Click here to load reader

PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SANTRI DI … · 2013-05-02 · PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SANTRI DI PONDOK PESANTREN (Studi kasus: Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SANTRI DI … · 2013-05-02 · PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN...

  • PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP

    SANTRI

    DI PONDOK PESANTREN

    (Studi kasus: Pondok Pesantren Al-Ashriyyah

    Nurul Iman Parung, Bogor)

    SKRIPSI

    Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Islam (SEI)

    Oleh :

    Deden Fajar Badruzzaman

    NIM : 104046101576

    KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH

    PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1430 H / 2009 M

    PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP

    SANTRI

  • DI PONDOK PESANTREN

    (Studi Kasus: Pondok Pesantren Al-Ashriyyah

    Nurul Iman Parung, Bogor)

    SKRIPSI

    Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat

    memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Islam (SEI)

    Oleh :

    Deden Fajar Badruzzaman

    NIM : 104046101576

    Di Bawah Bimbingan

    Pembimbing I Pembimbing II

    H. Abdul Wahab Abd Muhaimin, Lc. MA Drs. H. Zainul Arfin Yusuf, M.Pd

    NIP 150 238 774 NIP 150 204 484

    KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH

    PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1430 H / 2009 M

  • PENGESAHAN PANITIA UJIAN

    Skripsi berjudul PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SANTRI DI

    PONDOK PESANTREN (Studi Kasus: Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman

    Parung-Bogor) telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum

    Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 10 Maret 2009. Skripsi

    ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam

    (SEI) pada Program Studi Muamalat (Ekonomi Islam).

    Jakarta, 10 Maret 2009

    Mengesahkan,

    Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

    Prof. DR. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM NIP. 150 210 422

    Panitia Ujian

    1. Ketua : Dr. Euis Amalia, M.Ag (……………………)

    NIP. 150 289 264

    2. Sekertaris : H. Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag.,M.H (……………………)

    NIP 150 318 308

    3. Pembimbing I : H. Abdul Wahab Abd Muhaimin, Lc. MA (……………………) NIP 150 238 774

    4. Pembimbing II : Drs. H. Zainul Arfin Yusuf, M.Pd (……………………) NIP 150 204 484

    5. Penguji I : Dr. A. Sudirman Abbas, MA (……………………)

    NIP 150 294 015

    6. Penguji II : Drs. H. Burhanuddin Yusuf, MM (……………………)

    NIP 150 203 012

  • PROGRAM STUDI MUAMMALAT

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1430 H / 2009 M

    LEMBAR PERNYATAAN

    Dengan ini saya menyatakan bahwa:

    1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

    persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai

    dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau

    merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang

    berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Jakarta, Maret 2009

    Deden Fajar Badruzzaman

  • KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis persembahkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan

    hidayah, taufik, dan inayah-Nya, penulis dapat nenyelesaikan skripsi yang berjudul

    "PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SANTRI DI PONDOK

    PESANTREN (Studi kasus: Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung-Bogor)

    "

    Selanjutnya shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan Allah SWT kepada

    Nabi dan Rasul-Nya Muhammad SAW beserta sahabat, keluarganya dan para

    pengikutnya hingga akhir zaman.

    Keberhasilan menyelesaikan skripsi ini walaupun setelah melalui lika-liku

    perjuangan, dengan beraneka ragam kendala, tidak terlepas dari bantuan dan dorongan

    dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, dari lubuk hati yang paling dalam, penulis

    mengucapkan banyak terima kasih, kepada :

    1. Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

    Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk

    menimba ilmu dalam proses pendewasaan intelektual.

    2. Prof. DR. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM selaku Dekan Fakultas Syariah

    dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    3. Dr. Euis Amalia, M.Ag., selaku Ketua Program Studi Muamalat Ekonomi Islam

    Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  • 4. Bapak AH. Azharudin Latif, M. Ag., selaku sekertaris Program Studi Muamalat

    Ekonomi Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    5. Drs. H. Abdul Wahab Abd Muhaimin, Lc. MA. Sebagai pembimbing I, yang dengan

    ikhlas di tengah-tengah kesibukan beliau yang sangat padat, masih berkenan

    meluangkan waktu untuk mengarahkan penulis menyelesaikan skripsi ini.

    6. Drs. H. Zainul Arfin Yusuf, M.Pd sebagai pembimbing II, yang dengan penuh

    keikhlasan dan ketulusan hati telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan

    bimbingan kepada penulis hingga skripsi ini terwujud menjadi kenyataan.

    7. Teristimewa penulis persembahkan untuk ayahanda tercinta DR. KH. Ahmad

    Dimyati Badruzzaman, MA dan ibunda tercinta Tois Yoyoh Rokayah, yang

    senantiasa mendoakan penulis dan memberikan motifasi, baik moril maupun materil

    sehingga penulis dapat menyelesaikan studi serta menyelesaikan penulisan skripsi ini.

    Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, kasih sayang, dan taufik-Nya serta

    melimpahkan kebahagiaan kepada keduanya, di dunia maupun di akhirat. Amin.

    8. kepada seluruh Dosen/Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang telah

    mentransfer ilmunya dengan ikhlas kepada penulis, serta semua karyawan/karyawati

    yang telah membantu proses penyelesaian skripsi ini dari awal hingga akhir.

    9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan

    dorongan, motifasi, bantuan moril maupun materil kepada penulis dalam

    menyelesaikan studi penulis terutama penyelesaian skripsi ini.

    Akhirnya kepada Allah SWT jualah penulis serahkan, agar semua bantuan

    dan partisipasi dari berbagai pihak tersebut diberikan-Nya ganjaran dan pahala yang

    berlipat ganda.

  • Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan.

    Oleh karena itu, masukan dan saran selalu penulis harapkan untuk kesempurnaannya.

    Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi umat

    Islam umumnya. Amin.

    Jakarta 25 Februari 2009 M

    29 Shafar 1430 H

    Penulis

  • DAFTAR ISI

    PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................................... ii

    LEMBAR PENGESAHAN…........................................................................ iii

    LEMBAR PERNYATAAN............................................................................ iv

    KATA PENGANTAR ................................................................................. v

    DAFTAR ISI................................................................................................ viii

    DAFTAR TABEL........................................................................................... xi

    BAB I : PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ................................................... 1

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah................................ 7

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ......................................... 8

    D. Metode Penelitian............................................................. 10

    E. Kerangka Konsep ............................................................. 14

    F. Tinjauan Pustaka .............................................................. 16

    G. Sistematika Penulisan ....................................................... 17

    BAB II : TINJAUAN TEORITIS

    A. Pemberdayaan Kewirausahaan.......................................... 19

    1. Pengertian Pemberdayaan ........................................... 19

    2. Pengertian Kewirausahaan .......................................... 24

    3. Jiwa dan Perilaku Kewirausahaan ............................... 27

    4. Islam dan Kewirausahaan ........................................... 30

  • B. Pondok Pesantren ............................................................. 34

    1. Pengertian Pondok Pesantren .....................................34

    2. Fungsi dan Peran Pondok Pesantren............................36

    BAB III : GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN

    AL-ASHRIYYAH NURUL IMAN

    A. Sejarah Singkat dan Perkembangan Pondok Pesantren...... 38

    B. Program Pengembangan ................................................... 42

    C. Visi dan Misi .................................................................... 43

    D. Struktur Organisasi........................................................... 44

    E. Sarana dan Prasarana ........................................................ 45

    F. Sumber Dana.................................................................... 47

    G. Sektor Usaha di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul

    Iman.................................................................................

    48

    H. Peran Pondok Pesantren dalam Pemberdayaan

    Kewirausahaan Santri .......................................................

    57

    BAB IV : PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP SANTRI DI

    PONDOK PESANTREN

  • A. Analisa Pemberdayaan Kewirausahaan di Pondok

    Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung-Bogor ..........

    60

    B. Pemberdayaan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Lain .

    75

    C. Faktor Pendukung dan Penghambat ..................................

    78

    BAB V : PENUTUP

    A. Kesimpulan ...................................................................... 80

    B. Saran ............................................................................... 83

    DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 84

    LAMPIRAN

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 1.1: Tahapan Pemberdayaan .................................................................... 15

    Tabel 3.1: Struktur Organisasi ........................................................................... 45

    Tabel 3.2: Nama Donatur dan Kegunaan Sumbangan ........................................ 48

    Tabel 3.3: Hasil Pertanian.................................................................................. 50

    Tabel 4.1: Jenis Usaha dan Pelatih..................................................................... 67

    Tabel 4.2: Rancangan Program Pemberdayaan Kewirausahaan.......................... 68

    Tabel 4.3: Potensi Ekonomi Kyai-Ulama........................................................... 72

    Tabel 4.4: Potensi Ekonomi Santri-Murid.......................................................... 73

    Tabel 4.5: Potensi Ekonomi Bidang Pendidikan ................................................ 74

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Salah satu masalah mendasar yang hingga kini menjadi tantangan terbesar

    bangsa Indonesia adalah masalah pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi

    akan memberikan pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi suatu bangsa. Namun

    demikian, Indonesia tengah menghadapi problem yang sangat kompleks dalam

    masalah pembangunan ekonomi, yang berimplikasi pada munculnya kesenjangan

    ekonomi di berbagai sektor. Hal ini disebabkan karena pembangunan tidak mampu

    menyerap potensi ekonomi masyarakat, termasuk angkatan kerja sebagai kontributor

    bagi percepatan pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi tersebut.

    Problem yang dimiliki bangsa Indonesia itu antara lain adalah pertumbuhan

    ekonomi yang tidak dibarengi dengan kesempatan tenaga kerja yang merata,

    sementara angka produktif penduduk Indonesia tidak berbanding lurus dengan

    besarnya jumlah peluang usaha dan investasi di Indonesia. Ditambah lagi banyaknya

    peluang dan kesempatan investasi tersebut tidak banyak didukung oleh kemampuan

    sumber daya manusia yang kualified. Akibatnya timbul kesenjangan antara kebutuhan

    lapangan pekerjaan dengan kesempatan yang diberikan oleh pelaku usaha kepada

    angkatan kerja, yang pada akhirnya menyebabkan timbul dan banyaknya

    pengangguran.

    Departemen Tenaga Kerja mencatat pada 2008 jumlah pengangguran

    terbuka di Indonesia 10.547.917 orang, sedangkan target pertumbuhan ekonomi yang

  • ditetapkan pemerintah adalah 6%. Jika diasumsikan setiap 1% pertumbuhan ekonomi

    menghasilkan 265.000 lapangan kerja baru, berarti dengan pertumbuhan ekonomi 6%

    negara ini hanya bisa menambah jumlah lapangan kerja untuk 1.590.000 orang saja.

    Ini berarti masih kekurangan 8.957.917 lapangan kerja.

