Click here to load reader

GAMBARAN PELAYANAN UNIT LINEN LAUNDRY RUMAH SAKIT

  • View
    4

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of GAMBARAN PELAYANAN UNIT LINEN LAUNDRY RUMAH SAKIT

SAKIT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (RS USU) TAHUN
2018
SKRIPSI
Oleh
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SAKIT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (RS USU) TAHUN
2018
SKRIPSI
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul „Gambaran
Pelayanan Unit Linen Laundry Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS
USU) Tahun 2018 beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan
saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara – cara yang tidak
sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali
yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas
pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada
saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan
dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, Juli 2019
Sahat Parulian Simatupang
Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU)
Tahun 2018
Nomor Induk Mahasiswa : 141000255
Menyetujui
Pembimbing :
NIP. 197512282005011002
(Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes)
ii
ABSTRAK
Rumah sakit merupakan tempat pengobatan, rawat inap, rawat jalan dan berbagai
aktivitas lainnya sebagai pelayanan kesehatan dan merupakan tempat bekerjanya
para tenaga kerja baik medis maupun non medis yang mempunyai potensi bahaya
yang sangat berisiko. Lingkungan rumah sakit yang kurang baik merupakan
sumber potensi terjadinya infeksi nosokomial, salah satu lingkungan tersebut
adalah pengelolaan linen, jika penanganan dilakukan tidak baik, maka dapat
menyebabkan penyebaran penyakit dari ruangan satu ke ruangan yang lain, dari
orang sakit ke orang sehat ataupun pasien ke petugas rumah sakit. Unit linen
laundry rumah sakit adalah penyumbang limbah cair terbesar yaitu 40% dari
jumlah limbah cair rumah sakit. Pelayanan unit linen laundry dilaksanakan harus
berdasarkan SOP dan menggunakan alat pelindung diri (APD) agar terhindar dari
infeksi nosokomial dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Logistik
pelayanan linen harus disesuaikan juga dengan jumlah pasien di rumah sakit.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelayanan unit linen laundry RS
USU tahun 2018. Metode penelitian adalah deskriptif bersifat kualitatif. Populasi
dalam penelitian ini adalah petugas unit linen laundry RS USU sedangkan
informan utama adalah kepala unit linen laundry dan kepala sub bagian sarana RS
USU. Hasil penelitian menujukkan bahwa unit linen laundry RS belum
menjalankan pelayanan linen sesuai SOP dan masih banyak petugas yang tidak
menggunakan APD lengkap. Logistik unit linen laundry masih belum lengkap
termasuk jumlah petugas masih kekurangan. Perencanaan peramalan kebutuhan
linen belum baik karena dilakukan berdasarkan asumsi linen yang hilang dan
rusak, proses pemesanan linen belum berjalan dengan baik karena belum ada
petugas khusus yang melakukannya, pengadaan kebutuhan linen belum berjalan
baik karena belum ada standar baku pengadaan linen serta pengendalian
persediaan linen belum berjalan dengan baik karena perhitungan kebutuhan linen
yang masih kurang dan belum menggunakan standar 3 kali jumlah tempat tidur.
Berdasarkan hasil penelitian disarankan perhitungan kebutuhan linen supaya
dilakukan berdasarkan jumlah tempat tidur yaitu 3 par stok linen setiap tempat
tidur, perlu dibuat prosedur kerja tetap dalam pengelolaan linen. Petugas bekerja
seharusnya sesuai SOP dan selalu menggunakan APD lengkap. Unit linen laundry
RS USU seharusnya dilengkapi sarana dan peralatan yang dibutuhkan serta
petugasnya harus ditambahi agar bisa lebih maksimal pelayananannya.
Kata kunci: Alat Pelindung Diri (APD), Infeksi Nosokomial, Laundry, Linen.
iii
ABSTRACT
The hospital is a place of treatment, in-patient care, out-patient care and various
health services activities and also a place of both medical and non-medical
workers who have the potential for very risky hazards. Poor hospital environment
is a potential source of nosocomial infection, one of these environments is linen
management. If the handling is not precise, it can cause the spread of disease
from one room to another; from sick people to healthy people or patients to
hospital’s officers. The hospital linen laundry unit is the largest contributor of
liquid waste, which is 40% of the total hospital waste. The service of laundry linen
units must be based on precise Standard Operational Procedure (SOP) and using
personal protective equipment (PPE) to avoid nosocomial infections and improve
the quality of hospital services. The linen service logistics must also be adjusted to
the number of patients in the hospital. The purpose of this study was to determine
the service of laundry linen units at USU Hospital in 2018. This research is using
descriptive qualitative method. The sampling model in this study are officers of
the USU Hospital's laundry laundry unit; while the main informants are the head
of the laundry linen unit and the head of the sub-section of USU Hospital
facilities. The results of the study show that the hospital linen laundry units have
not yet run linen services according to the SOP and there are still many officers
who did not use complete PPE. The logistics of the laundry linen unit is still
incomplete including the lack number of officers. Forecast planning of linen needs
is not good because it is proceeded based on missing and damaged linen
assumptions, poor linen ordering process due to no availability of professional
officers, the procurement of linen needs has not run well because there is no
standard for procurement of linen, and control of linen inventory well because the
calculation of linen needs is still lacking and has not used the standard 3 times the
number of beds. Based on the results of the study, it is suggested that the
calculation of linen needs be done based on the number of beds, namely 3 par
linen stock per bed. It is necessary to make a permanent working procedure in
linen management. Officers work should be in accordance with the SOP and
always use a complete PPE. The laundry linen unit at USU Hospital should be
equipped with the necessary facilities and equipment, and the officers must be
added to be able to maximize their services.
Keywords: Personal Protective Equipment (PPE), Nosocomial Infection,
Laundry, Linen.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih
dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Gambaran Pelayanan Unit Linen Laundry Rumah Sakit Universitas
Sumatera Utara (RS USU) Tahun 2018”.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara. Selama penyusunan skripsi ini penulis banyak
mendapatkan bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu
dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dra. Jumirah, Apt.,M.Kes., selaku Dosen Pembimbing Akademik Peneliti di
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes., selaku Ketua Departemen Administrasi dan
Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.
5. Destanul Aulia, S.K.M., M.B.A., M.Ec., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing
sekaligus sebagai Ketua Penguji yang telah banyak meluangkan waktu
untuk memberikan bimbingan, saran, dukungan, nasehat serta pengarahan
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. dr. Fauzi, S.K.M., selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan
bimbingan, saran, nasehat, dan arahan untuk kesempurnaan penulisan
skripsi ini.
7. Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M., M.Kes., selaku Dosen Penguji
II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan masukan serta
saran-saran kepada penulis dalam perbaikan skripsi ini.
v
8. Seluruh Dosen dan Staf di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara yang telah banyak memberikan ilmu dan bantuan selama
penulis menjalani pendidikan.
9. Dr. dr. Syah Mirsya Warli, Sp.U (K), selaku Direktur Utama RS USU Kota
Medan yang memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian
skripsi di RS USU.
10. Satrio Utomo, S.E., selaku Kepala Sub Bagian Sarana Medik RS USU
sekaligus sebagai informan penelitian yang membantu memberikan
informasi penelitian skripsi kepada peneliti.
11. Masdi Olimpic, S.E., selaku Kepala Unit Linen Laundry RS USU sekaligus
informan penelitian yang membantu memberikan informasi penelitian
skripsi kepada peneliti.
12. Abang dan Kakak petugas unit linen laundry RS USU yang ikut turut
menjadi informan penelitian membantu peneliti memberikan informasi
seputar pelayanan unit linen laundry RS USU (Bang Petra, Bang Akhmal,
Bang Faisal, Bang Choky, Kak Trisnawati, Kak Beby dan Kak Gusti).
13. Kak Mutia, selaku staff administrasi RS USU yang turut membantu peneliti
dalam membantu dan melengkapi administrasi penelitian selama beberapa
bulan di RS USU.
14. Keluarga Besar Ikatan Mahasiswa Mentawai Sumatera Utara (IMMSU) baik
yang ada di Kota Medan maupun di luar Kota Medan yang mendoakan,
mendukung, dan memotivasi peneliti mengerjakan skripsi ditengah
kesibukan dalam kegiatan dan organisasi.
15. Keluarga Besar Ikatan Mahasiswa Papua Sumatera Utara (IMP Sumut) yang
mendoakan dan mendukung serta memotivasi peneliti mengerjakan skripsi,
khususnya buat adik Marlon Imburi dan Jorgen Swabra yang membantu
dalam penulisan skripsi peneliti.
16. Teristimewa kepada orang tua peneliti yakni Bapak Anggiat Timbul
Parulian Simatupang (+), seorang Bapak tersayang yang kini telah tiada
namun semasa hidupnya selalu memotivasi peneliti untuk bekerja keras dan
belajar keras dan Ibu Ertaniar Samaloisa yang adalah sosok ibu yang kuat
vi
tanpa kenal lelah membiayai kami anak-anaknya ditengah-tengah seorang
bapak yang kami sayangi telah tiada serta kedua adek peneliti yang sangat
peneliti sayangi selalu mendoakan dan mendukung peneliti mengerjakan
penelitian skripsi (Yosua Simatupang dan Welly Simatupang).
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi
ini. Kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan untuk
menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat
bermanfaat terutama dalam kemajuan ilmu pengetahuan.
Medan, Juli 2019
Sahat Parulian Simatupang
HALAMAN PENGESAHAN ii
Rumah Sakit Umum Kelas B 15
Laundry Rumah Sakit 16
Unit Laundry Rumah Sakit Kelas B 17
Manajemen Linen Rumah Sakit 20
Linen 20
Sarana Fisik 27
Prosedur Pelayanan Linen 30
Perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) 38
viii
Lokasi Penelitian 43
Waktu Penelitian 44
Informan Penelitian 44
Unit Linen Laundry RS USU 55
Observasi Pengelolaan Linen Laundry Infeksius dan Non Infeksius
RS USU Sesuai SOP 63
Proses Pengumpulan Linen 63
Proses Penerimaan/Penimbangan Linen 64
Proses Pemilahan/Perhitungan Linen 64
Proses Perendaman Linen 65
Proses Pencucian Linen 66
Proses Pengeringan Linen 67
Proses Penjahitan Linen 68
Proses Pengangkutan Linen 69
Sumber Daya Manusia (Man) 76
Pembiayaan (Money) 77
Kepala Sub Bagian Sarana Medik RS USU 91
KESIMPULAN DAN SARAN 95
Memproses Linen 39
2 Karakteristik Informan Unit Linen Laundry RS USU 56
3 Sumber Linen & Jumlah Berat Cucian Unit Linen Laundry RS USU 57
(Januari s.d Desember Tahun 2018)
4 Hasil Observasi Pengelolaan Linen Laundry di RS USU dengan 70
Komponen Penilaian pada Tahap Pengumpulan
5 Hasil Observasi Pengelolaan Linen Laundry di RS USU dengan 71
Komponen Penilaian pada Tahap Penerimaan/Penimbangan
6 Hasil Observasi Pengelolaan Linen Laundry di RS USU dengan 72
Komponen Penilaian pada Tahap Pencucian
7 Hasil Observasi Pengelolaan Linen Laundry di RS USU dengan 73
Komponen Penilaian pada Tahap Pengeringan
8 Hasil Observasi Pengelolaan Linen Laundry di RS USU dengan 73
Komponen Penilaian pada Tahap Penyetrikaan
9 Hasil Observasi Pengelolaan Linen Laundry di RS USU dengan 74
Komponen Penilaian pada Tahap Penyimpanan
10 Hasil Observasi Pengelolaan Linen Laundry di RS USU dengan 74
Komponen Penilaian pada Tahap Pendistribusian
11 Hasil Observasi Pengelolaan Linen Laundry di RS USU dengan 75
Komponen Penilaian pada Tahap Pengangkutan
x
1 Alur Aktivitas Fungsional Instalasi Laundry RS USU Medan 25
2 Manajemen Linen di Rumah Sakit 26
3 Kerangka Pikir 42
KepMenkes Keputusan Menteri Kesehatan
PerMenkes Peraturan Menteri Kesehatan
RS Rumah Sakit
di Seay Baru (Kab.Kepulauan Mentawai) pada tanggal 04 November 1995.
