of 31/31
1 Laporan Fakta dan Analisis POTENSI DAN PERMASALAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN 4.1 ANALISIS KEDUDUKAN DAN PERAN KAWASAN DALAM SISTEM MAKRO 4.1.1 Kedudukan dalam Aspek Fisik dan Lokasi Kedudukan dalam aspek fisik dan lokasi menyangkut posisi wilayah Kawasan Perencanaan dalam konteks Kecamatan kediri , Kabupaten Tabanan, dan Propinsi Bali. Kedudukan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : o Lokasi wilayah Perencanaan terletak di Kecamatan kediri , bagian barat wilayah Kabupaten Badung dan terletak lintasan jalur utama pergerakan regional antar propinsi dan antar kabupaten ,saat ini dibagian utara. o Dengan adanya perencanaan jalan tol atau arteri primer tanah – lot soka (di selatan ) dan jalan canggu – Beringkit – Purnama yang memutar di sisi timur wilayah kecamatan , maka Kecamatan Kediri akan dikeliling jalan arteri primer sehingga seluruh wilayah di masa datang akan memiliki aksesbilitas tinggi. o Secara geografis Wilayah Kecamatan Kediri terletak antara diantara kota Tabanan dan Kawasan Ibukota Kabupaten Badung (Kawasan Mengwi – Sempidi ) dan Kota Denpasar dan merupakan kawasan hinterland kota – kota tersebut , sehingga menjadi cadangan pengembangan kegiatan perkotaan terutama pada kawasan sepanjang jalur – jalur utama yana menghubungkan pusat – pusat pelayanan tersebut. o Secara fisik , sebagian Wilayah Perencanaan berada pada kemiringan yang landai antara 0 – 8% , dengan ketinggian 0-100 Pangkung Tibah,Belalang,Pandak Gede,Bengkel dan Nyitdah Page 1

Potensi Dan Permasalahan

  • View
    129

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of Potensi Dan Permasalahan

POTENSI DAN PERMASALAHANPENGEMBANGAN KAWASAN

4.1ANALISIS KEDUDUKAN DAN PERAN KAWASAN DALAM SISTEM MAKRO 4.1.1Kedudukan dalam Aspek Fisik dan LokasiKedudukan dalam aspek fisik dan lokasi menyangkut posisi wilayah Kawasan Perencanaan dalam konteks Kecamatan kediri , Kabupaten Tabanan, dan Propinsi Bali. Kedudukan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : Lokasi wilayah Perencanaan terletak di Kecamatan kediri , bagian barat wilayah Kabupaten Badung dan terletak lintasan jalur utama pergerakan regional antar propinsi dan antar kabupaten ,saat ini dibagian utara. Dengan adanya perencanaan jalan tol atau arteri primer tanah lot soka (di selatan ) dan jalan canggu Beringkit Purnama yang memutar di sisi timur wilayah kecamatan , maka Kecamatan Kediri akan dikeliling jalan arteri primer sehingga seluruh wilayah di masa datang akan memiliki aksesbilitas tinggi. Secara geografis Wilayah Kecamatan Kediri terletak antara diantara kota Tabanan dan Kawasan Ibukota Kabupaten Badung (Kawasan Mengwi Sempidi ) dan Kota Denpasar dan merupakan kawasan hinterland kota kota tersebut , sehingga menjadi cadangan pengembangan kegiatan perkotaan terutama pada kawasan sepanjang jalur jalur utama yana menghubungkan pusat pusat pelayanan tersebut. Secara fisik , sebagian Wilayah Perencanaan berada pada kemiringan yang landai antara 0 8% , dengan ketinggian 0-100 meter ,masih termasuk kawasan dataran rendah ,dengan lahan yang subur merupakan kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan budaya. Pemanfaatan ruang wilayah Kecamatan Kediri saat ini berada pada komposisi 19,24 % lahan terbangun dan 80,76 % lahan terbuka , dengan dominasi lahan sawah 53,51 % dan kebun 18,33 % sehingga masih menyisakan cadangan pengembangan yang cukup luas yang sesuai fungsi dan potensi yang dimiliki , namun tetap dalam kerangka pengembangan sesuai kebutuhan. Kawasan perencanaan merupakan salah satu pemasok produksi pertanian lahan basah (beras) di Kabupaten Tabanan ,sehingga untuk mempertahankan fungsi ini ,lahan lahan pertanian diupayakan tetap dapat dipertahankan terutama lahan sawah beririgasi dengan produkstivitas yang tinggi dan mempunyai pemandangan indah.

4.1.2. Kedudukan Dalam Aspek Ekonomi Kedudukan dalam aspek ekonomi menyangkut potensi ekonomi serta kontribusi sektor perekonomian yang dihasilkan terhadap perekonomian Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan dan Propinsi Bali. Kedudukan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : Telah diuraikan sebelumnya bahwa struktur perekonomian Kawasan Perencanaan masih didominasi sektor primer yaitu 43 %, sektor sekunder 21 % dan tersier 36 %. Kondisi ini meyiratkan bahwa sektor primer masih dominan tetapi ada kecenderungan makin seimbangnya struktur perekonomian karena bila sektor produksi (sekunder) dan tersier dijumlahkan, melebihi sektor primer. Dengan demikian wilayah Kawasan Perencanaan berpotensi secara perlahan berubah menjadi Kawasan dengan ciri ekonomi Perkotaan. Struktur ekonomi yang terjadi, di sisi lain peran Kawasanan Perencanaan sebagai pemasok produksi pertanian yang masih dominan di Kecamatan kediri dan Kabupaten Tabanan tetap harus dipelihara, sehingga dibutuhkan sinergi pengelolaan kawasan yang tetap menunjang potensi ekonomi perkotaan dengan tetap mempertahankan aktivitas pertanian terutama kegiatan pertanian lahan basah. Kedudukan Kawasan Perencanaan dari sektor Pertanian dan Perindustrian cukup besar dalam konteks Kecamatan Kediri, namun hal ini tetap diberi peran sesuai potensi yang dimiliki. Dengan dibangunnya terminal regional Mengwi, diperkirakan sektor angkutan dan transportasi beserta ikutannya seperti perdagangan dan jasa penunjangnya akan memberikan sumbangan kegiatan perekonomian baru terhadap Kawasan Perencanaan, Kecamatan kediri, Kabupaten Tabanan maupun Propinsi Bali. Posisi Kawasan Perencanaan yang cukup strategis merupakan alternatif utama pengembangan perumahan baru untuk melayani penduduk yang bekerja di Kawasan Perkotaan Sarbagita maupun di Kawasan-kawasan Pariwisata. Berkembangnya permukiman akan diikuti oleh pertumbuhan jasa penunjangnya seperti peradagangan, jasa dan angkutan.