    Lebih mengkhawatirkan lagi, 50% dari total penganggur di negeri ini adalah

    sarjana. Padahal mereka inilah yang diharapkan menjadi agent of change yang bisa

    membawa kemajuan bagi bangsa ini. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mengagetkan

    karena hanya 6% sarjana kita yang berwirausaha, selebihnya (80%) memilih menjadi

    karyawan.1

    Pola pikir yang diwujudkan dalam bentuk cita-cita menjadi pegawai

    sebenarnya sudah terjadi di berbagai belahan dunia sejak puluhan tahun yang lalu.

    Max Gunther, seorang penulis buku motivasi, pernah mengkritik sistem pendidikan di

    Amerika Serikat tahun 70-an yang katanya hanya akan melahirkan lulusan

    “sanglarstik” yang artinya mereka mempunyai mental buruh, yaitu menjadi pegawai

    negeri atau pegawai swasta.2 Mereka kurang mau dan mampu menciptakan lapangan

    kerja sendiri. Bahkan untuk kasus di Indonesia, hal itu masih terjadi sampai sekarang.

    Masyarakat sulit untuk mau dan memulai wirausaha dengan alasan mereka

    tidak diajar dan dirangsang untuk berusaha sendiri. Hal ini juga didukung oleh

    lingkungan budaya masyarakat dan keluarga yang dari dulu selalu ingin anaknya

    menjadi orang gajian alias pegawai. Di sisi lain para orang tua kebanyakan tidak

    memiliki pengalaman dan pengetahuan untuk berusaha. Oleh karena itu, mereka

    cenderung mendorong anak-anak mereka mencari pekerjaan atau menjadi karyawan.

    1 Koran Pikiran Rakyat (27/11/08). 2 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: Raja Grafindo Utama, 2006), h.2.

  • Pandangan tentang lebih enak menjadi karyawan di negeri ini memang sudah lumrah,

    kalau tidak bisa dibilang salah kaprah.3 Rupanya cita-cita ini sudah berlangsung lama

    terutama di Indonesia dengan berbagai sebab. Jadi, tidak mengherankan jika setiap

    tahun jumlah orang menganggur semakin terus bertambah sementara itu lapangan

    kerja semakin sempit.

    Selain itu, banyak pihak yang kurang yakin bahwa kewirausahaan dapat

    diajarkan melalui upaya-upaya pendidikan. Mereka yang berpendapat semacam ini

    bertitik tolak dari keyakinan bahwa kewirausahaan adalah suatu property budaya dan

    sikap mental, oleh karena itu bersifat attitudinal dan behavioral. Seseorang menjadi

    wirausaha karena dari asalnya sudah demikian. Dengan kata lain, ia menjadi

    wirausaha karena dibesarkan di lingkungan tertentu, memperoleh nilai-nilai budaya

    tertentu pula dari kalangan terdekatnya semenjak ia mampu menerima proses

    sosialisasi sebagai proses alamiah, khususnya dari orang tuanya. Jadi, pendidikan

    formal (sebagai suatu proses intervensi terencana dan terkendali yang kita kenal

    sehari-hari) untuk membentuk wirausaha, tidak mereka yakini. Mereka hanya yakin

    pada proses alamiah itu.4

    Kini sudah saatnya bangsa Indonesia memikirkan dan mencari terobosan

    dengan menanamkan sedini mungkin nilai-nilai kewirausahaan, terutama bagi

    kalangan terdidik. Penanaman nilai-nilai kewirausahaan bagi banyak orang

    diharapkan bisa menimbulkan jiwa kreativitas untuk berbisnis atau berwirausaha

    sendiri dan tidak bergantung pada pencarian kerja yang semakin hari semakin sempit

    dan ketat persaingannya. Kreativitas ini sangat dibutuhkan bagi orang yang berjiwa

    3 Sasmito, Semua Orang Bisa Jadi Pengusaha, (Jakarta: Hi-Fest Publishing, 2007), h.13.

    4 Benedicta Prihatin Dwi Riyanti, Kewirausahaan dari Sudut Pandang Psikologi

    Kepribadian (Jakarta: PT Grasindo, 2003), h.x.

  • kewirausahaan untuk menciptakan sebuah peluang kerja, tidak hanya bagi dirinya

    sendiri tapi juga bagi orang lain. Ini sesuai dengan keinginan Kantor Menteri

    Koperasi dan UKM untuk menciptakan 20 juta usaha kecil menengah baru tahun

    2020. Keinginan ini direspon positif oleh Ir. Aburizal Bakri bahwa membangun UKM

    sama dengan membangun ekonomi Indonesia. Katakanlah satu UKM mempekerjakan

    5 orang, maka 20 juta UKM akan menyerap lebih dari 100 juta tenaga kerja. Hal ini

    tidak bisa dilakukan perusahaan besar.5

    Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam hal pendidikan kewirausahaan

    (enterpreneurship), Indonesia tertinggal jauh dengan Negara-negara lain. Bahkan di

    beberapa negara, pendidikan tersebut telah dilakukan puluhan tahun yang lalu.

    Sementara di Indonesia, pendidikan kewirausahaan baru dibicarakan pada era 80-an

    dan digalakkan pada era 90-an. Namun demikian, kita patut bersyukur karena

    hasilnya dewasa ini sudah mulai berdiri sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga yang

    memang berorientasi untuk menjadikan peserta didiknya sebagai calon pengusaha

    unggul setelah pendidikan.6

    Salah satu lembaga yang concern terhadap kewirauasahaan adalah pondok

    pesantren. Dibanding masa penjajahan, memang orientasi pesantren mengalami

    pergeseran yang cukup jelas. Jika di masa penjajahan misi pesantren adalah

    mendampingi perjuangan politik merebut kemerdekaan dan membebaskan

    masyarakat dari belenggu tindakan tiranik, maka pada masa pembangunan ini, hal itu

    telah digeser menuju orientasi ekonomi.7

    5 Heflin Frinces, Kewirausahaan dan Inovasi Bisnis (Yogyakarta: Darussalam, 2004), h.4

    6 Kasmir, Kewirausahaan, h. 5.

    7 Mujamil Qomar, Pesantren: dari Transformasi Metodologi menuju Demokratisasi

    Institusi, (Jakarta: Erlangga, 2001), h.5.

  • Pondok pesantren dengan berbagai harapan dan predikat yang dilekatkan

    padanya, sesungguhnya berujung pada tiga fungsi utama yang senantiasa diemban,

    yaitu: Pertama, sebagai pusat pengkaderan pemikir-pemikir agama (Center of

    Excellence). Kedua, sebagai lembaga yang mencetak sumber daya manusia (Human

    Resource). Ketiga, sebagai lembaga yang mempunyai kekuatan melakukan

    pemberdayaan pada masyarakat (Agent of Development).

    Salah satu pondok pesantren yang mengembangkan sikap kemandirian

    dengan cukup menonjol, adalah Pesantren al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung-Bogor.

    Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator yang mengarah pada terciptanya

    kemandirian; misalnya dalam pengembangan sistem pendidikan pesantren, ia berani

    tampil beda dengan cara konsisten membina akhlak dan kegiatan ekonomi di mana

    semua unit usaha yang ada di pesantren tersebut dijalankan oleh santri sendiri.

    Sehingga ia memiliki kekhasan tersendiri dan bersifat independen. Al-Ashriyyah

    Nurul Iman Parung-Bogor adalah salah satu Pondok Pesantren yang diindikasikan

    telah memiliki sistem pendidikan pesantren yang menginternalisasi nilai-nilai

    kewirausahaan (yang memadai, terstruktur dan tertata secara sistemik) baik dilihat

    dari substansinya maupun strateginya, perbedaannya dengan pesantren yang lain

    adalah di pondok pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung-Bogor sejak awal

    berdirinya sudah menerapkan kewirausahaan di mana seluruh kegiatan usaha dari

    proses awal produksi hingga menjadi barang jadi dikerjakan oleh santri. Berbeda

    dengan pesantren lain yang hanya memberdayakan santri senior saja atau

    memberdayakan santri tetapi hanya sebagai penjaga saja. Begitu juga dengan sektor

    usaha yang dijalankan di pondok pesantren ini, bergerak dalam berbagai sektor

  • seperti agrobisnis, produksi, dan jasa. Bahkan dengan kewirausahaan tersebut,

    membuat biaya pendidikan di pondok pesantren ini menjadi gratis.

    Penulis menilai, program pemberdayaan pesantren ini cukup penting untuk

    diteliti, mengingat dampak positif yang bisa dihasilkan bagi pemberdayaan ekonomi

    umat di masa mendatang. Pemberdayaan tersebut bermakna sebagai upaya sadar yang

    dilakukan secara sistemik oleh Pesantren al-Ashriyyah dalam mengenalkan,

    memupuk, menumbuhkan, dan mengembangkan nilai-nilai kewirausahaan, yang di

    dalam penelitian ini disebut dengan “pemberdayaan kewirausahaan” di dalam pondok

    pesantren. Oleh sebab itu saya merasa tertarik untuk mengangkat tema ini menjadi

    sebuah skripsi dengan judul: “PEMBERDAYAAN KEWIRAUSAHAAN

    TERHADAP SANTRI DI PONDOK PESANTREN (Studi Kasus: Pondok

    Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor)”,

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

    1. Pembatasan Masalah

    Untuk memfokuskan penulisan dan memudahkan analisa maka

    permasalahan akan dibatasi pada permberdayaan kewirausahaan di pondok

    pesantren, dengan ketentuan sebagai berikut:

    a. Peran pondok pesantren dalam pemberdayaan sumber daya manusia melalui

    kewirausahaan yang diberikan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman.

    b. Pola pemberdayaan kewirausahaan pada Pondok Pesantren Al-Ashriyyah

    Nurul Iman.

  • c. Faktor pendukung dan penghambat dalam pemberdayaan kewirausahaan di

    Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman.

    2. Perumusan Masalah

    Untuk dapat memberikan suatu gambaran yang lebih jelas tentang

    masalah ini, maka berikut ini diajukan beberapa pertanyaan penelitian yang

    dirumuskan sebagai berikut:

    a. Bagaimana peran pondok pesantren dalam pemberdayaan kewirausahaan di

    Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman?

    b. Seperti apa pola pemberdayaan kewirausahaan pada Pondok Pesantren Al-

    Ashriyyah Nurul Iman?

    c. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam pemberdayaan

    kewirausahaan di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman?

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis:

    a. Peran pondok pesantren dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada santri

    Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman.

    b. Pola pemberdayaan kewirausahaan pada Pondok Pesantren Al-Ashriyyah

    Nurul Iman.

    c. Faktor pendukung dan penghambat dalam pemberdayaan kewirausahaan di

    Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman.

  • 2. Manfaat Hasil Penelitian

    a. Manfaat Akademis

    Penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak-

    pihak terkait, khususnya pada dunia pesantren. Selanjutnya, untuk

    memberikan sumbangsih dalam rangka pengembangan budaya kewirausahaan

    di kalangan santri dan umat Islam pada umumnya, yang pada akhimya mampu

    melahirkan para wirausahawan Muslim yang handal. Selain itu, hasil

    penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan Islam.

    b. Manfaat Praktis

    Sedangkan manfaat praktis yang diharapkan dari hasil penelitian ini

    adalah dengan format pembelajaran nilai-nilai kewirausahaan yang

    ditemukan, dapat digunakan sebagai acuan dalam pembinaan nilai

    kewirausahaan, khususnya sikap kemandirian bagi para santri maupu

    masyarakat luas, terutama di pesantren-pesantren yang memiliki kesamaan

    karakter dengan pesantren yang sedang diteliti.

