of 30/30
7/21/2019 GAGAL GINJAL KRONIK http://slidepdf.com/reader/full/gagal-ginjal-kronik-56da4aa6af5d3 1/30 BAB I PENDAHULUAN Penyakit ginjal kronis adalah masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, dengan mengakibatkan gagalnya fungsi ginjal. 1  Bukti saat ini menunjukkan bahwa  penyakit ini dapat dicegah atau tertunda oleh deteksi dini dan pengobatan. Namun sayangnya, penyakit ginjal kronis lebih sering terlambat diagnosa dan  penatalaksanaannya. 2 Banyak penyakit dasar yang dapat menyebabkan gagal ginjal. Seperti contohnya, sekitar !" nefropati diabetik berkembang ke gagal ginjal. #al ini dilihat dari hasil mikroalbuminuria dan proteinuria. $leh karena itu, albuminuria adalah faktor penting resiko pada pasien penyakit ginjal kronis. Semua pasien diabetes pun harus memiliki penilaian mikroalbuminuria setiap tahunnya. Penyebab yang paling sering stadium akhir gagal ginjal merupakan kombinasi dari penyakit diabetes, hipertensi, dan penyakit ginjal kronis. %ntuk diagnosa penyakit ginjal kronis dikategorikan menurut patologi dan  penyebab penyakitnya. Penyakit ginjal kronis terutama terdeteksi sebagai penurunan &'( dan adanya keluhan klinis dan tanda)tanda kerusakan ginjal. Sedangkan  pemeriksaan penunjang seperti biopsi ginjal*in+asif biasanya digunakan untuk melakukan pengobatan atau memperkirakan prognosis. Pengobatan penyakit ginjal kronis ini sendiri bertujuan untuk memperlambat tahap akhir dari penyakit ginjal. -arena gejala gagal ginjal kronis berkembang secara  perlahan)lahan. %ntuk terapi penyakit ginjal kronis biasanya diarahkan pada kondisi asimptomatik yang terdeksi dari hasil laboratorium. 1

GAGAL GINJAL KRONIK

  • View
    19

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

penyakit gagal ginjal kronik

Text of GAGAL GINJAL KRONIK

RANI

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit ginjal kronis adalah masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, dengan mengakibatkan gagalnya fungsi ginjal.1 Bukti saat ini menunjukkan bahwa penyakit ini dapat dicegah atau tertunda oleh deteksi dini dan pengobatan. Namun sayangnya, penyakit ginjal kronis lebih sering terlambat diagnosa dan penatalaksanaannya.2Banyak penyakit dasar yang dapat menyebabkan gagal ginjal. Seperti contohnya, sekitar 30% nefropati diabetik berkembang ke gagal ginjal. Hal ini dilihat dari hasil mikroalbuminuria dan proteinuria. Oleh karena itu, albuminuria adalah faktor penting resiko pada pasien penyakit ginjal kronis. Semua pasien diabetes pun harus memiliki penilaian mikroalbuminuria setiap tahunnya. Penyebab yang paling sering stadium akhir gagal ginjal merupakan kombinasi dari penyakit diabetes, hipertensi, dan penyakit ginjal kronis. 3Untuk diagnosa penyakit ginjal kronis dikategorikan menurut patologi dan penyebab penyakitnya. Penyakit ginjal kronis terutama terdeteksi sebagai penurunan GFR dan adanya keluhan klinis dan tanda-tanda kerusakan ginjal. Sedangkan pemeriksaan penunjang seperti biopsi ginjal/invasif biasanya digunakan untuk melakukan pengobatan atau memperkirakan prognosis.4Pengobatan penyakit ginjal kronis ini sendiri bertujuan untuk memperlambat tahap akhir dari penyakit ginjal. Karena gejala gagal ginjal kronis berkembang secara perlahan-lahan. Untuk terapi penyakit ginjal kronis biasanya diarahkan pada kondisi asimptomatik yang terdeksi dari hasil laboratorium.5BAB II

ILUSTRASI KASUS1.1 Identitas Pasien

No. Rekam Medik

: 01378377Nama

: Tn. S

Jenis Kelamin

: Laki-lakiUsia

: 59 tahunAgama

: Islam

Alamat

: Jl. Cipanas II No. 56 rt 002/ rw 07

Pendidikan terakhir

: S1Pekerjaan

: Pegawai SwastaStatus Pernikahan

: Menikah

Masuk Rawat Inap RSF: 20 Agustus 2015

1.2 Anamnesis

Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 20 Agustus 2015 Keluhan Utama

Pasien mengeluh sesak napas memberat sejak 1 minggu SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD RSUP Fatawati dengan keluhan sesak nafas yang memberat sejak 1 minggu SMRS. Menurut pasien sesak napas bertambah berat jika beraktivitas seperti jalan ke kamar mandi. Pasien masih dapat tidur dengan 1 bantal, terbangun dimalam hari karena sesak disangkal, keluhan nyeri dada disangkal oleh pasien. Sesak napas tidak disertai suara tambahan ngik saat menghembuskan napas. Keluhan batuk, pilek, demam disangkal oleh pasien. Selain itu juga terdapat keluhan bengkak pada kedua kaki sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan gatal-gatal, mual, muntah, dan nyeri kepala disangkal oleh pasien. Keluhan BAB tidak ada.

