of 106/106
MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus di SMP Islam Sultan Agungs1 Semarang) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Kependidikan Islam Oleh: AHMAD MUTHOFI’IN NIM: 053311364 FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2010

MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi …library.walisongo.ac.id/digilib/...gdl-ahmadmutho-4751-1-skripsi-_.pdf · MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus di SMP Islam

  • View
    234

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi...

  • MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN ISLAM(Studi Kasus di SMP Islam Sultan Agungs1 Semarang)

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syaratguna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

    dalam Ilmu Kependidikan Islam

    Oleh:AHMAD MUTHOFIIN

    NIM: 053311364

    FAKULTAS TARBIYAHINSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

    SEMARANG2010

  • KEMENTERIAN AGAMAINSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

    FAKULTAS TARBIYAH

    PENGESAHAN

    Skripsi Saudara : Ahmad MuthofiinNIM : 053311364Jurusan : Kependidikan IslamJudul : Manajemen Pemasaran Pendidikan Islam

    (Studi Kasus di SMP Islam Sultan Agungs1 Semarang).Telah dimunaqasyahkan pada Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah Institut AgamaIslam Negeri Walisongo Semarang dan dinyatakan lulus dengan predikatcumlaude / Baik / Cukup, pada tanggal:

    30 Juni 2010

    Dan dapat diterima sebagai syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1)tahun akademik 2009/2010.

    Semarang, 6 Juli 2010

    Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,

    Drs. Sugeng Ristiyanto, M.Ag. Rosidi, M.SINIP. 19650819 200302 1 001 NIP. 19770131 200604 1 001

    Penguji I, Penguji II,

    Drs. H. Soediyono, M.Pd. Drs. H. Jasuri, M.SINIP. 19460715 197612 1 001 NIP. 19671014 199403 1 005

    Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus II Ngaliyan Telp. 7601295 Fax. 7615387 Semarang 50185

  • KEMENTERIAN AGAMAINSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

    FAKULTAS TARBIYAH

    PERSETUJUAN PEMBIMBING

    Lamp : 4 (empat) eks.Hal : Naskah Skripsi A.n. Ahmad Muthofiin

    Kepada:Yth. Dekan Fakultas TarbiahIAIN Walisongodi Semarang

    Assalamu alaikum Wr. Wb.

    Setelah saya mengadakan koreksi dan perbaikan seperlunya, makabersama ini saya kirimkan skripsi saudara:Nama : Ahmad MuthofiinNIM : 053311364Judul : Manajemen Pemasaran Pendidikan Islam (Studi Kasus di

    SMP Islam Sultan Agungs1 Semarang).Dengan ini saya mohon kiranya skripsi saudara tersebut dapat segeradimunaqasahkan.Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

    Wassalamu alaikum Wr. Wb.

    Semarang, 16 Juni 2009

    Mengetahui,Pembimbing I Pembimbing II

    Fahrurrozi, M.Ag. Drs. Wahyudi, M.Pd.NIP: 19770816 200501 1 003 NIP: 19680314 199503 1 001

    Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus II Ngaliyan Telp. 7601295 Fax. 7615387 Semarang 50185

  • MOTTO

    3c)!$#w it$tBBQq s) /4Lym(#r it$tBNkR r'/3

    ... Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehinggamereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ...

    (Q.S. Al-Rad. 11).1

    1Depag Republik Indonesia, Al Qur an Al Karim dan Tarjamah, (Semarang: TohaPutra, tth), hlm. 199.

  • PERSEMBAHAN

    Skripsi ini penulis persembahkan untuk:

    1. Ayahanda Suharto dan Ibunda Suryati tercinta, atas segala pengorbanan

    dan kasih sayangnya serta untaian doa yang tiada hentinya, sehingga

    penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

    2. Mba Lasti Zuniroh dan Mas Saryono Kakak-kakakku tersayang yang

    selalu memberi nasihat serta motifasi, serta keponakanku Jihan

    Maftukhah.

  • PERNYATAAN

    Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa skripsi

    ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan.

    Demikian juga skripsi ini tidak berisi satu pun pikiran orang lain, kecuali

    informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.

    Semarang, 15 Juni 2010Deklarator,

    Ahmad MuthofiinNIM: 053311364

  • ABSTRAKSI

    Ahmad Muthofiin (NIM: 053311364), Manajemen Pemasaran PendidikanIslam (Studi Kasus di SMP Islam Sultan Agungs1 Semarang), Skripsi, Semarang:Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2010.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Manajemen pemasaranpendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang. 2. Kendala yangdihadapi dalam pelaksanaan manajemen pemasaran pendidikan Islam di SMPIslam Sultan Agung 1 Semarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptifkualitatif. Data-data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan metodeobservasi, interview dan dokumentasi, selanjutnya dianalisis denganmenggunakan pendekatan induktif dan menggunakan uji validitas dengantriangulasi sumber.

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pelaksanaan manajemenpemasaran pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarangmenggunakan konsep manajemen yang dimulai dari tahap: Planning, yaitumenyusun perangkat pemasaran, yang dilaksanakan secara kolaboratif mulai daripimpinan sekolah, panitia penerimaan peserta didik (PPD) beserta seluruhstakeholder sekolah, bekerja sama dengan dengan Pendasmen YBWSA.Organizing, yaitu pengorganisasian struktur kerja: menentukan job diskriptiondimulai dengan membentuk kepanitiaan penerimaan peserta didik (PPD) sebagaitim pelaksana, pengorganisasian strategi pemasaran dan pengorganisasian sumberdaya pemasaran pendidikan Islam. Actuating, kepala sekolah melakukanpenggerakan/pengarahan baik secara langsung atau tidak langsung. Pemasaranpendidikan Islam dilaksanakan dengan menggunakan berbagai strategi denganbeberapa cara yang berfariasi disesuaikan situasi dan kondisi. Controlling, tidakhanya dilaksanakan diakhir periode saja melainkan juga dalam prosesnya.

    Kendala yang dihadapi SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang dalammanajemen pemasaran pendidikan Islam yaitu: Masih kurangnya pemahaman daribeberapa anggota civitas akademika tentang arti penting pemasaran pendidikanIslam dan kurangnya kerja sama yang optimal. Terdapat beberapa anggota yangkurang aktif dalam memberikan gagasan ide sebagai masukan rencana strategipromosi. Minimnya alokasi dana untuk promosi sekolah. Beberapa anggota timpanitia pelaksana penerimaan peserta didik kurang dapat bekerja secara optimalsesuai tugas masing-masing. Masih adanya beberapa kekurangan kelengkapansarana prasarana untuk siswa. Adanya beberapa siswa yang kadang melanggarketentuan pelaksanaan program BUSI (Budaya Sekolah Islami). Belum disediakanjam kelas bimbingan konseling kepada siswa.

    Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi bahan pemikiran,informasi dan masukan tentang pelaksanaan manajemen pemasaran pendidikanIslam bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam, para pemikir pendidikan Islam,mahasiswa dan seluruh pihak yang membutuhkannya di lingkungan FakultasTarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

  • KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, segala puji dan syukur atas segala kasih sayang-Nya

    yang telah melimpahkan karunia yang sangat besar, sehingga penulis bisa

    menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam penulis sanjungkan kepada

    beliau Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta segenap keluarga dan para

    sahabatnya hingga akhir nanti.

    Dalam penyelesaian skripsi yang berjudul Manajemen Pemasaran

    Pendidikan Islam (Studi Kasus di SMP Islam Sultan Agungs1 Semarang)

    tentu tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis

    ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:

    1. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Prof., Dr., Ibnu

    Hajar, M.Pd.

    2. Bapak Fahrurrozi, M.Ag., dan Drs. Wahyudi, M.Pd., selaku pembimbing

    yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan

    skripsi ini.

    3. Bapak dan Ibu dosen di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo

    Semarang atas jasa-jasanya.

    4. Segenap karyawan dan karyawati di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN

    Walisongo Semarang.

    5. Ibu Dra. Hj. Upi Luthfiah, selaku Kepala Sekolah dan Bapak Drs.

    Fatchurrahman ZA, selaku wakil kepala sekolah SMP Islam SMP Islam

    Sultan Agungs1 Semarang, serta segenap civitas akademika yang ikut

    membantu lancarnya penelitian penulis.

    6. Ayahanda Suharto dan Ibunda Suryati tercinta, atas segala pengorbanan

    dan kasih sayangnya serta untaian doa yang tiada hentinya, sehingga

    penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

    7. Mba Lasti Zuniroh dan Mas Saryono Kakak-kakakku tersayang yang

    selalu memberi nasihat serta motifasi, serta keponakanku Jihan

    Maftukhah.

  • 8. Kepada semua sahabatku di UKM BITA, Racana Walisongo dan Jurusan

    KI 2005 yang selalu bersama menimba ilmu.

    9. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang

    telah membantu terselesaikannya skripsi ini.

    Kepada mereka semua, penulis tidak dapat memberi apa-apa yang

    berarti, hanya doa semoga amal baik mereka dibalas oleh Allah dengan

    sebaik-baik balasan serta selalu dalam lindungan-Nya.

    Akhirnya, penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh

    dari kesempurnaan, baik dalam penyusunan kata, landasan teori, dan

    beberapa aspek inti didalamnya. Oleh karena itu, kritik saran yang

    konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga

    skripsi ini bermanfaat bagi semuanya. Amin.

    Ahmad MuthofiinNIM: 053311364

  • DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i

    HALAMAN ABSTRAK ................................................................................ ii

    HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................ iii

    HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. iv

    HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ vi

    HALAMAN MOTTO .................................................................................... vii

    HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... viii

    HALAMAN PENGANTAR .......................................................................... ix

    DAFTAR ISI ................................................................................................. xi

    BAB I : PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ..................................................................... 1

    B. Penegasan Istilah .................................................................. 5

    C. Rumusan Masalah ................................................................. 6

    D. Tujuan Penelitian .................................................................. 6

    E. Kajian Pustaka ...................................................................... 6

    F. Metode Penelitian ................................................................. 8

    BAB II : MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN

    A. Manajemen Pemasaran ........................................................ 14

    1. Pengertian manajemen pemasaran ................................ 14

    2. Unsur-unsur pemasaran ................................................. 16

    3. Pemasaran jasa ............................................................... 17

    B. Pemasaran Jasa Pendidikan ................................................. 20

    1. Pengertian pemasaran jasa pendidikan ......................... 20

    2. Perkembangan konsep pemasaran dalam jasa

    pendidikan ....................................................................... 22

