of 28 /28
STATUS PASIEN PSIKIATRI I. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny.H Jenis kelamin : Perempuan Usia : 45 tahun Tanggal lahir : 10 Mei 1969 Alamat : Ranca Bango RT001/001 Rajeg Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Kesatuan : Swasta Pendidikan : SMP Status perkawinan : Menikah Agama : Islam Suku : Sunda Tanggal masuk RS : 17 September 2014 II. RIWAYAT PSIKIATRI Autoanamnesis : Tanggal 12 oktober 2014 Alloanamnesis : Anak pasien (tanggal 12 Oktober 2014) A. Keluhan Utama Pasien menangis dan marah-marah. B. Keluhan Tambahan Sering berbicara sendiri dan tertawa sendiri. C. Riwayat Gangguan Sekarang 1

Status Pasien Psikiatri

Embed Size (px)

DESCRIPTION

skizofrenia

Citation preview

STATUS PASIEN PSIKIATRII. IDENTITAS PASIEN Nama: Ny.H Jenis kelamin: Perempuan Usia: 45 tahun Tanggal lahir: 10 Mei 1969 Alamat: Ranca Bango RT001/001 Rajeg Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Kesatuan: Swasta Pendidikan: SMP Status perkawinan: Menikah Agama: Islam Suku: Sunda Tanggal masuk RS: 17 September 2014

II. RIWAYAT PSIKIATRIAutoanamnesis : Tanggal 12 oktober 2014Alloanamnesis: Anak pasien (tanggal 12 Oktober 2014)

A. Keluhan Utama Pasien menangis dan marah-marah.

B. Keluhan Tambahan Sering berbicara sendiri dan tertawa sendiri.

C. Riwayat Gangguan Sekarang Dari alloanamnesis dengan anak pasien, dikatakan pasien menangis lalu marah-marah mengungkapkan isi hatinya, lalu setelah semua isi hatinya keluar pasien kembali normal. Menurut keterangan anaknya, pasien sering bertingkah laku seperti anak-anak dan sering mendorong-dorong perabotan rumah seperti tempat tidur lemari dan juga sering merusak barang. Sudah kurang lebih dua bulan pasien tidak minum obat dari dokter dengan alasan obat membuat lemas.

Pada autoanamnesis, pasien mengaku habis bertengkar dengan suaminya. Suaminya bekerja sebagai supplier ikan untuk restoran-restoran. Setiap hari suami pasien berangkat dari rumahnya sore hari dan pulang baru pada pagi hari. Pasien yang resah akan hal tersebut menceritakannya ke tetangga, dan tetangganya berkomentar bahwa bisa saja suaminya pulang pagi karena main permpuan atau selingkuh, kemudian pasien mempercayai hal tersebut begitu saja sehingga memicu pertengkaran tersebut. Pasien mengaku mempunyai nama lain yaitu Bunga Nirwana sebagai model iklan lulur purbasari dan Audy sebagai polisi. Saat ini, pasien sering mengatakan banyak di jenguk oleh orang-orang seperti ibu Ani Yudhoyono, bapak Bambang Suharto. Pasien mengaku nama ayah pasien adalah Bambang Suharto dan ibu pasien adalah ibu Tutut Suharto. Pasien juga berkata bahwa pak Jokowi sering bermain kerumah pasien untuk meminjam surat-surat berharga. Pasien mengaku mobilnya di gadaikan di pegadaian karena untuk keperluan dana pemilihan calon presiden kemarin.Selama berada didalam perawatan Paviliun Amino pasien terlihat sering menyeringai, sering berbicara sendiri dan menertawakan pasien lain. Pasien terkadang mengacuhkan pertanyaan sambil bermain-main sendiri atau tidur.

D. Riwayat Gangguan Sebelumnya Riwayat Gangguan Psikiatri Pasien mengatakan bahwa 10 tahun yang lalu pasien pernah dirawat dirumah sakit jiwa Grogol karena kabur selama satu bulan, dengan diagnosis skizoafektif. Pasien tidak meminum obatnya sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit.Menurut anak pasien, semenjak nenek pasien meninggal, pasien jadi kehilangan tempat untuk bercerita karena ayah dan ibu pasien sudah sibuk dengan keluarga masing-masing, sedangkan anak-anak dan suami pasien juga jarang ada dirumah sehingga jarang terjadi komunikasi antara pasien dan keluarga. Pasien sering di hasut oleh saudaranya bahwa pasien dilarang dirumah terus karena nanti suami kawin lagi. Padahal suaminya sangat sabar dan royal menghadapi pasien.

