of 194 /194
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADIKSI SMARTPHONE PADA REMAJA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi) Oleh: Devy Syafa Aulia NIM: 11150700000165 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H/2019

Oleh: Devy Syafa Aulia NIM: 11150700000165 FAKULTAS

  • Author
    others

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Oleh: Devy Syafa Aulia NIM: 11150700000165 FAKULTAS

Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)
JAKARTA
~ QS. Al – Baqarah : 153 ~
Hasbunallah wa nimal wakiil ni`mal maulaa wa ni`mannashiir
Laa haula wa laa quwwata illaa billah
DO YOUR BEST
SKRIPSI INI DIPERSEMBAHKAN UNTUK
KEDUA ORANG TUA TERCINTA
E) xiv + 130 halaman + 49 lampiran
F) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tipe kepribadian big
five, self-esteem, kualitas persahabatan, stres akademik, jenis kelamin, dan
durasi penggunaan smartphone terhadap adiksi smartphone pada remaja.
Penelitian ini melibatkan 203 siswa–siswi kelas XI SMAN 6 Kabupaten
Tangerang (121 perempuan dan 82 laki – laki).
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari
Smartphone Addiction Scale-Short Version (SAS-SV), adaptasi dari Big
Five-K (BFI-K), Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), Friendship
Qualities Scale (FQS), dan Academic Expectations Stress Inventory
(AESI). Pengujian Confirmatory Factor Analysis (CFA) digunakan untuk
menguji validitas setiap variabel. Sedangkan pengujian statistik dengan
menggunakan analisis regresi berganda (Multiple Regression Analysis)
digunakan untuk melihat pengaruh independent variable terhadap
dependent variable.
dari tipe kepribadian big five, self-esteem, kualitas persahabatan, stres
akademik, jenis kelamin, dan durasi penggunaan smartphone terhadap
adiksi smartphone pada remaja. Secara rinci, dimensi seperti
conscientiousness dan durasi penggunaan smartphone memberi pengaruh
signifikan bagi adiksi smartphone. Sementara dimensi lain seperti
neuroticism, extraversion, openness to experience, agreeableness, self-
esteem, companionship, conflict, help, security, closeness, ekspektasi
orangtua atau guru, ekspektasi diri sendiri, dan jenis kelamin tidak
memberikan dampak signifikan terhadap adiksi smartphone. Saran untuk
penelitian selanjutnya adalah menggunakan variabel lainnya seperti self-
control dan parenting style sebagai independent variable.
G) Bahan Bacaan: 85. Buku: 3 + Jurnal: 48 + Ebook: 5 + Skripsi: 1 + Tesis: 1
+ Artikel: 27
E) xiv + 130 pages + 49 appendix
F) This study aims to determine the impact of big five personality, self-
esteem, friendship quality, academic stress, gender, and duration of
smartphone use on smartphone addiction in adolescents. The study
involved 203 11th grade students of SMAN 6 Kabupaten Tangerang
(121 women and 82 men).
The questionnaire methodes used in this study were the modification
of Smartphone Addiction Scale-Short Version (SAS-SV), the
adaptation of Big Five-K (BFI-K), Rosenberg Self-Esteem Scale
(RSES), Friendship Qualities Scale (FQS), and Academic
Expectations Stress Inventory (AESI).
Confirmatory Factor Analysis (CFA) was used to test the validity of
each variable. While multiple regression analysis was used to see the
impact of the independent variable to dependent variable.
The results of this study show that there are a significant impact of big
five personality, self-esteem, friendship quality, academic stress,
gender, and duration of smartphone use on smartphone addiction in
adolescents. In detail, dimensions such as conscientiousness and
duration of smartphone use give significant impact to smartphone
addiction. While other dimensions such as neuroticism, openness to
experience, extraversion, agreeableness, self-esteem, companionship,
conflict, help, security, closeness, expectations of parents/teacher,
expectations of self, and gender don`t give significant impact to
smartphone addiction. The suggestion for subsequent research is to
use different variables, such as self-control and parenting style as
independent variable.
G) Reading materials: 85. Books: 3 + Journal: 48 + Ebook: 5 + Essay: 1
+ Thesis: 1 + Articles: 27
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Segala puji bagi Allah yang atas segala nikmat yang telah diberikan kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Skripsi ini terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan
berupa ilmu, waktu, pikiran, tenaga, maupun do`a. Untuk itu, penulis
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, beserta seluruh jajaran.
2. Ibu Liany Luzvinda, M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
memberikan arahan, membantu, dan memotivasi dalam menyelesaikan
skripsi.
3. Ibu Ilmi Amalia, M.Psi, Psi. dan Ibu Nia Tresniasari, M.Si selaku dosen
penguji skripsi yang telah memberikan arahan, membantu, dan memotivasi
dalam menyelesaikan skripsi.
4. Bapak Bambang Suryadi, Ph.D selaku dosen pembimbing akademik yang
telah memberikan arahan dan motivasi selama perkuliahan.
5. Seluruh dosen dan staff yang telah banyak membantu penulis dalam
menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini.
6. Dewan guru SMAN 6 Kabupaten Tangerang yang telah mengizinkan penulis
melakukan pengambilan data.
ix
7. Kedua orang tua penulis, Mohammad Syafei (Ayah) dan Siti Hanifah (Ibu)
yang selalu mendoakan, memotivasi, dan memberikan dukungan kepada
penulis serta Mohammad Rafli dan Mohammad Fachri Amrullah (adik).
Semoga Allah membalasnya dengan surga.
8. Akhlis Istiqlal, S.Psi, Fitri Anisa, S.Psi, Aidah Farras Alya, S.Psi, Verona
Laksmita Kusuma, S.Psi., serta kakak 2014 lainnya yang senantiasa
memberikan arahan dan motivasi kepada penulis dan M. Azhar Pratama yang
telah membantu penulis dalam melakukan pengambilan data skripsi.
9. Rekan – rekan yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Terkhusus, sahabat
seperjuangan; Nur Soffa, Sinndy F.S.W., Siti Pertiwi, Khoirunnisaa Z.A., Sari
Sarmilah, Zahra Fatimah, Lina Karlina, A. Yoga A. Terimakasih atas doa,
support, dan kebaikan yang telah diberikan.
10. Partisipan dan seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Terimakasih atas kebaikan yang diberikan.
Semoga Allah membalas dengan pahala yang berlimpah sebagai balasan atas
kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa skripsi
ini masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan maupun isi. Oleh karena
itu, penulis menerima saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
skripsi ini. Penulis berharap semoga skrpsi ini dapat memberikan banyak
manfaat.
1.2.1 Pembatasan masalah ...........................................................10
1.2.2 Perumusan masalah ............................................................12
1.3.1 Tujuan penelitian ................................................................13
1.3.2 Manfaat penelitian ..............................................................14
2.1 Adiksi Smartphone ......................................................................15
2.1.4 Faktor – faktor yang mempengaruhi adiksi smartphone ......20
2.2 Tipe Kepribadian Big Five ..........................................................30
2.2.1 Definisi dan sejarah singkat tipe kepribadian big five ..........30
2.2.2 Dimensi tipe kepribadian big five ........................................32
2.2.3 Pengukuran tipe kepribadian big five ..................................33
2.3 Self-esteem ..................................................................................35
3.1 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ....................57
3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional...............................57
3.2.1 Variabel penelitian..............................................................57
3.4.2 Uji validitas konstruk tipe kepribadian big five ...................71
3.4.3 Uji validitas konstruk self-esteem........................................75
3.5 Teknik Analisis Data ...................................................................81
4.2 Hasil analisis deskriptif ...............................................................89
4.4 Hasil uji hipotesis ........................................................................94
4.4.2 Pengujian proporsi varian masing – masing IV ................ 102
BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN .......................................... 106-122
5.1 Kesimpulan .............................................................................. 106
5.2 Diskusi ..................................................................................... 106
5.3 Saran ........................................................................................ 119
Tabel 3.1 Blue Print Skala Adiksi Smartphone ..............................................63
Tabel 3.2 Blue Print Skala Big Five ..............................................................65
Tabel 3.3 Blue Print Skala Self-Esteem .........................................................66
Tabel 3.4 Blue Print Skala Friendship Qualities ...........................................66
Tabel 3.5 Blue Print Skala Stres Akademik ...................................................68
Tabel 3.6 Muatan Faktor Item Konstruk Adiksi Smartphone .........................71
Tabel 3.7 Muatan Faktor Item Dimensi Neuroticism .....................................72
Tabel 3.8 Muatan Faktor Item Dimensi Extraversion ....................................73
Tabel 3.9 Muatan Faktor Item Dimensi Openness to Experience ...................73
Tabel 3.10 Muatan Faktor Item Dimensi Conscientiousness ............................74
Tabel 3.11 Muatan Faktor Item Dimensi Agreeableness ..................................75
Tabel 3.12 Muatan Faktor Item Dimensi Self-Esteem ......................................75
Tabel 3.13 Muatan Faktor Item Dimensi Companionship ................................77
Tabel 3.14 Muatan Faktor Item Dimensi Confllict ...........................................77
Tabel 3.15 Muatan Faktor Item Dimensi Help .................................................78
Tabel 3.16 Muatan Faktor Item Dimensi Security ............................................79
Tabel 3.17 Muatan Faktor Item Dimensi Closeness .........................................79
Tabel 3.18 Muatan Faktor Item Dimensi Ekspektasi Orangtua
atau Guru ......................................................................................80
Tabel 4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian ..............................................85
Tabel 4.2 Gambaran Umum Jenis Kelamin dan Aplikasi yang diakses ..........89
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif .........................................................................90
Tabel 4.6 R Square........................................................................................95
Tabel 4.7 ANOVA ........................................................................................96
xiii
Lampiran 3 Surat Izin Penelitian ................................................................. 150
Lampiran 4 Kuesioner Penelitian ................................................................ 151
Lampiran 5 Syntax dan Path Diagram Hasil CFA ....................................... 161
Lampiran 6 Hasil Analisis Regresi Berganda .............................................. 175
iii
1
Smartphone atau ponsel pintar sudah mulai merambah di kalangan masyarakat
Indonesia sejak tahun 2000an (Aditama, 2017). Dengan kegunaannya yang
multifungsi serta dilengkapi beragam fitur–fitur menarik terkadang membuat
pengguna smartphone merasa asik untuk menggunakannya terus menerus.
Ditambah lagi, dengan kemampuannya mengakses berbagai informasi dan
menghubungkan setiap individu melalui media sosial, membuat pengguna
menjadikan ponsel pintar ini sebagai bagian dari hidupnya. Hal inilah yang
membuat pengguna smartphone bukan hanya memperoleh manfaat dari
kecanggihanya, tetapi juga memperoleh dampak negatif akibat penggunaannya,
seperti terjangkit adiksi smartphone.
dengan durasi penggunaan yang berbeda – beda. Sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Digital GFK Asia menemukan bahwa perempuan Indonesia
setidaknya menghabiskan waktu selama 5,6 jam dan laki – laki 5,4 jam per hari
untuk menggunakan smartphone mereka (Astri dalam tribunnews.com, 2016).
Jika dirata–ratakan secara keseluruhan, maka masyarakat Indonesia menghabiskan
waktu setidaknya 5,5 jam per hari untuk menggunakan smartphone mereka
dengan membuka berbagai aplikasi (Astri dalam tribunnews.com, 2016).