4.1.3. Kedudukan dalam Aspek Pelayanan Fasilitas dan Infrastruktur Kedudukan dalam aspek pelayanan Fasilitas dan Infrastruktur menyangkut fungsi dan peran Kawasan Perencanaan terhadap hirarki pelayanan kepada masyarakat di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan maupun Propinsi Bali. Kedudukan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : Pada wilayah perencanaan dalam RDTR serta RTRW Kabupaten Badung direncanakan adanya pusat perdagangan regional. Pemenuhan fungsi ini sedapatnya mampu menyatu dan terintegrasi dengan fungsi-fungsi regional terutama posisinya yang harus berada pada jalan-jalan yang berfungsi arteri atau kolektor primer dan mudah dijangkau dari seluruh wilayah Kabupaten Badung.

4.1.4. Kesimpulan Arahan Fungsi dan Peran Kawasan Berdasarkan analisis kedudukan dan peran di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa arahan peran dan fungsi Kawasan Perencanaan dalam konteks makro adalah : Sebagai Kawasan Pertanian Sebagai Kawasan Permukiman

4.2. PROYEKSI JUMLAH PENDUDUKDalam perencanaan pembangunan pembangunan diperlukan data kependudukan untuk meng-estimasi jumlah penduduk dimasa mendatang ,sehingga dapat diperkirakan kebutuhan akan jumlah sarana dan prasarana pendukung kehidupan .Proyeksi penduduk dilakukan sesuai jangka waktu rencana yaitu 20 tahun dari tahun 2009 sampai dengan 2028 .Proyeksi penduduk menggunakan rumus linear yang didasarkan pada pertumbuhan bunga berbunga dan rumus yang dimaksud adalah :

Rumus linier : Pt = Po ( 1 + r) t

Pt: Jumlah penduduk pada tahun tPo: Jumlah penduduk pada awal tahunR: angka pertumbuhan pertahun dalam %T:waktu dalam tahun

Laporan Fakta dan Analisis19

Pangkung Tibah,Belalang,Pandak Gede,Bengkel dan NyitdahPage 19

NoDesaLaju pdd (%thn)Jml PddProyeksi Jumlah Penduduk (Jiwa)

200620082009201020112012201320142015201620172018

1Pangkung Tibah1,031.2561.2821.3221.3631.4061.4501.4951.5411.5901.6391.6901.743

2Belalang0,662.3602.3912.4382.4872.5362.5862.6372.6902.7432.7972.8532.909

3Pandak Gede1,564.9135.0675.3085.5615.8256.1026.3926.6967.0147.3477.6968.062

4Bengkel0,462.2242.2452.2762.3082.3402.3732.4062.4392.4742.5082.5432.579

5Nyitdah0,373.7583.7863.8283.8703.9133.9574.0014.0454.0904.1354.1814.228

Tabel 4.1 (a)Proyeksi Jumlah Penduduk Kawasan Perencanaan(2009-2028)

Tabel 4.1 (b)Proyeksi Jumlah Penduduk Kawasan Perencanaan(2009-2028)

NoDesaLaju pdd (%thn)Jml PddProyeksi Jumlah Penduduk (Jiwa)