Riwayat Medik Umum Pasien tidak pernah memiliki penyakit-penyakit tertentu sebelumnya Penggunaan Zat Psikoaktif dan AlkoholPasien tidak pernah merokok, minum alkohol atau menggunakan zat psikoaktif.E. RiwayatKehidupan Pribadi Riwayat Prenatal dan PerinatalData tidak didapatkan karena sulitnya bertemu dengan orang tua pasien yang sedari umur pasien 2 tahun sudah bercerai. Riwayat Masa Kanak Awal (0-3 tahun)Semenjak usia 2 tahun orang tua pasien bercerai dan pasien tinggal dengan neneknya. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)Pendidikan pasien dimulai dari TK. Hubungan dengan teman-temannya cukup baik. Pasien sering bermain bersama temannya. Pasien melanjutkan di SD selama 7 tahun karena pasien pernah tidak naik kelas satu kali. Pasien sering disuruh mencuci dan mengepel oleh saudaranya. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)Pada saat usai 12 tahun pasien di nikah kan dengan suaminya sampai sekarang. Masa Dewasa1. Riwayat Pendidikan Pasien bersekolah dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama. Pasien pernah tidak naik kelas satu kali saat kelas 4 SD. Pasien mengatakan sering bermain congklak bersama teman-temannya.2. Riwayat Pekerjaan Pasien mengaku pernah kerja di pabrik namun sekarang sudah tidak bekerja lagi. 3. Riwayat Pernikahan dan HubunganPasien menikah satu kali dan mempunyai tiga orang anak. Hubungan dengan suami agak renggang karena suami jarang pulang, hubungan dengan anak pertama baik dan boleh dikatakan paling care terhadap kondisi ibunya, pasien sering marah-marah dengan anak pertamanya yang sudah berumah tangga dan sudah tidak tinggal bersamanya lagi. Anak kedua pasien tinggal dikos-kosan karena sedang berkuliah sehingga hubungan pasien dan anaknya kurang dekat, anak ketiga pasien pulang sekolah sore atau malam hari sehingga jarang berinteraksi dengan pasien.4. Riwayat Kehidupan BeragamaPasien beragama Islam, pasien mengaku solat 5 waktu dan mengaji, tapi pernyataan pasien tidak sesuai dengan yang pemeriksa temukan selama di Amino.5. Riwayat Pelanggaran HukumPasien tidak pernah melakukan tindakan pelanggaran hukum maupun berurusan dengan pihak yang berwajib.6. Riwayat Psikoseksual Pasien merupakan heteroseksual dengan bukti menikah. 7. Aktivitas Sosial Di lingkungan rumah, pasien suka bermain kerumah tetangga tapi hanya melamun saja di depan rumah tetangga karena pasien dikatakan bodoh oleh tetangganya. Namun pasien terkadang juga ngobrol dengan tetangga mengobrolkan tentang belanjaan. Riwayat Keluarga Pasien merupakan anak satu-satunya. Ayah dan Ibu pasien bercerai sejak usia pasien masih 2 tahun.

Genogram

Situasi Kehidupan Sekarang Saat ini pasien tinggal bersama suami dan anaknya yang ketiga di rumahnya di daerah Rajeg, Pasar Kamis. Suami pasien jarang pulang dan saat pulang membawa temannya, ngobrol bersama temannya lalu tidur. Sedangkan anak pasien pulang sekolah sore atau malam. Setelah pasien masuk ke dalam perawatan di paviliun Amino RSPAD, keluarga sering menjenguk pasien. Pasien mengatakan ingin pulang karena ingin bertemu anak dan keluarganya.

