40
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bahasa Jepang adalah bahasa yang dipakai di kepulauan Jepang. Di samping itu, bahasa Jepang digunakan pula oleh keturunan Jepang yang berada di Brazil dan Hawai. Bahasa Jepang banyak persamaannya dengan bahasa-bahasa yang berada di Asia, seperti bahasa Mongol dan bahasa Korea. Persamaan tersebut berkaitan dengan pola urutan kata dan tingkat tutur (speech level) dalam berkomunikasi. Berkaitan dengan tingkat tutur, bahasa Jepang memiliki persamaan dengan bahasa-bahasa di Indonesia, seperti bahasa Sunda, bahasa Jawa dan bahasa Bali. Ekspresi rasa hormat dan akrab dalam bahasa Jepang, dapat diungkapkan dengan pemarkah sopan dan akrab pada akhir kalimat, sebagaimana dapat diamati pada contoh berikut. 1) Contoh kalimat bentuk sopan a. Kyoo wa toshokan e ikimasu ka Adv pem T N pem l V Vbt pem tanya hari ini perpustakaan ke pergi kah ‘Apakah hari ini (Anda) pergi ke perpustakaan?’ D1K

Tata Bahasa Jepang

  • Upload
    cqaza

  • View
    305

  • Download
    59

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Bahasa

Citation preview

Page 1: Tata Bahasa Jepang

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Bahasa Jepang adalah bahasa yang dipakai di kepulauan Jepang. Di

samping itu, bahasa Jepang digunakan pula oleh keturunan Jepang yang berada di

Brazil dan Hawai. Bahasa Jepang banyak persamaannya dengan bahasa-bahasa

yang berada di Asia, seperti bahasa Mongol dan bahasa Korea. Persamaan

tersebut berkaitan dengan pola urutan kata dan tingkat tutur (speech level) dalam

berkomunikasi. Berkaitan dengan tingkat tutur, bahasa Jepang memiliki

persamaan dengan bahasa-bahasa di Indonesia, seperti bahasa Sunda, bahasa Jawa

dan bahasa Bali.

Ekspresi rasa hormat dan akrab dalam bahasa Jepang, dapat diungkapkan

dengan pemarkah sopan dan akrab pada akhir kalimat, sebagaimana dapat diamati

pada contoh berikut.

1) Contoh kalimat bentuk sopan

a. Kyoo wa toshokan e ikimasu ka

Adv pem T N pem l V Vbt pem tanya

hari ini perpustakaan ke pergi kah

‘Apakah hari ini (Anda) pergi ke perpustakaan?’

b. Hai, iki masu

Int V pem sopan

ya pergi

‘ya (saya) pergi’

2) Contoh kalimat bentuk akrab

a. Kyoo toshokan e iku

hari ini perpustakaan ke pergi

‘Hari ini pergi ke perpustakaan?’

b. Iie, ika nai

tidak pergi tidak

‘Tidak, tidak pergi’

D1K

Page 2: Tata Bahasa Jepang

Bahasa Jepang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Perbedaan ini

berkaitan dengan pola urutan kata dalam kalimat. Bahasa Jepang memiliki tipe

bahasa S O V (Subjek + Objek + Predikat), sedangkan bahasa Indonesia memiliki

tipe bahasa S V O (Subjek + Predikat + Objek). Dalam pola urutan bahasa Jepang

tersebut setiap kalimat diakhiri oleh verba atau kopula, urutan kata dalam kalimat

relatif bebas, topik kalimat pada umumnya terdapat pada awal kalimat.

Bandingkanlah kalimat berikut:

a) Sumisu san wa nihon de nihongo o benkyo shite iru

Topik N pem T N pos N pos V Vbt

Smith tuan Jepang di bahasa Jepang belajar sedang

‘Tuan Smith sedang belajar bahasa Jepang di Jepang’

S V O

b) Kimura san wa hon o toshokan e kaeshimashita

Topik N pem T N pos N pos V Vbt

Kimura saudara buku perpustakaan ke mengembalikan sudah

‘Saudara Kimura (sudah) mengembalikan buku ke perpustakaan’

S V O

Kaidah struktur frasa bahasa Jepang adalah (M)enerangkan –

(D)iterangkan, sebaliknya bahasa Indonesia (D)iterangkan – (M)enerangkan.

Bandingkanlah :

Bahasa Jepang Bahasa Indonesia

Akai kuruma

Merah mobil Mobil merah

Adj. N N Adj.

M D D M

‘Mobil merah’

Berdasarkan posisi penghubung yang mungkin terdapat di dalamnya,

bahasa Indonesia mengenal frasa preposisi, yaitu frasa yang penghubungnya

menduduki posisi depan, bahasa Jepang mengenal frasa pos posisi, yaitu frasa

yang penghubungnya menduduki posisi belakang. (Tarigan, 1985)

D2K

Page 3: Tata Bahasa Jepang

Contoh :

Bahasa Indonesia Bahasa Jepang

di ni (di)

ke Jakarta Jakarta e (ke)

dari kara (dari)

Secara tipologi morfologis, bahasa Jepang dan bahasa Indonesia termasuk

bahasa aglutinatif yang memperhatikan batas-batas morfem dalam setiap katanya.

Tiap kata dapat disegmentasi atas unsur leksikal dan afiks.