    3. Fungsi marketing dalam pendidikan ............................. 25

    4. Citra (image) terhadap lembaga ..................................... 30

    5. Variabel yang menimbulkan citra .................................. 31

  • C. Manajemen Pemasaran Pendidikan .................................... 36

    1. Planning (perencanaan) .................................................. 37

    2. Organizing (pengorganisasian) ....................................... 40

    3. Actuating (penggerakan/pengarahan) ............................ 41

    4. Controlling (pengendalian/pengawasan) ........................ 44

    BAB III : MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN ISLAM DI SMPISLAM SULTAN AGUNG 1 SEMARANG

    A. Gambaran Umum SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang... 48

    1. Sejarah Berdiri dan Perkembangan SMP Islam

    Sultan Agung 1 Semarang .............................................. 48

    2. Visi dan Misi SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang .... 49

    3. Letak Geografis ............................................................... 50

    4. Sarana dan Prasarana .................................................... 50

    5. Struktur Organisasi ........................................................ 52

    6. Keadaan Guru/Karyawan dan Siswa ............................. 53

    B. Manajemen Pemasaran Pendidikan Islam di SMP Islam

    Sultan Agung 1 Semarang .................................................... 54

    1. Planning pemasaran pendidikan Islam .......................... 54

    2. Organizing pemasaran pendidikan Islam ...................... 56

    3. Actuating pemasaran pendidikan Islam ........................ 58

    4. Controlling pemasaran pendidikan Islam ...................... 65

    C. Kendala yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Manajemen

    Pemasaran Pendidikan Islam di SMP Islam Sultan

    Agung 1 Semarang ................................................................ 68

    BAB IV : ANALISIS MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKANISLAM DI SMP ISLAM SULTAN AGUNG 1 SEMARANG

    A. ...........................................................................................A

    nalisis Manajemen Pemasaran Pendidikan Islam di SMP

    Islam Sultan Agung 1 Semarang .......................................... 71

  • 1........................................................................................Pla

    nning ................................................................................ 73

    2........................................................................................Org

    anizing ............................................................................. 75

    3........................................................................................Act

    uating ............................................................................... 76

    4........................................................................................Con

    trolling ............................................................................. 79

    B. ...........................................................................................A

    nalisis Kendala yang Dihadapi dalam Pelaksanaan

    Manajemen Pemasaran Pendidikan Islam di SMP Islam

    Sultan Agung 1 Semarang .................................................... 82

    BAB V : PENUTUP

    A. Kesimpulan ........................................................................... 85

    B. Saran ..................................................................................... 86

    C. Penutup ................................................................................. 87

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Era persaingan global sekarang ini, telah menciptakan paradigma dunia

    yang tidak mengenal batas-batas territorial kedaulatan sebuah negara atau

    bangsa. Dampaknya turut menciptakan persaingan yang semakin tinggi pada

    semua aspek kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan pendidikan, di mana

    pengelolaannya tidak hanya dapat dilakukan secara tradisional akan tetapi

    membutuhkan kemampuan khusus sehingga output pendidikan sesuai dengan

    kebutuhan pangsa pasar baik nasional maupun internasional.2

    Pengelolaan pendidikan menjadi sangat penting, di mana pertumbuhan dan

    perkembangan lembaga dipengaruhi oleh kemampuan administrator dalam

    melakukan scaning lingkungan eksternal, kompetitor lembaga lain,

    memperhitungkan kompetensi internal dan harus dapat menciptakan strategi

    yang mumpuni untuk memenangkan persaingan tanpa meninggalkan esensi dari

    pendidikan itu sendiri.

    Dahulu sekolah sebagai produsen jasa pendidikan masih berada pada

    seller s market, calon siswa berlomba mendaftarkan masuk ke sekolah tanpa

    banyak persaingan dengan lembaga pendidikan yang lain. Namun, beberapa

    tahun terakhir ini beberapa lembaga pendidikan mulai terasa kesulitan mencari

    calon siswa, anak-anak pelajar sekarang begitu cerdas memilih sekolah yang

    bermutu dan sesuai dengan yang diinginkan. Apalagi hal ini diiringi dengan

    makin bertambah banyaknya lembaga pendidikan, misalnya saja pertumbuhan

    jumlah madrasah, sebagaimana yang tercatat oleh Direktorat Pendidikan

    Madrasah Republik Indonesia pada tahun 2001-2004, setiap tahunnya rata-rata

    meningkat 3% sebagaimana pada gambar berikut:3

    2Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, dalam Tim Dosen Administrasi PendidikanUniversitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet. 1,hlm.s330.

    3Direktorat Pendidikan Madrasah Republik Indonesia, Gambaran Umum Data Pendidikanpada Madrasah, http://pendis.depag.go.id/madrasah/Insidex.php?i_367=st01, download tanggal30-04-2010.

    http://pendis.depag.go.id/madrasah/Insidex.php?i_367=st01

  • 2 2 ,7 9 9 2 3 ,0 9 5 2 3 ,1 6 4 2 3 ,5 1 7

    1 0 ,7 9 1 1 1 ,4 0 4 1 1 ,7 0 6 1 2 ,0 5 4

    3 ,7 7 2 4 ,0 0 3 4 ,4 3 9 4 ,6 8 7

    -

    5 ,0 0 0

    1 0 ,0 0 0

    1 5 ,0 0 0

    2 0 ,0 0 0

    2 5 ,0 0 0

    2 0 0 1 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4

    Jum

    lah

    Mad

    rasa

    h

    M I

    M T S

    M A

    Gambar Pertumbuhan Jumlah Madrasah Tahun 2001-2004.

    Oleh adanya pertumbuhan jumlah lembaga pendidikan seperti ini, maka

    pendaftar di beberapa lambaga pendidikan mulai berkurang dan terasa ada

    suasana persaingan antar lembaga pendidikan ditinjau dari unsur produk, harga,

    kualitas pelayanan, kualitas tamatan, outcome, kualitas bangunan, jaringan dan

    sebagainya. Bahkan ironisnya di beberapa daerah, beberapa lembaga yang

    kurang dapat mengakomodir hal tersebut terpaksa ditutup karena kekurangan

    murid.4

    Hal itu menunjukkan bahwa persaingan dunia pendidikan menjadi tidak

    dapat terelakkan lagi, sehingga dewasa ini banyak terjadi merger dari beberapa

    lembaga pendidikan.5 Kemampuan administrator untuk memahami pemasaran

    pendidikan menjadi prasyarat dalam mempertahankan dan meningkatkan

    pertumbuhan lembaganya. Suatu lembaga atau satuan pendidikan dituntut untuk

    senantiasa merevitalisasi strateginya guna menjamin kesesuaian tuntutan

    lingkungan dan persaingan dengan kekuatan internal yang dimilikinya. Ini

    penting mengingat ketidakmampuan suatu satuan pendidikan dalam merespon

    peluang dan ancaman eksternal akan mengakibatkan menurunnya daya saing

    dan atau terhambatnya pencapaian kinerja satuan pendidikan itu. Jika hal ini

    4Akbar Zainudin, Mengapa Lembaga Pendidikan Perlu Dipasarkan, http://www.facebook.com/share.php?u=http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/18/mengapa-lembaga-pendidikan-perlu-dipasarkan/, download tanggal 31-12-09.

    5Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, op.cit., hlm. 333.

    http://www.facebook.com/share.php?u=http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/18/mengapa-lembaga-

  • dibiarkan maka akan mengancam kelangsungan satuan pendidikan yang

    bersangkutan.6

    Pergeseran lingkungan dan kekuatan persaingan dalam pendidikan

    menyebabkan timbulnya kesenjangan antara tuntutan lingkungan dan persaingan

    dengan kekuatan satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan.

    Situasi ini telah memaksa sebagian satuan pendidikan mengurangi atau

    menghentikan operasinya. Sebagai contoh, pada sejumlah program studi di

    sejumlah Perguruan Tinggi mengalami penurunan jumlah mahasiswanya,

    bahkan terpaksa ditutup dan atau dicabut ijin operasinya. Ini terjadi pula pada

    satuan pendidikan dasar, menengah dan satuan pendidikan lainnya. Fenomena

    tersebut sangat meluas dan merupakan isu permasalahan yang penting untuk

    dikaji.7

    Mengingat hal tersebut, maka fokus dari manajemen pendidikan saat ini

    harus mengalami perubahan dari sekedar melayani proses pendidikan, menjadi

    bagaimana membuat pemakai pendidikan diubah menjadi pelanggan

    pendidikan, di mana pelanggan pendidikan inilah yang akan memberikan

    loyalitas yang tinggi untuk tidak bisa berpaling pada lembaga lain. Hal itu akan

    menciptakan: makes reguler repeat purchases (pelanggan yang selalu memakai

    program yang diluncurkan oleh lembaga), purchases acrouss product and

    service lines (pelanggan membeli di luar lini produk atau jasa), refers other

    (merekomendasikan produk lain), demonstrates an immunity to the full of the

    competition (menunjukkan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari

    pesaing).8 Pelanggan seperti inilah yang dicari oleh setiap lembaga pendidikan

    dan hal itu bisa dicapai melalui strategi manajemen pemasaran pendidikan yang

    baik. Strategi ini diadopsi dari dunia bisnis, di mana penerapannya disesuaikan

    dengan nilai filosofi dari pendidikan itu sendiri sebagai lembaga non profit.

    Lembaga pendidikan pada hakikatnya bertujuan memberi layanan kepada

    konsumen (siswa maupun masyarakat umum) yang dikenal sebagai stakeholder

    6Buchari Alma dan Ratih Hurriyati, Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran JasaPendidikan Fokus pada Mutu dan Layanan Prima, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 63.

    7Ibid, hlm. 63.8Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, op.cit., hlm. 330-331.

  • dan pihak yang dilayani tentunya ingin memperoleh kepuasan dari layanan

    tersebut baik berupa fasilitas, tenaga pengajar profesional, teknologi, tempat

    yang yaman dan sebagainya. Semuanya akan bermuara pada sasaran

    memuaskan konsumen. Inilah tujuan hakiki dari marketing lembaga pendidikan.

    Pemasaran pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan lembaga pendidikan

    memberi layanan atau menyampaikan jasa pendidikan kepada konsumen dengan

    cara yang memuaskan.9

    Dalam konteks pengelolaan pendidikan Islam, maka pada era persaingan

    dewasa ini lembaga pendidikan Islam pun harus dapat menata segala aspek

    manajemennya sebagai nilai tawar pemasaran pendidikan Islam, sehingga

    mampu bersaing dalam kancah persaingan berbagai lembaga pendidikan.

    Manajemen pendidikan Islam yang berarti suatu proses pengelolaan

    lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber-sumber

    belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam

    secara efektif dan efisien,10 adalah alasan yang jelas bahwa lembaga pendidikan

    Islam pun harus memperhatikan hal-hal yang muncul di sekitarnya dalam hal ini

    adalah adanya pangsa pasar, harus mampu mengikuti persaingan serta dalam

    mendapatkan konsumen, sehingga pelanggan pendidikan merasa puas dan

    nyaman atas pelayanan jasa pendidikan Islam yang disampaikan. Jika hal

    tersebut terpenuhi maka eksistensi lembaga serta tujuan dari pendidikan Islam

    dapat terwujud secara efektik dan efisien.

    Berdasarkan permasalah di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan

    penelitian tentang manajemen pemasaran di lembaga pendidikan Islam yang

    bertempat di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang. Penelitian ini dilakukan

    atas dasar alasan yaitu SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang merupakan

    lembaga pendidikan Islam swasta yang memiliki kualitas terakreditasi A,

    memiliki jumlah siswa (customer) yang cukup banyak, mempunyai guru-guru

    profesional serta fasilitas-fasilitas pendidikan yang cukup memadai sebagai

    9Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003), Cet.s1,hlm.s46.