Persepsi Pasien tentang diri dan lingkungan Pasien menganggap bahwa dirinya dibawa ke rumah sakit karena bertengkar dengan suaminya. Pasien tahu sedang dirawat di RSPAD Paviliun Amino. Persepsi keluarga tentang diri pasien Anak pasien yang pertama berpendapat bahwa pasien membutuhkan pengobatan dari bagian kesehatan jiwa. Keluarga menginginkan pasien segera sembuh agar bias beraktifitas kembali.Mimpi, fantasi dan nilai-nilai Saat ini harapan dan mimpi pasien berubah-ubah setiap hari. Pada wawancara pertama pasien ingin pergi umroh, pada wawancara kedua pasien ingin menjadi artis dan pada wawancara ketiga pasien ingin menjadi lurah.

III. STATUS MENTAL a. Deskripsi Umum 1. Penampilan Pasien perempuan berusia 45 tahun tampak sesuai dengan usia, tinggi kurang lebih 160 cm kulit sawo matang, rambut lurus panjang, berwarna hitam. Penampilan kurang rapi dan merawat diri. Pada saat dilakukan wawancara, tanggal 12 oktober 2014 pasien menggunakan baju lengan panjang terusan bermotif bunga, memakai sandal warna-warni, menggunakan lipstick dan bedak serta memakai kerudung. Pasien dapat berjalan dengan keseimbangan baik dan cara berjalan yang normal. 2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor Pasien duduk dan berdiri tidak tenang didalam ruang perawatan. Saat wawancara pasien sering tidak menjawab pertanyaan, atau sering bercerita panjang lebar terlebih dahulu baru menjawab pertanyaan. Kontak mata sering teralihkan. Pasien suka berada diatas tempat tidur. 3. Sikap terhadap Pemeriksa Pasien kurang kooperatif selama wawancara berlangsung dan terkadang menjawab pertanyaan yang diajukan dengan tidak langsung, berbelit-belit dan tidak sesuai dengan pertanyaan, sehingga pertanyaan harus dua atau tiga kali diulangi. Pasien bersikap aktif, pasien banyak bercerita tentang banyak hal yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya dimana pembicaraannya dari satu hal ke hal lain bergeser secara cepat dan tidak terdapat kaitan. Dan kadang tertawa dengan apa yang dibicarakannya.b. Mood dan Afek Mood: Elevated moodAfek: Inappropriate affectKeserasian : Tidak sesuaic. Pembicaraan Pasien berbicara spontan, banyak, lancar, volume suara sedang, irama dan intonasi kurang jelas, serta artikulasi yang kurang jelas.d. Gangguan Persepsi Pasien mengatakan melihat wujud bayangan saudara yang sudah meninggal datang (halusinasi visual) dan meminta pasien untuk baik-baik. Kemudian saat pemeriksaan tanggal 12 oktober 2014 pasien mengaku mendengarkan suara orang yang banyak ditelinganya dan yakin bukan dirasakan (halusinasi auditorik) yang pasien kenal sebagai abah yang menyuruhnya untuk menjadi seorang artis. Tetapi pasien mengaku tidak sampai dikontrol oleh suara tersebut dan tidak dipengaruhi.e. Pikiran Proses pikir: Asosiasi Longgar, menuju Inkoheren Isi Pikir: Waham Kebesaran, Waham Bizzare, Waham Cemburu

f. Sensorium dan Kognitif Taraf kesadaran dan kesiagaan Compos mentis, kesiagaan baik

Orientasi 1. Waktu: Baik, pasien dapat membedakan waktu saat pagi, siang dan malam.2. Tempat: Baik, pasien mengetahui bahwa dirinya sedang berada di RSPAD Gatot Soebroto.3. Orang :Baik, pasien dapat mengenali teman-teman sebangsalnya, keluarga dan nama pemeriksa walaupun tidak tahu namanya . Daya ingat 1. Jangka panjang: Baik, pasien dapat mengingat tempat pasien bersekolah dan tahu bahwa pasien pernah dirawat di Grogol.2. Jangka menengah: Baik, pasien dapat mengingat siapa yang mengantarnya ke rumah sakit.3. Jangka pendek: Baik, pasien dapat mengingat jumlah obat kemarin pagi dan sore yang diminumnya.4. Jangka Segera: Buruk, pasien kesulitan menghafal nama pemeriksa. Konsentrasi dan perhatian Baik, pasien dapat melakukan pengurangan 100 dikurang 7 meskipun dengan memerlukan waktu yang lama untuk berpikir. Kemampuan membaca dan menulisPasien memiliki kemempuan membaca dan menulis yang kurang baik, karena ada kesalahan dalam penulisan nama pasien.