200720192020202120222023202420252026202720282029

1Pangkung Tibah1,031.2561.7971.8161.8351.8541.8731.8921.9111.9311.9511.9711.991

2Belalang0,662.3602.9672.9853.0063.0253.0453.0653.0853.1053.1263.1463.167

3Pandak Gede1,564.9138.4458.5778.7118.8478.9859.1259.2679.4129.5599.7089.859

4Bengkel0,462.2242.6152.6272.6392.6512.6632.6762.6882.7012.7132.7262.738

5Nyitdah0,373.7584.2754.2904.3064.3224.3384.3544.3704.3864.4024.4194.435

4.3 ANALISIS KEMAMPUAN LAHANKemampuan lahan adalah parameter yang menunjukkan daya dukung suatu bentang lahan terhadap pemanfaatan ruang atau penggunaan lahan yang ada di atasnya, dimana daya dukung tersebut diwakili oleh kombinasi karakteristik fisik ruang berupa: topografi, kendala dan limitasi yang berasal dari bentang permukaan lahan, kondisi geologis, hidrologi dan drainase atau pengaliran permukaan, dan pemanfaatan air baku. Kajian atas kemampuan lahan akan menununjukkan jenis pemanfaatan ruang atau penggunaan lahan yang mampu diakomodasi oleh karakteristik masing-masing aspek di atas.Berikut ini diuraikan gambaran atas kemampuan lahan dalam kaitannya dengan aspek-aspek tersebut, yang selanjutnya dapat di-Superimpose untuk menghasilkan informasi tentang kesesuaian lahan.A. TopografiKawasan perencanaan berada pada ketinggian 25 s/d diatas 123 meter dpl. Topografi kawasan didominasi kemiringan 0 2 %. Kemiringan lahan 0-2 % merupakan lahan yang cukup baik untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan permukiman seperti perumahan, perkantoran, perdagangan, jalan raya dan lain-lain. Dengan demikian, maka pada dasarnya dari sisi kemiringan, kawasan perencanaan layak untuk dikembangkan untuk berbagai kegiatan budidaya.Seperti yang sudah dijelaskan salah satu parameter untuk mengukur lahan potensial kawasan terbangun adalah topografi, yang meliputi kelerengan dan morfologi. Kawasan perencanaan memiliki luas 1340 Ha atau 23,8 % dari luas wilayah Kecamatan Kediri (5.630 Ha) dan 1,67 % dari luas wilayah Kabupaten Tabanan (83.933 Ha). Ditinjau dari segi kemiringan dan keadaan permukaan lahan kawasan perencanaan terdiri dari :a. Lahan dengan kemiringan 0-2% mempunyai permukaan yang datar.

Dengan keadaan topografi dan geomorfologi seperti diuraikan di atas, hal tersebut sangat mendukung pengembangan kawasan untuk kegiatan budidaya.

Dalam kaitannya dengan pemanfaatan ruang, pada dasarnya setiap kegiatan mempunyai persyaratan topografis yang berbeda, dimana hal ini dapat diuraikan sebagai berikut : Kemiringan lahan 0-15% merupakan lahan yang sangat baik untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan permukiman seperti perumahan, perkantoran, perdagangan, jalan raya dan lain-lain. Dalam kategori Kesesuaian Lahan, kondisi ini masuk dalam kualifikasi Kawasan Potensial. Kemiringan lahan 15-25% masih cukup layak untuk kegiatan perkotaan pada umumnya, meskipun memerlukan biaya pembangunan yang relatif mahal. Dalam kategori Kesesuaian Lahan, kondisi ini masuk dalam kualifikasi Kawasan Potensial.

Kemiringan lahan 25-40% cocok untuk penggunaan lahan rekreasi, bangunan khusus, industri dan pertanian. Dalam kategori Kesesuaian Lahan, kondisi ini masuk dalam kualifikasi Kawasan Potensial.

Kemiringan lahan >40% memerlukan biaya yang sangat besar untuk pengembangan kegiatan permukiman dengan resiko kerusakan lingkungan yang tinggi. Dalam kategori Kesesuaian Lahan, kondisi ini masuk dalam kualifikasi Kawasan Manfaat Bersyarat dan Kawasan Limitasi.Kesesuaian untuk penggunaan lahan berdasarkan kemiringan lereng (slope) adalah diuraikan pada standar pada tabelberikut.

NoGuna LahanKemiringan (%)

0-23-56-1011-1516-30> 30

1Rekreasi Umum

2Bangunan Terhitung

3Kegiatan Kota Umum

4Jalan Kota

5Perumahan

6Pusat Perdagangan

7Jalan Raya

8Sistem Septik

9Lapangan Terbang

10Jalan Kereta Api

B.Kendala dan LimitasiKendala dan limitasi adalah suatu kondisi fisik yang sama sekali tidak dapat dikembangkan berdasarkan pertimbangan dan ketentuan ekologis, serta suatu kondisi non-fisik yang menghalangi pengembangannya berdasarkan pertimbangan dan ketentuan, misalnya adat, agama dan kearifan lokal yang berlaku. Kawasan semacam ini yang dalam pengertian kesesuaian lahan termasuk dalam kategori Kawasan Limitasi dan Kawasan Manfaat Bersyarat. Berdasarkan pengamatan atas kawasan perencanaan, kendala dan limitasi tersebut adalah adanya 1) wilayah Aliran Sungai dimana pembangunan yang akan dilakukan tidak boleh mengganggu fungsi ekologisnya, dan 2) tempat-tempat suci seperti misalnya pura yang memiliki kawasan radius kesucian tertentu. Konservasi merupakan peruntukan yang menjadi kendala pengembangan lahan, di mana pada umumnya kawasan konservasi ditetapkan pada kawasan yang memiliki peranan ekologis sangat tinggi, seperti misalnya kawasan hutan yang menjadi tangkapan air, kawasan sepanjang aliran sungai yang rawan pengikisan tanah dan pendangkalan, dan sejenisnya. Khusus wilayah aliran sungai, Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Kawasan Konservasi menyebutkan bahwa wilayah sepanjang 20 meter dari kedua tepi sungai dimanfaatkan sebagai sempadan sungai untuk keperluan konservasi dimana kemungkinan pengikisan tepian sungai (pelongsoran) dan pendangkalan kedalaman sungai akan dapat dicegah. Untuk membatasi perkembangan kawasan terbangun ke arah sungai, maka dibangun jalan inspeksi di sepanjang sungai tersebut, di mana pembangunan pada kawasan antara jalan dengan wilayah aliran sungai merupakan kawasan yang bebas bangunan.Kawasan suci pura atau bangunan/tempat suci lainnya juga merupakan kawasan konservasi yang penetapannya didasarkan atas Bhisama atau peraturan adat yang mengaturnya.C.HidrologiKondisi dan keberadaan sungai, genangan permanen dan sejenisnya perlu diketahui untuk dilihat kelayakannya sebagai sarana drainase atau pengeringan aliran permukaan tanah. Mengingat potensi hidrologis dan pengaliran air permukaan tersebut, maka lahan-lahan yang memiliki kandungan aspek tersebut diatas perlu dipertahankan keberadaannya, sehingga dalam kategori Kesesuaian Lahan, lahan semacam ini masuk dalam kategori Kawasan Limitasi dan Kawasan Manfaat Bersyarat.

