bahasa jepang

Embed Size (px)

Citation preview

Daftar Isi 1. Pendahuluan 2. Sistem menulis o Hiragana Soal latihan hiragana o Katakana Soal latihan katakana o Kanji 3. Tata bahasa dasar o Menyatakan "adalah" dan "bukanlah" Latihan menyatakan "adalah" dan "bukanlah" o Pengenalan pada partikel Soal latihan partikel o Adjektiva Soal latihan adjektiva o Dasar-dasar verba Soal latihan verba o Bentuk negatif verba Soal latihan bentuk negatif verba o Bentuk lampau verba Soal latihan bentuk lampau verba o Partikel untuk verba o Verba transitif dan intransitif o Klausa subordinat deskriptif dan urutan kata pada kalimat o Partikel yang berkaitan dengan nomina o Menggunakan adverbia dan gobi 4. Tata bahasa penting o Bentuk sopan dan akar verba o Menyebut orang o Partikel tanya bentuk o Kalimat gabungano o o o o o o o o o o

Penggunaan lain bentuk te Bentuk potensial Menggunakan dan dengan partikel [ ] Pengandaian Menyatakan keharusan Keinginan dan saran volisional Melakukan aksi pada klasusa subordinat Definisi dan deskripsi Mencoba atau mengusahakan sesuatu volisional+ Memberi dan menerima Membuat permintaan perintah Angka dan berhitung Mengakhiri bagian 4 dan gobi tambahan

bentuk

o o

5. Berbagai macam ekspresi o Verba kausatif dan pasif o ... 6. Topik lanjut o Gaya bahasa formal o ... 7. Lain-lain o Pola-pola bahasa percakapan santai dan slang o ... 8. Lampiran o Menyiapkan sistem operasi kamu untuk belajar bahasa Jepang o Istilah-istilah linguistik o Cara menulis hiragana o Cara menulis katakana

Menguasai Bahasa Jepang menggunakan Cara Berpikir Orang Jepang Daftar Isi | Bab Berikutnya (Sistem Menulis)Isi bab ini 1. 2. 3. 4. 5. Masalah pada buku pelajaran bahasa Jepang pada umumnya Menguasai bahasa Jepang menggunakan cara berpikir orang Jepang Apa yang tidak dibahas di sini? Saran Prasyarat

Masalah pada buku pelajaran bahasa Jepang pada umumnyaMasalah pada buku-buku bahasa Jepang konvensional terletak pada tujuannya: 1. Mereka ingin pembaca bisa menggunakan bahasa Jepang sopan secepat mungkin. 2. Mereka tidak ingin menakut-nakuti pembaca dengan huruf Jepang dan China yang jumlahnya memang banyak. 3. Mereka ingin mengajari cara mengucapkan ungkapan-ungkapan bahasa Indonesia menggunakan bahasa Jepang. Karena bahasa Jepang jauh berbeda dengan bahasa Indonesia, bahkan mulai dari cara berpikir dasarnya, tujuan-tujuan tersebut menghasilkan banyak buku-buku membingungkan yang bisa ditemui di pasaran. Mereka biasanya dipenuhi banyak aturan rumit dan berbagai tata bahasa untuk ungkapan-ungkapan bahasa Indonesia tertentu. Mereka juga menganggap bahwa kamu

tidak cukup cerdas untuk menghafalkan huruf-huruf kanji sehingga hampir tidak memuatnya sama sekali. Jadi saat kamu pergi ke Jepang atau mengunjungi situs bahasa Jepang, kagetlah, karena kamu akan menyadari bahwa pada dasarnya kamu tidak bisa membaca apapun! Akar permasalahannya adalah mereka mencoba mengajari kamu bahasa Jepang dengan cara berpikir bahasa Indonesia. Mereka ingin mengajari kamu "Halo, nama saya Jaya" langsung di halaman pertama, tanpa menjelaskan semua mekanisme dan cara berpikir yang dipakai di belakang layar. Mereka mungkin mengajari kamu kata-kata dalam bentuk sopannya sebelum memperkenalkan bentuk dasarnya, padahal cara tersebut tentunya terbalik dan tidak masuk akal. Mereka juga mungkin menyertakan subjek kalimatnya walaupun hal tersebut tidak diperlukan dan umumnya dihilangkan. Sebetulnya, cara yang paling umum untuk mengatakan "Nama saya Jaya" ternyata "adalah Jaya". Ini karena sebagian besar informasinya bisa dipahami dari konteks sehingga diabaikan. Tapi apakah buku-buku tersebut menjelaskan dasar-dasar bahasa Jepang seperti ini? Tidak, karena mereka sibuk membuat kamu menghafal ungkapan-ungkapan "berguna" sejak awal. Hasilnya adalah buku yang berisi aturan-aturan rumit "gunakan ini kalau kamu ingin mengucapkan ini" dan pembaca akhirnya kebingungan mengenai cara kerja bahasa Jepang yang sebenarnya. Solusi masalah ini adalah menjelaskan bahasa Jepang dari sudut pandang orang Jepang. Ambil bahasa Jepang, lalu jelaskan dari dasar bagaimana bahasa tersebut bekerja. Karenanya, diperlukan urutan penjelasan yang masuk akal di bahasa Jepang. Kalau kamu perlu tahu A untuk memahami suatu ungkapan B, jangan ajarkan B terlebih dahulu hanya karena ungkapan tersebut dirasa penting. Pada dasarnya, yang diperlukan adalah panduan menguasai bahasa Jepang menggunakan cara berpikir orang Jepang.

Menguasai bahasa Jepang menggunakan cara berpikir orang JepangPanduan ini berusaha menjelaskan tata bahasa Jepang secara sistematis dan masuk akal. Panduan ini bukanlah alat praktis untuk secepatnya mempelajari ungkapan-ungkapan berguna (misalnya, ungakapan-ungkapan umum saat bepergian). Namun, panduan ini akan membangun fondasi-fondasi tata bahasa secara logis sehingga kamu akan memiliki pemahaman dasar yang kuat. Kalau kamu pernah mempelajari bahasa Jepang lewat buku lain, mungkin kamu akan menemui bahwa ada perbedaan besar tentang urutan dan penyampaian materinya. Ini karena panduan ini tidak berusaha memaksa agar bahasa Jepangnya cocok dengan kerangka bahasa Indonesia. Di sini, contoh-contoh dan terjemahannya akan menunjukkan bagaimana ide-ide diekspresikan dalam bahasa Jepang yang sebenarnya, sehingga penjelasannya akan menjadi lebih sederhana dan mudah dimengerti. Di awal buku ini, akan digunakan terjemahan bahasa Indonesia yang seharfiah mungkin (literal, kata per kata). Terjemahan harfiah tersebut pada umumnya akan menghasilkan kalimat bahasa Indonesia yang aneh, namun dari situ kita akan bisa melihat bagaimana orang Jepang sebenarnya memahami kalimat tersebut. Contohnya, di terjemahannya mungkin tidak dituliskan subjek kalimat karena memang di kalimat bahasa Jepangnya tidak ada. Sebagai contoh lain, karena bahasa Jepang tidak membedakan antara kebenaran umum dengan bentuk masa depan (misal "Saya makan" dengan "Saya akan makan") maka terjemahannya juga belum tentu membedakannya. Harapannya adalah pembaca menjadi tahu arti sebenarnya

dari suatu kalimat bahasa Jepang. Setelah pembaca menjadi akrab dan nyaman dengan cara kerja bahasa Jepang, keharfiahan terjemahan akan perlahan-lahan dikurangi sehingga menjadi lebih enak dibaca guna mendukung pembahasan topik-topik lanjut. Perlu diketahui bahwa membangun fondasi tata bahasa secara sistematis memiliki kekurangan di samping kelebihan. Di bahasa Jepang, konsep bahasa yang paling dasar ternyata juga yang paling sulit untuk dipahami. Lalu, kata-kata yang paling umum sayangnya punya banyak aturan perkecualian. Ini berarti bagian tersulit dari bahasa Jepang malah akan kita pelajari di awal-awal. Buku-buku pada umumnya tidak mengambil jalur seperti itu, takut para pembaca akan kebingungan atau malah kabur. Mereka menunda pembahasan konjugasikonjugasi tersusah dan menutup-nutupinya sambil langsung mengajarkan ungkapanungkapan umum (yang saya maksud khususnya adalah konjugasi bentuk lampau). Hal tersebut sah-sah saja, namun malah akan menimbulkan lebih banyak masalah dan kebingungan di tengah jalan sebagaimana membangun rumah di atas fondasi yang rapuh. Dalam mempelajari bahasa, bagian yang susah mau tidak mau pasti akan dipelajari, tidak peduli apakah itu sejak awal ataupun akhir-akhir. Nah, kalau dipelajari sejak awal, bagianbagian yang mudah malah akan menjadi jauh lebih mudah karena cocok dengan fondasi awal yang telah dibangun. Tata bahasa Jepang sebetulnya sangatlah konsisten. Kalau kamu mempelajari aturan-aturan tersulitnya, kamu akan melihat bahwa banyak tata bahasa sisanya memanfaatkan aturan-aturan dasar tersebut. Dari situ, bagian yang menantang tinggal mengingat kombinasi-kombinasi yang mungkin dari aturan dasarnya untuk menggunakannya di situasi yang benar. Catatan: Sebelum menggunakan tutorial ini, ingat bahwa tanda kurung setengah seperti ini: adalah versi Jepang dari tanda kutip ("").

Apa yang tidak dibahas di sini?Prinsip yang memandu saya membuat tutorial ini adalah bertanya pada diri sendiri, "Apa yang tidak bisa dicari di kamus?" atau "Apa yang tidak dijelaskan dengan baik di kamus?" Saat membuat tutorial ini, segera terlihat jelas bahwa tidak mungkin membicarakan setiap kata yang tidak memiliki padanan jelas di bahasa Indonesia. Sebetulnya saya telah mencoba membuat daftar perbendaharaan kata tapi dengan cepat menyerah. Terkadang, akan ada penjelasan mendalam tentang sifat-sifat suatu kata tertentu jika konteksnya sesuai dan jika kata tersebut cukup spesial. Tapi, pada umumnya mempelajari seluruh penggunaan yang mungkin dari suatu kata diserahkan pada pembaca. Sebagai contoh, tidak akan ada penjelasan bahwa kata "tinggi" (takai) di bahasa Jepang juga bisa berarti "mahal", dan kata "dingin" (samui) juga bisa berarti "jayus". Kamus EDICT (Jepang-Inggris) adalah kamus yang lengkap, tidak hanya memuat lebih banyak kata dari kebanyakan kamus cetak namun juga memuat contoh kalimat. Itu akan membantumu membangun perbendaharaan kata lebih dari yang saya bisa. Saya juga menyarankan untuk tidak menghabiskan uang membeli kamus kertas Jepang-Inggris atau Inggris-Jepang karena yang kebanyakan beredar di pasaran sangatlah tidak mencukupi. (Wah, ada alternatif gratis dan lebih baik! Apakah jadi teringat open-source?)

SaranSaran saya saat berlatih bahasa Jepang: kalau suatu saat kamu kebingungan mengungkapkan suatu pemikiran bahasa Indonesia menggunakan bahasa Jepang, maka lebih baik tidak usah

membuang-buang waktu mencoba menerjemahkannya sendiri. Hampir selalu, terjemahan yang kamu hasilkan akan kacau. Selalu ingatlah hal ini: kalau kamu belum tahu cara mengungkapkan sesuatu, maka kamu memang belum tahu. Sebagai alternatifnya, tanyalah orang yang lebih tahu dan minta penjelasannya. Dengan cara ini, kamu akan belajar langsung dari bahasa Jepangnya yang benar. Tidak seperti saat menjawab soal matematika, kamu tidak perlu menjabarkan langkah-langkah untuk mendapatkan jawabannya. Kalau kamu berlatih dari jawabannya, kamu akan menumbuhkan kebiasaan baik yang akan membantumu mencipkatan kalimat-kalimat bahasa Jepang yang benar dan alami. Karena itulah saya orang yang percaya akan metode "belajar dari contoh". Contoh dan pengalaman adalah senjata utamamu dalam menguasai bahasa Jepang. Oleh karenanya, kalau kamu tidak sepenuhnya paham suatu penjelasan saat pertama kali mempelajarinya, jangan terlalu khawatir! Teruslah melangkah sambil menjadikan penjelasan tersebut sebagai referensi saat kamu menemukan lebih banyak contoh penggunaannya. Ini akan membuat kamu lebih bisa merasakan penggunaanya di berbagai macam situasi. Sayangnya, menuliskan contoh kalimat membutuhkan banyak waktu. (Saya mencoba berusaha sebaik mungkin!) Untungnya buat kamu, bahasa Jepang ada di mana-mana, terlebih lagi di Internet. Saya menyarankan untuk melatih bahasa Jepangmu sebanyak mungkin dan hanya membuka tutorial ini saat kamu menemui tata bahasa yang baru. Hanya dari Internet pun, kamu sudah bisa mendapat banyak materi termasuk situs, forum, dan chatting. Membeli buku maupun komik berbahasa Jepang juga merupakan cara yang baik (dan menyenangkan) untuk menambah perbendaharaan kata dan melatih kemampuan membaca. Lalu, saya juga percaya bahwa tidak mungkin mempelajari cara berbicara dan melatih pendengaran tanpa panutan. Berlatih berbicara dan mendengar dengan orang yang sudah mahir bahasa Jepang adalah keharusan kalau kamu ingin menguasai keterampilan bercakap-cakap. Walaupun materi suara seperti kaset pelajaran, lagu, anime, drama, dan acara TV lainnya sangatlah mendidik, tidak ada yang lebih baik dari manusia nyata untuk ditiru cara pengucapannya, intonasinya, dan aliran pembicaraan alaminya. Kalau kamu punya pertanyaan yang tidak ada jawabannya di tutorial ini, kamu bisa bertanyatanya pada forum berbahasa Inggris yang dikelola penulis: www.guidetojapanese.org/forum/ Untuk bertemu, bertanya-tanya, dan belajar bahasa Jepang dengan orang-orang Indonesia, kamu bisa kunjungi situs yang dikelola oleh penyadur tutorial ini: yumeko.web.id Jangan kecil hati karena banyaknya materi yang harus dikuasai. Ingat, setiap kata atau tata bahasa baru yang kamu pelajari berarti kamu selangkah lebih dekat dalam menguasai bahasa Jepang!