    Dalam jangka panjang, implementasi format pembelajaran nilai

    kewirausahaan bagi kalangan santri ini dapat melahirkan pekarya-pekarya

    yang mandiri, baik sebagai para wirausahawan Muslim yang handal, maupun

    dalam dunia kerja dan profesi lainnya yang disemangati jiwa kemandiriannya,

    sehingga mampu meningkatkan citra pendidikan pesantren dan sekaligus

    mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru.

    D. Metode Penelitian

  • Metodologi digunakan sebagai suatu cara utama yang dipergunakan untuk

    mendapatkan data primer metode penyusunan skripsi ini menggunakan penelitian

    kualitatif dalam bentuk deskriftif analisis, Bogdan dan Taylor mendefinisikan

    penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif

    berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.8

    Penelitian ini merupakan data yang diambil dari lapangan dengan pendekatan survei,

    data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka.

    Penelitian deskriptif hanya melakukan analisis sampai tahap deskripsi, yaitu

    menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah

    dipahami dan disimpulkan,9 yaitu menggambarkan (menjelaskan secara umum).

    Penelitian deskriftif ini juga ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan

    fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang berifat alamiah maupun hasil

    rekayasa manusia.10

    Dalam hal ini, penulis melakukan penelitian dengan cara

    mengamati dan mengumpulkan data dan kemudian data yang diperoleh, disusun dan

    dikembangkan dan selanjutnya dikemukakan dengan seobjektif mungkin kemudian

    dianalisis. Guna mendapatkan data-data yang diperlukan, maka digunakan:

    1. Sumber Data

    Dalam penelitian ini penulis menggunakan sumber data yang terdiri dari:

    a. Subjek Penelitian

    Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah orang yang dapat

    memberikan informasi adapun yang dijadikan sebagai sumber informasi

    8 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda, 2006), h.4 9 Azwar Saifudin, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1999), h. 6

    10 Nana Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Rosda, 2005), h.72.

  • dalam penelitian ini adalah pengurus pondok pesantren, karyawan dan santri-

    santri pondok pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung-Bogor.

    b. Objek Penelitian

    Sedangkan yang menjadi objek penelitian yaitu bagaimana proses

    pemberdayaan kewirausahaan dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship

    santri yang dilakukan oleh pondok pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman

    Parung-Bogor.

    2 Pengumpulan Data

    Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan

    dokumentasi.

    a. Wawancara

    Wawancara yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan

    penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya

    atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan

    alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).11

    Jenis

    wawancara yang digunakan adalah wawancara berstruktur, yaitu semua

    pertanyaan telah dirumuskan dengan cermat dengan bertanya secara langsung

    kepada responden (Pengurus Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Parung-Bogor)

    tehnik ini digunakan untuk mendapatkan keterangan dari para pengurus

    pondok pesantren mengenai hal-hal yang terkait dan berhubungan dengan

    pemberdayaan kewirausahaan di pondok pesantren.

    11 Mohammad Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988),

    h.25.

  • Setelah data terkumpul, maka akan dilakukan analisa guna

    mendapatkan kesimpulan yang akurat bagi permasalahan ini, yaitu melalui

    reduksi atas data-data yang terkumpul, mensortir mana data yang relevan dan

    mana yang tidak. Selanjutnya dilakukan penyederhanaan dan pengolahan data

    terutama data yang bersifat kuantitatif untuk disajikan dalam bentuk deskripsi

    dan yang terakhir menarik kesimpulan dari keseluruhan penyajian tersebut.

    b. Observasi

    Merupakan pengamatan dan pencatatan yang dilakukan secara

    sistematis dari fenomena yang diselidiki. Dalam hal ini penulis melakukan

    pengamatan terhadap proses pemberdayaan kewirausahaan yang dilakukan

    Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung-Bogor.

    c. Dokumentasi

    Yaitu data primer yang digunakan dalam penelitian berupa

    dokumen atau data yang secara langsung oleh pihak pondok kemudian diolah.

    d. Kajian Pustaka

    Yaitu sumber-sumber bacaan/ pustaka yang dapat mendukung

    teori-teori yang digunakan dalam penelitian. Data-data ini diperoleh dari :

    Majalah, surat kabar, buku-buku cetak, mailing list, (Website/Internet) yang

    berhubungan dengan pemberdayaan kewirausahaan dan untuk ayat-ayat Al-

    Qur’an langsung mengutip dari terjemahan DEPAG R.I.

    e. Pengolahan Data

    Dari data-data yang sudah penulis peroleh, maka penulis

    mempelajari berkas-berkas yang telah terkumpul kemudian penulis

    melakukannya dengan cara editing sampai semua itu dinyatakan baik.

  • 3. Analisis Data

    Setelah data-data yang diperlukan terkumpul, langkah selanjutnya

    adalah mengklasifikasikan data-data kemudian dianalisa sesuai dengan rumusan

    masalah penelitian. Setelah itu disajikan dalam dalam laporan ilmiah.

    Metode analisa yang digunakan adalah metode deskriftif kualitatif,

    yaitu penulis menganalisis data berdasarkan informasi-informasi yang diperoleh

    dari hasil wawancara dan studi dokumentasi.

    Adapun sistematika penulisan skripsi ini mengacu pada: Buku

    Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif

    Hidayatullah Jakarta Tahun 2007.

    E. Kerangka Konsep

    Proses dan sekaligus kenyataan globalisasi tidak dapat dihindari. Ini sebuah

    keniscayaan, yang diakui oleh semua orang. Maka untuk menghadapinya diperlukan

    kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas,12

    yaitu manusia-manusia

    unggul yang mempunyai kualifikasi untuk bersaing dengan sumber daya dari luar.

    Untuk itu diperlukan adanya upaya-upaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas

    diri yang tanpa henti.

    Pemberdayaan dalam kamus umum bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai

    upaya pendayagunaan, pemanfaatan yang sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang

    memuaskan.13

    Sedangkan dalam pengertian lain istilah pemberdayaan berarti upaya

    memperluas pilihan bagi masyarakat dengan upaya pendayagunaan potensi,

    pemanfaatan yang sebaik-baiknya, dengan kata lain pemberdayaan adalah

    12 A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi: Reinterpretasi Ajaran Islam (Persiapan SDM dan

    Terciptanya Masyarakat Madani (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h.vii. 13 Badudu dan Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,

    2001) h. 318.

  • memampukan dan memandirikan masyarakat.14

    Pemberdayaan juga dapat berarti

    penyadaran tentang kelemahan atau potensi yang dimiliki sehingga menimbulkan dan

    meningkatkan kepercayaan diri sendiri untuk keluar dari persoalan dan untuk

    memcahkan permasalahan serta mengembangkan diri.

    Minimal ada tiga tahapan dalam pemberdayaan15

    . Pertama, Input yaitu

    menetapkan dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan pemberdayaan melalui

    identifikasi kebutuhan dan penetapan sasaran, ini dimaksudkan untuk mencapai

    tujuan yang dapat diukur dalam bentuk peningkatan dan perubahan yang lebih baik.

    Kedua, proses pelaksanaan dari pemberdayaan yang direncanakan. Ketiga, Output

    yaitu memantau, mengevaluasi dan menganalisis pemberdayaan.

    Tabel 1.1

    Tahapan pemberdayaan

    Salah satu upaya untuk memberdayakan potensi ekonomi umat serta

    membangun sebuah masyarakat yang mandiri adalah melahirkan sebanyak-

    banyaknya wirausahawan baru. Asumsinya sederhana, kewirausahaan pada dasarnya

    14 Lili Badiri, Muhammad Zen, M.Hudri, Zakat & Wirausaha, (Jakarta: CV. Pustaka Amri,

    2005) h. 54.

    15 Sumardi, Pemberdayaan Masyarakat, (Bandung: Berkah Pustaka, 1984), h.23.

    Input

    Output

    Proses

  • adalah kemandirian, terutama kemandirian ekonomis; dan kemandirian adalah

    keberdayaan.16

    Pesantren sejak pendiriannya telah memberikan perhatian yang utuh

    terhadap penyiapan generasi Indonesia yang tidak saja memahami ajaran agama

    dalam konteks sosial, tetapi juga mempersiapkan generasi dengan keterampilan dan

    kreatifitas yang tinggi. Doktrin pesantren tentang pentingnya jiwa kewirausahaan

    menjadi ajaran wajib bagi setiap pesantren. Hampir susah menemukan pesantren yang

    mengajarkan santrinya untuk mengejar posisi sebagai pegawai negeri sipil. Fakta ini

    memberikan kesimpulan bahwa hanya dengan bekal keterampilan dan kreatifitas

    yang tinggi, maka alumni pesantren bisa menjadi bahagian masyarakat.

    F. Tinjauan Pustaka

    Dalam penyusunan skripsi ini sebelum penulis mengadakan penelitian lebih

    lanjut kemudian menyusunnya menjadi satu karya ilmiah, maka langkah awal yang

    penulis tempuh adalah mengkaji terlebih dahulu terhadap skripsi-skripsi terdahulu

    yang mempunyai judul hampir sama dengan yang akan penulis teliti. Maksud

    pengkajian ini adalah agar dapat diketahui bahwa apa yang penulis teliti sekarang

    tidak sama dengan penelitian dari skripsi-skripsi terdahulu.

    Adapun setelah penulis mengadakan suatu kajian kepustakaan, penulis

    akhirnya menemukan beberapa tulisan yang menulis judul hampir sama dengan yang

    akan penulis teliti, judul-judul tersebut antara lain adalah karya milik pertama;

    Muzaini Romli. Manajemen Sumber Daya Manusia pada Pondok Pesantren Jamiyah

    16 Nanih Machendrawati, Agus Ahmad Syafe’í, Pengembangan Masyarakat Islam: dari

    Ideologi, Strategi sampai Tradisi (Bandung:.PT Remaja Rosdakarya, 2001), Cet. 1, h.47.

  • Islamiyah Fakultas Syari'ah dan Hukum Jurusan Muamalat tahun 1429 H/2008 lebih

    memaparkan tentang Manajemen SDM dalam sebuah pesantren bukan pemberdayaan

    melalui kewirausahaan.

    Skripsi yang kedua; adalah milik Ahmad Suyuti, Pengembangan Model

    Pendidikan Berbasis Kompetensi di Pondok Pesantren Universitas Airlangga tahun

    2005 yang lebih memaparkan mengenai pemberdayaan SDM di bidang pendidikan

    formal bukan di bidang kewirausahaan dan berbagai bidang usaha pesantren. Juga

    dengan skripsi yang ketiga; karya Siti Irma Fatimah, Analisa Strategi Koperasi

    Pondok Pesantren dalam Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (Studi Kasus pada

    Koperasi Pondok Pesantren Al-Ikhlas Subang Jawa Barat) Fakultas Syari'ah dan

    Hukum Jurusan Muamalat tahun 1427 H/2006 M ini juga hanya memaparkan

    koperasi saja tanpa menyebutkan jenis usaha lainnya.

