of 114 /114
LAPORAN AKTUALISASI PEKKA ODGJ (Psikoedukasi Keluarga dan Orang dengan Gangguan Jiwa) DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG DISUSUN OLEH : dr. PARAMITA EKADEVA SARI D 19900807 201902 2 009 PELATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL GOLONGAN III ANGKATAN II BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 2019

LAPORAN AKTUALISASIbkpsdmd.babelprov.go.id/sites/default/files... · kuratif, dan rehabilitatif. Maka dari itu sebagai ASN perlu membuat rancangan aktualisasi khususnya di pelayanan

  • Author
    others

  • View
    40

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of LAPORAN AKTUALISASIbkpsdmd.babelprov.go.id/sites/default/files... · kuratif, dan rehabilitatif....

  • LAPORAN AKTUALISASI

    PEKKA ODGJ

    (Psikoedukasi Keluarga dan Orang dengan Gangguan Jiwa)

    DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

    DISUSUN OLEH :

    dr. PARAMITA EKADEVA SARI D

    19900807 201902 2 009

    PELATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL

    GOLONGAN III ANGKATAN II

    BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

    PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

    2019

  • KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah puji dan syukur kita ucapkan atas kehadirat Allah SWT, shalawat

    serta salam kita panjatkan pada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Atas

    berkat rahmat dan pertolongan-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan

    aktualisasi pelatihan dasar calon Pegawai Negeri Sipil Gol.III Angkatan II yang

    berjudul “ PEKKA ODGJ (Psikoedukasi Keluarga dan Orang Dengan Gangguan

    Jiwa) di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”. Dalam

    kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

    1. Suami, Orang tua, keluarga yang senantiasa memberikan dukungan baik moril

    maupun material kepada penulis;

    2. Bapak Martha Cahyadinaa, SE, MM selaku mentor yang telah membimbing,

    memberi masukan, dan membantu penulis dalam menemukan isu terkait

    rancangan ini;

    3. Bapak Abdul Sani S.Pd.I selaku Coach yang telah membimbing dan memberikan

    masukan kepada penulis;

    4. Bapak/Ibu widyaiswara yang sudah memberi materi dengan tulus ikhlas serta

    selalu memberi motivasi baik lahir maupun batin;

    5. Teman-teman seperjuangan Angkatan II yang kubanggakan yang telah

    memberikan inspirasi selama penulis menjalani proses pelatihan ini.

    Penulis sadar bahwa laporan aktualisasi ini masih memiliki banyak kekurangan

    dan masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, penulis memohon saran dan kritikan

    yang membangun dari para pembaca demi perbaikan di masa yang akan datang.

    Pangkalpinang, Mei 2019

    Penulis

  • DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL

    HALAMAN BERITA ACARA

    HALAMAN PERSETUJUAN

    HALAMAN PENGESAHAN

    KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

    DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

    DAFTAR TABEL .................................................................................................... iv

    DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ v

    DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. vi

    BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

    1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1

    1.2 Tujuan dan Manfaat ............................................................................. 2

    1.3 Gambaran Umum Unit Kerja ................................................................ 3

    1.4 Visi, Misi, dan Nilai Organisasi ............................................................. 3

    BAB II NILAI-NILAI DASAR ANEKA, KEDUDUKAN DAN PERAN PNS DALAM NKRI

    ................................................................................................................ 6

    2.1 Nilai-Nilai Dasar ANEKA ...................................................................... 6

    2.2 Kedudukan dan Peran PNS Dalam NKRI ............................................. 12

    BAB III RANCANGAN AKTUALISASI .................................................................... 21

    3.1 Identifikasi Isu ...................................................................................... 21

    3.2 Isu yang Diangkat dan Gagasan Pemecahan Isu ................................. 23

    3.2.1. Isu yang Diangkat ....................................................................... 23

    3.2.2 Gagasan Pemecahan Isu ............................................................ 25

    3.3 Kegiatan dan Tahapan kegiatan Pemecahan Isu ................................. 26

    3.4 Keterkaitan Kegiatan Dengan Nilai ANEKA dan Peran Kedudukan PNS

    dalam NKRI .......................................................................................... 28

    3.5 Jadwal Rencana Kegiatan .................................................................... 46

    BAB IV CAPAIAN AKTUALISASI.......................................................................... 47

    4.1 Deskripsi Core Isu dan Strategi Penyelesainnya ................................. 47

    4.2 Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi ......................................................... 47

    4.3 Hasil Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi dan Analisis Dampak Apabila Nilai-

    Nilai Dasar PNS Tidak Diaktualisasikan ................................ …………48

    4.4 Manfaat Kegiatan ................................................................................ 85

    BAB V. PENUTUP ................................................................................................. 86

    4.1 Kesimpulan .......................................................................................... 86

    4.2 Saran ................................................................................................... 87

    DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 88

    LAMPIRAN

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1 Perumusan Isu dan Penetapan Isu……………………………24

    Tabel 3.2 Jadwal Rencana Kegiatan………………………………………46

    Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi……………….………………47

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1.1 Struktur organisasi UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah

    Provinsi Kepulauan Bangka Belitung………………………… 5

    Gambar 4.1 Diskusi dengan Mentor & Notulensi Diskusi ………………… 50

    Gambar 4.2 Data Psikoedukasi dan Kegiatan Pengumpulan Data Psikoedukasi

    …………………………………………………… 52

    Gambar 4.3 Pelaporan Rencana Kegiatan Kepada Atasan……………… 54

    Gambar 4.4 Materi Kegiatan PEKKA ODGJ……………………………….. 56

    Gambar 4.5 Diskusi Bersama Ahli & Notulensi Kegiatan………………… 58

    Gambar 4.6 Draft Brosur PEKKA ODGJ…………………………………… 60

    Gambar 4.7 Brosur PEKKA ODGJ…………………………………………. 61

    Gambar 4.8 Pelaporan Kegiatan Ke Ketua Komite Medik & Draft Surat

    Undangan ………………………………………………………. 63

    Gambar 4.9 Sosialisasi PEKKA ODGJ & Draft Materi Sosialisasi ………. 65

    Gambar 4.10 Diskusi PEKKA ODGJ Bersama Dokter & Draft Hasil Diskusi

    ………………………………………………………….. 67

    Gambar 4.11 Draft Pasien yang akan pulang …………………………….. 70

    Gambar 4.12 Pembagian Brosur Ke Ruang Perawatan …………………. 71

    Gambar 4.13 Draft penanggung jawab tiap ruang perawatan kegiatan PEKKA

    ODGJ……………………………………………….. 72

    Gambar 4.14 Kegiatan PEKKA ODGJ ……………………………………. 75

    76

    Gambar 4.15 Mencatat PEKKA ODGJ di Status Pasien ……………….. 77

    Gambar 4.16 Membagikan Brosur PEKKA ODGJ ………………………. 78

    Gambar 4.17 Data Rekam Medis Pasien Pulang ……………………….. 81

    Gambar 4.18 Draft Laporan Akhir …………………………………………. 82

    Gambar 4.19 Pelaporan Akhir Kegiatan PEKKA ODGJ ke Atasan ……. 84

  • DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran I Formulir Rancangan Aktualisasi

    Lampiran II Capaian Aktualisasi

    Lampiran III Lembar Pengendalian Coach

    Lampiran IV Lembar Pengendalian Mentor

    Lampiran V Output Kegiatan 1

    Lampiran VI Output Kegiatan 2

    Lampiran VII Output Kegiatan 3

    Lampiran VIII Output Kegiatan 4

    Lampiran IX Output Kegiatan 5

    Lampiran X Output Kegiatan 6

    Lampiran XI Power point Laporan Aktualisasi

  • BAB I. PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan

    pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah.

    Aparatur Sipil Negara memiliki tugas untuk melaksanakan kebijakan publik yang

    dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan

    perundang-undangan, memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas

    dan mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia

    (NKRI).

    Dalam UU No.5 Tahun 2014 tentang ASN dijelaskan bahwa pegawai ASN

    berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas

    umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan

    pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari

    praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pegawai ASN sebagai profesi berlandaskan

    pada prinsip yaitu nilai dasar, kode etik dan kode perilaku, berkomitmen, berintegritas

    moral, dan tanggung jawab pada pelayanan publik, memiliki kompetensi yang

    diperlukan sesuai dengan bidang tugas, memiliki kualifikasi akademik, mendapatkan

    jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas, dan memegang teguh

    profesionalitas jabatan.

    Peraturan tersebut secara implisit menghendaki bahwa ASN yang umum disebut

    sebagai birokrat bukan sekedar merujuk kepada jenis pekerjaan tetapi merujuk

    kepada sebuah profesi pelayanan publik. Berdasarkan Peraturan Kepala Lembaga

    Administrasi Negara Nomor: 12 Tahun 2018 Tentang Pelatihan Dasar CPNSI untuk

    membentuk Pegawai Negeri Sipil yang profesional yang mampu melaksanakan tugas

    dan perannya sebagai pelayan masyarakat diperlukan pembentukan karakter yang

    didasarkan pada nilai-nilai dasar profesi ASN. Nilai-nilai dasar tersebut terdiri dari

    akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti korupsi..

    Dalam kurun waktu terakhir ini, pelayanan publik yang dilakukan ASN di bidang

    kesehatan mendapat sorotan publik, terutama tentang kualitas pelayanan yang

    kurang memuaskan. Banyaknya masalah yang timbul diakibatkan kurangnya dan

    turunnya kesadaran dan kepedulian ASN dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

    Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan kesadaran dan komitmen yang

    tinggi pada seorang Aparatur Sipil Negara untuk menjalankan tugas-tugasnya

    sebagai pelayan publik yang profesional dengan meninternalisasikan nilai-nilai dasar

    profesi ASN serta mengaktualisasikannya. Adapun sebagai pelayan masyarakat yang

  • bertugas di bidang kesehatan nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam usaha

    meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui usaha promotif, preventif,

    kuratif, dan rehabilitatif. Maka dari itu sebagai ASN perlu membuat rancangan

    aktualisasi khususnya di pelayanan bidang kesehatan yang dilaksanakan di Rumah

    Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

    1.2 Tujuan dan Manfaat

    Tujuan

    Tujuan dan manfaat dari aktualisasi nilai - nilai dasar profesi adalah untuk

    membentuk ASN yang profesional yaitu ASN yang karakternya dibentuk oleh nilai-

    nilai dasar profesi ASN.

    Manfaat

    Manfaat yang didapatkan oleh peserta latsar adalah dapat memahami,

    menginternalisasi dan kemudian mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ASN sehingga

    mampu melaksanakan tugas dan perannya secara profesional sebagai pelayan

    masyarakat di tempat tugasnya. Sedangkan manfaat bagi unit kerja dan organisasi

    adalah mendapatkan kontribusi dari peserta diklat latsar untuk mencapat tujuan, visi

    dan misi bersama.

