of 40/40
Halaman 1. SURAT PERNYATAAN DIREKSI 1 2. LAPORAN POSISI KEUANGAN 2-3 3. LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF 4 4. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS 5 5. LAPORAN ARUS KAS 6 6. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 7-38 PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. LAPORAN KEUANGAN DAFTAR ISI 31 MARET 2016 (Tidak Diaudit) DAN 31 Desember 2015 ( Diaudit) 31 MARET 2016 DAN 2015 (Tidak Diaudit)

PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. LAPORAN …...3. laporan laba rugi komprehensif 4 4. laporan perubahan ekuitas 5 5. laporan arus kas 6 6. catatan atas laporan keuangan 7-38 pt

  • View
    7

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. LAPORAN …...3. laporan laba rugi komprehensif 4 4. laporan...

  • Halaman

    1. SURAT PERNYATAAN DIREKSI 1

    2. LAPORAN POSISI KEUANGAN 2-3

    3. LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF 4

    4. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS 5

    5. LAPORAN ARUS KAS 6

    6. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 7-38

    PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk.

    LAPORAN KEUANGAN

    DAFTAR ISI

    31 MARET 2016 (Tidak Diaudit) DAN 31 Desember 2015 ( Diaudit)

    31 MARET 2016 DAN 2015 (Tidak Diaudit)

  • Halaman 2

    ASET Catatan 31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    ASET LANCAR

    3.b, 3.c, 5,

    Kas dan setara kas 26,27 58,230,293,649 61,571,622,076

    Piutang usaha

    Pihak ketiga 3d,6,26,27 14,750,396,385 11,716,172,746

    Pihak berelasi 3p,6,26,27 11,997,717,234 14,697,474,769

    Piutang lain-lain - Pihak berelasi 3p,27,29 41,130,000 66,197,520

    Persediaan 3e,7 17,848,290,107 15,628,806,361

    Pajak Dibayar di Muka 3n,9a 1,982,423,074 1,864,294,264

    Uang muka dan biaya dibayar di muka 3f,8,26 2,595,310,350 1,724,055,080

    Jumlah Aset Lancar 107,445,560,799 107,268,622,816

    ASET TIDAK LANCAR

    Aset Pajak Tangguhan 3k,9c 1,825,857,512 1,916,347,497

    Aset Tetap 3h,10

    (Setelah dikurangi akumulasi penyusutan

    per 31 Maret 2016 dan 31 Desember 2015

    masing-masing sebesar Rp. 116.689.256.470

    dan Rp 115.674.461.191) 48,164,869,806 48,483,386,129

    Dana yang dibatasi penggunaannya 12,26,27 11,330,390,517 11,743,889,873

    Aset Lain-lain 3i,11 133,320,000 133,820,000

    Jumlah Aset Tidak Lancar 61,454,437,835 62,277,443,498

    JUMLAH ASET 168,899,998,634 169,546,066,314

    Catatan atas laporan Keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak

    terpisahkan dari laporan keuangan ini

    LAPORAN POSISI KEUANGAN

    PT INTANWIJAYA INTERNASIONAL,Tbk

    31 MARET 2016 (Tidak Diaudit) DAN 31 Desember 2015 ( Diaudit)

  • Halaman 3

    LIABILITAS DAN EKUITAS Catatan 31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    LIABILITAS JANGKA PENDEK

    Utang usaha - pihak ketiga 13,26,27 6,888,833,065 9,018,175,439

    Utang pajak 3n,9d

    Pajak Penghasilan 516,030,853 342,842,811

    Pajak Lainnya 547,038,834 796,257,363

    Bagian jangka pendek dari utang

    sewa pembiayaan 3j,14,27 419,919,158 294,316,000

    Liabilitas jangka pendek lainnya 15,26,27 580,082,620 632,945,773

    Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 8,951,904,530 11,084,537,386

    LIABILITAS JANGKA PANJANG

    Utang sewa pembiayaan, setelah

    setelah dikurangi bagian jangka pendek 3j,14,27 751,355,337 261,908,196

    Liabilitas Diestimasi atas Imbalan Kerja 3.k, 16 4,148,311,735 4,148,311,735

    Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 4,899,667,072 4,410,219,931

    JUMLAH LIABILITAS 13,851,571,602 15,494,757,317

    EKUITAS

    Ekuitas yang Dapat Diatribusikan kepada

    Pemilik Perusahaan

    Modal saham 17

    Modal Dasar 220,000,000 lembar

    dengan nilai nominal Rp 500

    Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh

    181,035,556 lembar saham 90,517,778,000 90,517,778,000

    Agio saham 18 803,458,000 803,458,000

    Saldo laba 61,941,880,521 60,944,762,486

    Pendapatan komprehensif lainnya 1,785,310,511 1,785,310,511

    JUMLAH EKUITAS 155,048,427,032 154,051,308,997

    TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 168,899,998,634 169,546,066,314

    31 MARET 2016 (Tidak Diaudit) DAN 31 Desember 2015 ( Diaudit)

    PT INTANWIJAYA INTERNASIONAL,Tbk

    LAPORAN POSISI KEUANGAN

    Catatan atas laporan Keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak

    terpisahkan dari laporan keuangan ini

  • Halaman 4

    Catatan/ 31 Maret 2016 31 Maret 2015

    Note Rp Rp

    PENDAPATAN USAHA - BERSIH 3m,19 35,490,942,696 32,567,107,141

    BEBAN POKOK PENJUALAN 3m,20 (25,855,592,352) (24,267,424,413)

    LABA BRUTO 9,635,350,344 8,299,682,728

    Beban penjualan dan pemasaran 3m,22a (3,017,765,306) (1,283,156,753)

    Beban umum dan administrasi 3m,22b (3,347,419,086) (3,328,590,561)

    Penghasilan operasi lain-lain 3m,23a 227,109,091 3,464,391,139

    Beban operasi lain-lain 3m,23b (2,381,827,309) (108,103,928)

    Penghasilan Keuangan 3m,24 212,602,190 813,082,018

    Biaya Keuangan 3m,25 (66,305,154) (66,066,691)

    LABA SEBELUM PAJAK

    PENGHASILAN 1,261,744,770 7,791,237,952

    MANFAAT PAJAK PENGHASILAN

    Pajak Kini 3n,9b 174,136,750 --

    Pajak Tangguhan 2n,9b 90,489,985 159,014,768

    Jumlah Beban Pajak Penghasilan 264,626,735 159,014,768

    LABA TAHUN BERJALAN 997,118,035 7,632,223,184

    PENDAPATAN KOMPREHENSIF

    LAINNYA -- --

    JUMLAH LABA KOMPREHENSIF 997,118,035 7,632,223,184

    LABA YANG DAPAT

    DIATRIBUSIKAN KEPADA

    Pemilik Perusahaan 997,118,035 7,632,223,184

    JUMLAH LABA

    KOMPREHENSIF YANG DAPAT

    DIATRIBUSIKAN KEPADA

    Pemilik Perusahaan 997,118,035 7,632,223,184

    Laba Per Saham Dasar

    Dasar 3o,31 6 42

    LAPORAN LABA RUGI DAN PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN

    31 MARET 2016 DAN 2015 (Tidak Diaudit)

    Catatan atas laporan Keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak

    terpisahkan dari laporan keuangan ini

    UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL

    PT INTANWIJAYA INTERNASIONAL,Tbk

  • Halaman 5

    Modal Agio Saham Penghasilan Saldo Jumlah

    Ditempatkan komprehensif Laba Ekuitas

    dan Disetor lainnya

    Penuh/

    Rp Rp Rp Rp Rp

    90,517,778,000 803,458,000 1,122,056,138 43,984,102,463 136,427,394,601

    -- -- -- 7,632,223,184 7,632,223,184

    -- -- -- -- --

    90,517,778,000 803,458,000 1,122,056,138 51,616,325,647 53,541,839,785

    90,517,778,000 803,458,000 1,785,310,511 60,944,762,486 154,051,308,997

    -- -- -- 997,118,035 997,118,035

    -- -- -- -- --

    90,517,778,000 803,458,000 1,785,310,511 61,941,880,521 155,048,427,032

    terpisahkan dari laporan keuangan ini

    PT INTANWIJAYA INTERNASIONAL,Tbk

    Catatan atas laporan Keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak

    Laba bersih tahun berjalan

    SALDO PER 31 MARET 2016

    LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

    31 MARET 2016 DAN 2015 (Tidak Diaudit)

    SALDO PER 31 MARET 2015

    SALDO PER 31 DESEMBER 2015

    UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL

    Penghasilan komprehensif lain

    Penghasilan komprehensif lain

    Laba bersih tahun berjalan

    SALDO PER 31 DESEMBER 2014

  • Halaman 6

    31 Maret 2016 31 Maret 2015

    Rp Rp

    Arus kas dari aktivitas operasi

    Penerimaan dari pelanggan 35,156,476,592 28,604,221,832

    Pembayaran kepada pemasok (35,414,064,323) (22,191,420,713)

    Pembayaran kepada karyawan dan direksi (2,572,275,039) (2,364,087,038)

    Pembayaran pajak (9,364,974) (108,103,928)

    Pembayaran beban bunga (20,172,399) (20,449,661)

    Pembayaran beban bank/ (impor) (46,132,755) (45,617,030)

    Penerimaan pendapatan lain-lain 5,600,000 319,192,284

    Penerimaan/ (pembayaran) pinjaman karyawan 25,067,520 14,277,068

    Arus kas bersih yang diperoleh dari

    (digunakan untuk) aktivitas operasi (2,874,865,378) 4,208,012,814

    Arus kas dari aktivitas investasi

    Penambahan aset tetap (1,463,733,500) (398,128,171)

    Penerimaan/ (pembayaran) deposito

    jangka pendek 413,499,356 -

    Penjualan Aset 221,509,094 --

    Penerimaan bunga deposito dan jasa giro 212,602,190 428,069,000

    Arus kas bersih yang ( digunakan untuk)

    diperoleh dari aktivitas investasi (616,122,860) 29,940,829

    Arus kas dari aktivitas pendanaan

    Penerimaan/ (pembayaran)pinjaman jangka panjang 929,600,000 437,100,000

    Pembayaran Utang sewa pembiayaan (314,549,701) (273,526,139)

    Arus kas bersih yang diperoleh dari

    (digunakan untuk) aktivitas pendanaan 615,050,299 163,573,861

    (Penurunan)/ kenaikan bersih kas dan

    setara kas (2,875,937,939) 4,401,527,504

    Dampak perubahan selisih kurs terhadap kas dan setara kas (465,390,488) 663,048,030

    Kas dan setara kas pada awal tahun 61,571,622,076 43,313,181,777

    Kas dan setara kas

    pada akhir periode 58,230,293,649 48,377,757,311

    UNTUK PERIODE TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL

    Catatan atas laporan Keuangan terlampir merupakan bagian yang tidak

    terpisahkan dari laporan keuangan ini

    PT INTANWIJAYA INTERNASIONAL,Tbk

    LAPORAN ARUS KAS

    31 MARET 2016 DAN 2015 (Tidak Diaudit)

  • Halaman 7

    1.