Dalam persamaan dan perbedaan tersebut, hal yang menarik untuk diamati

adalah unsur negatif. Dalam bahasa Indonesia bentuk negatif mempunyai cirri

dengan adanya kata-kata negatif seperti tidak, jangan, belum dan bukan. Hal ini

berbeda dengan bahasa Jepang. Dalam bahasa Jepang, pemarkah negatif ditandai

dengan pemarkah –nai, yang terikat secara morfologis pada verba dan adjektif,

sedangkan pada nomina merupakan morfem bebas. Perhatikan contoh berikut.

1. – nai yang melekat pada verba

a. Kalimat tunggal (berposisi di belakang klausa – kalimat)]

Kare wa gakoo e ikanai

Topik pem t N pem V pem neg

dia sekolah ke pergi tidak

‘Dia tidak pergi ke sekolah’

b. Kalimat majemuk, (berposisi di tengah kalimat)

Kare wa gakoo e ikanakute, uchi ni imasu

Topik pem t N pem V pem neg N pem V

dia sekolah ke pergi tidak rumah di ada

‘Dia tidak pergi ke sekolah, (dia) ada di rumah

D3K

Page 4: Tata Bahasa Jepang

2. – nai yang melekat pada adjektif

a. Kalimat tunggal (berposisi di belakang klausa – kalimat)

Anno ega wa omoshirokunai

N N pem Adj pem neg

itu film menarik tidak

‘Film itu tidak menarik’

b. Kalimat majemuk, (berposisi di tengah kalimat/pada klausa pertama)

Anno ega wa omoshirokunakut, waruidesu

N N pem t adj pem neg adj. pem

itu film menarik tidak jelek

‘Film itu tidak menarik, (film itu jelek)’

3. – nai yang bergabung dengan nomina

a. Kalimat tunggal (berposisi di belakang kalimat)

Are wa uchi dewa nai

N pem N pem neg

itu rumah bukan

‘Itu bukan rumah’

b. Kalimat majemuk (berposisi di tengah kalimat)

Are wa uchi dewa nakute, apato desu

N pem N pem neg N pem

itu rumah bukan apartemen

‘Itu bukan rumah, (itu apartemen)’

Selain itu, ditinjau dari segi semantik, berdasarkan kata sebelum dan sesudahnya,

atau tergantung kepada unsur yang hadir misalnya modalitas dan pemarkah tanya,

pemarkah -nai memiliki arti yang bermacam-macam.

Ega mi ni ikanai ? (optatif – gambo)

Topik V pem V pem neg

Film nonton untuk pergi

‘Nonton, yuk’.

D4K

Page 5: Tata Bahasa Jepang

Hayaku shinai ka (imperatif- meirei)

Adj V pem neg

cepat kerjakan

‘Cepat kerjakan’

Uchi e kuru no dewa nai daro ka (dugaan – suiryo)

N pem V pem neg

rumah ke datang mungkin

‘Mungkin (dia) akan datang ke rumah’

Dari contoh di atas, -nai selain dapat berposisi di belakang kalimat (dalam

kalimat tunggal), dapat juga berposisi di tengah kalimat. (dalam kalimat

majemuk). –nai selain melekat pada verba adjektiva dan nomina, dapat juga

melekat pada verba bantu, misalnya:

1. Pada verba bantu bentuk keinginan (volitional)

Anno kaban o kaitakunai

N N pem V Vb pem neg

Itu tas membeli ingin tidak

‘(Saya) Tidak ingin membeli tas itu’

2. Pada bentuk pasif yang bergabung dengan bentuk kausatif, dan bentuk

volitional)

Watashi wa nagaku mata sa re takunai

N adj V ksf pf Vlt

saya lama menunggu suruh di ingin tidak

‘Saya tidak ingin disuruh menunggu lama.’

Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat dilihat bahwa bila kata dilekati

pemarkah -nai pada umumnya merupakan bentuk negatif. Akan tetapi, pada

kenyataannya tidaklah seperti itu. Ungkapan penyangkalan bila ditinjau dari segi

semantis mempunyai maksud yang bermacam-macam, selain itu dari segi

posisinya juga dapat dilakukan dengan cara yang berbeda. Pemarkah –nai dapat

D5K

Page 6: Tata Bahasa Jepang

berposisi pada klausa pertama dan pada akhir kalimat, nai dapat bergabung

dengan verba, adjektif, nomina, maupun verba bantu lain (pasif, kausatif, dugaan,

larangan dan sebagainya). Dilihat dari bentuknya -nai menunjukkan bentuk

sangkal, tetapi dilihat dari maknanya memiliki arti yang bermacam-macam.

Bentuk -nai selain berarti “tidak”, dapat menunjukkan ajakan, perintah, larangan,

dugaan, keharusan, harapan.

Berdasarkan pertimbangan di atas, penelitian tentang bentuk -nai yang

lebih mendalam perlu dilakukan. Hal ini terutama bagi yang mempelajari bahasa

Jepang supaya tidak salah dalam cara pemakaiannya dan dalam menafsirkannya.