PrasyaratKarena bahasa Jepang ditulis menggunakan huruf Jepang di tutorial ini (memang seharusnya TIDAK menggunakan huruf latin atau biasa disebut romaji), maka komputer kamu harus bisa menampilkan font Jepang. Jika tidak terlihat seperti , maka kamu perlu menginstall font bahasa Jepang atau menggunakan situs gateway untuk

mengubah hurufnya menjadi gambar. Instruksi menginstall font bahasa Jepang dan situs gateway ada di bawah: Computing in Japanese Gateway Penerjemah (jauh lebih lambat) Lalu pastikan untuk menggunakan browser yang baru untuk menikmati tampilan stylesheet yang benar. Saya menyarankan Firefox. Kalau browser kamu mendukungnya, pada contoh kalimat kamu bisa mengarahkan kursor mouse kamu ke atas suatu kata bahasa Jepang dan selang waktu tertentu bacaan dan artinya akan muncul. Coba di contoh kalimat berikut:

Tentu saja, nanti kita akan belajar huruf yang bernama hiragana sehingga cara membaca kanji akan ditunjukkan dengan huruf hiragana, tidak menggunakan romaji seperti pada contoh di atas. Beberapa istilah maupun singkatan juga akan diterangkan dengan cara di atas, agar tidak terlalu memenuhi penjelasan dengan kurung buka dan kurung tutup. Istilah-istilah yang memiliki penjelasan tersebut akan diberi garis bawah putus-putus. Sebagai contoh, daripada menuliskan "Tokyo (ibu kota Jepang)", bisa diberikan "Tokyo". Silahkan gunakan mouse kamu. Kamu juga bisa pergi ke WWWJDIC untuk memasukkan langsung suatu kalimat panjang, dan nanti sistemnya akan memberikan arti masing-masing kata dalam kalimat tersebut. Semua materi di sini, termasuk contoh kalimat, adalah hasil karya saya sendiri kecuali jika disebutkan. Semoga kamu senang membaca tutorial ini sebagaimana perasaan saya waktu menulisnya. Penulisan buku ini merepotkan dan memakan waktu, namun entah bagaimana bercampur dengan perasaan puas yang meluap-luap. Kesalahan tulis dan penerjemahan versi bahasa Indonesia bisa dikirim ke penyadur melalui Yumeko. Pesan dan saran untuk penulis bisa disampaikan dengan bahasa Inggris di Japanese Grammar Guide Forum. Tidak perlu ada basa-basi lagi. Selamat belajar! -Tae Kim

Siste m Bab Sebelumnya (Pendahuluan) | Daftar Isi | Bab Berikutnya (Hiragana) Menu lis Bahasa Jepang

Huruf-huruf yang digunakanSuara-suara yang ada pada bahasa Jepang dituliskan menggunakan hiragana dan katakana. Keduanya secara kolektif disebut kana. Setiap huruf hiragana memiliki pasangannya pada katakana, sebagaimana huruf kecil pada bahasa Indonesia memiliki padanan huruf besarnya. Jumlah hiragana dan katakana masing-masing tidak sampai 50. Semuanya sebetulnya adalah huruf China yang disederhanakan dan diadopsi untuk keperluan fonetis. Huruf China, disebut kanji oleh orang Jepang, juga digunakan secara ekstensif pada bahasa tertulis. Sebagian besar kata (nomina, verba, adjektiva) ditulis menggunakan kanji. Secara historis ada lebih dari 40.000 kanji, namun 2.000 huruf sudah mencakup lebih dari 95% kanji yang digunakan di bahasa Jepang modern. Tidak ada spasi di bahasa Jepang, jadi kanji diperlukan untuk mengetahui batas kata dalam suatu kalimat. Kanji juga berguna untuk membedakan homofon, yang muncul cukup sering karena jumlah suara di bahasa Jepang terbatas. Hiragana terutama digunakan untuk keperluan tata bahasa. Kita akan melihat fungsi tersebut saat mempelajari partikel. Kata-kata yang kanjinya susah atau jarang dipakai, istilah percakapan, dan onomatop juga ditulis dengan hiragana. Hiragana juga sering menggantikan kanji untuk pelajar bahasa Jepang pemula dan anak-anak. Walaupun katakana melambangkan suara-suara yang sama dengan hiragana, katakana umumnya dipakai untuk menuliskan kata-kata modern yang diimpor dari negara-negara barat. Ini karena kata-kata tersebut tidak memiliki kanji. Tiga bab berikutnya akan membahas hiragana, katakana, dan kanji.

IntonasiDi bab berikutnya, akan dibahas panjang lebar bahwa tiap huruf hiragana (dan berarti juga katakana) sudah melambangkan suatu suku kata, kecuali huruf hiragana (dan katakana ). Sebagai contoh, huruf melambangkan suku kata "ri" dan huruf melambangkan suku kata "sa". Ini bisa dibandingkan dengan bahasa Indonesia, yang perlu menggabungkan huruf konsonan dan vokal untuk membentuk suku kata tersebut. Sistem seperti hiragana membuat pengucapan menjadi jelas dan tidak ambigu. Namun, kesulitannya terdapat pada intonasi. Membedakan suara tinggi dan rendah adalah hal yang penting bagi bahasa Jepang lisan. Sebagai contoh, homofon bisa memiliki tinggi rendah suara yang berbeda sehingga jika diucapkan bunyinya berbeda walaupun bentuk tertulisnya sama. Halangan terbesar untuk berbicara dengan benar dan alami adalah masalah intonasi. Banyak murid yang berbicara tanpa memperhatikan intonasi sehingga terdengar tidak alami (terkenal di Jepang sebagai logat luar negeri). Akan menyulitkan jika kamu berusaha menghafal intonasi tiap kata, apalagi karena intonasi bisa berubah bergantung konteks dan logat wilayah. Satu-satunya cara yang praktis untuk menguasainya adalah dengan latihan meniru orang Jepang berbicara lewat acara anime, drama, dan media-media lainnya. Yang dibahas di bagian ini

y

y y

Hiragana - Alfabet fonetis utama bahasa Jepang. Digunakan terutama untuk keperluan tata bahasa. Bisa juga digunakan untuk menunjukkan cara membaca kanji yang susah bahkan malah menggantikannya. Bab ini akan membahas semua huruf hiragana. Katakana - Alfabet yang pada umumnya digunakan untuk menuliskan kata serapan yang tidak memiliki kanji. Bab ini akan membahas semua huruf katakana. Kanji - Pengadopsian sistem menulis China untuk bahasa Jepang. Bab ini membahas sifat-sifat umum kanji dan beberapa strategi untuk mempelajari kanji (dengan benar).

Bab Sebelumnya (Sistem Menulis) |

Daftar Isi Lihat soal latihan

| Bab Berikutnya (Katakana)

- HiraganaIsi bab ini 1. Apa itu hiragana? 2. Suara-suara modifikasi 3. dan 4. kecil 5. Suara vokal panjang

kecil

Apa itu hiragana?Hiragana adalah alfabet fonetis dasar di bahasa Jepang. Seluruh huruf hiragana melambangkan semua suara yang muncul di bahasa Jepang. Jadi, sebetulnya bisa saja bahasa Jepang ditulis hanya dengan hiragana. Namun, karena spasi tidak digunakan di bahasa Jepang, menggunakan hiragana saja akan menghasilkan kalimat yang susah dibaca. Di bawah terdapat tabel hiragana beserta pelafalannya. Cara membaca tabelnya adalah dari atas ke bawah dan dari kanan ke kiri, sama seperti cara membaca banyak buku bahasa Jepang (termasuk komik). Di bahasa Jepang, menulis guratan-guratan dari suatu huruf dengan urutan dan arah yang benar sangatlah penting. Karena tulisan tangan sedikit berbeda dengan tulisan cetak (sebagaimana huruf 'a'), kamu perlu mencari sumber seperti situs atau buku yang mengajarkan cara menulis huruf-huruf tersebut. Perlu juga saya tekankan bahwa kamu harus mempelajari pengucapan yang benar dari huruf-huruf tersebut. Karena semua kata di bahasa Jepang disusun dari suara-suara tersebut, salah mengucapkan suatu huruf akan merusak fondasi terdasar pelafalan kamu. Tabel Hiragana 1

n

w

r

y

m

h

n

t

s

k a

(n) *

(chi)

(shi)

i

(fu) *

(tsu)

u e o

* = usang (tidak dipakai lagi) Hiragana tidaklah terlalu susah, sehingga ada banyak situs dan program gratis yang mengajarkannya. Saya sangat menyarankan kamu pergi ke situs ini untuk mendengar pelafalan tiap hurufnya. Bagian yang relevan adalah 2.1 sampai 2.11. Saya juga menyarankan kamu merekam suaramu sendiri dan membandingkannya dengan suara yang benar. Saat berlatih menulis hiragana, jangan lupa bahwa urutan dan arah penulisan guratannya tidak boleh semaunya sendiri. Lihat, saya bahkan membuat tulisannya miring, digarisbawahi, dan ditebali untuk menekankan hal tersebut. Percayalah, kamu akan menemukan bahwa hal tersebut memang penting saat membaca tulisan tangan terburu-buru orang lain yang mirip cakar ayam. Satu-satunya hal yang akan membantumu adalah bahwa setiap orang menulis hiragana dengan urutan guratan yang sama, sehingga "aliran" garisgarisnya konsisten dari satu orang ke orang lain. Saya sangat menyarankan bahwa kamu mempelajari cara menulis yang benar sejak awal untuk menghindari kebiasaan menulis yang salah. Kunjungi situs ini untuk melihat animasi cara menulis tiap huruf. Beberapa contoh kata yang bisa kamu tulis dengan huruf-huruf pada tabel di atas adalah (cinta), (indah), (bernyanyi), dan (salah satu nama keluarga yang umum di Jepang). Sebagai pengetahuan, ada puisi Jepang kuno bernama yang dulunya dijadikan dasar untuk mengurutkan huruf-huruf hiragana. Puisi itu memuat setiap huruf hiragana kecuali karena mungkin pada waktu itu belum ada. Kamu bisa melihat puisi tersebut di artikel Wikipedia ini. Seperti yang ditulis di artikel tersebut, kadang-kadang urutan "iroha" ini masih dipakai, jadi tidak ada salahnya melihat-lihat. Catatan 1. Kunjungi situs ini untuk mendengar pelafalan setiap huruf hiragana. Berkas-berkas suaranya ada mulai dari 2.1 sampai 2.11. Kalau kamu tidak bisa mendapatkan berkas suaranya, ikuti panduan membacanya di bawah.

2. Kecuali dan kamu bisa tahu bagaimana suatu huruf dibunyikan dengan memasangkan konsonan yang ada di atas tabel dengan vokal yang ada di kanan tabel. Sebagai contoh, (konsonan "m", vokal "a") dibaca "ma" dan (konsonan "k", vokal "i") dibaca "ki". 3. Sebagaimana tertulis di tabel, beberapa suara memiliki perkecualian. Sebagai contoh, dibaca "chi" bukan "ti" dan dibaca "tsu" bukan "tu". 4. dibaca seperti "syi" pada "syirik" 5. dibaca seperti "ci" pada "cicak" 6. Suara "r" di Jepang tidak sama dengan suara "r" di bahasa Indonesia. Getarannya lebih halus, dan berada di antara suara "l" dan "r"-nya bahasa Indonesia. Hati-hati dengan pelafalan semua huruf di kolom tersebut. 7. Vokal "e" di Jepang terdengar seperti suara "e" pada "enak" dan BUKAN seperti pada "elus". Jadi sebagai contoh, dibaca seperti "he" pada "heran" dan BUKAN seperti pada "helai". 8. Camkan baik-baik beda pelafalan antara "tsu" dengan "su". 9. Suara "t" pada akan menempel pada huruf yang mendahuluinya. Sebagai contoh, (menunggu) dibaca "mat-su". 10. Huruf bersifat khusus karena jarang digunakan sendiri dan tidak memiliki suara vokal. Huruf tersebut ditempel di belakang huruf lain untuk membuat suara mati "n". Sebagai contoh, dibaca "te" sehingga (titik) dibaca "ten". (aneh) dibaca "hen", (teluk) dibaca "wan", dan seterusnya. 11. Huruf akan disuarakan "m" pada kata-kata tertentu, misalnya (pemula) yang dibaca "shimmai". juga dibaca "ng" pada kata-kata tertentu, misalnya (mekar penuh) yang dibaca "mangkai". Sebetulnya ada aturan perubahan suaranya, namun cara terbaik untuk menguasainya adalah dengan banyak mendengar bahasa Jepang. Kalau telinga kamu sudah terbiasa, nantinya kamu akan paham aturan tersebut di bawah sadar dan bisa melafalkan dengan benar secara otomatis. 12. Sekali lagi, kamu harus menuliskan guratan-guratannya dengan urutan dan arah yang benar! Kunjungi situs ini untuk mempelajarinya.