    1.a

    1.b

    Susunan pengurus Perusahaan adalah sebagai berikut :

    a. Komisaris Utama : Tn. Tamzil Tanmizi Tn. Tamzil Tanmizi

    b. Komisaris : Tn. Trenggono Nugroho Tn. Trenggono Nugroho

    c. Komisaris Independen : Tn. Ong Triono Tn. Ong Triono

    d. Direktur Utama : Tn. Recsonlye Sitorus * Tn. Recsonlye Sitorus

    e. Direktur : Tn. Tazran Tanmizi Tn. Tazran Tanmizi

    f. Direktur : Tn. David Bingei Tn. David Bingei

    1.c

    2.

    a.

    Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (" PSAK" Revisi) Dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan

    ("ISAK") Baru dan Revisi

    * Sejak 19 Oktober 2015 dikuasakan kepada Tazran Tanmizi dikarenakan kondisi kesehatan

    sebesar Rp 1.160.000.000 (imbalan jangka panjang: Rp nihil). Jumlah karyawan Perusahaan pada 31 Maret dan 31 Desember

    2015 rata-rata 94 orang (tidak diaudit).

    Jumlah kompensasi jangka pendek yang diterima oleh Direksi dan Komisaris di tahun 2016 dan 2015 masing-masing sebesar

    Dalam tahun berjalan, Perusahaan telah menerapkan standar akuntansi keuangan (“SAK”) dan intrepretasi standar akuntansi

    keuangan (“ISAK”) baru dan revisi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia yang

    dianggap relevan dengan kegiatan operasinya dan mempengaruhi laporan keuangan berlaku efektif untuk periode tahun buku

    yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2015.

    Standar yang Berlaku Efektif Dalam Tahun Berjalan (pada atau setelah 1 Januari 2015)

    Penawaran Umum Efek Perusahaan

    Pada tanggal 1 Juni 1990, berdasarkan Surat Izin Emisi Saham No. SI-115/SHM/MK.10/1990 Perusahaan telah memperoleh izin

    untuk menawarkan saham kepada masyarakat melalui pasar modal sejumlah 4,000,000 lembar saham dengan nilai nominal Rp.

    1.000,-

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Sesuai dengan pasal 2 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan terutama dalam bidang manufaktur

    formaldehyde.

    31 MARET 2016 (Tidak Diaudit) DAN 31 Desember 2015 ( Diaudit)

    Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir berdasarkan akta No. 69 tanggal 17 Juni 2011

    yang dibuat dan disampaikan oleh Notaris Linda Kenari, S.H.M.H., tentang perubahan susunan pengurus. Sampai dengan tanggal

    laporan keuangan, pengurusan pemberitahuan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia masih dalam

    proses.

    PT Intanwijaya Internsional Tbk (selanjutnya disebut “Perusahaan”), sebelumnya bernama PT Intan Wijaya Chemical Industry Tbk,

    didirikan di Banjarmasin berdasarkan Akta Notaris Jony Frederik Berthold Tumbelaka Sinjal, S.H., No. 64 tanggal 14 Nopember

    1981. Akta ini telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.C2-

    3185-HT.01.01.Th 82 tanggal 24 Desember 1982.

    Latar Belakang Perusahaan

    UMUM

    CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

    PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk.

    Perusahaan berkedudukan di Jakarta dengan kegiatan utama industri formaldehyde resin (perekat kayu). Lokasi pabrik berada di

    kota Banjarmasin.

    Perusahaan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1987.

    Dewan Komisaris, Direksi dan Karyawan

  • Halaman 8

    -

    -

    -

    -

    -

    -

    -

    -

    -

    -

    PSAK No. 65 menggantikan semua pedoman tentang pengendalian dan konsolidasi dalam PSAK No. 4 (Revisi 2009),

    “Konsolidasi dan Laporan Keuangan Tersendiri”, dan ISAK No. 7 (Revisi 2009), “Konsolidasi - Entitas Bertujuan Khusus”.

    PSAK No. 55 (Revisi 2014), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”.

    PSAK No. 60 (Revisi 2014), “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”.

    PSAK ini menggantikan PSAK No. 15 (Revisi 2009) “Investasi pada Entitas Asosiasi”. Ventura bersama dicatat dengan

    menggunakan metode ekuitas sesuai dengan PSAK 15 (Revisi 2013), "Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura

    Bersama”. Entitas tidak dapat lagi mempertangungjawabkan partisipasi dalam ventura bersama dengan menggunakan

    metode konsolidasi proporsional.

    PSAK No. 24 (Revisi 2013), “Imbalan Kerja”.

    Perubahan utama adalah pengakuan keuntungan dan kerugian aktuarial (pengukuran kembali), pengakuan beban jasa

    lalu/kurtailmen, penyajian dalam laporan laba rugi, persyaratan pengungkapan, perbedaan antara imbalan “jangka

    pendek” dan “jangka panjang lain”, perlakuan biaya dan pajak yang berkaitan program imbalan kerja, pesangon

    pemutusan kontrak kerja, fitur berbagi risiko atau biaya.

    PSAK No. 46 (Revisi 2014), “Pajak Penghasilan”.

    Dua revisi utama telah dilakukan untuk PSAK No. 46 (Revisi 2010). Revisi ini menekankan bahwa konsep “laba fiskal”

    menyiratkan bersih dari pada laba kena pajak kotor. Pajak yang didasarkan pada penerimaan penjualan kotor (disebut

    pajak final) berada di luar lingkup PSAK No. 46 (Revisi 2014) dan akan dicatat dengan menggunakan PSAK No. 57

    "Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi” sebagai gantinya serta perubahan pajak tangguhan pada properti

    investasi.PSAK No. 48 (Revisi 2014), “Penurunan Nilai Aset”.

    SAK dan ISAK baru dan revisi yang berlaku efektif dalam tahun berjalan adalah sebagai berikut:

    PSAK No. 1 (Revisi 2013), “Penyajian Laporan Keuangan”.

    Judul yang digunakan oleh PSAK 1 revisi ini untuk “Laporan Laba Rugi Komprehensif” telah berubah menjadi “Laporan

    Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain”. Perubahan tersebut mengharuskan entitas untuk memisahkan item-item

    yang disajikan dalam penghasilan komprehensif lain (OCI) menjadi dua kelompok, berdasarkan pada apakah dapat atau

    tidaknya dilakukan penyesuaian reklasifikasi ke laba rugi di masa depan. Item-item yang tidak akan dilakukan

    penyesuian reklasifikasi harus disajikan secara terpisah dari item-item yang dapat dilakukan penyesuaian reklasifikasi di

    masa depan. Entitas yang menyajikan item-item OCI sebelum pajak diharuskan untuk menunjukkan jumlah pajak yang

    terkait dengan dua kelompok secara terpisah.PSAK No. 4 (Revisi 2013), “Laporan Keuangan Tersendiri”.

    PSAK No. 4 revisi telah diubah namanya menjadi “Laporan Keuangan Tersendiri”; PSAK ini berlanjut menjadi standar

    yang mengatur hanya untuk laporan keuangan tersendiri.

    PSAK No.15 (Revisi 2013), “Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama”.

    PSAK No. 60 juga telah diubah untuk meningkatkan pengungkapan saling hapus seperti yang dipersyaratkan oleh PSAK

    No. 50 (Revisi 2014) dan untuk mengakomodasi pengungkapan nilai wajar yang baru seperti yang dipersyaratkan oleh

    PSAK No. 68.

    Sejumlah perubahan telah dibuat untuk PSAK No. 55 (Revisi 2011) sebagai akibat penerbitan PSAK No. 68, “Pengukuran

    Nilai Wajar”. Dua perubahan penting lainnya yang telah dibuat adalah (1) opsi beli, opsi jual dan opsi prabayar (2)

    akuntansi lindung nilai dari pembaruan (novasi) derivatif dan kelanjutan.

    PSAK revisi ini menggantikan PSAK No. 48 (Revisi 2009). Ini adalah konsekuensi perubahan atas penerbitan PSAK No.

    68, “Pengukuran Nilai Wajar”. Standar ini menegaskan kembali prinsip tujuan uji penurunan nilai, unit penghasil kas

    (CGU) atau kelompok CGU yang mana goodwill dialokasikan tidak boleh lebih besar dari segmen operasi (seperti yang

    didefinisikan oleh PSAK No. 5 “Segmen Operasi”) sebelum penggabungan.

    Perubahan ini menjelaskan beberapa persyaratan untuk saling hapus aset keuangan dan liabilitas keuangan pada posisi

    keuangan.

    PSAK No. 65, “Laporan Keuangan Konsolidasi”.

    PSAK No. 50 (Revisi 2014), “Instrumen Keuangan: Penyajian”.

  • Halaman 9

    -

    -

    -

    -

    3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

    a. Pernyataan kepatuhan

    b.

    ISAK No. 26 (Revisi 2014), “Penilaian Ulang Derivatif Melekat”.

    Ini mengantikan ISAK No.26 (2009). Revisi ISAK No. 26 menegaskan kembali pelakuan dalam PSAK No. 55 (Revisi

    2014) bahwa entitas harus menilai apakah derivatif yang melekat diperlukan untuk dipisahkan dari kontrak utama dan

    dicatat sebagai derivatif ketika entitas menjadi salah satu pihak kontrak pertama kali.

    Beberapa dari SAK dan ISAK yang berlaku dalam tahun berjalan dan relevan dengan kegiatan Perusahaan telah diterapkan

    sebagaimana dijelaskan dalam kebijakan akuntansi.

    Beberapa SAK dan ISAK lainnya yang tidak relevan dengan kegiatan Perusahaan atau mungkin akan mempengaruhi

    kebijakan akuntansinya dimasa depan sedang dievaluasi oleh manajemen potensi dampak yang mungkin timbul dari

    penerapan standar-standar ini terhadap laporan keuangan.

    Efektif 1 Januari 2015, Laporan keuangan disusun sesuai dengan PSAK No. 1 (Revisi 2013), “Penyajian Laporan Keuangan”. PSAK

    revisi ini mengubah pengelompokkan item-item yang disajikan dalam penghasilan komprehensif lain (OCI). Item-item yang akan

    direklasifikasi ke laba rugi akan disajikan terpisah dari item-item yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi. Penerapan PSAK ini hanya

    berakibat pada penyajian saja dan tidak berdampak pada posisi keuangan dan kinerja Perusahaan.

    Dasar Pengukuran dan Penyusunan Laporan Keuangan

    Laporan keuangan disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha serta atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas yang

    menggunakan dasar kas.

    Dasar pengukuran dalam penyusunan laporan keuangan ini adalah konsep biaya perolehan (historical cost) , kecuali untuk beberapa

    akun tertentu yang didasarkan pengukuran lain sebagaimana yang diungkapkan pada kebijakan akuntansi dalam masing-masing akun

    tersebut.

    Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung (direct method) dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas

    operasi, investasi dan pendanaan.

    PSAK No. 66, “Pengaturan Bersama”.

    PSAK No. 66 menggantikan PSAK No. 12 (Revisi 2009), “Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama” dan ISAK No. 12

    (2009), “Pengendalian Bersama Entitas: Kontribusi Non-Moneter oleh Venturer” untuk akuntansi pengaturan bersama.

    Perubahan yang dilakukan pada definisi telah mengurangi jenis pengaturan bersama menjadi dua: operasi bersama dan

    ventura bersama. Pilihan kebijakan konsolidasi proporsional yang ada untuk pengendalian bersama entitas telah

    dieliminasi. Akuntansi metode ekuitas adalah wajib bagi peserta ventura bersama.PSAK No. 67, “Pengungkapan Kepentingan dalam Entitas Lain”.