Kemampuan visuospasial Pasien tidak dapat menggambarkan jam dengan baik dan benar.

Pikiran abstrak Peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian tidak dapat dimengerti oleh pasien dan pasien mengartikannya dengan salah. Intelegensia dan kemampuan informasi Kurang baik, pasien salah menyebutkan nama presiden sebelum bapak Susilo Bambang Yudhoyono.g. Kemampuan Mengandalikan ImpulsSelama proses wawancara pasien dapat mengendalikan diri dengan berperilaku baik dan sopan dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pemeriksa walaupun sesekali pasien tidak mau menjawab pertanyaan dan kalau menjawab pasien bertele-tele serta tidak langsung menjawab pertanyaan yang pemeriksa ajukan.h. Daya Nilai dan Tilikan Daya dan nilai sosial Baik, pasien bersikap sopan terhadap dokter muda perempuan maupun laki-laki, pasien juga bersikap sopan kepada perawat. Namun, pasien kurang sopan terhadap pasien lainnya karena sering menertawakannya. Uji daya nilai Pasien kurang sopan terhadap pasien lain khususnya pada ibu Diah, pasien terkesan mengejek bu Diah gendut.

Penilaian realita RTA terganggu.

TilikanPasien memiliki tilikan derajat 1, pasien tidak sadar dirinya sakit, tetapi menyalahkan faktor luar/ organik sebagai penyebabnya. Menurut pasien, alasan pasien dirawat karena pasien ingin beristirahat saja di rumah sakit.

i. Taraf Dapat Dipercaya (Reliabilitas)Secara umum tidak dapat dipercaya, karena keterangan yang disampaikan pasien tidak sejalan dengan informasi yang diberikan oleh keluarga pasien.V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT1. Status Internaa. Keadaan Umum : Baikb. Kesadaran : Compos Mentisc. Status Gizi: Cukup

Tanda tanda vital d. Mata : Konjungtiva tidak anemik, Sklera tidak ikterike. THT : Perdarahan (-), palpasi pada daerah sinus pada bagian sinus nyeri (-), deviasi septum (-)f. Mulut dan Gigi :Pada mulut ditemukan sariawan. Bibir tampak merah. Gigi berwarna putih.g. Jantung: Tidak ditemukan adanya kelainan.h. Paru: Vesikuler kiri dan kanan, tidak ada wheezing, tidak ada rhonki.i. Abdomen : Cembung, supel, tidak ada nyeri tekan, hati dan limpa tidak teraba, bising usus normal.j. Ekstremitas: Akral hangat, tidak ada edema.

2. Status Neurologisa. GCS: 15b. Tanda Rangsang Meningeal : negatifc. Tanda-tanda efek ekstrapiramidal: negatifd. Motorik : 55e. Sensorik : Dalam batas normal