Durasi penggunaan gadget yang melebihi batas maksimal akan
menimbulkan masalah bagi penggunanya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh
2
para peneliti dari University of Oxford menemukan bahwa durasi maksimal
penggunaan gadget bagi remaja yaitu 4 jam 17 menit. Jika melebihi durasi
maksimal tersebut maka gadget akan mengganggu kerja otak para remaja
(Dikdok, 2018). Selain itu, resiko terjangkitnya adiksi smartphone pada
penggunanya akan sangat mungkin terjadi.
Berbagai fenomena terkait adiksi smartphone sudah mulai bermunculan
baik di Indonesia maupun di negara lainnya, seperti China dan Thailand.
Beberapa fenomena adiksi smartphone di Indonesia diantaranya terbengkalainya
kuliah dan sekolah para pelajar, menyakiti diri sendiri dan percobaan bunuh diri
(Ali, 2018; Lupito, Thoriq, & NR4, 2018; Widarsha, 2018) serta tingginya tingkat
kecelakaan di jalan raya (Ddn, 2011). Adapun masalah yang muncul akibat adiksi
smartphone di China dan Thailand yakni rusaknya mata pengguna smartphone
mulai dari mata malas hingga kebutaan (Bohang, 2017; Pratnyawan, 2018;
Mamduh, 2019) dan kasus pembunuhan seorang anak yang adiksi smartphone
oleh ibunya (Rosyadi, 2018).
Teori adiksi smartphone yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori
adiksi smartphone yang dikembangkan oleh Kwon et al. (2013a). Kwon et al.
(2013a) melakukan penelitian dengan tujuan untuk membuat self-diagnostic
adiksi smartphone. Alasan dibuatnya self-diagnostic tersebut karena penelitian
“Development of Korean Smartphone Addiction Proneness Scale” yang dilakukan
oleh National Information Society Agency hanya memberikan assessment yang
sederhana dalam membedakan antara ketergantungan dan penyalahgunaan
smartphone. Kedua hal tersebut dibedakan berdasarkan diagnosa psikiatri tanpa
3
acuan skala diagnosa adiksi smartphone. Selain itu, dalam jurnal – jurnal Korea,
studi – studi terkait skala penilaian adiksi smartphone hanya memodifikasi
terminologi–terminologi dari penelitian–penelitian sebelumnya, bukan
berdasarkan pemahaman tentang konsep adiksi smartphone. Selain
mengembangkan skala adiksi smartphone, Kwon et al.(2013a) juga menjelaskan
konsep adiksi smartphone dalam hasil penelitiannya.
Adiksi smartphone adalah pola atau perilaku maladaptif karena
penggunaan smartphone sehingga menimbulkan gangguan yang dimanifestasikan
melalui lima ciri Kwon, Kim, Cho, & Yang (2013). Lima ciri itu diantaranya
gangguan kehidupan sehari-hari, withdrawal, toleransi, mengorientasikan
hubungan pada dunia maya, dan berlebihan dalam menggunakan smartphone
(Kwon et al., 2013b). Gangguan kehidupan sehari - hari meliputi tidak melakukan
pekerjaan yang sudah direncanakan, sulit konsentrasi ketika di kelas atau sedang
bekerja, mengalami pusing/pandangan buram, sakit di pergelangan tangan/di
belakang leher, gangguan tidur (Kwon et al., 2013a). Kwon et.al. (2013a)
menjelaskan withdrawal yaitu rasa tidak sabar, kesal, menderita/tidak tahan jika
tidak menggunakan smartphone, terus menerus memikirkan smartphone
meskipun sedang tidak menggunakannya, berupaya untuk terus menggunakan
smartphone, merasa jengkel ketika diganggu saat sedang menggunakan
smartphone.
Ciri lain dari adiksi smartphone menurut Kwon et al. (2013a) yaitu
mengorientasikan hubungan pada dunia maya yakni merasa hubungan pertemanan
yang didapatkan melalui smartphone lebih akrab daripada teman yang ada di
4
kehidupan nyata, mengalami perasaan kehilangan yang tidak bisa dikontrol ketika
tidak bisa menggunakan smartphone, terus menerus mengecek smartphone,
menganggap dunia smartphone adalah gambaran kecil masyarakat di dunia nyata
yang dibentuk oleh situs jejaring sosial, seperti twitter atau facebook. Kwon et al.
(2013a) juga menjelaskan bahwa berlebihan dalam menggunakan smartphone
meliputi tidak dapat mengontrol penggunaan smartphone, lebih suka meminta
bantuan orang lain melalui smartphone, selalu menyiapkan pengisi baterai
(charge), merasa terdorong untuk menggunakan smartphone lagi setelah baru saja
berhenti menggunakannya. Toleransi yaitu usaha untuk mencoba mengontrol
penggunaan smartphone tetapi selalu gagal (Kwon et.al. 2013a).
Meskipun belum dimasukkan ke dalam pembahasan DSM-V, bahaya yang
ditimbulkan dari adiksi smartphone tidak jauh berbeda dengan bahaya yang
ditimbulkan dari ketergantungan zat lainnya (seperti alkohol, obat – obatan, dsb.).
Adiksi smartphone dapat menimbulkan dampak psikis, fisik, dan sosial. Dampak
psikis yang ditimbulkan dari adiksi smartphone diantaranya ekspresi marah yang
tidak tepat (berlebihan) karena dilarang menggunakan smartphone, gangguan
jiwa, percobaan bunuh diri, kemalasan, dan mudah merasa jenuh saat belajar
(Lupito et al. 2018; Ali, 2018; Widarsha, 2018; Liputan6.com, 2018). Selain itu,
individu juga dapat mengalami perubahan sikap menjadi lebih negatif; menjadi
pemurung, mengurung diri, dan membenci orang lain (misal: membenci orangtua)
(Lupito et al. 2018; Ali, 2018; Widarsha, 2018). Dampak psikis juga dapat
dirasakan oleh orang tua dengan anak yang mengalami adiksi smartphone, seperti
membuat orang tua malu karena anak menyalahgunakan smartphone yang
5
dimilikinya (seperti selfie dengan pakaian minim dan fotonya tersebar di media
sosial) (Fit & Bakri, 2017).
Terkait dengan dampak fisik, pengguna smartphone yang sudah terjangkit
adiksi dapat mengalami kekurangan waktu untuk tidur (Lupito et al., 2017). Selain
itu, sebuah penelitian di Korea menemukan bahwa adiksi smartphone
menyebabkan ketidakseimbangan otak karena tingkat kimiawi yang tinggi
sehingga aktivitas otak terhambat (Seo dalam Putri, 2017). Kadar dopamin pada
otak pecandu juga tinggi sehingga menimbulkan efek euforia dan aliran darah di
otak terkait reward & pleasure membuat ketagihan (Andri dalam Sulaiman, 2018;
Sulaiman, 2018). Adiksi smartphone juga bisa membuat penderitanya mengalami
rectal prolapse (usus dekat anus keluar) karena terlalu lama menggunakan
smartphone saat di toilet seperti yang dialami seorang pria di China (Pramudiarja,
2018).
anak terhambat (Cindy dalam Liputan6.com, 2018). Dampak sosial lain yang
ditimbulkan dari adiksi smartphone yaitu terjadinya kecelakaan lalu lintas antar
kendaraan bermotor karena pengendara menggunakan smartphone sambil
mengendarai kendaraannya. Perilaku ini menyebabkan konsentrasi pengendara
terpecah (Muhardi, 2018). Pada tahun 2010, 30% kecelakaan lalu lintas di Jakarta
disebabkan karena penggunaan handphone (Ddn, 2011) dan menelpon atau ber-
SMS pada saat mengemudi merupakan penyebab terbesar terjadinya kecelakaan di
jalan raya (Muhardi, 2018). Kecelakaan–kecelakaan ini tentunya bukan hanya
6
jiwa (Surya, 2018; Untari, 2018).
Banyak faktor yang mempengaruhi adiksi smartphone, baik faktor internal
maupun eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi adiksi smartphone pada
individu yaitu adanya pengaruh gender, (Jenaro, Flores, Gomez-Vela, Gonzalez-
Gil, & Caballo, 2007; Deursen, Bolle, Hegner, & Kommers, 2015; Lee & Lee,
2017; Kawasaki, Tanei, & Ogata dalam Al-Barashdi et al., 2015; , Devis-Devis,
Peiró-Velert, Beltrán-Carrillo, & Tomás dalam Al-Barashdi, Bouazza, Jabur,
2015; Villella et al. dalam Al-Barashdi et al., 2015), motif (Zhang, Chongyang, &
Lee, 2014; Lee & Lee, 2017), personality (Roberts, Pullig, & Manolis, 2015;
Pearson & Hussain, 2015; Bessma, 2018), self-esteem (Lee et al., 2016; Lee &
Chae, 2017; Pugh, 2017; Wang, Zhao, Wang, Xie, Wang, & Lei, 2017). Adapun
faktor eksternal yang berpengaruh terhadap adiksi smartphone yaitu family
disfunction (domestic violence dan addicted parents) (Kim, Min, Min, Lee, &
Yoo, 2018), positvie reinforcement saat menggunakan smartphone (Carbonell,
Oberst, Beranuy, 2013), kualitas persahabatan (Kim et al., 2018), stres akademik
(Karuniawan & Cahyanti, 2013) dan durasi penggunaan smartphone (Haug et al.
2015; G€okçearslan, Mumcu, Haslama, & Cevik, 2016; Bavli, Katra, Günar,
2018).
Terkait dengan faktor gender, beberapa peneliti menyebutkan perempuan
lebih beresiko terkena adiksi smartphone daripada laki–laki (Lee & Lee, 2017;
Deursen et al., 2015,; Jenaro et al., 2007; Kawasaki et al. dalam Al-Barashdi et al.,
2015). Namun, Devis-Devis et al. (dalam Al-Barashdi et al., 2015) menunjukkan
7
bahwa laki – laki lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggunakan ponsel.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Villella et al.
(dalam Al-Barashdi et al., 2015) yang menujukkan bahwa perilaku adiksi lebih
umum terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
Durasi penggunaan smartphone per hari juga dapat mempengaruhi adiksi
smartphone secara signifikan. Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Haug et al. (2015); G€okçearslan et al., (2016); Bavli et al., (2018) menunjukkan
bahwa durasi penggunaan smartphone per hari berpengaruh secara signifikan
terhadap adiksi smartphone. Selain itu, dalam penelitian tersebut juga dijelaskan
bahwa semakin lama durasi penggunaan smartphone per hari maka adiksi
smartphonenya semakin tinggi.
adanya pengaruh personality terhadap adiksi smartphone dimana dan neuroticism
berpengaruh signifikan terhadap adiksi smartphone. Penelitian yang dilakukan
oleh Roberts et al. (2015) menunjukkan bahwa emotional instability dan
materialism berasosiasi positif dan signifikan dengan cell phone addiction,
sementara itu, introversion berasosiasi negatif dengan cell phone addiction,
conscientiousness berasosiasi negatif dengan attention impulsivenes dan attention
impulsiveness berasosiasi positif dengan cell phone addiction. Penelitian tentang
hubungan personality dengan adiksi smartphone juga dilakukan oleh Bessma
(2018). Bessma (2018) meneliti terkait hubungan big five personalityf dengan
adiksi smartphone dan hasilnya menunjukkan bahwa dimensi extraversion,
8
memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan smartphone addiction.
