Review Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya II

  • Published on
    12-Jan-2016

  • View
    62

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Sebuah review mengenai buku berjudul Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970) Jilid II karya J. Van Baal yang ditulis oleh Dhevi Enlivena IRM sebagai tugas mata kuliah Antropologi Seni II, Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia.

Transcript

<ul><li><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970)Jilid 2 1 </p><p>REVIEW </p><p>SEJARAH DAN PERTUMBUHAN TEORI </p><p>ANTROPOLOGI BUDAYA (Hingga Dekade 1970) </p><p>Jilid II </p><p>KARYA J. VAN BAAL </p><p>Sebagai Tugas Mata Kuliah Antropologi Seni II </p><p>oleh : </p><p>DHEVI ENLIVENA </p><p>NIM. 492/S2/KS/11 </p><p>PROGRAM PASCASARJANA </p><p>INSTITUT SENI INDONESIA </p><p>SURAKARTA </p><p>2012 </p></li><li><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970)Jilid 2 2 </p><p>I. Rangkuman </p><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade </p><p>1970) Jilid II merupakan kelanjutan dari buku jilid pertama, berisi tujuh bab yang </p><p>terdiri dari bab XI hingga bab XVII setelah sepuluh bab yang awal sudah </p><p>dimuat dalam buku jilid pertama. Ketujuh bab tersebut membahas, antara lain : </p><p>1. Bentuk-bentuk pengelompokan dalam masyarakat, ritual peralihan </p><p>2. Freud, Jung, Cassirer, lambang sebagai bentuk pernyataan </p><p>3. Malinowski, Fungsionalisme </p><p>4. Aliran Leiden dan Radcliffe-Brown tentang Relasi Kebudayaan </p><p>Permasalahan Kekerabatan </p><p>5. Strukturalisme, Claude Levi-Strauss </p><p>6. Etnologi Amerika sesudah 1930 </p><p>7. Religi, manusia dan masyarakat dalam antropologi budaya sesudah </p><p>perang. Permasalahan subyek manusia </p><p>Seperti yang termuat dalam pendahuluannya, karya Baal merupakan teks </p><p>kuliah teori antropologi budaya yang sudah dikoreksi selama tahun 1976 yang </p><p>diberikan pada sejumlah kecil ahli antropologi Indonesia yang datang ke negeri </p><p>Belanda untuk studi paska-akademial. Menurut Baal sendiri, buku ini tidaklah </p><p>dibuat sebagai suatu sejarah teori yang bulat. </p><p>Pada bab ketujuh, Baal mengangkat kembali mengenai bentuk-bentuk </p><p>pengelompokan dalam masyarakat, serta menyinggung seputar ritual peralihan. </p><p>Pembahasan kembali hal tersebut karena mengingat bahwa pengelompokan </p><p>kekerabatan memberikan kepada masyarakat primitif bentuk-bentuk organisasi </p><p>yang sangat penting. Namun agar lebih komprehensif, pada bab dibatasi empat </p><p>bentuk pengelompokan lainselain pengelompokan kekerabatan yang sudah </p><p>dibahas sebelumnyayakni : (1) pengelompokan lokal; (2) pengelompokan </p><p>politik; (3) pengelompokan jenis kelamin; dan (4) pengelompokan umur. </p><p>Mengenai pengelompokan lokal, Baal mendefinisikannya sebagai </p><p>kesatuan teritorial yang paling kecil yang meliputi lebih dari satu keluarga atau </p><p>dapat disebut sebagai keluarga yang diperluas, dan yang bertempat tinggal </p><p>bersama secara demikian, sehingga dimungkinkan setiap hari terjadi kontak </p><p>secara teratur (Inggris : face-to-face contact). Perkataan yang paling kecil </p><p>mempunyai arti bahwa kelompok lokal itu selalu merupakan bagian dari suatu </p></li><li><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970)Jilid 2 3 </p><p>kesatuan teritorial