108
i MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN “RESIKO DAN KETIDAKPASTIAN PADA USAHATANI GUREM” Disusun Oleh : Kelompok 4 : Bilal Anom Anbiyaksa H0818016 Isti Ayuning Rahmawati H0818047 Muhimmatun Nisak H0818069 Rahmalia Kartika K H0818085 Sabila Rahmatami P H0818091 Taufiq Randi Ismail H0818097 Yoga Aji Pradana H0818109 Kelas : Ekonomi Produksi Pertanian B PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2020

MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

  • Upload
    others

  • View
    37

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

i

MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

“RESIKO DAN KETIDAKPASTIAN PADA USAHATANI GUREM”

Disusun Oleh :

Kelompok 4 :

Bilal Anom Anbiyaksa H0818016

Isti Ayuning Rahmawati H0818047

Muhimmatun Nisak H0818069

Rahmalia Kartika K H0818085

Sabila Rahmatami P H0818091

Taufiq Randi Ismail H0818097

Yoga Aji Pradana H0818109

Kelas : Ekonomi Produksi Pertanian B

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2020

Page 2: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberi karunia, rahmat dan

kasih sayang-Nya. Atas kehendak-Nya pula penulis dapat menyelesaikan Makalah

Ekonomi Produksi Pertanian dengan Judul “Skala Usaha dan Produktivitas Faktor

Produksi Petani Gurem” sebagai tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya

Pertanian semester IV. Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi

Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di hari akhir kelak.

Pada penyusunan makalah ini, penulis didukung oleh bantuan bimbingan,

dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terimakasih

kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan karunia-Nya sehingga

penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar.

2. Dosen Pengampu yang telah membimbing penulis dalam pembelajaran mata

kuliah Ekonomi Produksi Pertanian.

3. Orang tua penulis yang senantiasa memberi dukungan dan semangat sehingga

penulis mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik.

4. Teman seperjuangan dan semua pihak yang memberi dukungan dan bantuan

penulis dalam menyusun makalah ini.

Penulis sadar, dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak

kekurangan.Oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari

pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan makalah ini.

Surakarta, Mei 2020

Penulis

Page 3: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI..................................................................................................... iii

I. PENDAHULUAN ............................................................................................. A. Latar Belakang ............................................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2

C. Tujuan Masalah ........................................................................................... 2

II. PEMBAHASAN ............................................................................................... A. Risiko Petani Gurem pada Usahatani Padi ................................................. 3

B. Pengaruh Penggunaan Input Produksi Terhadap Risiko Usahatani Padi .... 7

C. Upaya Meminimalisir Risiko Produksi Usahatani Padi............................ 11

III. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................... A. Kesimpulan ............................................................................................. 14

B. Saran ..................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA

Page 4: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam praktek usahatani, walaupun telah memiliki pengalaman

panjang dalam berusahatani untuk komoditas pertanian, namun petani tidak

selalu dapat mencapai tingkat efisiensi dan produktivitas seperti yang

diharapkan. Walaupun mempergunakan paket teknologi yang sama, pada

musim yang sama dan di lahan yang sama sekalipun, keragaman selalu

muncul. Hal ini disebabkan oleh hasil yang dicapai pada dasarnya merupakan

resultan bekerjanya demikian banyak faktor, baik yang yang dapat

dikendalikan (internal) maupun faktor yang tidak dapat dikendalikannya

(eksternal), serta faktor yang mempengaruhi intensitas input dan harga

relatifnya.

Risiko usahatani padi yang utama antara lain frekuensi banjir,

kekeringan dan serangan hama penyakit yang saat ini menjadi masalah yang

semakin kompleks dalam situasi perubahan iklim yang sulit diprediksi karena

kebutuhan untuk tetap menyediakan beras dengan jumlah yang cukup untuk

dikonsumsi masyarakat Sebagian besar dari petani padi sawah sebagian besar

termasuk dalam dalam kategori petani subsisten, karena kegiatan usahatani

yang dilakukan bukan hanya untuk tujuan komersialisasi tetapi juga untuk

memenuhi kebutuhan pangan rumahtangganya. Kehidupan petani di pedesaan

cukup dekat dengan batas subsisten dan selalu mengalami ketidakpastian

cuaca, sehingga petani tidak mempunyai kesempatan untuk menerapkan

perhitungan keuntungan maksimum dalam berusahatani. Petani akan

berusaha menghindari kegagalan dan bukan memperoleh keuntungan yang

besar dengan mengambil risiko.

Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh petani seperti tersebut

diatas menjadi kendala bagi mereka untuk meningkatkan produksi,

pendapatan dan mewujudkan ketahanan pangan rumahtangganya.

Permasalahan-permasalahan tersebut merupakan risiko yang harus dihadapi

oleh petani dalam melakukan aktivitas usahataninya. istilah risiko lebih

Page 5: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

2

banyak digunakan dalam konteks pengambilan keputusan, karena risiko

diartikan sebagai peluang akan terjadinya suatu kejadian buruk akibat suatu

tindakan. Makin tinggi tingkat ketidakpastian suatu kejadian, makin tinggi

pula risiko yang disebabkan oleh pengambilan keputusan itu. Dengan

demikian, identifikasi sumber risiko sangat penting dalam proses

pengambilan keputusan.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa saja resiko petani gurem pada usahatani padi ?

2. Apa pengaruh penggunaan input produksi terhadap resiko produksi

usahatani padi ?

3. Bagaimana upaya meminimalisir resiko produksi usahatani padi ?

C. Tujuan Pembahasan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui apa saja resiko petani gurem apda usahatani padi.

2. Mengetahui pengaruh penggunaan input produksi terhadap resiko

produksi usahatani padi.

3. Mengetahui upaya meminimalisir resiko produksi usahatani padi.

Page 6: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

3

II. PEMBAHASAN

A. Risiko Petani Gurem Pada Usahatani Padi

Usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara petani

mengelola faktor produksi (tanah, tenaga kerja, teknologi, pupuk, benih,

pestisida) dengan efektif, efisien dan berkelanjutan untuk menghasilkan

produk tinggi sehingga pendapatan usaha meningkat. Bentuk usaha tani

juga bermacam-macam bisa usahatani perusahaan maupun usahatani

rumah tangga yang biasa disebut gurem. Secara umum umur kepala

keluarga petani padi sawah atau gurem rata-rata 49 tahun. Rata-rata

tingkat pendidikan petani umumnya tidak tamat SMP. Dengan tingkat

pendidikan yang rata-rata tidak tamat SMP, dapat dipahami bahwa

pekerjaan di sector pertanian bukanlah pekerjaan yang membutuhkan

tingkat keahlian/ketrampilan khusus, selain itu petani gurem biasanya

terbatas dalam kenadla-kendala seperti modal dan luas lahan.

Dalam setiap usahatani selalu ada risiko yang akan didapatkan.

Risiko merupakan ketidakpastian dan dapat menimbulkan terjadinya

peluang kerugian terhadap pengambilan keputusan. Pengambilan

keputusan oleh pelaku usahatani bisa bermacam-macam tergantung situasi

dan kondisi usahatani tersebut. Namun, yang pasti setiap usaha terdapat

resiko yang kapan pun bisa menyerang. Berikut merupakan macam-

macam resiko yang dialami oleh petani gurem :

1. Resiko Produksi

Pertanian sangat bergantung pada kondisi alam, jika tanaman

ditanam pada musim yang cocok maka akan diperoleh hasil maksimal.

Ketika kondisi alam mendukung maka hasil panen sesuai dengan yang

diharapkan. Pada musim kemarau, sering kali pasokan air berkurang

sehingga kebutuhan untuk tanaman semakin berkurang juga. Hal ini

menyebabkan lahan sawah kekeringan. Lahan yang kering dapat

mengakibatkan datangnya hama tikus. Tikus merusak tanaman dengan

Page 7: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

4

mengerat batang dan memakan biji padi hingga habis. Sedangkan di

musim penghujan pasokan air berlimpah. Lahan mendapat aliran air

dari sumber air dan hujan. Hal ini mengakibatkan lahan sawah

tergenang air dan tanaman dapat roboh. Hama pemyakit yang datang

pada musim penghujan di antaranya wereng, penggerek batang dan

blas. Sumber OPT dari musim sebelumnya berkembang dengan

intensitas tinggi. Hal ini diduga karena terjadi anomali iklim yang

ditunjukkan dengan musim kemarau basah. Dengan kondisi cuaca

yang sudah tidak normal, akan secara langsung berdampak pada

perubahan perilaku organisme yang berkembang di tanaman padi.

Selain bergantung pada musim, resiko timbul pada saat

operasional usaha tani tersebut. Status risiko operasional bisa

mempunyai dampak besar yang disebabkan oleh sistem budidaya yang

tidak efektif. Resiko operasional antara lain

a. Penyediaan bibit disebabkan karena rendahnya peluang dan

dampak kejadian kelangkaan bibit, bibit rusak di penyimpanan,

dan kualitas bibit rendah

b. Penyediaan pupuk, disebabkan oleh rendahnya peluang dan

dampak dari kelangkaan pupuk,kemahalan harga pupuk, pupuk

rusak, dan pupuk terembes air hujan.

c. Penyediaan pestisida disebabkan oleh rendahnya peluang dan

dampak kejadian kelangkaan pestisida, kemahalan pestisida

ditandai dengan harga pestisida berada di atas harga yang umum

dibeli petani, dan pestisida.

d. Penyewaan alat dan mesin, disebabkan oleh rendahnya

kemungkinan dan dampak dari kejadian kemahalan sewa alat dan

mesin, kerusakan alat dan mesin sebelum disewa, dan kelangkaan

bahan bakar.

e. Pertumbuhan bibit, disebabkan oleh rendahnya kemungkinan dan

dampak dari kejadian daya tumbuh rendah, kekurangan air,

kebanjiran, dan kekurangan bibit.

Page 8: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

5

2. Resiko Harga

Produk pertanian merupakan salah satu contoh produk yang

mempunyai harga yang tidak menentu dan sangat fluktuatif. Berbeda

dengan produk elektronik atau yang lain yang harganya cenderung

konstan. Produk pertanian bisa mecapai harga yang sangat mencekik

atau sangat tinggi, dan sebaliknya produk pertanian juga bisa dihargai

sangat rendah. Hal itu disebabkan oleh permintaan dan kelangkaan

dari produk pertanian itu sendiri.

Ketika persediaan melimpah maka harga beras akan turun dan

sebaliknya saat langka harga akan naik. Begitu juga halnya dengan

musim yang ekstrim. Pada puncak kemarau harga beras dapat

mencapai puncak, sedankan pada musim penghujan harga cenderung

turun.

Pada saat terjadi kelangkaan beras, harga akan cenderung

tinggi dan ini justru akan mengakibatkan beras tidak laku karena

pembeli tidak dapat membeli dengan harga yang tinggi. Pada saat

harga beras murah, petani akan cenderung menimbun beras. Petani

tidak akan menjual hasilnya karena dianggap rugi.

3. Resiko Sosial dan Hukum

Resiko sosial dan hukum merupakan faktor luar yang

berpengaruh besar terhadap keberlangsungan sistem usahtani padi

sawah. Risiko ini berasal dari luar sistem usahatani padi sawah tetapi

memiliki pengaruh kerugian terhadap pendapatan usahatani padi

sawah. Resiko ini merupakan campurtangan dari pihak luar atau pihak

pemerintah.pihak pemerintah disini berperan dalam kebijakan-

kebijakan yang berkaitan dengan usahatani ini.

Salah satu contoh kebjakan pemerintah yaitu terkait dengan

subsidi saprodi. Karena keterbatasan pemerintah dalam menyediakan

subsidi pupuk, maka pupuk bersubsidi hanya diperuntukkan bagi

Petani Tanaman Pangan, Peternakan dan Perkebunan Rakyat. Dan

untuk menjamin pengadaan dan mencegah terjadinya penyimpangan,

Page 9: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

6

maka ditetapkan penyaluran pupuk bersubsidi. Subsidi pupuk

diberikan tiga kali dalam setahun sesuai dengan jadwal tanam.

Sedangkan untuk benih tidak ada kepastian pemberian subsidi.

Ketidakpastian ini mengakibatkan ketidakpastian pengeluaran petani.

4. Resiko Teknologi

Teknologi pertanian berpengaruh besar pada kualitas dan

kuantitas produksi tanaman. Namun perlu diperhitungkan manfaatnya,

efektif dan efisien atau tidak di semua daerah, dapat digunakan oleh

semua petani atau tidak, berlangsung dalam jangka yang lama atau

tidak dan sulit atau tidaknya masyarakat dalam mengambil keputusan

dalam mengadopsi teknologi baru. Berikut merupakan beberapa

contoh resiko teknologi antara lain :

a. Penggunaan alat dan mesin, disebabkan oleh keterbatasan alat

petani, keterbatasan mesin, dan kelangkaan modal pengadaan

alat dan sehingga menyebabkan pengelolaan usahatani padi

sawah menjadi terhambat.

b. Kerusakan alat dan mesin penyiapan dan pengolahan lahan,

disebabkan oleh tingginya kemungkinan dan dampak dari

kejadian alat dan mesin kurang terawat, metode penggunaan alat

dan mesin yang melebihi kapasitas dan keterbatasan modal

untuk perbaikan alat dan mesin.

c. Kerusakan alat dan mesin panen, disebabkan oleh kurangnya

perawatan alat dan mesin, penggunaan alat dan mesin diluar

kapasitas, dan keterbatasan modal untuk perbaikan alat dan

mesin panen.

d. Metode panen, disebabkan oleh rendahnya kejadian penggunaan

teknologi sederhana dan metode panen yang kurang efisien

sehingga menyebabkan masih banyaknya bulir padi yang

terhambur di atas tanah.

e. Metode tanam, disebabkan oleh tingginya kemungkinan dan

kecilnya dampak dari kejadian penggunaan sistem tanam yang

Page 10: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

7

tidak efektif dan pematang rusak yang mengakibatkan keluarnya

air dari lahan.

f. Metode pemupukan, disebabkan oleh tingginya kemungkinan

dan kecilnya dampak dari kejadian pemupukan tidak merata dan

pertumbuhan tanaman tidak merata sehingga menyebabkan

produksi padi menurun.

g. Metode pengolahan lahan, disebabkan oleh rendahnya

kemungkinan dan dampak dari pembalikan lahan yang sulit

danlahan terlalu kering. 3) Metode pengendalian hama dan

penyakit, disebabkan oleh rendahnya kemungkinan dan dampak

dari kejadian penyemprotan tidak merata dan serangan hama

dan penyakit

B. Pengaruh Penggunaan Input Produksi Terhadap Resiko Produksi

Usahatani Padi

1. Rata-rata penggunaan input produksi

Penggunaan input pupuk masih belum sesuai anjuran

rekomendasi karena keterbatasan jumlah dan keterlambatan waktu

penggunaan pupuk oleh petani. Studi kasus di provinsi Bali menyatakan

bahwa pada penggunaan benih, umumya petani menyemai benih lebih

banyak daripada yang sesungguhnya ditanam. Rata-rata penggunaan

benih per hektar mencapai 29,95 kg/ha. Hal ini untuk mengantisipasi

kekurangan dan juga dimaksudkan untuk mengantisipasi kebutuhan

bibit untuk penyulaman. Jika bibit yang mereka semai sendiri tidak

cukup maka petani tersebut biasanya membeli atau meminjam bibit dari

petani lainnya. Hal ini sama dengan penggunaan benih produksi di

Kabupaten Bungo Provinsi Jambi yang masih tergolong tinggi.

Penggunaan benih sebanyak18,3kg/ha sedangkan jumlah anjuran

sebanyak 15 – 20 kg/ha.

Untuk penggunaan pupuk organik, kebanyakan menggunakan

Urea, SP 36, KCL, Za dan NPK. Penggunaan pupuk organik pada

Page 11: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

8

usahatani padi sawah masih relatif rendah sekali yaitu rata-rata 195,74

kg per hektar. Penggunaan pestisida ditingkat petani sangat bervariasi,

rata-rata penggunaan pestisida oleh petani sebanyak 541,65 ml per

hektar. Berdasarkan penelitian di Kabupaten Bungo penggunaan pupuk

urea masih tergolong rendah, yaitu 120,4kg/ha, sedangkan penggunaan

yang optimal sekitar 275-300kg/ha. Penggunaan pupuk sp36 sudah

sesuai anjuran, yaitu 75-100kg/ha. Penggunaan KCL juga masih

tergolong rendah, yaitu 32,5kg/ha, sedangkan penggunaan yang optimal

adalah 60kg/ha. Penggunaan pupuk organic juga tidak sesuai dengan

anjuran, yaitu hanya 850kg/ha, padahal seharusnya 2000kg/ha. Insekta

cair juga tergolong rendah yaitu 625ml/ha, sedangkan optimal nya

adalah 650ml/ha.

2. Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Sawah

Sesuai konsep fungsi produksi Cobb-Douglass yang menerangkan

bahwa analisis fungsi produksi bertujuan untuk mengetahui bagaimana

pengaruh penggunaan input terhadap output, bagaimana respon

produksi (output) terhadap penggunaan faktor produksi (input). Nilai

Adj. R2 = 0,9355, berarti 93,55 % variasi produksi mampu dijelaskan

secara bersama-sama oleh variabel luas lahan, benih, pupuk urea, SP36,

KCl, pupuk organik, insektisida, tenaga kerja dan sedangkan sisanya

6,45 % dipengaruhi oleh faktor lain diluar model. Input produksi yang

berpengaruh nyata terhadap produksi adalah benih, urea, SP36, pupuk

organik, luas lahan.

Hasil analisis diperoleh Fstatistic sebesar 96,42 dengan probabilitas

0,0000. Nilai prob, 0,000 < α (0,01) menunjukkan hasil yang berbeda

sangat nyata, artinya variabel bebas yang terdapat dalam model secara

bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap produksi padi . Nilai

∑βi = 2,5538> 1; berada pada daerah II kurva produksi, atau daerah

Increasing Return to Scale. Hal ini berarti setiap penambahan input

produksi dalam proporsi yang sama akan menghasilkan output yang

semakin bertambah (IRTS).

Page 12: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

9

3. Pendugaan Fungsi Produktivitas Usahatani Padi

a. Masa Tanam 1 (Increasing Return to Scale)

Variabel-variabel yang berpengaruh nyata terhadap

produksitivitas pada taraf α = 0,05 adalah benih, pupuk urea, pupuk

SP36, pupuk organik dan insektisida cair Sedangkan pupuk KCL

dan tenaga kerja berpengaruh tidak nyata terhadap produktivitas.

b. Masa Tanam 2 (Increasing Return to Scale)

Variabel-variabel yang berpengaruh nyata terhadap

produksitivitas pada taraf α = 0,05 adalah benih, pupuk urea, pupuk

SP36, pupuk organik dan insektisida cair. Sedangkan pupuk KCL

dan tenaga kerja berpengaruh tidak nyata terhadap produktivitas

4. Efisiensi Teknis Usahatani

Efisiensi teknis usahatani padi pada rata-ratanya di lokasi

penelitian relatif tinggi (80 persen). Tingkat pendidikan, pengalaman

bertani padi, dan jumlah anggota keluarga tidak mempunyai hubungan

efisiensi teknis produksi padi. Tingkat pendapatan dan curahan tenaga

kerja rumah tangga pada kegiatan usaha luar pertanian berhubungan

positif dengan efisiensi teknis produksi yang berarti semakin tinggi

tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja rumah tangga pada

kegiatan usaha luar pertanian, maka semakin tinggi efisiensi teknis

produksi. lmplikasinya adalah bahwa upaya peningkatan efisiensi teknis

produksi padi dapat dilakukan dengan melalui upaya peningkatan

pangsa pendapatan rumah tangga dari sektor luar pertanian. Sebaliknya

tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja pada kegiatan usahatani

luar padi tidak berhubungan dengan efisiensi teknis. Ini berarti bahwa

tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja pada kegiatan usahatani

luar padi bukan peubah yang dapat mempengaruhi efisiensi teknis

produksi.

Efisiensi teknis petani pemilik sama dengan petani penyewa dan

kedua-duanya lebih besar dibanding petani gadai. Petani pemilik dan

penyewa bersikap sebagai penggemar risiko dalam penggunaan pupuk

Page 13: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

10

anorganik, sedangkan petani gadai bersikap sebagai penghindar risiko

produksi. Petani yang sumber pendapatannya berasal dari pertanian dan

dari luar pertaman bersikap sebagai penggemar risiko dalam

penggunaan pupuk anorganik, sedangkan petani yang sumber

pendapatannya hanya berasal dari pertanian saja bersikap sebagai

penghindar risiko. Petani yang menggemari risiko produksi

menggunakan pupuk anorganik relatif lebih tinggi dibanding petani

penghindar risiko.

Nilai efisiensi teknis petani dikategorikan cukup efisien jika

TE>0,7 dan dikategorikan belum efisien jika TE ≤ 0,7. Berdasarkan

hasil penelitian di Kabupaten Bungo peluang peningkatan produktivitas

cukup besar karena senjang antara tingkat produktivitas yang telah

dicapai petani dengan potensi produksi masih besar. Untuk

meningkatkan produktivitas usahatani secara nyata diperlukan input

produksi secara optimal.

5. Preferensi Risiko Produksi Petani Padi Sawah

Perilaku risiko produktivitas petani pada input pupuk urea, pupuk

KCL, pupuk organik dan insektisida cair adalah risk averter. Hal ini

berarti bahwa petani padi sawah berperilaku takut atau tidak berani

mengalokasikan input-input pupuk urea, pupuk KCL, pupuk organik

dan insektisida cair dalam jumlah yang lebih besar. Sehingga

penggunaan input-input tersebut masih di bawah dosis anjuran. Untuk

input benih, pupuk SP36 dan tenaga kerja, petani berperilaku risk taker.

Hal ini berarti petani berani mengalokasikan input tersebut dalam

jumlah yang lebih besar pada usahataninya untuk memperoleh produksi

yang lebih tinggi.

Keputusan petani padi sawah dalam mengaloksikan input–input

dalam usahataninya, lebih dipengaruhi oleh keinginan untuk mencapai

efisiensi teknis daripada ketakutan terhadap risiko produksi. Ini berarti

adanya keinginan petani untuk mencapai efisiensi teknis akan tetapi

dibatasi dengan ketersediaan modal.

Page 14: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

11

6. Penggunaan Input Optimal dalam Rangka Peningkatan

Produtivitas.

Efisiensi pengelolaan usahatani berkaitan dengan kemampuan

manajerial petani, Penggunaan input produksi dikatakan efisien apabila

NPMx1 = Px1. Berdasarkan hasil penelitian di Kabupaten Bungo semua

variabel yang dimasukkan dalam model belum efisien, karena IE =

NPMx1 /Px1> 1. Penambahan input produksi memberikan peluang besar

untuk memperoleh sejumlah produksi yang menguntungkan.

penggunaan input produksi actual jumlahnya berada dibawah

penggunaan input optimal. Produksi meningkat dari 5,35ton/ha menjadi

8,87ton/ha., atau 65,8 %. Dari hasil analisis deskiptif diperoleh

gambaran bahwa sebanyak 85,6 % petani tidak memenuhi aplikasi

input produksi sesuai anjuran, petani sering dihadapkan pada risiko

alam (72,5 %), dan keterbatasan modal dalam menyediakan input

produksi (81,2 %).

C. Upaya Meminimalisir Risiko Produksi Usahatani Padi

Terdapat berbagai macam resiko usahatani yang dihadapi petani,

meliputi risiko produksi, risiko harga, risiko teknologi, serta risiko sosial

dan hukum. Berikut terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan petani

untuk menanggulangi resiko – resiko tersebut, antara lain :

a. Risiko Produksi

Pertanian sangat bergantung pada kondisi alam, jika tanaman

ditanam pada musim yang cocok maka akan diperoleh hasil

maksimal. Ketika kondisi alam mendukung maka hasil panen sesuai

dengan yang diharapkan. Pada musim kemarau, sering kali pasokan

air berkurang sehingga kebutuhan untuk tanaman semakin berkurang

juga. Hal ini menyebabkan lahan sawah kekeringan. Teknologi yang

dapat digunakan untuk mengatasi kekeringan yaitu embung sebagai

teknologi penyedia air. Embung adalah kolam besar seperti waduk

yang diharapkan dapat terus menyediakan air di musim kemarau.

Page 15: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

12

Risiko produksi yang disebabkan karena adanya kekeringan dapat

diatasi dengan pembangunan embung.

Saat musim penghujan pasokan air berlimpah. Lahan

mendapat aliran air dari sumber air dan hujan. Hal ini

mengakibatkan lahan sawah tergenang air dan tanaman dapat roboh.

Jika tanaman roboh, biasanya petani akan memanen padi saat masih

muda untuk menghindari padi yang tumbuh dalam genangan air,

sehingga petani tetap dapat menikmati hasil walaupun tidak

maksimal. Kegagalan panen juga berdampak pada penurunan mutu

beras. Upaya lain untuk mengatasi musim penghujan yang

berkepanjangan, petani harus menanam padi dengan varietas unggul.

Varietas unggul mempunyai kelebihan tahan terhadap kondisi cuaca

penghujan yang banyak air.

b. Risiko Harga

Persediaan beras yang melimpah akan mengakibatkan harga

beras turun dan sebaliknya saat langka harga akan naik. Begitu juga

halnya dengan musim yang ekstrim. Adanya ketidakstabilan harga

dapat mengakibatkan kecurangan di pedagang maupun petani. Pada

saat terjadi kelangkaan beras, harga akan cenderung tinggi dan ini

justru akan mengakibatkan beras tidak laku karena pembeli tidak

dapat membeli dengan harga yang tinggi. Pada saat harga beras

murah, petani akan cenderung menimbun beras. Petani tidak akan

menjual hasilnya karena dianggap rugi.

Bulog berperan dalam menstabilkan persediaan beras. Jika

persediaan beras cukup maka harga tidak akan naik ataupun turun.

Campur tangan pemerintah dalam ekonomi tentang beras antara lain

dilakukan melalui lembaga pangan yang bertugas melaksanakan

kebijakan pemerintah yang menyangkut aspek pra produksi, proses

produksi, serta pasca produksi. Bulog dibentuk untuk mengendalikan

stabilitas harga dan penyediaan bahan pokok.

Page 16: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

13

c. Risiko Teknologi

Teknologi pertanian berpengaruh besar pada kualitas dan

kuantitas produksi tanaman. Penggunaan teknologi harus

memperhitungkan manfaatnya, efektif dan efisien atau tidak di

semua daerah, dapat digunakan oleh semua petani atau tidak,

berlangsung dalam jangka yang lama atau tidak dan sulit atau

tidaknya masyarakat dalam mengambil keputusan dalam

mengadopsi teknologi baru.

Petani selalu mempertimbangkan dengan matang sebelum

menerapkan teknologi baru pada usahataninya. Petani akan

menerapkan teknologi baru apabila teknologi tersebut sesuai dengan

lingkungan daerah setempat, tidak rumit dan dapat diterima oleh

masyarakat setempat karena mudah diterapkan, dapat menghmat

waktu dan tenaga karena beberapa petani juga mempunyai pekerjaan

lain selain bertani. Teknologi yang tidak membutuhkan biaya besar

dan menguntungkan akan diterima dan diterapkan petani.

d. Risiko Sosial dan Hukum

Terdapat keterbatasan pemerintah dalam menyediakan

subsidi pupuk, maka pupuk bersubsidi hanya diperuntukkan bagi

Petani Tanaman Pangan, Peternakan dan Perkebunan Rakyat. Upaya

yang dilakukan untuk menjamin pengadaan dan mencegah terjadinya

penyimpangan, yakni dengan menetapkan penyaluran pupuk

bersubsidi. Subsidi pupuk diberikan tiga kali dalam setahun sesuai

dengan jadwal tanam. Pembatasan subsidi dan penyimpangan

mengakibatkan ketidakpastian adanya subsidi pupuk maupun benih.

Hal ini mempengaruhi pengeluaran petani jika tidak ada subsidi.

Ketika subsidi benih dan pupuk dibatasi, maka solusi yang bisa

ditempuh adalah petani menggunakan biaya dari tabungan atau

memanfaatkan PUAP di tingkat desa untuk memperoleh modal.

Page 17: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

14

III. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan :

1. Risiko merupakan ketidakpastian dan dapat menimbulkan terjadinya

peluang kerugian terhadap pengambilan keputusan. Macam-macam

resiko yang dialami oleh petani gurem yaitu resiko produksi, harga,

soshum, teknologi

2. Keputusan petani padi sawah dalam mengaloksikan input–input dalam

usahataninya, lebih dipengaruhi oleh keinginan untuk mencapai

efisiensi teknis daripada ketakutan terhadap risiko produksi.

Penambahan input produksi memberikan peluang besar untuk

memperoleh sejumlah produksi yang menguntungkan.

3. Terdapat banyak upaya untuk menanggulangi resiko pertanian seperti

menanam padi dengan varietas unggul, lembaga pangan sebagai

pengendali stabilitas harga dan penyedia bahan pokok, pemilihan

teknologi yang tepat, dan memanfaatkan PUAP di tingkat desa untuk

memperoleh modal.

B. SARAN

Saran yang dapat disampaikan penulis menurut hasil pembahasan dan

diskusi adalah sebagai berikut :

1. Petani perlu melakukan pengelolaan risiko operasional dengan

mengutamakan efisiensi pengunaan faktor produksi sesuai kebutuhan.

Tidak hanya itu, juga perlu upaya intensifikasi lahan dalam

mengurangi risiko pada usahatani padi lahan basah dan semakin

meningkatkan produktifitas padi.

2. Petani perlu memaksimalkan produksi saat musim penghujan dengan

varietas yang tahan genangan air.

3. Petani harus memperhatikan kondisi pasar dan pertimbangan biaya

yang harus dikeluarkan agar tidak terjadi kerugian.

Page 18: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

DAFTAR PUSTAKA

Gundariawanti, Ade Teya dan Priyanto, Sony Heru. 2018. MINIMALISASI

RISIKO USAHA PETANI PADI DI DUSUN WATUGAJAH,

KECAMATAN BERGAS, KABUPATEN SEMARANG. Jurnal

Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA”. Vol 12(2) : 93-107.

Lanamana, W. 2018. ANALISIS RISIKO PRODUKSI USAHATANI PADI

LADANG DI DESA NGGELA KECAMATAN WOLOJITA

KABUPATEN ENDE. Jurnal AGRICA. Vol 11 (1): 10-20.

Nurhidayah, Usman R., Weka G. A. 2018. Pemetaan Risiko Produksi pada

Usahatani Padi Sawah di Desa Labulu-Bulu Kecamatan Parigi

Kabupaten Muna. Jurnal Ilmiah Agribisnis. Vol 3(5) : 123-129.

Rama, Rofinus et al. 2016. Analisis Risiko Produksi Usahatani Padi Lahan Basah

dan Lahan Kering di Kabupaten Melawi. J Social Economic of

Agriculture. Vol 5(1): 73-88.

Saidin N, Yanuar F, Siti K. 2019. Kajian Efisiensi Teknis dan Preferensi Risiko

Produksi Petani Dalam Rangka Peningkatan Produktivitas

Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Bungo Provinsi Jambi-

Indonesia. Journal Of Agribusiness and Local Wisdom. Vol. 2(1).

Suharyanto, Jemmy R., Nyoman Ngurah A. 2015. Analisis Risiko Produksi

Usahatani Padi Sawah di Provinsi Bali. Jurnal Agraris. Vol 1(2) :

70-77.

Syafaat Nizwar. 2016. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Teknis

Relatif dan Sikap Petani dalam Menghadapi Resiko Produksi

pada Usahatani Padi Sawah di Lahan Beririgasi Teknis. Jurnal

Agro Ekonomi. Vol 9(2) : 30-48.

Page 19: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

LAMPIRAN

Page 20: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

KELOMPOK 4

NAMA MAHASISWA, JUDUL dan SUMBER ARTIKEL:

1. Bilal Anom Anbiyaksa H0818016

Judul : Pemetaan Risiko Produksi pada Usahatani Padi Sawah di Desa

Labulu-Bulu Kecamatan Parigi Kabupaten Muna.

Sumber : Jurnal Ilmiah Agribisnis. Vol 3(5) : 123-129. 2018

2. Isti Ayuning Rahmawati H0818047

Judul : Minimalisasi Risiko Usaha Petani Padi di Dusun Watugajah,

Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

Sumber : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA”. Vol 12(2) : 93-107.

2018

3. Muhimmatun Nissak H0818069

Judul : Kajian Efisiensi Teknis dan Preferensi Risiko Produksi Petani

Dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Usahatani Padi Sawah

di Kabupaten Bungo Provinsi Jambi-Indonesia.

Sumber : Journal Of Agribusiness and Local Wisdom. Vol. 2(1). 2019

4. Rahmalia Kartika K H0818085

Judul : Analisis Risiko Produksi Usahatani Padi Lahan Basah dan

Lahan Kering di Kabupaten Melawi.

Sumber : J Social Economic of Agriculture. Vol 5(1): 73-88. 2016

5. Sabila Rahmatami P H0818091

Judul : Analisis Risiko Produksi Usahatani Padi Sawah di Provinsi Bali.

Sumber : Jurnal Agraris. Vol 1(2) : 70-77. 2015

6. Taufiq Randi Ismail H0818097

Judul : Analisis Risiko Produksi Usahatani Padi Ladang di Desa Nggela

Kecamatan Wolojita Kabupaten Ende

Sumber : Jurnal AGRICA. Vol 11 (1): 10-20. 2018

Page 21: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

7. Yoga Aji Pradana H0818109

Judul : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Teknis Relatif dan

Sikap Petani dalam Menghadapi Risiko Produksi pada

Usahatani Padi Sawah di Lahan Beririgasi Teknis.

Sumber : Jurnal Agro Ekonomi. Vol 9(2) : 30-48.

Page 22: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmiah Agribisnis(Jurnal Agribisnis dan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian)

2018:3(5):123-129http://ojs.uho.ac.id/index.php/JIA

doi: http://dx.doi.org/10.33772/jia.v3i5.7864ISSN: 2527-273X (Online)

PEMETAAN RISIKO PRODUKSI PADA USAHATANI PADI SAWAHDI DESA LABULU-BULU KECAMATAN PARIGI KABUPATEN MUNA

Nurhidayah1), Usman Rianse1), Weka Gusmiarty Abdullah1)1 Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian UHO

ABSTRACT

The study of this research was to mapp the risks of rice production in Labulu-Bulu Village,Parigi District, Muna Rigency. This research was conducted in November 2016 until Juny 2017. Act ofsample in did with simple random sampling the number population 38 of farmers. Date analysis wasused qualitative and quantitative descriptive. The results showed mapping of risk in rice production,namely (a) operational risk with high-risk level was using of fertilizers, using of pesticides and nominalincome; moderate risk level was production quantity; and low-risk level was provide seeds, providefertilizers, provide pesticides, rent tools and machinery and growth of seeds; (b) Human resource riskwith high-risk level was renting labor recruitment and providing planting labor; moderate-risk level wassafety of labor in preparation and management of land, safety of labor in plants maintenance, provideof labor in harvest; low-risk level was using of family labor, and safety of labor I plant growth;. (c)Technology risk with high-risk level was using of tools and machinery, damage tools and machinery inharvest and harvest method; moderate-risk level was planting methods and fertilizing methods; andlow-risk level was opening land methods processing of land methods; (d) externality risk with high-risklevel was disrupted in grain drying; moderate-risk level was weather in oppening and management ofland and pests in post-harvest; and low-risk level was exposure to weather condition whenmaintenance, pests and desease on seedling.

Keywords: Mapping of Risk; Risk; Rice Farming

PENDAHULUAN

Produksi tanaman padi sawah di Kabupaten Muna merupakan usaha yang perlu diapresiasikarena dapat mendukung kebutuhan pangan beras dan berkontribusi dalam ketahanan pangan lokal.Produksi padi sawah di Kabupaten Muna tidak terlepas dari sumbangan produksi padi sawah dibeberapa kecamatan penyangga usahatani padi sawah termasuk Kecamatan Parigi. Luas lahan padisawah di Kecamatan Parigi Tahun 2015 adalah seluas 1.000 ha atau 57,17% dari luas lahan padisawah Kabupaten Muna (BPS Kabupaten Muna, 2016).