    1.3 Gambaran Umum Unit Kerja

    Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan satu-

    satunya Rumah Sakit Jiwa Daerah yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    Rumah Sakit Jiwa ini merupakan translokasi dari Rumah Sakit Jiwa Mentok yang

    didirikan tanggal 28 Agustus 1949, dengan memanfaatkan bangunan penjara

    berkapasitas 40 temapat tidur. Oleh karena tidak mungkin untuk dikembangkan,

    Direktorat Kesehatan Jiwa dan Dr. Nahrowi Oesman (selaku Kepala Dinas Kesehatan

    TK.II Bangka yang merangkap Direktur Rumah Perawatan Sakit Jiwa Mentok),

    memprakasai translokasi ke sungailiat. Pada tahun 1979, pembangunan Rumah Sakit

    Jiwa Sungailiat selesai dan diresmikan penggunaan gedung baru tersebut oleh

    Prof.Dr.Kusmanto Setyonegoro selaku Kepala Direktorat Kesehatan Jiwa.

    1.4 Visi, Misi, dan Tata Nilai Unit Kerja

    Visi

    Visi adalah gambaran arah pembangunan atau kondisi masa depan yang ingin

    dicapai melalui penyelenggaraan tugas dan fungsi. Dalam upaya mencapai kinerja

    pembangunan daerah pada aspek pelayanan kesehatan, Rumah Sakit Jiwa Daerah

  • Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai visi yaitu “Terwujudnya pelayanan

    kesehatan jiwa yang paripurna, bermutu dan berkeadilan “.

    Pelayanan kesehatan jiwa merupakan salah satu pelayanan kesehatan utama

    yang dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    sebagai satu-satunya rumah sakit jiwa yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka

    Belitung.

    Makna pernyataan visi :

    1) Paripurna adalah pelayanan kesehatan jiwa yang meliputi promotif, preventif,

    kuratif dan rehabilitatif.

    2) Bermutu adalah derajat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang sesuai

    dengan standart profesi dan standar pelayanan dengan menggunakan potensi

    sumber daya yang tersedia di rumah sakit secara wajar, efisien dan efektif

    serta diberikan secara aman.

    3) Berkeadilan adalah kesempatan yang sama kepada seluruh masyarakat

    Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menerima pelayanan kesehatan.

    MISI

    Upaya- upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi tersebut adalah:

    1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa, penanggulangan

    penyalahgunaan narkoba dan kesehatan lainnya.

    2) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa, penanggulangan

    penyalahgunaan narkoba yang sesuai dengan standar pelayanan.

    Tata Nilai

    Tata Nilai Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah “

    DISIPLIN “ dengan arti :

    D : Datang dan pulang tepat waktu

    I : Ilmu, Iman dan Taqwa landasan kerja

    S : Sopan dan Senyum dalam bekerja

    I : Isi waktu dan tidak menunda pekerjaan

    P: Pelayanan terbaik untuk mencapai hasil optimal

    L : Lebih baik bekerja dari pada bicara tiada guna

    I : Indah, bersih,nyaman dan rapi di lingkungan kerja

    N : Niat dalam bekerja

  • Struktur Organisasi

    Gambar 1.1 Struktur organisasi UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah

    Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    BAB II. NILAI-NILAI DASAR ANEKA,

    KEDUDUKAN DAN PERAN PNS DALAM NKRI

    2.1 Nilai-Nilai Dasar ANEKA

    DIREKTUR UTAMA

    DIREKTUR

    UMUM DAN KEUANGAN

    KELOMPOK JABATAN

    FUNGSIONAL

    DIREKTUR

    PELAYANAN

    BIDANG PELAYANAN

    KEPERAWATAN

    BIDANG

    PELAYANAN MEDIK

    SEKSI

    PENGEMBANGAN SDM

    SARANA DAN

    EVALUASI

    PELAYANAN

    SEKSI PENGEMBANGAN

    MUTU ASUHAN

    KEPERAWATAN

    DAN ETIK KEPERAWATAN

    SEKSI PELAYANAN

    PENGEMBANGAN SDM MUTU DAN

    EVALUASI

    PELAYANAN MEDIK

    SEKSI

    PEMELIHARAAN DAN PENGEMBANGAN

    FASILITAS

    MEDIK DAN PENUNJANG MEDIK

    BAGIAN

    UMUM

    SUB BAGIAN

    UMUM DAN KEPEGAWAIAN

    SUB BAGIAN HUKUM DAN

    SISTEM INFORMASI/PELA

    PORAN

    RUMAH SAKIT

    BAGIAN

    AKUNTANSI

    SUB BAGIAN AKUNTANSI DAN

    PERBENDAHARAAN

    SUB BAGIAN

    PENGANGGARAN DAN

    EVALUASI

    PELAPORAN

  • Aparatur Sipil Negara (ASN) harus memiliki pemahaman dan mampu

    mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ASN. Nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap

    ASN adalah Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu,dan Anti

    korupsi yang diakronimkan menjadi ANEKA. Setiap ASN yang profesional harus

    memiliki integritas untuk menginternalisasi dan mengaktualisasi nilai-nilai ANEKA

    dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sehari-hari. Berdasarkan kelima nilai

    dasar ANEKA yang harus ditanamkan kepada setiap ASN, maka perlu di ketahui

    indikator-indikator dari ANEKA tersebut yaitu:

    1) Akuntabilitas

    Akuntabilitas adalah kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk

    memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Untuk menciptakan

    lingkungan kerja yang akuntabel diperlukan nilai-nilai:

    a. Kepemimpinan;

    b. Transparansi;

    c. Integritas;

    d. Tanggungjawab (Responsibilitas);

    e. Keadilan;

    f. Kepercayaan;

    g. Keseimbangan;

    h. Kejelasan;

    i. Konsistensi.

    2) Nasionalisme

    Nasionalisme adalah pondasi bagi aparatur sipil negara untuk

    mengaktualisasikan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya dengan orientasi

    mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara. Nilai-nilai dasar yang

    terkandung dalam nasionalisme merupakan implementasi nilai-nilai pancasila

    yaitu :

    a. Nilai Ketuhanan yang maha ESA

    Nilai-nilai ketuhanan diimplementasikan denga cara menegmbangkan etika

    social di masyarakat. Nilai ini menjiwai nilai-nilai dari sila lain dalam pancasila.

    Dengan berpegang teguh pada nilai ketuhanan diharapkan bisa memperkuat

    pembentukan karakter dan kepribadian, melahirkan etos kerja yang positif,

    dan memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi diri.

  • b. Nilai Kemanusiaan

    Dengan melandaskan pada rinsip kemanusian, berbagai tindakan dan

    perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan tidak sepatutnya

    mewarnai kebijakan dan perilaku aparatur Negara.

    c. Nilai Persatuan Indonesia

    Membangun rasa keadilan dan kebersamaan dilandasi prinsip-prinsip

    kehidupan public yang lebih partisipatif dan non diskriminatif

    d. Nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

    permusyawaratan perwakilan

    Demokrasi permusyawaratan mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama menjadi

    ajang memperjuangkan aspirasi beragam golongan yang ada di masyarakat.

    Fungsi kedua, semangat ermusyawaratan bisa menguatkan Negara

    persatuan, bukan negar untuk satu golongan.

    e. Nilai Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia

    Dala rangka mewujudkan keadilan sosial, para pendiri bangsa menyatakan

    bahwa Negara merupakan organisasi masyarakat yang bertujuan

    menyelenggarakan keadilan. Peran Negara dalam mewujudkan keadilan

    social antara lain:

    - Perwujudan relasi yang adil di semua tingkat system kemasyarakatan

    - Pengembangan struktur yang menyediakan kesetaraan kesempatan

    - Proses fasilitasi akses atas informasi, layanan dan sumber daya yang

    diperlukan

    - Dukungan atas partisipasi bermakana atas pengambilan keputusan bagi

    semua oran

    3) Etika Publik

    Etika publik merupakan refleksi atas standar/norma yang menentukan

    baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan, untuk mengarahkan

    kebijakan public dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.

    Adapun nilai-nilai dasar etika publik sebagai berikut :

    a. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara yaitu Pancasila

    b. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan

    Republik Indonesia

    c. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.

  • d. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian

    e. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif

    f. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur

    g. Mempertanggung jawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.

    h. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program

    pemerintah

    i. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat,

    berdaya guna, berhasil guna, dan santun

    j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi

    k. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama

    l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai

    m. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan

    n. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai

    perangkat sistem karir.

    Kode etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu

    kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan ada hal-khal prinsip dalam

    bentuk ketentuan tertulis. Berdasarkan UU ASN kode etik ASN terdiri dari :

    a. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas

    tinggi;

    b. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;

    c. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;

    d. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

    undangan;

    e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang

    berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan

    perundang-undangan dan etika pemerintahan;

    f. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;

    g. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab,

    efektif, dan efisien;

    h. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya;

    i. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain

    yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;

    j. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan,

    dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi

    diri sendiri atau untuk orang lain;

  • k. Memegang teguh nilai dasar asn dan selalu menjaga reputasi dan integritas

    asn; dan

    l. Melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai disiplin

    pegawai asn.

    4) Komitmen Mutu

    Komitmen mutu merupakan pelaksanaan pelayanan publik dengan

    berorientasi pada kualitas hasil. Adapun aspek utama yang menjadi target adalah

    layanan yang berkomitmen pada mutu melalui penyelenggaraan tugas secara

    efektif, efisien, dan inovatif. Aktualisasi nilai dasar komitmen mutu dalam

    pelaksanaan tugas apparatur akan mendorong terciptanya budaya kerja unggul

    yang dapat menumbuhkan keberanian untuk menampilkan kreatifitas dan inovasi.

    Dengan demikian, pergeseran orientasi kerja diarahkan untuk memotivasi

    aparatur mengubah mindset menuju layanan bermutu. Karakterisktik Nilai dasar

    yang berorientasi mutu adalah :

    a. Mengedepankan komitmen terhadap kepuasan customers/clients

    b. Memberikan layanan yang menyentuh hati, untuk menjaga dan memelihara

    agar customers/clients tetap setia

    c. Menghasilkan produk/jasa yang berkualitas tinggi; tanpa cacat, tanpa

    kesalahan, dan tidak ada pemborosan

    d. Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, baik berkaitan dengan

    pergeseran tuntutan kebutuhan customers/clients maupun perkembangan

    teknologi

    e. Menggunakan pendekan ilmiah dan inovatif dalam pemecahan masalah dan

    pengambilan keputusan

    f. Melakukan upaya perbaikan secara berkelanjutan melalui berbagai cara,

    antara lain: pendidikan, pelatihan, pengembangan ide kreatif, kolaboraasi, dan

    bencmark.

