of 21/21
PERAN DAN DINAMIKA KELOMPOK DALAM KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN (Studi Kasus di Desa Citemu Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon) SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) Pada Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah Oleh: SIPAH HOERIL MALA NIM : 14123541356 JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM (PMI) FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAKWAH (UAD) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON 2016/1437H

PERAN DAN DINAMIKA KELOMPOK DALAM KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PERAN DAN DINAMIKA KELOMPOK DALAM KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI

SOSIAL EKONOMI NELAYAN
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Pada Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)
Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah
SYEKH NURJATI CIREBON
SOSIAL EKONOMI NELAYAN
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Pada Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)
Fakultas Ushuludin Adab Dakwah
SYEKH NURJATI CIREBON
Aku persembahkan karya sederhana ini untuk orang yang sangat ku
sayangi dan cintai seluruh jiwa ragaku. Orang yang selalu menyayangiku
seumur hidupku. Orang yang selalu sabar menghadapi segala tingkahku.
Orang yang selalu mendoakan untuk kebaikanku dalam setiap sujudnya,
tanpa harus aku pinta sekalipun. Orang yang selalu melindungiku,
membimbingku, mengajariku, dan selalu mengerti keadaan dan
perasaanku tanpa perlu aku beri tahu.
Untuk orang tuaku, ibuku tersayang Ibu Fathanah dan ayahku terhebat
Bapak Sadili yang selalu mendukungku dalam setiap langkahku.
Ibuku, wanita yang sangat tegar, kuat, dan sabar dalam menghadapi
kesulitan apapun. Bahkan, pantang menyerah menghadapi badai apapun
yang menimpa anak-anaknya dan suaminya. Engkaulah pelindungku dan
kekuatanku di dunia ini. Skripsi ini salah satu bukti kekuatan dan
kesabarannya menuruti keinginan dan kehendakku.
Ayahku, sosok lelaki yang kuat dan pantang menyerah menghadapi
segala kesulitan apapun jenis masalahnya. Keberaniannya mengahadapi
segala tantangan apapun patut untuk dihargai setinggi-tingginya.
Engkaulah penopang hidupku. Tanpamu, aku tak mungkin bisa
menyelesaikan pendidikanku hingga perguruan tinggi.
Terima kasih pula kepada kakakku tersayang yang selalu bersamaku dan
menjagaku sejak kecil hingga saat ini. Ahmad Hayat Fathuroji yang
sudah menyelesaikan studinya di Universitas Paramadina dengan gelar
sajana ushuludin.
Terima kasih pula untuk semua adik-adiku yang ku sayangi, Mahmud,
Supiyati, dan Zaenal Umri.
kekuatan, sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik dan tepat
waktu. Alhamdulillah wa laa ilaha illallah waallahu akbar.
vii
Nama lengkap penulis adalah Sipah Hoeril Mala, lahir di Kuningan
tanggal 23 Maret 1994. Penulis anak kedua dari lima bersaudara, putri
dari Bapak Sadili dan Ibu Fathanah. Beralamat di Desa Sampora, RT
12/RW 04 Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Adapun riwayat pendidikan yang pernah penulis tempuh adalah :
1. Sekolah Dasar Negeri 1 Sampora di Desa Sampora pada tahun 2000-2006.
2. Madrasah Tsanawiyah di Boarding School Al-Mutawally MA pada tahun 2006-
2009.
3. Madrasah Aliyah di Boarding School Al-Mutawally MA pada tahun 2009-2012.
4. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon Fakultas Ushuluddin
Adab Dakwah Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, tahun 2012-2016.
Selain itu, selama menjadi mahasiswa penulis juga aktif di berbagai organisasi kampus,
diantaranya:
sebagai sekertaris umum pada periode 2013-2014.
2. Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuludin Adab Dakwah pada periode 2013-
2014.
3. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuludin Adab Dakwah pada
periode 2014-2015.