Dalam hal ini, berhubungan dengan posisi hubungannya dengan bentuk lain dan

makna. Pada penelitian sebelumnya dibahas tentang makna bentuk sangkal yang

terletak di ahkir kalimat. Dilihat dari strukturnya, bentuk tersebut dapat

dikategorikan ke dalam jodoshi (verba bantu), yaitu baru bisa memiliki makna

bila melekat pada kata lain. Akan tetapi dilihat dari segi makna, bentuk tersebut

bukan merupakan jodoshi karena dari segi makna, -nai merupakan uchikeshi no

jodoshi, atau jodoshi yang menyatakan makna sangkal. Bentuk bentuk tersebut

memiliki makna yang bermacam-macam dan merupakan bentuk yang sudah baku

di dalam bahasa Jepang. (lihat skripsi : Analisis Makna Bentuk Sangkal yang

Terletak di Akhir Kalimat, oleh : Nunung Hasanah)

1.2 Pembatasan Masalah

Pemarkah negasi -nai dapat bergabung dengan verba, adjektiva dan

nomina. Akan tetapi, mengingat ruang dan waktu, penulis akan mendeskripsikan

dan menganalisa pemarkah negatif –nai yang melekat pada verba saja.

Selanjutnya masalah penilitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana distribusi pemarkah negasi -nai dalam kalimat bahasa Jepang?

2. Unsur apa saja yang berperan dalam penegasian kalimat bahasa Jepang?

3. Proses morfofonemik bentuk -nai dalam bahasa Jepang?

4. Makna -nai dalam kalimat bahasa Jepang?

D6K

Page 7: Tata Bahasa Jepang

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan di atas, penelitian ini bertujuan:

1. Mendeskripsikan posisi bentuk nai

2. Mendeskripsikan dan menganalisa bentuk nai yang berposisi sebagai predikat

pada kalimat tunggal bahasa Jepang beserta bentuk gabungannya.

3. Mendeskripsikan dan menganalisa bentuk nai yang berposisi sebagai predikat

pada kalimat mejemuk beserta bentuk gabungannya.

4. Mendeskripsikan “makna” bentuk nai dalam bahasa Jepang.

1.4 Kerangka Teori

Dalam penelitian ini digunakan beberapa pandangan teori linguistik yang

relevan. Teori yang berkaitan dengan verba yang akan dirujuk dalam penelitian ini

adalah teori atau pandangan yang dikemukakan Ramlan (1987), Kridalaksana

(1966), Mees (1957) dan Djajasudarma (1989), sedangkan dengan verba bahasa

Jepang yang akan diacu adalah pandangan Masuoka (1991).

1.5 Bobot dan Relevansi

Penelitian ini merupakan penelitian dalam bidang struktur dan semantik

bentuk-bentuk verba dan keterpaduannya dengan bentuk/unsur lain akan dikaji

secara sistematis/tuntas, sehingga diperoleh deskripsi atau bentuk-bentuk negasi

yang memiliki berbagai makna.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi ilmu bahasa,

terutama dalam bidang struktur dan semantik dan linguistik pada umumnya.

D7K

Page 8: Tata Bahasa Jepang

BAB II

KAJIAN TEORI

Bahasa Jepang sebagai bahasa fleksi dan aglutinasi menyebabkan bahasa

itu kaya dengan penambahan dalam unsur pembentukannya, terutama dalam

menentukan arti secara gramatikal.

2.1 Pembentukan Kata dalam Bahasa Jepang

Kata di dalam bahasa Jepang terdidi dari:

1. Kata yang terdiri dari satu unsur tunggal atau disebut tanjungo (simple word)

atau ichijigo (primary word) seperti : atama (kepala), hashiru (berlari), karui

(ringan) dan lain-lain

2. Kata Kompleks atau disebut goseigo (nijigo).

Kata kompleks (goseigo) dalam bahasa Jepang terdiri dari tiga proses

pembentukan, yaitu

a. Pemajemukan – kata majemuk (fukugogo)

Pemajemukan merupakan proses penggabungan morfem dasar dengan

morfem dasar (baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk

sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang

baru.

b. Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik

secara keseluruhan, secara sebagian, maupun dengan perubahan bunyi.

c. Derivasi.

Derivasi yaitu proses pembentukan kata melalui proses afiksasi. Afiks

terdiri dari awalan (settogo), sisipan (setchugo) dan akhiran (setsubigo).

Ada pendapat yang menyatakan bahwa di dalam bahasa Jepang tidak ada

sisipan. Pendapat lain menyatakan adanya kata niru dan nieru, fonem /e/

dalam kata nieruadalah sisipan (T. Koizuni, 1993)

D8K

Page 9: Tata Bahasa Jepang

2.2 Ihwal Kelas Kata dalam Bahasa Jepang

Pembagian kata berdasarkan bentuk, arti dan fungsinya disebut kelas kata.

Di dalam tata bahasa tradisional, pembagian kelas kata di dasarkan atas apakah

kata itu dapat berdiri sendiri atau tidak berdiri sendiri, berkonyugasi atau tidak

berkonyugasi dan sebagainya. Perhatikan contoh kalimat berikut:

1. Kono natsu Hanako to Taroo ga kaigai ryoko ni it ta

N N N pem N N N N pen V Vbt

ini musim panas Hanako dengan Taroo luar negeri piknik untuk pergi

‘Pada musim panas tahun ini Hanako dan Taroo piknik ke luar negeri’

2. Ashita wa kitto hareru daroo

N pem adv V Vbt

besok pasti cerah mungkin

‘Kemungkinan besar besok cuaca akan cerah’

Kelas kata adalah pembagian kata secara gramatikal. Untuk pembagian

kata diperlukan suatu standar. Standar dapat berbeda-beda tergantung dari sudut

pandang secara gramatika maupun linguistik. Jadi hasilnya juga dapat

memunculkan bermacam-macam perbedaan. Berikut beberapa pendapat dari

pakar linguistik Jepang mengenai kelas kata bahasa Jepang.

