of 40 /40
A. Judul Penerapan Model Pembelajaran Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV SDN 1 Cadassari Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta). B. Latar Belakang Masalah Matematika adalah ilmu pengetahuan yang digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, yaitu sebagai imu yang mendukung perkembangan pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu matematika selalu dituntut untuk mengimbangi dan melayani perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang secara pesat. Matematika sebagai dasar ilmu-ilmu dasar dituntut peranannya semakin besar. Pelajaran matematika terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi siswa serta 1

Proposal PTK (Tutor Sebaya)

Embed Size (px)

Text of Proposal PTK (Tutor Sebaya)

A. Judul Penerapan Model Pembelajaran Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas IV SDN 1 Cadassari Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta).

B. Latar Belakang Masalah Matematika adalah ilmu pengetahuan yang digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, yaitu sebagai imu yang mendukung perkembangan

pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu matematika selalu dituntut untuk mengimbangi dan melayani perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang secara pesat. Matematika sebagai dasar ilmu-ilmu dasar dituntut peranannya semakin besar. Pelajaran matematika terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi siswa serta berpadu pada perkembangan ilu pengetahuan dan teknologi. Upaya peningkatan siswa Sekolah Dasar merupakan tugas guru dan berjangka panjang karena menyangkut masalah pendidikan siswa. Meningkatkan pendidikan siswa harus melalui proses pendidikan yang baik dan terarah. Peneliti sebagai guru di SD Negeri 1 Cadassari perlu meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar matematika siswa Sekolah Dasar. Oleh karena itu

1

sebagai guru merasa tertantang untuk berusaha mencari ide guna mencari bagaimana meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa. Dari hasil pengamatan peneliti sehari-hari masih menemukan sebagian besar siswa kelas IV SD Negeri 1 Cadassari, nilai pembelajaran matematikanya kurang memuaskan. Hal ini disebabkan oleh guru kurang mengkondisikan siswa, guru dalam menyampaikan materi terlalu cepat, dan penggunaan alat peraga kurang optimal sehingga pemahaman dan konsep tentang materi pelajaran

matematika belum begitu dikuasai dengan baik oleh siswa. Upaya peningkatan hasil belajar dan aktivitas belajar matematika siswa kelas IV SD Negeri 1 Cadassari dapat tercapai apabila proses belajar mengajar dikelas berlangusng dengan baik, berdaya guna dan berhasil guna. Hal tersebut dapat terlaksana apabila guru dalam mengajar melaksanakan kegiatan

pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Sehubungan dengan masalah diatas, seorang guru hendaknya memiliki dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam menjembatani masalah tersebut. Akhir-akhir ini makin banyak perhatian terhadap pengajaran Tutor Sebaya yang pada dasarnya sama dengan program bimbingan , yang bertujuan memberikan bantuan dari dan kepada siswa dapat mencapai prestasi belajar secara optimal. Pengajaran Tutor Sebaya ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap pengajaran klasikal dengan kelas yang terlampau besar dan padat sehingga guru atau tenaga pengajar tak dapat memberikan bantuan individual, bahkan sering

2

tidak mengenal para siswa seorang demi seorang. Selain itu para pendidik mengetahui bahwa para siswa menunjukkan perbedaan dalam cara-cara belajar. Pengajaran klasikal yang menggunakan proses belajar-mengajar yang sama bagi semua siswa tidak akan sesuai bagi kebutuhan dan kepribadian setiap siswa. Maka karena itu perlu dicari sistem pengajaran yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran bagi sejumlah besar siswa dan di samping itu memberi kesempatan bagi pengajaran Tutor Sebaya. Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian dengan judul Penerapan Model Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Hasil belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. (Penelitian Tindakan Ke pada las Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Cadassari Kecamatan tegalwaru Kabupaten Purwakarta).

C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Apakah dengan penerapan pendekatan Tutor Sebaya dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Cadassari ? 2. Apakah dengan penerapan pendekatan Tutor Sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Cadassari ? 3. Apakah dengan penerapan pendekatan Tutor Sebaya dapat meningkatkan guru dalam mengajar ?