    PSAK No. 67 mengatur tentang pengungkapan yang diperlukan untuk entitas pelaporan dalam dua standar baru, PSAK

    No. 65, “Laporan Keuangan Konsolidasian”, dan PSAK No. 66, “Pengaturan Bersama”. Pengungkapan yang diperlukan

    dalam bidang berikut (1) Pertimbangan dan Asumsi yang Signifikan (2) Partisipasi Dalam Entitas Anak (3) Partisipasi

    dalam Pengaturan Bersama dan Asosiasi.

    PSAK No. 68, “Pengukuran Nilai Wajar”.

    PSAK No. 68 menjelaskan bagaimana mengukur nilai wajar dan bertujuan untuk meningkatkan pengungkapan nilai

    wajar; PSAK ini memberikan definisi nilai wajar, pasar utama atau pasar yang paling menguntungkan, asumsi pelaku

    pasar, penggunaan tertinggi dan terbaik, harga penawaran dan permintaan (“bid and ask”), premis penilaian, hirarki nilai

    wajar, termasuk persyaratan pengungkapan yang ditingkatkan.

    Laporan keuangan telah disusun sesuai dengan SAK, yang mencakup Pernyataan dan Interpretasi yang diterbitkan oleh Dewan

    Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia, termasuk standar baru dan yang direvisi , yang berlaku efektif sejak tanggal 1

    Januari 2015, serta Lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (sekarang menjadi Otoritas

    Jasa Keuangan atau OJK) No. Kep-347/BL/2012 tanggal 25 Juni 2012 yaitu Peraturan No.VIII.G.7 tentang Penyajian dan

    Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik yang berlaku untuk laporan keuangan yang berakhir pada atau

    setelah tanggal 31 Desember 2012.

  • Halaman 10

    c.

    d.

    Kurs utama yang digunakan, berdasarkan kurs tengah yang diterbitkan Bank Indonesia adalah sebagai berikut:

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp. Rp.

    13,276.00 13,795.00

    10,162.00 10,064.00

    e.

    f.

    1 Dollar Amerika Serikat ( USD )

    1 Dollar Australia ( AUD )

    Selisih penjabaran aset dan liabilitas keuangan non-moneter yang dicatat pada nilai wajar diakui sebagai bagian keuntungan atau

    kerugian perubahan nilai wajar. Sebagai contoh, selisih penjabaran aset dan liabilitas keuangan seperti ekuitas yang dimiliki dan

    dicatat pada nilai wajar melalui laporan laba rugi komprehensif diakui pada laporan laba rugi komprehensif sebagai bagian

    keuntungan atau kerugian nilai wajar dan selisih penjabaran pada aset non-moneter seperti ekuitas yang diklasifikasikan sebagai

    tersedia untuk dijual diakui dalam pendapatan komprehensif lain-lain

    Kas dan Setara Kas

    Mata uang pelaporan yang digunakan dalam laporan keuangan adalah Rupiah (Rp) yang juga merupakan mata uang fungsional

    Perusahaan.

    Ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara restrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan

    atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya maka entitas menyajikan kembali laporan keuangan pada awal

    periode komparatif yang disajikan.

    Piutang usaha adalah jumlah dari pelanggan untuk pengakuan pendapatan pada penjualan barang dan jasa dalam kegiatan usaha

    normal.

    Piutang Usaha

    Piutang usaha pada awalnya diakui sebesar nilai wajar dan selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan

    menggunakan metode bunga efektif, kecuali efek diskontonya tidak material, maka dinyatakan pada biaya, setelah dikurangi provisi

    atas penurunan nilai piutang.

    Provisi atas penurunan nilai piutang dibentuk pada saat terdapat bukti obyektif bahwa saldo piutang tidak dapat ditagih. Perhitungan

    piutang ragu-ragu berdasarkan penilaian individual dan kolektif. Piutang ragu-ragu dihapuskan pada saat piutang tersebut tidak

    tertagih.

    Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal

    transaksi. Aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs

    yang berlaku pada akhir periode pelaporan. Keuntungan dan kerugian selisih kurs yang timbul dari penyelesaian transaksi dalam

    mata uang asing dan dari penjabaran aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing diakui di dalam laporan laba rugi

    komprehensif, kecuali jika ditangguhkan di dalam ekuitas sebagai lindung nilai arus kas.

    Keuntungan dan kerugian selisih kurs yang berhubungan dengan pinjaman, serta kas dan setara kas disajikan pada laporan laba

    rugi sebagai “pendapatan keuangan atau biaya keuangan”. Keuntungan atau kerugian neto selisih kurs lainnya disajikan pada

    laporan laba rugi komprehensif sebagai “penghasilan lain- lain atau beban lain-lain”.

    Persediaan

    Persediaan dinyatakan menurut nilai yang terendah antara harga perolehan dan nilai bersih yang dapat direalisasikan. Harga

    perolehan meliputi biaya-biaya yang terjadi untuk memperoleh persediaan tersebut serta membawanya ke lokasi dan kondisinya

    yang sekarang. Nilai bersih yang dapat direalisasikan adalah taksiran harga jual yang wajar setelah dikurangi dengan taksiran biaya

    untuk menyelesaikan dan menjual persediaan barang jadi yang dihasilkan. Harga perolehan dihitung dengan menggunakan metode

    rata-rata.

    Jumlah provisi atas penurunan nilai adalah selisih antara nilai tercatat aset dan nilai kini arus kas estimasian , didiskontokan pada

    suku bunga efektif awal

    Perusahaan mengelompokkan sebagai kas dan setara kas untuk semua kas dan bank serta deposito berjangka dengan masa jatuh

    tempo 3 (tiga) bulan atau kurang dan tidak dijaminkan.

    Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing

  • Halaman 11

    g.

    h.

    (1)

    -

    Aset keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 (Revisi 2014) diklasifikasikan sebagai aset keuangan pada nilai wajar melalui

    laporan laba rugi (FVTPL), investasi dimiliki hingga jatuh tempo (HTM), pinjaman yang diberikan dan piutang, atau aset keuangan

    tersedia untuk dijual (AFS). Perusahaan menentukan klasifikasi aset keuangan tersebut pada pengakuan awal dan, jika

    diperbolehkan dan sesuai, akan dievaluasi kembali klasifikasi aset pada setiap tanggal pelaporan.

    Aset keuangan pada awalnya diukur pada nilai wajar, dalam hal investasi tidak diklasifikasikan sebagai FVTPL, nilai wajar ditambah

    biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan.

    Pengukuran Setelah Pengakuan Awal

    Pengukuran aset keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasinya sebagai berikut:

    Aset keuangan diklasifikasikan sebagai FVTPL pada saat aset keuangan diperoleh untuk diperdagangan atau ditetapkan pada

    saat pengakuan awal sebagai FVTPL. Aset keuangan diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan jika diperoleh untuk

    tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Aset derivatif juga diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan

    kecuali aset derivatif tersebut ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai efektif.Aset keuangan FVTPL termasuk aset keuangan untuk diperdagangkan dan aset keuangan yang ditetapkan pada saat

    pengakuan awal sebagai FVTPL disajikan dalam laporan posisi keuangan pada nilai wajar dengan keuntungan atau kerugian

    dari perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain termasuk dividen atau bunga yang

    diperoleh dari aset keuangan tanpa dikurangi biaya transaksi yang mungkin terjadi pada saat penjualan atau pelepasan

    lainnya.

    Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL)

    Pengakuan dan Pengukuran Awal

    Aset keuangan diakui pada posisi keuangan ketika Perusahaan menjadi pihak dalam provisi kontrak instrumen.

    Perusahaan menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2014), “Instrumen Keuangan: Penyajian”, PSAK No. 55 (Revisi 2014), Instrumen

    Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” dan PSAK No. 60 (Revisi 2014), “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”.

    PSAK 50 (Revisi 2014), “Instrumen Keuangan: Penyajian”, menguraikan persyaratan akuntansi penyajian dari instrumen keuangan,

    terutama untuk klasifikasi instrumen tersebut dalam aset keuangan, liabilitas keuangan dan instrumen ekuitas. Standar ini juga

    memberikan panduan pada klasifikasi terkait dengan suku bunga, dividen dan keuntungan/kerugian, dan ketika aset keuangan dan

    liabilitas keuangan dapat disaling hapus.

    Prinsip-prinsip dalam standar ini melengkapi prinsip untuk pengakuan dan pengukuran aset keuangan dan liabilitas keuangan

    dalam PSAK No. 55 (Revisi 2014), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”, dan untuk mengungkapkan informasi

    tentang instrumen keuangan di PSAK No. 60 (Revisi 2014), “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”.

    PSAK No. 55 (Revisi 2014) berkaitan dengan, antara lain, pengakuan awal dari aset dan liabilitas keuangan, pengukuran setelah

    pengakuan awal, penurunan nilai, penghentian pengakuan, dan akuntansi lindung nilai.

    PSAK No. 60 (Revisi 2014) mensyaratkan pengungkapan kuantitatif dan kualitatif dalam laporan keuangan yang memungkinkan

    para pengguna untuk mengevaluasi signifikansi instrumen keuangan atas posisi dan kinerja keuangan, dan sifat dan tingkat risiko

    yang timbul dari instrumen keuangan yang mana entitas adalah terekspos selama periode dan pada akhir periode pelaporan dan

    bagaimana entitas mengelola risiko-risiko tersebut. Selain itu, standar ini menjelaskan persyaratan untuk pengungkapan risiko

    likuiditas.

    Aset Keuangan

    Instrumen Keuangan

    Biaya dibayar di muka diamortisasi sesuai masa manfaat dengan menggunakan metode garis lurus.

    Biaya Dibayar di Muka

  • Halaman 12

    -

    -

    -

    (2)

    Lia

    Liabilitas keuangan dalam ruang lingkup PSAK No.55 (Revisi 2014) diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan pada nilai

    wajar melalui laba rugi (FVTPL), liabilitas keuangan pada biaya perolehan diamortisasi (hutang lain-lain dan derivatif

    yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai efektif, mana yang sesuai). Perusahaan menetapkan klasifikasi atas

    liabilitas keuangan pada saat pengakuan awal.

    Liabilitas keuangan pada awalnya diukur pada nilai wajar dan dalam hal liabilitas keuangan tidak diklasifikasikan sebagai

    FVTPL, nilai wajar ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan penerbitan liabilitas

    keuangan tersebut.

    Liabilitas keuangan diakui pada posisi keuangan ketika Perusahaan menjadi pihak dalam provisi kontrak instrumen.

    Aset keuangan tersedia untuk dijual

    Aset keuangan AFS adalah aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak

    diklasifikasikan ke dalam tiga kategori sebelumnya. Aset keuangan ini diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar kecuali

    aset keuangan tersebut ditujukan untuk dilepaskan dalam waktu dua belas bulan dari tanggal laporan posisi keuangan.

    Setelah pengukuran awal, aset keuangan AFS diukur pada nilai wajar tanpa dikurangi biaya transaksi yang mungkin

    terjadi saat penjualan atau pelepasan lain, dengan keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi diakui sebagai OCI

    dalam komponen ekuitas sampai investasi tersebut dihentikan pengakuannya.

    Pada saat pengukuran awal, laba atau rugi kumulatif yang sebelumnya diakui dalam komponen ekuitas sampai

    pengakuannya aset keuangan tersebut dihentikan atau sampai ditetapkan ada penurunan nilainya dan pada saat yang

    sama keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus diakui ke laporan laba rugi dan

    penghasilan komprehensif sebagai penyesuaian reklasifikasi.