Penulis beragama Kristen Protestan, anak pertama dari tiga bersaudara dari
pasangan Bapak Anggiat Timbul Parulian Simatupang (+) dan Ibu Ertaniar
Samaloisa.
Vincentius Sikakap (Kab.Kep.Mentawai) tahun 2002 – 2008, Sekolah Menengah
Pertama di SMP Swasta Fatima 1 Sibolga tahun 2008 – 2011, Sekolah Menengah
Atas di SMA Swasta Khatolik Sibolga tahun 2011 – 2014, selanjutnya penulis
melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Medan, Juli 2019
Sahat Parulian Simatupang
TIM PENGUJI SKRIPSI
xiv
Rumah sakit merupakan tempat pengobatan, rawat inap, rawat jalan dan
berbagai aktivitas lainnya sebagai pelayanan kesehatan dan merupakan tempat
bekerjanya para tenaga kerja baik medis maupun non medis yang mempunyai
potensi bahaya yang sangat berisiko. Pekerja medis di rumah sakit seperti dokter,
suster/perawat, apoteker, dll. Pekerja non medis di rumah sakit seperti pekerja
administrasi, pekerja office boy/girl, pekerja laundry, dll (Mungesti, 2016).
Seiring dengan laju pembangunan disegala bidang dan derasnya arus
informasi dalam era globalisasi ini telah membentuk opini masyarakat terhadap
pelayanan kepada masyarakat. Tuntutan terhadap mutu pelayanan rumah sakit
semakin lama semakin meningkat seiring dengan semakin tingginya pendidikan
dan kesejahteraan masyarakat (Aini, 2013).
Menurut Douglas dalam Buku Manajemen Logistik, salah satu upaya yang
banyak dilakukan oleh pihak rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan
kepada masyarakat adalah dengan pendekatan sistem yaitu memanfaatkan semua
sumber daya yang ada yang meliputi pengoptimalan input, pelaksanaan proses
yang tepat dan baik, output yang berkualitas dan bermanfaat.
Logistik merupakan bagian yang penting dalam menunjang kegiatan
operasional rumah sakit. Penyelenggaraan logistik memberikan kegunaan waktu
dan tempat (time and place utility). Aktifitas pelayanan rumah sakit sangat
1
Ketepatan dalam perencanaan, pengadaan, pemanfaatan dan pemeliharaannya
akan sangat menentukan keberhasilan dalam peningkatan mutu pelayanan.
Dalam pelaksanaan kegiatan perlu diketahui keterbatasan-keterbatasan
(limitation) kemampuan logistik. Salah satu keterbatasan dalam hal ini
diantaranya ialah faktor pembiayaan yang tercermin pada terbatasnya anggaran.
Keterbatasan lainnya berupa sarana material yang tidak tersedia dalam kondisi
siap untuk segera dapat dipergunakan secara efektif pada tempat dan waktu yang
telah ditentukan.
Pendidikan dan Kebudayaan RI yang ditempatkan dibawah pengelolaan USU.
Selain memberikan pelayanan kesehatan, Rumah Sakit Universitas Sumatera
Utara mempunyai fungsi utama sebagai tempat pendidikan/ pelatihan tenaga
profesional dan penelitian kesehatan/ kedokteran. Rumah Sakit Universitas
Sumatera Utara berfungsi sebagai sebuah institusi yang menghasilkan tenaga
kesehatan yang berkualitas, penyedia jasa pelayanan kesehatan dan sebagai
sebuah wahana penelitian. Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara merupakan
rumah sakit negeri dibawah universitas dan kemenristekdikti yang melayani
masyarakat umum, karyawan, pasien JKN, BPJS Kesehatan (Profil Kesehatan
Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara Tahun 2016).
Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara yang kemudian disingkat RS
USU merupakan rumah sakit pendidikan dan sejak Juni 2018 RS USU sudah
2
Universitas Sumatera Utara
menjadi rumah sakit tipe B serta terletak di Kota Medan. Dalam upaya
meningkatkan kesehatan masyarakat, pihak RS USU sudah mempunyai beberapa
ruangan/ unit pelayanan maupun unit penunjang mulai dari lantai 1 hingga lantai 4
yaitu Instalasi Radiologi, IGD, Psioterapi, Poli Rawat Jalan, umum (kelas VIP,
kelas I, kelas II, kelas III), Poli Gigi, ICU, PICU, VK (ruang bersalin), Maternitas,
Instalasi Bedah Sentral/ Ruang Bedah (OK), Poli Anak, Ruang Hemodialisis,
Instalasi Laboratorium, Instalasi Gizi dan Instalasi Laundry/ Linen.
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit adalah
melalui pelayanan penunjang medik, salah satunya dalam upaya pengelolaan linen
di rumah sakit. Linen di rumah sakit dibutuhkan di setiap ruangan. Kebutuhan
akan linen di setiap ruangan ini sangat bervariasi baik jenis, jumlah dan
kondisinya. Alur pengelolaan linen cukup panjang, membutuhkan banyak
keterlibatan tenaga kesehatan dengan bermacam-macam klasifikasi. Untuk
mendapatkan kualitas linen yang baik, nyaman dan siap pakai diperlukan
perhatian khusus seperti kemungkinan terjadinya pencemaran infeksi dan efek
penggunaan bahan kimia (Panduan Pengelolaan Linen RS. AT Medika Tahun
2014).
Unit Laundry RS USU sebagai unit pelayanan penunjang dalam
pengelolaan dan penyediaan kebutuhan linen di rumah sakit merupakan salah satu
mata rantai yang sangat berperan penting dalam penularan infeksi nosokomial
baik bagi pasien, pegawai maupun pengunjung rumah sakit. Hal ini dimungkinkan
karena selama proses pengelolaan linen mulai dari pengadaan bahan linen, proses
desinfeksi linen, proses pencucian linen kotor, penggunaan bahan kimia pencuci,
xvii
3
proses pengeringan, penyetrikaan, cara melipat dan menyimpan linen sampai pada
proses pendistribusian linen bersih ke ruangan dapat menjadi media tumbuh
kembangnya mikroorganisme pathogen atau menjadi perantara penyebaran bibit
penyakit dari satu orang ke orang lain.
Linen adalah istilah untuk meyebutkan seluruh produk tekstil yang berada
di rumah sakit yang meliputi linen di ruang perawatan maupun baju bedah di
ruang operasi (OK), sedangkan baju perawat, jas dokter dan baju kerja biasanya
tidak dikelompokkan pada kategori linen tetapi dikategorikan sebagai seragam
(uniform). Menurut bidang laundry, ada linen kotor (soiled linen) dan ada linen
terinfeksi (fouled and infected linen) serta linen yang terinfeksi hepatitis. Ruang
yang perlu disediakan adalah ruang linen kotor, ruang linen bersih, gudang kereta
linen, gudang untuk penyimpanan perlengkapan bersih dan perlengkapan cuci
(Nauli, 2015).
Harus pula diingat bahwa unit laundry rumah sakit adalah penyumbang
limbah cair terbesar yang dihasilkan dari proses penanganan linen yaitu sebesar
40% dari jumlah limbah cair rumah sakit, belum lagi beban yang harus
dikeluarkan untuk perawatan fasilitas dan sarana, kemungkinan terjadinya infeksi,
pemantauan kualitas air dan dampak dari penggunaan bahan-bahan kimia
menyebabkan alur pengelolaan linen cukup panjang dan membutuhkan
penanganan serius serta melibatkan banyak tenaga kerja.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung kepada Pak Amri
Arifin (Lulusan SMK, 30 tahun) selaku Petugas IPAL RS USU (Instalasi
xviii
4
Pembuangan Air Limbah Kepada RS USU dan Izin Penyimpanan Sementara
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Kepada RS USU, pihak IPAL RS USU
sejauh ini sudah sesuai SOP dalam melakukan pengolahan air limbah RS USU
termasuk limbah instalasi unit laundry. Air yang sudah di filter di tahap akhir
dibuang di tanah dan belum ada tempat penampungan khusus serta belum ada
pemanfaatan air limbah yang sudah di filter tersebut. Hasil air bersih yang
dihasilkan IPAL RS USU ini diuji di laboratorium Scupindo setiap sekali sebulan.
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL RS USU) secara umum dianggap
masih dalam ambang batas aman atau tidak mencemari. Demikian antara lain
hasil penilaian dari berita acara pengawasan/pembinaan/evaluasi pengelolaan
lingkungan yang dilakukan UPT Pengelolaan Kualitas Air Sungai Belawan-Deli
Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Sumut. Direktur Sarana Prasarana dan
Pelayanan Penunjang Dr Achmad Delianur Nasution,ST.MT didampingi Eko
Wibowo, AMKL selaku Kepala Unit IPAL RS USU saat dihubungi
menyampaikan RS USU dibangun dengan dana IDB. Sejak proposal hingga
pembangunan ikut diawasi langsung oleh pihak IDB yang termasuk sangat konsen
terhadap standarisasi penanganan limbah rumah sakit, sehingga dari awal desain
IPAL RS USU sudah sesuai dengan standar-standar yang berlaku.
Jumlah linen yang harus disediakan oleh pihak RS USU tentunya akan
sangat berpengaruh terhadap pelayanan yang diberikan kepada pasien, semakin
banyak kunjungan pasien maka semakin banyak pula kebutuhan linen yang harus
xix
5
disediakan oleh rumah sakit (Pedoman Pengorganisasian Unit Laundry RS USU
Tahun 2016).
Menurut penelitian sebelumnya tentang analisis pelaksanaan pengelolaan
sanitasi laundry di Rumah Sakit Martha Friska Tahun 2013 tentang sanitasi
pengelolaan linen merupakan salah satu upaya sanitasi khusus di rumah sakit yang
dapat menimbulkan bahaya/ resiko tinggi bagi petugas, penderita maupun
pengunjung rumah sakit apabila tidak dilakukan sanitasi pengelolaan linen yang
tidak memenuhi syarat dapat memicu timbulnya bakteri, kuman atau virus yang
dapat tumbuh sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial.
Menurut Center of Disease Control, di AS tahun 1995 sebanyak 88.000
kematian disebabkan oleh infeksi nosocomial, di Prancis prevalensi infeksi
nosocomial sebesar 6,87-7,5%. Di Italia tahun 2000 sekitar 6,7% pasien di rumah
sakit terinfeksi oleh infeksi nosocomial. Infeksi nosocomial banyak terjadi pada
negara berkembang karena kebersihan yang buruk dan perilaku masyarakat
ataupun petugas kesehatan yang tidak mengikuti SOP yang sesuai.
