29
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Ginjal merupakan organ vital yang berperan sangat penting sangat penting dalam mempertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorbsi selektif air, elektrolit dan non-elektrolit, serta mengekskresi kelebihannya sebagai kemih. Gagal ginjal kronik merupakan suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan irreversible . Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerular (LFG) kurang dari 50 ml/menit. Gagal ginjal kronik sesuai dengan tahapannya dapat berkurang,ringan, sedang atau berat. Gagal ginjal tahap akhir ( end stage renal failure ) adalah stadium gagal ginjal yang dapat mengakibatkan kematian kecuali jika dilakukan terapi pengganti ( Suhardjono, 2001 ). Gagal ginjal kronik ditandai dengan penurunan laju penyaringan glumerulus (GFR), sehingga kadar urea darah meningkat, kenaikan kadar urea darah dan meningkatnya proses penyaringan oleh nefron yang mengalami hipertropi, menyebabakan muatan solut yang sampai kemasing masing tubulus yang masih berfungsi akan menjadi lebih besar daripada keadaan normal (William E,2009). 1

Askep Gagal Ginjal Kronik

  • Upload
    yug-nda

  • View
    189

  • Download
    23

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Askep Gagal Ginjal Kronik

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ginjal merupakan organ vital yang berperan sangat penting sangat penting dalam mem-

pertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh dan

elektrolit dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorbsi selektif air,

elektrolit dan non-elektrolit, serta mengekskresi kelebihannya sebagai kemih.

Gagal ginjal kronik merupakan suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi

ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan irreversible . Hal ini terjadi apabila laju

filtrasi glomerular (LFG) kurang dari 50 ml/menit. Gagal ginjal kronik sesuai dengan tahapannya

dapat berkurang,ringan, sedang atau berat. Gagal ginjal tahap akhir ( end stage renal failure )

adalah stadium gagal ginjal yang dapat mengakibatkan kematian kecuali jika dilakukan terapi

pengganti ( Suhardjono, 2001 ).

Gagal ginjal kronik ditandai dengan penurunan laju penyaringan glumerulus (GFR), se-

hingga kadar urea darah meningkat, kenaikan kadar urea darah dan meningkatnya proses pen-

yaringan oleh nefron yang mengalami hipertropi, menyebabakan muatan solut yang sampai ke-

masing masing tubulus yang masih berfungsi akan menjadi lebih besar daripada keadaan normal

(William E,2009).

Berdasarkan pada beberapa hal diatas penyusun tertarik untuk mengambil judul “Asuhan

Keperawatan Gagal Ginjal Kronik” dalam makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH

Makalah ini kami susun berdasarkan pada pengembangan dari beberapa pokok persoalan

berikut, yaitu :

1. Apa pengertian dari gagal ginjal kronik ?

2. Bagaimana klasifikasi dari gagal ginjal kronik ?

3. Apa etiologi dari gagal ginjal kronik ?

4. Bagaimana patofisiologi dari gagal ginjal kronik ?

5. Bagaimana manifestasi dari gagal ginjal kronik ?

6. Apa pemeriksaan penunjang dari gagal ginjal kronik ?

1

Page 2: Askep Gagal Ginjal Kronik

7. Bagaimana penatalaksanaan dari gagal ginjal kronik ?

8. Apa komplikasi dari gagal ginjal kronik ?

9. Bagaimana prognosis dari gagal ginjal kronik ?

10. Bagaimana asuhan keperawatan pasien gagal ginjal kronik ?

C. TUJUAN

Makalah ini kami susun untuk mengetahui :

1. Pengertian dari gagal ginjal kronik

2. Klasifikasi dari gagal ginjal kronik

3. Etiologi dari gagal ginjal kronik

4. Patofisiologi dari gagal ginjal kronik

5. Manifestasi dari gagal ginjal kronik

6. Pemeriksaan penunjang dari gagal ginjal kronik

7. Penatalaksanaan dari gagal ginjal kronik

8. Komplikasi dari gagal ginjal kronik

9. Prognosis dari gagal ginjal kronik

10. Asuhan keperawatan pasien gagal ginjal kronik

2

Page 3: Askep Gagal Ginjal Kronik

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. ANATOMI GINJAL

Secara anatomi, kedua ginjal terletak pada setiap sisi dari kolumna tulang belakang antara