    Liabilitas Keuangan

    Pengakuan dan Pengukuran Awal

    Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan

    dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif.

    Setelah pengakuan awal, aset keuangan dalam kelompok ini diukur sebesar biaya perolehan diamortisasi dengan

    menggunakan EIR.

    Keuntungan dan kerugian diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain pada saat pinjaman yang

    diberikan dan piutang dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, maupun melalui proses amortisasi.

    Pinjaman yang diberikan dan piutang

    Pengakuan setelah pengakuan awal (lanjutan)

    Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo

    Aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan

    diklasifikasikan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo ketika Perusahaan mempunyai maksud positip dan

    kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo.

    Setelah pengukuran awal, investasi HTM diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku

    bunga efektif (EIR).

    Metode ini menggunakan EIR untuk estimasi penerimaan kas di masa datang yang didiskontokan selama perkiraan umur

    dari aset keuangan ke nilai tercatat bersih dari aset keuangan.

    Keuntungan dan kerugian diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain pada saat investasi tersebut

    dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, maupun melalui proses amortisasi.

  • Halaman 13

    -

    -

    (3)

    (4)

    (5) Penurunan Nilai Aset Keuangan

    Perusahaan pada setiap akhir periode pelaporan mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset

    keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan.

    Untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi, Perusahaan menentukan

    penurunan nilai berdasarkan bukti obyektif secara individual atas penurunan nilai.

    Nilai tercatat aset tersebut berkurang melalui penggunaan akun penyisihan dan jumlah kerugian diakui dalam laporan

    laba rugi dan penghasilan komprehensif. Penghasilan bunga selanjutnya diakui sebesar nilai tercatat yang diturunkan

    nilainya, berdasarkan tingkat EIR awal dari aset tersebut. Pinjaman yang diberikan dan piutang, beserta dengan

    penyisihan terkait, dihapuskan jika tidak terdapat kemungkinan pemulihan dimasa depan yang realistis dan semua

    jaminan telah terealisasi atau telah dialihkan kepada Perusahaan.

    Liabilitas keuangan yang ditetapkan sebagai liabilitas keuangan FVTPL termasuk liabilitas keuangan untuk

    diperdagangkan dan ditetapkan pada saat pengakuan awal sebagai FVTPL disajikan dalam laporan posisi keuangan

    pada nilai wajar dengan keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba rugi dan

    penghasilan komprehensif lain.

    Liabilitas Keuangan pada Biaya Perolehan Diamortisasi

    Setelah pengakuan awal, selanjutnya liabilitas keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan

    menggunakan metode EIR.

    Biaya perolehan diamortisasi dihitung dengan menggunakan metode EIR dikurangi dengan penyisihan penurunan nilai

    dan pembiayaan atau pengurangan pokok. Perhitungan tersebut memperhitungkan premium atau diskonto pada saat

    akuisisi dan mencakup biaya transaksi dan biaya yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suku bunga efektif.

    Keuntungan dan kerugian diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain pada saat liabilitas tersebut

    dihentikan pengakuannya maupun melalui proses amortisasi.

    Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling-hapus buku dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan

    jika, dan hanya jika, terdapat hak secara hukum untuk melakukan saling hapus buku atas jumlah tercatat dari aset

    keuangan dan liabilitas keuangan tersebut dan terdapat maksud untuk menyelesaikan secara bersih, atau untuk

    merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara bersamaan.

    Saling Hapus Intrumen Keuangan

    Nilai wajar instrumen keuangan yang diperdagangkan secara aktif di pasar keuangan yang terorganisasi ditentukan

    dengan mengacu pada kuotasi harga di pasar aktif pada penutupan bisnis pada akhir periode pelaporan tanpa

    pengurangan untuk biaya transaksi. Untuk instrumen keuangan yang tidak memiliki pasar aktif, nilai wajar ditentukan

    dengan menggunakan teknik penilaian.

    Teknik penilaian tersebut mencakup penggunaan transaksi-transaksi pasar yang wajar antara pihak-pihak yang mengerti

    dan berkeinginan, mengacu pada nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara substansial sama, analisis arus kas

    yang didiskontokan, atau model penilaian lain sebagaimana disyaratkan di PSAK No. 68, “Pengukuran Nilai Wajar”.

    Nilai Wajar Instrumen Keuangan

    Pengukuran Setelah Pengakuan Awal

    Pengukuran liabilitas keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasinya sebagai berikut:

    Liabilitas Keuangan pada Nilai Wajar Melalui Laba Rugi (FVTPL)

    Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan jika mereka diperoleh untuk tujuan dijual atau

    dibeli kembali dalam waktu dekat. Derivatif juga diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan kecuali mereka

    ditetapkan sebagai derivative liabilitas instrumen lindung nilai efektif. Keuntungan atau kerugian atas liabilitas yang dimiliki

    untuk diperdagangkan diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

  • Halaman 14

    (6)

    (7)

    -

    -

    -

    -

    i.

    terjadi setelah Perusahaan telah memperoleh secara substansial seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai

    jadwal pembayaran atau pelunasan dipercepat; atau

    terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali Perusahaan, tidak berulang dan tidak dapat diantisipasi

    secara wajar oleh Perusahaan.

    Liabilitas Keuangan

    Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya pada saat liabilitas tersebut dihentikan atau dibatalkan atau kadaluarsa.

    Ketika suatu liabilitas keuangan yang ada digantikan oleh liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama

    dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi secara substansial persyaratan dari suatu liabilitas

    yang saat ini ada, pertukaran atau modifikasi tersebut diperlakukan sebagai penghentian pengakuan liabilitas awal dan

    pengakuan suatu liabilitas baru, dan selisih antara nilai tercatat masing-masing liabilitas diakui dalam laporan laba rugi

    dan penghasilan komprehensif lain.

    Reklasifikasi Instrumen Keuangan

    (a) Perusahaan telah secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat dari aset, atau (b) Perusahaan secara

    substansial tidak mentransfer atau tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat suatu aset, namun telah mentransfer kendali

    atas aset tersebut.

    Perusahaan tidak mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi HTM, jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun

    waktu dua tahun sebelumnya, telah menjual atau mereklasifikasi investasi HTM dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang

    tidak signifikan sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi

    HTM), kecuali penjualan atau reklasifikasi tersebut:

    dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali di mana perubahan suku

    bunga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan tersebut;

    Aset tetap dinyatakan berdasarkan model biaya yang dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutannya.

    Aset tetap disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap yang bersangkutan dengan menggunakan metode

    garis lurus (straight line method). Taksiran masa manfaat ekonomis untuk masing-masing aset tetap adalah sebagai berikut:

    Reklasifikasi aset keuangan dari kelompok HTM ke kelompok AFS dicatat sebesar nilai wajarnya. Keuntungan atau

    kerugian yang belum direalisasi diakui dalam komponen ekuitas sampai aset keuangan tersebut dihentikan

    pengakuannya, dan pada keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus diakui pada

    laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

    Jika, pada periode berikutnya, nilai estimasi kerugian penurunan nilai aset keuangan bertambah atau berkurang karena

    suatu peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai tersebut diakui, maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya

    diakui ditambah atau dikurangi dengan menyesuaikan akun penyisihan. Jika dimasa mendatang penghapusan tersebut

    dapat dipulihkan, maka jumlah pemulihan tersebut diakui pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

    Penghentian Pengakuan Aset dan Liabilitas Keuangan

    Aset Keuangan

    Aset keuangan (atau mana yang lebih sesuai, bagian dari aset keuangan atau bagian dari kelompok aset keuangan

    serupa) dihentikan pengakuannya pada saat: (1) hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut

    telah berakhir; atau (2) Perusahaan telah mentransfer hak kontraktual mereka untuk menerima arus kas yang berasal

    dari aset keuangan atau berkewajiban untuk membayar arus kas yang diterima secara penuh tanpa penundaan yang

    signifikan kepada pihak ketiga dalam perjanjian pass-through; dan baik .

    Aset Tetap

  • Halaman 15

    Masa manfaat Tarip penyusutan

    Tahun (%)

    20 5.00

    10 10.00

    5 – 10 10.00-20.00

    5 20.00

    j.

    k.

    l.

    1.

    Peralatan kantor

    Bangunan dan parasarana

    Mesin dan peralatan

    Peralatan pengangkutan

    Liabilitas Diestimasi atas Imbalan Kerja

    Sewa Pembiayaan

    Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan

    manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset sewa. Sewa tersebut dikapitalisasi sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai

    kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Pembayaran sewa minimum harus dipisahkan

    antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan liabilitas, sedemikian rupa sehingga

    menghasilkan suatu tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo liabilitas. Beban keuangan dibebankan langsung sebagai

    laba atau rugi.

    Jika terdapat kepastian yang memadai bahwa lessee akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa, aset sewaan

    disusutkan selama masa penggunaan aset yang diestimasi berdasarkan umur manfaat aset tersebut. Jika tidak terdapat kepastian

    tersebut, maka aset sewaan disusutkan selama periode yang lebih pendek antara umur manfaat aset sewaan atau masa sewa.

    Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan dan disajikan sebagai bagian dari aset tetap, akumulasi biaya

    perolehan akan direklasifikasi ke masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat aset tersebut selesai dikerjakan dan siap

    untuk digunakan.

    Aset Lain -lain

    Jaminan disajikan dalam kelompok aset lain-lain.

    Biaya perbaikan dan perawatan dibebankan langsung ke laporan laba rugi komprehensif pada saat terjadinya biaya-biaya tersebut.

    Biaya-biaya yang sifatnya meningkatkan kondisi aset secara signifikan dikapitalisasi. Apabila suatu aset tetap tidak lagi digunakan

    atau dijual, harga perolehan berikut akumulasi penyusutannya dikeluarkan dari kelompok aset tetap dan keuntungan atau kerugian

    yang terjadi diperhitungkan dalam laporan laba rugi komprehensif untuk periode/ tahun bersangkutan.

    Komponen biaya imbalan pasti diakui sebagai berikut:

    Biaya jasa diatribusikan ke periode sekarang dan masa lalu diakui dalam laporan laba rugi;

    Efektif 1 Januari 2015, Perusahaan menerapkan PSAK No. 24 (Revisi 2014), “Imbalan Kerja” secara retrospektif. Selain itu,

    Perubahan juga mengadopsi ISAK No. 15, "PSAK 24: Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan

    Interaksinya".

    PSAK revisi ini, memperkenalkan persyaratan untuk sepenuhnya mengakui perubahan dalam kewajiban (aset) imbalan pasti

    termasuk pengakuan segera dari biaya imbalan pasti termasuk biaya jasa lalu yang belum menjadi hak (vested) , dan memerlukan

    pemilahan dari biaya imbalan pasti keseluruhan menjadi komponen-komponen dan membutuhkan pengakuan pengukuran kembali

    OCI (menghilangkan pendekatan “koridor”), meningkatkan pengungkapan tentang program imbalan pasti, modifikasi akuntansi

    untuk pesangon, termasuk membedakan antara imbalan yang diberikan dalam pemberian jasa dan imbalan yang diberikan dalam

    pemutusan hubungan kerja, dan mengubah pengakuan dan pengukuran imbalan pesangon.