Suara-suara modifikasiSetelah menghafal semua huruf hiragana pada tabel di atas, kamu hampir selesai mempelajari alfabetnya tetapi belum semua suaranya. Ada lima suara konsonan lain yang didapat dengan menambahkan dua garis kecil yang mirip tanda kutip yaitu dakuten ( ) atau lingkaran kecil yang disebut handakuten ( ). Kalau kamu mencoba melafalkannya, kamu akan sadar bahwa suara-suara modifikasi tersebut dibunyikan dengan gerakan lidah yang mirip dengan suara aslinya. Sebagai contoh, coba bandingkan gerakan lidahmu saat mengucapkan (ta) dan suara modifikasinya (da). Secara teknis, suara-suara modifikasi ini dinamakan "suara yang dibunyikan" (voiced) yang di bahasa Jepang adalah (nigori, berlumpur). Secara umum, perubahan suara yang mungkin adalah k g, s z, t d, h b, dan h p. Seperti pada tabel sebelumnya, ada juga beberapa perkecualian. Semua konsonan berlumpur tersebut ada di tabel berikut:

Suara konsonan berlumpur p b d z g a i

(ji)

(ji)

(dzu)

u e o

Beberapa contoh kata yang bisa dibentuk dengan huruf-huruf baru tersebut adalah (bodoh), (menari), dan (suatu permainan papan yang populer di Jepang). Catatan 1. Kunjungi situs ini untuk mendengar suara-suara baru tersebut. Suara-suaranya ada di akhir bagian 2.2, 2.3, 2.4, dan 2.6. 2. Perhatikan bahwa bunyi pada dasarnya sama dengan yaitu "ji", dan diucapkan seperti "dzu". 3. Suara "ji" pada kebanyakan kata umumnya dituliskan dengan . Contohnya adalah (huruf China). Contoh kata yang menggunakan adalah (rambut keriting).

dan

kecil

Kamu juga bisa menggabungkan suatu konsonan dengan suara "ya", "yu", "yo" dengan cara menempelkan atau kecil di belakang huruf-huruf dengan vokal "i". Sebagai contoh, dibaca "kiya" sedangkan dibaca "kya". Jadi sebetulnya suaranya sama dengan membaca cepat gabungan versi huruf besarnya. Semua kombinasi p b j g r m dan h kecil yang mungkin n c s k ya

(ja)

(cha)

(sha)

(ju)

(chu)

(shu)

yu

(jo) Beberapa contoh kata yang bisa dituliskan adalah (tahun lalu). Catatan

(cho) (penyanyi),

(sho)

yo

(sihir), dan

1. Seperti tabel sebelumnya, pasangkan konsonan di atas dengan vokal di kanan. Sebagai contoh, dibaca "kya". 2. Beberapa gabungan memiliki alternatif pengejaan dalam huruf latin. Sebagai contoh, ada juga yang menuliskan sebagai "jya". Di tabel diberikan penulisan yang paling umum. 3. Kunjungi situs ini untuk mendengar pengucapan suara-suara yang baru ini. Penulisnya memilih untuk menyertakan dan tapi kombinasi-kombinasi tersebut sebetulnya tidak pernah dipakai karena ada dan . 4. Suara dan terdengar seperti "sya" (syair), "syu" (syukuran), dan "syo" (bahasa Inggris show). 5. Suara dan terdengar seperti "ca" (cacing), "cu" (culik), dan "co" (coret).

kecilkecil diselipkan di antara dua huruf untuk membawa suara konsonan huruf kedua ke akhir dari huruf pertama. Sebagai contoh, kalau kamu memasukkan kecil di antara dan untuk membuat (pasti), maka suara konsonan "t" dibawa ke akhir dari huruf pertama sehingga menjadi "kitto". Contoh lainnya adalah (sejenis monster) yang dibaca "kappa" dan (dengan erat) yang dibaca "gyutto". Saya telah membuat berkas mp3 yang menggambarkan beda pelafalan antara dengan . Kalau kamu bertanya-tanya, ya, keduanya adalah kata nyata dan ya, keduanya memiliki arti sendiri-sendiri. Untuk menggandakan konsonan "n", yang digunakan adalah penulisan "onna" (perempuan) adalah , BUKAN Catatan kecil dipakai untuk membawa suara konsonan dari huruf kedua ke akhir huruf pertama. Contohnya, dibaca "nacchi". (sumber) dengan 2. Unduh berkas mp3 ini untuk mendengar beda antara (lebih). 3. digunakan untuk menggandakan konsonan "n". Contohnya adalah (suami). 1. . Sebagai contoh, .

4. Suara konsonan ganda ini terdengar seperti suara terpotong. Ingatlah untuk memotong dengan konsonan yang benar, yaitu konsonan huruf kedua.

Suara vokal panjangKamu hampir selesai! Di bagian ini, kita akan membahas suara vokal panjang yang sebetulnya hanyalah memperpanjang lama pengucapan suara vokal. Kamu bisa memperpanjang suara vokal suatu huruf dengan atau , tergantung huruf yang ingin diperpanjang. Panduannya adalah tabel berikut: Memperpanjang suara vokal Suara vokal Pembuat panjang "a" "i"/"e" "u"/"o" Sebagai contoh, kalau kamu ingin memperpanjang suara "a" dari , maka kamu tinggal menambah sehingga hasilnya . Contoh lainnya adalah , , , , dan . Penalarannya cukup mudah. Coba ucapkan dan secara terpisah. Lalu ucapkan mereka secara berurutan secepat mungkin. Kamu akan sadar bahwa kedengarannya persis seperti kamu mengucapkan "ka" untuk jangka waktu yang lebih panjang. Kamu bisa mencoba latihan ini dengan suara vokal lainnya. Ingatlah bahwa kamu sebetulnya mengucapkan dua huruf tapi dengan batas yang samar. Bahkan, kamu mungkin tidak perlu berpikir keras tentang vokal panjang dan cukup mengucapkan dua hurufnya dengan cepat untuk mendapatkan suara yang benar. Sebagai tambahan, walaupun suara vokal "e" yang diikuti umumnya dianggap sebagai suara vokal panjang, pengucapannya sebetulnya adalah suara "e" yang tersambung secara mulus dengan "i". Sebagai contoh, pengucapan pada (guru) mirip dengan bahasa Inggris "say" yang diucapkan dengan panjang. Menahan suara vokalnya cukup lama adalah hal yang sangat penting, sebab salah-salah kamu bisa mengucapkan "sini" ( ) padahal yang kamu maksud adalah "SMU" ( ). Atau kamu bisa membuat "nenek" ( ) tertukar dengan "bibi" ( ). Ada beberapa kasus di mana suara "e" diperpanjang dengan menambahkan dan suara "o" diperpanjang dengan . Beberapa contohnya adalah (kakak perempuan), (banyak), dan (besar). Perhatikan perkecualianperkecualian tersebut, tapi tidak usah terlalu khawatir karena jumlahnya tidak terlalu banyak.

Bab Sebelumnya (Hiragana) | Isi bab ini 1. Apa itu Kat aka na? 2. Suar a vok al panj ang 3.

Daftar Isi Lihat soal latihan

| Bab Berikutnya (Kanji)

keci l 4. Beb erap a cont oh kata yan g men ggu nak an kata kan a

Apa itu Katakana?

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, katakana digunakan terutama untuk kata yang diimpor dari bahasa asing. Kata-kata impor tersebut banyak yang berasal dari bahasa Inggris. Katakana juga bisa digunakan untuk menekankan kata-kata tertentu sebagaimana penggunaan huruf tebal. Untuk daftar penggunaan yang lebih lengkap, kamu bisa melihat artikel Wikipedia mengenai katakana Katakana melambangkan suara-suara yang sama dengan hiragana, namun tentu saja semua hurufnya berbeda. Kalau dipikir-pikir, ini tidaklah aneh karena di bahasa Indonesia juga terdapat dua jenis huruf yaitu huruf besar dan huruf kecil yang sebetulnya melambangkan suara yang sama. Karena kata-kata bahasa asing harus dipaksa mengikuti kombinasi konsonan+vokal bahasa Jepang, banyak yang mengalami perubahan radikal sampai-sampai pembicara bahasa aslinya tidak bisa menyadarinya dengan mudah. Sebagai hasilnya, penggunaan katakana sangatlah susah bagi pengguna bahasa Inggris, karena mereka berprasangka kata-kata dari bahasa Inggris terdengar seperti... bahasa Inggris. Jadi, lebih baik melupakan kata bahasa Inggris aslinya dan perlakukan kata-kata impor tersebut sebagai kata bahasa Jepang. Kalau tidak, kamu bisa memiliki kebiasaan mengucapkannya dengan pelafalan bahasa Inggrisnya (dan orang Jepang belum tentu paham hal tersebut). Tabel katakana n w r y m h n t s k a

(n) *

(chi)

(shi)

i

(fu) *

(tsu)

u e o

* = usang atau jarang dipakai Katakana jauh lebih sulit dikuasai dibanding hiragana karena hanya digunakan untuk katakata tertentu, sehingga kesempatan untuk berlatih membacanya lebih jarang. Untuk belajar urutan guratannya (ya, kamu juga perlu melakukannya untuk katakana) kunjungi situs ini. Lalu, karena bahasa Jepang tidak memiliki spasi, kadang-kadang simbol digunakan untuk menunjukkan batas kata misalnya pada (rock and roll). Penggunaan simbol tersebut tidak mutlak, jadi kadang-kadang tidak digunakan apapun untuk menggantikan spasi pada istilah aslinya.

Catatan 1. Semua suaranya sama dengan hiragana. 2. Empat huruf dan sangat mirip satu sama lain. Pada dasarnya, bedanya adalah dua huruf pertama lebih "horizontal" dibanding dua huruf terakhir. Garis kecilnya digambar lebih mendatar dan lengkungan panjangnya digambar dari bawah ke atas. Dua huruf terakhir memiliki garis kecil yang hampir vertikal dan lengkungan panjangnya digambar dari atas ke bawah. Huruf-huruf ini susah dibedakan sehinggan dibutuhkan kesabaran dan banyak latihan. 3. Kamu juga perlu hati-hati dengan dan , juga dan . Ya, mereka mirip-mirip dan sayangnya kita tidak bisa melakukan apa-apa. 4. Kamu harus belajar urutan dan arah guratannya! Kunjungi situs ini untuk mempelajarinya. 5. Kadang-kadang digunakan untuk menggantikan spasi pada bahasa aslinya.

Suara vokal panjangPada katakana, vokal panjang menjadi sangat sederhana. Kamu tidak perlu berpikir huruf mana yang harus digunakan untuk memperpanjang suara vokal, karena semua suara vokal panjang dilambangkan dengan garis panjang ini: . Catatan 1. Semua suara vokal panjang pada katakana dilambangkan dengan garis. Sebagai contoh, "cute" (imut) pada katakan ditulis .

kecilKarena keterbatasan suara-suara hiragana, pada perkembangannya dibuat beberapa kombinasi baru untuk membuat suara-suara yang aslinya tidak ada di bahasa Jepang. Yang paling utama adalah tidak adanya suara "ti", "di", "tu", dan "du" (karena yang ada adalah "chi", "ji", "tsu", dan "dzu") beserta suara "f" kecuali . Konsonan "sh", "j", dan "ch" juga tidak memiliki gabungannya dengan vokal "e". Untuk mengatasi hal tersebut, keputusannya adalah dengan menambahkan versi kecil dari kelima suara vokal. Huruf-huruf kecil tersebut juga bisa digabungkan dengan suara konsonan "w" untuk menggantikan hurufhuruf yang sudah usang. Sebagai tambahan, bisa diberi dakuten sehingga menjadi yang bisa digabung dengan kecil untuk membuat suku kata dengan konsonan "v". Tapi suara "v" tersebut tidak banyak dipakai, mungkin karena orang Jepang masih susah mengucapkan "v" dan lebih memilih untuk mendekatinya dengan suara "b". Sebagai contoh, "volume" dalam bahasa Jepang dituliskan sebagai (boryuumu), menggunakan suara "b" dan bukan "v". "violin" bisa ditulis baik (baiorin) maupun (vaiorin), dan tidak masalah menggunakan yang mana karena pada akhirnya kebanyakan orang Jepang akan membaca yang manapun dengan suara "b". Pada tabel berikut, suara-suara yang dulunya tidak ada disorot. Suara lain yang sudah ada digunakan sesuai keperluan.

