MASYARAKAT LINGUISTIK INDONESIA No. 01 Feb 2009. LINGUISTIK INDONESIA Didirikan

  • View
    234

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of MASYARAKAT LINGUISTIK INDONESIA No. 01 Feb 2009. LINGUISTIK INDONESIA Didirikan

MASYARAKAT LINGUISTIK INDONESIA

Didirikan pada tahun 1975, Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI)merupakan organisasi profesi yang tujuannya adalah untuk mengembangkan

studi ilmiah mengenai bahasa.

PENGURUS MASYARAKAT LINGUISTIK INDONESIA

Ketua : Katharina E. Sukamto, Ph.D., Unika Atma JayaWakil Ketua : Dr. Sugiyono, Pusat BahasaSekretaris : Yassir Nasanius, Ph.D., Unika Atma JayaBendahara : Ebah Suhaebah, M. Hum., Pusat Bahasa

DEWAN EDITOR

Editor Utama : Soenjono Dardjowidjojo, Unika Atma JayaEditor Pendamping : Yassir Nasanius, Unika Atma JayaAnggota : A. Chaedar Alwasilah, Universitas PendidikanIndonesia; E. Aminudin Aziz, Universitas Pendidikan Indonesia; Benny HHoed, Universitas Indonesia; Bernd Nothofer, Universitas Frankfurt, Jerman;Asmah Haji Omar, Universiti Malaya, Malaysia; Bambang K. Purwo, UnikaAtma Jaya; D. Edi Subroto, Universitas Sebelas Maret; I Wayan Arka,Universitas Udayana; A. Effendi Kadarisman, Universitas Negeri Malang;Bahren Umar Siregar, Unika Atma Jaya; Hasan Basri, UniversitasTadulako; Umar Muslim, Universitas Indonesia; Dwi Noverini Djenar, LaTrobe University, Australia; Mahyuni, Universitas Mataram; PatrisiusDjiwandono, Universitas Ma Chung.

JURNAL LINGUISTIK INDONESIA

Linguistik Indonesia diterbitkan pertama kali pada tahun 1982 dan sejaktahun 2000 diterbitkan tiap bulan Februari dan Agustus. Dengan SK DirjenDikti No. 108/DIKTI/Kep/2007, 23 Agustus 2007, Linguistik Indonesia telahterakreditasi. Jurnal ini dibagikan secara cuma-cuma kepada para anggotaMLI yang keanggotaannya umumnya melalui Cabang MLI di pelbagaiPerguruan Tinggi, tetapi dapat juga secara perseorangan atau institusional.Iuran per tahun adalah Rp. 100.000 (anggota dalam negeri) dan US$25(anggota luar negeri). Keanggotaan institusional dalam negeri adalahRp.120.000 dan luar negeri US$45 per tahun.

Naskah dan resensi dikirim ke Redaksi dengan mengikuti formatPedoman Penulisan Naskah di bagian belakang sampul jurnal.

ALAMAT

Masyarakat Linguistik Indonesiad.a. Pusat Kajian Bahasa dan Budaya, Unika Atma JayaJI. Jenderal Sudirman 51, Jakarta 12930E-mail: pkbb@atmajaya.ac.id, Telp/Faks: 021-571-9560

Daftar Isi

Upaya Bangsa Mempelajari Bahasa Asing:Sejauh Mana dan Mau KemanaPatrisius Istiarto Djiwandono ................................................. 1

Keragaman Bahasa Nusantara di Internet:Menguak Kesenjangan Bahasa DigitalHammam Riza ........................................................................ 15

Patut dan Turut; Dua dan Separuh; Datar dan Rata:Kata Warisan Atau Kata Pinjaman?Catatan Mengenai Etimologi Kosakata MelayuBernd Nothofer ...................................................................... 23

Bahasa sebagai Lambang Pemikiran Masyarakat Malaysiadalam Novel-novel RemajaArbaie Sujud, Nik Rafidah Nik Muhamad Affendi,Hj. Che Ibrahim Salleh ........................................................... 45

Kalimat Pertanyaan Bahasa Sunda:Sebuah Analisis Awal dari Perspektif MinimalismDudung Gumilar ................................................................... 53

A Sociolinguistic Study On Tag QuestionsEmployed by She-Males in SurabayaDavid Sukardi Kodrat dan Jimmy Dewanto ........................... 69

Pengaruh Stimuli terhadap Pemerolehan Bahasa Anak PrasekolahLiesna Andriany ..................................................................... 81

Strategi Penutur dalam Memilih Bentuk Pronomina Persona,Nomina Pengacu, dan Nomina Penyapa di dalam Film RemajaNurhayati ............................................................................... 97

Simbolisme Jender dalam Folklor Makassar(Pendekatan Antropologi Linguistik)Ery Iswari .............................................................................. 113

Resensi:Lynne Young & Brigid Fitzgerald

The Power of Language: How Discourse Influences SocietyDiresensi oleh Fanny Henry Tondo ........................................ 127

UPAYA BANGSA MEMPELAJARI BAHASA ASING:SEJAUH MANA DAN MAU KEMANA?

Patrisius Istiarto DjiwandonoUniversitas Ma Chung

Abstract

The article chronicles the long journey that Indonesian educationhas been going through in its continuous efforts of masteringEnglish language. It looks back as far as the 1950s, starting witha review of Grammar Translation Method in that era, anddescribing subsequent major changes in the approaches toteaching the language. Five major approaches are discussed,namely Audiolingual Method in the 1970s, CommunicativeLanguage Teaching in the 1980s, Meaning-fulness Approach inthe 1990s, followed by Competence-Based Curriculum andEducational Unit Curriculum in the middle of 1990s. It brings upthe theoretical underpinnings of each approach, its prominentcharacteristics, and emphasizes practical factors that eventuallytriggered a change of paradigms in the way language is taught inthe classroom. The paper highlights a recurring pattern thatmarked the shift from one major approach to another,emphasizing the swing from meaning-focused instruction toform-focused instruction, which culminated on the most recentpost-method era. It also makes a brief review of similar changesthat have been taking place worldwide, pointing out severalinnovative methods and techniques that seem to hold prospectfor future language teaching. Finally, it ends with a forecast ofthe situation of language teaching in Indonesia in the future.