3

D. Tujuan Penelitian Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri 1 Cadassari Kec. Tegalwaru kab. Purwakarta bertujuan untuk : 1. Mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan pendekatan Tutor Sebaya. 2. Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan Tutor sebaya. 3. Mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam mengajar menggunakan pendekatan Tutor Sebaya. dengan

E. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak yang terkait dengan pendidikan. 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat dijadikan landasan dalam pembelajaran model pendekatan tutor sebaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa. 2. a. Manfaat Praktis Bagi Siswa 1. Dapat dijadikan sebagai bahan upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga dapat mengubah perolehan peringkat prestasi belajar yang lebih baik.

4

2. Pembelajaran akan lebih menarik dan tidak membeosankan bagi siswa. 3. Meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. 4. Dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. b. Bagi Guru 1. Guru dapat mengembangkan kemampuan merencanakan metode atau strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi ajar dan kebutuhan siswa. 2. Guru memperoleh pengalaman sehingga dapat memperluas wawasan tentang model-model pembelajaran inovatif. 3. Membantu guru untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengajar. c. Bagi Sekolah Memberikan perkembangan demi proses perbaikan pembelajaran terutama model pendekatan tutor sebaya untuk meningkatkan prestasi hasil belajar matematika. d. Bagi Peneliti Mendapat pengalaman langsung menerapkan model pembelajaran tutor sebaya sehingga dapat dijadikan bekal untuk mengajar.

F. Klarifikasi Konsep 1. Model Pembelajaran Tutor Sebaya Tutor sebaya adalah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman -teman sekelasnya disekolah. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan

5

kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami dan dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya untuk bertanya ataupun minta bantuan. Jadi, guru dapat menugaskan siswa yang lebih pandai untuk memberikan penjelasan kepada siswa yang kurang pandai (tutor sebaya). Demikian juga, anjurkan siswa yang kurang pandai untuk bertanya kepada atau meminta penjelasan dari siswa pandai terlebih dahulu sebelum kepada gurunya. Hal ini untuk menanamkan kesan bahwa belajar itu bisa dari siapa saja, tidak selalu dari guru yang akibatnya tergantung kepada guru. Tutor dikatakan berhasil jika dapat menjelaskan dan yang dijelaskan dapat membuktikan bahwa dia telah mengerti atau memahami dengan cara hasil pekerjaannya.

2.

Hasil Belajar Siswa Hasil belajar adalah penguasaaan atau keterampilan yang dikembangkan

oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru. Hasil dalam penelitian yang dimaksud adalah nilai yang diperoleh oleh siswa pada mata pelajaran matematika dalam bentuk nilai berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah melaksanakan tugas yang diberikan. Hasil belajar biasanya dapat direfleksikan melalui hasil evaluasi baik melalui ujian, tugas, maupun latihan.

6

G. Kajian Teoritis

1.

Pengertian Belajar Menurut W.S. Winkel belajar adalah suatu aktivitas mental/ psikis yang

berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilainilai sikap. Sedangkan Nasution menyatakan belajar merupakan aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar baik aktual maupun potensial; perubahan itu pada dasarnya berupa didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan perubahan itu terjadi karena usaha. Gagne dan Berliner menyatakan belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Slavin menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan karena pengalaman. Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan ( Anni, 2006:2). Berdasarkan beberapa pengertian belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang terjadi karena didahului oleh proses pengalaman dan perubahan tersebut bersifat relatif permanen.

7

2.

Hasil Belajar Hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang

dikembangkan oleh mata pelajaran, umumnya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru (Depdiknas, 2005 : 895). Menurut Anni (2006 : 5) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktifitas belajar. Sedangkan pengertian hasil belajar menurut Sukmadinata (2007 : 102-103) adalah realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan piotensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan tingkat penguasaan terhadap suatu hal setelah mengalami proses dan aktifitas belajar dan dinyatakan dengan nilai yang meliputi keterampilan, pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Hasil belajar merupakan kemampuan yang dapat diukur berupa penguasaan ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai hasil dari kegiatan proses belajar mengajar. Hasil belajar siswa dideskripsikan dengan kriteria ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar didasarkan pada beberapa pertimbangan, diantaranya : input peserta didik, kompleksitas masing-masing kompetensi dasar setiap mata pelajaran dan daya dukung (Depdikbud, 2007 : 11). Berdasarkan pertimbangan tersebut ditentukan ketuntasan belajar individu adalah 65% dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75%.