Sedangkan air tanah sebagai sumber air baku mensyaratkan pemanfaatan air tanah dangkal (0-5m) sebagai kategori yang paling mendapatkan prioritas untuk dipertimbangkan dalam pengembangan lahan. Air hujan merupakan salah satu sumber air baku yang sangat penting, oleh karena itu tingkat curah hujan perlu diketahui dan digunakan dalam menentukan kelayakan lahan. Dari data yang diperoleh dapat diketahui besar curah hujan tahunan pada kawasan perencanaan sebesar 2000-3000 mm/tahun.

D.GeologiJenis tanah dan batuan dapat digambarkan melalui penjelasan butir-butir berikut ini : Kemantapan:mantap (sifat fisiknya mantap, dengan stabilitasagregat yang cukup baik) Kekerasan:liat Fraksi :sedang (pasir dan lempung) Lapisan top soil:tebal (di atas 90 cm)

Dari segi geologi kawasan perencanaan terdiri dari formasi kwarter di bentuk oleh endapan lahan Buyan, Beratan dan Batur. Kesemuanya mempunyai tingkat kepekaan relatif kecil terhadap erosi. Walaupun demikian, pengembangan kawasan diarahkan untuk tetap mengantisipasi kerusakan lingkungan seperti halnya pada daerah aliran sungai.

Secara umum, karakteristik topografi Wilayah Perencanaan adalah : Kestabilan lereng: stabil Drainase: baik Erosivitas: sedang Tingkat bahaya bencana alam: tidak rawan Ketersediaan air tanah: baik

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Kawasan Perencanaan sebagian besar merupakan Kawasan Potensial untuk pengembangan berbagai Kawasan/Kegiatan Budidaya pertanian atau non pertanian. Kawasan Limitasi berupa Kawasan Lindung hanya terdapat pada kawasan-kawasan tertentu di jurang danketentuan jalur hijau serta kawasan pertanian lahan sawah yang subur yang merupakan kawasan Limitasi atau Manfaat Bersyarat. 4.2.2.Analisis Kesesuaian LahanKesesuaian lahan adalah suatu parameter yang menunjukkan kompatibilitas suatu lahan terhadap penggunaan terbangun dan tidak terbangun. Dengan mengukur kesesuaian lahan suatu kawasan, akan dapat diketahui ruang-ruang yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan fisik dalam mewadahi kehidupan dan penghidupan manusia penghuninya, serta dapat diketahui ruang-ruang yang lebih tepat diberikan peran untuk melindungi lingkungan hidup manusia dalam konteks lokal kawasan perencanaan dan regional.

Didasarkan atas uraian tersebut diatas, peta yang digunakan untuk analisa kesesuaian lahan di Kawasan Perencanaan integrasi dari berbagai pertimbangan yaitu :1. Kemampuan Fisik Lahan dalam mendukung kegiatan yang diwakili oleh Peta Kemampuan Lahan2. Kondisi Penggunaan Lahan Eksisting 3. Kawasan Lindung 4. Kebijaksanaan tentang Jalur Hijau 5. Pertimbangan Ekonomi dan Sosial Budaya 6. Arahan dan Kecenderungan Perkembangan Kegiatan Budidaya

Untuk menentukan pemanfaatan ruang dan penggunaan lahan yang relatif lebih sesuai, akan lebih mudah dilakukan dengan terlebih dahulu mengklasifikasikan kesesuaiannya dalam tiga kategori yaitu : Kawasan Potensial adalah kawasan-kawasan yang memiliki kesesuaian untuk mengakomodasi pemanfaatan ruang permukiman, kegiatan usaha, kegiatan pertanian, pariwisata, dan budidaya khusus lainnya Kawasan Manfaat Bersyarat : meliputi kawasan-kawasan yang memiliki kesesuaian untuk keperluan pemanfaatan ruang penyangga. Di mana kawasan ini berfungsi untuk menjaga dan mengamankan kawasan-kawasan preservasi dari rambahan ataupun pengaruh perkembangan kawasan budidaya. Kawasan ini dapat berupa perbukitan, sempadan sungai, serta jalur hijau Kawasan Limitasi : kawasan-kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah-budaya-adat-agama suku dan bangsa guna kepentingan pembangunan yang berkelanjutan. Menurut Dakhuri (1999), kawasan semacam ini disebut sebagai kawasan preservasi atau lindung.

Atas dasar klasifikasi tersebut, maka dianalisis masing-masing data untuk menunjang teknik analisis Superimpose untuk Kawasan Perencanaan tersebut yaitu:1. Data Kemampuan Lahan Berdasarkan analisis kemampuan lahan, dapat disimpulkan bahwa Kawasan Perencanaansebagian besar merupakan Kawasan Potensial untuk pengembangan berbagai Kawasan/Kegiatan Budidaya pertanian atau non pertanian. Kawasan yang harus dilindungi terdapat pada kawasan-kawasan tertentu di sempadan jurang dan sepanjang jalur hijau.2.Kawasan Lindung Kawasan Lindung adalah suatu kondisi fisik dan non fisik yang sama sekali tidak dapat dikembangkan berdasarkan pertimbangan dan ketentuan ekologis, serta suatu kondisi non-fisik yang menghalangi pengembangannya berdasarkan pertimbangan dan ketentuan, misalnya adat, agama dan kearifan lokal yang berlaku. Berdasarkan pengamatan kawasan tersebut terdiri dari : Kawasan Sempadan Sungai, Kawasan Sempadan Jurang dan Kawasan tempat suci dan radius kesucian pura.

