Click here to load reader

PENYESUAIAN DIRI SANTRI DI PONDOK PESANTREN

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENYESUAIAN DIRI SANTRI DI PONDOK PESANTREN

PESANTREN TERHADAP KEGIATAN
Oleh
memperoleh gelar Sarjana Psikologi
JAKARTA
KEGIATAN l'ESANTREN
Skripsi :
Ge!ar Sarjana l'sikologt
NH'. 150 238 773 NIP. 150 283 344
FAKlJLTAS PSlKOLOGI
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul "PENYESUAIAN DIR! SANTRI DI PONDOK PESANTREN TERHADAP KEGIATAN PESANTREN: Studi Kasus di Pondok Pesantren Darunnajah " telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Psikologi UJN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 7 juni 2004. skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar strata 1 (S1) pada Fakultas Psikologi.
Sidang Munaqasyah i I gkap Anggota, Sekretaris
Anggota
Jakarta, 7 Juni 2004
e guji II
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang dengan
rahamat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tak Jupa
shalawat s,erta salam kita sampaikan kepada junjungan kita yang telah
membawa kita dari kegelapan, Nabi Besar Muhammad SAW.
Penulis menyadari banyak sekali mengalami kesulitan, hambatan serta
halangan yang dihadapi dalam rangka meyelesaikan studi dan juga skripsi
ini. Karena itulah penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak­
pihak yang telah membantu penulis menyelesaika studi dan skripsi ini.
lzinkanlah penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dekan Fakultas Psikologi, lbu Dra. Hj. Netty Hartaty
2. Jbu Dra. Hj. Zahrotun Nihayah selaku Pudek Fakultas psikologi dan
juga pembimbing 1 skripsi, terima kasih atas waktu dan bimbingannya.
3. Abdul Mujib M.Ag selaku dosen pembimbing 2 yang sangat sabar dan
selalu menyemangati penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Seluruh keluarga, apa, ibu atas kesabarannya serta perjuangan serta
kerja kerasnya demi tercapai cita-cita ini.
5. saudara-saudaraku Aa Hilman Te Fitri, Te amah, ka dadang, te
eneng, ka wildan, aka, ajid, obi, eva, yang selalu memberi keceriaan
dan kegembiraan. Juga pada ponakanku yang Lucu Aa Jan dan Aa
Gib cepet gede ya sayang.
6. Bapak Abdul Rahman selaku pembimbing akademik yang siap
mendengarkan keluh kesah dari penulis.
7. Bu Tya makasih atas saran dan diskusinya sehinggga telah
membuka cakrawala pemikiran penulis.
9. Untuk "my tweety" terimakasih untuk kebersamaannya, kesabaran
dan dorongan yang diberikan kepada penulis. Now I wan to say that
yu're the best for me. Ft forever.
1 O. untuk ustadz Rasyud Syakir terima kasih atas do' a dan dukungannya.
11. untuk adik-adik kelasku di DN, terima kasih atas tumpangan dan
datanya moga sukses aja ya ... ma anak IKPDN karim buyung hafidz
uu., aYouk , Pay ros (di tunggu undangnannya)
12. Lilis & Edho, (q'ta tunggu undangannya yah), moef ma reni kapan
konser lagi, wat risa & eva (manajer). Dewi makasih ya.... Hari
makasih beseknya, lyunk, Husni.S, Pipih, Anne, lta, LD M, Yani
makasih juga ya ... Daniel, Hudan makasih instalannya, ma Kembaran
gw moga bahagia ma Aa-nya. semua angkatan 99 terima kasih untuk
kebersamaan yang indah.
13. Buat anak kos usman (Aldi, Kodir, Awan, deni, dani) makasih atas
kebersamaannya.
14.Akhirnya terima kasih untuk semua teman -teman di fakultas psikologi
yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana
layaknya, baik dari segi bahasa maupun materi yang tertuang di dalamnnya.
Besar harapan penulis laporan ini dapat berguna untuk menambah
wawasan baru dan membuka cakrawala yang lebih luas bagi pembaca
sekalian. Amien
Rahmat lrfani, Penyesuaian diri santri di pondok pesantren terhadap kegiatan pesantren'. studi kasus di pondok pesantren Darunnajah Jakarta, Fakultas Psikologi, Juni 2004.
Latar belakang : Penelitian ini berawal dari banyaknya santri baru yang kurang dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan pesantren. penyesuaian diri ini terkait dengan kegiatan, peraturan, rutinitas dan sosialisasi dengan teman-teman di pondok pesantren. Hal yang paling utama dalam penyesuaian diri anak adalah penerimaan dari teman teman sebaya.
