of 54 /54
BAB I LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR A. PENGERTIAN Fraktur atau patah tulang adalah terputusya kontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa.( Brunner and Suddarth, 2001) Fraktur dapat dibagi menjadi dua : 1. Fraktur tertutup (closed), tidak menyebabkan robeknya kulit. 2. Fraktur terbuka (Open) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai kepatahan tulang. B. ETIOLOGI Penyebab fraktur dapat bermacam-macam meliputi : 1. Dorongan langsung pada tulang. 2. Fraktur spontan karena kondisi patologi yang mendasarinya. 3. Kontraksi otot yang kuat dan tiba-tiba. 4. Dorongan tidak langsung misalnya : terpukul benda, terbang dari jarak jauh. 5. Kontraksi otot ekstrim. (Arif Mansyur, 2000) 1

Fraktur (Lp)

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Fraktur (Lp)

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR

A. PENGERTIAN

Fraktur atau patah tulang adalah terputusya kontinuitas jaringan tulang dan

tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa.( Brunner and Suddarth,

2001)

Fraktur dapat dibagi menjadi dua :

1. Fraktur tertutup (closed), tidak menyebabkan robeknya kulit.

2. Fraktur terbuka (Open) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau

membran mukosa sampai kepatahan tulang.

B. ETIOLOGI

Penyebab fraktur dapat bermacam-macam meliputi :

1. Dorongan langsung pada tulang.

2. Fraktur spontan karena kondisi patologi yang mendasarinya.

3. Kontraksi otot yang kuat dan tiba-tiba.

4. Dorongan tidak langsung misalnya : terpukul benda, terbang dari jarak jauh.

5. Kontraksi otot ekstrim.

(Arif Mansyur, 2000)

C. PATOFISIOLOGI

Jenis fraktur yang umum terjadi pada anak kurang dari 5 tahun adalah fraktur

greenstick, fraktur ini terdapat retakan kompleks pada kontuinitas tulang yang

terjadi karena tulangnya lebih lunak dan lebih luntur dari tulang anak yang lebih

besar, fraktur lain dengan lokasi terkait adalah episis atas dan supra barbital,

fraktur humerus, lateral, fraktur pada batang radius dan ulna, fraktur pada batang

femur, tibia (ekstremitas bawah)

1

Page 2: Fraktur (Lp)

D. KLASIFIKASI FRAKTUR

1. Fraktur multipel pada satu tulang

Fraktur segmental adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang

menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya.

2. Fraktur inpaksi

Fraktur kompresi terjadi ketika 2 tulang menumbuk tulang ketiga yang berada

diantaranya seperti: 1 vertebra dengan 2 vertebra lainnya.

3. Fraktur patologik

Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemah

oleh karena tumor atau proses patologik lainnya.

4. Fraktur beban lainnya

Fraktur beban terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat

aktivitas mereka, baru diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata atau

orang-orang yang baru memulai latihan lari.

5. Fraktur greenstick

Fraktur greenstick adalah fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-

anak.

6. Fraktur avulsi

Fraktur avulsi memisahkan satu fragmen tulang pada tempat insersi tendon

ataupun ligamen.

7. Fraktur sendi

Catatan khusus harus dibuat untuk fraktur yang melibatkan sendi, terutama

apabila geometri sendi terganggu secara bermakna.

( Sylvia A. Price,1995)

E. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis fraktur adalah :

1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang

diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai

alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.

2

Page 3: Fraktur (Lp)

2. Setelah terjadi fraktur bagian-bagian tak dapat digunakan cederung bergerak

secara tidak alamiah (gerakan luar biasa). Ekstremitas tidak dapat berfungsi

dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang

tempat melengketnya otot.

3. Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena

kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur.

4. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat

trauma dan perdarahan yang menutupi fraktur.

5. Krepitus

( Suzanne, 2001)

F. KOMPLIKASI

1. Compacment sindrom.

2. Shock

3. Tromboemboli.

4. Nekrosis.

5. Malunion.

6. Delayed union dan nonunion.

G. PENATALAKSANAN KEDARURATAN

1. Mengimobilisasi tubuh segera sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien

mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan

pembidaian, ekstremitas harus disanggah diatas dan dibawah tempat patah

untuk mencegah gerakan rotasi.

2. Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan

menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi disekitar fraktur.

3. Daerah yang cidera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan

bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang.

4. Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk

mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam.

3

Page 4: Fraktur (Lp)

5. Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap, pakaian

dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian

dari sisi cidera.

