Karya Tulis Tentang Peran Perawat Sebagai Konselor Berhenti Merokok

  • View
    114

  • Download
    8

Embed Size (px)

Text of Karya Tulis Tentang Peran Perawat Sebagai Konselor Berhenti Merokok

OPTIMALISASI PERAN PERAWAT KOMUNITAS SEBAGAI KONSELOR DALAM UPAYA PROGRAM BERHENTI MEROKOK DI POLI PAL UPTD PUSKESMAS PANONGAN KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2014

KARYA TULIS ILMIAHDiajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna mengikuti seleksi tenaga kesehatan teladan Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka tahun 2014

Disusun Oleh :

SUJANA, S.Kep., NsNIP. 197503242005011004

DINAS KESEHATAN KABUPATEN MAJALENGKAPEMERINTAH KABUPATEN MAJALENGKAMAJALENGKA2014

ABSTRAK

OPTIMALISASI PERAN PERAWAT KOMUNITAS SEBAGAI KONSELOR DALAM UPAYA PROGRAM BERHENTI MEROKOK DI POLI PAL UPTD PUSKESMAS PANONGAN KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2014

iv+37 halaman, 2 gambar, 2 lampiran

Indonesia menjadi negara ketiga dengan jumlah perokok aktif terbanyak di dunia 61,4 juta perokok setelah Cina dan India, sekitar 60 persen pria dan 4,5 persen wanita di Indonesia adalah perokok. Sementara itu, perokok pada anak dan remaja juga terus meningkat dan 43 juta dari 97 juta warga Indonesia adalah perokok pasif. Tingginya jumlah perokok aktif tersebut berbanding lurus dengan jumlah non-smoker yang terpapar asap rokok orang lain (second hand smoke) dan 11,4 juta diantaranya berusia 0-4 tahun. Di Puskesmas Panongan berdasarkan hasil observasi tercatat 90,48% dari pengunjung pria dengan gangguan pernapasan di Poli PAL adalah perokok aktif, dan 86,95% dari pengunjung wanita adalah perokok pasif. Tingginya angka perokok aktif tersebut merupakan ancaman serius terhadap derajat kesehatan masyarakat, khususnya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Panongan sehingga diperlukan upaya dari berbagai pihak untuk melindungi generasi masa kini dan masa mendatang dari dampak konsumsi tembakau dan paparan asap rokok terhadap Upaya yang telah dilakukan di Puskesmas Panongan khususnya di Poli PAL sebagai wujud implementasi peran perawat sebagai konselor dalam upaya mendukung program berhenti merokok dan kampanye anti rokok adalah konseling berhenti merokok terhadap klien (perokok) dengan gangguan pernapasan yang berkunjung ke Poli PAL dan penyampaian informasi atau pesan melalui pemasangan foster anti rokok, seperti matikan rokok sebelum rokok mematikan anda, singkirkan rokok dari hidup anda sebelum rokok menyingkirkan anda dari hidup ini, buktikan rasa sayang anda pada orang sekitar anda dengan berhenti merokok dan stop rokok kawasan tanpa rokok.Untuk lebih mengoptimalkan peran perawat komunitas dalam memberikan konseling berhenti merokok, keberadaan klinik konsutasi berhenti merokok di fasilitas pelayanan kesehatan khususnya di Puskesmas Panongan perlu untuk dipertimbangkan.

Kata kunci: Perawat, Konselor, RokokDaftar bacaan: 11 (2002 - 2014)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis ilmiah dengan judul Optimalisasi Peran Perawat Komunitas Sebagai Konselor Dalam Upaya Program Berhenti Merokok di Poli PAL UPTD Puskesmas Panongan Tahun 2014. Adapun tujuan penulisan karya tulis ini untuk memenuhi salah satu syarat guna mengikuti seleksi tenaga kesehatan teladan Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka tahun 2014.Penulis telah berupaya seoptimal mungkin untuk dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan sebaik-baiknya, namun penulis menyadari banyak kekurangan dan jauh dari sempurna untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.Penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan karya tulis ilmiah ini. Mudah-mudahan bantuan, bimbingan dan budi baik yang telah diberikan pada penulis mendapat balasan dengan limpahan berkat dan anugrah dari Allah SWT. Amin...

