 132.

  • 21

    setengah badan orang hitam dengan gambar bintang putih di bagian

    tengahnya.48 Berikut gambar untuk lambang zat kimia asfiksian:

    Gambar 2.4. Lambang Zat Kimia Asfiksian

    Contoh zat kimia asfiksian di dalam laboratorium yaitu

    metana, propana, dan CO.49 Informasi mengenai bahaya zat kimia

    hepatotoksikan untuk zat propane atau propana dengan rumus kimia

    C3H8, yaitu:

    a) zat C3H8 di dalam laboratorium tidak digunakan sebagai

    reagen percobaan, namun zat C3H8 berada di dalam wadah

    (tabung LPG) yang digunakan untuk menghasilkan api pada

    pembakar bunsen. Maka, wadah (tabung LPG) yang

    berisikan zat C3H8 tersebut disimpan dengan katup atau

    regulator tertutup pada lemari khusus gas mudah terbakar

    yang bersuhu rendah, dan berventilasi baik serta hindarkan

    dari semua faktor yang dapat menyebabkan zat C3H8

    reaktif.50

    b) menghindarkan zat C3H8 (pada penyimpanan, saat bekerja,

    tumpah/ bocor maupun limbah tabung) dari zat yang reaktif

    terhadap zat C3H8. Zat yang reaktif terhadap zat C3H8 yaitu

    oksidator (dari suhu tinggi atau panas, pembakar maupun

    48 Moran, op. cit., h. 194.49 Iting Shofwati dan Yuli Prapanca Satar, Hygine Industri, (Jakarta: Lembaga

    Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009), h. 58.50 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, op. cit., h. 114.

  • 22

    peralatan berlistrik, dan zat kimia korosif terhadap

    tabung).51

    c) jika akan bekerja dengan zat C3H8, maka harus membaca

    informasi mengenai zat C3H8 serta menggunakan alat

    perlindungan diri yang tepat

    d) jika zat C3H8 tumpah/ bocor (keluar dari tabung LPG),

    maka segera memberi tanda peringatan disekitar tumpahan,

    evakuasi dan segera memberitahu laboran (karena hanya

    ditangani oleh ahli). Upaya penanganannya berupa

    memindahkan wadah ke tempat terisolasi, serta

    menghindarkan dari oksidator (dari suhu tinggi atau panas,

    pembakar maupun peralatan berlistrik, dan zat kimia korosif

    terhadap tabung).52

    e) jika zat C3H8 masuk kedalam tubuh, maka berikan

    pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat

    C3H8 dengan segera.53 Jika masuk melalui kulit maupun

    mata, maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama

    15 menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan

    maupun pernapasan), maka bawa ke tempat dengan udara

    yang segar dan beri oksigen, kemudian segera periksakan

    diri ke dokter agar mendapatkan antidot (anti-racun) yang

    tepat.

    f) pembuangan limbah maupun tumpahan/ bocor zat C3H8

    yaitu dapat langsung dibuang/ dilepas di atmosfer, dan

    wadah dikumpulkan sebelum di olah (dihancurkan maupun

    didaur ulang) oleh ahli.54

    51 WorkSafeBC, Laboratory Health and Safety Haandbook, (Canada: WorkersCompensation Board of British Columbia, 2008), h. 18.

    52 Moran, op. cit., h. 153.53 Sartono, op. cit., h. 203.54 Dennis P. Nolan, Handbook of Fire and Explosion Protection Engineering

    Principles: for Oil, Gas, Chemical and Related Facilities, (U.K.: Elsevier, 2011), Cet. 2, h. 44.

  • 23

    4) Karsinogen

    Zat kimia yang memiliki sifat karsinogen yaitu zat kimia

    yang dapat merusak gen (sel) makhluk hidup.55 Zat kimia karsinogen

    dalam wadah berkemasan memiliki lambang setengah badan orang

    hitam dengan gambar bintang putih di bagian tengahnya.56 Berikut

    gambar untuk lambang zat kimia karsinogen:

    Gambar 2.5. Lambang Zat Kimia Karsinogen

    Contoh zat kimia karsinogen di dalam laboratorium yaitu

    benzen.57 Pengetahuan pengelolaan serta penanganan mengenai zat

    kimia karsinogen untuk zat benzene atau benzen dengan rumus kimia

    C6H6, yaitu:

    a) jika menyimpan zat C6H6, maka di dalam di wadah anti-

    pecah berlapis (2 lapis), pada lemari penyimpanan khusus

    zat kimia karsinogen/ mudah terbakar yang bersuhu rendah,

    dan berventilasi baik, serta hindarkan dari semua faktor

    yang dapat menyebabkan zat C6H6 reaktif.58

    b) menghindarkan zat C6H6 (pada penyimpanan, saat bekerja,

    tumpahan maupun limbah) dari zat yang reaktif terhadap zat

    C6H6. Zat yang reaktif terhadap zat C6H6 yaitu zat oksidator

    55 Cahyono, op. cit., h. 16.56 Moran, op. cit., h. 194.57 A. Pruss, Pengelolaan Aman Limbah Layanan Kesehatan, Terj. Munaya Fauziah,

    dkk., (Jakarta: EGC, 2005), h. 5.58 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 13.