H. PRINSIP PENANGANAN FRAKTUR

Prinsip penangan fraktur:

1. Reduksi fraktur

Reduksi fraktur atau setting tulang berarti mengembalikan fragmen tulang

pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Biasanya dokter melakukan reduksi

fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaingan lunak kehilangan

elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.

Sebelum reduksi dan immobilasasi fraktur pasien harus dipersiapkan

untuk menjalani prosedur, dan analgetik diberikan sesuai ketentuan mungkin

perlu dilakukan anastesi ekstremitas yang akan dimanipulasi harus ditangani

dengan lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

2. Reduksi tertutup

Pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan

mengembalikan fragmen tulang ke posisinya ( ujung-ujungnya saling

berhubungan) dengan manipulasi dengan traksi manual. Ekstremitas

dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips, bidai atau alat

lain dipasang oleh dokter. Alat immobilisasi akan menjaga reduksi dan

menstabilkan ekstremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar X harus

dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran

yang benar.

3. Reduksi terbuka

Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan

bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin,

kawat, sekrup, plat, paku, atau batangan logam dapat digunakan untuk

mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan

tulang yang solid terjadi.

4

Page 5: Fraktur (Lp)

4. Traksi

Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek dan reduksi

immobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.

Sinar x digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan akrosinasi fragmen

tulang. Ketika tulang sembuh, akan terlihat pembentukan kallus pada sinar x.

ketika kallus telah kuat, dapat dipasang gips atau bidai untuk melanjutkan

immobilisasi.

5. Immobilisasi fraktur

Setelah fraktur direduksi, fagmen tulang harus diimmobilasi, atau

dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi

penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi internal dan

eksternal. Metode fiksasi eksternal meliputi : pembalutan, gips, bidai, traksi

kontinu, pin dan teknik gips atau fiksator eksterna. Implan logam dapat

digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk

mengimobilisasi fraktur.

6. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi

Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak.

Reduksi dan immobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Latihan

isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi disues dan

meningkatkan peredaran darah

( Brunner & Suddarth, 2001)

I. PERAWATAN PASIEN FRAKTUR TERTUTUP

Pasien dengan fraktur tertutup harus diusahakan untuk kembali ke aktivitas

biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur dan pengembalian kekuatan penuh

dan mobilitas mungkin memerlukan waktu sampai berbulan-bulan. Pasien diajari

bagaimana mengontrol pembengkakan dan nyeri sehubungan dengan fraktur dan

trauma jaringan lunak. Tirah baring diusahakan seminimal mungkin. Latihan

segera dimulai untuk mempertahankan kesehatan otot yang sehat untuk

meningkatkan kekuatan otot yang dibutuhkan untuk pemindahan dan untuk

menggunakan alat bantu (misalnya : tongkat, walker).

5

Page 6: Fraktur (Lp)

( Brunner & Suddarth, 2001)

J. PERAWATAN PASIEN FRAKTUR TERBUKA

Pada fraktur terbuka terdapat resiko infeksi. Tujuan penanganan adalah

meminimalkan resiko infeksi. Pasien dibawah ke ruang operasi dimanan luka

dibersihkan . Dilakukan usapan luka untuk biakan dan kepekaan. Mungkin perlu

dilakukan draft tulang untuk menjembatani defek, namun harus yakin bahwa

jaringan resipien masih sehat dan mampu memfasilitasi penyatuan. Ekstremitas

ditinggikan untuk meminimalkan terjadinya edema.

K. UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK

1. Pemeriksana sinar x pada tempat cidera.

2. Hitung darah lengkap.

L. FASE PENYEMBUHAN

Jika satu tulang sudah patah, maka jaringan lunak sekitarnya juga

rusak,periosteum terpisah dari tulang dan terjadi perdarahan yang cukup berat.

Bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut, bekuan akan membentuk jaringan

granulasi dimana sel-sel pembentuk tulang premitif berdeferensiasi menjadi

kondroblas dan osteoblas. Kondroblas akan mengsekresi fosfat, yang merangsang

deposisi kalsium. Terbentuknya lapisan tebal disekitar lokasi fraktur akan

menebal dan meluas, dan bertemu dengan lapisan kallus dari fragmen satunya dan

menyatu. Fusi dari kedua fragmen terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula

oleh osteoblast, yang melekat pada tulang dan meluas menyeberangi lokasi

fraktur. Persatuan (union) tulang provisional ini akan menjalani transformasi

metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Kallus tulang akan

mengalami re-modelling dimana osteoblast akan membentuk tulang baru

sementara osteoklas akan menyingkirkan bagian yang rusak sehingga akhirnya

terbentuk tulang yang menyerupai keadaan tulang aslinya.