T12 dan L3. Ginjal kiri terletak agak lebih superior dibanding ginjal kanan. Permukaan anterior

ginjal kiri diselimuti oleh lambung, pancreas, jejunum, dan sisi fleksi kolon kiri. Permukaan

superior setiap ginjal terdapat kelenjar adrenal.

Posisi dari kedua ginjal di dalam rongga abdomen dipelihara oleh ( 1 ) dinding

peritoneum, ( 2 ) kontak dengan organ – organ visceral, dan ( 3 ) dukungan jaringan penghubung.

Ukuran setiap ginjal setiap orang dewasa adalah panjang 10 cm; 5,5 cm pada sisi lebar; dan 3 cm

pada sisi sempit dengan berat setiap ginjal berkisar 150 g.

Lapisan kapsul ginjal terdiri atas jaringan fibrous bagian dalam dan bagian luar. Bagian

dalam memperlihatkan anatomis dari ginjal. Pembuluh – pembuluh darah ginjal dan drainase

ureter melewati hilius dan cabang sinus renal. Bagian luar berupa lapisan tipis yang menutup

kapsul ginjal dan menstabilisasi struktur ginjal. Korteks ginjal merupakan lapisan bagian dalam

sebelah luar yang bersentuhan dengan kapsul ginjal. Medula ginjal terdiri atas 6-18 piramid

ginjal. Bagian dasar pyramid bersambungan dengan korteksdan diantara pyramid dipisahkan oleh

jaringan kortikal yang disebut kolum ginjal.

B. PENGERTIAN

Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang menyebabkan

ketidakmampuan mempertahankan substansi tubuh dibawah kondisi normal (Betz Sowden,2002).

3

Page 4: Askep Gagal Ginjal Kronik

Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan

internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan

individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan

menunggu beberapa tahun. (Barbara C Long, 1996; 368)

Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal

yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan

metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan

sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)

C. ETIOLOGI

Umumnya gagal ginjal kronik disebabkan penyakit ginjal intrinsic difus dan menahun.

Tetapi hampir semua nefropati bilateral dan progresif akan berakhir dengan gagal ginjal kronik.

Umumnya penyakit diluar ginjal, missal nefropati obstruktif dapat menyebabkan kelainan ginjal

intrinsic dan berakhir dengan gagal ginjal kronik.

Glomerulonefritis hipertensi essensial dan pielonefritis merupakan penyebab paling ser-

ing dari gagal ginjal kronik kira-kira 60%. Gagal ginjal kronik yang berhubungan dengan

penyakit ginjal polikistik dan nefropati obstruktif hanya 15 – 20 %. Glomerulonefritis kronik

merupakan penyakit parenkim ginjal progresif dan difus, seringkali berakhir dengan gagal ginjal

kronik. Laki-laki lebih sering dari wanita, umur 20 – 40 tahun. Sebagian besar pasien relatif

muda dan merupakan calon utama untuk transplantasi ginjal. Glomerulonefritis mungkin

berhubungan dengan penyakit-penyakit system (Glomerulonefritis sekunder) seperti Lupus Erito-

matosus Sitemik, Poliarthritis Nodosa, Granulomatosus Wagener. Glomerulonefritis (Glomeru-

lopati) yang berhubungan dengan diabetes melitus (Glomerulosklerosis) tidak jarang dijumpai

4

Page 5: Askep Gagal Ginjal Kronik

dan dapat berakhir dengan gagal ginjal kronik. Glomerulonefritis yang berhubungan dengan

amiloidosis sering dijumpai pada pasien-pasien dengan penyakit menahun sperti tuberkolosis,

lepra, osteomielitis, dan arthritis rheumatoid, dan myeloma.