Faktor internal lain yang mempengaruhi adiksi smartphone yaitu self-
esteem individu. Hasil penelitian yang dilakukan Lee et al. (2016) menunjukkan
bahwa responden yang beresiko tinggi terkena adiksi smartphone menunjukkan
self-esteem yang rendah. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Lee dan Chae (2017), Mulyana & Afriani (2017). Namun,
hasil penelitian yang dilakukan oleh Pugh (2017) menunjukkan tidak ada
pengaruh yang signifikan self-esteem dengan adiksi smartphone. Adapun hasil
penelitian yang dilakukan oleh Wang et al. (2017) menunjukkan adanya hubungan
jika self-esteem dijadikan mediator student-student relationship dengan adiksi
smartphone.
disebabkan oleh faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal tersebut yaitu
kualitas persahabatan. Kualitas persahabatan mampu menggambarkan bagaimana
hubungan individu dengan teman atau sahabatnya. Individu yang mengalami
konflik dengan teman–temannya akan mengalami pengalaman psikologis yang
buruk, seperti kesepian (loneliness) (Bae, 2015). Oleh karena itu, mereka mungkin
berusaha mencari kegiatan alternatif untuk mengimbangi hubungan interpersonal
yang buruk. Dalam situasi ini, smartphone bisa menjadi cara yang menarik untuk
berinteraksi dengan orang lain tanpa kontak tatap muka (Lee & Lee, 2012; Park,
Kim & Hong dalam Bae, 2015). Hasil penelitian Kim et al. (2018) menunjukkan
9
bahwa adiksi smartphone memiliki hubungan yang signifikan dengan remaja yang
memiliki kualitas persahabatan yang rendah.
Faktor eksternal selanjutnya yang mempengaruhi adiksi smartphone yaitu
stres akademik. Stres akademik merupakan suatu kondisi atau keadaan individu
yang mengalami tekanan sebagai hasil persepsi dan penilaian mahasiswa tentang
stressor akademik, yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan
(Govarest & Gregoire dalam Karuniawan & Cahyanti, 2013). Penelitian yang
dilakukan oleh Karuniawan dan Cahyanti (2013) pada mahasiswa pengguna
smartphone di Surabaya menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan
antara academic stress dengan adiksi smartphone. Berbeda dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Chiu (2014) yang menunjukkan bahwa stres
akademik berpengaruh secara signifikan terhadap adiksi smartphone jika melalui
variabel mediator yaitu social self-efficacy.
Adiksi smartphone lebih cenderung terjadi pada remaja dibandingkan
orang dewasa (Kwon et al., 2013b). Kim et al. (dalam Kwon et al. 2013b)
melaporkan remaja mempunyai kecenderungan fokus ketika menggunakan media
dan masalah penggunaan media bisa lebih berkembang pada remaja ketika remaja
diperkenalkan jenis media baru daripada orang dewasa. Dengan kata lain, remaja
cenderung proaktif ketika menerima jenis media baru dan menggantikan yang
sebelumnya (Kwon et al., 2013b). Oleh karena itu, peneliti memilih pelajar SMA
sebagai subjek penelitian.
ini perlu untuk dilakukan karena adiksi smartphone akan berdampak negatif
terhadap fisik, psikis, maupun sosial.
Faktor yang menyebabkan terjadinya adiksi smartphone pada remaja yaitu
kepribadian, self-esteem, kualitas persahabatan, stres akademik, jenis kelamin, dan
durasi penggunaan smartphone penting untuk diteliti karena berdasarkan
pengetahuan peneliti, belum ada penelitian yang mengaitkan keenam faktor
tersebut (tipe kepribadian, self-esteem, kualitas persahabatan, stres akademik,
jenis kelamin, dan durasi penggunaan smartphone) terhadap adiksi smartphone
pada remaja. Selain itu, penelitian–penelitian sebelumnya (Kawasaki et al.,;
Jenaro et al.; Deursen et al.; Devis–Devis et al.; Villella et al., dalam Al-Barashdi
et al., 2015; Karuniawan & Cahyanti, 2013; Chiu, 2014; Haug, Castro, Kwon,
Filler, Kowatsch, & Schaub, 2015; Roberts et al., 2015; Pearson & Hussain, 2015;
G€okçearslan et al., 2016; Lee & Lee, 2017; Bavli et al., 2018; Bessma, 2018;
Kim et al., 2018) terkait faktor penyebab adiksi smartphone menunjukkan hasil
yang tidak konsisten. Untuk itu, penelitian ini berjudul “Faktor – faktor yang
mempengaruhi adiksi smartphone pada remaja”.
1.2. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.2.1 Pembatasan masalah
Batasan masalah pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui lebih jauh pengaruh
tipe kepribadian big five, self-esteem, kualitas persahabatan, jenis kelamin, dan
11
dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Adiksi smartphone yang dimaksud adalah adalah pola atau perilaku
maladaptif karena penggunaan smartphone sehingga menimbulkan
gangguan yang dimanifestasikan melalui lima ciri, yaitu gangguan
kehidupan sehari - hari, withdrawal, toleransi, mengorientasikan hubungan
pada dunia maya, dan berlebihan dalam menggunakan smartphone (Kwon
et al. 2013b).
b. Tipe kepribadian Big Five yang dimaksud adalah hirarki traits kepribadian
yang terdiri dari lima dimensi dasar: neuroticism, extraversion, openness
to experience, conscientiousness, agreeableness (McCrae & John, 1992).
c. Self-esteem yang dimaksud adalah sikap positif atau negatif terhadap diri
(Rosenberg, 1965)
dan remaja awal dengan teman-teman baik mereka sesuai lima aspek
(companionship, conflict, help, security, closeness) yang secara konseptual
bermakna terhadap hubungan pertemanan mereka (Bukowski, Hoza,
Boivin, 1994).
memenuhi harapan orangtua dan guru serta harapan diri sendiri (Ang &
Huan, 2006).
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “apakah ada pengaruh tipe
kepribadian big five, self-esteem, kualitas persahabatan, stres akademik, jenis
kelamin, dan durasi penggunaan smartphone terhadap adiksi smartphone pada
remaja?”
pertanyaan – pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan big five personality, self-
esteem, kualitas persahabatan, stres akademik, jenis kelamin, dan durasi
penggunaan smartphone terhadap adiksi smartphone?
2. Apakah dimensi neuroticism, extraversion, openness, agreeableness,
conscientiousness pada variabel tipe kepribadian big five berpengaruh
secara signifikan terhadap adiksi smartphone pada seorang remaja?
3. Apakah self-esteem berpengaruh secara signifikan terhadap adiksi
smartphone pada seorang remaja?
pada variabel kualitas persahabatan berpengaruh secara signifikan
terhadap adiksi smartphone pada seorang remaja?
5. Apakah dimensi ekspektasi orang tua dan ekspektasi diri sendiri pada
variabel stres akademik berpengaruh secara signifikan terhadap adiksi
smartphone pada seorang remaja?
smartphone pada seorang remaja?
terhadap adiksi smartphone?
8. Variabel manakah yang memiliki pengaruh paling besar dan signifikan
terhadap adiksi smartphone?
smartphone?
1.3.1 Tujuan penelitian
persahabatan, stres akademik, jenis kelamin, dan durasi penggunaan
smartphone terhadap adiksi smartphone pada remaja.
2. Mengetahui pengaruh masing–masing dimensi dari tipe kepribadian big
five, self-esteem, kualitas persahabatan, stres akademik, jenis kelamin,
durasi penggunaan smartphone terhadap adiksi smartphone pada remaja.
3. Mengetahui variabel mana yang paling besar dan signifikan pengaruhnya
terhadap adiksi smartphone.
4. Mengetahui besar sumbangan varians tipe kepribadian big five, self-
esteem, kualitas persahabatan, stres akademik, jenis kelamin, dan durasi
penggunaan smartphone terhadap adiksi smartphone pada remaja.
14
dan instrumen pengukuran adiksi smartphone.
Manfaat Praktis
1. Penelitian ini dapat menjadi bahan untuk memperkenalkan faktor – faktor
yang dapat memicu terjadinya adiksi smartphone pada remaja.
2. Penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mencegah
terjadinya adiksi smartphone khususnya di kalangan remaja.
3. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pengguna smartphone yang
sudah terindikasi mengalami adiksi smartphone dapat sedikit demi sedikit
menghilangkan adiksinya dengan memperbaiki faktor penyebab
munculnya adiksi smartphone.
2.1.1 Definisi Adiksi Smartphone
Seperti adiksi zat, Kwon et al. (2013a) menyatakan bahwa konsep adiksi
smartphone sebagai semacam adiksi perilaku memiliki sejumlah kriteria yang
mirip dengan ketergantungan dan penyalahgunaan zat pada DSM-IV. Adiksi
smartphone adalah pola atau perilaku maladaptif karena penggunaan smartphone
sehingga menimbulkan gangguan yang dimanifestasikan melalui lima kriteria,
yaitu gangguan kehidupan sehari-hari, withdrawal, toleransi, mengorientasikan
hubungan pada dunia maya, dan berlebihan dalam menggunakan smartphone
(Kwon et al., 2013a & 2013b).
Kim et al. (2014) menjelaskan bahwa konsep adiksi smartphone
dipandang sebagai jenis kecanduan perilaku yang ditandai oleh masalah dengan
kontrol impuls. Lin et al. (2014) menyatakan bahwa adiksi smartphone dapat
dipandang sebagai sebuah bentuk adiksi teknologi. Secara khusus, Griffiths
(dalam Lin et al., 2014) mendefinisikannya secara operasional; adiksi ini sebagai
perilaku adiksi terhadap bahan non kimiawi yang melibatkan interaksi manusia
dengan mesin. Adiksi smartphone didefinisikan sebagai keadaan dimana
seseorang tenggelam dalam aktifitas menggunakan smartphone dan sulit
mengontrolnya (Kim et al., 2018).
16
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan definisi adiksi smartphone
dari Kwon et al. (2013a &2013b); adiksi smartphone adalah pola atau perilaku
maladaptif karena penggunaan smartphone sehingga menimbulkan gangguan
yang dimanifestasikan melalui lima kriteria, yaitu gangguan kehidupan sehari -
hari, withdrawal, toleransi, mengorientasikan hubungan pada dunia maya, dan
berlebihan dalam menggunakan smartphone. Peneliti memilih definisi ini karena
salah satu sampel dalam pengembangan teori tersebut yaitu remaja sehingg sesuai
dengan sampel pada penelitian ini.
2.1.2 Dimensi Adiksi Smartphone
Kwon et al. (2013b) dalam penelitian Smartphone Addiction Scale-Short
Version terhadap 540 pelajar kelas dua SMP, menjelaskan tiga aspek adiksi
smartphone yaitu gangguan kehidupan sehari-hari, withdrawal, toleransi, yang
merupakan gejala umum kecanduan. Tiga aspek ini ditentukan berdasarkan hasil
konsultasi 90 responden laki–laki dan 60 responden perempuan dengan psikolog
klinis yang kemudian hasil konsultasinya dianalisis menggunakan analisis ROC
(Receiver Operating Characteristics). Namun demikian, berdasarkan hasil
penilaian expert judgement terhadap skala Smartphone Addiction Scale yang akan
dibuat versi singkatnya menjadi Smartphone Addiction Scale – Short Version,
Kwon et al. (2013b) menggunakan lima aspek adiksi smartphone yaitu gangguan
kehidupan sehari - hari, withdrawal, toleransi, mengorientasikan hubungan pada
dunia maya, dan berlebihan dalam menggunakan smartphone.