( Sylvia A.Price, 1995)

6

Page 7: Fraktur (Lp)

M. PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Yang perlu dikaji meliputi ;

a. Kaji tingkat nyeri

b. Kaji penyebaran nyeri

c. Kaji perlunya menghilangkan nyeri

d. Kaji adanya tanda dan gejala infeksi

e. Kaji penyembuhan luka

f. Kaji adanya iritasi pada kulit

g. Kaji tanda dan gejala komplikasi

2. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan terputusnya

kontuinitas tulang.

b. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontuinitas jaringan, spasme otot,

gerakan fragmen tulang.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya media invasi kuman.

d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka

e. ADL tidak terpenuhi berhubungan dengan nyeri pada saat bergerak

f. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga

tentang proses penyakitnya

3. Intervensi

a. NDX 1 : Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan

terputusnya kontuinitas tulang.

Tujuan : Mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur

Intervensi

- Pertahankan tirah baring, sesuai indikasi

Rasional : Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan

gangguan posisi/penyembuhan.

- Sokong fraktur dengan bantal/gulungan selimut

Rasional : Mencegah gerakan yang tidak perlu dan perubahan posisi.

7

Page 8: Fraktur (Lp)

- Tugaskan petugas yang cukup untuk membalik pasien. Hindari

menggunakan papan abdukasi untuk membalik pasien dengan gips

Rasional : Gips panggul/tubuh atau multipel dapat membuat berat dan

tidak praktis secara ekstrem. Kegagalan untuk menyokong

ekstremitas yang di gips dapat menyebabkan gips patah.

- Evaluasi pembebat ekstremitas terhadap resolusi edema

Rasional : Pembebat mungkin digunakan untuk memberikan

immobilisasi fraktur dimana pembengkakan jaringan

berlebihan.

b. NDX 2 : Nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen

tulang.

Tujuan : Nyeri hilang atau nyeri teratasi

Intervensi

- Kaji tingkat nyeri

Rasional : Untuk mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan klien.

- Kaji jenis dan lokasi nyeri

Rasional : Nyeri tekan mungkin akan dirasakan pada fraktur dan

kerusakan jaringan lunak, spasmme otot terjadi sebagai

respon terhadap cedera dan immobilisasi

- Kaji ketidaknyamanan pasien

Rasional : Nyeri merupakan dasar bagi perencanaan intervensi

keperawatan

- Ajarkan teknik relaksasi

Rasional : Untuk mengurangi nyeri yang dirasakan klien

- Melakukan perubahan posisi dengan perlahan

Rasional : Mengurangi spasme otot

- Berikan informasi tentang penyakit klien

Rasional : Agar klien tahu tentang penyakit yang diderita

- Kolaborasi pemberian obat analgetik

Rasional : Untuk menurunkan nyeri atau spasme otot

8

Page 9: Fraktur (Lp)

c. NDX 3 : Resiko infeksi berhubungan dengan adanya media invasi

kuman.

Tujuan : Tidak ada tanda-tanda infeksi

Intervensi

- Kaji adanya tanda-tanda infeksi

Rasional : Untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda infeksi

- Berikan perawatan secara steril

Rasional : Dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan

infeksi

- Tutupi pada akhir gips peritoneal dengan plastik

Rasional : Gips yang lembab, padat, dapat meningkatkan pertumbuhan

bakteri

- Kolaborasi pemberian obat antibiotik

Rasional : Untuk mencegah timbulnya infeksi

d. NDX 4 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur

terbuka

Tujuan : Untuk mencegah kerusakan kulit/ memudahkan penyembuhan

sesuai indikasi

Intervensi

- Kaji kulit untuk luka terbuka

Rasional : Memberikan informasi tentag sirkulasi kulit dan masalah

yang mungkin disebabkan oleh alat atau pemasangan gips.

- Masase kulit dan penonjolan tulang

Rasional : Menurunkan tekanan pada area yang peka dan resiko abrasi

atau kerusakan kulit

- Bersihkan kulit dengan air. Gosok perlahan dengan alkohol atau bedak

sedikit

Rasional : Terlalu banyak bedak dapat membuat lengket bila kontak

dengan air atau keringat.

9

Page 10: Fraktur (Lp)

- Tingkatkan pengeringan gips dengan mengangkat linen tempat tidur

Rasional : Mencegah kerusakan kulit yang disebabkan oleh tertutup

pada kelembaban di bawah gips dalam jangka lama.