Penyakit ginjal hipertensif (arteriolar nefrosklerosis) merupakan salah satu penyebab ga-

gal ginjal kronik. Insiden hipertensi essensial berat yang berekhir dengan gagal ginjal kronik ku-

rang dari 10 %. Kira-kira 10 -15% pasien-pasien dengan gagal ginjal kronik disebabkan penyakit

ginjal

Pada orang dewasa, gagal ginjal kronik yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih

dan ginjal (Pielonefritis) tipe uncomplicated jarang dijumpai, kecuali tuberculosis, abses multi-

ple, nekrosis papilla renalis yang tidak mendapatkan pengobatan adekuat.

Seperti diketahui,nefritis interstisial menunjukkan kelainan histopatologi berupa fibrosis

dan reaksi inflamasi atau radang dari jaringan interstisial dengan etiologi yang banyak. Kadang

dijumpai juga kelainan-kelainan mengenai glomerulus dan pembuluh darah, vaskuler. Nefropati

asam urat menempati urutan pertama dari etiolgi nefrotis interstisial.

D. PATOFISIOLOGI

Ginjal mempunyai kemampuan nyata untuk mengkompensasi kehilangan nefron yang

persisten yang terjadi pada gagal ginjal kronik. Jika angka filtrasi glomerolus menurun menjadi

5-20 ml/menit/1,73 m2, kapasitas ini mulai gagal. Hal ini menimbulkan berbagai masalah

biokimia berhubungan dengan bahan utama yang ditangani ginjal.

Ketidakseimbangan natrium dan cairan terjadi karena ketidakmampuan ginjal untuk

memekatkan urin. Hiperkalemia terjadi akibat penurunan sekresi kalium. Asidosis metabolik

terjadi karena kerusakan reabsorbsi bikarbonat dan produksi ammonia. Demineralisasi tulang dan

gangguan pertumbuhan terjadi akibat sekresi hormon paratiroid, peningkatan fosfat plasma

(penurunan kalsium serum, asidosis) menyebabkan pelepasan kalsium dan fosfor ke dalam aliran

darah dan gangguan penyerapan kalsium usus. Anemia terjadi karena gangguan produksi sel

darah merah, penurunan rentang hidup sel darah merah, peningkatan kecenderungan perdarahan

(akibat kerusakan fungsi trombosit). Perubahan pertumbuhan berhubungan dengan perubahan

nutrisi dan berbagai proses biokimia.

5

Page 6: Askep Gagal Ginjal Kronik

E. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Suhardjono (2001), manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal

kronik yaitu:

1. Gangguan pada sistem gastrointestinal

a. Anoreksia, nausea, dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metaboslime

b. protein dalam usus.

c. Mulut bau amonia disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur.

d. Cegukan (hiccup)

2. Gastritis erosif, ulkus peptik, dan kolitis uremik.

a. Sistem Integumen

1) Kulit berwarna pucat akibat anemia. Gatal dengan ekskoriasi akibat toksin uremik.

2) Ekimosis akibat gangguan hematologis

3) Urea frost akibat kristalisasi urea

4) Bekas-bekas garukan karena gatal

5) Kulit kering bersisik

6) Kuku tipis dan rapuh

7) Rambut tipis dan kasar

b. Sistem Hematologi

1) Anemia

2) Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia

3) Gangguan fungsi leukosit

c. Sistem saraf dan otot

1) Restles leg syndrome

2) Burning feet syndrome

3) Ensefalopati metabolic

6

Page 7: Askep Gagal Ginjal Kronik

4) Miopati

d. Sistem Kardiovaskuler

1) Hipertensi

2) Akibat penimbunan cairan dan garam.

3) Nyeri dada dan sesak nafas

e. Gangguan irama jantung

1) Edema akibat penimbunan cairan.

2) Sistem Endokrin

3) Gangguan seksual: libido, fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki.