    Berbeda dengan ketiga skripsi dan tulisan diatas bahwa penelitian yang akan

    penulis lakukan pada pondok pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman adalah

    memberikan gambaran mengenai seperti apa pola dan strategi pemberdayaan

    kewirausahaan dalam menumbuhkan kemandirian santri dan pesantren.

    Demikianlah perbedaan pokok pembahasan atau materi yang akan penulis

    teliti dengan skripsi-skripsi terdahulu.

    G. Sistematika Penulisan

    Untuk memudahkan penulisan skripsi ini, penyusun membagi kepada

    beberapa bab yakni :

  • BAB I. Pendahuluan. Bagian ini menjelaskan tentang latar belakang

    masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian,

    metode penelitian dan sistematika penulisan.

    BAB II. Tinjauan Teori Tentang Pemberdayaan Kewirausahaan.

    Bagian ini akan membahas tentang landasan teori, yaitu terdiri dari, teori

    Pemberdayaan, Tahapan-tahapan Pemberdayaan dan kompleks pemberdayaan yang

    harus diperjuangkan. Teori Kewirausahaan, jiwa kewirausahaan dan kewirausahaan

    didalam Islam.

    BAB III. Gambaran Umum Pondok Pesantren Al-Ashriyyah. Pada bab

    ini menguraikan tentang sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Parung

    Bogor, perkembangan, visi, misi dan tujuan Pondok Pesantren, dan struktur

    organisasi kepengurusan Pondok Pesantren. Semua poin-poin tersebut dikemukakan

    secara umum dan lebih difokuskan pada divisi departemen usaha Pondok Pesantren

    Al-Ashriyyah Nurul Iman.

    BAB IV. Pemberdayaan Kewirausahaan di Pondok Pesantren. Analisa

    Pemberdayaan kewirausahaan dalam menumbuhkan dan meningkatkan kemandirian

    di bawah koordinasi Pondok Pesantren Al-Ashriyyah. Pembahasan ini menguraikan

    mengenai tahapan pemberdayaan, yaitu identifikasi kebutuhan, penetapan sasaran,

    merancang program, pelaksanaan program dan evaluasi, serta faktor pendukung dan

    penghambat serta unsur-unsur pondok pesatren yang di berdayakan di Pondok

    Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung-Bogor.

    BAB V. Penutup. Berisi tentang kesimpulan dan saran-saran.

  • BAB II

    TINJAUAN TEORITIS

    A. Pemberdayaan Kewirausahaan

    1. Pengertian Pemberdayaan

    Pada dasarnya, agama Islam adalah agama pemberdayaan. Dalam

    pandangan Islam, pemberdayaan harus merupakan gerakan tanpa henti.17

    Secara

    konseptual, pemberdayaan (empowerment) berasal dari kata ‘power’ (kekuasaan

    atau keberdayaan).18

    Pemberdayaan secara etimologi berasal dari kata daya yang

    berarti upaya, usaha, akal, kemampuan.19

    Jadi, pemberdayaan adalah upaya untuk

    membangun daya (masyarakat) dengan mendorong, memotivasi dan

    membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk

    mengembangkannya.20

    Pemberdayaan ini menyangkut beberapa segi yaitu Pertama,

    penyadaran tentang peningkatan kemampuan untuk mengidentifikasi persoalan

    dan permasalahan yang ditimbulkan serta kesulitan hidup atau penderitaan.

    Kedua, meningkatkan sumber daya yang telah ditemukan, pemberdayaan

    memerlukan upaya advokasi kebijakan ekonomi politik yang pada pokoknya

    bertujuan untuk membuka akses golongan bawah, lemah, dan tertindas tersebut

    17 Nanih Machendrawati, Agus Ahmad Syafe’í, Pengembangan Masyarakat Islam:

    dari Ideologi, Strategi sampai Tradisi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), Cet. 1, h.41. 18 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat (Bandung: Reflika

    Aditama, 2005), Cet. 1, h. 57.

    19 Badadu-Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1997), h.

    317.

    20 Mubyartanto, Membangun Sistem Ekonomi (Yogyakarta: BPFE, 2000), h.263.

  • terhadap sumber daya yang dikuasai oleh golongan kuat atau terkungkung oleh

    peraturan peraturan pemerintah dan pranata sosial.21

    Menurut Suharto, pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang,

    khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau

    kemampuan, antara lain dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka

    memiliki kebebasan (freedom). Bukan saja berarti bebas mengemukakan

    pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari

    kesakitan. Juga kemamppuan dalam menjangkau sumber-sumber produktif yang

    memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh

    barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan, serta kemampuan dalam

    berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang

    mempengaruhi kehidupan mereka.22

    Payne, mengemukakan bahwa suatu pemberdayaan (empowerment)

    pada intinya ditujukan untuk membantu klien memperoleh daya untuk mengambil

    keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan yang terkait dengan

    diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam

    melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa

    percaya diri untuk menggunakan daya yang dimiliki, antara lain melalui transfer

    daya dari lingkungannya.

    Shadow, melihat bahwa berbagai pengertian yang ada mengenai

    pemberdayaan pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok, atau

    komunitas berusaha membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.

    21 M. Dawam Rahardjo, Islam Dan Transformasi Sosial Ekonomi, (Yogyakarta:

    Pustaka Pelajar, 1999), Cet. 1, h. 355.

    22 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, h.58

  • Prinsip ini pada intinya mendorong klien untuk menentukan sendiri apa yang

    harus ia lakukan dalam kaitan dengan upaya mengatasi permasalahan yang ia

    hadapi. Sehingga klien mempunyai kesadaran dan kekuasaan penuh dalam

    membentuk hari depannya.

    Jadi berdasarkan pengertian di atas, pemberdayaan adalah penyadaran

    tentang kelemahan atau potensi yang dimiliki sehingga menimbulkan dan

    meningkatkan kepercayaan diri sendiri untuk keluar dari persoalan dan untuk

    memecahkan permasalahan serta mengembangkan diri.

    Tahapan-tahapan Pemberdayaan

    Adapun upaya untuk pemberdayaan masyarakat terdiri dari tiga tahapan

    yaitu:

    a. Menciptakan suasana iklim yang memungkinkan potensi masyarakat itu

    berkembang. Titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia dan

    masyarakat memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan.

    b. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat, dalam rangka

    ini diperlukan langkah-langkah lebih positif dan nyata, serta pembukaan akses

    kepada berbagai peluang yang akan membuat masyarakat menjadi semakin

    berdaya dalam memanfaatkan peluang.23

    Menurut Elly Irawan sebagaimana dikutip Lili Bariadi dan Muhammad

    Zen, pola-pola pemberdayaan ekonomi masyarakat mempunyai ciri-ciri atau

    unsur-unsur pokok sebagai berikut:

    a. Mempunyai tujuan yang hendak dicapai

    23 Gunawan Sumodiningrat, Pengembangan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat,

    (Jakarta: PT. Bina Rena Pariwara, 2003), cet. 2. h. 16.

  • b. Mempunyai wadah yang terorganisir

    c. Aktivitas yang dilakukan terencana, berlanjut, serta harus sesuai dengan

    kebutuhan dan sumber daya setempat.

    d. Ada tindakan bersama dan keterpaduan dari berbagai aspek yang terkait

    e. Ada perubahan sikap pada masyarakat sasaran selama tahap-tahap

    pemberdayaan.24

    Menurut Isbandi Rukminto Adi, upaya untuk memberdayakan

    masyarakat dapat dilakukan dengan cara, yaitu:

    a. Menumbuhkan keinginan masyarakat untuk berwiraswasta, bergelut dalam

    aspek ekonomi, bertindak dengan merancang munculnya diskusi tentang apa

    yang menjadi masalah dalam masyarakat.

    b. Memberikan informasi tentang pengalaman kelompok lain yang telah sukses

    dan sejahtera.

    c. Membantu masyarakat untuk membuat analisis situasi usaha yang prospektif

    secara sistematik tentang hakekat dan penyebab dari masalah berbisnis

    d. Menghubungkan masyarakat dengan sumber yang dapat dimanfaatkan.25

    Sedangkan menurut Syamsudin RS, ada tiga kompleks pemberdayaan

    yang mendesak untuk diperjuangkan, yaitu:

    1. Pemberdayaan pada mata ruhaniyah, dalam hal ini terjadi degradasi moral

    atau pergeseran nilai masyarakat Islam yang sangat mengguncang kesadaran

    24 Lili Bariadi, Muhamad Zen, Zakat dan Wirausaha (Jakarta: CV. Pustaka Amri,

    2005), h.47

    25 Isbandi Rukminto Adi, Pemikiran-pemikiran dalam Pembangunan

    Kesejahteraan Sosial (Jakarta: UI Press, 2003), h.237-238.

  • Islam. Oleh karena itu, pemberdayaan jiwa dan akhlak harus lebih

    ditingkatkan.

    2. Pemberdayaan intelektual, yang pada saat ini dapat disaksikan bahwa umat

    Islam Indonesia telah jauh tertinggal dalam kemajuan tekhnologi, untuk itu

    diperlukan berbagai upaya pemberdayaan intelektual sebagai perjuangan besar

    (jihad).

    3. Pemberdayaan ekonomi, masalah kemiskinan menjadi kian identik dengan

    masyarakat Islam Indonesia. Pemecahannya adalah tanggung jawab

    masyarakat Islam sendiri. Seorang putra Islam dalam generasi Qurani awal

    terbaik, Sayyidina Ali mengatakan “sekiranya kefakiran itu berwujud

    manusia, sungguh aku akan membunuhnya. Untuk dapat keluar dari himpitan

    ekonomi seperti sekarang ini, disamping penguasaan terhadap life skill atau

    keahlian hidup, keterampilan berwirausaha pun dibutuhkan juga dalam

    pengembangan dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan. 26

    Tujuan pemberdayaan adalah mendirikan manusia atau membangun

    kemampuan untuk memajukan diri ke arah yang lebih baik secara

    berkesinambungan. Oleh karenanya, pemberdayaan atau pengembangan

    masyarakat adalah upaya untuk memperluas pilihan bagi masyarakat. Ini berarti

    masyarakat diberdayakan untuk melihat dan memilih sesuatu yang bermanfaat

    bagi dirinya. Untuk itu setiap pemberdayaan diarahkan untuk peningkatan

    martabat manusia sehingga menjadikan masyarakat maju dalam berbagai aspek.

    26 Syamsudin RS, Dasar-dasar Pengembangan Masyarakat Islam dalam Da’wah

    Islam, (Bandung: KP. HADID, 1999), h.2.