Penderita infeksi nosokomial sebesar 9% dengan variasi antara 3%-20%
dari penderita rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia. Di Negara berkembang
termasuk Indonesia, rata-rata prevalensi infeksi nosocomial adalah sekitar 9,1%
dengan variasi 6,1%-16,0%. Di Indonesia kejadian infeksi nosocomial pada jenis/
tipe rumah sakit sangat beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Depkes RI pada
tahun 2004 diperoleh data proporsi kejadian infeksi nosocomial di rumah sakit
pemerintah dengan jumlah pasien 1.527 orang dari jumlah pasien berisiko
xx
6
Universitas Sumatera Utara
160.417 (55,1%), sedangkan untuk rumah sakit swasta dengan jumlah pasien 991
pasien dari jumlah pasien berisiko 130.047 (35,7%). Untuk Rumah Sakit ABRI
dengan jumlah pasien 254 pasien dari jumlah pasien berisiko 1.672 (9,1%)
(Depkes RI, 2004).
Saat ini perhatian terhadap infeksi nosokomial disejumlah rumah sakit di
Indonesia cukup tinggi, tingginya angka kejadian infeksi nosocomial
mengindikasikan rendahnya kualitas mutu pelayanan kesehatan. Infeksi
nosocomial dapat terjadi mengingat rumah sakit merupakan “gudang” mikroba
pathogen menular yang bersumber terutama dari penderita penyakit menular.
Disisi lain, petugas kesehatan dapat pula sebagai sumber, disamping keluarga
pasien yang lalu lalang, peralatan medis dan lingkungan rumah sakit itu sendiri
(Darmadi, 2008).
Infeksi nosokomial selain menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan
mortalitas juga menyebabkan kerugian lain seperti rasa tidak nyaman bagi pasien,
perpanjangan hari rawat, menambah biaya perawatan dan pengobatan serta
masalah social ekonomi lainnya. Infeksi nosocomial dapat bersumber dari factor
endogen dan eksogen yang berasal dari lingkungan yang dapat berupa benda
hidup maupun benda mati yang terkontaminasi oleh manusia. Berdasarkan
keterangan Kepala Unit Laundry RS USU bahwa sampai saat ini di RS USU
belum ada terjadi infeksi nosocomial khususnya yang disebabkan oleh Instalasi
Linen-Laundry RS USU.
Suatu hal yang cukup memprihatinkan adalah adalah sedikitnya Binatu
RSU Pemerintah yang memiliki ruang linen yang terpisah antara ruang linen yang
infeksius dan non infeksius. Hal ini memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi
nosokomial (hospital acquired infections/ HAIs) (Rifakes, 2011).
Agar pelaksanaan operasional linen dan laundry dapat berjalan dengan
baik dibutuhkan pedoman pengorganisasian yang membahas stuktur organisasi
serta uraian tugas dari masing-masing jabatan unit linen dan laundry untuk
mengetahui tingkat pengetahuan petugas laundry dalam memahami SOP.
Berdasarkan wawancara survei pendahulu yang peneliti telah laksanakan
mengenai pengetahuan responden tentang linen di bagian laundry RS USU,
pendapat responden mengenai kebersihan, kerapian dan ketersediaan linen di
bagian laundry RS USU dengan responden yang ada di ruangan ditemukan bahwa
responden mengaku belum mengetahui keberadaan laundry RS USU apakah
sudah memiliki unit sendiri dan lainnya, dan ada responden yang menilai cukup
baik dan cukup memuaskan mengenai kualitas linen yang mencakup kebersihan,
kerapian, dan ketersediaan linen di RS USU serta responden memberikan
penilaian sudah baik dan banyak responden mengharapkan pihak laundry RS USU
memberikan informasi mengenai keberadaan linen dan laundry RS USU sehingga
setiap pasien dapat mengetahuinya juga serta kualitas linen lebih ditingkatkan lagi
sehingga setiap pasien merasa puas atas pelayanan pihak laundry RS USU.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti bulan
Agustus 2018 kepada Kepala Unit Linen Laundry RS USU bahwa RS USU
8
Universitas Sumatera Utara
memiliki 1 ruangan khusus laundry dan telah memiliki sarana laundry sendiri
artinya dalam pengelolaan linen di bagian laundry tidak bekerja sama dengan
pihak ketiga. Unit Laundry RS USU aktif beroperasi sejak Maret 2016 dan diawal
aktif beroperasi masih bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu bersama RS Adam
Malik selama 4 bulan (Maret-Juni 2016). Adapun pihak Laundry RS USU
memilih untuk tidak bekerja sama dengan pihak ketiga karena memiliki banyak
keuntungan diantaranya adalah lebih efisien dari segi biaya, pengelolaan linen
lebih cepat dari segi waktu dan pengontrolan/ pengawasan pengelolaan linen
menjadi lebih mudah.
Berdasarkan informasi Kepala Unit Laundry RS USU bahwa petugas
laundry berjumlah 8 orang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.
Unit Laundry RS USU masih kekurangan tenaga kerja, kain-kain linen masih
kurang, mesin cuci kurang serta peralatan/ perlengkapan lainnya masih kurang
namun surat pengajuan penambahan kapasitas kelengkapan laundry sudah
diajukan tetapi hingga saat ini belum mendapat respon positif. Adapun faktor
yang mempengaruhi kepuasan pengelolaan linen adalah kecepatan pencucian
linen, kebersihan dan kerapian linen serta ketersediaan linen.
Permasalahan Unit Laundry RS USU sesuai studi pendahuluan peneliti
adalah pertama, belum baiknya manajemen perencanaan linen terlihat dari jumlah
par stoke linen belum memenuhi standar minimal yaitu 3 kali jumlah tempat tidur.
Tempat tidur RS USU berjumlah 150 tempat tidur namun yang aktif adalah 100
tempat tidur dan pihak laundry hanya menyediakan 200 par stoke sedangkan yang
seharusnya disediakan adalah sebanyak 300 par stoke. Namun saat ini, pihak unit
9
pelaksanaan sistem pendistribusian linen yang kurang baik, banyaknya kain linen
tertukar antar unit/ ruangan dan belum ada penyusunan jobdesk karena tenaga
kerja yang masih kurang. Ketiga, belum baiknya manajemen pengendalian linen
terlihat dari sering hilangnya linen di beberapa ruangan disebabkan karena
kurangnya pengawasan/ pengendalian linen yang baik oleh petugas. Hal ini
tentunya akan berpengaruh terhadap ketersediaan linen yang tidak seimbang
karena jumlah par stoke linen akan berkurang dan menjadi tidak seimbang.
Berdasarkan informasi yang peneliti dapatkan bahwa di bagian laundry RS
USU juga ditemukan beberapa masalah lainnya sesuai Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 1204 Tahun 2004, Departemen Kesehatan RI Dirjend
Pelayanan Medik Tahun 2004 dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 340
Tahun 2010 serta Pedoman Laundry RS USU Tahun 2016 yaitu pertama,
mengenai prosedur kerja yang baku tidak dilaksanakan semuanya seperti kurang
lengkapnya penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) pada petugas unit laundry,
pemusnahan linen tidak ada dan lainnya. Kedua, mengenai identifikasi dan
pengelolaan linen yang baik tidak semua dilaksanakan seperti pemerasan tidak
dilakukan dan lainnya. Ketiga, mengenai sarana seperti mesin cuci, mesin
pengering dan mesin setrika roll belum mencukupi di unit ini sehingga linen yang
di cuci, di keringkan dan di setrika dikerjakan dalam waktu yang lama ditambah
lagi jumlah petugas yang masih kekurangan.
10
pendidkan SLTA). Sesuai Pedoman Pelayanan Laundry RS USU bahwa Staff
Pelaksana Unit Laundry RS USU belum memenuhi syarat salah satu nya karena
belum lengkap memiliki 3 (tiga) buah sertifikat pelatihan laundry.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang didapat adalah
bahwa Petugas Unit Linen Laundry RS USU bekerja belum sesuai SOP &
Peraturan DepKes RI Dirjend Pelayanan Medik Tahun 2004, belum menggunakan
APD sesuai aturan yang berlaku serta belum adanya pemanfaatan sisa air limbah
yang sudah diolah tetapi dibuang langsung ke tanah, pembiayaan linen di Instalasi
Laundry RS USU belum maksimal/ tidak berjalan sesuai yang diharapkan serta
staff pelaksana unit laundry belum memiliki sertifikat pelatihan laundry sebagai
syarat utama.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pelayanan Unit Linen Laundry RS USU Kota Medan
Tahun 2018 baik dari segi sarana & prasarana, Pembiayaan, staff pelaksana/
tenaga (input), dan Kegiatan Unit Laundry RS USU (mulai dari pengumpulan,
penerimaan, pencucian, pengeringan, penyetrikaan, penyimpanan, hingga
11
distribusi) serta mengetahui kepuasan pasien terhadap pelayanan Unit Laundry RS
USU dan membandingkannya dengan Peraturan Departemen Kesehatan RI
Dirjend Pelayanan Medik Tahun 2004 Tentang Pedoman Manajemen Linen
Rumah Sakit (output).
rumah sakit
b. Untuk bahan informasi bagi RS USU Kota Medan dalam upaya peningkatan
pelayanan penunjang medik di rumah sakit khususnya bagian laundry rumah
sakit
c. Untuk bahan evaluasi bagi tenaga kerja/ petugas Unit Laundry RS USU Kota
Medan
pengelolaan linen bagian laundry rumah sakit
e. Untuk menambah informasi kepada pembaca tentang pelayanan unit laundry
rumah sakit khususnya Unit Laundry RS USU Kota Medan
f. Untuk mengetahui pelayanan unit laundry rumah sakit yang baik dan benar
yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian linen.
12
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (UU RI No 44 Tahun 2009).
Menurut American Hospital Association (1974), rumah sakit adalah
organisasi tenaga medis professional yang terorganisasi serta sarana kedokteran
yang permanen dalam menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan
keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang
diderita pasien. Sementara itu, menurut Wolper dan Pena (1987), rumah sakit
adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran
serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat, dan
berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan (Adisasmito, 2007).
Rumah sakit harus mempunyai kemampuan pelayanan sekurang-
kurangnya pelayanan medik, gawat darurat, pelayanan keperawatan, rawat jalan,
rawat inap, operasi/ bedah, pelayanan medik spesialisasi dasar, penunjang medik,
farmasi, gizi, sterilisasi, rekam medik, pelayanan administrasi dan manajemen,
penyuluhan kesehatan masyarakat, pemulasaran jenazah, laundry, ambulance,
pemeliharaan sarana rumah sakit serta pengolahan limbah (PerMenkes RI No 340
Tahun 2010).
Jenis & Klasifikasi Rumah Sakit
Berdasarkan UU RI No 44 Tahun 2009, Rumah Sakit dapat dibagi
berdasarkan jenis pelayanan dan pengelolaannya. Berdasarkan jenis pelayanan
yang diberikan, rumah sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum dan Rumah
Sakit Khusus. Rumah Sakit Umum memberikan pelayanan kesehatan pada semua
bidang dan jenis penyakit. Rumah Sakit Khusus memberikan pelayanan utama
pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu,
golongan umur, organ, jenis penyakit atau kekhususan lainnya. Berdasarkan
pengelolaannya, rumah sakit dapat dibagi menjadi rumah sakit publik dan rumah
sakit privat. Rumah Sakit Publik dapat dikelola oleh pemerintah, pemerintah
daerah dan badan hukum yang bersifat nirlaba. Rumah Sakit Privat dikelola oleh
badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk perseroan terbatas atau persero.