- Observasi untuk potensial area yang tertekan

Rasional : Tekanan dapat menyebabkan ulserasi, nekrosis dan

kelumpuhan saraf

e. NDX 5 : ADL tidak terpenuhi berhubungan dengan nyeri pada saat

bergerak

Tujuan : Klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya

Intervensi

- Kaji tingkat ketidakmampuan klien melaksanakan aktivitas sehari-hari

Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana ketidakmampuan klien

dalam memenuhi ADL nya

- Bantu klien dalam pemenuhan ADL

Rasional : Agar kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi

- Anjurkan klien untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya secara

mandiri

Rasional : Agar klien mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri.

f. NDX 6 : Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien

dan keluarga tentang proses penyakitnya

Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya

Intervensi

- Kaji tingkat kecemasan klien

Rasional : Untuk mengukur sejauhmana tingkat kecemasan klien

- Kaji tingkat pengetahuan klien

Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang

penyakitnya

- Berikan informasi tentang penyakit klien

Rasional : Agar klien mengerti dan tahu tentang penyakitnya

10

Page 11: Fraktur (Lp)

- Akui kenyataan/normalitas perasaan, termasuk marah

Rasional : Memberikan dukungan emosi yang dapat membantu pasien

melalui penilaian awal juga selama pemulihan.

- Dorong menggunakan manajemen stress contoh : napas dalam

Rasional : Membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan

relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

( Marilyn .E. Doengoes,2002)

4. Evaluasi

a. Pasien secara aktif berpartisipasi dalam dalam program terapi.

- Meninggikan ekstremitas yang terkena.

- Berlatih sesuai instruksi

- Menjaga gips tetap kering

- Melaporkan setiap masalah yang timbul.

b. Melaporkan berkurangnya nyeri

- Meninggikan ekstremitas yang digips

- Mereposisi sendiri

- Menggunakan analgetik oral bila perlu.

c. Memperlihatkan peningkatan kemampuan mobilitas

- Mempergunakan alat bantu yang aman

- Berlatih untuk meningkatkan kekuatan

- Mengubah posisi sesering mungkin

d. Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri.

- Melakukan aktivitas hygiene dan kerapihan secara mandiri.

e. Makan sendiri atau dengan bantuan minim

- Tidak memperlihatkan tanda dan gejala infeksi

- Memperlihatkan kulit yang utuh saat gips dibuka

f. Tidak memperlihatkan adanya komplikasi

- Tidak terjadi ulkus akibat tekanan

- Memperlihatkan pengecilan otot minimal.

(Brunner & Suddarth, 2001)

11

Page 12: Fraktur (Lp)

PENYIMPANGAN KDM

12

Kecelakaan lalu lintas

Terjadi benturan

Terputusnya kontuinitas jaringan

Merangsang pengeluaran mediator kimia ( bradikinin, serotinin, histamin)

Rangsangan dihantarkan melalui serabut saraf afferen ke hipotalamus

Korteks cerebri

Nyeri dipersepsikan

Nyeri

Adanya kerusakan jaringan

Media masuknya kuman

Resiko infeksi

Aktivitas terbatas

Immobilitas fisik

Kebutuhan klien dibantu

Intolerance activity

Sebagian aktivitas dilayani ditempat tidur

Klien tidak mampu melakukan sendiri

Defisit perawatan diri

Perubahan status kesehatan

Kurangnya pengetahuan klien

tentang penyakitnya

Stressor meningkat

Koping tidak efektif

Ansietas

Page 13: Fraktur (Lp)

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN Tn. “I”

DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL “FRAKTUR”

DI RUANG PERAWATAN TUNJUNG

RSUP SANGLAH DENPASAR

A. PENGKAJIAN

1. BIODATA

a. Identitas klien

Nama : Tn”I”

Umur : 27 Tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Hindu

Alamat : BR pusut Tibubiu tabanan kurambitan

No. reg : 0110141134

Tgl Masuk : 5-5-2006

Tgl Pengkajian : 9-5-2006

Diagnosa : Fraktur femur

b. Penanggung jawab

Nama : Tn”IW”

Alamat : Perum dukuh sari permai no. 68

Pekerjaan : Pegawai swasta

Hub dengan klien : Saudara

2. RIWAYAT KESEHATAN

a. Keluhan utama : Nyeri

b. Riwayat keluhan utama

Klien masuk RS dengan keluhan patah pada kaki kiri akibat jatuh dari

motor, keluhan ini dialami sejak tanggal 5-5-2006. nyeri dirasakan hilang

13

Page 14: Fraktur (Lp)

timbul dan terasa panas , nyeri dirasakan pada daerah kaki kiri dengan

skala sedang. Hal yang memperberat keluhan bila pasien banyak gerak

dan yang memperingan bila klien tidak banyak gerak/istrahat.

3. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

Klien pernah masuk rumah sakit sebelumnya karena tumor tulang, klien

pernah dioperasi pada tahun 1999.

4. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

Genogram

: Laki-laki

: Perempuan

? : Tidak diketahui umurnya

------ : Serumah

5. RIWAYAT PSIKOSOSIAL

a. Pola konsep diri

- Gambaran diri : Klien merasa kakinya sakit sehingga dirawat di rumah

sakit

- Ideal diri : Klien berharap cepat sembuh dan kembali berkumpul

bersama keluarganya

- Identitas diri : Klien mengatakan dia anak tunggal

14

? ???

?

?

? ??

?

?

Page 15: Fraktur (Lp)

- Harga diri : klien tidak ada perasaan minder dengan orang lain karena

penyakitnya.

- Peran : Klien belum kerja dan masih dibiayai oleh orang tua

b. Pola kognitif

Bahasa yang digunakan oleh klien adalah bahasa indonesia dan klien

yakin penyakit yang dialami saat ini adalah merupakan cobaan dari tuhan.

c. Pola koping

Jika klien menghdapi suatu masalah klien selalu menyelesaikan

masalahnya sendiri, klien berusaha untuk sabar dalam menghadapi

penyakit yang dialami. Klien merasa nyeri sehingga hanya berbaring di

tempat tidur dan jika nyeri klien menarik napas. Klien dan keluarga

mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya dan sering bertanya tentang

penyakitnya.

d. Pola interaksi

Klien dapat berinteraksi dengan baik kepada sesama klien dan

perawat.

6. RIWAYAT SPIRITUAL

Sebelum sakit klien rajin beribadah sesuai dengan agama dan

kepercayaannya, selama sakit klien hanya bisa berdoa di tempat tidur

7. PEMERIKSAAN FISIK

a. Keadaan umum klien

Keadaan umum klien lemah, penampilan klien sesuai dengan usianya,

ekspresi wajah klien nampak meringis, dan klien mengeluh nyeri pada

daerah kaki kiri, dan nyeri yang dirasakan hilang timbul

b. TTV

- TD : 110/70 mmHg - S : 36o C

- P : 20 x/menit - N : 80 x/menit

c. Sistem pernapasan

Tidak terdapat pernapasan cuping hidung, tidak terdapat sekret pada

hidung, tidak ada nyeri tekan, gerakan dada mengikuti gerak pola napas,

15

Page 16: Fraktur (Lp)

bentuk dada normal chest, suara dug-dug pada saat dilakukan perkusi dan

tidak ada bunyi napas tambahan.

d. Sistem kardiovaskuler

Konjunctiva tidak anemi, bunyi jantung S1 lub S2 dub, TD : 110/70

mmHg.

e. Sistem pencernaan

Sklera tidak ikterus, Bibir lembab, bunyi peristlatik 15x/menit, tidak

ada stomatitis dan palatozkisis, jumlah gigi lengkap 3212 2123

3212 2123Tidak ada pembesaran pada abdomen dan ginjal, bunyi timpani pada

abdomen saat dilakukan perkusi.

f. Sistem indra

Tidak ada edema pada palpebra, mampu menutup dan membuka bola

mata secara spontan, tidak ada tanda-tanda radang, klien mampu

membedakan bau teh dan kopi, lubang hidung klien simetris kiri dan

kanan, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat sekret dan polip.

g. Sistem saraf

1) Fungsi cerebral

Klien mampu membedakan tempat dan waktu, klien mampu

mengingat peristiwa yang terjadi, klien memperhatikan jika diajak

bicara dan dapat menjawab pertanyaan serta mengikuti perintah-

perintah. Kesadaran klien composmentis dengan skor 15, kriteria :

- E4 : Membuka mata secara spontan

- V5 : Orientasi baik

- M6 : Mengikuti perintah

2) Fungsi kranial

a) Nervus I (Olfaktorius)

Klien dapat membedakan bau kopi dan teh.

16

Page 17: Fraktur (Lp)

b) Nervus II (Optikus)

Lapang padang klien normal dimana klien dapat melihat dari

jarak jauh maupun dekat (6/6)

c) Nervus III,IV,VI (okulomotorius, abdusen, trokealis,)

Klien dapat menggerakkan bola matanya kesegala arah, respon

pupil terhadap cahaya isokor.

d) Nervus V (trigeminus)

Klien dapat merasakan sensasi pada wajah dimana klien mampu

merasakan usapan pada wajah atau tangan dan klien mampu

mengunyah makanan dan otot mesesster dan temporalis dapat

diraba.

e) Nervus VII (facialis)

Klien mampu tersenyum dan mampu menggerakkan alis.

f) Nervus VIII (vestibulokoklearis)

Klien menoleh jika dipanggil namanya tetapi klien tidak mampu

berjalan sendiri karena fraktur pada kaki kiri.