Tujuan ; Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara santri baru dalam menyesuaiakan diri dengan kegiatan pesantren yang harus dijalaninya selama bermukim di pondok pesantren.
Subyek penelitian : subyek penelitian ini adalah santri pondok pesantren dengan usia 11-14 tahun, menetap di pondok pesantren, baru menetap di pondok pesantren maksimal 1 tahun, dan santri yang memiliki prestasi belajar di kelas dengan kriteria tinggi sedang dan rendah dengan rujukan dari raport sekolah.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan studi kasus. Wawancara merupakan instrumen utama dalam pengumpulan data. Sedangkan metode penunjangnya adalah observasi dan skala penilaian berbentuk check list.
Hasil : Dalam proses penyesuaian diri santri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menyesuaikan diri terhadap kegiatan pesantren itu terbukti pada awal masuk kepesantren banyak santri yang melanggar peraturan pesantren, namun pasa akhirnya hal tersebut berkurang dengan sendirinya seiring dengan proses belajar yang mereka lakukan.
Bahan bacaan 23 ( 1968-2002)
1.3.1. Tujuan Penelitian
1.3.2. Manfaat Penelitian
1.4. Sistematika Penulisan
2.1.2. Macam-m~!;ll Penyesuaian Diri 14
2.1.3. Faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian 18
BAB Ill
Penyesuaian 20
2.2.1. Pengertian 32
2.3. Penyesuaian Diri Santri di Pondok Pesantren. 38
METODOLOGI PENELITIAN
4.2. 1. ldentifikasi dan Latar Belakang
Subjek Masuk Pondok Pesantren
keluarga bukan sebuah lembaga pendidikan formal namun pelajaran yang
didapatkan oleh anak dari keluarga pasti akan membentuk watak dan
kepribadian anak . Hal ini terjadi karena dari keluarga anak akan belajar
mengenai hal-hal yang mendasar seperti sopan santun, agama dan
bagaimana bersikap dengan lingkungan sekitar. Nilai-nilai yang ditanamkan
oleh keluarga itu akan terpola dan tertanam di dalam diri anak dan menjadi
suatu kebiasaan. Penanaman nilai-nilai atau pelajaran dari orang tua
biasanya lebih banyak terjadi melalui proses modeling di mana anak akan
mengikuti tingkah laku atau sikap orang tuanya.
Proses modelling yang terjadi terkadang tidak disadari orang tua sehingga
anak akan meniru hal tersebut tanpa tahu apakah hal itu baik atau buruk. Hal
ini membutuhkan perhatian orang tua agar perilaku anak tidak melenceng
dari norma-norma agama dan sosial. Seiring berkembangnya usia anak
semakin bertambah pula kebutuhan anak baik secara fisik maupun psikis.
Mereka akan lebih kritis dalam menanggapi suatu hal, mereka juga akan
lebih memaksa jika menginginkan sesuatu. Ada orang tua yang akan tidak
langsung menuruti keinginan anaknya, dan ada juga yang langsung
memberikan segala keinginan anaknya tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
Hal ini akan membuat anak menjadi bergantung pada orang tua dan terbiasa
untuk dipenuhi segala keinginannya yang akan menjadikan anak jadi manja ,
2
dan tidak mandiri. Sehingga pada masa perkembangan awal anak tidak akan
mudah untuk tinggal berjauhan dengan orang tuanya.
Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan anak, kebutuhan anak pun
semakin meningkat. Salah satunya adalah kebutuhan akan pendidikan. Hal
ini pun akan menjadi pertimbangan orang tua, orang tua harus jeli dalam
memberikan pendidikan yang tepat bagi anaknya agar anak mampu dan siap
untuk mengikuti pelajaran yang diterimanya. Pendidikan yang diberikan pada
anak bisa melalui otodidak ataupun melalui pendidikan formal di sekolah baik
itu di TK, SD dan SL TP dan seterusnya.