8

3.

Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Menurut Gagne, Brings, dan Wager (Winataputra, 2008 : 19), pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses pembelajaran pada siswa. Sedangkan menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 butir 20 (Winataputra, 2008 : 20) menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan pe ndidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2006 : 1). Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Oleh karena itu, untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini dan pembelajaran yang membuat siswa belajar dan menjadi bermakna. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.

9

Dalam batasan pengertian pembelajaran yang dilakukan di sekolah, pembelajaran matematika dimaksudkan sebagai proses yang dirancang untuk menciptakan suasana lingkungan (kelas/sekolah) yang memungkinkan kegiatan siswa belajar matematika sekolah. Dari pengertian tersebut jelas kiranya bahwa unsur pokok dalam pembelajaran matematika adalah guru sebagai salah satu perancang proses, proses yang sengaja dirancang selanjutnya disebut

pembelajaran, siswa sebagai pelaksana kegiatan belajar dan matematika sekolah dasar sebagai objek yang dipelajari dalam hal ini sebagai salah satu bidang studi dalam pelajaran. Diberikannya mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : a. Memahami konsep matematika menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep dalam pemecahan masalah. b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, menyelesaikan masalah dan menafsirkan solusi yang diperoleh. d. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (BSNP, 2006).

10

4.

Model Pembelajaran Pendekatan Tutor Sebaya Model pembelajaran pendekatan tutor sebaya merupakan strategi belajar

dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pendekatan tutor sebaya, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Menurut Roger dan David Johnson (Lie, 2002 : 30-34) ada lima unsur yang harus diterapkan dalam model pendekatan tutor sebaya, kelima unsur tersebut adalah sebagai berikut : a. Saling Ketergantungan Positif Saling ketergantungan positif berarti keberhasilan kelompok ditentukan oleh usaha belajar setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, guru perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. b. Tanggungjawab Perorangan Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pendekatan tutor sebaya, setiap siswa akan merasa bertanggungjawab untuk melakukan yang terbaik. Guru yang efektif dalam model pendekatan tutor sebaya membiat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota

11

kelompok harus melaksanakan tanggungjawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. c. Tata Muka Tatap muka berarti memberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para siswa untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisis kekurangan masing-masing. d. Komunikasi Antar Anggota Unsur ini menghendaki agar para siswa dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga

bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan kemampuan mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa. e. Evaluasi Proses Kelompok Evaluasi kelompok berarti siswa dalam satu kelompok bersama-sama mengevaluasi proses belajar kelompok. Format evaluasi dapat bermacam-macm, tergantung pada tingkat pendidikan siswa. Hal-hal yang perlu dievaluasi misalnya kerjasama, partisipasi setiap anggota, komunikasi antar anggota, dan lain

12

sebagainya. Hal ini akan mendorong setiap kelompok untuk meningkatkan efektifitas belajar kelompoknya. Model pendekatan tutor sebaya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajarnya. 2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. 3. Bilamana mungkin, anggota kelompok juga berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda. 4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu. (Ibrahim, 2000 : 6-7) Tiga tujuan instruksional penting yang dapat dicapai dengan

pembelajaran Tutor Sebaya adalah : a. Hasil Belajar Akademik Pembelajaran pendekatan tutor sebaya bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. b. Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu Pembelajaran pendekatan tutor sebaya memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

13

c. Pengembangan Keterampilan Sosial Pembelajaran pendekatan tutor sebaya untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi (Ibrahim, 200 : 7-9). Keterampilan sosial yang dimaksud antara lain adalah berbagi tugas, aktif bertanya, saling bekerjasama, menjelaskan ide atau pendapat, mengemukakan pendapat dan sebagainya. Terdapat enam langkah utama dalam pendekatan tutor sebaya yaitu sebagai berikut :