17
1. Gangguan kehidupan sehari–hari : meliputi tidak melakukan pekerjaan yang
sudah direncanakan, sulit konsentrasi ketika di kelas atau sedang bekerja,
menderita pusing atau penglihatan kabur, nyeri pada pergelangan tangan atau
di belakang leher, dan gangguan tidur.
2. Withdrawal : meliputi rasa tidak sabar, kesal, menderita/tidak tahan jika tidak
menggunakan smartphone, terus menerus memikirkan smartphone meskipun
sedang tidak menggunakannya, berupaya untuk terus menggunakan
smartphone, merasa jengkel ketika diganggu saat sedang menggunakan
smartphone.
selalu gagal.
4. Mengorientasikan hubungan pada dunia maya yaitu merasa hubungan
pertemanan yang didapatkan melalui smartphone lebih akrab daripada teman
yang ada di kehidupan nyata, mengalami perasaan kehilangan yang tidak bisa
dikontrol ketika tidak bisa menggunakan smartphone, terus menerus
mengecek smartphone, menganggap dunia smartphone adalah gambaran
kecil masyarakat di dunia nyata yang dibentuk oleh situs jejaring sosial,
seperti twitter atau facebook.
mengontrol penggunaan smartphone, lebih suka meminta bantuan orang lain
melalui smartphone, selalu menyiapkan pengisi baterai (charge), merasa
terdorong untuk menggunakan smartphone lagi setelah baru saja berhenti
menggunakannya.
18
Menurut Lin, Chang, Lee, Tseng, Kuo, & Chen. (2014), aspek adiksi
smartphone yaitu compulsive behavior, functional impairment, withdrawal, dan
tolerance. Kim et al. (2014) dalam penelitiannya untuk mengembangkan
Smartphone Addiction Proneness Scale (SAPS) menyebutkan empat subdomain
adiksi smartphone, yaitu adaptive functions, withdrawal, tolerance, dan virtual
life orientation. Choliz (2010) menjelaskan dimensi adiksi ponsel diantaranya:
abstinence, lack of control (kekurangan kontrol), problems derived from the use
(masalah yang berasal dari penggunaan ponsel), tolerance (toleransi),
interference with other activities (mengganggu kegiatan lain).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan lima dimensi adiksi
smartphone dari Kwon et al. (2013b) yaitu gangguan kehidupan sehari - hari,
withdrawal, toleransi, mengorientasikan hubungan pada dunia maya, dan
berlebihan dalam menggunakan smartphone.
2.1.3 Pengukuran Adiksi Smartphone
SAPS merupakan skala adiksi smartphone yang dikembangkan
oleh Kim et.al. pada tahun 2014. Skala ini terdiri dari 15 item yang
mengukur empat subdomain adiksi smartphone yaitu disturbance of
adaptive functions, virtual life orientation, withdrawal, dan tolerance.
19
Smartphone Addiction Scale (SAS) merupakan skala adiksi
smartphone yang dikembangkan oleh Kwon et.al. (2013a) yang terdiri dari
33 item. Skala ini mengukur enam dimensi adiksi smartphone yaitu
gangguan kehidupan sehari - hari, withdrawal, toleransi, mengorientasikan
hubungan pada dunia maya, dan berlebihan dalam menggunakan
smartphone.
3. Smartphone Addiction Scale – Short Version (SAS-SV)
Smartphone Addiction Scale – Short Version (SAS-SV) merupakan
versi singkat dari SAS yang juga dikembangkan oleh Kwon et.al. (2013b).
Skala ini terdiri dari 10 item yang mengukur lima dimensi adiksi
smartphone yaitu gangguan kehidupan sehari-hari, withdrawal, toleransi,
mengorientasikan hubungan pada dunia maya, dan berlebihan dalam
menggunakan smartphone. Skala ini dikembangkan pada 540 responden
dengan rata – rata usia 14,5 tahun. Skor internal consistency SAS-SV yang
ditunjukkan dengan skor cronbach`s alpha yaitu 0.911 (Kwon et.al.,
2013b).
Scale – Short Version (SAS-SV) untuk mengukur adiksi smartphone pada
responden. Peneliti memilih menggunakan alat ukur ini karena alat ukur
tersebut dikembangkan pada responden remaja sehingga sesuai dengan
responden pada penelitian ini.
Menurut hasil penelitian para peneliti, faktor–faktor yang mempengaruhi adiksi
smartphone dapat berasal dari faktor internal, demografi, dan faktor eksternal.
1. Faktor internal
a. Motif
Selain gender, faktor lain yang mempengaruhi adiksi smartphone
yaitu motif. Sebagaimana yang dijelaskan dalam penelitian yang
dilakukan oleh Lee dan Lee pada tahun 2017 bahwa 19,4% motif
mempengaruhi adiksi smartphone. Sebagaimana hasil penelitian Lee
dan Lee (2017), hasil penelitian Zhang et al. (2014) juga menunjukkan
adanya pengaruh motif terhadap adiksi smartphone. Besar pengaruh
motif terhadap adiksi smartphone yaitu sebesar 29,9%.
b. Kegagalan meregulasi diri
meregulasi diri (self-regulation) menjadi penyebab tertinggi perilaku
adiksi smartphone.
c. Self-esteem
Hasil penelitian Lee et al. (2016) menunjukkan bahwa remaja yang
beresiko tinggi terkena adiksi smartphone, memiliki self-esteem yang
lebih rendah. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Lee dan Chae (2017), Mulyana & Afriani (2017).
Korelasi negatif ditunjukkan antara self-esteem dan cellular phone
21
addiction dengan r=-.367, p<.001 (Lee & Chae, 2017) dan antara self-
esteem dan smartphone addiction dengan r = -0,145, p<0,05
(Mulyana & Afriani, 2017).
menunjukkan adanya pengaruh personality terhadap adiksi
smartphone dimana openness dan neuroticism berpengaruh signifikan
terhadap adiksi smartphone. Penelitian yang dilakukan oleh Roberts,
Pullig, Manolis (2015) menunjukkan bahwa emotional instability dan
materialism berasosiasi positif dan signifikan dengan cell phone
addiction, sementara itu, introversion berasosiasi negatif dengan cell
phone addiction, conscientiousness berasosiasi negatif dengan
attention impulsiveness dan attention impulsiveness berasosiasi positif
dengan cell phone addiction.
juga dilakukan oleh Bessma (2018). Bessma (2018) meneliti terkait
hubungan big five personality dengan adiksi smartphone dan hasilnya
menunjukkan bahwa dimensi extraversion, agreeableness, emotional
stability, conscientiousness, opennes to experience memiliki
hubungan negatif yang signifikan dengan smartphone addiction.
e. Friendship satisfaction dan academic motivation
Penelitian yang dilakukan Bae (2015) menunjukkan adanya friendship
satisfaction dan academic motivation berpengaruh negatif terhadap
22
satisfaction dan academic motivation maka semakin menurun juga
adiksi penggunaan smartphone.
f. Need to belong
Pada penelitian Wang et al. (2017) need to belong merupakan variabel
moderator self-esteem dan student-student relationship terhadap adiksi
smartphone. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa need to
belong berasosiasi positif secara signifikan dengan adiksi smartphone.
Remaja dengan need to belong yang tinggi, maka adiksi smartphonenya
juga tinggi; remaja mungkin memiliki self-esteem yang rendah dan
student-student relationshipnya buruk.
2. Faktor demografi
sebagai berikut:
a. Jenis Kelamin
Dari penelitian yang dilakukan oleh Lee et al. (2017) terhadap 3000
remaja SMP dan SMA ditemukan bahwa adiksi smartphone lebih
banyak terjadi pada pelajar perempuan; 9.5% perempuan dan 5.9%
laki-laki diklasifikasikan sebagai pengguna smartphone yang beresiko
tinggi terkena adiksi smartphone, sementara 33.1% perempuan dan
22.7% laki-laki diklasifikasikan berpotensi terkena adiksi smartphone.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Deursen et al. pada tahun 2015. Hasil tersebut menunjukkan
23
Dalam sebuah studi review literatur yang dilakukan oleh Al –
Barashdi et al. (2015) dijelaskan bahwa ada pengaruh jenis kelamin
terhadap adiksi smartphone. Beberapa hasil studi literatur review
tersebut diantaranya: pertama, pada penilaian patologis intenet dan
penggunaan ponsel yang dilakukan terhadap 337 mahasiswa Spanyol,
Jenaro et al. (2007) menemukan bahwa penggunaan ponsel yang
tinggi terjadi pada perempuan, dan memiliki kecemasan dan insomnia
yang tinggi. Kedua, Kawasaki et al. (dalam Al-Barashdi et al., 2015)
menyelidiki ketergantungan ponsel pada pelajar SMA dan mahasiswa
Thai university. Format survey (Cellular Phone Dependence
Quetionnaire) didistribusikan kepada 181 perempuan dan 177 laki-
laki mahasiswa Thai University dan kepada 240 perempuan dan 140
laki-laki pelajar SMA Thai. Faktor analisis terhadap pelajar SMA
perempuan menunjukkan bahwa ketergantungan ponsel pada pelajar
SMA perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa laki–
laki, siswa perempuan, siswa laki-laki dan mahasiswa perempuan
Jepang.
Ketiga, namun, hasil studi yang dilakukan oleh Devis-Devis et al.
(dalam Al-Barashdi et al., 2015), menunjukkan perbedaan. Mereka
membandingkan penggunaan ponsel pada laki-laki dan perempuan
dan menemukan bahwam laki-laki lebih banyak menghabiskan waktu
24
mahasiswa lebih banyak menggunakan alat komunikasi ini ketika
weekend daripada weekdays. Sejalan dengan hasil ini, Villella, dkk.
(dalam Al-Barashdi et al., 2015) menunjukkan bahwa perilaku adiksi
lebih umum terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
b. Demografi dan school life
Pada penelitian Lee dan Lee (2017) 1,9% variabel demografi (gender
dan tingkat perekonomian keluarga) mempengaruhi adiksi smartphone
dan 0,6% dipengaruhi oleh school life.
c. Durasi penggunaan smartphone
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Haug et al. 2015;
G€okçearslan et al., 2016; Bavli et al., 2018 menunjukkan bahwa
durasi penggunaan smartphone per hari berpengaruh secara signifikan
terhadap adiksi smartphone. Selain itu, dalam penelitian tersebut juga
dijelaskan bahwa semakin lama durasi penggunaan smartphone per
hari maka adiksi smartphonenya semakin tinggi.
3. Faktor Eksternal
sebagai berikut
Faktor lain yang mempengaruhi adiksi smartphone yang dijelaskan
dalam penelitian Lee dan Lee (2017) yaitu 5,2% oleh attachment to
significant others (parents, friends, teacher).
25
parents) lebih besar kemungkinannya mengalami adiksi smartphone
(Kim, 2018).
dari penggunaan ponsel: pertama, euphoria yaitu merasa dihargai
atau dicintai ketika menerima panggilan atau pesan. Kedua,
instrumental function merupakan fitur yang terdapat pada ponsel
seperti jam saku, jam alarm, kamera digital, perekam suara dan/atau
video, buku harian elektronik, mp3, atau GPS, dsb. sangat bermanfaat
& sangat disesuaikan bagi usia dan peran sosial pengguna.