Selain aktif dalam organisasi kampus, selama menjadi mahasiswa, penulis juga aktif dalam
kegiatan sosial diantaranya menjadi duta sosial anak jalanan yang bina oleh dinas sosial
kota Cirebon, menjadi relawan di sekolah alternatif yang ada di Desa Citemu Kecamatan
Mundu Kabupaten Cirebon yang bernama Sekolah Bahari Citemu (SBC), dan terlibat
dalam kegiatan rumah zakat kota Cirebon.
Motto:
viii
ABSTRAK
Sipah Hoeril Mala. NIM: 14123541356, “Peran Dan Dinamika Kelompok Dalam
Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan (Studi Kasus di Desa Citemu Kecamatan Mundu
Kabupaten Cirebon)”.
tujuan yang sama. Keberadaan kelompok sosial nelayan di tengah-tengah masyarakat
memiliki peranan dan dinamika kelompok. Penelitian ini mengambil setting studi di Desa
Citemu Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon. Permasalahan yang diangkat dalam
penelitian ini adalah bagaimana peran dan dinamika kelompok sosial nelayan dalam
kehidupan sosial-ekonomi masyarakat nelayan?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan peran dan dinamika
kelompok sosial nelayan dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat nelayan. Untuk
mengidentifikasi masalah tersebut, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode obervasi atau pengamatan langsung ke lapangan, wawancara
mendalam, dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan yaitu analisis data model Miles
dan Huberman yang terdiri atas data reduction, data display, dan conclusion
drawing/verification. Validasi data menggunakan triangulasi dan member checking.
Triangulasi adalah proses penguatan bukti dari individu-individu yang berbeda, jenis data,
dalam deskripsi dan tema-tema dalam penelitian kualitatif. Member checking adalah suatu
proses dimana peneliti menanyakan pada seorang atau lebih partisipan dalam studi untuk
mengecek keakuratan dari keterangan tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kelompok sosial nelayan di Desa Citemu
terdiri atas kelompok laut, kelompok darat, dan kelompok budaya nadran. Kelompok sosial
nelayan Desa Citemu memiliki peran diantaranya pertama, kelompok sosial nelayan
sebagai wadah untuk mendapatkan akses daya dukung alat bagi masyarakat untuk
mendukung segala aktivitas nelayan seperti alat tangkap melaut, pengadaan alat bengkel
perahu, alat pemecah ombak, pembuatan alat penarik perahu, pengerasan jalan menuju
laut, dan sebagainya. Kedua, kelompok nelayan sebagai media untuk beraktualisasi diri
seperti pada acara nadran yang melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi
dalam acara tersebut. Ketiga, peran kelompok sosial nelayan sebagai wadah untuk
mencapai tujuan yang diharapkan oleh warga masyarakat. Keempat, peran kelompok sosial
nelayan sebagai media untuk memperoleh akses kekuasaan terhadap pemerintah ataupun
perusahaan. Dinamika kelompok sosial nelayan terjadi pada upaya mereka dalam
mendapatkan akses ekonomi, akses kekuasaan terhadap program PDPT dan PLTU,
kontestasi kelompok dalam arena budaya dan agama.
Kata kunci: Dinamika, Kelompok, Nelayan, Peran, Sosial
ix
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini meskipun melalui beberapa
perbaikan dan proses yang panjang. Sholawat serta salam tak lupa tercurahkan kepada
Nabi Muhammad SAW. beserta keluarga, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang
mengikuti ajarannya.
Keberhasilan dan selesainya skripsi ini tidak terlepas dari segala hambatan dan
kesulitan yang penulis hadapi. Penulis juga berterima kasih kepada mereka yang
memberikan dukungan, bantuan, dan bimbingannya. Oleh karena itu, penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Sumanta, M.Ag. selaku Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
2. Dr. Hazam, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ushuludin Adab Dakwah IAIN Syekh
Nurjati Cirebon,
3. Fuad Faizi, MA. Selaku Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam
4. Bapak A. Syatori, M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Pengembangan Masyarakat
Islam (PMI) IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
5. Bapak A. Syatori, M.Si. selaku dosen pembimbing I.
6. Rosita Tandos, M.Com.Dev. selaku dosen pembimbing II.
7. Kepada Kedua Orang Tuaku yang telah memberikan bantuan segalanya untukku.
8. Seluruh Dosen Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang telah banyak berperan dalam memberikan pembelajaran kepada
penulis.
