30
BAB I PENDAHULUAN Gangguan kesehatan pada tonsil dan adenoid merupakan masalah yang sering ditemui pada masyarakat terutama sering ditemukan pada anak-anak. Penyakit adenotonsilar secara luas diklasifikasikan dari infeksi, obstruksi, dan lain hal. Hal lain tersebut mencakup hipertrofi tonsilar unilateral. 1 Infeksi tonsil berulang, tonsillitis kronis, dan hiperplasia obstruktif merupakan penyakit tersering pada anak-anak dibandingkan dengan penyakit tonsil lainnya. Gangguan tidur yang disebabkan oleh Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien anak akibat tonsilitis dan dapat menyebabkan dampak yang buruk pada pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik, psikologi, dan kognitif. Abses peritonsilar juga merupakan komplikasi lainnya sering terjadi pada pasien tonsillitis kronis. 1

Css Tonsilitis

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Css Tonsilitis

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan kesehatan pada tonsil dan adenoid merupakan masalah yang

sering ditemui pada masyarakat terutama sering ditemukan pada anak-anak.

Penyakit adenotonsilar secara luas diklasifikasikan dari infeksi, obstruksi, dan lain

hal. Hal lain tersebut mencakup hipertrofi tonsilar unilateral.1

Infeksi tonsil berulang, tonsillitis kronis, dan hiperplasia obstruktif

merupakan penyakit tersering pada anak-anak dibandingkan dengan penyakit

tonsil lainnya. Gangguan tidur yang disebabkan oleh Obstructive Sleep Apnea

Syndrome (OSAS) merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien anak

akibat tonsilitis dan dapat menyebabkan dampak yang buruk pada pertumbuhan

dan perkembangan anak baik secara fisik, psikologi, dan kognitif. Abses

peritonsilar juga merupakan komplikasi lainnya sering terjadi pada pasien

tonsillitis kronis. Saat ini frekuensi tindakan tonsilektomi dan adenoidektomi

telah menurun namun jenis operasi ini masih merupakan tindakan operasi

tersering yang dilakukan pada pasien anak terutama di Amerika Serikat.2,3

1

Page 2: Css Tonsilitis

2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Tonsilitis

Tonsilitis akut adalah suatu infeksi akut pada tonsil dengan gejala nyeri

tenggorok, odinofagi, dan kelesuan tubuh. Sedangkan tonsillitis kronis adalah

infeksi tonsil yang menetap serngkali terjadi pada anak yang usianya lebih tua dan

dewasa muda dengan gejala nyeri tenggorok yang menetap dan intensitasnya

sama, halitosis dan perasaan letih lesu.1

2.2 Etiologi

Etiologi tonsilitis 50% adalah kuman golongan streptococcus B hemolyticus,

streptococcus viridians, dan streptococcus pyogenes. Sedang sisanya disebabkan

oleh virus yaitu; adenovirus, echo, virus influenza serta herpes.4

2.3 Manifestasi Klinis

a. Tonsilitis akut

Nyeri tenggorok, demam, disfagia, dan pembesaran kelenjar getah bening

servikal disertai tonsil eritematus dan eksudat atau detritus merupakan tanda dan

gejala yang sesuai dengan diagnosis tonsillitis akut. Sebagian klinisi menetapkan

adanya hasil positif dari kultur sekret tenggorok atau tes rapid strep antigen

sebagai kriteria baku untuk mengakkan diagnosis tonsillitis akut. Hal tersebut

Page 3: Css Tonsilitis

3

masih diperdebatkan namun pada pasien dengan gambaran tonsil yang nampak

meradang baik disebabkan oleh bakteri harus segera ditangani.3

b. TonsilitisAkutBerulang

Tonsilitis akut berulang bervariasi dari empat sampai tujuh episode dalam

satu tahun, lima episode dalam dua tahun berturut-turut, atau tiga episode per

tahun dalan tiga tahun berturut-turut.3

c. TonsilitisKronis (Menetap)