3. Data Penggunaan Lahan EksisitingData penggunaan lahan eksisting merupakan kegiatan pemanfaatan ruang yang telah ada, dan dapat diasumsikan apabila tidak ada pelanggaran pemanfaatan ruang yang berarti, deliniasi pemanfaatan ruang eksisiting ini seluruhnya merupakan kawasan potensial dan tetap dipertahankan. Pelanggaran terhadap rencana tata ruang yang dapat menimbulkan permasalahan serius dapat dilakukan penyesuaian atau kawasan potensialnya berubah menjadi kawasan manfaat bersyarat. Kondisi seperti ini dapat dijumpai pada aktivitas atau penggunaan lahan untuk kegiatan villa di kawasan di tengah persawahan.4. Kebijaksanaan Pengembangan Jalur Hijau Jalur Hijau adalah suatu garis hamparan lahan yang luas dan menghijau yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sebagai kawasan yang tidak boleh dibangun. Berdasarkan Perda No. 3/1992 tentang Jalur Hijau, di Kawasan Perencanaan terdapat Pengembangan jalur hijau dilaksanakan dalam rangka mempertahankan kualitas lingkungan, tata udara, dan ruang terbuka kawasan dalam bentuk Kawasan Pertanian. Peta jalur hijau atas Perda No. 3/1992 merupakan Kawasan Penyangga atau dapat disebut sebagai Kawasan Pertanian yang tidak boleh dialih fungsi atau Kawasan manfaat Bersyarat. 5. Pertimbangan Ekonomi dan Sosial Budaya Perubahan fungsi lahan pertanian akan memberikan dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial budaya bagi masyarakat petani terutama bagi Bali secara keseluruhan. Dengan makin menyusutnya lahan kosong non pertanian lahan basah, maka beberapa spot lokasi lahan pertanian diperkirakan akan beralih fungsi untuk mendungkung kegiatan-kegiatan perkotaan. Namun diharapkan kedepan lahan yang diperuntukkan sebagai kegiatan pertanian dapat tetap betahan, maka selain memberikan pemenuhan kebutuhan akan pangan sesuai fungsi dan peran yang dimiliki, juga akan berdampak pada kelestarian social budaya masyarakat agraris dengan sistem subaknya. Aspek ini menitik beratkan pada perlindungan sawah yang subur dan produktif. Dengan demikian dilakukan upaya :a) Mempertahankan sawah yang mempunyai hasil panen atau produktivitas yang tinggi.b) Mempertahankan sawah yang mempunyai jaringan irigasi teknis, mengingat besarnya biaya yang telah dikeluarkan Pemerintah dalam pembangunan irigasi di kawasan perencanaan.c) Mempertahankan lahan pertanian dengan pemandangan alam terasering sawah yang indah, mengingat kawasan perencanaan merupakan salah satu tujuan wisata alam di Kabupaten Badung dan merupakan lintasan wisata menuju kawasan-kawasan pariwisata di Bali, yang mengandalkan keindahan panorama alam termasuk lahan-lahan pertanian dengan sistem subaknya.d) Mempertahankan sebaran sawah pada areal kemiringan dan yang mempunyai pemandangan yang indah.

6. Arah dan Kecenderungan Perkembangan Kegiatan BudidayaArah dan kecenderungan perkembangan kegiatan budidaya, merupakan hal yang perlu dipertimbangkan mengingat banyaknya fungsi-fungsi kegiatan regional yang dibebankan di Kecamatan Mengwi termasuk pada kawasan perencanaan. Keterbatasan cadangan lahan untuk alih fungsi demi mendukung fungsi tersebut di atas, harus jiuga dicarikan alternatif sehingga semua fungsi dapat berjalan secara sinergi sesuai kapasitas yang dibutuhkan. Keberadaan lokasi lahan kering, lahan perkebunan atau lahan sawah yang kurang subur yang berada pada sekitar kawasan yang telah berkembang merupakan salah satu alternatif lokasi alih fungsi untuk kegiatan pelayanan yangberfungsi regional.

Atas dasar kelengkapan data yang ada dan teknik yang dilakukan, maka secara umum Kesesuaian Lahan di Kawasan Perencanaan dapat dilihat pada gambar berikut.

4.4 ANALISIS STRUKTUR TATA RUANG KAWASAN PERENCANAANAnalisis struktur tata ruang akan merumuskan komponen komponen pembentuk struktur ruang utama yang dipandang memiliki dampak dan fungsi kegiatan relatif lebih luas dan berperan sebagai pusat pusat atau jalur jalur kegiatan yang mampu menggerakkan perkembangan wilayah. Komponen komponen utama pembentuk struktur utama tata ruang wilayah ini meliputi :1. Struktur Jaringan Jalan Utama2. Pusat pusat pelayanan permukiman3. Kegiatan Budidaya tertentu Pembangkit Utama Pergerakan

4.4.1 Analisis Struktur Jaringan Jalan UtamaAnalisis strutur jaringan jalan utama dilakukan untuk mengidentifikasi fungsi dan hirarki jalan yang ada dan akan direncanakan diwilayah perencanaaan maupun di sekitarnya .Pengenalan atas struktur jaringan jalan dan rencana yang ada akan menentukan kerangka struktur tata ruang dan penegasan pusat pusat kegiatan atau permukiman yang telah ada atau berpotensi untuk mengembangkan pusat pusat kegiatan atau permukiman yang baru.Struktur jaringan di wilayah perencanaan baik yang telah ada maupun yang direncanakan yang berpotensi membentuk struktur tata ruang wilayah kawasan perencanaan dan dapat dilihat pada tabel

NoRuas JalanFungsi JalanKeterangan dan Manfaat

1Ruas Gilimanuk - Denpasar Arteri PrimerJalan Nasional yang menghubungkan Kota Denpasar dengan ibukota Propinsi lainnya di Pulau Jawa dan NTB .Jalur Utama wilayah Kecamatan Kediri untuk berhubungan dengan Kota dan Kawasan lainya di Bali , yang telah hampir penuh kapasitasnya.