Usahatani padi sawah yang dikembangkan di Kecamatan Parigi adalah sawah irigasi dansawah tadah hujan yang menggantungkan ketersediaan pengairan sawahnya pada intensitas curahhujan. Kelompok masyarakat yang telaten dalam melakukan usahatani padi sawah di KecamatanParigi adalah petani di Desa Labulu-Bulu. Usahatani padi sawah di Desa Labulu-Bulu diusahakandengan sistem tadah hujan karena irigasi sawahnya dalam kondisi rusak dan tidak dapat digunakanuntuk mengairi lahan sawahnya. Ini memiliki peluang risiko dan dampak kerugian yang besar dalammempertahankan usahatani padi sawah.

Salah satu faktor yang mendorong petani tetap mengembangkan usahatani padi sawahadalah karena pangan beras merupakan sumber pangan utama keluarga petani. Data jumlahproduksi, luas lahan dan tingkat produktivitas lahan padi sawah di Desa Labulu-Bulu disajikan padaTabel 1.Tabel 1. Jumlah Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Padi Sawah di Desa Labulu-Bulu

Kecamatan Parigi Tahun 2015

No. Tahun Jumlah Produksi(ton)

Luas Panen(ha)

Produktivitas(ton/ha)

1. 2010 354,20 140 2.532. 2011 355,01 131 2.713. 2012 438,90 154 2.854. 2013 415,80 132 3.15

Page 23: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

JIA 2018:3(5):123-129

Nurhidayah et al 124 eISSN: 2527-273X

5. 2014 410,20 140 2.936. 2015 426,24 148 2.88

Rata-Rata 400,06 140,83 2,84(Sumber: Kantor Desa Labulu-Bulu, 2016)

Tabel 1 menunjukkan bahwa produksi padi sawah di Desa Labulu-Bulu memiliki produktivitaslahan yang rendah dengan rata-rata 2,84 ton/ha jika dibandingkan dengan produktivitas lahanKabupaten Muna dengan nilai 3,88 ton/ha (BPS Sultra, 2015). Data produktivitas lahan mengalamipenurunan sebesar 3,01% dari Tahun 2013-2015. Nilai produktivitas lahan yang rendah memberikanpeluang risiko yang besar bagi keberlanjutan usahatani padi sawah di Desa Labulu-Bulu.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan November 2016 sampai Bulan Juni 2017. Lokasipenelitian ini dilakukan di Desa Labulu-Bulu Kecamatan Parigi Kabupaten Muna. Penentuan lokasipenelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Desa Labulu-Bulumerupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Parigi yang memiliki produktivitas lahan padisawahnya rendah sebesar 3,01% dari Tahun 2013-2015 dengan rata-rata 2,84 ton/ha (Kantor DesaLabulu-Bulu, 2016) jika dibandingkan dengan produktivitas lahan Kabupaten Muna senilai 3,88 ton/ha(BPS Sultra, 2015). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh usahatani padi sawah di DesaLabulu-Bulu Kecamatan Parigi Kabupaten Muna yang berjumlah 150 KK. Penentuan sampeldilakukan secara acak sederhana (simple random sampling) dengan mengambil 25% dari jumlahpopulasi yaitu 38 responden. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2002), bahwa apabilasubyeknya lebih dari 100 orang, maka dapat diambil sampel 10-25%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peta Risiko Produksi pada Usahatani Padi SawahKeberhasilan dalam usahatani padi sawah merupakan integrasi kualitas sumberdaya

manusia, metode budidaya yang tepat dan kondisi lingkungan yang sesuai. Risiko yang dihadapi olehpetani memiliki kemungkinan dan dampak yang beragam sehingga perlu dipetakkan agar dapatmenentukan status risiko ke dalam prioritas pengelolaan atau dapat diabaikan. Status risikoditentukan berdasarkan perkalian antara kemungkinan kejadian risiko dan dampak kerugian yangditimbulkan oleh kejadian risiko. Djohanputro (2008) merumuskan keadaan kemungkinan dandampak risiko ke dalam tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang dan rendah.

1. Risiko OperasionalOperasional usahatani padi sawah memiliki risiko yang harus dilihat kuantitas dampak risiko

dan besarnya peluang kemungkinan risikonya. Dampak risiko operasional merupakan kerugian yangharus ditanggung petani padi sawah dalam operasional usahatani padi sawah. Kemungkinan risikooperasional merupakan banyaknya peluang frekuensi kejadian kerugian dalam operasional usahatanipadi sawah. Perkalian antara peluang risiko operasional dan dampak risiko operasional membentukstatus risiko operasional yang menunjukkan tingkat kerentanan risiko terhadap keberlanjutanusahatani padi sawah.

Kemungkinan (%)Besar

(Sedang)

A4.1, A4.2, A5.2

(Tinggi)

KecilA1.1, A1.2, A1.3,

A2.1, A3.1(Rendah)

A5.1

(Sedang)Kecil Besar Dampak (Rp)

Gambar 1. Peta Risiko Operasional Usahatani Padi Sawah di Desa Labulu-BuluGambar 1 menunjukkan bahwa berdasarkan kedudukan risiko dalam peta ini risiko

mempelihatkan keberadaan status risiko operasional tertinggi yaitu:1) Aplikasi pupuk (A4.1) kemungkinan kejadian sebesar 43% dan dampak senilai Rp 807.884,21.

Risiko ini memiliki status risiko yang tinggi disebabkan oleh besarnya kemungkinan kejadian dankerugian dari konsentrasi air dalam lahan yang mengakibatkan gangguan pada pertumbuhan padi;

27,09%

Rp508.409,74

Page 24: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

JIA 2018:3(5):123-129

Nurhidayah et al 125 eISSN: 2527-273X

dosis pemupukan yang dilakukan petani terlalu tinggi ditandai dengan penggunaan dosis pupukurea di atas rata-rata yaitu 200 kg/ha, dosis pemupukan terlalu rendah ditandai denganpenggunaan dosis pupuk phonska di bawah rata-rata yaitu 177 kg/ha sedangkan anjuranpemerintah untuk penggunaan pupuk urea dan ponska disarankan 150 kg/ha dan phonska 300kg/ha untuk satu ha lahan.

2) Aplikasi pestisida (A4.2) dengan kemungkinan kejadian sebesar 44% dan dampak senilai Rp880.773,68. Risiko ini memiliki status risiko yang tinggi disebabkan oleh besarnya kemungkinankejadian dan dampak dari dosis aplikasi pestisida terlalu tinggi ditandai dengan penggunaan dosispestisida score di atas rata-rata yaitu 263 mL/ha sehingga menyebabkan akar padi rusak, dandosis aplikasi pestisida spontan terlalu rendah ditandai dengan penggunaan dosis di bawah rata-rata yaitu 1.150 mL/ha sehingga menyebabkan padi mudah terserang hama dan penyakit yangberdampak pada produksi padi sawah yang rendah.

3. Pendapatan nominal (A5.2) dengan kemungkinan kejadian sebesar 27% dan dampak senilai Rp1.101.530,26. Risiko ini memiliki status risiko yang tinggi disebabkan oleh kemungkinan dandampak dari biaya operasional yang dikeluarkan petani terlalu besar, tingkat produksi rendah danharga jual beras rendah ditandai dengan tingkat harga beras yang tidak mencapai harga rata-ratapenawaran petani sehingga menyebabkan pendapatan petani rendah.

Status risiko sedang terbagi atas dua, yaitu risiko dengan kemungkinan besar dan dampakkecil serta kemungkinan kecil dan dampak besar. Status risiko operasional sedang adalah kuantitasproduksi (A5.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 19% dan dampak senilai Rp 536.076,32.Risiko ini memiliki status risiko sedang, dimana kemungkinan kecil dan dampak besar yangdisebabkan oleh sistem budidaya yang tidak efektif.

Risiko operasional dengan status rendah adalah risiko dengan kemungkinan dan dampakyang kecil. Risiko operasional dengan status risiko rendah adalah:1) Penyediaan bibit (A1.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 25% dan dampak senilai Rp

186.413,16. Risiko ini berstatus rendah disebabkan karena rendahnya peluang dan dampakkejadian kelangkaan bibit, bibit rusak di penyimpanan, dan kualitas bibit rendah

2) Penyediaan pupuk (A1.2) dengan kemungkinan kejadian sebesar 25% dan dampak senilai Rp470.365,79. Risiko ini memiliki status rendah disebabkan oleh rendahnya peluang dan dampakdari kelangkaan pupuk, kemahalan harga pupuk, pupuk rusak, dan pupuk terembes air hujan.

3) Penyediaan pestisida (A1.3) dengan kemungkinan kejadian sebesar 13% dan dampak senilai Rp59.176,32. Risiko ini berstatus rendah disebabkan oleh rendahnya peluang dan dampak kejadiankelangkaan pestisida, kemahalan pestisida ditandai dengan harga pestisida berada di atas hargayang umum dibeli petani, dan pestisida.

4) Penyewaan alat dan mesin (A2.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 22% dan dampaksenilai Rp 273.521,05. Risiko ini berstatus rendah disebabkan oleh rendahnya kemungkinan dandampak dari kejadian kemahalan sewa alat dan mesin, kerusakan alat dan mesin sebelumdisewa, dan kelangkaan bahan bakar.

5) Pertumbuhan bibit (A3.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 24% dan dampak senilai Rp332.486,84. Risiko ini berstatus rendah disebabkan oleh rendahnya kemungkinan dan dampakdari kejadian daya tumbuh rendah, kekurangan air, kebanjiran, dan kekurangan bibit.

2. Risiko Sumberdaya ManusiaSumberdaya manusia dalam usahatani padi sawah merupakan pengelola utama dalam

mencapai keberhasilan dan pengendalian risiko. Risiko sumberdaya manusia merupakan salah satuancaman terbesar untuk mencapai keberhasilan usahatani padi sawah. Risiko sumberdaya manusiamemiliki tingkat kemungkinan dan dampak kerugian yang membentuk status risiko pada risikousahatani padi sawah.

Kemungkinan (%)Besar

B2.1, B4.1, B5.1

(Sedang)

B1.2, B3.1

(Tinggi)

KecilB1.1, B4.2

(Rendah) (Sedang)Kecil Besar Dampak (Rp)

Gambar 2. Peta Risiko Sumberdaya Manusia Usahatani Padi Sawah di Desa Labulu-Bulu

Gambar 2 menunjukkan bahwa risiko sumberdaya manusia di Desa Labulu-Bulu yangmemiliki status risiko tinggi adalah:

52,54%

Rp471.713,91

Page 25: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

JIA 2018:3(5):123-129

Nurhidayah et al 126 eISSN: 2527-273X

1) Perekrutan tenaga kerja (B1.2) dengan kemungkinan kejadian sebesar 54,47% dan dampaksenilai Rp 568.768,16. Risiko ini berstatus tinggi disebabkan oleh tingginya kemungkinan dandampak dari kejadian tidak adanya syarat perekrutan tenaga kerja sewaan dan tenaga kerjabelum berpengalaman sehingga menyebabkan tenaga kerja tidak produktif dan usahatani padisawah dikelola tidak optimal.

2) Ketersediaan tenaga kerja penanaman (B3.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 56,32% dandampak senilai Rp 923.181,58. Risiko ini berstatus tinggi disebabkan oleh tingginya kemungkinandan dampak dari kejadian kelangkaan tenaga kerja sewaan dan keterbatasan modal untukpenyewaan tenaga kerja sehingga semua pekerjaan harus ditanggung oleh petani sendiri.

Risiko sumberdaya mausia dengan status sedang secara keseluruhan berada padakemungkinan tinggi dan dampak rendah. Risiko sumberdaya manusia dengan status risiko sedangadalah:1) Keselamatan tenaga kerja penyiapan dan pengolahan lahan (B2.1) dengan kemungkinan kejadian

sebesar 57,50% dan dampak senilai Rp 535.876,32. Risiko ini berstatus sedang disebabkan olehtingginya kemungkinan dan rendahnya dampak dari kejadian tenaga kerja terluka dan tenagakerja cidera.

2) Keselamatan tenaga kerja pemeliharaan tanaman (B4.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar57,50% dan dampak senilai Rp 568.763,16. Risiko ini berstatus sedang disebabkan oleh tingginyakemungkinan dan rendahnya dampak dari kejadian luka saat menyemprot dan memupuk.

3) Ketersediaan tenaga kerja panen (B5.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar57,35% dan dampak senilai Rp 150.607,89. Risiko ini berstatus sedang disebabkan oleh tingginyakemungkinan dan rendahnya kejadian kelangkaan tenaga kerja sewaan dan keterbatasan modaluntuk menyewa tenaga kerja sehingga menyebabkan petani harus melakukan proses pemanenansendiri. Risiko dengan status rendah menunjukkan keadaan kemungkinan dan dampak risiko yangrendah. Risiko sumberdaya manusia yang memiliki status rendah adalah:

1) Penggunaan tenaga kerja keluarga (B1.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 35,53% dandampak senilai Rp 349.863,16. Risiko ini berstatus rendah disebabkan oleh rendahnyakemungkinan dan dampak risiko pada kejadian keterbatasan tenaga kerja keluarga dan kualifikasitenaga kerja keluarga yang masih belum siap.

2) Kesehatan tenaga kerja pemeliharaan (B4.2) dengan kemungkinan kejadian sebesar 49,12% dandampak sebesar nilai Rp 204.942,11. Risiko ini berstatus rendah disebabkan oleh rendahnyakemungkinan dan dampak dari kejadian keracunan saat menyemprot, kecapeaan saatmenyemprot, dan kecapeaan saat memupuk.

3. Risiko TeknologiTeknologi dalam usahatani padi sawah berkaitan dengan sistem dan metode yang diterapkan

petani. Teknologi digunakan untuk memudahkan dan melancarkan pekerjaan dalam usahatani padisawah. Risiko teknologi dalam usahatani memiki kemungkinan kejadian dan dampak kerugian yangdapat diprediksi oleh petani berdasarkan pengalaman dalam membudidayakan padi sawahnya.

Kemungkinan (%)Besar

C3.1, C4.1

(Sedang)

C1.1, C2.3,C5.1, C5.2

(Tinggi)

KecilC2.1, C2.2, C4.2

(Rendah) (Sedang)

Kecil Besar Dampak (Rp)Gambar 3. Peta Risiko Teknologi Usahatani Padi Sawah di Desa Labulu-Bulu

Gambar 3 menunjukkan bahwa risiko teknologi tinggi pada usahatani padi sawah di DesaLabulu-Bulu adalah:1) Penggunaan alat dan mesin (C1.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 50% dan dampak

senilai Rp 547.900,00. Risiko ini berstatus tinggi disebabkan oleh besarnya peluang dan dampakdari kejadian keterbatasan alat petani, keterbatasan mesin, dan kelangkaan modal pengadaan alatdan sehingga menyebabkan pengelolaan usahatani padi sawah menjadi terhambat.

2) Kerusakan alat dan mesin penyiapan dan pengolahan lahan (C2.3) dengan kemungkinan kejadiansebesar 45% dan dampak senilai Rp 1.157.089,47. Risiko ini berstatus tinggi disebabkan olehtingginya kemungkinan dan dampak dari kejadian alat dan mesin kurang terawat, metodepenggunaan alat dan mesin yang melebihi kapasitas dan keterbatasan modal untuk perbaikan alatdan mesin.

43,76%

Rp 453.468,13

Page 26: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

JIA 2018:3(5):123-129

Nurhidayah et al 127 eISSN: 2527-273X

3) Kerusakan alat dan mesin panen (C5.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 37% dan dampaksenilai Rp 587.060,53. Risiko ini memiliki kemungkinan dan dampak tinggi disebabkan olehkurangnya perawatan alat dan mesin, penggunaan alat dan mesin diluar kapasitas, danketerbatasan modal untuk perbaikan alat dan mesin panen.

4) Metode panen (C5.2) dengan kemungkinan kejadian sebesar 58% dan dampak senilai Rp461.536,84. Risiko ini memiliki kemungkinan dan dampak yang tinggi disebabkan oleh rendahnyakejadian penggunaan teknologi sederhana dan metode panen yang kurang efisien sehinggamenyebabkan masih banyaknya bulir padi yang terhambur di atas tanah.

Risiko teknologi sedang yang ditemukan berada pada kemungkinan besar dan dampak kecil.Risiko dengan status sedang adalah:1) Metode tanam (C3.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 38% dan dampak senilai Rp

190.889,47. Risiko ini berada pada kategori sedang disebabkan oleh tingginya kemungkinan dankecilnya dampak dari kejadian penggunaan sistem tanam yang tidak efektif dan pematang rusakyang mengakibatkan keluarnya air dari lahan.

2) Metode pemupukan (C4.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 55% dan dampak senilai Rp398.226,32. Risiko berstatus sedang disebabkan oleh tingginya kemungkinan dan kecilnyadampak dari kejadian pemupukan tidak merata dan pertumbuhan tanaman tidak merata sehinggamenyebabkan produksi padi menurun.

Risiko teknologi rendah yang ditemukan dalam usahatani padi sawah adalah adalah:1) Metode perombakan lahan (C2.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 3% dan dampak senilai

Rp 196.665,79. Risiko berstatus rendah didukung oleh rendahnya kemungkinan dan dampak darikejadian penggunaan teknologi sedehana dan hambatan medan lahan yang sulit akibat kondisilahan terlalu macak-macak.

2) Metode pengolahan lahan (C2.2) dengan kemungkinan kejadian sebesar 12% dan dampak senilaiRp 126.939,47. Risiko ini berstatus rendah disebabkan oleh rendahnya kemungkinan dan dampakdari pembalikan lahan yang sulit dan lahan terlalu kering.

3) Metode pengendalian hama dan penyakit (C4.2) dengan kemungkinan kejadian sebesar 24% dandampak senilai Rp 414.905,26. Risiko ini berstus rendah disebabkan oleh rendahnyakemungkinan dan dampak dari kejadian penyemprotan tidak merata dan serangan hama danpenyakit

4. Risiko EksternalitasEkternalitas usaha merupakan faktor luar yang berpengaruh besar terhadap keberlangsungan

sistem usahtani padi sawah. Risiko eksternalitas berasal dari luar sistem usahatani padi sawah tetapimemiliki pengaruh kerugian terhadap pendapatan usahatani padi sawah dan tidak dapat dikendalikandengan pasti.

Kemungkinan (%)Besar

D5.1

(Sedang)

D5.2

(Tinggi)

KecilD2.1, D3.1, D4.1

(Rendah)

D3.2, D4.2

(Sedang)Kecil Besar Dampak (Rp)

Gambar 4. Peta Risiko Eksternalitas Usahatani Padi Sawah di Desa Labulu-Bulu

Gambar 4 menunjukkan bahwa status risiko eksternalitas tinggi pada usahatani padi sawahadalah penjemuran gabah terganggu (D5.2) dengan kemungkinan sebesar 39,47% dan dampaksenilai Rp 363.868,42. Risiko ini memiliki status risiko tinggi disebabkan oleh tingginya kemungkinandan dampak dari kejadian pengaruh cuaca mendung berkepanjangan dan curah hujan yang sehinggamenyebabkan gabah tidak kering optimal.

Status risiko sedang terdiri atas status risiko dengan kemungkinan tinggi dan dampak rendahdan status risiko yang memiliki kemungkinan rendah dan dampak kerugian tinggi, yaitu:1) Tingkat risiko sedang dengan kemungkinan kejadian tinggi dan dampak kerugian rendah adalah

gangguan hama (D5.1) dengan kemungkinan sebesar 48,68% dan dampak senilai Rp 186.278,95.Risiko ini bestatus sedang disebabkan oleh tingginya kemungkinan dan rendahnya dampak darikejadian serangan tikus di penggudangan dan sarana gudang yang tidak layak sehinggamenyebabkan gabah mudah rusak dalam penggudangan.

2) Risiko sedang dengan tingkat kemungkinan kejadian kecil dan dampak risiko tinggi adalahkendala cuaca (D3.2) dengan kemungkinan sebesar 22,81% dan dampak senilai Rp 370.757,89.

30,80%

Rp247.853,76

Page 27: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

JIA 2018:3(5):123-129

Nurhidayah et al 128 eISSN: 2527-273X

Risiko ini memiliki status risiko sedang disebabkan oleh kemungkinan yang rendah dan dampakyang tinggi dari kejadian hujan, banjir, dan kemarau panjang.

3) Risiko sedang dengan tingkat kemungkinan kejadian kecil dan dampak risiko tinggi juga padapengaruh cuaca saat pemeliharaan (D4.2) dengan kemungkinan sebesar 26,32% dan dampaksenilai Rp 466.060,53. Risiko dengan tingkat kemungkinan kejadian dan dampak kerugian rendahyang ditemukan pula dalam usahatani padi sawah adalah:

1) Pengaruh cuaca penyiapan dan pengolahan lahan (D2.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar29% dan dampak senilai Rp 94.750,00. Risiko ini tidak terlalu mengkhawatirkan karena intensitasdan dampak yang rendah dari kejadian hujan dan banjir pada saat pengolahan lahan.

2) Gangguan hama dan penyakit (D3.1) dengan kemungkinan kejadian sebesar 25% dan dampaksenilai Rp 127.268,42. (3) Serangan hama dan penyakit (D4.1) dengan kemungkinan sebesar25% dan dampak senilai Rp 125.992,11. Kedua risiko ini berstatus rendah disebabkan olehrendahnya kemungkinan dan dampak dari kejadian keterbatasan sarana pencegahan hama danpenyakit.

KESIMPULAN DAN SARAN

KesimpulanBerdasarkan uraian hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu peta risiko produksi

dalam dimensi usahatani terdiri atas (a) risiko operasional dengan status risiko tinggi adalah aplikasipupuk, aplikasi pestisida, dan pendapatan nominal; status risiko sedang adalah kuantitas produksi;dan status risiko rendah adalah penyediaan bibit, penyediaan pupuk, penyediaan pestisida,penyewaan alat dan mesin, pertumbuhan bibit. (b) Risiko sumberdaya manusia dengan status risikotinggi adalah perekrutan tenaga kerja sewaan dan ketersediaan tenaga kerja penanaman; statusrisiko sedang adalah keselamatan tenaga kerja penyiapan dan pengolahan lahan, keselamatantenaga kerja pemeliharaan tanaman, ketersediaan tenaga kerja panen; dan status risiko rendahadalah penggunaan tenaga kerja keluarga, dan kesehatan tenaga kerja pemeliharaan. (c) Risikoteknologi dengan status risiko tinggi adalah penggunaan alat dan mesin, kerusakan alat dan mesinpenyiapan dan pengolahan lahan, kerusakan alat dan mesin panen, serta metode panen; status risikosedang adalah metode tanam, metode pemupukan; dan status risiko rendah adalah metodeperombakan lahan, metode pengolahan lahan, metode pengendalian hama dan penyakit. (d) Risikoeksternalitas dengan status risiko tinggi adalah penjemuran gabah terganggu; status risiko sedangadalah kendala cuaca, pengaruh cuaca pemeliharaan, gangguan hama pascapanen; dan status risikorendah adalah pengaruh cuaca penyiapan dan pengolahan lahan, gangguan hama dan penyakitpenanaman, serangan hama dan penyakit pemeliharaan

SaranPetani agar melakukan pengelolaan risiko operasional dengan mengutamakan efektivitas dan

efisiensi penggunaan faktor produksi sesuai kebutuhan, pengelolaan risiko sumberdaya manusiadengan pembekalan dan pengarahan kepada tenaga kerja sewaan agar aktivitas dan tugas sertatanggungjawab yang dibebankan dapat berjalan dengan baik, pengelolaan risiko teknologi denganpenerapan teknologi tepat guna dan mengutamakan penggunaan alat dan mesin yang terpelihara,pengelolaan risiko eksternalitas dengan melakukan kerja sama atau membangun kelembagaansesama petani dalam rangka pengadaan mesin pengering, bagi pemerintah agar mengadakanperbaikan saluran irigasi persawahan di Desa Labulu-Bulu sehingga petani tidak bergantung padacurah hujan dan mengadakan penyuluh agar dapat melakukan pengembangan sumberdaya manusiamelalui pelatihan dan pendampingan petani, menjembatani petani dalam kerjasama dengan bankuntuk pengadaan modal, dengan bulog untuk menjaga tingkat harga penjualan serta denganuniversitas untuk penelitian dan pengembangan usahatani padi sawah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, W.G., et al. 2016. Mapping and Preference of Marketing Risk of Eco Sweetener‘ArenSugar’ . International Journal of Environmental Science: Hal. 374-385.

Azhar, C. 2010. Kajian morfologi dan produksi tanaman padi (Oryza sativa L.) Varietas cibogo hasilradiasi sinar gamma Pada generasi M3. Politeknik Pertanian Negeri Payakumbu. Medan.

BPS Kabupaten Muna. 2016. Kabupaten Muna Dalam Angka 2015. BPS Kabupaten Muna. Muna.BPS Sulawesi Tenggara. 2015. Sulawesi Tenggara Dalam Angka 2014. BPS Sulawesi Tenggara.

Kendari.Djohanputro, B. 2008. Konsep Dasar Manajemen Risiko. PPM. Jakarta.

Page 28: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

JIA 2018:3(5):123-129

Nurhidayah et al 129 eISSN: 2527-273X

Ghani, M.A. 2013. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Hasil dan Risiko Produksi Padi di Indonesia.Thesis Program Studi Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia. Jakarta.(Tidak dipublikasikan).

Harwood, et al. 1999. Managing Risk In Farming : Concepts, Research And Analysis, AgriculturalEconomics Report No.774.

Hernanto, F. 1991. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.Kountur, R. 2004. Manajemen Risiko Operasional. PPM. Jakarta.Napitupulu. 2009. Pemetaan Risiko Sumberdaya Manusia. Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta.Rianse, U.,dan Abdi. 2008. Metode Penelitian Sosial dan Ekonomi Teori dan Aplikasi. Alfabeta

Bandung. Bandung.

Page 29: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

93

MINIMALISASI RISIKO USAHA PETANI PADI

DI DUSUN WATUGAJAH, KECAMATAN BERGAS,

KABUPATEN SEMARANG

BUSINESS RISK MINIMIZATION OF RICE FARMERS

IN DUSUN WATUGAJAH, BERGAS DISTRIC, SEMARANG REGENCY

Ade Teya Trisna Dwi Gundariawanti1)

dan Sony Heru Priyanto1)

1) Universitas Kristen Satya Wacana

Email: [email protected]

ABSTRAK

Dalam setiap usahatani selalu ada risiko. Risiko merupakan ketidakpastian

dan dapat menimbulkan terjadinya peluang kerugian terhadap pengambilan

keputusan. Keberhasilan usahatani sangat bergantung dengan musim. Tujuan dari

penelitian ini adalah untuk menggambarkan risiko serta upaya dalam menangani

risiko dan menggambarkan harapan petani tentang usahatani padi. Penelitian

dilakukan pada bulan Februari-Maret 2018 di Dusun Watugajah, Kecamatan Bergas,

Kabupaten Semarang. Menggunakan jenis penelitian kualitatif dan dengan

pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi beberapa risiko

dalam usahatani padi yaitu risiko produksi, harga, teknologi, dan sosial hukum.

Risiko usahatani padi termasuk risiko spekulatif.

Kata kunci: alternatif, harapan, risiko, usahatani

ABSTRACT

In every farm there is always a risk. Risk is uncertainty and can lead to loss

opportunities for decision making. The success of farming is very dependent on the

season. The purpose of this study is to describe the risks and efforts in dealing with

risks and describe farmers' expectations about rice farming. The study was conducted

in February-March 2018 in Watugajah Hamlet, Bergas District, Semarang Regency.

Using qualitative research and descriptive approach. The results showed that there

were several risks in rice farming, namely production risk, price risk, technology

risk, and social and legal risk. The risk of rice farming is included in speculative risk.

There needs to be an effort to maximize production during the rainy season with

varieties that are resistant to water stress.

Keywords: alternatives, expectations, farming, risk

PENDAHULUAN

Usahatani merupakan ilmu yang

mempelajari cara petani mengelola

faktor produksi (tanah, tenaga kerja,

teknologi, pupuk, benih, pestisida)

dengan efektif, efisien dan

berkelanjutan untuk menghasilkan

Page 30: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

94

produk tinggi sehingga pendapatan

usaha meningkat (Rahim dkk., 2007).

Dalam setiap usahatani selalu ada

risiko yang akan didapatkan. Risiko

merupakan ketidakpastian dan dapat

menimbulkan terjadinya peluang ke-

rugian terhadap pengambilan keputus-

an. Keberhasilan usahatani sangat

bergantung dengan musim, seperti

varietas Unggul jika ditanam di

musim penghujan maka akan meng-

hasilkan panen yang maksimal.

Akhir-akhir ini cuaca sulit

diprediksi. Perubahan iklim di

beberapa tempat dapat mengganggu

pertumbuhan tanaman. Masyarakat

petani di pedesaan agraris, khususnya

pedesaan di pulau Jawa, menjadi salah

satu pihak yang dirugikan akibat

perubahan iklim. Curah hujan dan

kekeringan yang sulit diprediksi

menyebabkan kekacauan dan ketidak-

pastian pada saat musim tanam.

Pada saat hujan yang berlebih

maka akan muncul hama contohnya

wereng, sedangkan pada musim

kemarau banyak tikus. Petani

mengalami gagal panen yang

diakibatkan oleh serangan hama dan

cuaca yang tidak menentu yang

menyebabkan banjir serta kekeringan.

Ketika sawah tergenang air, tanaman

padi akan roboh dan padi terkena

lumpur sehingga kemungkinan kecil

dapat dipanen. Selain itu saat musim

hujan hama wereng pun menyerang

tanaman padi. Selain banjir dan hama

wereng, kekeringan juga menjadi

penyebab menurunnya produksi.

Tanaman padi akan kekurangan air

sehingga pertumbuhan terhambat dan

mati. Hama tikus menyerang ketika

keadaan sawah kering. Hal ini yang

menjadi keluhan para petani. Petani

mengalami ketidakpastian ekonomi

yang berdampak pada nafkah yang

tidak pasti untuk pemenuhan

kehidupan sehari-hari maupun untuk

modal penanaman kembali. Petani

memandang penurunan produksi me-

rupakan sebuah kejadian yang tak bisa

terduga, sehingga tetap giat merawat

tanaman padi walau pun hanya sedikit

yang bisa dipanen. Walaupun

mengalami penurunan produksi,

petani tetap menjalankan usaha

menanam padi. Petani tidak menyerah

hanya karena produksi menurun.

Pinjaman uang maupun menjual hasil

panen bulan lalu menjadikan

keringanan dalam memperoleh modal.

Hasil panen yang akan diperoleh

dijadikan sebagai pembayaran hutang.

Petani yakin bahwa usaha tani padi

Page 31: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

95

dapat mencukupi kebutuhan sehari-

hari. Petani selalu mempunyai harapan

untuk usahataninya. Harapan tersebut

didukung dengan berusaha di bidang

selain bertanam padi. Salah satu

tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui harapan yang ingin

dicapai petani dalam berusahatani.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Dusun

Watugajah, Desa Wringinputih, Kec.

Bergas, Kab. Semarang menggunakan

jenis penelitian kualitatif dengan

pendekatan deskriptif. Pendekatan

kualitatif merupakan penelitian yang

bersifat atau memiliki karakteristik,

bahwa datanya dinyatakan dalam

keadaan sewajarnya atau sebagaimana

adanya (natural setting) dengan tidak

diubah dalam bentuk simbol bilangan.

Menurut Nawawi (2005), pendekatan

deskriptif dapat diartikan sebagai

prosedur pemecahan masalah yang

diselidiki, dengan menggambarkan

/melukiskan keadaan obyek penelitian

berdasakan fakta yang tampak atau

sebagaimana adanya. Pengumpulan

data dalam penelitian dilakukan

dengan langkah sebagai berikut:

wawancara mendalam, observasi, dan

studi dokumentasi.

Untuk memastikan kebenaran

hasil yang diperoleh, digunakan uji

keabsahan data dengan teknik

trianggulasi, yaitu dengan cara

membandingkan hasil teknik

observasi, wawancara, dan dokumen-

tasi (dokumen tertulis, arsip, catatan

pribadi, dan foto) dari petani dengan

ketua kelompok tani yang bertujuan

untuk mengecek kebenaran serta

memperkuat data penelitian. Analisis

dilakukan beberapa tahapan analisis,

yaitu: reduksi data, penyajian data,

dan penarikan simpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kelembagaan Petani

Kelompok Tani Suka Karya 1

merupakan wadah perkumpulan petani

di Dusun Watugajah Desa Wringin-

putih. Anggotanya merupakan masya-

rakat yang memiliki lahan pertanian

maupun tidak, yang pengelolaannya

belum maksimal. Kelompok tani

terbentuk pada tahun 1985 dengan

ketua Pak Mul yang beranggotakan

15-20 orang. Kelompok tani terbentuk

berdasarkan program pemerintah dan

terdiri dari masyarakat yang

mempunyai keakraban dan

kepentingan sama.

Page 32: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

96

Dalam perkembangannya, kelom-

pok Tani Suka Karya 1 melakukan

reorganisasi pada tahun 2003 yang

diketuai oleh H. Zuri. Hal ini

dilakukan untuk memunculkan ide

baru. Pada tahun 2011 terjadi

pergantian ketua yaitu bapak Amin

hingga sekarang. Ketua kelompok tani

merupakan kadus di Dusun

Watugajah. Karena semua program

pemerintah selalu diinformasikan di

kantor kelurahan, maka jika ketua

tidak berada di kantor, informasi tidak

dapat diterima dengan baik.

Satu bulan sekali kelompok tani

melakukan pertemuan rutin yang di-

dampingi oleh PPL yang memberi

saran mengenai keluhan petani.

Banyak kegiatan yang diprogramkan

yaitu minatani, kemudian terjadi

pemisahan antara pertanian dengan

perikanan. Selanjutnya terdapat

program pertanian dan peternakan.

Banyak yang memanfaatkan peter-

nakan domba karena rumput mudah

diperoleh, mengingat terdapat perke-

bunan karet di lahan sekitar dusun.

Karena penurunan produksi akibat

serangan hama tikus maka beberapa

petani yang tanah pertaniannya dapat

dikeringkan mulai menanam sayur.

Hal ini dilakukan untuk menambah

penghasilan petani saat terjadi

penurunan produksi padi.

Selain mengikuti kelompok tani,

petani juga mengikuti program

pemerintah yaitu PUAP yang berada

di tingkat desa. Jika ada petani yang

ingin meminjam uang untuk

kebutuhan bertani, maka harus datang

langsung ke kantor desa. Cara

pengembalian pinjaman brvariasi,

dapat dilakukan per minggu, per bulan

atau setiap panen. Anggota yang

melakukan pembayaran secara rutin

akan mendapatkan penghargaan

berupa peningkatan jumlah pinjaman.

Untuk petani yang sering telat

membayar akan dilakukan penagihan

secara langsung kepada yang

bersangkutan. Jika masih belum bayar

juga maka anggota tersebut tidak

diberikan pinjaman dan PUAP dapat

dihentikan untuk dusun tempat petani

tinggal tersebut.

Sumber Daya Alam

Dusun Watugajah terletak di Kel.

Wringinputih, Kec. Bergas, tepatnya

di perkebunan karet milik PTPN IX

Ngobo, setengah jam dari lereng

Gunung Ungaran. Dusun ini

mempunyai hawa yang sejuk.Tempat

ini cocok untuk berusahatani ternak

Page 33: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

97

atau tanaman yang tidak

membutuhkan hawa dingin.

Mayoritas usahatani di desa ini

bertani padi sawah yang terletak di

lembah di bawah kebun karet. Di

samping lahan sawah terdapat aliran

sungai kecil yang dimanfaatkan untuk

irigasi sawah yang berasal dari sumber

air yang berada di dusun Ngobo. Air

ini juga digunakan oleh masyarakat

untuk kebutuhan sehari-hari seperti

masak dan mencuci. Air dikelola

masyarakat desa dan ditampung dalam

bak penampung sehingga ketersediaan

air tidak dapat dikhawatirkan lagi.