Rumah Sakit USU merupakan Rumah Sakit Pendidikan yang saat ini
adalah Rumah Sakit Kelas B sejak Juni 2018. Rumah Sakit dapat ditetapkan
menjadi rumah sakit pendidikan setelah memenuhi persyaratan dan standar rumah
sakit pendidikan dan rumah sakit ini ditetapkan oleh Menteri setelah
berkoordinasi dengan Menteri yang membidangi urusan pendidikan. Rumah Sakit
Pendidikan merupakan rumah sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan
penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi kedokteran, pendidikan
kedokteran berkelanjutan dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya.
Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan
fungsi rujukan, rumah sakit umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan
berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah sakit. Klasifikasi Rumah
14
Sakit Umum berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan dapat dibedakan
menjadi 4 jenis yaitu Rumah Sakit Umum Kelas A,B,C, dan D. Klasifikasi Rumah
Sakit Khusus berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan dapat dibedakan
menjadi 3 jenis yaitu Rumah Sakit Khusus Kelas A,B,dan C (PerMenkes RI No
340 Tahun 2010).
Rumah Sakit Umum Kelas B harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) pelayanan medik spesialis dasar, 4
(empat) pelayanan spesialis penunjang medik, 8 (delapan) pelayanan medik
spesialis lainnya dan 2 (dua) pelayanan medik subspesialis dasar.
Kriteria, fasilitas dan kemampuan RSU Kelas B meliputi pelayanan medik
umum, pelayanan gawat darurat, pelayanan medik spesialis dasar, pelayanan
spesialis penunjang medik, pelayanan medik spesialis lain, pelayanan medik
spesialis gigi mulut, pelayanan medik subspesialis, pelayanan keperawatan dan
kebidanan, pelayanan penunjang klinik dan pelayanan penunjang non medik.
Sarana prasarana rumah sakit harus memenuhi standar yang ditetapkan
oleh Menteri. Peralatan yang dimiliki rumah sakit harus memenuhi standar yang
ditetapkan oleh menteri. Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir harus
memenuhi standar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Jumlah tempat
tidur minimal 200 buah.
Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata
laksana. Struktur organisasi paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau
Direktur Rumah Sakit, Unsur pelayanan medis, Unsur keperawatan, unsur
15
umum dan keuangan. Tata laksana meliputi tata laksana organisasi, standar
pelayanan, standar operasional prosedur, sistem informasi manajemen rumah
sakit, hospital by laws dan medical staff bg laws.
Laundry Rumah Sakit
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit adalah
melalui pelayanan penunjang non medik, khususnya dalam pengelolaan linen di
rumah sakit (DepKes RI, 2004).
Laundry rumah sakit adalah tempat penyucian linen yang dilengkapi
dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan bahan desinfektan,
mesin uap, pengering, meja dan meja setrika. Unit laundry merupakan unit yang
melakukan pengolahan linen rumah sakit, khususnya linen yang merupakan
kelengkapan tempat tidur pasien rawat inap (Jumadewi, 2014).
Persyaratan Umum Laundry
Menteri Kesehatan RI Nomor 1204 Tahun 2004 adalah:
1. Di tempat laundry tersedia kran air bersih dengan kualitas dan tekanan
aliran yang memadai, air panas untuk desinfeksi dan tersedia desinfektan
2. Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat dengan saluran
pembuangan air limbah serta tersedia mesin cuci yang dapat mencuci
jenis-jenis linen yang berbeda
3. Tersedia ruangan dan mesin cuci yang terpisah untuk linen infeksius dan
non infeksius
4. Laundry harus dilengkapi saluran air limbah tertutup yang dilengkapi
dengan pengolahan awal (pre-treatment) sebelum dialirkan ke instalasi
pengolahan air limbah
kegunaannya yaitu ruang linen kotor, ruang linen bersih, ruang untuk
perlengkapan kebersihan, ruang perlengkapan cuci, ruang kereta linen,
kamar mandi dan ruang peniris atau pengering untuk alat-alat termasuk
linen
pencuciannya dapat bekerja sama dengan pihak lain dan pihak lain
tersebut harus mengikuti persyaratan tata laksana yang telah ditetapkan.
Unit Laundry Rumah Sakit Kelas B
Laundry RS adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana
penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan desinfektan, mesin uap (steam boiler),
pengering, meja dan mesin setrika.
Lingkup sarana pelayanan:
1. Pengumpulan
a. Pemilahan antara linen infeksius dan non-infeksius dimulai dari sumber dan
memasukkan linen ke dalam kantong plastik sesuai jenisnya serta diberi
label.
17
2. Penerimaan
a. Mencatat linen yang diterima dan telah terpilah antara infeksius dan non
infeksius
3. Pencucian
a. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin cuci
dan kebutuhan deterjen dan desinfektan
b. Membersihkan linen kotor dan tinja, urin, darah, dan muntahan kemudian
merendamnya dengan menggunakan desinfektan
4. Pengeringan
5. Penyetrikaan
6. Penyimpanan
7. Distribusi dilakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas, penerima,
kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan sesuai
kartu tanda terima.
a. Kantong untuk membungkus linen bersih harus dibedakan dengan kantong
untuk membungkus linen kotor
b. Menggunakan kereta dorong yang berbeda warna dan tertutup antara linen
bersih dan linen kotor. Kereta dorong harus dicuci dengan desinfektan
setelah digunakan mengangkut linen kotor.
c. Linen bersih diangkut dengan kereta dorong yang berbeda warna
18
Universitas Sumatera Utara
d. RS yang tidak mempunyai laundry tersendiri, pengangkutannya dari dan ke
tempat laundry harus menggunakan mobil khusus.
Ketentuan-ketentuannya berdasarkan Pedoman Teknis Bangunan Rumah
Sakit Kelas B Tahun 2012:
a. Kebutuhan Ruangan dan Fasilitas:
1. Ruangan administrasi dan pencatatan
2. Ruang Kepala Laundry
5. Ruang cuci dan pengeringan linen
6. Ruang setrika dan lipat linen
7. Ruang perbaikan linen
8. Ruang penyimpanan linen
9. Ruang dekonminasi trolly
10. Ruang penyimpanan trolly
11. Gudang bahan kimia
b. Persyaratan Khusus:
1. Tersedia kran air bersih dengan dengan kualitas dan tekanan aliran
yang memadai, air panas untuk desinfeksi dengan desinfektan yang
ramah terhadap lingkungan. Suhu air panas mencapai 70 dalam
waktu 25 menit atau 95 dalam waktu 10 menit untuk pencucian
pada mesin cuci.
dapat mencuci jenis - jenis linen yang berbeda.
3. Tersedia saluran air limbah tertutup yang dilengkapi dengan
pengolahan awal (pre-treatment) khusus laundry sebelum dialirkan
ke IPAL RS (Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit).
4. Untuk linen non infeksius (misalnya dari ruang-ruang administrasi
perkantoran) dibuatkan akses ke ruang pencucian tanpa melalui
ruang dekontaminasi.
kotor.
Linen
Linen adalah bahan/ alat yang terbuat dari kain tenun. Menurut bidang
laundry, ada linen kotor (soiled linen) dan linen terinfeksi (fouled dan infected
linen) serta linen yang terkontaminasi hepatitis (Djojodibroto, 1997).
Linen juga dapat diartikan sebagai bahan-bahan dari kain yang digunakan
dalam fasilitas perawatan kesehatan oleh staf rumah tangga (kain tempat tidur dan
handuk), staf pembersih (kain pembersih, gaun, dan kap), personel bedah (kap,
masker, baju cuci, gaun bedah, drapes dan pembungkus), serta staf di unit khusus
seperti ICU dan unit-unit lain yang melakukan prosedur medic invasive (seperti
anestesiologi, radiologi atau kardiologi) (Tietjen dkk, 2004).
20
Universitas Sumatera Utara
Ada bermacam-macam jenis linen yang digunakan di rumah sakit. Jenis linen
dimaksud antara lain (DepKes RI, 2004):
1. Sprei/ laken
2. Steek laken
3. Perlak/ zeil
4. Sarung bantal
5. Sarung guling
16. Celemek, topi, lap
19. Kain penutup (tabungan gas, troli dan alat kesehatan lainnya)
20. Macam-macam dock
21
30. Handuk
31. Linen operasi (baju, celana, jas, macam-macam laken, topi, masker, doek,
sarung kaki, sarung meja mayo, alas meja instrument, mitela, barak
schort).
yang tidak digunakan sejak terakhir di laundry.
Linen Kotor (soiled used linen)
Linen kotor yang sudah digunakan baik terkena darah ataupun cairan
tubuh lain dan semua linen yang digunakan oleh pasien yang terkena infeksi (baik
kotor/ternoda ataupun tidak) (Peninsula Community Health, 2012). Ada
penjelasan lain menurut Laundry Management Policy (2013), linen kotor adalah
linen yang sudah digunakan tetapi tetap digunakan.
22
Adalah linen yang terkominasi dengan darah/ cairan tubuh yang masih
basah atau linen yang sudah digunakan oleh pasien dari sumber isolasi (Laundry
Management Policy, 2013). Menurut Depkes RI (2004), linen kotor terinfeksi
adalah linen yang terkontaminasi dengan darah, cairan tubuh dan feses terutama
yang berasal dari infeksi TB Paru, infeksi Salmonella dan Shigella (sekresi dan
eksresi), HBV dan HIV (jika terdapat noda darah) dan infeksi lainnya yang
spesifik (SARS).
Peran pengelolaan manajemen linen di rumah sakit cukup penting. Diawali
dari perencanaan, salah satu subsistem pengelolaan linen adalah proses pencucian.
Alur aktivitas fungsional dimulai dari linen kotor, penimbangan, pemilahan,
proses pencucian, pemerasan, pengeringan, sortir noda, penyetrikaan, sortir linen
rusak, pelipatan, merapikan, mengepak atau mengemas, menyimpan dan
mendistribusikan ke unit-unit yang membutuhkannya, sedangkan linen yang rusak
dikirim ke kamar jahit (Depkes RI, 2004).
Untuk melaksanakan aktivitas tersebut dengan lancar dan baik, maka
diperlukan alur yang terencana dengan baik, peran sentral lainnya adalah
perencanaan, pengadaan, pemusnahan, control dan pemeliharaan fasilitas
kesehatan, dan lain-lain, sehingga linen dapat tersedia di unit - unit yang
membutuhkan.
23
Jenderal Pelayanan Medik Depkes RI (2004), tata laksana dalam pengelolaan
linen terdiri dari:
RUANGAN
TERKAIT
Pengumpulan
Pewadahan
INSTALASI
LAUNDRY
25
Perencanaan
pemasangan, data lengkap SPA (sarana, prasarana, alat) diperlukan untuk
memudahkan koordinasi dan jejaring selama pengoperasiannya. Tata letak dan
hubungan antar ruangan memerlukan perencanaan teknik yang matang, untuk
memudahkan penginstalan termasuk instalan listrik, uap, air panas dan penunjang
lainnya, misalnya mendekatkan power house dengan steam boiler dan penunjang
lainnya. Sarana fisik instalansi pencucian terdiri dari beberapa ruang antara lain:
1. Ruang Penerimaan Linen
a. Meja penerima yaitu linen yang terinfeksi dan tidak terinfeksi.
