Pencegahan Tonsilitis

  • Published on
    21-Jun-2015

  • View
    2.116

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

<p>PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN KEKAMBUHAN TONSILITIS(DI POLIKLINIK THT RSUD.Dr.M.HARJONO SOEDIGDOMARTO, Sp.OG KABUPATEN PONOROGO)</p> <p>RIADIMA TRUBUS YANROZIR 06.039 AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO</p> <p>BAB I PENDAHULUANA. Latar belakang masalah Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel merupakan kumpulan jaringan limfoid yang terletak pada kerongkongan dibelakang kedua ujung lipatan belakang mulut. Terdapat tiga macam tonsil yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil faringeal yang ketiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil atau Amandel berfungsi mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh dengan cara menahan bakteri atau virus memasuki tubuh. Tetapi apabila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau virus, maka akan terjadi peradangan pada tonsil atau amandel yang disebut dengan tonsilitis. Penyakit ini sering ditemukan, dan dapat menyerang semua umur (http://www.acehforum.or.id). Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorok dan nyeri waktu menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia). Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak. (Buku Ajar Ilmu kesehatan THT Edisi ke lima FKUI : 181)introduksi</p> <p>Di Indonesia, jumlah pasien rawat inap yang disebabkan oleh penyakit tonsilitis akut berjumlah 4714 orang, dengan jumlah laki-laki 2401 orang dan perempuan 2313 orang. Pasien yang meninggal dunia akibat penyakit tonsilitis berjumlah 61 orang. Jumlah kunjungan pasien rawat jalan di Indonesia tahun 2006 sebanyak 55.383 orang Sedangkan pasien rawat jalan yang disebabkan penyakit tonsilitis berjumlah 37.835 orang, dengan jumlah laki-laki sebanyak 18.213 orang dan perempuan sebanyak 19.622 orang. (www.Yanmedik-Depkes.net) Berdasarkan data dari Rekam Medik RSUD Prof.Dr.M.Harjono Soedigdomarto,Sp.Og Kabupaten Ponorogo Pada tahun 2008 yang tercatat sampai bulan November jumlah kunjungan pasien penyakit faringitis di Poliklinik THT RSUD Prof. Dr. M. Harjono Soedigdomarto Sp. OG Kabupaten Ponorogo sebanyak 238 orang. Dan rata- rata pada setiap bulan adalah 19 orang.justifikasi/proposal2009</p> <p>Tonsilitis dapat bersifat akut atau kronis. Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6 hari, dan umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun (http://id.shvoong.com/medicine-and-health). Pada tonsilitis kronis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan tonsil. Serangan terjadi secara berulang-ulang, tonsil kelihatan membesar, merah, dan terjadi abses (berbintikbintik nanah berwarna putih kekuning-kuningan) (www.balipost.com) Bila tidak mendapatkan perawatan, tonsilitis dapat menyebabkan banyak nanah yang terkumpul diantara amandel dan jaringan lunak yang ada disekitarnya. Hal ini disebut sebagai abses. Abses yang meliputi bagian yang cukup luas dapat terjadi pada jaringan lunak yang terdapat pada bagian atas mulut (soft palate). Kadang-kadang pembengkakan yang terjadi begitu besar sehingga bagian atas mulut dan lidah bertemu, yang berakibat menutup jalan nafas dan membuat pasien sulit sekali menelan (http://www.sehatgroup.web.id).kronologis/proposal2009</p> <p>Apabila telah sampai pada kondisi seperti diatas maka keadaan tersebut terindikasi untuk dilakukan tonsilektomi (pengangkatan tonsil). Hilangnya tonsil mengakibatkan hilangnya sebagian dari sistem pertahanan terdepan untuk mencegah penyebaran infeksi kuman yang masuk tubuh melalui mulut, hidung dan kerongkongan, sehingga tubuh sangat beresiko terjadi infeksi.</p> <p>kronologis/proposal 2009</p> <p>Mengatasi radang tonsil penting dilakukan, namun yang lebih penting adalah mencegah agar tidak terjadi kekambuhan. Untuk mencegah kekambuhan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan pada diri, cuci tangan adalah cara terbaik.. Selain itu juga banyak istirahat, Minum minuman hangat, berkumur dengan air garam yang hangat, hindari asap rokok dan polutan udara lainnya, Jangan menggunakan gelas minum dan peralatan makan untuk bersama-sama. Pencegahan lain yang menggunakan logika adalah saat batuk atau bersin gunakan tisu atau lengan anda dan hindari berada dekat dengan orang yang sedang sakit (http://cybermed.cbn,net,id). Akan tetapi kesadaran masyarakat dalam upaya mencegah kekambuhan masih terhalang oleh rendahnya tingkat pengetahuan