    Perusahaan mengadopsi program imbalan pasti yang tidak didanai dan mencatat imbalan kerja untuk memenuhi imbalan di bawah

    Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003.

    Pengakuan

    Beban imbalan kerja untuk pekerja harus diakui pada periode dimana imbalan diperoleh oleh pekerja, daripada ketika dibayar atau

    terutang.

  • Halaman 16

    2.

    3

    -

    -

    -

    m.

    n.

    Pendapatan bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

    Biaya jasa lalu diakui sebagai beban pada awal tanggal ketika perubahan program atau kurtailmen terjadi dan tanggal ketika

    entitas mengakui setiap pesangon, atau biaya terkait restrukturisasi dalam PSAK No. 57, "Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan

    Aset Kontinjensi".

    Keuntungan atau kerugian atas penyelesaian program imbalan pasti diakui pada saat penyelesaian terjadi.

    Sebelum biaya jasa lalu ditentukan, atau keuntungan atau kerugian pada penyelesaian diakui, kewajiban imbalan pasti atau

    aset disyaratkan untuk diukur kembali, namun entitas tidak disyaratkan untuk membedakan antara biaya jasa lalu yang

    dihasilkan dari kurtailmen dan keuntungan dan kerugian pada penyelesaian di mana transaksi ini terjadi bersama-sama.

    Pendapatan dari penjualan barang diakui pada saat risiko dan manfaat kepemilikan barang telah berpindah kepada pelanggan.

    Pengukuran kewajiban (aset ) imbalan pasti bersih mensyaratkan penrapan metode penilaian aktuaria, atribusi imbalan untuk

    periode jasa , dan pengunaan asumsi aktuaria Nilai wajar aset program dikurangi dari nilai kini kewajiban imbalan pasti dalam

    menentukan defisit bersih dan surplus

    Nilai kini kewajiban imbalan pasti Perusahaan dan biaya jasa terkait ditentukan dengan menggunakan metode “Projected Unit

    Credit” , yang menganggap setiap periode jasa akan menghasilkan satu unit tambahan dari imbalan dan mengukur setiap unit

    secara terpisah untuk menghasilkan kewajiban akhir. Hal ini mensyaratkan entitas untuk mengatribusikan imbalan pada

    periode kini (untuk menentukan biaya jasa kini) dan periode kini dan periode lalu (untuk menentukan nilai kini kewajiban

    imbalan pasti). Imbalan tersebut diatribusikan sepanjang periode jasa menggunakan formula imbalan yang dimiliki program,

    kecuali jasa pekerja di tahun tahun akhir akan meningkat secara material dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dalam hal ini

    menggunakan dasar metode garis lurus.

    Biaya jasa lalu adalah perubahan kewajiban imbalan pasti atas jasa pekerja pada periode-periode lalu, yang timbul sebagai

    akibat dari perubahan pengaturan program dalam periode kini (yaitu memperkenalkan perubahan program atau mengubah

    imbalan yang akan dibayar, atau kurtailmen yang secara signifikan mengurangi jumlah pekerja yang disertakan).

    diakui di OCI (tidak direklasifikasi ke laba rugi pada periode berikutnya).

    Pengukuran

    Beban diakui pada saat terjadinya (basis akrual).

    Pendapatan dari penjualan dalam negeri diakui pada saat barang diserahkan kepada pelanggan, sedangkan penjualan ekspor

    diakui sesuai dengan persyaratan penjualan (FOB shipping point atau destination ).

    Pengakuan Pendapatan dan Beban

    Biaya emisi saham yang mencakup fee dan komisi yang dibayarkan kepada penjamin emisi, lembaga dan profesi penunjang pasar

    modal dan biaya pencetakan dokumen pernyataan pendaftaran, biaya pencatatan saham di bursa efek serta biaya promosi

    dikurangkan dari hasil penerimaan emisi saham dan disajikan di sisi ekuitas.

    Biaya Emisi Saham

    Pengukuran kembali dari liabilitas atau aset imbalan pasti terdiri dari:

    Keuntungan dan kerugian aktuarial;

    Imbal balik aset program;

    Setiap perubahan dalam dampak batas atas aset, tidak termasuk dalam jumlah yang dimasukkan dalam bunga neto atas

    liabilitas (aset) imbalan pasti neto.

    bunga neto pada liabilitas atau aset imbalan pasti ditentukan dengan menggunakan tingkat diskonto pada awal periode diakui

    dalam laporan laba rugi;

  • Halaman 17

    o.

    p.

    q.

    a.

    i.

    ii.

    iii.

    b.

    i.

    ii.

    iii.

    iv.

    v.

    vi.

    vii

    Transaksi ini dilakukan berdasarkan persyaratan yang disetujui oleh kedua belah pihak, dimana persyaratan tersebut mungkin

    tidak sama dengan transaksi lain yang dilakukan dengan pihak-pihak yang tidak berelasi.

    suatu entitas adalah ventura bersama dari entitas ketiga dan entitas yang lain adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga.

    Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak berelasi sebagaimana didefinisikan dalam PSAK No. 7 (Revisi 2010),

    “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”.

    PSAK revisi ini mensyaratkan pengungkapan hubungan, transaksi dan saldo pihak-pihak berelasi, termasuk komitmen dalam

    laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan tersendiri entitas induk dan juga diterapkan terhadap laporan keuangan

    secara individual. Revisi ini juga memberikan pengecualian dari persyaratan umum pengungkapan pihak berelasi atas transaksi

    dengan pemerintah dan entitas yang dikendalikan, dikendalikan bersama, atau dipengaruhi secara signifikan oleh Pemerintah

    (entitas berelasi dengan pemerintah).

    Orang atau anggota keluarga terdekat mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika orang tersebut:

    kedua entitas tersebut adalah ventura bersama dari pihak ketiga yang sama.

    Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk dengan jumlah rata-rata

    tertimbang saham biasa yang beredar dalam tahun yang bersangkutan. Laba per saham dilusian mempertimbangkan pula

    instrumen keuangan lain yang diterbitkan bagi semua efek berpotensi saham biasa yang sifatnya dilutif yang beredar sepanjang

    periode pelaporan.

    Pajak Penghasilan

    Laba Per Saham

    Saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi diakui sebagai aset pajak tangguhan apabila besar kemungkinan bahwa jumlah laba

    fiskal dimasa mendatang akan memadai untuk dikompensasi. Manajemen memperkirakan pajak tangguhan yang berasal dari rugi

    fiskal tersebut memiliki masa manfaat selama 5 (lima) tahun. Koreksi terhadap liabilitas perpajakan diakui saat surat ketetapan pajak

    diterima atau jika mengajukan keberatan, pada saat keputusan atas keberatan tersebut telah ditetapkan.

    Pajak kini diakui berdasarkan laba kena pajak untuk tahun/periode yang bersangkutan, yang dihitung sesuai dengan peraturan

    perpajakan yang berlaku.

    memiliki pengendalian atau pengendalian bersama atas entitas pelapor;

    memiliki pengaruh signifikan atas entitas pelapor; atau

    personil manajemen kunci entitas pelapor atau entitas induk entitas pelapor.

    Suatu entitas mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika entitas jika memenuhi salah satu hal berikut:

    entitas dan entitas pelapor adalah anggota dari kelompok usaha yang sama (artinya entitas induk, entitas anak, dan

    satu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain (atau entitas asosiasi atau ventura bersama

    yang merupakan anggota suatu kelompok usaha, yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya).

    Seluruh perbedaan temporer antara jumlah tercatat aset dan liabilitas dengan dasar pengenaan pajaknya diakui sebagai pajak

    tangguhan dengan metode liabilitas. Pajak tangguhan diukur dengan tarif pajak yang berlaku saat ini.

    Transaksi dengan pihak-pihak Berelasi

    Entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang diidentifikasikan dalam huruf a.

    entitas tersebut adalah suatu program imbalan paska kerja untuk imbalan kerja dari salah satu entitas pelapor atau entitas

    lain yang terkait dengan entitas pelapor. Jika entitas pelapor adalah entitas yang menyelenggarakan program tersebut,

    maka entitas sponsor juga berelasi dengan entitas pelapor.

    orang yang didentifikasikan dalam huruf a (i) memiliki pengaruh signifikan atas entitas atau personil manajemen kunci

    entitas (atau entitas induk dari entitas)

    Pihak berelasi adalah orang atau entitas yang terkait dengan entitas yang menyiapkan laporan keuangannya (entitas pelapor).

  • Halaman 18

    r.

    s.

    4.

    Menentukan Mata Uang Fungsional

    Mata uang fungsional adalah mata uang dari lingkungan ekonomi utama dimana Perusahaan beroperasi. Manajemen

    mempertimbangkan mata uang yang paling mempengaruhi pendapatan dan harga pokok penjualan dan indikator lainnya dalam

    menentukan mata uang yang paling sesuai mewakili dampak ekonomi yang mendasari transaksi, peristiwa dan kondisi.

    Menentukan Nilai Wajar dan Perhitungan Amortisasi Biaya Perolehan dari Instrumen Keuangan

    Perusahaan mencatat aset keuangan dan liabilitas keuangan tertentu pada nilai wajar dan pada biaya perolehan yang diamortisasi,

    yang mengharuskan penggunaan estimasi akuntansi. Sementara komponen signifikan atas pengukuran nilai wajar dan asumsi yang

    digunakan dalam perhitungan amortisasi biaya perolehan ditentukan menggunakan bukti obyektif yang dapat diverifikasi, jumlah nilai

    wajar atau amortisasi dapat berbeda bila Perusahaan menggunakan metodologi penilaian atau asumsi yang berbeda. Perubahan

    tersebut dapat mempengaruhi secara langsung laba atau rugi Entitas (lihat Catatan 27).

    Menentukan Metode Penyusutan dan Estimasi Masa Mafaat Aset Tetap

    Perusahaan mengestimasi masa manfaat ekonomis asset tetap dan properti investasi berdasarkan utilisasi dari aset yang diharapkan

    dan didukungdengan rencana dan strategi usaha dan perilaku pasar. Estimasi dari masa manfaat aset tetap dan properti investasi

    adalah berdasarkan penelaahan Entitas terhadap praktek industri, evaluasi teknis internal dan pengalaman untuk aset yang setara.

    Peristiwa setelah Periode Pelaporan

    Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah periode pelaporan yang menyediakan tambahan informasi mengenai posisi keuangan

    konsolidasian Perusahaan dan entitas anak pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian (peristiwa penyesuai), jika ada,

    telah tercermin dalam laporan keuangan konsolidasian.

    Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian (peristiwa non-penyesuai), apabila

    jumlahnya material, telah diungkapkan dalam laporan keuangan konsolidasian.

    Pertimbangan,estimasi an asumsi

    Perusahaan mendasarkan asumsi dan estimasi pada parameter yang tersedia pada saat laporan keuangan disusun. Asumsi dan situasi

    mengenai perkembangan masa depan mungkin berubah akibat perubahan pasar atau situasi di luar kendali Perusahaan. Perubahan

    tersebut dicerminkan dalam asumsi terkait pada saat terjadinya.