yang lebih luas, seperti desa, anak-suku atau suku, distrik, </p><p>rakyat atau apa pun juga. (Baal, 1988:2) </p><p>Selanjutnya Baal banyak membahas mengenai nomadenisme, seperti </p><p>yang terdapat pada tiga kelompok orang Indian Amerika Utara. Selain </p><p>pembahasan mengenai bangsa pengembara, juga dimasukkan mengenai </p><p>bangsa yang tinggal menetap. Dalam akhir tulisannya mengenai hal ini, Baal </p><p>menarik kesimpulan bahwa prinsip teritorial mempunyai peranan penting </p><p>bahkan sedemikian pentingnya, sehingga dalam masyarakat yang sangat </p><p>sederhana pun kadang-kadang keterikatan tersebut ternyata lebih penting </p><p>daripada prinsip keturunan. </p><p>Prinsip teritorial juga dapat memainkan peranan dengan cara lain dalam </p><p>mengatur perkawinan. Pemilihan seorang istri tidak selalu harus digantungkan </p><p>pada hubungan dengan kelompok-kelompok genealogis; itu bisa juga didasarkan </p><p>atas hubungan dengan kelompok-kelompok teritorial. Kadang-kadang hubungan </p><p>kelompok sendiri lebih suka diperluas dengan sebanyak mungkin kelompok lain </p><p>dan hal itu mungkin sekali adalah kelompok-kelompok teritorial (tetapi bisa juga </p><p>kedua-duanya sekaligus) (Baal, 1988:8) </p><p>Sementara pada sub-bab Pengelompokan Politik, Baal menyatakan </p><p>bahwa studi tentang pengelompokan politik selama dua puluh tahun terakhir ini </p><p>telah tumbuh menjadi suatu spesialisasi tersendiri, antropologi politik. Dalam </p><p>tulisannya kali ini, Baal lebih banyak membahas mengenai kekuasaan dan </p><p>kepemimpinan. Beberapa pemikiran Baal yang menarik antara lain mengenai </p><p>kekuasaan pemimpin politik yang merupakan fungsi dari tiga faktor, yaitu : </p><p>1. Kekuasaan kelompok; </p><p>2. Mandat yang diberikan kepadanya (pemimpin) oleh kelompok, artinya </p><p>sesuai dengan wewenang untuk bertindak yang diberikan oleh </p><p>kelompok; dan </p><p>3. Kekuasaannya sendiri, kekuasaan perorangan. </p><p>Pada sub-bab selanjutnya, Baal membahas mengenai pengelompokan </p><p>seks dimana hal tersebut didasarkan pada perbedaan jenis kelamin yang dengan </p><p>berbagai cara dinyatakan secara kultural seperti pembagian fungsi-fungsi </p><p>masyarakat, pembagian pekerjaan antara kedua jenis kelamin. Karena lazimnya </p><p>wanita mencurahkan perhatian pada pemeliharaan, primer pada pemeliharaan </p></li><li><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970)Jilid 2 4 </p><p>anak dan sekunder pada pengurusan suami. Ini membuat pembagian tugas </p><p>menjadi suatu keharusan, dan dengan sendirinya pembagian itu ada sangkut-</p><p>pautnya dengan kenyataan, bahwa pria lebih besar dan lebih kuat daripada </p><p>wanita. </p><p>Pada sub-bab selanjutnya, Baal membahas mengenai pengorganisasian </p><p>berdasarkan umur, dengan berbagai contoh yang diulas di sepanjang tulisan. </p><p>Menarik dalam tulisan Baal kali ini adalah bahwa perbedaan umur berperan </p><p>dalam setiap masyarakat. Dengan pengelompokan umur dibatasi dan diatur </p><p>secara cermat, maka pembahasan akan mengalir terkait kelas-kelas umur dan </p><p>tingkat-tingkat umur. </p><p>Menurut Baal, kelompok umur di seluruh dunia terbagi menjadi: </p><p>1. Bayi, anak yang belum dapat berjalan; </p><p>2. Anak kecil, anak yang masih sangat muda yang sudah bisa berjalan </p><p>dan umum juga sudah bisa bicara; </p><p>3. Anak, yaitu anak lelaki