KRITIK ARSITEKTUR LINGKUNGAN (SETTING) KRITIK Universitas ... Kritik otoritarian, kritik yang diberikan

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KRITIK ARSITEKTUR LINGKUNGAN (SETTING) KRITIK Universitas ... Kritik otoritarian, kritik yang...

  • KRITIK ARSITEKTUR LINGKUNGAN (SETTING) KRITIK

    Universitas Teknologi Yogyakarta November 2016

    Sherlia

  • Suatu keadaan dimana biasanya terjadi tindakan/perbuatan mengkritik, diidentifikasi menjadi 5:

    Self Authority Expert Peer Layman

    Dimana kategori ini merujuk kepada keadaan/situasi dan peran yang diambil/diusung oleh kritik.

  • Tindakan mengkritisi diri sendiri: Situasi dimana desainer atau pengambil

    keputusan mengkritisi dirinya sendiri di dalam proses perancangan.

    1. SELF CRITICISM

    Self-criticism adalah ciri utama dari pemikiran deliberatif. Survey atau penelitian jenis kritik ini masih sedikit.

  • Menurut Elliot (1932):

    “Mengkritisi karya sendiri adalah jenis kritik tertinggi (the highest kind of criticism).”

  • Menurut Shahn (1957):

    “Seorang artis di dalam pengerjaan suatu karya lukisan pastilah terdiri dari dua orang: sang pemimpi/pencari imajinasi dan produser/yang menghasilkan karya. Selain itu, dia jugalah

    kritikusnya…”

  • Menurut Collins (1968):

    “Perbedaan criticism dan self-criticism adalah jumlah orang yang terlibat.”

  • 1. The ‘should’ voices 2. Should voice #1: Authority 3. Should voice #2: Peer 4. The fear voices 5. The cautionary voice

    Beberapa konseptual suara (voices) yang terjadi ketika mengkritisi diri sendiri di dalam proses perancangan:

  • 1. The ‘should’ voices suara yang mencoba meyakinkan saya bahwa saya harus melakukan ini dan melakukan itu. 2. Should voice #1: Authority suara yang memberitahu saya bahwa saya naif dan tidak kompeten dan bahwa saya seharusnya bisa menjadi lebih baik dari ini. 3. Should voice #2: Peer kita sebagai profesional mempunyai tanggung jawab tertentu yang harus dilakukan sehingga kita seharusnya menjadi profesional yang bertanggung jawab. 4. The fear voices suara ketakutan, ketakutan akan kegagalan yang malah membuat saya berhenti merancang. 5. The cautionary voice suara yang membantu mengingatkan saya ketika saya salah, saya terburu-buru, dan apa yang saya lakukan sudah benar.

  • ?

  • ?

  • Seperti apa proses

    mengkritisi diri sendiri ketika merancang?

    ?

  • Proses evaluatif? Selalu mencari bentuk terbaik? Tidak pernah berhenti pada

    suatu titik.

  • Kritik otoritarian, kritik yang diberikan oleh seseorang yang mempunyai kekuasaan pada posisi sosial atau

    hierarkhi pekerjaan (seperti Bos/Arsitek Kepala, Guru/Dosen).

    2. THE AUTHORITATIVE

    SETTING

    Kritik jenis ini terjadi di studio perancangan arsitektur (sekolah maupun biro arsitek).

  • Kritik otoritarian merupakan bagian dari kurikulum pendidikan arsitektur.

    Pergeseran peran dosen menjadi semi-otoritarian.

  • Apa basis dari kritikus jenis ini

    ketika mengkritisi?

    ?

  • Apa tujuan dari kritik jenis ini?

    ?

  • Jika kritiknya negatif, hal tersebut bukan karena personal, tetapi ada alasan/argumennya. Sehingga, audiens kritik jangan merasa kecil hati, tetapi harus melihat kritik sebagai suatu

    feedback.

    Tentu saja pemberi kritik harus memberikan argumen yang jelas dan bisa dimengerti oleh audiensnya.

  • Kritik yang diberikan oleh seseorang yang memang ahli di bidang mengkritik (seperti jurnalis koran/majalah dan sejarawan).

    Pengaruh yang diberikan oleh ahli kritik/kritikus berasal dari

    pandangan luas terhadap suatu keadaan yang diperoleh dari informasi, imajinasi dan pengalaman.

    Kritik ini tidak mempunyai pengaruh terhadap objek kritiknya, melainkan berusaha untuk mengimpresi audiens.

    3. EXPERT

  • MAJALAH. KORAN. JURNAL.

    MEDIA BARU?

  • DIGITAL PLATFORM

  • Kritikus dengan sasaran kritiknya mempunyai tingkatan/hierarkhi yang sama (arsitek mengomentari

    karya dari arsitek lain)

    Contoh pada design award, atau buku.

    4. PEER

  • Kritik yang diberikan oleh seseorang yang berlatar-belakang bukan desainer atau

    kritikus.

    5. LAYMAN

  • 1. Attitude towards the environment 2. Adoptive behaviour within the

    environment 3. Unintentional modification of the

    environment 4. Intentional modification of the

    environment

    4 kategori respon dari kritik yang diutarakan oleh Layman:

  • Surat pembaca kepada editor majalah atau koran.

    1. Attitude towards the environment

    Survey, wawancara, dan simulasi terhadap pengguna bangunan (user) untuk mengetahui respon mereka terhadap bangunan.

  • 2. Adoptive behaviour

    Ketepatan yang tercipta dari desain fisik dan kebutuhan pengguna. Dimana ketepatan ini muncul karena adanya perilaku adoptif dari penggunanya.

  • 3. Unintentional modification of the environment

    Kritik yang diberikan oleh Layman dengan cara memodifikasi suatu lingkungan. Modifikasi ini muncul karena ada penggunaan yang terus berulang.

  • 4. Intentional modification of the environment

    Ada ketidakpuasan antara desain fisik dengan kebutuhan pengguna sehingga bangunan/lingkungan dimodifikasi.

  • Respon dari Layman muncul setelah

    bangunan/lingkungan terbangun.

    Solusi:

    ada baiknya Layman mengikuti/memberikan kontribusi pandangan di

    dalam proses perancangan.

  • Apa perbedaan ke-5 kategori ini?

    Self Authority Expert Peer Layman

  • KUIS

  • 1. Apa perbedaan antara metode

    Kritik NORMATIF dengan Kritik INTERPRETIF?

  • 2. Sebutkan dan jelaskan salah

    satu Teknik dari RETORIKA di dalam kritik arsitektur.

  • TUGAS INDIVIDU:

    Self-criticism dan Peer-criticism: Studi kasus dari karya kalian di studio

    perancangan.

    Kritik karya kalian sendiri dan karya teman kalian. Fokus kritik pada Konsep, Program Ruang, dan Bentukkan. Format: PPT/Word. Deadline: 6 Desember 2016 (kirim via email ke sherlia.fauzi@gmail.com)

  • Thanks! Any questions? You can find me at: sherlia.fauzi@gmail.com