Yamada (1908) membagi kelas kata dalam dua kelompok besar, yaitu : (1)

morfem bebas dan (2) morfem terikat. Standar klasifikasinya berdasarkan struktur

dan semantik. Klasifikasinya adalah:

1. Morfem bebas terdiri dari :

a. Nomina (meishi)

b. Pronomina (daimeishi)

c. Numeralia (sushi)

d. Adjektiva yang berakhiran -i (adjektiva -i) (keiyooshi-i)

e. Verba (dooshi)

f. Verba bantu (jodoshi)

g. Adverbia (fukushi)

h. Konjungsi (setsuzokushi)

i. Interjeksi (kandoshi)

D9K

Page 10: Tata Bahasa Jepang

2. Morfem terikat, yaitu:

j. Partikel (joshi)

Hasimoto (1934) memasukkan verba bantu (jodoshi) ke dalam morfem

terikat bersama-sama dengan partikel (joshi).

Tokieda (1946) membagi kelas kata ke dalam dua kelompok berdasarkan

ada atau tidaknya konyugasi.

Morfem bebas terdiri atas:

1. Nomina (meishi)

2. Pronomina (daimeishi)

3. Nominal (

4. Sufiks yang tidak berkonyugasi

5. Verba (doshi)

6. Adjektiva -i (keyooshi –i)

7. Adjektiva yang berakhiran -na (adjektiva -na) (keyooshi –na/keyoodoshi)

Morfem terikat terdiri atas

8. Partikel (joshi)

9. Verba bantu (jodoshi)

10. Interjeksi (kandoshi)

11. Pronomina (daimeishi)

Berdasarkan fungsinya, Tokieda memasukkan modifikator dan adverbia.

Masuoka (1991) membagi kelas kata sebagai berikut:

1. Nomina (meishi)

2. Verba (doshi)

3. Adjektiva (keyooshi)

4. Kopula

5. Verba bantu (jodoshi)

6. Adverbia (fukushi)

7. Partikel (joshi)

8. Modifikator

D10K

Page 11: Tata Bahasa Jepang

9. Konjungsi (setsuzokushi)

10. Interjeksi (kandoshi)

11. Pronomina (daimeishi)

2.3 Bentuk Negasi dalam Bahasa Jepang

Negasi atau sangkal di dalam bahasa Jepang selain dengan menggunakan

bentuk nai dipakai juga bentuk nu (ng), zu dan mai. Di dalam kelas kata bahasa

Jepang, nai, nu, nu (ng), zu dan mai ini dikelompokkan ke dalam kelas kata

jodoshi atau verba bantu. Pada umumnya jodoshi (verba bantu) terdapat pada

akhir kalimat, tidak dapat berdiri sendiri, menempel pada yoogen yang terdiri dari

verba, adjektiva dan nomina, terdapat perubahan dan menambahkan arti yaitu

pembenaran, penyangkalan, menyatakan waktu (kala kini, akan datang dan kala

lampau) dan seterusnya.

Menurut Tamamura Fumio (1992) dalam buku “Nihongogaku o manabu

hito no tame ni”, jodoshi atau verba bantu merupakan kata yang dilekatkan di

belakang kata yang berdiri sendiri, membentuk frasa terdapat perubahan,

menambahkan arti, menunjukkan keputusan atau pertimbangan dari si pembicara.

Menurut Katoo Akhihiko (1989), dalam buku Nihongo Gaisetsu jenis–jenis

jodoshi diklasifikasikan berdasarkan (1) makna, (2) konyugasi dan (3)

penyambungan.

Berdasarkan arti atau maknanya nu (ng), nai dan zu mempunyai arti

uchikeshi no jodoshi atau verba bantu yang menyatakan penyangkalan. Mai

termasuk ke dalam hitei-ishi, yaitu yang menyatakan kehendak atau keinginan

dalam bentuk menyangkal. Makna lain dari mai adalah hitei-suiryo yaitu yang

menyatakan dugaan dalam bentuk menyangkal. Perhatikan contoh kalimat berikut

ini.

1. Kyo wa sora ga harenai.

Hari ini langit tidak cerah

2. Sonna koto shiranu hazu da.

Mengenai hal itu tidak seharusnya untuk diketahui

D11K

Page 12: Tata Bahasa Jepang

3. Kanarazu wasurezu ni motte mairimasu.

Tentu tidak akan lupa akan saya bawakan.

4. Kare wa michi de attemo shiran kao o shiteiru.

Bertemu di jalan pun dia pura-pura tidak tahu.

Penggunaan nu (ng) pada akhir kalimat dalam bentuk biasa (futsutai)

merupakan bahasa Jepang yang dipakai di Jepang bagian barat, sedangkan di

Tokyo, digunakan nai.

Contoh:

1. Yoku wakaranai (Tokyo).

Yoku wakaran (Jepang Barat).

2. Kyo wa ame ga furanai (Tokyo)

Kyo wa ame ga furan (Jepang Barat)

Di dalam bahasa standar, dalam bahasa percakapan sehari-hari pada akhir

kalimat dipakai bentuk sopan. Untuk menyatakan penyangkalan lebih umum

dipakai bentuk nai daripada memakai bentuk nu. Nu lebih sering dipakai dalam

idiom.