    5) Anti Korupsi

    Anti Korupsi adalah tindakan atau gerakan yang dilakukan untuk

    memberantas segala tingkah laku atau tindakan yang melawan norma–norma

    dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi, merugikan negara atau

    masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Tindak pidana korupsi yang terdiri dari kerugian keuangan negara, suap-

    menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan

  • kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi. Komisi Anti Korupsi bersama pakar

    lainnya telah melakukan identifikasi nilai-nilai dasar anti korupsi, dan dihasilkan

    sebanyak sembilan nilai dasar diantaranya :

    a. Jujur

    b. Peduli

    c. Mandiri

    d. Disiplin

    e. Tanggung jawab

    f. Kerja keras

    g. Sederhana

    h. Berani

    i. Adil.

    2.2 Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI

    Kelancaran penyelenggaraan tugas pemerintah dan pembangunan nasional

    sangat tergantung pada mekanisme kerja aparatur Negara, khususnya Pegawai

    Negeri Sipil. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS bukan saja unsur

    aparatur Negara, tetapi juga abdi masyarakat yang hidup di tengah- tengah

    masyarakat dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Kedudukan dan peranan dari

    Pegawai Negeri dalam setiap organisasi pemerintah sangatlah menentukan, sebab

    Pegawai Negeri Sipil merupakan tulang punggung pemerintahan dalam melakukan

    pembangunan nasional.

    Karena PNS memegang peranan yang sangat besar dalam kelancaran

    pemerintahan serta pembangunan maka dalam hal ini kedudukan pegawai negeri

    menjadi sangat penting, sebab lancar atau tidak lancarnya pemerintah dan

    pembangunan negara tidak terlepas dari peranan dan keikutsertaan pegawai negeri.

    Kedudukan dan peranan pegawai dalam setiap organisasi pemerintahan

    sangatlah menentukan, sebab Pegawai Negeri merupakan tulang punggung

    pemerintah dalam melaksanakan pembangunan nasional.

    Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil

    Negara menyatakan bahwa : Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat

    ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan

    perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah. Pegawai ASN berperan

  • sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum

    pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan

    pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari

    praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

    Dengan terbitnya Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang aparatur

    sipil Negara, pegawai negeri sipil diharuskan mempunyai fungsi sebagai:

    a. pelaksana kebijakan publik;

    b. pelayan publik; dan

    c. perekat dan pemersatu bangsa.

    Peran dan kedudukan ASN dalam NKRI bisa dilihat dari kemampuan mereka

    memahami manajemen ASN, Pelayanan Publik dan inovasi yang berkaitan dengan

    whole of government (WOG).

    1) Manajemen ASN

    Manejemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan

    pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari

    intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Manajemen

    ASN lebih menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan

    agar selalu tersedia sumber daya ASN yang unggul selaras dengan

    perkembangan zaman.

    a) Kedudukan ASN

    Kedudukan atau status jabatan PNS dalam sistem birokrasi selama ini

    dianggap belum sempurna untuk menciptakan birokrasi yang profesional. Untuk

    dapat membangun profesionalitas birokrasi, maka konsep yang dibangun dalam

    UU ASN tersebut harus jelas. Berikut beberapa konsep yang ada dalam UU No. 5

    Tahun 2014 tentang ASN:

    - Berdasarkan jenisnya, pegawai ASN terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS)

    dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). PNS merupakan

    warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai

    pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk

    menduduki jabatan pemerintahan, memiliki nomor induk pegawai secara

    nasional. Sedangkan PPPK adalah warga negara Indonesia yang memnuhi

    syarat tertentu, yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian

    berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan instansipemerintah

    untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas

    pemerintahan.

  • - Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang menjalankan

    kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah serta harus

    bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik.

    Pegawai ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.

    Selain itu untuk menjauhkan birokrasi dari pengaruh partai politik, hai ini

    dimaksudkan untuk menjamin keutuhan, kekompakan dan persatuan ASN,

    serta dapat memusatkan segala perhatian, pikiran dan tenaga pada tugas

    yang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu dalam pembinaan karir

    pegawai ASN, khususnya di daerah dilakukan oleh pejabat berwenang yaitu

    pejabat karir tertinggi.

    - Kedudukan ASN berada di pusat, daerah dan luar negeri. Namun demikian

    pegawai ASN merupakan kesatuan. Kesatuan bagi pegawai ASN sangat

    penting, mengingat dengan adanya desentralisasi dan otonomi daerah,

    sering terjadinya isu putra daerah yang hampir terjadi dimana-mana sehingga

    perkembangan birokrasi menjadi stagnan di daerah-daerah. Kondisi tersebut

    merupakan ancaman bagi kesatuan bangsa.

    b) Peran ASN

    Untuk menjalankan kedudukan pegawai ASN, maka pegawai ASN berfungsi

    dan bertugas sebagai berikut:

    - Pelaksana kebijakan publik

    ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan kebijakan

    yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan

    ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN harus

    mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam menjalankan

    fungsi dan tugasnya, serta harus mengutamakanpelayanan yang berorientasi

    pada kepentingan publik.

    - Pelayan publik

    ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk memberikan pelayanan

    publik yang profesional dan berkualitas. Pelayanan publik merupakan kegiatan

    dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai peraturan perundang-

    undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa dan/atau

    pelayanan administratif yangdiselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan

    publik dengan tujuan kepuasan pelanggan.

    - Perekat dan pemersatu bangsa

  • ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat persatuan

    dan kesatuan NKRI. ASN senantiasa setia dan taat sepenuhnya kepada

    Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah. ASN senantiasa menjunjung

    tinggi martabat ASN serta senantiasa mengutamakan kepentingan negara

    dari pada kepentingan diri sendiri,seseorang dan golongan. Dalam UU ASN

    disebutkan bahwa dalam penyelengaraan dan kebijakan manajemen ASN,

    salah satu diantaranya asas persatuan dan kesatuan.

    c) Hak dan Kewajiban ASN

    Hak PNS yang diatur dalam UU ASN terdiri dari :

    - Gaji, Tunjangan, dan Fasilitas.

    - Cuti

    - Jaminan pensiun dan jaminan hari tua.

    - Perlindungan.

    - Pengembangan kompetensi.

    Sedangkan kewajibannya terdiri dari :

    - Setia dan taat kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara

    Republik Indonesia Tahun 1945, dan Negara Kesatuan Republik

    Indonesia;

    - Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;

    - Menaati semua ketentuan peraturan perundang-undangan

    - Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan

    penuh pengabdian, kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab;

    - Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, tindakan,

    dan ucapan kepada setiap orang baik di dalam maupun di luar kedinasan;

    dan

    - Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia

    jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    2. Whole of Government

    WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang

    menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam

    ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuantujuan

    pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. Oleh

    karenanya WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan

    yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang

    relevan.

  • a) Praktek Whole of Government

    Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik dari

    sisi penataan institusi formal maupun informal. Cara-cara ini pernah dipraktekkan

    oleh beberapa negara, termasuk Indonesia dalam level-level tertentu.

    - Penguatan koordinasi antar lembaga

    Penguatan koordinasi dapat dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga yang

    dikoordinasikan masih terjangkau dan manageable. Salah satu alternatifnya

    adalah mengurangi jumlah lembaga yang ada sampai mendekati jumlah yang

    ideal untuk sebuah koordinasi. Dengan jumlah lembaga yang rasional, maka

    koordinasi dapat dilakukan lebih mudah.

    - Membentuk lembaga koordinasi khusus

    Pembentukan lembaga terpisah dan permanen yang bertugas dalam

    mengkoordinasikan sektor atau kementerian adalah salah satu cara

    melakukan WoG. Lembaga koordinasi ini biasanya diberikan status

    kelembagaan setingkat lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan

    kelembagaan yang dikoordinasikannya.

    - Membentuk gugus tugas Gugus tugas merupakan bentuk pelembagaan

    koordinasi yang dilakukan di luar struktur formal, yang sidatnya tidak

    permanen. Pembentukan gugus tugas biasanya menjadi salah satu cara agar

    sumber daya yang terlibat dalam koordinasi tersebut dicabut sementara dari

    lingkungan formalnya untuk berkonsentrasi dalam proses koordinasi tadi.

    - Koalisi sosial Koalisi sosial ini merupakan bentuk informal dari penyatuan

    koordinasi antar sektor atau lembaga, tanpa perlu membentuk pelembagaan

    khusus dalam koordinasi ini. Di Australia dalam masa pemerintahan

    b) Tantangan WOG

    Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan WoG di tataran praktek antara

    lain adalah:

    - Kapasitas SDM dan institusi

    Kapasitas SDM dan institusi-institusi yang terlibat dalam WoG tidaklah sama.

    Perbedaan kapasitas ini bisa menjadi kendala serius ketika pendekatan

    WoG, misalnya, mendorong terjadinya merger atau akuisisi kelembagaan, di

    mana terjadi penggabungan SDM dengan kualifikasi yang berbeda.

    - Nilai dan budaya organisasi

  • Seperti halnya kapasitas SDM dan institusi, nilai dan budaya organisasi pun

    menjadi kendala manakala terjadi upaya kolaborasi sampai dengan

    penyatuan kelembagaan

    - Kepemimpinan Kepemimpinan menjadi salah satu kunci penting dalam

    pelaksanaan WoG.

    Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu

    mengakomodasi perubahan nilai dan budaya organisasi serta meramu SDM

    yang tersedia guna mencapai tujuan yang diharapkan.

    c) Praktek WoG dalam Pelayanan Publik

    Praktek WoG dalam pelayanan publik dlakukan dengan menyatukan seluruh

    sektor yang terkait dengan pelayanan publik. Jenis pelayanan publik yang dikenal

    yang dapat didekati oleh pendekatan WoG adalah:

    - Pelayanan yang Bersifat Adminisitratif

    - Pelayanan jasa

    - Pelayanan barang

    - Pelayanan regulative

    3. Pelayan Publik

    Dalam kesempatan ini terkait dengan pelayanan publik terlebih dahulu akan

    diberikan beberapa pengertian penting dalam Undang-Undang tersebut, yaitu:

    - Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka

    pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan

    perundangundangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang,

    jasa, dan / atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara

    pelayanan publik.

    - Penyelenggara pelayanan publik (Penyelenggara) adalah setiap institusi

    penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk

    berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan

    hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik.

    - Penyelenggara pelayanan publik adalah setiap institusi penyelenggara

    negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan

    undangundang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang

    dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik

    - Pelaksana pelayanan publik adalah pejabat, pegawai, petugas, dan setiap

    orang yang bekerja di Whole of Government 11 dalam organisasi

  • penyelenggara yang bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian

    tindakan pelayanan publik.

    - Masyarakat adalah seluruh pihak, baik warga negara maupun penduduk

    sebagai orang perseorangan, kelompok, maupun badan hukum yang

    berkedudukan sebagai penerima manfaat pelayanan publik, baik secara

    langsung maupun tidak langsung.