Pada awal masa pembelajaran di sekolah anak akan sulit berinteraksi namun
apabila orang tua dan guru dapat mengarahkan hal tersebut terasa mudah
bagi anak. Di sekolah anak akan lebih banyak berinteraksi dengan guru dan
teman-teman hal ini yang menjadikan anak dapat bersosialisasi dengan
lingkungannya.
perpindahan dari sekolah dasar (SD) ke sekolah menengah tingkat pertama
(SLTP). Menurut Ellias, Tobias dan Friedlander (1999) dalam bukunya cara
efektif mengasuh anak dengan EQ, "beranjak dari SD ke SMP membawa
perubahan kalau di SL TP biasanya sekolahnya lebih besar, ada anak
disekeliling mereka yang lebih besar-sebagian jauh lebih besar- jumlah
gurunya lebih banyak, mata. pelajarannya pun banyak sehingga tugas yang
diembannya pun lebih banyak dibanding sewaktu di SD" (Ellias, Tobias dan
Friedlander, 1999 ).
Hal inilah menjadikan anak harus menyesuaikan diri dengan lingkungan
baru, teman baru baik yang sebaya maupun yang lebih dewasa. Untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman yang baru dibutuhkan
keterampilan anak dalam membuat keputusan dan memecahkan masalah
dari tugas y13ng harus ia selesaikan.
3
Jika orang tua memasukan anaknya ke sekolah menengah umum atau yang
sederajat kegiatannya yang dilakukan oleh anak biasanya hanya terbatas
pada kegiatan sekolah ataupun kegiatan yang berkaitan dengan pelajarannya
di sekolah. Sedangkan kegiatan yang ia lakukan di rumah adalah pekerjaan
sekolah yang dibawa pulang kerumah. Sedangkan kegiatan rumah tangga
seperti mencuci, menyetrika, merapikan rumah dan sebagainya biasanya
sudah dilakukan oleh ibunya ataupun orang lain yang membantu di rumah
tersebut. Dan bagi sebagian anak ada juga yang melakukannya sendiri
namun masih dalam bimbingan orang tua. Bahkan ada juga yang tidak
melakukannya sama sekali sehingga untuk merapikan kamar tidurnyapun
masih membutuhkan orang lain untuk melakukannya.
4
Alternatif lain bagi orang tua dalam memilih pendidikan yang tepat bagi
anaknya adalah pendidikan dalam pondok pesantren, baik itu pesantren salaf
maupun pesantren modern. Pendidikan dalam pondok pesantren pada
dasarnya adalah sama dengan pendidikan di madrasah atau di sekolah
umum lainnya, namun yang membedakan adalah pelajaran yang didapat
oleh sisiwanya lebih banyak pada ajaran agama dan kebanyakan para
sisiwanyapun menetap di asrama yang telah disediakan oleh pesantren.
Dalam pondok pesantren salaf, pendidikan yang ditawarkan adalah
pendidikan agama seperti membaca Al-Quran, tafsir, hadits, fiqh, bahasa
Arab dan lain sebagainya. Biasanya metode yang digunakan adalah metode
ceramah secara klasikal atau yang di kenal dengan sorogan.
Sedangkan dalam pondok pesantren modern pendidikan yang ditawarkan
lebih beragam, karena biasanya dalam pesantren modern memakai tiga
kurikulum yaitu kurikulum Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) ,
kurikulum Departemen Agama (DEPAG) dan kurikulum pesantren salaf.
Hal tersebut di alas merupakan salah satu aspek yang membedakan antara
pesantren modern dan pesantren salaf, dan hal tersebut jugalah yang
memungkinkan orang tua dalam memilih pondok pesantren sebagai sarana
untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan bagi anaknya, karena di dalam
pondok pesantren anak akan mendapatkan pelajaran umum -yang didapat
juga pada sekolah lain- selain itu anak juga mendapat pelajaran agama dan
langsung dipraktikan sehingga anak akan terbiasa melakukan ibadah yang
harus dilakukannya sehari-hari.
yang biasa dilakukan sehari-hari di rumah seperti shalat, mengaji, mencuci
pakaian dan lain-lain. Sementara di rumah biasanya anak membutuhkan
perhatian dan bantuan orang tuanya dalam hal pengerjaan kegiatan rumah
seperti mencuci, menyetrika atau menyiapkan pakaian sekolah sampai
menyiapkan buku-buku pelajaran dan alat-alat tulisnya. Namun di pondok
pesantren hal tersebut harus dilakukannya sendiri tanpa ada perhatian dan
bantuan dari orang tuanya, sehingga anak di tuntut untuk mandiri.
6
dahulu, baik itu secara fisik maupun secara psikis.