4) Gangguan metabolisme glukosa, resistensi insulin, dan gangguan sekresi insulin.

5) Gangguan metabolisme lemak.

6) Gangguan metabolisme vitamin D.

Manifestasi klinis secara umum :

1. Ketidakseimbangan cairan

a. Kelebihan cairan : edema, oliguri, hipertensi, gagal jantung kongestif

b. Penipisan volume vaskuler : poliuria, penurunan asupan cairan, dehidrasi

2. Ketidakseimbangan elektrolit

a. Hiperkalemia : gangguan irama jantung, disfungsi miokardial

b. Hipernatremia : haus, stupor, takikardia, membran kering, peningkatan refleks tendon

profunda, penurunan tingkat kesadaran

c. Hipokalemia dan hiperfosfatemia : iritabilitas, depresi, kram otot, parastesia, psikosis,

tetani

d. Hipokalemia : penurunan reflek tendon profunda, hipotonia, perubahan EKG

3. Ensefalopati dan neuropati uremik

a. Gatal gatal

b. Kram dan kelemahan otot

c. Bicara tidak jelas

d. Parastesia telapak tangan dan telapak kaki

e. Konsentrasi buruk

f. Mengantuk

g. Tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial

h. Koma

i. Kejang

7

Page 8: Askep Gagal Ginjal Kronik

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Radiologi

Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan menilai derajat dari komplikasi yang terjadi.

2. Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal (batu a/ obstruksi). Dehidrasi

akan memperburuk keadaan ginjal oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.

3. IVP (Intra Vena Pielografi) untuk menilai sistem pelviokalises dan ureter

Pemeriksaan ini mempunyai resiko penurunan faal ginjal pada keadaan tertentu, misalnya :

usia lanjut, DM, dan Nefropati Asam Urat.

4. USG untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim

ginjal, antomi sistem pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostat.

5. Renogram untuk menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi dari gangguan (vaskuler,

parenkim, ekskresi ), serta sisa fungsi ginjal.

6. Pemeriksaan radiologi jantung untuk mencari kardiomegali, efusi perikardial.

7. Pemeriksaan Radiologi tulang untuk mencari osteodistrofi (terutama untuk falanks jari),

kalsifikasi metastasik.

8. Pemeriksaan radilogi paru untuk mencari uremik lung; yang terkhir ini dianggap sebagai

bendungan.

9. Pemeriksaan Pielografi Retrograd bila dicurigai obstruksi yang reversibel.

10. EKG untuk melihat kemungkinan :hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis,

aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia).

11. Biopsi ginjal

12. Pemeriksaan Laboratorium yang umumnya dianggap menunjang, kemungkinan adanya

suatu Gagal Ginjal Kronik :

- Laju Endap Darah : Meninggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan hipoalbuminemia.

- Anemia normositer normokrom, dan jumlah retikulosit yang rendah.

- Ureum dan kreatinin : Meninggi, biasanya perbandingan antara ureum dan kreatinin lebih

kurang 20 : 1. Ingat perbandingan bisa meninggi oleh karena perdarahan saluran cerna,

demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi saluran kemih. Perbandingan

ini berkurang : Ureum lebih kecil dari Kreatinin, pada diet rendah protein, dan Tes Klirens

Kreatinin yang menurun.

- Hiponatremi : umumnya karena kelebihan cairan.

- Hiperkalemia : biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan menurunnya

diuresis.

- Hipokalsemia dan Hiperfosfatemia : terjadi karena berkurangnya sintesis 1,24 (OH)2 vit

8

Page 9: Askep Gagal Ginjal Kronik

D3 pada GGK.

- Fosfatase lindi meninggi akibat gangguan metabolisme tulang, terutama Isoenzim fosfatase

lindi tulang.

- Hipoalbuminemis dan Hipokolesterolemia; umumnya disebabkan gangguan metabolisme

dan diet rendah protein.