    - Standar pelayanan adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman

    penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai

    kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka

    pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.

    - Maklumat pelayanan adalah pernyataan tertulis yang berisi keseluruhan

    rincian kewajiban dan janji yang terdapat dalam standar pelayanan.

    Penyelenggaraan pelayanan publik berasaskan :

    a. kepentingan umum

    b. kepastian hukum

    c. kesamaan hak

    d. keseimbangan hak dan kewajiban

    e. Keprofesionalan

    f. Partisipatif

    g. Persamaan perlakuan/ tidak diskriminatif

    h. Keterbukaan

    i. Akuntabilitas

    j. Fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan

    k. Ketepatan waktu

    l. kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.

  • BAB III. RANCANGAN AKTUALISASI

    3.1 Identifikasi Isu

    Dalam penyusunan rancangan kegiatan aktualisasi, saya sebagai dokter

    pertama di RSJ Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, akan memaparkan terlebih

    dahulu tugas pokok dan unsur kegiatan dokter sebagai pelaksanan teknis di

    bidang pelayanan kesehatan berdasarkan KEPMENPAN Nomor.

    139/KEP.M/PAN/11/2003. Tugas pokok Dokter, adalah memberikan pelayanan

    kesehatan pada sarana pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif,

    kuratif dan rehabilitatif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta

    membina peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian di bidang kesehatan

    kepada masyarakat. Sedangkan kegiatan Dokter yang sesuai dengan jenjang

    jabatan dokter pertama di Rumah Sakit Jiwa adalah sebagai berikut:

    a. Melakukan pelayanan medik umum rawat jalan tingkat pertama;

    b. Melakukan pelayanan spesialistik rawat jalan tingkat pertama;

    c. Melakukan tindakan khusus tingkat sederhana oleh Dokter umum;

    d. Melakukan tindakan khusus tingkat sedang oleh Dokter umum;

    e. Melakukan kunjungan (visite) kepada pasien rawat inap;

    f. Melakukan Pemulihan mental tingkat sederhana;

    g. Melakukan Pemulihan mental kompleks tingkat I;

    h. Mengumpulkan data dalam rangka pengamatan epidemiologi penyakit;

    i. Melakukan penyuluhan medik;

    j. Membuat catatan Medik rawat jalan;

    k. Membuat catatan Medik rawat inap;

    l. Melayani atau menerima konsultasi dari luar atau keluar;

    m. Melayani atau menerima konsultasi dari dalam;

    n. Menguji kesehatan individu;

    o. Melakukan Tugas jaga panggilan/on call;

    p. Melakukan tugas jaga di tempat/rumah sakit;

  • q. Melakukan kaderisasi masyarakat dalam bidang kesehatan tingkat

    sederhana.

    Berdasarkan pengalaman kerja saya sebagai dokter kontrak di Rumah Sakit

    Jiwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama 1 tahun, dirasakan adanya

    beberapa isu atau permasalahan yang masih terjadi berkaitan dengan tugas atau

    kegiatan dokter umum. Adapun isu-isu tersebu dapat diidentifikasi sebagai berikut

    :

    1) Belum Optimalnya Pelaksanaan Psikoedukasi oleh Dokter terhadap pasien

    pasca rawatan yang akan pulang dan keluarganya.

    2) Belum adanya kegiatan diskusi kasus antara dokter umum dan dokter spesialis

    kejiwaan.

    3) Respon Time Dokter Jaga yang Masih Belum tercapai sesuai Standar

    Pelayanan.

    4) Pengisian Catatan Medis Pasien yang Tidak Lengkap.

    Identifikasi isu-isu diatas kemudian diinterpretasikan ke dalam tiga peran Aparatur

    Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN yaitu melaksanakan kebijakan publik

    yang dibuat oleh Pejabat Negara, memberikan pelayanan publik yang profesional

    dan berkualitas, dan mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan

    Republik Indonesia.

    Langkah selanjutnya yang penulis lakukan adalah mengkonsultasikan isu-isu

    yang telah teridentifikasi ke rekan kerja, atasan kerja dan mentor untuk dianalisis

    bersama hingga dapat ditentukan satu isu sebagai isu utama (core issue) yang

    akan diangkat menjadi kegiatan aktualisasi.

    3.2 Isu yang Diangkat dan Gagasan Pemecahan Isu

    3.2.1 Isu yang Diangkat

    Berdasarkan hasil konsultasi dengan mentor dan dengan menggunakan

    teknik USG maka penulis menetapkan isu utama yaitu ”Belum Optimalnya

    Pelaksanaan Psikoedukasi oleh Dokter terhadap pasien pasca rawatan yang

    akan pulang dan keluarganya.”

    Adapun yang dimaksud dengan teknik USG adalah salah satu alat untuk

    menyusun urutan prioritas isu yang harus diselesaikan. Caranya dengan

    menentukan tingkat urgensi, keseriusan, dan perkembangan isu dengan

    menentukan skala nilai 1 – 5.Isu yang memiliki total skor tertinggi merupakan isu

  • prioritas. Untuk lebih jelasnya, pengertian urgency, seriousness, dan growth dapat

    diuraikan sebagai berikut:

    1. Urgency

    Seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas dikaitkan dengan waktu yang

    tersedia serta seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk memecahkan

    masalah yang menyebabkan isu tadi.

    2. Seriousness

    Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan akibat yang

    timbul dengan penundaan pemecahan masalah yang menimbulkan isu

    tersebut atau akibat yang menimbulkan masalah-masalah lain kalau masalah

    penyebab isu tidak dipecahkan.

    3. Growth Seberapa kemungkinan-kemungkinannya isu tersebut menjadi

    berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan makin

    memburuk kalau dibiarkan.

    Tabel 3.1 Perumusan Isu dan Penetapan Isu

    NO. ISSUE/ MASALAH U S G TOTAL

    1 Belum Optimalnya Pelaksanaan

    Psikoedukasi oleh Dokter terhadap

    pasien pasca rawatan yang akan

    pulang dan keluarganya.

    5 5 5 15

    2 Belum adanya kegiatan diskusi kasus

    antara dokter umum dan dokter

    spesialis kejiwaan.

    4 3 2 9

    3 Respon Time Dokter Jaga yang Masih

    Belum tercapai sesuai Standar

    Pelayanan.

    5 5 4 14

    4 Pengisian Catatan Medis Pasien yang

    Tidak Lengkap. 4 4 4 12

    Berdasarkan hasil analisis isu menggunakan teknik USG di atas dapat dilihat

    bagaimana kualitas Isu yang ada. Isu yang mendapatkan prioritas tertinggi adalah

    isu final (core issue) yang perlu diangkat yaitu: ”Belum Optimalnya Pelaksanaan

    Psikoedukasi oleh Dokter terhadap pasien pasca rawatan yang akan pulang

    dan keluarganya.”

    Jika isu tersebut tidak bisa segera dipecahkan maka akan mengakibatkan hal-

    hal sebagai berikut :

  • 1. Kurangnya pemahaman pihak keluarga mengenai kondisi pasien, yang dapat

    menyebabkan peningkatan kejadian penelantaran ODGJ, peningkatan

    kejadian pasung, dan kurangnya dukungan sosial

    2. Kurangnya pemahaman pasien mengenai penyakitnya yang menyebabkan

    penurunan tingkat kepatuhan untuk minum obat,serta peningkatan kasus

    putus berobat

    3. Meningkatnya kasus readmisi ODGJ yang sudah dipulangkan dari rawat inap.

    3.2.2 Gagasan Pemecahan Isu

    Isu ini memiliki prioritas tertinggi karena salah satu bentuk dari kegiatan

    upaya kesehatan jiwa yang mencakup sebagin besar tugas dokter umum

    (preventif, kuratif, dan rehabilitatif). Upaya kesehatan jiwa berdasarkan Undang-

    Undang Kesehatan Jiwa Nomor 18 tahun 2014 adalah setiap kegiatan untuk

    mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga,

    dan masyarakat. Psikoedukasi juga ditujukan kepada keluarga sebagai caregiver.

    Psikoedukasi keluarga adalah salah satu elemen program perawatan

    kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi , edukasi melalui

    komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang

    bersifat edukasi dan pragmatic (Stuart & Laraia,2008). Psikoedukasi keluarga

    adalah suatu metoda berdasarkan pada penemuan klinis untuk melatih keluarga-

    keluarga dan bekerja sama dengan para profesional kesehatan jiwa sebagai

    bagian dari perawatan menyeluruh secara klinis yang direncanakan untuk

    anggota keluarga.

    Terapi Psikoedukasi keluarga dapat meningkatkan kemampuan kognitif

    karena dalam terapi mengandung unsur untuk meningkatkan pengetahuan

    keluarga tentang penyakit, mengajarkan tehnik yang dapat membantu

    keluarga untuk mengetahui gejala–gejala penyimpangan perilaku, serta

    peningkatan dukungan bagi anggota keluarga itu sendiri. Tujuan utama dari

    terapi psikoedukasi keluarga adalah saling bertukar informasi tentang

    perawatan kesehatan mental akibat penyakit fisik yang dialami, membantu

    anggota keluarga mengerti tentang penyakit anggota kelurganya seperti

    gejala, pengobatan yang dibutuhkan untuk menurunkan gejala dan lainnya

    (Varcaloris, 2006).

    Selain itu psikoedukasi merupakan salah satu bentuk terapi

    nonmedikamentosa yang membawa manfaat perubahan yang besar bagi pasien

    dan keluarga, serta dengan cara yang mudah untuk dilaksanakan. Manfaat bagi

    pasien adalah meningkatkan pemahaman dan penerimaan pasien terhadap

  • kondisinya untuk menghindari kemungkinan putus berobat hingga relaps.

    Sedangkan bagi pihak keluarga psikoedukasi akan membantu menurunkan

    intensitas emosi dalam keluarga sampai pada tingkat yang rendah, meningkatkan

    pengetahuan anggota keluarga tentang penyakit dan pengobatan, memberikan

    dukungan kepada keluarga dalam upaya menurunkan angka kekambuhan atau

    serangan berulang pada penyakit yang diderita, mengembalikan fungsi pasien dan

    keluarga, melatih keluarga untuk lebih bisa mengungkapkan perasaan, bertukar

    pandangan antar anggota keluarga dan orang lain. (Varcarolis,2006).

