SASTRA PROFETIK DALAM PERKEMBANGAN SASTRA UPSI آ  menebarkan kebenaran hakiki memerangi

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of SASTRA PROFETIK DALAM PERKEMBANGAN SASTRA UPSI آ  menebarkan kebenaran hakiki memerangi

  • 1

    SASTRA PROFETIK DALAM PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA

    Farida Nugrahani 1 dan Ali Imron Al-Ma‟ruf

    2

    1 PBSI FKIP & Program Pascasarjana Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

    2 PBSI & MPBI Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

    Pos-El: faridanugrahani01@gmail.com; Ali.Imron@ums.ac.id

    1. Pengantar Sebelum masuk inti permasalahan, lebih dulu kita hayati sebuah puisi berjudul

    “Sastrawan Sejati” karya Ali Imron Al-Ma‟ruf (1984) yang terinspirasi Q.S. Ali Imran: 110

    berikut ini.

    Di negeri seribu mimpi

    kalian mengembara mencari

    kebenaran sejati

    dari lembah, gunung, dan ngarai

    dari desa ke kota di bumi pertiwi

    Kalian adalah umat terbaik

    dilahirkan untuk kalangan insani

    menebarkan kebenaran hakiki

    memerangi kemungkaran yang batil

    membawa pencerahan dari Ilahi

    untuk meraih kebahagiaan hidup sejati

    demikian untaian firman Tuhan dalam kitab suci.

    Katakan ya akhi…..

    Islam adalah agama samawi

    datang dari Rabbil Izzati

    dengan wahyu melalui Sang Nabi

    menuju keyakinan kepada Ilahi.

    Katakan ya akhi…..

    boleh jadi semua agama itu baik

    meyakini adanya Tuhan yang Mahaesa

    mengajarkan kebaikan dan perdamaian

    tapi menurut firman Tuhan hanya Islam agama yang hakiki

    hanya Allah Tuhan yang Mahatinggi

    tiada Tuhan selain Dia

    yang wajib untuk disembah

    tempat hamba mengabdikan diri

    tempat memohon pertolongan segala insani

    untuk meraih kebahagiaan abadi

    Katakan ya akhi

    tak hendak aku menyembah Tuhanmu

    tak pula engkau menyembah Tuhanku

    agamaku adalah agamaku

    agamamu adalah agamamu

    mailto:faridanugrahani01@gmail.com mailto:Ali.Imron@ums.ac.id

  • 2

    begitu firman Allah dalam Qur‟an mengajarkanku.

    (Solo, 3 April 1998)

    Tugas sastrawan sejati sebagai bagian dari umat terbaik adalah melaksanakan amanat

    Allah Swt. dalam posisinya sebagai Khalifah Allah di muka bumi. Amanat itu adalah menyeru

    kepada kebaikan dan mencegah kejahatan, yang kesemuanya itu dilandasi oleh iman kepada

    Sang Khaliq, demi memperoleh ridha-Nya guna menemukan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

    Puisi yang bersumber pada al-Quran itulah yang melandasi tulisan ini.

    Karya sastra pada dasarnya melukiskan problema manusia yang bersifat universal, yakni

    tentang hakikat kehidupan, masalah moral, sosial dan kultural, kemanusiaan, kematian dan

    ketuhanan, namun juga masalah kebencian, ambisi, cita-cita, dan cinta kasih sayang.

    Aminuddin (1998) menyatakan bahwa sebagai hasil kreasi manusia, puisi (juga genre sastra

    lainnya seperti prosa fiksi dan drama, pen.), mampu mengungkapkan realitas di luar dirinya.

    Puisi adalah semacam cermin yang menjadi representasi dari realitas itu sendiri. Tegasnya,

    karya sastra mengandung empat masalah besar yakni masalah yang berhubungan dengan (1)

    kehidupan, (2) kematian, (3) kemanusiaan, dan (4) ketuhanan. Oleh karena itu, sastra memiliki

    hubungan yang erat dengan filsafat dan agama.

    Sastra profetik menurut Abdulhadi W.M. (1999) dapat juga disebut sebagai sastra

    sufistik, karena pengalaman yang dipaparkan penulisnya ialah pengalaman transenden seperti

    ekstase, kerinduan, dan persatuan mistikal dengan Yang Transenden. Pengalaman itu berada di

    atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis.

    Pengalaman dan penghayataan estetik dalam usaha mencapai Tuhan, termasuk yang

    diekpresikan dalam karya sastra, pada puncaknya berimplikasi pada intensitas religiusitas.

    Ekspresi religiusitas itu menyentuh dunia spiritual dan profetik. Hal itu sejalan dengan hadits,

    "Tuhan itu Maha Indah, dan Dia mencintai keindahan". Adapun pengalaman estetik bertalian

    dengan keindahan yang sifatnya spiritual dan supernatural yang pada klimaksnya akan mampu

    menghubungkan makhluk dengan Sang Khalik (Al-Ma‟ruf, 1990)

    Lebih jauh dapat dinyatakan bahwa pernyataan Iqbal tersebut merupakan gagasan luhur

    mengenai missi seorang sastrawan. Puisi --juga genre sastra yang lain yakni cerpen, novel, dan

    lakon drama--, dalam kata-katanya sendiri, adalah cahaya dari filsafat sejati dan pengetahuan

    yang lengkap. Tujuan sastrawan adalah membantu manusia dalam perjuangan melawan yang

    jahat dan jorok dengan menghimbau kepada unsur-unsur yang paling mulia dari kodratnya. Di

    atas semuanya, peran seni adalah bersifat sosial. Ia seharusnya merupakan penuntun ketuhanan

    dan kemanusiaan. Sastra profetik merupakan manifestasi gagasan sastrawan yang diekspresikan

    melalui karyanya guna membawa pencerahan batin bagi pembacanya menuju pada kedekatan

  • 3

    dengan Sang Pencipta, Allah Swt. sebagai formulasi amal ibadah kepada-Nya dan amal shalih

    kepada sesama (hablum minallaah wa hablum minannaas).