Suara tambahan v w f ch d t j sh a i u e o Catatan 1. Perhatikan bahwa tidak ada suara "wu". Sebagai contoh, katakana untuk "woman" (wanita) adalah (uuman). 2. Walaupun suara "tu" (seperti pada "tubuh") bisa dibuat dengan , sebelum kombinasi tersebut ada digunakan (tsu) untuk mendekati suara tersebut. Setelah kombinasi dibuat, kata-kata yang terlanjur menggunakan tidak berganti. Contohnya adalah "tool" (alat) yang ditulis (tsuuru) dan "tour" (tur) yang ditulis (tsuaa). 3. Di zaman kuno, tanpa suara-suara baru ini seringkali tidak ada pilihan selain mengambil huruf-huruf dari tabel tanpa memperhatikan pengucapan yang sebenarnya. Di bangunan kuno, kamu mungkin masih bisa melihat (birujingu) dan bukan ejaan modernnya (birudingu). Kebetulan, ini adalah kasus yang terjadi di bangunan Shin-Maru di seberang stasiun Tokyo tempat saya bekerja. Ironisnya, huruf pertama Shin-Maru ( ) berarti "baru".

Beberapa contoh kata yang menggunakan katakanaMengubah kata bahasa Inggris menjadi bahasa Jepang adalah keahlian yang memerlukan cukup banyak latihan dan keberuntungan. Untuk mengenalkan kamu bagaimana kata-kata Inggris dijepangkan, inilah beberapa contoh kata dalam katakana. Kadangkala kata katakananya bukanlah bahasa Inggris yang benar atau artinya berbeda dari kata bahasa Inggrisnya. Tentu saja, tidak semua kata katakana diturunkan dari bahasa Inggris. Contoh kata katakana Bahasa Inggris America (Amerika) Russia (Rusia) Bahasa Jepang

India Indonesia cheating (curang) tour (tur) company employee (pegawai kantoran) Mozart car horn (klakson) sofa Halloween French fries (kentang goreng) (fried potato) or (klaxon) (salary man) (cunning)

Sekarang kamu menyuruhku belajar ba ha Bab Sebelumnya (Katakana) | Daftar Isi | Bab Berikutnya (Tata Bahasa Dasar) sa China???Isi bab ini 1. 2. 3. 4. Apa itu Kanji? Mempelajari Kanji Membaca Kanji Kenapa Kanji?

Apa itu Kanji?

Di bahasa Jepang, hampir semua nomina dan akar dari verba dan adjektiva ditulis dengan huruf China yang dinamakan kanji. Adverbia juga cukup sering ditulis dalam kanji. Ini berarti kamu perlu mempelajari huruf-huruf China untuk bisa melek huruf. Tapi tidak semua kata ditulis menggunakan kanji. Sebagai contoh, verba 'melakukan' sebetunya punya kanji, namun selalu ditulis menggunakan hiragana. Untuk menentukan apakah suatu kata harus ditulis menggunakan hiragana atau kanji, diperlukan pertimbangan kata per kata dan pengetahuan tentang bagaimana suatu kata biasanya ditulis. Tapi, sebagian besar kata bahasa Jepang yang memiliki kanji hampir selalu ditulis menggunakan kanji. (buku anak-anak dan beberapa bacaan lain di mana pembacanya tidak diharapkan tahu banyak kanji adalah perkecualian) Tutorial ini akan menggunakan kanji sejak awal untuk membantu kamu latihan membaca bahasa Jepang "asli" secepat mungkin. Oleh karenanya, kita akan membahas beberapa sifat kanji dan mengenal beberapa strategi untuk mempelajarinya dengan cepat dan efisien. Menguasai kanji bukanlah hal yang mudah, tapi dengan usaha yang giat siapapun bisa mencapainya. Bagian tersusah dari perjalanan ini adalah menguasai kemampuan belajar kanji dan masalah waktu. Secara kasarnya, agar hafalan kanji kita tidak berhenti hanya sampai ingatan jangka pendek, kamu perlu belajar banyak dan yang paling penting untuk jangka waktu yang panjang. Yang saya maksud bukanlah belajar lima jam tiap hari namun mengulas cara menulis kanji sekali tiap beberapa bulan sampai kamu yakin bahwa kamu kanji tersebut benar-benar telah tertanam dalam ingatan. Tidak ada alasan baik untuk menunda pekerjaan besar mempelajari kanji sampai "tingkat lanjut". Dengan mempelajari kanji bersamaan dengan kosakata baru sejak awal, tugas besar menguasai kanji bisa dibagi menjadi tahaptahap kecil yang lebih mudah dikelola, dan waktu tambahan tersebut membantu melekatkan kanji yang telah dipelajari ke ingatan permanen. Sebagai tambahan, mengetahui kanji akan sangat membantu kamu mempelajari kata-kata baru, yang seringkali merupakan gabungan dari kanji-kanji yang telah kamu pelajari. Contohnya, kalau kamu telah mengetahui kanji "bergerak" ( ), kanji "menanam" ( ), dan kanji "benda" ( ), maka pengetahuan tersebut akan membantu kamu mempelajari bahasa Jepang "binatang" yaitu ( ) dan "tumbuhan" yaitu ( ). Ya, di bahasa Jepang binatang adalah "benda yang bergerak" dan tanaman adalah "benda yang ditanam"! Kalau kamu mempelajari kanji belakangan, keuntungan ini tidak akan diperoleh.

Mempelajari KanjiSemua materi yang kamu butuhkan untuk mulai belajar kanji tersedia di internet dengan gratis di Jim Breen's WWWJDIC. Selain kamusnya yang besar, situs tersebut punya diagram urutan guratan untuk 1.945 kanji jouyou (hampir seluruh kanji yang akan kamu jumpai). Terutama bagi yang baru mulai belajar, kamu perlu menulis setiap kanji berulang-ulang untuk menghafalkan urutan guratannya. Kemampuan penting lainnya adalah mempelajari cara menyeimbangkan tiap huruf sehingga bagian-bagiannya tidaklah terlalu besar maupun kecil. Jadi pastikan untuk meniru hurufnya semirip mungkin dengan contoh yang ada. Pada akhirnya, kamu akan otomatis menguasai cara menulis bagian-bagian yang sering muncul sehingga kalau kamu menemui kanji baru kamu akan langsung tahu cara menulisnya dengan benar. Semua kanji di tutorial ini bisa dengan mudah dicari di WWWJDIC dengan copypaste.

Membaca KanjiHampir semua kanji memiliki dua jenis pengucapan yaitu on-yomi dan kunyomi ( ). On-yomi adalah bacaan aslinya dari China dan kun-yomi adalah bacaan Jepangnya. Kanji yang berdiri sendiri biasanya dibaca dengan kun-yomi sedangkan kanji yang merupakan bagian dari kata gabungan atau jukugo ( ) biasanya dibaca dengan onyomi. Sebagai contoh, , tenaga dibaca dengan kun-yomi sedangkan huruf yang sama di kata gabungan seperti , kemampuan dibaca dengan on-yomi (dalam kasus ini ). Huruf-huruf tertentu (terutama yang paling umum) bisa memiliki lebih dari satu on-yomi maupun kun-yomi. Contohnya, pada kata , kekuatan super , dibaca dan bukan seperti pada contoh sebelumnya. Beberapa kata gabungan juga punya bacaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan bacaan huruf-huruf pembentuknya. Contohnya adalah yang berarti "pagi ini" dan dibaca . Bacaan khusus ini harus dihafalkan secara terpisah. Untungnya, bacaan khusus tersebut jarang-jarang. Kun-yomi juga digunakan untuk adjektiva dan verba. Kata-kata tersebut sering diakhiri oleh sejumlah hiragana yang disebut okurigana ( ). Bacaan yang termuat di dalam huruf Chinanya akan tetap sama walaupun katanya dikonjugasi ke berbagai macam bentuk. Sebagai contoh, bentuk lampau verba "makan" ( ) adalah . Walaupun verbanya berubah bentuk, tetap dibaca sama yaitu . Konsep lain yang pada awalnya susah ditangkap adalah bacaan suatu kanji bisa sedikit berubah di dalam kata gabungan agar katanya lebih mudah diucapkan. Perubahan yang umum terjadi contohnya suara "h" berubah menjadi "b" atau "p" dan yang menjadi . Contohnya adalah ( , segelas) , seksama dan , sekolah . Aspek menyenangkan kanji yang lainnya adalah kata-kata yang arti dasarnya sama dan dibaca sama namun memiliki kanji yang berbeda untuk menyampaikan perbedaan nuansa yang tipis. Contohnya berarti "mendengar" dan begitu juga . Bedanya adalah berarti kita lebih memperhatikan yang didengarkan. Misalnya, pada kasus mendengar musik yang digunakan hampir selalu dan bukan . juga bisa berarti "bertanya", namun selalu berarti "bertanya". Contoh lainnya adalah yang berarti "melihat", namun untuk melihat pertunjukan misalnya film bioskop sering digunakan kanji lain yaitu . Contoh menarik lain adalah yang berarti "menulis" dan yang berarti "menggambar". Ada juga kasus di mana arti dan kanjinya tetap tapi bacaanya bermacam-macam, misalnya "hari ini" yang bisa dibaca maupun . Dalam kasus ini, sebetulnya tidak masalah bacaan mana yang dipakai, walaupun bacaan tertentu lebih dipilih pada situasi tertentu.

Terakhir, ada satu huruf yang mungkin lebih merupakan tanda baca. Tanda tersebut berarti bahwa huruf sebelumnya diulang. Contohnya, dan bisa dan biasanya ditulis sebagai . Selain "fitur-fitur" kanji yang telah disebutkan, masih ada beberapa keanehan dan kejutan menyenangkan yang akan kamu temui saat kamu memperdalam studi bahasa Jepangmu. Silahkan putuskan sendiri apakah pernyataan tersebut merupakan sarkasme. Namun, janganlah takut dan menganggap bahwa bahasa Jepang susahnya minta ampun. Kebanyakan kata di bahasa ini hanya memiliki satu penulisan kanji dan kebanyakan kanji hanya memiliki dua bacaan.

Kenapa Kanji?Beberapa orang merasa bahwa sistem yang menggunakan simbol-simbol tak beraturan dan bukan alfabet yang sistematis bersifat kuno dan rumit secara berlebihan. Dan memang, mungking mengadopsi huruf China untuk bahasa Jepang bukanlah ide yang baik karena kedua bahasa tersebut strukturnya berbeda secara mendasar. Tapi tujuan tutorial ini bukanlah untuk mendebat keputusan yang telah dibuat beribu-ribu tahun yang lalu tetapi untuk menjelaskan kenapa kamu harus belajar kanji untuk menguasai bahasa Jepang. Dan saya berharap untuk menjelaskan lebih dari sekedar "memang harus begitu jadi lakukan saja!". Beberapa orang merasa bahwa seharusnya bahasa Jepang berganti dari huruf China ke romaji sehingga orang-orang asing tidak perlu dipusingkan dengan huruf-huruf kompleks. Pada kenyataannya, bahasa Korea relatif baru-baru ini sukses besar berpindah ke sistem penulisannya sendiri untuk menyederhanakan bahasa tertulisnya yang dulu juga menggunakan huruf China. Lalu mengapa hal ini tidak bisa terjadi untuk bahasa Jepang? Saya rasa pemerintah sebetulnya telah mencoba mengganti kanji dengan romaji sesaat setelah perang dunia kedua namun tidak menjumpai keberhasilan. Pasti seseorang yang telah mengetik cukup banyak bahasa Jepang di komputer bisa tahu kenapa hal tersebut tidak berhasil. Saat kamu berusaha mengkonversi hiragana menjadi kanji, kamu hampir selalu disogohi paling tidak dua pilihan (homofon) dan kadang bisa sampai sepuluh (coba ketik kikan). 46 atau berapalah jumlah suara di bahasa Jepang sangatlah sedikit, sehingga susah untuk menghindari homofon. Bandingkan dengan bahasa Korea yang memiliki 14 konsonan dan 10 vokal. Masing-masing konsonan ini bisa dipasangkan dengan vokal manapun sehingga ada 140 suara. Sebagai tambahan, konsonan ketiga bahkan keempat bisa ditambahkan untuk menghasilkan suatu huruf. Ini memberikan jumlah suara teoritis yang lebih dari 1960. (jumlah suara yang benar-benar dipakai jauh lebih sedikit, tapi saya tidak tahu berapa pastinya) Karena orang ingin membaca jauh lebih cepat dibanding saat berbicara, diperlukan sejenis petunjuk visual untuk memungkinkan pengenalan kata secara instan. Kamu bisa menggunakan bentuk kata di bahasa Indonesia untuk ngebut melintasi tulisan karena sebagian besar kata memiliki bentuk berbeda. Coba latihan kecil ini: hlao, waalupun seuma ktaa di kmaliat ini ejaanyna sahla, apkaah kmau mahsi bias membcaaku? Di bahasa Korea petunjuk visual ini juga ada karena bahasa tersebut memiliki jumlah huruf yang cukup banyak untuk membedakan bentuk-bentuk kata. Namun, karena petunjuk visualnya tidak sejelas kanji, spasi perlu digunakan untuk menghilangkan ambiguitas. (kapan di di mana menggunakan spasi ternyata menjadi masalah tersendiri)

Dengan kanji, bahasa Jepang tidak perlu dipusingkan oleh spasi dan banyak masalah yang berkaitan dengan homofon terselesaikan. Tanpa kanji, bahkan dengan bantuan spasi, ambiguitas dan kurangnya petunjuk visual akan menjadikan tulisan Jepang sangat susah dibaca.