    Berdasarkan hal-hal tersebut maka gagasan pemecahan isu yang diangkat

    untuk kegiatan aktualisasi ini adalah “PEKKA ODGJ (Psikoedukasi Keluarga

    dan Orang Dengan Gangguan Jiwa) di Rumh Sakit Jiwa Daerah Provinsi

    Kepulauan Bangka Belitung”

    3.3 Kegiatan dan Tahapan Kegiatan Pemecahan Isu

    Dalam pemecahan isu utama yang telah dijabarkan di atas, penulis

    merencanakan beberapa kegiatan dan tahapan kegiatan pemecahan masalah

    yang berdasarkan tugas serta sasaran kerja dokter umum, masukan dari atasan,

    dan ide sendiri yang kemudian didiskusikan bersama mentor dan coach. Kegiatan

    dan tahapan yang diusulkan untuk memecahkan isu di atas adalah sebagai

    berikut:

    1. Melaporkan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan organisasi. Dengan

    tahapan sebagai berikut:

    a. Melaksanakan diskusi dengan mentor tentang pemantapan rencana

    kegiatan yang akan diaktualisasikan

    b. Menyiapkan data-data kondisi saat ini terkait isu yang diangkat

    c. Melaporkan rencana kegiatan PEKKA ODGJ kepada kabid Pelaynan Medik

    dan Direktur Pelayanan bersama dengan mentor

    2. Penyusunan materi PEKKA ODGJ. Dengan tahapan sebagai berikut :

    a. Mengumpulkan materi sikoedukasi

    b. Melakukan Konsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa tentang

    materi psikoedukasi

    c. Menyusun materi psikoedukasi

    d. Mencetak materi PEKKA ODGJ

    3. Sosialisasi PEKKA ODGJ kepada tenaga medis dan konsultasi dengan dokter

    umum. Dengan tahapan sebagai berikut :

    a. Membuat undangan rapat melalui ketua komite medik

  • b. Melakukan sosialisasi mengenai PEKKA ODGJ

    c. Melakukan diskusi dengan para dokter

    4. Persiapan akhir PEKKA ODGJ. Dengan tahapan sebagai berikut :

    a. Mengumpulkan data pasien yang akan pulang

    b. Menyiapkan dan membagikan brosur materi psikoedukasi ke ruang-ruang

    perawatan

    c. Melakukan koordinasi dengan perawat ruangan mengenai pelaporan

    pasien yang akan pulang ke dokter jaga

    5. Pelaksanakan PEKKA ODGJ. Dengan tahapan sebagai berikut :

    a. Memberikan psikoedukasi kepada pasien dan keluarga

    b. Menulis kegiatan psikoedukasi dalam status pasien

    c. Membagikan brosur kepada pasien dan keluarga pasien

    6) Menyusun Laporan Kegiatan. Dengan tahapan sebagai berikut :

    a. Mengumpulkan data kegiatan PEKKA ODGJ

    b. Mengolah data kegiatan PEKKA ODGJ

    c. Mencetak laporan kegiatan

    d. Pemaparan hasil kegiatan kepada atasan

    3.4 Keterkaitan Kegiatan dengan Nilai ANEKA dan Peran Kedudukan PNS

    dalam NKRI

    Adapun kegiatan-kegiatan sebagaimana diuraikan diatas akan saya

    laksanakan pada kegiatan aktualisasi ditempat saya bekerja yang akan saya

    uraikan satu persatu sebagai berikut :

    1. Kegiatan 1 : Melaporkan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan organisasi.

    Kegiatan ini penting dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan

    dalam pelaksanaan kegiatan aktualisasi. Selain itu agar atasan mendapatkan

    gambaran mengenai pelaksanaan aktualisasi sehingga dapat memberikan

    masukan, pendapat, dan kebijakan terhadap pelaksanaan aktualisasi. Kegiatan

    ini akan dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

    a. Melaksanakan diskusi dengan mentor tentang pemantapan rencana

    kegiatan yang akan diaktualisasikan

    b. Menyiapkan data-data kondisi saat ini terkai isu yang diangkat

    c. Melaporkan rencana kegiatan PEKKA ODGJ kepada kabid Pelaynan Medik

    dan Direktur Pelayanan bersama dengan mentor

  • Adapun pengaktualisasian nilai-nilai dasar dan nilai-nilai peranan dan

    kedudukan PNS dalam NKRI dalam tahapan-tahapan kegiatan satu ini adalah

    sebagai berikut :

    a. Etika Publik, Nasionalisme

    Pada saat saya melaksanakan diskusi dengan mentor tentang

    pemantapan rencana kegiatan (tahap 1), saya akan mengaktualisasikan

    nilai Nasionalisme berupa pancasila sila ke 4 (utamakan musyawarah

    dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama) yaitu

    dengan cara selama berdiskusi mengutamakan musyawarah bersama

    mentor, saling berpendapat dan mengajukan usul atau perbaikan hingga

    mencapai kesepakatan dalam pengambilan keputusan untuk kelancaran

    pelaksanaan kegiatan.

    Nilai terakhir yang akan saya aktualisasikan pada tahap ini adalah nilai

    Etika Publik berupa “Menghargai komunikasi, konsultasi, dan

    kerjasama” dengan cara selama berkonsultasi saya akan berbicara

    sopan, ramah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik sehingga

    diskusi berjalan lancar, dan mencapai persamaan pemahaman mengenai

    kegiatan.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah kesepakatan

    dengan mentor tentang rencana aktualisasi, notulensi diskusi, dan

    dokumentasi kegiatan.

    b. Akuntabilitas, Anti Korupsi

    Pada tahap menyiapkan data-data kondisi saat ini terkait isu yang

    diangkat (tahap 2), saya akan mengaktualisasikan nilai akuntabilitas

    berupa “tanggung jawab”, dengan cara mengumpulkan informasi atau

    data dari sumber yang valid, secara teliti sehingga hasilnya dapat

    dipertanggung jawabkan.

    Selanjutnya nilai anti korupsi berupa ”Kejujuran” yaitu dengan cara

    mengumpulkan semua data terkait isu, tidak memanipulasi data, dan

    menyampaikan semua data apa adanya.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah data-data

    psikoedukasi yang sudah atau belum dilakukan.

    c. Akuntabilitas, Etika Publik, WoG

    Pada tahap melaporkan rencana kegiatan PEKKA ODGJ kepada

    kabid Pelaynan Medik dan Direktur Pelayanan bersama mentor (tahap 3),

  • saya akan mengaktualisasikan nilai akuntabilitas berupa

    “Kepercayaan”, yaitu dengan cara memaparkan rencana kegiatan

    dengan jelas, menggunakan data-data yang valid sehingga menimbulkan

    rasa kepercayaan dari pimpinan dan memberikan izin kepada saya untuk

    pelaksanaan kegiatan ini.

    Selanjutnya adalah Nilai Etika Publik berupa “ memelihara dan

    menjunjung tinggi etika luhur”, yaitu dengan cara menggunakan bahasa

    yang santun, bersikap sopan dan hormat selama melaporkan kegiatan

    sehingga atasan dapat mengetahui dan memahami keseluruhan maksud

    dan tujuan kegiatan secara baik dan benar.

    Nilai terakhir adalah Nilai WoG yaitu Koordinasi. Untuk mencapai

    kesuksesan dalam pelaksanaan kegiatan PEKKA ODGJ ini dibutuhkan

    dukungan, bantuan dari berbagai pihak. Salah satunya dukungan dari

    atasan selaku pembuat kebijakan. Sehinga dalam perencanaan kegiatan

    dibutuhkan koordinasi vertikal dengan pihak atasan agar kegiatan dapat

    berjalan lancar.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah pertemuan

    dengan kabid dan direktur pelayanan, notulensi rapat, dan dokumentasi.

    Kontribusi Terhadap Visi Dan Misi Organisasi

    Dengan melakukan pelaporan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan

    organisasi maka diharapkan kegiatan ini mendapatkan dukungan atasan sehingga

    diharapkan dalam pelaksanaannya dapat berkontribusi dalam pelaksanaan visi

    Rumah Sakit Jiwa yaitu “Mewujudkan pelayanan kesehatan jiwa yang paripurna,

    bermutu dan berkeadilan” dan juga diharapkan dapat berkontribusi mendorong

    misi Rumah sakit jiwa yaitu “Menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa,

    penanggulangan penyalahgunaan narkoba dan kesehatan lainnya”

    Penguatan nilai organisasi

    Dengan melakukan pelaporan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan

    organisasi maka diharapkan kegiatan ini mendapatkan dukungan atasan

    sehingga diharapkan dalam pelaksanaannya akan menguatkan nilai-nilai Rumah

    sakit jiwa prov. Babel yaitu “DISPLIN” terutama nilai sopan dan senyum dalam

    bekerja, serta Isi waktu dan tidak menunda pekerjaan.

  • 2. Kegiatan 2 : Penyusunan materi PEKKA ODGJ. Kegiatan ini penting dilakukan

    sebagai upaya untuk menghasilkan bahan edukasi yang bermutu, dan

    bermanfaat, yang dapat meningkatan pemahaman dan kepuasan pasien dan

    keluarga. Kegiatan ini akan dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai

    berikut :

    a. Mengumpulkan materi psikoedukasi

    b. Melakukan Konsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa tentang

    materi psikoedukasi

    c. Menyusun materi psikoedukasi

    d. Mencetak materi PEKKA ODGJ

    Adapun pengaktualisasian nilai-nilai dasar dan nilai-nilai peranan dan

    kedudukan PNS dalam NKRI dalam tahapan-tahapan kegiatan satu ini adalah

    sebagai berikut:

    a. Akuntabilitas, Anti Korupsi, Komitmen Mutu

    Pada saat saya melaksanakan kegiatan pengumpulan materi

    psikoedukasi (tahap 1), saya akan mengaktualisasikan nilai Akuntabiltas

    berupa tanggung jawab, yaitu dengan cara berusaha sebaik mungkin

    memanfaatkan waktu saya untuk mengumpulkan materi-materi

    psikoedukasi berkualitas, berlandaskan teori ilmu kejiwaan yang nantinya

    dijadikan sebagai bahan diskusi bersama dokter spesialis yang hasilnya

    dapat dipertanggung jawabkan

    Selanjutnya adalah nilai Anti Korupsi berupa Kejujuran, yaitu dengan

    cara mengumpulkan data-data dari sumber yang terpercaya, sesuai fakta

    dengan tidak menambah atau mengurangi informasi yang didapatkan.

    Nilai yang terakhir adalah komitmen mutu yaitu Efektif, yaitu dengan

    memanfaatkan media dalam pengumpulan materi, baik cetak ataupun

    elektronik seperti buku ajar, jurmal, atau laporan penelitian. Sehingga

    dalam waktu singkat saya dapat mempersiapkan materi psikoedukasi yang

    bermutu dan berkualitas.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah bahan materi dari

    berbagai sumber.

    b. Akuntabilitas, Etika publik, dan Nasionalisme

    Pada saat saya melakukan konsultasi dengan dokter spesialis

    kedokteran jiwa (tahap 2) tentang materi psikoedukasi saya akan

    mengaktualisasikan nilai Akuntabilitas berupa kejelasan yaitu dengan

    cara aktif berdiskusi membahas materi-materi yang sudah saya siapkan

  • dan bertanyaan mengenai segala hal yang berhubungan dengan

    psikoedukasi (tata cara, materi, pelaksanaan kegiatan) kepada ahlinya,

    hingga saya memahami secara menyeluruh dan dapat menjalankan

    kegiatan ini dengan baik.