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNAPada tahun 2001 untuk pertama kalinya pasien dirawat dan didiagnosis skizoafektif di Rumah Sakit Jiwa Grogol dengan keluhan pasien hilang selama 1 bulan, sering tertawa sendiri.Pasien mendapat stressor dari meninggalnya nenek yang selama ini menjadi sosok orang tua bagi pasien. Dan juga kurangnya perhatian yang diberikan pada pasien oleh suami dan anak-anak pasien.Adanya waham kebesaran pada pasien seperti pasien percaya bahwa pasien adalah orang kaya dan terkenal yang berteman dengan orang-orang ternama. Terdapatnya waham bizarre pada pasien karena pasien mengatakan sebagai putri nirwana, kemudian pak Jokowi pernah kerumahnya untuk meminjam berkas surat-surat mobil untuk dana pemilihan sebagai calon presiden, dan pasien mengaku hari minggu tanggal 12 oktober 2014 ibu Ani Yudhoyono akan datang menjenguknya di Amino.Terdapatnya waham cemburu pada pasien karena pasien mengatakan bahwa suaminya selingkuh diluar sana dan memiliki istri yang banyak. Padahal sebenarnya suaminya tidak memiliki istri atau selingkuhan. Adanya halusinasi visual pada pasien karena pasien sering mengaku di jenguk oleh orang-orang ternama dan pernah dijenguk oleh saudara yang sudah meninggal. Adanya halusinasi auditorik pada pasien yaitu saat pemeriksaan tanggal 12 oktober 2014 pasien mengaku mendengarkan suara orang yang banyak ditelinganya dan yakin bukan dirasakan (halusinasi auditorik) yang pasien kenal sebagai abah yang menyuruhnya untuk menjadi seorang artis. Tetapi pasien tidak sampai dikontrol oleh suara tersebut dan tidak dipengaruhi. Adanya asosiasi longgar dari pasien karena aliran pikiran pasien dimana gagasan-gagasannya bergeser dari satu subjek ke subjek lainnya dengan cara yang sama sekali tidak berhubungan dan membingungkan. Seperti saat pasien sedang bercerita bahwa pasien dulu adalah seorang polisi, lalu pasien menyebutkan nama-nama orang banyak dan berpindah lagi ke topik bahwa jokowi sering datang kerumahnya. Tetapi yang pemeriksa temukan sudah mengarah ke proses pikir yang inkoheren.Dari pemeriksaan didapati penampilan yang kurang rapi dan merawat diri. Mood meningkat, afek tidak sesuai, tidak serasi dengan mood. Bicara spontan, banyak serta volum suara yang sedang, cepat dan kurang jelas. Terdapat ganguan persepsi berupa halusinasi visual dan halusinasi auditorik. Dengan proses pikir asosiasi longgar yang mengarah ke inkoheren dan Isi pikir berupa waham kebesaran, waham bizzare dan waham cemburu. Kesiagaan dan orientasi baik. Kemampuan visuospasial, berpikir abstrak, intelegensia serta daya informasi kurang baik. Penilaian realita terganggu. Tilikan derajat 1. Reliabilitas tidak dapat dipercaya.

VII. FORMULASI DIAGNOSTIKAksis I:Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah menderita penyakit yang mengganggu fungsi otak dan juga tidak ditemukan adanya riwayat penggunaan zat psikoaktif. Pasien tidak pernah mengalami trauma kepala, demam tinggi atau kejang sebelumnya. Hal ini dapat menjadi dasar untuk menyingkirkan diagnosis gangguan mental organik dan penggunaan zat psikoaktif. Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami gejala afektif (manik) yang ditandai dengan peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktifitas fisik dan mental sebagai derajat keparahan, dan skizofrenik yang sama menonjol dan secara bersamaan ada dalam episode yang sama. Dari hal tersebut, kriteria diagnostik menurut PPDGJ III pada ikhtisar penemuan bermakna pasien digolongkan dalam F25.0 Skizoafektif Tipe ManikAksis II:Dilihat dari perilakunya pasien memiliki Gangguan kepribadian paranoid, karena pasien merasakan kecurigaan berulang tanpa dasar tentang kesetiaan seksual dari pasangannya, kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, dan preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak substanstif dari suatu peristiwa baik menyangkut pasien maupun dunia pada umumnya.Aksis III:Tidak memiliki gangguan kondisi medik

Aksis IV:Pada pasien ditemukan adanya masalah dan tekanan dari keluarga. Hal ini didapati berdasarkan alloanamnesis dari anak pasien yang mengatakan bahwa pasien kurang perhatian dari orangtua sejak kecil dan saat nenek meninggal pasien merasa sangat kehilangan. Ditambah dengan masalah saudara-saudara yang selalu menuntut pasien untuk memberikan jatah warisan dari nenek pasien.

Aksis V:Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assessment Of Functioning (GAF) menurut PPDGJ III, didapatkan GAF tertinggi dalam satu tahun terakhir (HLPY) didapatkan jika 70-61 yakni beberapa gejala ringan, menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum baik. Untuk saat ini 60-51 dengan gejala sedang (moderete), disabilitas sedang.VIII. EVALUASI MULTI AKSIALAksis I: F25.0 Skizoafektif tipe manikAksis II: F60.0 Gangguan kepribadian ParanoidAksis III: Tidak memiliki gangguan kondisi medikAksis IV: Masalah dan tekanan dalam keluarga.Aksis V: GAF tertinggi dalam satu tahun terakhir (HLPY) didapatkan 70-61 yakni beberapa gejala ringan, menetap, disabilita ringan dalam fungsi, secara umum baik. Untuk saat ini 60-51 dengan gejala sedang (moderete), disabilitas sedang.

