Click here to load reader

PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA MENURUT LEECH PADA

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA MENURUT LEECH PADA

PERTEMUAN DUA HATI KARYA NH. DINI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA
Skripsi
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana
Pendidikan
Oleh
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
i
ABSTRAK
MIA NURDANIAH. NIM: 1110013000095. Skripsi. Prinsip Kesantunan Berbahasa
Menurut Leech pada Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini dan Implikasinya
Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA, Program Studi Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. Dosen Pembimbing: Djoko Kentjono, M. A.
Kesantunan berbahasa merupakan aspek yang sangat penting saat berinteraksi
dengan lawan tutur. Apalagi pada dunia pendidikan, kesantunan berbahasa memiliki
peran penting dalam kemampuan berbahasa siswa. Novel sebagai media ajar dapat
digunakan pengajar untuk menyampaikan pengajaran mengenai kesantunan
berbahasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prinsip kesantunan
berbahasa menurut Leech dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini dan
implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Manfaat dari
penelitian ini meliputi dua hal, yaitu manfaat teoritis yang dapat memberikan
wawasan tentang kesantuan berbahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di
Sekolah Menengah Atas dan manfaat praktis yang dapat memberikan sumber
referensi baru untuk penelitian selanjutnya.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan pragmatik.
Sumber data yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu sumber
data primer yang merupakan sumber data pokok berupa novel karya Nh. Dini yang
berjudul Pertemuan Dua Hati dan sumber sekunder yang merupakan buku ataupun
sumber lain yang berhubungan dengan permasalahan objek penelitian. Metode
pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut (1)
membaca keseluruhan data primer sambil memahami isi dari data tersebut, (2)
pengumpulan data, yaitu menandai hal-hal penting yang terdapat pada sumber primer.
Hasil penelitian menunjukkan lebih banyak tuturan yang mematuhi maksim
kesantunan berbahasa menurut Leech. Berikut adalah jumlah hasil penelitian, terdapat
45 tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan dan 38 tuturan yang melanggar prinsip
kesantunan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikatakan bahwa novel Pertemuan
Dua Hati karya Nh. Dini sangat layak untuk dijadikan bahan ajar Bahasa Indonesia
pada materi yang berhubungan dengan novel, terutama mengenai membaca novel.
Walaupun novel Nh. Dini adalah novel lama, namun Nh. Dini sangat piawai
menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca dan memiliki nilai
kehidupan untuk pembacanya, terutama untuk guru dan orang tua dalam mendidik
anak-anak. Selain siswa dapat mengusai materi pelajaran mengenai membaca novel,
siswa pun dapat mempelajari kesantunan berbahasa yang terdapat dalam novel dan
dapat langsung dipraktekkan pada kehidupan sehari-harinya dalam segala situasi
sosial, baik dalam lingkungan masyarakat ataupun di lingkungan sekolah.
Kata kunci: kesantunan berbahasa, prinsip kesantunan, novel Pertemuan Dua Hati
ii
ABSTRACT
MIA NURDANIAH. NIM: 1110013000095. The title of the research paper is
“Language Politeness Principle Based on Leech in the Novel Entitled Pertemuan Dua
Hati by Nh. Dini and its Implication towards Teaching Learning Process in Senior
High School”, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen
Pembimbing: Djoko Kentjono, M. A.
Language politeness is the important aspect when someone interact with other
people. In the education environment, language politeness has an important role in
the students speaking ability. Novel as the media of teaching learning process can be
used by the teacher to convey materials about language politeness. The aim of this
research is to know language politeness principle based on Leech in the novel entitled
Pertemuan Dua Hati by Nh. Dini and its implication towards teaching and learning
process in Senior High School. The benefit of this research includes two aspects; the
theoretic benefit which could give knowledge about language politeness on teaching
and learning process in Senior High School, and practical benefit which could give
new reference source for the next research.