    Dalam khazanah sastra Indonesia kehadiran sastra profetik yang bermuara pada

    intensitas ketuhanan dan kemanusiaan (Ilahiyah dan insaniyah) sudah mulai terlihat pada awal

    zaman kesusastraan Melayu misalnya terlihat pada beberapa karya Hamzah Fansuri dan

    Syamsuddin Al-Samatrani. Karya sastra termaksud yang menonjol antara lain karya-karya Amir

    Hamzah (Raja Penyair Pujangga Baru, Angkatan 1930-an), beberapa karya Chairil Anwar

    (Pelopor Angkatan 1945), Taufik Ismail dan Goenawan Mohammad (Penyair Terkemuka

    Angkatan 1966), Abdulhadi W.M, Danarto, Kuntowijoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi

    Djoko Damono, Chairul Umam, Ikranegara, M. Fudholi Zaini (tokoh-tokoh angkatan 1970-an),

    dan masih banyak lagi. Begitu pula, karya-karya sastrawan generasi berikutnya seperti Hamid

    Jabbar, D. Zamawi Imron, Afrizal Malna, Emha Ainun Najib dan lain-lain, yang oleh Abdulhadi

    W.M (1989:v) dikatakan sebagai sastrawan berkecenderungan sufisfik.

    Di antara para sastrawan yang berkecendurungan sifisfik tersebut, Amir Hamzah pantas

    dicacat dengan tinta mas. Abdulhadi W.M. menyebutnya sebagai perintis karya-karya

    berkecenderungan sufisfik di Indonesia. Hal itu terutama tampak dalam kumpulan puisinya

    Nyanyi Sunyi (1978; terbit pertama 1935) dan Buah Rindu (1977). Jika dicermati karya-

    karyanya, Amir Hamzah memang dapat disebut sebagai penyair Indonesia yang memiliki

    intensitas pemahaman keilahian (ketauhidan) dan intensitas penghayatan religius yang tinggi.

    Permasalahannya adalah (1) bagaimana definisi sastra profetik dan derivasinya; (2)

    bagaimana kriteria sastra profetik. Adapun tujuan kajian ini adalah untuk mendeskripsikan

    definisi sastra profetik dan derivasinya; (2) menjabarkan kriteria sastra profetik.

    2. Sastra Profetik dan Sastra Sufistik

    Kehadiran sastra profetik (membawa risalah kenabian/kerasulan) sering disebut sebagai

    sastra sufistik (mengandung ajaran tasawuf) atau sastra profetik yang bermuara pada intensitas

    ketauhidan dalam jagat sastra Indonesia membawa warna tersendiri. Artinya, meskipun jagat

    sastra Indonesia kini didominasi oleh prosa fiksi modern yang mengekspresikan budaya global,

    karya sastra profetik tetap mampu eksis dengan kekuatannya. Bahkan, sastra profetik makin

    mengukuhkan eksistensinya di tengah jagat sastra Indonesia yang kini diramakain oleh sastra

    profan yang mengedepankan kesenangan duniawi yang semu.

    Berbicara tentang sastra profetik tidak dapat dilepaskan dari pandangan sufistik

    Kuntowijoyo. Dapat dikatakan, dialah sastrawan sufistik Indonesia yang menyodorkan gagasan

    tentang sastra sufistik yang disebutnya sebagai sastra profetik melalui tulisan-tulisannya.

  • 4

    Menurut Kuntowijoyo (1982), dalam sastra profetik yang terpenting ialah makna, bukan semata-

    mata bentuk, abstrak bukan konkrit, spiritual bukan empiris dan yang di dalam bukan yang di

    permukaan. Seorang pengarang menurut Kuntowijoyo tidak hanya seorang pengamat kejadian-

    kejadian atau fenomena tetapi juga menjadi saksi dan penjelajah dunia makna-makna. Hanya

    dengan kesadaran spiritual dan intelektual yang dalam, dunia semacam ini dapat dijelajah.

    Penyerapan secara spiritual dan inteletual inilah yang digunakan oleh penulis-penulis besar

    timur. Para sufi menamakannya sebagai jalan cinta (‘isyq) dan makrifat (ma’rifah), atau dalam

    bahasa Latin jalan cinta itu diberi nama unio-mystica. Untuk mencapai kesadaran semacam itu

    pandangan seorang penulis harus berubah terutama pandangannya terhadap posisi

    kepengarangannya, perubahan juga harus diikuti oleh perubahan wawasan estetik.

    Sejalan dengan Kuntowijoyo, Seyyed Hossein Nasr menyatakan manusia modern telah

    kehilangan visi ketuhanan yaitu aspek atau dimensi profetik daripada kehidupannya. Karena

    telah kehilangan visi ketuhanan itulah manusia modern sangat mudah dikuasai oleh perasaan

    kosong atau hampa dalam hidupnya. Kehilangan keyakinan yang penuh terhadap Yang

    Transenden menurut Nasr memudahkan manusia merasa kehilangan makna dalam hidupnya

    yang mengalami perubahan dengan cepatnya. Untuk memulihkan kondisi kejiwaan manusia

    modern, Seyyed Hossein Nasr menawarkan tasawuf dan spiritualitas Timur yang lain sebagai

    alternatif pembebasan manusia dari pandangan serba rasional dan material