  • 24

    (dari suhu tinggi atau panas, pembakar maupun peralatan

    berlistrik), H2O2, dan H2CrO4.59

    c) jika akan bekerja dengan zat C6H6, maka harus membaca

    informasi mengenai zat C6H6 serta menggunakan alat

    perlindungan diri yang tepat

    d) jika zat C6H6 tertumpah, maka segera memberi tanda

    peringatan disekitar tumpahan dan segera memberitahu

    laboran (karena hanya ditangani oleh ahli). Upaya

    penanganannya berupa menyerap tumpahan dengan pasir

    serta hindarkan tumpahan dari semua faktor yang

    menyebabkan zat C6H6 reaktif (terbakar).60

    e) jika zat C6H6 masuk kedalam tubuh, maka berikan

    pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat

    C6H6 dengan segera.61 Jika masuk melalui kulit maupun

    mata, maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama

    15 menit. Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan

    maupun pernapasan), maka bawa ke tempat dengan udara

    yang segar dan beri oksigen, dan pengurasan lambung

    dengan obat cuci perut atau air minum, kemudian segera

    periksakan diri ke dokter agar mendapatkan antidot (anti

    racun) yang tepat.

    f) pembuangan limbah maupun tumpahan zat C6H6 yaitu

    dikumpulkan dalam wadah khusus zat C6H6 sebelum di olah

    (dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli.

    b. Mudah terbakarZat kimia mudah terbakar yaitu zat kimia yang dapat

    membentuk api atau bereaksi dengan api sehingga menimbulkan

    59 Faye Ong, Science Safety Handbook for California Public Schools, (Califronia:California Department of Education, 2012), h. 213.

    60 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Benzene MSDS, 2015, h. 3,(https://www.sciencelab.com/).

    61 Sartono, op. cit., h. 238.

  • 25

    kebakaran.62 Zat kimia mudah terbakar dalam wadah berkemasan

    memiliki lambang api yang menyala.63 Berikut gambar untuk lambang

    zat kimia mudah terbakar:

    Gambar 2.6. Lambang Zat Kimia Mudah Terbakar

    Sifat atau karakter dari zat kimia yang memiliki sifat mudah

    terbakar pada umumnya yaitu:

    a) zat memiliki tekanan uap (vapor pressure) lebih dari 10 mmHg.

    Sehingga zat mudah berubah wujud menjadi gas

    b) zat memiliki kerapatan uap (vapor density) tidak sama dengan 1

    (satu).64 Sehingga zat mudah berubah wujud menjadi gas.

    c) mudah bereaksi dengan sumber api.65 Sumber api yang ada di

    dalam laboratorium yaitu; pembakar spirtus maupun bunsen,

    dan peralatan berlistrik.

    d) memiliki titik didih (boilling point) yang rendah (dapat lebih

    rendah dari suhu ruangan). Sehingga mudah berubah wujud

    menjadi gas pada suhu ruangan

    e) zat memiliki titik nyala (flash point) yang rendah (lebih rendah

    dari suhu ruangan). Sehingga zat dapat langsung berinteraksi

    dengan udara dan menimbulkan kebakaran

    f) memiliki suhu penyulutan (ignition tempertature) yang rendah.

    Sehingga apabila zat dipengaruhi suhu tinggi atau panas hingga

    62 Moran, op. cit., h. 5.63 United Nations, op. cit., h. 29.64 Moran, op. cit., h. 53.65 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, op. cit., h. 104.

  • 26

    mencapai suhu penyulutannya maka zat dapat menimbulkan

    kebakaran dengan sendirinya.66

    Contoh zat kimia mudah terbakar yang ada di dalam

    laboratorium yaitu S, P, C3H6O, C6H14, C4H10O, alkohol, C2H2 dan H2.67

    Pengetahuan pengelolaan serta penanganan mengenai zat kimia mudah

    terbakar untuk zat ethyl ether atau eter dengan rumus kimia C4H10O,

    yaitu:

    a) jika menyimpan zat C4H10O, maka di dalam wadah bermulut

    kecil tertutup rapat (sejumlah < 500 mL e), pada lemari

    penyimpanan khusus zat kimia mudah terbakar yang bersuhu

    rendah, dan berventilasi baik, serta hindarkan dari semua faktor

    yang dapat menyebabkan zat C4H10O mudah terbakar.68

    b) menghindarkan zat C4H10O (pada penyimpanan, saat bekerja,

    tumpahan maupun limbah) dari zat yang reaktif terhadap zat

    C4H10O (sejauh > 4 meter). Zat yang reaktif terhadap zat

    C4H10O yaitu oksidator (dari suhu tinggi atau panas, pembakar

    maupun peralatan berlistrik, perklorat, permanganat, peroksida,

    asam nitrat, dan asam sulfat) dan halogen (Cl2, Br2, dan I2).69

    c) jika akan bekerja dengan zat C4H10O, maka harus membaca

    informasi mengenai zat C4H10O serta menggunakan alat

    perlindungan diri yang tepat

    d) jika terjadi kebakaran karena zat C4H10O, gunakan pemadam

    kebakaran yang dapat digunakan seperti CO2, busa (buih

    alkohol) dan jenis serbuk kering (amonium fosfat atau natrium

    bikarbonat).70

    66 Moran, op. cit., h. 86.67 Cahyono, op. cit., h. 6-8.68 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, loc. cit.69 World Health Organization, Laboratory Biosafety Manual, (Geneva: WHO Library

    Cataloguing-in-Publication Data, 2004), Cet. 3, h. 153.70 Ign Suharto, Limbah Kimia dalam Pencemaran Air dan Udara, (Yogyakarta: ANDI,

    2011), h. 100.

  • 27

    e) jika zat C4H10O tertumpah, maka segera memberi tanda

    peringatan disekitar tumpahan dan segera memberitahu laboran

    (karena hanya ditangani oleh ahli). Upaya penanganannya

    berupa menyerap tumpahan dengan kain atau pasir serta

    hindarkan tumpahan dari semua faktor (termasuk memadamkan

    listrik) yang menyebabkan zat C4H10O reaktif (terbakar).71

    f) jika zat C4H10O masuk kedalam tubuh, maka berikan

    pertolongan pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat

    C4H10O dengan segera.72 Jika masuk melalui kulit maupun mata,

    maka bilas dengan air dingin yang mengalir selama 15 menit.

    Jika tertelan (masuk melalui saluran pencernaan maupun

    pernapasan), maka bawa ke tempat dengan udara yang segar dan

    beri oksigen, dan diberikan air minum, kemudian segera

    periksakan diri ke dokter agar mendapatkan antidot (anti racun)

    yang tepat.

    g) pembuangan limbah maupun tumpahan zat C4H10O yaitu

    dikumpulkan dalam wadah khusus zat C4H10O sebelum di olah

    (dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli.73

    c. Mudah meledakZat kimia mudah meledak adalah zat kimia tunggal maupun

    campuran yang pada kondisi tertentu, dapat menghasilkan gas panas dan

    tekanan tinggi sehingga dapat menghancurkan lingkungan.74 Zat kimia

    mudah meledak dalam wadah berkemasan memiliki lambang benda yang

    hancur berserakan.75 Berikut gambar untuk lambang zat kimia mudah

    meledak:

    71 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 48.72 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Ethyl ether MSDS, 2015, h. 2,

    (https://www.sciencelab.com/).73 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, loc. cit.74 United Nations, op. cit., h. 12.75 Yuni Noviyanti, Buku Pintar Praktikum Kimia SMA, (Jakarta: Laskar Aksara, 2015),

    h. 3.

  • 28

    Gambar 2.7. Lambang Zat Kimia Mudah Meledak

    Sifat atau karakter dari zat kimia yang memiliki sifat mudah

    meledak pada umumnya yaitu:

    a) konsentrasi zat berada dalam batas mudah meledak dengan

    jumlah yang rendah.76 Sehingga jika jumlah konsentrasi zat di

    udara berada dalam batas mudah meledak, maka zat dapat

    menimbulkan ledakan ketika ada interaksi pula dengan suhu

    yang panas serta oksigen di udara.

    b) zat dapat bereaksi dengan adanya getaran, benturan, gesekan,

    panas, tekanan, dan api.77

    Contoh zat kimia mudah terbakar di dalam laboratorium yaitu

    hydrogen atau gas hidrogen dengan rumus kimia H2.78 Pengetahuan

    pengelolaan serta penanganan mengenai zat kimia yang memiliki sifat

    mudah meledak untuk zat hydrogen atau hidrogen dengan rumus kimia

    H2, yaitu:

    a) jika zat H2 hendak disimpan, maka simpan di dalam wadah yang

    tepat, pada lemari penyimpanan khusus zat kimia mudah meldak

    yang bersuhu rendah dan berventilasi baik, serta hindarkan dari

    semua faktor yang dapat menyebabkan wadah maupun zat H2

    reaktif (mudah meledak).79

    b) jika akan bekerja dengan zat H2, maka harus membaca informasi

    mengenai zat H2 serta menggunakan alat perlindungan diri yang

    tepat

    76 Moran, op. cit., h. 86.77 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 13.78 Moran, op. cit., h. 90.79 H. M. Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus, op. cit., h. 111.