Menurut Murai yang dikutip oleh Budi Harjo dalam anima Vol VII des 91 agar
anak memiliki kemampuan yang baik dalam hat penyesuaian diri, diperlukan
suatu pola relasi antara anak dan orang tua yang tidak menghambat
pemenuhan kebutuhan anak, dan terhambatnya pemenuhan kebutuhan anak
menimbulkan frustasi. Dan frustasi memungkinkan timbulnya indelequency,
inferior, ataupun insecurity yang mengarah pada timbulnya tingkahlaku yang
agresif, rasa bermusuhan dan menarik diri dari lingkungan.
Dalam hat penyesuaian diri yang dilakukan anak yang berasal dari rumah
dan hanya mendapat pelajaran umum sewaktu di sekolah dasar kemudian
harus belajar ke pesantren yang mempelajari pelajaran agama yang
memakai bahasa yang berbeda, dan memiliki aturan yang berbeda, dengan
orang-orang yang berbeda, dan harus berinteraksi dengan orang orang yang
relatif lebih dewasa dan lebih besar, juga membutuhkan kemandirian yang
tinggi dalam hal manajemen diri tentunya membutuhkan suatu penyesuaian
yang relatif lama dan sulit. Dan hat ini yang menarik peneliti untuk melakukan
penelitian ini. Dengan judul "PENYESUAIAN DIRI SANTRI DI PONDOK
PESANTREN TERHADAP KEGIATAN PESANTREN: STUDI KASUS DI
PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH"
1.2. ldentifikasi Masalah
1.2.1. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka timbul permasalahan yang menarik
bagi peneliti, dan agar memudahkan penelitian ini maka kiranya perlu ada
pembatasan masalah sebagai berikut:
Penyesuian diri santri baru di pondok pesantren ini meliputi penyesuaian diri
terhadap kegiatan, tata tertib, rutinitas, dan teman teman di lingkungan
pesantren. Penelitian ini di fokuskan pada anak kelas satu madrasah
Tsanawiyah usia 11-14 tahun.
Bagaimana cara santri baru dalam menyesuaikan diri terhadap kehidupan di
pondok pesantren. Faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian diri
3nak di pondok pesantren.
1.3.1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara santri baru dalam
menyesuaiakan diri dengan kegiatan pesantren yang harus dijalaninya
selama bermukim di pondok pesantren.
1.4.2. Manfaat Penelitian
pesantren. Dan berguna bagi penelitian selanjutnya.
Secara praktis penulis berharap agar penelitianan ini dapat membantu
pembimbing di pondok pesantren dalam mengidentifikasi anak dan
mengatahui masalah-masalah yang terjadi dalam diri anak khususnya
penyesuaian diri . Membantu orang tua dalam hal penyesuaian diri anak di
pondok pesantren.
kedalam lima bab :
pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
Bab II
Bab Ill
Bab IV
Bab V
penyesuaian diri, macam-macam penyesuaian diri, faktor-faktor
yang mempengaruhi penyesuaian diri, pendekatan aliran
psikologi terhadap penyesuaian, pengertian pondok pesantren,
macam-macam pondok pesantren, kegiatan dalam pondok
pesantren, penyesuian diri dalam pondok pesantren.
Metodologi penelitian yang meliputi d~ain penelitian, tehnik
pengumpulan, metode pengumpulan data prosedur
pengumpulan data dan tehnik analisis data, subjek penelitian,
serta etika penelitian.
kasus, analisis antar kasus.
BAB2
KAJIAN TEORI
Dalam bab dua ini di sajikan beberapa kajian teori mengenai penyesuaian
diri, macam-macamnya, penyesuaian menurut mazhab-mazhab psikologi,
serta beberapa definisi tentang pondok pesantren, macam macam dan
kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan di pesantren.
2.1. Penyesuaian Diri
Menurut poerwadaminta (1976) Ada dua kata dalam bahasa asing yang
kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia mempunyai arti yang sama yaitu
penyesuaian diri, kata tersebut adalah adjustment dan adaptation.
Pandangan yang berbeda dikemukakan oleh Lazarus (1969) dalam bukunya
patterns of adjustment, tentang kedua istilah tersebut Lazarus mengartikan
istilah adaptation sebagai suatu konsep biologis yaitu suatu struktur dan
proses biologis yang memudahkan individu untuk bertahan di lingkungannya.
Namun konsep adaptation ini kemudian mulai dikembangkan oleh para
psikolog dan akhirnya muncul istilah baru yaitu adjustment dan meciurut
Lazarus adjustment adalah :
11
"Adjustment consist of psychological proses by means of which the individual
manages or copes with various demand on pressures" ~Lazarus, 1969 h. 18)
Penyesuaian diri adalah proses psikologi yang merupaJan alat bagi individu
untuk mengatur atau mengatasi tekanan dan tuntutan.