This research used descriptive method with pragmatic approach. The source
of data that used in this research is divided into two: the primary source of the data
that is the main source in the form of novel by Nh. Dini entitled Pertemuan Dua Hati,
and secondary source of the data in the form of book or another source related to the
problem of object research. Collecting data technique that is used in this research
were in this following list; (1) read overall the primary source and try to understand
about its content, (2) collected the data, marking important things in the primary
source.
Result of the research showed that most of the discourses obey the language
politeness maxim based on Leech. The following is the amount of research result,
there were forty-five discourses which obey the politeness principle and thirty-eight
discourses which contravene the politeness principle. Based on the result of the
research, it could be said that the novel entitled Pertemuan Dua Hati by Nh. Dini is
very suitable to be used as a material for teaching and learning Bahasa Indonesia in
the topic related with novel, especially about reading a novel. Even though this novel
belongs to old novel, Nh. Dini is very adept of using language style that is easy to be
understood by the readers and has so many life values for the readers, especially for
the teacher and the parents who educate their children. Students are not only able to
acquir the material about reading novel, but also able to study about language
politeness from the novel and able to practice it directly in their daily life in every
social situation, not only in the society environment but also in the school
environment.
Hati
iii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang, atas segala nikmat dan karunia-Nya serta limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
yang berjudul ”Prinsip Kesantunan Berbahasa Menurut Leech Pada Novel
Pertemuan Dua Hati Karya Nh. Dini dan Implikasinya Terhadap
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA”, sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan Program Sarjana Strata (S1) pada jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, Faktultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis tidak luput dari berbagai
hambatan dan rintangan. Tanpa bantuan dan peran serta berbagai pihak,
skripsi ini tidak mungkin terwujud. Oleh karena itu, pada kesempatan
inipenulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1) Dra. Nurlena Rifai, M. A., P.h.D., selaku Dekan FTIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta;
2) Didin Syafruddin, M. A., Ph.D., selaku PLT Ketua Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia;
3) Dra. Hindun, M. Pd., selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia yang telah memberikan dukungan kepada penulis
untuk menyelesaikan skripsi;
memberikan ilmu, bimbingan serta kesabaran dalam membimbing
penulis;
5) Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia,
yang telah membekali penulis berbagai ilmu pengetahuan;
iv
6) Ayahanda Cuparno, S. Sos dan Ibunda Aidah selaku orangtua penulis,
serta adik-adik Agung Permana dan M. Argya. Raffa yang senantiasa
mendoakan, memberikan dorongan moral, dan moril, serta memotivasi
penulis sehingga penelitian dapat terselesaikan dengan baik;
7) Seluruh mahasiswa PBSI, khususnya kelas C angkatan 2010,
terimakasih atas pengalaman dan pembelajaran berharga yang penulis
dapatkan selama ini;
8) Aris Fadilah, Deby Rachma Rizka, Nisa Kurniasih, Rizka Amalia
Sapitri, Widia Cahya Pratami, Ajeng Rosmala, Siti Halimatussadiah,
Anggi Pramesti. Terimakasih telah mundukung, mengingatkan,
membantu, menyemangati penulis dalam proses pembuatan skripsi;
9) Serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Semoga semua bantuan, dukungan, dan partisipasi yang diberikan
kepada penulis, mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Amin.
pembaca, dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua,
khususnya bagi para pembaca.
Jakarta, 21 November 2014
B. Identifikasi Masalah ...................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ..................................................... 4
D. Perumusan Masalah ...................................................... 5
E. Tujuan Penelitian .......................................................... 5
F. Manfaat Penelitian ........................................................ 5
G. Sistematika Penulisan ................................................... 5
A. Pragmatik ...................................................................... 7
4. Konteks ................................................................... 15
B. Sastra .............................................................................. 17
e. Biografi Nh. Dini ..................................................... 23
f. Sinopsis Novel Pertemuan Dua Hati Karya Nh.