Nyeri tenggorok kronis, nafas berbau, debris tonsillar yang banyak

(tonsillolith), eritema peritonsillar, dan pembesaran kelanjar getah bening servikal

yang menetap merupakan kriteria diagnosis tonsillitis kronis jika tidak ada sumber

infeksi lain seperti sinus atau tonsil lingual yang ditemukan.3

d. Hiperplasia Tonsil Obstruktif

Pembesaran tonsil dapat menyebabkan mengorok, gangguan siklus tidur-

bangun, perubahan struktur rangka maksilofasial, dan perubahan suara (hipernasal

atau muffling). Pembesaran tonsil yang tidak disertai gejala yang mengganggu

kesehatan tidak disarankan untuk dilakukan pengangkatan.3

Infeksi yang tidak biasa seperti mikobakterium atipikal dan aktinomikosis,

atau penyakit limfoproliferatif pada transplantasi organ padat dapat pula

menyebabkan pembesaran tonsil. Neoplasma jinak dan ganas dapat terjadi baik

pada tonsil maupun pada adenoid. Pembesaran tonsil unilateral merupakan gejala

yang perlu dicurigai disebakan oleh keganasan terutama bila terjadi pada anak-

anak.3

Page 4: Css Tonsilitis

4

Tabel1. Evaluasi Klinis Penyakit pada Tonsil3

Gejala TandaPemeriksaan Penunjang Diagnosis Banding

Tonsil   Obstruksi Mengorok atau

kelainan lain berkaitan dengan tidur

Pembesran tonsil (+3/+4)

Polysomnogram Neuromuscular disease

Abnormalitas kraniofasial

Flexible laryngoscopy

EERD

Suara teredamDisfagia

Kelainan anatomi lain

  Lymphoproliferative disorder

Infeksi   Akut Nyeri

tenggorokanTonsil erythema/eksudat

Kultur dari apus tenggorok

Bakteril

DisfagiaHalitosisTender neck glands

Tender cervical lymph nodes

CBC w/differential

Viral (EBV)

Berulang/kronisSore throat Normal tonsils   Lingual tonsillitisHalitosis Peritonsillar

erythemaEERD

Pembesaran kelenjar leher

Tonsillolith

Massa putih pada tonsil

Jumlah kripta berkurangpembesaran KGB

aSnoring, irregular breathing, restless sleep, enuresis, frequent arousals, and behavioral/cognitive problems. CBC, complete blood count; CT, computed tomography; EBV, Epstein-Barr virus; EERD, extraesophageal reflux disease.

2.4 Pemeriksaan

2.4.1 Pemeriksaan Fisik

Pasien dengan tonsillitis akut seringkali datang dengan keluhan nyeri

tenggorok, disfagia, demam, limfadenopati sevikal. Tonsil dapat membesar atau

tetap dalam ukuran normal namun tampak eritematus. Dapat pula ditemukan

eksudat pada tonsil. Dengan inspeksi yang teliti akan nampak obstruksi pada

kripta tonsil.3

Page 5: Css Tonsilitis

5

Gambar 1. Perbandingan tonsilitis bakterial dan viral

Seringkali pasien datang ketika fase akut telah mereda hingga pemeriksaan

fisik tidak menunjukkan banyak tanda yang membantu penegakan diagnosis.

Tonsil dapat nampak normal atau tampak adanya peritonsilar eritem, pembesaran

peritonsilar, pembesaran kelanjar getah bening servikal, tonsilolith, atau

pengurangan jumlah kripta tonsilar dengan permukaan yang halus mengkilat pada

tonsillitis kronis.3

Untuk melakukan pemeriksaan fisik orofaring yang baik maka pasien

diminta untuk membuka mulutnya lebar-lebar dengan lidah tidak dijulurkan

melainkan diletakkan pada dasar mulut. Gunakan tongue spatle untuk menekan

lidah bagian anterior secara gentle untuk mencegah reflex muntah. Timbulnya

refleks muntah dan pendorongan lidah akan mengakibatkan tonsil bergerak ke

arah medial dan nampak sebagai pembesaran. Pasien diminta untuk mengucapkan

‘aaaa’ hingga visualisasi daerah inferior tonsil nampak sekaligus memberikan

gambaran integritas palatum.3

Page 6: Css Tonsilitis

6

Tabel 2. Grade Pembesaran tonsil3

Grade Proporsi Tonsil dalam Orofaring01234

Tonsil pada Fossa PalatinaTonsil < 25% dari Orofaring

Tonsil 25-50% dari OrofaringTonsil 50-75% dari OrofaringTonsil > 75% dari Orofaring

Gambar 2. Klasifikasi Pembesaran Tonsil

Tonsilitis akut yang disebabkan oleh Streptococcus beta hemolitycus grup A

biasanya disertai pembengkakan kelenjar getah bening servikalis anterior.