Linen yang diterima harus sudah terpisah, kantung warna kuning untuk
yang terinfeksi dan kantung warna putih untuk tidak terinfeksi
b. Timbangan duduk
c. Ruang cukup untuk troli pembawa linen kotor untuk dilakukan
desinfektan sesuai standart sanitasi rumah sakit
d. Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang fan atau exhaust
fan dan penerangan minimal kategori pencahayaan D = 100 - 200 lux
(sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit).
27
2. Ruang Pemisahan Linen
Ruang ini memuat meja panjang untuk mensortir jenis linen yang tidak
terinfeksi. Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang fan dan
penerangan minimal kategori pencahayaan D = 200-500 lux sesuai
pedoman pencahayaaan rumah sakit, lantai dan ruangan ini tidak boleh
dari bahan licin.
Ruang ini memuat:
a. Mesin cuci
b. Mesin pengering
a. Penyetrikaan linen menggunakan flatwork ironers, pressing ironers
yang membutuhkan tenaga listrik sekitar 3,8 Kva per alat atau jenis
yang menggunakan uap dari boiler dengan tekanan kerja sekitar 5
kg/ dan tenaga listrik sekitar 1 Kva per unit alat
b. Alat setrika biasa yang menggunakan listrik sekitar 200 va per alat
c. Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang fan dan exhaust
fan untuk penerangan minimal kategori pencahayaan D=200-500 lux
sesuai pedoman pencahayaan rumah sakit.
5. Ruang Penyimpanan Linen
28
Ruang ini memuat meja panjang untuk penyerahan linen bersih kepada
pengguna.
Peralatan pada instalasi pencucian menggunakan bahan pencuci kimiawi
dengan komposisi dan kadar tertentu, agar tidak merusak bahan yang dicuci/linen,
mesin pencuci, kulit petugas yang melaksanakan dan limbah buangannya tidak
merusak lingkungan.
1. Mesin cuci/ washing machine
2. Mesin peras/ washing extractor
3. Mesin pengering/ drying tumbler
4. Mesin penyetrika/ flatwork ironer
5. Mesin penyetrika press/ presser ironer
6. Mesin jahit/ sewing machine
b. Produk bahan kimia
1. Alkali
emulsifier serta membuka pori linen
2. Detergen= sabun pencuci
global
dan lemak
sebagai desinfektan baik pada linen yang berwarna (ozone) dan yang
putih (chlorine)
5. Sout/ penetral
Menetralkan sisa dari bahan kimia pemutih sehingga PH nya menjadi 7
atau netral
6. Softener
7. Starch/ kanji
kaku juga sebagai pelindung linen terhadap noda sehingga noda tidak
sampai ke serat.
Prosedur Pelayanan Linen
perencanaan, pemantauan dan evaluasi dimana merupakan suatu siklus berputar.
30
Universitas Sumatera Utara
Sifat linen adalah barang habis pakai. Supaya terpenuhi persyaratan mutlak yaitu
diadakan sistem pengadaan satu pintu yang sudah terprogram dengan baik.
Standarisasi Linen
rumah sakit mempunyai standar produk yang sama agar bisa diproduksi
massal dan mencapai skala ekonomi.
2. Standar desain
estetikanya , maka desain yang sederhana, ergonomis dan unisex
merupakan pilihan yang ideal.
penampilan yang diharapkan.
4. Standar ukuran
penggunanya, tetapi juga dari biaya pengadaan dan biaya operasional yang
timbul.
5. Standar jumlah
Idealnya stok linen 5 par (kapasitas) dengan posisi 3 par berputar di
ruangan: stok 1 par dicuci, stok 1 par cadangan dan 2 par mengendap di
logistik: 1 par sudah dijahit, 1 par berupa kain.
31
Universitas Sumatera Utara
6. Standar penggunaan
Linen yang baik seharusnya tahan cuci sampai 350 kali dengan prosedur
normal
tenaga pencuci maka perlu ada pencegahan dengan:
a. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan berkala
b. Pemberian imunisasi poliomyelitis, tetanus, BCG dan Hepatitis
c. Pekerja yang memiliki permasalahan kulit: luka-luka, ruam, kondisi kulit
eksfolatif tidak boleh melakukan pencucian
Penatalaksanaan Linen
Tahapan Pencucian Linen
1. Pengumpulan, dilakukan:
a. Pemilahan antara linen infeksius dan non infeksius dimulai dari sumber dan
memasukkan linen ke dalam kantong plastik sesuai jenisnya dan diberi label.
b. Menghitung dan mencatat linen di ruangan
2. Penerimaan linen kotor dan penimbangan prosedur pencatatan
Linen kotor diterima yang berasal dari ruangan dicatat berat timbangan sedangkan
jumlah satuan berasal dari informasi ruangan dengan formulir yang sudah
distandarkan. Membersihkan linen kotor dan tinja, darah, urin dan muntahan
kemudian merendamnya menggunakan desinfektan. Mencuci dikelompokkan
berdasarkan tingkat kekotorannya. Penimbangan sesuai dengan kapasitas
32
proses pencucian.
1. Pencucian
mikroorganisme pathogen). Sebelum melakukan pencucian setiap harinya lakukan
pemanasan-desinfeksi untuk membunuh seluruh mikroorganisme yang mungkin
tumbuh dalam semalam di mesin-mesin cuci. Untuk dapat mencapai tujuan
pencucian harus mengikuti persyaratan teknis pencucian:
a. Waktu
bahan kimia guna mencapai hasil cucian yang bersih dan sehat.
b. Suhu
80 , polyester < 75 , woll dan silk <30 , sedangkan suhu terkait
dengan pencampuran bahan kimia dan proses:
- Proses pra cuci dengan tanpa/bahan kimia dengan suhu normal
- Proses cuci dengan bahan kimia alkali dan detergen untuk linen warna
putih 40-50 , untuk linen warna 60-80
- Proses bleaching atau dilakukan desinfeksi 65 atau 71
- Proses bilas I dan II dengan suhu normal
- Proses penetralan dengan suhu normal
- Proses pelembut/ pengkanjian dengan suhu normal
33
bleach, sour, softener dan starch. Masing-masing mempunyai fungsi
sendiri penanganan linen infeksius dipersyaratkan menggunakan bahan
kimia chlorine formulasi 1% atau 10.000 ppm.
d. Mechanical action
mempengaruhinya adalah:
mesin harus dikosongkan 25% dari kapasitas mesin
- Level air yang tidak tepat
- Motor penggerak yang tidak stabil
- Takaran detergen yang berlebihan
Pengeringan dilakukan dengan mesin pengering/ drying yang mempunyai
suhu sampai 70 selama 10 menit. Pada proses ini jika mikroorganisme
yang belum mati atau terjadi kontaminasi ulang diharapkan dapat mati
3. Penyetrikaan
Penyetrikaan dapat dilakukan dengan mesin setrika besar dapat di setel
sampai dengan suhu 120 namun harus diingat bahwa linen mempunyai
keterbatasan terhadap suhu sehingga disetel antara 70-80
34
ulang baik dari bahaya seperti mikroorganisme dan pes juga mengontrol
posisi linen yang terdapat di ruang penyimpanan dipisahkan menurut
masinhg-masing ruangan dan diberi obat ngengat yaitu kapur barus.
5. Distribusi
pencatatan linen yang keluar. Disini diterapkan sistem FIFO yaitu linen
yang tersimpan sebelumnya 1,5 par yang mengendap di penyimpanan
harus dikeluarkan dilakukan berdasarkan kartu tanda penerima dari
petugas penerima kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada
petugas ruangan sesuai kartu tanda terima. Setiap linen yang dikeluarkan
dicatat sesuai identitas yang tertera disetiap linen, nomor berapa yang
keluar dan nomor berapa yang disimpan dengan pencatatan tersebut dapat
diketahui berapa kali linen dicuci dan linen mana saja yang mengendap
tidak digunakan.
6. Pengangkutan
kantong yang digunakan untuk membungkus linen kotor
b. Menggunakan kereta dorong yang berbeda dan tertutup antara linen
kotor dan linen bersih
c. Linen bersih diangkut dengan kereta dorong yang berbeda warna
35
pemeriksaan kesehatan secara berkala serta dianjurkan memperoleh
imunisasi hepatitis B
Terinfeksi
A. Linen Kotor Infeksius
1. Biasakan mencuci tangan hygenis dengan sabun paling tidak 10-15 detik
sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan
2. Gunakan APD: Sarung tangan, masker dan apron
3. Pesiapkan alat dan bahan: sikat, spayer, ember, dengan tulisan linen
infeksius, lem warna merah untuk tutup dan sebagai segel
4. Lipat bagian yang terinfeksi di bagian dalam lalu masukan linen kotor
infeksius ke dalam ember tertutup dan bawa ke spoel hock
5. Noda darah atau feses dibuang ke dalam baskom, basahkan dengan air dalam
sprayer dan masukan ke dalam kantung transparan dengan pemisahan antara
linen warna dan linen putih (kantung khusus linen kotor).
6. Lakukan penutupan kantung dengan bahan lem kuat yang berwarna merah
yang juga berfungsi sebagai segel.
36
7. Beberapa kantung linen kotor infeksius yang sudah tertutup/ segel
dimasukkan kembali ke dalam kantung luar berwarna (sesuai dengan
standart).
8. Siapkan troli linen kotor dekat dengan ruang spoel hock
9. Kumpulkan ke troli linen kotor siap dibawa ke laundry dalam keadaan
tertutup
B. Linen Kotor Tidak Terinfeksi
1. Biasakan mencuci tangan hygenic dengan sabun paling tidak 10 -15 detik
sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan
2. Gunakan APD: sarung tangan, masker dan apron
3. Persiapkan alat dan bahan
Proses Pencucian Linen Kotor Infeksius dan Linen Kotor Non Infeksius
A. Linen Kotor Non Infeksius
Proses pencucian linen non infeksius adalah linen dimasukkan ke dalam
mesin cuci kemudian ditambahkan air dan merendamnya selama 5 menit, petugas
linen mengganti air pencucian sekitar 15 menit. (Nugraheni, 2013).
B. Linen Kotor Infeksius
sama dengan pencucian linen kotor ringan yaitu dimulai dari penimbangan,
perendaman, penggantian air dan penambahan detergen, pembilasan dan
pengering.
Pemerasan adalah proses pengurangan kadar air setelah tahap pencucian
selesai. Lama proses pemerasan selama 5-8 menit dengan mesin pada putaran
37
mempunyai suhu 70 selama 10 menit.
Setelah proses pencucian selesai, linen kemudian dibawa ke bagian proses
finishing untuk dilakukan pengerolan, penyetrikaan dan pelipatan. Setelah selesai
dilipat, linen disimpan di tempat penyimpanan sementara sebelum akhirnya
didistribusikan ke bangsal-bangsal sesuai dengan fungsinya.