Pembagian air untuk irigasi sawah

cukup adil sehingga untuk lahan yang

paling ujung tetap mendapatkan

pasokan air.

Areal sawah berkontur datar datar

sehingga tidak membutuhkan

terasering. Bagian samping sawah

terdapat lahan tegalan dan

perkebunan karet. Lahan tegalan dan

kebun karet letaknya lebih tinggi dari

sawah. Pemilik tahan tegalan ini juga

pemilik sawah. Walaupun datar, tidak

semua lahan sawah bisa dibajak

dengan traktor karena lahan yang

paling ujung sangat dalam sehingga

lahan harus diolah dengan dicangkul.

Ketersediaan sumber daya alam

yang ada sangat memadai. Sawah,

tegalan, sinar matahari yang cukup

dan ketersediaan air yang melimpah

sangat mendukung pertanian yang

baik. Semua kebutuhan primer bagi

tanaman dapat terpenuhi.

Sumber Daya Manusia

Rata-rata pendidikan di kelompok

tani ini adalah SD dan beberapa SMP

serta S1. Hanya beberapa orang di

kelompok tani ini yang berusia muda.

Rendahnya pendidikan sangat

berpengaruh pada pengambilan

keputusan. Banyak petani yang

berperilaku mencontoh dari nenek

moyangnya, sehingga tidak ada

pembaharuan. Mereka memegang

teguh budaya yang ada. Petani sulit

menerima teknologi yang kini sudah

mulai berkembang. Hal ini termasuk

kelambanan budaya.

Petani mulai disarankan oleh PPL

untuk menanam padi dengan sistem

jajar legowo yang dapat menaikkan

jumlah produksi dengan luas lahan

yang sama, tetapi hanya beberapa

yang menerapkan. Pertemuan

kelompok tani diadakan sebulan

sekali. Salah satu materinya yaitu jajar

legowo. Mulai dari pola tanam hingga

Page 34: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

98

hasil yang didapat dan

membandingkan dengan sistem tanam

padi yang biasanya secara demonstrasi

plot sehingga petani paham dan

menerapkan sistem tersebut.

Meskipun demikian masih ada petani

yang belum bisa menerima

pembaharuan. Petani menganggap

sistem jajar legowo boros karena

banyak lahan yang kosong. Petani

belum bisa belajar dari petani lain

yang sudah menikmati hasil sistem

jajar legowo.

Petani yang mempunyai

pendidikan SMP, SMA, dan

Perguruan Tinggi dapat menerima

masukan dengan dengan baik. Tidak

perlu waktu yang lama dalam

beradaptasi, mempunyai ketekunan

dan keloyalan yang baik dalam

bertani. Walaupun produksi

berkurang, petani terus melanjutkan

usahanya. Ketika padi terserang hama,

petani juga melakukan tindakan

perlindungan tanaman dengan

penyemprotan racun untuk hama.

Risiko Pertanian dan Usaha Petani

dalam Menanggulangi

Menurut Djohanputro (2008)

risiko pertanian termasuk risiko

spekulatif. Risiko spekulatif adalah

risiko yang memberikan kemungkinan

untung (gain) atau rugi (loss) atau

tidak untung dan tidak rugi (break

even). Risiko Spekulatif disebut juga

risiko dinamis (dynamic risk).

Ada beberapa hal yang

menyebabkan turunnya jumlah

produksi. Risiko produksi terjadi

karena variasi hasil akibat berbagai

faktor yang sulit diduga, seperti cuaca,

penyakit, hama, variasi genetik, dan

waktu pelaksanaan kegiatan (Tjeppy,

2007).

a. Risiko Produksi

Pertanian sangat bergantung

pada kondisi alam, jika tanaman

ditanam pada musim yang cocok maka

akan diperoleh hasil maksimal. Ketika

kondisi alam mendukung maka hasil

panen sesuai dengan yang diharapkan.

Pada musim kemarau, sering

kali pasokan air berkurang sehingga

kebutuhan untuk tanaman semakin

berkurang juga. Hal ini menyebabkan

lahan sawah kekeringan. Dari aspek

hidrometeorologi kekeringan timbul

dan disebabkan oleh berkurangnya

curah hujan selama periode tertentu.

Dari aspek pertanian, kekeringan

dinyatakan jika lengas tanah

berkurang sehingga tanaman

Page 35: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

99

kekurangan air. Lengas tanah (soil

moisture) merupakan parameter yang

menentukan potensi produksi

tanaman. Ketersediaan lengas tanah

terkait erat dengan tingkat kesuburan

tanah. Secara hidrologi kekeringan

ditandai dengan berkurangnya air pada

sungai, waduk dan danau (Nalbantis

dan Tsakiris, 2008).

Lahan yang kering dapat

mengakibatkan datangnya hama tikus.

Tikus merusak tanaman dengan

mengerat batang dan memakan biji

padi hingga habis. Untuk mengurangi

populasi tikus, petani menebar racun

di areal pinggir sawah secara

serempak dan sesekali melakukan

gropyokan. Penebaran racun biasanya

dilakukan oleh petani yang

mempunyai lahan jauh dari

perumahan untuk menghindari ternak

ayam makan racun tikus.

Di musim penghujan pasokan air

berlimpah. Lahan mendapat aliran air

dari sumber air dan hujan. Hal ini

mengakibatkan lahan sawah tergenang

air dan tanaman dapat roboh. Hama

pemyakit yang datang pada musim

penghujan di antaranya wereng,

penggerek batang dan blas.

Secara umum menurut Balai

Besar Penelitian Tanaman Padi

(2016a) pada musim hujan hama

maupun penyakit berkembang lebih

pesat dan mengakibatkan kerusakan

tanaman lebih parah. Sumber OPT

dari musim sebelumnya berkembang

dengan intensitas tinggi. Hal ini

diduga karena terjadi anomali iklim

yang ditunjukkan dengan musim

kemarau basah. Dengan kondisi cuaca

yang sudah tidak normal, akan secara

langsung berdampak pada perubahan

perilaku organisme yang berkembang

di tanaman padi.

Jika tanaman roboh, biasanya

petani akan memanen padi saat masih

muda untuk menghindari padi yang

tumbuh dalam genangan air, sehingga

petani tetap dapat menikmati hasil

walaupun tidak maksimal. Kegagalan

panen juga berdampak pada

penurunan mutu beras. Beras menjadi

kusam atau agak hitam serta mudah

pecah. Hal ini berpengaruh pada nilai

jual, sehingga dikonsumsi sendiri.

b. Risiko Harga

Ketika persediaan melimpah

maka harga beras akan turun dan

sebaliknya saat langka harga akan

naik. Begitu juga halnya dengan

musim yang ekstrim. Pada puncak

kemarau harga beras dapat mencapai

Page 36: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

100

Rp 12.000/ kg, sedangkan pada

penghujan harga stabil Rp 7.500- Rp

9.500. Dari perhitungan input dan

output produksi, maka biaya yang

dikeluarkan lebih banyak daripada

hasil yang dipanen petani.

Ketidakstabilan harga merupakan

salah satu penyebab pasokan beras

yang menumpuk maupun terjadinya

kelangkaan.

Adanya ketidakstabilan harga

dapat mengakibatkan kecurangan di

pedagang maupun petani. Hal ini

beresiko memunculkan kemungkinan

pencampuran beras berkualitas tinggi

dengan beras berkualitas rendah demi

menghindari kerugian. Belum lagi di

tingkat pedagang saat distribusi beras.

Pada saat terjadi kelangkaan beras,

harga akan cenderung tinggi dan ini

justru akan mengakibatkan beras tidak

laku karena pembeli tidak dapat

membeli dengan harga yang tinggi.

Pada saat harga beras murah, petani

akan cenderung menimbun beras.

Petani tidak akan menjual hasilnya

karena dianggap rugi.

c. Risiko Teknologi

Teknologi pertanian berpengaruh

besar pada kualitas dan kuantitas

produksi tanaman. Namun perlu

diperhitungkan manfaatnya, efektif

dan efisien atau tidak di semua daerah,

dapat digunakan oleh semua petani

atau tidak, berlangsung dalam jangka

yang lama atau tidak dan sulit atau

tidaknya masyarakat dalam mengambil

keputusan dalam mengadopsi

teknologi baru.

d. Risiko Sosial dan Hukum

Karena keterbatasan pemerintah

dalam menyediakan subsidi pupuk,

maka pupuk bersubsidi hanya

diperuntukkan bagi Petani Tanaman

Pangan, Peternakan dan Perkebunan

Rakyat. Dan untuk menjamin

pengadaan dan mencegah terjadinya

penyimpangan, maka ditetapkan

penyaluran pupuk bersubsidi.

Subsidi pupuk diberikan tiga kali

dalam setahun sesuai dengan jadwal

tanam. Sedangkan untuk benih tidak

ada kepastian pemberian subsidi.

Ketidakpastian ini mengakibatkan

ketidakpastian pengeluaran petani.

Aplikasi teknologi pertanian

sangat penting. Kelambanan petani

dalam menerima informasi baru dapat

berpengaruh pada pembaruan yang

lebih mengguntungkan. Menurut

Hernanto (1991) untuk

memperkenalkan suatu teknologi baru

Page 37: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

101

pada suatu usahatani ada empat faktor

yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Secara teknis dapat dilaksanakan

2. Secara ekonomi menguntungkan

3. Secara sosial dapat diterima

4. Sesuai dengan peraturan pemerintah

Petani akan menerapkan

teknologi baru jika teknologi tersebut

sesuai dengan lingkungan daerah

setempat. Teknologi yang tidak rumit

lebih mudah diterima oleh masyarakat

karena mudah diterapkan. Petani akan

menggunakan teknologi ini jika dapat

menghemat tenaga dan waktu karena

memiliki pekerjaan lain selain

berpetani. Teknologi yang tidak

memerlukan biaya besar dan

menguntungkan akan mudah

diterapkan oleh petani.

Alternatif yang Dilakukan Petani

Ketika Mengalami Penurunan

Produksi

Gagal panen menjadikan

pendapatan petani menurun. Ini

memberatkan petani dalam memenuhi

kebutuhan sehari-hari dan pe-

ngembalian modal untuk penanaman

periode selanjutnya. Petani mem-

punyai beberapa alternatif untuk

menutup kekurangan yang ada.

Mengingat lahan yang kecil dan

risiko yang mungkin terjadi jika petani

hanya mengandalkan pertanian, maka

petani tidak hanya bekerja di

lahannya, tetapi mempunyai pekerjaan

lain yaitu bekerja di pabrik, guru SD,

kepala dusun, pengusaha ayam potong

maupun sebagai pengusaha lele.

Sehingga ketika usahatani sedang

tidak baik petani tetap mendapatkan

pemasukan. Ketika petani mengalami

gagal panen mereka tetap dapat

melanjutkan usahanya.

Harapan Mendatang Petani

Walaupun sering mengalami

gagal panen, petani tetap melanjutkan

usahanya. Petani selalu mempunyai

harapan dalam berusahatani.

a. Produksi meningkat

Meningkatnya produksi merupa-

kan keinginan semua petani yang

menjadi informan. Ketika petani

memperoleh hasil yang maksimal

maka kebutuhan hidup petani dapat

tercukupi. Petani tidak perlu membeli

beras untuk makan sehari-hari. Ketika

panen meningkat biasanya petani akan

menjual 25% dari produksi padinya

untuk dijual ke penggilingan padi

dengan harga Rp 9.000 - Rp 10.000/kg

tanpa melihat jenis berasnya. Jika hal

ini berlangsung terus maka

kesejahteraan petani akan membaik.

Page 38: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

102

b. Memanfaatkan lahan untuk

tanaman sayur

Setiap usaha selalu

menginginkan produksi yang

maksimal. Salah satu cara

meningkatkan produksi adalah

memanfaatkan semaksimal mungkin

luas lahan yang dimiliki, di antaranya

dengan menanam sayuran dataran

rendah dan buah pada pinggir lahan

sebagai peneduh dapat dipanen

buahnya untuk dijual. Kadang buah

tersebut tidak dijual tetapi ada yang

ingin membeli.

c. Usaha ternak ikan, ayam dan

sapi

Petani menganggap bahwa

pendapatan dari berternak lebih

menguntungkan daripada bertani padi,

sehingga ingin mempunyai usaha

peternakan dan perikanan. Untuk itu

petani membutuhkan kandang untuk

ternaknya dan kolam ikan. Pakan

ternak dipenuhi dengan merumput di

areal kebun karet, sehingga tidak perlu

membeli.

Budidaya ikan lele maupun ikan

nila tidak perlu menunggu waktu lama

untuk panen. Ikan dapat dipanen

sebelum petani memanen padi.

Kendalanya, kadang harga pakan ikan

mahal.

d. Image petani

Seperti yang diketahui nasib

petani sering digambarkan buruk.

Pada majalah anak-anak, petani

identik dengan caping dan baju kotor,

berbeda dengan pegawai kantor yang

berpakaian rapi serta berdasi. Image

petani sudah ditanamkan buruk pada

diri anak-anak sejak dini. Seharusnya

para ilustrator membuat tampilan

petani yang lebih baik sehingga

menumbuhkan minat anak-anak dalam

bidang pertanian karena sudah banyak

petani muda yang sukses.

Banyak generasi muda yang lebih

memilih bekerja di pabrik yang

berangkat pagi pulang petang namun

mempunyai gaji yang jelas daripada

bertani yang kotor dan hasilnya pun

belum jelas. Petani berharap agar

pemerintah mempunyai program

untuk semua orang yang bertani

diangkat menjadi PNS. Harapan ini

dimaksudkan agar menumbuhkan

minat pemuda dalam bidang pertanian.

Mengingat bahwa Indonesia

merupakan negara agraris yang sudah

semestinya bidang pertanian lebih

diunggulkan.

Page 39: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

103

Usaha Petani untuk Mencapai

Harapan yang Diinginkannya

Dalam teori harapan setiap

individu percaya bahwa bila seseorang

berperilaku dengan cara tertentu, maka

akan memperoleh hal tertentu. Hal ini

disebut sebuah harapan hasil (outcome

expectancy) sebagai penilaian sub-

jektif seseorang atas kemungkinan

bahwa suatu hasil tertentu akan

muncul dari tindakan orang tersebut

(Hubeis dan Vitalaya, 2007). Dalam

mencapai harapan, petani harus

mempunyai usaha untuk mencapai

harapan tersebut. Berikut adalah usaha

yang dilakukan petani di Dusun

Watugajah.

Petani yang menginginkan hasil

produksinya meningkat akan me-

minimalkan serangan hama dan

memaksimalkan upaya yang

meningkatkan produksi tanaman,

contoh dengan menerapkan sistem

tanam jajar legowo (Balai Besar

Penelitian Tanaman Padi, 2016b).

Petani sudah mempunyai kolam

dengan ukuran kecil untuk konsumsi

sendiri atau dijual. Begitu juga dengan

ternak ayam, petani sudah mempunyai

ternak ayam kampung. Usaha kecil ini

jika dilakukan dengan serius dapat

menjadi besar dan harapan petani

menjadi sejahtera akan tercapai.

Sebagian petani sudah menanam

sayuran yang cocok pada dataran

rendah seperti bayam, kangkung,

terong, tomat, cabai.

Cara Mengatasi Risiko Pertanian

a. Risiko Produksi

Balitbangtan (2003) merekomen-

dasikan embung untuk mengatasi

kekeringan sebagai teknologi

penyedia air. Embung adalah kolam

besar seperti waduk yang diharapkan

dapat terus menyediakan air di musim

kemarau. Risiko produksi yang

disebabkan karena adanya kekeringan

dapat diatasi dengan pembangunan

embung. Namun embung tidak bisa

menjangkau lahan yang daerahnya

lebih tinggi dari embung, sehingga

lahan yang di atas embung sebaiknya

ditanami tanaman kering seperti

jagung, aneka sayur yang cocok di

lahan dataran rendah, tembakau.

Upaya lain untuk mengatasi musim

penghujan yang berkepanjangan,

petani harus menanam padi dengan

varietas unggul. Varietas unggul

mempunyai kelebihan tahan terhadap

kondisi cuaca penghujan yang banyak

air.

Page 40: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

104

Menurut Balai Besar Penelitian

Tanaman Padi (2017) pestisida

merupakan semua zat kimia atau

bahan lain serta jazad renik dan virus

yang digunakan untuk pengendalian

atau mencegah hama atau penyakit

yang merusak tanaman, bagian

tanaman atau hasil pertanian.

Penggunaan pestisida merupakan

pilihan utama petani karena menekan

serangan OPT. Penggunaan pestisida

harus memperhatikan beberapa faktor:

1. Tepat hama sasaran

2. Tepat jenis pestisida

3. Tepat waktu aplikasi pestisida

4. Tepat dosis pestisida

b. Risiko Harga

Ketidakstabilan harga membuat

resah petani maupun pembeli beras.

Ketika harga beras murah petani tidak

akan menjual hasil panennya yang

berakibat persediaan beras di penjual

berkurang. Sebaliknya, saat harga

beras mahal maka kansumen akan

menjerit. Bulog berperan dalam

menstabilkan persediaan beras. Jika

persediaan beras cukup maka harga

tidak akan naik ataupun turun.

Campur tangan pemerintah

dalam ekonomi tentang beras antara

lain dilakukan melalui lembaga

pangan yang bertugas melaksanakan

kebijakan pemerintah yang

menyangkut aspek pra produksi,

proses produksi, serta pasca produksi.

Bulog dibentuk untuk mengendalikan

stabilitas harga dan penyediaan bahan

pokok, terutama pada tingkat

konsumen (Saifullah, 2001).

Upaya pengaktifan peran bulog

penting untuk menstabilkan harga

bahan pangan dan melindungi

kepentingan petani sebagai produsen

yang rentan terhadap fluktuasi harga.

Impor bahan pangan pada umumnya

dapat menstabilkan namun dalam

jangka yang pendek dan ini akan

berakibat pada petani produsen. Selain

bulog, adanya operasi pasar dan

operasi stabilisasi harga dapat

dilakukan untuk menekan fluktuasi

harga beras dengan melibatkan

pedagang.

c. Risiko Teknologi

Adopsi menurut Nagy (2010)

dalam konteks penggunaan teknologi

baru oleh organisasi adalah organisasi

melakukan pembelian dan menerapkan

teknologi baru tersebut. Jadi dapat

dikatakan bahwa adopsi adalah

serangkaian tahapan, kesadaran, niat

individu yang sampai pada tindakan

Page 41: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

105

menerima suatu objek dan

menggunakan teknologi tersebut.

Untuk menghindari kerugian

dalam mengadopsi teknologi baru,

petani harus mengeenal teknologi

tersebut. Pelatihan khusus terkait

teknologi baru dapat memudahkan

petani dalam pengambilan keputusan.

d. Risiko Sosial dan Hukum

Pembatasan subsidi dan

penyimpangan mengakibatkan

ketidakpastian adanya subsidi pupuk

maupun benih. Hal ini mempengaruhi

pengeluaran petani jika tidak ada

subsidi. Ketika subsidi benih dan

pupuk dibatasi, maka solusi yang bisa

ditempuh adalah petani menggunakan

biaya dari tabungan atau

memanfaatkan PUAP di tingkat desa

untuk memperoleh modal.

Sesuai Surat Keputusan

Menperindag No.

70/MPP/Kep/2/2003 tentang

Pengadaan dan Penyaluran Pupuk

Bersubsidi untuk Sektor Pertanian

dalam rangka mendukung ketahanan

pangan nasional sangat diperlukan

dukungan penyediaan pupuk yang

memenuhi prinsip 6 tepat yaitu : jenis,

jumlah, harga, tempat, waktu dan

mutu.

Persepsi Petani Tentang Masa

Depan

Petani berpikiran tentang

keinginan di masa depan seperti:

1. Produksi meningkat

Meningkatnya produksi

merupakan keinginan semua petani

yang menjadi sampel peneliti. Ketika

petani memperoleh hasil yang

maksimal maka kebutuhan hidup

petani dapat tercukupi. Petani mulai

tekun dalam merawat dengan cara

mengurangi adanya populasi hama

yang sampai saat ini tetap menjadi

keluhan para petani dan mencoba

menaikkan hasilnya dengan cara

penanaman dengan sistem jajar

legowo. Sistem jajar legowo adalah

suatu rekayasa teknologi untuk

mendapatkan populasi tanaman lebih

dari 160.000 per hektar. Penerapan

jajar legowo selain meningkatkan

populasi pertanaman tetapi juga

mampu berfotosintesis dengan baik

karena terdapat lorong-lorong

sehingga sinar matahari dapat masuk

ke tanaman (Balai Besar Penelitian

Tanaman Padi, 2016b).

2. Menambah luas lahan hidroponik

Hidroponik merupakan sistem

budidaya tanpa menggunakan media

Page 42: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

106

tanam tanah, melainkan air.

Hidroponik cocok diterapkan pada

daerah sempit. Hidroponik dapat

dilakukan di teras, samping, maupun

di atas rumah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Risiko usahatani yang dialami

petani meliputi risiko produksi, resiko

harga, risiko teknologi dan risiko

sosial dan hukum.

Upaya petani mengatasi risiko

produksi yaitu, pembuatan embung,

pengendalian hama dan pelaksanaan

pola tanam bergilir. Saat terjadi risiko

harga peran bulog sangat dibutuhkan.

Risiko teknologi diatasi dengan

identifikasi teknologi yang akan

diadopsi. Risiko sosial dan hukum

terkait pembatasan subsidi benih dan

pupuk diatasi dengan penggunaan

tabungan hasil dari pekerjaan lain

selain bertani dan dapat

memanfaatkan PUAP.

Harapan petani dalam

berusahatani yaitu: 1) meningkatkan

produksi dengan menambah luas lahan

tanaman sayur dan hidroponik, 2)

berusaha ternak ikan, ternak sapi dan

ayam, 3) pelatihan bisnis, pendanaan

(kredit modal), teknologi, dan pasar

bagi para pemuda dalam sektor

pertanian bernilai ekonomi tinggi pada

luas lahan yang relatif tidak luas.

Saran

Petani supaya memaksimalkan

produksi pada saat musim penghujan

dengan varietas yang tahan akan

genangan air. Petani supaya

memperhatikan kondisi pasar dan

pertimbangan biaya yang dikeluarkan.

Penggunaan pupuk dan pestisida harus

sesuai dengan dosis, menggunakan

pupuk organik dan menanam padi

dengan sistem jajar legowo.

Bagi peneliti, perlu dilakukan

penelitian multi lokasi.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

2016a. Waspada Serangan

Hama Tanaman Padi di Musim

Hujan. Kementrian Pertanian.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

2016b. Prinsip dan Populasi

Sistem Tanam Jajarlegowo.

Kementrian Pertanian.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

2017. Bahan Pestisida Nabati

Ramah Lingkungan.

Kementrian Pertanian.

Balitbangtan. 2003. Embung, Sedikit

Solusi Mengatasi Kekeringan.

Kementrian Pertanian

Republik Indonesia.

Page 43: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA” , Volume 12, Nomor 2, November 2018

107

Djohanputro, B. 2008. Manajemen

Risiko Korporat. Jakarta: PPM.

Manajemen.

Hernanto, F. 1991. Ilmu Usaha Tani.

Jakarta: Penebar Swadaya.

Hubeis dan Vitayala, A. 2007.

Expectacy Teori pada Studi

Kasus: Pelaksanaan Training

Sebagai Media Untuk

Mewujudkan Harapan Karyawan

di Suatu Perusahaan Jasa.

Program Pascasarjana

Manajemen dan Bisnis Institut

Pertanian Bogor.

Nagy, D. 2010. Understanding

Organizational Adoption Theories

Thought the Adoption of

Dirsubtive Innovation: Five Cases

of Open Source Software.

Graduate Theses and

Dissertation. University of South

Florida.

Nalbantis, I, and Tsakiris, G. 2008.

Assessment of Hydrological

Drought Revisited. Water

Resources Management.

Nawawi, D. 2005. Metode Penelitian

Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada

Offset.

Rahim, Abdul, dan Diah Retno Dwi

Hastuti. 2007. Ekonomika

Pertanian (Pengantar, Teori dan

Kasus). Penebar Swadaya,

Jakarta.

Saifullah, A. 2001. Peran Bulog

Dalam Kebijakan Perberasan

Nasional. Jakarta.

Surat Keputusan Menperindag No.

70/MPP/Kep/2/2003.

Tjeppy, D. S. 2017. Jurnal Litbang

Pertanian. 26(2).

Page 44: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

13

KAJIAN EFISIENSI TEKNIS DAN PREFERENSI RISIKO PRODUKSI PETANI DALAM RANGKA PENINGKATAN

PRODUKTIVITAS USAHATANI PADI SAWAH DI KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI - INDONESIA

Saidin Nainggiolan, Yanuar Fitri, Siti Kurniasih Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi

Emaiil :[email protected]

ABSTRACT

This study aims (1) To find out the description of the allocation of the use of inputs, production and the influence of the use of inputs to the production of lowland rice farming (2) To determine the technical efficiency and productivity function of lowland rice farming (3) To determine the risk preferences of paddy rice production farmers. 4) To find out the model for increasing the productivity of lowland rice farming by taking into account the technical efficiency and risk preferences of farmers. The location of the research was Tanah Sepenggal Subdistrict, Bungo.The location was chosen purposively. The data used were primary data. Primary data include production and output inputs, input and output prices, primary data obtained directly from farmers using a questionnaire. The sample size of 70 farmers. The method of sampling is the Simple Random Sampling Method. The data analysis method uses the Kumbhakar Function Model with the Stochastic Frontier approach.

The use of production inputs is still not technically efficient because the average technical efficiency is only 0.6235 (MT I) and 0.5647 (MT II). The behavior of rice farmers is risk averter. The risk averse behavior of farmers has consequences for the allocation of inputs used. The more avoiding the risk of productivity, the less input allocation used, this is evident from the use of production inputs below the recommended dosage so that the productivity achieved by farmers is low. The combination of the use of production inputs will affect the level of technical efficiency. Low average technical efficiency indicates that the risk preferences of lowland rice farmers affect the level of technical efficiency. To produce optimal productivity, it must use optimal production inputs. Key word : Technical Efficiency and Risk

PENDAHULUAN

Risiko produksi menjadi kendala utama terhadap pengambilan keputusan petani dalam

mengalokasikan input produksi. Akibatnya terjadi kesenjangan produktivitas potensial di tingkat petani

dengan produktivitas aktual yang dicapai petani (Purwoto, 1993 dan Aldila, 2013). Pengaruh gangguan

stokastik alam dari kegiatan produksi pertanian menjadi sumber utama risiko produksi. Akan tetapi variasi

hasil panen suatu produksi pertanian tidak hanya dijelaskan oleh faktor di luar kendali petani seperti harga

input dan output, tetapi juga faktor yang dapat dikendalikan oleh petani seperti alokasi pada penggunaan

input produksi (Just dan Pope 1979; Antle 1983 dalam Aldila, 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa

sumber-sumber risiko tidak hanya berasal dari faktor eksternal seperti cuaca. Sumber risiko produksi juga

dapat berasal dari faktor internal yaitu penggunaan input produksi seperti penggunaan benih, lahan, atau

pupuk. Tingginya tingkat produktivitas padi sawah tidak terlepas dari kemampuan petani dalam

mengalokasikan input-input produksinya tanpa mengabaikan serta menghitung risiko yang mungkin

terjadi kedepannya.

Besarnya risiko berproduksi yang dihadapi petani menyebabkan petani cenderung menolak

kemungkinan untuk menanggung risiko dan ketidakpastian usaha. Petani sebagai pengambil keputusan

menjadi enggan menambah modal untuk meningkatkan intensitas tanamsehingga usahatani tetap

Page 45: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

14

sederhana dan tidak efisien. Kurangnya pengetahuan petani dalam mengelola sumber daya produksi juga

mengakibatkan tidak teralokasinya input produksi dengan baik. Dalam melakukan budidaya, petani tidak

memiliki acuan yang tepat penggunaan input produksi. Petani lebih mengandalkan dari pengetahuan

turun temurun dari orang tua mereka dan berdasarkan pengalaman petani. Alokasi penggunaan input

produksi juga dibatasi oleh preferensi risiko produksi yang dimiliki oleh petani.

Studi-studi tentang efisiensi teknis dalam produksi pertanian telah banyak dilakukan. Sebagian besar

dari studi tersebut menjelaskan tentang kondisi rendahnya efisiensi teknis yang dicapai oleh para petani

dan menjustifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab adanya inefisiensi teknis dalam suatu usahatani

dengan tidak mempertimbangkan risiko dan perilaku risiko petani dalam analisisnya. Dalam kenyataannya

keberadaan risiko dan perilaku risiko petani akan mempengaruhi keputusan petani dalam

mengalokasikan input-input dalam usahataninya sehingga pada akhirnya akan juga mempengaruhi

produktivitas yang dicapai. Penggunaan input produksi dalam usahatani padi tentu akan mempengaruhi

tinggi rendahnya output yang akan dihasilkan. Apabila penggunaan input produksi dalam jumlah yang

lebih sedikit mendapatkan produksi yang lebih banyak maka usahatani disebut lebihefisien. Suatu

penggunaan input produksi dikatakan efisien secara teknis bila petani mampu mengalokasikan input

produksi sedemikian rupa dan petani memiliki preferensi risiko produksi yang baik sehingga petani

memperoleh peningkatan produktivitas.yang optimal

METODE PENELITIAN

Lokus penelitian Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo. Lokasi penelitian ini dipilih

secara purposive dengan pertimbangan bahwa daerah ini sentra penghasil beras. Penelitian ini

dilaksanakan pada April 2018 hingga Oktober 2018. Sumber data meliputi data primer dan data sekunder.

Metode pengumpulan data primer yaitu metode survei, observasi, dan wawancara langsung dengan

petanimenggunakan kuisioner .

Sebelum penarikan sampel, terlebih dahulu membuat kerangka sampling. Kerangka sampling

dibuat untuk mengetahui jumlah petani padi sawah. Dari kerangka sampling yang dibuat, diketahui bahwa

jumlah petani padi sawah pada lokasi penelitian sebanyak 1,245petani untuk empat desa sampel.

Penentuan jumlah sampel pada penelitian ini digunakan rumus Sugiarto (2003) sebagai berikut :

Dimana : n = jumlah sampel N = jumlah anggota dalam populasi (1.245) Z = tingkat kepercayaan (95% = 1,96) S2 = varian sampel (5% = 0,05) D = derajat penyimpangan (5%)

Ukuran sampel dari setiap desa sampel ditentukan dengan alokasi proporsional yaitu:

Metode penarikan sampel adalah dengan Simple Random Sampling Methode dan menggunakan tabel acak.

Page 46: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

15

Untuk mengetahui risiko usahatani padi sawah dapat digunakan rumus risiko produksi:

CVa = ...................................................................................(3.1)

Dimana : Cva = koefisien variasi risiko produksi Va = simpangan baku produksi usahatanipadi (kw) Ea = produksi rata-rata usahatanipadi (kw).

Untuk menjawab tujuan penelitian mengenai pengaruh penggunaan input terhadap output

usahatani padi sawah, menganalisis tingkat efisiensi teknis dan mengetahui perilaku risiko produktivitas

petani padi sawah adalah dengan menggunakan model yang dikembangkan oleh Kumbhakar (2002) .

Adapun bentuk fungsionalnya :

Dimana :

: Fungsi produksi rata-rata

: Fungsi risiko produksi

: Fungsi inefisiensi teknis

Yi : Jumlah produktivitas padi sawah (kg/ha) X1 : Jumlah benih (kg/ha) X2 : Jumlah tenaga kerja (HKSP/ha) X3 : Jumlah (kg/ha) X4 : Jumlah pupuk TSP (kg/ha) X5 : Jumlah pupuk SP36 (kg/ha) X6 : Jumlah pupuk KCL (kg/ha) X7 : Jumlah pupuk organik (kg/ha) X8 : Jumlah obat-obatan (ml/ha) X9 : Musim tanam vi : error term yang menunjukkan ketidakpastian produksi yang diasumsikan i.i.d (0,σu)2 ui : Inefisiensi teknis dengan asumsi i.i.d (0,σu)2 dan u>0, ui independen terhadap vi.

Tanda yang diharapkan untuk masing-masing parameter adalah > 0; < 0 atau

> 0; dan < 0 atau > 0.

Estimasi model dilakukan dengan menggunakan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Petani yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah petani padi sawah. Petani responden di

daerah penelitian rata-rata berada pada usia 35-60 tahun dengan tingkat pendidikan SMP/Sederajat dan

pengalaman berusahatani rata-rata 15-25 tahun serta jumlah tanggungan keluarga petani rata-rata

adalah 4 - 5 orang.

Penggunaan Input Produksi Usahatani Padi Sawah

Rata-rata penggunaan input produksi di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata Penggunaan Input Produksi di Daerah Penelitian, Tahun 2018

Page 47: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

16

No. Input Produksi Besarnya

1. Benih (kg/ha) 18,3

2. Pupuk urea (kg/ha) 120,4

3. Pupuk SP36 (kg/ha) 85,6

4. Pupuk KCL (kg/ha) 32,5

5. Pupuk Organik (kg/ha) 850

6. Insektisida cair (ml/ha) 625

7. Tenaga Kerja (HOK/ha) 95,7

8. Luas Lahan (ha) 0,85

Tabel 3 menunjukkan penggunaan benih sebanyak18,3kg/ha. Jumlah anjuran sebanyak 15 – 20

kg/ha. Rata-rata penggunaan pupuk urea sebanyak 120,4kg/ha, penggunaan pupuk urea tergolong

rendah karean penggunaan pupuk urea yang optimal sekitar 275-300 kg/ha (Balitbang, 2013). Rata-rata

penggunaan optimal pupuk SP36 sebanyak 75-100 kg/ha, berarti penggunaan pupuk SP36 tergolong sesuai

dengan dosis anjuran.

Menurut Balitbang (2013), penggunaan optimal pupuk KCl sebanyak 60 kg/ha, maka untuk

penggunaan pupuk KClmasih tergolong rendah iika dibandingkan penggunaan pupuk KClhanya sebanyak

32,5 ha/kg. Penggunaan pupuk organik masih tergolong rendah hanya sebanyak850ha/kg. Hal ini tidak

sesuai anjuran Balitbang (2013) yang menyatakan bahwa penggunaan pupuk organik sebanyak

2000kg/ha. Rata-rata penggunaan insektisida cair hanya sebanyak 655 ml/ha.

Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Sawah

Analisis fungsi produksi bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan input

terhadap output, bagaimana respon produksi (output) terhadap penggunaan faktor produksi (input). Hail

pendugaan fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dilihat Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Padi Sawah di Daerah Penelitian, Tahun 2018

Variable

Coefficient

MT I MT II Gabung (MT.

Dummy)

Gabung

(TanpaDummyMT)

X1 0.361541

(0.0297)

0.265690

(0.0320)

0.474727

(0.0222)

0.363616

(0.0100)

X2 0.239002

(0.0244)

0.316328

(0.0285)

0.438572

(0.0135)

0.227665

(0.0156)

X3 -0.135587

(0.0961)

-0.377219

(0.0063)

0.105232

(0.0415)

-0.135282

(0.0580)

X4 0.304298

(0.2306)

0.291718

(0.3553)

0.328203

(0.1238)

0.298008

(0.1975)

Page 48: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

17

X5 0.324012

(0.0320)

0.231405

(0.0370)

0.343201

(0.0021)

0.227709

(0.0095)

X6 0.274569

(0.1961)

0.033451

(0.0311)

0.325242

(0.0698)

0.275131

(0.1288)

X7 -0.022356

(0.4249)

-0.000026

(0.9980)

0.112312

(0.5779)

-0.000691

(0.6417)

X8 0.360575

(0.0066)

0.377155

(0.0283)

0.428936

(0.0321)

0.368865

(0.0010)

Dummy - - -0.002639

(0.0032) -

C 5.060825

(0.0000)

4.832592

(0.0000)

5.008647

(0.0000)

4.946709

(0.0000)

Adj. R2 0.827563 0.833475 0.935462 0.864692

Model yang terbebas dari uji asumsi klasik adalah pendugaan fungsi produksi dengan MT

sebagaiDummy.. Nilai Durbin-Watson stat sebesar 1.557371<1.7 dan nilai Prob Chi Square(9) sebesar

0.1581>0.05 itu berarti model bebas dari Autokorelasi. Hasil uji Normalitas menunjukan nilai Jarque-Bera

sebesar 1.2970 dengan P Value sebesar 0.0923>0.05 sehingga data berdistribusi normal. Uji

Multikolieniritas dilihat dari nilai VIF X1-X9<10. berarti tidak terdapat Multikolieniritas didalam model.