dan perempuan; sudah mulai menguasai </p><p>bahasa secara penuh sampai puber; </p><p>4. Remaja (pemuda dan pemudi dalam bahasa Belanda ada istilah </p><p>jongelingan dan meisjes, sedangkan perkataan jongerdochter sudah </p><p>tidak digunakan dalam bahasa Belanda), kadang-kadang dimasukkan </p><p>dalam kelompok yang sama dengan pria dan wanita yang tidak kawin; </p><p>5. Yang sudah bersuami/beristri; </p><p>6. Orang yang lanjut usia. </p><p>Terakhir dalam bab ini, Baal menuliskan mengenai beberapa teori tentang </p><p>kelompok, jenis kelamin, dan kelompok usia dari beberapa ahli seperti </p><p>Eisenstadt, Schurtz, dan Van Gennep. Banyak pemikiran-pemikiran penting dari </p><p>ketiga tokoh tersebut yang dibahas oleh Baal. Seperti tulisan Eisenstadt yang </p><p>dianggap membuka kembali studi mengenai usia; ulasan Schurtz terkait </p><p>perbedaan kelamin yang memiliki peran penting dalam dasar organisasi; hingga </p><p>pemikiran Van Gennep yang membahas kenyataan fundamental dari fungsi </p><p>totemisme yang berkaitan dengan kelompok. </p><p>Pada bab kedua belas dalam buku ini, Baal memaparkan mengenai </p><p>pemikiran beberapa tokoh, antara lain Freud, Jung, dan Cassirer. Pada bagian </p><p>awal, Baal membahas mengenai Sigmund Freud, dimana tokoh ini adalah yang </p></li><li><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970)Jilid 2 5 </p><p>mengawali studi yang sistematis tentang pernyataan kehidupan jiwa yang tidak </p><p>disadari atau tidak jelas disadari. Penemuan besarnya adalah bahwa impian </p><p>manusia tidak hanya merupakan sisa-sisa isi kesadarannya, yang pada siang </p><p>harinya dilakukan secara intensif (apa pun persoalannya), tetapi sering juga </p><p>pernyataan dari angan-angan dan pikiran-pikiran yang pada siang harinya telah </p><p>dicoba untuk dilupakan. </p><p>Selain itu, Baal juga turut menyertakan pemikiran-pemikiran Freud yang </p><p>lain, terangkum dalam empat tulisan Freud yang terbit pada tahun 1912 dan </p><p>1913. Empat tulisan tersebut antara lain : </p><p>1. Tulisan yang membahas mengenai tabu insest. Kebencian emosional </p><p>yang kuat terhadap insest menunjukkan, bahwa yang menjadi </p><p>persoalan bukan kebencian yang besar terhadap insest tetapi </p><p>terhadap nafsu yang terdesak. </p><p>2. Tulisan mengenai tabu dan perasaan ambivalensi. Disitu Freud </p><p>menggambarkan tabu sebagai perbuatan terlarang yang cenderung </p><p>kuat untuk melaksanakannya, tetapi dibawah sadar. </p><p>3. Tulisan berjudul Animisme, Magie en Almacht der Gedachten. </p><p>Pemikiran Freud yang menarik dalam tulisan ini adalah bahwa orang-</p><p>orang berpikir secara magis. Mereka memaksakan kejadian. </p><p>Berkuasanya pemikiran merupakan gejalanya. Berpikir magis adalah </p><p>bentuk pemikiran umat manusia yang paling tua. Ia lebih tua dari </p><p>animisme, yang tumbul kalau kontradiksi magi itu muncul ke luar dan </p><p>orang mulai memproyeksikan sebagian dari aspirasi dan </p><p>kesewenangan mereka pada orang mati. </p><p>4. Tulisan berjudul De infantiele terugkeer van het totemisme, yang </p><p>mana merupakan penutup dari teori-teori Freud. Dalam tulisannya, </p><p>Freud berpendapat bahwa asal mula dari tabu totemisme bersumber </p><p>pada kebiasaan gerombolan purba, yang mengusir keluar anak lelaki </p><p>mereka, segera setelah anak itu dewasa. </p><p>Meski demikian, banyak pula para