Perlengkapan Pelindungan Diri (APD) Dalam Memproses Linen
Petugas pelayanan kesehatan setiap hari dihadapkan kepada tugas berat
untuk bekerja dengan aman dalam lingkungan yang membahayakan. Kini, resiko
pekerja yang umum dihadapi oleh petugas pelayanan kesehatan adalah kontak
dengan darah dan tubuh sewaktu perawatan rutin pasien. Pemaparan terhadap
pathogen ini meningkatkan risiko mereka terhadap infeksi yang serius dan
kemungkinan kematian (Tietjen dkk, 2004).
38
Jenis APD (Alat Pelindung Diri) Keterangan
1. Sarung tangan karet (Handscun) Sebaiknya digunakan pada saat petugas
melakukan penanganan menghitung
yang memungkinkan menyentuh dan
tersebut. Sarung tangan jenis ini harus
diganti setiap kali prosedur kerja telah
dilaksanakan.
melaksanakan kegiatan memasukkan
pengering atau pekerjaan yang
dan harus digunakan pada saat
menangani pekerjaan yang
diperkirakan akan menimbulkan
apron berlengan panjang dipakai pada
saat melaksanakan pekerjaan yang
kimia yang mungkin terciprat atau
mengenai bagian tubuh.
melaksanakan pekerjaan yang dapat
bahan kimia atau pemaparan
kontaminan (debu kain) yang
selalu diganti setelah setiap kali selesai
melaksanakan satu pekerjaan atau bila
sudah terlihat lembab.
pekerjaan yang berkaitan dengan
yang mungkin mengenai bagian
cipratan cairan tubuh dan bahan kimia
atau pemaparan kontaminan.
cipratan cairan tubuh dan bahan kimia
atau mencegah kemungkinan
seperti jarum suntik dan pisau operasi.
9. Alat Pemadam Api Ringan
(APAR)
untuk mencegah agar kobaran api tidak
menjalar lebih luas. Alat ini diletakkan
pada tempat yang dapat terlihat dan
mudah dijangkau oleh seluruh
Utara (RS USU) Tahun 2016.
40
lapangan maka peneliti menggunakan jenis penelitian bersifat kualitatif
dengan metode penelitian deskriptif. Peneliti turun langsung ke lapangan
untuk melihat dan mengamati secara langsung penelitian di lapangan
dengan mengumpulkan bukti-bukti dan menuliskan fakta yang ada di
lokasi penelitian baik menggunakan wawancara maupun observasi
langsung.
Unit Laundry RS USU yang mencakup sarana, prasarana, dan tenaga
kerja/Staff Pelaksana (input), proses pengelolaan linen mulai dari
pengumpulan linen kotor hingga pendistribusian linen bersih ke setiap
ruangan lalu membandingkannya dengan Departemen Kesehatan RI
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Tahun 2004 Tentang Pedoman
Manajemen Linen Rumah Sakit (output).
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah Unit Instalasi Laundry Rumah Sakit Universitas
Sumatera Utara (RS USU) yang terletak di Jl. Dr. T. Mansyur No. 66
42
lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan yaitu RS USU adalah salah
satu rumah sakit pemerintah sekaligus rumah sakit pendidikan yang
memiliki unit instalasi pengelolaan linen dan laundry sendiri artinya tidak
bekerja sama lagi dengan pihak ketiga. Unit Laundry RS USU aktif
beroperasi sejak tahun 2016 dan RS USU sejak Juni 2018 sudah menjadi
rumah sakit tipe B sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian.
Terakhir, sebab lokasi penelitian dekat dengan lokasi kampus dan belum
ada dari Peminatan AKK FKM USU yang melakukan penelitian ini.
Waktu Penelitian
Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah Kepala Bagian Penunjang Medis RS
USU, Kepala Unit Laundry RS USU, Staff Pelaksana.
Metode Pengumpulan Data
wawancara mendalam, teknik observasi dan teknik dokumentasi.
1. Teknik Wawancara (interview)
dengan Tanya jawab dengan bertatapan muka antara pewawancara dengan
informan atau orang yang diwawancarai (Sumantri, 2013). Teknik ini
43
Laundry Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU) Tahun 2018.
2. Teknik Observasi (Pengamatan)
mengenai fenomena sosial dengan gejala - gejala psikis untuk kemudian
dilakukan pencatatan. Teknik ini dilakukan untuk mengetahui pelayanan
Unit Laundry RS USU Tahun 2018 secara langsung.
3. Teknik Dokumentasi
berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang
(Sugyono, 2011). Dokumen yang ditunjukkan dalam penelitian ini adalah
segala dokumen yang berhubungan dengan gambaran pelayanan Unit
Laundry RS USU Tahun 2018 yang telah dijalankan. Dokumentasi disini
berupa Peraturan Menteri Kesehatan dan Keputusan Menteri Kesehatan
yang berhubungan dengan penelitian, data Profil RS USU Tahun 2016 dan
data mengenai Unit Laundry RS USU.
Instrumen Penelitian
adalah peneliti sendiri. Dalam wawancara mendalam (indepth interview), peneliti
menggunakan pedoman wawancara mendalam disertai dengan pertanyaan terbuka
yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan menggunakan alat bantu
44
Universitas Sumatera Utara
berupa: buku catatan (notes), perekam suara (voice recorder/ tape recorder), dan
alat tulis.
Validasi Data
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau
pembanding terhadap data itu (Afrizal, 2014).
Norman K. Denkin mendefinisikan triangulasi sebagai gabungan atau
kombinasi berbagai metode yang dipakai untuk mengkaji fenomena yang saling
terkait dari sudut pandang dan perspektif yang berbeda. Menurutnya, triangulasi
meliputi 4 (empat) hal yaitu: triangulasi metode, triangulasi antar - peneliti
(penelitian kelompok), triangulasi sumber data, triangulasi teori. Dalam penelitian
ini, ada 2 jenis triangulasi yang digunakan peneliti yaitu:
a. Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau
data dengan cara yang berbeda. Dalam penelitian kualitatif, peneliti
menggunakan metode wawancara, observasi dan survei. Untuk
memperoleh kebenaran informasi yang handal dan gambaran yang utuh
mengenai informasi tertentu, peneliti bisa menggunakan metode
wawancara dan observasi atau pengamatan untuk mengecek
kebenarannya. Selain itu, peneliti juga bisa menggunakan informan yang
berbeda untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Triangulasi tahap
ini dilakukan jika data atau informasi yang diperoleh dari subjek atau
informan penelitian diragukan kebenarannya.
melalui wawancara dan observasi, peneliti bisa menggunakan observasi
terlibat (participant observation), dokumen tertulis, arsip, dokumen
sejarah, catatan resmi, catatan atau tulisan pribadi dan gambar atau foto.
Masing-masing cara itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda
yang selanjutnya akan memberikan pandangan (insights) yang berbeda
pula mengenai fenomena yang diteliti. Triangulasi ini juga didefinisikan
mendapatkan data dari sumber yang berbeda dengan teknik yang sama
yakni dengan memilih informan yang dianggap dapat memberikan
jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diajukan (Sugiyono, 2013).
Menurut Patton dalam Moleong (2010) triangulasi sumber berarti dengan
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi
yang diperoleh melalui waktu dan alat, yang berbeda dalam penelitian
kualitatif yakni dengan membandingkan hasil wawancara yang diperoleh
dari masing-masing sumber atau informan penelitian sebagai pembanding
untuk mengecek kebenaran informasi yang didapatkan.
Definisi Operasional
1. Sarana
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam
mencapai maksud atau tujuan. Dengan kata lain, sarana lebih ditunjukkan
untuk benda - benda atau peralatan yang bergerak. Menurut PerMenkes RI
No 340 Tahun 2010, sarana adalah segala sesuatu benda fisik yang dapat
46
mudah dapat dikenali oleh pasien dan umumnya merupakan bagian dari
suatu bangunan gedung ataupun bangunan gedung itu sendiri.
Contoh: meja penerima, timbangan, troli, mesin cuci, mesin pengering,
alat setrika biasa atau manual, lemari, rak, meja administrasi.
2. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama
terselenggaranya suatu proses. Adapun proses tersebut dapat berupa suatu
usaha, pembangunan ataupun proyek. Dengan kata lain, prasarana lebih
ditujukan untuk benda-benda yang tidak bergerak. Menurut PerMenkes RI
No 340 Tahun 2010, prasarana adalah benda maupun jaringan/ instansi
yang membuat suatu sarana yang ada bisa berfungsi sesuai dengan tujuan
yang diharapkan.
3. Tenaga Kerja/Staff Pelaksana adalah orang yang mampu melakukan
pekerjaan sesuai bidangnya guna menghasilkan barang atau jasa dan
memberikan pelayanan kepada orang banyak. Dalam hal ini, orang yang
bekerja di instalasi unit laundry yang sudah memiliki kemampuan
memberikan pelayanan laundry kepada pasien/pengunjung di RS USU.
4. Unit Linen Laundry RS USU adalah unit pelayanan penunjang dalam
pengelolaan dan penyediaan kebutuhan linen di rumah sakit dengan tugas
utama memperoses, menyelenggarakan dan membantu menyiapkan
kebutuhan linen bersih, baik, higienis, nyaman, cukup dan layak pakai
untuk tindakan bedah dan perawatan pasien serta kerumah tanggaan semua
47
unit yang membutuhkan dan menggunakan linen di rumah sakit khususnya
di RS USU mulai dari pengumpulan linen kotor/ perencanaan kebutuhan
hingga pendistribusian linen bersih ke setiap ruangan. Secara singkat
bahwa Laundry Rumah Sakit adalah tempat pencucian linen yang
dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan
desinfektan, mesin uap (steam boiler), pengering, meja dan meja setrika
(Kepmenkes RI No 1204 Tahun 2004).
5. Pengumpulan & Perencanaan
kebutuhan linen rumah sakit disesuaikan dengan jumlah, jenis bahan,
ukuran dan warna linen yang diinginkan termasuk juga kebutuhan
peralatan, bahan kimia pencuci dan barang habis pakai.
Pengumpulan adalah pemilahan antara linen infeksius dan non-
infeksius dimulai dari sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong
plastic sesuai jenisnya serta diberi label.
6. Penerimaan adalah proses serah terima linen kotor dari petugas ruangan
pengguna linen dengan petugas penerima unit laundry.
7. Penimbangan adalah proses untuk mengetahui berat linen kotor yang telah
diserahterimakan oleh petugas unit laundry yang berguna untuk mengukur
berapa banyak dosis bahan kimia pencuci yang dibutuhkan.
8. Pemilahan dan Perhitungan adalah rangkaian proses pemeriksaan dan
pemisahan benda padat atau tajam berbahaya yang terdapat dalam linen
kotor, menyortir linen berdasarkan karakteristiknya (linen kotor infeksius
48
dan linen kotor non infeksius), tingkat kekotorannya (ringan, sedang, dan
berat), jenisnya (laken, stek laken, selimut, baju pasien) maupun warnanya
kemudian menghitung dan mencatat jumlah linen yang diterima kedalam
bon serah terima linen.
9. Perendaman adalah proses desinfeksi linen kotor infeksius dan atau linen
kotor yang tingkat kekotorannya sangat sulit untuk dibersihkan atau
dihilangkan.
mikroorganisme pathogen pada linen dengan menggunakan mesin cuci
(washing machine) dan bahan kimia pencuci.
11. Pengeringan adalah proses pemerasan dan pengurangan kadar air yang
terdapat pada linen yang telah selesai dicuci dengan menggunakan mesin
pengeringan (drying tumbler) bersuhu sampai 70 dan uap panas
bertekanan (steam) dari boiler.