Nilai P Value ditunjukan dengan nilai Prob Chi Square(9) pada Obs* R-Square yaitu sebesar 0.0711>0.05

maka tidak ada masalah dengan Heteroskedastisitas didalam model.

Tabel 2, menunjukkan nilai Adj. R2 = 0,9355, berarti 93,55 % variasi produksi mampu dijelaskan

secara bersama-sama oleh variabel luas lahan, benih, pupuk urea, SP36, KCl, pupuk organik, insektisida,

tenaga kerja dan dummy sedangkan sisanya 6,45 % dipengaruhi oleh faktor lain diluar model. Input

produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi adalah benih, urea, SP36, pupuk organik, luas lahan

dan dummy. Hasil analisis diperoleh Fstatistic sebesar 96,42 dengan probabilitas 0,0000. Nilai prob, 0,000 <

α (0,01) menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata, artinya variabel bebas yang terdapat dalam model

secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap produksi padi . Nilai ∑βi = 2,5538> 1; berada

pada daerah II kurva produksi, atau daerah Increasing Return to Scale. Hal ini berarti setiap penambahan

input produksi dalam proporsi yang sama akan menghasilkan output yang semakin bertambah (IRTS).

Pendugaan Fungsi Produktivitas Usahatani Padi

Pendugaan fungsi produktivitas frontier usahatani padi menggunakan input produksi; benih, pupuk

urea, pupuk SP36, pupuk KCl, pupuk organik, insektisida cair, dan tenaga kerja dalam model.Hasil estimasi

fungsi produktivitas dapat dilihat Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pendugaan Fungsi Produktivitas Usahatani Padi di Daerah Penelitian dengan Metode MLE, Tahun 2018

Variable

Coefficient

MT I Sig MT II Sig

Page 49: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

18

X1 0.413381 (0.0101) 0.404041 (0.0190)

X2 0.379565 (0.0042) 0.25655 (0.0088)

X3 -0.056016 (0.0011) -0.066619 (0.0004)

X4 0.202597 (0.1246) 0.224968 (0.1116)

X5 0.230733 (0.0004) 0.300926 (0.0361)

X6 0.264985 (0.0052) 0.279952 (0.0464)

X7 0.143263 (0.4117) 0.149134 (0.8719)

C 5.405453 (0.0000) 5.527277 (0.0000)

Adj. R2 0.788710 0.758627

Tabel 3 menunjukkan bahwa untuk MT I nilai Adj. R2= 0,788710, berarti 78,87% variasi produksi

mampu dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel (benih, pupuk urea, pupuk SP36, pupuk KCL, pupuk

organik, insektisida cair dan tenaga kerjasedangkan sisanya 21,13% dipengaruhi faktor lain di luar model.

Nilai elastisitas produktivitas dari variabel benih, pupuk urea, pupuk SP36, pupuk KCl, pupuk organik,

insektisida cair dan tenaga kerja berturut-turut sebesar 0,4134; 0,3796; -0,05602; 0,2026; 0,2307; 0,2650;

0,1433;. Jika benih, pupuk urea, SP 36, KCl, pupuk organik, insektisida cair, dan tenaga kerja ditambah

sebesar 10% dengan asumsi ceteris paribus maka dapat meningkatkan produktivitas masing masing

sebesar 4,13% ; 3,79%; -0,56%; 2,02%; 2,30%; 2,64 %; dan 1,43%.

Nilai ∑ βi = 1,578 > 1; berada pada daerah II kurva produksi, atau daerah Increasing Return to Scale.

Hal ini berarti setiap penambahan input produksi dalam proporsi yang sama akan menghasilkan

penambahan output yang semakin bertambah (IRTS). Variabel-variabel yang berpengaruh nyata terhadap

produksitivitas pada taraf α = 0,05 adalah benih, pupuk urea, pupuk SP36, pupuk organik dan insektisida

cair Sedangkan pupuk KCL dan tenaga kerja berpengaruh tidak nyata terhadap produktivitas.

Tabel 3 MT II menunjukkan nilai Adj. R2= 0,758627, berarti 75,86% variasi produksi mampu

dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel (benih, pupuk urea, pupuk SP36, pupuk KCL, pupuk organik,

insektisida cair dan tenaga kerjasedangkan sisanya 24,14% dipengaruhi oleh fakto-faktor lain di luar

model. Nilai elastisitas produktivitas dari variabel benih, pupuk urea, pupuk SP36, pupuk KCl, pupuk

organik, insektisida cair dan tenaga kerja berturut-turut sebesar0,4040;0,2565;-0,0667;

0,2249;0,3010;0,2799;0,1491. Jikabenih, pupuk urea, SP 36, KCl, pupuk organik, insektisida cair, dan

tenaga kerja ditambah sebesar 10% dengan asumsi ceteris paribus maka dapat meningkatkan

produktivitas masing masing sebesar 4,04% ; 2,56%; -0,67%; 2,25%; 3,01%; 2,79 %; dan 1,49%.

Nilai ∑ βi = 1,549> 1; berada pada daerah II kurva produksi, atau daerah Increasing Return to Scale.

Hal ini berarti setiap penambahan input produksi dalam proporsi yang sama akan menghasilkan

penambahan output yang semakin bertambah (IRTS). Variabel-variabel yang berpengaruh nyata terhadap

produksitivitas pada taraf α = 0,05 adalah benih, pupuk urea, pupuk SP36, pupuk organik dan insektisida

cair Sedangkan pupuk KCL dan tenaga kerja berpengaruh tidak nyata terhadap produktivitas.

Efisiensi Teknis Usahatani

Nilai efisiensi teknis petani dikategorikan cukup efisien jika TE>0,7 dan dikategorikan belum efisien

jika TE ≤ 0,7.Hasil pendugaan efisiensi teknis usahatani padi sawah dapat dilihat tabel 4:

Page 50: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

19

Tabel 4. Efisiensi Teknis Usahatani Padi Sawah di Daerah Penelitian, Tahun 2018 MT I

Efisiensi Teknis Jumlah Petani Persentase (%)

0,50-<0,55 6 8,57 0,55-<0,60 12 17,14 0,60-<0,65 42 60,00 0,65-<0,70 6 8,57 0,70-<0,75 4 5,71

Total 70 100,00

Efisiensi Teknis Terendah 0,5012 Efisiensi Teknis Tertinggi 0,7436 Rata-Rata Efisiensi Teknis 0,6235

MT II

Efisiensi Teknis Jumlah Petani Persentase (%)

0,50-<0,55 7 10,00 0,55-<0,60 28 40,00 0,60-<0,65 20 28,57 0,65-<0,70 13 18,57 0,70-<0,75 2 2,86

Total 70 100,00

Efisiensi Teknis Terendah 0,5125 Efisiensi Teknis Tertinggi 0,7234 Rata-Rata Efisiensi Teknis 0,5647

Tabel 4, menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi teknis pada usahatani padi sawah MT I adalah

0,6235, berarti rata-rata produktivitas yang dicapai petani sekitar 62,35 persen dari produksi frontier.

Potensi peningkatan produksi masih tersedia sebesar 0,3765 atau sebesar 37,65 persen. Hasil analisis

efisiensi teknis juga menunjukkan bahwa tingkat efisiensi teknis terendah adalah 0,5012 dan tertinggi

adalah 0,7436. Sementara rata-rata efisiensi teknis pada usahatani padi sawah MT II adalah 0,5647,

berarti rata-rata produktivitas yang dicapai petani sekitar 56,47 persen dari produksi frontier. Potensi

peningkatan produksi masih bisa ditingkatkan sebesar atau sebesar 43,53 persen. Hasil analisis efisiensi

teknis juga menunjukkan bahwa tingkat efisiensi teknis terendah pada petani padi sawah adalah 0,5125

dan tertinggi adalah 0,7234. .Hal ini merefleksikan bahwa peluang peningkatan produktivitas cukup besar

karena senjang antara tingkat produktivitas yang telah dicapai petani dengan potensi produksi masih

besar. Dalam kaitan ini bahwa untuk meningkatkan produktivitas usahatani secara nyata diperlukan input

produksi secara optimal.

Risiko Produksi Usahatani

Indikasi adanya risiko produksi dapat dilihat dari besarnya koefisien variasi. Nilai koefisien variasi

produksi menunjukkan varian nilai rata-rata produks. Adapun perbandingan risiko produksi antara musim

tanam dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Produktivitas Dan Risiko Usahatani Padi Sawah Berdasarkan Musim Tanam di Daerah Penelitian, Tahun 2018

Produktivitas Usahatani Padi Sawah (ton/ha/mt)

Uraian Musim Tanam

Page 51: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

20

MT I MT II

Produktivitas 5.200 4.350

Standar Deviasi 2.855 2.675

Koefisiensi Variansi (%) 0,4123 0,6154

Tabel 5 menunjukan bahwa besarnya koefisien variasi (KV) MT I adalah KV = 41,23 % dan MT II

dengan KV = 61,54 %. Koefisien variasi ini menginkasikan besarnya risiko produksi.Apabila besarnya KV

semakin besar mengindikasikan adanya risiko produksi yang semakin besar.Risiko prosuksi kedua MT

tergolong besar. Besarnya rata-rata KV = 51,45 %, berarti besarnya variasi produksi sebesar 51,45 % dari

rata-rata produktivitas. Penelitian Suharyanto, et,al (2015), bahwa risiko produksi disebabkan oleh faktor

internal seperti penggunaan berbagai input produksi yang tidak sesuai anjuran. . Menurut Satoto et,al

(2013) beberapa upaya untuk mengurangi senjang hasil antar musim yaitu mengetahui periode serangan

hama dan penyakit, menggunakan varietas unggul yang spesifik, dan menerapkan teknik budi daya yang

sesuai baik pada musim hujan maupun musim kemarau.

Preferensi Risiko Produksi Petani Padi Sawah

Hasil pendugaan fungsi produktivitas frontier, risiko produksi dan analisis preferensi risiko petani

diperoleh rata-rata nilai θ petani adalah -0,016 dan rata-rata nilai λ adalah 1,995 pada usahatani padi

sawah MT I, sedangkan pada usahatani padi sawah MT II rata-rata nilai θ petani adalah -0,204 dan rata-

rata nilai λ adalah 2,641. Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata perilaku risiko produktivitas petani padi

sawah terhadap input-input produksi adalah risk averter, hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian

Natasa Apriana et,al (2015) yang menunjukkan bahwa rata-rata preferensi risiko petani adalah risk taker.

Keputusan petani yang bersifat risk averse berpengaruh terhadap alokasi input yang digunakan.

Petani yang bersifat risk averse akan mengalokasikan input produksinya lebih kecil jika dibandingkan

dengan petani yang risk taker sehingga produksinya pun rendah. Hasil analisis preferensi risiko petani padi

sawah di Kecamatan Tanah Sepenggal dengan menggunakan model analisis preferensi risiko (Kumbhakar,

2002) menghasilkan besaran nilai θ dan λ yang dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Preferensi Risiko Produktivitas Petani Padi Sawah di Daerah Penelitian, Tahun 2018

MT I

Input Produksi Rata-rata Nilai θ Rata-rata Nilai λ Preferensi Risiko

Benih 1,699 1,679 Risk Taker

Urea -0,795 2,76 Risk Averter

SP36 0,957 3,157 Risk Taker

KCL -0,982 2,841 Risk Averter

Organik -1,266 1,034 Risk Averter

Insektisida Cair 0,119 2,358 Risk Averter

Tenaga Kerja 0,157 0,136 Risk Taker

Rata-rata -0,016 1,995 Risk Averter

MT II

Input Produksi Rata-rata Nilai θ Rata-rata Nilai λ Preferensi Risiko

Page 52: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

21

Benih 0,747 2,102 Risk Taker

Urea -1,675 3,149 Risk Averter

SP36 0,812 2,927 Risk Taker

KCL -0,495 2,64 Risk Averter

Organik -1,085 2,895 Risk Taker

Insektisida Cair 0,116 2,376 Risk Averter

Tenaga Kerja 0,152 2,396 Risk Taker

Rata-rata -0,204 2,641 Risk Averter

Perilaku risiko produktivitas petani pada input pupuk urea, pupuk KCL, pupuk organik dan

insektisida cair adalah risk averter. Hal ini berarti bahwa petani padi sawah berperilaku takut atau tidak

berani mengalokasikan input-input pupuk urea, pupuk KCL, pupuk organik dan insektisida cair dalam

jumlah yang lebih besar. Sehingga penggunaan input-input tersebut masih di bawah dosis anjuran. Untuk

input benih, pupuk SP36 dan tenaga kerja, petani berperilaku risk taker. Hal ini berarti petani berani

mengalokasikan input tersebut dalam jumlah yang lebih besar pada usahataninya untuk memperoleh

produksi yang lebih tinggi.

Rrata-rata efisiensi teknis usahatani padi sawah pada petani risk averse adalah rendah (ET<0,7)

yaitu 0,6235 untuk MT I dan 0,5647 untuk MT II. Nilai rata-rata θ yang lebih kecil dari nilai rata-rataλ

berimplikasi bahwa, keputusan petani padi sawah dalam mengaloksikan input–input dalam usahataninya,

lebih dipengaruhi oleh keinginan untuk mencapai efisiensi teknis daripada ketakutan terhadap risiko

produksi. Ini berarti adanya keinginan petani untuk mencapai efisiensi teknis akan tetapi dibatasi dengan

ketersediaan modal.

Penggunaan Input Optimal dalam Rangka Peningkatan Produtivitas.

Efisiensi pengelolaan usahatani berkaitan dengan kemampuan manajerial petani, Penggunaan

input produksi dikatakan efisien apabila NPMx1 = Px1. Semua variabel yang dimasukkan dalam model

belum efisien, terlihat dari IE = NPMx1 /Px1> 1. Penambahan input produksi memberikan peluang besar

untuk memperoleh sejumlah produksi yang menguntungkan. Jika dikaitkan efisiensi alokatif denganhasil

estimasi fungsi produktivitas frontier, maka besarnya alokasi penggunaan input optimal dapat dilihat

Tabel 6.

Tabel 6.Perbandingan Penggunan Input Aktual dan Optimal Pada Usahatani Padi di Daerah Penelitian, Tahun 2018.

Input Produksi Penggunaan Input Produksi

X actual X optimal

Luas Lahan (ha) 1,15 1,28

Benih (kg/ha) 18,3 27,5

Urea (kg/ha) 165,4 196,7

SP36(kg/ha) 98,5 115,5

Page 53: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

22

KCl (kg/ha) 32,4 76,2

Pupuk Organik (kg/ha) 850,6 2.185,6

Tenaga Kerja (HOK/ ) 103,6 118,5

Insektisida Kimia (m/ ) 625,0 1.475,2

Produksi (ton/ha) 5,35 8,87

Tabel 6 menunjukan bahwa semua penggunaan input produksi actual jumlahnya berada dibawah

penggunaan input optimal. Produksi meningkat dari 5,35ton/ha menjadi 8,87ton/ha., atau 65,8 %. Dari

hasil analisis deskiptif diperoleh gambaran bahwa sebanyak 85,6 % petani tidak memenuhi aplikasi input

produksi sesuai anjuran, petani sering dihadapkan pada risiko alam (72,5 %), dan keterbatasan modal

dalam menyediakan input produksi (81,2 %).

KESIMPULAN

Analisis fungsi produktivitas usahatani padi menghasilkan efisiensi teknis tergolong rendah yang

berarti masih tersedia peluang peningkatan produksi yang cukup besar, efisiensi teknis sangat respon

terhadap luas lahan, benih, dan pupuk urea. Perilaku risiko produktivitas petani terhadap input produksi

adalah menghindari risiko (rizk averse). Hal ini berarti apabila terjadi kenaikan harga input maka petani

sebagai pengambil keputusan akan mengimbanginya dengan menurunkan keuntungan yang diharapkan

atau mengurangi penggunaan input produksi.

Kebijakan yang perlu dipertimbangkan dalam rangka peningkatan produksi padi yaitu:

peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi tepat guna, perluasan areal pertanaman padi

dengan peningkatan indeks pertanaman (IP), menekan kehilangan hasil pada saat panen dan pasca panen,

meningkatkan stabilitas hasil dengan penerapan pengelolaan tanaman terpadu, menekan senjang hasil

antara produktivitas di tingkat petani dengan produktivitas hasil penelitian melalui penerapan teknologi

spesifik local dan dukungan permodalan . Keberhasilan produksi perlu didukung dengan kebijakan subsidi

yang tepat bagi petani karena kondisi petani tergolong petani gurem, berlahan sempit dan memiliki

keterbatasan modal usahatani.Subsidi yang dimaksud adalah berupa subsidi harga atas gabah dan subsidi

bunga modal berupa kredit ushatani dengan biaya rendah dan proseduryang lebih mudah bagi petani.

DAFTAR PUSTAKA Aldila, Haris Fatori. 2013. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Produksi Jagung Manis (Zea

Mays Saccharata) Di Desa Gunung Malang Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor. Skripsi (Dipublikasikan). Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Diunduh dari http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/63077. (Diakses pada tanggal 4 September 2017).

Natasha, Apriliana, Anna Fariyanti dan Burhanuddin. 2017. Preferensi Risiko Petani Padi Di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Jurnal. Program Studi Agribisnis, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Balitbang. 2015. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi. Diunduh dri http:www.litbang.pertanian.go.id/special/komoditas/files/0104-PADI.pdf. (Diakses pada tanggal 4 September 2017).

Kumbhakar, C.S. 2002. Spesification and Estimation of Production Risk, Risk Preference and Tehnical Efficiency. American Journal of Agricultural Economics, 84(1) : 8-22.

Page 54: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Journal Of Agribusiness and Local Wisdom eISSN:2621-1300 (e) ; 2621-1297 (p), volume 2. No.1 Juni 2019

23

Wafi, Afdhony, 2018. Analisis Risiko Produktivitas Usahatani Padi Sawah di Kecamatan Batang Asam Kabupaten Tanjung Barat. Skripsi. Jurusan/Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas, Jambi.

Purwoto, A. 1993. Efisiensi Usahatani Padi Tanpa dan Dengan Mempertimbangkan Risiko, Serta Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Terhadap Sikap dalam Menghadapi Risiko :Studi Kasus di Dua Desa di Jawa Tengah. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Satoto, Y. Widiasstuti, U. susuanto dan M.J Mejaya,2013. Perbedaan Hasil padi antar Musim di lahan sawah irigasi. IPTEK Tanaman pangan 8(2):55 – 61.

Suharyanto, Jemmy Rinaldy, nyoman Ngurah Arya. 2015. Analisis Risiko Produksi Usahatani Padi sawah Di provinsi Bali.Fakultas Pertanian Universitas Udayana,Bali.03. Teknik Sampling. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka.

Page 55: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 73

ANALISIS RISIKO PRODUKSI USAHATANI PADI LAHAN BASAH DANLAHAN KERING DI KABUPATEN MELAWI

ROFINUS RAMA1), NURLIZA2), EVA DOLOROSA2)

1) Alumni Magister Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian UniversitasTanjungpura Pontianak.

2) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak

ABSTRACTThis study aims to analyze the production risk of rice farm and compare

production risk betwen wetland rice farm and field rice farm. The method used inthis study is deskriptive and quantitative method. The location is determined bypurposive. Data obtained through interviews with160 randomly simple ricefarmers. The method used is just and pope production of multiple linearregression analysis with cobb douglas method and t test analysis.

The results of this research were: the model showed that the factors such asland width, seeds, urea fertilizers, pesticides and quantity of family labours had areal influence to the increase of the wetland rice farm production. While NPKfertilizers, age and education of farmers did not influence to (non-significant) theincreasing of rice production.The model used in this research had showed thatland width, pesticides, quantity of family labours and age of farmers had a realinfluence to the increase of the field rice farm production. While seeds andeducation farmer did not influence to (non-significant) the increasing of riceproduction. Compare production risk between wetland rice farm and field ricefarm showed real difference.Keywords: Risk, Production, Rice Farm, wetland and field.

PENDAHULUANKabupaten Melawi merupakan salah satu kabupaten di bagian timur

Kalimantan Barat yang cukup potensial untuk pengembangan tanaman pertanianterutama padi yang merupakan sumber pangan terbesar di kabupaten tersebut.Produksi total padi tahun 2015 di kabupaten Melawi secara keseluruhan sebesar36.246 ton, dari jumlah tersebut tersebar di 11 kecamatan dengan luas panenseluas 16.632 hektar sedangkan produktifitas padi sebesar 23,6 kuintal perhektarnya. Sementara itu pemanfaatan lahan untuk pertanian di KabupatenMelawi cenderung meningkat setiap tahunnya.

Usahatani padi didukung penuh oleh pemerintah melalui dana daerahmaupun bantuan sosial pusat yang digulirkan setiap tahunnya. Berbagai programekstensifikasi, intensifikasi maupun program upaya khusus yang digalakkan olehPemerintahan sekarang guna meningkatkan Ketahanan Pangan Daerah maupunNasional.Namun demikian bansos yang diberikan belum memberikan pengaruhyang nyata terhadap peningkatan produksi padi karena masih belum mencukupijika dibandingkan luas wilayah dan jumlah desa yang memiliki potensi.

Usahatani padi di kabupaten Melawi tidak dapat dipisahkan dari resiko yangberdampak pada produksi. Sumber risiko dari internal merupakan risiko produksidan teknik yaitu risiko produksi yang terjadi oleh adanya hubungan teknis antaraoutput dan tingkat penggunaan input. Menurut Asche dan Tveteras (1999), faktor

Page 56: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 74

produksi atau input produksi dapat bersifat meningkatkan risiko dan ada pulayang mengurangi risiko. Penggunaan faktor produksi dapat menjadi penyebabsebagai pengurang risiko produksi(Risk Reducing Factor) atau sebagai penyebabmeningkatnya risiko produksi(Risk Inducing Factor). Penggunaan input pupukmasih belum sesuai anjuran rekomendasi karena keterbatasan jumlah danketerlambatan waktu penggunaan pupuk oleh petani. Kurangnya alat mesinpertanian dan penguasaannya dirasa masih kurang oleh petani misalnyapenggunaan hand traktor. Insfrastruktur jaringan irigasi dan jalan usahataniwalaupun sudah banyak yang dibangun dirasa masih kurang memadai. Seranganhama dan penyakit ini juga sangat berpengaruh terhadap resiko produksi padiapalagi petani kurang memahami risiko yang diakibatkan oleh serangan hama danpenyakit.

Usahatani pada lahan basah dihadapkan pada permasalahan yaitu reaksitanah yang masam(pH rendah), adanya pirit, serta pelandaianproduktifitas(levelling off) dalam produksi padi yang disebabkan oleh banyakfaktor, diantaranya iklim, topografi, dan degradasi kesuburan tanah. Pemanfaatanlahan kering untuk usahatani padi dihadapkan masalah keterbatasan sumber airkarena sumber pengairannya berasal dari air hujan. Masalah lain dihadapi padausahatani lahan kering adalah tingkat kesuburan yang rendah, tanah bereaksimasam (pH rendah), bahan organik rendah, kadar Al yang tinggi, dansolum(ketebalan) tanah yang rendah dan lahan kering banyak dijumpai padadaerah yang miring sehingga mudah terdegradasi oleh erosi tanah. Faktor inputproduksi bukan merupakan satu-satunya yang menyebabkan risiko produksi padi.Faktor lingkungan atau eksternal merupakan faktor lainnya yang dapatmenyebabkan risiko. Beberapa faktor eksternal yang dapat menyebabkan risikoproduksi padi adalah perubahan iklim, curah hujan, kekeringan dan hamapenyakit.

Adapun tujuan penelitian ini adalah (a) Menganalisa faktor-faktor yangmempengaruhi produksi usaha tani padi pada lahan basah dan lahan kering (b)Menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi risiko produksi usaha tani padipada lahan basah dan lahan kering (c) Menganalisa perbandingan risiko produksiusaha tani lahan basah dan lahan kering.

METODE PENELITIANDalam penelitian ini menggunakan metode penelitian yang dilakukan

dengan pendekatan Observasi, Survey dan Kepustakaan. Teknik pengambilanLokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive sampling). Menurut Sugiyono(2009) purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangantertentu. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Melawi difokuskan pada duakecamatan yang memiliki potensi pertanian padi lahan basah dan lahan keringyaitu Kecamatan Belimbing dan Kecamatan Ella Hilir. Waktu penelitian kuranglebih dua bulan dengan menggunakan metode deskriftif dan kuantitatif. Datadikumpulkan dengan melakukan wawancara yang disertai dengan daftar kuisionerterstruktur.

Untuk pengambilan sample petani dalam penelitian ini dilakukan secarasimple random sampling. Menurut Sugiyono (2009), simple random samplingmerupakan prosedur pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acaktanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Petani responden yang

Page 57: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 75

diambil adalah petani yang melakukan usahatani padi sebanyak 160 orang dimana80 orang petani padi di lahan basah di Kecamatan Belimbing dan 80 orang petanidi lahan kering di Kecamatan Ella Hilir.Metode Analisis Data1. Analisis Model Fungsi Risiko Produksi Just dan Pope

Analisis regresi fungsi risiko produksi Just dan Pope digunakan untukmenjawab hipotesis penelitian satu dan penelitian dua sekaligus yaitu :1. Hipotesis satu adalah diduga produksi usahatani padi pada lahan basah danlahan kering dipengaruhi oleh penggunaan luas lahan, benih, urea, NPK Phonska,herbisida, jumlah tenaga kerja keluarga, umur petani dan pendidikan.2. Hipotesis dua adalah diduga risiko produksi usahatani padi pada lahan basahdan lahan kering dipengaruhi oleh penggunaan luas lahan, benih, urea, NPKPhonska, herbisida, jumlah tenaga kerja keluarga, umur petani dan pendidikan.

Fungsi produksi yang digunakan dalam model Just dan Pope adalah fungsiproduksi tipe Cobb-Douglas yang kemudian diubah dalam bentuk logaritmanatural. Sehingga model fungsi produksi Just dan Pope secara matematis dapatdituliskan sebagai berikut :Fungsi produksi Y = f (X)

.............. (3. 1)Ln Y = ln β0 + β1 ln lhn + β2 ln bnh + β3 ln urea + β4 ln npk + β5

ln herb + β6 ln tkk + β7 ln umr + β8 ln pddk + εVariance produksi σ2 = f (X)

.............. (3. 2)Ln σ2 Y = ln θ0 + θ1 ln lhn + θ2 ln bnh + θ3 ln urea + θ4 ln npk+ θ5 ln herb + θ6 ln tkk + θ7 ln umr + θ8 ln pddk + εKeterangan :

Ln Y = produksi padi (kg/ha/musim)Ln σ2 = variance produksi padi (risiko produksi)β0 /θ0 = Interseptβ / θ = koefisien regresi (parameter yang ditaksir) (i = 1 s/d 8)ε = error term/disturbance error/penggangguLHN = lahan (ha)BNH = benih (kg/ha/musim)UREA = Urea (kg/ha/musim)NPK Ponska = NPK Ponska (kg/ha/musim)HERB = herb (liter/ha/musim)TKK = tenaga kerja keluarga (org/ha/musim)UMR = umur petani (tahun)PDDK = pendidikan (tahun)

Pada penelitian ini menggunakan alat analisis risiko produksi dengan modelGeneralized Autoregressive Conditional Heterocedasticity atau GARCH yangsudah mengakomodasi pendugaan secara sekaligus untuk fungsi produksi (meanproduction function) dan variance (variance production function).

Untuk memperoleh validitas hasil pengujian ekonometrik sesuai ModelOrdinary Least Square (OLS), dilakukan pendeteksian penyimpangan dariasumsi-asumsi klasik dan terhadap kesesuaian model (Gujarati, 2006). Pengujianpada penyimpangan asumsi klasik digunakan untuk mendapatkan model terbaik

Page 58: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 76

untuk melakukan pendugaan. Pengujian dilakukan untuk kedua model fungsiproduksi sekaligus fungsi variance.

Untuk mendapatkan model yang tidak bias linier dan merupakan penaksirterbaik (Best Linear Unbiased Estimator : BLUE) dalam penelitian, maka modelharus bebas uji asumsi klasik yaitu multikolinearitas, heteroskedastisitasnormalitas dan autokorelasi. Kemudian dilakukan uji statistik meliputi ujiketepatan model (Uji F) uji ketepatan parameter penduga (Uji T).2. Metode Analisis Tujuan Penelitian tiga

Hipotesis tiga adalah diduga dalam penelitian ada perbedaan risiko produksiusahatani antara lahan basah dan lahan kering.Analisis risiko produksi diukur dengan besarnya variance dan standar deviasi.Rumus variance dan Standar Deviasi adalah sebagai berikut :

σ2 =∑( )

= σ =∑( )

Keterangan :X̅ = rata-rata produksi usahatani padiXi = produksi dari sampel usahatani padiσ2 = variance dari sampel usahatani padiσ= Standar deviasin = jumlah sampel usahatani padi

Setelah nilai variance diketahui maka dilakukan uji beda antara lahanbasah dan lahan kering tersebut dengan menggunakan pengujian komparasidengan uji t(t.test). Menurut Sugiyono (2009) uji t digunakan untuk mengujihipotesis komparatif dua sampel yang independen. Untuk menentukan rumus uji tyang mana akan digunakan untuk pengujian hipotesis, maka perlu di uji duluvariance kedua sampel apakah homogen atau tidak. Pengujian homogenitasvariance digunakan dengan uji F dengan rumus sebagai berikut :

F =

Hipotesisnya adalah jika nilai F hitung lebih kecil dari F tabel makavariance Homogen ( σ2 = σ2 ) dan nilai jika F hitung lebih besar dari F tabel makavariance heterogen( σ2 ≠ σ2).Ada dua model rumus uji t yang digunakan untuk menguji hipotesis komparatifyaitu rumus separated varians dan polled varians. Pemilihan kedua rumustersebut sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :a. Jika jumlah sampel n1 = n2 dan variance σ1 = σ2 maka dapat menggunakan

rumus t-tes 1 dan 2, untuk mengetahui t- tabel digunakan derajat kebebasanyang besarnya dk = n1 + n2- 2

b. Jika jumlah sampel n1 ≠ n2 dan variance σ1 = σ2 maka dapat menggunakanrumus t-test 2, untuk mengetahui t- tabel digunakan derajat kebebasan yangbesarnya dk = n1 - n2

c. Jika jumlah sampel n1 = n2 dan variance σ1 ≠ σ2 maka dapat menggunakanrumus t-test 1 dan 2, untuk mengetahui t- tabel digunakan derajat kebebasanyang besarnya dk = n1-1 atau n2-1

d. Jika jumlah sampel n1 ≠ n2 dan variance σ1 ≠ σ2 maka dapat menggunakanrumus t-test 1, nilai t sebagai pengganti nilai t tabel dihitung dari selisih harga ttabel dengan dk = n1 -1 dan dk = n2 -1, dibagi dua dan kemudian ditambahdengan nilai t terkecil.

Page 59: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 77

Analisis uji perbandingan resiko produksi lahan basah dan lahan keringdidasarkan pada bentuk hipotesis sebagai berikut :H0 = tidak ada perbedaan resiko produksi usahatani antara lahan basah dan lahankering.H1 = resiko produksi usahatani antara lahan basah dan lahan kering berbeda.Kriteria keputusan yang diambil apabila nilai t hitung lebih kecil dari pada t tabel(α = 0,05) maka tidak ada perbedaan produksi usahatani antara lahan basah danlahan kering akan tetapi apabila nilai t hitung lebih besar dari pada t tabel (α =0,05) berarti terdapat perbedaan resiko produksi usahatani padi di lahan basah danlahan kering.

HASIL DAN PEMBAHASANA. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi dan Risiko Produksi Padi di

Lahan Basah dan Lahan KeringPenggunaan jumlah faktor produksi usahatani lahan basah berbeda dengan

lahan kering, dimana pada lahan basah menggunakan 8 variabel bebas(independen) yaitu Lahan, Benih, Urea, NPK, Herbisida, Jumlah Tenaga KerjaKeluarga, Umur dan Pendidikan. Sedangkan untuk dilahan kering menggunakan 6variabel bebas(independen) karena lahan kering tidak menggunakan pupuk ureadan NPK.Uji Asumsi Klasik

Untuk memperoleh hasil estimasi yang BLUE (Best Linear UnbiasedEstimator) maka harus dilakukan uji asumsi klasik terhadap gejalamultikolineraritas, heteroskedastisitas, normalitas dan autokorelasi untuk fungsiproduksi sekaligus fungsi variance risiko produksi. Data yang digunakan dalampenelitian ini adalah data Cross-Section (suatu data yang terdiri dari satu ataulebih variabel yang dikumpulkan pada waktu yang sama). Kemudian dilanjutkandengan uji statistik yaitu uji f (uji ketepatan model) dan uji t (uji parameterpenduga).Multikolinearitas

Tujuan uji multikolinearitas ini adalah untuk menguji apakah model regresiyang dihasilkan mempunyai korelasi antar variabel independen. Untukmengetahui adanya gejala multikolinearitas dapat diamati dari nilai VarianceInflation Factor (VIF) pada tabel 1. berikut ini:

Tabel 1. Uji Multikolineritas Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi danRisiko Produksi Padi Lahan Basah dan Lahan Kering di KabupatenMelawi Tahun 2015.

VariabelCollinearity Statistics Lahan

basahCollinearity Statistics

Lahan keringTolerance VIF Tolerance VIF

Lahan(x1) 0,115 8,728 0,145 6,886Benih(X2) 0,135 7,387 0,218 4,583Urea(X3) 0,224 4,456 0,227 4,397NPK(X4) 0,348 2,877 - -Herbisida(X5) 0,149 6,705 - -Tenaga Kerja(X6) 0,412 2,425 0,217 4,604Umur(X7) 0,649 1,540 0,732 1,366Pendidikan(X8) 0,680 1,470 0,750 1,333

Sumber : Analisis data, 2015.

Page 60: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 78

Menurut Ghozali (2005) bilamana terjadi multikolinearitas jika mempunyainilai VIF lebih dari 10 dan tolerance dibawah 0,1 dan jika nilai VIF kurang dari10 dan tolerance diatas 0,1 maka tidak terjadi multikolinearitas. Dari hasilpengujian multikolinearitas diketahui bahwa pada model fungsi produksi danvariance produksi tidak terjadi adanya gejala multikolinearitas antar variabel-variabel independen yang mempengaruhi produksi padi pada lahan basah danlahan kering, karena nilai VIF lebih kecil dari 10.Heterokedastisitas

Menurut Gunawan (2005) heterokedastisitas bertujuan untuk mengetahuiapakah dalam model regresi terdapat variasi residual absolut sama atau tidakuntuk semua pengamatan. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah dimana terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatanyang lain tetap atau disebut homoskedastisitas.

Tabel 2. Uji Heterokedastisitas Metode Glejser Test Faktor-Faktor yangMempengaruhi Produksi dan Risiko Produksi Padi Lahan Basah danLahan Kering di Kabupaten Melawi Tahun 2015.

Variabel Lahan basah Lahan keringSign t parsial Sign t parsial

Luas Lahan 0,023 0,795**Benih 0,113** 0,396**UREA 0,692** -NPK 0,846** -Herbisida 0,638** 0,326**TenagaKerjaKeluarga 0,862** 0,827**Umur 0,563** 0,658**Pendidikan 0,833** 0,398**** signifikan α = 0,05

Sumber : Analisis Data, 2015.