    10Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Baru Pengelolaan LembagaPendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 10.

  • salah satu nilai tawar pemasaran pendidikan Islamnya. Bagaimanakah cara

    lembaga pendidikan Islam swasta ini sehingga mampu mengelola manajemen

    pemasaran sampai pada tujuan lembaga pendidikan Islam ini dapat tercapai dan

    mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya bahkan termasuk lembaga

    pendidikan non Islam?

    B. Penegasan Istilah

    1. Manajemen

    Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari

    tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian, penggiatan dan

    pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-

    sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia

    dan sumber-sumber lain.11

    2. Pemasaran Pendidikan Islam

    Pemasaran didefinisikan sebagai proses yang membentuk hubungan

    antara produsen dengan individu atau grup dalam menyampaikan jenis-jenis

    produk: barang dan jasa, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan

    keinginan (needs and wants), guna mencapai tingkat kepuasan yang lebih

    tinggi melalui penciptaan produk yang berkualitas.12

    Pendidikan Islam diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku

    individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya

    dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan.

    Perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islam.13 Ini berarti apapun yang

    dilakukan manusia khususnya umat Islam dalam rangka mempersiapkan diri

    untuk dapat hidup dalam dunia ini, sekarang, besok dan masa yang akan

    datang merupakan proses pendidikan Islam.

    11Mulyono, Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-RuzzMedia, 2008), Cet. I, hlm. 16.

    12Rd. Soemanagara, Strategic Marketing Communication; Konsep Strategis dan Terapan,(Bandung: Alfabeta, 2006), hlm. 2.

    13Pendidikan Islam menurut Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaebani yang dikutip olehMuzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 15.

  • Sedangkan yang dimaksud dengan manajemen pemasaran pendidikan

    Islam di sini adalah kegiatan lembaga pendidikan Islam dalam merencanakan,

    mengorganisasi, mengimplementasi dan mengawasi segala kegiatan dalam

    menginformasikan dan memberi mutu layanan intelektual atau menyampaikan

    jasa pendidikan kepada konsumen, yang pada dasarnya tidak hanya berorientasi

    pada peningkatan laba lembaga, akan tetapi bagaimana menciptakan kepuasan

    bagi customer sebagai bentuk tanggung jawab kepada stakeholders atas mutu

    dari outputnya.14

    C. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah yang peneliti paparkan di atas, maka

    peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

    1. Bagaimana manajemen pemasaran pendidikan Islam di SMP Islam Sultan

    Agung 1 Semarang?

    2. Apa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan manajemen pemasaran

    pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang?

    D. Tujuan Penelitian

    Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai

    berikut:

    1. Memberikan gambaran yang jelas tentang manajemen pemasaran

    pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang.

    2. Mendiskripsikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan manajemen

    pemasaran pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang.

    E. Kajian Pustaka

    Kajian pustaka merupakan penelusuran pustaka yang berupa buku, hasil

    penelitian, karya ilmiah, ataupun sumber lain yang digunakan peneliti sebagai

    rujukan atau perbandingan terhadap penelitian yang peneliti lakukan. Peneliti

    akan mengambil beberapa sumber sebagai bahan rujukan atau perbandingan

    baik dari buku-buku maupun dari hasil penelitian.

    14Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, op.cit., hlm. 337.

  • Adapun buku yang menjadi rujukan antara lain adalah: Pemasaran

    Stratejik Jasa Pendidikan karya Buchari Alma, dan Manajemen Corporate

    dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Islam Fokus pada Mutu dan

    Pelayanan Priman karya Buchari Alma dan Ratih Hurriyati. Buku ini telah

    memperkenalkan istilah-istilah dan konsep bisnis ke dalam dunia pendidikan,

    mencoba meluruskan tentang konsep dan strategi pemasaran yang memang telah

    layak diadopsi bahkan penting dalam dunia pendidikan. Istilah pemasaran bukan

    sekedar mengejar komersial akan tetapi mengutamakan pendidikan yang

    berkualitas dan memberikan mutu layanan prima kepada stakeholdersnya.

    Untuk menghindari kesamaan penulisan dan plagiat, maka penulis

    mencantumkan beberapa hasil penelitian di antaranya:

    1. Penelitian yang dilakukan oleh Andik Sismanto pada tahun 2008 yang

    berjudul Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan Lembaga Pendidikan

    Tinggi Islam (Studi Kasus di IAIN Walisongo Semarang). Beliau membahas

    tentang setrategi, sistem promosi dan analisis dalam menetapkan setrategi

    pemasaran jasa pendidikan di Lembaga Pendidikan Tinggi Islam.15

    2. Penelitian yang dilakukan oleh Heri Winarto pada tahun 2010 yang berjudul

    Manajemen Humas dalam Meningkatkan Pencitraan Publik di TK Annur

    Tugurejo Semarang . Peneliti ini membahas tentang manajemen humas

    yang dilaksanakan di lembaga tersebut, pencitraan publik melalui

    manajemen humas dilakukan dengan cara memfokuskan pada perbaikan

    yang bersifat internal dengan cara meningkatkan kinerja para staf dan upaya

    meningkatkan citra lembaga dengan cara setrategi lisan, setrategi tertulis dan

    peragaan.16

    Dari beberapa telaah pustaka yang peneliti paparkan menunjukkan bahwa

    penelitian ini belum pernah dilaksanakan orang lain karena kajian dalam

    penelitian ini akan difokuskan pada pelaksanaan manajemen pemasaran

    15Andik Sismanto, Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan Lembaga Pendidikan TinggiIslam, Studi Kasus di IAIN Walisongo Semarang, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN WalisongoSemarang, 2008).

    16Heri Winarto, Manajemen Humas dalam Meningkatkan Pencitraan Publik di TK AnnurTugurejo Semarang, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2010).

  • pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang dan kendala yang

    dihadapi dalam pelaksanaan manajemen pemasaran pendidikan Islam di SMP

    Islam Sultan Agung 1 Semarang.

    Setelah menelaah berbagai karya tulis berupa hasil penelitian tersebut,

    peneliti mengambil kesimpulan bahwa skripsi yang berjudul Manajemen

    Pemasaran Pendidikan Islam (Studi Kasus di SMP Islam Sultan Agung 1

    Semarang) memang belum pernah ada yang melakukan penelitian sebelumnya.

    F. Metode Penelitian

    Metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam

    mencapai sasaran yang diperlukan bagi penggunanya, sehingga dapat

    memahami objek sasaran yang dikehendaki dalam upaya mencapai tujuan

    pemecahan permasalahan.17 Sedangkan penelitian adalah rangkaian kegiatan

    ilmiah dalam rangka pemecahan suatu permasalahan, atau sesuatu untuk

    menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan.

    Jadi, metode penelitian adalah serangkaian metode yang saling melengkapi yang

    digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh pemecahan terhadap

    segala permasalahan.18

    Penyusunan karya ilmiah (skripsi) ini tidak lepas dari penggunaan metode

    penelitian sebagai pedoman agar kegiatan penelitian dapat terlaksana dengan

    baik. Sebuah penelitian dapat mencapai hasil yang maksimal, jika seorang

    peneliti memahami metode apa yang akan digunakan dalam penelitian tersebut.

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1. Metode pengumpulan data

    Sehubungan dengan penelitian lapangan terhadap studi kasus, maka

    untuk mendapatkan data-data yang dimaksudkan perlu dilakukan dengan

    proses terjun langsung di lokasi penelitian yakni melalui observasi,

    interview, dokumentasi, maupun dengan pencatatan lapangan. Sedangkan

    17Joko Subagyo, Metode Penelitian, dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta,2004), hlm. 1.

    18Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Offset, 1989), hlm. 4.

  • untuk memperkuat teori-teori yang dipakai, peneliti melengkapi dengan

    penelitian kepustakaan (library research).

    Beberapa metode yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan

    data di antaranya:

    a. Observasi

    Observasi atau pengamatan adalah alat pengumpulan data yang

    dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-

    gejala yang diselidiki.19

    Menurut Sukardi, observasi adalah cara pengambilan data dengan

    menggunakan salah satu panca indra yaitu indra penglihatan sebagai alat

    bantu utamanya untuk melakukan pengamatan langsung, selain panca

    indra biasanya penulis menggunakan alat bantu lain sesuai dengan

    kondisi lapangan antara lain buku catatan, kamera, film proyektor,

    checklist yang berisi obyek yang diteliti dan lain sebagainya.20 Namun

    dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan alat bantu berupa buku

    catatan, kamera dan recorder. Metode ini digunakan untuk melihat

    langsung bagaimana pelaksanaan manajemen pemasaran pendidikan

    Islam yang diterapkan di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang, serta

    apa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan manajemen pemasaran

    pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang.

    b. Interview

    Interview adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi

    dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna

    dalam suatu topik tertentu. 21 Ciri utama dari interview adalah adanya

    kontak langsung dengan cara tatap muka antara pencari informasi

    (interviewer) dan sumber informasi (interviewee). Untuk memperoleh

    19Kholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian: Memberi Bekal Teoritis padaMahasiswa tentang Metodologi Penelitian serta Diharapkan dapat Melaksanakan Penelitiandengan Langkah-Langkah yang Benar, (Jakarta: PT. Bukti Aksara, 2005), Cet. 7, hlm.s70.

    20Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: BumiAksara, 2003), hlm. 78-79.

    21Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. 4, hlm.s72.

  • informasi yang tepat dan objektif, setiap interviewer harus mampu

    menciptakan hubungan baik dengan interviewee.22

    Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana kondisi

    sekolah serta untuk memperoleh kejelasan dari proses observasi yang

    bersifat mendukung data penelitian. Di sini peneliti akan menggunakan

    wawancara tidak terstruktur, di mana pihak-pihak yang terkait akan

    diwawancarai diminta informasi terkait dengan pelaksanaan manajemen

    pemasaran pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang.

    Wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara yang hanya memuat garis

    besar permasalahan yang akan ditanyakan. Maka kreativitas

    pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis

    ini lebih banyak tergantung dari pewawancara. Jenis interview ini baik

    digunakan dalam penelitian sebuah kasus.23

    Pihak-pihak yang terkait di antaranya: Kepala Sekolah, Wakil

    Kepala Sekolah, Waka Humas dan pihak-pihak yang terkait lainnya.

    Peneliti dalam wawancara ini akan mendata pihak-pihak mana saja yang

    akan menjadi objek penelitian yang akan memperkuat data yang

    diperoleh, karena dari pihak-pihak tersebut dapat diperoleh data-data

    yang valid.

    Metode wawancara tersebut akan peneliti gunakan untuk

    memperoleh jawaban dari pihak-pihak yang tersebut di atas. Peneliti

    akan mengemukakan pertanyaan seputar tentang kondisi sekolah kepada

    Kepala Sekolah, bagaimana pelaksaan manajemen pemasaran

    pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang dan kendala

    yang dihadapi dalam pelaksanaan manajemen pemasaran pendidikan

    Islam kepada bagian Waka Humas dan pihak-pihak tertentu.