g) Nervus IX ( Glasofaringeal)

Klien mampu membedakan rasa asin, manis, pahit dan asam.

h) Nervus X (vagus)

Gerakan ovula baik, dimana pada saat membuka mulut dan

mengatakan “ah”, klien mampu menelan dengan baik.

i) Nervus XI (Assesoris)

Klien mampu menggerakkan kepala kekiri dan kekanan, dimana

pada kaki kiri klien tidak mampu melawan tahanan.

j) Nervus XII (Hipoglosus)

Klien mampu menjulurkan lidah dan menggerakkan kesegala arah

3) Fungsi cerebellum

Klien tidak dapat berjalan sendiri karena adanya fraktur pada kaki

kiri dimana koordinasi kaki tidak dapat dilakukan

17

Page 18: Fraktur (Lp)

4) Refleks

Bisep (+), Trisep (+), Patella(+), dan babinski (-)

5) Iritasi meningen

Klien tidak mampu menggerakkan kaki kiri karena sementara

terpasang gips.

h. Sistem muskuloskeletal

Bentuk kepala mesochepal, dimana klien tidak bisa menggerakkan kaki

kiri karena terpasang gips dan tidak bisa berjalan dengan baik, tidak ada

pembengkakan tangan dan lutut.

Kekuatan otot

5 5

5 3

Kekuatan otot tangan kanan :5, Tangan kiri :5, Kaki Kanan :5, Kaki

Kiri :3. Jumlah skor kekuatan otot = 18

i. Sistem integumen

Rambut klien berwarna hitam, tidak ada luka pada kepala klien dan

rambut klien tidak mudah tercabut, warna kulit sawo matang, tekstur kulit

kering, warna kuku merah muda, kuku tidak mudah patah.

j. Sistem endokrin

Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada polidipsi, poliuri dan

polipagia, tidak ada riwayat keringat berlebihan, dan tidak ada riwayat

DM.

k. Sistem perkemihan

Tidak ada polidipsi, poliuri dan polipagia; tidak ada nocturia dan

oliguria.

l. Sistem immun

Tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, klien menderita flu

maupun batuk saat terjadi perubahan cuaca

18

Page 19: Fraktur (Lp)

8. AKTIVITAS SEHARI-HARI

N

O

AKTIVITAS SEBELUM SAKIT SAAT SAKIT

1

2

3

4

5

Nutrisi

Pola makan

Frek Makan dalam sehari

Nafsu makan

Makanan pantang

Menu

Minum

Jenis minuman

Frekuensi

Eliminasi

BAB

- Frekuensi

- Warna

- Konsistensi

- Tempat

BAK

- Frekuensi

- Bau

- Tempat

Personal Hygiene

Mandi

Menyikat gigi

Cuci rambut

Istirahat dan tidur

Tidur siang

Tidur malam

Teratur

3x/hari

Baik

-

Nasi, sayur dan lauk

Air putih

7-8 gelas/hari

1-2X/hari

Kuning

lembek

WC

3-4X/hari

Amoniak

WC

2X sehari

2X sehari

2X seminggu

14.00-15.00

21.00-05.00

Teratur

3x/hari

Berkurang

-

Bubur, lauk, buah

Air putih

8 gelas

1-2X/hari

Kuning

Lunak

Pispot

3-4X/hari

Amoniak

Urinal pot

1X sehari

2X sehari

-

13.00-14.00

22.00-03.30

19

Page 20: Fraktur (Lp)

9. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

a. Foto toraks :

b. Laboratorium

Nilai normal

1) WBC : 4,1-10,9 5000-10.000/mm3

2) RBC : 4,0-5,9 lk 4,5-5,5 jt/mm3 pr 4,0-5,0 jt/mm3

3) HGB : 12-16 g/dl lk 13-16 gr % pr 12-14 %

4) HCT : 34 % lk 40-48 % pr 37-48 %

5) MCV : 89,3 pc

6) MCH : 28, 7 Hpg

20

Page 21: Fraktur (Lp)

DATA FOKUS

Data Subjektif Data objektif

- Klien mengeluh nyeri

pada daerah kaki kiri

- Klien mengatakan nyeri

yang dirasakan hilang timbul

- Klien dan keluarganya

mengatakan tidak tahu banyak

tentang penyakitnya klien banyak

bertanya tentang penyakitnya

- Ekspresi wajah nampak

meringis

- Klien nampak lemah

- Kerusakan jaringan pada

kaki kiri

- Nampak terpasang gips

pada kaki kiri

- Klien nampak cemas

- Klien menanyakan

tentang keadaan penyakitnya

- TTV :