Sejak 3 tahun yang lalu pasien didiagnosis gagal ginjal di Rumah Sakit Depok. Pasien rutin kontrol ke dokter dan mendapatkan obat-obatan oral yaitu bicnat, CaCO3, Asam Folat, Vit B12. Menurut pasien ia belum pernah melakukan cuci darah. BAK bekurang sejak 3 tahun yang lalu. Pasien buang air kecil 1-2 kali dalam sehari dengan volume sekitar 400cc/hari, namun BAK kembali banyak sekitar 1000cc/hari bila mengkonsumsi furosemid. 3 bulan terakhir BAK pasien semakin sedikit dan pasien disarankan melakukan cuci darah oleh dokter yang memeriksa dan direncanakan melakukan cuci darah pada tanggal 29 Agustus 2015. Keluhan buang air kecil berpasir, nyeri saat BAK, urin berwarna merah disangkal oleh pasien. Menurut pasien urin tampak berbuih. Menurut pasien konsumsi cairan dibatasi 600cc/hari. Namun dalam beberapa minggu terakhir pasien sering konsumsi cairan melebihi batas yang ditentukan karena merasa cuaca panas.Sejak 2 tahun yang lalu pasien menderita darah tinggi. Pasien rutin kontrol dan minum obat amlodipin 1x5mg, ramipril 2x5mg. Pasien lupa tekanan darah tertinggi yang pernah dialami.

Pasien menderita kencing manis sejak 15 tahun yang lalu. Saat itu menurut pasien terdapat keluhan mudah lapar, mudah haus, sering BAK pada malam hari sekitar 8 sampai 10 kali. Pasien mulai rutin kontrol sekitar 5 tahun yang lalu dan saat ini mengkonsumsi obat oral trajenta 5mg. Menurut pasien gula darah tertinggi yaitu 500 mg/dl dan saat itu pasien menggunakan insulin. Setelah gula darah kembali normal pasien kembali menggunakan obat oral. Penglihatan baik, keluhan luka susah sembuh pada kaki, baal pada tangan dan kaki disangkal. Pasien juga konsumsi obat atorvastatin 1x20mg. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien memiliki riwayat TB paru pada tahun 2005 dan mengonsumsi obat TB selama 6 bulan dan sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Riwayat sakit jantung, stroke, batu saluran kemih, kadar asam urat yang tinggi dan sakit kuning/ liver disangkal oleh pasien. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat sakit ginjal tidak ada. Tidak ada penyakit darah tinggi, kencing manis, batu saluran kemih pada keluarga pasien.

Riwayat Penyakit Kebiasaan dan SosialPasien tidak merokok. Kebiasaan minum obat anti nyeri, konsumsi jamu-jamuan disangkal oleh pasien. Pasien makan 3 kali sehari dengan porsi yang sudah ditakar sesuai dengan porsi pasien kencing manis. Pasien mengaku jarang olahraga.1.3. Pemeriksaan Fisik

A. Keadaan UmumKeadaan Umum: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos MentisBB

: 75 kg

TB

: 165 cm

BMI

: 27.57Keadaan Gizi

: Obesitas 1B. Tanda VitalTekanan Darah: 120/80 mmHgNadi

: 93 kali/menit, reguler, isi cukupPernapasan

: 28 kali/menit, regular, cepat dalam

Suhu

: 36,7 CC. Kepala dan LeherBentuk kepala

: NormocephaliMata: Konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor diameter 3mm/3mm, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+

Telinga

: Tidak ditemukan kelainan pada telinga

Hidung

: Tidak ditemukan kelainan pada hidung

Mulut: Mukosa bibir tidak pucat, oral hygiene cukup baik.

Leher

: Tidak ada pembesaran KGB, JVP 5+2 cmH2O,

penggunaan otot bantu napas (-)

D. ThoraxParu

Inspeksi: Pergerakan dada simetris statis dan dinamis, retraksi intercostal (-), barrel chest (-)

Palpasi : Vokal fremitus sama keras pada bagian apeks kanan dan kiri. Vokal fremitus melemah pada bagian basal paru kanan dan kiri.Perkusi: Sonor pada kedua lapang paru. Batas paru-hepar ICS 5 linea midclavikula dextra dengan peranjakan 2 jari pemeriksa. Batas paru-lambung ICS 8 linea axilaris anterior sinistra.Auskultasi: Suara napas vesikuler pada kedua lapang paru, Rhonki +/+ basah kasar pada basal paru, Wheezing -/-E. Jantung

Inspeksi:Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi:Iktus cordis teraba pada ICS V 1 jari lateral garis midclavicularis kiri

Perkusi

:Batas jantung kanan setinggi ICS 4 linea parasternalis kanan, Batas jantung kiri setinggi ICS V 1 jari medial linea midclavicularis sinistra. Batas pinggang jantung pada ICS III linea parastrenalis sinistra.

Auskultasi: BJ I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

F. AbdomenInspeksi: Tidak membuncit, massa (-) venaektasi (-), caput medusa (-), uremia frost (-)Auskultasi: Bising usus (+) normal.Palpasi: Supel, buncit, nyeri tekan pada epigastrium (-). hepar dan lien tidak teraba. Perkusi: Shifting dullness (-)G. Kulit

: Tampak kering, dekubitus (-), turgor cukupH. Genitalia

: Tidak dilakukan pemeriksaan I. Ekstremitas: Akral hangat, capilary refil time