    22Margono S., Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000),hlm.s165.

    23Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT RinekaCipta, 2002), hlm. 202.

  • c. Dokumentasi

    Dokumen merupakan catatan peristiwa lampau. Dokumen bisa

    berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.

    Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi

    dan wawancara dalam penelitian kualitatif.24

    Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan

    dengan manajemen pemasaran pendidikan Islam dan kendala yang

    dihadapi dalam pelaksanaan manajemen pemasaran pendidikan Islam di

    SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang. Data dapat berupa foto, tulisan,

    brosur, check list maupun dokumen-dokumen penting lainnya, yang

    mana data-data tersebut dapat memperkuat proses pelaksanaan

    manajemen pemasaran pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1

    Semarang.

    d. Teknik keabsahan data (triangulasi)

    Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang

    memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan

    pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.25

    Triangulasi pada penelitian ini, peneliti gunakan sebagai

    pemeriksaan melalui sumber lainnya. Dalam pelaksanannya peneliti

    melakukan pengecekan data yang berasal dari hasil wawancara dengan

    kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan waka humas dalam hal

    pelaksanaan manajemen pemasaran pendidikan Islam di SMP Islam

    Sultan Agung 1 Semarang. Lebih jauh lagi, hasil wawancara tersebut

    kemudian peneliti cek dengan hasil pengamatan yang peneliti lakukan

    selama masa penelitian untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam

    pelaksanaan manajemen pemasaran pendidikan Islam di SMP Islam

    Sultan Agung 1 Semarang. Peneliti juga melakukan wawancara dengan

    masyarakat (beberapa wali murid) tentang respon mereka terhadap SMP

    Islam Sultan Agung 1 Semarang.

    24Sugiyono, op.cit., hlm. 82.25Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

    2004), Cet. 20, hlm. 330.

  • Setelah hal di atas terlaksana, maka data-data yang dibutuhkan akan

    terkumpul. Peneliti kemudian mengorganisasi dan mensistematisasi data

    agar siap dijadikan bahan analisis. Untuk lebih jelasnya dalam hal teknik

    pengumpulan data dapat dilihat sebagai berikut:

    Jenis data Sumber Metode Instrumen

    - Manajemen pemasaranpendidikan Islam di SMPIslam Sultan Agung 1Semarang (perencanaan,pengorganisasian,penggerakan, evaluasi).

    - Pelaksanaan pemasaranpendidikan Islam.

    - Pengawasan pemasaranpendidikan Islam.

    - Respon masyarakat.

    - Kepala Sekolah SMPIslam Sultan Agung 1Semarang.

    - Wakil Kepala Sekolah.

    - Waka Humas.- Ketua panitian.

    penerimaan pesertadidik.

    - Pelaksana kegiatan.

    - Kepala Sekolah.- Wakil Kepala Sekolah.

    - Wali murid.

    - Interview.- Dokumentasi.

    - Interview.- Dokumentasi.- Observasi.

    - Interview.

    - Interview.

    - Peneliti, pointerwawancara,tape rekorder,pena, bukucatatan.

    - Peneliti, pointerwawancara,tape rekorder,pena, bukucatatan.

    - Peneliti, pointerwawancara,tape rekorder,pena, bukucatatan.

    - Peneliti, pena,buku catatan.

    2. Metode analisis data

    Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis

    data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan

    dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori,

    menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam

    pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari serta membuat

    kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.26

    Analisis data yang digunakan berupa model analisis data interaksi, hal

    ini komponen data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan

    setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat

    wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang

    26Sugiyono, op.cit., hlm. 89.

  • diwawancarai. Bila setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka

    peneliti akan melakukan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu diperoleh

    data yang dianggap kredibel. Miles and Huberman, mengemukakan bahwa

    aktivitas dalam analisis data kalitatif dilakukan secara interaktif dan

    berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah

    jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu: data reduction, data display dan

    data conclusion drawing/verification, sebagaimana gambar berikut:27

    Data diperoleh dari penelitian atau data colection masih bersifat

    komplek dan rumit direduksi, yaitu merangkum dan memilih hal-hal pokok,

    memfokuskan pada hal-hal penting, membuang hal-hal tidak perlu. Data

    hasil penelitian ini harus direduksi meliputi data hasil wawancara,

    dokumentasi dan observasi berisi tentang pelaksanaan manajemen

    pemasaran pendidikan Islam di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang

    meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan/pengarahan dan

    pengevaluasian.

    Data hasil reduksi disajikan atau di display ke bentuk yang mudah

    dipahami, biasanya penyajian ini berbentuk naratif, table, grafik.

    Kesimpulan dan verifikasi, simpulan awal yang berupa analisis interaktif

    masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti

    kuat mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya, tetapi simpulan

    yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti konsisten

    pada saat peneliti kembali ke lapangan, maka simpulan yang dikemukakan

    simpulan kredibel.

    27Ibid, hlm. 91.

    DataColection

    DataDisplay

    Conclusion:Drawing/ferifying

    DataReduktion

  • BAB II

    MANAJEMEN PEMASARAN PENDIDIKAN

    A. Manajemen Pemasaran

    1. Pengertian manajemen pemasaran

    Manajemen pemasaran merupakan penggabungan dari dua istilah

    yaitu manajemen dan pemasaran.28 Manajemen menurut Henry L. Sisk:

    Management is the coordination of all resources through the processes of

    planning, organizing, directing, and controlling in order to attain stated

    objectives.29

    (Manajemen adalah pengkoordinasian dari semua sumber-sumber melaluiproses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pemberianbimbingan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telahditetapkan).

    Sedangakan manajemen pemasaran menurut Philip Kotler and

    Amstrong, sebagaimana yang dikutip oleh Buchari Alma:

    Marketing management is the analysis, planning, implementation,and control of programs designed o create, build, and maintainbeneficial exchanges with target buyers for the purpose of achievingorganizational objectives. (Manajemen pemasaran ialah kegiatanmenganalisa, merencanakan, mengimplementasi dan mengawasisegala kegiatan (program), guna memperoleh tingkat pertukaranyang menguntungkan dengan pembeli sasaran dalam rangkamencapai tujuan organisasi).30

    Menurut Ben M. Anis: Marketing Management is the process ofincreasing the effectiveness and or efficiency by which marketingactivities are performed by individuals or organizations.(Manajemen pemasaran ialah proses untuk meningkatkan efisiensidan efektivitas dari kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh individuatau oleh perusahaan).31

    28Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, Edisi Revisi, (Bandung:Alfabeta, 2007), hlm. 137.

    29Henry L. Sisk, Principles of Management, (Ohio: South-Western Publishing Company,1969), hlm. 10.

    30Buchari Alma, op.cit., hlm. 130.31Ibid, hlm. 130.

  • Processing(proses)

    Pengertian di atas mempunyai implikasi yaitu:

    1) Menekankan adanya efektivitas (memaksimalkan hasil yang hendak

    dicapai yang telah ditetapkan lebih dulu) dan efisiensi (meminimalkan

    pengeluaran atau biaya yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut).

    2) Manajemen pemasaran ini merupakan suatu proses. Penekanan pada

    efisiensi dan efektivitas erat hubungannya dengan produktifitas.

    Produktifitas merupakan kombinasi antara afektivitas dan efisiensi.

    Jika orang ingin menentukan produktifitas, maka ia harus mengetahui

    hasil yang ingin dicapai (ini masalah efektifitas), dan sumber-sumber

    apa yang telah digunakan (berdaya guna) serta mendapatkan hasil yang

    maksimal (berhasil guna), inilah efisiensi dan efektifitas.32

    Untuk memahami manajemen pemasaran sebagai suatu proses, di

    bawah ini digambarkan pendekatan sistem:33

    Input outputs Objektive(masukan) (luaran) (tujuan)

    Feedback (balikan)

    Penjelasannya adalah sebagai berikut:

    Untuk keberhasilan kegiatan manajemen pemasaran pada sebuah

    perusahaan, maka diperlukan sebuah masukan, misalnya berasal dari

    informasi kegiatan yang berjalan di lapangan. Contoh: barang-barang

    merk X kurang laku, ternyata harganya lebih tinggi dari saingan. Ini

    adalah masukan informasi yang harus diproses. Setelah diadakan analisis,

    dari berbagai sumber informasi lainnya, akhirnya muncullah output

    (luaran) yaitu berupa suatu keputusan atau kebijaksanaan yang harus

    ditempuh guna mencapai tujuan perusahaan. Setelah keputusan diambil

    dan dilaksanakan, ditunggu bagaimana hasil pelaksanaannya. Inilah yang

    disebut feedback (balikan) yang sangat berguna bagi manajemen untuk

    32Ibid, hlm. 131.33Ibid, hlm. 131.

  • memperbaiki kebijaksanaan lebih lanjut. Dengan demikian proses

    manajeman pemasaran akan lebih meningkatkan efesiensi dan efektifitas.

    Dengan demikian, manajemen pemasaran dapat diartikan sebagai

    suatu proses merencanakan, mengorganisasi, mengimplementasi dan

    mengawasi segala kegiatan (program pemasaran) secara efektif dan

    efisien, guna memperoleh tingkat pertukaran yang menguntungkan dengan

    pembeli sasaran dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Kegiatan

    pemasaran pada sebuah perusahaan harus dikelola dengan sebaik-baiknya

    dan manajer pemasaran harus memainkan peranan penting dalam

    perencanaannya.

    2. Unsur-unsur pemasaran

    Dalam pemasaran terdapat beberapa unsur, yaitu:34

    a. Unsur strategi persaingan

    1) Segmentasi pasar, yaitu tindakan mengidentifikasikan dan

    membentuk kelompok pembeli atau konsumen secara terpisah.

    Masing-masing segmen konsumen ini memiliki karakteristik,

    kebutuhan produk dan bauran pemasaran tersendiri.

    2) Targeting, yaitu suatu tindakan memilih satu atau lebih segmen

    pasar yang akan dimasuki.

    3) Positioning, yaitu penetapan posisi pasar. Tujuannya untuk

    membangun dan mengkomunikasikan keunggulan bersaing produk

    yang ada di pasar ke dalam benak konsumen.

    b. Unsur taktik pemasaran

    1) Diferensiasi, berkaitan dengan cara membangun strategi pemasaran

    dalam berbagai aspek di perusahaan.

    2) Bauran pemasaran (marketing mix), berkaitan dengan kegiatan-

    kegiatan mengenai produk, harga, promosi dan tempat.

    34Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Reorientasi KonsepPerencanaan Strategi untuk Menghadapi Abad 21, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005),Cet. 12, hlm. 48-51.