Tonsilitis streptokokus biasanya terjadi pada musim dingin dan awal musin semi

(di Negara dengan empat musim) memiliki manifestasi klinis berupa demam

tinggi dengan onset akut, nyeri kepala, nyeri leher, odinofagi, otalgia, nyeri

tenggorok, sour-sweet yeasty odor, mual, muntah, nyeri perut, lidah kemerahan

dengan papil yang melebar (strawberry tongue), uvula membengkan berwarna

kemerahan petekie pada palatum mole (doughnut lesion), pembesaran kelenjar

getah bening servikal disertai tanda radang, scarlet fever rash (disebabkan oleh

toksin eritrogenik yang menimbulkan macula pungtata eritematus pada

ekstremitas bagian proksimal, terutama di permukaan fleksor – Pastia lines).5

Page 7: Css Tonsilitis

7

Gambar 3. Eksudat (detritus) pada tonsillitis akut streptococcus

Sedangkan pada tonsillitis akut yang disebabkan oleh virus Epstein Barr

atau infeksi mononucleosis biasanya akan ditemukan pembesaran kelanjar getah

bening sevikal, aksilaris, dan inguinal. Pada pemeriksaan fisik juga dapat

ditemukan adanya splenomegali, rasa lemas dan lesu, serta low grade fever yang

menyertai tonsillitis.Pemeriksaan orofaring akan memberikan gambaran membran

berwarna abu-abu pada tonsil yang meradang, membran mudah dilepas dan tidak

mudah berdarah. Mukosa palatum mengalami erosi dan nampak petekie pada

mukosa palatum durum.6

Gambar 4. Membran abu-abu pada palatum mole akibat infeksi mononucleosis

Page 8: Css Tonsilitis

8

2.4.2 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan radiografi leher posisi lateral dapat digunakan untuk

pemeriksaan penunjang pada hipertrofi adenoid dan tonsil. Pada pasien dengan

gejala obstruksi yang signifikan dengan tanda hipertrofi tonsil yang nyata dan

membutuhkan intervensi pembedahan maka pemeriksaan radiografi bukan

merupakan pemeriksaan wajib untuk penegakan diagnosa.2

Endoskopi nasofaringoskopi fleksibel dapat pula digunakan sebagai

pemeriksaan penunjang pada penyakit-penyakit adenotonsilar. Obstruksi oleh

jaringan adenoid pada posterior koana dan pembesaran hipertrofi tonsil ke

hipofaring dapat divisualisasi dengan jelas.2

2.5 Patofisiologi

Patogenesis terjadinya inflamasi pada tonsil dan adenoid didasarkan pada

lokasi anatomis dan fungsinya sebagai suatu organ yang berperan dalam sistem

imun sendiri yang memproses agen-agen infeksius serta antigen-antigen . Secara

kontradiktif organ tersebut menjadi fokus infeksi itu sendiri. Infeksi virus yang

disertai infeksi sekunder bakteri dapat menjadi penyebab infeksi kronis di

samping pengaruh faktor lingkungan, host, penggunaan antibiotik spektrum luas,

keseimbangan ekologi dan diet.3

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan kerentanan terjadinya infeksi pada

tonsil di antaranya :

Penggunaan alkohol

Splenektomi

Page 9: Css Tonsilitis

9

Kontak dengan penderita tonsilitis

Sickle cell anemia

Sinusitis

Merokok

Terpapar asap rokok

Musim dingin

Keadaan yang melemahkan sistem imun, seperti:Diabetes ,

Transplantasi, penggunaan kemoterapi, HIV/AIDS6

Inflamasi dan hilangnya integritas dari epitel kripta menghasilkan kriptitis

kronis dan obstruksi kripta, hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya stasis dari

debris-debris kripta dan antigen. Bakteri-bakteri yang terdapat pada kripta tonsil