Majalengka, April 2014Penulis

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangPembangunan kesehatan untuk mencapai Indonesia Sehat 2015 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perubahan paradigma sehat yaitu upaya untuk meningkatkan kesehatan bangsa Indonesia agar mampu mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan sendiri melalui kesadaran yang tinggi yang mengutamakan upaya promotif dan preventif. (Depkes RI, 2006)Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, yang menjadi kebutuhan dasar derajat kesehatan masyarakat, salah satu aspeknya adalah tidak ada anggota keluarga yang merokok. Setiap kali menghirup asap rokok, entah sengaja atau tidak, berarti juga mengisap lebih dari 4.000 macam racun. Karena itulah, merokok sama dengan memasukkan racun-racun tadi ke dalam rongga mulut dan tentunya paru-paru. Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat kita pungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si perokok, tetapi juga bagi orang di sekitarnya. (Syamsul Maarif, 2013)Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan oleh banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit. Seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker osefagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi, serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin. Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak rokok yang dihisap, semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru. (Hans Tjandra, 2003) Saat ini Indonesia masih menjadi negara ketiga dengan jumlah perokok aktif terbanyak di dunia 61,4 juta perokok setelah Cina dan India, sekitar 60 persen pria dan 4,5 persen wanita di Indonesia adalah perokok. Sementara itu, perokok pada anak dan remaja juga terus meningkat dan 43 juta dari 97 juta warga Indonesia adalah perokok pasif. Tingginya jumlah perokok aktif tersebut berbanding lurus dengan jumlah non-smoker yang terpapar asap rokok orang lain (second hand smoke) dan 11,4 juta diantaranya berusia 0-4 tahun. (Depkes RI, 2013)Di Puskesmas Panongan berdasarkan hasil observasi terhadap 88 orang pasien dengan gangguan sistem pernapasan yang berkunjung ke Poli PAL UPTD Puskesmas Panongan selama triwulan pertama tahun 2014, tercatat 90,48% (38 orang) dari pengunjung pria adalah perokok aktif, dan 86,95% (40 orang) dari pengunjung wanita adalah perokok pasif.Tingginya angka perokok aktif dan pasif di Indonesia merupakan ancaman serius terhadap derajat kesehatan masyarakat, sehingga di perlukan upaya dari berbagai pihak untuk melindungi generasi masa kini dan masa mendatang dari dampak konsumsi tembakau dan paparan asap rokok terhadap kesehatan, sosial, lingkungan dan ekonomi.Perawat sebagai bagian dari profesi kesehatan mempunyai tugas, tanggung jawab dan peran yang sangat penting dalam upaya menghentikan kebiasaan merokok. Salah satu peran perawat di komunitas adalah sebagai konselor dan pendidik kesehatan (health education), yaitu memberikan pendidikan kesehatan, memberikan dukungan emosional dan intelektual kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk menanamkan perilaku hidup sehat sehingga terjadi perubahan perilaku untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. (Kozier, 1995)Menurut WHO (2004), salah satu strategi untuk merubah perilaku adalah melalui upaya pemberian informasi tentang cara-cara mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, dan lain-lain akan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Perubahan perilaku degan cara ini memakan waktu lama, tetapi perubahan yang dicapai bersifat langgeng karena didasari oleh kesadaran mereka sendiri (bukan karena paksaan). Kebiasaan merokok merupakan perilaku yang sulit untuk dihentikan. Diperlukan upaya yang sinergis dari perokok, masyarakat, tenaga kesehatan dan pemerintah agar program antirokok dapat berhasil. Algoritma upaya berhenti merokok merupakan salah satu pendekatan program berhenti merokok yang merupakan sarana penyampaian informasi tentang dampak buruk rokok terhadap kesehatan dan keuntungan tidak merokok sebagai upaya prevensi dan motivasi untuk menghentikan perilaku merokok. Dengan menumbuhkan motivasi dalam diri untuk berhenti atau tidak mencoba untuk merokok, diharapkan akan membuat perokok mampu untuk tidak terpengaruh oleh godaan merokok yang datang dari lingkungan, baik lingkungan internal maupun eksternal.Berdasarkan uraian di atas, tingginya angka perokok aktif (90,48%) pada klien pria dengan gangguan pernapasan di Poli PAL UPTD Puskesmas Panongan, diperlukan upaya atau program untuk memotivasi perokok untuk berhenti merokok, yang tentunya membutuhkan peran dan upaya yang sinergis dari berbagai pihak, maka penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan judul Optimalisasi Peran Perawat Komunitas Sebagai Konselor Dalam Upaya Program Berhenti Merokok di Poli PAL UPTD Puskesmas Panongan Tahun 2014.

1.2 Perumusan MasalahBerdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka permasalahanya dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimanakah Peran Perawat Komunitas Sebagai Konselor Dalam Upaya Program Berhenti Merokok di Poli PAL UPTD Puskesmas Panongan Tahun 2014 ?

1.3 TujuanUntuk mendeskripsikan Peran Perawat Komunitas Sebagai Konselor Dalam Upaya Program Berhenti Merokok di Poli PAL UPTD Puskesmas Panongan Tahun 2014.

1.4 Manfaat1.4.1 Manfaat TeoritisKarya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat sebagai sumber informasi dalam pengembangan ilmu keperawatan komunitas khususnya peran perawat sebagai konselor dalam upaya program ber