Dikatakan tidak ada gejala heteroskedastisitas, apabila nilai sign. t parsialmasing-masing variabel lebih besar dari sign α 0,05. Dari hasil pengujianheterokedastisitas tersebut diketahui bahwa pada model fungsi produksi danvariance resiko produksi pada lahan basah dan lahan kering tidak terjadi adanyagejala heterokedastisitas karena sebagian besar nilai Sign. t parsial masing-masing variabel lebih besar dari sign. α 0,05 sehingga model fungsi tersebutbebas gejala heteroskedastisitas.

NormalitasUji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi,

variabel dependen, variabel independen atau keduanya mempunyai distribusinormal atau tidak. Pengujian normalitas distribusi data populasi dilakukan denganmenggunakan alat uji statistik Kolmogorov-Smirnov (K-S).

Page 61: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 79

Tabel 3. Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov(K-S) Faktor-Faktor yangMempengaruhi Produksi dan Risiko Produksi Padi Lahan Basah danLahan Kering di Kabupaten Melawi Tahun 2015.

Tests of NormalityUraian Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistik df Sign. Statistik df Sign.UnstandardizedResidual(Lahan basah)

0,074 80 0,200* 0,987 80 0,595*

UnstandardizedResidual(Lahan kering)

0,077 80 0,200* 0,975 80 0,122*

*. This is a lower bound of the true significance.a. Lilliefors Significance Correction

Sumber : Analisis Data, 2015.

Berdasarkan pengujian statistik Kolmogorov-Smirnov pada lahan basahnilai asymp sign. atau nilai probabilitas uji Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,20 dansign. shapiro wilk 0,59 di mana lebih besar dari 0,05 maka data tersebutberdistribusi normal. Sedangkan untuk pengujian statistik lahan kering adalahdengan nilai asymp sign. atau nilai probabilitas uji Kolmogorov-Smirnov sebesar0,20 dan sign. shapiro wilk 0,12 di mana lebih besar dari 0,05 maka data tersebutberdistribusi normal.Autokorelasi

Tujuan autokorelasi adalah untuk mengetahui apakah terjadi korelasidiantara data pengamatan atau tidak. Pengujian autokorelasi dalam penelitian inimenggunakan uji Durbin - Watson.

Tabel 4. Uji Autokorelas Faktor-Faktor yang Menpengaruhi Produksi dan RisikoProduksi Usahatani Padi Lahan Basah dan Lahan Kering di KabupatenMelawi Tahun 2015.

Uji Autokorelasi Lahan basah Lahan keringNilai Durbin-Watson 2,115 2,009

Sumber : Analisis Data, 2015.

Cara menentukan pengujian autokorelasi pada usahatani padi lahan basahdan lahan kering adalah dengan nilai Durbin-Watson (DW), yaitu deteksiAutokorelasi Positif. Nilai Durbin-Watson (DW) pada usahatani lahan basahsebesar 2,11 dimana lebih besar dari nilai DU : 1,86. Sedangkan nilai Durbin-Watson (DW) sebesar pada lahan kering 2,009 dimana lebih besar dari nilai DU:1,80 maka dapat disimpulkan tidak terjadi korelasi diantara data pengamatan atautidak terdapat terdapat autokorelasi.1. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Padi

Lahan Basah dan Lahan KeringNilai koefisien determinan (R2) pada lahan basah adalah sebesar 0,96 maka

kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan variabel independen secara bersama-sama dapat menjelaskan variansi variabel dependen sebesar 96,04 persen.Sedangkan sisanya sebesar 3,96 persen dipengaruhi oleh variabel-variabel lain diluar model. Nilai koefisien determinan (R2) pada lahan kering adalah sebesar 0,95maka kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan variabel independen secarabersama-sama dapat menjelaskan variasi variabel dependen sebesar 95,79 persen.

Page 62: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 80

Sedangkan sisanya sebesar 4,21 persen dipengaruhi oleh variabel-variabel lain diluar model.

Hasil statistik uji F pada usahatani lahan basah menunjukkan bahwa sign.nilai probabilitas (F statistik = 219,79) sebesar 0,00 yang lebih kecil dari sign α0,05. Sedangkan hasil statistik uji F pada pada usahatani lahan kering jugamenunjukkan bahwa sign. nilai probabilitas (F statistik = 281,58) sebesar 0,00yang lebih kecil dari sign α 0,05. Maka artinya semua faktor produksi (variabelindependen) yang digunakan dalam usahatani padi lahan basah dan lahan keringsecara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi dan variance (resikoproduksi) padi pada taraf nyata lima persen.

Tabel 5. Hasil Estimasi Fungsi Produksi Usahatani Padi Lahan Basah dan LahanKering dengan Model GARCH di Kabupaten Melawi Tahun 2015.

Variabel Lahan basah Lahan keringKoefisienestimasi

Koefisienestimasi

(Constant)-6,341(-2,342)

1,281(0,672)

Luas Lahan 9,666***(4,222)

12,402***(10,662)

Benih 0,326***(2,689)

-0,066(-1,423)

UREA 0,060***(3,017)

--

NPK0,017(1,607)

--

Herbisida 0.002***(3,522)

0,003***(6,998)

Tenaga Kerja Keluarga 2,397**(2,476)

1,112**(2,358)

Umur0,044(0,950)

-0,050*(-1,895)

Pendidikan-0,140(-0,715)

0,110(1,090)

R-squared 0,960432 0,957904Adjusted R squared 0,955974 0,954444F-Statistik 219,7940 281,5830***, **, *, signifikan α = 1 %, 5 %, 10 %Sumber : Analisis Data, 2015.

Untuk mengetahui pengaruh masing-masing faktor yang mempengaruhiproduksi padi bedasarkan nilai koefisien estimasi dari hasil uji t (individual test)dapat dilihat pada tabel 5.

Luas lahan pada usahatani lahan basah maupun lahan kering berpengaruhsangat signifikan dan positif terhadap produksi padi lahan basah. Penambahanluas lahan basah sebesar 1 persen akan menambah produksi padi sebesar 9,66persen sedangkan penambahan luas lahan kering sebesar 1 persen akan menambahproduksi padi sebesar 12,40 persen. Produktifitas lahan basah dan lahan kering diKabupaten Melawi masih cukup baik, dimana koefisien estimasi luas lahan cukup

Page 63: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 81

besar dan bernilai positif dalam mempengaruhi peningkatan produksi padi jikadilakukan penambahan luas lahan.

Jumlah benih pada usahatani lahan basah berpengaruh sangat signifikan danpositif terhadap produksi padi lahan basah sedangkan pada usahatani lahan keringtidak berpengaruh signifikan terhadap produksi padi lahan kering. Penambahanjumlah benih sebesar 1 persen akan menambah produksi padi lahan basah sebesar0,32 persen. Penggunaan benih padi lahan basah berpengaruh positifmenunjukkan bahwa mutu benih yang digunakan oleh petani relatif baik. Apabilamutu benih padi unggul ditingkatkan maka akan meningkatkan produksipadi.Benih padi lahan kering tidak memberikan pengaruh yang signifikanterhadap produksi padi lahan kering karena umumnya petani lahan kering atauladang menggunakan benih padi varietas lokal sehingga mutu benih padi belumsepenuhnya diperhatikan oleh petani sendiri.

Pupuk urea berpengaruh sangat signifikan dan positif terhadap produksipadi lahan basah. Penambahan jumlah urea sebesar 1 persen akan menambahproduksi padi sebesar 0,060 persen. Rata-rata penggunaan urea di tingkat petanisebesar 102,54 kg/ha. Artinya dosis tersebut masih dibawah dosis optimalrekomendasi padi yaitu 150 - 200 kg/ha. Peningkatan produksi masih bisadilakukan jika Penggunaan urea ditambah sesuai dosis anjuran rekomendasi.Sementara pupuk NPK berpengaruh tidak signifikan terhadap produksi padi lahanbasah. Rata-rata penggunaan NPK di tingkat petani hanya sebesar 138,67 kg/ha,artinya dosis tersebut masih dibawah dosis optimal pedoman dasar padi lahanbasah yaitu 150 - 300 kg/ha. Penggunaan NPK tidak memberikan pengaruh nyatadikarenakan dosis yang digunakan masih kurang dari dosis anjuran rekomendasi.Petani pada lahan kering atau jarang melakukan pemupukan karena bergantungpada unsur hara dari bahan organik di lapisan atas tanah (top soils).

Jumlah herbisida berpengaruh sangat nyata dan positif terhadap produksipadi lahan basah maupun lahan kering. Dalam penambahan jumlah herbisidasebesar 1 persen akan menambah produksi padi lahan basah sebesar 0,002 persensedangkan pada lahan kering akan menambah produksi padi sebesar 0,003 persen.Penggunaan herbisida dalam mengendalikan gulma untuk memberikanlingkungan yang bersih pada ruang tumbuh yang sehat pada tanaman padi.

Jumlah tenaga kerja keluarga berpengaruh signifikan terhadap produksi padilahan basah maupun lahan kering. Penambahan jumlah tenaga kerja keluargasebesar 1 persen akan menambah produksi padi lahan basah sebesar 2,39 persendemikian juga pada lahan kering dimana penambahan jumlah tenaga kerjakeluarga sebesar 1 persen akan menambah produksi padi sebesar 1,11 persen.Penambahan tenaga kerja masih bisa meningkatkan produksi padi, terutamatenaga kerja untuk pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman, pemupukan,penyiangan gulma, pengendalian hama dan penyakit serta pengaturan air irigasiyang semuanya menggunakan tenaga kerja manusia.

Dalam penelitian ini umur berpengaruh tidak signifikan terhadap produksipadi lahan basah. Kondisi ini menunjukkan tidak ada perbedaan apabila tingkatumur petani tersebut tinggi ataupun rendah terhadap peningkatan produksi padilahan basah. Umur petani pada lahan basah rata-rata berumur 38,96 tahun yangdapat dikategorikan pada usia cukup tua, namun masih bersifat produktif karenamempunyai kematangan berpikir, pengetahuan, pengalaman dan kemampuan fisikdalam melakukan kegiatan usahatani. Sedangkan pada lahan kering umur

Page 64: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 82

berpengaruh kurang signifikan dan negatif terhadap produksi padi. Dalampenelitian ini penambahan umur sebesar 1 persen akan mengurangi produksi padisebesar 0,05 persen. Umur petani pada lahan kering rata-rata berumur 40,37 tahunyang dapat dikategorikan pada usia cukup tua. Sejalan dengan kemampuanproduktifitas kinerja seseorang yang akan semakin meningkat pada umur tertentu,kemudian mengalami penurunan produktivitas kinerja petani jika mencapai padatitik umur tertentu. Umur mempengaruhi kemampuan fisik dalam melaksanakankinerja seseorang sehingga semakin meningkatnya umur menyebabkanproduktifitas kinerja seseorang semakin berkurang.

Tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadapproduksi padi lahan basah maupun lahan kering. Hal ini disebabkan karena tingkatpendidikan petani masih rendah, yaitu rata-rata berpendidikan Sekolah Dasar.Oleh karena itu, sesuai dengan kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tingkatpendidikan tinggi maupun rendah tidak mempengaruhi cara teknis budidaya padiyang dilakukan oleh petani. Usahatani padi secara umum di kabupaten Melawimasih tergolong mengunakan teknologi yang sederhana seperti pada umumnya,sudah menggunakan alat mesin pertanian misalnya dengan traktor, transplanter,Rice Milling Unit (RMU) dan pompa air yang mudah untuk dioperasikan.Penggunaan pupuk dan pestisida cukup menyesuaikan dengan dosis optimal padapedoman umum usahatani padi sehingga mudah dilakukan dan diterapkan olehpetani pada tingkat pendidikan apapun.2. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Produksi Usahatani

Padi Lahan Basah dan Lahan Kering.Untuk mengetahui pengaruh masing-masing faktor yang mempengaruhi

risiko produksi padi berdasarkan nilai koefisien estimasi dari hasil uji t (individualtest) dapat dilihat pada tabel 6. Hasil uji t terhadap variabel independen yangdigunakan dalam fungsi yang berpengaruh terhadap risiko produksi pada lahanbasah yaitu hanya luas lahan berpengaruh kurang signifikan terhadap risikoproduksi usahatani padi lahan basah sedangkan variabel independen lain yaitubenih, urea, NPK, herbisida, tenaga kerja keluarga, umur dan pendidikan tidakberpengaruh terhadap risiko produksi padi lahan basah. Sementara dalam fungsirisiko produksi lahan kering semua input variabel meliputi luas lahan, benih,herbisida, tenaga kerja keluarga, umur dan pendidikan tidak memberikanpengaruh terhadap risiko produksi

Page 65: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 83

Tabel 6. Hasil Estimasi Fungsi Risiko Produksi Usahatani Padi Lahan Basah danLahan Kering dengan model GARCH di Kabupaten Melawi Tahun2015.

Variabel Lahan basah Lahan keringKoefisienestimasi

Koefisienestimasi

(Constant)0,633454

(0,089125)-3,345022

(-1,188885)

Luas Lahan 10,89516*(1,799948)

1,402264(0,527528)

Benih-0,073862

(-0,260019)-0,039637

(-0,559096)

UREA0,005252

(0,091727)--

NPK0,006476

(0,653985)--

Herbisida0,000874

(0,551230)0,000742

(0,603665)

Tenaga Kerja Keluarga-1,332182

(-0,324189)0,152724

(0,145811)

Umur-0,092321

(-0,789561)0,008588

(0,202823)

Pendidikan-0,194901

(-0,413225)0,225941

(1,310639)

R-squared 0,960432 0,957904Adjusted R squared 0,955974 0,954444F-Statistik 219,7940 281,5830***, **, *, signifikan α = 1 %, 5%, 10 %Sumber : Analisis Data, 2015.

Faktor-faktor produksi bisa dikategorikan sebagai faktor yang dapatmeningkatkan risiko (risk inducing factors) dan faktor yang dapat mengurangirisiko (risk reducing factors). Dalam penelitian ini luas lahan berpengaruh kurangsignifikan dan positif terhadap risiko produksi usahatani padi lahan basahsedangkan pada usahatani padi lahan kering tidak signifikan dan positif terhadaprisiko produksi. Penambahan luas lahan sampai pada batas tertentu akanmeningkatkan risiko produksi. Pada usahatani lahan basah menunjukkan luaslahan dapat merupakan faktor peningkat risiko atau risk inducing walaupunberpengaruh kurang signifikan. Penambahan luas lahan sebesar 1 persen akanmenambah risiko produksi padi sebesar 10,89 persen. Penggunaan luas lahansampai pada batas tertentu juga akan meningkatkan produksi padi. Akan tetapipada batas luas tertentu juga akan meningkatkan risiko produksi karena semakinluas lahan usahatani, akan semakin sulit dalam mengelola lahan karena semakinbanyak pemeliharaan tanaman yang dilakukan dengan luas lahan tersebut.

Dengan semakin luas lahan usahatani akan meningkatkan penggunaan inputsarana produksi dalam usahatani tersebut, sedangkan petani dihadapkan padakondisi kekurangan sarana produksi. Sedangkan usahatani padi lahan kering luaslahan bertanda positif menunjukan sebagai faktor penambah risiko atau riskinducing factors walaupun berpengaruh tidak signifikan. Usahatani secara

Page 66: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 84

sederhana jarang menggunakan input sarana produksi seperti pupuk dan herbisidakalaupun ada dengan dosis kecil sehingga tidak ada risiko terjadi karenapenggunaan input

Benih padi pada lahan basah dan lahan kering bertanda negatifmenunjukkan benih merupakan faktor pengurang risiko atau risk reducing factors,artinya peningkatan jumlah benih akan mengurangi risiko produksi walaupunberpengaruh tidak signifikan. Benih padi lahan basah yang digunakan petaniadalah hasil dari pembenihan sendiri masih tergolong benih yang baik tidakberpengaruh pada risiko produksi padi lahan basah. Sedangkan benih padi lahankering merupakan benih padi varietas lokal walaupun tidak berpengaruh padapeningkatan produksi padi akan tetapi benih padi lokal merupakan benih yangtahan terhadap hama penyakit dan kekeringan pada batas tertentu sehingga tidakberpengaruh pada risiko produksi.

Penggunaan pupuk urea dan NPK pada usahatani padi lahan basah bertandapositif sehingga menjadi faktor penambah risiko atau risk inducing factors,meskipun tidak berpengaruh signifikan terhadap risiko produksi. Dosis pupukurea dan NPK yang digunakan dalam penelitian masih di bawah kebutuhanoptimal penggunaan pupuk dalam usahatani padi sehingga tidak memberikanrisiko akibat penggunaan input pupuk tersebut. Sedangkan pada usahatani padilahan kering tidak menggunakan pupuk sehingga tidak ada risiko produksi yangditimbulkan akibat penggunaan input tersebut.

Herbisida pada lahan basah dan lahan kering bertanda positif menunjukkanherbisida merupakan faktor penambah risiko atau risk inducing factors, artinyapeningkatan jumlah herbisida akan meningkatkan risiko produksi walaupunberpengaruh tidak signifikan. Oleh karena penggunaan herbisida masih dibawahkebutuhan optimal dalam usahatani padi, maka penggunaan input tersebut tidakmenimbulkan risiko produksi.

Karakteristik petani yang terdiri dari jumlah tenaga keluarga, pendidikan,dan umur berpengaruh tidak signifikan terhadap risiko produksi pada usahatanipadi lahan basah dan lahan kering. Walaupun karakterisitik petani sebagaipenambah risiko atau risk inducing factors dan pengurang risiko atau riskreducing factors tetapi tidak akan mempengaruhi peningkatan risiko produksi atautidak berisiko. Hal tersebut menunjukan bahwa jumlah tenaga kerja sesuai dengankebutuhan luas lahan usahatani yang tidak luas karena tenaga kerja digunakanuntuk pemeliharaan tanaman padi sehingga tidak menimbulkan risiko produksi.Sementara umur petani tidak memberikan pengaruh pada risiko produksi karenakondisi umur petani lahan basah dan lahan kering masih dalam keadaan umurproduktif dan berpengalaman dalam melakukan usahataninya sehingga tidakmenimbulkan risiko produksi usaha tani padi. Sedangkan pendidikan tidakmempengaruhi risiko produksi karena tingkat pendidikan petani dalam penelitianini masih sesuai dengan kondisi teknologi usahatani padi sederhana pada lahanbasah dan lahan kering pada saat ini.B. Perbedaan Risiko Produksi Padi Lahan Basah dan Lahan Kering

Standar deviasi atau simpangan baku adalah suatu estimasi probabilitasperbedaan produksi nyata dari produksi yang diharapkan. Menurut Shook (dalamFahmi, 2014) standard deviasi merupakan ukuran tingkat variasi nilai probabilitasindividual dari rata-rata distribusi. Semakin besar nilai standar deviasi makasemakin besar penyimpangan yang menyebabkan risiko semakin besar dan

Page 67: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 85

demikian juga sebaliknya semakin kecil nilai standar deviasi maka semakin kecilrisiko dalam usahatani tersebut.

Analisis statistik untuk mengetahui perbedaan risiko usahatani lahan basahdan lahan kering adalah dengan menggunakan uji t-tes independent. Dataperbandingan risiko produksi lahan basah dan lahan kering hasil analisis statistikstandar deviasi adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Perbandingan Risiko Produksi Usahatani Padi Lahan Basah dan LahanKering.

Uraian Variance Standar DeviasiLahan BasahLahan Kering

120,6662,60

10,987,91

Uji beda Variance :t hitungt tabel(α 5 %)

40,94***1,99

Sumber : Analisis Data 2015.

Berdasarkan hasil analisis statistik variance dan standar deviasimenunjukkan nilai varian maupun standar deviasi lahan basah lebih besardibandingkan dengan nilai variance dan standar deviasi lahan kering. Hasil uji t-test rumus polled variance terhadap risiko produksi padi lahan basah dan lahankering menunjukkan nilai t hitung 40,94 lebih besar daripada nilai t tabel yaitu1,99. Oleh karena dapat disimpulkan bahwa risiko produksi usahatani padi lahanbasah dan lahan kering adalah berbeda. Berdasarkan perbedaan nilai variance danstandar deviasi lahan basah lebih besar dari lahan kering menunjukkan bahwarisiko produksi lahan basah lebih besar dibandingkan dengan risiko produksilahan kering.

Membahas tentang risiko tidak terpisahkan dengan penerimaan hasil(return). Menurut Fahmi (2014) return merupakan penerimaan atau hasil yangdiperoleh oleh perusahaan, individu, dan institusi dari hasil usaha infestasi yangdilakukannya. Produksi yang didapatkan petani merupakan suatu bentukpenerimaan atau hasil yang didapat dari usahatani pada lahannya. Produksi padidalam penelitian juga menunjukkan bahwa produksi padi rata-rata lahan basahsebesar 30,26 Kuintal/ha lebih besar dari produksi rata-rata lahan kering sebesar17,38 kuintal/hektar. Kondisi tersebut menunjukan bahwa semakin besar produksiyang didapat maka risiko yang dihadapi juga akan semakin besar. Sejalan denganFahmi (2014) penerimaan hasil yang lebih besar maka risiko akan tinggi pulademikian juga sebaliknya apabila penerimaan rendah maka risiko juga kecil ataukurang berisiko.

Risiko produksi lahan basah lebih besar dapat diakibatkan pada penggunaaninput sarana produksi usahatani yang lebih kompleks jika dibandingkan denganusahatani lahan kering. Pada usahatani padi lahan basah melakukan pengolahantanah secara manual atau menggunakan alat mekanisasi pertanian (traktor),kemudian menggunakan pupuk yang optimal. Faktor ketersediaan air jugamenjadi faktor risiko yang harus dipertimbangkan karena padi lahan basah harustergantung dengan sumber air. Oleh karena penggunaan input dan metode yangbegitu kompleks tentunya juga dihadapkan pada risiko sebagai konsekuensi daripenggunaan input saprodi dan metode tersebut. Usahatani lahan kering merupakanusahatani tanaman padi yang sederhana dan tidak banyak menggunakan inputsarana produksi pertanian. Benih padi lahan kering yang digunakan merupakan

Page 68: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 86

benih padi lokal yang tahan terhadap hama dan penyakit serta kekeringan padabatas tertentu. Sehingga risiko akibat dari penggunaan input sarana produksi padausahatani lahan kering lebih kecil. Dalam usahatani padi lahan kering jugamenggunakan air untuk pertumbuhan tetapi tidak selalu digenangi seperti halnyapada lahan basah.

Pengaruh gangguan stokastik alam pada kegiatan produksi pertanianmenjadi sumber utama risiko produksi (Fufa & Hasan, 2005). Hal tersebutmenunjukkan bahwa sumber-sumber risiko bisa berasal dari faktor eksternalseperti iklim dan cuaca. Dalam penelitian ini faktor eksternal yang menyebabkanrisiko produksi lahan basah lebih tinggi adalah banjir dan kekeringan. Kondisidemikian disebabkan karena usahatani lahan basah berada pada lahan dataranrendah sehingga terjadi banjir akibat luapan air hujan, air sungai apalagi jikakondisi drainase yang buruk. Sedangkan usahatani lahan kering berada pada lahanyang tidak selalu digenangi air karena selalu berada pada lahan perbukitan yangagak lebih tinggi. Memasuki musim kemarau pada lahan sawah akan selalu rentanterhadap risiko kekeringan karena padi lahan sawah harus selalu digenangi air,sedangkan padi lahan kering yang tidak terbiasa digenangi air sehingga risikolebih kecil. Usahatani padi lahan basah juga lebih rentan terhadap risiko seranganhama dan penyakit dikarenakan lingkungan padi di sawah yang tergenangmenyebabkan kondisi yang lembab memudahkan untuk hama dan penyakitberkembang.

Walaupun risiko produksi usahatani padi lahan basah lebih tinggi masihlayak untuk dikembangkan karena produksi padi yang didapatkan juga lebihtinggi. Oleh karena itu usaha ekstensifikasi dan intensifikasi harus dilakukanuntuk meningkatkan produksi. Upaya perluasan cetak sawah baru perlu dilakukanuntuk menambah luas areal sawah baru karena masih banyak lahan potensi sawahyang belum dimanfaatkan maksimal. Dukungan pemerintah sangat dibutuhkandalam membangun cetak sawah baru beserta tersebut infrastruktur jaringan irigasidan jalan usahataninya. Jumlah pupuk bersubisidi harus ditingkatkan disertaipengawasan dalam pendistribusian ke tingkat petani agar tidak terlambat danjumlah yang diterima tidak berkurang.

Untuk mengatasi kekurangan air pada musim kemarau maka pembangunanembung dan bantuan sumur pompa diperlukan untuk persediaan air irigasi sawahpetani. Jaringan irigasi tersier yang masih kurang dan merehab yang sudah adakarena selama ini pembangunan jaringan irigasi tidak disertai dengan perawatanjaringan tersebut.

Usahatani padi lahan kering mempunyai risiko produksi lebih kecil denganproduksi padi lebih rendah. Produksi padi yang rendah masih tetap diusahakanuntuk memenuhi kebutuhan pangan petani sehari-hari. Sosial ekonomi masyarakatagraris sepenuhnya menggantungkan hidupnya pada pertanian padi. Usahatanipadi lahan kering yang selalu dengan pola tanam lahan bergilir setiap tahunnyaperlu diatur menjadi pola tanam lahan menetap untuk mengoptimalkan lahan.Pemupukan padi lahan kering perlu diberikan karena unsur hara dari bahanorganik sisa pembakaran tanaman terbatas jumlahnya. Peran Penyuluh pertaniansangat diperlukan untuk memberikan penyuluhan budidaya pertanian padi yangbaik terutama budidaya padi pola tanam menetap dan anjuran pemupukan padilahan kering yang selama ini jarang dilakukan.

Page 69: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 87

KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi lahan basahadalah luas lahan, benih, urea, herbisida, tenaga kerja keluarga, sedangkan, NPK,umur dan pendidikan tidak berpengaruh terhadap produksi padi sementara faktoryang mempengaruhi produksi usahatani padi lahan kering adalah luas lahan,herbisida, jumlah tenaga kerja keluarga dan umur, sedangkan benih danpendidikan tidak mempengaruhi produksi padi.

Luas lahan berpengaruh kurang signifikan terhadap peningkatan risikoproduksi pada usahatani padi lahan basah sedangkan faktor produksi lain tidakberpengaruh terhadap risiko produksi. Sementara semua faktor produksi tidakmempengaruhi risiko produksi usahatani padi lahan kering.

Terdapat perbedaan risiko antara usahatani lahan basah dan lahan keringdimana risiko produksi padi lahan basah lebih besar jika dibandingkan denganrisiko lahan kering.Saran

Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk memaksimalkan fungsi lahandengan intensifikasi lahan dalam rangka meningkatkan produktifitas padi padalahan sawah dan lahan kering.

Fungsi luas lahan memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadapproduksi padi dengan nilai estimasi fungsi yang sangat tinggi, oleh karena ituupaya perluasan areal lahan sawah oleh pemerintah perlu diberikan denganprogram cetak sawah dan saprodi penunjangnya karena banyak potensi lahansawah dengan kondisi medan dan vegetasi berat yang tidak bisa dibuka olehpetani karena keterbatasan biaya .

Produksi usahatani padi lahan basah lebih tinggi namun lebih berisiko untukitu perlu upaya intensifikasi lahan dalam mengurangi risiko dan semakinmeningkatkan produktifitas padi. Pemerintah perlu meningkatkan bantuan saprodipupuk, pestisida dan alsintan karena petani masih kekurangan disertai pengawasandistribusi pupuk agar tepat waktu dengan kondisi baik sampai ke petani. Bantuanpemerintah berupa sarana jaringan irigasi dan pembangunan embung perluditingkatkan untuk menanggulangi risiko banjir dan kekeringan.Usahatani padi lahan kering dengan produksi rendah tetap perlu ditingkatkankarena memiliki potensi lahan yang lebih luas dan merupakan usahatanimasyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Bimbinganpemerintah secara khusus Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sangat diperlukandalam teknik budidaya padi dengan pola tanam menetap untuk mengoptimalkanlahan sehingga terjadi peningkatan luas lahan usahatani padi lahan kering.

DAFTAR PUSTAKAAsche, F., & Tveteras, R. (1999). Modeliing Production Risk With a Two-Step

Procedure. Journal ofAgricultural and Resource Economics 24 (2) , 424-439.

Debertin, D. L. (1986). Agricultural Production Economics. New York:Macmillan Publishing Company.

Fahmi, I. (2014). Pengantar Manajemen Keuangan. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Page 70: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016, hlm 73-88

Jurnal Social Economic of Agriculture, Volume 5, Nomor 1, April 2016 88

Fufa, B., & Hasan, R. M. (2005). Stochastic Technology and Crop ProductionRisk: The Case of Small-Scale Farmers in East Hararghe Zone of OromiyaRegional State in Ethiopia. Shared Growth In Africa Organized byISSER/Cornell University/World Bank to be conducted from July 21-22,2005 in Accra, Ghana (pp. 1-19). Ghana: ISSER/CornellUniversity/World Bank.

Ghozali, I. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.Semarang: Badan Penerbit UNDIP.

Gujarati, D. N. (2006). Dasar-Dasar Ekonometrika Jilid II. Jakarta: PenerbitErlangga.

Guttormsen, A. G., & Roll, K. H. (2013). Production Risk in SubsistenceAgriculture. The Journal of Agricultural Education and Extension , 1-13.

Hardjowigeno, S., & Rayes, M. L. (2005). Tanah Sawah: Karakteristik, Kondisi,dan Permasalahan Tanah Sawah di Indonesia. Malang: BayumediaPublishing.

Kanisius, A. A. (1990). Budidaya Tanaman Padi. Jakarta: Kanisius.

Koundori, P., & Nauges, C. (2005). On Production Function Estimation WithSelectivity and Risk Considerations. Journal Of Agricultural andResource Economics 30 (3) , 597-608.

Robison, L. J., & Barry, P. J. (1987). The Competitive Firm's Response To Risk.New York: MacMillan Publishing Company.

Soekartawi. (1994). Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan AnalisisFungsi Produksi Cobb-Douglas. Jakarta: Penerbit Raja Grafindo Persada.

Soekartawi, Rusmadi, & Darmaijati, E. (1993). Risiko dan Ketidakpastian dalamAgribisnis : Teori dan Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudarmanto, R. G. (2005). Analisis Regresi Linear Berganda dengan SPSS.Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.

Sugiyono. (2009). Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Penerbit AlfabetaBandung.

Suratiyah, K. (2006). Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.

Tasman, A., & Aima, H. (2014). Ekonomi Manajerial. Jakarta: PT RajagrafindoPersada.

Page 71: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

SUHARYANTO, JEMMY RINALDY,NYOMAN NGURAH ARYABalai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali;Email: [email protected]

Analisis Risiko ProduksiUsahatani Padi Sawah diProvinsi Bali

ABSTRACTThis study aimed to analyze the risk ofpaddy rice farming and the impact of theuse of farm inputs to the risk of riceproduction in Bali Province. The researchwas conducted in three districts of riceproduction centers, Tabanan, Bulelengand Gianyar during two cropping seasonsin 2012. The data collected throughinterviews with 122 randomly selectedfarmers. Risk production of low land ricewas analyzed by the coefficient ofvariation, while the factors that affect therisk of rice production were analyzedwith multiple linear regression analysiswith multiplicative heteroskedasticmethod. The result showed that the riskproduction of rice on wet season andthe land does not belong to his ownstatus is higher than dry season and his

own status. Production factors that significantly affect the risk of rice produc-tion are land, organic fertilizers and pesticides.Keywords: risk, production, low land rice.

INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko usahatani padi sawah sertapengaruh penggunaan input usahatani terhadap risiko produksi padi sawah diProvinsi Bali. Penelitian dilaksanakan di tiga kabupaten sentra produksi padisawah antara lain Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Gianyar selama duamusim tanam pada tahun 2012. Pengumpulan data dilakukan melaluiwawancara terhadap 122 petani yang dipilih secara acak. Risiko produksi padisawah dianalisis dengan metode koefisien variasi sedangkan faktor-faktor yangmempengaruhi risiko produksi padi sawah dianalisis dengan analisis regresilinier berganda dengan metode multiplikatif heteroskedastisitas. Hasil analisismenunjukkan bahwa risiko produksi padi sawah lebih tinggi pada musimhujan dengan status lahan bukan milik sendiri. Faktor-faktor produksi yangsecara nyata mempengaruhi produksi padi sawah antara lain luas lahan,pupuk organik dan pestisida.Kata kunci: risiko, produksi, padi sawah.

PENDAHULUANProvinsi Bali yang memiliki luas areal usahatani padi sawah relatif lebih

kecil (14,40% dari dari luas wilayah) dibandingkan dengan provinsi lain diIndonesia, namun tingkat produktivitasnya yang relatif lebih tinggidibandingkan produktivitas nasional (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali,2013). Produktivitas tersebut sesungguhnya masih dapat ditingkatkanhingga mendekati potensinya, namun berbagai permasalahan munculseiring dengan munculnya berbagai kepentingan dan kondisi perubahansumberdaya alam. Suryana et al., (2009) mengungkapkan bahwa beberapapermasalahan yang berkaitan dengan usahatani padi sawah antara lain :(a) kepemilikan lahan usahatani yang relatif kecil dan tersebar dan bahkan

DOI:10.18196/agr.1210

Page 72: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

71Vol.1 No.2 Juli 2015

cenderung mengecil karena adanya proses fragmentasilahan sebagai akibat dari sistem/pola warisan, (b)terjadinya alih fungsi lahan sawah untuk penggunaanlainnya sebagai akibat perkembangan perekonomiandaerah baik untuk pariwisata, perumahan maupun sektorlainnya, (c) keterbatasan debit air irigasi pada beberapawilayah, terutama pada musim kemarau yang disebabkanoleh persaingan dalam penggunaan air irigasi, (d)keterbatasan tenaga kerja terutama pada saat panen raya,sehingga kebutuhan tenaga kerja umumnya berasal dariluar Bali, (e) keterbatasan modal usahatani, sehinggaproduktivitas yang dicapai masih dibawah produktivitaspotensialnya dan (f) tingkat serangan hama penyakit yangmasih cenderung tinggi dan beragam antar wilayah danantar musim tanam seperti wereng coklat, penggerekbatang, tungro dan tikus.

Dalam praktek usahatani, walaupun telah memilikipengalaman panjang dalam berusahatani untukkomoditas pertanian, namun petani tidak selalu dapatmencapai tingkat efisiensi dan produktivitas seperti yangdiharapkan. Walaupun mempergunakan paket teknologiyang sama, pada musim yang sama dan di lahan yangsama sekalipun, keragaman selalu muncul. Hal inidisebabkan oleh hasil yang dicapai pada dasarnyamerupakan resultan bekerjanya demikian banyak faktor,baik yang yang dapat dikendalikan (internal) maupunfaktor yang tidak dapat dikendalikannya (eksternal), sertafaktor yang mempengaruhi intensitas input dan hargarelatifnya (Coelli et al., 1998). Risiko usahatani padi yangutama antara lain frekuensi banjir, kekeringan danserangan hama penyakit yang saat ini menjadi masalahyang semakin kompleks dalam situasi perubahan iklimyang sulit diprediksi karena kebutuhan untuk tetapmenyediakan beras dengan jumlah yang cukup untukdikonsumsi masyarakat.

Sebagian besar dari petani padi sawah sebagian besartermasuk dalam dalam kategori petani subsisten, karenakegiatan usahatani yang dilakukan bukan hanya untuktujuan komersialisasi tetapi juga untuk memenuhikebutuhan pangan rumahtangganya. Kehidupan petani dipedesaan cukup dekat dengan batas subsisten dan selalumengalami ketidakpastian cuaca, sehingga petani tidakmempunyai kesempatan untuk menerapkan perhitungankeuntungan maksimum dalam berusahatani. Petani akanberusaha menghindari kegagalan dan bukan memperolehkeuntungan yang besar dengan mengambil risiko (Sriyadi,2010). Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh petaniseperti tersebut diatas menjadi kendala bagi mereka

untuk meningkatkan produksi, pendapatan danmewujudkan ketahanan pangan rumahtangganya.Permasalahan-permasalahan tersebut merupakan risikoyang harus dihadapi oleh petani dalam melakukanaktivitas usahataninya. Menurut Soedjana (2007) istilahrisiko lebih banyak digunakan dalam kontekspengambilan keputusan, karena risiko diartikan sebagaipeluang akan terjadinya suatu kejadian buruk akibat suatutindakan. Makin tinggi tingkat ketidakpastian suatukejadian, makin tinggi pula risiko yang disebabkan olehpengambilan keputusan itu. Dengan demikian,identifikasi sumber risiko sangat penting dalam prosespengambilan keputusan.