Bab Sebelumnya (Kanji) |

Daftar Isi

| Bab Berikutnya (Menyatakan "adalah" dan "bukanlah")

Fondasi tata bahasa

Struktur tata bahasa dasarSetelah belajar menulis bahasa Jepang, kita bisa mulai membahas tata bahasa dasarnya. Bagian ini terutama meninjau semua jenis kata: nomina, adjektiva, verba, dan adverbia. Bagian ini juga akan menjelaskan bagaimana menggabungkan jenis-jenis kata tersebut menggunakan partikel untuk membentuk kalimat yang baik. Setelah menyelesaikan bagian ini, kamu akan mendapat pemahaman dasar tentang cara kerja bahasa Jepang dan tentang cara mengekspresikan hal-hal sederhana menggunakan bahasa Jepang. Isi bagian iniy y

y

y

y y y

y

Menyatakan "adalah" dan "bukanlah" - Kita akan belajar menyatakan keadaan benda: apakah sesuatu memang sesuatu atau bukan sesuatu. Pengenalan pada partikel - Bab ini menjelaskan cara menyatakan hubungan antar bagian kalimat dengan partikel topik maupun pengidentifikasi dan . Adjektiva - Mengulas sifat-sifat utama adjektiva. Kita akan belajar cara menggambarkan nomina dengan memodifikasinya langsung maupun dengan menggunakan partikel. Dasar-dasar verba - Mengulas sifat-sifat utama verba. Di bagian ini pengelompokan verba akan dibahas sehingga memungkinkan kita belajar aturan konjugasinya dengan mudah. Bentuk negatif verba - Membahas konjugasi negatif untuk verba. Kita akan belajar merubah kalimat "Saya akan pergi." menjadi "Saya tidak akan pergi." Bentuk lampau verba - Mengajarkan aturan konjugasi bentuk lampau verba. Kita akan belajar merubah kalimat "Saya akan pergi." menjadi "Saya waktu itu pergi." Partikel untuk verba - Bab ini mengulas partikel-partikel yang paling sering dikaitkan dengan verba. Kita akan belajar partikel objek langsung , partikel target , partikel arah , dan partikel konteks . Verba transitif dan intransitif - Kita akan belajar verba transitif dan intransitif beserta penggunaan partikel-partikel yang sesuai untuknya.

y

y

y

Klausa subordinat deskriptif dan urutan kata pada kalimat - Kita akan belajar memodifikasi nomina dengan verba atau klausa nomina terkonjugasi untuk membuat kalimat-kalimat yang lebih rumit. Partikel yang berkaitan dengan nomina - Kita akan belajar partikel yang berkaitan dengan nomina . Substitusi nomina umum juga akan dibahas yang memungkinkan kita membuat hampir apapun menjadi topik. Penggunaan untuk mengimplikasikan penjelasan juga akan dibahas. Menggunakan adverbia dan gobi - Bab yang singkat dan mudah sebagai penutup bagian ini. Bab ini mengulas cara mengubah adjektiva menjadi adverbia. Bab ini juga memperkenalkan dua akhiran kalimat yang sangat sering muncul dan berguna.

Bab Sebelumnya (Tata bahasa dasar) |

Daftar Isi

| Bab Berikutnya (Pengenalan pada partikel)

Lihat soal latihan

Karena saya mengatakan begitu!Isi bab ini 1. Menyatakan sesuatu memang sesuatu menggunakan 2. Konjugasi bentuk negatif 3. Konjugasi bentuk lampau 4. Ringkasan

Menyatakan sesuatu memang sesuatu menggunakanDi bahasa Jepang, kita bisa menyatakan bahwa sesuatu memang seperti itu dengan menempelkan hiragana hanya ke nomina (kata benda) atau adjektiva-na (kata sifat na). Kamu akan mengerti maksud dari batasan tersebut saat nanti kita belajar berbagai macam adjektiva. Kalau ingin sedikit analogi, bayangkan fungsi sebagaimana kata "adalah" pada kalimat "ini adalah ikan". Kata "adalah" menegaskan bahwa benda yang kita tunjuk itu memang merupakan ikan. Untuk adjektiva, kata yang lebih cocok adalah "bersifat", contohnya pada kalimat "dia bersifat cantik".

Menyatakan bahwa sesuatu memang begitu menggunakany y y y y

Tempelkan

ke nomina atau adjektiva-na - Ikan. - Adalah ikan. - Cantik. - Bersifat cantik.

Gampang. Bisa dilihat bahwa fungsi adalah menyatakan keadaan benda positif. Namun ingatlah hal berikut:Keadaan benda bisa dinyatakan tanpa menggunakan !

Ini bukanlah hal yang asing juga di bahasa Indonesia. Di bahasa kita sendiri, kalimat "ini ikan" sudah bisa dimengerti tanpa perlu kata "adalah". Pada bahasa Indonesia, kata "adalah" membuat kalimatnya terdengar lebih formal sehingga penggunaannya lebih untuk bahasa tertulis maupun pidato. Tidak ada aspek jenis kelamin maupun kesopanan. Namun di bahasa Jepang nuansa yang diberikan jauh berbeda. Keberadaan membuat kalimatnya terdengar lebih tegas, memaksa, dan dengan kata lain deklaratif. Oleh karenanya, yang lebih sering menggunakan di akhir kalimat adalah laki-laki. Di bahasa Jepang, gaya bahasa tegas juga berarti tidak sopan. Oleh karenanya, saat nanti belajar gaya bahasa sopan kita akan melihat bahwa tidak digunakan sebagai akhiran kalimat. Terakhir, karena hanya digunakan untuk membuat pernyataan, kamu tidak bisa menggunakannya saat bertanya. Deklaratif juga diperlukan di berbagai konstruksi yang mengharuskan keadaan benda dinyatakan dengan jelas. Ada juga kasus-kasus di mana kamu tidak boleh menempelkannya. Semuanya cukup merepotkan tapi untuk saat ini kamu belum perlu memikirkannya.

Konjugasi bentuk negatifDi bahasa Jepang, bentuk negatif dan lampau dinyatakan melalui perubahan bentuk atau konjugasi. Nomina dan adjektiva bisa dikonjugasi ke bentuk negatif untuk menyatakan bahwa sesuatu bukan X dan ke bentuk lampau untuk menyatakan bahwa sesuatu dulunya X. Mungkin kedengarannya aneh, tapi konjugasi-konjugasi tersebut tidak memiliki konotasi deklaratif sebagaimana . Di bab lain kita akan belajar bagaimana menggabungkan konjugasi tersebut dengan untuk membuatnya deklaratif. Pertama, untuk bentuk negatif, kamu hanya perlu menempelkan ke nomina atau adjektiva-na. Pada bahasa Indonesia, ini akan menjadi "bukan" seperti pada "ini bukan ikan" atau "tidak" seperti pada "dia tidak cantik".Aturan konjugasi untuk bentuk negatify

Tempelkan

ke nomina atau adjektiva-na (bukan teman) (tidak cantik)

Contoh - Bukan ikan. - Bukan murid. - Tidak hening.

Konjugasi bentuk lampauDi bahasa Indonesia, untuk menyatakan keadaan di masa lalu digunakan keterangan waktu seperti "tadi", "tahun lalu", "dulu", dan "waktu itu". Contohnya adalah "ujiannya kemarin mudah". Di bahasa Jepang, yang diperlukan adalah merubah katanya ke bentuk lampau. Pada contoh sebelumnya, "mudah" harus dikonjugasi ke bentuk lampau. Jadi walaupun kamu sudah menggunakan keterangan waktu, kamu tetap harus merubah katanya ke bentuk lampau. Untuk mengatakan bahwa sesuatu dulunya sesuatu, ditempelkan ke nomina atau adjektiva-na. Kita akan secara bebas menggunakan penanda waktu "dulu" maupun "waktu itu" sebagai terjemahannya. Untuk mengatakan bentuk negatif lampau (dulunya bukan), bentuk negatifnya dikonjugasi menjadi bentuk negatif lampau dengan membuang dari dan menambahkan .Aturan konjugasi untuk bentuk lampau 1. Bentuk lampau: Tempelkan ke nomina atau adjektiva-na (dulu teman) (dulu cantik) 2. Bentuk lampau negatif: Konjugasikan nomina atau adjektiva-na ke bentuk negatif lalu ganti pada dengan (dulu bukan teman) (dulu tidak cantik)

- Dulunya ikan. - Dulu bukan murid. - Waktu itu tidak hening.

RingkasanKita telah belajar mengkonjugasikan keadaan benda ke empat bentuk yang mungkin. Berikutnya kita akan belajar beberapa partikel, yang memungkinkan kita memberikan peran pada kata. Inilah tabel ringkasan konjugasi yang dipelajari di bab ini.Ringkasan konjugasi keadaan benda Positif Negatif

Taklampau

Adalah ikan Dulu ikan

Bukan ikan Dulu bukan ikan

Lampau

Bab Sebelumnya (Menyatakan "adalah" dan "bukanlah") |

Daftar Isi

| Bab Berikutnya (Adjektiva)

Lihat soal latihan

Partikel-partikel dasarIsi bab ini 1. Menentukan peran kata dengan partikel 2. Partikel topik 3. Partikel inklusif 4. Partikel identifikasi

Menentukan peran kata dengan partikelMemanfaatkan apa yang telah dipelajari di bab sebelumnya, kita sekarang akan menghubungkan suatu nomina dengan nomina lain. Ini dilakukan dengan sesuatu yang disebut partikel. Partikel adalah satu atau dua huruf hiragana yang ditempelkan ke akhir kata untuk menentukan peran kata tersebut di kalimat. Menggunakan partikel yang benar sangatlah penting sebab arti kalimat bisa berubah drastis hanya dengan mengganti partikelnya. Contohnya, kalimat "Ikan makan." bisa menjadi "Makan ikan." hanya dengan mengganti satu partikel.

Partikel topikPartikel pertama yang akan kita pelajari adalah partikel topik. Pada intinya, partikel topik menunjukkan apa yang sedang kamu bicarakan, dengan kata lain topik kalimatmu. Sebagai contoh, misal seseorang mengatakan "Bukan murid." Ini adalah kalimat yang sudah benar pada bahasa Jepang, namun tidak jelas siapa yang sedang dibicarakan kecuali kita mengikuti pembicaraannya dari awal. Nah, dengan partikel topik kita bisa menyatakan apa yang

sebetulnya dibicarakan. Partikel ini adalah huruf . Perlu diingat bahwa walaupun partikel topik menggunakan huruf hiragana "ha", saat digunakan sebagai partikel topik pengucapannya selalu "wa".Saat digunakan sebagai partikel topik, dibaca "wa"!

Contoh 1 - Apakah kamu (Rina) murid? - Ya, saya murid.

Di sini, Jaya menggunakan untuk menyatakan bahwa pertanyaannya adalah tentang Rina. Perhatikan bahwa Jaya tidak menggunakan di akhir pertanyaan, karena memang tidak boleh digunakan untuk membuat pertanyaan. Berikutnya, perhatikan bahwa Rina tidak menyebutkan topik apapun di jawabannya. Topiknya telah dibuat jelas oleh Jaya, sehingga Rina tidak perlu mengulangnya lagi. Terakhir, walaupun Rina tidak menggunakan deklaratif , mungkin pengguna laki-laki akan lebih memilih untuk menggunakannya supaya terdengar tegas.Contoh 2 - Apakah Andre besok? - Bukan besok.

Karena konteksnya kurang, kita tidak punya informasi cukup untuk sepenuhnya memahami percakapan ini. Tentu saja, tidak mungkin bahwa yang dimaksud itu "Andre adalah besok." karena seseorang tidak mungkin menjadi "besok". Kalau ada konteksnya, asalkan kalimatnya berhubungan dengan Andre dan besok, artinya bisa bermacam-macam. Contohnya, mereka bisa saja membicarakan tentang kapan ujian diselenggarakan.Contoh 3 - Hari ini ujian. - Bagaimana mengenai Andre? - Andre besok. (Mengenai Andre, ujiannya besok.)

Kita harus sadar bahwa konsep topik sangatlah umum. Suatu topik bisa saja secara tidak langsung mengacu pada suatu benda atau aksi lain. Sebagai contoh, pada kalimat terakhir contoh di atas, walaupun kalimatnya membicarakan mengenai kapan ujian untuk Andre, kata "ujian" tidak disebutkan! Di akhir bab ini kita akan melihat suatu partikel yang mengikat kata secara lebih kencang ke kalimat yaitu partikel identifikasi.

Partikel inklusifPartikel lain yang sangat mirip dengan partikel topik adalah partikel topik inklusif. Fungsinya pada dasarnya sama dengan partikel topik namun dengan arti tambahan "juga". Intinya,

partikel tersebut menambahkan topik baru ke topik sebelumnya. Partikel topik inklusif ini adalah dan cara yang paling baik untuk memahaminya adalah dengan contoh:Contoh 1 - Apakah kamu (Rina) murid? - Ya, dan Heri juga murid.