ahli yang keberatan dengan pemikiran-</p><p>pemikiran Freud. Salah satunya yang paling banyak dibahas, datang dari B. </p><p>Malinowski. Dari paparan panjang keberatan Malinowski atas pandangan Freud, </p><p>Baal merangkumnya sebagai berikut : </p></li><li><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970)Jilid 2 6 </p><p>1. Keterangan tentang religi, eksogami, dan moralitas dari situasi zaman </p><p>purba tidak terbukti dan bahkan tidak mungkin benar. </p><p>2. Penempatan situasi (terkait pengusiran anak laki-laki) dikemukakan </p><p>dengan tepat oleh Malinowski dalam tulisannya Sex and Repression, </p><p>hal itu membuat seluruh perilaku para anak lelaki sebelum dan </p><p>sesudah patrophagie menjadi tidak dapat dimengerti. </p><p>3. Secara biologis tidak diperbolehkan untuk menyatakan Oedipus-</p><p>complex yang ditimbulkan oleh patrophagie pada para pelaku sebagai </p><p>penyebab dari suatu perubahan dalam pola keturunan, sehingga </p><p>membuat Oedipus-complex ini menjadi turun-temurun. </p><p>4. Oedipus-complex yang bersifat turun-temurun ini menimbulkan </p><p>permasalahan baru yang semakin sulit dipecahkan. Karena sekarang </p><p>harus dijelaskan mengapa terdapat begitu banyak orang, yang tidak </p><p>mengalami gangguan Oedipus-complex. </p><p>5. Teori itu adalah teori pria murni, di mana wanita tidak ambil bagian </p><p>dalam perubahan yang diperkirakan terjadi dalam pola keturunan. </p><p>6. Penegasan terhadap totemisme dalam sejarah umat manusia adalah </p><p>pernyataan yang tidak ada dasarnya. </p><p>7. Ada keterangan lain yang lebih sederhana untuk menerangkan </p><p>kompleks ayah dan eksogami, tanpa memerlukan pelengkap genetika </p><p>yang bersifat hipotesa dan dapat disanggah. (Baal, 1988:40) </p><p>Selain Freud, Baal juga memasukkan pemikiran-pemikiran C.G. Jung </p><p>dalam bab ini. Meski sejaman dengan Freud, Jung lebih terkendali dalam </p><p>gayanya dan kadang lebih luas meski tidak menutup kemungkinan keduanya </p><p>memiliki sejumlah persamaan. Pemikiran Jung yang menarik adalah bahwa </p><p>dalam jiwa manusia dapat dibedakan lagi lapisan penting : yang disadari, yang </p><p>tidak disadari secara pribadi (dapat pula disebut bawah sadar), dan yang ditidak </p><p>disadari secara kolektif. </p><p>Selanjutnya, Baal juga membahas mengenai pemikiran Ernst Cassirer </p><p>tentang lambang. Uraian Baal tentang Cassirer berangkat dari latar belakang </p><p>pemikiran mengenai persoalan hubungan antara tanggapan pancaindera dan </p><p>pengetahuan. Pernyataan tersohor dari Kant, bahwa pengetahuan tanpa </p><p>persepsi oleh pancaindera adalah kosong, persepsi oleh pancaindera tanpa </p><p>pengetahuan adalah buta, menandai arah awal dari penyelidikan Cassirer, yang </p></li><li><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970)Jilid 2 7 </p><p>merupakan suatu penyelidikan ke arah cara dipersatukannya kedua hal itu </p><p>menjadi pengetahuan. Jawabannya Cassirer dapatkan dalam lambang, yang </p><p>merupakan tindakan yang benar-benar mencipta dari semua pengetahuan, </p><p>karena lambang-lambang bukanlah penggambaran yang diberikan secara pasif, </p><p>tetapi dilihat oleh kecerdasan intelek. </p><p>Uraian tentang Cassirer diakhiri dengan pemikirannya belakangan, </p><p>dimana Cassirer membuat sketsa tentang mitos sebagai pernyataan dari </p><p>kesatuan hidup, di mana kenyataan