Sedangkan menurut Prof. Dr. Musthafa Fahrni dalam bukunya At-Takawuf
An-nafsiy yang diterjemahkan oleh prof. Dr. Zakiah Daradjat (1982) dalam ,
bukunya yang berjudul penyesuaian diri pengertian dan peranannya dalam
kesehatan mental, proses penyesuaian diri adalah dinamika yang berlujuan
untuk mengubah kelakuan agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara
dirinya dan lingkungannya (Muthafa Fahrni; ZakiahDaradjat, 1981 h. 14).
Sedangkan menurut Schneiders (1964) seperti yang dikutip oleh tanara
(1991) dalam anima vol VII penyesuaian diri organisasi, penyesuaian diri
adalah suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, yaitu
individu berusaha keras agar mampu mengatasi konflik dan frustasi karena
terhambat kebutuhan da/am dirinya dan tuntutan luar dirinya atau
lingkungannya (Schneider 1964; Tanara, 1991 h. 23)
Menurut Haber dan Ruyon (1984) seperti yang dikutip oleh Nita Pandriani
Nainggolan (2000) dalam skripsinya penyesuaian diri dan dukungan pada
orang tua yang mempunyai anak autisma: studi kualitatif pada em pat orang
tua anak , "adjusment is an angoing proses that will continue throughout the
12
life"(Haber dan Ruyon, 1984; Nita, 2000 h. 10) penyesuaian diri adalah suatu
proses yang berkelanjutan sepanjang hidup.
Sedangkan menurut Grasha dan Kirschenbaum {1980) dalam bukunya
psychology of adjustment and competence: an applied approach, "adjusment
is our ability to cope with the problem and demands of our
environment".(grasha dan kirschenbaum, 1980 h. 12), penyesuaian diri
adalah kemampuan kita untuk mengatasi masalah yang kita hadapi dan
tuntutan lingkungan.
Dan menu rut Atwater ( 1983) dalam bukunya psychology of adjustment ,
seperti yang dikutip Tanara (1991) dalam anima vol VII penyesuaian diri
organisasi menyebutkan bahwa penyesuaian diri terdiri dari perubahan dalam
diri dan lingkungan di sekitar kita yang kesemuanya ini diperlukan untuk
memuaskan hubungan dengan lingkungan sekitar kita dan orang lain.
Menurut Atwater perubahan semacam ini berkaitan dengan dua hal yang
timbal balik yang pertama perubahan dalam diri kita agar sesuai dengan
lingkungan dan yang kedua perubahan lingkungan agar sesuai dengan cara
kita dalam memenuhi kebutuhan kita (Atwater 1983; Tanara 1991 h. 24)
Sedangkan menurut Watson dan Tharp (1972) dalam bukunya self-direction
behavior; self modification for personal adjustment, "to arrange, compose,
harmonize; to come to terms; to arrange the parts suitably to themselves and
to something else; and to do this according to the laws which govern this
harmony". (Watson and tharp, 1972 h. 10) Definisi penyesuaian diri adalah
menata , mengubah dan menyeimbangkan sehingga mencapai persetujuan;
menata kembali bagian bagian sehingga sesuai dengan dirinya dan orang
lain. Dan menyesuaikan tingkah laku dengan peraturan yang telah
ditetapkan.
13
diri yaitu tuntutan eksternal dan tuntutan internal. Tuntutan eksternal antara
lain tuntutan fisik yang datang dari lingkungan seperti sakit, bahaya dan lain­
lain; dan tuntutan sosial seperti tuntutan orang lain agar seseorang secara
nyata atau tidak melakukan, memikirkan dan merasakan sesuatu. Dan
tuntutan yang kedua yaitu tuntutan internal yaitu tuntutan kebutuhan jaringan
tubuh seperti makan,minum dan lain-lain serta tuntutan motif sosial seperti
menyayangi dan disayangi, dihormati dan lain-lain. Dan ketika tuntutan
aksternal dan internal tersebut melewati batas kemampuannya maka akan
imbul dengan apa yang dinamakan stress (Lazarus, 1969 h. 161-166)
)ari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penyesuaian
liri adalah suatu proses psikologis, merupakan kemampuan kita untuk
nengatasi masalah dan tekanan yang berasal dari lingkungan, merupakan
emenuhan kebutuhan dari dirinya dan lingkungannya. Dan merupakan
roses yang berkelanjutan sepanjang hidup kita.