Perhatikan bahwa Rina harus konsisten dengan inklusinya. Tidak masuk akal untuk mengatakan "Saya murid, dan Heri juga bukan murid." Untuk kasus tersebut Rina akan menggunakan partikel untuk menghilangkan makna inklusi seperti pada contoh berikut:Contoh 2 - Apakah kamu (Rina) murid? - Ya, tapi Heri bukan murid. Contoh 3 Ini juga salah satu kemungkinan: - Apakah kamu (Rina) murid? - Bukan, dan Heri juga bukan murid.

Kenapa Rina tiba-tiba membicarakan Heri, padahal Jaya hanya menanyakan Rina? Mungkin Heri sedang berdiri di sampingnya dan Rina ingin mengikutsertakannya dalam pembicaraan.

Partikel identifikasiKita bisa membuat topic menggunakan partikel dan . Tapi bagaimana kalau kita tidak tahu topiknya? Bagaimana kalau saya ingin bertanya, "Siapa yang murid?". Kita perlu pengidentifikasi karena saya tidak tahu siapa muridnya. Kalau saya menggunakan partikel topik, maka pertanyaannya akan menjadi "Apakah siapa murid?", seakan-akan "siapa" adalah nama seseorang. Hal tersebut tidak masuk akal karena "siapa" itu sebetulnya bukan orang nyata. Di sinilah partikel berfungsi. Kadang-kadang juga disebut partikel subjek tapi saya benci istilah tersebut karena konsep "subjek" di bahasa Indonesia jauh berbeda dengan fungsi . Saya kukuh akan menyebutnya partikel identifikasi karena memang itu fungsi sebenarnya, menunjukkan bahwa pembicara ingin mengidentifikasi sesuatu yang tidak diketahui.Contoh 1 - Siapa yang murid? - Andre adalah yang murid.

Jaya ingin mengidentifikasi siapa yang merupakan murid di antara kandidat-kandidat yang mungkin. Rina menjawab bahwa orangnya adalah Andre. Perhatikan bahwa Rina bisa saja menjawab dengan partikel topik yang berarti bahwa, berbicara tentang Andre, dia tahu bahwa

Andre adalah seorang murid (mungkin bukan si murid yang dicari). Perbedaannya bisa dilihat di contoh berikutnya.Contoh 2 - Siapa yang murid? - Murid (itu) siapa?

Mudah-mudahan kamu bisa melihat bahwa bertujuan mencari seseorang yang merupakan "murid" sedangkan hanya membicarakan mengenai seorang murid. Kamu tidak bisa mengganti dengan pada karena nanti "siapa" akan menjadi topik dan pertanyaanya menjadi "Apakah siapa murid?" Partikel dan mungkin terlihat sangat mirip karena perbedaannya sukar diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sebagai contoh, dan sama-sama menjadi "Saya murid."* jika diterjemahkan. Namun terjemahannya menjadi sama di bahasa Indonesia karena informasi mengenai konteks seringkali tidak bisa dinyatakan dengan ringkas seperti pada bahasa Jepang. Pada kalimat pertama , karena topiknya adalah , maksud kalimatnya adalah "berbicara tentang saya, saya adalah murid". Namun di kalimat kedua menentukan siapa yang merupakan . Kalau kita ingin tahu siapa muridnya, partikel memberitahu bahwa jawabannya adalah . Kamu bisa membayangkan bahwa partikel selalu menjawab suatu pertanyaan sunyi. Bayangkan kalimat merupakan respons pertanyaan seperti "Siapa yang murid?" Sebagai contoh lain, kalau ada kalimat , maka artinya kita menjawab pertanyaan seperti "Siapa yang ikan?" atau bahkan mungkin "Apa makanan yang disukai Andre?" Untuk kalimat , pertanyaannya bisa saja "Yang mana mobil?". Kalau kamu menggunakan cara berpikir yang benar, partikel sebetulnya sangat beda dengan . Partikel mengidentifikasi suatu benda yang ditanyatanya sedangkan hanya digunakan untuk mengangkat topik pembicaraan baru. Inilah alasannya kenapa di kalimat-kalimat panjang seringkali topiknya dipisahkan dengan koma untuk menghilangkan ambiguitas mengenai bagian kalimat mana saja yang dicakup suatu topik.* Secara teknis, itu adalah terjemahan yang paling mungkin kalau tidak ada konteks pembicaraannya.

Indah, adalah adjektiva

Bab Sebelumnya (Pengenalan pada partikel) |

Daftar Isi

| Bab Berikutnya (Dasar-dasar verba)

Lihat soal latihan

Isi bab ini 1. Sifat-sifat kata sifat 2. Adjektiva-na 3. Adjektiva-i 4. Perkecualian yang merepotkan

Sifat-sifat kata sifatKarena sekarang kita telah dapat menghubungkan dua nomina menggunakan berbagai partikel, selanjutnya kita ingin menggambarkan nomina kita dengan adjektiva (kata sifat). Ada adjektiva yang bisa langsung memodifikasi nomina yang muncul setelahnya. Ada juga yang memerlukan hiragana pembantu. Berdasarkan hal tersebut, adjektiva dibagi menjadi dua: adjektiva-na dan adjektiva-i. Kita akan melihat perbedaannya dan cara menggunakannya dalam kalimat.

Adjektiva-naAdjektiva-na sangat mudah dipelajari karena dia pada dasarnya berperilaku seperti nomina. Bahkan, karena mereka begitu mirip, kamu bisa berasumsi bahwa mereka cara kerjanya sama kecuali kalau saya terang-terang menjelaskan perbedaannya. Satu perbedaan utamanya adalah adjektiva-na bisa memodifikasi nomina yang mengikutinya dengan menyelipkan di antara adjektiva dan nominanya. Oleh karenanya, dia dinamai adjektiva-na. - Orang yang pendiam. Terbalik dengan bahasa Indonesia, di bahasa Jepang kita menyebutkan sifatnya dulu sebelum bendanya. Lalu, di situ bisa kamu anggap seperti "yang" pada bahasa Indonesia: dia befungsi menghubungkan benda dan sifatnya. Hanya saja, kalau di bahasa Indonesia kita seringkali bisa membuang "yang" (misalnya "orang pendiam") tanpa ada perubahan arti, pada bahasa Jepang adjektiva-na selalu membutuhkan . Kita akan secara bebas mengabaikan "yang" pada terjemahan bahasa Indonesianya. Selain memodifikasi nomina menggunakan , kamu juga bisa mengatakan bahwa "suatu nomina" bersifat "suatu adjektiva" dengan menggunakan partikel topik atau identifikasi, mengikuti pola [nomina] [partikel] [adjektiva]. Contohnya adalah . Ini pada dasarnya sama dengan menyatakan keadaan benda yang dipelajari di

dua bab sebelumnya. Namun, karena tidak mungkin "suatu adjektiva" menjadi "suatu nomina", maka kita tidak bisa mengatakan [adjektiva] [partikel] [nomina] misalnya . Ini cukup jelas karena, misalnya, seseorang bisa saja bersifat pendiam, tapi mengatakan bahwa sifat pendiam adalah orang tidaklah masuk akal. - Teman bersifat baik hati. - Teman adalah orang yang baik hati. Apa kamu masih ingat bahwa saya mengatakan adjektiva-na bertingkah seperti nomina? Kamu bisa melihatnya di contoh berikut. - Jaya suka ikan. - Jaya tidak suka ikan. - Jaya dulu suka ikan. - Jaya dulu tidak suka ikan. Apakah konjugasinya terasa akrab? Seharusnya iya, kalau kamu memperhatikan konjugasi keadaan benda untuk nomina. Mungkin kamu perlu membiasakan diri bahwa "suka" di bahasa Jepang dinyatakan dengan kata sifat bukannya kata kerja. Jadi, cara untuk mengatakan "suka ikan" pada bahasa Jepang adalah (ikan bersifat "suki"). Kalau sesuatu bersifat "suki", artinya kamu suka hal tersebut! Ini juga tentunya dipakai untuk menyatakan suka pada orang, misalnya (senang Rina). Pada contoh-contoh di atas kamu juga bisa melihat partikel topik dan indentifikasi yang bekerja secara harmonis. Partikel topik memberitahu bahwa kalimatnya berbicara mengenai "Jaya", dan partikel identifikasi menunjuk bahwa "ikan" adalah benda yang Jaya suka. Kamu juga bisa menggunakan tiga konjugasi terakhir untuk memodifikasi nomina secara langsung. (untuk bentuk positif taklampau, ingat bahwa kita perlu ) - Tipe yang suka ikan. - Tipe yang tidak suka ikan. - Tipe yang dulu suka ikan. - Tipe yang dulu tidak suka ikan. Di sini, seluruh klausa dll. memodifikasi "tipe" untuk berbicara tentang tipe (orang) yang suka atau tidak suka ikan. Kamu bahkan bisa memperlakukan seluruh klausa tersebut sebagai sebuah nomina. Contohnya, kita bisa membuat klausa tersebut menjadi topik seperti contoh berikut:

- Tipe (orang) yang tidak suka ikan, suka daging (sapi dsb.)

Adjektiva-iAdjektiva-i dinamakan begitu karena selalu diakhiri hiragana . Ini adalah okurigana yaitu bagian yang akan berubah-ubah saat kita mengkonjugasi adjektivanya. Tapi, kamu juga perlu tahu bahwa beberapa adjektiva-na diakhiri misalnya . Jadi, bagaimana cara membedakannya? Berita buruknya, tidak ada cara pasti untuk mengetahuinya. Namun berita baiknya adalah saya hanya bisa memikirkan dua adjektiva-na yang diakhiri dan umumnya ditulis dengan hiragana: dan . Adjektiva-na lain yang diakhiri biasanya ditulis dengan kanji jadi kamu bisa melihat bahwa dia bukan adjektiva-i. Contohnya, jika ditulis dengan kanji adalah atau , dan karena -nya merupakan bagian dari kanji , maka kita bisa tahu bahwa dia tidak mungkin merupakan adjektiva-i. Ini karena inti utama pada adjektiva-i adalah memungkinkan dilakukannya konjugasi tanpa mempengaruhi kanjinya. Bahkan, satu-satunya adjektiva-na yang terpikirkan oleh saya yang benar-benar diakhiri hiragana hanyalah . Ini karena diturunkan dari kata kerja . Apakah kamu ingat bahwa keadaan benda negatif juga diakhiri ? Nah, kamu bisa memperlakukan adjektiva-i sebagaimana keadaan benda negatif. Misalnya, kamu tidak bisa menempelkan deklaratif ke adjektiva-i sebab kita tahu bahwa keadaan benda negatif juga tidak disertai . (Bandingkan dengan adjektiva-na dan nomina yang bisa ditempeli )JANGAN menempelkan ke adjektiva-i.

Setelah masalah tadi jelas, kita bisa belajar aturan konjugasi untuk adjektiva-i. Ada dua aturan baru untuk hal tersebut. Untuk bentuk negatifnya, pertama kita buang lalu tempelkan . Untuk bentuk lampaunya, buang lalu tambahkan . Karena juga diakhiri , kamu bisa menganggap bentuk negatifnya sebagai suatu adjektiva-i baru. Jadi aturan konjugasi lampau negatif sama dengan aturan konjugasi lampau positif.Aturan konjugasi untuk adjektiva-iy y y y y

Negatif: Pertama buang akhiran Lampau: Pertama buang akhiran tambahkan

dari adjektiva-i lalu tambahkan dari adjektiva-i atau adjektiva-i negatif lalu

Ringkasan konjugasi adjektiva-i Positif Negatif

Taklampau

Lampau

Untuk memodifikasi nomina, kamu tinggal menempelkan adjektiva-i langsung. - Bangunan yang tinggi. - Bangunan yang tidak tinggi. - Bangunan yang dulunya tinggi. - Bangunan yang dulunya tidak tinggi. Kamu juga bisa menggabung banyak adjektiva berturut-turut dalam urutan dan bentuk apapun. - Bangunan yang hening dan tinggi. - Bangunan yang tinggi dan hening. - Bangunan yang hening dan tidak tinggi. Dengan adjektiva-i, kita juga bisa membuat klausa nomina deskriptif seperti yang tadi kita lakukan dengan adjektiva-na. Tentunya bedanya adalah kita tidak memerlukan untuk memodifikasi nominanya. Pada contoh berikut, klausa deskriptif langsung memodifikasi .

- Tidak terlalu suka restoran yang harganya mahal.

Perkecualian yang merepotkanAda satu adjektiva-i yaitu "baik" yang perilakunya berbeda dengan adjektiva-i lainnya. Ini adalah contoh klasik mengenai susahnya bahasa Jepang bagi pemula karena kata-kata yang paling umum dan berguna adalah kata-kata yang punya banyak perkecualian. Kata untuk "baik" pada awalnya adalah . Namun seiring berlalunya waktu, kata itu kini menjadi . Saat ditulis dengan kanji, cara membacanya umumnya adalah , jadi hampir selalu ditulis dengan hiragana. Sampai tadi seharusnya

tidak ada masalah. Nah sayangnya, semua konjugasinya masih diturunkan dari bukan . Ini ditunjukkan pada tabel di bawah. Adjektiva lain yang seperti ini adalah gabungan dua kata yaitu dan konjugasinya juga sama.Konjugasi untuk Positif Negatif Taklampa u

dan

karena merupakan versi singkat . Karena menggunakan , maka

Konjugasi untuk Positif Negatif

Taklampa u

Lampau

Lampau

Selalu ingat untuk menurunkan konjugasinya dariContoh

dan bukan

.