Contoh : - Shirazu - shirazu

Tanpa sadar

- Furimo sezu, terimo sezu

mendung terus

- Omowamnu dekigoto

Hal-hal yang tidak disangka

- Iwanuba hana

Diam itu emas

Mai mempunyai makna uchikesino ishi, yaitu kehendak dalam bentuk

menyangkal dan uchikesino suiryo yaitu dugaan dalam bentuk menyangkal. Bila

mai melekat pada verba dilakukan oleh orang pertama menunjukkan arti

uchikesino ishi atau kehendak yang menyangkal.

D12K

Tidak tahu/kurang tahu

Hari ini tidak hujan

Page 13: Tata Bahasa Jepang

Contoh

1. Kare ni wa ni do to aumai.

Tidak ingin lagi bertemu dengan dia (untuk kedua kalinya)

2. Itsumade mo kanashimumai.

Sampai kapan pun tidak ingin bersedih.

Mai yang melekat pada verba dan dilakukan oleh orang ketiga atau orang

lain menunjukkan makna uchikeshi no suiryo yaitu dugaan yang menyangkal.

Contohnya.

1. Kare wa gaikoku e ikumai

Mungkin dia tidak akan pergi ke luar negeri

2. Ano chichioya wa musume no kekkon o yoroko bu mai

Bapak itu mungkin merasa tidak senang dengan perkawinan anak

perempuannya

Bentuk sangkal mai ini dipakai dalam bahasa tulisan, dan oleh orang yang

sudah lanjut usia. Sekarang lebih banyak menggunakan bentuk –nai tsumorida

untuk maksud kehendak menyangkal dan bentuk –nai daroo untuk makna bentuk

dugaan bentuk menyangkal.

Berdasarkan cara penyambungannya verba bantu nai, nu (ng) dan mai

bersambung pada mizenkei yaitu bentuk sambung untuk bentuk menyangkal nai,

nu (ng), mai juga untuk bentuk pasif reru, -rareru, bentuk kausatif –seru, -saseru.

Mai yang mempunyai makna kehendak sangkal bersambung pada shisikei,

yaitu bentuk sambung untuk bentuk mai yang mempunyai arti hitei suiryo, yaitu

dugaan menyangkal, bentuk kabarnya ísooda, bentuk dugaan rashii, daroo

(deshoo).

Berdasarkan konyugasinya, verba bantu nai termasuk ke dalam konyugasi

bentuk adjektif.

Nu (ng) termasuk ke dalam bentuk khusus

Mai termasuk ke dalam bentuk yang tidak berkonyugasi

D13K

Page 14: Tata Bahasa Jepang

Berikut contoh konyugasi verba bantu yang bermakna menyangkal:

Contoh verba bantu nai:

1. Kyoo wa sora ga harerai

Hari ini langit tidak cerah

2. Ashita mo harenakereba doo shiyoo

Kalau besok juga cuaca tidak cerah, bagaimana?

3. Mainichi gohan o tabenaide, gakkoo e ikunasu

Setiap hari pergi ke sekolah tanpa makan nasi

Contoh verba bantu nu (ng), zu.

1. Yamu o e nu jijo de gakkoo o yamemasu

2. Hayaku ikaneba, chikoku suru yo

Kalau tidak cepat pergi, akan terlambat lho.

3. Kare wa nihonbungaku o manaban toshite nihon e ryugakushita

4. Anohito wa okori mo sezu, waratte it.

Orang itu tertawa, tanpa ada rasa marah

Contoh verba bantu mai, yang bermakna hitei ishi.

1. Kimi ni wa moo iu mai

Saya tidak akan bicara lagi dengan anda.

2.

Contoh verba bantu mai, yang bermakna hitei suiryo

1. Kare wa gaikoku e wa ikumai

Mungkin dia tidak akan pergi ke luar negeri

2. Kimi ni wa kono mondai wa wakarumai

Masalah ini mungkin kamu tidak akan mengerti

D14K

Page 15: Tata Bahasa Jepang

2.4 Negasi -nai dalam Bahasa Jepang

Ekspresi negasi berarti tidak terwujudnya suatu kejadian atau suatu

keputusan (akibat dari satu dan lain hal) seperti yang terkandung dalam bentuk

positifnya. Bentuk negasi pada bentuk biasa dibuat dengan melekatkan afiks

negasi (sangkal- nai) pada predikat, sedangkan pada bentuk sopan dengan

melekatkan afiks masen pada predikat (Mashuoka, 1992). -nai mlekat pada kata

yang berkonyugasi, menunjukkan arti menyangkal perbuatan, sifat, keadaan dari

kata yang berkonyugasi tersebut (Sakata, Yukiko, Bunpo II, 1980).

-nai digunakan sebagai Renyoshushokuku, yaitu yang menerangkan dooshi

(verba) dan keiyooshi (adjektiva), -nai yang melekat pada verba dan yang melekat

pada adjektiva bentuknya tidak sama. Perhatikan kalimat berikut:

Contoh nai yang melekat pada verba

1. a. Kyoo ame ga furu Hari ini turun hujan

b. Kyoo ame ga furunai Hari ini tidak turun hujan

2. a. Asa gohan taberu Makan pagi

b. Asa gohan tabenaide, gakko e iku Tanpa makan pagi pergi ke sekolah

Contoh nai yang melekat pada adjektiva –i/-na

1. Samui desu dingin

Kotoshi no fuyu wa amari samukunai desu

Musim dingin tahun ini tidak begitu dingin

2. Ookii desu besar

Amari ookikunakute, tsukai yasui

Mudah dipakainya karena tidak terlalu besar

3. Sotchoku desu jujur/terus terang

Sonoyoona kangaekata wa sotchoku dewa nai

Itu tidak jujur.