9. Segenap Staf Akademik Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam IAIN Syekh
Nurjati Cirebon.
10. Sahabat-sahabatku di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam yang tak akan
terlupakan.
11. Seluruh mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.
Semoga hasil skripsi ini menjadi bermanfaat untuk semua pihak khususnya jurusan
Pengembangan Masyarakat Islam. Dan jika ditemukan kesalahan dan kekurangan
diharapkan sekali saran dan kritik yang membangun demi perbaikan skripsi ini. Penulis
juga memohon maaf apabila terdapat banyak hal yang kurang berkenan di hati.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
B. Rumusan Masalah................................................................................... 5
A. Kajian Literatur ....................................................................................... 8
B. Kerangka Konseptual .............................................................................. 11
2. Konsep Kelompok Nelayan ............................................................... 15
3. Konsep Masyarakat Nelayan ............................................................. 20
4. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat ........................................... 24
5. Paradigma Teori Kelompok Kecil .................................................... 27
6. Skema Kerangka Konseptual ............................................................ 28
BAB III METODOLOGI PENELITAN
C. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................. 33
D. Informan Penelitian ............................................................................... 33
E. Metode Analisis ...................................................................................... 36
F. Validasi Data ......................................................................................... 38
BAB IV Potret Kehidupan Masyarakat Nelayan Citemu
A. Ruang Sosial Nelayan .............................................................................. 40
B. Kehidupan Masyarakat nelayan............................................................... 42
D. Proses Produksi dan Distribusi Nelayan .................................................. 49
E. Peranan Istri dan Anak Nelayan ............................................................. 53
F. Kondisi Kemiskinan Nelayan Citemu .................................................... 58
BAB V Keberagaman Kelompok Sosial Nelayan Citemu
A. Kategorisasi Kelompok Sosial Nelayan .................................................. 64
1. Kelompok Laut ................................................................................. 66
2. Kelompok Darat ............................................................................... 70
B. Latar Belakang Pembentukan Kelompok Nelayan .................................. 75
C. Latar Belakang Sosial Ekonomi Kelompok Nelayan .............................. 81
BAB VI Pergulatan Kelompok Sosial Nelayan dalam Medan Persaingan
A. Optimalisasi Kelompok Nelayan dalam Akses Ekonomi ........................ 88
B. Akses Kekuasaan Kelompok Nelayan ..................................................... 91
1. Kekuasaan Kelompok Nelayan dalam Program PDPT ..................... 92
2. Kekuasaan Kelompok Nelayan terhadap PLTU ................................ 95
C. Kontestasi Kelompok Nelayan dalam Arena Nadran .............................. 97
D. Kiprah Kelompok Nelayan Kehidupan Bermasyarakat .......................... 101
E. Analisis Peran dan Dinamika Kelompok Sosial Nelayan ....................... 106
F. Kelompok Nelayan Alami ....................................................................... 113
BAB VII PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................. 117
B. Rekomendasi .......................................................................................... 119
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 121
Tabel 02: Daftar Harga Beli Perahu ......................................................................... 51
Tabel 03: Daftar Harga Alat Tangkap. ...................................................................... 51
Tabel 04: Alur Disrtibusi Hasil Tangkapan Nelayan ............................................... 52
Tabel 05 Stuktur Kelompok Kerupuk Rajungan ...................................................... 55
Tabel 06: Kategorisasi Kelompok Sosial Nelayan ................................................... 65
Tabel 07: Kelompok Nelayan di Desa Citemu ......................................................... 68
Tabel 08: Kelompok Masyarakat Pesisir .................................................................. 69
Tabel 09: Struktur Kepanitiaan Nadran 2014-2015 .................................................. 75
Tabel 10: Dinamika Kelompok Sosial Nelayan ........................................................ 112
xiii
Gambar 02: Wadong/Bubu ................................................................................... 44
Gambar 03: Garok ................................................................................................ 44
Gambar 04: Jaring ................................................................................................ 44
1
pesisir di berbagai kawasan ditandai oleh beberapa ciri, seperti kemiskinan,
keterbelakangan sosial-budaya, dan lemahnya fungsi kelembagaan sosial seperti
Kelompok Usaha Bersama (KUB), Lembaga Keuangan Mikro (LKM), atau kapasitas
berorganisasi masyarakat (Kusnadi, 2006). Beberapa hasil studi tentang masyarakat
nelayan memberikan gambaran bahwa masyarakat nelayan identik dengan kemiskinan
dan keterbelakangan, di tengah besarnya potensi perikanan yang dimiliki wilayah
pesisir, yang seharusnya dapat dikelola untuk mensejahterakan masyarakat pesisir.