  • c. Unsur nilai pemasaran

    1) Merk (brand), yaitu nilai yang berkaitan dengan nama atau nilai

    yang dimiliki dan melekat pada suatu perusahaan. Jika brand

    equity ini dikelola dengan baik, perusahaan yang bersangkutan

    setidaknya akan mendapatkan dua hal. Pertama, para konsumen

    akan menerima nilai produknya. Mereka dapat merasakan semua

    manfaat yang diperoleh dari produk yang mereka beli dan merasa

    puas karena itu sesuai dengan harapan mereka. Kedua, perusahaan

    itu sendiri memperoleh nilai melalui loyalitas pelanggan terhadap

    merek, yaitu peningkatan margin keuntungan, keunggulan bersaing

    dan efisiensi serta efektifitas kerja khususnya pada program

    pemasarannya.

    2) Pelayanan atau service, yaitu nilai yang berkaitan dengan

    pemberian jasa pelayanan kepada konsumen.

    3) Proses, yaitu nilai yang berkaitan dengan prinsip perusahaan untuk

    membuat setiap karyawan terlibat dan memiliki rasa tanggung

    jawab dalam proses memuaskan konsumen, baik secara langsung

    maupun tidak langsung.

    3. Pemasaran jasa

    Kita mengetahui bahwa yang disalurkan oleh para produsen bukan

    benda-benda berwujud saja, tetapi juga jasa. Sifat perusahaan yang

    menghasilkan jasa ialah bahwa jasa itu tidak bisa ditimbun atau ditumpuk

    dalam gudang seperti barang-barang lainnya sambil menunggu

    penjualan.35

    Penyaluran jasa kebanyakan bersifat langsung dari produsen kepada

    konsumen, seperti jasa perawatan, pengobatan, nasihat-nasihat, hiburan,

    travel/perjalanan, dan sebagainya. Rumah-rumah sewaan, apartemen,

    hotel, para penjual yang mengadakan transaksi saham dan obligasi di bursa

    serta perantara-perantaranya juga merupakan jasa. Dalam arti yang lebih

    35Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003), Cet.s1,hlm. 1.

  • luas lagi, asuransi dan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah juga

    merupakan jasa. Pajak yang kita bayar sebetulnya adalah untuk membeli

    jasa yang ditawarkan oleh pemerintah tersebut, lembaga keagamaan,

    lembaga pendidikan juga merupakan bagian dari jasa.36

    Selama ini pemasaran jasa masih belum begitu diperhatikan, tetapi

    melihat banyaknya jumlah uang yang dibelanjakan untuk membeli jasa

    tersebut, maka para produsen jasa mulai memberi perhatian khusus. Hal

    ini ditambah pula dengan tingkat persaingan yang mulai ketat di antara

    para penghasil jasa.

    Jasa tidak memiliki bentuk fisik, kegiatannya tidak berwujud,

    meliputi berbagai jenjang layanan professional, mulai dari dokter,

    insinyur, akuntan, guru, dosen, pelatih, pengacara, perawat, sopir, tukang

    cukur, ahli desain dan sebagainya. Jasa ini menampilkan sosok orangnya

    yang telah mendapatkan latihan-latihan tertentu.37

    Selanjutnya Pride and Ferrell yang dikutip oleh Buchari Alma,

    memperkenalkan dan memberi pengertian tentang marketing non business

    organization, yaitu: merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh individu

    atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, beda dengan tujuan

    perusahaan yang mengutamakan laba, penguasaan pasar atau untuk

    mempercepat pengembalian investasi.38 Dalam organisasi non-bisnis ini

    obyek transaksinya tidak jelas, tidak spesifik nilai uangnya. Transaksi

    banyak dilakukan lewat negoisasi dan menanamkan keyakinan melalui

    diskusi dan mereka ini sebenarnya telah menerapkan konsep-konsep

    marketing, misalnya marketing lembaga pendidikan, marketing yayasan

    dan sebagainya.

    Ada beberapa pendapat yang menjelaskan tentang pengertian jasa, di

    antaranya:

    36Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, op.cit., hlm. 241.37Ibid, hlm. 242.38Ibid, hlm. 242.

  • a. William J.sStanton, yang dikutip oleh Buchari Alma:

    Jasa adalah sesuatu yang dapat diidentifikasi secara terpisah tidak

    berwujud, ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan. Jasa dapat

    dihasilkan dengan menggunakan benda-benda berwujud atau tidak.39

    b. Zaithaml dan Bitner, yang dikutip oleh Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka

    Prihati:

    Jasa pada dasarnya merupakan seluruh aktifitas ekonomi dengan

    output selain produk dan pengertian fisik, dikonsumsi dan diproduksi

    pada saat bersamaan, memberikan nilai tambah dan secara prinsip

    tidak berwujud (intangible) bagi pembeli pertamanya.40

    Jadi, jasa adalah setiap aktivitas maupun manfaat apapun yang

    ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tanpa

    wujud tetapi dapat memberikan nilai tambah bagi pembelinya.

    Menurut Kotler, sebagaimana yang dikutip oleh Yoyon Bahtiar

    Irianto dan Eka Prihati, jasa mempunyai karakteristik sebagai berikut:

    a. Tidak berwujud (intangibility), sehingga konsumen tidak dapatmelihat, mencium, meraba, mendengar dan merasakan hasilnyasebelum mereka membelinya. Untuk mengurangi ketidak pastian,maka konsumen mencari informasi tentang jasa tersebut.

    b. Tidak terpisahkan (inseparability), jasa tidak dapat dipisahkandari sumbernya yaitu perusahaan jasa tersebut.

    c. Berfariasi (variability), di mana jasa seringkali berubah-ubahtergantung siapa, kapan dan di mana menyajikannya.

    d. Mudah musnah (perishability), jasa tidak dapat dijual pada masayang akan datang.41

    Sifat-sifat khusus dari pemasaran jasa:

    a. Menyesuaikan dengan selera konsumen.

    b. Keberhasilan pemasaran jasa dipengaruhi oleh pendapatan penduduk.

    c. Pada pemasaran jasa tidak ada pelaksanaan fungsi penyimpanan.

    39Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, op.cit., hlm. 2-3.40Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan

    Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet. 1,hlm. 335.

    41Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, op.cit., hlm. 335.

  • d. Mutu jasa dipengaruhi oleh benda berwujud (perlengkapannya).

    e. Saluran distribusi dalam marketing jasa tidak begitu penting.

    f. Kadang terjadi problema dalam penetapan harga jasa.42

    B. Pemasaran Jasa Pendidikan

    1. Pengertian pemasaran jasa pendidikan

    Menurut John R. Silber yang dikutip Buchari Alma, menyatakan

    bahwa:

    Etika marketing dalam dunia pendidikan adalah menawarkan mutulayanan intelektual dan pembentukan watak secara menyeluruh.Sebuah lembaga pendidikan harus menjaga nama baik danmenekankan pada mutu layanan yang harus diberikan kepada parasiswa43

    Kotler, yang dikutip oleh Henry Sumurung Octavian mendefinisikan

    pemasaran sebagai suatu proses sosial dan manajerial di mana individu

    dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan

    menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama

    lain. Dengan demikian pemasaran produk dan jasa, termasuk pendidikan,

    akan terkait kepada konsep: permintaan, produk, nilai dan kepuasan

    pelanggan.44

    Konsep produk dalam dunia pendidikan terbagi atas jasa

    kependidikan dan lulusan. Jasa kependidikan sendiri terbagi atas jasa:

    kurikuler, penelitian, pengembangan kehidupan bermasyarakat,

    ekstrakurikuler dan administrasi. Bentuk produk-produk tersebut

    hendaknya sejalan dengan permintaan pasar atau keinginan pasar yang

    diikuti oleh kemampuan dan kesediaan dalam membeli jasa kependidikan.

    Pendidikan sebagai produk jasa merupakan sesuatu yang tidak

    berwujud akan tetapi dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang diproses

    42Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, op.cit., hlm. 251-253.43Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, op.cit., hlm. 53.44Henry Sumurung Octavian, Manajemen Pemasaran Sekolah sebagai Salah Satu Kunci

    Keberhasilan Persaingan Sekolah, http://www.bpkpenabur.or.id/files/108-117%20Manajemen%20Pemasaran%20Sekolah%20sebagai%20Salah%20Satu%20Kunci%20Keberhasilan%20Persaingan%20Sekolah.pdf, download tanggal 13-01-2010.

    http://www.bpkpenabur.or.id/files/108-117%20Manajemen

  • dengan menggunakan atau tidak menggunakan bantuan produk fisik, di

    mana proses yang terjadi merupakan interaksi antara penyedia jasa dengan

    pengguna jasa yang mempunyai sifat tidak mengakibatkan peralihan hak

    atau kepemilikan.45

    Sekolah hendaknya dapat berorientasi kepada kepuasan pelanggan.

    Selain itu juga perlu mencermati pergeseran konsep keuntungan

    pelanggan menuju nilai (value) dari jasa yang diberikan. Sekolah mahal

    tidak menjadi masalah sepanjang manfaat yang dirasakan siswa melebihi

    biaya yang dikeluarkan. Dan sebaliknya sekolah murah bukan jaminan

    akan diserbu calon siswa apabila dirasa nilainya rendah.

    Dalam membangun lembaga pendidikan, menurut Brubacher yang

    dikutip Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, menyatakan ada dua

    landasan filosofi yaitu landasan epistimologis dan landasan politik:

    Secara epistimologis, lembaga pendidikan harus berusaha untukmengerti dunia sekelilingnya, memikirkan sedalam-dalamnyamasalah yang ada di masyarakat, di mana tujuan pendidikan tidakdapat dibelokkan oleh berbagai pertimbangan dan kebijakan, tetapiharus berpegang teguh pada kebenaran. Sedangkan landasan politikadalah memikirkan kehidupan praktis untuk tujuan masa depanbangsa, karena masyarakat kita begitu kompleks sehingga banyakmasalah pemerintahan, industri, pertanian, perbankan, tenaga kerja,bahan baku, sumber daya alam dan manusia, hubungan internasional,pendidikan, lingkungan, kesehatan dan sebagainya, yang perlu untukdipecahkan oleh tenaga ahli yang dicetak oleh lembaga pendidikan,di mana lulusan yang bermutu dihasilkan dalam black box prossingyang diolah oleh tenaga pendidik yang bermutu. 46

    Pendidikan merupakan produk yang berupa jasa, yang mempunyai

    karakteristik sebagai berikut:

    1. Lebih bersifat tidak berwujud dari pada berwujud.

    2. Produksi dan komsumsi bersama waktu.

    3. Kurang memiliki standard dan keseragaman.47

    45Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, op.cit., hlm. 335.46Ibid, hlm. 338.47Ibid, hlm. 335.

  • Dengan demikian pemasaran jasa pendidikan adalah suatu proses

    menawarkan mutu layanan intelektual dan pembentukan watak secara

    menyeluruh baik menggunakan bantuan produk fisik maupun tidak, untuk

    memenuhi kebutuhan konsumen (siswa). Hal itu karena pendidikan

    sifatnya lebih kompleks yang dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab,

    hasil pendidikannya mengacu jauh ke depan, membina kehidupan warga

    Negara, generasi penerus ilmuwan dikemudian hari.

    2. Perkembangan konsep pemasaran dalam jasa pendidikan

    Ada beberapa tahap perkembangan konsep marketing yang

    digunakan oleh para pengusaha dalam menghadapi persaingan yaitu:

    a. Konsep produksi

    Konsep ini berpandangan bahwa perusahaan membuat produksi

    sebanyak-banyaknya. Dengan produksi massal ini akan diperoleh

    efisiensi dalam pemakaian input dan efisiensi dalam proses produksi.