Secara konseptual petani yang mampu mereduksirisiko produksi maupun risiko harga dengan caramemperbaiki produktivitasnya, penggunaan diversifikasi,penggunaan pola tanam yang tepat, penguatankelembagaan petani, dan posisi tawar petani akan dapatproduksi dan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis risiko usahatani padi sawah sertapengaruh penggunaan input usahatani terhadap risikoproduksi padi sawah di Provinsi Bali.

METODE PENELITIANLokasi penelitian ditentukan secara purposive pada tiga

kabupaten sentra produksi padi sawah di Provinsi Bali,yaitu Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Gianyar.Pengumpulan data dilaksanakan selama dua musimtanam pada tahun 2012 melalui survei denganmewawancarai petani contoh dengan panduan kuesioneryang terstruktur. Pengambilan sampel petani padi sawahdalam penelitian ini digunakan metode sampel acaksederhana sebanyak 122 petani padi sawah yangterdistribusi 44 petani di Desa Selanbawak, KecamatanMarga Kabupaten Tabanan, 38 petani di Desa BonaKecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar dan 40 petanidi Desa sangsit, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng.Data-data yang dikumpulkan terkait dengan tulisan inimencakup karakteristik rumah tangga petani, penguasaantanah, pola tanam, struktur input dan output usahatani.

Analisis risiko usahatani padi sawah meliputi analisisrisiko produksi usahatani padi sawah. Untuk mengetahuibesarnya risiko produksi dianalisis dengan menggunakankoefisien variasi (CV). Koefisien variasi (CV) merupakanukuran resiko relatif yang diperoleh dengan membagistandar deviasi dengan nilai yang diharapkan (Pappas danHirschey,1995). Secara matematis risiko dirumuskan

Page 73: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

72Jurnal AGRARIS

sebagai berikut :

CV = ........................................................................ (1)

Nilai koefisien variasi yang lebih kecil menunjukkanvariabilitas nilai rata-rata pada distribusi tersebut rendah.Hal ini menggambarkan risiko yang dihadapi untukmemperoleh produksi tersebut rendah. Besarnyapengaruh penggunaan input terhadap risiko produksidianalisis dengan menggunakan regresi linier bergandadengan metode heteroscedastic. Model heteroscedastic yangdigunakan adalah model multiplicative heteroscedasticitydengan memaksimumkan fungsi likelihood (Just and Popedalam Roumasset et al. 1976; Greene, 2003). Modelregresi untuk pengaruh penggunaan input terhadapproduksi dan terhadap risiko produksi secara umumdituliskan sebagai berikut :Ln Y = á + â

1 ln X

1 + â

2 ln X

2 + â

3 ln X

3 + â

4 ln X

4 + â

5

ln X5 + â

6 ln X

6 + â

7 ln X

7 + â

8 ln X

8

+ ä

mt D

mt + ä

sl D

sl

+ [ ……..............................................(2)

[2 = á + â1 ln X

1 + â

2 ln X

2 + â

3 ln X

3 + â

4 ln X

4 + â

5

ln X5 + â

6 ln X

6 + â

7 ln X

7 + â

8 ln X

8

+ ä

mt D

mt + ä

sl D

sl

+ [ ……..............................................(3)Keterangan :

Y = produksi padi sawah (ton)

[2 = risiko produksi padi sawah (residual)

á = intersept

âi

= koefisien regresi (parameter yang ditaksir) (i =

1 s/d 8)

äi = koefisien regresi dummy (parameter yang

ditaksir) (i = mt, sl)

X1

= luas lahan (ha)

X2

= benih (kg)

X3

= pupuk N (kg)

X4

= pupuk P (kg)

X5

= pupuk K (kg)

X6

= pupuk organik (kg)

X7

= pestisida (liter)

X8

= tenaga kerja (HOK)

Dmt

= dummy musim tanam (0 = MH, 1 = MK)

Dsl

= dummy status lahan (0 = bukan milik,1 =

milik sendiri)

[ = error termUji statistik terhadap model regresi terdiri atas tiga

macam pengujian yaitu uji koefisien determinasi (R2),likelihood ratio test dan Individual test (Uji-t). Nilai koefisiendeterminasi (R2) digunakan untuk mengetahui ketepatanmodel yang digunakan.

HASIL PEMBAHASANPROFIL RESPONDEN DAN USAHATANI PADISAWAH

Secara umum umur kepala keluarga dalam hal inipetani padi sawah rata-rata 49 tahun. Hal inimenunjukkan bahwa sektor pertanian khususnyausahatani padi sawah cenderung kurang banyak diminatioleh penduduk pedesaan usia produktif (25-40 tahun).Pertumbuhan sektor non pertanian yang dinamiskhususnya jasa dan pariwisata membuka peluanglapangan pekerjaan yang cukup besar, sehingga pendudukusia muda di pedesaan lebih cenderung untuk memilihbekerja diluar sektor pertanian. Meskipun ada keterkaitanantara rata-rata usia kerja kepala rumahtangga denganpengalaman usahatani, keterbatasan umur jugamenunjukkan kemampuan untuk mengadopsi teknologijuga terbatas. Kreatifitas serta inisiatif untukmemanfaatkan teknologi baru yang tersedia belumbanyak dilakukan, sehingga proses adopsi teknologi jugaakan berjalan lambat.

Rata-rata tingkat pendidikan petani umumnya tidaktamat SMP (7,8 tahun), dimana tingkat pendidikanterendah tidak sekolah (1,6%). Sedangkan petani yangberpendidikan setingkat sarjana yang relatif kecil (0,8%).Dengan tingkat pendidikan yang rata-rata tidak tamatSMP atau setara tamat SD, dapat dipahami bahwapekerjaan di sektor pertanian bukanlah pekerjaan yangmembutuhkan tingkat keahlian/ketrampilan khusus,pendidikan tidak menjadi indikator keberhasilan.Fenomena ini menjadikan sektor pertanian sulitberkembang, kemampuan untuk dapat mengadopsiteknologi baru membutuhkan tingkat kemampuan yangmemadai untuk menerima, mengolah dan menerapkanteknologi yang tersedia.

Pengalaman dalam berusahatani padi sawah secarakeseluruhan sudah cukup lama, yaitu 24,3 tahun denganpengalaman terendah 5 tahun dan tertinggi 42 tahun.Cukup lamanya rata-rata pengalaman berusahatani padisawah yang lebih dari 20 tahun dimungkinkan karenamereka memulai usahataninya dari usia yang relatif mudadan diwariskan oleh orangtua mereka secara turun-temurun. Pengalaman yang dimiliki oleh petani ini

Page 74: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

73Vol.1 No.2 Juli 2015

sesungguhnya dapat digunakan sebagai peluang kearahefisiensi dalam penggunaan input-input produksi yangmereka gunakan. Karena sebagian besar petani dalammelaksanakan kegiatan usahataninya didasarkan padapengalaman empiris yang diperoleh di lahannyaselamabeberapa periode.

Lahan sebagai faktor produksi mempunyai perananbesar terhadap peningkatan produksi dan pendapatanusahatani padi sawah. Secara keseluruhan rata-ratapenguasasaan lahan garapan relatif kecil yaitu seluas 0,41ha. Dengan penguasan lahan yang relatif kecil tentunyaproduksi dan pendapatan yang akan diperoleh juga akanrendah, terlebih apabila tidak diikuti dengan penerapanteknologi dan managerial yang baik. Berdasarkan statuskepemilikan lahan, 75,46% petani memiliki lahansendiri dan sisanya merupakan lahan dengan status sewaatau sakap. Dengan status lahan garapan yang menyewaataupun menyakap tentunya pendapatan yang diterimajuga tentunya akan lebih kecil, karena harusmengeluarkan biaya sewa ataupun hasil yang perolehdibagi dengan pemilik lahan sesuai aturan yangdisepakati. Luas lahan garapan yang dikuasai umumnyajuga terfragmentasi menjadi beberapa persil, baik padahamparan yang sama tetapi ada juga pada hamparan yangberbeda. Biasanya dengan semakin meningkatnya luaslahan garapan maka akan semakin terfragmentasimenjadi beberapa persil lahan garapan, dengan rata-ratapenguasaan 2,9 persil. Dengan semakin terfragmentasinyalahan garapan menjadi beberapa persil tentunya akanmemberikan peluang pada ketidakefisienan dalammengelola usahataninya apabila lahan yangterfragmentasi terletak pada hamparan yang berbeda danlokasi yang berjauhan.

KERAGAAN PENGGUNAAN INPUT PRODUKSIPada penggunaan benih, umumya petani menyemai

benih lebih banyak daripada yang sesungguhnya ditanam.Rata-rata penggunaan benih per hektar mencapai 29,95kg/ha.Selain untuk mengantisipasi kekurangan bibitakibat viabilitas (daya tumbuh) benih yang tidak pernahmencapai diatas 95 persen, hal itu juga dimaksudkanuntuk mengantisipasi kebutuhan bibit untukpenyulaman. Dalam kasus-kasus tertentu dimana bibityang mereka semai sendiri tidak cukup maka petanitersebut biasanya membeli atau meminjam bibit daripetani lainnya. Penggunaan varietas padi sawah diketigalokasi penelitian juga telah mengalami pola pergeseran

dimana sebelumnya varietas IR 64 merupakan varietasyang dominan digunakan hampir diseluruh Provinsi Bali.Pada saat ini petani telah menggunakan varietas-varietasunggul baru seperti Ciherang, Cigeulis, Cibogo,Mekongga, Inpari dan beberapa varietas unggul barulainnya, hal ini dikarenakan varietas IR 64 telahmengalami penurunan daya hasil dan rentan terhadaphama dan penyakit, terutama Tungro jika ditanam padasaat musim hujan yang tentunya akan memperbesar risikoproduksi.

Pupuk anorganik/pupuk kimia yang banyakdigunakan oleh petani pada umumnya adalah Urea, SP36, KCL, ZA dan NPK. Rata-rata penggunaan pupuk Nsebanyak 248,88

Urea per hektar, 97,16 kg per hektar SP 36 dan 96,17kg KCL per hektar. Penggunaan ketiga jenis pupuk makrotersebut sebenarnya sudah melebihi dari rekomendasipemupukan spesifik lokasi, dimana untuk ketiga jenispupuk tersebut takaran yang dianjurkan masing-masing250 kg urea/ha, 75 kg SP 36/ha dan 50 kg KCL/ha. Halini dikarenakan petani umumya masih berpersepsi bahwasemakin banyak input produksi diberikan akan semakintinggi produksi yang dihasilkan. Padahal sesungguhnyatanaman menyerap unsur hara (pupuk) sesuai dengankebutuhannya, pemberian yang berlebihan justru akanberdampak negatif pada lingkungan dan peningkatanbiaya produksi yang dikeluarkan.

Pupuk organik dalam bentuk yang telah dikomposkanataupun segar berperan penting dalam perbaikan sifatkimia, fisika, dan biologi tanah serta sebagai sumbernutrisi tanaman. Secara umum kandungan nutrisi haradalam pupuk organik tergolong rendah dan agak lambattersedia, sehingga diperlukan dalam jumlah cukupbanyak. Namun, pupuk organik yang telah dikomposkandapat menyediakan hara dalam waktu yang lebih cepatdibandingkan dalam bentuk segar, karena selama prosespengomposan telah terjadi proses dekomposisi yangdilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalamkondisi aerob maupun anaerob. Sumber bahan komposantara lain berasal dari limbah organik seperti sisa-sisatanaman (jerami, batang, dahan), kotoran ternak (sapi,kambing, ayam). Penggunaan pupuk organik padausahaani padi sawah masih relatif rendah sekali yaiturata-rata 195,74 kg per hektar.

Penggunaan pestisida ditingkat petani sangatbervariasi, rata-rata penggunaan pestisida oleh petanisebanyak 541,65 ml per hektar. Semakin meningkatnyapenggunaan pestisida tanpa memperdulikan ambang

Page 75: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

74Jurnal AGRARIS

batas tentunya berdampak negatif. Karena selain akanmeningkatkan biaya produksi juga akan mengancamkeberadaan musuh alami bahkan meningkakan resistensihama dan penyakit. Hasil kajian Ameriana (2008)tentang perilaku petani dalam menggunakan pestisidakimiawi dapat disimpulkan bahwa : (a) semakin tinggipersepsi petani terhadap risiko maka semakin tinggikuantitas pestisida kimia yang digunakan, (b) semakinrendah ketahanan suatu varietas terhadap serangan Opt,semakin tinggi kuantitas pestisida kimia yang digunakanoleh petani dan (c) semakin rendah pengetahuan petaniterhadap bahaya pestisida semakin tinggi pestisida yangdigunakan.

Alokasi tenaga kerja mencakup tenaga kerja dalamkeluarga dan tenaga kerja upahan (buruh). Dalampengelolaan tanah, penggunaan tenaga kerja ternakataupun manusia semakin langka dijumpai dan sebagianbesar menggunakan tenaga mekanis terutama traktorroda dua yang dibayarkan dengan sistem borongan.Demikian halnya penanaman, untuk kegiatanpenanaman dominan dilakukan oleh tenaga kerja luarkeluarga yang diperhitungkan berdasarkan luas arealtanamnya. Kelangkaan tenaga kerja akan sangat terlihatapabila musim panen mulai tiba, hampir secarakeseluruhan tenaga kerja untuk panen merupakan tenagakerja yang berasal dari luar Bali (umumnya Jawa Timur).Para tenaga kerja tersebut akan tiba menjelang musimpanen raya dan biasanya kembali setelah masa panenselesai. Rata-rata penggunaan tenaga kerja usahatani padisawah per hektar selama satu musim sebanyak 56,3 HOK.Saptana et al., (2010) menyatakan bahwa penggunaantenaga kerja yang intensif terkait juga denga usahamenanggulangi risiko secara interaktif dengan mengelolausahatani secara sungguh-sungguh. Artinya penambahanpenggunaan tenaga kerja akan bersifat mengurangi risikokegagalan usahatani.

RISIKO PRODUKSIAnalisis risiko produksi menggunakan koefisien

variasi (CV) kemudian dilakukan perbandingan risikoproduksi antara petani padi sawah pada musim hujan danproduksi padi sawah pada musim kemarau. Nilaikoefisien variasi produksi yang kecil menunjukkanvariabilitas nilai rata-rata produksi yang rendah. Hal inimenggambarkan risiko produksi yang dihadapi untukmendapatkan hasil produksi tersebut kecil, demikiansebaliknya. perbandingan risiko produksi antarausahatani padi sawah antar musim dan statuskepemilikan lahan dapat dilihat pada Tabel 1.

Pada Tabel 1 terlihat bahwa risiko produksi usahatanipadi sawah pada musim hujan lebih tinggi dibandingkandengan usahatani padi sawah pada musim kemarau, haltersebut sejalan dengan hasil penelitian Ghani (2013)bahwa curah hujan termasuk faktor yang meningkatkanrisiko. Tingginya risiko produksi akan berpengaruhterhadap produksi usahatani padi sawah yang akandihasilkan. Lebih tingginya risiko produksi padi sawahpada musim hujan dibandingkan pada musim kemaraudiduga bahwa pada musim hujan tingkat seranganpenyakit lebih tinggi dibandingkan dengan musimkemarau, selain itu pada musim hujan intensitas radiasimatahari juga lebih rendah dibandingkan musimkemarau yang tentunya kan berpengaruh terhadap prosesfotosintesis. Menurut Satoto et al., (2013) beberapa upayayang dapat dilakukan untuk mengurangi senjang hasilantar musim antara lain mengetahui prevalensi seranganhama/penyakit, memetakan varietas spesifik, danmenerapkan teknik budi daya spesifik baik pada musimhujan maupun musim kemarau. Misalnya rekomendasipemupukan, jarak tanam, pengairan, dan pengelolaanhama/penyakit tanaman.

Sedangkan berdasarkan status kepemilikan lahanterlihat bahwa status lahan usahatani padi sawah denganstatus lahan bukan milik memiliki risiko yang lebihtinggi dibandingkan denan lahan usahatani pada lahanmilik sendiri. Disamping mengusahakan lahan miliksendiri, sepanjang modal produksi dan penawaran lahansewa tersedia, petani juga umumnya menyewa lahan

TABEL 1. PRODUKTIVITAS DAN RISIKO USAHATANI PADI SAWAH BERDASARKAN MUSIM TANAM

Page 76: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

75Vol.1 No.2 Juli 2015

usahatani. Menurut Saptana et al, (2010) hal inimerupakan salah satu strategi pengendalian risiko,karena melalui diversifikasi hamparan petani juga dapatmengurangi kovariasi hamparan hasil dan variabilitasproduksi agregat. Demikian juga jika secara spasial lokasihamparan tersebut tersebar, variabilitas produksi agregatyang diakibatkan oleh dampak spesifik lokasi (misalnyaserangan OPT dan kekeringan setempat) dapatdiminimalisir.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHIRISIKO PRODUKSI

Untuk mengetahui risiko produksi padi sawah padapenggunaan faktor-faktor produksi padi sawah dapatdianalisis menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglass menurut Just and Pope, dimana model tersebutmenunjukkan adanya pengaruh faktor-faktor produksiterhadap produksi padi sawah. Hasil analisis fungsiproduksi Cobb-Douglas dapat dilihat pada Tabel 2.

TABEL 2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PADI SAWAHDI PROVINSI BALI,

Keterangan :*** = Signifikan 1%** = Signifikan 5%* = Signifikan 5%ns = tidak signifikan

Pada tabel 2 terlihat bahwa nilai koefisien determinasi(R2) sebesar 0,925, hal ini berarti sebanyak 92,5 persenvariasi dari produksi padi sawah dapat dijelaskan olehvariasi variabel independen dalam model, dengan katalain 84,4 persen variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi dan sisanya 7,5persen dipengaruhi oleh hal lain yang tidak diteliti. Hasiluji F menunjukkan bahwa nilai F hitung (á = 1%) sebesar

165,22 yang secara statistik berpengaruh nyata, berartibahwa variabel independen secara bersama-samaberpengaruh nyata terhadap produksi padi sawah.

Hasil uji t menunjukkan bahwa koefisien regresi yangberpengaruh nyata terhadap produksi padi sawah adalahlahan, benih, pupuk N, pupuk P, pupuk organik, tenagakerja, musim tanam dan status lahan. Hal ini berartisetiap penambahan atau pengurangan faktor produksitersebut akan menaikkan produksi padi sawah.Selanjutnya untuk mengetahui faktor-faktor yangmempengaruhi risiko produksi padi sawah adalahestimasi dengan Methode Least Square, dimana risikoproduksi padi sawah (residual) digunakan sebagai variabeldependen. Berdasarkan hasil pendugaan tersebutmempunyai nilai koefisien determinasi (R2) yang relatifkecil, sebesar 46,8 persen. Beberapa hasil penelitian yangmenggunakan persamaan fungsi variance produksimemberikan koefisien determinasi yang sangat kecil,bahkan negatif (Walter et al. 2004).

TABEL 3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RISIKO PRODUKSI PADISAWAH DI PROVINSI BALI, TAHUN 2012

Keterangan :*** = Signifikan 1%** = Signifikan 5%* = Signifikan 5%ns = tidak signifikan

Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,468, hal inibermakna bahwa sebanyak 46,8% variasi dari risikoproduksi padi sawah dapat dijelaskan oleh variasi variabelindependen dalam model, dengan kata lain 46,8 %variabel independen secara bersama-sama berpengaruhterhadap risiko produksi dan sisanya 53,2 % dipengaruhioleh hal lain yang tidak diteliti yang merupakan variabel

Page 77: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

76Jurnal AGRARIS

lain di luar model, hal tersebut antara lain adalahpengaruh cuaca, hama penyakit dan lainnya. Sa’id danIntan (2001) mengemukakan bahwa risiko produksikarena bencana alam, serangan hama dan penyakittanaman, kebakaran, dan karena faktor-faktor lainnyayang akibatnya dapat diperhitungkan secara fisik dapatditanggulangi dengan membeli polis asuransi produksipertanian. Namun hal ini nampaknya baru sebataswacana masih dalam taraf penelitian, dan belumditerapkan di Indonesia. Selanjutnya dikatakan risikokemungkinan menurunnya kualitas produksi dapatditanggulangi dengan penerapan teknologi budidaya danpasca panen yang tepat.

Berdasarkan hasil analisis yang tersaji pada Tabel 3diketahui bahwa nilai F hitung (á = 10% ) sebesar 3,739berpengaruh nyata, berarti bahwa variabel independensecara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap risikoproduksi. Hasil uji t terhadap variabel independenmenunjukkan variabel independen yang berpengaruhnyata dan negatif terhadap risiko produksi usahatani padisawah adalah luas lahan, pupuk organik dan pestisida.Hal ini bermakna bahwa setiap penambahan faktorproduksi luas lahan, pupuk organik dan pestisida makaakan menurunkan risiko produksi padi sawah. Denganpenambahan lahan sampai batas tertentu akanmeningkatkan skala usaha, produksi, dan efisiensi dalamusahatani, sehingga akan menurunkan risiko produksipadi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Fariyanti etal., (2007); Kurniati (2012); Zakirin et al., (2013).Walaupun pada kondisi riil penambahan areal tanammelalui ekstensifikasi usahatani padi sawah sudah tidakmemungkinkan lagi untuk dilaksanakan di Provinsi Bali.

Tingkat partisipasi petani secara kuantitatif dalammenggunakan pupuk organik masih relatif rendah. Hasilanalsisis statistik menunjukkan bahwa penggunaanpupuk organic secara nyata dapat menurunkan risikoproduksi padi sawah, hal ini diduga karna pemakaianpupuk kimia dalam waktu yang lama dan dalam jumlahyang tinggi sehingga apabila tidak diimbangi denganpenggunaan pupuk organik akan berdampak terhadapkualitas dan kesuburan tanah. Sebagaimana hasilpenelitian Ghafar et al., (2011) bahwa dengan melakukanpenambahan jumlah penggunaan pupuk organik dalamjangka panjang akan meningkatkan produksi danmenurunkan risiko pada usahatani kedelai. Dari sisiefisiensi, penggunaan pupuk kimia dan pupuk organikdapat dipandang sebagai suatu pemborosan. Namundemikian menurut Saptana et al., (2011) jika dipandang

dari aspek manajemen risiko hal ini juga dapat dika-tegorikan sebagai salah satu metode strategi manajemenrisiko interaktif, karena petani dapat mengatur penam-bahan atau pengurangan pupuk sesuai denganpersepsinya menyangkut kebutuhan hara tanaman.

Berdasarkan hasil analisis sttistik seperti yangditampilkan pada Tabel 3, menunjukkan bahwapenggunaan pestisida berpengaruh nyata terhadappenurunan risiko produksi padi sawah. Hal serupa jugadiperoleh dari hasil penelitian Villano dan Fleming(2006) bahwa penggunaan input produksi herbisidaberpengaruh mengurangi risiko produksi padi sawah.Pada umumnya petani padi sawah menggunakan pestisidasebagai tindakan preventif sekaligus tindakan preventif.Dengan kata lain, pengambilan keputusan pengendaliancenderung lebih diarahkan untuk mengantisipasi risikoterjadinya serangan OPT dan sekaigus untuk mengatasiserangan OPT tersebut secara actual. Menurut Saptana etal., (2010) efisiensi pengendalian OPT sebenarnyatergantung pada kejadian yang bersifat acak, yaitu adatidaknya srangan OPT Juka tidak ada serangan makainput tersebut tidak akan berpengaruh terhadap produksi,bahkan mungkin menimbulkan pemborosan sertamenimbulkan resistensi dan surgerensi terhadap OPTtertentu. Hail observasi dilapangan juga menunjukanbahwa hampir secara keseluruhan petani menggunaanpestisida kimia dala pengendalian serangan OPT Artinyadalam menghadapi risiko dalam usahatani padi sawahpetani lebih mengandalkan pestisida kimiawi, karenadipandang lebih efektif dan praktis dibandingkanpestisida nabati. Walaupun beberapa petani juga telahmemperoleh SL-PHT padi namun belum diaplikasikansecara utuh sehingga keberhasilannya masih rendahkarena masih kurangnya pengetahuan petani secaramenyeluruh.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKANRisiko produksi usahatani padi sawah yang diusa-

hakan pada musim kemarau memiliki risiko produksiyang lebih rendah dibandingkan pada musim hujan.Risiko produksi padi sawah juga lebih tinggi pada lahanbukan milik dibandingkan lahan dengan status miliksendiri. Hal ini mengindikasikan variasi produksi yanglebih tinggi pada usahatani padi sawah diusahakan padamusim hujan dan status lahan bukan milik. Faktor yangmempengaruhi risiko produksi usahatani padi sawahantara lain luas lahan, pupuk organik dan pestisida.

Sebagai implikasi kebijakan dari penelitian ini, maka

Page 78: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

77Vol.1 No.2 Juli 2015

di sarankan beberapa hal sebagai berikut: (1) menambahpenggunaan input produksi yang secara signifikanmeningkatkan produksi dan menurunkan risiko antaralain pupuk organic, mengaplikasikan pendekatan PHTdalam pengendalian OPT secata utuh sehinggapenggunaan pestisida dapat dioptimalkan, (2) upayauntuk penanganan risiko produksi dapat dilakukanmelalui oenerapan diversifikasi usahatani atau polatanam optimal dan (3) upaya mengurangi risiko jugadapat dilakukan melalui perbaikan dan perancanganteknologi yaitu dengan menggunakan varietas-varietastahan OPT dan memiliki stabilitas hasil yang tinggi sertadaya adaptasi yang luas terhadap berbagai cekamanlingkungan.

DAFTAR PUSTAKAAmeriana, M. 2008. Perilaku Petani Sayuran dalam

Menggunakan Pestisida Kimia. Jurnal Hortikultura 18

(1) : 95-106.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. 2013b. Luas Lahan

Menurut Penggunaannya di Provinsi Bali Tahun 2013.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. Denpasar. 94 hal.

Coelli, T.J. D.S.P. Rao and G.E. Battese. 1998. Introduc-

tion to Efficiency and Productivity Analysis. Kluwer

Academic Plublisher. Boston.

Fariyanti, A., Kuntjoro, S Hartoyo dan A. daryanto. 2007.

Perilaku Ekonmi Rumahtangga Sayuran pada Kondisi

Risiko Produksi dan Harga di Kecamatan Pangalengan

Kabupaten Bandung. Juarnal Agro Ekonomi 25 (2) :

178-206.

Ghani, M.A. 2013. Dampak Perubahan Iklim Terhadap

Hasil dan Risiko Produksi Padi di Indonesia. Thesis

Program Studi Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi.

Universitas Indonesia. Jakarta. (Tidak dipublikasikan).

Greene, W.H. 2003. Econometric Analysis. Fifth Edition.

Upper Saddle River, Prentice Hall, New Jersey.

Kurniati, D. 2012. Analisis Risiko Produksi dan Faktor-

Faktor yang Mempengaruhinya pada Usahatani Jagung

(Zea mays L) di KecamatanMempawah Hulu

Kabupaten Landak. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian 1

(3) : 60-68.

Pappas, J.M dan M. Hirschey. 1995. Ekonomi Managerial.

Edisi Keenam Jilid II. Binarupa Aksara. Bandung.

Roumasset, J.A. 1976. Risk Aversion, Indirect Utility

Function Market Failure, In : Roumasset, J.A,

Boussard, J.M, Singh, I. (eds) Risk and Uncertainty an

Agriculture Develop-ment. New York: Agriculture Devel-

opment Council.

Sa’id, E.G dan A.H. Intan. 2001. Pengelolaan Agribisnis.

Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.

Saptana, A. Daryanto., H.K. Daryanto dan Kuntjoro. 2010.

Strategi Manajemen Risiko Petani Cabai Merah Pada

Lahan sawah dataran rendah di Jawa Tengah. Jurnal

Manajemen dan Agribisnis 7 (2) : 115-131.

Satoto, Y. Widyastuti., U.Susanto., dan M. J. Mejaya. 2013.

Perbedaan hasil padi antar musim di lahan sawah

irigasi. IPTEK Tanaman Pangan 8 (2) : 55-61

Soedjana, T.D. 2007. Sistem Usahatani Terintegrasi

Tanaman Ternak Sebagai Respons Petani Terhadap

Faktor Risiko. Jurnal Litbang Pertanian 26 (2) : 82-87.

Sriyadi. 2010. Risiko Produksi dan Keefisienan Relatif

Usahatani Bawang Putih di Kabupaten Karanganyar.

Jurnal Pembangunan Pedesaan 10 (2) : 69-76.

Suryana A., S. Mardianto, K. Kariyasa dan I.P. Wardhana.

2009. Kedudukan Padi Dalam Perekonomian Indone-

sia dalam Padi, Inovasi Teknologi dan Ketahanan

Pangan. Buku 1. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Jakarta. Hal 7- 31.

Thahir, A.G., D.H. Darwanto., J.H. Mulyo dan Jamhari.

2011. Analisis Risiko Produksi Usahatani Kedelai

pada Berbagai Tipe Lahan di Sulawesi Selatan. Jurnal

Sosial Ekonomi Pertanian 8 (1) : 1-15.

Villano, R dan E Flemming. 2006. Technical Inefficiency

and Production Risk in Rice Farming : Evidence from

Central LuzonPhilippines. Asian Economc Journal 20

(1) : 29-46.

Walter, J.T., R.K. Roberts, J.A. Larson, B.C. English and

D.D. Howard. 2004. Effects of Risk, Disease, and

Nitrogen Source on Optimal Nitrogen Fertilization

Rates in Winter Wheat Production. Paper. Southern

Agricultural Economic Association. Tulsa, Oklahoma.

Zakirin, M., E. Yurisinthae dan N. Kusrini. 2013. Analisis

Risiko Usahatani Padi Pada Lahan Pasang Surut di

Kabupaten Pontianak. Jurnal Social Economic of

Agriculture 2 (1) : 75-84

Page 79: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

AGRICA, 11 (1) : 10-20 ©Fakultas Pertanian Universitas FloresISSN : 1979-0368 Ende NTT - Indonesia

10

ANALISIS RISIKO PRODUKSI USAHATANI PADI LADANG DI DESANGGELA KECAMATAN WOLOJITA KABUPATEN ENDE

Willybrordus Lanamana

Dosen Program StudiAgroteknologi Fakultas Pertanian Universitas FloresJl. Sam Ratulangi-Paupire, Ende-Flores, NTT

[email protected]

ABSTRACT

This study aims to analyze the risk of field rice farming in the dry season and rainyseason and the influence of the use of production inputs on the risk of field riceproduction. The research was conducted in Nggela village with consideration. a) is adryland village with the main food commodities of paddy rice Field rice farmers inNggela village as many as 53 farmers, all farmers were studied to get the data andinformation needed. Analysis of the data used is the coefficient of variation. Thisanalysis is a measure of relative risk obtained by dividing the standard deviation withthe expected value. . The magnitude of the influence of input use on production risk wasanalyzed using multiple linear regression, the production function used was the CobbDouglass production function beginning with the classical assumption test. The resultsof the analysis show that the risk of producing paddy rice farming in the rainy season islower than in the dry season. The results of the t-test analysis show that not allindependent variables have a significant effect on the dependent variable. Variables thatare not influential are labor variables. Data in the field shows that the workmanship inNggela village is still familiar with the pattern of cooperation, so that a lot or a littleworkforce is used that does not affect the risk of production. In the variables of land,seeds, fertilizers, and pesticides, there is a significant and negative sign, this means thatany additional land area, seeds, fertilizers and pesticides will reduce the risk of field riceproduction.

Keywords: Production risk, rice field

PENDAHULUANDesa Nggela merupakan salah satu

desa lahan kering di Kabupaten Endedengan karakteristik, lahan kering yangrelatif luas, hari hujan dan bulan hujanrendah serta topografis wilayah yangberbukit, fakta demikian berpengaruhpada kehidupansosial ekonomipertanian masyarakat desaNggeladalammemanfaatkan sumberdaya lahan kering untukmenjagakelangsungan hidupnya. Salah satukomoditas pangan utama masyarakat

desa Nggela adalah padi ladang,komoditas ini dibudidayakan secaraturun temurun, transformasipengetahuan dan teknologi terjadi jugasecara turun temurun. Budidaya padiladang memiliki keterkaitan denganbudaya lokal, sehingga dari pengolahanlahan sampai dengan panen tidak dapatdipisahkan dari ritual perladangan,ritual ini menjadi penanda bahwausahatani padi ladang merupakan suatukebudayaan bagi masyarakat setempat.

Page 80: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Lanamana : Analisis Resiko Produksi Usaha Tani

11

Budidaya padi ladang di desaNggela tidak berarti tanpapermasalahan, salah satu diantaranyaadalah produktivitasnya yang masihrendah.Produktivitas padi ladang diDesa Nggela tahun 2017 baru mencapai20,00 kw/hektar sedangkan rata-rataproduksi padi ladang di Propinsi NTBsudah mencapai 40,65 kw/hektar,produktivitas rata-rata padi ladangnasional 33,62 kw/ hektar (Lanamana,2016). Suryana et al (2009)menguraikan beberapa problematikyang berkaitan dengan usahatani padi diIndonesia antara lain a). kepemilikanlahan usahatani yang kecil danmenyebar b). keterbatasan debit airterutama pada musim kemarau c).keterbatasan tenaga kerja d)keterbatasan modal dan e) seranganhama penyakit.

Petani di Desa Nggela memilikipengalaman panjang dalam usahatanipadi ladang, pengetahuan danketerampilan diwariskan secara turuntemurun, namun pengalaman initidakserta merta memberi pengaruh terhadapproduktivitas dan pendapatan usahatani.Hasil wawancara dengan beberapapetani memberi gambaran bahwa,walaupun petani menggunakan lahandengan karakteristik yang sama,pengetahuan dan teknolologi yangsama namun perbedaanproduktivitasantara individu petanicukup signifikan, fenomena ini terjadibertahun-tahun. Secara teoritisperbedaan ini sangat ditentukan olehpenggunaan faktor-faktor inputpertanian.

Petani di desa Nggela sebagianbesar merupakan petani subsisten, hal

ini terlihat dari kepemilikan lahansempit dan menyebar, teknologi rendah,modal terbatas, produksi untukmemenuhi kebutuhan hidupnya sendiri,jika kelebihan produksi barudibarterkan dengan hasil pertanianlainnya atau dijual. Dalam menjalankankegiatan usahatani padi ladang, petanitidak pernah melakukan perhitunganbiaya dan pendapatan/ analisausahatani, secara faktual yangditemukan, petani hanya berusaha untukmenghindari kegagalan agar usahatanipadi ladang dapat terus dijalankan,sehingga kebutuhan pangan rumahtangga dapat terjaga, usaha tani padiladang bukan untuk mencarikeuntungan. Permasalahan-permasalahan di atas merupakan resikoyang harus dihadapi petani di desaNggela. Terminologi resiko diartikansebagai kemungkinan terjadinya suatukejadian yang tidak menguntungkanbagi petani, semakin tinggiketidakpastian pada suatu keadaan,maka semakin tinggi resiko yangdihadapi (Soedjana, 2007). MenurutSemaoen (2000), resiko baik keluaranmaupun peluang dapat diketahui,sedangkan menurut Roumaset (2000),resiko merupakan salah satu ukuran daridispersi hasil-hasil yang mungkin,probabilitas yang menghasilkankeputusan tertentu dan yang harusdibayar oleh mereka yang tidak mampumenghindar. Petani diharapkan mampumengidentifikasi resiko danmeminimalisir resiko denganmengendalikan berbagai permasalahan-permasalahan di atas. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis resikousahatani padi ladang pada musim

Page 81: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

AGRICA, Vol. 11 No. 1 (2018)

12

kemarau dan musim hujan sertapengaruh penggunaan input produksiterhadap resiko produksi padi ladang didesa Nggela.