Ketiga, symbol of Identity; ponsel telah menjadi satu lagi elemen di
antara komponen-komponen intim yang membentuk ruang pribadi
(seperti halnya hal-hal lain, seperti jam tangan, dompet, foto,
gantungan kunci, dll.); yang dengannya pembawa memiliki ikatan
emosional. Ponsel itu tampaknya telah menjadi objek di mana
seseorang dapat memberikan petunjuk tentang identitas gender
mereka, posisi sosial dan profesional, sikap terhadap masyarakat,
karakter, kepribadian, atau suasana hati. Ponsel, seperti pakaian, dapat
mengirimkan informasi tentang karakteristik seseorang dan tentang
ide yang mereka miliki tentang diri mereka, dan yang ingin mereka
kirimkan kepada orang lain.
juga melalui pembelian itu sendiri. Juga, jumlah dan / atau kualitas
pesan yang diterima, jumlah panggilan, jumlah kontak, kecanggihan
game dan layanan yang ditawarkan oleh ponsel, dan merek ponsel,
semua membantu untuk meningkatkan status sosial pengguna.
Kelima, social network; ponsel juga merupakan alat untuk
membangun jejaring sosial melalui daftar kontak perangkat. Jaringan
sosial berdasarkan ponsel telah menciptakan rasa identitas baru bagi
remaja dan orang muda. Keenam, online social networks; seiring
bertambahnya kemajuan teknologi, industri ponsel telah berhasil
beradaptasi mengikuti tuntutan pengguna dan menciptakan kebutuhan
baru, seperti online social network.
Ketujuh, independence; telepon seluler memainkan peran penting
dalam sosialisasi dan menciptakan perasaan menjadi anggota
kelompok, terutama di kalangan remaja. Selain itu, ponsel juga
menjadi salah satu alat bagi remaja untuk terbebas dari orang tua;
telepon seluler membantu seorang remaja untuk memperoleh rasa diri
yang semakin besar dan orientasi yang semakin meningkat terhadap
kelompok sebaya. Ponsel ini mendukung kemandirian dan
memperkuat kontak dengan teman-teman dan orang lain di luar
keluarga; Kedelapan, short distance: ponsel adalah alat yang
27
Kesembilan, increased security and control: ponsel adalah alat
kontrol yang menghasilkan perasaan aman pada orang tua, di antara
pasangan, atau bahkan untuk diri sendiri ketika bepergian jauh.
Seringkali tingkat kontrol dan rasa keamanan salah: sangat mudah
untuk berbohong tentang keberadaan seseorang, dan, bagaimanapun,
masa pakai baterai dan jangkauan keduanya terbatas. Kesepuluh,
permanent mobility and access: membawa ponsel atau memilikinya
membuat pengguna merasa wajib untuk selalu menerima panggilan,
membalas pesan, dan lain sebagainya. Aplikasi GPS dapat digunakan
orang lain untuk melacak keberadaan pengguna ponsel ketika
panggilan dan pesannya tidak direspon. Kesebelas, entertainment and
games: ponsel membawa berbagai fungsi, dan bahkan dapat berfungsi
sebagai portable videogame console. Penggabungan aplikasi ("Apps")
dalam ponsel generasi terbaru (disebut smartphone) telah membuka
berbagai kemungkinan besar seperti menggunakannya di tempat kerja,
untuk bersantai, dan penggunaan dalam aspek praktis dalam
kehidupan sehari-hari; di banyak aplikasi ini, fungsi-fungsi ini
dicampurkan. Ponsel menjadi komputer seluler pribadi.
Keduabelas, family conciliation: ponsel telah memungkinkan
remaja untuk membangun semacam persaudaraan virtual. Dengan
ponsel, dapat lahir cara–cara berkomunikasi yang baru untuk
28
dibutuhkan oleh remaja dan orang dewasa; Ketigabelas, synchronous
and ssynchronous communication: panggilan suara dan pesan teks
digunakan secara berbeda tergantung pada tujuan dan karakteristik
pengirim dan penerima pesan. Suara adalah komunikasi sinkron,
serentak dalam waktu, sedangkan pesan teks tidak sinkron, seperti
surat elektronik.
aspek evolusi sosial dan meningkatnya kualitas hidup di dunia Barat.
Di bidang teknologi, telepon telah mengikuti jalur yang sama dengan
televisi, sudah menjadi aset individual dan bukan milik keluarga lagi.
Sama seperti remaja yang memiliki televisi di kamar tidur mereka
sendiri, mereka juga memiliki komputer sendiri, ponsel, dll.
d. Aktivitas ponsel
seseorang menjadi adiksi ponsel ditemukan sangat bervariasi di antara
pengguna telepon seluler pria dan wanita. Meskipun komponen sosial
yang kuat mendorong CPA baik pada laki-laki dan perempuan,
kegiatan khusus yang terkait dengan CPA sangat berbeda.
e. Student-student relationship
berasosiasi negatif secara signifikan dengan adiksi smartphone pada
29
parsial memediasi hubungan antara studen –student relationship dan
kecanduan smartphone pada remaja.
individu dengan teman atau sahabatnya. Individu yang mengalami
konflik dengan teman–temannya akan mengalami pengalaman
psikologis yang buruk, seperti kesepian (Bae, 2015). Oleh karena itu,
mereka mungkin berusaha mencari kegiatan alternatif untuk
mengimbangi hubungan interpersonal yang buruk. Dalam situasi ini,
smartphone bisa menjadi cara yang menarik untuk berinteraksi dengan
orang lain tanpa kontak tatap muka (Lee & Lee, 2012; Park, Kim, &
Hong dalam Bae, 2015). Hasil penelitian Kim et al. (2018)
menunjukkan bahwa adiksi smartphone memiliki hubungan yang
signifikan dengan remaja yang memiliki friendship quality rendah.
g. Stres akademik
terhadap mahasiswa pengguna smartphone di Surabaya menunjukkan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara academic stress dengan
adiksi smartphone.
peneliti memilih tipe kepribadian big five, self-esteem, kualitas
persahabatan, stres akademik, jenis kelamin, dan durasi penggunaan
30
peneliti, belum ada penelitian yang mengaitkan keenam faktor tersebut
terhadap adiksi smartphone pada remaja. Selain itu, penelitian – penelitian
sebelumnya (Kawasaki et al., 2006; Jenaro et al., 2007; Deursen et al.,
2015; Devis – Devis et al. dalam Al-Barashdi et al., 2015; Villella et al.
dalam Al-Barashdi et al., 2015; Karuniawan & Cahyanti, 2013; Chiu,
2014; Haug et al. 2015; Roberts et al., 2015; Pearson & Hussain, 2015;
G€okçearslan et al., 2016; Lee & Lee, 2017; Bavli et al., 2018; Bessma,
2018; Kim et al., 2018) juga menunjukkan hasil yang tidak konsisten.
2.2 Tipe Kepribadian Big Five
2.2.1 Definisi dan Sejarah Singkat Tipe Kepribadian Big Five
Tipe kepribadian Big Five adalah hirarki traits kepribadian yang terdiri dari lima
dimensi dasar: extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, dan
openness to experience (McCrae & John, 1992). Tipe kepribadian Big Five
muncul untuk memenuhi kebutuhan psikologi kepribadian akan istilah – istilah
yang mudah dipahami oleh khalayak umum (John dan Srivastava, 1999).
Meskipun Big Five bukan sebuah teori kepribadian, McCrae dan John (1992
dalam McCrae & Costa, 2008) menjelaskan bahwa Big Five secara implisit
mengadopsi prinsip dasar dari trait theory; bahwa individu dapat
dikarakteristikkan melalui pola pemikiran, perasaan, dan tindakannya yang relatif
menetap; traits dapat dinilai secara kuantitatif; traits bersifat konsisten di berbagai
situasi. Struktur Big Five pada awalnya lahir dari psycholexical approach dan
31
faktor analisis (John dan Srivastava, 1999). Kajian mengenai sifat manusia
pertama kali dilakukan oleh Allport dan Odbert pada tahun 1930an, kemudian
dilanjutkan oleh Cattell pada tahun 1940an dan oleh Tupes, Christal, Norman
pada tahun 1960an (John dan Srivastava, 1999).
Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, Costa dan McCrae membangun
taksonomi yang terelaborasi mengenai sifat dan kepribadian. Akan tetapi, mereka
tidak menggunakan klasifikasi tersebut untuk menghasilkan hipotesis yang dapat
diuji, melainkan hanya menggunakan teknik analisis faktor untuk menguji
stabilitas dan struktur kepribadian. Dalam masa tersebut, Costa dan McCrae
awalnya hanya berfokus pada dua dimensi utama, yaitu neurotisme dan ektraversi
(Feist & Feist, 2010).
Tidak lama setelah menemukan N dan E, Costa dan McCrae menemukan
faktor ketiga, yang disebut dengan openness to experience. Hampir semua studi
awal Costa dan McCrae hanya terfokus pada ketiga dimensi ini. Walaupun Lewis
Goldberg adalah orang yang pertama menggunakan istlah “Big Five” pada tahun
1981, Costa dan McCrae masih melanjutkan studi mereka pada ketiga faktor
tersebut (Feist & Feist, 2010). Sampai pada tahun 1983, Costa dan McCrae masih
berargumentasi mengenai model tiga faktor kepribadian. Baru pada tahun 1985,
mereka mulai melaporkan studi pada lima faktor kepribadian; neuroticism,
extraversion, openness to experience, agreeableness, conscientiousness (Feist &
Feist, 2010).
Dimensi tipe kepribadian big five menurut McCrae & Costa (1987 dalam
Friedman & Schustack, 2008) yaitu sebagai berikut:
1. Neuroticism
aman, self-conscious, dan temperamental. Orang yang tinggi dalam
dimensi neuroticism cenderung gugup, sensitif, tegang, mudah cemas,
rentan terhadap gangguan yang berhubungan dengan stres (Friedman &
Schustack, 2008; Feist & Feist, 2010). Orang yang rendah dalam dimensi
ni cenderung tenang dan santai (Friedman & Schustack, 2008).
2. Extraversion
pandai bersosialisasi, fun-loving, penyayang, ramah, dan banyak bicara
adalah variabel tertinggi pada faktor extraversion. Friedman dan
Schustack (2008) juga menjelaskan bahwa individu yang extraversion
cenderung ramah. Ciri lain extraversion menurut Friedman dan Schustack
(2008) yaitu cenderung penuh semangat, antusias, dominan, ramah, dan
komunikatif. Orang yang sebaliknya akan cenderung pemalu, tidak
percaya diri, submisif (perilaku yang cenderung menyerah pada semua hal
yang terjadi serta tidak mampu mengatakan “tidak” pada kondisi dimana
ia harus mengatakan “tidak”), dan pendiam.
33
menyenangkan, kreatif, dan artistik (Friedman & Schustack, 2008). Orang
yang rendah dalam dimensi ini umumnya dangkal, membosankan atau
sederhana (Friedman & Schustack, 2008).
4. Conscientiousness
Pada umumnya, orang yang tinggi dalam dimensi ini berhati – hati, dapat
diandalkan, teratur, teliti, disiplin, dan bertanggung jawab (Friedman &
Schustack, 2008; Feist & Feist, 2010). Namun, orang yang rendah dalam
dimensi ini cenderung ceroboh, berantakan, dan tidak dapat diandalkan
(Friedman & Schustack, 2008).
Umumnya, jika seseorang tinggi dalam dimensi ini, maka ia cenderung
kooperatif, ramah, mudah percaya, hangat, dan memiliki perilaku yang
baik (Friedman & Schustack, 2008; Feist & Feist, 2010). Orang yang
rendah dalam dimensi ini cenderung dingin, konfrontatif, dan kejam
(Friedman & Schustack, 2008).