Permasalahan kemiskinan yang terjadi di wilayah pesisir disebabkan oleh faktor-faktor
kompleks yang saling terkait, di antaranya para nelayan bukan saja harus berhadapan
dengan ketidakpastian pendapatan dan tekanan musim paceklik ikan, tetapi mereka
juga dihadapkan pada permasalahan sistem dan struktur ekonomi mengikat yang
membuat mereka terbelenggu dalam kemiskinan.
Masyarakat nelayan di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon
menghadapi permasalahan kemiskinan serupa di atas. Masalah kemiskinan yang
terjadi pada masyarakat nelayan Citemu selain disebabkan oleh faktor alam dan cuaca,
mereka pun dihadapkan pada permasalahan sistem dan struktur ekonomi yang
menindas karena para pemilik modal atau tengkulak mengeksploitasi 1 hasil tangkapan
para nelayan. Tengkulak mengklaim punya hak sebagai penjual ikan dari nelayan
yang meminjam uang kepadanya. Harga penjualan ikan pun ditentukan oleh tengkulak
dengan harga yang lebih rendah daripada harga pasar.
Berdasarkan penelitian dan pengamatan di lapangan, kesulitan-kesulitan yang
dihadapi oleh nelayan Desa Citemu adalah kekurangan modal untuk melaut maupun
untuk kebutuhan sehari-hari. Akibatnya para nelayan meminjam modal kepada para
pemilik modal yang kemudian menjadi tengkulak sang nelayan tersebut. Permasalahan
kekurangan modal inilah yang menjadi awal terbentuknya suatu sistem monopoli 2
tengkulak kepada nelayan. Selain itu, nelayan Desa Citemu pun kurang mendapatkan
1 Eksploitasi (dalam KBBI) adalah pemanfaatan untuk keuntungan sendiri; pemerasan (tenaga orang)
2 Monopoli (dalam KBBI) adalah situasi yg pengadaan barang dagangannya tertentu (di pasar lokal atau
nasional) sekurang-kurangnya sepertiganya dikuasai oleh satu orang atau satu kelompok, sehingga harganya
dapat dikendalikan
2
akses pendistribusian hasil tangkapan. Hal ini pun menjadi kendala para nelayan untuk
meningkatkan perekonomian mereka. Mereka hanya mengetahui bahwa penjualan
hasil tangkapan disetorkan kepada tangkulak dan bos besar atau yang disebut dengan
suplayer. Ketiadaan akses pasar yang mereka dapatkan membuat mereka pun menjadi
tergantung kepada tengkulak yakni dengan hanya menjual hasil tangkapannya kepada
tengkulak.
Kemiskinan dan kesulitan-kesulitan hidup lainnya yang dihadapi oleh nelayan
merupakan peristiwa sosial ekonomi yang selalu berulang setiap tahun atau bahkan
sepanjang tahun menimpa rumah tangga nelayan. Di samping persoalan lingkungan
pesisir dan laut, kemiskinan nelayan merupakan isu besar yang terjadi karena faktor-
faktor yang kompleks (Kusnadi, 2002: 4-12). Melihat kemiskinan di wilayah pesisir,
pemerintah pun melakukan berbagai program pemberdayaan untuk masyarakat pesisir
agar masyarakat pesisir bisa lebih sejahtera dan terbebas dari kemiskinan, baik
melalui pemberian bantuan peralatan tangkap, kemudahan akses permodalan, maupun
melalui program pemberdayaan lainnya. Beberapa program yang telah dilakukan
pemerintah di antaranya Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir
(PEMP), Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT), Program
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pantai (P2MPP) dan lain sebagainya.