IX. DIAGNOSISDiagnosis kerja: Skizoafektif tipe manik (F25.0)Diagnosis banding: Skizofrenia Paranoid (F20.0)

X. PROGNOSISAd Vitam : dubia ad bonam fungsi vital pasien masih baikAd Fungsionam : dubia ad bonam mendapat dukungan penuh dari anak pertama dan kerabatnyaAd Sanationam : dubia ad malam pasien tidak patuh minum obat

Faktor yang dapat memperberat prognosis :1. Memiliki riwayat gangguan psikiatri sebelumnya yaitu pada tahun 2001 pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dengan diagnosis skizoafektif.2. Kurang perhatian dari keluarga karena semua anggota keluarga sibuk.3. Banyaknya tuntutan pemberian warisan dari saudara-saudara4. Kurangnya kepatuhan minum obat.Faktor yang dapat meringankan prognosis :1. Tidak memiliki riwayat keluarga yang mempunyai gejala yang serupa.2. Memiliki keinginan untuk sembuh.

XI. DAFTAR MASALAHA. OrganobiologikPada pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya kelainan atau gangguan.B. PsikologikMasalah kepatuhan minum obatMasalah rumah tanggaMood: Elevated MoodAfek: Inappropiate affectGangguan persepsi: Halusinasi visual, Halusinasi AuditorikIsi pikir: Waham kebesaran, Waham bizzare, Waham cemburuRTA: TergangguTilikan: Derajat 1

C. Lingkungan & SosioekonomiMasalah dan tekanan dalam keluarga dan lingkungan.

XII. RENCANA TERAPIa. Farmakologi :i. Olanzapin 1 x 10mgOlanzapin merupakan antipsikotik atipikal, dengan mekanisme kerja memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron diotak, khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor antagonist), sehingga efektif untuk gejala positif. Selain itu, anti psikosis atipikal juga berafinitas terhadap Serotonin 5 HT2 Receptors, sehingga efektif juga untuk gejala negatif. Obat ini memperbaiki dua jenis hendaya yang menjadi ciri khas pada skizofrenia ini: (1) gejala positif seperti halusinasi, waham, pikiran terganggu, dan agitasi serta (2) gejala negatif seperti menarik diri, afek datar, anhedonia, miskin pembicaraan, katatonia dan hendaya kognitif.ii.Depakote 2 x 250 mgMerupakan obat antikonvulsan golongan asam valproic berisi divalproex sodium digunakan untuk terapi pada manik akut atau gejala yang berhubungan dengan bipolar dengan atau tanpa psikosis. Bekerja dengan cara meningkatkan kadar GABA pada otak karena pada pasien skizofrenia mengalami kehilangan neuron GABA-ergik yang menyebabkan penurunan aktivitas neuron dopaminergik dan noradrenergik.b. Nonfarmakologisi. Terhadap pasienPsikoterapi suportif: untuk membina hubungan, menunjukan empati dan reassurance, dimana terapis ikut terlibat dan berperilaku aktif, berempati dan memberikan perhatian pada pasien, menerima pasien tanpa menghakimi, mensuport usaha adaptif pasien, dan menghormati pasien sebagai manusia seutuhnya.ii. Terhadap keluarga dan temanPsikoedukasi mengenai :a. Penyakit pasien Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif, informatif dan edukatif mengenai penyebab penyakit pasien, gejala-gejalanya, faktor-faktor yang memberatkan, dan bagaimana cara pencegahan. Sehingga keluarga dan teman bisa menerima dan mengerti keadaan pasien serta mendukung proses terapi dan mencegah kekambuhan.b. Terapi yang diberikanMemberikan penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada pasien dimana diterangkan mengenai kegunaan obat terhadap gejala pasien serta efek samping yang mungkin muncul pada pengobatan. Selain itu juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum obat secara teratur sehingga diharapkan keluarga dan teman turut serta dan bekerja sama dalam berjalannya program terapi.1. DISKUSIBerdasarkan PPDGJ-III kriteria diagnosis untuk Skizoafektif Tipe Manik adalah :1. Kriteria ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik yang tunggal maupun untuk gangguan yang berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe manik. 2. Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak begitu menonjol dikombinasi dengan irritabilitas atau kegelisahan yang memuncak.3. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia, F20.-pedoman diagnostik (a) sampai dengan (d)).