Dalam John & Srivastiva (1999), dijelaskan beberapa alat ukur untuk mengukur
tipe kepribadian Big Five seseorang, diantaranya:
34
NEO PI dikembangkan pada tahun 1980an oleh McCrae & Costa. Alat
ukur ini dipublikasikan pada tahun 1985. NEO PI mengukur tiga dimensi
dari big five, yaitu neuroticism, extraversion, dan openness. NEO PI
berasal dari analisis cluster 16PF milik Cattel, et al (1970).
b. NEO PI-R
NEO PI-R (NEO PI, Revised) merupakan revisi dari NEO PI. Pada alat
ukur ini, dimensi agreeableness dan conscientiousness sudah
ditambahkan. Alat ukur ini dipublikasikan oleh McCrae & Costa pada
tahun 1992 dan terdiri dari 240 item.
c. BFI (Big Five Inventory)
BFI dikembangkan oleh John et al. pada tahun 1991. Tujuan pembuatan
alat ukur ini adalah untuk memberikan atau menyediakan alat ukur yang
singkat yang bisa digunakan untuk mengasesmen secara fleksibel dan
efisien. BFI terdiri dari 44 item.
d. BFI – K (BFI – Kurzeversion)
BFI – K dikembangkan oleh Rammstedt dan John pada tahun 2005. Alat
ukur ini terdiri dari 21 item dan merupakan skala versi singkat dari BFI .
Namun, pada tahun 2013, Kovaleva et al. melakukan uji validitas ulang
dan menghasilkan reliabilitas sebagai berikut:
35
N E O A C Mean
BFI .74 .80 .69 .58 .69 .70
N = neuroticism, E = extraversion, O = opennes,
A= Agreeableness, C = Conscientiousness
Dari beberapa alat ukur di atas, pada penelitian ini, peneliti
menggunakan BFI-K untuk meneliti tipe kepribadian Big Five responden
karena BFI-K memiliki validitas dan reliabilitas yang baik meskipun
hanya terdiri dari 25 item.
2.3 Self-esteem
Rosenberg (1965) menjelaskan bahwa self-esteem adalah sikap positif atau negatif
terhadap diri. Individu yang memiliki self-esteem yang tinggi hanya merasa
bahwa dia adalah orang yang berharga; dia menghormati dirinya sendiri apa
adanya, tetapi dia tidak mengagumi dirinya sendiri, juga tidak mengharapkan
orang lain untuk mengaguminya. Dia tidak menganggap dirinya lebih superior
dari yang lain. Dia tidak merasa bahwa dia adalah yang paling sempurna, tetapi,
sebaliknya, mengakui keterbatasannya dan berharap untuk tumbuh dan
berkembang. Di sisi lain, individu yang memiliki self-esteem yang rendah akan
menyiratkan penolakan diri, ketidakpuasan diri, penghinaan diri. Baginya,
gambaran diri itu tidak menyenangkan.
Definisi lain dari self-esteem yaitu pengalaman bahwa kita pantas untuk
menjalani kehidupan ini dan kita sesuai dengan kebutuhan hidup. Lebih khusus
36
lagi, self-esteem adalah (1) kepercayaan akan kemampuan kita untuk berpikir dan
mengatasi tantangan – tantangan dasar kehidupan; (2) keyakinan akan hak kita
untuk bahagia, perasaan bahwa kita bisa bermanfaat, layak, berhak untuk
menyatakan kebutuhan dan keinginan kita dan berhak menikmati hasil dari upaya
kita (Branden, 1992). Menurut Mischel, Shoda, dan Ayduk (2008), Self –esteem
mengacu pada penilaian individu terhadap keberhargaan atau kelayakan dirinya
sendiri. Dalam kamus APA, self-esteem yaitu sejauh mana individu menganggap
self-quality dan self-conceptnya positif. Ini mencerminkan self-image terhadap
fisik, pandangan atas pencapaian dan kemampuannya, serta nilai-nilai dan
keberhasilan yang dirasakan dalam menghayati hal – hal tersebut, serta cara orang
lain melihat dan menanggapi orang tersebut. Semakin positif persepsi kumulatif
dari kualitas dan karakteristik ini, semakin tinggi self-esteem seseorang. Tingkat
self-esteem yang cukup tinggi dianggap sebagai unsur penting kesehatan mental,
sedangkan self-esteem yang rendah dan perasaan tidak berharga adalah gejala
depresi yang umum.
Rosenberg (1965); self-esteem adalah sikap positif atau negatif terhadap diri.
2.3.2 Dimensi self-esteem
Selain itu, Rosenberg (1965) tidak menyebutkan aspek atau dimensi self-esteem
pada teorinya. Sedangkan menurut Branden (1992), self-esteem memiliki dua
aspek yang saling berkaitan yaitu self-efficacy dan self-respect.
37
kemampuan diri untuk memahami tentang minat dan kebutuhan diri;
cognitive self-trust; cognitive self-reliance.
terhadap hak saya untuk hidup dan bahagia; nyaman ketika menyampaikan
ide, keinginan, dan kebutuhan saya; merasa bahwa kesenangan adalah hak
alami saya.
Tafarodi dan Swann (1995) menyebutkan ada dua dimensi self-esteem, yaitu:
a. Self-liking
persetujuan atau ketidaksetujuan kita, sejalan dengan nilai-nilai sosial
yang diinternalisasi.
b. Self-competence
terkendali. Self-competence dihasilkan dari manipulasi yang berhasil dari
lingkungan seseorang, dari realisasi tujuan, kecil dan besar.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan konsep teori self-esteem dari
Rosenberg (1965) yaitu self-esteem bersifat unidimensional dan tidak ada aspek
atau dimensi yang disebutkan oleh Rosenberg (1965) dalam teorinya. Peneliti
memilih konsep teori dari Rosenberg (1965) karena teori tersebut dikembangkan
38
dari hasil penelitian yang melibatkan sampel remaja sehingga sesuai dengan usia
responden penelitian ini.
2.3.3 Pengukuran self-esteem
Alat ukur self-esteem sudah banyak dikembangkan oleh banyak tokoh. Beberapa
alat ukur self-esteem diantaranya:
Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) dikembangkan oleh Morris
Rosenberg pada tahum 1965. RSES terdiri dari 10 item dan dikembangkan
pada 5.024 siswa SMP dan SMA di sepuluh sekolah di New York
(Rosenberg, 1965). Skor internal consistency RSES berada pada rentang
.77 sampai .88, sedangkan skor test-retest reliability berada pada rentang
.82 sampai .85 (Blascovich & Tomaka, 1991).
b. Self-Esteem Inventory (SEI)
Self-Esteem Inventory (SEI) sebenarnya didesain untuk digunakan pada
anak – anak. Item – itemnya dibuat oleh Rogers dan Dymond pada tahun
1954 dan dari hasil penelitian Coopersmith. SEI terdiri dari 50 item yang
empat aspek mengukur self-regard; peers, parents, school, and personal
interests (Coopersmith dalam Blascovich & Tomaka, 1991).
c. Short Forms of the Texas Social Behavior Inventory (TSBI)
Short Forms of the Texas Social Behavior Inventory (TSBI)
dikembangkan oleh Helmreich dan Stapp (1974). Alat ukur ini merupakan
alat ukur versi singkat dari Texas Social Behavior Inventory (TSBI). Short
39
Forms of the Texas Social Behavior Inventory terdiri dari 2 form yang
masing – masing berisi 16 item.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES)
untuk mengukur variabel self-esteem karena sampel yang digunakan dalam
pengembangan alat ukur ini sesuai dengan salah satu kriteria responden pada
penelitian ini.
dengan teman-teman baik mereka dimana dalam hubungan tersebut terdapat lima
aspek yang bermakna dalam hubungan persahabatan mereka. Kelima aspek ini
yaitu companionship, conflict, help/aid, security dan closeness (Bukowski, Hoza,
Boivin, 1994). Menurut Thien, Razak, dan Jamil (2012), kualitas persahabatan
adalah sejauh mana kesediaan individu untuk berinteraksi dengan orang lain agar
memperoleh manfaat baik secara sengaja atau tidak dari persahabatan yang
dihasilkan atas dasar empat dimensi, (1) closeness, (2) help, (3) acceptance, dan
(4) safety.
Kualitas persahabatan didefinisikan secara tersirat oleh Berndt (2002).
Berawal dari pepatah lama yang mengatakan bahwa “teman yang ada saat
dibutuhkan adalah teman yang sesungguhnya”. Artinya, teman-teman saling
membantu dan berbagi. Berndt (2002) juga menjelaskan persahabatan yang
berkualitas tinggi (high-quality friendship) dicirikan oleh perlaku prososial yang
tinggi, kedekatan/keintiman, dan hal - hal positif lainnya. Selain itu, persahabatan
40
konflik, persaingan, dan hal–hal negatif lainnya.
Hartup (dalam Rosalinda, Susanto, dan Mawarni, 2016) mendefinisikan
kualitas persahabatan sebagai sebuah persahabatan yang memiliki aspek – aspek
kualitatif, dukungan, dan konflik. Angraini dan Cucuani (2014) mendefinisikan
kualitas persahabatan adalah tingkat keunggulan hubungan persahabatan dimana
di dalam hubungan tersebut terdapat dukungan emosional, kasih sayang, nasehat
yang informatif, dan stimulasi intelektual.
Definisi kualitas persahabatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
kualitas hubungan anak-anak dan remaja awal dengan teman-teman baik mereka
dimana dalam hubungan tersebut terdapat lima aspek yang bermakna dalam
hubungan persahabatan mereka (Bukowski et al., 1994).
2.4.2 Dimensi kualitas persahabatan
Bukowski et al. (1994) membagi dimensi kualitas persahabatan dalam lima
dimensi, diantaranya:
a. Companionship
b. Conflict
temannya, mereka dapat saling menjengkelkan satu sama lain, dan ada
pertentangan dalam hubungan pertemanan.
a. Aid: saling membantu dan menolong adalah ciri – ciri dari
hubungan pertemanan.
d. Security terbagi menjadi dua dimensi:
a. Reliable alliance: keyakinan bahwa pada saat dibutuhkan, teman
mereka dapat diandalkan dan dipercaya.
b. Transcending problems: percaya bahwa jika ada perselisihan atau
pertengkaran atau bentuk lain dari peristiwa negatif dalam
hubungan pertemanan, pertemanan itu akan cukup kuat untuk
mengatasi masalah ini.
Closeness yaitu rasa sayang atau keistimewaan yang didapatkan anak dari
temannya dan kekuatan ikatan atau ikatan anak dengan teman.
a. Affective Bond: perasaan anak-anak tentang temannya.
b. Reflected Appraisal: perasaan anak berasal dari persahabatan
dan kesan anak tentang betapa pentingnya dia bagi temannya.
Empat dimensi dalam kualitas persahabatan menurut Thein et al. (2012) adalah:
a. Closeness: Tingkat keterikatan atau kedekatan dengan teman.
b. Help: Sikap saling membantu dalam mempertahankan persahabatan.
c. Acceptance: Tingkat penerimaan siswa oleh teman sekolah baik secara
sosial atau emosional.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pembagian dimensi kualitas
persahabatan menurut Bukowski et al. (1994) yaitu companionship, conflict,
help/aid, security dan closeness karena dimensi tersebut lebih lengkap daripada
dimensi dari tokoh lainnya.