Pada dasarnya, pemberdayaan masyarakat nelayan bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan sosial budaya dan ekonomi masyarakat pesisir. Untuk
mencapai tujuan ini diperlukan dukungan kualitas sumber daya manusia (SDM),
kapasitas, dan fungsi kelembagaan sosial ekonomi yang optimal dalam kehidupan
warga serta tingkat partisipasi politik warga yang tinggi (Kusnadi, 2007: 21). Kegiatan
pemberdayaan berbasis kelembagaan sosial ekonomi dan kerakyatan memiliki tujuan
untuk memperkuat eksistensi kelembagaan atau organisasi sosial-ekonomi. Organisasi
sosial ini akan mampu memainkan peranan strategis untuk menampung aspirasi
pembangunan dari masyarakat, mengelola aspirasi tersebut, serta merumuskan dan
memutuskan program-program pembangunan wilayah ke depan. Dengan adanya
organisasi sosial, seluruh potensi sumber daya sosial budaya dan ekonomi masyarakat
dapat dihimpun, dikelola, dan diberdayagunakan secara efektif untuk mendukung
pemberdayaan masyarakat (Kusnadi, 2007: 26).
Masyarakat Desa Citemu memiliki kelembagaan sosial berupa kelompok
nelayan, kelompok masyarakat pesisir (KMP), dan kelompok nadran. Kelompok
3
nelayan adalah kumpulan nelayan yang didasarkan atas kesamaan, keserasian satu
lingkungan sosial budaya untuk mencapai tujuan yang sama. Kelompok masyarakat
pesisir (KMP) adalah kelompok masyarakat terpilih, baik laki-laki maupun perempuan yang
memperoleh dana ekonomi produktif masyarakat untuk melaksanakan dan mengembangkan
usaha. KMP tersebut dibentuk atas dasar program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh
(PDPT). Kelompok nadran adalah sebuah kelompok budaya yang mengatur acara
nadran. Kelompok nadran memiliki peran sentral dalam ritual adat istiadat masyarakat
nelayan.
untuk melakukan pemberdayaan serta dapat menanggulangi dan mengurangi
kesulitan-kesulitan yang dihadapi nelayan. Terbentuknya kelompok nelayan dapat
memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian masyarakat nelayan, dengan
mengembangkan usaha kelembagaan sosial yang ada, sehingga masyarakat memiliki
kemampuan mengelola potensi sumber daya ekonomi pesisir secara optimal dan
berkelanjutan.
Melihat studi penelitian yang dilakukan oleh Dikrurahman 3 dan Tubagus Furqon
Sofhani 4 mengenai kondisi kelompok nelayan di Pulau Temoyong, Kecamatan
Bulang, Kota Batam menunjukan bahwa kondisi kelompok nelayan di Pulau
Temoyong mengalami perkembangan yang baik akibat dari pemberdayaan kelompok-
kelompok nelayan. Semua kelompok nelayan telah memiliki peralatan tangkap sendiri,
seperti perahu, jaring, dan jenis alat tangkap lainnya. Serta semua kelompok nelayan
telah memiliki tabungan kelompok yang cenderung semakin meningkat. Selain itu,
kegiatan lain pun sudah mulai dilakukan, seperti membuat, menyediakan, dan menjual
sarana peralatan tangkap. Kelompok nelayan di Pulau Temoyong pun sudah
melakukan kemitraan dengan pihak lain di luar kelompok, seperti dengan pemerintah
dan kelompok lainnya. Secara umum, keadaan kelompok nelayan Pulau Temoyong
saat ini lebih baik dibandingkan sebelum berkelompok atau pada saat awal bergabung
dengan kelompok. Kondisi yang menunjukkan bahwa upaya pemberdayaan
masyarakat nelayan melalui pengembangan kelompok nelayan di Pulau Temoyong
telah mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan.