    Nilai selanjutnya adalah Etika publik berupa memelihara dan

    menjunjung tinggi etika publik serta menghargai komunikasi,

    konsultasi dan kerja sama, yaitu dengan cara berbicara dengan sopan,

    menggunakan bahasa Indonesia yang baik sehingga tercipta komunikasi

    yang efektif, serta menghargai dan menerima semua pendapat dan

    masukan yang diberikan spesialis guna keberhasilan kegiatan psikoedukasi

    ini.

    Selanjutnya nilai yang diaktualisasikan adalah nilai Nasionalisme

    berupa pancasila sila ke 4 (utamakan musyawarah dalam pengambilan

    keputusan untuk kepentingan bersama) yaitu dengan cara

    bermusyawarah bersama spesialis dalam merancang materi psikoedukasi,

    mengemukakan materi hasil pencarian yang saya dapatkan, tidak

    memaksa spsesialis agar menerima semua materi yang saya dapat, dan

    selalu siap menerima koreksi, atau perubahan yang dianjurkan spesialis

    untuk kebaikan kegiatan ini.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah notulensi hsil

    diskusi, dan dokumentasi kegiatan.

    c. Komitmen Mutu, dan Antikorupsi

    Pada saat saya melakukan penyusun materi psikoedukasi (tahap 3),

    saya akan mengaktualisasikan nilai Komitmen mutu yaitu inovatif, yaitu

    dengan cara membuat materi psikoedukasi yang menarik dalam bentuk

    leaflet, menggunakan bahasa yang mudah pasien dan keluarga paham.

    Nilai selanjutnya yang saya aktualisasikan adalah antikorupsi yaitu

    nilai kerja keras dengan cara berusaha sebaik-baiknya, mengerahkan

    semua kemampuan diri saya dalam menyusun materi psikoedukasi

    menggunakan bahasa yang mudah dipahami orang awam, dan membuat

    tampilan materi semenarik mungkin hingga menimbulkan minat orang lain

    untuk membaca.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah draft materi.

    d. Manajemen ASN, dan Pelayanan Publik

    Pada saat saya melakukan kegiatan mencetak materi PEKKA ODGJ

    (tahap 4) saya akan mengaktualisasikan manajemen ASN berupa

  • penerapan kode etik ASN yaitu Memberikan informasi secara benar

    dan tidak menyesatkan kepada pihak lain yang memerlukan informasi

    terkait kepentingan kedinasan, dengan cara memastikan kembali isi

    materi yang akan saya cetak sudah tepat, bahasa yang digunakan mudah

    untuk dimengerti, sehingga nantinya materi tersebut tidak membingungkan

    atau menyesatkan penggunanya.

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah pelayanan

    publik berupa nilai aksesibel, yaitu dengan mencetak materi psikoedukasi

    dalam bentuk leaflet, dan menyebarkannya ke setiap ruang rawat inap

    sehingga memudahkan keluarga dan pasien untuk mengakses materi

    tersebut.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah brosur atau

    leaflet PEKKA ODGJ.

    Kontribusi Terhadap Visi Dan Misi Organisasi

    Dengan melakukan Penyusunan Materi PEKKA ODGJ maka diharapkan

    kegiatan ini akan menghasilkan bahan edukasi yang bermutu, dan bermanfaat,

    yang dapat meningkatan pemahaman dan kepuasan pasien dan keluarga

    sehingga dapat berkontribusi dalam pelaksanaan visi Rumah Sakit Jiwa yaitu

    “Mewujudkan pelayanan kesehatan jiwa yang paripurna, bermutu dan berkeadilan”

    dan juga diharapkan dapat berkontribusi mendorong misi Rumah sakit jiwa yaitu

    “Menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa, penanggulangan penyalahgunaan

    narkoba dan kesehatan lainnya”

    Penguatan nilai organisasi

    Dengan melakukan Penyusunan Materi PEKKA ODGJ maka diharapkan

    kegiatan ini akan menghasilkan bahan edukasi yang bermutu, dan bermanfaat,

    yang dapat meningkakan pemahaman dan kepuasan pasien dan keluarga

    sehingga akan menguatkan nilai-nilai Rumah sakit jiwa prov. Babel yaitu

    “DISPLIN” terutama nilai Pelayanan terbaik untuk mencapai hasil optimal.

    3. Kegiatan 3 : Sosialisasi PEKKA ODGJ kepada tenaga medis. Kegiatan ini akan

    dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

    a. Membuat undangan rapat melalui ketua komite medik

    b. Melakukan sosialisasi mengenai PEKKA ODGJ

    c. Melakukan diskusi dengan para dokter

  • Adapun pengaktualisasian nilai-nilai dasar dan nilai-nilai peranan dan

    kedudukan PNS dalam NKRI dalam tahapan-tahapan kegiatan satu ini adalah

    sebagai berikut:

    a. WoG

    Pada tahap membuat undangan rapat melalui ketua komite medik

    (tahap 1), saya akan mengaktualisasikan nilai WoG yaitu koordinasi

    dengan cara menemui ketua komite medik, kemudian menjelaskan secara

    rinci dan menggunakan bahasa yang sopan mengenai rencana kegiatan

    sosialisasi PEKKA ODGJ, serta meminta kesedian beliau untuk

    menandatangi surat undangan yang akan disebar.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah surat undangan

    rapat.

    b. Akuntabilitas, Etika publik, dan Komitmen mutu

    Pada tahap sosialisasi mengenai PEKKA ODGJ (Tahap 2) saya akan

    mengaktualisasikan nilai akuntabilias yaitu kepemimpinan. Sebagai

    perencana kegiatan ini saya akan memaparkan rencana PEKKA ODGJ ini

    dengan jelas, dan berkomitmen akan menjalankan kegiatan secara

    sungguh-sungguh, serta mengajak peserta sosialisasi untuk dapat

    membantu kegiatan ini agar terlaksana

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah etika publik

    yaitu memelihara dan menjunjung tinggi etika luhur, dengan cara

    menyampaiakan sosialisasi menggunakan bahasa yang baik, bersikap

    sopan, dan mau menerima masukan, sehingga kegiatan dapat berjalan

    lancar, dan diharapkan akan mendapat dukungan penuh dari peserta

    sosialisasi untuk turut berkontribusi aktif dalam kegiatan.

    Nilai terakhir yang akan saya aktualisasikan adalah nilai komitmen

    mutu yaitu efisien, dengan cara mengadakan sosialisasi secara

    bersamaan kepada seluruh tenaga kesehatan yang akan terlibat dalam

    kegiatan, sehingga lebih mengefisienkan waktu dan tenaga, mengingat

    kegiatan aktualisasi ini harus dapat diselesaikan dalam waktu 30 hari.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah materi

    sosialisasi, dan dokumentasi kegiatan.

    c. Nasionalisme, Anti korupsi, dan Pelayanan publik

    Pada tahap diskusi dengan para dokter umum ( tahap 3), saya akan

    mengaktualisasikan nilai nasionalisme yaitu Pancasila Sila ke 4

  • (utamakan musyawarah dalam pengambilan keputusan untuk

    kepentingan bersama) dengan berdiskusi mengutamakan musyawarah,

    saling berpendapat memberikan masukan atau perbaikan hingga mencapai

    kesepakatan dan kesepahaman mengenai kegiatan PEKKA ODGJ ini.

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah nilai Anti

    korupsi yaitu jujur, dengan cara memaparkan semua rancangan kegiatan

    secara terbuka, apa adanya kepada teman sejawat sehingga mereka

    memiliki pemahaman yang sama.

    NIlai terakhir yan akan saya aktualisasikan adalah pelayanan publik

    yaitu partisipatif, dengan cara mengajak dokter umum lainnya untuk

    diskusi, dan memberi penilaian, masukan mengenai rencana kegiatan ini

    apakah sudah cukup baik, serta mengajak mereka untuk turut berpartisipasi

    dalam menjalankan kegiatan ini.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah notulensi

    kegiatan dokumentasi.

    Kontribusi Terhadap Visi Dan Misi Organisasi

    Dengan melakukan Sosialisasi PEKKA ODGJ maka diharapkan para tenaga

    medis dapat mengerti, memahami, dan turut serta membantu kegiatan PEKKA

    ODGJ sehingga dapat berjalan dengan baik dan berkontribusi dalam

    pelaksanaan visi Rumah Sakit Jiwa yaitu “Mewujudkan pelayanan kesehatan jiwa

    yang paripurna, bermutu dan berkeadilan” dan juga diharapkan dapat

    berkontribusi mendorong misi Rumah sakit jiwa yaitu “Menyelenggarakan

    pelayanan kesehatan jiwa, penanggulangan penyalahgunaan narkoba dan

    kesehatan lainnya”

    Penguatan nilai organisasi

    Dengan melakukan Sosialisasi PEKKA ODGJ maka diharapkan para tenaga

    medis dapat mengerti, memahami, dan turut serta membantu kegiatan PEKKA

    ODGJ sehingga dapat berjalan dengan baik dan diharapkan akan menguatkan

    nilai-nilai Rumah sakit jiwa prov. Babel yaitu “DISPLIN” terutama nilai Pelayanan

    terbaik untuk mencapai hasil optimal.

    4. Kegiatan 4 : Persiapan akhir PEKKA ODGJ. Kegiatan ini akan dilakukan

    melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

    a. Mengumpulkan data pasien yang akan pulang

  • b. Menyiapkan dan membagikan brosur materi psikoedukasi ke ruang-ruang

    perawatan

    c. Melakukan koordinasi dengan perawat ruangan mengenai pelaporan

    pasien yang akan pulang ke dokter jaga

    Adapun pengaktualisasian nilai-nilai dasar dan nilai-nilai peranan dan

    kedudukan PNS dalam NKRI dalam tahapan-tahapan kegiatan satu ini adalah

    sebagai berikut:

    a. Nasionallisme, dan Komitmen mutu

    Pada saat melakukan kegiatan mengumpulkan data pasien yang akan

    pulang (tahap 1), saya akan mengaktualisasikan nilai nasionalisme sila ke

    2 pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, dengan cara

    mendata semua pasien rawat inap yang sudah disetujui oleh dokter

    penanggung jawab pasien (DPJP) untuk pulang, tanpa memandang latar

    belakang sosial, agama, pendidikan, ataupun diagnosanya. Sehingga

    mereka memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam kegiatan ini.