METODE PENELITIANPenelitian ini dilaksanakan di desa

Nggela kecamatan Wolojita kabupatenEnde, pemilihan lokus penelitiandidasarkan pada beberapapertimbangan, a) Nggela merupakandesa lahan kering dengan komoditaspangan utama padi ladang b) petanipadi padang di desa Nggela merupakanpetani subsisten c) karakteristik petaniyang subsisten dengan pendapatan yangrendah sangat rentan terhadap resikoproduksi d) penelitian tentang resikousahatani belum pernah dilakukan didesa Nggela. Penelitian dilakukan padabulan Februari – April 2016. Petanipadi ladang di desa Nggela sebanyak 53Orang petani, jumlah ini relatif terusberkurang setiap tahun. Tenaga kerjausia produktif kurang tertarik bekerjadisektor pertanian, sehingga 53 orangpetani tersebut merupakan tenaga kerjausia non produktif. Petani berjumlah 53orang ini diteliti untuk mendapat datadan informasi yang dibutuhkan..

Untuk mengetahui besarnya resikoproduksi dianalisis menggunakankoefisien variasi (CV), secaramatematis dirumuskan sebagai berikut:

CV =ƳKoefisien variasi merupakan

ukuran resiko relatif yang diperolehdengan membagi standar deviasi dengannilai yang diharapkan. Nilai koefisienvariasi yang lebih kecilmenunjukkanvariabilitas nilai rata-ratapada distribusi tersebut rendah.Hal inimenggambarkan risiko yang dihadapi

untukmemperoleh produksi tersebutrendah. Menurut Kadarsan (1995),untuk menganalisis resiko usaha dapatdilakukan dengan menggunakanlangkah-langkah perhitungan hasil yangdiharapkan (E). Dalam mengukur resikosecara sistematik, maka digunakanukuran ragam (varian) dan simpanganbaku (standar deviasi). Hal inimenunjukkan semakin besar nilaikoefisien resiko, maka semakin besaryang akan ditanggung petani padiladang.Analisis ini antara lain pernahdigunakan oleh Ihsanudin (2010) yaitutentang resiko usahatani tembakau diKabupaten Magelang, Lamusa (2010)menganalisis resiko usahatani padisawah rumah tangga di daerah ImpensoProvinsi Sulawesi Tengah, dan Arifin(2013) menganalisis resiko produksidan pendapatan kepemilikan lahandaerah sentra produksi padi diKabupaten Pinrang. Besarnyapengaruhpenggunaan input terhadap risikoproduksidianalisis denganmenggunakan regresi linier berganda,diawali dengan uji asumsi klasik.Modelregresi untuk pengaruhpenggunaan input terhadapproduksi danterhadap risiko produksi secaraumumdituliskan sebagai berikut:

Ln Y = a + a1 ln x1 + a2 ln x2 + a3

ln x3 + a1 ln x4 + a1 ln x4 + a5 ln x5 + amt

Dmt + e2= a + a1 ln x1 + a2 ln x2 + a3 lnx3 + a1 ln x4 + a1 ln x4 + a5 ln x5 + amt

Dmt + e

Keterangan:Y = produksi padi ladang (kg)│2= resiko produksi padi ladanga = intersept

Page 82: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Lanamana : Analisis Resiko Produksi Usaha Tani

11

ai = koefisien regresiamt = koefisien regresi dummyx1 = luas lahan (kg)x2 = benih (kg)x3 = pupuk (kg)x4 = pestisida (liter)x5 = tenaga kerja (HOK)Dmt = dummy musim tanam (O = MH,1 = MK)e = error term

HASIL DAN PEMBAHASANPenggunaan Input Pertanian

Petani di desa Nggelamenggunakan benih untuk kegiatanbudidaya diambil dari padi yangdisimpan dari tahun sebelumnya, rata-rata setiap rumah tangga petanimenyimpan padi untuk masa paceklikatau untuk ditanam pada tahunberikutnya dalam jumlah yang cukupbanyak, kebiasaan ini sudah berlakudari generasi sebelumnya. Rata-ratapenggunaan benih per hektar mencapai30,12 kh/ha. Persediaan benih yangcukup banyak ini untuk mengantisipasiterjadinya permasalahan daya tumbuhbenih, sehingga petani tidak sulitmendapatkan benihdalam melakukanproses penyulaman. Padi ladang yangdigunakan petani di desa Nggelasebagian besar varietas ciherang danbeberapa petani menggunakan varietaslokal “Pare Ndale”, informasi yangdiperoleh dari lokasi penelitian bahwavarietas lokal ini lebih tahan terhadapserangan hama penyakit, namun petanilebih tertarik dengan varietas ciherang.Sehubungan dengan pemanfaatanvarietas lokal, beberapa tahun terakhirPPL dan instansi terkait selalu memberiinformasi agar masyarakat sedapat

mungkin menggunakan varietas lokalPare Ndale dalam kegiatan usahatanipadi ladang, karena varietas lokal inisangat sesuai dengan karakteristik lahandan daya adaptasinya lebih baik.

Pupuk anorganik yang digunakanoleh petani di desa Nggela diantaranyapupuk urea SP 36 dan KCL.Penggunaan pupuk urea per hektar52,10 kg per hektar, SP 36 47,12 kgper hektar dan KCL 48,0 kg per hektar.Hasil wawancara dengan beberapaorang petani senior diperoleh informasibahwa penggunaan ketiga jenis pupuktersebut belum sesuai denganrekomendasi yang diberikan untukusahatani padi ladang khususnya dilahan kering, takaran yang dianjurkanmasing-masing250 kg urea/ha, 75 kg SP36/ha dan 50 kg KCL/ha. Hasilpenelitian juga menunjukkan bahwapetani jarang menggunakan pupukkandang. Beberapa petani menggunakanlimbah organik dari sisa-sisa tanaman(jerami, batang, dahan), kesimpulannyapenggunaan pupuk organik padausahatani padi ladang di desa Nggelamasih relatif rendah. Secara teoritis,penggunaan pupuk organik dalambentuk yang telah dikomposkan ataupunsegar berperan penting dalam perbaikansifat kimia, fisika, dan biologi tanahserta sebagai sumber nutrisi tanaman.Secara umum kandungan nutrisiharadalam pupuk organik tergolongrendah dan agak lambattersedia,sehingga diperlukan dalam jumlahcukup banyak. Namun, pupuk organikyang telah dikomposkan dapatmenyediakan hara dalam waktu yanglebih cepat dibandingkan dalam bentuksegar, karena selama proses

13

Page 83: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

AGRICA, Vol. 11 No. 1 (2018)

12

pengomposan telah terjadi prosesdekomposisi yang dilakukan olehbeberapa macam mikroba.

Pestisida yang digunakan olehpetani di desa Nggela sangat bervariasi,hasil penelitian menunjukkan rata-ratapenggunaan pestisida sebanyak 102mlper hektar, penggunaan pestisida yangsangat terbatas ini disebabkan karenaketerbatasan uang untuk membelipestisida. Di lokasi penelitian tidakditemukan kios yang menjual saprodi,sehingga untuk membeli pestisidapetani harus pergi ke kota dengan jarak75 Km, dengan tambahan biayatransportasi ini, bagi petani biaya untukusahatani padi ladang dirasakan sangatberat.Secara teoritis dijelaskan bahwa,penggunaan pestisida harusmemperhatikan ambang batas,kelebihan penggunaan zat kimia iniakan berpengaruh pada ekosistem.

Penggunaan pestisida secara tidakbijaksana dapat menimbulkan berbagaidampak negatif baik bagi manusiamaupun lingkungan. Hasil penelitianAmeriana et al.(2000) menunjukkanbahwa buah tomat dengan perlakuanpencucian saja hanya mampumengurangi nilai inhibisi insektisidadari 61,17% menjadi 60,18% dan nilaiinhibisi fungisida dari 70,64% menjadi50,28%. Perilaku petani dalammenggunakan pestisidakimiawi dapatdisimpulkan bahwa : (a) semakintinggipersepsi petani terhadap risikomaka semakin tinggikuantitas pestisidakimia yang digunakan, (b)semakinrendah ketahanan suatu varietasterhadap serangan Opt,semakin tinggikuantitas pestisida kimia yangdigunakanoleh petani dan (c) semakin

rendah pengetahuan petaniterhadapbahaya pestisida semakin tinggipestisida yangdigunakan (Ameriana,2008)

Tenaga kerja yang digunakanpetani di desa Nggela sebagian besaradalah tenaga kerja keluarga.Penggunaan tenaga kerja luar keluargahanya untuk pekerjaan pengolahantanah, penanaman dan panen.Pengolahan tanah sudah menggunakanteknologi dalam hal ini hand traktor,sewa hand traktor untuk pengolahanlahan selama 2 minggu sebesar Rp300.000. Hand traktor milik salah satumasyarakat di desa Nggela, terkadangpetani harus menyewa hand traktor daridesa tetangga, jika hand traktor tersebutrusak. Tenaga kerja luar keluarga yangbekerja untuk kegiatan penanaman danpanen tidak dibayar/ tidak diberi upah,masyarakat masih terbiasa dengan kerjagotong royong, hari ini bekerja padalahan keluarga yang lain hariberikutnya bekerja pada lahannyasendiri. Minimnya biaya tenaga kerja inisangat membantu dalam menekan biayaproduksi. Secara umum tenaga kerjausia produktif di desa Nggela cukuptersedia, namun tidak semua tenagakerja tersebut berminat untuk bekerjadisektor pertanin, sehingga rata-ratausia petani padi ladang di desa Nggelaberada di atas 45 tahun. Kurangtertariknya generasi muda bekerjadisektor pertanian ini menyebabkanjumlah petani padi ladang di desaNggela hanya mencapai 53 orangpetani. Menurut Saptana et al., (2010)penggunaantenaga kerja yang intensifterkait juga dengan usahamenanggulangi risiko secara interaktif

14

Page 84: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Lanamana : Analisis Resiko Produksi Usaha Tani

11

dengan mengelola usahatani secarasungguh-sungguh. Artinya penambahanpenggunaan tenaga kerja akan bersifatmengurangi risiko kegagalan usahatani.

Risiko ProduksiAnalisis risiko produksi

menggunakan koefisienvariasi (CV)kemudian dilakukan perbandinganrisikoproduksi antara produksi padiladang pada musim hujan danproduksipadi ladang pada musim kemarau.

Perbandingan dengan memperhatikanmusim tanam ini memiliki keterkaitanerat dengan resiko yang harus diterimapetani. Nilai koefisien variasi produksiyang kecil menunjukkan variabilitasnilai rata-rata produksi yang rendah, halini menggambarkan risiko produksiyang dihadapi untuk mendapatkan hasilproduksi tersebut kecil, demikiansebaliknya. Perbandingan risikoproduksi antara usahatani padi ladangantar musim pada Tabel I.

Tabel I.Produktivitas dan Resiko Usaha Tani Padi Ladang Berdasarkan MusiUraian Produktivitas Usahatani Padi Ladang (Kwintal/Ha)

Musim Tanam

Musim Kemarau Musin Hujan

Produktivitas 10.01 20.00

Standar deviasi 782.321 610.211

Koefisien variasi 0.121 0.052

CV (%) 0.078 0.030

Data pada Tabel 1 memberi gambarantentang resiko produksi usahatani padiladang pada musim hujan dan kemarau,dimana pada musim hujan lebih rendahdari pada musim kemarau. Fakta di lokasipenelitian ini disebabkan karena usahataniyang dilakukan merupakan usahatani padiladang, ketergantungan dengan air hujansangat tinggi untuk pertumbuhan danproduksi tanaman, sedangkan pada musimkemarau masyarakat kesulitanmendapatkan air, hanya pada beberapapetani yang melakukan kegiatan usahatanidimana kebun ladang letaknya dekatdengan sungai, pada musim kemarau debitair sungai sangat kecil. Untuk menjagaproduktivitas usahatani padi ladang padamusim hujan sebagian besar masyarakat

tani dilatih oleh PPL untuk mengetahuiprevalensi serangan hama/penyakit,memetakan varietas spesifik, danmenerapkan teknik budi daya spesifik,misalnya rekomendasi pemupukan, jaraktanam, pengairan, dan pengelolaanhama/penyakit tanaman. Hal ini disadarikarena pada musim hujan tingkat seranganpenyakit lebih tinggi dibandingkan denganmusim kemarau, selain itu pada musimhujan intensitas radiasi matahari juga lebihrendah dibandingkan musim kemarau yangtentunya kan berpengaruh terhadap prosesfotosintesis. Hasil penelitian ini berbedadengan penelitian yang dilakukan olehGhani (2013)dan dan Suharyanto, et.al(2015) bahwa curah hujan termasuk faktoryang meningkatkan risiko.

15

Page 85: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

AGRICA, Vol. 11 No. 1 (2018)

Faktor-Faktor yang MempengaruhiResiko Produksi

Sebelum dilakukan analisis pengaruhfaktor-faktor produksi terhadap produksipadi ladang, maka didahului dengan ujiasumsi klasik. Hasil uji penyimpanganasumsi klasik memberi suatu gambaranbahwa data terdistribusi normal, gejalamultikolonieritas yang terjadi tidak serius,dan tidak tejadi gejala heterokedastisitas

Pengaruh faktor-faktor input produksiterhadap produksi dan resiko produksidianalisis menggunakan fungsi produksiCobbDouglass, hasil analisis menunjukanlimavariabel berpengaruh signifikan dansatu variabel yang tidak berpengaruh padaproduksi dan resiko produksi padiladang.Hasil penelitian pada Tabel 2 danTabel 3.

Tabel 2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Padi Ladang.Variabel Koefisien Standar Error T-Hitung Probabilitas

Konstanta 7.241***) 0.421 29.300 0.000

Lahan 2.231***) 0.022 10.241 0.000

Benih 0.110***) 0.131 9.231 0.000

Pupuk 0.102*) 0.222 1.872 0.062

Pestisida 0.021**) 0.143 2.190 0.009

TK 0.117 0.310 0.124 0.123

Dummy Musim

Tanam

0.043***) 0.200 4.214 0.009

R-Squared 0.832

Adjusted R-Squared 0.841

F-Statistik 151.201

Nilai koefisien determinasi (R2) padaTabel 1 sebesar 0.832, nilai inimengandung arti bahwa 83,2 persenvariasi produksi usahatani padi ladang didesa Nggela dapat dijelaskan oleh semuavariabel independen yang ada pada model,atau 83.2 % variabel independen (lahan,benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja dandummy musim tanam) berpengaruhterhadap variabel dependen (produksi),sisanya 16.8 % dipengaruhi oleh variabellain diluar model. Nilai F hitung padaTabel 1 sebesar 151.201, nilai ini

menunjukkan bahwa variabel independensecara bersama-sama berpengaruhsignifikan terhadap variabel produksi padiladang. Hasil uji t menunjukkan variabelbebas yang berpengaruh nyata danbertanda positif terhadap variabel bebas(produksi padi ladang) adalah lahan, benih,pupuk dan pestisida, ini berarti jika jikapenggunaan input lahan, benih, pupuk danpestisida bertambah, maka produksi padiladang meningkat, sedangkan variabeltenaga kerja tidak berpengaruh nyata, halini disebabkan karena masyarakat Nggela

16

Page 86: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Lanamana : Analisis Resiko Produksi Usaha Tani

masih terbiasa dengan pola kerja gotongroyong, sehingga besar atau kecilnyatenaga kerja yang ikut bekerja tidakberpengaruh terhadap biaya tenaga kerja.Variabel dummy musim tanammenunjukkan pengaruh yang signifikan,informasi ini menjadi petunjuk bagimasyarakat tani dalam mengelolausahatani dengan memperhatikan musimtanam yang tepat.

Hasil analisis pengaruh variabelindependen lahan, benih, pupuk danpestisida terhadap resiko produksi padaTabel 3. Hasil analisis tersebutmenunjukkan, nilai R2 yang diperolehsebesar 41.2 persen, nilai R2 relatif kecil,hasil analisis dengan nilai yang kecil inisama dengan beberapa penelitian salahsatu diantaranya oleh Suharyanto, et.al(2015). Nilai R2 sebesar 41.2 persenmengandung makna 41,2 % variabelindependen lahan, benih, pupuk danpestisida bersama-sama berpengaruhterhadap variabel dependen resikoproduksi padi ladang dan sisanya sebesar58.8 persen dipengaruhi oleh variabel laindiluar model diantaranya cuaca, dan hamapenyakit. Resiko produksi yangdisebabkan oleh cuaca dan hama penyakitmasih sulit dikendalikan oleh petani,khususnya petani yang memilikiketerbatasan pengetahuan danketerampilan.

Petani di desa Nggela sebagain besarmerupakan petani subsisten, hasil produksipadi ladang hanya digunakan untukmemenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,sehingga upaya untuk menambahpengetahuan dan keterampilan serta adopsiteknologi tepat guna melalui kursus ataupelatihan yang dibiayai sendiri untukmengendalikan resiko usaha tani masih

sangat sulit dilakukan. Pilihanmemungkinkan hanya melalui programpemerintah dalam meningkatkan sumberdaya petani di desa atau mengoptimalkanperan PPL.

Hasil analisis nilai F hitung sebesar4.291, nilai ini mengandung arti bahwavariabel-variabel independen yang adadimodel berpengaruh nyata secara simultasterhadap variabel resiko produksi. Hasilanalisis uji t menunjukkan bahwa tidaksemua variabel independen berpengaruhnyata pada variabel dependen. Variabelyang tidak berpengaruh yaitu variabeltenaga kerja. Data di lapanganmenunjukkan bahwapengerjaan lahan didesa Nggela masih terbiasa dengan polakerjasama, sehingga banyak atau sedikittenaga kerja yang digunakan, atau banyakatau sedikit biaya tenaga kerja yangdikeluarkan tidak berpengaruh terhadapresiko produksi. Pada variabel lahan,benih, pupuk, dan pestisida menunjukkanpengaruh yang signifikan dan bertandanegatif, ini berarti setiap tambahan luaslahan, benih, pupuk dan pestisida akanmenurunkan resiko produksi padi ladang.

Lahan pertanian di desa Nggela masihcukup luas, hasil penelitian menunjukkanmasih cukup banyak lahan tidur, sehinggaperluasan lahan untuk usaha tani padiladang masih memungkinkan, dengandukungan tenaga kerja dan faktor-faktorproduksi lainnya. Untuk faktorproduksi pupuk menunjukkan penambahanpenggunaan pupuk dapat menurunkanresiko produksi, namun fakta dilapanganmenunjukkan bahwa petani di desa Nggeladalam penggunaan pupuk masih relatifrendah, baik untuk pupuk anorganikmaupun pupuk organik, hal ini disebabkankarena keterbatasan pengetahuan yang

17

Page 87: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

AGRICA, Vol. 11 No. 1 (2018)

18

dimiliki serta daya beli petani yang masihsangat rendah, untuk itu petani diharapkandalam penggunaan pupuk organik dapatmemanfaatkan sumber bahankomposantara lain berasal dari limbahorganik seperti sisa-sisatanaman (jerami,batang, dahan), kotoran ternak (sapi,kambing, ayam), sumber bahan kompos inirelatif lebih murah dan mudah didapat di

desa. Manfaat dari penggunaan pupukorganik bagi petani adalah meningkatnyaproduktivitas dari lahan pertanian, karenadengan meningkatnya kadar kandunganbahan organik dan unsur hara yang adadalam tanah, maka dengan sendirinya akanmemperbaiki sifat, kimia dan biologi tanahatau lahan pertanian.

Tabel 3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Resiko Produksi Padi Ladang.Variabel Koefisien Standar Error T-Hitung Probabilitas

Konstanta 6.141***) 0.301 13.212 0.000

Lahan -3.321***) 0.122 7.214 0.000

Benih -0.200***) 0.221 6.231 0.000

Pupuk -0.203*) 0.101 1.021 0.120

Pestisida - 0.101**) 0.213 2.281 0.010

TK 0.127 0.210 0.031 0.211

Dummy Musim

Tanam

0.033***) 0.110 5.441 0.005

R-Squared 0.412

Adjusted R-Squared 0.456

F-Statistik 4.291

Faktor produksi pestisida, hasilanalisis menunjukkan penambahanpenggunaan pestisida mampu menurunkanresiko produksi. Fakta dilapanganmenunjukkan bahwa penggunaan pestisidamasih relatif sangat rendah ditingkatpetani, hasil wawancara dengan beberapaorang petani memberi gambaran bahwa,jika petani membutuhkan pestisida makapetani harus ke kota membeli dengan biayayang relatif mahal karena harus ditambahbiaya transportasi.Sebagain besar petanimasih menggunakan pestisida kimiawi,penggunaan pestisida nabatai masih sangatterbatas jumlahnya. Dalam penggunaan

pestisida harus memperhatikan ambangbatas, agar tidak memberi dampak positifpada tanah maupun hasil produksi. Hasilpenelitian Ameriana (2008), tentangperilaku petani dalam menggunakanpestisidakimiawi dapat disimpulkan bahwa: (a) semakin tinggipersepsi petaniterhadap risiko maka semakintinggikuantitas pestisida kimia yangdigunakan, (b) semakinrendah ketahanansuatu varietas terhadap seranganOPT,semakin tinggi kuantitas pestisidakimia yang digunakanoleh petani dan (c)semakin rendah pengetahuan

Page 88: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Lanamana : Analisis Resiko Produksi Usaha Tani

19

petaniterhadap bahaya pestisida semakintinggi pestisida yangdigunakan

Hama yang sering menyerangtanaman padi ladang di desa Nggela adalahwalang sangit, tikus sawah, dan burung.Penyakit yang sering menyerang tanamanpadi adalah penyakit yang umumnyadisebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus.Hasil wawancara dengan PPL diperolehinformasi bahwa, pengendalian hama danpenyakit yang dilakukan selama ini yaitudengan menerapkan pengendalian hamadan penyakit secara terpadu.Pengendalianini dilakukan dengan penanamanserempak, melakukan pergilirantanaman,penyemprotan dengan pestisidayang efektif dan bijaksana, danpenggunaan varietas unggul yang tahanterhadap hama dan penyakit. Hasilwawancara dengan beberapa petanidiperoleh informasi, pelaksanaanpengendalian hama dan penyakit secaraterpadu belum dilakukan secara efektif, halini disebabkan karena setiap petanimemiliki pengetahuan dan keterampilanyang berbeda.

Untuk faktor produksi benih hasilanalisis menunjukkan bertambahnyapenggunaan benih mampu menurunkanresiko produksi, analisis ini sesuai denganfakta di lapangan bahwa usahatani padipada lahan kering kemungkinan gagaltanam cukup besar, sehingga penggunaanbenih yang cukup membantu menurunkanresiko produksi, disamping itu lahanpertanian yang masih luas memungkinkanpetani untuk melakukan ekstensifikasiusaha dengan memanfaatkan ketersediaanbenih yang ada.

SIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan resikoproduksi usahatani padi ladang pada

musim hujan lebih rendah jikadibandingkan pada musim kemarau, hal inidipengaruhi oleh kebutuhan air dalammenjalankan kegiatan usahatani. Padamusim kemarau lahan relatif kering danpecah sehingga petani kesulitan dalammenjalankan kegiatan usahatani. Faktor-faktor yang mempengaruh resiko produksipadi ladang meliputi, lahan, benih, pupukdan pestisida, pada faktor produksi tenagakerja tidak berpangaruh nyata, hal inidipengaruhi oleh pola kerjasama yangsudah membudaya pada masyarakat desaNggela.

DAFTAR PUSTAKAAmeriana, M. 2008. Perilaku Petani

Sayuran dalamMenggunakanPestisida Kimia. Jurnal Hortikultura18(1) : 95-106.

Ameriana. M., R. Sinung-Basuki., E.Suryaningsih dan W. Adiyoga.2000. Kepedulian Konsumenterhadap Sayuran Bebas ResiduPestisida. J. Hort .9(4):377-377.

Arifin. 2013. Resiko Produksi danPendapatan Kepemilikan LahanDaerah Sentra Produksi Padi diKabupaten Pinrang. Jurnal Vegeta 7(1) : 1-14.

Ghani, M.A. 2013. Dampak PerubahanIklim TerhadapHasil dan RisikoProduksi Padi di Indonesia.ThesisProgram Studi IlmuEkonomi. FakultasEkonomi.Universitas Indonesia.Jakarta. (Tidak dipublikasikan).

Ihsanudin. 2010. Resiko UsahataniTembakau di Kabupaten Magelang.Jurnal Embryo. 7 (1) : 21-28.

Kadarsan, H.W. 1995. Keuangan Pertaniandan Pembiayaan Perusahaan

Page 89: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

AGRICA, Vol. 11 No. 1 (2018)

20

Agribisnis. Cetakan Kedua.PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Lamusa A. 2010. Resiko Usahatani PadiSawah Rumah Tangga Di DaerahImpenso Provinsi Sulawesi Tengah.Jurnal Agroland. 17(3):226-232

Lanamana Willybrordus. 2016. EfisiensiUsahatani Padi Ladang dan UsahaKonservasi Pada Tanah Hak Ulayatdi Desa Mausambi KecamatanMaukaro Kabupaten Ende. LaporanHasil Penelitian. PerpustakaanUniversitas Flores Ende.

Roumasset, J.A. Baussard, J.A. and SinghI. 2000. Risk. Uncertainty AndAgriculture Development Searcaand ADC

Saptana, A. Daryanto., H.K. Daryanto danKuntjoro. 2010.Strategi ManajemenRisiko Petani Cabai MerahPadaLahan Sawah Dataran Rendahdi Jawa Tengah. JurnalManajemendan Agribisnis 7 (2) : 115-131.

Semaoen. I. 2000. Ekonomi ProduksiPertanian Teori dan Aplikasi. IkatanSarjana Ekonomi Indonesia Jakarta

Suryana A., S. Mardianto, K. Kariyasadan I.P. Wardhana.2009.Kedudukan Padi DalamPerekonomian Indonesia dalamPadi,Inovasi TeknologidanKetahanan Pangan.Buku1.BalaiBesar Penelitian TanamanPadi.Badan Penelitian danPengembanganPertanian.Jakarta.Hal 7- 31.

Suharyanto, Rinaldy, Arya. 2015. AnalisisResiko Produksi Usahatani PadiSawah di Bali. Journal ofAgribusiness and RuralDevelopmnet Research. UniversitasMuhamadiyah Yogyakarta

Soedjana, T.D. 2007. Sistem UsahataniTerintegrasi Tanaman Ternak

Sebagai Respons etani TerhadapFaktor Risiko. Jurnal LitbangPertanian 26 (2) : 82-87.

Page 90: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFISIENSI TEKNIS RELATIF DAN SIKAP PET ANI DALAM MENGHADAPI RESIKO PRODUKSI

PADA USAHATANI PADI SAWAH Dl LAHAN BERIRIGASI TEKNIS

Oleh:

Nizwar Syafa'at*)

Abstract

The study is based on an indication that different farm productivity among farmers in the same agro-ecosystem is caused by different farmers' ability to adopt technology of nee production. Technology adoption can be measured by technical production efficiency level and farmers' attitude in dealing with production risk in using anorganic ferilizer. The study will identify determinants of technical production efficiency level and farmers' attitude in dealing wi!h the use of that anorganic fertilizer. Those determinants consist of some economic, social and institutional factors. The study is a case study in WKPP Manyeti in Kabupaten Subang. The results of the study are as follows : (a} Educational level, and number of households members are not related to technical production efficiency level; (b) Off-farm income and employment level in off-farm activities are positively related to technical production efficiency level. Income from non-rice production activities and employment level in non-rice production activities are not related to technical production efficiency level; (c) Farmers with off-farm labor activities are risk preference and farmers in theis category are more secure in dealing with production failure; (d) technical production efficiency level for both owner operators and tenants are equal; (e) Owner operatore and tenants are risk preference in using anorganic fertilizers. Gadai farmers are risk averter.

PENDAHULUAN

Peningkatan produksi padi perlu terus dilakukan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional. Salah satu sumber peningkatan produksi padi adalah pe~ngkatan produktivitas pada tingkat teknologi yang ada (giving existing technology). Hal ini dimungkinkan karena masih dirasakan tingginya kesenjangan produktivitas antar petani walaupun sehamparan (Adjid, 1985).

Kesenjangan produktivitas berkaitan dengan adopsi teknologi dan adopsi teknologi direfleksikan oleh nilai efisiensi teknis dan sikap petani dalam menghadapi risiko produksi. Oleh karena itu nilai efisiensi teknis dan sikap petani dalam menghadapi risiko produksi dapat dijadikan indikator untuk menerangkan kesenjangan produktivitas antar petani.

Adopsi suatu teknologi oleh petani berkaitan erat dengan perilaku petani sebagai pengelola usahataninya. Perilaku petani sebagai pengelola usahataninya akan

*) Staf Peneliti, Pusat Penelitian Sosial Ekonomi P~rtanian, Bogor.

30

Page 91: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor external yang meliputi faktor sosial antara lain tingkat pendidikan, pengalaman bertani dan jumlah anggota keluarga; faktor ekonomi misalnya tingkat pendapatan; dan faktor kelembagaan misalnya status penguasaan laban. Dengan demikian faktor-faktor sosial, ekonomi dan kelembagaan tersebut di atas secara langsung maupun tidak langsung akan mem­pengaruhi efisiensi teknis dan sikap petani dalam menghadapi risiko produksi. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab hal-hal sebagai berikut : 1. Sejauh mana tingkat pendidikan, pengalaman bertani padi dan jumlah anggota

keluarga akan mempengaruhi efisiensi teknis? 2. Apakah ragam sumber pendapatan akan mempengaruhi sikap petani dalam

menghadapi risiko produksi? 3. Apakah status penguasaan laban akan mempengaruhi tingkat efisiensi teknis dan

sikap petani dalam menghadapi risiko produksi?.

KERANGKA PIKIRAN

Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, kita harus memandang tanaman (padi) sebagai "bio-industri". Interaksi faktor-faktor terse but secara sederhana diilustrasikan pada Gambar 1.

Masukan fisik

Kelembagaan sosial-ekonomi

Keluaran

Gambar 1. Interaksi secara sederhana faktor-faktor yang mempengaruhi produksi.

31

Page 92: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Dua peran penting petani berdasarkan Gam bar 1; Pertama, petani sebagai pengambil keputusan atas kuantitas dan kualitas masukan fisik yang akan diper­gunakan untuk proses produksi; dan kedua, petani sebagai manager/pengelola masukan fisik untuk menjadi keluaran melalui tanaman sebagai industri. Peran pertama berkaitan dengan teori keputusan yang berarti menyangkut sikap petani terhadap risiko, sedangkan peran kedua berkaitan dengan teori efisiensi teknis.

Petani sebagai makhluk individu dalam menjalankan kedua peran tersebut akan dipengaruhi oleh faktor dari dalam (keadaan diri petani) dan dari luar (keadaan lingkungan petani). Faktor dari dalam diri petani, seperti tingkat pendidikan dan pengalaman bertani padi akan mempengaruhi efisiensi teknis. Perbedaan kedua peubah antar petani menyebabkan perbedaan proses belajar. Petani yang mem­punyai lebih banyak pengalaman dibanding dengan petani lainnya akan lebih mudah mengetahui kegunaan teknologi baru yang diperkenalkan, sehingga mereka lebih rimdah terdorong untuk menguasai dan menerapkan teknologi tersebut.

Faktor dari dalam diri petani lainnya yang diduga mempengaruhi efisiensi teknis adalah jumlah anggota keluarga. Menurut Wharton (1966) suatu usaha tani skala kecil dengan ciri-ciri pendapatan sangat rendah dan ukuran keluarga yang relatif besar serta elastisitas pendapatan atas permintaan pangan pokok adalah relatif tinggi, umumnya petaninya dalam berusahatani sering memproduksi tanaman pangan untuk mencukupi kebutuhan sendiri (self sufficiency). Ini dapat ditafsirkan bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga maka semakin besar upaya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dalam hal ini kecukupan akan beras, sehingga petani dengan luasan laban yang tetap dan sempit dengan jumlah anggota keluarga yang besar akan lebih mudah terdorong untuk menguasai dan menerapkan teknologi yang dapat meningkatkan produksi beras.

Ragam sumber pendapatan diduga akan mempengaruhi keputusan petani dalam mengusahakan usahataninya, yang berarti akan mempengaruhi sikap petani dalam menghadapi risiko produksi usahatani. Makin tinggi harapan tingkat pendapatan, makin gemar petani terhadap risiko, sehingga petani yang pendapatan­nya berasal dari dua sumber yaitu pertanian dan luar pertanian akan bersikap sebagai penggemar risiko, sedangkan petani yang sumber pendapatannya hanya berasal dari pertanian akan bersikap sebagai penghindar risiko.

Desakan akan kebutuhan hidup petani padi akan mendorong upaya untuk mencari tambahan pendapatan. Kalau kebetulan di wilayahnya ada kegiatan usaha­tani luar padi dan atau luar pertanian yang dapat mendatangkan pendapatan tambahan, maka keadaan tersebut akan mendorong petani padi untuk bekerja di usahatani luar padi dan atau luar pertanian. Keadaan tersebut tentunya akan menyebabkan curahan jam kerja dan perhatian terhadap usahatani padi akan ber­kurang yang pada gilirannya akan mengurangi kualitas dan kuantitas pengelolaan

32

Page 93: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

usabatani, sehingga pada akhirnya akan berpengaruh negatip pada efisiensi teknis produksi.

Hasil penelitian Alfred Marshall dalam Herdt dan W ckhan (1978) menunjuk­kan babwa petani penyakap yang menanggung semua masukan yang dibeli kurang intensif dalam berusabatani dibanding dengan petani pemilik dan penyewa. Alasan­nya adalab karena produksi yang dihasilkan tidak: semua menjadi milik penyakap melainkan sebagian harus diserabkan kepada pemilik laban (sebagai sewa laban) sesuai dengan sistim bagi hasilnya. Dengan demikian petani penyak:ap kurang terdo­rong untuk menguasai dan menerapkan teknologi secara sempurna.

Berbeda dengan petani penyakap, petani yang melakukan usabataninya di laban gadai (petani gadai) diduga akan berperilaku sama dengan petani pemilik dan penyewa. Hal ini karena ketiga bentuk penguasaan laban tersebut mempunyai penguasaan terhadap keluaran dan masukan yang sama. Namun karena masyarakat pedesaan belum begitu tanggap atas nilai opportunity dari harta atau uang dan mereka menilai harta atau uang dari segi nominal atau disebut money illusion, maka mereka tidak terlalu merasa rugi (gain loss) seandainya usabataninya mengalami kegagalan. Mereka menganggap harta atau uang yang telab diberikan kepada pemilik tanab akan kembali secara utuh. Keadaan tersebut mendorong mereka kurang intensif dalam pengelolaan usahataninya. Akibatnya mereka kurang terdorong untuk menguasai dan menerapkan teknologi. Dengan demikian dorongan untuk menguasai dan menerapkan teknologi lebih besar pada petani pemilik dan penyewa dibanding petani yang melakukan usabataninya di tanab gadai (petani gadai). Keadaan ini akan menyebabkan perbedaan efisiensi teknis dan sikap petani dalam menghadapi risiko.

Dalam penelitian ini, sikap petani dalam menghadapi risiko dilihat dari segi penggunaan pupuk anorganik. Adapun alasannya karena pupuk memberikan kontribusi tertinggi terhadap kesenjangan produksi (Sri Widodo, 1979). Begitu juga dengan basil penelitian di negara berkembang seperti Bangladesh yang menunjukkan hal yang sama (Houque, dkk., 1978).