  • 29

    c) jika bekerja dan-atau menghasilkan zat H2 yang bersifat mudah

    meledak, maka hindarkan dari sumber api (dari suhu tinggi atau

    panas, pembakar maupun peralatan berlistrik), kerusakan wadah,

    serta zat kimia yang reaktif terhadap wadah maupun zat H2.80

    d) jika zat H2 masuk kedalam tubuh, maka berikan pertolongan

    pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat H2 dengan

    segera.81 Jika masuk melalui kulit maupun mata, maka bilas

    dengan air dingin yang mengalir selama 15 menit. Jika tertelan

    (masuk melalui saluran pencernaan maupun pernapasan), maka

    bawa ke tempat dengan udara yang segar dan beri oksigen,

    kemudian segera periksakan diri ke dokter agar mendapatkan

    antidot (anti-racun) yang tepat.

    e) pembuangan limbah maupun tumpahan/ bocor zat H2 yaitu

    dapat langsung dibuang/ dilepas di atmosfer, dan wadah

    dikumpulkan sebelum di olah (dihancurkan maupun didaur

    ulang) oleh ahli.82

    d. ReaktifZat kimia reaktif adalah zat kimia yang dapat bereaksi kuat

    dengan sendirinya maupun ketika direkasikan dengan zat kimia lain, dan

    menghsilkan panas.83 Reaksi hebat yang terjadi dapat mengakibatkan

    munculnya zat beracun, kebakaran maupun ledakan. Zat kimia reaktif

    dalam wadah berkemasan tidak memiliki tanda khusus, namun zat kimia

    rekatif sering berlambang sama dengan zat kimia mudah terbakar dan zat

    kimia mudah meledak.84 Berikut gambar untuk lambang zat kimia

    reaktif:

    80 WorkSafeBC, op. cit., h. 17.81 BOC: A Member of The Linde Group, Safety data sheet; Hydrogen compressed,

    2015, h. 1, (https://www.boconline.co.uk/).82 Moran, op. cit., h. 153.83 United Nations, op. cit., h. 15.84 UCLA, op. cit., h. (2-5).

  • 30

    Gambar 2.8. Lambang Zat Kimia Reaktif

    Sifat atau karakter dari zat kimia yang memiliki sifat reaktif

    pada umumnya yaitu:

    a) mudah bereaksi dengan zat kimia lain yang tidak cocok,

    sehingga menimbulkan kebakaran, ledakan hingga munculnya

    zat beracun

    b) zat pengoksidasi bereaksi dengan zat pereduksi,85 sehingga akan

    menghasilkan ledakan.

    c) zat cair bersuhu tinggi atau panas bereaksi dengan zat lain yang

    memiliki titik didih lebih rendah, sehingga akan menghasikan

    ledakan

    d) penambahan air pada penangas air (dengan air yang bersuhu

    tinggi atau panas di dalam pemanas air), sehingga akan

    menghasilkan ledakan

    e) zat yang brsifat kriogen (mudah menguap) di dalam wadah

    tertutup beraksi dengan panas, sehingga akan menghasilkan

    ledakan

    f) zat bersuhu tinggi atau panas yang dituang kedalam air,86

    sehingga akan menghasilkan ledakan.

    Contoh zat kimia dalam laboratorium yang bersifat reaktif yaitu

    H2O2.87 Pengetahuan pengelolaan serta penanganan mengenai zat kimia

    reaktif untuk zat hydrogen peroxide atau hidrogen peroksida dengan

    rumus kimia H2O2 (> 30 %), yaitu:

    85 Moran, op. cit., h. 89.86 Ibid., h. 136.87 Ibid., h. 165.

  • 31

    a) jika menyimpan zat H2O2, maka di dalam wadah bermulut kecil

    tertutup rapat, pada lemari penyimpanan khusus zat kimia

    reaktif yang bersuhu rendah, dan berventilasi baik, serta

    hindarkan dari semua faktor yang dapat menyebabkan zat H2O2

    reaktif.88

    b) jika akan bekerja dengan zat H2O2, maka harus membaca

    informasi mengenai zat H2O2 serta menggunakan alat

    perlindungan diri yang tepat

    c) menghindarkan zat H2O2 (pada penyimpanan, saat bekerja,

    tumpahan maupun limbah) dari oksidator (api, panas, dll),

    reduktor (P), logam dan garamnya (Fe, Cu, Zn, NaCO3, MnO2,

    dll), keton, alkohol, aldehid, karboksilat, dll.89

    d) jika zat H2O2 tertumpah maka lakukan penanganan dengan

    segera.90 Jika tertumpah dalam jumlah yang kecil, maka berikan

    air pada tumpahan, kemudian menyerap tumpahan dengan pasir.

    Jika tertumpah dalam jumlah yang besar, maka hindarkan

    tumpahan dari semua faktor yang menyebabkan zat H2O2 reakitf

    (jika perlu lakukan evakuasi dan laporkan ke laboran)

    e) jika zat H2O2 masuk kedalam tubuh, maka berikan pertolongan

    pertama pada bagian tubuh yang terpapar zat H2O2 dengan

    segera.91 Jika masuk melalui kulit maupun mata, maka bilas

    dengan air dingin yang mengalir selama 15 menit. Jika tertelan

    (masuk melalui saluran pencernaan maupun pernapasan), maka

    bawa ke tempat dengan udara yang segar dan beri oksigen,

    kemudian segera periksakan diri ke dokter agar mendapatkan

    antidot (anti-racun) yang tepat.