3 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK), ITB 4 Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Perdesaan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan
Pengembangan Kebijakan, ITB
Sementara itu, kelompok-kelompok nelayan yang ada di Desa Citemu tidak
semua kelompok nelayan mampu mengembangkan usaha dan kegiatannya, bahkan ada
beberapa yang tidak mampu mempertahankan keberadaan kelompoknya itu.
Munculnya kelompok-kelompok sosial nelayan di Desa Citemu untuk menopang
kehidupan sosial-ekonomi nelayan. Terdapat satu kelompok nelayan di Desa Citemu
yang terbentuk untuk kepentingan lingkungan mangrove yakni kelompok nelayan
Segara Biru.
Kelompok nelayan Segara Biru merupakan sebuah kelompok yang terbentuk
atas inisiatif lima tokoh nelayan yang berharap nelayan yang ada di Desa Citemu bisa
bersatu dan tergabung dalam sebuah kelompok. 5 Pada awal terbentuknya kelompok
nelayan ini, tujuan, peran dan kegiatannya masih serabutan, tidak terfokus pada satu
tujuan melainkan semua sektor yang ketika ada pekerjaan maka dikerjakan bersama.
Namun, lambat laun tujuan kelompok nelayan saat ini adalah untuk kepentingan
lingkungan yakni untuk menjadikan Desa Citemu ini bisa memiliki hutan mangrove
agar bisa menyeimbangkan kondisi alam. Oleh karena itu, kelompok nelayan Segara
Biru ini merupakan kelompok nelayan berbasis kepentingan pelestarian lingkungan.
Pada awalnya nelayan yang tergabung dalam kelompok ini berjumlah 127
nelayan. Namun, seiring berjalannya waktu anggota kelompok nelayan ini berkurang
hanya 15 orang saja. 6 Setelah itu, mulailah muncul kelompok-kelompok nelayan
lainnya seperti kelompok Makmur Jaya, Laut Jaya, dan Putra Bahari. Sebagian besar
kelompok-kelompok bentukan pemerintah tersebut dibentuk hanya untuk program,
sehingga kegiatan kelompok pun tidak ada selain kegiatan program-program dari
pemerintah atau instansi lain. 7
Dalam perspektif antropologis yang didasarkan pada realitas sosial bahwa
masyarakat nelayan memiliki pola kebudayaan yang berbeda dari masyarakat lain
sebagai hasil dari interaksi mereka dengan lingkungan serta sumber daya yang ada di
dalamnya. Pola kebudayaan itu menjadi kerangka berfikir atau referensi perilaku
masyarakat nelayan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Modal budaya yang
dimiliki oleh masyarakat nelayan pun cukup besar, seperti etos kerja yang tinggi,
5 Lima orang tersebut yakni Pak Angga, Pak Carwita, Pak Dara, Pak Warna, dan Pak Ronda.
6 Wawancara dengan Pak Dara tanggal 16 Februari 2016, Pak Dulhanda dan Pak Wastara tanggal 10 Februari
2016. 7 Wawancara dengan Pak Wanda pada tanggal 20 Mei 2015, dan Pak Angga tanggal 6 Mei 2015.
5
Masyarakat nelayan Citemu pun selalu bekerja keras, termasuk beralih profesi pada
musim paceklik, demi untuk menghidupi keluarganya. Etos kerja dan kemampuan
mereka dalam menyikapi kesulitan-kesulitan ekonomi, merupakan strategi bertahan
nelayan Citemu yang menjadi penunjang untuk mempertahankan kehidupan mereka.
Selain itu, faktor budaya yang menjadi penghambatnya adalah kurangnya jiwa gotong
royong mereka terhadap lingkungan sekitar yang menjadikan mereka bersikap
individualis, hanya memfokuskan diri untuk berkerja menafkahi keluarga.
Keberadaan kelompok-kelompok nelayan di Desa Citemu ini membuat peneliti
tertarik untuk mengetahui bagaimana peran kelompok-kelompok nelayan tersebut
dalam menghadapi permasalahan kehidupan nelayan serta bagaimana dinamika
kelompok sosial nelayan dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan.