kemudian akan bermultiplikasi.3

Gambar 5. Perbandingan gambaran tonsil normal dan tonsillitis

Tonsil dibungkus oleh suatu kapsul yang sebagian besar berada pada fosa

tonsil yang terfiksasi oleh jaringan ikat longgar. Tonsil terdiri dari banyak

jaringan limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel memiliki kanal (saluran) yang

ujungnya bermuara pada permukaan tonsil. Muara tersebut tampak berupa lubang

Page 10: Css Tonsilitis

10

yang disebut kripta. Saat folikel mengalami peradangan, tonsil akan membengkak

dan membentuk eksudat yang akan mengalir dalam saluran (kanal) lalu keluar dan

mengisi kripta yang terlihat sebagai kotoran putih atau bercak kuning. Kotoran ini

disebut detritus. Detritus sendiri terdiri atas kumpulan leukosit polimorfonuklear,

bakteri yang mati dan epitel tonsil yang terlepas. Tonsilitis akut dengan detritus

yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Tonsilitis akut dengan detritus yang

menyatu lalu membentuk kanal-kanal disebut tonsilitis lakunaris. Detritus dapat

melebar dan membentuk membran semu (pseudomembran) yang menutupi tonsil.

Adanya pseudomembran ini menjadi alasan utama tonsilitis akut didiagnosa

banding dengan angina Plaut Vincent, angina agranulositosis, tonsilitis difteri, dan

scarlet fever.6,8

Fase-fase patologis yang terjadi pada tonsillitis adalah (1) Peradangan pada

daerah tonsila, (2) pembentukan eksudat, (3) selulitis tonsila dan daerah

sekitarnya, (4) pembentukan abses peritonsilar, dan (5) nekrosis jaringan.8

2.6 Penatalaksanaan

Tonsilitis akut yang disebabkan oleh Streptococcus beta Haemolyticus grup

A dapat ditangani dengan pemberian antibiotik golongan penisilin sebagai terapi

lini pertama. Pada tonsillitis kronis dan hyperplasia tonsilar obstruktif terapi

dengan menggunakan antibiotik anti beta-lactamase atau bakteri anaerob seperti

amoksisilin-asam klavulanat atau klindamisin selama 3 sampai 6 minggu terbukti

bermanfaat dan mengurangi 15% kebutuhan untuk dilakukannya tonsilektomi.3,5

Page 11: Css Tonsilitis

11

Pada kasus pembesaran tonsil yang mengakibatkan obstruksi akut saluran

nafas atas maka langkah penanganan harus sesuai dengan penanganan

kegawatdaruratan. Pengamanan jalan nafas dilakukan dengan pemasangan

nasofaringeal airway dan pemberial steroid intravena untuk memngurangi

pembengkakan akibat inflamasi. Tonsilitis yang diakibatkan oleh inkeksi

mononukleosis (Epstein-Barr virus) merupakan resiko tinggi terjadinya obstruksi

jalan nafas, pada kasus demikian maka tidak dianjurkan pemberian amoksisilin

karena dapar menimbulkan reaksi kulit yang berat. Infeksi mononukleosis yang

disertai komplikasi abses parafaringeal atau pada pasien anak yang tidak

merespon terapi medikametosa maka dianjurkan untuk dilakukan intervensi

pembedahan tonsilektomi.3

Indikasi Tonsilektomi3:

a. Obstruksi

Hiperplasia Tonsil dengan obstruksi

Sleep-relating disordered breathing

OSAS

Sindrom resistensi jalan napas atas

Sindrom Obstruksi Hipoventilasi

Gagal kembang

Cor Pulmonal

Abnormalitas Menelan

Abnormalitas Orofasial/dental

Gangguan Limfoproliferatif

Page 12: Css Tonsilitis

12

b. Infeksi

Tonsilitis rekuren/kronik

Tonislitis dengan: Nodul abses leher

Obstruksi jalan napas akut

Gangguan katup jantung

Tonsilitis persisten dengan: Nyeri tenggorokan persisten

Tender cervical nodes

Halitosis

Tonsilolithiasis

Streptococcal carrier stadium unresponsive pada terapi medis pada anak-

anak atau keluarga yang memiliki risiko

Peritonsillar abses stadium unresponsivepada terapi medis atau pada pasien

dengan tonsilitis rekuren atau abses rekuren

c. Neoplasia

Suspekneoplasia, jinak maupun ganas

Walaupun dapat ditangani dengan pemberian terapi medikametosa namun

tonsilektomi masih menjadi pilihan untuk penanganan tonsilitis kronis. Meskipun

demikian berdasarkan penelitian pemilihan indikasi dilakukannya tonsilektomi

terutama pada pasien anak harus dilakukan secara cermat dan terapi harus

dilakukan atas penilaian per individu pasien. Faktor-faktor yang perlu

dipertimbangkan dalam tonsilektomi elektif antara lain pandangan orang tua dan

anak, toleransi terhadap penyakit, kecemasan, toleransi anak terhadap

antimikroba, kegiatan sekolah dihubungkan dengan absensi anak karena

Page 13: Css Tonsilitis

13

penyakitnya, kemudahan akses ke sarana kesehatan, dan fasilitas yang tersedia di

sarana kesehatan.3

Kriteria Indikasi Tonsilektomi pada Tonsilitis Berulang7:

1. Sekurang-kurangnyatiga episode setiaptahundalam 3 tahunberturut-turut,

atau lima episode setiaptahundalam 2 tahun, atautujuh episode

dalamsatutahun

2. Setiap episode harusmemilikikarakteristik ≥1 gejala di bawahini:

a. Temperatur oral ≥1010F (38,30C)

b. Pembesarankelenjargetahbeningservikalis anterior (>2 cm)

c. Eksudatpada tonsil

d. Kulturpositifuntukstreptococcus beta-hemolytic group A

3. Pemberianantibiotik yang adekuatuntuksuspekmaupun yang

sudahterbuktidisebabkanolehstreptococcus beta-hemolytic group A

4. Setiap episode harusdibuktikandenganpemeriksaandanterdapat data

rekammedisnya

Pada sebagian besar anak tonsilektomi dilakukan atas indikasi kelainan

pertumbuhan struktur maksilofasial, obesitas dan extraesofageal reflux diseases.

Pada intervensi pembedahan tonsil juga perlu dipertimbangkan resiko komplikasi

perdarahan pasca operasi, mual muntah, terganggunya asupan nutrisi, nyeri

tenggorok, bau mulut, dan infeksi.3

Kontraindikasi tonsilektomi7:

1. Insufisiensivelofaringeal:

Page 14: Css Tonsilitis

14

Celah langit-langit

Kelanan neurologi/neuromuskular pada fungsi palatum

2. Hematologi : Anemia

Kelainan pembekuan darah

3. Imunologi : Riwayat alergi

4. Infeksi : Infeksi akut (<3 minggu sejak onset infeksi)

Teknik untuk tonsilektomi bervariasi, dan baru-baru ini prinsip diseksi

dalam subcapsular banyak dibandingkan dengan teknik tonsilotomi. Tonsilotomi

memiliki keuntungan jangka pendek tertentu dalam hal untuk penyembuhan,

tingkat reoperation awal tidak signifikan dan hasil jangka panjang dari pasien

tersebut belum dapat dipastikan. Banyaknya orang dewasa yang menderita

gangguan tidur yang berawal di masa kanak-kanak dan mendengkur mungkin

yang disebabkan oleh hiperplasia tonsil menjadi pertimbangan sebelum memilih

tonsilotomi dibandingkan Tonsilektomi subcapsular. Variasi dalam teknik ini

biasanya berkisar pada metode pembedahan (pisau dingin, pisau panas dengan

kauter monopolar, ultrasonik scalpel, kauter mikroskopis bipolar, suhu yang

dikontrol radiofrequency, dan coblation) dan metode untuk hemostasis (cautery,

kimia, laser, atau suture).3

Teknik yang umum digunakan dalam tonsilektomi adalah seperti yang

diurangkan berikut ini :

1. Induksianestesiumumdandilakukanintubasi endotracheal atau masker

laryngeal.

Page 15: Css Tonsilitis

15

2. Pasiendiposisikandalamposisi Rose, kemudiandipasangmouth

gagMcGiverdenganbantuandepressorlidah.

3. Palpasipalatum mole untukmemeriksaintegritasnya.

Masukkankateterkaretmelaluilubanghidungkenasofaringkemusianditariksehi

nggaterjadiretraksipalatum mole ke anterior.