    88 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, loc. cit.89 Nord, op. cit., h. 45.90 Science Lab, Material Safety Data Sheet; Hydrogen Peroxide 30% MSDS, 2015, h. 3,

    (https://www.sciencelab.com/).91 Ibid., h. 2.

  • 32

    f) pembuangan limbah maupun tumpahan zat H2O2 yaitu

    dikumpulkan dalam wadah khusus zat H2O2 sebelum di olah

    (dihancurkan maupun didaur ulang) oleh ahli atau dapat

    langsung dibuang (setelah pengenceran < 3 %) di saluran

    pembuangan air (drainase).92

    B. Penelitian yang Relevan

    Hasil dari penelitian Iqbal Al Faris dan Feri Harianto pada jurnalnya

    yang berjudul “Pengaruh Perilaku Tenaga Kerja dan Lingkungan Kerja yang

    Dimoderasi Faktor Pengalaman Kerja dan Tingkat pendidikan Terhadap

    Kecelakaan Kerja Konstruksi di Surabaya”, yaitu faktor yang mempengaruhi

    tingkat kecelakaan kerja meliputi tingkat pendidikan serta pengalaman kerja di

    lapangan.93

    Hasil dari penelitian Maharani Perdini pada jurnalnya yang berjudul

    “Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Berisiko dengan Kejadian Kecelakaan

    Kerja”, yaitu faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku berisiko serta

    kecelakaan kerja meliputi kurangnya pemahaman mengenai risiko serta

    kecelakaan kerja yang dikarenakan adanya anggapan bahwa pekerjaan yang

    dilakukannya memiliki risiko yang rendah, serta kecelakaan yang terjadi memiliki

    bahaya yang rendah dan umum terjadi.94

    Hasil dari penelitian Lindawati pada skripsinya yang berjudul “Analisis

    Risiko Bahan Kimia Berdasarkan Konsekuensi Kebakaran dan Kesehatan di

    Laboratorium kimia Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Tahun 2012” yaitu zat kimia di laboratorium yang berpotensi membahayakan

    kesehatan dan keselamatan sebanyak 20 – 80 %.95

    92 Moran, op. cit., h. 283.93 Iqbal Al Faris dan Feri Harianto, “Pengaruh Perilaku Tenaga Kerja dan Lingkungan

    Kerja yang Dimoderasi Faktor Pengalaman Kerja dan Tingkat pendidikan Terhadap KecelakaanKerja Konstruksi di Surabaya”, Jurnal pada Seminar Nasional X – 2014 Teknik Sipil ITSSurabaya, ISBN 978-979-99327-9-2, Surabaya, 2014, h. 57.

    94 Maharani Perdini, “Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Berisiko dengan KejadianKecelakaan Kerja”, Unnes Journal of Public Health 1 (1) (2012) ISSN 2252-6781, Semarang,2012, h. 51.

    95 Lindawati, “Analisis Risiko Bahan Kimia Berdasarkan Konsekuensi Kebakaran danKesehatan di Laboratorium kimia Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

  • 33

    Hasil dari penelitian Wahyu Hidayati pada skripsinya yang berjudul

    “Tingkat Pengetahuan Keselamatan Kerja dan Keterampilan Kerja Di

    Laboratorium Kimia Peserta Didik Kelas XI IPA Semester 1 SMAN Di

    kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah” yaitu instrumen

    soal tes tertulis serta wawancara dapat digunakan untuk mendapatkan data tingkat

    pengetahuan keselamatan kerja di laboratorium kimia dan menyimpulkan bahwa

    tingkat pengetahuan keselamatan kerja sampel pada tingkat sedang (45,85-

    56,66%).96

    Hasil dari penelitian Dewi Indah Sari Siregar pada skripsinya yang

    berjudul “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecelakaan Ringan di PT.

    Aqua Golden Missisippi Bekasi Tahun 2014”, yaitu faktor yang mempengaruhi

    tingkat kecelakaan kerja meliputi tingkat pengetahuan, ketertiban terhadap

    prosedur, pengawasan, serta lingkungan kerja yang aman dan nyaman.97

    C. Kerangka Berpikir

    Laboratorium kimia memiliki beberapa fungsi yaitu tempat untuk

    melakukan pembelajaran ilmu kimia, tempat untuk melakukan percobaan

    (eksperimen)/ pembuktian terhadap pembelajaran ilmu kimia, tempat melakukan

    riset/ penemuan ilmu kimia, dan sebagai tempat untuk penyimpanan seperti

    museum kecil.98 Pada umumnya laboratorium kimia merupakan suatu tempat

    yang digunakan untuk melakukan eksperimen karena laboratorium kimia

    merupakan suatu tempat yang telah dilengkapi dengan sistem keamanan agar

    dapat difungsikan sebagai tempat yang aman untuk melakukan eksperimen.