    Kemudian perusahaan akan dapat menetapkan harga jual lebih murah

    dari saingan. Hal ini sejalan dengan keinginan konsumen, agar mereka

    mudah memperoleh barang yang mereka butuhkan, mereka bisa

    membeli di banyak tempat dan harganya tidak terlalu mahal.48

    Jika hal ini diterapkan dalam jasa pendidikan, bukan berarti

    lembaga pendidikan menghasilkan lulusan secara massal dengan

    mengabaikan mutu, kemudian menurunkan uang sekolah (SPP) agar

    lebih banyak peminat masuk. Konsep produksi dalam pendidikan

    harus tatap memegang teguh peningkatan mutu lulusannya, dan uang

    pembayaran sekolah tidak terlalu tinggi.

    b. Konsep produk

    Konsep ini berlaku sudah sejak lama pada saat produsen berada

    pada posisi kuat. Produsen menghasilkan produk yang sangat baik

    menurut ukuran atau selera produsen itu sendiri, bukan menurut

    kehendak konsumen, konsumen demikian banyaknya sehingga selera

    48Buchari Alma dan Ratih Hurriyati, Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran JasaPendidikan Fokus pada Mutu dan Layanan Prima, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 173-174.

  • mereka pun sangat berfariasi. Selera konsumen tidak dapat

    diidentikkan dengan selera produsen. Inilah satu kesalahan yang terjadi

    pada konsep produk, yang menyamakan selera produsen dengan selera

    konsumen. Akibatnya jika timbul pesaing baru yang kreatif dalam

    bidang produksi, maka pengusaha yang menganut konsep produk ini

    akan kalah dalam persaingan.49

    Jika ini diterapkan dalam lembaga pendidikan, maka pimpinan

    lembaga tidak boleh berbuat sekehendaknya, walaupun dalam rangka

    ingin meningkatkan mutu. Pimpinan sekali-kali harus memonitor apa

    kehendak konsumen, apa keluhan-keluhan yang diobrolkan oleh para

    siswa di luar, ataupun guru, tenaga administrasi, dan sebagainya.

    Pimpinan lembaga pendidikan tidak tinggal diam di kamar kantornya,

    berlagak sebagai birokrat sebuah departemen yang sulit dihubungi.

    Pimpinan lembaga pendidikan harus sering turun ke bawah melihat

    ruang kelas sekolah, memperhatikan taman-taman sekolah, bertegur

    sapa dengan siswa, guru dan orang lain yang berkunjung ke sekolah.

    c. Konsep penjualan

    Pengusaha yang menganut konsep penjualan (selling concept)

    berpendapat bahwa yang penting produsen menghasilkan produk,

    kemudian produk itu dijual ke pasar dengan menggunakan promosi

    secara besar-besaran. Produsen ini mempunyai keyakinan bahwa

    dengan jalan promosi, konsumen dipengaruhi, dirangsang, dimotivasi

    untuk membeli, maka mereka pasti akan membeli. Konsep ini banyak

    dianut oleh para produsen dan mereka juga berhasil dalam pemasaran

    produknya. Tetapi strategi ini tidak akan mampu bertahan selamanya.50

    Jika diterapkan pada lembaga pendidikan, maka ada

    kecenderungan lembaga menggunakan surat kabar, TV, pasang iklan,

    layaknya seperti iklan barang. Iklan ini bisa saja asal ada bukti nyata

    yang menunjang kekuatan iklannya. Iklan tanpa usaha perbaikan mutu

    49Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, op.cit., hlm. 47.50Ibid, hlm. 48.

  • atau performens lembaga pendidikan akan berakibat sebaliknya,

    menjadi bumerang bagi lembaga itu sendiri. Para pengelola pendidikan

    yang menganut konsep penjualan, hanya mementingkan tugasnya saja.

    Asal tugas sudah dijalankan maka selesailah kewajibannya dan dia

    akan menerima gaji sesuai dengan yang ditetapkan. Karyawan seperti

    ini tidak pernah memikirkan dan tidak peduli apakah layanannya sudah

    baik atau belum, pokoknya tugas selesai.

    d. Konsep marketing (marketing concept)

    Konsep marketing ini menyatakan bahwa produsen jangan

    memperhatikan diri sendiri, jangan melihat selera sendiri, tapi lihatlah,

    carilah apa dan bagaimana selera konsumen. Marketing tidak berarti

    bagaiamana menjual produk agar laris habis, tidak peduli apa yang

    terjadi sesudah itu. Konsep marketing lebih berorientasi jangka

    panjang. Konsep ini lebih menekankan kepada kepuasan konsumen.

    Tujuan marketing ialah bagaimana usaha untuk memuaskan selera,

    memenuhi needs and wants dari konsumen. Istilah needs artinya

    kebutuhan atau rasa kekurangan pada diri seseorang yang harus

    dipenuhi. Sedangkan wants berarti keinginan atau suatu kebutuhan

    yang sudah dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti daya beli,

    pendidikan, agama, keyakinan, famili dan sebagainya. Agar dapat

    memenuhi needs and wants konsumen ini, maka para produsen

    harus mengadakan marketing research.

    Lembaga pendidikan yang menganut konsep marketing ini, tahu

    persis apa yang harus dilakukan, bukan hanya sekedar mengajar siswa

    tiap hari sesuai jadwal kemudian melaksanakan ujian, lulus, habis

    perkara. Tapi harus lebih jauh dari itu. Siswa harus merasa puas dalam

    suasana belajar mengajar, ruang kelas yang bersih, taman yang asri,

    guru-guru yang ramah, perpustakaan, laboratorium, lapangan olah raga

    dan sebagainya harus siap melayani para siswa.

    e. Konsep rensponsibility=Konsep societal=Konsep kemasyarakatan

  • Konsep ini menyatakan bahwa dunia perusahaan harus

    bertanggung jawab pada masyarakat terhadap segala perilaku

    bisnisnya. Perusahaan harus dapat menghasilkan produk yang bisa

    diandalkan, tidak cepat rusak, tidak berbahaya jika digunakan oleh

    konsumen dan turut menjaga kelestarian alam. Dunia bisnis harus

    berhemat dalam menggunakan sumber-sumber alam dan turut

    mengadakan penghijauan.51

    Demikian pula sebuah lembaga pendidikan, harus bertanggung

    jawab terhadap masyarakat luas mulai dari mutu lulusan yang

    dihasilkannya. Jangan sampai lulusan yang dihasilkan malah

    membawa ekses di masyarakat berlagak dengan titel yang ia peroleh.

    Lembaga pendidikan harus bertangguang jawab terhadap uang

    masyarakat yang dipungut dan ia gunakan, sehingga betul-betul

    memberikan hasil maksimal untuk kepentingan masyarakat.

    Premis dari konsep marketing:

    a. Konsumen selalu memilih barang yang dapat memuaskan kebutuhan

    dan keinginan mereka.

    b. Konsumen dapat dikelompokkan berdasarkan needs and wants-nya.

    c. Tugas pengusaha ialah meneliti dan memilih pasar dan

    mengembangkan program pemasaran yang efektif.

    d. Bila konsumen merasa puas, mereka akan mengulangi pembeliannya.52

    2. Fungsi marketing dalam pendidikan

    Untuk membentuk citra baik terhadap lembaga dan dalam menarik

    minat sejumlah calon siswa, maka lembaga pendidikan telah

    menggunakan/mengembangkan berbagai upaya strategi yang dikenal

    dengan strategi bauran pemasaran (strategi marketing mix).

    Dalam gambar berikut dapat dilihat elemen bauran pemasaran yang

    terdiri atas 4 P (Promotion, Place, Price, Product) tradisional ditambah 3

    elemen P lagi yaitu Physical evidence, People dan Process mempengaruhi

    51Ibid, hlm. 49.52Ibid, hlm. 50.

  • calon siswa, sehingga mereka mau mendaftar masuk ke lembaga

    pendidikan tersebut:53

    INPUT PENYUSUNAN DISAIN PENAWARAN JASA

    BALIKAN

    STRATEGI MARKETING MIX PROSES TUJUAN4P + P KE LIMA

    BALIKAN

    Gambar Model Penawaran Jasa Pendidikan.

    Informasi tentang 7 P tersebut akan diperoleh calon siswa dari

    berbagai sumber seperti dari massmedia, orang tua, famili, alimni, guru

    sekolah, siswa yang masih aktif dan sebagainya. Di samping itu ada empat

    53Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, op.cit., hlm. 373.

    LAND

    MAN

    CAPITAL

    MANAGEMEN

    Pengaturan:MnusiaKurikulumFasilitasLearning environmentprogram/jurusanemployment officemapping technique(segmentation)diversivikasi

    TeachingResearchPublic servicesPesta kampusHub. kampus-masyarakatPembinaan alumni

    PRODUCT Layanan akademik Layanan sosio kulturalPROMOTION

    Menggunakan mediacetak dan elektronik

    PLACELokasi

    PRICESPP, sumbanganpembangunan, uangpraktikum, dsb.

    PERSONAL TRAITSUnsur pimpinanlembagapendidikan/yayasan/personil

    Untuk kerja dosenPerkuliahanPenelitianSeminar/workshopGedung-ruangLab/perpustakaanOlah ragaKeagamaanKesenianCafetariaToko, dsb.

    MENINGKATKANMUTU AKADEMIK

    CITRA EKSISTENSILEMBAGAVALUE ADDED

    KEILMUANEKONOMI PRESTISE

    JUMLAHPEMINAT

  • faktor lain yang turut mempengaruhi pilihan siswa yaitu lingkungan sosio

    cultural, dari mana calon siswa berasal, apakah dia cocok bergaul di

    lingkungan lembaga pendidikan yang akan ia masuki. Lingkungan politik

    dan hukum, lingkungan ekonomi dan teknologi, lingkungan kompetitif dan

    lingkungan sumber daya semuanya menjadi bahan pertimbangan calon

    siswa untuk memasuki sebuah lembaga pendidikan.

    P1= Product. Produk yang dihasilkan dan ditawarkan ke konsumen

    haruslah yang berkualitas. Sebab konsumen tidak senang pada

    produk kurang bermutu. Misalnya, di samping produk bidang

    akademik, ialah produk yang membuat layanan pendidikan lebih

    berfariasi seperti kegiatan olah raga, kesenian, keagamaan, kursus-

    kursus dan sebagainya untuk menambah kualitas pendidikan.

    P2= Price. Produsen harus pandai menetapkan kebijaksanaan tinggi atau

    rendahnya harga yang ditetapkan, harus berpedoman pada:

    a. Keadaan atau kualitas barang.

    b. Konsumen yang dituju: berpenghasilan tinggi, sedang/rendah.

    c. Suasana pasar, apakah produknya baru diintroduksi ke pasar atau

    produk menguasai pasar, produk sudah melekat di hati konsumen

    atau banyak saingan.