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah komitmen mutu

    yaitu efekif, dengan cara mendata pasien yang akan pulang dengan

    melihat catatan perkembangan perawatan yang ada ditiap ruangan. Hal ini

    lebih efektif dibandingkan dengan membuka satu persatu buku rekam

    medis pasien yang membutuhkan waktu lebih banyak.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah daftar nama

    pasien yang akan pulang.

    b. Akuntabilitas, dan Antikorupsi

    Dalam melaksanakan kegiatan menyiapkan dan membagikan brosur

    materi psikoedukasi ke ruang-ruang perawatan (tahap 2), saya akan

    mengaktualisasikan nilai akuntabilitas yaitu tanggung jawab, dengan

    cara memastikan kembali brosur tersebut sebelum disebar ke ruang

    perawatan bahwa tampilan, dan isi materinya sudah sesuai, serta

    membagikan materi tersebut ke seluruh ruang perawatan tanpa terkecuali.

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah antikorupsi

    yaitu adil, dengan cara membagikan brosur ke tiap ruangan sesuai dengan

    kebutuhannya. Dimana saya akan memberikan brosur lebih banyak di

    ruang tenang dibandingkan ruang perawatan intensif, dikarenakan

    sebagian besar pasien yang akan pulang berasal dari ruang tenang.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah dokumentasi

    kegiatan.

  • c. Etika publik, dan WoG

    Dalam melaksanakan kegiatan melakukan koordinasi dengan perawat

    ruangan mengenai pelaporan pasien yang akan pulang ke dokter jaga

    (tahap 3), saya akan mengaktualisasikan nilai etika publik yaitu

    menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama, dengan cara

    berkomunikasi efektif, sopan, dan selalu berterimakasih atas bantuan yang

    diterima.

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah WoG yaitu

    koordinasi, dengan cara bersama-sama dengan kepala ruangan untuk

    membentuk perawat penanggung jawab yang bertugas menginformasikan

    ke dokter jaga mengenai pasien yang sudah dijemput keluaraga.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah daftar perawat

    penanggung jawab PEKKA ODGJ.

    Kontribusi Terhadap Visi Dan Misi Organisasi

    Dengan melakukan persiapan akhir PEKKA ODGJ maka diharapkan semua

    hal yang berkaitan dengan kegiatan sudah siap, tidak ada lagi yang kurang,

    sehingga kegiatan PEKKA ODGJ ini dapat berjalan dengan lancar, mendapatkan

    dukungan semua pihak yang terkait dan dalam pelaksanaannya dapat

    berkontribusi dalam mewujudkan visi Rumah Sakit Jiwa yaitu “Mewujudkan

    pelayanan kesehatan jiwa yang paripurna, bermutu dan berkeadilan” dan juga

    diharapkan dapat turut serta mendorong keberhasilan misi Rumah sakit jiwa yaitu

    “Menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa, penanggulangan penyalahgunaan

    narkoba dan kesehatan lainnya”

    Penguatan nilai organisasi

    Dengan melakukan persiapan akhir PEKKA ODGJ maka diharapkan semua

    hal yang berkaitan dengan kegiatan sudah siap, tidak ada lagi yang kurang,

    sehingga kegiatan PEKKA ODGJ ini dapat berjalan dengan lancar, mendapatkan

    dukungan semua pihak yang terkait dan diharapkan akan menguatkan nilai-nilai

    Rumah sakit jiwa prov. Babel yaitu “DISPLIN” terutama nilai Pelayanan terbaik

    untuk mencapai hasil optimal.

    5. Kegiatan 5 : Pelaksanakan PEKKA ODGJ. Kegiatan ini akan dilakukan melalui

    tahapan-tahapan sebagai berikut :

    a. Memberikan psikoedukasi kepada pasien dan keluarga

  • b. Menulis kegiatan psikoedukasi dalam status pasien

    c. Membagikan brosur kepada pasien dan keluarga pasien

    Adapun pengaktualisasian nilai-nilai dasar dan nilai-nilai peranan dan

    kedudukan PNS dalam NKRI dalam tahapan-tahapan kegiatan satu ini adalah

    sebagai berikut:

    a. Nasionalisme, Akuntabilitas, Etika Publik

    Pada saat melaksanakan kegiatan psikoedukasi kepada pasien dan

    keluarga (tahap 1), saya akan mengaktualisasikan nilai Nasionalisme

    yaitu pancasila sila ke 2 (butir ke 2 yaitu Mengakui persamaan derajat,

    persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-

    bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,

    kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya), dengan cara

    memberikan psikoedukasi kepada semua pasien yan pulang beserta

    keluarganya, tanpa membedakan status, dan menggunakan segenap

    penegetahuan saya, sehingga meningkatkan pemahaman mereka

    mengenai kesehatan jiwa.

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah Akuntabilitas

    yaitu nilai integritas, dengan cara bersungguh-sungguh dalam

    penyampaian materi psikoedukasi, menggunakan segenap kemampuan

    dan keilmuan saya dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.

    Nilai terakhir yang saya aktualisasikan adalah Etika publik yaitu nilai

    dasar etika publik yang memberikan layanan kepada publik secara

    jujur, tanggap, cepat, tapat, akurat, budaya guna, berhasil guna, dan

    santun. Dalam penyampaian materi psikoedukasi saya akan menciptakan

    suasana yang santai, tidak mengurui, dan memberikan kesempatan

    sebesar-besarnya bagi mereka untuk bertanya, tetapi tetap dengan

    menyampaikan materi yang sesuai dengan ilmunya. Sehingga diharapkan

    setelah selesai psikoedukasi keluarga akan memahami sepenuhnya

    mengenai kondisi pasien.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah dokumentasi

    psikoedukasi.

    b. Komitmen mutu, Akuntabilitas,

    Dengan melakukan pencatatan kegiatan psikoedukasi dalam status

    pasien (tahap 2), saya akan mengaktualisasikan nilai Akuntabilitas yaitu

    kejelasan. Dengan melakukan pencatatan kegiatan di rekam medis pasien,

  • maka semua kegiatan saya akan menjadi terpantau, jelas, dan dapat

    dipertanggungjawabkan. Selain itu juga memudahkan saya dalam

    pengumpulan data hasil kegiatan.

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah komitmen

    mutu, yaitu dengan melakukan pencatatan kegiatan di rekam medis

    pasien, maka saya sudah menjalankan salah satu standar pelayanan yang

    ditetapkan oleh RSJ yaitu mendokumentasikan apapun kegiatan atau

    tindakan yang kita lakukan ke pasien dengan menulis di rekam medis pada

    bagian catatan perkembangan harian.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah dokumentasi

    rekam medis pasien.

    c. Pelayanan publik

    Dengan melakukan kegiatan membagikan brosur kepada pasien dan

    keluarga pasien (tahap 3), maka saya akan mengaktualisasikan nilai

    pelayanan publik yaitu berkeadilan, dengan cara memberikan materi

    psikoedukasi dalam bentuk leaflet kepada semua keluarga dan pasien yang

    sudah mengikuti kegiatan psikoedukasi, tanpa membedakan latar belakang

    ataupun status mereka.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah dokumentasi

    kegiatan.

    Kontribusi Terhadap Visi Dan Misi Organisasi

    Dengan melakukan kegiatan PEKKA ODGJ maka diharapkan dapat

    meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai hal-hal terkait masalah

    penyakit pasien, dan meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga terhadap

    pelayanan di RSJ Prov. Babel, sehingga dapat berkontribusi dalam mewujudkan

    visi Rumah Sakit Jiwa yaitu “Mewujudkan pelayanan kesehatan jiwa yang

    paripurna, bermutu dan berkeadilan” dan juga diharapkan dapat turut serta

    mendorong keberhasilan misi Rumah sakit jiwa yaitu “Menyelenggarakan

    pelayanan kesehatan jiwa, penanggulangan penyalahgunaan narkoba dan

    kesehatan lainnya”.

    Penguatan nilai organisasi

  • Dengan melakukan kegiatan PEKKA ODGJ maka diharapkan dapat

    meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai hal-hal terkait masalah

    penyakit pasien, dan meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga terhadap

    pelayanan di RSJ Prov. Babel, sehingga diharapkan akan menguatkan nilai-nilai

    Rumah sakit jiwa prov. Babel yaitu “DISPLIN” terutama nilai Pelayanan terbaik

    untuk mencapai hasil optimal, dan Sopan dan Senyum dalam bekerja.

    6. Kegiatan 6 : Menyusun Laporan Kegiatan. Kegiatan ini akan dilakukan melalui

    tahapan-tahapan sebagai berikut :

    a. Mengumpulkan data kegiatan PEKKA ODGJ

    b. Mengolah data kegiatan PEKKA ODGJ

    c. Mencetak laporan kegiatan

    d. Pemaparan hasil kegiatan kepada atasan

    Adapun pengaktualisasian nilai-nilai dasar dan nilai-nilai peranan dan

    kedudukan PNS dalam NKRI dalam tahapan-tahapan kegiatan satu ini adalah

    sebagai berikut:

    a. Akuntabilitas, WoG, dan Etika Publik

    Pada saat melakukan kegiatan mengumpulkan data kegiatan PEKKA

    ODGJ (tahap 1) saya akan mengaktualisasikan nilai Akuntabilitas yaitu

    tanggung jawab, dengan cara mengumpulkan semua hasil kegiatan

    aktualisasi mulai dari awal hingga akhir secara teliti, baik kegiatan tersebut

    terlaksana ataupun tidak yang hasilnya akan saya laporkan ke atasan, dan

    saya presentasikan dalam seminar evaluasi aktualisasi dengan penuh

    tanggung jawab.

    Nilai selanjutnya yang akan saya aktualisasikan adalah WoG yaitu

    koordinasi. Dalam kegiatan pengumpulan data, saya akan berkoordinasi

    dengan tenaga medis lain (sesama dokter umum ataupun perawat

    ruangan) yang terkait dalam kegiatan PEKKA ODGJ, sehingga data-data

    kegiatan dapat dengan mudah dikumpulkan.

    Nilai terakhir yang akan saya aktualisasikan adalah Etika publik yaitu

    nilai dasar etik berupa memelihara dan menjunjung tinggi etika luhur,

    dengan cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik, sopan, dan tidak

    terkesan memerintah, saat berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lain

    dalam pengumpulan data hasil kegiatan.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah data hasil

    kegiatan, dan dokumentasi.

  • b. Akuntabilitas, dan Antikorupsi

    Dalam tahapan mengelola data kegiatan PEKKA ODGJ (tahap 2), saya

    akan mengaktualisasikan nilai akuntabilitas yaitu Integritas, dengan cara

    menyusun laporan semua kegiatan yang benar-benar saya lakukan, dan

    tidak mengada-ada.