2Rencana Ruas Jalan Canggu - Beringkit - PurnamaArteri PrimerMenghubungkan antar Ibukota Propinsi sekaligus mengurangi dampak kepadatan arus lalu lintas ke Denpasar dan mengambil peran sebagai Jalan Lingkar Barat dan Utara Kawasan Metropolitan Sarbagita.Akan membelah 1 Desa di Wilayah Kecamatan Kediri (Desa Cepaka) dan menyisir Desa Kaba - Kaba dan Abiantuwung serta dekat dengan Desa Beraban, dan Buwit.Membuka aksesbilitas Kecamatan Kediri ke Wilayah Bali Bagian Timur dan Selatan lebih cepat.

3Rencana ruas Jalan Kuta -Tanah Lot -Soka (Sun set Road )Kolektor Primer 1 Fungsi menghubungkan Bandar Udara Ngurah Rai ,Nusa Dua,Kuta dengan kawasan Barat Pulau Balu dan Ke Jawa tanpa melalui Kota Denpasar .Melewati tigas desa pesisir Kecamatan Kediri (Desa Beraban ,Desa Pangkung Tibah , Desa Belalang) yang akan merangsang perubahan aktivitas kegiatan di pinggir pantai.

4Ruas Kerobokan -BerabanKolektor Primer 2Menghubungkan kawasan Kuta ,Wilayah Kecamatan Kediri bagian selatan dengan kawasan Tanah Lot dan Wilayah Kab.Tabanan lainya.

5Ruas Jalan Kediri -Tanah LotKolektor Primer 2Merupakan Jalur Utama ke Kawasan Wisata Tanah Lot dan merupakan juga jalur wisata

6Ruas Jalan Kediri-TabananKolektor Primer 2Menghubungkan wil.Kec.Kediri dengan Kawasan Pusat Kota Tabanan dan Wilayah Kabupaten Tabanan lainya.

7Ruas Kediri -Pejaten-BengkelKolektor Primer 3Menghubungkan pusat Kota Kediri dengan wilayah Kec.Kediri bagian timur (Desa Nyitdah,Pejaten,Bengkel)

8Ruas Jalan AbianTuwung-Kaba-Kaba-MungguKolektor Primer 3Menghubungkan Pusat Kota Kediri-Jalur Regional dengan Kawasan sisi Timur wilayah yaitu Desa Kaba - kaba,Nyambu,Cepaka dan Buwit.

Tabel.Jaringan Jalan Utama Pembentuk Struktur Tata Ruang Kecamatan Kediri

Sumber :Analisa Tim Penyususnan RDTRK Kediri ,20084.4.2Analisis Kawasan Perkotaan dan PerdesaanAnalisis Kawasan Perkotaan dan Perdesaan dilakukan dalam rangka mengembangkan strategi fungsi dan pemanfaatan ruang unit-unit kawasan di wilayah perencanaan. Kawasan perkotaan secara umum ditunjukkan oleh aktivitas penduduknya, dominasi penggunaan lahan non pertanian dan adanya fasilitas perkotaan lainnya.

Berdasarkan Klasifikasi dan Kriteria Kawasan Perkotaan, maka kawasan perkotaan dapat dibagi atas :a. Kawasan Perkotaan berdasarkan status pemerintahan dibedakan atas: Kawasan Perkotaan yang merupakan Daerah Kota; Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari Daerah Kabupaten, yang terdiri dari ibukota Kabupaten, Ibukota Kecamatan, termasuk Kawasan Perkotaan Baru (yaitu kawasan yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah kawasan perdesaan menjadi kawasan perkotaan sesuai keriteria kawasan perkotaan) ; Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah Otonom yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial, ekonomi, dan fisik perkotaan.

b. Kriteria Umum Kawasan Perkotaan Memiliki fungsi kegiatan utama budidaya bukan pertanian atau lebih dari 75% mata pencaharian penduduknya di sektor perkotaan; Memiliki jumlah penduduk sekurang-kurangnya 10.000 jiwa; Memiliki kepadatan penduduk sekurang-kurangnya 50 jiwa per hektar; Memiliki fungsi sebagai pusat koleksi dan distribusi pelayanan barang dan jasa dalam bentuk sarana dan prasarana pergantian moda transportasi.

c. Kriteria Kawasan Perkotaan Metropolitan Kawasan-kawasan Perkotaan yang terdapat di dua atau lebih daerah otonom yang saling berbatasan; Kawasan Perkotaan yang terdiri atas satu kota inti berstatus otonom dan Kawasan Perkotaan di sekitarnya yang membentuk suatu sistem fungsional; Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan melebihi 1.000.000 jiwa.