    P3= Place. Keamanan tempat atau lokasi yang dituju, dalam hal ini perlu

    dipertimbangkan faktor-faktor seperti: akses (kemudahan mencapai

    lokasi), vasibilitas (lembaga tersebut dapat terlihat dengan jelas

    keberadaan fisiknya), lalu lintas, tempat parkir, ekspansi

    (ketersediaan lahan untuk kemungkinan perluasan usaha), persaingan

    (dengan memperhitungkan lokasi pesaing).54

    P4= Promotion, merupakan suatu bentuk komunikasi pemasaran yaitu

    aktifitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi tentang

    keberadaan produk atau jasa, mempengaruhi, membujuk dan atau

    mengingatkan pasar sasaran atas lembaga dan produknya agar

    54Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, op.cit., hlm. 344.

  • bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan

    oleh lembaga. Namun perlu diingat, promosi berlebihan mempunyai

    hubungan korelatif yang negative terhadap daya tarik peminat.

    P5= People, berarti orang yang melayani ataupun yang merencanakan

    pelayanan terhadap para konsumen. Karena sebagian besar jasa

    dilayani oleh orang, maka orang tersebut perlu diseleksi, dilatih,

    dimotivasi, sehingga memberikan kepuasan terhadap pelanggan.

    Setiap karyawan harus berlomba-lomba berbuat kebaikan terhadap

    konsumen dengan sikap perhatian, responsive, inisiatif, kreatif,

    pandai memecahkan masalah, sabar dan ikhlas. Para guru harus

    mempunyai kompetensi pedagogig, kepribadian, professional dan

    kompetensi sosial.55

    P6= Physical Avidence (bukti fisik), merupakan sarana dan prasarana

    yang mendukung proses penyampaian jasa pendidikan sehingga akan

    membantu tercapainya janji lembaga kepada pelanggannya.

    P7= Process, dalam hal ini perlu diperhatikan dan selalu ditingkatkan

    bagaimana proses yang terjadi dalam penyaluran jasa dari produsen

    ke konsumen. Produk utama lembaga pendidikan yang dialami siswa

    misalnya bimbingan, latihan-latihan dan terutama adalah proses

    belajar mengajar, maka kualitas jasa atau pembelajaran harus

    bermutu, guru berpenampilan baik serta menguasai bahan pelajaran.

    Namun secara keseluruhan, proses ini terjadi berkat dukungan dari

    seluruh karyawan dan tim manajemen yang mengatur semua proses

    agar berjalan lancar.56 Kualitas dalam seluruh elemen yang

    menunjang proses pendidikan menjadi hal yang sangat penting untuk

    menentukan keberhasilan proses pembelajaran sekaligus sebagai

    bahan evaluasi terhadap pengelolaan lembaga dalam merekrut

    55Ibid, hlm. 344-345.56Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, op.cit., hlm. 38.

  • pelanggan pendidikan. Jika digambarkan secara sederhana adalah

    sebagai berikut:57

    Gambar Lingkaran Pendidikan.

    Apabila lembaga pendidikan sudah mencoba malaksanakan kegiatan

    marketing yang berorientasi ke konsumen, maka seluruh personil staf baik

    guru maupun tenaga administrasi harus mengahayati apa visi, misi dan

    tujuan mereka, apa bisnis mereka dan menganalisa intra serta ekstra

    kurikuler, fasilitas pendidikan, suasana belajar mengajar dan sebaginya,

    sehingga kegiatan mereka selalu terpusat kepada perbaikan mutu

    pelayanan.

    Dengan melaksanakan kegiatan marketing akan dapat membantu

    lembaga pendidikan mengahadapi masa depan yang lebih baik. Ada dua

    usaha yang hendak dicapai oleh organisasi non profit dalam kegiatan

    marketingnya, yaitu mencari konsumen dan mencari donatur. Namun kita

    lihat organisasi non profit seperti lembaga keagamaan, kesehatan, lembaga

    57Yoyon Bahtiar Irianto dan Eka Prihati, op.cit., hlm. 346.

    Pelangganpendidikan

    Tujuan

    Produk PT

    Place

    Promotion

    Price

    People

    Physicalevidence

    Citra PT

    Process

    Penyerapanpasar kerja

  • pendidikan, tidak senang menggunakan istilah konsumen. Mereka

    menggunakan istilah spesifik yang sesuai dengan kegiatannya seperti

    jamaah, anggota, pasien, para pendengar, siswa dan sebagainya.

    Organisasi non profir ini mencoba membangkitkan image positif dari

    anggotanya terhadap lembaga.58

    3. Citra (image) terhadap lembaga

    Konsumen membeli sesuatu bukan hanya sekedar membutuhkan

    barang itu, tetapi ada sesuatu yang lain yang diharapkannya. Sesuatu yang

    lain itu sesuai dengan citra yang terbentuk dalam dirinya. Oleh sebab itu,

    penting sekali organisasi memberi informasi kepada publik agar dapat

    membentuk citra yang baik sebagai salah satu strategi pemasarannya.

    Citra adalah impresi, perasaan atau konsepsi yang ada pada publik

    mengenai perusahaan, suatu objek, orang atau mengenai lembaga.59 Citra

    adalah kesan yang diperoleh sesuai dengan pengetahuan pemahaman

    seseorang tentang sesuatu. Citra terbentuk dari bagaimana perusahaan

    melakukan kegiatan operasionalnya, yang mempunyai landasan utama

    pada segi layanan. Citra yang baik dari suatu organisasi akan mempunyai

    dampak yang menguntungkan, sedangkan citra yang jelek akan merugikan

    organisai.60

    Mirror Image. Suatu lembaga pendidikan harus mampu melihat

    sendiri bagaimana image yang mereka tampilkan dalam melayani

    publiknya. Lembaga harus dapat mengevaluasi peampilan mereka apakah

    sudah maksimal dalam memberi layanan atau masih dapat ditingkatkan

    lagi. Ini disebut mirror image.

    Multiple Image. Ada kalanya anggota masyarakat memiliki berbagai

    image terhadap perusahaan atau lembaga pendidikan misalnya sudah ada

    yang merasa puas, bagus, dan ada yang masih banyak kekurangan dan

    58Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, op.cit., hlm. 374.59Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, op.cit., 92.60Sutisna, Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran, (Bandung: PT Remaja

    Rosdakarya Offset, 2003), Cet. 3, hlm. 331.

  • perlu diperbaiki. Ada yang merasa puas untuk sebagian layanan, dan tidak

    merasa puas dengan beberapa sektor yang lain. Ini adalah multiple image.

    Current Image yaitu bagaimana citra terhadap lembaga pendidikan

    pada umumnya. Current image perlu diketahui oleh seluruh karyawan

    lembaga pendidikan sehingga di mana ada kemungkinan image umum ini

    dapat diperbaiki.61

    Image akan diperhatikan publik dari waktu kewaktu dan akhirnya

    akan membentuk suatu pandangan positif yang akan dikomunikasikan dari

    satu mulut ke mulut yang lain. Dalam kesibukan kita sehari-hari jangan

    melupakan keadaan fisik, keterampilan, fasilitas, kantor, karyawan, dan

    yang melayani publik harus selalu dalam garis dengan satu tujuan

    memuaskan konsumen. Katakan pada mereka apa yang kita perbuat untuk

    menjaga agar mereka selalu puas, dan tanyakan lagi apa yang mereka

    inginkan agar dapat diperbaiki dimasa yang akan datang.

    Citra merupakan realitas, oleh karena itu jika komunikasi pasar tidak

    cocok dengan realitas, ketidakpuasan akan muncul dan akhirnya konsumen

    mempunyai persepsi yang buruk terhadap citra organisai.62

    Masalah image ini mungkin saja berbeda pada seseorang, karena apa

    yang dialaminya tidak sesuai dengan apa yang dialami oleh orang lain. Di

    sinilah perlunya organisasi harus setiap saat memberi informasi tentang

    image positif yang diperlukan oleh publik dan mampu menarik

    perhatiannya. Sehingga masyarakat dapat membuat keputusan untuk

    mendaftarkan putra-putri mereka masuk ke lembaga tersebut. Pemupukan

    image ini tidak hanya dalam waktu singkat, sebab publik sifatnya sangat

    sensitive dan kritis. Biasanya image negative dapat terbentuk dalam waktu

    singkat, tetapi image positif terbentuk dalam jangka waktu lama.

    Banyak komponen yang akhirnya dapat membentuk image antara

    lain: reputasi atau mutu akademik dari sebuah lembaga, penampilan

    61Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, op.cit., hlm. 92-93.62Sutisna, op.cit., hlm. 334.

  • kampus, biaya, lokasi, jarak dari rumah tempat tinggal, kemungkinan karir

    masa depan, kegiatan social dari lembaga dan sebagainya.

    4. Variabel yang menimbulkan citra

    a. Aspek mutu akademik

    Lembaga pendidikan harus melakukan total quality management

    (TQM). Karena semua organisasi yang ingin mempertahankan

    keberhasilannya harus berobsesi pada mutu.63 Mutu harus sesuai

    dengan persyaratan yang diinginkan pelanggan. Kotler

    mengungkapkan total quality management adalah suatu pendekatan

    perusahaan secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas produk,

    mulai dari proses pembuatan, hasil jadi, pengiriman, pelayanan yang

    terus menerus.64 Intinya adalah perbaikan mutu terus menerus dalam

    segala kegiatan perusahaan, sehingga muncul kualitas yang makin

    lama makin baik.

    Secara konseptual mutu akademik adalah muara dari mutu

    proses pendidikan manusia, alat, kurikulum dan fasilitas yang

    tercermin pada mutu mengajar guru, mutu bahan pelajaran dan mutu

    hasil belajar, sehingga akhirnya membentuk seperangkat kemampuan.

    Mutu akademik dapat dilihat dari sudut kuantitatif dan sudut

    kualitatif. Dari sudut kuantitatif orang melihatnya dari sisi indeks

    prestasi hasil belajar, jumlah lulusan, banyaknya siswa diterima di

    lembaga pendidikan lanjutan atau yang diterima bekerja pada

    instansi/perusahaan, banyak alumni yang menjadi pejabat dan

    sebagaianya. Sedangkan mutu akademik secara kualitatif memiliki

    indikator seperti berikut:

    1) Kemampuan mengidentifikasi sesuatu secara jelas. Ini merupakan

    karakteristik berpikir tamatan lembaganya.

    63Husaini Usman, Manajemen (Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan), (Jakarta: PT. BumiAksara, 2006), hlm. 460.

    64Buchari Alma, Pemasaran Stratejik Jasa Pendidikan, op.cit., hlm. 36.

  • 2) Siswa memiliki kemampuan dalam eksplanasi, yang diartikan

    mampu berargumentasi menerangkan apa yang ada di pikirannya

    dengan bahasa dan terminology yang tepat kepada orang lain.

    3) Kemampuan memprediksi atau meramal.