Dini ........................................................................ 25
A. Metode Penelitian.......................................................... 30
vi
A. Tabel Tuturan dalam Novel Pertemuan Dua Hati
Karya Nh. Dini .............................................................. 33
Menurut Leech pada Novel Pertemuan Dua Hati
Karya Nh. Dini .............................................................. 60
D. Implikasi Penelitian dengan Pembelajaran Bahasa
Indonesia di SMA ......................................................... 103
A. Simpulan ....................................................................... 106
B. Saran .............................................................................. 107
Lampiran 2 Lembar Uji Referensi
Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Lampiran 4 Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 5 Cover novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini
Lampiran 6 Profil Penulis
berkaitan erat dengan tindak tutur. Konteks dalam suatu tindak tutur
adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Apabila seorang mitra tutur
menafsirkan maksud dari penutur tanpa memperhatikan konteks maka
dapat dikatakan orang itu belum sepenuhnya menangkap informasi atau
tujuan apa yang disampaikan oleh penutur. Begitu pula dengan penutur,
jika ia berbicara seenaknya saja sekedar basa-basi tanpa memperhatikan
konteks, maka tujuan dari tuturan tersebut pun tidak tercapai.
Agar tercapainya tujuan penutur kepada mitra tutur maka penutur
harus memiliki kesantunan dalam berbahasa. Kesantunan bukan hal yang
asing lagi bagi masyarakat, apalagi masyarakat Indonesia yang kental akan
budaya dan adat istiadat. Kesantunan dapat berupa tindak tutur, sikap dan
sebagainya yang menggambarkan identitas diri seseorang. Maka dari itu
kesantunan merupakan hal yang sangat penting saat berinteraksi dengan
orang lain agar hubungan baik selalu terjaga. Pragmatik, dalam hal ini
kesantunan berbahasa dapat dilihat dari karya sastra, misalnya novel.
Sastra merupakan karya lisan ataupun tulisan yang
menggambarkan, dan membahas segala macam kehidupan manusia.
Kehidupan dalam sastra dibangun oleh tema, penokohan, alur cerita, latar
maupun gaya bahasa pengarang dalam penciptaannya. Bahasa yang
digunakan pada sastra pun bukan bahasa sehari-hari, tapi bahasa yang
memiliki ciri khas, ciri khas tersebut diciptakan oleh para pengarang agar
menambah keindahan dari karya sastra yang dihasilkan.
Novel berisi tentang gambaran kehidupan sehari-hari yang
biasanya diangkat dari realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Ide-ide
yang pengarang ekspresikan dalam karyanya tidak dapat dipisahkan dari
situasi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, pengalaman, kejadian,
2
menciptakan karya sastra berupa novel.
Totalitas ekspresi pengarang yang dituangkan dalam karyanya
yang berupa novel menjadi lebih hidup karena disisipkan interaksi antar
tokoh dalam suatu konteks atau situasi kehidupan sehari-hari. Konteks
atau situasi kehidupan sehari-hari pada novel biasanya berkaitan dengan
masalah pendidikan, percintaan, kemiskinan, kekuasaan, kekeluargaan,
dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, novel dapat dikaji menggunakan ilmu
pragmatik tentang kesantunan berbahasa karena terdapat interaksi antar
tokoh dengan konteks atau situasi seperti pada kehidupan sehari-hari.
Aspek kesantunan sangat penting saat berinteraksi dengan lawan
tutur. Apalagi pada dunia pendidikan, aspek kesantunan memiliki peran
penting dalam kemampuan berbahasa siswa. Hal tersebut berkaitan dengan
buku yang digunakan dalam pengajaran terutama pada pelajaran Bahasa
Indonesia. Pada siswa SMA kelas XI terdapat pelajaran tentang
“menceritakan isi novel”, maka dapat dijadikan media untuk siswa
mendapatkan pengajaran kesantunan. Siswa dapat mengetahui kesantunan
dari buku yang bahasanya santun, dan memiliki amanat yang bermanfaat
bagi kehidupan siswa.