  • 2. Pengertian Kewirausahaan

    Wirausaha atau wiraswasta diartikan sebagai wira yang artinya

    pahlawan, berbudi luhur; swa artinya sendiri sta artinya berdiri. Oleh karena itu

    wiraswasta disimpulkan sebagai manusia teladan dalam berdiri sendiri

    (berdikari).27

    Dalam buku The Portable MBA in Entrepreneurship, kewirausahaan

    didefinisikan sebagai: Entrepreneur is the person who perceives an opportunity

    and creates an organization to pursue it.28

    Pada definisi ini ditekankan bahwa

    seorang wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang, kemudian

    menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.

    Pengertian wirausaha di sini menekankan pada setiap orang yang

    memulai sesuatu bisnis yang baru. Sedangkan proses kewirausahaan meliputi

    semua kegiatan fungsi dan tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang

    dengan cara menciptakan suatu organisasi.

    Dalam tradisi peristilahan di Indonesia, istilah wirausaha menurut

    Buchari Alma, pada dasarnya sama dengan istilah wiraswasta. Walaupun

    rumusannya berbeda-beda tetapi isi dan karakteristiknya sama, yaitu memiliki

    sifat perwira atau mulia dan mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Jadi, ia

    memiliki kemampuan untuk berdikari, otonom, berdaulat. Atau menurut Ki Hajar

    Dewantoro, merdeka lahir batin.

    27 Sumarsono, Kontribusi Sikap Mental Berwiraswasta untuk Berprestasi, (Jakarta:

    C.V Era Swasta, 1984), h.1.

    28 Anugrah Pekerti, Falsafah Kewirausahaan (Mitos, Teori dan Aksi Pengembangan

    Kewirausahaan), (Jakarta : Depdikbud Dikti, 1998), h.20.

  • Raymond W. Kao menyebut kewirausahaan sebagai suatu proses,

    yakni proses penciptaan sesuatu yang baru (kreasi baru) dan membuat sesuatu

    yang berbeda dari yang sudah ada (inovasi).29

    Sedangkan menurut Peter F. Drucker sebagaimana dikutip oleh

    Kasmir, mengatakan bahwa kewirausahaan merupakan kemampuan dalam

    menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Artinya bahwa seorang

    wirausahawan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan

    sesuatu yang baru berbeda dengan yang lain atau mampu menciptakan sesuatu

    yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.30

    Jadi, seorang wirausaha adalah seorang usahawan yang di samping

    mampu berusaha dalam bidang ekonomi umumnya dan niaga khususnya secara

    tepat guna (tepat dan berguna, efektif, dan efisien), juga berwatak merdeka lahir

    batin serta berbudi luhur.31

    Selanjutnya, Alma juga memberikan penekanan pengertian tersebut

    berdasarkan ciri-ciri wirausahawan versi Suparman Sumahamijaya, bahwa :

    Seorang wirausaha adalah seseorang yang memiliki pribadi hebat, produktif,

    kreatif, melaksanakan kegiatan perencanaan, bermula dari ide sendiri, kemudian mengembangkan kegiatannya dengan menggunakan tenaga orang

    lain dan selalu berpegang kepada nilai-nilai disiplin dan kejujuran yang

    tinggi.32

    Adapun menurut Winardi, karakteristik setiap wirausahawan paling

    tidak memiliki beberapa ciri sebagai berikut:

    a. Kebutuhan akan keberhasilan.

    29 Rambat Lupiyoadi, Kewirausahaan : From Mindset to Strategy, (Jakarta :

    LPUI, 2005), h.27.

    30 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: Raja Grafindo Utama, 2006), h.17

    31 Buchari Alma, Panduan Kuliah Kewirausahaan. (Bandung: CV Alvabeta, 2000),

    h.70. 32 Buchari Alma, Ajaran Islam dalam Bisnis. (Bandung: CV Alfabeta, 1994), h.22

  • b. Berani mengambil resiko.

    c. Keinginan kuat untuk berbisnis.

    d. Seorang oportunis yang melihat kesempatan.33

    Kewirausahaan berkembang dan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi

    ini dipicu oleh faktor pribadi, lingkungan dan sosiologi. Faktor individu yang

    memicu kewirausahaan adalah pencapaian Locus of control, toleransi,

    pengambilan resiko, nilai-nilai pribadi, pendidikan, pengalaman, usia, komitmen,

    dan ketidakpuasan. Adapun inovasi yang berasal dari lingkungan ialah peluang,

    model peran, aktifitas, pesaing, incubator, sumber daya, dan kebijakan

    pemerintah. Sedangkan faktor pemicu yang berasal dari lingkungan sosial

    meliputi keluarga, orang tua dan jaringan kelompok.

    Seperti halnya pada saat perintisan kewirausahaan, maka pertumbuhan

    kewirausahaan sangat tergantung pada kemampuan organisasi dan lingkungan.

    Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan kewirausahaan adalah

    pesaing, pemasok, pelanggan, dan lembaga-lembaga keuangan yang membantu

    pendanaan. Sedangkan faktor yang berasal dari pribadi adalah komitmen, visi,

    kepemimpinan, dan kemampuan manajerial. Selanjutnya faktor yang berasal dari

    organisasi adalah kelompok, struktur, budaya, dan strategi.34

    3. Jiwa dan Perilaku Kewirausahaan

    Secara sederhana, arti wirausaha (entrepreneur) adalah orang yang

    berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai

    33 Winardi, Entrepreneur dan Entrepreneurship, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 27.

    34 Suryana, Kewirausahaan, (Jakarta: PT. Salemba Emban Patria, 2003) h.10

  • kesempatan. Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan

    berani memulai usaha tanpa takut dan rasa cemas, sekalipun dalam kondisi tidak

    pasti.35

    Jiwa kewirausahaan juga berarti merupakan kemampuan dalam

    menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.36

    Seorang wirausaha dalam

    pikirannya selalu berusaha mencari, memanfaatkan, serta menciptakan peluang

    usaha yang dapat memberikan keuntungan. Resiko kerugian merupakan hal biasa

    karena mereka memegang prinsip bahwa faktor kerugian pasti ada. Tidak ada

    istilah rugi selama seseorang melakukan usaha dengan penuh keberanian dan

    penuh perhitungan. Inilah yang disebut dengan jiwa kewirausahaan.

    Berkaitan dengan perilaku kewirausahaan (entrepreneur behavior),

    Nanat Fatah Natsir mendefinisikannya sebagai kegiatan-kegiatan yang polanya

    dicirikan oleh unsur-unsur kewirausahaan.37

    Menurut McClelland sebagaimana

    dikutip Dra. Nanih Machendrawati dan Agus Ahmad Syafei. perilaku atau

    karakteristik seorang wirausahawan adalah sebagai berikut:

    Pertama, keinginan untuk berprestasi. Yang dimaksud dengan keinginan

    untuk berprestasi adalah suatu keinginan atau dorongan dalam diri orang yang

    memotivasi perilaku ke arah pencapaian tujuan.

    Kedua, keinginan untuk bertanggung jawab. Seorang wirausahawan

    menginginkan tanggung jawab pribadi bagi pencapaian tujuan. Mereka memilih

    menggunakan sumber daya sendiri dengan cara bekerja sendiri untuk mencapai

    tujuan dan bertanggung jawab sendiri terhadap hasil yang dicapai.

    35 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: Raja Grafindo Utama, 2006), h.17 36 Peter F. Drucker, Inovasi dan Kewiraswastaan: Praktek & Dasar-Dasar,

    (Jakarta:Erlangga, 1985) h.33. 37 Nanat Fatah Natsir, Etos Kerja Wirausaha Muslim, (Bandung: Sunan Gunung Djati

    Press, 1999), h.34

  • Ketiga, preferensi kepada resiko-resiko menengah. Seorang

    wirausahawan bukanlah penjudi (gambler). Mereka menetapkan tujuan-tujuan

    yang membutuhkan tingkat kinerja tinggi, suatu tingkatan yang menuntut usaha

    keras, tapi dipercaya mereka bisa penuhi.

    Keempat, persepsi pada kemungkinan berhasil. Keyakinan kepada

    kemampuan untuk mencapai keberhasilan adalah kualitas kepribadian seorang

    wirausahawan. Seorang wirausahawan akan mempelajari fakta-fakta yang

    dikumpulkan dan menilainya. Ketika fakta tidak sepenuhnya tersedia, mereka

    berpaling pada sikap percaya diri mereka yang tinggi dan melanjutkan tugas

    tersebut.

    Kelima, rangsangan oleh umpan balik. Seorang wirausahawan

    dirangsang untuk mencapai hasil kerja yang lebih tinggi dengan mempelajari

    seberapa efektif usaha mereka.

    Keenam, aktifitas enerjik. Seorang wirausaha akan menunjukan energi

    yang jauh lebih tinggi dari rata-rata orang. Kesadaran ini akan melahirkan sikap

    untuk terlibat secara mendalam pada pekerjaan yang mereka lakukan.

    Ketujuh, orientasi masa depan. Seorang wirausahawan akan melakukan

    perencanaan dan berpikir ke depan. Mereka mencari dan mengantisipasi

    kemungkinan yang akan terjadi jauh di masa depan.

    Kedelapan, keterampilan dalam berorganisasi. Seorang wirausahawan

    menunjukan keterampilan (skill) dalam mengorganisasi kerja dan orang-orang

    dalam mencapai tujuan.

  • Kesembilan, sikap terhadap uang. Keuntungan finansial adalah nomor

    dua dibanding prestasi kerja mereka. Seorang wirausahawan memandang uang

    sebagai lambang konkret dari tercapainya tujuan dan sebagai pembuktian dari

    kompetensi mereka. 38

    Dari berbagai penjelasan diatas dapat diambil inti dari pemberdayaan

    kewirausahaan, yaitu proses memampukan dan memandirikan daya dan kekuatan

    (kompetensi dan kapasitas) yang ada guna membangun serta menentukan

    tindakan berdasarkan keinginan mereka secara mandiri dengan mengubah pola

    pikir agar menjadi berani dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan serta

    memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada dirinya.

    4. Islam dan Kewirausahaan

    Salah satu upaya untuk memberdayakan potensi ekonomi umat serta

    membangun sebuah masyarakat yang mandiri adalah melahirkan sebanyak-

    banyaknya wirausahawan baru. Asumsinya sederhana, kewirausahaan pada

    dasarnya adalah kemandirian, terutama kemandirian ekonomis; dan kemandirian

    adalah keberdayaan.39

    Semangat islam akan kemandirian banyak dijumpai dalam ayat al-

    Quran maupun Hadis Nabi. Salah satunya dapat dijumpai dalam ayat:

    ��������� ����� �������� ����������� �� !"�#$⌧��&

    '����� �()*+� ,-.�/�.0#�� �1 23�� 456+�7 89:;+ ��

    @AB�CD�☺0#�� �F “Apakah engkau tahu siapakah pendusta agama? Mereka adalah yang

    menelantarkan anak yatim dan tidak perduli terhadap para fakir miskin.40

    38 Nanih Machendrawati, Agus Ahmad Syafe’í, Pengembangan Masyarakat Islam:

    dari Ideologi, Strategi sampai Tradisi, h.47.