    4) Kemampuan mengawasi.65

    b. Guru/Dosen

    Siswa mempunyai pandangan tentang guru yang baik adalah

    memiliki kompetensi keilmuan, penguasaan metode mengajar,

    pengendalian emosi dan disiplin. Guru harus memiliki kompetensi

    pedagogik, professional, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial

    dan segi mentalitas yang baik. Jika kompetensi guru ini ditampilkan

    secara baik, maka guru akan menjadi idola bagi siswa, teman

    sejawatnya dan masyarakat.66

    c. Perpustakaan

    Perpustakaan adalah unsur penting dalam pengembangan ilmu

    dan pengembangan lembaga pendidikan. Maka hal yang perlu

    diperhatikan antara lain: banyaknya buku dan judul buku yang ada di

    perpustakaan, adanya perhatian anggaran belanja yang dialokasikan

    untuk kebutuhan perpustakaan, luas perpustakaan dan sebagainya.

    d. Teknologi pendidikan

    Alat bantu berupa teknologi pendidikan sangat besar artinya bagi

    pengembangan ilmu, terutama dalam proses kegiatan mengajar. Hal ini

    dalam rangka mempertinggi pelayanan akademis untuk para siswa.

    e. Biro konsultan

    Biro konsultan ini bertugas memberikan pelayanan kepada

    masyarakat dalam bentuk layanan konsultasi, penyuluhan dan

    bimbingan lainya.

    65Ibid, hlm. 127.66Ibid, hlm. 110.

  • f. Kegiatan olah raga

    Lembaga dapat mengadakan pertandingan-pertandingan olah

    raga dalam bentuk perlombaan maupun persahabatan, baik

    dilaksanakan di dalam maupun di luar kampus, sehingga dapat

    menarik perhatian yang baik dari masyarakat.

    g. Kegiatan marching band dan tim kesenian

    Kegiatan marching band dan kesenian yang ditampilkan oleh

    lembaga pendidikan pada suatu acara resmi seperti pada perayaan

    17sAgustus di kota yang bersangkutan, hari ulang tahun lembaga, hari

    wisuda dan perayaan lainnya, akan memperoleh keuntungan promosi

    yang luar biasa. Apalagi jika diikutkan dalam perlombaan dan

    mendapakan juara.

    Lembaga pendidikan yang memiliki manajemen baik, akan

    mengarahkan perhatiannya lebih untuk membina kegiatan ini, karena

    ini membuka peluang untuk lebih dikenal oleh masyarakat dan

    pemerintah. Tetapi lembaga harus berhati-hati menjaga penampilan

    timnya agar tidak mengecewakan penonton, sebab akan membawa

    akibat negative terhadap lembaga, yang dianggap mencerminkan

    ketidakberesan manajemen intern. Oleh sebab itu dalam setiap

    penampilan harus betul-betul disiapkan secara professional.

    h. Kegiatan keagamaam

    Kegiatan ini bukan hanya ditandai oleh adanya bangunan fisik

    keagamaan, tetapi yang lebih penting adalah kegiatan rutinitas yang

    dilaksanakan di dalamnya maupun dalam peringatan hari-hari besar

    dengan mengundang masyarakat sekitar dan kadang-kadang

    dipublikasikan di massmedia. Para orang tua siswa dan masyarakat

    akan sangat terkesan dengan kegiatan seperti ini, karena kaum intelek

    atau calon intelek betul melaksanakan ajaran agama sehingga kelak

    ketika terjun ke masyarakat akan tetap membawa almamater baiknya

    dan juga akan membina masyarakat dari segi agama yang dianutnya.

    i. Kunjungan orang tua ke kampus

  • Kegiatan semacam ini perlu dilembagakan, diprogram dengan

    baik, undangan berkunjung ke kampus diadakan secara teratur dan

    tertib, jika perlu para orang tua disuguhi acara-acara khusus. Pada

    acara berkunjung tersebut para orang tua siswa diberi kesempatan

    bertanya dan melihat-lihat suasana kampus, seperti ruang kelas,

    laboratorium, perpustakaan, teknologi pendidikan, sarana olah raga

    dan sebagainya.

    j. Membantu kemudahan mendapat dan mengurus pekerjaan atau cara

    melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi

    Salah satu hal yang membingungkan siswa setelah lulus ialah

    bagaimana cara mencari kerja atau meneruskan ke jenjang pendidikan

    yang lebih tinggi. Sekurang-kurangnya para siswa diberikant informasi

    tentang cara-cara dari hal tersebut. Fasilitas semacam ini sangat besar

    artinya bagi para siswa yang baru lulus, karena mereka memang belum

    mengetahui tentang hal ini.

    k. Penerbitan kampus

    Media seperti penerbitan kampus, jurnal, bulletin, majalah

    ilmiah, humor, sketsa dan lain-lain, di samping sebagai sarana belajar

    menulis bagi bagi para siswa yang berbakat, ini juga dapat digunakan

    sebagai alat komunikasi atau hubungan dengan dunia luar shingga

    akan terjalin kerjasama yang akrab.

    l. Alumni

    Adanya persatuan alumni dari suatu lembaga pendidikan

    merupakan kebanggaan tersendiri bagi para anggotanya. Dengan

    adanya organisai tersebut mereka dapat saling tukar informasi dan

    menceritakan nostalgia masing-masing. Almamater yang selalu

    mengadakan kontak dengan persatuan alumninya akan memperoleh

    banyak keuntungan, karena dapat saling mengadakan tukar informasi

    dan sebagai jalur peningkatan nama baik lembaga asalnya tersebut.

    Organisasi alumni dapat melakukan kegiatan membantu dalam

    merekrut calon siswa, pengumpulan dana untuk membantu salah satu

  • proyek di almamaternya ataupun mengadakan kerja bakti sosial untuk

    masyarakat sekitar dengan membawa dan mengagungkan nama

    lembaga pendidikan asalnya tersebut. Dan masih banyak lagi kegiatan

    yang dapat dilakukan, misalnya mengadakan seminar, symposium,

    tukar pengalaman melalui forum diskusi, membuat majalah atau

    bulletin antar alumni, mengadakan publicity dan sebagainya. Organisai

    alumni akan sangat merasa dihargai jika selalu ada perhatian atau

    kontak dari pimpinan lembaga dan seringkali diundang serta dimintai

    pandangan mereka dalam hal-hal tertentu.67

    C. Manajemen Pemasaran Pendidikan

    Manajemen pemasaran pendidikan berasal dari istilah: manajemen dan

    pemasaran pendidikan, ini merupakan dua ilmu yang kemudian dipadukan

    dalam satu kegiatan. Artinya, fungsi-fungsi yang ada dalam kedua ilmu

    tersebut digabung dalam satu bentuk kerja sama.

    Sebagaimana dijelaskan di awal, manajemen merupakan sebuah proses

    yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan

    secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui

    pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya. Menurut

    George R. Terry sebagaimana yang dikutip Mulyono, terdapat 4 fungsi

    manajemen yang dikenal sebagai POAC, yaitu: planning (perencanaan),

    organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan/ pengarahan) dan

    controlling (pengendalian).68

    Sedangkan pemasaran pendidikan ialah menawarkan mutu layanan

    intelektual dan pembentukan watak secara menyeluruh.

    Jadi, manajemen pemasaran pendidikan dapat diartikan sebagai proses

    perencanaan, pengorganisasian, penggerakan/pengarahan dan pengendalian

    (dalam segala kegiatan pemasaran pendidikan) secara efektif dan efisien untuk

    menawarkan mutu layanan intelektual dan pembentukan watak siswa secara

    67Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, hlm. 377-382.68Mulyono, Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz

    Media, 2008), Cet. I, hlm. 22-23.

  • menyeluruh, melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber

    lainnya dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

    Fokus dari penerapan pemasaran ini adalah bagaimana mendekatkan

    pelayanan sesuai dengan keinginan dan kepuasan siswa, yang tentunya hal

    tersebut harus didukung dengan peran para tenaga ahli di bidangnya, sumber

    daya dan fasilitas yang memadai, serta selalu meningkatkan mutu lulusan.

    1. Planning (perencanaan)

    Perencanaan ialah kegiatan yang akan dilakukan dimasa yang akan

    datang untuk mencapai tujuan.69 Menurut Koontz-ODonell, dalam

    Principles of Management, planning is the most basic of all management

    functions since it involves selection from among alternative courses of

    action.70 (Perencanaan adalah fungsi manajemen yang paling dasar karena

    manajemen meliputi penyeleksian di antara bagian pilihan dari tindakan).

    Perencanaan dalam pemasaran pendidikan bertujuan untuk

    mengurangi atau mengimbangi ketidakpastian dan perubahan yang akan

    datang, memusatkan perhatian kepada sasaran, menjamin atau

    mendapatkan proses pencapaian tujuan terlaksana secara efisien dan

    efektif, serta memudahkan pengendalian.

    Islam memperingatkan manusia untuk membuat perencanaan dalam

    menetapkan masa depan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S.

    Al-Hasyr, ayat 18:

    $pk r' t % !$#(#q ZtB#u(#q )?$#!$# ZtF9urtR$BMtBs%7t9((#q )?$#ur!$#4

    b )!$#77 yz$yJ /tbq =yJ s?

    Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiapdiri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)

    69Husaini Usman, Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2006), Cet. 1, hlm. 61.

    70Koontz-ODonnell, Principles of Management: An Analysis of Managerial Functions,(Kogakusha: McGraw Hill), hlm. 111.

  • dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apayang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18). 71

    Maka, perencanaan dalam pemasaran pendidikan adalah sebagai

    patokan dalam kegiatan pemasaran yang akan dilaksanakan agar efektif

    dan efisien. Planning ini dibuat berdasarkan data yang ada di perusahaan.

    Misalnya planning daerah pemasaran, planning tentang harga, planning

    strategi yang akan digunakan dalam memasuki pasar, teknik promosi yang

    akan digunakan, dan sebagainya.72

    Dalam tahap ini harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

    a. Identifikasi pasar

    Tahapan pertama adalah mengidentifikasi dan menganalisis

    pasar. Dalam tahapan ini perlu dilakukan suatu penelitian atau riset

    pasar untuk mengetahui kondisi dan ekspektasi pasar termasuk atribut-

    atribut pendidikan yang menjadi kepentingan konsumen pendidikan.

    Termasuk dalam tahapan ini adalah pemetan dari sekolah lain. Ini

    harus diawali dari perencanaan setrategis yang lebih dulu menetapkan

    visi, misi dan tujuan lembaga.

    b. Segmentasi pasar dan positioning

    Segmentasi pasar adalah strategi yang dirancang untuk

    mengalokasikan sumber daya pemasaran kepada segmen yang telah

    didefinisikan. Ini adalah upaya membedakan konsumen.

    Sedangkankan positioning adalah strategi yang dirancang untuk

    mengkomunikasikan manfaat produk untuk memenuhi kebutuhan

    konsumen. Ini merupakan usaha untuk membedakan produk kita

    dengan produk lain.73

    Dalam pasar yang sangat beragam karakternya, perlu ditentukan

    atribut-atribut apa yang menjadi kepentingan utama bagi pengguna

    pedidikan. Secara umum pasar dapat dipilah berdasarkan karakteristik

    71Departemen Agama, Al-Qur an dan Terjemahannya, (Semarang