Hati karya seorang pengarang wanita bernama Nh. Dini. Novel ini
bertema tentang kehidupan guru sekolah dasar yang mengalami konflik
batin dengan siswa, dan keluarganya. Walaupun novel ini bukan novel
yang baru, karena cetakan pertamanya tahun 1986, namun konflik yang
terkandung dalam novel ini masih menarik pada era modern ini yaitu
masalah pada dunia pendidikan, keprofesionalan guru yang dipertaruhkan.
Sekilas tentang novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini
menceritakan tentang kehidupan guru Sekolah Dasar yang bijak, dan
sepenuh hati dalam menjalankan tugasnya. Ia menjadi guru baru di suatu
sekolah dasar, ada siswa yang menarik perhatiannya bernama Waskito.
Waskito merupakan murid yang nakal. Hati bu Suci pun tergerak untuk
3
menyelesaikan masalah Waskito, dan ingin membantu membimbingnya
agar menjadi anak yang lebih baik. Namun, disaat yang bersamaan anak
kedua bu Suci dinyatakan menyidap penyakit ayan oleh dokter, maka
harus dijaga dan tidak boleh beraktivitas. Bu Suci pun merasa ingin di
kelas untuk mengetahui perkembangan Waskito, namun di sisi lain dia
harus mengantar anaknya ke rumah sakit. Karena bu Suci tidak memiliki
informasi yang cukup tentang Waskito, akhirnya ia memutuskan untuk ke
kediaman kakek, dan nenek Waskito. Di sana bu Suci mendapatkan
informasi, bahwa Waskito sebenarnya bukanlah anak nakal hanya saja
orangtuanya salah mendidiknya. Dari situ bu Suci mulai mendekati
Waskito, ia membuat Waskito lebih dianggap ada keberadaannya oleh
teman-teman sekelasnya. Waskito dipercayakan oleh bu Suci melakukan
hal-hal yang sebelumnya belum pernah ia lakukan, termasuk
mengantarkan makanan kepada anak bu Suci yang sedang di rumah sakit.
Di akhir cerita, Waskito berhasil menjadi anak yang baik, dan dapat naik
kelas.
karya Nh. Dini, sehingga penulis tertarik memilih novel ini sebagai
sumber penelitian. Perjuangan seorang guru untuk muridnya sangat
terlihat pada novel ini. Selain isi dari novel ini peneliti pun tertarik karena
pengarang novel ini adalah Nh. Dini, seorang sastrawan wanita yang
berjaya pada masanya. Novel ini pun bisa menjadi bahan bacaan siswa
pada pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA dalam materi yang
membahas novel. Maka dari itu peneliti memilih judul Prinsip
Kesantunan “Berbahasa Menurut Leech Pada Novel Pertemuan Dua
Hati Karya N.H Dini dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran
Bahasa Indonesia di SMA”.
beberapa masalah sebagai berikut.
2. Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran bahasa.
3. Keterbatasan kemampuan siswa dalam memahami kesantunan
berbahasa.
6. Tindak tutur tidak hanya terjadi pada karya sastra.
C. Pembatasan Masalah
agar permasalahan yang akan diteliti lebih terarah dan tidak menyimpang
dari masalah yang diterapkan. Peneliti lebih berfokus pada prinsip
kesantunan menurut Leech pada novel Pertemuan Dua Hati karya Nh.
Dini yang diimplikasikan terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di
Sekolah Menengah Atas.
D. Perumusan Masalah
diperlukan rumusan masalah dalam suatu penelitian. Adapun rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana prinsip kesantunan
berbahasa menurut Leech pada novel Pertemuan Dua Hati karya N.H Dini
dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Menengah Atas?
tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan prinsip kesantunan
5
berbahasa menurut Leech dalam novel Pertemuan Dua Hati karya Nh.
Dini dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Menengah Atas.
terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas.
Manfaat praktis
yang ingin meneliti hal yang sama dengan penelitian ini.
G. Sistematika Penulisan
dalam lima bab, yaitu:
tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah,
pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
pengertian novel, jenis-jenis novel, unsur intrinsik dan
ekstrinsik novel, biografi Nh. Dini, sinopsis novel
Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini, pengertian
pragmatik, kesantunan, prinsip kesantunan Leech,
penelitian relevan, serta implikasi penelitian dengan
pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA.