    Eksperimen yang dilakukan dalam pembelajaran ilmu kimia, akan memberikan

    pengalaman secara langsung kepada peserta didik mengenai zat atau materi yang

    Tahun 2012”, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2012, h. ii, tidakdipublikasikan.

    96 Wahyu Hidayati, “Tingkat Pengetahuan Keselamatan Kerja dan Keterampilan KerjaDi Laboratorium Kimia Peserta Didik Kelas XI IPA Semester 1 SMAN Di kecamatanTemanggung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah”, Skripsi pada UIN Sunan Kalijaga,Yogyakarta, 2011, h. 6, tidak dipublikasikan.

    97 Dewi Indah Sari Siregar, “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan KecelakaanRingan di PT. Aqua Golden Missisippi Bekasi Tahun 2014”, Skripsi pada UIN Syarif HidayatullahJakarta Tahun 2014, Jakarta, 2014, h. iv, tidak dipublikasikan.

    98 Feronika, op. cit., h. 166.

  • 34

    ada di alam, serta perubahan dari suatu zat atau materi tersebut secara jelas dan

    masuk akal.

    Pada umumnya, zat kimia yang digunakan dalam proses eksperimen di

    laboratorium akan menghasilkan suatu pengetahuan yang bermanfaat dan juga

    akan menghasilkan suatu bahaya terhadap manusia serta lingkungan hidup. Maka

    pada proses eksperimen, zat kimia perlu dikelola dan ditangani dengan benar.

    Cara atau teknik pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia berbahaya

    terdapat pada pembelajaran K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) di

    laboratorium kimia.99 Pembelajaran K3 di laboratorium kimia mengenai

    pengelolaan serta penanganan zat kimia berbahaya yaitu meliputi penyimpanan,

    pembuangan, dan prosedur kerja umum (penanganan) untuk zat kimia berbahaya.

    Maka, K3 harus dikuasai (diketahui serta dipahami) dan diterapkan pada saat

    proses pembelajaran ilmu kimia yang menggunakan metode eksperimen di

    laboratorium kimia karena tidak satupun zat kimia yang digunakan pada

    eksperimen adalah aman bagi mahasiswa (makhluk hidup) maupun lingkungan.100

    Sebelum mahasiswa mampu menerapkan (mengaplikasikan) cara atau

    teknik pengelolaan serta penanganan terhadap zat kimia berbahaya, mahasiswa

    harus menguasai tahapan mengingat dan memahami, yang sejalan dengan tahapan

    pada tingkatan-tingkatan dari dimensi pengetahuan (kognitif) utama pada revisi

    taksonomi Benjamin S. Bloom.101 Maka, penelitian ini merupakan tahapan awal

    untuk dapat mengetahui kualitas dari pengetahuan K3 yang dimiliki oleh

    mahasiswa pendidikan kimia di laboratorium kimia yaitu dengan cara mengetahui

    kualitas dari pengingatan (serta pemahaman) mengenai pengetahuan K3 yang

    telah dimiliki mahasiswa.

    99 Moran, op. cit., h. v.100 Marham Sitorus dan Ani Sutiani, op. cit., h. 1.101 Anderson, op. cit., h. 6.

  • 35

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat dan Waktu Penelitian

    Tempat berlangsungnya penelitian yaitu dapat dilaksanakan di ruang

    kelas maupun di ruang laboratorium pendidikan kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

    Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

    (yang disesuaikan dengan kondisi sampel dan lapangan). Gambaran mengenai

    ketersediaan sarana-prasarana yang ada di laboratorium pendidikan kimia terdapat

    pada Lampiran 12.1 Waktu pada penelitian berupa jadwal yang ditentukan yaitu

    mulai dari pembuatan rancangan penelitian hingga pencetakan hasil laporan.2

    Berikut perinciannya pada Tabel 3.1.:

    Tabel 3.1 Rancangan Penelitian

    NO. KEGIATAN BULAN(2015)

    1. pembuatan rancangan penelitian januari – mei2. pelaksanaan penelitian juni3. pembuatan laporan penelitian juli – september

    B. Metode dan Desain Penelitian

    Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi serta mengetahui

    kualitas dari tingkat pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan Kerja) sampel

    penelitian yaitu menggunakan metode penelitian deskriptif. ”Penelitian deskriptif

    adalah suatu metode penelitian yang menunjukkan untuk menggambarkan

    fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang

    lampau.”.3 Dengan metode deskriptif maka akan diuraikan mengenai pengetahuan

    (kognitif) K3 yang dimiliki mahasiswa pendidikan kimia berdasarkan pada fakta-

    fakta yang ada serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan kemudian

    1 Lampiran 12, h, 122-126.2 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Cet. 9, h.

    132.3 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja

    Rosdakarya, 2006), Cet. 2, h. 54.