Contoh nai yang melekat pada nomina

1. a. Anohito wa gakusei desu

Itu mahasiswa

D15K

Page 16: Tata Bahasa Jepang

b. Anohito wa gakusei dewa nai

Orang itu bukan mahasiswa

2. a. Are wa jidoosha desu

Itu mobil

b. Are wa jidoosha dewa nai

Itu bukan mobil

Perhatikan pula contoh kalimat berikut ini

1. Kyoo wa sora ga harenai (non pas)

Tidak cerah

2. Kinoo mo sora ga harenakatta (pas – lampau)

Kemarin juga langit tidak cerah

3. Kyoo wa ame ga furimasen (non pas)

Hari ini tidak hujan

4. Kinoo mo ame ga furimasen deshita (pas – lampau)

Kemarin juga tidak turun hujan

5. Bogor wa atsukunai (non pas)

Bogor tidak panas

6 Bogor wa atsukunakatta (pas – lampau)

Bogor tidak panas

7. Kono shiken wa muzukashiku arimasen (non pas)

Ujian ini tidak sukar

8. Kinoo no shiken wa muzukushiku arimasen deshita (pas – lampau)

Ujian kemarin tidak sukar

9. Yamada san wa sensei dewa nai (non pas)

Yamada bukan guru

10. Koko wa eki dewa arimasen (non pas)

Ini bukan stasiun

11. Yamada san wa sensei dewa nakatta (pas lampau)

Yamada bukan guru

D16K

Page 17: Tata Bahasa Jepang

12. Koko wa eki dewa arimasen deshita (pas lampau)

Pemarkah negatif –nai pada (1), -nakatta pada (2), -masen pad (3) dan

masen deshita pada (4) merupakan pemarkah negatif verba. Pemarkah negatif (-

ku) –nai pada (5), (-ku) nakattapada (6) (-ku) arimasen pada (7), dan (-ku)

arimasen deshita pada (8) merupakan pemarkah negatif adjektiva (i), sedangkan

pemakah negatif –dewa nai pada (9), dewa arimasen pada (10), -dewa nakatta

pada (11) dan –dewa arimasen deshita pada (12) merupakan pemarkah negatif

nomina dan adjektiva (-na).

Pemarkah negatif (-nai), -nakatta, (-ku) –nai, (-ku) –nakatta, (-dewa) nai,

dan (-dewa) nakatta, merupakan bentuk biasa, sedangkan pemarkah negatif -

masen, masen deshita, (-ku) arimasen, (-ku) arimasen deshita, -dewa arimasen,

dan dewa arimasen deshita merupakan bentuk halus.

2.5 Verba dalam Bahasa Jepang

Bahasa Jepang sebagai bahasa fleksi dan aglutinasi, menyebabkan bahasa

itu kaya dengan perubahan dalam unsur pembentukannya terutama dalam

menentukan arti secara gramatikal. Secara morfologis, verba bahasa Jepang ada

dua macam, yaitu

1. Verba Dasar/asal, yaitu verba yang tidak mengalami proses pembentukan kata,

mempunyai arti secara leksikal.

2. Verba Bentukan, sebagai hasil proses pengimbuhan, derifasi, impleksi dan

lain-lain.

Verba dilihat dari konyugasinya, terdiri dari :

1) Akar, yang memiliki fonem ultima konsonan /s/, /k/, /g/, m/, /n/, /b/, /t/, /r/,

dan /w/, berupa prakategorial dan bila dibubuhi /u/ menjadi verba pangkal

(VP). Contoh:

stem VP makna

nom + /u/ nomu ‘minum’

yob + /u/ Yobu ‘panggil’

D17K

Page 18: Tata Bahasa Jepang

Hanas + /u/ hanasu ‘bicara’

Verba jenis ini selanjutnya disebut verba golongan I (Vgol. I)(Shiin

Doshi)

2) Stem yang memiliki fonem ultima vokal berupa prakategorial, bila dibubuhi –

ru menjadi verba pangkal (VP), contoh :

stem VP makna

Oshie + -ru oshieru ‘mengajar’

Ki + -ru kiru ‘pakai’

Verba jenis ini selanjutnya disebut verba golongan II. (V. gol. II) (Boin

Doshi)

3) Verba operand kuru ‘datang’

4) Verba operand suru ‘melakukan’.

Verba (3) dan (4) selanjutnya disebut verba golongan III (V. gol. III).

(Henkaku Doshi)

2.5.1 Konyugasi Verba

Menurut Koizumi (1994) sebagai berikut :

(1) Bentuk negasi :

V. gol. I contoh : yomu ‘membaca’

Yom + /a/ + -nai yomanai ‘tidak membaca’

V. gol. II contoh : oshieru ‘mengajar’

Oshie + -nai oshienai ‘tidak mengajar

V. gol III contoh : kuru ‘datang’

Ko + -nai konai ‘tidak datang’

Suru ‘melakukan’

Shi + -nai shinai ‘tidak melakukan’

(2) Bentuk pasif :

D18K

Page 19: Tata Bahasa Jepang

V. gol. I contoh : yomu ‘membaca’

Yoma + -reru yomareru ‘dibaca’

V. gol. II contoh : oshieru ‘mengajar’

Oshie + -rareru oshierareru ‘diajar’

V. gol, III contoh : kuru ‘datang’

Ko + -rareru korareru ‘didatangi’