    Pertimbangan, estimasi dan asumsi berikut ini dibuat oleh manajemen dalam rangka penerapan kebijakan akuntansi Perusahaan yang

    memiliki pengaruh paling signifikan atas jumlah yang diakui dalam laporan keuangan:

    Segmen operasi dilaporkan dengan cara yang konsisten dengan pelaporan internal yang diberikan kepada pengambil keputusan

    operasional. Pengambil keputusan operasional bertanggung jawab untuk mengalokasikan sumber daya, menilai kinerja segmen

    operasi dan membuat keputusan operasional. Pengambil keputusan oeprasional bertanggung jawab untuk mengalokasikan sumber

    daya, menilai kinerja segmen operasi dan membuat keputusan strategis.

    Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain pada tanggal pelaporan yang memiliki risiko signifikan bagi

    penyesuaian yang material terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas untuk tahun berikutnya diungkapkan di bawah ini.

    Pelaporan Segmen

    Estimasi dan Pertimbangan Akuntansi Yang Penting

    Penyusunan laporan keuangan Perusahaan mengharuskan manajemen untuk membuat pertimbangan, estimasi dan asumsi yang

    mempengaruhi jumlah yang dilaporkan dari pendapatan, beban, aset dan liabilitas, dan pengungkapan atas liabilitas kontinjensi, pada

    akhir periode pelaporan. Ketidakpastian mengenai asumsi dan estimasi tersebut dapat mengakibatkan penyesuaian material terhadap

    nilai tercatat aset dan liabilitas yang terpengaruh pada periode pelaporan berikutnya.

    Seluruh transaksi dan saldo yang signifikan dengan pihak-pihak berelasi, baik yang dilakukan dengan atau tidak

    dengan persyaratan dan kondisi sebagaimana yang dilakukan dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan

    pihak-pihak berelasi, telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan yang relevan.

  • Halaman 19

    Estimasi Beban Pensiun dan Imbalan Kerja

    Penentuan liabilitas atas pensiun dan kewajiban imbalan kerja Perusahaan bergantung pada pemilihan asumsi yang digunakan oleh

    aktuaris independen dalam menghitung jumlah-jumlah tersebut. Asumsi tersebut termasuk antara lain, tingkat diskonto, tingkat kenaikan

    gaji tahunan, tingkat pengunduran diri karyawan tahunan, tingkat kecacatan, umur pensiun dan tingkat kematian dan tingkat

    pengembalian aset program yang diharapkan.

    Sementara Perusahaan berkeyakinan bahwa asumsi tersebut adalah wajar dan sesuai, perbedaan signifikan pada hasil aktual atau

    perubahan signifikan dalam asumsi yang ditetapkan Perusahaan dapat mempengaruhi secara material liabilitas diestimasi atas pensiun

    dan imbalan kerja dan beban imbalan kerja neto. Penjelasan lebih rinci diungkapan dalam Catatan 16.

    Estimasi masa manfaat ditelaah minimal setiap akhir tahun pelaporan dan diperbarui jika ekspektasi berbeda dari estimasi sebelumnya

    dikarenakan pemakaian dan kerusakan fisik, keusangan secara teknis atau komersial dan hukum atau pembatasan lain atas

    penggunaan dari aset serta perkembangan teknologi. Namun demikian, adalah mungkin, hasil di masa depan dari operasi dapat

    dipengaruhi secara material oleh perubahan-perubahan dalam estimasi yang diakibatkan oleh perubahan faktor-faktor yang disebutkan

    di atas, dan karenanya biaya penyusutan masa depan mungkin direvisi.

    Biaya perolehan aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomisnya.

    Manajemen mengestimasi masa manfaat ekonomis aset tetap antara 5 sampai dengan 20 tahun. Ini adalah umur yang secara umum

    diharapkan dalam industri dimana Perusahaan menjalankan bisnisnya. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam catatan 10 untuk aset

    tetap.

    Menentukan Pajak penghasilan

    Pertimbangan signifikan dilakukan dalam menentukan provisi atas pajak penghasilan badan.Terdapat transaksi dan perhitungan

    tertentu yang penentuan pajak akhirnya adalah tidak pasti sepanjang kegiatan usaha normal. Entitas mengakui liabilitas atas pajak

    penghasilan badan berdasarkan estimasi apakah akan terdapat tambahan pajak penghasilan badan.

    Dalam situasi tertentu, Perusahaan tidak dapat menentukan secara pasti jumlah liabilitas pajak mereka pada saat ini atau masa depan

    karena proses pemeriksaan, atau negosiasi dengan otoritas perpajakan. Ketidakpastian timbul terkait dengan interpretasi dari peraturan

    perpajakan yang kompleks serta jumlah dan waktu dari penghasilan kena pajak di masa depan. Dalam menentukan jumlah yang harus

    diakui terkait dengan liabilitas pajak yang tidak pasti, Perusahaan menerapkan pertimbangan yang sama yang akan mereka gunakan

    dalam menentukan jumlah cadangan yang harus diakui sesuai dengan PSAK No. 57 (Revisi 2009), “Provisi, Liabilitas Kontijensi dan

    Aset Kontijensi”. Perusahaan membuat analisis untuk semua posisi pajak terkait dengan pajak penghasilan untuk menentukan jika

    liabilitas pajak untuk manfaat pajak yang belum diakui harus diakui.

    Perusahaan menelaah aset pajak tangguhan pada setiap tanggal pelaporan dan mengurangi nilai tercatat sepanjang tidak ada

    kemungkinan bahwa laba kena pajak memadai untuk mengkompensasi sebagian atau seluruh aset pajak tangguhan. Perusahaan juga

    menelaah waktu yang diharapkan dan tarif pajak atas pemulihan perbedaan temporer dan menyesuaikan pengaruh atas pajak

    tangguhan yang sesuai.Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam catatan 9.

  • Halaman 20

    5.

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Kas

    211,455,987 285,047,345

    42,656,144 --

    -- 17,381,700

    Jumlah kas 254,112,131 302,429,045

    Bank

    Rupiah

    PT Bank Artha Graha Internasional Tbk 1,598,968,232 4,926,693,351

    PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 856,145,498 2,684,850,321

    PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 5,222,376 276,371,936

    PT Bank Central Asia Tbk 2,602,458,016 2,160,957,407

    Jumlah 5,062,794,122 10,048,873,015

    Dollar Amerika Serikat

    PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

    ( Maret 2016 : USD 94.248,09

    Desember 2015 : USD 66.564,43) 1,251,237,651 918,256,320

    PT Bank Artha Graha Internasional Tbk

    ( Maret 2016 : USD 95.236,48

    Desember 2015 : USD 104.953,90) 1,264,359,548 1,447,839,092

    PT Bank Central Asia Tbk

    ( Maret 2016 : USD 25.417,96

    Desember 2015 : USD 10.057.32) 337,448,838 138,740,730

    Jumlah 2,853,046,037 2,504,836,142

    Jumlah bank 7,915,840,159 12,553,709,157

    Deposito Berjangka

    Rupiah

    PT Bank Artha Graha Internasional Tbk 3,013,451,988 --

    3,013,451,988 --

    Deposito Berjangka

    Dollar Amerika Serikat

    PT Bank Artha Graha Internasional Tbk

    ( Maret 2016 : USD 3.462.226,55

    Desember 2015 : USD 3.454.067,51) 45,964,519,752 47,648,861,240

    Jumlah 45,964,519,752 47,648,861,240

    Dollar Australia

    PT ANZ Panin Bank

    ( Maret 2016 : AUD 106.511,48 Desember 2015 : AUD 105.983.96) 1,082,369,619 1,066,622,634

    Jumlah 1,082,369,619 1,066,622,634

    Jumlah deposito 50,060,341,359 48,715,483,874

    Jumlah Kas dan Setara Kas 58,230,293,649 61,571,622,076

    Tingkat suku bunga

    Dollar Amerika Serikat 0.12 % - 1.33 % 0.12 % - 1.33 %

    Dollar Australia 2.25% 2.50%

    Dolar AS 31 Maret 2016 USD 3.213

    Rupiah

    31 Desember 2015 USD 1.260

    Perusahaan tidak memiliki relasi dengan bank dimana kas dan deposito berjangka tersebut ditempatkan.

    KAS DAN SETARA KAS

  • Halaman 21

    6. Piutang Usaha – Pihak Ketiga

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Pihak Ketiga

    PT Abirama Kresna 2,937,443,184 1,804,784,489

    PT Tri Abadi Purnama 1,581,621,469 -

    PT Rimba Falcatta 1,273,703,456 770,999,731

    PT Darma Putra 889,704,699 447,616,970

    PT Sanlim Kentjana Makmur 879,066,737 135,877,500

    PT Abioso Wood working Industry 761,994,361 747,903,498

    PT Sukses Mitra Sejahtera 702,735,000 1,289,014,265

    PT Indo Furnitama Raya 614,015,611 1,445,972,869

    PT Sumber Abadi Bersama 581,381,952 492,360,276

    PT Sumatera Mas Plywood 560,278,565 269,209,138

    PT Mapan Wijaya 553,226,946 553,226,946

    PT Tri Tunggal Laksana 474,397,165 434,857,940

    PT Kharisma Jaya Sakti 317,665,449 388,706,035

    PT Atlantic Intraco 268,922,500 207,993,500

    PT Kayu Manis Perdana 259,341,350 290,172,307

    PT Kaliaren Jaya Plywood 222,438,978 153,736,572

    PT Jasuma Mitra Perkasa 202,506,708 -

    Ahmad Muafik 190,755,617 190,755,617

    PT Alam Citra Lestari 181,643,000 122,639,000

    PT Tri Cahaya Purnama 180,380,216 -

    PT Momentive Specialty 135,428,212 -

    PT Sendang Makmur Setia 63,395,186 -

    PT Mastur Bram 57,533,927 187,518,131

    PT Binajaya Rodakarya - 367,382,244

    PT Bambang Irawan - 295,087,760

    PT Tunas subur - 250,828,512

    Lain-lain

    (Masing-masing di bawah Rp 100 juta) 860,816,098 869,529,446

    Jumlah 14,750,396,385 11,716,172,746

    Pihak Berelasi 11,997,717,234 14,697,474,769

    Piutang usaha - bersih 26,748,113,619 26,413,647,515

    Piutang usaha tidak dijaminkan dan tidak dikenakan bunga.

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Tanpa Provisi

    Jatuh tempo > 30 hari 12,980,440,090 14,858,078,123

    Jatuh tempo > 31-90 hari 11,918,619,323 9,434,162,407

    Jatuh tempo > 90 hari 1,849,054,206 2,121,406,985

    26,748,113,619 26,413,647,515

    Dengan Provisi

    Jatuh tempo > 16-90 hari -- --

    Jatuh tempo > 90 hari -- --

    Jumlah 26,748,113,619 26,413,647,515

    Rincian umur piutang usaha berdasarkan tanggal faktur adalah sebagai berikut:

    Sifat dari hubungan dan transaksi antara kelompok usaha dengan pihak-pihak berelasi dijelaskan pada catatan 29.

    Rincian piutang usaha berdasarkan pelanggan adalah sebagai berikut:

  • Halaman 22

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Rupiah 26,019,466,241 25,421,239,257

    Dollar Amerika Serikat

    ( Maret 2016 : USD 54.884,63

    Desember 2015: USD 71.939,71) 728,647,378 992,408,258

    26,748,113,619 26,413,647,515

    7. Persediaan

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Barang jadi 5,669,093,510 3,582,878,047

    Bahan baku dan bahan pembantu 11,681,083,724 11,641,361,831

    Lain-lain 498,112,873 404,566,483

    Jumlah 17,848,290,107 15,628,806,361

    8. Uang Muka dan Biaya Dibayar di Muka

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    a. Uang muka

    Pembelian Aset 2,241,142,045 1,409,372,500

    Pekerjaan 46,658,850 32,400,000

    Lain-lain 24,750,000 14,500,000

    Subjumlah uang muka 2,312,550,895 1,456,272,500

    b. Biaya dibayar di muka

    Asuransi 282,759,455 267,782,580

    Subjumlah biaya dibayar di muka 282,759,455 267,782,580

    2,595,310,350 1,724,055,080

    Lihat Catatan 27 mengenai risiko kredit piutang usaha untuk memahami bagaimana Perusahaan mengelola dan mengukur kualitas

    kredit piutang usaha yang lancar dan tidak mengalami penurunan nilai.