Key words: language teaching approaches, curriculum, post-method.

PENDAHULUAN

Kuasai bahasa Inggris dalam waktu 50 jam saja!Di samping memikat, iklan di atas juga membuat terhenyak. Seandainya

benar si empunya lembaga kursus itu bisa membuat murid-muridnya mahirberbahasa Inggris dalam waktu sesingkat itu, alangkah menakjubkan danmenggiurkannya! Departemen Pendidikan Nasional tentu tidak keberatanmengalokasikan sekian persen anggaran pendidikan (konon sebesar 20%) untukmeminta jasa si penyelenggara tersebut dalam membuat murid-murid dari semuajenjang pendidikan menguasai bahasa Inggris. Begitu berhasil, kita semua akantertawa dan bertanya-tanya, untuk apa bersusah payah mulai dari jamankemeredekaan sampai abad informasi ini merancang pendekatan belajar bahasaasing jika sebenarnya bisa dilakukan dalam waktu 50 jam saja?

Ilustrasi di atas membawa kita kepada kesadaran tentang dua hal. Pertama,ternyata bangsa kita sudah menapak jalan yang amat panjang dalam upayanya

Patrisius Istiarto Djiwandono

2

menguasai salah satu bahasa paling populer di dunia ini; kedua, setelah keter-perangahan itu selesai, tersisa secuil pertanyaan menggelitik: setelah sejauh ini,lalu kita mau kemana?

Makalah ini akan menelisik kembali jalan panjang tersebut kemudiansedikit memberikan jawaban terhadap pertanyaan terakhir .

1 PENDEKATAN AWAL

Menurut Jazadi (2004), pendekatan yang tercatat paling awal dipakai dalamdunia pengajaran bahasa Inggris setelah kemerdekaan Indonesia adalahGrammar-Translation Method (GTM), yang, sebagaimana tersirat darinamanya, menekankan penguasaan tata bahasa dan terjemahan. Kelemahandari metode ini terletak pada ruang lingkupnya yang sangat terbatas padakalimat-kalimat formal dan akademis, yang nyaris tidak mendekati ragambahasa dalam interaksi sosial sehari-hari.

Memasuki dekade 1950 an, pendekatan baru racikan negeri PamanSam yang bernama Audiolingual Method (ALM) diperkenalkan. Pendekatanini tumbuh subur manakala kondisi prasyaratnya terpenuhi: kelas kecil, guruberkebangsaan Amerika, dan dukungan intensif dari laboratorium bahasa(Jazadi 2004:2). Kelas bahasa Inggris di era ini ditandai oleh banyaknya tubian(drill) untuk melatih pengucapan dan pola kalimat, diselingi oleh tindakankorektif guru manakala siswa melakukan kesilapan, atau pujian guru manakalasi siswa mengujarkan bentukan yang benar. Prinsipnya adalah pembentukankebiasaan berbahasa yang benar akan menjadi landasan penguasaan bahasatersebut.

Seiring dengan bergesernya paradigma di ranah psikologi belajar daribehaviorisme ke kognitif, ALM akhirnya tumbang oleh desakan paradigmabaru yang menegaskan bahwa pemelajar punya daya kreatif untuk belajarbahasa. Tambahan lagi, muncul keyakinan baru bahwa belajar bahasa bukansekedar mampu menguasai pola-pola sintaksis dan semantiknya, namun jugamampu mengujarkannya dengan benar sesuai dengan konteks sosialnya(Savignon, 1983). Pendapat ini membawa bangsa Indonesia mempelajaribahasa Inggris melalui pendekatan selanjutnya, yakni pendekatan komunikatif.

2 PENDEKATAN KOMUNIKATIF

Pendekatan komunikatif diluncurkan pada tahun 1984, dan bertujuan utamamengembangkan empat kecakapan berbahasa (menyimak, membaca, berbicaradan menulis). Cahyono dan Widiati (2006) menegaskan bahwa tujuanpengajaran dalam kurikulum ini adalah kecakapan komunikatif dalam bahasaInggris, dengan prioritas pada kecakapan membaca. Pendekatan ini disambutdengan pelatihan berskala nasional bagi para guru yang disebut PemantapanKerja Guru (PKG), yang menurut Heasley (1991) dilatarbelakangi olehindikasi tentang rendahnya penguasaan bahasa Inggris para guru, kurangnyapembekalan metode mengajar bagi para calon guru di LPTK, ketidakmampuanbuku teks menimbulkan minat belajar bahasa, kelas-kelas yang besar, danketerbatasan sumber daya.

Linguistik Indonesia, Tahun ke 27, No. 1, Februari 2009

3

Di lapangan, pendekatan yang nampak cukup menjanjikan inimendapat beberapa kendala besar. Pertama, disparitas dalam hal kualitas guruantar-sekolah dan antar-daerah membuat banyak murid kurang bisa men-dapatkan pajanan terhadap model pemakaian bahasa Inggris yang baik. Dengankata lain, sebagaimana dikemukakan oleh Crocker (1991), masih banyak guru,utamanya di daerah-daerah yang kurang mendapatkan sentuhan pembangunan,yang belum mempunyai kecakapan berbahasa I