TD: 110 / 70 mmHg

S : 36C

N : 80x / m

P : 24x / m

- Pemeriksaan Diagnostik

1.WBC = 4.1 – 10.9 10x3 / ul

2. RBC = 4.0 – 5.9 10x6 /ul

3. HGB = 12.0 -16.0 9 /dl

4. HCT = 34 % 37.48%

5. Mcv = 89.3 pc 82.92 NPL

6. McH = 28.7 Pg 27.31 Hpg

21

Page 22: Fraktur (Lp)

ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1

2

DS :

- Klien mengeluh nyeri pada

daerah kaki kiri

- Klien mengatakan nyeri yang

dirasakan hilang timbul

DO :

- Ekspresi wajah tanpa

meringis

- Klien nampak lemah

- TTV:

TD:110 170 mmHg

S : 36C

N : 80/m

P : 24x/m

DS :

DO :

- Kerusakan jaringan pada

kaki kiri

- Nampak terpasang gips pada

kecelakaan lalulintas

terjadi benturan

merangsang neuroseptor

homeding

rangsangan yang

dihantarkan oleh serabut

saraf menuju

hipotalamus

dikembalikan oleh

serabut araf afferent

menuju tubuh

Nyeri

Adanya kerusakan

jaringan

Daerah invasif kuman

Nyeri

Resiko

infeksi

22

Page 23: Fraktur (Lp)

3

kaki kiri

DS :

- Klien dan keluarganya tidak

tahu banyak tentang kondisi

saat ini

- Klien banyak bertanya

DO :

- Klien nampak cemas

- Klien menanyakan tentang

keadaan penyakitnya

patogen

Resiko infeksi

Perubahan status

kesehatan

Stressor

Kurang pengetahuan

ansietas

Ansietas

23

Page 24: Fraktur (Lp)

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA KEPERAWATANTGL

DITEMUKANTGL TERATASI

1

2

3

Nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontuinitas jaringan, spasme otot, gerakan

fragmen tulang.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan

adanya kerusakan jaringan

Ansietas berhubungan dengan kurangnya

pengetahuan klien dan keluarga tentang

proses penyakitnya

09 – 05 – 2006

09 – 05 – 2006

09 – 05 – 2006

-

-

-

24

Page 25: Fraktur (Lp)

25

Page 26: Fraktur (Lp)

RENCANA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA DAN DATA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

1 Nyeri berhubungan dengan

terputusnya kontuinitas

jaringan, spasme otot,

gerakan fragmen tulang.

DS :

- Klien mengeluh pada

daerah kaki kiri

- Klien mengatakan nyeri

yang dirasakan hilang

timbul

DO :

- Ekspresi wajah tanpa

meringis

- Klien nampak lemah

- TTV:

TD:110 170 mmHg

S : 36C

Kebutuhan rasa

nyaman nyeri

terpenuhi dengan

kriteria :

- Klien tidak

mengeluh nyeri

- Klien dapat

bergerak tanpa

keluhan

- Klien nampak ceria

1.Kaji tingkat nyeri dengan

skala sedang 4-6, ringan

1-3, berat 7-10.

2.Atur posisi senyaman

mungkin

3.Observasi TTV

4.HE tentang teknik

mengurangi nyeri

5.Penatalaksanaan

pemberian obat analgetik

1. Untuk mengetahui tingkat nyeri

2. Untuk menguragi rasa nyeri

3. Untuk mengetahui perubahan atau

perkembangan.

4. Untuk mengetahui teknik nyeri

5.Membantu proses penyembuhan

26

Page 27: Fraktur (Lp)

2

N : 80/m

P : 24x/m

Resiko tinggi infeksi

berhubungan dengan adanya

kerusakan jaringan

DS :

DO :

- Kerusakan jaringan

pada kaki kiri

- Nampak terpasang gips

pada kaki kiri

Ansietas berhubungan

Infeksi tidak terjadi

dengan kriteria :

Luka bebas dari

eritema dan demam

Kecemasan keluarga

1. Rawat jika terdapat

pemasangan gips

2. Inspeksi kulit untuk

mengetahui adanya

iritasi/robekan

kontuinitas

3. Jelaskan pada klien

tentang pentingnya

perawatan luka

4. Penatalaksanaan

pemberian obat

antibiotik

1. Kaji tingkat kecemasan

1. Untuk mencegah terjadinya infeksi

2. Gips yang lembab memungkingkan

pertumbuhan bakteri

3. Agar luka yang terdapat pada kaki

dapat sembuh

4. Untuk mempercepat penyembuhan

1. Untuk mengetahui tingkat kecemasan

27

Page 28: Fraktur (Lp)

3 dengan kurangnya

pengetahuan klien dan

keluarga tentang proses

penyakitnya

DS :

- Klien dan keluarganya

tidak tahu banyak

tentang kondisi saat ini

- Klien banyak bertanya

DO :

- Klien nampak cemas

- Klien menanyakan

tentang keadaan

penyakitnya

berkurang dengan

kriteria :

Klien dan keluarganya

tidak bertanya lagi

tentang penyakit klien

klien dan keluarganya.