Suru ‘melakukan’

Sa + reru sareru ‘dilakukan’

(3) Bentuk yang menyatakan keinginan

V. gol. I, contoh : yomu ‘membaca

Yoma –tai yomitai ‘ingin membaca’

V. gol. II, contoh : oshiery ‘mengajar’

Oshie + -ta oshietai ‘ingin mengajar’

V. gol. III, contoh : kuru ‘datang’

Ki + -tai kitai ‘ingin datang’

Suru ‘melakukan’

Shi + tai shitai ‘ingin melakukan’

(4) Bentuk yang menyatakan kala lampau

V. gol. I, contoh : yomu ‘membaca’

yon + -nda yonda ‘sudah membaca’

yoma + -nai yomanai ‘tidak membaca’

yoma + -nakatta yomanakatta ‘tidak

membaca’ (kala lampau)

yomi + -masen yomimasen ‘tidak

membaca’

yomi + -masen deshita yomimasen deshita

tidak membaca’ (kala

lampau)

V. gol. II, contoh : oshieru ‘mengajar’

Oshie + -ta oshieta ‘sudah mengajar’

D19K

Page 20: Tata Bahasa Jepang

Oshie + -nai oshienai ‘tidak mengajar’

Oshie + -nakatta oshienakatta ‘tidak

mengajar’ (kala lampau)

Oshie + -masen oshiemasen ‘tidak

mengajar’ (kala lampau)

Oshie + -masendeshita oshiemasen deshita

‘tidak mengajar’ (kala

lampau)

V. gol. III, contoh : kuru ‘datang’

Ki + -ta kita ‘sudah datang’

Ko + nai ‘tidak datang

Ko + -nakatta konakatta ‘tidak datang’

(kala lampau)

Ki + -masen kimasen ‘tidak datang’

(kala lampau)

Ki + -masen deshita kimasen deshita ‘tidak

datang’ (kala lampau)

Suru ‘melakukan’

Shi + -ta shita ‘sudah melakukan’

Shinai ‘tidak melakukan’

Shi + -nakatta shinakatta ‘tidak

melakukan’ (kala lampau)

Shi + -masen shimasen ‘tidak

melakukan’ (kala kini)

Shi + -masen deshita shimasen deshita ‘tidak

melakukan’ (kala lampau)

(5) Bentuk verba kemampuan. (dapat)

V. gol. I, contoh : yomu ‘membaca’

Yome + -ru yomeru ‘datap membaca’

D20K

Page 21: Tata Bahasa Jepang

V. gol. II, contoh : oshieru ‘mengajar’

Oshie + -rareru oshierareru ‘dapat mengajar’

V. gol. III, contoh : kuru ‘datang’

Ko + -rareru korareru ‘dapat datang’

Suru ‘melakukan’

Sa + -reru sareru ‘dapat melakukan’

(6) Verba majemuk

Contoh : motsu ‘membaca’ + iku ‘pergi motte iku ‘pergi

membawa’

Kau ‘membeli’ + yaru ‘memberi’ katte yaru

‘membelikan’

(7) Aspek

Contoh : miru ‘lihat’ + -te iru mi + -te iru mite iru

‘sedang

melihat/menonton’

Akeru ‘membuka’ + -te aru ake + -te aru

akete aru ‘terbuka’

2.5.2 Penegasian Verba dalam Bahasa Jepang

Penegasian verba dalam bahasa Jepang digunakan dua jenis, yaitu :

1. Verba Pangkal (stem), yang dilekati sufiks –nai, seperti :

Hanasu ‘berbicara’ hanasanai ‘tidak berbicara’

Oshieru ‘mengajar’ oshienai ‘tidak mengajar’

Kuru ‘datang’ konai ‘tidak datang’

Suru ‘melakukan sinai ‘tidak melakukan’

2. Verba pangkal (stem) yang dilekati sufiks –masen, seperti:

Hanasu ‘berbicara’ hanashimasen ‘tidak berbicara’

Oshieru ‘mengajar’ oshiemasen ‘tidak mengajar’

Kuru ‘datang’ kimasen ‘tidak datang’

D21K

Page 22: Tata Bahasa Jepang

Suru ‘melakukan simasen ‘tidak melakukan’

Selain dari dua jenis di atas, terdapat pula variannya yang merupakan kala

lampau, seperti

Kala kini Kala lampau

Hanasanai tidak berbicara hanasanakatta tidak berbicara

Hanashimasen tidak berbicara hanashimasen deshita tidak berbicara

D22K

Page 23: Tata Bahasa Jepang

BAB III

METODE PENELITIAN DAN KAJIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode ini bertujuan

membuat deskripsi yang sistematis dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta

hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Djajasudarma, 1993: 8).

Menggunakan metoda deskriptif, yaitu penelitian dilakukan semata-mata

berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris

hidup pada penuturnya. Dengan demikian hasil yang diharapkan berupa peran

bahasa yang bersifat ponet atau paparan seperti apa adanya (Sudaryanto, 1992:

62).

Dalam pengumpulan data, digunakan teknik dasarsimak dengan teknik

lanjutan teknik simak catat. Teknik ini digunakan karena sumber data utama yang

ditetapkan berupa sumber tulis yang berbentuk buku, koran dan majalah.

Sebagai data penunjang, selain hasil intuisi penelitian sendiri, dilakukan

pula wawancara dengan informan. Dengan demikian, data yang didapat akan lebih

akurat.