    Berdasarkan penelaahan atas status masing-masing piutang pada akhir tahun, Perusahaan memutuskan bahwa tidak terdapat

    perubahan signifikan terhadap kualitas kredit dan piutang usaha dapat tertagih, sehingga penyisihan penurunan nilai piutang tidak

    dibentuk.

    Termasuk dalam uang muka pembelian aset pada tgl 31 Maret 2016 dan 31 Desember 2015 adalah pembayaran kepada PT Maju

    Bersama untuk pembelian reaktor sebesar Rp. 2.115.540.000 dan Rp. 1.175.300.000.

    Berdasarkan penelaahan atas kondisi dan nilai persediaan, manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat persediaan yang

    mengalami penurunan nilai.

    Perusahaan telah mengasuransikan persediaan dan aset tetap terhadap risiko kebakaran dan risiko lainnya sesuai dengan banker

    clause berdasrkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar USD 300.000 ditahun 2016 dan 2015

    Manajemen berpendapat bahwa jumlah pertanggungan asuransi cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas risiko kebakaran

    dan risiko lainnya yang mungkin dialami oleh Perusahaan

    Manajemen berpendapat bahwa jumlah pertanggungan asuransi cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas risiko kebakaran

    dan risiko lainnya yang mungkin dialami oleh Perusahaan.

    Seluruh persediaan tidak terdapat kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan.

    Persediaan tidak terdapat penghapusan persediaan rusak dan usang

    Tidak terdapat persediaan yang dijadikan jaminan dan tidak terdapat kerugian persedian yang jumlahnya material.

    Rincian piutang usaha berdasarkan mata uang adalah sebagai berikut:

  • Halaman 23

    9.

    a. Pajak Dibayar Dimuka

    Pajak dibayar dimuka terdiri dari :

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Pajak Penghasilan :

    Pajak final revaluasi 1,982,423,074 1,864,294,264

    Jumlah 1,982,423,074 1,864,294,264

    b.

    Manfaat pajak penghasilan Perusahaan terdiri dari:

    31 Maret 2016 31 Maret 2015

    Rp Rp

    Pajak Kini 174,136,750 --

    Pajak Tangguhan 90,489,985 159,014,768

    Jumlah 264,626,735 159,014,768

    31 Maret 2016 31 Maret 2015

    Rp Rp

    Laba Rugi sebelum pajak menurut laporan

    laba rugi komprehensif 1,261,744,770 7,791,237,952

    Beda Waktu

    Penyusutan (47,410,236) (362,532,928)

    Pembayaran sewa guna usaha (314,549,701) (273,526,139)

    Jumlah (361,959,937) (636,059,067)

    Beda Tetap

    Pajak lain-lain dan denda pajak 9,364,974 108,103,928

    Pendapatan Bunga (212,602,190) (813,082,018)

    Jumlah (203,237,216) (704,978,090)

    Laba Rugi fiskal sebelum kompensasi laba rugi fiskal 696,547,617 6,450,200,795

    Laba (Rugi) Fiskal

    Koreksi tahun 2009 -SKPLB 0080/406/09/054/11 (4,961,214,795) (4,961,214,795)

    Koreksi tahun 2010 -SKPLB 0068/406/10/054/13 (16,745,359,569) (16,745,359,569)

    Koreksi tahun 2011 -SKPLB 0997/406/11/054/13 (10,533,573,743) (10,533,573,743)

    Tahun 2012 1,160,323,165 1,160,323,165

    Tahun 2013 8,161,760,653 8,161,760,653

    Tahun 2014 9,425,020,915 9,425,020,915

    Tahun 2015 13,493,043,374 6,450,200,795

    Jumlah -- (7,042,842,579)

    Estimasi laba kena pajak 696,547,617 --

    Estimasi laba kena pajak - Dibulatkan 696,547,000

    Taksiran Pajak Penghasilan Badan 174,136,750 --

    Pajak Dibayar Dimuka

    Pajak Penghasilan pasal 22 948,708 666,814,920

    Jumlah 948,708 666,814,920

    Pajak kurang (Lebih) Bayar 173,188,042 (666,814,920)

    PERPAJAKAN

    Pajak Kini

    adalah sebagai berikut :

    Sehubungan dengan rencana Perusahaan untuk melakukan revaluasi aset sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor

    191/PMK.010/2015, Perusahaan telah membayarkan pajak final kepada Direktorat Jenderal Pajak sebesar Rp. 1.982.423.074 Rp

    1.864.294.264 di bulan Maret 2016 dan Desember 2015.

    Beban Pajak Penghasilan

    Rekonsiliasi antara laba sebelum pajak penghasilan menurut laporan laba rugi komprehensif dengan laba kena pajak

  • Halaman 24

    31 Maret 2016 31 Maret 2015

    Rp Rp

    Laba Rugi sebelum

    pajak menurut laporan laba rugi komprenhensif 1,261,744,770 7,791,237,952

    Laba Rugi Perusahaan sebelum

    Pajak Penghasilan (pembulatan) 1,261,744,770 7,791,237,952

    Pajak Dihitung pada

    Tarif yang Berlaku (315,436,239) (1,947,809,534)

    Pajak Lain-lain dan denda pajak (2,341,244) (27,025,982)

    Pendapatan bunga 53,150,548 203,270,505

    Laba (rugi) fiskal tahun berjalan 174,136,904 1,612,550,199

    (90,490,030) (159,014,813)

    Pajak Tangguhan dari

    Perbedaan Temporer (90,489,985) (159,014,768)

    c.

    Rincian dari aset pajak tangguhan adalah sebagai berikut :

    31 Desember 2014 Dibebankan ke 31-Dec-15 Dibebankan ke 31 Maret 2016

    Laporan Laba Rugi Laporan Laba Rugi

    Rp Rp Rp Rp Rp

    Laba penjualan aset tetap (29,400,000) 29,400,000 -- --

    Beban manfaat karyawan 1,109,636,407 (72,558,473) 1,037,077,934 1,037,077,934

    Depresiasi 2,135,017,115 (47,410,236) 2,087,606,879 (11,852,560) 2,075,754,318

    Penyisihan penurunan

    nilai piutang usaha 1,211,590,937 (1,211,590,937) -- --

    Sewa guna usaha (1,043,479,828) (164,857,488) (1,208,337,316) (78,637,425) (1,286,974,741)

    Jumlah 3,383,364,631 (1,467,017,134) 1,916,347,497 (90,489,985) 1,825,857,512

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp. Rp.

    Pajak penghasilan

    Tahun 2016 173,188,042 -

    Tahun 2015 342,842,811 342,842,811

    Sub jumlah 516,030,853 342,842,811

    Pajak tangguhan dihitung berdasarkan pengaruh dari perbedaan temporer antara jumlah tercatat aset dan liabilitas menurut laporan

    laba rugi komersial dengan dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas. Aset dan liabilitas pajak tangguhan disesuaikan dengan tarif

    pajak yang berlaku pada periode ketika aset direalisasikan dan liabilitas diselesaikan berdasarkan tarif pajak yang telah ditetapkan.

    Rincian dari aset pajak tangguhan adalah sebagai berikut:

    Rekonsiliasi antara manfaat (beban) pajak dan hasil perkalian laba (rugi) akuntansi sebelum pajak dengan tarif pajak yang berlaku

    adalah sebagai berikut:

    Aset Pajak Tangguhan

    Penggunaan aset pajak tangguhan yang diakui perusahaaan bergantung pada apakah laba fiskal yang dapat dihasilkan pada periode

    mendatang melebihi laba dari realisasi perbedaan temporer kena pajak yang telah ada. Penyisihan penilaian aset pajak tangguhan yang

    berasal dari rugi fiskal dibentuk karena karena tidak terdapat keyakinan yang cukup atas realisasi dari aset pajak tangguhan tersebut di

    masa yang akan datang.

    Surat Pemberitahuan Tahunan ("SPT") PPh Badan untuk tahun fiskal 2015 akan dilaporkan dan untuk tahun fiskal 2014

    telah dilaporkan berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku sesuai dengan penghitungan di atas.

  • Halaman 25

    Pajak lainnya

    Pajak pertambahan nilai 461,578,614 546,006,358

    Pajak Penghasilan

    Pasal 21 45,529,895 248,843,609

    Pasal 23 17,599,617 1,407,396

    Pasal 4 (2) 22,330,708 -

    Sub jumlah 547,038,834 796,257,363

    1,063,069,687 1,139,100,174

    e.

    Pemeriksaan Pajak

    a.

    b.

    c.

    d.

    e.

    f.

    g.

    h.

    i.

    f.

    Sebelum pajak Beban pajak Setelah pajak

    884,339,164 (221,084,791) 663,254,373

    884,339,164 (221,084,791) 663,254,373

    Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Pertambahan Nilai bulan November 2012 No. 00129/207/12/054/14 sebesar Rp.

    2.788.192,-

    Pajak penghasilan di pendapatan komprehensif lain

    Pos yang tidak direklasifikasi ke laporan laba rugi

    Pengukuran kembali aktuarial program imbalan pasti

    Jumlah

    2015

    Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Pertambahan Nilai bulan Desember 2012 No. 00130/207/12/054/14 sebesar Rp.

    5.109.000,-

    Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan pasal 23 No. 00023/203/12/054/14 sebesar Rp. 17.161.038 dan

    0014/103/13/054/14 sebesar Rp 1.004.753

    Denda pasal 14(4) KUP atas Pajak Pertambahan Nilai bulan Maret - Desember 2012 No. 0074-0083/107/12/054/14 sebesar

    88.221.892,-

    Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Pertambahan Nilai bulan Maret 2012 No.00121/207/12/054/14 sebesar Rp.

    29.600.000,-

    Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Pertambahan Nilai bulan September 2012 No. 00127/207/12/054/14 sebesar Rp.