    39 Nanih Machendrawati, Agus Ahmad Syafe’í, Pengembangan Masyarakat Islam:

    dari Ideologi, Strategi sampai Tradisi, h.47. 40 Q.S Al-Ma’un 1-3

  • Mafhum mukallaf dari ayat di atas adalah “orang kaya yang tidak

    menyantuni yatim dan fakir miskin ekuivalen dengan orang miskin yang tidak

    berjuang terus-menerus untuk meraih kemandirian ekonomis”. Kewajiban kaum

    berpunya untuk membayar zakat, anjuran untuk bersedekah, wakaf dan kewajiban

    untuk memberdayakan orang-orang yang tidak berdaya secara ekonomis

    merupakan petunjuk Islam paling jelas terhadap etos kewirausahaan

    (entrepreneurship).41

    Allah SWT menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling mulia,

    paling sempurna, dan karena itulah manusia diberi tugas sebagai khalifah dimuka

    bumi ini. Selain itu, dalam al-Quran dinyatakan bahwa umat Islam adalah “khaira

    ummah” atau sebaik-baiknya umat di antara manusia. Khaira ummah dapat

    terwujud jika umat Islam berilmu, berharta, dan sehat jasmani rohani, sehingga

    dapat berguna dan memberi manfaat bagi orang lain yang masih dalam

    kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Dengan berwirausaha maka makin

    banyak kekayaannya, makin banyak pula orang yang menimati kekayaannya.

    Makin banyak pekerjaannya, berarti makin banyak pula anggota keluarga yang

    ditolongnya. Hidupnya menjadi bermanfaat bagi orang lain.42

    Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

    43.)ِ ���ن ِإْ�ُ� َرَواُ� (ِ���ـ�ِس َأْنـَ�ُ�ـُ�ْ� ا��ـ�ِس َ�ـْ�ـُ�

    41 Nanih Machendrawati, Agus Ahmad Syafe’í, Pengembangan Masyarakat Islam:

    dari Ideologi, Strategi sampai Tradisi, h.47.

    42 Sudrajat Rasyid, Kewirausahaan Santri: Bimbingan Santri Mandiri,(Jakarta: PT.

    Citrayudha, 2006), h.32

    43 Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti, Jaami’ Al Hadits: Al Jaami’ As Shagir Wal

    Jawahid Wa Al Jaami’ Al Kabir, (Beirut: Daar al Fikri, 1994), Juz IV, h.303.

  • “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang lebih banyak memberi manfaat

    bagi manusia lainnya”

    Nabi Muhammad saw. ketika mudanya juga seorang pedagang, bahkan

    terkenal sebagai pedagang yang jujur dan amanah. Nabi Muhammad juga

    menganjurkan umatnya agar menjadi pengusaha atau pedagang, bukan menjadi

    pekerja. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

    اُ�َوَر. (ا�0/ـَ�َ&اِءَو ْیـِ,ـْ�َ�َوا�'+ـ&ِ+ ا��ـِ��+ـْ�َ� َ)َ* اَ(ِ)ـْ�ُ� ا�'�ـُ&ْوُق ا�$�ـ�ِ#ـْ�ُ� 44)�ِآ�4َاْ�َو ي2ِِ)ْ�ا�$ِّ

    “Pedagang yang jujur lagi terpercaya, bersama para Nabi, bersama orang-orang

    yang benar dan para syuhada” (HR Tirmidzi dan Hakim)

    Reputasi Nabi dalam dunia bisnis dikenal sebagai orang yang sukses.

    Rahasia keberhasilan Rasul adalah jujur dan adil dalam mengadakan hubungan

    dagang dengan para pelanggan.45

    Nabi Muhammad percaya kalau ia setia jujur

    dan profesional, maka orang akan mempercayainya. Inilah dasar dan etika

    wirausaha yang diletakkan oleh Rasulullah kepada umatnya dan umat manusia

    seantero jagat.

    Dasar-dasar kewirausahaan yang demikian itulah yang menyebabkan

    pengaruh Islam berkembang pesat sampai ke pelosok dunia. Maka, jika kaum

    Muslimin Indonesia ingin melakukan bisnis yang maju, maka etika, moral, dan

    jiwa kewirausahaan yang dicontohkan oleh Rasul tersebut dipegang dan sungguh

    tepat untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan hidup di dunia ini.46

    44 Ibid, h.155

    45 Afzalurrahman, Muhammad Sebagai Pedagang, (Jakarta: Yayasan Swarna Bhumy,

    1997), h.26

    46 Lili Badiri, Muhammad Zen, M.Hudri, Zakat & Wirausaha, (Jakarta: CV. Pustaka

    Amri, 2005) h. 43.

  • Kemandirian dan kecukupan dalam bidang ekonomi memiliki makna

    yang penting bagi setiap Muslim47

    karena:

    a. Dengan kekuatan ekonomi yang baik seorang Muslim akan dapat memelihara

    imannya sendiri dan keluarganya dengan lebih baik.

    b. Dengan kekuatan ekonomi yang baik, seorang Muslim akan lebih dapat

    menjalankan aktivitas ibadah dan menjalankan syariat dengan tenang, khusyu,

    dan merasa memiliki harga diri didalam komunitasnya.

    c. Kekuatan ekonomi sangat diperlukan sangat dibutuhkan untuk menunjang

    pelaksanaan berbagai ibadah dan kiprah di jalan Allah.

    d. Kemampuan ekonomi diperlukan untuk pengembangan peradaban secara

    keseluruhan, seperti pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,

    kebudayaan, dan kesenian serta memajukan masyarakat secara keseluruhan.

    e. Kemampuan ekonomi sangat diperlukan untuk regenerasi umat agar umat ini

    tumbuh lebih tangguh di masa depan.

    f. Pada level organisasi kemasyarakatan yang lebih besar, misalnya sebuah

    negara, kekuatan dan kemandirian dalam bidang ekonomi menjadi syarat

    mutlak agar warga atau bangsa yang menghuni negara itu dapat menikmati

    kesejahteraan hidup, menjadi terhormat di hadapan bangsa lain.

    Jadi, berusaha di lapangan perekonomian untuk meningkatkan

    kesejahteraan hidup, mencari bekal dalam beribadah, dan membantu kegiatan

    pembangunan umat adalah bagian yang tak terpisahkan dalam jalan hidup seorang

    Muslim.

    47 Miftahul Huda, Aspek Ekonomi dalam Syariat Islam, (Mataram: LKBH, 2007),

    h.14.

  • B. Pondok Pesantren

    1. Pengertian Pondok Pesantren

    Menurut Manfred Ziemek, istilah pondok pesantren dimaksudkan

    sebagai suatu bentuk pendidikan keislaman yang melembaga di Indonesia. Kata

    pondok pesantren berarti kamar, gubuk, ruang kecil, di dalam bahasa indonesia

    dipakai untuk menekan kesederhanaan bangunan. Mungkin juga pondok berasal

    dari bahasa Arab yaitu funduk yang artinya ruang tidur, wisma, hotel sederhana

    bagi para pelajar yang dari tempat asalnya.48

    Pesantren dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berarti asrama, tempat

    santri atau murid-murid belajar mengaji dan sebagainya.49

    Mastuhu mendefinisikan pesantren sebagai lembaga pendidikan

    tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati, dan mengamalkan

    ajaran Islam dengan menekan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman

    prilaku sehari-hari.50

    Menurut Didin Hafidhuddin, pondok pesantren adalah salah satu

    lembaga di antara lembaga-lembaga iqamatuddîn lainnya yang memiliki dua

    fungsi utama, yaitu fungsi kegiatan tafaqquh fi al-dîn (pengajaran, pemahaman,

    dan pendalaman ajaran agama Islam), serta fungsi indzhar (menyampaikan dan

    mendakwahkan ajaran kepada masyarakat).51

    48 Manfred Ziemek, Pesantren dalam Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M, 1986), h.98. 49 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia.

    (Jakarta,1986), h.177.

    50 Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta:INIS, 1994), h.6.

    51 Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani, 1998), cet.I, h.120.

  • Sepanjang sejarah perjalanan umat Islam di Indonesia, ternyata kedua

    fungsi utama tersebut telah dilaksanakan oleh pondok pesantren (pada umumnya).

    Walaupun dengan berbagai kekurangan yang ada. Dari pondok pesantren lahir

    para juru dakwah, para mualim dan ustadz, para kiayi, tokoh-tokoh masyarakat,

    bahkan yang memiliki profesi sebagai pedagang, pengusaha, ataupun bidang-

    bidang yang lainnya.

    Hal ini tidak lain karena di dalam kegiatan pondok pesantren, terdapat

    nilai-nilai yang sangat baik bagi berhasilnya suatu kegiatan pendidikan. Sehingga,

    bisa dinyatakan sesungguhnya pendidikan pondok pesantren terletak pada sisi

    nilai tersebut, yaitu proses pendidikan yang mengarahkan pada pembentukan

    kekuatan jiwa, mental, maupun rohaniah.

    Dari definisi di atas, penulis mencoba mendefinisikan pondok pesantren.

    Yakni pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan agama Islam, di

    mana para santri dan kyai tinggal bersama dalam satu lingkungan asrama

    (komplek). Para santri yang belajar di pondok pesantren tidak hanya dituntut

    menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh kyai atau ustadz, namun sekaligus

    mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Istilah pondok pesantren berasal dari dua kata, yaitu pondok dan

    pesantren. Pondok adalah tempat mondok, sedangkan pesantren berasal dari kata

    santri. Jadi pondok pesantren adalah tempat mencari ilmu yang anak didiknya

    diasramakan.

    2. Fungsi dan Peran Pondok Pesantren

  • Pondok pesantren berfungsi sebagai lembaga pendidikan, lembaga

    sosial, juga berfungsi sebagai pusat penyiaran agama Islam yang mengandung

    kekuatan resistensi terhadap dampak modernisasi, sebagaimana telah diperankan

    pada masa lalu dalam menentang kolonialisme.

    Fungsi lainnya yaitu sebagai instrumen untuk tetap melestarikan ajaran-

    ajaran Islam di bumi Nusantara, karena pondok pesantren mempunyai pengaruh

    yang kuat dalam membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural, politik,

    keagamaan, dan sebagainya.52

    Pesantren juga terkenal mampu memainkan peranan dalam

    pembangunan. Menurut Afan Gaffar sebagaimana dikutip Syuthon Mahmud dan

    Khusnurdilo, terdapat tiga jenis peranan yang dapat dimainkan oleh pesantren,

    yaitu:

    a. Mendukung dan memberdayakan masyarakat pada tingkat “grassroots” yang

    sangat esensial dalam rangka menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

    b. Meningkatkan politik secara meluas, melalui jaringan, kerjasama, baik dalam

    suatu negara maupun dengan lembaga-lembaga internasional lainnya.

    c. Ikut mengambil bagian dalam menentukan arah dan agenda pembangunan.53

    Jadi menurut penulis, fungsi pondok pesantren yaitu agar terciptanya

    manusia yang bertakwa, mempunyai mental membangun, dan memiliki

    keterampilan, serta berilmu pengetahuan sesuai dengan perkembangan zaman.