  • 36

    dianalisis serta disimpulkan secara umum mengenai kualitas dari tingkat

    pengetahuan (kognitif) K3 mahasiswa pendidikan kimia.

    Secara umum desain penelitian terdiri dari 3 (tiga) tahapan, yaitu dimulai

    dari pembuatan rancangan penelitian, pelaksanaan penelitian, hingga pembuatan

    serta pencetakan laporan penelitian.4 Berikut perinciannya:

    1. pada tahapan pembuatan rancangan penelitian yaitu meliputi mencari

    permasalahan, menentukan tujuan penelitian, mempersiapkan jadwal

    penelitian, mempersiapkan instrumen untuk memperoleh data penelitian,

    serta mempersiapkan sarana-prasarana untuk melakukan penelitian

    2. pada tahapan pelaksanaan penelitian yaitu meliputi pengumpulan data

    penelitian dengan cara memberikan instrumen tes tertulis kepada sampel

    penelitian, serta mewawancarai sampel penelitian

    3. pada tahapan pembuatan serta percetakan laporan yaitu meliputi

    mengolah serta menganalisi data penelitian yang diperoleh,

    menyimpulkan hasil dari penelitian, dan kemudian melaporkan hasil

    penelitian dalam bentuk laporan tertulis.

    C. Populasi dan Sampel

    Populasi dalam penelitian yaitu seluruh mahasiswa pendidikan kimia di

    FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sampel dalam penelitian yaitu mahasiswa

    pendidikan kimia tingkat I, II, dan III di FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    2015. Pada tingkat IV dan seterusnya tidak dijadikan sampel penelitian karena

    mahasiswa pada semester 8 (delapan) sedang melaksananakan PPKT (Praktek

    Profesi Keguruan Terpadu) dan pada tingkat seterusnya merupakan mahasiswa

    tidak aktif dalam melaksanakan pembelajaran di kelas dan laboratorium.

    Mahasiswa pendidikan kimia pada tingkat I, II, dan III dijadikan sampel penelitian

    karena mahasiswa pada tingkat tersebut telah mendapatkan matakuliah Teknik

    Laboratorium serta pelatihan/ workshop K3 (atau CSS: Chemical Laboratory

    Safety and Security) serta masih aktif dalam melaksanakan pembelajaran di kelas

    dan laboratorium. Pendidikan kimia Tingkat I adalah mahasiswa di semester 2

    (dua), tingkat II adalah mahasiswa di semester 4 (empat), dan tingkat III adalah

    4 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, op. cit., h. 133.

  • 37

    mahasiswa di semester 6 (enam). Jumlah total sampel penelitian yaitu 183

    mahasiswa. Rincian jumlah sampel penelitian terdapat pada Tabel 3.2. Berikut

    perinciannya:

    Tabel 3.2. Sampel Penelitian

    JUMLAHNO.

    TINGKATMAHSISWA KELAS A KELAS B

    1 I 30 302 II 28 303 III 32 33

    TOTAL 183 MAHASISWAMaka, teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sampling purposive

    karena sampel penelitian ditentukan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.5

    D. Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data yang bertujuan untuk mengetahui tingkat

    pengetahuan (kognitif) sampel penelitian yaitu menggunakan tes dan non-tes.6 Tes

    yaitu dilakukan secara tertulis yang menggunakan soal objektif dengan pilihan

    berganda (lima pilihan). Non-tes yaitu dilakukan dengan cara wawancara yang

    terstruktur.

    Pengumpulan data dengan menggunakan tes tertulis dilakukan dengan

    tahapan: persiapan (seperti mempersiapkan instrumen penelitian, tempat, waktu

    serta instruksi-instruksi), pelaksanaan tes tertulis (yang juga dilakukan

    pengawasan serta memberikan instruksi-instruksi yang dibutuhkan oleh sampel

    penelitian), dan mengumpulkan hasil tes tertulis yang telah diberikan sampel

    (yang digunakan sebagai data penelitian).7 Tes tertulis dapat dilakukan di ruang

    kelas maupun di laboratorium kimia (dengan menyesuaikan kondisi, dana, waktu,

    dan tenaga). Waktu yang diberikan untuk melakukan tes tertulis yaitu 1 (satu) jam

    pembelajaran (± 45 menit). Instruksi yang diberikan pada umumnya yaitu

    mengingatkan serta memperjelas tata tertib dalam melaksanakan tes tertulis. Tes

    tertulis yang telah dilakukan kepada sampel penelitian (183 mahasiswa

    5 Sugiyono, Metode Penelitian kuantitatif dan Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta,2009), Cet. 8, h. 85.

    6 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: RemajaRosdakarya, 2010), Cet. 15, h. 5.

    7 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), Cet.11, h. 151-153.

  • 38

    pendidikan kimia) merupakan sebuah data pada penelitian utama, yang nantinya

    akan dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan utama pada penelitian.