- Peninggian Gula Darah , akibat gangguan metabolisme karbohidrat pada gagal ginjal,

(resistensi terhadap pengaruh insulin pada jaringan ferifer)

- Hipertrigliserida, akibat gangguan metabolisme lemak, disebabkan, peninggian hiormon

inslin, hormon somatotropik dan menurunnya lipoprotein lipase.

G. PENATALAKSANAAN

1. Tentukan dan tatalaksana terhadap penyebab.

2. Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam.

3. Diet tinggi kalori rendah protein.

4. Kendalikan hipertensi.

5. Jaga keseimbangan eletrolit.

6. Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang akibat GGK.

7. Modifikasi terapi obat sesuai dengan keadaan ginjal.

8. Deteksi dini terhadap komplikasi dan berikan terapi.

9. Persiapkan program hemodialisis.

10. Transplantasi ginjal.

H. KOMPLIKASI

1. Hipertensi.

2. Infeksi traktus urinarius.

3. Obstruksi traktus urinarius.

4. Gangguan elektrolit.

5. Gangguan perfusi ke ginjal.

I. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GGK

a. PENGKAJIAN

1. Biodata

Gagal Ginjal Kronik terjadi terutama pada usia lanjut (50-70 th), usia muda, dapat terjadi

pada semua jenis kelamin tetapi 70 % pada pria.

9

Page 10: Askep Gagal Ginjal Kronik

2. Keluhan utama

Kencing sedikit, tidak dapat kencing, gelisah, tidak selera makan (anoreksi), mual, muntah,

mulut terasa kering, rasa lelah, nafas berbau (ureum), gatal pada kulit.

3. Riwayat penyakit

a. Sekarang

Diare, muntah, perdarahan, luka bakar, rekasi anafilaksis, renjatan kardiogenik.

b. Dahulu

Riwayat penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, payah jantung, hipertensi,

penggunaan obat-obat nefrotoksik, Benign Prostatic Hyperplasia, prostatektomi.

c. Keluarga: Adanya penyakit keturunan, misalnya Diabetes

Mellitus (DM).

4. Pola aktivitas sehari-hari

a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Pada pasien gagal ginjal kronik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat

karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gagal ginjal kronik sehingga

menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak

mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya

penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien.

b) Pola nutrisi dan metabolisme : Anoreksi, mual, muntah dan rasa pahit pada rongga

mulut, intake minum yang kurang. dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat

mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi

status kesehatan klien.

c) Pola Eliminasi

Eliminasi urine :

Kencing sedikit (kurang dari 400 cc/hari), warna urine kuning tua dan pekat, tidak dapat

kencing.

Eliminasi alvi : Diare.

d) Pola tidur dan Istirahat : Gelisah, cemas, gangguan tidur.

e) Pola Aktivitas dan latihan : Klien mudah mengalami kelelahan dan lemas menyebabkan

klien tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal.

5. Pemeriksan fisik :

a. Tanda vital : Peningkatan suhu tubuh, nadi cepat dan lemah, hipertensi, nafas cepat dan

dalam (Kussmaul), dyspnea.

b. Kepala: Edema muka terutama daerah orbita, mulut bau khas ureum.

10

Page 11: Askep Gagal Ginjal Kronik

c. Mata : Lihat konjungtiva anemis atau an anemis dan sclera ikterik atau tidak

d. Hidung : Kebersihan, ada sinusitis atau tidak, simetris aau tidak

e. Telinga :Simetris atau tidak, ada serumen, fungsi pendengaran

f. Mulut : kebersihan mulut, kelembapan

g. Leher : ada pembengkakan kelenjar thyroid atau tidak

h. Dada

Inspeksi : simetris atau tidak, Pernafasan cepat dan dalam

Perkusi : Apa bunyi paru saat di ketuk

Palpasi : Ada nyeri tekan atau tidak

Auskultasi : Apakah bunyi paru normal atau tidak

i. Abdomen

Inspeksi : Simetris kira dan kanan, Adanya edema anasarka (ascites).