4. Di bawahpanduanmikroskop, pasangAllys clamppadakutub inferior dari

tonsil kemudianditarikkearah medial. Insisimukosaantara tonsil lingual

dankutub inferior tonsil denganmenggunakan bayonet kauter bipolar

berujungtumpul. Insisidilakukandekatdenganlipatan anterior

meluluimukosakesarahkutup superior, dilakukansecaraberhati-hati agar

tidakmengenaidasarlidah.

5. Diseksisubkapsulardengankauterisasipembuluhdarahdandiseksiototsertafasi

atanpamengenainervusglossofaringeus.

Beberapaahlimenggunakanteknikmelepasmouth

gagselamabeberapamenituntukmencegahedemapadalidah.

6. Perdarahandirawatsampaidenganperdarahan minimal, dipasangdental

rollpada fossa tonsilla. Irigasinasofaringdanorofaringuntukmembersihkan

debris kemudiansumberperdarahandikauterisasi bipolar padadasar tonsil,

suction monopolarpadadasar adenoid)

7. Mouth gag dilonggarkan kemudian dilakukan pemeriksaan ulang

perdarahan pada fossa tonsil. Jika tidak ada perdarahan dan kelainan mouth

gag dilepaskan.3

Page 16: Css Tonsilitis

16

Pasca operasi harus dilakukan proteksi jalan nafas sampai pasien sadar.

Pemberian antiemetik, antibiotik, analgesik, kortikosteroid, dan terapi cairan

dilakukan selama berjalannya operasi. Pemberian antibiotik amoksisilin selama 10

hari pasca operasi untuk mengurangi nyeri dan mencegah halitosis.3

2.7 Komplikasi

Komplikasi dari tonsillitis dapat dibedakan menjadi komplikasi supuratif

dan non supuratif. Komplikasi non supuratif terdiri dari scarlet fever, demam

rematik akut, dan glomerulus nefritis poststreptococcal. Sedangkan komplikasi

supuratif dari tonsillitis adalah terbentuknya abses peritonsilar dan parafaringeal.2

a. Nonsupuratif

Scarlet fever merupakan komplikasi tonsillitis atau faringitis streptococcus

akibat endotoksin yang dihasilkan oleh mikroorgabisme streptococcus. Gambaran

klinis scarlet fever adalah lesi kulit eritema, nyeri tenggorok berat disertai

limfadenopati, nyeri kepala, muntah, tonsil dan faring tampak eritem disertai

eksudat kekuningan, membran pada tonsil menyerupai membran pada difteri.

Stawberry tongue dengan papil-papil lidah yang membesar dan

kemerahanmerupakan tanda khas pada scarlet fever. Untuk menegakkan diagnosis

pasti dari komplikasi ini dapat dilakukan kultur bakteri dan test Dick. Test Dick

adalah memasukkan toksin streptococcus yang diencerkan melalui injeksi

intradermal, hasil positif menunjukkan adanya scarlet fever.2

Page 17: Css Tonsilitis

17

Gambar 5. Gambaran klinis scarlet fever

Demam rematik akut terjadi pada 0,3% penderita tonsillitis. Komplikasi ini

dapat dicegah dengan pemberian penisilin profilaksis, jika tindakan pencegahan

ini gagal maka tonsilektomi dan adenoidektomi perlu dilakukan.2

Glomerulonefritis poststreptococcal dapat merupakan kompikasi dari infekri

streptococcus strain nefrogenik, tipe ini hanya 1% dari streptococcus strain

faringeal. Komplikasi ini terjadi pada minggu ke satu sampai kedua setelah

infeksi streptococcus dengan gambaran klinis gagal ginjal akut. Pemberian

penisilin tidak bermanfaat banyak sehingga tonsilektomi diperlukan untuk

menghilangkan sumber infeksi.2

b. Supuratif

AbsesPeritonsilar

Abses peritonsilar seringkali terjadi pada tonsillitis berulang atau tonsillitis

kronis yang tidak mendapat pengobatan yang adekuat. Penyebaran infeksi dari

kutub atas tonsil menyebabkan akumulasi pus di antara dasar tonsil dan kapsul

tonsil. Infeksi biasanya hanya bersifat unilateral dan menimbulkan nyeri yang

Page 18: Css Tonsilitis

18

berat dengan otalgia ipsilateral sebagai nyeri alih akibat penjalaran melalui nervus