Tabel 1 : Langkah-langkah Model Pendekatan Tutor Sebaya

Langkah

Kegiatan Guru Guru menyampaikan semua tujuan

Langkah 1 pelajaran yang ingin dicapai pada Menyampaikan memotivasi siswa siswa belajar Guru menyajikan informasi pada siswa Langkah 2 dengan jalan demonstrasi atau lewat Menyajikan informasi bahan bacaan Guru Langkah 3 menjelaskan caranya kepada siswa tujuan dan pelajaran tersebut dan memotivasi

bagaimana

membentuk

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar dan membantu setiap kelompok-kelompok belajar kelompok agar secara efisien melakukan transisi

14

Langkah Langkah 4 Guru

Kegiatan Guru membimbing kelompok-

Membimbing kelompok bekerja kelompok belajar pada saat mereka dan belajar mengerjakan tugas mereka Guru Langkah 5 Evaluasi mengevaluasi hasil belajar

tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil kerjanya Guru Langkah 6 menghargai baik upaya maupun hasil Memberikan penghargaan belajar individu dan kelompok mencari cara-cara untuk

(Ibrahim, 2000 : 10) Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran dan motivasi siswa untuk belajar. Langkah ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama. Langkah terakhir pembelajaran pendekatan tutor sebaya meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok atau evaluasi tentang apa yang telah dipelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha maupun individu (Ibrahim, 2000 : 11).

15

5. 1. a.

Simetri Lipat dan Pencerminan Simetri Lipat Pengertian Simetri Lipat Jika sebuah benda dilipat melalui sumbu simetrinya yang kedua

bagiannya dapat secara tepat saling menutupinya, benda tersebut dikatakan memiliki simetri lipat. Perhatikan gambar berikut !

Bangun-bangun tersebut mempunyai simetri lipat. Garis tempat melipat ditunjukkan dengan garis putus-putus. Garis tersebut disebut garis simetris atau sumbu simetri. Dalam kehidupan sehari-haripun, banyak sekali benda-benda yang simetris seperti serangga, huruf, bunga dan yang lainnya. b. Mengenal Simetri Lipat dan Menentukan Sumbu Simetri Bangun-bangun Datar. Simetri lipat disebut juga simetri sumbu karena tempat melipatnya berupa sumbu (garis).

Sumbu simetri

16

Simetri lipat disebut juga simetri cermin karena sumbu simetrinya seolah-olah sebagai cermin sehingga setengah bagian bangun yang satu merupakan bayangan dari setengah bagian yang lainnya.

A

E

D

B

F

C

EF sebagai simetri cermin sehingga EDCF merupakan bayangan dari AEFB. Selanjutnya perhatikan gambar berikut ! Bangun persegi merupakan contoh banngun yang memiliki simetri lipat. Sumbu-sumbu simetrinya ditunjukkan dengan garis putus-putus.

Dengan demikian bangun persegi memiliki 4 simetri lipat. c. a. Pencerminan Membuat Bangun dan mengamati Hasil Pencerminan. Perhatikan contoh pencerminan dengan menggunakan papan berpaku. Cara kerja sebagai berikut :

17

1. 2. 3.

Siapkan papan berpaku. Buat bangun segitiga menggunakan karet gelang pada papan berpaku. Perhatikan bayangan karet gelang pada cermin.

. . .. .. .. .. .. .. .. .. .. .... . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . ........................b. Membuat Hasil Pencerminan Suatu Bangun Pada Kertas Berpetak Contoh : 1. Cermin Tegak

. . . . . A. . . . . . . . . A1 . . . . . . . .. ...................... .. ...................... . B . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . B12. Cermin Datar

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . B. . ..A..................... . . A1. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . B1. .Dari gambar-gambat tersebut dapat disimpulkan bahwa penentuan hasil pencerminan dapat dilakukan dengan cara menghitung titiknya yaitu : Contoh untuk cermin tegak : 1. Menghitung jarak titik A ke cermin

18

2. 3. 4. 5.