    Pengumpulan data non-tes dengan wawancara yang terstruktur dilakukan

    dengan tahapan: persiapan (seperti mempersiapkan jumlah sampel, instrumen

    penelitian, tempat, waktu serta sarana-prasarana), pelaksanaan wawancara

    (pengajuan pertanyaan menggunakan lembar pedoman wawancara yang

    terstruktur, dan alat perekam suara), dan mencatat (mengumpulkan) hasil

    wawancara yang telah diberikan sampel (yang digunakan sebagai data

    penelitian).8 Wawancara hanya dilakukan untuk 5 sampel (mahasiswa pendidikan

    kimia) yang diduga dapat memberikan informasi tambahan (melengkapi data

    utama) pada data penelitian, dan juga agar terlihat penekanan hasil dari kualitas

    tingkat pengetahuan K3 yang dimiliki oleh sampel penelitian. Pertanyaan yang

    diajukan meliputi sumber pengetahuan K3 yang dimiliki sampel penelitian serta

    pemahaman mengenai K3 yang telah dimiliki oleh sampel penelitian. Wawancara

    dapat dilakukan dimana saja (dengan menyesuaikan kondisi, dana, waktu, dan

    tenaga). Pertanyaan yang diberikan kepada sampel penelitian disesuaikan dengan

    pertanyaan yang ada di lembar pedoman wawancara yang terstruktur. Waktu yang

    diberikan untuk melakukan wawancara yaitu ± 15 menit.Hasil dari wawancara

    yang telah dilakukan, merupakan data penelitian (informasi) pendukung dari data

    penelitian utama, yang nantinya akan menjadi pelengkap dari kesimpulan utama

    hasil penelitian.

    Teknik pengumpulan data pada dasarnya berupa pemberian instrumen

    penelitian kepada sampel penelitian, dan kemudian dianalisis serta disimpulkan

    mengenai hasil dari penelitian yang telah dilakukan.

    E. Instrumen Penelitian

    Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengidentifikasi serta

    mengetahui kualitas dari tingkat pengetahuan K3 (Keselamatan dan Keamanan

    Kerja) sampel penelitian yaitu menggunakan soal objektif dengan pilihan

    berganda (lima pilihan) dan lembar pedoman wawancara yang terstruktur. Berikut

    perinciannya:

    8 Sukmadinata, op. cit., h. 216-218.

  • 39

    1. Soal Objektif dengan Pilihan Berganda (Lima Pilihan)

    Instrumen penelitian tes tertulis yang menggunakan soal objektif

    dengan pilihan berganda (lima pilihan). Tes tertulis yang menggunakan soal

    objektif dengan pilihan berganda (lima pilihan) yaitu berupa lembaran yang

    berisikan soal-soal (yang terbakukan) dengan kalimat pernyataan yang belum

    lengkap.9 Kemudian untuk melengkapi pernyataan tersebut diberikan 5 (lima)

    pilihan/ alternatif untuk melengkapi pernyataan tersebut, namun hanya ada 1

    (satu) dari 5 pilihan/ alternatif yang tepat untuk dapat melengkapi

    pernyataan.1 pilihan/ alternatif yang tepat biasa disebut dengan kunci

    jawaban dan 4 (empat) pilihan/ alternatif yang lain biasa disebut dengan

    pengecoh.

    Pemilihan tes secara tertulis dengan menggunakan soal objektif

    dengan pilihan berganda (lima pilihan) berdasarkan pada kelebihan-kelebihan

    yang dimiliki oleh soal objektif dengan pilihan berganda (lima pilihan).

    Kelebihan tes tertulis dengan menggunakan soal objektif dengan pilihan

    berganda (lima pilihan) yaitu dapat digunakan untuk mengukur tingkat

    pengetahuan (kognitif) sampel penelitian, dapat digunakan untuk jumlah

    sampel peneitian yang banyak, dapat digunakan untuk cakupan materi yang

    sangat banyak, hasil dari soal dapat diukur dengan efektif serta efisien, dan

    pengukuran bersifat objektif.10 Kekurangan tes terulis dengan menggunakan

    soal objektif dengan pilihan berganda (lima pilihan) yaitu pembuatan item

    soal yang tidak mudah, tidak dapat mengungkap kemampuan ditingkat

    pengetahuan (kognitif) yang tinggi, memberi peluang besar kepada siswa

    untuk menerka jawaban.11 Agar soal menghasilkan data yang baik maka

    dilakukan rundingan-rundingan dengan pakar (asisten beserta laboran, dosen

    pendidikan kimia, dan dosen ilmu kimia) dalam pembuatan soal (K3) serta

    9 Sudijono, op. cit., h. 120.10 M. Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Oprasionalnya, (Jakarta: Bumi

    Aksara, 2009), Cet. 3, h. 125-126.11 Sudijono, op. cit., h. 135.

  • 40

    memberikan instruksi serta pengawasan selama proses tes tertulis

    berlangsung.

    Soal objektif dengan pilihan be