    52 Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, h. 120.

    53 Sulthon Masyhud, Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren, (Jakarta: Diva

    Pustaka, 2005) h.13.

  • BAB III

    GAMBARAN UMUM TENTANG

    PONDOK PESANTREN AL-ASHRIYYAH NURUL IMAN

    A. Sejarah Singkat dan Perkembangan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah

    Pondok Pesantren Al-Ashriyah Nurul Iman didirikan setelah melihat

    dampak kirisis moneter tahun 1998. Pada awal terjadinya krisis moneter, banyak

    sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Terjadinya kasus

    Semanggi pada tanggal 12 Mei 1998 menyebabkan jatuh dan terpuruknya

    perekonomian bangsa Indonesia. Di saat itu Al Syekh Habib Saggaf bin Mahdi bin

    Syekh Abu Bakar bin Salim yang masih bertempat tinggal di kawasan perumahan

    Bintaro Jaya, merasa prihatin dan sedih dengan hal tersebut. Krisis moneter itu

    membuat semakin banyak para remaja yang putus sekolah serta tidak mampu

    melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi serta terjadinya krisis moral di mana-mana.

    Hal itu menjadikan beliau bersikeras mendirikan suatu lembaga pendidikan gratis

    demi meringankan beban bagi mereka yang tidak mampu, umumnya bangsa

    Indonesia. Sehingga dengan tekad dan kemauan beliau yang mulia tersebut, beliau

    rela meninggalkan keglamouran kota metropolitan dan mengambil keputusan untuk

    menetap di desa. Beliau akhirnya pindah ke Desa Waru Jaya, Kecamatan Parung,

    Jawa Barat Desa yang penduduknya di bawah garis kemiskinan di mana mayoritas

    penghasilan mereka hanya mengandalkan penjualan daun melinjo serta ikan air tawar.

    Kemudian, mulailah beliau membangun sebuah pondok pesantren dengan

    disaksikan para undangan dari Pejabat Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor, para

  • Pejabat Tinggi Negara Republik Indonesia serta Duta Besar Negara-negara Arab,

    Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia, maka peletakkan batu pertama

    pendirian Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman dilaksanakan pada tanggal 16

    Juni 1998 di atas lahan 17 (tujuh belas) hektar. Diawali dengan peresmian peletakkan

    batu pertama tersebut, maka dalam operasionalnya, Pondok Pesantren Al-Ashriyyah

    Nurul Iman mendapatkan rekomendasi dari Kepala Desa Waru Jaya dan Camat

    Kecamatan Parung Kabupaten Bogor tertanggal 10 Maret 1999, serta telah

    didaftarkan pada kantor Departemen Agama Kabupaten Bogor sejak tanggal 12 Maret

    1999 dengan nomor: MI-10/1/PP/007/825/1999 dengan akte pendirian tanggal 25

    Maret 1999 No. 7 di hadapan Notaris Lasmiati Sadikin, SH.

    Pada mulanya para santri menetap di asrama belakang rumah beliau,

    namun karena makin banyaknya santri yang berminat maka dibangunkan sebuah

    kobong (bangunan dari bambu) yang berukuran 4 X 5 meter di areal tanah yang

    awalnya sebuah hutan semak belukar dan rumput ilalang. Hari ke hari semakin

    banyak santri yang berminat hingga kobong tersebut tidak lagi mencukupi untuk

    ditempati. Mulailah beliau membangun gedung asrama di samping kobong tersebut,

    mulai dari pembangunan gedung H. Isya dengan luas 15x12 M2 pada tahun 2000.

    Asrama memberikan pandangan baru terhadap tempat tinggal para santri yang

    mayoritas sangat sederhana. Adanya bangunan baru tersebut menambahan semangat

    belajar mereka. Namun, perkembangan tak putus begitu saja, dari tahun ke tahun

    prioritas perkembangan jumlah para santri begitu drastis hingga memunculkan

    asrama-asrama baru yang menjadi obyek penampungan para santri. Seperti asrama

  • Gandhi Seva Loka dengan luas 15x12 M2, lalu disusul dengan dibangunnya asrama

    Jadid dengan luas 15x12 M2.

    Pada dasarnya, sebagai pengemban tugas para santri di tuntut untuk

    memproyektifitikan keseharian mereka antara pengembangan ilmu akhirat sebagai

    program utama pada bidang pendidikan pondok pesantren dan pendalaman IPTEK

    sebagai pendamping proyek mereka di dunia. Atas dasar itu, maka dibangun kembali

    satu tempat ibadah untuk para santri dengan luas 32.5x9.50 M2, di depan pintu

    gerbang Pondok. Mulai dari sinilah perkembangan demi perkembangan terlihat.

    Terbukti dari munculnya asrama-asrama baru di lingkungan perkomplekan Pondok

    Pesantren yang menjadi pemandangan baru di wilayah perkomplekan putra dan putri,

    yaitu asrama Hanif (perkomplekan putra) dengan luas 12x6 M2, asrama H. Kosim

    (perkomplekan putra) dengan luas 12x6 M2, asrama Olga Fatma (perkomplekan

    putra) dengan luas 20x12 M2, asrama Anwariyyah (perkomplekan putra) dengan luas

    56x12 M2, tiga lokal asrama (perkomplekan putri), asrama dengan tiga belas kamar

    (perkomplekan putri), gedung belajar tingkat dua (perkomplekan putri) dan dua

    tempat ibadah (Masjid) di area perkomplekan putra dengan luas 36x36 M2 dan putri

    dengan luas 30x30 M2.

    Dari waktu ke waktu mulailah tersebar nama Pondok Pesantren Al-

    Ashriyyah Nurul Iman dengan seluruh pembiayaan pendidikan, pengobatan, makan,

    dan minum serta sarana dan pra-sarana ditanggung oleh pihak yayasan (gratis), maka

    para santri yang berminat belajar di Pondok Pesantren ini pun semakin banyak

    berdatangan. Tidak hanya dari daerah Desa Waru Jaya, melainkan hingga daerah-

  • daerah jauh di dataran bumi Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke, bahkan

    dari luar negeri.

    Nama Al-Ashriyyah Nurul Iman sendiri dinukil dari bahasa Arab, Al-

    Ashriyyah bermakna modern, yang tujuannya menjadi pusat pembinaan pendidikan

    agama dan pengetahuan umum secara terpadu dan modern. Nurul Iman berawal dari

    kosa kata bahasa Arab, Nûr yang bermakna cahaya, dan Al-Imân bermakna

    keimanan. Dengan nama tersebut, Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman

    diharapkan mampu menciptakan ulama-ulama yang memiliki ilmu pengetahuan

    agama dan ilmu pengetahuan umum yang terpadu dan modern dengan diselimuti

    cahaya keimanan yang tinggi. Kini walaupun semakin bertambahnya jumlah santri,

    tetapi Yayasan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman tetap senantiasa menjadi

    lembaga pendidikan yang seluruh biaya pendidikannya, makan dan minumnya,

    pengobatannya serta sarana dan pra-sarana lainnya ditanggung oleh Yayasan. Dengan

    kata lain gratis untuk seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi mereka dari golongan

    yang tidak mampu, fakir, miskin, anak yatim serta anak-anak terlantar.

    B. Program Pengembangan

    Seperti layaknya lembaga pendidikan lainnya, Pesantren ini juga memiliki

    program pengembangan untuk masa datang. Baik dalam bidang pendidikan maupun

    dalam pengembangan bangunan di lingkungan Pondok Pesantren. Untuk pendidikan,

    pesantren ini memiliki program untuk mewujudkan SDM yang berkualitas tinggi

    dalam keimanan dan ketakwaan, menguasai IPTEK yang menjadi tumpangan hidup

    di dunia. Oleh sebab itu diadakanlah kursus-kursus di luar pendidikan formal dalam

  • pembelajaran keseharian para santri. Kursus-kursus tersebut antara lain adalah kursus

    bahasa, kursus komputer, kursus menjahit, pelatihan pertanian, pemanfaatan sampah-

    sampah menjadi pupuk organik, peternakan ikan, dan lain-lain. Para santri pun

    dituntut untuk mampu menguasai minimal tiga bahasa asing yaitu bahasa Arab,

    Inggris dan Mandarin untuk bekal panduan pelepasan mereka kelak. Modal awal

    seperti inilah yang terektur pada diri mereka agar mampu memproyeksikan ilmu

    dunia dan ilmu akhirat, serta mampu mengaktualisasikannya dalam masyarakat

    dengan menyiapkan calon pemimpin masa depan yang menguasai IPTEK,

    mempunyai daya juang tinggi, kreatif, inofatif, dan tetap berada dalam landasan iman

    dan takwa yang kuat. Karena itu Pesantren berusaha mengembangkan kreatifitas serta

    meningkatkan pengetahuan dan profesional tenaga kependidikan sesuai

    perkembangan dunia pendidikan. Hal ini yang kemudian menjadikan Pondok

    Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman sebagai pondok percontohan di seluruh Indonesia

    dalam pengembangan pengajaran IPTEK dan IMTAK bagi lembaga pendidikan

    lainnya.

    Adapun untuk program pengembangan pembangunan, Pesantren ini

    memiliki program penambahan asrama untuk tempat tinggal para santri. Hal itu

    diperlukan karena para santri, baik putra maupun putri, masih ada yang tidur di

    masjid dan tempat-tempat yang terbuka mengingat belum cukupnya asrama-asrama

    yang ada. Selain itu, karena lembaga pendidikan pimpinan Al Syekh Habib Saggaf

    bin Mahdi ini berorientasi pada pendidikan padat karya, yakni mendidik para santri

    untuk belajar cara membuat roti, tahu, tempe, air mineral, tata cara jahit-menjahit, dan

  • lain-lain, maka sangat dibutuhkan sarana-sarana yang memudahkan terlaksananya

    pendidikan tersebut.54

    C. Visi dan Misi

    Pondok pesantren adalah tempat untuk menggembleng generasi muda agar

    menguasai ilmu agama dan salah satunya mempunyai kecerdasan, baik kecerdasan

    intelegensi, emosional, dan spiritual. Setiap santri yang dididik minimal mampu

    mengamalkan ilmu untuk dirinya, keluarganya, dan lebih luasnya kepada masyarakat.

    Adapun visi dan misi didirikannya Pondok Pesantren Al-Ashriyah Nurul

    Iman, adalah:

    1. Visi : Terwujudnya santri yang kreatif, bermotivasi, berakhlak, disiplin,

    terampil, dinamis serta dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih

    tinggi.

    2. Misi : Menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.

    Membangun semangat yang disiplin, terampil, serta mandiri.