    10.000.000,-

    Pada tanggal 24 April 2014 Perusahaan menerima hasil pemeriksaan pajak untuk masa pajak 2012 yang terdiri dari:

    Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Final pasal 15 final No. 00001/241/12/054/14 dan no 0001/141/12/054/14

    sebesar Rp. 16.105.586,-

    Hasil pajak lebih bayar atas pajak penghasilan pasal 25/29 sebesar Rp 225.052.000,- telah dikompensasikan atas pajak kurang bayar

    untuk PPH pasal 15 final, PPH pasal 21 PPH pasal 23, Pajak Pertambahan Nilai, dan Denda Pasal 7 KUP sejumlah Rp 181.608.508,

    sehingga dikembalikan ke Perusahaan sebesar Rp. 43.443.492,-

    Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan pasal 25/29 No. 00069/406/12/054/14 sebesar Rp 225.052.000,-

    Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan pasal 21 No. 00014/201/12/054/14 sebesar Rp. 9.164.668 dan

    00048/101/13/054/14 dan 00049/101/13/054/14 sebesar Rp. 2.452.539 ,-

    Jumlah Pajak Penghasilan

    Administrasi pajak

  • Halaman 25 A

    10. ASET TETAP

    2016

    2015 Tambah Kurang Koreksi/Reklas 31 Maret 2016

    Rp Rp Rp Rp Rp

    Nilai Tercatat

    Pemilikan Langsung

    Hak atas tanah 9,031,829,486 - - 9,031,829,486

    Bangunan dan prasarana 21,046,385,789 21,046,385,789

    Mesin dan peralatan 118,999,770,339 414,150,000 - - 119,413,920,339

    Peralatan transportasi 9,511,753,341 929,600,000 10,441,353,341

    Inventaris 3,044,024,593 119,983,500 - - 3,164,008,093

    161,633,763,548 1,463,733,500 - - 163,097,497,048

    Aset Sewa Guna Usaha

    Peralatan transportasi 2,524,083,772 767,454,545 1,756,629,227

    164,157,847,320 1,463,733,500 767,454,545 - 164,854,126,275

    Akumulasi Penyusutan

    Bangunan dan prasarana 9,144,892,657 578,037,824 9,722,930,481

    Mesin dan peralatan 93,578,599,974 831,727,199 94,410,327,173

    Peralatan transportasi 8,881,733,411 61,821,653 8,943,555,064

    Inventaris 2,655,263,886 43,758,919 2,699,022,805

    114,260,489,928 1,515,345,595 - - 115,775,835,523

    Aset Sewa Guna Usaha

    Peralatan transportasi 1,413,971,263 113,413,279 613,963,636 40 913,420,946

    115,674,461,191 1,628,758,874 613,963,636 40 116,689,256,469

    Nilai Buku 48,483,386,129 48,164,869,806

    2014

    2014 Tambah Kurang Koreksi/Reklas 31 Maret 2015

    Rp Rp Rp Rp Rp

    Nilai Tercatat

    Pemilikan Langsung

    Hak atas tanah 9,031,829,486 - - 9,031,829,486

    Bangunan dan prasarana 8,815,374,835 17,172,082,161 25,987,456,996

    Mesin dan peralatan 96,946,310,571 16,797,768,561 - - 113,744,079,132

    Peralatan transportasi 9,019,508,128 9,019,508,128

    Inventaris 2,815,894,045 118,437,820 - - 2,934,331,865

    126,628,917,065 34,088,288,542 - - 160,717,205,607

    Bangunan Dalam Proses

    Bangunan 31,534,602,461 31,534,602,461 - -

    Aset Sewa Guna Usaha

    Peralatan transportasi 2,290,707,681 437,100,000 2,727,807,681

    160,454,227,240 34,525,388,542 - - 163,445,013,288

    Akumulasi Penyusutan

    Bangunan dan prasarana 7,111,623,269 120,451,820 7,232,075,089

    Mesin dan peralatan 90,721,404,651 555,039,509 91,276,444,160

    Peralatan transportasi 8,919,694,869 53,758,311 8,973,453,180

    Inventaris 2,350,166,773 33,263,776 2,383,430,549

    109,102,889,562 762,513,416 - - 109,865,402,978

    Aset Sewa Guna Usaha

    Peralatan transportasi 961,073,932 74,284,804 - 1,035,358,736

    110,063,963,527 836,798,220 - - 110,900,761,714

    Nilai Buku 50,390,263,713 52,544,251,574

  • Halaman 26

    31 Maret 2016 31 Maret 2015

    Rp Rp

    Harga perolehan 767,454,545 -

    Akumulasi penyusutan 613,963,636 -

    Nilai buku 153,490,909 -

    Penjualan aset tetap 375,000,000 -

    Keuntungan dari penjualan aset tetap 221,509,091 -

    Pembebanan penyusutan pada 31 Maret 2016 dan 2015 adalah sebagai berikut :

    31 Maret 2016 31 Maret 2015

    Rp Rp

    Beban tidak langsung (lihat catatan 21) 1,412,095,661 674,092,325

    Beban penjualan dan pemasaran ( lihat catatan 22 a) 712,500 9,135,072

    Beban umum dan administrasi (lihat catatan 22b) 215,950,713 153,570,823

    Jumlah 1,628,758,874 836,798,220

    11. ASET LAIN-LAIN

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Uang jaminan 133,320,000 133,820,000

    Jumlah 133,320,000 133,820,000

    12. Dana yang Dibatasi Penggunaannya

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Dollar Amerika Serikat

    PT Bank Artha Graha Internasional Tbk

    ( Maret 2016 USD 853.449,12

    Desember 2015: USD 851.314,96) 11,330,390,517 11,743,889,873

    11,330,390,517 11,743,889,873

    Pada tahun 2016 Pengurangan aset tetap karena penjualan peralatan transportasi sebagai berikut:

    Semua kendaraan yang diperoleh melalui pinjaman sewa pembiayaan dijaminkan terhadap masing- masing fasilitas kredit terkait.

    Pada 31 Desember 2015, pekerjaan dalam penyelesaian tersebut telah selesai seluruhnya dan digunakan dalam kegiatan operasional

    Perusahaan

    Pada tanggal 31 Desember 2015, aset tetap Perusahaan telah diasuransikan kepada PT Asuransi Asoka Mas Tbk, PT Asuransi

    Wahana Tata dan PT ACA Insurance dengan nilai pertanggungan sebesar USD 275.000 untuk bangunan, USD 3.175.000 untuk mesin

    dan peralatan serta Rp 2.558.300.000 untuk aset sewa pembiayaan-kendaraan, yang menurut pendapat manajemen cukup untuk

    menutup kemungkinan

    Pada tanggal 31 Desember 2014, aset tetap Perusahaan telah diasuransikan kepada PT Asuransi Asoka Mas Tbk dengan nilai

    pertanggungan sebesar USD 300.000 untuk bangunan gudang, Rp 1.853.200.000 untuk peralatan transportasi-kendaraan serta Rp

    2.287.800.000 untuk aset sewa pembiayaan-kendaraan, yang menurut pendapat manajemen cukup untuk menutup kemungkinan

    kerugian atas risiko tersebut.

    Dana yang dibatasi penggunaannya merupakan deposito berjangka terkait dengan jaminan terhadap fasilitas kredit L/C dari PT Bank

    Artha Graha Internasional Tbk

  • Halaman 27

    13.

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    PT Humpuss 2,226,917,940 2,490,893,989

    PT Agro Afiat 3,257,540,000 1,386,000,000

    CV Jaya Indah 762,151,225 336,974,000

    PT Atlantic Intraco 3,300,000 525,690,000

    PT Gerindo Surya Makmur - 3,738,281,250

    Adi susanto 53,994,500 27,587,700

    PT Samator Gas Industri 605,000 275,000

    PT Sejahtera Mandiri Utama 141,090,400 72,638,500

    PT Gaya Bhakti 10,450,000 4,015,000

    CV. Indra Purna 2,024,000 5,060,000

    PT Kartika Cemerlang 430,760,000 430,760,000

    6,888,833,065 9,018,175,439

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Rupiah 6,888,833,065 9,018,175,439

    Jumlah hutang usaha 6,888,833,065 9,018,175,439

    Analisa umur hutang usaha adalah sebagai berikut:

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    Lancar

    .> 1 bulan - 3 bulan 6,888,833,065 9,018,175,439

    6,888,833,065 9,018,175,439

    14.

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    K K B Bank Central Asia 1,119,802,195 434,476,875

    Mandiri Finance - 54,833,331

    Andalan Finance 51,472,300 66,913,990

    1,171,274,495 556,224,196

    (419,919,158) (294,316,000)

    Bagian jangka panjang 751,355,337 261,908,196

    PT BCA Finance

    PT BCA Finance

    Utang Usaha - Pihak Ketiga

    Rincian utang usaha berdasarkan mata uang adalah sebagai berikut:

    Utang Sewa Pembiayaan

    Utang usaha tidak dijamin, tidak dikenakan bunga dan umumnya dikenakan syarat pembayaran antara 7 hari sampai dengan 90 hari.

    Pada September 2015, Perusahaan memperoleh fasilitas pembiayaan dari PT BCA Finance untuk kendaraan sebesar Rp 196.833.000.

    Fasilitas ini akan dilunasi dalam jangka waktu 48 bulan dengan jumlah angsuran Rp 4.919.200 dan akan berakhir pada September

    2019.

    Rincian utang usaha berdasarkan pemasok adalah sebagai berikut:

    Utang sewa pembiayaan terdiri dari :

    Pada Maret 2016, Perusahaan memperoleh fasilitas pembiayaan dari PT BCA Finance untuk kendaraan sebesar Rp 743.680.000.

    Fasilitas ini akan dilunasi dalam jangka waktu 36 bulan dengan jumlah angsuran Rp 23.564.400 dan akan berakhir pada Februari 2019

    Dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun

  • Halaman 28

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp Rp

    381,156,552 293,786,609

    433,564,800 150,792,000

    433,564,800 150,792,000

    101,776,000 54,647,200

    Jumlah 1,350,062,152 650,017,809

    Dikurangi bunga (178,787,657) (93,793,613)

    Bersih 1,171,274,495 556,224,196

    Dikurangi jangka pendek (419,919,158) (294,316,000)

    Liabilitas jangka panjang 751,355,337 261,908,196

    15. Liabilitas Jangka Pendek Lainnya

    31 Maret 2016 31 Desember 2015

    Rp. Rp.

    Supardi 217,493,636 217,493,636

    Via Adi 26,987,767 56,362,872

    UD. Jaya Diesel 25,399,044 33,440,044

    CV. Mitra Sejati 12,049,439 12,396,449

    UD. Sinar Teknik 5,773,000 11,063,500

    PT. Karya Diesel - 6,815,000

    PT Sumber bangunan 2,652,000 2,652,000 CV. Sinar Kencana 1,296,000 2,650,500 UD Banjar Raya 500,000 2,140,000

    Lain-lain 272,447 272,485

    Jumlah 292,423,333 345,286,486

    Utang dividen 287,659,287 287,659,287

    Jumlah 580,082,620 632,945,773

    PT Andalan Finance Indonesia

    Pada Januari 2014, Perusahaan memperoleh fasilitas pembiayaan dari PT Andalan Finance untuk kendaraan sebesar Rp 185.300.300.

    Fasilitas ini akan dilunasi dalam jangka waktu 36 bulan dengan jumlah angsuran Rp 6.220.428 dan akan berakhir pada Desember 2016.

    2016

    PT Bank Central Asia Tbk

    Pada Maret 2013, Perusahaan memperoleh fasilitas pembiayaan dari PT Bank Central Asia Tbk untuk kendaraan sebesar Rp

    120.960.000. Fasilitas ini akan dilunasi dalam jangka waktu 36 bulan dengan jumlah angsuran Rp 3.728.000 dan akan berakhir pada

    Pebruari 2016. Per 31 Desember 2015, Perusahaan telah melunasi fasilitas pembiayaan ini .

    Pada April 2015, Perusahaan memperoleh fasilitas pembiayaan dari PT BCA Finance untuk kendaraan sebesar Rp 305.970.000.

    Fasilitas ini akan dilunasi dalam jangka waktu 48 bulan dengan jumlah angsuran Rp 7.646.700 dan akan berakhir pada Maret 2019.

    Pembayaran minimum masa datang (