Bertitik tolak dari kerangka pikiran di atas, maka diajukan beberapa hipotesis berikut : 1. Tingkat pendidikan dan pengalaman bertani padi dan jumlah anggota keluarga

berhubungan positip dengan efisiensi teknis. 2. Pendapatan luar pertanian, curaban tenaga kerja luar pertanian, pendapatan

usabatani luar padi dan curaban tenaga kerja usahatani luar padi berpengaruh negatip terhadap efisiensi teknis.

3. Petani yang sumber pendapatannya berasal dari pertanian dan luar pertanian akan bersikap sebagai penggemar risiko produksi dalam penggunaan pupuk an­organik. Sedangkan petani yang sumber pendapatannya hanya dari pertanian akan bersikap sebagai penghindar risiko produksi.

33

Page 94: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

4. Petani pemilik dan penyewa mempunyai efisiensi teknis yang sama tetapi kedua­duanya lebih besar dibanding · petani gadai.

5. Petani pemilik dan penyewa bersikap sebagai penggemar risiko produksi dalam penggunaan pupuk. Sedangkan petani gadai bersikap sebagai penghindar risil,co produksi.

METODE PENELITIAN

Pengukuran EriSiensi Teknis

Pengukuran efisiensi teknis di dalam penelitian ini menggunakan fungsi produksi frontir yang diduga dengan perencanaan Linear (Timmer, 1971).

Fungsi produksi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah fungsi produksi Cobb-Douglas. Fungsi ini dalam logaritme dapat ditulis sebagai berikut:

n

ln Yi = A0 + i ~ 1

Bj ln Xji + Ei ........................................... (1)

dimana: Y· 1 X· 1

x2 x3 x4 Xs

x6 Ao B· J E· 1

= = = = =

keluaran luas garapan (ha) pupuk anorganik (kg) pupuk kandang (kg) pestisida (Rp) jumlah tenaga kerja manusia sampai sebelum panen (pre harvested) (jam kerja) bibit (kg)

intersep koefisien parameter error

Jika fungsi produksi pada persamaan (1) dimasukkan ke dalam persoalan linear, akan diperoleh:

34

k

Minimumkan n x A0 + }; j=1

n n

}; B1· ln X

1·i - 1; Yj ............ (2)

i=1 i=1

Page 95: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

k dengan kendala : Ao + 1: B1· In XJ·i > = Yi ............................ (3)

j=l

Xij > = 0 ............................. (4)

Jawaban ·dari persoalan tersebut adalah memberikan dugaan terhadap A0 dan Bj.

Pengukuran Sikap Petani Terhadap Risiko Produksi

Pendekatan yang dipergunakan untuk menentukan sikap petani terhadap risiko adalah Maksimisasi Kepuasan Harapan (Expected Utility M.aximizasion). Misalkan kepuasan (U) merupakan fungsi dari keuntungan (K). Secara matematika dapat dituliskan sebagai berikut:

U = u(Kj) .. .. • . .. . . . . . . .. . . . . .. .. .. .. .. . .. .. . .. .. . . . .. . .. .. . .. .. . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . (5)

U = E ( u(Kj) ) ....................................................................... (6)

Dengan mengambil ekpektasi suatu ekpansi deret Taylor untuk fungsi kepuasan, maka fungsi tujuanpada persamaan (5) merupakan fungsi dari momen­momen distribusi keuntungan. Dengan demikian dapat ditulis sebagai berikut :

U = f [E(K), V(K), S(K)] .......................................................... (7)

dimana E(K), V(K) dan S(K) berturut-turut menunjukkan nilai tengah (mean), ragam (variance) dan kemencengan (skewness) keuntungan (profit). Untuk kebanyakan masalah pengambilan keputusan, penaksiran fungsi kepuasan hanya mempertim­bangkan nilai tengah dan ragam keuntungan. Dengan demikian :

U = f [E(K), V(K)] .................................................................. (8)

dimana: E(K)

V(K)

nilai tengah keuntungan yang secara statistik sama dengan nilai keuntungan harapan ragam keuntungan yang merupakan ukuran tingkat risiko.

Seandainya dalam proses produksi hanya digunakan satu "decision variable" misalnya X 1, maka keuntungannya (K) dapat ditulis sebagai berikut :

K = Hy· Y - HxX 1 - F .......................................................... (9)

35

Page 96: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

dan persamaan (5) dapat ditulis sebagai berikut :

+

u =I U(K) f (K/X1) d(K) ..................................................... (10)

Pada persamaan (8) U = f [E(K), V(K)], maka untuk memaksimumkan U perlu ditetapkan kondisi derajat pertama sebagai berikut :

dU/dX1 = [DU/dE(K).dE(K)/dx1] + [dU/dV(K).dV(K)/dX1] = 0 ........ (11)

dE(K)/dX1 + {[dU/dV(K)]/[dU/dE(K)]}.dv(K)/dX1 = 0 ..................... (12)

dE(K)/dX1 + (-R)dV(K)/dX1 = 0 ................................................ (13)

R adalah koefisien risiko, jika R :> = < 0 masing-masing menunjukkan bahwa individu sebagai Penghindar. Netral dan Penggemar Risiko (Tobin, 1958-b) dalam Just dan Pope (1979).

Dari persamaan (8) dapat dihitung E(K) dan V(K) sebagai berikut:

E(K) = E(Hy).E(Y) - HxX - F .............................................. (14)

dE(K)/dX1).dE(Y)/dX1 - Hx ·················;· .. ····························· (15)

V(K) = [E(Hy)]2 V(Y) + [E(Y)]2V(Hy) + V(Y). V(Hy) ..................... (16)

dV(K)/dX1 = {[E(Hy)J2+ V(Hy)}dV(Y)/dX1 +

{2V(Hy)E(Y).dE(Y)/dXt} .................................... (17)

Substitusikan persamaan (15) dan (17) ke dalam persamaan (13) menjadi :

E(Hy).dE(Y)/dX1 = Hx+R{[E(Hy)]2+V(Hy)}.dV(Y)/dX1 +

[2V(Hy).E(Y).dE(Y)/dX1]} .......................... (18)

Penelitian ini mengasumsikan adanya kepastian harga keluaran (Hy)· Karena dalam usahatani padi, harga keh.iaran (Hy) telah ada jaminan melalui penetapan harga dasar, sehingga harga keluaran paling tidak sudah berada dalam kepastian. Kepastian harga keluaran menyebabkan E(Hy) = Hy dan V(Hy) = 0, dan per­samaan (18) menjadi :

Hy.dE(Y)/dX1 = Hx+R[Hl.dV(Y)/dX1] ................................. (19)

E(NPMx) = Hx + R I ...................................................... ..

36

Page 97: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

dimana: E(NPMx) = nilai harapan merjinal keluaran X 1 Hx = harga X1 R = koefisien risiko I sumbangan marjinal risiko setiap tambahan X 1

Fungsi produksi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah fungsi pro­duksi Cobb-Douglas sebagai berikut :

Y = A0 XtA ee ...................................................................... (21)

V(Y) = [A0 XtAJ2 . V(ee) ........................................................ (22)

dV(Y)/dXt = [2At . V(Y)]/Xt ................................................. (23)

Y = A0 XtA ee ...................................................................... (24)

dE(Y)IdXt = [At . E(Y)]/Xt .................................................. (25)

Substitusikan persamaan (23) dan (25) ke dalam persamaan (19) menjadi :

[HyAtE(Y)]/Xl = Ht + [R 2At HiV(Y)JIXt ............................. (26)

Dari persamaan (26), permintaan untuk masukan "decision variable Xj'' sebagai berikut :

Xt = [HyAtE(Y)]/Hx - R[2AtHiV(Y)]/Hx + u ..................... (27)

Persamaan (27) dapat disederhanakan nienjadi :

Xij = Zoj + ZtjBtj + Z2jB2j + U tj ...................................... (28)

dimana:

Xtj Btj = B2j Z2j V(Y)= E(Y)=

permintaan masukan X 1 untuk petani ke-j {[HyAtE(Y)]Hx} {[2AtHiV(Y)]/Hx} R = koefisien risiko varians keluaran Yj = keluaran petani ke-j.

37

Page 98: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Lokasi dan Penarikan Contob

Penelitian ini dilakukan di WKPP Manyeti, kabupaten Subang. Pemilihan Iokasi ini dilakukan secara purposive dengan pertimbangan lokasi tersebut: (a) letak­nya berdekatan dengan jalan raya dan mobilitas penduduk yang bekerja di luar pertanian tinggi dan (b) adanya variasi status pemilikan tanah. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni-Agustus 1989.

Metode penarikan contoh yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah stratified random sampling secara proporsional.

Adapun prosedur penentuan rumah tangga tani contoh dilakukan sebagai berikut: (a) Masing-masing kelompok tani di WKPP Manyeti dikelompokkan ke dalam

kelompok tani berpengairan teknis dan berpengairan non teknis. Lalu dipilih kelompok tani yang berpengairan teknis.

(b) Dari masing-masing kelompok tani berpengairan teknis, dipilih tiga kelompok tani dengan persentase anggotanya yang bekerja di luar pertanian dan pertanian tertinggi dan terendah serta yang mendekati rata-rata.

(c) Anggota masing-masing kelompok tersebut dikelompokkan lagi ke dalam pe­tani pemilik, penyewa dan gadai.

(d) Dari masing-masing sel ditarik contoh secara proporsional sebanyak 90 rumah tangga tani.

EFISIENSI TEKNIS DAN RISIKO PRODUKSI

Data pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa rataan efisiensi teknis petani di lokasi penelitian relatif tinggi (80 persen) dan koefisien risiko produksi dalam peng­gunaan pupuk anorganik bertanda negatip (-7,30437E-8) yang berarti bahwa pada

Tabel 1. Rataan dan koeflsien variasi eflsiensi teknis serta koeflsien risiko produksi dalam penggunaan pupuk anorganik pada usahatani padi di lokasi penelitian, 1989.

Uraian

Eflsiensi teknis

Koeflsien variasi efisiensi teknis (persen)

Koeflsien risiko

P = value adalah peluang menolak H0 yang benar.

38

Nilai

0,80584

14,33100

-7 ,30437E-8 (se = 3,53948E-8) (P-Value = 0,04)

Page 99: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

umumnya petani di lokasi penelitian bersikap sebagai penggemar risiko produksi. Ini memberikan indikasi bahwa penerapan teknologi padi di lokasi penelitian pada rata-ratanya relatif sudah sempuma. Fakta ini juga menunjukkan kekonsistenan antara sikap petani dalam menghadapi risiko produksi dengan efisiensi teknis produksi, yaitu semakin gemar petani menghadapi risiko produksi semakin tinggi efisiensi teknisnya.

Hubungan Tingkat· Pendidikan, Pengalaman Bertani Padi dan Jumlah Anggota Keluarga Dengan Efisiensi Teknis

Tingkat pendidikan, pengalaman bertani padi dan jumlah anggota keluarga tidak berhubungan positip dengan efiSiensi teknis pada tingkat p-value = 0,05 seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 2. Dengan demikian hipotesis penelitian yang menyatakan ada hubungan positip antara ketiga parameter tersebut dengan efisiensi teknis tidak mendapat dukungan data empiris penelitian ini.

Tingkat pendidikan tidak be~hubungan positip dengan efisiensi teknis pada p-value = 0,05, hal ini berkaitan dengan pekerjaan di pertanian yang tidak banyak membutuhkan intelegensi yang tinggi seperti halnya pada pekerjaan luar pertanian, sehingga pekerjaan di pertanian tidak membutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi. Akibatnya variasi tingkat pendidikan antara petani tidak mempunyai hubungan dengan efisiensi teknis. Namun demikian tanda parameter tersebut adalah pisitif yang berarti hubungan tersebut cenderung positif. Kecenderungan ini, berarti bahwa petani yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi akan lebih mudah menge­tahui kegunaan teknologi yang diperkenalkan dibanding petani yang tingkat pen­didikannya lebih rendah. Sehingga mereka yang tingkat pendidikannya lebih tinggi, lebih mudah terdorong untuk menguasai dan menerapkan teknologi yang pada gilirannya akan meningkatkan efisiensi teknis.

Tabel 2. Koefisien korelasi Spearman antara efisiensi teknis dengan tingkat pendidikan, pengalaman bertani padi, dan jumlah anggota keluarga, 1989.

Paramet"C:r

Tingkat pendidikan

Pengalaman bertani padi

Jumlah anggota keluarga

Koefisien korelasi

0,16923

-0,01109

0,00383

Prob-va/ue adalah peluang menolak H0 yang benar.

Prob-value

0,11

0,92

0,97

39

Page 100: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Pengalaman bertani padi tidak berhubungan positip dengan efisiensi teknis pada p-value = 0,05. Hasil penelitian ini tidak mendukung hipotesis, dan basil ini sesuai dengan basil penelitian yang dilakukan Siregar (1987). Adapun penjelasan­nya sebagai berikut. Usahatani padi merupakan usahatani tanaman semusim yang dapat dilakukan paling sedikit setahun sekali, sehingga petani dengan pengalaman sedikit di desa ini mempunyai peluang besar untuk dapat menyesuaikan dengan cara-cara bertani yang dilakukan oleh petani yang sudah berpengalaman. Disamping itu, petani kita pada umumnya adalah petani turun-temurun, sehingga sejak kecil petani itu sebenarnya sudah belajar secara praktek bersama orang tuanya, sehingga begitu mereka mandiri, mereka sebenarnya sudah mempunyai pengalaman cukup banyak dalam berusahatani. Karena dalam penelitian ini pengalaman bertani padi diukur dari pengalaman sejak mereka mulai berusahatani secara mandiri, maka variasi pengalaman bertani padi antar petani tidak mempunyai hubungan dengan efisiensi teknis produksi padi.

Parameter untuk pengalaman bertani padi bertanda negatif (Tabel 2) yang berarti hubungan tersebut cenderung negatif, hal ini ada kaitannya dengan anggapan bahwa semakin lama pengalaman individu dalam sesuatu hal (berusahatani padi), maka orang tersebut cenderung untuk mempertahankan kebiasaannya, sehingga mereka yang pengalaman bertani padi lebih lama, mereka cenderung kurang begitu responsif pada hal-hal yang baru.

Jumlah anggota rumah tangga tidak berhubungan positip dengan efisiensi teknis pada p-value = 0,05. Hipotesisnya, suatu rumah tangga dengan jumlah anggota keluarga yang relatif besar haruslah lebih banyak berkepentingan dengan usahatani padi untuk mencukupi kebutuhan pangannya (padi). Namun data empiris penelitian ini tidak menunjukkan demikian. Ini dapat diterangkan sebagai berikut. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kecukupan padi tidak hanya dapat dipenuhi dari usahataninya, tetapi juga dapat dipenuhi melalui ceblokan. Ceblokan ini sudah demikian berkembang di lokasi penelitian, sehingga bagi rumah tangga dengan jumlah anggota keluarga yang relatif besar tidak terlalu kuatir untuk tidak terpenuhinya kecukupan pangannya (padi) sekalipun usahatani padinya mengalami kegagalan. Akibatnya variasi jumlah anggota keluarga tidak mempunyai hubungan dengan efisiensi teknis produksi padi.

Parameter jumlah anggota keluarga bertanda positip (Tabel 2) yang berarti hubungan tersebut cenderung positip, yang menunjukkan bahwa semakin besar anggota keluarga, semakin tinggi upaya untuk meningkatkan produktivitas usahatani padinya.

40

Page 101: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDAPATAN DAN CURAHAN TENAGA KERJA PADA USAHA LUAR PERTANIAN USAHATANI

LUAR PADI DENGAN EFISIENSI TEKNIS

Berdasarkan uji korelasi Spearman (Tabel 3) tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja pada kegiatan luar pertanian berhubungan positip dengan efisiensi tek­nis pada tingkat (p-value = 0,05). Sedangkan tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja pada kegiatan usahatani luar padi tidak menunjukkan hubungan dengan efisiensi teknis. Hasil uji hipotesis ini tidak mendukung hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa keempat parameter tersebut berhubungan negatif dengan efisiensi teknis. Adapun penjelasannya sebagai berikut: Petani yang mempunyai pendapatan dari usaha luar pertanian dalam penelitian ini berarti petani tersebut mempunyai dua sumber pendapatan yaitu pertanian dan luar pertanian, karena da­lam penelitian ini yang dijadikan responden adalah petani. Berdasarkan data pada Tabel4, petani yang sumber pendapatannya berasal dari pertanian dan luar pertanian

Tabel 3. Koefisien korelasi Spearman antara efisiensi teknis dengan pendapatan luar pertanian, curahan tenaga kerja luar pertanian, pendapatan claJ:i usahatani luar padi dan curahan tenaga kerja di usahatani luar padi, 1989.

Parameter

Pendapatan luar pertanian

Curahan tenaga kerja diluar pertanian

Pendapatan usahatani luar padi

Curahan tenaga kerja di usahatani luar padi

Prob-va/ue adalah peluang menolak H0 yang benar.

Nilai r

0,24769

0,30641

0,05195

0,05761

P-value

0,018

0,003

0,627

0,590

mempunyai koefisien risiko yang bertanda negatif yang berarti mereka sebagai penggemar risiko produksi dalam penggunaan pupuk. Sedangkan petani yang sumber pendapatannya dari pertanian saja mempunyai koefisien risiko bertanda positip yang berarti mereka sebagai penghindar risiko produksi dalam penggunaan pupuk. Dalam kerangka pikiran disebutkan bahwa individu yang menggemari risiko relatif lebih terdorong untuk menguasai dan menerapkan teknologi dibanding individu yang bersikap sebagai penggemar risiko. Konsekuensinya petani yang ber­sikap sebagai penggemar risiko akan lebih efisien dibanding petani yang bersikap sebagai penghindar risiko. Oleh karena itu pendapatan yang berasal dari luar pertanian hubungannya positip dengan efisiensi teknis.

41

Page 102: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Berdasarkan uraian di atas seharusnya, pendapatan dari luar padi mempunyai hubungan negatif dengan efisiensi teknis karena pendapatan dari luar padi masih termasuk pendapatan yang berasal dari pertanian, namun kenyataannya hubungan tersebut tidak nyata dan tidak negatif, hal ini menunjukkan bahwa pendapatan usahatani luar padi tersebut tidak mendorong dan tidak pula mengurangi petani untuk menguasai dan menerapkan teknologi yang ada padanya. Dengan kata lain tingkat pendapatan usahatani luar padi tidak mempunyai pengaruh (magnitude) terhadap adopsi teknologi.

Hubungan yang positif dan nyata antara curahan tenaga kerja pada usaha luar pertanian dengan efisiensi teknis disebabkan karena semakin banyak curahan tenaga kerja di luar pertanian, maka pendapatan rumah tangga semakin tinggi. Dengan demikian tingginya pendapatan rumah tangga maka semakin besar modal petani untuk usahataninya. Modal yang besar memberikan peluang lebih besar untuk menerapkan teknologi.

Hubungan yang tidak negatif dan tidak nyata antara curahan tenaga kerja pada usahatani luar padi dengan efisiensi teknis disebabkan karena tenaga kerja yang tersedia dalam rumah tangga berlebih sehingga curahan tenaga kerja pada usahatani luar padi tidak sampai mengurangi intensitas pengelolaan usahatani padi, namun tingkat pendapatan usahatani luar padi belum mampu memberikan sum­bangan modal yang cukup memadai untuk menerapkan teknologi yang lebih sempuma dari yang sudah diterapkan, sehingga walaupun tenaga kerja cukup tersedia untuk penerapan teknologi tetapi kualitas teknologi belum sempurna. Dengan demikian curahan tenaga kerja pada usahatani luar padi belum mampu memberikan pengaruh (magnitude) secara nyata terhadap efisiensi teknis.

Uraian di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa upaya untuk meningkatkan efisiensi teknis produksi padi dapat ditempuh melalui upaya pening­katan pendapatan petani secara nyata. Peningkatan pendapatan petani secara nyata dapat ditempuh melalui pengembangan sumber pendapatan di luar pertanian. Dengan cara ini, selain pendapatan meningkat, kestabilan pendapatan lebih ter­jamin karena cara ini dapat mengkonpensasi penurunan pendapatan dari pertanian jika harga komoditas pertanian menurun.

Kegiatan usaha di luar pertanian padi kenyataannya belum mengganggu intensitas pengelolaan usahatani padi, namun mengingat perkembangan kegiatan di luar pertanian semakin pesat untuk masa yang akan datang sebagai akibat ber­kembangnya industri pedesaan, dan untuk menjaga agar intensitas pengelolaan usahatani padi tetap intensif, maka diperlukan pengalokasian tenaga kerja secara baik antara kegiatan usahatani padi dengan kegiatan luar pertanian. Barangkali pada masa sibuk pada kegiatan usahatani padi (misalnya pada masa pengelolaan tanah dan tanam), petani dapat mengurangi intensitas kegiatan di luar pertanian.

42

Page 103: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

HUBUNGAN ANTARA RAGAM SUMBER PENDAPATAN DENGAN RISIKO PRODUKSI

Uji atas koefisien risiko produksi dalam penggunaan pupuk anorganik (Tabel 4) menunjukkan bahwa petani yang sumber pendapatannya berasal dari pertanian dan luar pertanian bersikap sebagai penggemar risiko produksi dalam penggunaan pupuk anorganik, sedangkan petani yang sumber pendapatannya hanya dari pertanian bersikap sebagai penghindar risiko produksi pada tingkatp-value = 0,05. Hasil uji ini merupakan hal yang logis, bahwasanya bagi invidiu yang mempunyai dua sumber pendapatan (pertanian dan luar pertanian) akan bersikap sebagai penggemar risiko dibanding individu yang hanya mempunyai satu sumber pen­dapatan (pertanian saja) karena mereka beranggapan bahwa seandainya usahatani­nya mengalami kegagalan, mereka masih mungkin untuk membiayai kebutuhan hidupnya dari pendapatan luar pertanian.

Tabel 4. Koefisien risiko produksi dalam penggunaan pupuk anorganik berdasarkan ragam sumber pendapatan, 1989.

Ragam sumber Koefisien Stan dar Prob-pekerjaan risiko error value

Bekerja di pertanian -6,75195E-8 3,35066E-8 0,05 dan luar pertanian

Bekerja di pertanian + 2,35088E-7 8,03331E-6 0,05 termasuk buruh di pertanian

Prob-value adalah peluang menolak H0 yang benar.

Petani yang sumber pendapatannya dari pertanian dan luar pertanian ber­sikap sebagai penggemar risiko produksi menggunakan pupuk anorganik relatif lebih banyak dibanding petani yang sumber pendapatannya hanya dari pertanian saja yang bersikap sebagai penghindar risiko (Tabel5). Kenyataan ini sesuai dengan hasil penelitian yang ditulis Roumasset (1979) yang menunjukkan bahwa petani penghindar risiko akan menggunakan masukan lebih sedikit dibanding petani yang netral terhadap risiko

Hal mendasar yang dapat disimpulkan dari fakta di atas adalah bahwa diversifikasi pendapatan petani mendorong petani bersikap sebagai penggemar risiko. Keadaan tersebut mendorong mereka lebih adoptif terhadap teknologi se­hingga efisiensi teknis produksi padi dapat meningkat. Kenyataan ini sesuai dengan pemikiran Kasryno (1988) bahwa upaya swasembada dapat ditempuh melalui peng~mbangan diversifikasi dalam arti luas yang tidak hanya menyangkut pola usahatani, tetapi juga sebagai upaya peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan.

43

Page 104: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Tabel 5. Rataan penggunaan masukan dan keluaran per hektar usahatani padi sawah MH 1989 berdasarkan ragam sumber pendapatan.

Ragam sumber pendapatan Masukanl keluaran Luar pertanian Pertanian Gabungan

dan pertanian

Luas lahan (ha) 0,484 0,446 0,462 Benih (kg) 30,912 33,004 32,120 Pupuk anorganik (kg) 573,053 568,949 570,682

Urea (kg) 266,051 265,201 265,560 TSP (kg) 125,879 130,379 128,479 KCI (kg) 61,757 47,358 53,438 ZA (kg) 119,366 126,010 123,205

Pupuk organik (kg) 624,299 533,432 583,354 Pestisida (Rp) 6082,460 6279,876 6196,572 Tenaga kerja manusia 866,937 854,432 860,031

(jam kerja) Produksi (kg) 4210,246 3982,918 4078,901 Harga gabah (Rp/kg) 194,605 199,519 197,444 n 38 52 90

HUBUNGAN ANTARA STATUS PENGUASAAN LAHAN DENGAN EFISIENSI TEKNIS DAN RISIKO PRODUKSI

Uji hipotesis atas rataan efisiensi teknis antara petani pemilik, penyewa dan petani gadai (Tabel 6) menunjukkan bahwa petani pemilik mempunyai rataan efisiensi teknis yang sama dengan petani penyewa tetapi lebih rendah daripada pe­tani gadai. Hasil uji ini mendukung hipotesis penelitian ini.

Tabel 6. Hasil uji Duncan atas rataan eflsiensi berdasarkan status penguasaan lahan eli lokasi penelitian, 1989.

Status penguasaan Rataan N Keterangan

lahan eflsiensi

Milik 0,81463 66A Rataan eflsiensi yang diikuti hu-

Sewa 0,81750 18 A ruf yang sama · tidak berbeda

Gadai 0,71000 8b dengan Prob-value 0,05

Gabungan 0,80584

Catatan: Hasil analisis varians (F-test) atas hipotesis H0 : R-milik = R -sewa = R-gadai ditolak dengan prob-value 0.047; R = rataan eflsiensi

44

Page 105: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Efisiensi teknis petani gadai yang relatif rendah dibanding petani pemilik dan penyewa berkaitan dengan pandangan mereka terhadap nilai kekayaan/hartanya. Pada umumnya masyarakat tradisional memandang nilai kekayaan/hartanya dari segi nominalnya (money illusion), dengan kata lain, mereka kurang begitu tanggap terhadap nilai opportunity dari kekayaan/hartanya. Dalam kasus petani gadai, mereka beranggapan tidak terlalu merugi seandainya usahatani kurang berhasil karena uang atau harta mereka yang dibayar kepada pemilik tanah akan kembali secara utuh. Mereka cukup puas dengan kembalinya harta atau uang secara utuh. Kepuasan dengan cara seperti itulah yang menyebabkan mereka kurang begitu ber­kepentingan dengan keberhasilan usahataninya. Berbeda dengan petani pemilik atau penyewa, mereka sangat berkepentingan dengan keberhasilan usahataninya. Misal­nya, kalau seorang penyewa mengalami kegagalan dalam usahataninya, kerugiannya benar-benar dirasakan dengan tidak kembalinya biaya sewa, sehingga dengan kondisi seperti ini mereka benar-benar dirangsang untuk berupaya agar usahata:ni berhasil. Sarna halnya dengan petani pemilik, kegagalan usahataninya merupakan pukulan bagi mereka, karena umumnya mereka sangat bergantung pada basil usahataninya. Dengan uraian tersebut, rangsangan keberhasilan usahatani untuk petani gadai lebih rendah dibanding petani pemilik dan penyewa, sehingga efisiensi petani gadai lebih rendah dibanding petani pemilik dan penyewa.

Uji hipotesis atas koefisien risiko produksi (Tabel 7) menunjukkan bahwa petani pemilik dan penyewa mempunyai koefisien risiko negatip yang berarti Iij.ereka bersikap sebagai penggemar risiko produksi dalam penggunaan pupuk anorganik. Sedangkan petani gadai mempunyai koefisien risiko positip yang berarti ia ber­sikap sebagai penghindar risiko. Hasil uji ini mendukung hipotesis penelitian. Hal ini karena penguasaan lahan oleh petani pemilik dan penyewa lebih pasti, sehingga mereka berani mengambil risiko produksi, sedangkan penguasaan lahan oleh petani gadai begitu lemah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh pemiliknya, sehingga mereka tidak mau mengambil risiko produksi.

Tabel 7. Koefisien risiko produksi dalam penggunaan pupuk anorganik berdasarkan status penguasa­an di lokasi penelitian, 1989.

Status penguasaan Koefisien Standar Prob-laban risiko error value

Milik - 5,11700E-8 2,69027E-8 0,06 Sewa - 2,22377E-6 3,33400E-6 0,06 Gadai + 3,16161E-7 4,26075E-7 0,06 Gabungan - 7 ,30437E-8 3,53948E-8 0,04

Prob-va/ue adalah risiko menolak H0 yang benar.

45

Page 106: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Tabel 8 menunjukkan bahwa penggunaan pupuk oleh petani gadai relatif lebih tinggi dibanding petani penyewa tetapi masih lebih rendah dibanding petani pemilik. Perbandingan jumlah pupuk anorganik yang digunakan petani gadai dengan pe­tani penyewa menyimpang dari teori risiko yang menyatakan bahwa petani yang bersikap sebagai penggemar risiko dalam penggunaan masukan tertentu akan meng­gunakan masukan tersebut lebih. besar dibanding petani yang bersikap sebagai penghindar risiko. Adapun penjelasannya sebagai berikut. Bagi petani gadai menghindari risiko tidak dengan mengurangi penggunaan input pupuk, tetapi mereka mempertahankan kebiasaannya. Sedangkan bagi petani penyewa, mereka menggemari risiko tidak dengan menambah dosis penggunaan pupuk, tetapi bagi mereka lebih melihat dari segi efisiensi teknis.

Kekecualian seperti itu juga dilaporkan oleh Manurung ( 1988) dari basil analisis sikap petani yang berlahan sempit dengan berlahan luas terhadap risiko produksi dalam penggunaan pupuk, dimana petani berlahan sempit sebagai penghindar risiko temyata mempergunakan pupuk lebih banyak dibanding petani berlahan luas yang bersikap sebagain penggemar risiko.

W alaupun status penguasaan lahan dapat mempengaruhi efisiensi teknis produksi padi, dalam penelitian ini penguasaan lahan dengan sistim gadai efisiensi teknisnya relatif lebih rendah dibanding sistim sewa atau milik, hal ini tidak mengisyaratkan perlunya perubahan sistim gadai menjadi sewa atau milik, karena pada bakekatnya ke tiga: sistim penguasaan lahan tersebut adalah sama dalam hal

Tabel 8. Rataan penggunaan masukan dan keluaran per hektar usahatani padi sawah MH 1989 berdasarkan status penguasaan lahan.

Masukan/keluaran Status penguas~ lahan

Milik Sew a Gadai

Luas lahan (ha) 0,529 0,293 0,250 Benih (kg) 32,455 30,902 31,796 Pupuk anorganik (kg) 583,317 527,625 552,493

Urea (kg) 583,317 527,625 552,493 TSP (kg) 267,432 261,822 257,526 KCI (kg) 64,561 15,390 37,767 ZA (kg) 123,524 117,534 131,910

Pupuk organik (kg) 621,872 256,873 918,514 Pestisida (Rp) 8061,460 945,946 1312,500 Tenaga kerja manusia 852,378 879,276 884,684

Gam kerja) Produksi (kg) 4269,909 3707,602 3245,690 Harga gabah (Rp/kg) 196,061 196,125 207,500 n 66 18 8

46

Page 107: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

penguasaan terhadap masukan maupun keluaran, tidak seperti halnya penyakap dimana penguasaan atas keluaran tergantung dari sistim bagi hasil yang ditetapkan (keuntungan ekonomi) yang sama dalam mengelola usahataninya. Dengan demikian hambatan dalam upaya meningkatkan produktivitas padi tidak terletak pada sistim penguasaan lahan, tetapi terletak kepada motivasi petaninya sendiri dalam me­manfaatkan peluang ekonomi tersebut. Oleh karena itu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas padi pada petani gadai adalah menyadarkan pe­tani tersebut bahwa pengelolaan yang kurang intensif pada lahan gadai tersebut dapat menghilangkan kesempatan meraih keuntungan ekonomi atau bahkan dapat merugikan (gain loss) nilai harta (kekayaan) yang telah diberikan kepada pemilik tanah.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKSANAAN

Efisiensi teknis usahatani padi pada rata-ratanya di lokasi penelitian relatif tinggi (80 persen) dan secara keseluruhan petani bersikap sebagai penggemar risiko dalam penggunaan pupuk anorganik.

Tingkat pendidikan, pengalaman bertani padi, dan jumlah anggota keluarga tidak mempunyai hubungan efisiensi teknis produksi padi.

Tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja rumah tangga pada kegiatan usaha luar pertanian berhubungan positif dengan efisiensi teknis produksi yang berarti semakin tinggi tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja rumah tangga pada kegiatan usaha luar pertanian, maka semakin tinggi efisiensi teknis produksi. lmplikasinya adalah bahwa upaya peningkatan efisiensi teknis produksi padi dapat dilakukan dengan melalui upaya peningkatan pangsa pendapatan rumah tangga dari sektor luar pertanian. Sebaliknya tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja pada kegiatan usahatani luar padi tidak berhubungan dengan efisiensi teknis. Ini berarti bahwa tingkat pendapatan dan curahan tenaga kerja pada kegiatan usahatani luar padi bukan peubah yang dapat mempengaruhi efisiensi teknis produksi.

Efisiensi teknis petani pemilik sama dengan petani penyewa dan kedua-duanya lebih besar dibanding petani gadai. Petani pemilik dan penyewa bersikap sebagai penggemar risiko dalam penggunaan pupuk anorganik, sedangkan petani gadai ber­sikap sebagai penghindar risiko produksi.

Petani yang sumber pendapatannya berasal dari pertanian dan dari luar per­taman bersikap sebagai penggemar risiko dalam penggunaan pupuk anorganik, sedangkan petani yang sumber pendapatannya hanya berasal dari pertanian saja bersikap sebagai penghindar risiko. Petani yang menggemari risiko produksi meng­gunakan pupuk anorganik relatif lebih tinggi dibanding petani penghindar risiko.

47

Page 108: MAKALAH EKONOMI PRODUKSI PERTANIAN

Ini memberikan implikasi bahwa upaya peningkatan penggunaan pupuk anorganik dapat dilakukan dengan menciptakan diversifikasi pendapatan rumah tangga me­lalui pengembangan sektor luar pertanian.

DAFIAR PUSTAKA

Dudung Abdul Adjid, 1985. Pola Partisipasi Masyarakat Pedesaan Dalam Pembangunan Pertanian Berencana (Kasus Usahatani Berkelompok Sehamparan Dalam Intensifikasi Khusus (lnsus) -Suatu Survei di Jawa Barat~ Disertasi. Universitas Padjadjaran, Bandung.

Herdt, R.W. and T.H. Wickham, 1978. Exploring the Gap Between Potential Rice Yields the Philippine Case. Economic Consequences of the New Technology. IRRI. Philippines. p: 3-23.

Houge, M.Z., 1979. Constrains to High Rice Yields in Asia. Farm Level Constraints to High Rice Yields in Asia. IRRI. Philippines. p:49-83.

Just, R.E dan R.D. Pope, 1979. On the Relationship of Input Decisions and Risk. In Roumasset et a/. (eds). Risk Uncertainty and Agricultural Development. Philippines. p: 177-197.

Kasryno, F., 1988. Diversifikasi Pertanian Sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Pedesaan. Seminar Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Untuk Menunjang Pembangunan Pertanian dan Industri yang Tangguh dan Berkelanjutan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Manurung, V.T., 1988. Skala Usaha dan Permintaan Input Usahatani Padi Sawah (Kasus Beberapa Desa di Jawa Barat). Thesis FPS-IPB. Bogor.

Roumasset, J .A., 1979. Risk Aversion Indirect Utility Function and Market Failure. In Roumasset et 0

a/. (eds). Risk Uncertainty and Agricultural Developm~nt. Philippines. p:93-113.

Siregar, M. 1987. Effects of Some Selected Variables on Rice Farmers Technical Efficiency. Jumal Agro Ekonomi Vol. 6 Nomor 1 dan 2, 1987. Bogor.

Sri Widodo, 1979. Identifying Constraints to Higher Rice Yields in Yogyakarta. Farm Level Constraints to High Rice Yields in Asia. IRRI. Philippines. p:23-61.

Timmer, P.C., 1971. On Measuring Technical Efficiency. Food Research Institute Studies. Stanford University.

Wharton, C.R., 1966. Modernizing Subsistence Agriculture. Reprinted from Modernization. Ed by Myror Weiner, Basic Book, Inc. Publishers.

48