    Nilai selanjutnya yang saya aktualisasikan adalah Antikorupsi yaitu

    tanggung jawab, dengan cara mengelola data kegiatan sebaik mungkin,

    menyusunan laporan sesuai dengan aturan penulisan, dan melampirkan

    bukti kegiatan sehingga menghasilkan laporan yang dapat dipertanggung

    jawabkan. Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah data draft

    laporan akhir.

    c. Etika Publik

    Dalam tahapan mencetak laporan kegiatan PEKKA ODGJ (tahap 3),

    saya akan mengaktualisasikan nilai etika publik yaitu melaksanakan

    tugas dengan cermat dan disiplin, yaitu dengan cara memastikan dan

    mencermati kembali semua data kegiatan apakah sudah tercantum dalam

    laporan akhir beserta dengan bukti kegiatan agar kedepannya tidak

    ditemukan kekurangan saat tahapan pemaparan akhir.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah laporan akhir.

    d. Pelayan Publik, dan Etika Publik

    Dalam tahapan memaparkan hasil kegiatan kepada atasan (tahap 4),

    saya akan mengaktualisasikan nilai pelayan publik yaitu transparan,

    dengan cara melaporkan semua hasil kegiatan secara terbuka, jujur, apa

    adanya sesuai dengan fakta dilapangan saat kegiatan berlangsung.

    Nilai selanjutnya yang diterapkan adalah etika publik yaitu

    menghargai komunikasi, konsultasi dan kerja sama, dengan cara

    berkomunikasi secara efektif selama memaparkan hasil kegiatan,

    menerima segala masukan, dan kritik yang membangun agar kedepannya

    kegiatan ini dapat terlaksana lebih baik dan menjadi habituasi.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah notulensi

    kegiatan, dan dokumentasi.

    Kontribusi Terhadap Visi Dan Misi Organisasi

    Dengan melakukan penyusunan laporan kegiatan, maka akan memudahkan

    penulis dalam melaporkan hasil kegiatan ke atasan, dan dalam kegiatan seminar

    hasil aktualisasi. Selain itu diharapkan hasil laporan dapat penulis jadikan

  • panduan dalam habituasi kegiatan ini kedepannya, yang mana diharapkan dapat

    berkontribusi dalam pelaksanaan visi Rumah Sakit Jiwa yaitu “Mewujudkan

    pelayanan kesehatan jiwa yang paripurna, bermutu dan berkeadilan” dan juga

    diharapkan dapat berkontribusi mendorong misi Rumah sakit jiwa yaitu

    “Menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa, penanggulangan penyalahgunaan

    narkoba dan kesehatan lainnya”.

    Penguatan nilai organisasi

    Dengan melakukan penyusunan laporan kegiatan, maka akan memudahkan

    penulis dalam melaporkan hasil kegiatan ke atasan, dan dalam kegiatan seminar

    hasil aktualisasi. Selain itu diharapkan hasil laporan dapat penulis jadikan

    panduan dalam habituasi kegiatan ini kedepannya, yang mana diharapkan

    sehingga diharapkan akan menguatkan nilai-nilai Rumah sakit jiwa prov. Babel

    yaitu “DISPLIN” terutama nilai Pelayanan terbaik untuk mencapai hasil optimal.

    3.5 Jadwal Recana Kegiatan

    Kegiatan yang telah diuraikan diatas akan dilaksanakan selama masa off

    campus di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

    Tabel 3.2 Jadwal Rencana Kegiatan

    NO KEGIATAN APRIL MEI

    I II III IV I II III IV

    1 Melaporkan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan organisasi

    2 Penyusunan materi PEKKA ODGJ

    3 Sosialisasi PEKKA ODGJ kepada tenaga medis

    4 Persiapan akhir PEKKA ODGJ

    5 Pelaksanakan PEKKA ODGJ

    6 Menyusun Laporan Kegiatan

  • BAB IV

    CAPAIAN AKTUALISASI

    4.1 Deskripsi Core Isu dan Strategi Penyelesaiannya

    Dari isu yang yang terpilih core issue yaitu belum optimalnya pelaksanaan

    psikoedukasi oleh dokter terhadap pasien pasca rawatan yang akan pulang dan

    keluarganya, maka penulis berupaya untuk mengoptimalkan kegiatan untuk dapat

    memecahkan masalah tersebut. Apabila masalah/isu tersebut belum dapat

    diselesaikan maka akan berpengaruh terhadap pencapaian visi dan misi organisasi

    yang telah ditentukan. Selain itu jika isu tidak bisa dicarikan permasalahannya maka

    mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :

    1. Kurangnya pemahaman pihak keluarga mengenai kondisi pasien, yang dapat

    menyebabkan peningkatan kejadian penelantaran ODGJ, peningkatan kejadian

    pasung, dan kurangnya dukungan sosial

    2. Kurangnya pemahaman pasien mengenai penyakitnya yang menyebabkan

    penurunan tingkat kepatuhan untuk minum obat,serta peningkatan kasus putus

    berobat

    3. Meningkatnya kasus readmisi ODGJ yang sudah dipulangkan dari rawat inap.

    4.2 Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi

    Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi

    NO KEGIATAN APRIL MEI

    I II III IV I II III IV

    1 Melaporkan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan organisasi

    2 Penyusunan materi PEKKA ODGJ

    3 Sosialisasi PEKKA ODGJ kepada tenaga medis

    4 Persiapan akhir PEKKA ODGJ

    5 Pelaksanakan PEKKA ODGJ

  • 6 Menyusun Laporan Kegiatan

    4.3 Hasil Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi dan Analisis Dampak Apabila Nilai-

    Nilai Dasar PNS Tidak Diaktualisasikan

    Berdasarkan hasil aktualisasi yang telah dilaksanakan dari tanggal 17 April 2019

    sampai dengan tanggal 22 April 2019 yang terdiri dari 6 (enam) kegiatan yaitu :

    1. Melaporkan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan organisasi;

    2. Penyusunan materi PEKKA ODGJ;

    3. Sosialisasi PEKKA ODGJ kepada tenaga medis dan konsultasi dengan dokter

    umum;

    4. Persiapan akhir PEKKA ODGJ;

    5. Pelaksanakan PEKKA ODGJ;

    6. Menyusun Laporan Kegiatan.

    Dari uraian kegiatan yang telah penulis aktualisasikan, maka penulis akan

    menjelaskan satu persatu dari masing-masing kegiatan tersebut.

    1. Melaporkan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan organisasi.

    Kegiatan pelaporan rencana kegiatan aktualisasi ke pimpinan organisasi ini

    penting dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan dalam

    pelaksanaan aktualisasi. Selain itu agar atasan mendapatkan gambaran

    mengenai pelaksanaan aktualisasi sehingga dapat memberikan masukan,

    pendapat, dan kebijakan terhadap pelaksanaan aktualisasi. Kegiatan ini telah

    saya laksanakan selama 5 (lima) hari yaitu dari tanggal 18 April 2019 hingga

    tanggal 22 April 2019 di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka

    Belitung. Kegiatan tersebut telah saya aktualisasikan sesuai dengan tahapan-

    tahapan yang telah saya rancang/rencanakan dan setiap tahapan kegiatan yang

    saya lakukan telah mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS yaitu ANEKA

    (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi)

    dan nilai-nilai kedudukan serta peran PNS dalam NKRI (Manajemen ASN, WoG

    dan Pelayanan Publik). Pelaksanaan tahapan tersebut akan saya uraikan

    sebagai berikut:Pelaksanaan tahapan tersebut akan saya uraikan sebagai

    berikut:

  • a. Melaksanakan diskusi dengan mentor tentang pemantapan rencana kegiatan

    yang akan diaktualisasikan

    Tahapan ini telah saya laksanakan pada hari Kamis tanggal 18 April

    2019 bertempat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka

    Belitung. Nilai-nilai dasar PNS dan kedudukan dalam NKRI telah saya

    aktualisasikan pada tahapan 1 kegiatan 1 ini yaitu ;

    Nasionalisme, Etika Publik

    Pada saat saya melaksanakan diskusi dengan mentor tentang

    pemantapan rencana kegiatan (tahap 1), saya telah mengaktualisasikan nilai

    Nasionalisme berupa pancasila sila ke 4 (utamakan musyawarah dalam

    pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama) yaitu pada saat

    berdiskusi saya mengutamakan musyawarah bersama mentor, saling

    berpendapat dan mengajukan usul atau perbaikan hingga mencapai

    kesepakatan dalam pengambilan keputusan untuk kelancaran pelaksanaan

    kegiatan.

    Nilai selanjutnya yang saya aktualisasikan pada tahap ini adalah nilai

    Etika Publik berupa “Menghargai komunikasi, konsultasi, dan

    kerjasama” dengan cara selama berkonsultasi saya berbicara sopan,

    ramah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik sehingga diskusi

    berjalan lancar, dan mencapai persamaan pemahaman mengenai kegiatan.

    Analisa dampak jika nilai ANEKA dan peran kedudukan ASN tidak

    diterapkan pada tahapan ini adalah :

    - Jika melaksanakan diskusi dengan mentor tentang pemantapan

    rencana kegiatan tidak dilakukan secara bermusyawarah maka

    tidak akan dicapai kesepakatan dalam rencana pelaksanaan

    PEKKA ODGJ.

    - Jika selama berdiskusi tidak menggunakan bahasa yang sopan,

    ramah maka mentor tidak akan memahami apa rencana kegiatan

    yang akan saya aktualisasikan.

    Adapun hasil/output melaksanakan tahapan ini adalah kesepakatan

    dengan mentor tentang rencana aktualisasi, notulensi diskusi, dan

    dokumentasi kegiatan.

  • Gambar 4.1 Diskusi dengan Mentor & Notulensi Diskusi

    b. Menyiapkan data-data kondisi saat ini terkait isu yang diangkat

    Tahapan ini telah saya laksanakan pada hari Sabtu tanggal 18 April

    2019 bertempat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka

    Belitung. Nilai-nilai dasar PNS dan kedudukan dalam NKRI telah saya

    aktualisasikan pada tahapan 2 kegiatan 1 ini yaitu :

    Akuntabilitas, Anti Korupsi

    Pada tahap menyiapkan data-data kondisi saat ini terkait isu yang

    diangkat (tahap 2), saya telah mengaktualisasikan nilai akuntabilitas

    berupa “tanggung jawab”, dengan cara mengumpulkan informasi atau data

    dari sumber yang valid, secara teliti sehingga hasilnya dapat dipertanggung

    jawabkan.

    Selanjutnya nilai anti korupsi berupa ”Kejujuran” yaitu dengan

    mengumpulkan semua data terkait isu, tidak memanipulasi data, dan

    menyampaikan semua data apa adanya.

    Analisa dampak jika nilai ANEKA dan peran kedudukan ASN tidak

    diterapkan pada tahapan ini adalah :

    - Jika pengumpulan data tidak dilakukan