d. Kriteria Kawasan Perkotaan Baru Kawasan yang memiliki kemudahan untuk penyediaan prasarana dan sarana perkotaan dengan membentuk satu kesatuan sistem kawasan dengan kawasan perkotaan yang ada; Kawasan yang memiliki daya dukung lingkungan yang memungkinkan untuk pengembangan fungsi perkotaan; Kawasan yang terletak di atas tanah yang bukan merupakan kawasan pertanian beririgasi teknis dan bukan kawasan yang rawan bencana alam; Kawasan yang tidak mengakibatkan terjadinya konurbasi dengan kawasan perkotaan di sekitarnya; Kawasan yang sesuai dengan sistem perkotaan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Propinsi, dan Kabupaten; Kawasan yang dapat mendorong aktivitas ekonomi, sesuai dengan fungsi dan perannya; Kawasan yang mempunyai luas kawasan budi daya sekurang-kurangnya 400 hektar dan merupakan satu kesatuan kawasan yang bulat dan utuh, atau satu kesatuan wilayah perencanaan perkotaan dalam satu daerah kabupaten; Kawasan yang direncanakan berpenduduk sekurang-kurangnya 20.000 jiwa.

e. Kawasan Perkotaan berdasarkan jumlah penduduk diklasifikasikan menjadi : Kawasan Perkotaan Kecil, yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani sebesar 10.000 hingga 100.000 jiwa; Kawasan Perkotaan Sedang, yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani sebesar 100.001 hingga 500.000 jiwa; Kawasan Perkotaan Besar, yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani lebih besar dari 500.000 jiwa; Kawasan Perkotaan Metropolitan, yaitu Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk yang dilayani lebih besar dari 1.000.000 jiwa.

Dengan demikian Langkah pertama untuk menentukan Kawasan Perkotaan adalah Kawasan Perkotaan yang ditentukan berdasarkan Administrasi yaitu Ibukota Propinsi, Ibukota Kabupaten dan Ibukota Kecamatan. Selanjutnya akan dilihat jumlah penduduk dan pola kegiatan dari desa-desa yang berdekatan atau mempunyai keterkaitan dengan kota yang telah ada yang dapat berupa Kota yang tumbuh dari pariwisata, tumbuh dari permukiman, karena sebagai pusat transportasi, perdagangan maupun pusat pemerintahan. Berdasarkan analisis Kawasan Perkotaan dan Kawasan Perdesaan di wilayah Perencanaan yaitu :Kawasan Perkotaan : Kawasan Perkotaan pada Kawasan Perencanaan meliputi kawasan Desa Mengwi (Semi Perkotaan).

Kawasan Perdesaan : Kawasan Perdesaan pada Kawasan Perencanan meliputi Desa Werdi bhuana, Gulingan, Penarungan, dan Baha dengan Desa Pusat Pertumbuhan adalah Desa Werdi bhuana dan Desa Penarungan.4.4.3 Analisis Pusat Pusat Pelayanan dan PengembanganBerdasarkan pengamatan lapangan ,system pusat- pusat pelayanan di wilayah Kawasan Perencanaan tidak bias terlepas dengan system hirarki pusat pusat permukiman yang telah berkembang dan ditetapkan dalam RTRW Propinsi Bali,dan RTRW Kabupaten Tabanan maupun RTRW Kabupaten /Kota sekitar .Kondisi ini sangat dimungkinkan karena posisi dan bentuk wilayah Kawasan Perencanaan yang memanjang dan berada pada jantung pergerakan transportasi Propinsi Bali.Dengan demikian hirarki pusat pusat pelayanan permukiman secara makro akan terintegrasi antara pusat permukiman di Wilayah Kabupaten Tabanan dengan pusat pusat pelayanan pada wilayah yang lebih luas..

Selanjutnya hirarki pusat pusat pelayanan khusus di wilayah Kawasan Perencanaan akan tergantung pada jumlah konsentrasi penduduk dan konsentrasi kegiatan pada tiap tiap dea/kelurahan.Jumlah konsentrasi kegiatan dan digambarkan oleh perbandingan jumlah fasilitas pelayanan yang dimiliki oleh tiap desa/kelurahan relative terhadap desa/kelurahan lainya sehingga,suatu desa/kelurahan akan menjadi tujuan pergerakan dari desa lainnya untuk memenuhi kepentingan /kebutuhan tertentu.Desa/Kelurahan tersebut pada akhirnya akan menjadi atau berfungsi sebagai pusat pelayanan beberapa desa akan fasilitas tertentu.Makin banyak fasilitas yang dimiliki dikaitkan dengan kemudahan untuk mencapainya (Tingkat Aksesbilitas)akan membentuk hirarki Pusat Pusat Permukiman yang muncul secara teoritis.Berdasarkan Teknik Skalogram ,analisis hirarki pusat pusat pelayanan dapat dilihat pada table 4. Dan table 4. .Hasil analisis menunjukan bahwa urutan desa/kelurahan yang memiliki tingkat pelayanan tertinggi berturut turut adalah : Desa Banjar Anyar ,Desa Kediri dan dan Desa Abian Tuwung yang merupakan bagian dari Kawasan Perkotaan Tabanan dan berada pada lokasi jalur regional sebagai pusat pelayanan wilayah ,pusat pelayanan transportas ,pelayanan perdagangan dan jasa wilayah. Desa Beraban sebagai Desa Pertumbuhan yang memiliki Pusat Pelayanan skala beberapa Desa dengan fungsi Kawasan Pariwisata. Desa Pejaten sebagai Pertumbuhan yang memiliki Pusat Pelayanan skala beberapa Desa dengan fungsi utama Pusat Pengembangan Industri Kecil. Desa Kaba-Kaba sebagai Desa Pertumbuhan yang memiliki Pusat Pelayanan skala beberapa Desa Desa Kaba- kaba ,Pandak Bandung ,Pandak Gede merupakan desa desa yang banyak menjadi sasaran permukiman baru.