- Harganya tidak terlalu bagus.

- Dia (kemarin) benar-benar keren!

M a Bab Sebelumnya (Adjektiva) | Daftar Isi | Bab Berikutnya (Bentuk negatif verba) ri Lihat soal latihan b eraksi dengan verba!Isi bab ini 1. Fungsi verba

2. Pengelompokan verba menjadi verba-ru dan verba-u

3. Referensi: verba-u yang diakhiri iru/eru

Fungsi verbaKita telah belajar cara menggambarkan nomina dengan berbagai cara menggunakan nomina lain dan adjektiva. Dengan kemampuan tersebut, kita sudah bisa mengekspresikan cukup banyak hal. Namun, kita masih belum bisa menyatakan aksi. Inilah guna verba (kata kerja)! Verba pada bahasa Jepang selalu diletakkan di akhir klausa. Karena kita belum belajar cara membuat lebih dari satu klausa, untuk saat ini aturan tersebut berarti setiap kalimat yang memiliki verba harus meletakkan verbanya di akhir. Kita akan mengenal dua kategori utama verba, yang akan memungkinkan kita belajar aturan konjugasi. Sebelum melangkah lebih lanjut, ada satu hal penting yang harus kamu ingat selalu: Kalimat yang secara tata bahasa lengkap hanya memerlukan verba (termasuk pernyataan keadaan benda).

Dengan kata lain, tidak seperti bahasa Indonesia, kamu benar-benar hanya perlu verba untuk membuat kalimat yang benar. Tanpa topik juga tidak masalah! Mengerti sifat fundamental ini sangatlah penting untuk memahami bahasa Jepang. Inilah sebabnya kalimat bahasa Jepang yang paling sederhana pun tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah ke bahasa Indonesia. Semua konjugasi akan dimulai dari bentuk kamusnya (sebagaimana kata-kata tersebut muncul di kamus). Kalimat yang sudah lengkap secara tata bahasa - Makan. (Terjemahan yang mungkin: saya makan/dia makan/mereka makan)

Pengelompokan verba menjadi verba-ru dan verba-uHampir semua verba di bahasa Jepang bisa digolongkan menjadi dua: verba-ru dan verba-u . Verba yang berada di luar kategori itu hanyalah yang berarti "melakukan" dan yang berarti "datang". Semua aturan konjugasi yang ada hampir sama untuk tiap kelompok tersebut. Cara untuk membedakan verba-ru dan verba-u cukup mudah.

Ingat bahwa semua verba diakhiri kana yang disebut okurigana, yang bisa kita ubah untuk konjugasi. Kalau kamu menuliskan verba tersebut menggunakan huruf Latin ( dalam bahasa Jepang) dan ternyata diakhiri "iru" atau "eru", maka biasanya itu adalah verbaru. Sebagai contoh, romanisasi dari adalah "taberu". Dia diakhiri "eru" dan merupakan verba-ru. Contoh lain verba-ru adalah yang romanisasinya adalah "okiru". Verba lain yang akhirannya bukan "iru" maupun "eru" sudah pasti adalah verba-u. Tapi ada satu halangan di sini. Perhatikan bahwa semua verba-ru pasti diakhiri perhatikan bahwa semua verba-u pasti diakhiri suara "u", yaitu dan . Lalu

sayangnya juga ! Kalau suatu verba diakhiri , tapi bukan "iru" maupun "eru" (misal "uru"), maka dengan jelas dia adalah verba-u. Nah, kasus yang tersisa adalah verba-u yang juga diakhiri "eru" maupun "iru". Ada beberapa verba-u tersebut, dan tidak ada cara untuk membedakannya dengan verba-ru biasa selain dengan menghafal. Di akhir bab ini, diberikan daftar beberapa verba-u tersebut yang paling umum. Kalau kamu ragu dengan suatu verba, kamu bisa selalu mengeceknya di Jim Breen's WWWJDIC. Di sana, verba-ru ditandai (v1) sedangkan verba-u berakhiran ditandai (v5r). Ngomong-ngomong, adalah satu-satunya verba yang diakhiri

Karena konsistensi suara di aturan-aturanya, seiring waktu verba-u akan "kedengaran" seperti verba-u dan begitu juga dengan verba-ru. Pada akhirnya, kamu akan bisa mengkategorikan verba baru hanya dengan mendengarnya tanpa perlu berpikir keras. Paling tidak, itulah tujuan yang diharapkan.Cara membedakan verba-ru dengan verba-uy y

Tidak diakhiri iru/eru verba-u Diakhiri iru/eru verba-ru, dengan beberapa kasus perkecualian Contoh verba-ru Verb taberu kiru shinjiru neru Contoh verba-u Verb hanasu kiku Bukan verba-ru maupun verba-u Verb suru kuru

oyogu

asobu matu nomu naoru shinu kau

okiru

deru kakeru suteru shiraberu

Contoh Inilah beberapa contoh kalimat yang menggunakan verba-ru, verba-u, dan verba perkeculian. - Mengenai Rina, makan. - Jaya adalah yang main. - Gita juga melakukan. - Ada uang. (lit: uang ada.) - Mengenai saya, membeli. - Ada kucing. (lit: Mengenai kucing, ada.)

Referensi: verba-u yang diakhiri iru/eruInilah daftar verba-u umum yang diakhiri "iru" atau "eru". Daftar ini dibedakan menjadi tiga tingkat untuk membantu kamu fokus ke kata-kata yang paling umum terlebih dahulu. Daftar ini tidak memuat semua verba-u yang ada di muka bumi. verba-u berakhiran iru/eru dibagi berdasarkan tingkat Mudah Menengah Lanjut

%

Kadang-kadang kamu harus berpikiran negatif

Bab Sebelumnya (Dasar-dasar verba) |

Daftar Isi

| Bab Berikutnya (Bentuk lampau verba)

Lihat soal latihan

Isi bab ini 1. Menyangkal verba 2. Mengkonjugasikan verba ke bentuk negatif

Menyangkal verbaKarena kita sudah bisa melakukan aksi dengan verba, sekarang kita ingin bisa mengatakan negatifnya. Dengan kata lain, kita ingin mengatakan bahwa "ini" dan "itu" tidak dilakukan. Di bahasa Indonesia, kita cukup menggunakan kata "tidak", misalnya dari "makan" menjadi "tidak makan". Pada bahasa Jepang, verba disangkal dengan mengkonjugasikannya ke bentuk negatif seperti pada adjektiva. Hanya saja, aturannya sedikit lebih rumit.

Mengkonjugasikan verba ke bentuk negatifSekarang kita akan menggunakan klasifikasi verba yang telah dipelajari untuk membuat aturan konjugasi. Tapi sebelumnya, kita perlu tahu satu perkecualian yang sangat penting dalam aturan konjugasi verba negatif yaitu . adalah verba-u yang digunakan untuk menyatakan keberadaan benda-benda mati dan tumbuhan.

Contohnya, kalau kamu ingin mengatakan bahwa ada kursi di ruangan, kamu akan menggunakan verba . Padanannya untuk benda hidup bergerak (misalnya orang dan binatang) adalah yang merupakan verba-ru biasa. Contohnya, kalau kamu ingin mengatakan bahwa seseorang ada di dalam ruangan, kamu harus menggunakan verba dan bukan . Kedua verba ini yaitu dan cukup beda dari verba lainnya karena mereka menyatakan keberadaan dan bukan aksi yang sebenarnya. Kamu juga harus repot memilih verba yang cocok untuk benda mati maupun hidup. Alasan saya mengangkat topik tersebut adalah karena bentuk negatif dari adalah (artinya sesuatu tidak ada). Ingat, ini adalah perkecualian jadi jangan gunakan aturan konjugasi yang normal ke verba ini.Bentuk negatif adalah .

Berikutnya kita akan bahas aturan untuk verba lainnya. Untuk menyangkal verba-ru, kamu tinggal membuang dan menambah . Untuk verba-u, mungkin akan membantu kalau kamu melihat romanisasi dari verba tersebut. Kamu tinggal membuang vokal "u" dan menambah "anai". Atau, alternatifnya yang lebih baik, kamu bisa melirik kembali tabel hiragana. Ambil hiragana terakhir dari katanya, yang pasti berada di baris "u" pada tabel, lalu naik ke atas dua kolom untuk menggantinya dengan huruf di baris "a". Contohnya akan menjadi . Perkecualian penting untuk aturan ini adalah verba yang diakhiri . Kamu harus menggantinya dengan , bukan . Kamu juga harus menghafal konjugasi untuk dua verba perkecualian dan seperti yang sudah kita bahas tadi. Tabel berikut merangkum konjugasinya:Cara menkonjugasikan verba ke bentuk negatifnyay

verba-ru: Untuk mengkonjugasikan verba-ru ke bentuk negatifnya, buang di akhir kata lalu tambahkan .

yang ada

y

verba-u: Untuk mengkonjugasikan verba-u ke bentuk negatifnya, ganti huruf bersuara "u" di akhir kata dengan huruf padanannya yang bersuara "a" lalu tambahkan .

Satu perkecualian pentingnya adalah bagi verba yang diakhiri hiragana mereka, ganti dengan (bukan ) lalu tambahkan

. Untuk .

y

verba perkecualian (termasuk

): Lihat tabel di bawah. Contoh verba-u Verba perkecualian (Neg) hanasu kiku hanasanai kikanai Positif Negatif

Contoh verba-ru Positif Negatif Positif

Negatif

oyogu

oyoganai

asobu

asobanai

matu nomu naoru shinu kau

matanai nomanai naoranai shinanai kawanai

= perkecualian hanya untuk konjugasi ini Contoh Inilah beberapa contoh kalimat yang menggunakan bentuk negatif. Semuanya merupakan penyangkalan dari contoh kalimat bab sebelumnya.

- Mengenai Rina, tidak makan. - Jaya adalah yang tidak main. - Gita juga tidak melakukan. - Tidak ada uang. (lit: uang tidak ada.) - Mengenai saya, tidak membeli. - Tidak ada kucing. (lit: Mengenai kucing, tidak ada.)

Bab Sebelumnya (Bentuk negatif verba) |

Daftar Isi

| Bab Berikutnya (Partikel untuk verba)

Lihat soal latihan

Semuanya telah berlaluIsi bab ini 1. Merubah verba ke bentuk lampau 2. Bentuk lampau untuk verba-ru 3. Bentuk lampau untuk verba-u

4. Bentuk negatif lampau untuk semua verba

Merubah verba ke bentuk lampauPembahasan sifat-sifat dasar verba akan kita selesaikan dengan belajar cara menyatakan aksi dalam bentuk lampau dan negatif lampau. Saya perlu memberi tahu sebelumnya bahwa aturan konjugasi di bab ini adalah aturan paling rumit yang ada di bahasa Jepang. Di satu sisi, setelah menguasai aturan di sini segala aturan konjugasi lain akan terlihat sangat mudah. Namun di sisi lain, kamu mungkin perlu membuka-buka bab ini berkali-kali sampai menjadi akrab dengan aturannya. Kamu mungkin perlu latihan yang cukup banyak sebelum mahir menggunakan berbagai konjugasinya.

Bentuk lampau untuk verba-ruKita akan mulai dari verba-ru yang gampang. Untuk merubah verba-ru dari bentuk kamusnya ke bentuk lampaunya, kamu tinggal membuang dan menambahkan . Untuk merubah verba-ru ke bentuk lampauy y y

Buang

dari verba-ru yang bersangkutan lalu tambahkan

Contoh

- Mengenai makanan, tadi makan.

- Mengenai film, kemarin melihat semua. Ingat bahwa di bahasa Indonesia verba tidak memiliki bentuk lampau. Untuk menyatakan kejadian di masa lalu secara jelas, bahasa Indonesia menggunakan keterangan waktu seperti "kemarin", "tadi pagi", "dulu", dan "waktu itu". Pada terjemahan contoh, kita akan secara bebas memilih keterangan waktunya. Kemungkinan lainnya adalah menuliskan keterangan "(lampau)" setelah kalimatnya kalau memang perlu dibuat jelas.

Bentuk lampau untuk verba-uMerubah verba-u dari bentuk kamus ke bentuk lampaunya susah karena kita harus membagi lagi verba-u menjadi empat kategori. Keempat kategori tersebut bergantung pada huruf terakhir verbanya. Tabel berikut melukiskan kategori-kategorinya. Sebagai tambahan, ada satu perkecualian yaitu untuk . Saya mengelompokkannya dengan verba perkecualian langganan yaitu dan walaupun adalah verba-u biasa untuk seluruh konjugasi lainnya.

Konjugasi bentuk lampau untuk verba-u Akhiran Taklampau perubahan... Lampau

Perkecualian Taklampau Lampau

*

* Perkecualian hanya untuk konjugasi ini Contoh

- Mengenai hari ini, tadi berlari.