tentang cara-cara yang harus dilakukan untuk mencegah kekambuhan Tonsilitis.solusi/proposal 2009</p> <p>Untuk dapat menghindari terjadinya kekambuhan penyakit tonsilitis, maka pemahaman tentang penyakit dan cara mencegah kekambuhan tonsillitis menjadi dasar yang sangat penting bagi seseorang. Oleh karena itu seseorang harus memahami dan mengerti tentang cara pencegahan kekambuhan. Dengan demikian seseorang akan terhindar dari kekambuhan tonsilitis (www.infosehat.gov). Untuk itu diperlukan peran perawat guna meningkatkan pengetahuan pasien tentang cara mencegah kekambuhan tonsilitis. Perawat sebagai pendidik/penyuluh kesehatan harus mampu memberikan pengertian dan cara-cara mencegah kekambuhan tonsillitis serta mengajarkan hingga pasien mampu mencegah kekambuhan Tonsilitis (DepKes. RI. Pedoman Kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat, 2006: 23). Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang tingkat pengetahuan pasien terhadap cara mencegah kekambuhan tonsillitis.solusi/proposal 2009</p> <p>B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis merumuskan masalah penelitian Bagaimana pengetahuan pasien tentang pencegahan kekambuhan penyakit tonsilitis di Poliklinik THT RSUD Prof. Dr. M. Harjono Soedigdomarto, Sp. OG Kabupaten Ponorogo?. C. Tujuan penelitian Mengetahui pengetahuan pasien tentang upaya pencegahan kekambuhan penyakit tonsilitis di Poliklinik THT RSUD Prof. Dr. M.Harjono Soedigdomarto, Sp. OG Kabupaten Ponorogo.</p> <p>D. Manfaat penelitian</p> <p>1. Bagi klien Dapat meningkatkan pengetahuan diri dan meningkatkan ketrampilan terhadap klien dengan tonsilitis dalam memberikan suatu asuhan keperawatan. 2. Bagi Instansi Pendidikan Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi AKPER PEMKAB PONOROGO yang Dapat digunakan sebagai study kajian serta untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi perawat untuk menjadi perawat professional melalui kemampuan dalam penulisan riset keperawatan. 3. Bagi RSUD Prof. Dr. M. Harjono Soedigdomarto, Sp. OG Kabupaten Ponorogo. Dapat meningkatkan mutu pelayanan terutama pada klien tonsilitis, sehingga kejadian tonsilitis akan menurun dan derajat kesehatan meningkat. 4. Bagi Profesi Keperawatan Dapat meningkatkan dalam hal pemberian asuhan keperawatan pada klien tonsilitis. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam memberikan penyuluhan kesehatan masyarakat terutama yang mengalami masalah keperawatan terkait dengan penyakit tonsilitis. 5. Bagi Peneliti Dapat menambah dan meningkatkan pengetahuannya dalam hal menjaga kesehatan dirinya dan keluarga agar terhindar dari penyakit tonsilitis.</p> <p>BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Konsep Dasar Tonsilitis1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.</p> <p>Definisi Tonsilitis Etiologi Tonsilitis Patologi Tonsilitis Tanda dan Gejala Tonsilitis Komplikasi Pengobatan Pencagahan</p> <p>B. Konsep Pengetahuan1. Definisi 2. Proses Terjadinya Pengetahuan 3.Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan 4.Tingkat Pengetahuan</p> <p>C. KERANGKA KONSEP</p> <p>Faktor intern : a) Usia b) Pengetahuan c) Pemahaman d) Keyakinan e) Gaya Hidup Pengetahuan pasien tentang kekambuhan tonsilitis</p> <p>Baik Cukup Kurang</p> <p>Penderita Tonsilitis</p> <p>: diteliti : tidak diteliti</p> <p>Faktor eksternal : a) Pendidikan formal b) Lingkungan sosial c) Sosial ekonomi d) Latar belakang kelauarga</p> <p>Bagan 2.1. Kerangka konsep tentang pengetahuan pasien tentang pencegahan Penyakit Tonsilitis di Poliklinik THT RSUD.Dr.M.Harjono Soedigdomarto,Sp.Og Kabupaten Ponorogo.</p> <p>BAB III METODE PENELITIANA. Desain Penelitian Dalam penelitian ini akan memaparkan tentang pengetahuan pasien tentang pencegahan kekambuhan penyakit tonsilitis. B. Tempat Dan Waktu Penelitian 1. Tempat Dalam penelitian ini tempat atau lokasi yang digunakan sebagai obyek penelitian adalah Poliklinik THT RSUD Prof. Dr. M. Hardjono Soedigdomarto, Sp. OG Kabupaten Ponorogo. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Desember 2008 s/d Juli 2009.</p> <p>C. Kerangka KerjaPopulasi Rata-rata pasien tonsilitis yang berkunjung ke Poliklinik THT RSUD Prof.Dr.M.Harjono Soedigdomarto,Sp.OG Kabupaten Ponorogo selama tahun 2008 yang berjumlah 19 orang. Sample Menggunakan sample jenuh</p> <p>Sampling Menggunakan consecutive sampling Pengumpulan Data Dilakukan dengan menggunakan kuisioner.