Auskultasi : Bising usus

Palpasi : Ada nyeri tekan atau tidak

Perkusi : Timpani

j. Genitalia : ada kelainan atau tidak

k. Ekstrimitas: Edema pada tungkai, spatisitas otot.

l. Kulit: Sianosis, akaral dingin, turgor kulit menurun.

b. ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1 DS :

- Klien

mengatakan badan

terasa lemah

- Klien

mengatakan kepala

pusing

DO :

- Klien terlihat

lelah

- TTV pasien

tidak stabil

Obstruksi saluran kemih

Retensi urine

GFR turun

GGK

Sekresi eritropoitis turun

Produksi Hb turun

Oksihemogobin turun

Suplai O2 turun

Gangguan perfusi jaringan

Gangguan

perfusi jaringan

serebral

11

Page 12: Askep Gagal Ginjal Kronik

2 DS :

- Klien biasanya

mengatakan tidak

nafsu makan

- Klien

mengatakan perut

terasa sakit

- Klien

mengatakan tidak

menghabiskan

makanan yang

disediakan

DO :

- Klien terlihat

pucat

- Klien tampak

tidak menghabiskan

makanannya

Infeksi

Reaksi antigen antibody

GFR turun

GGK

Sekresi protein terganggu

Sindrom uremia

Gang. Keseimbangan asam basa

Produksi asam naik

Asam lambung naik

Iritasi pada lambung

Infeksi

Mual, muntah

Intake tidak adekuat

Gangguan pemenuhan nutrisi

Gangguan

pemenuhan

kebutuhan

nutrisi kurang

dari kebutuhan

tubuh

3 DS :

- Klien biasanya

mengatakan kulit

terasa kering

DO :

- Turgor kulit

jelek

Aterosklerosis

Suplai darah ginjal turun

GFR turun

GGK

Sekresi protein terganggu

Sindrom uremia

Perpospatemia

Pruritis

Gangguan integritas kulit

Gangguan

integritas kulit

12

Page 13: Askep Gagal Ginjal Kronik

c. DIAGNOSA

1. Gangguan perfusi jaringan serebral b/d penurunan suplai O2 ke otak

2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake

yang tidak adekuat.

3. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status

metabolik, sirkulasi (anemia, iskemia jaringan) dan sensasi (neuropati ferifer), penurunan

turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi areum dalam kulit.

d. INTERVENSI

1. Gangguan perfusi jaringan serebral b/d penurunan suplai O2 ke otak

Tujuan kriteria hasil Intervensi Rasionalisasi

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

selama 1 x

24 jam

perfusi

jaringan

normal

tekanan darah

sistole antara

100 – 140 dan

diastole antara

70 – 90 mmHg ,

frekuensi nadi

antara 60 - 100,

nadi perifer

yang kuat,

a. Auskultasi suara

jantung dan paru.

Evaluasi adanya

edema, perifer,

kongesti vaskuler dan

keluhan dispnoe.

b. Monitor tekanan

darah, nadi, catat bila

ada perubahan tekanan

darah akibat perubahan

posisi.

c. Kaji adanya

keluhan nyeri dada,

lokasi dan skala

keparahan.

d. Kaji tingkat

kemampuan klien

beraktivitas.

a. A

danya edema paru, kongesti

vaskuler, dan keluhan dispnea

manunjukan adanya renal fail-

ure.

b. H

ipertensi yang signifikan meru-

pakan akibat dari gangguan

renin angiotensin dan aldos-

teron. Tetapi ortostatik

hipotensi juga dapat terjadi aki-

bat dari defisit intravaskular

fluid.

c. H

ipertensi dan Chronic renal

failure dapat menyebabkan ter-

jadinya myocardial infarct.

d. K

elemahan dapat terjadi akibat

dari tidak lancarnya sirkulasi

13

Page 14: Askep Gagal Ginjal Kronik

darah.

2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

Tujuan kriteria hasil Intervensi Rasionalisasi

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawat

an selama

2x 24 jam

kebutuhan

nutrisi

dapat

terpenuhi.