12. Penyetrikaan adalah proses merapikan linen dengan mesin gosok (ironer)
agar linen tidak kelihatan kusut sehingga mudah untuk dilipat, juga
dimaksudkan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pathogen
yang menempel pada serat linen melalui pemanasan.
13. Pelipatan adalah proses membentuk linen dalam bagian-bagian terkecil
dari ukuran linen yang sebenarnya sehingga linen tidak kusut kembali,
mudah menyusunnya, mudah menyimpannya dan mudah saat digunakan di
ruangan.
49
Universitas Sumatera Utara
14. Penjahitan adalah proses memperbaiki linen yang koyak, sobek atau retas
jahitannya yang diperkirakan masih layak pakai sehingga dapat
dipergunakan kembali oleh ruangan sebagaimana fungsinya.
15. Penyimpanan adalah proses mengatur, menata dan menyusun semua linen
yang telah dilipat ke dalam rak atau lemari berdasarkan jenis dan
ruangannya agar kelihatan rapi, mudah pada saat pengambilannya serta
menghindari kontaminasi ulang dari mikroorganisme dan pest.
16. Pendistribusian adalah proses serah terima linen bersih dari unit laundry
kepada ruangan pengguna linen sesuai dengan jumlah kebutuhan ruangan
masing-masing.
17. Linen adalah Semua bahan yang terbuat dari kain/ barang tenun atau
semua produk tekstil yang digunakan dalam tindakan bedah dan perawatan
serta kerumah tanggaan di rumah sakit.
Metode Pengukuran
USU Kota Medan dengan melihat bagian Input berupa sarana & prasarana,
tenaga kerja/staff pelaksana, melihat kegiatan Unit Laundry RS USU
(Proses) yang meliputi pengumpulan, penerimaan, penimbangan,
pemilahan dan perhitungan, perendaman, pencucian, pengeringan,
penyetrikaan, pelipatan, penjahitan, penyimpanan hingga pendistribusian.
Aspek pengukuran tersebut akan disesuaikan dengan Kepmenkes RI
Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit dan Departemen Kesehatan RI Direktorat
50
Linen Rumah Sakit (Output).
Menurut Miles (2013) dalam analisis data kualitatif dilakukan secara
interaktif dan berlangsung terus-menerus. Data yang diperoleh dari hasil
wawancara, catatan lapangan dan bahan lain disusun agar dapat dipahami dan
diinformasikan kepada orang lain. Pada penelitian kualitatif dilakukan langkah-
langkah analisis dan interpretasi data sebagai berikut:
1. Reduksi data adalah kegiatan merangkum, memilih hal-hal pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan
demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang
lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan
data.
3. Penyajian data dalam penelitian kualitatif selain dengan teks naratif,
penyajian data juga dapat dilakukan dengan grafik, matrix dan chart. Pada
penelitian ini, peneliti menggunakan matrix dalam penyajian data.
4. Interpretasi data adalah proses memaknai data. Interpretasi ini dapat
berupa interpretasi pribadi peneliti dengan berpijak pada pengalaman dan
kemampuan pribadinya, maupun berupa makna yang berasal dari
51
literature atau teori (Sugiyono, 2010).
Secara singkat dan sederhana dapat dijelaskan mengenai metode analisis data
sebagai berikut:
a. Dimulai dari proses perencanaan kegiatan, mengumpulkan data dari
informasi yang didapat baik dari catatan maupun hasil rekaman pada saat
wawancara mendalam yang telah dilakukan dengan informan yang ada.
b. Membuat transkrip catatan dan rekaman hasil wawancara yaitu dengan
cara memindahkan data tersebut kedalam bentuk tulisan.
c. Melakukan klasifikasi data dengan mengkategorikan data yang
mempunyai karakteristik yang sama dengan mengelompokkan untuk
memudahkan interpretasi data.
d. Membuat matriks untuk mengklasifikasikan data yang sesuai dengan data
yang diinginkan.
yang memberikan pengaruh.
dilakukan, ditarik kesimpulan untuk memberikan alternatif jalan keluar
dari permasalahan yang ada sebagai jawaban dari rumusan masalah.
52
Gambaran Umum Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU) Kota
Medan
Sejarah pendirian RS USU sebenarnya telah dimulai pada tahun 2003
dengan diajukannya usulan proyek pembangunan Pusat Penelitian dan Diagnostik
Kesehatan (PPDK) USU ke Bappenas yang kemudian direvisi menjadi usulan
pembangunan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) USU. Antara tahun 2007 - 2009
berlangsung proses lelang pelaksanaan pembangunan RSP USU yang akhirnya
menetapkan PT Waskita Karya sebagai pelaksana pembangunan RSP USU (19
Juli 2009).
Rumah Sakit Pendidikan USU dibangun diatas lahan seluas 38.000 m²
dengan sertifikat hak pakai dan berlokasi di pusat kota Jln. DR. Mansyur
berseberangan dengan Kampus USU. Bangunan berlantai 5 (lima) yang
menempati sekitar 35% dari tapak lahan tersebut memiliki luas bangunan sekitar
52.252 m² dan masing-masing lantai dihubungkan melalui lift maupun tangga.
Undang-Undang Rumah Sakit menyatakan bahwa rumah sakit harus
berstatus BLU. Universitas Sumatera Utara (USU) pada saat ini berstatus
Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH), oleh sebab itu Pengelolaan
RS USU menjadi bagian dari pola pengelolaan PTN BH USU. Organisasi dan tata
kelola RS USU tetap mengacu kepada UU Rumah Sakit dan disesuaikan dengan
53
Universitas Sumatera Utara
situasi, kondisi dan kebutuhan USU. Posisi RS USU berada dibawah Rektorat
USU, setara dan interaksi kegiatan dengan fakultas, LPP/LPM, Laboratorium dan
UPT lainnya. Kelembagaan, pengelolaan keuangan, asset, SDM dan perencanaan
program menjadi tanggung jawab universitas.
VISI
Barat.
MISI
1. Meningkatkan mutu dokter, dokter spesialis dan tenaga kesehatan serta
mutu pelayanan kesehatan khususnya di Sumatera Bagian Utara
2. Mengembangkan IPTEKDOK secara terpadu antara berbagai cabang
ilmu kedokteran dan kesehatan maupun ilmu-ilmu lain yang
menunjang.
Unit Linen Laundry RS USU
Rumah Sakit USU sudah memiliki Unit Linen Laundry sendiri yang sudah
berdiri sejak Mei 2016 artinya dalam pengelolaan linen tidak bekerja sama dengan
pihak ketiga. Unit Laundry RS USU sudah berdiri selama 2,5 tahun yang
ditanggung jawab oleh Bagian Penunjang Medis Rumah Sakit dan dipimpin oleh
oleh seorang Kepala Unit Laundry. Jumlah staff pelaksana yang bertugas
berjumlah sebanyak 7 orang terdiri dari 4 laki-laki dan 3 orang perempuan.
Petugas pada unit laundry hanya memiliki 1 (satu) waktu sift yaitu pagi hari
54
Universitas Sumatera Utara
dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB. Latar belakang
pendidikan petugas yang bekerja di unit laundry tersebut adalah SMA sebanyak 3
orang dan Sarjana sebanyak 4 orang sedangkan Kepala Unit Linen Laundry RS
USU tamatan Sarjana.
No Nama Lengkap Pendidikan Umur
(Tahun)
Keterangan
(Manajemen)
(Manajemen)
Bahasa
Indonesia
Tabel 3
Sumber Linen dan Jumlah Berat Cucian Unit Laundry RS USU (Januari s.d
Desember 2018)
Waktu (Bulan)
Berat Cucian (Kg)
Infeksius Non Infeksius
Januari 389 3507
Februari 424 3222
Maret 424 3860
April 958 3550
Mei 280 3548
Juni 371 3060
Juli 400 3800
Agustus 388 3776
September 394 3875
Oktober 446 4153
November 470 4179
Desember 442 4100
Berdasarkan tabel diatas bahwa tahun 2018 linen infeksius terbanyak ada di
bulan April (958 kg) sedangkan linen non infeksius ada di bulan November (4179
kg). Berdasarkan observasi dan keterangan Kepala Unit Linen Laundry RS USU
bahwa jumlah berat cucian linen baik infeksius dan non infeksius tiap tahun
berbeda yang jumlahnya tak bisa ditentukan tergantung jumlah pasien yang
56
Universitas Sumatera Utara
berobat di RS USU. Adapun total jumlah linen infeksius tahun 2018 adalah 5386
kg ( 448,83 kg/bulan dan 14,96 kg/hari) sedangkan linen non infeksius adalah
sebanyak 44630 kg ( 3719,16 kg/bulan dan 123,972 kg/hari). Adapun sarana
mesin cuci linen infeksius ada 2 buah (kapasitas 25 kg) sedangkan linen non
infeksius hanya 1 buah saja (kapasitas 45 kg).
Menurut Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 Mengenai Pengelolaan
Tempat Pencucian Linen (Laundry) adalah sebagai berikut:
Berdasarkan hasil penelitian bahwa Unit Linen Laundry RS USU sudah sesuai
dengan pengertian laundry yang diuraikan hanya saja laundry RS USU memiliki
setrika roll (bukan meja setrika) untuk tahap penyetrikaan linen.
Persyaratan
Suhu air panas untuk pencucian 70 dalam waktu 25 menit atau
95 dalam waktu 10 menit.
Penggunaan jenis deterjen dan desinfektan untuk proses pencucian
yang ramah lingkungan agar limbah cair yang dihasilkan mudah
terurai oleh lingkungan
Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak
mengandung spora spesies bacillus per inci persegi
Berdasarkan hasil penelitian bahwa Unit Linen Laundry RS USU sudah
sesuai dengan ketentuan persyaratan diatas.
57
a. Pemilahan antara linen infeksius dan non infeksius dimulai dari
sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastic sesuai
jenisnya dan diberi label
Hasil Penelitian bahwa Unit Linen Laundry RS USU bahwa saat
pengumpulan tidak ada pemilahan linen kotor yang infeksius dan
non infeksius digabungkan ke dalam 1 kantong plastic di trolly
yang sama juga. Pemilahan dilakukan di ruangan laundry sekaligus
menghitung dan mencatat linen di ruangan.
2. Penerimaan
infeksius dan non infeksius
c. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas
mesin cuci dan kebutuhan deterjen dan desinfektan
Hasil penelitian bahwa Unit Linen Laundry RS USU petugas
mencatat linen kotor yang diterima bukan di ruangan pasien namun
di ruangan laundry lalu dipisahkan linen kotor yang infeksius
maupun non infeksius di ruangan laundry sedangkan yang lainnya
sudah sesuai dengan aturan diatas.
58
a. Membersihkan linen kotor dan tinja, urin, darah dan muntahan
kemudian merendamnya dengan menggunakan desinfektan
b. Mencuci dikelompokkan berdasarkan tingkat kekotorannya
Hasil penelitian bahwa Unit Linen Laundry RS USU tidak
melaksanakan tahap perendaman linen sesuai SOP yang berlaku
melainkan langsung memasukkan linen kotor ke msin cuci sesuai
jenis linen kotor (linen kotor infeksius dan non infeksius dibedakan
mesin cucinya).