- Teman adalah yang kemarin datang.

- Saya juga waktu itu bermain.

- Mengenai belajar, tadi melakukan.

Bentuk negatif lampau untuk semua verbaKonjugasi bentuk negatif lampau memiliki aturan yang sama untuk semua verba. Kamu mungkin sudah sadar bahwa bentuk negatif dari segala sesuatu yang telah kita pelajari selalu berakhir dengan . Aturan konjugasi untuk bentuk negatif lampau verba pada dasarnya sama seperti pada bentuk negatif lain yang juga diakhiri . Jadi dari bentuk negatifnya, buang dari akhiran lalu ganti dengan .

Untuk merubah verba ke bentuk negatif lampau

y y y

Pertama ubah verbanya menjadi bentuk negatif lalu ganti

dengan

Contoh

- Mengenai Rina, tadi tidak makan.

- Jaya adalah yang kemarin tidak melakukan.

- Andre juga waktu itu tidak ikut.

- Waktu itu tidak ada uang.

- Mengenai saya, waktu itu tidak membeli.

- Waktu itu tidak ada kucing. (lit: mengenai kucing, waktu itu tidak ada)

Bab Sebelumnya (Bentuk lampau verba) |

Daftar Isi

| Bab Berikutnya (Verba transitif dan intransitif)

Partikel 2Isi bab ini 1. 2. 3. 4. 5. 6. Partikel untuk verba Partikel objek langsung Partikel target Partikel arah Partikel konteks Saat tempat menjadi topik 7. Saat objek langsung menjadi topik

Partikel untuk verba

Di bab ini, kita akan belajar beberapa partikel baru yang penting untuk penggunaan verba. Kita akan belajar cara menentukan objek langsung dari verba dan lokasi tempat verbanya terjadi.

Partikel objek langsungPartikel pertama yang akan kita pelajari adalah partikel objek karena merupakan yang paling mudah dimengerti. Huruf ditempelkan ke akhir suatu kata untuk menandakan bahwa kata tersebut merupakan objek langsung verbanya. Huruf ini bisa dibilang tidak pernah digunakan untuk keperluan lain. Oleh karenanya, padanan katakananya hampir tidak pernah ditemui karena partikel selalu ditulis dengan hiragana. Huruf , walaupun seharusnya berbunyi "wo", pada umumnya diucapkan sebagai "o" di pembicaraan nyata. Inilah beberapa contoh penggunaan partikel objek langsung.Contoh

- Makan ikan.

- Tadi minum jus.

Tidak seperti konsep objek langsung di bahasa Indonesia, tempat juga bisa menjadi objek langsung verba gerakan seperti dan . Ini artinya kita bergerak melalui atau melintasi tempat tersebut. Bayangkan saja menandakan objek injak-injakan kaki kita saat bergerak.

- Berjalan sepanjang kota tanpa tujuan. (lit: Berjalan kota tanpa tujuan)

- Berlari melintasi jalan raya. (lit: Berlari jalan raya) Kalau kamu menggunakan dengan nomina, partikel kamu bisa menganggap seluruh [nomina+ ] sebagai satu verba. bisa dihilangkan dan

- Belajar bahasa Jepang setiap hari.

- Telah mendaftarkan alamat email.

Partikel targetPartikel menyatakan target dari verba. Ini berbeda dengan , di mana verbanya melakukan sesuatu terhadap objek langsung. Dengan , verbanya melakukan sesuatu

menuju kata yang ditandai .Contoh

. Contohnya, tempat tujuan verba gerakan ditandai dengan

- Jaya pergi ke Jepang. (lampau)

- Tidak pulang ke rumah.

- Datang ke kamar. Bisa dilihat di contoh bahwa partikel target selalu berarti tujuan ("ke") dan bukan asal ("dari"). Kalau kamu ingin mengatakan misalnya "datang dari", maka kamu perlu menggunakan yang artinya "dari". Dengan , artinya adalah "datang ke". sering berpasangan dengan yang artinya "sampai".

- Icha datang dari Indonesia. (lampau)

- Akan mengerjakan PR dari hari ini sampai besok. Konsep target di bahasa Jepang sangatlah umum dan tidak terbatas pada verba gerakan. Contohnya, lokasi benda pada bahasa Jepang adalah target bagi verba keberadaan dan . Waktu juga merupakan target umum. Ini adalah beberapa contoh verba nongerakan dan targetnya.

- Kucing ada di kamar.

- Waktu itu kursi ada di dapur.

- Kemarin bertemu teman baik.

- Rina akan menjadi dokter.

- Pergi ke perpustakaan minggu lalu. Catatan: Jangan lupa untuk menggunakan untuk tanaman dan benda mati seperti kursi dan untuk benda hidup bergerak seperti kucing.

Walaupun partikel tidak selalu dibutuhkan untuk menyatakan waktu, ada sedikit perbedaan arti antara kalimat yang menggunakannya dan yang tidak menggunakan apa-apa sama sekali. Di contoh berikut, partikel target membuat tanggalnya menjadi target khusus sehingga menekankan bahwa temannya akan pergi ke Jepang pada waktu tersebut. Tanpa partikelnya, tidak ada penekanan khusus.

- Tahun depan, teman akan pergi ke Jepang.

- Teman akan pergi ke Jepang tahun depan.

Partikel arahWalaupun umumnya diucapkan "he", saat digunakan sebagai partikel dia selalu diucapkan "e". Beda utama antara partikel dan adalah bahwa memandang targetnya sebagai tujuan akhir (baik kongkrit maupun abstrak). Di lain pihak, lebih menyatakan bahwa kita bergerak ke arah tertentu, tapi tidak menjamin bahwa itu adalah tujuan akhirnya. Karenanya, hanya digunakan untuk verba gerakan. Dengan kata lain, partikel menyatakan targetnya dengan pasti sedangkan lebih samar-samar tentang tujuan akhirnya. Sebagai contoh, kalau kita mengganti dengan pada tiga contoh yang tadi telah muncul, nuansanya sedikit berubah.Contoh

- Jaya pergi ke arah Jepang. (lampau)

- Tidak pulang ke arah rumah.

- Datang ke arah kamar. Untuk memperjelas, misalnya kita mengatakan "Orang itu lari ke arah utara". Kita bisa mengatakan hal tersebut tanpa perlu tahu tujuan sebenarnya si orang itu. Bisa saja, setelah berlari beberapa ratus meter orang tersebut ternyata belok ke timur karena memang tempat yang ditujunya ada di situ. Inilah esensi yang lebih menyatakan arah gerakan namun tidak menjamin apapun mengenai tujuan akhirnya. Kita tidak bisa menggunakan partikel Contoh berikut salah: untuk verba yang tidak memiliki arah fisik.

-

Versi salah dari

.

Ini tidak berarti tidak bisa digunakan untuk konsep abstrak. Bahkan, karena arti arah yang samar dari partikel ini, juga bisa digunakan untuk membicarakan sasaran masa mendatang dan harapan.

- Menuju kemenangan.

Partikel konteksPartikel memungkinkan kita menyatakan konteks pelaksanaan verbanya. Misalnya, jika seseorang makan ikan, di mana dia makan? Lalu, jika seseorang pergi ke sekolah, dengan kendaraan apa dia pergi? Dengan alat apa kamu makan? Semua pertanyaan tadi bisa dijawab dengan partikel . Ini beberapa contohnya.Contoh

- Melihat di bioskop.

- Pulang dengan bis.

- Tadi makan siang di restoran. Pada dasarnya, berarti "dengan cara". Namun untuk tempat, kata bahasa Indonesia yang lebih cocok adalah "di".Menggunakan dengan

Di bahasa Jepang, "apa" cukup menyebalkan karena walaupun pada umumnya dibaca , kadang-kadang dia dibaca tergantung pada penggunaannya. Karena selalu ditulis menggunakan kanji, kamu tidak bisa tahu dari penulisannya. Untuk awal, saya menyarankan kamu membacanya sampai ada yang mengoreksi kamu bahwa untuk kasus tersebut bacaannya adalah . Jika ditempel partikel , cara membacanya adalah . (Gunakan kursor mouse kamu untuk mencek bacaannya di sini.)

- Tadi datang dengan cara apa?

- Tadi datang dengan bis. Inilah bagian yang membingungkan. Bahasa Jepang "kenapa" adalah atau versi lainnya yang terdengar lebih kuat . Namun yang paling sering dipakai adalah

versi percakapannya yaitu yang ditulis sendiri dan tidak ada hubungannya dengan partikel

! Ini adalah kata yang berdiri .

- Kenapa kamu datang?

- Karena sedang ada waktu luang. yang muncul di sini artinya "karena", beda dengan yang kita pelajari sebelumnya. Pembahasan sepenuhnya ada di bab kalimat gabungan. Inti dari contoh tersebut adalah bahwa dua kalimat yang ditulis persis sama bisa dibaca berbeda dan artinya juga berbeda. Jangan khawatir, masalahnya tidak sebesar kelihatannya sebab di sebagian besar kasus, cara membaca yang kedua adalah yang lebih umum. Dan kalaupun yang diinginkan adalah , konteks pembicaraannya akan membuatnya jelas. Bahkan dalam contoh pendek ini pun kamu sudah bisa tahu mana cara membaca yang benar dengan melihat jawaban pertanyaannya.

Saat tempat menjadi topikAda kasus-kasus saat lokasi suatu aksi juga merupakan topik kalimat. Kamu bisa menempelkan partikel topik dan ke tiga partikel yang berhubungan dengan lokasi saat lokasinya adalah topik. Di contoh berikut kita bisa melihat bagaimana lokasi juga bisa menjadi topik.Contoh 1

- (Apakah kamu kemarin) pergi ke sekolah?

- Tidak pergi.

- Kalau ke perpustakaan?

- Ke perpustakaan juga tidak pergi. Di contoh ini, Jaya mengangkat topik baru (perpustakaan) sehingga lokasinya juga menjadi topik. Kalimatnya sebetulnya versi singkat dari .Contoh 2

- Makan di mana?

- Bagaimakan kalau di restoran Italia? Di sini Rina menyarankan restoran Italia. Kalimat seperti "Bagaimana kalau..." biasanya mengangkat topik baru karena orangnya menyarankan sesuatu yang baru. Dalam kasus ini, lokasinya (restoran) menjadi saran sehingga dia menjadi topik.

Saat objek langsung menjadi topikPartikel objek langsung berbeda dengan partikel yang berhubungan dengan tempat sebab kamu tidak bisa menggabungnya dengan partikel lain. Sebagai contoh, dengan membaca bagian sebelumnya kamu mungkin menebak bahwa kita juga bisa mengatakan untuk menyatakan objek langsung yang juga menjadi topik. Tapi caranya bukan seperti itu. Suatu topik juga bisa merupakan objek langsung tanpa menggunakan partikel . Menggunakan malah akan membuat kalimatnya salah.Contoh

- Belajar bahasa Jepang. - Mengenai bahasa Jepang, (akan) belajar. Jangan melakukan kesalahan berikut: - [Kalimat yang salah.]

V er Bab Sebelumnya (Partikel untuk verba) | Daftar Isi | Bab Berikutnya (Klausa subordinat) b a berorientasi objekIsi bab ini 1. Verba transitif dan intransitif 2. Perhatikan partikelnya!

Verba transitif dan intransitif

Di bahasa Jepang, kadang-kadang ada pasangan verba yang intinya sama yaitu verba transitif dan intransitif. Bedanya adalah verba transitif melibatkan aksi oleh pelaku aktif sedangkan pada verba intransitif aksi terjadi tanpa pelaku langsung. Di bahasa Indonesia bisa digunakan imbuhan untuk membedakannya, misalnya "saya menjatuhkan bolanya" (pelakunya "saya") vs. "bolanya jatuh" (tanpa pelaku). Di bahasa Jepang ini menjadi vs. . Contohnya lainnya adalah "memasukkan ke kotak" ( vs. "masuk ke kotak" . Bisa juga di bahasa Indonesia digunakan kata yang berbeda untuk pasangan tersebut, misalnya "menghapus" ( ) vs. "menghilang" ( ). Yang paling susah adalah jika di bahasa Indonesia digunakan kata yang sama, misalnya pada "saya membuka pintu" vs. "pintunya membuka". Menggunakan cara berpikir di bahasa Jepang, verba transitif dan intransitif sebetulnya menggambarkan aksi yang sama. Mengetahui istilahnya tidaklah penting, tapi kamu harus tahu mana yang mana agar bisa memilih verba dan partikel yang benar.

Karena arti dasar dan kanjinya sama, kamu bisa belajar dua verba dengan harga satu kanji! Mari kita lihat contoh beberapa verba transitif dan intransitif.Verba transitif dan intransitif Transitif Intransitif jatuh keluar masuk membuka (menjadi terbuka) menutup (menjadi tertutup) menempel menghilang copot

menjatuhkan mengeluarkan memasukkan

membuka

menutup

menempelkan menghapus mencopot

Perhatikan partikelnya!

Pelajaran paling penting di sini adalah mengenai partikel yang benar untuk verba yang bersangkutan. Tentunya prasyarat utamanya adalah tahu apakah verba yang bersan