2.4.3 Pengukuran kualitas persahabatan
Untuk mengukur variabel kualitas persahabatan, ada beberapa skala yang dapat
digunakan, di antaranya:
yang mengukur kualitas persahabatan pada anak – anak dan remaja awal
yang dikembangkan oleh Bukowski et al. (1994). Skala ini dikembangkan
pada responden kelas 5, 6, dan 7 di wilayah Bagian Utara New England.
Skala ini terdiri dari 23 item dengan lima dimensi. Skor reliabilitas
Friendship Qualities Scale (Bukowski et al., 1994) yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.2 Reliabilitas Friendship Qualities Scale
Com Con He Se Clos
Friendship
Qualities
Scale
*Skor reliabilitas pada sampel 1/sample 2
Com = companionship, Con = conflict, He = help, Se = Security, Clos = Closeness
b. Friendship Quality Scale (FQUA)
Skala ini dikembangkan oleh Thien, Razak, dan Jamil (2012) pada 480
pelajar sekolah menengah Malaysia. FQUA terdiri dari 21 item yang
43
acceptance, dan safety.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan friendship qualities scale dari
Bukowski et al. (1994) karena alat ukur tersebut dapat mengukur berbagai aspek
kualitas persahabatan dengan efisien dan efektif.
2.5 Stres Akademik
Stres akademik adalah tekanan mental sehubungan dengan beberapa frustrasi yang
diantisipasi terkait dengan kegagalan akademik atau bahkan kesadaran
kemungkinan terjadinya kegagalan tersebut (Gupta & Khan dalam Sarita & Sonia,
2015). Stres akademik didefinisikan sebagai hal-hal yang mencerminkan perasaan
stres, menyalahkan diri sendiri, dan kekecewaan karena tidak bisa memenuhi
harapan orangtua dan guru serta harapan diri sendiri (Ang & Huan, 2006).
Definisi ini dikembangkan berdasarkan tinjauan dari literatur yang relevan pada
bidang stres akademik dan kaitannya dengan persepsi remaja terhadap harapan
dari dirinya dan orang lain.
Desmita (dalam Barseli, Ifdil, dan Nikmarijal 2017) menyatakan “stres
akademik adalah stres yang disebabkan oleh academic stressor”. Academic
stressor adalah stres yang dialami siswa yang bersumber dari proses pembelajaran
atau hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar seperti: tekanan untuk
naik kelas, lama belajar, mencontek, banyak tugas, mendapat nilai ulangan,
keputusan menentukan jurusan atau karier serta kecemasan ujian dan manajemen
stres. Rahmawati (dalam Barseli et al. 2017) menyatakan bahwa stres akademik
44
adalah suatu kondisi atau keadaan di mana terjadi ketidaksesuaian antara tuntutan
lingkungan dengan sumber daya aktual yang dimiliki siswa. Hal ini membuat
mereka semakin terbebani oleh berbagai tekanan dan tuntutan.
Stres akademik mengacu pada keadaan psikologis yang tidak bahagia
karena harapan–harapan pendidikan dari orang tua, guru, teman – teman dan
anggota keluarga, tekanan dari orang tua terhadap pencapaian akademiknya,
sistem pendidikan dan ujian, beban PR, dll (Sarita & Sonia, 2015). Thilak,
Paulson, dan Sarada (2017) mendefinisikan stres akademik sebagai stres yang
berasal dari sekolahan dan pendidikan. Kemungkinan penyebabnya adalah
peningkatan beban pekerjaan rumah (PR), harapan yang tinggi dari guru dan
orang tua, kurangnya dukungan sosial, jadwal yang ketat, atau otoritas sekolah
yang ketat. Sedangkan menurut Barseli et al. (2017) stres akademik adalah
tekanan akibat persepsi subjektif terhadap suatu kondisi akademik. Tekanan ini
melahirkan respon yang dialami siswa berupa reaksi fisik, perilaku, pikiran, dan
emosi yang negatif yang muncul akibat adanya tuntutan sekolah atau akademik.
Definisi stres akademik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu hal-hal
yang mencerminkan perasaan stres, menyalahkan diri sendiri, dan kekecewaan
karena tidak bisa memenuhi harapan orangtua dan guru serta harapan diri sendiri
(Ang & Huan, 2006).
2.5.2 Dimensi stres akademik
Ang dan Huan (2006) membagi dimensi stres akademik ke dalam dua dimensi,
yaitu:
Dimensi ini berisi berisi hal-hal yang mencerminkan perasaan stres,
menyalahkan diri sendiri, dan kekecewaan karena tidak bisa memenuhi
harapan orangtua dan guru.
b. Ekspektasi Diri Sendiri
Dimensi kedua berisi hal - hal yang mencerminkan rasa stres, kecemasan,
dan ketidakmampuan memenuhi harapan sendiri.
Adapun dimensi stres akademik menurut Sinha, Sharma, dan Mahendra (2001)
terdiri dari lima dimensi, yaitu kognitif, afektif, fisik, sosial/interpersonal, dan
motivasional.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dimensi stres akademik
menurut Ang dan Huan (2006) yaitu ekspektasi orangtua atau guru dan ekspektasi
diri sendiri.
Untuk mengukur stres akademik ada beberapa skala yang dapat digunakan,
diantaranya:
a. Academic Expectations Stress Inventory
Skala ini dikembangkan oleh Ang dan Huan (2016) untuk mengukur stres
akademik di kalangan siswa kelas menengah. Skala ini terdiri dari 9 item
46
orangtua atau guru dan ekspektasi diri sendiri.
b. Scale for Assessing Academic Stress (SAAS)
Skala yang dikembangkan oleh Sinha et al. (2001) ini terdiri dari 30 item.
Skala ini mengukur lima dimensi stres akademik yaitu kognitif, afektif, fisik,
sosial/interpersonal, dan motivasional. Skala ini dikembangkan pada 400 siswa
kelas menengah dari kelas 8 sampai kelas 12.
Dari dua pilihan skala stres akademik di atas, dalam penelitian ini peneliti
menggunakan Academic Expectations Stress Inventory untuk mengukur stres
akademik responden. Peneliti menggunakan skala tersebut karena skala tersebut
dikembangkan pada sampel remaja (siswa sekolah menengah) dan dapat
mengukur stres akademik dengan efisien.
2.6 Kerangka Berpikir
smartphone sehingga menimbulkan gangguan yang dimanifestasikan melalui lima
kriteria, yaitu gangguan kehidupan sehari-hari, withdrawal, toleransi,
mengorientasikan hubungan pada dunia maya, dan berlebihan dalam
menggunakan smartphone (Kwon et.al, 2013a & 2013b). Adiksi smartphone bisa
terjadi karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi
adiksi smartphone yaitu kepribadian individu, self esteem, dan jenis kelamin.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi adiksi smartphone pada individu
yaitu kualitas persahabatan, stres akademik, dan durasi penggunaan smartphone.
47
dimunculkan termasuk perilaku menggunakan smartphone. Penggunaan
smartphone yang berlebihan dapat membuat individu terjangkit adiksi
smartphone. Beberapa aspek kepribadian yang dapat mempengaruhi adiksi
smartphone yaitu neuroticism, extraversion, openess to experience,
conscientiousness, dan agreeableness.
dominan aspek neuroticsm maka adiksi smartphonenya semakin tinggi. Hal ini
terjadi karena Individu yang dominan dalam aspek ini akan merasa khawatir dan
cemas ketika tidak menggunakan smartphone. Individu tersebut khawatir ada hal–
hal yang tidak diimginkan yang akan terjadi jika smartphonenya tidak digunakan
terus menerus.
dominan aspek extraversion maka semakin rendah adiksi smartphonenya. Hal ini
terjadi karena individu dengan extraversion tinggi merupakan individu yang
menyenangkan sehingga mudah dalam menjalin pertemanan. Dengan kepribadian
yang seperti itu, maka individu merasa tidak perlu lagi mencari banyak teman dari
media sosial menggunakan smartphone. Hal ini tentunya akan mempengaruhi
intensitas individu dalam menggunakan smartphone.
Aspek selanjutnya yaitu openness to experience. Aspek ini mencirikan
bahwa individu ingin mengetahui banyak hal baru sehingga memunculkan
kepribadian yang kreatif, imajinati, dan menyenangangkan. Individu yang
dominan dalam aspek ini akan sulit terjangkit adiksi smartphone karena individu
48
lebih suka melakukan hal–hal yang membuatnya memperoleh pengalaman baru
daripada harus menggunakan smartphone terus menerus yang hanya
menghabiskan waktu. Pengaruh aspek ini terhadap adiksi smartphone yaitu
semakin tinggi openness to experience pada diri individu, maka semakin rendah
adiksi smartphonenya.
smartphone. Individu yang dominan pada aspek ini menunjukkan sikap teratur,
berhati–hati, dapat diandalkan dan bertanggung jawab. Individu yang dominan
dalam aspek ini akan sulit terjangkit adiksi smartphone karena individu akan
membuat hidupnya teratur. Individu juga akan berhati–hati dalam melakukan
suatu hal sehingga individu tidak akan melakukan hal–hal yang tidak membawa
manfaat baginya. Pengaruh aspek ini terhadap adiksi smartphone yaitu semakin
tinggi conscientiousness maka semakin rendah adiksi smartphonenya.
Aspek kepribadian yang terakhir yang mempengaruhi adiksi smartphone
yaitu agreeableness. Pengaruh agreeableness terhadap adiksi smartphone yaitu
semakin rendah agreeableness maka adiksi smartphonenya semakin tinggi. Hal
ini terjadi karena individu dengan agreeableness rendah cenderung bersikap
dingin dan tidak kooperatif sehingga kebutuhan untuk memiliki banyak relasi atau
teman dilampiaskan dengan menggunakan smartphone. Hal itu yang
menyebabkan adiksi smartphone pada individu tersebut menjadi tinggi.
Self-esteem merupakan sikap positif atau negatif terhadap diri (Rosenberg,
1965). Sikap positif atau negatif ini muncul tergantung pada rasa berharga yang
dimiliki individu terhadap dirinya sendiri. Individu yang merasa dirinya berharga
49
mengembangkan hobi, terus berusaha untuk menggapai cita–cita, dan lain
sebagainya. Sedangkan, individu yang merasa tidak berharga akan
memperlakukan dirinya dengan sikap negatif, seperti membuang waktu dengan
bermain smartphone.
Individu yang memiliki self-esteem tinggi tidak akan menghabiskan
waktunya untuk bermain smartphone sehingga resiko terjadinya adiksi
smartphone pada dirinya akan rendah atau bahkan individu tersebut tidak akan
terkena adiksi smartphone. Sedangkan, individu dengan self-esteem rendah lebih
beresiko terkena adiksi smartphone karena ia akan bersikap negatif terhadap
dirinya. Pengaruh self-esteem terhadap adiksi smartphone yaitu semakin rendah
self-esteem individu maka adiksi smartphonenya semakin tinggi.
Faktor eksternal yang mempengaruhi adiksi smartphone yaitu kualitas
persahabatan. Semakin tinggi kualitas persahabatan, maka semakin rendah adiksi
smartphonenya. Kualitas persahabatan yang baik akan menghasilkan rasa puas
terhadap persahabatan pada diri individu sehingga individu tidak merasa kesepian.