4. Pengeringan
sampai dengan 70 selama 10 menit. Pada proses ini, jika
mikroorganisme yang belum mati atau terjadi kontaminasi ulang
diharapkan dapat mati.
1 mesin pengering dan dilakukan pengeringan setelah tahap
pencucian. Tahap pengeringan ini masih belum sesuai ketentuan
yaitu hanya terjadi sekali tahap pengeringan tanpa memastikan
kontaminasi ulang dan mikroorganisme masih ada atau tidak ada
alasannya karena sudah diatur suhu untuk pengeringan.
59
pewangi dan pelicin, mesin pelipat otomatis juga tersedia untuk
sprei dan handuk baik skala kecil sampai skala besar.
Hasil Penelitian bahwa Unit Linen Laundry RS USU memiliki
1 mesin setrika roll untuk menyetrika linen yang sudah
dikeringkan. Tahap ini tidak ada menyemprotkan pewangi dan
pelican namun langsung memasukkan linen ke mesin setrika roll
dan dilipat di meja pelipatan linen tanpa ada tahap desinfektan
meja pelipatan linen. Tempat melipat sprei dan handuk serta
selimut dibedakan dengan linen lainnya.
6. Penyimpanan
b. Linen baru yang diterima ditempatkan dilemari gudang
penyimpanan
Hasil penelitian bahwa Unit Linen Laundry RS USU memiliki
lemari penyimpanan linen yang masih terbatas yaitu 4 lemari
penyimpanan linen yang disusun berdasarkan jenis linennya dan
sebagian masih bercampur dan selalu ditutup. Unit ini belum
memiliki ruang khusus gudang penyimpanan linen namun lemari
penyimpanan linen ini berada di ruang Kepala Unit Linen Laundry
RS USU.
penerima, kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada
petugas ruangan sesuai kartu tanda terima.
8. Pengangkutan
dengan kantong yang digunakan untuk membungkus linen
kotor
linen kotor dan linen bersih. Kereta dorong harus dicuci dengan
desinfektan setelah digunakan mengangkut linen kotor
c. Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh
dilakukan bersamaan
warna
pengangkutannya dari dan ke tempat laundry harus
menggunakan mobil khusus.
Hasil penelitian bahwa Unit Linen RS USU belum sesuai SOP
dan ketentuan mengenai tahap pengangkutan dilihat dari kereta
dorong atau trolly yang digunakan masih terbuka dan jarang dicuci
dengan desinfektan dengan alasan karena linen yang diangkut
sudah terbungkus plastik linen begitu juga dengan warna kereta
dorong tidak ada dibedakan.
bersih sesuai plastiknya begitu juga linen kotor sesuai plastic linen
baik infeksius maupun non infeksius. Waktu pengangkutannya
juga dibedakan yaitu linen kotor diangkut pagi hari sedangkan
linen bersih di didistribusikan sore hari dan RS USU sudah
memiliki unit linen laundry sendiri sejak Juli 2016.
Petugas yang bekerja dalam pengelolaan linen harus menggunakan
pakaian kerja khusus, alat pelindung diri seperti masker dan sarung
tangan dan dilakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala serta
dianjurkan memperoleh imunisasi hepatitis B.
Hasil penelitian bahwa APD yang disediakan RS USU sudah ada
dan lengkap namun petugas tidak menggunakan APD secara lengkap
dengan alasan suasana ruangan yang panas dan tidak cocok. Saat
peneliti melakukan penelitian, belum ada dilakukan pemeriksaan
kesehatan secara berkala kepada petugas, setelah petugas bekerja
langsung kembali ke tempat tinggal masing-masing begitulah
seterusnya.
Rumah Sakit USU Kota Medan telah memiliki instalasi laundry
sendiri dengan 3 mesin cuci ( 2 buah mesin cuci linen kotor infeksius
dan 1 buah mesin cuci linen kotor non infeksius), 1 mesin pengering,
mesin pemeras belum ada saat ini, 1 alat mesin penyetrika, 3 buah troli
linen bersih dan 3 buah troli linen kotor dengan jumlah petugas/ staff
62
pelaksana sebanyak 7 orang yang dibawahi oleh seorang Kepala Unit
Linen Laundry RS USU dan seorang Kepala Penunjang Pelayanan
Medis yang bertanggung jawab untuk mengawasi.
A. Observasi pengelolaan linen laundry infeksius dan non infeksius di RS
USU sesuai SOP di Unit Linen Laundry RS USU
Peneliti melihat dan mendapat informasi dari Kepala Unit Linen
Laundry RS USU bahwa tidak semua kegiatan laundry tersebut dijalankan
seperti perendaman dan penjahitan. Namun walaupun kegiatan laundry
yang lainnya dijalankan, masih ada yang tidak sesuai SOP. Adapun
kegiatan observasi yang peneliti lakukan di Unit Linen Laundry RS USU
adalah pengumpulan, penerimaan/ penimbangan, pencucian, pengeringan,
penyetrikaan, penyimpanan, pendistribusian dan pengangkutan dengan
penjelasan sebagai berikut:
tempat pengumpulan sementara sering tidak melakukan pemisahan antara
linen kotor infeksius dan non infeksius sehingga ketika petugas
mengumpulkan linen kotor langsung memasukkan ke dalam kantong
pengumpulan tanpa melakukan pemisahan. Selain itu, perawat juga tidak
melakukan pengecekan kembali linen yang dikumpulkan saat peneliti
melakukan observasi, ketika di ruangan instalasi petugas melakukan
pemisahan atau penyortiran linen kotor infeksius dan non infeksius sedangkan
63
untuk pencatatan jumlah linen kotor di ruangan, perawat sering tidak
melakukan pencatatan sehingga kadang terjadi kehilangan atau
ketidaksesuaian jumlah linen yang dikumpulkan dengan jumlah linen bersih
yang didistribusikan. Beberapa kali saat peneliti melakukan observasi, kadang
pasien tidak sengaja juga membawa linen saat keluar dari rumah sakit.
Pemilihan linen secara aman itu penting sekali dan harus dilakukan secara
baik dan benar karena linen kotor dari kamar bedah atau area prosedur lainnya
tidak jarang mengandung benda tajam (misalnya: scalpel, gunting tajam,
jarum suntik dan jahit, jepitan handuk yang tajam). Selain itu, dari
pembersihan kamar tidur pasien dapat diperoleh kain atau kasa yang kotor
atau terkena darah atau dibasahi dengan cairan tubuh lainnya, maka harus
ditangani secara baik dengan menggunakan APD seperti sarung tangan
pelindung dan lainnya.Walaupun jarang, infeksi yang berhubungan dengan hal
tersebut dihubungkan dengan gagalnya mencuci tangan dan penggunaan APD
(Tietjen, 2004).
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan terhadap petugas
laundry diketahui bahwa pada tahap peerimaan sudah cukup sesuai, sebelum
linen ditimbang petugas melakukan pemisahan linen sesuai dengan tingkat
kekotorannya setelah itu linen yang diterima dari setiap ruangan dicatat oleh
petugas di ruangan laundry bukan di ruangan paerawat ruangan namun
biasanya sesuai dengan jumlah dan jenis saat pendistribusian dilakukan
64
walaupun kadangkala ada hambatan juga seperti linen tertukar danada yang
robek ketika didistribusikan. Setelah itu dilakukan proses penimbangan, pada
proses penimbangan disesuaikan dengan kapasitas mesin cuci yang dimiliki
oleh instalasi yaitu sebanyak 2/3 dari kapasitas mesin cuci agar mesin awet
dan linen mudah dicuci.
Berdasarkan Buku Pedoman Pelayanan Laundry RS USU bahwa
pemilahan linen dimaksudkan untuk mengelompokkan linen berdasarkan
warna, jenis dan tingkat kekotorannya.Pada saat melakukan penerimaan,
pemilahan untuk linen kotor infeksius sangat tidak dianjurkan.Idealnya,
pemilahan linen kotor infeksius ini harus dimulai ketika linen dikumpulkan
dan dikemas dalam wadah kantongan plastic di ruangan pengguna linen.Hal
ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah penyebaran dan berkembangnya
mikroorganisme.
Proses pemilahan (sortir) linen kotor seharusnya dilaksanakan pada area
atau ruangan tertentu atau ruangan khusus yang tersedia untuk itu dan petugas
yang menanganinya harus memakai alat proteksi yang lengkap dan sesuai
standard. Langkah ini kadang-kadang menjadi sangat penting mengingat
bahwa pada tumpukan linen kotor tersebut sering dijumpai benda tajam seperti
pisau operasi (scalpel), gunting, jarum suntik, jarum infus (abocate) atau
benda asing lainnya yang apabila tidak diantisipasi akan dapat mengakibatkan
timbulnya kecelakaan kerja akibat tertusuk benda tajam dan pekerja dapat
65
Pelayanan Laundry RS USU).
Laundry RS USU masih kekurangan petugas sehingga tidak ada petugas
khusus yang menangani hal ini. Mengenai pemilahan linen ini belum
dijalankan oleh petugas laundry RS USU sesuai SOP dan Pedoman Pelayanan
Laundry RS USU, linen kotor infeksius dan non infeksius sama-sama diangkut
dari utility kotor lalu dipilah di ruangan laundry bukan di ruangan khusus
sehingga tidak sesuai dengan SOP atau pedoman pelayanan laundry.
4. Proses Perendaman Linen
perendaman hanya dilakukan terhadap linen kotor infeksius dan atau pada
linen kotor yang tingkat kekotorannya sangat sulit untuk dibersihkan atau
dihilangkan. Perlakuan ini dimaksudkan adalah untuk mengurangi bahkan
menghilangkan mikroorganisme pathogen dan noda yang melekat pada linen
sebelum dilakukan proses pencucian. Pemakaian desinfektan yang memiliki
kandungan khlorin 0,5-1,0% (5.000-10.000 ppm) sangat tepat digunakan
dengan lama perendaman harus mampu menutupi seluruh linen yang direndam
(posisi linen tenggelam dalam air).
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan bahwa di Unit Linen
Laundry RS USU belum melaksanakan proses perendaman linen. Setelah
dilakukan pemilahan linen kotor infeksius dan non infeksius di ruangan
66
Universitas Sumatera Utara
laundry, petugas langsung memasukkan linen kotor ke dalam mesin cuci untuk
masuk pada tahap pencucian linen tanpa ada tahap perendaman linen.
5. Proses Pencucian Linen
pencucian mempunyai tujuan selain menghilangkan noda (bersih), awet (tidak
cepat rapuh) namun juga harus memenuhi persyaratan higienis (bebas dari
mikroorganisme pathogen). Agar tujuan pencucian dapat tercapai dengan baik,
maka harus diikuti persyaratan teknis yang baik dan benar.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan bahwa tahap pencucian
linen ini belum sempurna dilakukan petugas sesuai SOP yang seharusnya
masih ada yang menyimpang dari pedoman pelayanan laundry. Unit Linen
Laundry RS USU memiliki 3 (tiga) buah mesin cuci yaitu 2 (dua) buah mesin
cuci khusus linen kotor infeksius dengan kapasitas mesin cuci 25 kg dan 1
(satu) buah lagi untuk linen kotor non infeksius dengan kapasitas mesin cuci
45 kg namun di lapangan terlihat oleh peneliti bahwa linen kotor yang
dimasukkan ke dalam mesin cuci melewati ambang batas dan bahkan sa