dialami sebagai kenyataan yang hidup, yang </p><p>baik atau yang jahat, yang menolong atau yang mengancam, di mana manusia </p><p>adalah satu; suatu tema yang hanya digambarkan secara skematis dan yang </p><p>untuk saat sekarang kurang penting dibandingkan dengan kenyataan, bahwa </p><p>manusia menyatakan dirinya dalam lambang-lambang: dalam perkataan, dalam </p><p>mitos, dan juga dalam seni, di mana Cassirer menemukan pernyataan yang </p><p>murni dari dorongan hatinya sendiri untuk bebas menciptakan. (Baal, 1988:46) </p><p>Untuk menutup bab ini, Baal menulis tentang lambang sebagai bentuk </p><p>pernyataan, yang berangkat dari pemikiran Cassirer. Dimana Cassirer </p><p>meletakkan tiitk tolak baru : manusia menyatakan diri dalam lambang-lambang. </p><p>Cara menyatakan diri ini mempunyai arti yang fundamental. Dalam hal ini </p><p>manusia tidak berdiri sendiri. Pendekatan semacam itu menjadi penting karena </p><p>menjadikan mitos yang dipandang sebagai ungkapan kebudayaan menjadi </p><p>dimungkinkan. Artinya sebagai ekspresi yang dikenyam atau dialami, yang cocok </p><p>dalam kerangka kebudayaan yang bersangkutan dan karenanya ekspresi yang </p><p>disebabkan oleh kebudayaan itu harus dapat ditetapkan dalam rangka dari </p><p>bahan-bahan kebudayaan itu sendiri. </p><p>Selanjutnya di bab ketiga belas, Baal membahas mengenai tokoh </p><p>Malinowski dan pemikirannya yang paling terkenal, yakni fungsionalisme. </p><p>Beberapa sumbangan Malinowski banyak dipaparkan disini, seperti pekerjaan </p><p>lapangannya yang berkualitas dan belum pernah dikenal sebelumnya. Serta </p><p>bakatnya dalam mengatur bahan di sejumlah tema sentralyang belakangan </p><p>membuat sebuah buku menjadi jauh lebih baik untuk dibaca, daripada hanya </p><p>membuat ikhtisar pengamatan yang sistematis. Dengan demikian, Malinowski </p><p>disebut bapak dari facet-etnografis, penggambaran etnografis yang diabadikan </p><p>pada segi (aspek) tertentu dari kebudayaan. </p></li><li><p>Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga Dekade 1970)Jilid 2 8 </p><p>Meski menuai sejumlah apresiasi atas terobosan-terobosannya, namun </p><p>Malinowski tidak lantas lepas dari kritik. Beberapa diantaranya, Malinowski tidak </p><p>begitu metodis dalam membahas mengenai fungsi. Kadang-kadang hanya </p><p>menunjukkan kepada beberapa hubungan yang bermanfaat dengan </p><p>mengabaikan yang lain. Pengertian Malinowski tersebut bermula dari Durkheim </p><p>yang menyatakan: fungsi sesuatu kenyataan sosial harus dicari dalam </p><p>hubungannya dengan tujuan sosialnya. </p><p>Pada akhir tulisan, Baal juga memasukkan pemikiran Merton yang </p><p>menyusun suatu paradigma (pola) analisa fungsional, suatu pola yang harus </p><p>membuat orang yang melakukan penyelidikan mampu bertanya kepada diri </p><p>sendiri, apakah sebenarnya yang menjadi persoalan dalam pengertian fungsi: </p><p>mengenai fungsi (artinya berfungsi dalam suatu keseluruhan yang lebih besar, </p><p>memberikan sumbangan sesuatu atau menghalangi sesuatu) ataukah mengenai </p><p>motif dari individu tersebut. (Baal, 1988:54) </p><p>Selanjutnya, Baal juga memaparkan pemikiran Malinowski tentang </p><p>beberapa hal, antara lain : </p><p>1. Tentang keluarga dan hubungan keluarga </p><p>Beberapa hal yang dibahas antara lain penyelidikannya mengenai </p><p>suami-istri. Seperti bagaima...</p></li></ul>