2.1.2. Macam-Macam Penyesuaian Diri
14
Menurut Abe Arkoff ( 1968) dalam bukunya adjustment and mental health, "a
person who has made good adjusment or one who is called mental healthy
demonstratesa patterns of behavior or person characteristics wich are valued
or considered considerable" (Arkoff, 1968 h. 206). Seseorang yang
mempunyai pola penyesuaian diri yang baik atau orang yang disebut sebagai
orang yang sehat mentalnya menunjukan pola tingkah laku atau karakteristik
yang sesuai dengan yang diinginkannya.
Menurut Haber dan Ruyon (1984) seperti yang dikutip oleh Nita Pandriani
Nainggolan (2000) dalam skripsinya penyesuaian diri dan dukungan pada
orang tua yang mempunyai anak autisma: studi kualitatif pada empat orang
tua anak , mengatakan bahwa seseorang dapat dikatakan mempunyai pola
penyesuaian diri yang baik apabila memiliki beberapa kriteria dibawah ini
Yang pertama yaitu mempunyai persepsi yang akurat terhadap realitas.
Persepsi yang akurat terhadap kenyataan ini merupakan syarat munculnya
penyesuaian diri yang baik , persepsi ini biasanya diwarnai dengan keinginan
dan motivasi. Untuk mencapai hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari
individl! pada kenyataannya harus memodifikasi tujuan yang ingin dicapainya
sehingga ia dapat mencapai tujuan tersebut.sehubungan dengan itu aspek
yang terpenting bagi individu adalah kemampuan individu untuk mengenali
konsekuensi dari tindakannya dan kemampuan mengarahkan tingkah
lakunya sehingga sesuai dengan norma yang ada dalam lingkungannya.
Yang kedua yaitu kemampuan mengatasi stress dan kecemasan. Dalam ,
kehidupan sehari-hari biasanya setiap individu akan menghadapi suatu
masalah. Masalah yang dihadapi tersebut ada yang dapat terselesaikan
dengan mudah dan ada yang tidak dapat diselesaikan dengan mudah, dan
ketika masalah yang dihadapinya sulit untuk terselesaikan maka biasanya
15
akan menimbulkan stress, dan apabila individu tersebut tidak dapat
mengatasi stress yang datang maka ia dapat disebut dengan individu yang
kurang dapat menyesuaikan diri.
Kriteria yang ketiga yaitu memiliki citra diri positif. Citra diri merupakan salah
satu indikator dari penyesuaian diri, dan persepsi merupakan salah satu
indikator dari citra diri, ketika persepsi tidak disetujui dan individu tidak
mampu mengharmonisasikan persepsi tersebut maka ia akan menjadi
maladjustment tetapi apabila individu tersebut dapat mengharmonisasikan
persepsi tersebut maka ia dapat dikatakan sebagai orang yang mampu
menyesuaikan diri.
16
sehingga apabila ia bergembira iapun tidak terlalu larut dalam kegembiraan
dan begitu juga sebaliknya apabila ia bersedih iapun tidak terlalu larut dalam
kesedihannya. Biasanya orang seperti ini mempunyai kontrol diri yang baik,
yang tidak mengontrol secara berlebihan dan tidak juga membiarkan dirinya
tanpa kontrol sama sekali.
yang mempunyai pola penyesuaian diri yang baik akan mampu mencapai
keakraban yang mudah dalam hubungannya dengan kelompok sosial. Dan
biasanya ia mampu membuat orang lain merasa nyaman ketika berinteraksi
dengannya dan dia pun akan merasa nyaman bila berinteraksi dengan
individu atau kelompok sosial yang lainnya. (Haber dan Ruyon 1984; Nita
Pandriani Nainggolan, 2000 h. 26-28)
, Maladjusment
Menurut Buss seperti yang dikutip Adam E. Henry (1972) dalam bukunya
psychology of adjusment, ada beberapa kriteria dalam menetukan
penyesuaian yang buruk yaitu discomfort, bizarrenes, dan inefficiency.
Discomfort atau ketidaknyamanan dapat di sebabkan oleh beberapa faktor
antara lain indisposition, worry, depresion dan lain sebagainya. Kurang enak
badan atau indisposition dapat di sebabkan oleh rasa lelah, sakit, mual dan
rasa muak yang di sebabkan oleh faktor biologis atau faktor lainnya.
Kecemasan atau worry dapat di sebabkan oleh rasa takut yang tidak
realistis, khawatir akan masa depan yang tidak pasti dan gelisah. Depresi
atau depresion dapat di sebabkan oleh berbagai sebab…