glossofaringeus. Gambaran klinis lainnya adalah odinofagia dan disfagia, trismus,

pembengkakan palatum dan pilar anterior unilateral disertai pergeseran tonsil ke

arah inferior dan medial, uvula terdorong ke sisi yang berlawanan dengan sisi

yang sakit. Hasil kultur biasanya akan menunjukkan infeksi polimikroba baik

bakteri anaerob maupun aerob. Penatalaksanaan komplikasi ini membutuhkan

Quinsy tonsilektomi.1,2,3

Absesparafaringeal

Abses parafaringeal terbentuk akibat drainase pus dari tonsil atau dari abses

peritonsilar melalui muskulus konstriktor superior. Abses terbentuk di antara

muskulus konstriktor superior dan fasia sevikalis profunda sehingga

mengakibatkan tonsil terdorong ke dinding lateral dari garis tengah. Inflamasi

pada otot pterygoid dan paraspinal menyebabkan timbulnya trismus dan kaku

leher. Palpasi pada pemeriksaan fisik sulit dilakukan karena daerah abses

terlindungi oleh otot sternocleidomastoid yang tebal. Pasien dengan abses

parafaringeal biasanya mengeluhkan demam tinggi disertai nyeri, pada

pemerikasaan laboratorium dapat ditemukan leukositosis. Pemeriksaan dengan CT

scan mungkin dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Proses infeksi dapat

menyebar ke mediastinum melalui carotid sheath. Defisit neurologis pada saraf

cranial IX, X, XII dapat terjadi karena struktur anatomisnya yang berdekatan.

Penanganan komplikasi supuratif dari tonsillitis ini membutuhkan pemberian

antibiotik secara agresif, penggantian cairan dan intervensi bedah jika dibutuhkan.

Tindakan bedah intraoral tidak disarankan karena sulitnya eksplorasi jika terjadi

Page 19: Css Tonsilitis

19

perdarahan. Pembedahan dilakukan dengan melakukan eksisi transversal pada

submandibula sehingga lebih mudah untuk melakukan eksplorasi pada dasar

tengkorak.2

Infeksi pada rongga retrofaringeal sering terjadi pada anak usia kurang dari

dua tahun. Pasien anak biasanya menjadi iritabel, demam tinggi, disfagia, suara

teredam, nafas menjadi berisik, kaku leher, dan adanya limfadenopati KBG leher.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran dinding posterior faring unilateral.

Penanganan infeksi retrofaring melalui insisi dan drainase intraoral.2

Tabel 3. Komplikasi Penyakit Adenotonsillar dan Komplikasi Tonsilektomi3

Complication Presentation Management OptionsPeritonsillar abscess Sore throat/dysphagia Antibiotiks (i.v.)

Pharyngotonsillar bulge Needle aspiration/I & DTrismusDrooling

Immediate tonsillectomy

Acute airway obstruction secondary to T & A hyperplasia

Stridor Muffled/hyponasal voiceDroolingEnlarged tonsils (and adenoids)

Nasopharyngeal airwaySteroids (i.v.)Antibiotiks (i.v.)

Hemorrhage Bleeding from mouth or noseFrequent swallowing

Local control (cautery or vasoconstriction)Control in OR topical or when uncontrole, by arterial ligation/embolizationEvaluate for coagulopathy in selected cases

Airway obstruction Occurs in first 24 h Nasopharyngeal airwayPalatal swelling Steroids (i.v.)Hypopharyngeal secretions

Gentle suctioning

Dehydration Poor oral intake Control emesis if presentDry mucous membrans i.v. HydrationLethargy Parental education

Pain control prnPersistent VPI after adenoidectomy

Hypernasal speech (lasting beyond 2-mo postop)Nasal regurgitation of

Speech therapyPalate surgeryPalatal prosthesis

Page 20: Css Tonsilitis

20

fluidsPulmonary edema after relief of airway obstructiona

Difficulty with oxygenFrothy pink secretions from endotracheal tube

Positive end expiratory ventilationLasixMorphine

i.v., intravenous; I & D, incision and drainage; OR, operating room; T & A, tonsillectomy and adenoidectomy; VPI, velopharyngeal insufficiency.aCan occur after laryngospasm or relief from, chronic or acute airway obstruction from enlarged tonsils or adenoids.