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):a) thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan thought broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya; b) delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau delusion of passivitiy = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus). delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat. delusion of influence = waham dimana dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain).Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.Untuk gejala episode manik antara lain : afek yang meningkat harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga terjadi aktivitas yang berlebihan, percepatan dan kebanyakan bicara, optimistik, harga diri yang membumbung. Terdapat perburukan fungsi sampai titik dimana ia tidak mampu merawat dirinya dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran, iritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar.Pada pasien ini didapatkan gejala skizofrenia dan gejala afektif (manik) berupa halusinasi visual dimana pasien melihat ada tentara dan orang-orang ternama yang mengunjunginya, serta saudaranya yang sudah meninggal juga datang mengunjunginya. Untuk gejala episode manik didapatkan peningkatan afek, peningkatan energi percepatan dan kebanyakan bicara, optimistik, harga diri yang membumbung, konsentrasi terganggu, serta tidak mampu merawat dirinya. Oleh karena itu, menurut PPDGJ-III gejala diatas telah memenuhi kriteria untuk diagnosis skizoafektif tipe manik (F.25.0)Diagnosis banding pada pasien ini adalah skizofrenia paranoid (F20.0) karena pada pasien didapatkan gejala umum skizofrenia yaitu halusinasi visual (datangnya orang-orang ternama, tentara dan saudara mengunjungi pasien), halusinasi auditorik yang pasien kenal sebagai abah (menyuruhnya untuk menjadi seorang artis. Tetapi pasien mengaku tidak sampai dikontrol oleh suara tersebut dan tidak dipengaruhi). Diagnosis ini dapat disingkirkan karena pada skizofrenia paranoid gejala halusinasi dan/atau waham harus terlihat lebih menonjol dari gejala lain, namun pada pasien ini selain terdapat gejala skizofrenia terdapat gejala afektif yang sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, dan gejala afektifnya lebih terlihat saat pemeriksaan dilakukan.Untuk terapi psikofarmaka, pengobatan yang dipilih pada pasien ini adalah pemberian: Olanzapin 1x10 mgOlanzapin merupakan antipsikotik atipikal, dengan mekanisme kerja memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron diotak, khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor antagonist), sehingga efektif untuk gejala positif. Selain itu, anti psikosis atipikal juga berafinitas terhadap Serotonin 5 HT2 Receptors, sehingga efektif juga untuk gejala negatif. Obat ini memperbaiki dua jenis hendaya yang menjadi ciri khas pada skizofrenia ini: (1) gejala positif seperti halusinasi, waham, pikiran terganggu, dan agitasi serta (2) gejala negatif seperti menarik diri, afek datar, anhedonia, miskin pembicaraan, katatonia dan hendaya kognitif. Depakote 2x250 mg Depakote merupakan obat antikonvulsan golongan asam valproic berisi divalproex sodium digunakan untuk terapi pada manik akut atau gejala yang berhubungan dengan bipolar dengan atau tanpa psikosis. Bekerja dengan cara meningkatkan kadar GABA pada otak karena pada pasien skizofrenia mengalami kehilangan neuron GABA-ergik yang menyebabkan penurunan aktivitas neuron dopaminergik dan noradrenergik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI, 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III Cetakan Pertama. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta2. Gunawan, Sulistia Gun, 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologik dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. 3. Maslim, Rusdi, 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi Ketiga. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya: Jakarta.4. Maslim, Rusdi, 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya: Jakarta.5. Kaplan, HI dan Sadock BJ, Grebb JA, 2010. Sinopsis Psikiatri. Jilid 1. Edisi ke-7. Binarupa Aksara: Jakarta.1

18