</p> <p>Coding Menggunakan inisial Huruf abjad</p> <p>Pengolahan Data Skoring Skor tentang pengetahuan pencegahan kekambuhan tonsilitis Jawaban benar : 1 Jawaban Salah : 0</p> <p>Tabulating Setelah data diperoleh menggunakan bahan pertimbangan penelitian dalam menilai karakteristik tingkat pengetahuan responden: Baik : 76-100% Cukup : 56-75% Kurang : &lt; 55%</p> <p>Analisa Data Menggunakan tabel distribusi frekuensi Kesimpulan Teridentifikasi pengetahuan pencegahan kekambuhan tonsilitis di Poliklinik THT RSUD Prof.Dr.M.Harjono Soedigdomarto,Sp.OG Kabupaten Ponorogo yaitu baik, cukup, Bagan 3.1. Kerangka kerja</p> <p>D.Sampling Desain1. Populasi Populasi adalah setiap subyek (misalnya; manusia, pasien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003 : 93). Populasi dari penelitian ini adalah rata-rata pasien yang menderita penyakit tonsilitis yang berkunjung ke Poliklinik THT RSUD Prof.Dr.M.Harjono Soedigdomarto,Sp.OG Kabupaten Ponorogo yang berjumlah 19 orang/bulan selama tahun 2008. 2. Sampel Sampel adalah merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimulai populasi (Hidayat, 2003: 35). Pada penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh yaitu semua populasi dijadikan sebagai sampel. 3. Sampling Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2003: 97). Dalam penelitian ini sampling yang digunakan ialah menggunakan consecutife sampling yaitu pemilihan sample dengan menetapkan subyek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu sehingga jumlah pasien yang diperlukan terpenuhi (Hidayat, 2003: 37).</p> <p>E. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu kelompok (orang, benda, situasi) yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok tersebut (Nursalam, 2003 : 101). Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang pencegahan kekambuhan tonsilitis di Poliklinik THT RSUD Prof.Dr.M.Harjono Soedigdomarto,Sp.OG Kabupaten Ponorogo.</p> <p>F. Definisi Operasional</p> <p>Tabel 3.1 Definisi OperasionalNo 1 Variabel Pengetahuan tentang pencegahan tonsilitis. Definisi Opersional Segala sesuatu yang diketahui dan dipahami oleh pasien tentang pencegahan kekambuhan tonsilitis. Parameter 1. Mencuci tangan 2. Makan makanan yang bergizi 3. Istirahat yang cukup 4. Menghindari rokok dan alkohol. 5. Olah raga cukup 6. Menghindari penularan Alat Ukur Kuesioner Skala Ordinal Skor Jawaban Benar Nilai 1 Jawaban Salah Nilai 0 Baik 76100 % Cukup 56 75 % Kurang &lt; 55 %</p> <p>G. Pengumpulan Data Dan Analisa Data 1. Instrumen Penelitian Data Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan dalam pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cepat lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 1998: 151). Dalam penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner atau angket. 2. Pengumpulan Data Dari pengumpulan data pada penelitian ini digunakan alat berupa angket atau kuesioner. Kuesioner adalah alat ukur dengan cara subyek diberikan angket atau kuesioner dengan beberapa pertanyaan kepada responden. Alat ukur ini digunakan bila responden jumlahnya besar dan dapat membaca dengan baik yang dapat mengungkapkan hal-hal yang bersifat rahasia (Hidayat, 2003: 38).Dalam penelitian ini teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuesioner langsung dengan pertanyaan tertutup.</p> <p>3. Analisa Data a. Data Umum Data demografi yang didapat akan diolah sebagai bahan pertimbangan penelitian dalam meneliti karakteristik responden dalam penelitian ini. Data yang akan dianalisa dengan deskriptif statistik dengan prosentase yaitu menjumlahkan data domografi yang didapat kemudian membandingkan dengan jumlah responden keseluruhan dikalikan 100 %.</p> <p>Keterangan : P : Prosentase F : Frekwensi jawaban yang benar N : Jumlah sample (Arikunto, 1998 : 266). Adapun hasil pengolahan data diinterpretasikan dengan menggunakan skala 100 % : Seluruhnya 76 - 99 % : Hampir seluruhnya 51 - 75 % : Sebagian besar 50% : Setengahnya 25 - 49 % : Hampir setengahnya 1 - 24 % : Sebagian kecil 0% : Tidak satupun Data demografi tidak digunakan untuk menganalisa perhitungan dan selebaran angket yang terkumpul.</p> <p>F p = x100 % N</p> <p>b. Data Khusus Hasil jawaban kuesioner dijumlahkan dan dibandingkan dengan jumlah tertinggi lalu dikalikan 100 %. Bila jawaban benar maka diberi score 1 dan bila jawaban salah diberi score 0, dengan rumus : Keterangan: N: x 100% N : Nilai yang didapat Sm SP : Skor yang didapat Sm : Skor maksimal Kemudian hasil tiap variabel diinterpretasikan dengan skala kualitas, yaitu : 76 100 % : Baik 56 75 % : Cukup </p>