Berat badan

dan tinggi

badan ideal,

pasien

mematuhi

dietnya, mual

berkurang

dan muntah

tidak ada,

tekanan

darah 140/90

mmHg

a. Kaji/catat

pemasukan diet

status nutrisi dan

kebiasaan makan

b. Identifikasi

perubahan pola

makan.

c. Berikan makanan

sedikit dan

sering.

d. Anjurkan pasien

untuk mematuhi

diet yang telah

diprogramkan.

e. Timbang berat

badan setiap

seminggu sekali.

a. Un-

tuk mengetahui tentang keadaan dan ke-

butuhan nutrisi pasien sehingga dapat

diberikan tindakan dan pengaturan diet

yang adekuat.

b. Meng

etahui apakah pasien telah melak-

sanakan program diet yang ditetapkan.

c. Mem-

inimalkan anoreksia dan mual.

d. Kepat

uhan terhadap diet dapat mencegah

komplikasi terjadinya hipertensi yang

lebih berat.

e. Meng

etahui perkembangan berat badan pasien

(berat badan merupakan salah satu in-

dikasi untuk menentukan diet).

3. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan

status metabolik, sirkulasi (anemia, iskemia jaringan) dan sensasi (neuropati ferifer), penurunan turgor

kulit, penurunan aktivitas, akumulasi areum pada kulit.

Tujuan kriteria hasil Intervensi Rasionalisasi

14

Page 15: Askep Gagal Ginjal Kronik

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawat

an selama

1x24 jam

tidak

terjadi

kerusakan

integritas

kulit.

kulit tidak

lecet, klien

mampu

mendemons

trasikan cara

untuk

mencegah

terjadinya

kerusakan

integritas

kulit.

a. Inspek

si kulit terhadap

Perubahan

Warna,turgor,perhat

ikan kemerahan,

ekskoriasi.

b. Kaji

keadaan kulit

terhadap kemerahan

dan adanya

excoriasi.

c. Pantau

masukan cairan dan

hidrasi kulit,

membran mukosa.

d. Ganti

posisi tiap 2 jam

sekali, beri bantalan

pada tonjolan tulang

, pelindung siku dan

tumit

e. Jaga

keadaan kulit agar

tetap kering dan

bersih.

a. Menandakan area sirkulasi buruk,

yang dapat menimbulkan dekubitus.

b. Sirkulasi darah yang kurang menye-

babkan kulit mudah rusak dan memu-

dahkan timbulnya dicubitus/ infeksi.

c. Deteksi adanya dehidrasi yang mem-

pengaruhi integritas jaringan pada

tingkat seluler.

d. Mengurangi/ menurunkan tekanan

pada daerah yang edema, daerah yang

perfusinya kurang baik untuk mengu-

rangi/menurunkan iskemia jaringan.

e. Kulit yang basah terus menerus

memicu terjadi iritasi yang mengarah

terjadinya dikubitus.

f. Implementasi

No Hari

tanggal/jam

Diagnosa

Keperawatan

Implementasi Paraf

1 Gangguan - Mengauskultasi suara jantung dan paru.

15

Page 16: Askep Gagal Ginjal Kronik

perfusi jaringan

serebral b/d

penurunan suplai

O2 ke otak

Evaluasi adanya edema, perifer,

kongesti vaskuler dan keluhan dispnoe.

- Memonitor tekanan darah, nadi, catat

bila ada perubahan tekanan darah akibat

perubahan posisi.

- Mengkaji adanya keluhan nyeri dada,

lokasi dan skala keparahan.

- Mengkaji tingkat kemampuan klien

beraktivitas

2 Gangguan

pemenuhan

nutrisi kurang

dari kebutuhan

tubuh

berhubungan

dengan intake

yang tidak

adekuat.

- Mengkaji/catat pemasukan diet status

nutrisi dan kebiasaan makan

- Identifikasi perubahan pola makan.

- Berikan makanan sedikit dan sering.