Penilaian Hirarki Pusat Pelayanan di atas ditinjau dari aspek kuantitatif,kelemahannya adalah hanya dapat menilai apa yang ada saat ini,sehingga perlu dilakukan justifikasi atau kebijaksanaan untuk mendorong pemerataan pengembangan di seluruh wilayah sesuai dengan potensi dan peluangnya.Untuk itu perlu dilakukan pendekatan dualitatif berdasakan pertimbangan letak geografis ,keterkaitan antar kota dalam lingkup wilayah yang lebih luas ,analisis kawasan perkotaan dan perdesaan yang telah dilakukan ,dan kebijaksanaan yang ada.Melihat bentuk dan posisi wilayah Kawasan Perencanaan ,maka untuk menjaga keseimbangan perkembangan perlu dilakukan atau mendorong pusat pusat pengembangan kawasan yang terletak di Kecamatan Kediri bagian timur yang agak tertinggal saat ini.

Sesuai kebijakan makro ,wilayah kecamatan Kediri merupakan wilayah Pembangunan (WP) Tabanan Tengah dengan Pusat di Kediri ,sehingga pembagian wilayah pengembangan di Kecamatan Kediri dalam system Kabupaten Tabanan merupakan Sub Wilayah Pembangunan/Pengembangan.Berdasarkan analisis pusat pusat pelayanan dan gabungan analisis kualitatif lainya,maka usulan Pusat Pusat Pengembangan atau Sub Wilayah Pembangunan di Kecmatan Kediri adalah seperti yang diuraikan pada table 4.

Tabel 4.Analisis Pusat Pusat Pengambangan(Wilayah Pembangunan/WP) Di Kecamatan Kediri

Sub Wilayah Pengembangan (SWP)Pusat SWPWilayah PelayananFungsi

1.SWP Kawasan Prkotaan KediriBanjar anyarBanjar Anyar ,Kediri,Abian Tuwung,Pandak BandungKawasan Pemerintahan Kawasan Perdagangan Kawasan Permukiman

2.SWP PejatenPejatenPejaten,Nyitdah ,BengkelKawasan Pertanian Kawasan Permukiman Kawasan Perdagangan

3.SWP Beraban BerabanSebagian (desa Beraban,Pangkung Tibah,Belalang),dan Desa Pandak GedeKawasan Pertanian Kawasan Permukiman Kawasan Perdagangan

4.SWP Kaba- KabaKaba- KabaDesa Kaba- Kaba,Cepaka,Buwit ,NyambuKawasan Pertanian Kawasan Permukiman

5.SWP Khusus Tanah LotTanah LotSebagian Desa Beraban,Desa Pangkung Tibah dan Desa Belalang (Selatan Jalan Arteri Primer Kuta -Tanah Lot -Soka)Kawasan Pariwisata

Sumber : Hasil Analisis Penyusun RDTR Kecamatan Kediri,2008

NoDesaKETERSEDIAAN FASILITAS TIAP DESAJumlah Atribut

1234567891011121314151617181920212223

1Pangkung Tibah--1221-----------16---5---4

2Belalang--1731-----------21--13---10

3Pandak Gede-16781-1------3--991119---19

4Bengkel--4511--------2--16---7-2-10

5Nyitdah--7091-----------14--159---19

TABEL 4.Perbandingan Kelengkapan Fasilitias Tiap Desa/Kelurahan di Kawasan Perencanaan Tahun 2006

Sumber :Hasil Analisis Tim Penyusun RDTR Kecamatan Kediri,2006

Keterangan :1.Jalan Arteri Primer11.Kantor Pemerintahan Skala Kabupaten21.Obyek Wisata2.Jalan Kolektor Primer12.Kantor Pemerintahan Skala Kecamatan22.Akomodasi Wisata/Hotel3.Air Bersih PDAM13.Praktek Dokter23.Pura Dang Kahyangan4.Jaringan Telepon14.Puskesmas5.Terminal15.Komplek Pertokoan6.Angkutan Umum16.Sebaran Toko7.SLTP17.Pasar8.SLTA18.Bank Umum9.Universitas/Akademi19.LPD10.Komplek Perumahan20.Sebaran Industri Kecil

TABEL 4.Hasil Skalogram Hirarki Pusat Pelayanan Di Kawasan Perencanaan Tahun 2006NoDesaKELENGKAPAN FASILITAS RELATIF ANTAR DESAJumlah AtributRanking

1234567891011121314151617181920212223

1Pangkung Tibah0,00,01,36,70,00,00,00,00,00,00,00,00,00,00,01,70,00,00,01,90,00,00,011,614

2Belalang0,00,01,86,70,00,00,00,00,00,00,00,00,00,00,02,30,00,05,61,10,00,00,017,515

3Pandak Gede0,016,77,26,70,014,30,00,00,00,00,00,07,10,00,010,720,00,05,63,40,00,00,091,67

4Bengkel0,00,04,86,70,00,00,00,00,00,00,00,04,80,00,01,70,00,00,02,60,010,00,030,613

5Nyitdah0,00,07,56,70,00,00,00,00,00,00,00,00,00,00,01,50,00,05,622,10,00,00,043,49

Sumber :Hasil Analisis Tim Penyusun RDTR Kecamatan Kediri,2006

Keterangan :1.Jalan Arteri Primer11.Kantor Pemerintahan Skala Kabupaten21.Obyek Wisata2.Jalan Kolektor Primer12.Kantor Pemerintahan Skala Kecamatan22.Akomodasi Wisata/Hotel3.Air Bersih PDAM13.Praktek Dokter23.Pura Dang Kahyangan4.Jaringan Telepon14.Puskesmas5.Terminal15.Komplek Pertokoan6.Angkutan Umum16.Sebaran Toko7.SLTP17.Pasar8.SLTA18.Bank Umum9.Universitas/Akademi19.LPD