    Menyiapkan siswa agar mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

    D. Struktur Organisasi

    Struktur adalah cara sesuatu atau orang-orang dalam suatu organisasi

    disusun atau dibangun. Sedangkan organisasi dapat diartikan sebagai susunan aturan

    dari berbagai bagian, sehingga merupakan kesatuan yang teratur dan tersusun. Maka

    struktur organisasi adalah kerangka, susunan-susunan yang menjadi wadah bagi

    segenap kegiatan usaha pengelolaan dalam membagi dan mengelompokan pekerjaan

    54 Arsip Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung-Bogor

  • yang harus dilaksanakan serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja di

    antara satuan-satuan organisasi dan penugasannya.

    Untuk melaksanakan tugas dan program yang telah dirumuskan, maka

    dibentuk susunan kepengurusan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman sebagai

    berikut:

    Tabel 3.1

    Struktur Organisasi

    Penashat : As Syekh Habib Saggaf bin Mahdi bin Syaikh Abu Bakar bin Salim

    Ketua : Habib Abdullah Al Jufri

    Wakil : Muhammad Rofi’i

    Sekertaris : Husni Thamrin; A. Faidlur Rahman

    Bendahara : Murdiono; Muchlisin

    E. Sarana dan Prasarana

    Adapun sarana dan prasarana Pondok Pesantren Al-Ashriyyah yang ada

    sampai dengan saat ini antara lain:

    KETUA

    WAKIL

    BENDAHARA

    SEKRETARIS

    PENASEHAT

  • 1. Lab Komputer “laki-laki & perempuan”

    2. Lapangan Basket “laki-laki & perempuan”

    3. Lapangan Futsal

    4. Masjid “laki-laki & perempuan terpisah”

    5. Asrama Putra & Putri

    6. YAPANI Entertainment

    7. Percetakan

    8. Gedung Tae kwon Do

    9. Ruang Praktek Tata Boga “Pabrik Roti”

    10. Ruang Praktek Pembuatan Tahu & Tempe

    11. Ruang Praktek Pembuatan Air Minum kemasan Hexagonal “Ointika”

    12. Ruang Praktek Pembuatan Pupuk Kompos

    13. Ruang Praktek Agribisnis (pertanian, perkebunan, perikanan, penggemukan sapi)

    14. Dapur Umum

    PRESTASI

    1. Akademik

    a. Juara I MQK Musabaqah Qira’atul Kutub) Tingkat Nasional Bidang Hadits

    b. Juara I Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional Antar SLTA

    c. Juara II MQL (Musabaqah Qira’atul Kutub) Tingkat Provinsi Bidang Fiqih

    d. Juara II Saritilawah Tingkat Nasional Antar SLTA

    e. Juara III MQK (Musbaqah Qira’atul Kutub) Tingkat Nasional Bidang Fiqih

    f. Juara III Lomba Pidato Tiga Bahasa Tingkat Nasional Antar SLTA

    2. NonAkademik

  • a. Juara I Lomba Qasidah Tingkat Kabupaten Bogor

    b. Juara I Lomba Hadlrah/ Terbangan Tingkat Kabupaten Bogor

    c. Juara II Lomba Marawis Tingkat Kabupaten Bogor

    F. Sumber Dana

    Menggalang dana adalah sebuah proses. Menggalang dana bukan

    mengenai meminta uang tetapi lebih mengenai menjual ide bahwa donor dapat

    mewujudkan perubahan masyarakat. Bila orang telah menerima ide itu, maka mereka

    akan mau menyumbang sehingga bisa menghimpun beberapa dana dari donatur yang

    bisa dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan operasional.

    Adapun sumber dana pondok pesantren Al-Ashriyyah ini adalah berasal

    dari donatur tetap, unit usaha yang dijalankan oleh pondok pesantren dan bisnis habib

    sendiri. Namun jika masih terdapat kekurangan maka itu semua datangnya dari Allah,

    atau istilahnya “min haitsu la yahtasib”55

    Strategi penggalangan dana yang dilakukan dengan oleh Pondok Pesantren

    Al-Ashriyyah diantaranya:

    1. Mengembangkan unit-unit usaha yang ada di pondok pesantren

    2. Memperluas Jaringan komunikasi

    a. Adanya kerjasama baik dari lembaga sosial maupun pemerintah

    b. Direct Mail dan Pendekatan Pribadi

    55 Ust Subaiki, Staf Bendahara Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Wawancara Pribadi, 11 Maret 2009, di Kantor Tata Usaha Pondok Pesantren.

  • c. Melalui Media cetak dan elektronik

    d. Pandai Bergaul

    3. Bisnis Habib Sendiri

    Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman juga menerima dana yang

    berasal dari luar Negeri dimana penggunaannya itu di tujukan untuk pembangunan

    pondok pesantren.

    Tabel 3.2

    Nama Donatur dan Kegunaan Sumbangan

    No. Nama Donatur Kegunaan Sumbangan

    1. H. Isya Jakarta Pondok “Asrama Putra” H. Isya

    2. Gandhi International School

    Jakarta Pondok “Asrama Putra” Gandhi

    3. Habib Umar Al-Jufri Kalimantan Pondok “Asrama Putra” Habib Umar

    4. H. Qosim Singapura Pondok “Asrama Putra” H. Qosim

    5. Ibu Olga Fatma Gobel Jakarta Pondok “Asrama Putra” Olga Fatma

    6. Jamsostek Gedung Perpustakaan

    7. H. Isya Jakarta Masjid Toha “Putra”

    8. H. Qosim Singapura Masjid Siti Fatimah “Putri”

    9. Yayasan Budha Tzu-Chi

    Indonesia

    Bangunan Sekolah & Lapangan

    Basket

    Sumber: Arsip Bendahara Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman

    G. Sektor Usaha di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman

    Dasar pemikiran adanya pemberdayaan kewirausahaan di Pondok ini

    adalah agar para santri selain memiliki pengetahuan agama, juga agar memiliki skill

    dan keterampilan di mana keterampilan itu diharapkan bisa bermanfaat apabila

  • setelah keluar nanti. Mengingat saat ini persaingan semakin ketat, untuk itu para

    santri dituntut agar bisa menciptakan lapangan kerja, minimal untuk dirinya sendiri

    sehingga dengan keahlian berwirausaha nantinya santri dapat mandiri di tengah-

    tengah masyarakat.

    Adanya sektor usaha bermula ketika banyaknya sampah yang berserakan

    di Pondok Pesantren. Karena mengurangi keindahan Pesantren, akhirnya sampah

    tersebut diberdayakan, dengan cara dijual ke pengumpul dan dibuat juga pupuk

    kompos berkualitas ekspor. Bermula dari keuntungan sampah inilah berdirinya

    pabrik-pabrik dan sektor usaha Pondok Pesantren lainnya.

    Berikut sektor usaha yang sudah ada di Pondok Pesantren:

    1. Bidang Agribisnis

    Di antara karunia Allah yang dilimpahkan kepada bangsa Indonesia

    adalah air yang melimpah, tanah yang subur, beragam tumbuhan dan binatang

    tersedia untuk diambil manfaatnya. Kondisi iklim di Indonesia yang tropis pun

    sangat mendukung untuk melakukan usaha agribisnis.

    Agribisnis merupakan salah satu bidang usaha meliputi pertanian,

    perkebunan, peternakan dan perikanan yang berorientasi pada hasil budidaya dan

    perdagangan hasil-hasil panennya. Jadi, tidak hanya sekedar dikonsumsi sendiri,

    tetapi juga diarahkan pada meningkatnya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan

    Pondok. Dengan luas lahan sekitar 135 hektar, bidang agribisnis menjadi bidang

    andalan di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman. Bidang ini mencakup

    kepada beberapa kelompok usaha, yakni:

  • a. Pertanian dan Budidaya Tanaman

    Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman menjadikan kegiatan

    pertanian dan budidaya tanaman untuk menjadi suatu bidang keahlian bagi

    para santri. Di bawah bimbingan para ahli, kegiatan pertanian dan budidaya

    tanaman pantas kiranya untuk diacungi jempol.

    Di bawah ini adalah bagan hasil pertanian yang diperoleh oleh santri

    Al-Ashriyyah Nurul Iman:

    Tabel 3.2

    Hasil Pertanian

    No. Luas Hasil Pertanian Berat

    1 ± 1 Hektar Kangkung 2,8 ton

    2 ± 1 Hektar Kacang Tanah 2,4 ton

    3 ± 0,5 Hektar Jagung 1,8 kwintal

    4 ± 1 Hektar Kacang Panjang 1,5 ton

    5 ± 1 Hektar Terong 4,8 ton

    6 ± 100 Hektar Padi 50 ton

    Sumber : Wawancara pribadi dengan Ust.Fuad Al Anshori

    Pertanian itu telah dihasilkan rata-rata dalam setiap panen. Sebagai

    salah satu kehormatan dan kebanggaan bagi Pondok Pesantren Al-Ashriyyah

    Nurul Iman dalam hal pertanian ini, adalah dengan berkunjungnya “Taiwan

    Technical Mission” yang merupakan sekelompok tenaga ahli dalam bidang

    pertanian dan peternakan dari negara Taiwan, untuk melihat langsung

    kegiatan tersebut, sekaligus memberikan pengarahan bagi para santri. Santri

  • yang hari-harinya belajar, dapat menyempatkan waktu untuk mengolah lahan

    pertanian dan menuai kesuksesan.

    b. Perkebunan

    Sektor agribisnis yang kedua adalah perkebunan, di atas lahan

    seluas kurang lebih dua hektar. Ada tiga kategori dalam sektor perkebunan ini

    yaitu perkebunan buah, bunga atau tanaman hias dan tanaman obat-obatan

    (herbal), serta perkebunan pohon jarak untuk pengembangan Biodiesel yang

    merupakan kerjasama dengan pemerintah setempat. Setelah berhasil dalam

    penanaman sayur mayur, kini Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman

    mengembangkan budidaya penanaman buah pepaya. Buah yang banyak

    mengandung vitamin A ini sengaja dijadikan pilihan karena di samping proses

    penanaman serta perawatannya yang tidak terlalu sulit, permintaan pasar

    terhadap buah pepaya ini cukup bagus. Buah-buahan merupakan salah satu

    unsur makanan yang selalu dibutuhkan orang, hampir setiap orang baik

    masyarakat kecil maupun masyarakat elit, selalu memerlukan buah untuk

    pelengkap makanan pokok.

    Demikian juga dengan bunga dan tanaman hias, bila

    dikembangkan tentu akan mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit

    mengingat sekarang banyak orang yang ingin mempercantik tempat

    tinggalnya dengan tanaman hias. Akhir-akhir ini banyak bermunculan kios-

    kios penjual rangkaian bunga dan banyak pula penjual tanaman di tepi jalan,

    sudah tentu mereka memerlukan orang yang sanggup mensuplai tanaman

    secara rutin. Ini merupakan suatu peluang bisnis yang menjanjikan.

  • c. Peternakan

    Sektor agribisnis yang ketiga adalah peternakan. Indonesia

    merupakan negara agraris yang coco