Sebaliknya, kualitas persahabatan yang buruk akan menghasilkan ketidakpuasan
akan persahabatan sehingga individu merasa kesepian dan melampiaskan
kesepiannya dengan menggunakan smartphone. Dimensi–dimensi kualitas
persahabatan yang mempengaruhi adiksi smartphone diantaranya companionship,
conflict, help, security, dan closeness.
50
menghabiskan waktu bersama. Individu yang memiliki teman yang rela
menghabiskan waktu bersama dengan berkumpul akan merasakan kebahagiaan
sehingga individu tidak mencari persahabatan lain di media sosial dengan
menggunakan smartphone. Semakin tinggi companionship dalam sebuah
persahabatan, maka semakin tinggi pula kualitas persahabatannya sehingga adiksi
smartphonenya semakin rendah.
Semakin tinggi conflict dalam persahabatan maka kualitas persahabatannya
semakin rendah juga sehingga adiksi smartphonenya semakin tinggi. Hal ini
terjadi karena individu akan melampiaskan ketidaknyamanannya terhadap
persahabatan tersebut dengan terus menerus bermain smartphone sehingga dapat
memicu timbulnya adiksi smartphone.
saling membantu. Jika dalam persahabatan tidak ada unsur saling membantu
sesama anggota persahabatan, maka anggota persahabatan akan mencari bantuan
lain menggunakan smartphone dengan online/offline. Semakin tinggi aspek help
dalam persahabatan, maka semakin rendah adiksi smartphone pada individu.
Security menunjukkan bahwa persahabatan tersebut memberikan rasa
aman kepada setiap anggotanya karena anggota persahabatan dapat diandalkan
dan percaya bahwa setiap masalah dalam persahabatan dapat diselesaikan.
Individu yang merasakan hal ini dalam persahabatan tidak akan mencari
persahabatan lain karena individu sudah merasa puas dengan persahabatannya.
51
akan mencari persahabatan lain agar aspek security tersebut dapat terpenuhi.
Individu akan mencari persahabatan baru melalui smartphone baik dengan online
ataupun offline. Selain itu, individu juga dapat melampiaskan rasa tidak amannya
dalam persahabatan dengan bermain smartphone terus menerus. Hal ini yang
dapat memicu terjadinya adiksi smartphone. Semakin tinggi aspek security dalam
friendship quality maka semakin rendah adiksi smartphone pada individu.
Closeness merupakan rasa sayang yang dimiliki individu dari temannya.
Semakin tinggi aspek closeness dalam kualitas persahabatan, maka semakin
rendah adiksi smartphone pada individu tersebut. Hal ini terjadi karena individu
sudah merasa puas dengan persahabatannya sehingga tidak merasa kesepian.
Stres akademik merupakan variabel yang juga dapat mempengaruhi adiksi
smartphone. Individu yang mengalami stres akademik, akan melampiaskan
stresnya dengan menggunakan smartphone sebagai media hiburan. Diasumsikan
bahwa semakin tinggi stres yang dialami individu, maka adiksi smartphonenya
pun semakin tinggi. Ada dua dimensi atau faktor yang mempengaruhi stres
akademik, yaitu ekspektasi orangtua atau guru dan ekspektasi diri sendiri.
Ekspektasi orangtua atau guru mencerminkan perasaan stres, menyalahkan
diri sendiri, dan kekecewaan karena tidak bisa memenuhi harapan orangtua dan
guru. Keadaan ini akan membuat individu merasa tertekan dan membuat individu
melampiaskan perasaannya dengan menggunakan smartphone. Hal ini akan
memicu timbulnya adiksi smartphone karena dengan menggunakan smartphone,
individu akan merasa terhibur dan rasa tertekannya menjadi berkurang. Semakin
52
tinggi ekspektasi orangtua atau guru, maka adiksi smartphone yang dialami
individu pun semakin tinggi.
Ekpektasi diri sendiri mencerminkan perasaan stres, menyalahkan diri
sendiri, dan kekecewaan karena tidak bisa memenuhi harapan diri sendiri. Hal ini
muncul karena individu memiliki target–target pencapaian yang harus diraihnya.
Namun adakalanya target tersebut tidak dapat dipenuhi karena satu dan lain hal.
Kegagalan tersebut menimbulkan stres bagi individu sehingga individu
melampiaskan stresnya dengan mencari hiburan di smartphone. Semakin tinggi
ekspektasi diri sendiri terhadap pencapaian akademik maka adiksi smartphone
juga semakin tinggi.
karena ada beberapa penelitian yang menemukan bahwa adiksi smarpthone lebih
beresiko terjadi pada perempuan, tetapi ada juga penelitian yang menemukan
bahwa adiksi smartphone lebih beresiko terjadi pada laki–laki. Dari perbedaan
hasil penelitian ini, maka peneliti mengasumsikan adanya pengaruh jenis kelamin
terhadap adiksi smartphone.
kontrol diri siswa dalam menggunakan smartphone. Penggunaan smartphone
dalam durasi yang cukup lama mencerminkan bahwa kontrol diri pada siswa
rendah. Diasumsikan bahwa semakin lama durasi penggunaan smartphone per
53
hari, maka adiksi smartphone pada siswa semakin tinggi juga. Berikut bagan
kerangka berpikir pada penelitian ini
54
sebagai berikut:
Hipotesis Mayor
H1 : Ada pengaruh yang signifikan tipe kepribadian big five, self-esteem,
kualitas persahabatan, stres akademik, jenis kelamin, dan durasi
penggunaan smartphone terhadap adiksi smartphone.
Hipotesis Minor
H4 : Ada pengaruh yang signifikan agreeableness terhadap adiksi
smartphone.
smartphone.
smartphone.
smartphone.
56
smartphone.
smartphone.
smartphone.
smartphone.
H12 : Ada pengaruh yang signifikan ekspektasi orang tua atau guru terhadap
adiksi smartphone.
H13 : Ada pengaruh yang signifikan ekspektasi diri sendiri terhadap adiksi
smartphone.
smartphone.
adiksi smartphone.
BAB 3
METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang metode penelitian yang terdiri dari populasi dan
sampel, variabel penelitian, pengumpulan data, alat ukur, prosedur penelitian, dan
analisis data.
3.1 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa/siswi kelas 11 di SMAN 6 Kabupaten
Tangerang. Sampel dalam penelitian ini yaitu 203 siswa kelas 11 di SMAN 6
Kabupaten Tangerang dengan kriteria sampel yaitu siswa/i kelas 11 SMAN 6
Kabupaten Tangerang yang memiliki atau menggunakan smartphone. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan yaitu teknik nonprobability sampling dan
penyebaran data dilakukan secara langsung pada tanggal 15 April 2019.
3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
3.2.1 Variabel Penelitian
Variabel yang akan diteliti pada penelitian ini yaitu adiksi smartphone sebagai
dependent variable, tipe kepribadian big five (neuroticism, extraversion, openness
to experience, conscientiousness, dan agreableness), self-esteem, kualitas
persahabatan (companionship, conflict, help, security, dan closeness), stres
akademik, jenis kelamin, dan durasi penggunaan smartphone sebagai independent
variable.
58
penggunaan smartphone sehingga menimbulkan gangguan yang
dimanifestasikan melalui lima kriteria, yaitu gangguan kehidupan sehari -
hari, withdrawal, toleransi, mengorientasikan hubungan pada dunia maya,
dan berlebihan dalam menggunakan smartphone (Kwon et al. 2013b).
1. Gangguan kehidupan sehari–hari : meliputi tidak melakukan
pekerjaan yang sudah direncanakan, sulit konsentrasi ketika di kelas
atau sedang bekerja, menderita pusing atau penglihatan kabur, nyeri
pada pergelangan tangan atau di belakang leher, dan gangguan tidur.
2. Withdrawal : meliputi rasa tidak sabar, kesal, menderita/tidak tahan
jika tidak menggunakan smartphone, terus menerus memikirkan
smartphone meskipun sedang tidak menggunakannya, berupaya untuk
terus menggunakan smartphone, merasa jengkel ketika diganggu saat
sedang menggunakan smartphone.
tetapi selalu gagal.
teman yang ada di kehidupan nyata, mengalami perasaan kehilangan
yang tidak bisa dikontrol ketika tidak bisa menggunakan smartphone,
terus menerus mengecek smartphone, menganggap dunia smartphone
59
adalah gambaran kecil masyarakat di dunia nyata yang dibentuk oleh
situs jejaring sosial, seperti twitter atau facebook.
5. Berlebihan dalam menggunakan smartphone : meliputi tidak dapat
mengontrol penggunaan smartphone, lebih suka meminta bantuan
orang lain melalui smartphone, selalu menyiapkan pengisi baterai
(charge), merasa terdorong untuk menggunakan smartphone lagi
setelah baru saja berhenti menggunakannya.
b. Tipe kepribadian Big Five adalah hirarki traits kepribadian yang terdiri
dari lima dimensi dasar: neuroticism, extraversion, openness to
experience, conscientiousness, agreeableness (McCrae & John, 1992).:
1. Neuroticism
aman, self-conscious, dan temperamental. Orang yang tinggi dalam
dimensi neuroticism cenderung gugup, sensitif, tegang, mudah cemas,
rentan terhadap gangguan yang berhubungan dengan stres (Friedman
& Schustack, 2008; Feist & Feist, 2010). Orang yang rendah dalam
dimensi ni cenderung tenang dan santai (Friedman & Schustack,
2008).
adalah variabel tertinggi pada faktor extraversion. Friedman &
Schustack (2008) menjelaskan bahwa orang yang tinggi pada dimensi
ini cenderung penuh semangat, antusias, dominan, ramah, dan
60
percaya diri, submisif, dan pendiam.
3. Openness to experience
imajinatif, menyenangkan, kreatif, dan artistik (Friedman & Schustack,
2008). Orang yang rendah dalam dimensi ini umumnya dangkal,
membosankan atau sederhana (Friedman & Schustack, 2008).
4. Conscientiousness
Pada umumnya, orang yang tinggi dalam dimensi ini berhati – hati,
dapat diandalkan, teratur, teliti, disiplin, dan bertanggung jawab
(Friedman & Schustack, 2008; Feist & Feist, 2010). Namun, orang
yang rendah dalam dimensi ini cenderung ceroboh, berantakan, dan
tidak dapat diandalkan (Friedman & Schustack, 2008).
5. Agreeableness
Umumnya, jika seseorang tinggi dalam dimensi ini, maka ia cenderung
kooperatif, ramah, mudah percaya, hangat, dan memiliki perilaku yang
baik (Friedman & Schustack, 2008; Feist & Feist, 2010). Orang yang
rendah dalam dimensi ini cenderung dingin, konfrontatif, dan kejam
(Friedman & Schustack, 2008).
c. Self-esteem yang dimaksud adalah sikap positif atau negatif terhadap diri
(Rosenberg, 1965).
d. Kualitas persahabatan yang dimaksud adalah kualitas hubungan anak-anak
dan remaja awal dengan teman-teman baik mereka sesuai lima aspek yang
61
a. Companionship
b. Conflict
temannya, mereka dapat saling menjengkelkan satu sama lain, dan ada
pertentangan dalam hubungan pertemanan.
a. Aid: saling membantu dan menolong adalah ciri – ciri dari
hubungan pertemanan.
d. Security terbagi menjadi dua dimensi:
a. Reliable alliance: keyakinan bahwa pada saat dibutuhkan, teman
mereka dapat diandalkan dan dipercaya.
b. Transcending problems: percaya bahwa jika ada perselisihan
atau pertengkaran atau bent