3.2 Metode Kajian

Dalam penelitian ini digunakan kajian distribusional. Metode distribusional

memiliki alat penentu yang berasal dari unsur Bahasa yang diteliti (Djajasudarma,

1993 : 60). Digunakannya metode ini adalah atas pertimbangan bahwa setiap

Bahasa berhubungan satu sama lain, membentuk satu kesatuan yang padu

(Saussure, 1996 ; dalam Djajasudarma, 1993 : 60)

Metode kajian distribusional memiliki teknik dasar yang disebut teknik

‘Bagi Ubsur Langsung’ (BUL). Teknik ini mengawali kerja analisis dengan

membagi satuan lingual data menjadi beberapa bagian atau unsur (lihat pula

Sudaryanto, 1993 : 31).

D23K

Page 24: Tata Bahasa Jepang

Teknik Kajian bagi unsur langsung

1) Yomanai ‘tidak membaca’

Yomu ‘membaca’ nai ‘negasi’

Stem suffiks

Yom -u

Yom -a -nai

2) Oshienai ‘tidak mengajar’

Oshieru ‘membaca’ nai ‘negasi’

Akar suffiks

Oshie -ru

Oshie -nai

3) Konai ‘tidak datang’

Kuru ‘datang’ nai ‘negasi’

Akar suffiks

ku -ru

ko -nai

D24K

pelesapan Silabe akhir bagi verba gol. II

pelesapan silabe akhir bagi Vgol. III

Page 25: Tata Bahasa Jepang

4) Shinai ‘tidak melakukan’

Suru ‘melakukan’ nai ‘negasi’

Akar suffiks

su -ru

shi -nai

3.3 Sumber Data

Sumber data utama adalah bahasa tulis seperti buku-buku pelajaran, buku

ilmiah, majalah, novel, bulletin. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata yang

mengandung bentuk –nai dalam tataran kalimat. Dari pemilahan data kalimat

tersebut, peneliti akan meneliti bentuk-bentuk negasi dari verba dalam bahasa

Jepang. Data lisan diperlukan jika peneliti merasa ragu-ragu terhadap

keberterimaan data tulis yang dikaji.

Sebagai sumber data lisan, ditentukan informan dengan kriteria penutur

asli bahasa Jepang. Persyaratan untuk menjadi informan, adalah : 1) dewasa; 2)

penutur asli bahasa yang diteliti; 3) cerdas; 4) memiliki kesiapan mental untuk

menjadi informan; 5) alat artikulasinya baik.

Beberapa karya tulis yang dipakai sebagai sumber data adalah sebagai

berikut:

(1) Buku Samazamana Hyogen Vol 1, edisi 1995

(2) Buku Serufu Masuta Shirizu 6. Bun no Nobekata, edisi 1996

(3) Buku Kiso Nihogo Bunpo I, edisi 1977.

(4) Buku Minna No Nihongo I, edisi 1998

(5) Buku Minna No Nihongo II, edisi 1998

D25K

pelesapan silabe akhir bagi Vgol. III

Page 26: Tata Bahasa Jepang

DAFTAR PUSTAKA

1. Alisyahbana, S. Takdir

1986 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid II, Jakarta : Dian

Rakyat

2. Badudu, J.S

1983 Pedoman Penulisan Tatabahasa Indonesia, Jakarta,

Depdikbud

3. Djajasudarma, T. Fatimah

1993 a. Semantik 1: Pengantar ke Arah Ilmu Makna, Bandung;

Eresco.

1993 b. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna; Bandung, Eresco.

1993 c. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan

Kajian, Bandung, Eresco

4. Kato

1989 Nihongo Gaisetsu, Tokyo; Oofu

5. Koizumi, Tamotsu

1993 Nihongo Kyoshi no Tame no, Gengogaku Nyumon, Tokyo

Daishukan Shoten

6. Kridalaksana, Harimurti

1982, Fungsi dan gaya Bahasa, Ende: Nusa Indah

1994, Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, Jakarta : PT Gramedia

1996, Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, Jakarta: PT

Gramedia

7. Lyons, John

1995 Pengantar Teori Linguistik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka

Utama

8. Maruyama, Keisuke

1995 Samazamana Hyogen Vol 1, Tokyo, Bonjinsha.

9. Masuoka, Takashi

1989 Kiso Nihongo Bunpo, Tokyo : Kuroshio Shuppan

D26K

Page 27: Tata Bahasa Jepang

10. Moriyama, Takuro

1996, Serufu Masuta Shirizu 6, Tokyo: Kuroshio Shuppan

11. Sakata, Yukiko

1980 Bunpo II, Tokyo: Bonjinsha

12. Tadjuddin, Moh.

1993 “Makna Aspektualitas Inheren Verba Bahasa Indonesia”,

dalam majalah ilmiah Universitas Padjadjaran, Bandung:

Universitas Padjadjaran.

13. Taketoki, Yoshikawa

1989 Nihongo Bunpo Nyumon, Tokyo: Aruku.

14. Tamamura, Fumio

1992 Nihongogaku o Manabu Hito no Tame ni, Tokyo,

Sekkaishisosha.

15. Tanaka, Toshiko

1993 Nihongo No Bunpo, Tokyo; Kindai Bungeisha.

16. Teramura, Hideo

1987 Nihon Bunpo, Tokyo; Oofu

17. Verhaar, J.W.M

1996 Asas-Asas Linguistik Umum, Yogyakarta, Gajah Mada

University Press.

D27K