Menghitung jarak cermin ke titik A1 yang merupakan bayangan titik A Menghitung jarak titik B ke cermin Menghitung jarak cermin ke titk B1 yang merupakan bayangan titik B Menghubungkan titk A1 dengan titik B1 sehingga membentuk A1 B1

H. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau yang dikenal dengan Classroom Action Reasearch. Penelitian ini berkaitan dengan bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam kawasan sebuah kelas. Penelitian tindakan Kelas adalah penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Upaya perbaikan ini dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk mencari jawaban atas permasalahan yang diangkat dari kegiatan tugas sehari-hari (Kasbolah, 1998/1999 : 12). Susilo (2007 : 16) mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktek dan proses dalam pembelajaran. Beberapa alasan PTK penting untuk guru: (1) agar guru menjadi peka terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya; (2) dapat meningkatkan kinerja guru; (3) guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terjadi dalam kelasnya; (4) guru tidak perlu meninggalkan kelasnya dalam melaksanakan PTK; (5) guru dituntut untuk kreatif dan inovatif terhadap bahan ajar yang dipakainya.

19

Ciri-ciri PTK adalah: (1) didasarkan pada masalah yang dihadapi oleh guru; (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya; (3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran; (5) dilaksanakan dalam rangkaian beberapa siklus (basuki W, 2003 : 11). Penelititian Tindakan Kelas pada hakekatnya bertujuan untuk

meningkatkan pelayanan profesionalisme guru dalam upaya memperbaiki praktek pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan tersebut. Hal ini dilakukan karena tuntutan masyarakat terhadap masalah pendidikan dewasa ini begitu tinggi sebagai akibat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.

Prosedur Penelitian Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah model siklus.

Model siklus yang digunakan berbentuk spiral seperti yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart dalam Kasbolah (1998/1999:14), yaitu Momen-momen dalam bentuk spiral yang meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Kemudian pada siklus kedua dan seterusnya, jenis kegiatan yang dilakukan peneliti pada dasarnya sama. Untuk lebih jelasnya rangkaian ini dapat di lihat pada gambar berikut:

20

Gambar 3.1 Al r Si l dalam Peneli ian Tindakan Kelas menurut Stephen Kemmis dan Mc. Taggart (Kasbolah, 1998:114)

Keterangan : 0 1 2 3 4 = Perenungan = Perencanaan = Tindakan dan Observasi I = Refleksi I = Rencana Terevisi 5 6 7 8 9 = Tindakan dan Observasi II = Refleksi II = Rencana Terevisi II = Tindakan dan Observasi III = Refleksi III

21

Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini terbagi beberapa tahap, yaitu: 1. Perencanaan Tindakan Berdasarkan pada identifikasi masalah pra PTK maka disusunlah rencana tindakan yang mencakup semua langkah tindakan secara rinci. Segala keperluan pelaksanaan PTK mulai dari materi, rencana pembelajaran, strategi pembelajaran, instrumen observasi yanng dipersiapkan secara matang untuk mengantisipasi segala kendala yang mungkin timbul dalam penelitian. 2. Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini merupakan implementasi dari semua rencana yang telah dibuat dan dilaksanakan di dalam kelas, dan merupakan realisasi dari semua teoriteori pendidikan dan pengajaran yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Langkahlangkah yang dilakukan peneliti mengacu kepada kurikulum yang berlaku. 3. Observasi Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. D ata yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat dan dampaknya terhadap proses pembelajaran yang dikumpulkan denganalat bantu penelitian yang dikembangkan oleh peneliti. 4. Refleksi Tindakan Data yang diperoleh pada saat pengamatan tindakan diolah, dianalisis pada tahap ini, yang kemudian ditafsirkan agar refleksi dan evaluasi yang dilakukan lebih tajam. Proses refleksi memegang peranan yang amat penting dalam menentukan keberhasilan suatu penelitian, dengan suatu refleksi yang

22

tajam akan dapat suatu masukan yang sangat berharga dan akurat dan akan memberikan umpan balik yang akurat pula. Metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reasearch), yang dilaksanakan di SD Negeri 1 Cadassari Desa Tegalwaru Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta ini bersifat perbaikan pembelajaran dengan maksud yaitu perbaikan dalam pembelajaran Matematika Sekolah Dasar di Kelas IV dengan pokok bahasan simetri lipat dan pencerminan. Karena bersifat perbaikan, pelaksanaan pembelajarannya tidak hannya cukup satu kali saja, melainkan diperlukan berulang-ulang dari siklus ang satu ke siklus berikutnya, sehingga hasil pembelajaran tersebut dapat optimal.