- Anjurkan pasien untuk mematuhi diet

yang telah diprogramkan.

- Timbang berat badan setiap seminggu

sekali.

-

3 Resiko

terjadinya

kerusakan

integritas kulit

berhubungan

dengan

gangguan status

metabolik,

sirkulasi

(anemia, iskemia

jaringan) dan

sensasi

(neuropati

ferifer),

- Menginspeksi kulit

terhadap Perubahan Warna, turgor,

perhatikan kemerahan,ekskoriasi.

- Mengkaji keadaan kulit

terhadap kemerahan dan adanya

excoriasi.

- Memantau masukan cairan

dan hidrasi kulit, membran mukosa.

- Mengganti posisi tiap 2

jam sekali, beri bantalan pada tonjolan

tulang , pelindung siku dan tumit

- Menjaga keadaan kulit agar

tetap kering dan bersih.

-

16

Page 17: Askep Gagal Ginjal Kronik

penurunan turgor

kulit, penurunan

aktivitas,

akumulasi areum

pada kulit.

f. Evaluasi

No Hari/

tanggal/jam

Diagnosa

Keperawatan

Evaluasi Paraf

1. Gangguan perfusi

jaringan serebral

b/d penurunan

suplai O2 ke otak

S : Klien mengatakan kepala

terasa pusing

O : Klien terlihat lemah

A : Gangguan perfusi

jaringan serebral belum

teratasi

P : Intervensi dilanjutkan

Gangguan

pemenuhan nutrisi

kurang dari

kebutuhan tubuh

berhubungan

dengan intake yang

tidak adekuat.

S ; klien mengatakan tidak

nafsu makan

O : klien terlihat lemah

A : gangguan pemenuhan

nutrisi belum teratasi

P : intervensi di lanjutkan

3. Resiko terjadinya

kerusakan

integritas kulit

berhubungan

dengan gangguan

status metabolik,

S : Klien mengatakan kulit

terasa kering

O : turgor kulit jelek

A : Masalah teratasi

P : Intervensi dihentikan

17

Page 18: Askep Gagal Ginjal Kronik

sirkulasi (anemia,

iskemia jaringan)

dan sensasi

(neuropati ferifer),

penurunan turgor

kulit, penurunan

aktivitas, akumulasi

areum pada kulit.

18

Page 19: Askep Gagal Ginjal Kronik

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang menyebabkan

ketidakmampuan mempertahankan substansi tubuh dibawah kondisi normal.

Pada penyakit gagal ginjal dini (mikroalbuminuria) sudah mempunyai prognostik

morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Dengan memberatnya kelainan ginjal, disertai dengan

penurunan fungsi ginjal, prognosis terbukti semakin buruk, menuju gagal ginjal yang

memerlukan dialisis, komplikasi organ target yang mengurangi kualitas hidup dan meningkatkan

angka kematian.

B. SARAN

1. Dalam melakukan asuhan keperawatan hendaknya mencakup aspek biopsikososiospiritual

pasien.

2. Setiap selesai melakukan tindakan keperawatan hendaknya mendokumentasikannya, untuk

legalitas.

19

Page 20: Askep Gagal Ginjal Kronik

DAFTAR PUSTAKA

Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 6. Jakarta :

EGC.

Doengoes, Marylin E. 1989. Nursing Care Plans.Philadelphia : F.A Davis Company.

Lintong, Poppy M. 2005. Ginjal Dan Saluran Kencing Bagian Bawah. Bagian Patologi

Nanny.S. 2001. Intisari online.Disiplin Ketat Penderita Gagal Ginjal. www.

Indomedia.com/intisari/2001/juni/Terapi_601.htm.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Editor: Setiawan. Jakarta : EGC

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam

Jilid 1 Edisi 4. Balai Penerbitan Dep. IPP. FKUI. Jakarta

Sukandar, Enday. 2006. Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. Pusat Informasi Ilmiah Bagian

Ilmu Penyakit Dalam FK.UNPAD. Bandung.

20