BAB III : Metodologi Penelitian
6
gambaran umum prinsip kesantunan berbahasa dalam
novel Pertemuan Dua Hati karya Nh. Dini serta deskripsi,
data, analisis data dan interpretasi data.
BAB V : Penutup
saran.
7
Menurut Leech pada tahun 1983, fonologi, sintaksis dan semantic
merupakan bagian dari tata bahasa atau gramatika, sedangkan pragmatik
merupakan bagian dari pengunaan tata bahasa (language use). 1 Telah banyak
ahli yang mendefinisikan pengertian pragmatik. Istilah pragmatik berasal dari
pragmatika diperkenalkan oleh Charles Moris (1938). 2 Dalam sumber lain
dikatakan pula, :… pragmatik adalah tindakan aliran struktural yang
berkonteks, dan yang pada hakikatnya ada karena digunakan di dalam
komunikasi. 3
Pragmatik adalah telaah umum tentang cara kita menafsirkan kalimat
dalam suatu konteks (unsur waktu dan tempat mutlak dituntut oleh suatu
ujaran). 4 Menurut Heatherington (1980:155), pragmatik adalah ilmu yang
menelaah mengenai ucapakan-ucapan khusus dalam situasi-situasi tertentu dan
memandang performasi ujaran sebagai suatu kegiatan sosial yang ditata oleh
aneka ragam konvensi sosial. 5 Pragmatik adalah studi tentang makna dalam
hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations). 6 Menurut Ninio
dan Snow pada tahun 1998 dan Verschueren pada tahun 1999, pragmatik
adalah studi tentang penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan orang lain
dalam masyarakat yang sama. 7
Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan pragmatik adalah ilmu
yang merupakan bagian dari linguistik, meneliti ujaran yang memiliki konteks
dan digunakan dalam berkomunikasi. Cara penutur menafsirkan kalimat dalam
1 Kunjana Rahardi, Sosiopragmatik, (Yogjakarta: Penerbit Erlangga, 2009), h.20.
2 Fatimah Djajasudarma, Wacana dan Pragmatik (Bandung: PT Refika Aditama, 2012),
h.60.
3 Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa: Menyibak Kurikulum
1984 (Yogyakarta: Kanisius, 1990), h.16.
4 Hindun, Pragmatik untuk Perguruan Tinggi (Depok: Nofa Citra Mandiri, 2012), h.3.
5 Ibid., h. 3.
6 Geoffrey Leech, Prinsip-Prinsip Pragmatik, Terj. Dari The Principles Of Pragmatics oleh
M. D. D. Oka, (UI-Press, 2011), h.8.
7 Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia,
(Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 264.
8
suatu konteks bergantung pada tanda yang melibatkan unsur waktu dan tempat
yang digunakan setiap ujaran.
orang lain dapat menerima dan tidak menyakiti perasaannya. Sedangkan Yule
menyatakan bahwa kesantunan adalah usaha mempertunjukan kesadaran yang
berkenaan dengan muka orang lain. Kesantunan dapat dilakukan dalam situasi
yang bergayut dengan jarak sosial dan keintiman. 8 Selanjutnya, Baryadi
dalam PELBBA 18 mengartikan kesantunan sebagai salah satu wujud
penghormatan seseorang kepada orang lain. 9
Berdasarkan pemaparan para ahli di atas, kesantunan adalah suatu usaha
pola penyampaian pesan dengan menjaga perasaan mitra tutur dengan
menghomati mitra tutur agar tidak menyakiti perasaannya dalam situasi
tertentu. Cara penghormatan guna menjaga perasaan mitra tutur dilakukan
dengan menjaga bahasa yang digunakan dalam berinteraksi, tidak asal bicara
dan menyampaikan ujaran dengan bahasa yang sopan.
3. Prinsip Kesantunan Menurut Leech
Prinsip kesantunan yang dianggap paling lengkap adalah prinsip
kesantunan menurut Leech pada tahun 1983. Prinsip kesantunan ini dituangkan
dalam enam maksim.
Kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan
interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucaapan mitra tuturnya.
Selain itu, maksim juga disebut sebagai bentuk pragmatik berdasarkan prinsip
kerja sama dan prinsip kesantunan. Berikut ini enam maksim yang merupakan
prinsip kesantunan menurut Leech:
8 George Yule dalam buku Hindun, “Pragmatik untuk Perguruan Tinggi”, (Depok: Nofa
Citra Mandiri, 2012), h. 67.
9 Yassir Nasanius (peny.), PELBBA 18:Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan
Budaya Atmajaya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), h.101.
9
Kurangi kerugian orang lain, tambahi keuntungan orang lain.
Contoh:
Ibu : Ayo dimakan bakminya! Di dalam masih banyak, kok.
Rekan Ibu : Wah, segar sekali. Siapa yang memasak ini tadi, Bu?
Informasi Indeksal: Dituturkan oleh seorang ibu kepada teman dekatnya pada
saat ia berkunjung ke rumahnya.
Kalau dalam tuturan penutur berusaha memaksimalkan keuntungan orang
lain, maka mitra tutur harus pula memaksimalkan kerugian dirinya, bukan
sebaliknya.. Bandingkan pertuturan (25) yang mematuhi maksim
kebijaksanaan dan petuturan (26) yang melanggarnya.
(25) A: Mari saya bawakan tas Bapak!
B: Jangan, tidak usah!
2) Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)
Menurut Leech dalam The Principles Of Pragmatics, maksim
kedermawanan mengacu pada, “Minimize benefit to self: maximize cost to
self.” 11
Contoh:
Bapak B : Pakai oliku juga boleh. Sebentar, saya ambilkan dulu!
Informasi Indeksal: Dituturkan oleh seseorang kepada tetangga dekatnya di
sebuah perumahan ketika mereka sedang sama-sama merawat mobil masing-
masing di garasi. 12
10 Abdul Chaer, Kesantunan Berbahasa, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 57.
11
Geoffrey Leech, The Principles Of Pragmatics (London and New York: Longman, 1989), h. 133.
10
peserta pertuturan untuk memaksimalkan kerugian diri sendiri dan
meminimalkan keuntungan diri sendiri. Tuturan (27) dan (28) dipandang
kurang santun bila dibandingkan dengan tuturan (29) dan (30).
(27) Pinjami saya uang seratus ribu rupiah!
(28) Ajaklah saya makan di restaurant itu!
(29) Saya akan meminjami Anda uang seratus ribu rupiah.
(30) Saya ingin mengajak Anda makan siang di restaurant.
Tuturan (27) dan (28) serasa kurang santun karena penutur berusaha
memaksimalkan keuntungan untuk dirinya dengan mengusulkan orang lain.
Sebaliknya tuturan (29) dan (30) serasa lebih santun karena penutur berusaha
memaksimalkan kerugian diri sendiri. 13
3) Maksim Penghargaan (Approbation Maxim)
Menurut Leech pada The Princiles Of Pragmatics, approbation maxim adalah
sebagai berikut.
Minimize dispraise of other; maximize praise of other. An unflattering subtitle
for the Approbation Maxim would be „the Flattery Maxim – but the term
„flattery is generally reserved for insincere approbation. In its more important
negative aspect, this maxim says „avoid saying unpleasant things about others,
and more particulary, about h. Hence whereas a compliment like What a
marvelous meal you cooked! Is highly valued according to the Aprobation
Maxim, †What an awful meal you cooked! Is not. 14
Approbation maxim yang telah dijelaskan di atas berarti kurangi cacian pada
orang lain, tambahi pujian pada orang lain. Approbatin maxim bisa diberi nama
lain, namun kurang baik, yaitu, Maksim Rayuan‘ – tetapi istilah rayuan‘
biasanya digunakan untuk pujian tidak tulus. Pada approbation maxim, aspek
negatif yang paling penting, yaitu jangan mengatakan hal-hal…