Melihat kelompok nelayan di Pulau Temoyong pun telah mampu memberdayakan
masyarakat nelayan melalui upaya pemberdayaan kelompok nelayan yang ada di
Temoyong. Lalu kelompok-kelompok sosial nelayan di Desa Citemu bagaimana peran
dan dinamikanya dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan Desa Citemu.
Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
memformulasikan permasalahan dalam sebuah judul “Peran dan Dinamika Kelompok
dalam Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan” studi kasus di Desa Citemu Kecamatan
Mundu Kabupaten Cirebon.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan diatas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran dan dinamika kelompok sosial
nelayan dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat nelayan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui dan menggambarkan bagaimana peran dan dinamika kelompok sosial
nelayan dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat nelayan di Desa Citemu
Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon.
Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan berdaya guna sebagai berikut.
1. Secara akademis, hasil penelitian ini berguna bagi pengembangan ilmu
pengetahuan, terutama dalam studi pengembangan wilayah pesisir.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan dampak positif bagi
segenap penyelenggara (pemerintahan) terkait dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat pesisir.
3. Hasil penelitian ini juga berguna bagi para peneliti yang berminat pada kajian
sejenis.
4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pemahaman
peran dan pengaruh kelompok nelayan Desa Citemu, yang kemudian bisa
ditindaklanjuti dengan suatu proses pengembangan atau pemberdayaan
masyarakat.
program pemberdayaan masyarakat nelayan perlu adanya penguatan kelembagaan
sosial-ekonomi seperti kelompok nelayan, kelompok usaha bersama (KUB), atau
lembaga sosial-ekonomi lainnya. Keberadaan kelompok-kelompok tersebut
diharapkan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi nelayan selama
ini. Organisasi kelompok nelayan yang tangguh dapat menjadi kekuatan masyarakat
nelayan untuk mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan.
Selain itu, adanya kelompok nelayan juga dapat menanggulangi dan mengurangi
persoalan-persoalan yang dihadapi nelayan sehingga bisa terbebas dari kemiskinan
yang berkepanjangan.
secara individu. Salah satu alasannya adalah adanya manfaat berupa terciptanya
infrastruktur sosial dan kesepakatan bersama yang lebih baik dalam mengatasi
benturan sosial ekonomi yang sering terjadi di wilayah pesisir. Mengingat pentingnya
peran kelompok nelayan dan semakin gencarnya strategi pembangunan wilayah pesisir
melalui program-program pemberdayaan masyarakat nelayan. Maka perlu adanya
7
masyarakat nelayan.
Studi kelompok nelayan yang telah dilakukan oleh kajian terdahulu, seperti
dalam skripsi Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah IAIN
Sunan Ampel Surabaya yang telah dilakukan oleh Achmad Eko Wahyudi dengan
judul penelitiannya adalah “Pemberdayaan masyarakat nelayan oleh kelompok
nelayan di Desa Palang Kecamatan Palang Kabupaten Tuban”. Hasil dari penelitian
tersebut hanya menjelaskan bahwa kelompok nelayan mampu mengembangkan
simpan pinjam GPS (Global Positioning System) dari bantuan pemerintah, yang
semula hanya berjumlah 5 GPS hingga semakin bertambah banyak dan dapat
digunakan oleh semua juragan. Penelitian tersebut tidak menjelaskan bagaimana
dinamika aspek-aspek penguatan kelompok nelayan sehingga bisa diberdayakan
dengan hanya melalui GPS.
Studi ini berusaha untuk mengkaji peran kelompok nelayan dengan aspek-aspek
pengembangan dan penguatan kelompok nelayan, dan dinamikanya dalam kehidupan
sosial ekonomi nelayan. Oleh karena itu, kajian mengenai kelompok nelayan,
khususnya nelayan di Desa Citemu menjadi sangat urgen dan signifikan untuk
dilakukan. Penelitian ini tidak hanya mengkaji peranan kelompok nelayan, tetapi lebih
penting lagi adalah menganalisis dinamika kelompok nelayan terhadap sosial ekonomi
masyarakat nelayan.