I. 1.

Instrumen dan Pengolahan Data Teknik dan Alat Pengumpulan Data Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data antara

lain sebagai berikut : a. Observasi Purwanto (2006:149) mengatakan bahwa observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Cara atau metode tersebut pada umumnya ditandai oleh pengamatan tentang apa yang benar-benar dilakukan oleh individu, dan membuat pencatatanpencatatan secara objektif mengenai apa yang diamati.

23

Observasi digunakan untuk mengungkap sikap atau perilaku siswa dalam pembelajaran, sikap guru, serta interaksi antar siswa dengan guru dan siswa dengan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui observasi di dapat gambaran baik secara umum maupun khusus berkenaan dengan aspek-aspek pembelajaran yanng dikembangkan. b. Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak yakni pewawancara dan yang diwawancarai. c. Tes (Evaluasi Akhir Pelajaran) Instrumen ini digunakan untuk menjaring validitas dan reabilitas data mengenai peningkatan hasil belajar siswa meliputi hasil post tes, tes formatif, pengamatan, observasi proses pembelajaran sebagai evaluasi non tes terhadap sikap, nilai dan keterampilan-keterampilan yang berkembang pada diri siswa, khususnya mengenai penguasaan terhadap pokok bahasan yang diajarkan. d. Catatan Lapangan Catatan lapangan adalah tulisan tentang kejadian-kejadian selama proses pembelajaran berlangsung, berguna untuk pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, mencatat kemajuan, mencatat persoalan-persoalan yang dihadapi dan solusinya, mencatat hasil refleksi dan hsil-hasil diskusi. 2. Pengolahan Data Untuk mendapatkan data yang mendukung dan sesuai dengan karakteristik fokus permasalahan dan tujuan penelitian, data yang digunakan adalah sebagai berikut:

24

a.

Triangulasi data, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan (validasi) data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu, melalui data dari guru, kepala sekolah, siswa dan arahan dari pembimbing dengan data yang diperoleh melalui hasil observasi.

b.

Audit trail, yaitu pengecekan keabsahan temuan penelitian dan prosedur penelitian yang telah diperiksa dengan mengkonfirmasikan kepada teman sejawat dan dosen. Hal ini dilakukan guna memperoleh kritik, tanggapan dan masukan sehingga bisa mempertajam analisis dan memperoleh validitas yang tinggi.

c.

Member check, yaitu mengecek kebenaran hasil temuan dari hasil tiap siklus, refleksi sampai akhir keseluruhan tindakan. Sehingga mendapatkan data yanng lengkap dan memiliki validitas dan reabilitas yang tinggi.

J.

Lokasi dan Subjek penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negeri 1 Cadassari Desa

Cadassari Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV sebanyak 38 orang, yang terdiri dari 21 orang siswa lakilaki dan 17 orang siswa perempuan.

25

DAFTAR PUSTAKA

Kasbolah, K. (1999). Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Dirjen Dikti. Marlita, S.I. (2006). Keefektifan Model Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Persamaan Garis Lurus Siswa Kelas VIII SMP Negeri 36 Semarang. Skripsi sarjana S1 Universitas Semarang: Tidak diterbitkan. Muslich, Masnur. (2009). Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta : PT Bumi Aksara. Putranti, Nurita. (2009). Tutor psma.org/content/blog/tutor-sebaya. Sebaya. http://www.psb-

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT Rineka Cipta. Surya, Yohanes. (2006). Matematika itu Asyik 4B. Jakarta : PT Armandetta selaras. Suwangsih, Erna dan Tiurlina. (2006). Model Pembelajaran Matematika. Bandung : UPI PRESS. _________. (2010). Model Pembelajaran Tutor http://matematikacerdas.wordpress.com/2010/01/26/modelpembelajaran-tutor-sebaya/. (26 januari 2010) Tatiningsih. (2010). Tugas Penelitian dan Inovasi Kurikulum. s1pgsdbatang.blogspot.com/2010/03/tatiningsih.nim-282009048tugas.html. Sebaya.

http://

26