2. B

eri penjelasan tentang

kondisi luka dan

prosedur tindakan

3. B

eri dukungan kepada

klien dan keluarganya

4. B

erikan informasi kepada

klien dan keluarganya

tentang penyakitnya

klien dan keluarganya

2. Agar dapat diketahui sejaumana

pengetahuan klien dan keluarganya

tentang penyakit klien

3. Agar klien dan keluarganya dapat

menerima keadaan yang dihadapi klien

4. Agar klien dan keluarga tahu tentang

penyakit dari klien.

28

Page 29: Fraktur (Lp)

CATATAN TINDAKAN

Tanggal NDX Jam NO Tindakan Keperawatan Dan Hasil09-05-2006 1.

2.

3.

07.30

08.00

08.15

09.00

09.30

10.00

10.20

10.30

11.00

11.30

1

2.

3

4.

5.

1.

2

3

4

1

2

3

- Mengkaji tingkat nyeri yang dirasakan oleh

klien dengan hasil nyeri pada skala sedang

- Mengatur posisi yang senyaman mungkin

dengan hasil nyeri berkurang

- HE tentang teknik mengurangi nyeri dengan

hasil untuk mengurangi rasa nyeri

- Mengobservasi TTV : TD: 110/70 mmHg

N : 80x/m

P : 24x/m

S :36C

- Memberi .obat anti nyeri

- Rawat jika terdapat pemasangan gips

- Mengobservasi luka dengan

hasil kondisi luka diketahui

- Menjelaskan kepada klien dan

keluarganya tentang pentingnya perawatan

dengan hasil klien sudah mengetahui tentang

penyakitnya

- Memberikan obat antibotik

- Kaji tingkat kecemasan klien

dan keluarganya dengan hasil tingkat

kecemasan klien dan keluarganya sudah

berkurang

- Mengkaji tingkat pengetahuan

klien dan keluarganya dengan hasil klien dan

keluarganya paham tentang penyakit klien

- Memberikan dukungan kepada

29

Page 30: Fraktur (Lp)

10-05-2006

11-05-2006

1.

2

3

1

08.00

09.00

09.30

10.00

11.00

11.30

12.00

12.30

12.45

13.07

13.30

13.45

1

2

3

4

5

1

2

3

1

2

3

1

keluarga klien

- Mengkaji tingkat nyeri yang

dirasakan oleh klien dengan hasil nyeri pada

skala 5 ( sedang)

- Mengatur posisi senyaman

mungkin dengan hasil nyeri berkurang

- HE tentang tekhnik mengurangi

nyeri dengan hasil ntuk menghilangkan rasa

nyeri

- Observasi tanda- tanda vital

dengan hasil TD : 110/70 mmHg

N : 80 kali/meni

P : 24 kali/menit

S : 36C

- Memberi obat anti nyeri

- Mengobservasi luka dengan

hasil kondisi luka di ketahui

- Menjelaskan kepada klien dan

keluarganya tentang pentingnya perawatan

dengan hasil klien sudah mengerti tentang

penyakitnya

- Memberikan obat antibiotik

- Mengkaji tingkat kecemasan

klien dan keluarganya dengan hasil tingkat

kecemasan klien dan keluarganya berkurang

- Mengkaji tingkat pengetahuan

klien dan keluarganya dengan hasil klien dan

keluarganya paham tentang penyakit klien

- Memberikan dukungan kepada

30

Page 31: Fraktur (Lp)

2

3

14.00

14.30

15.00

15.30

15.45

16.00

16.10

16.20

15.00

15.20

15.30

2

3

4

5

1

2

3

4

1

2

3

keluarga klien

- Mengkaji tingkat nyeri yang

dirasakan oleh klien dengan hasil klien tidak

merasa nyeri pada skala sedang

- Mengatur posisi yang senyaman mungkin

dengan hasil nyeri berkurang

- HE tentang teknik mengurangi nyeri dengan

hasil untuk mengurangi rasa nyeri

- Mengobservasi TTV : TD: 110/70 mmHg

N : 80x/m

P : 24x/m

S : 36C

- Memberi obat anti nyeri

- Rawat jika terdapat pemasangan gips

- Mengobservasi luka dengan

hasil kondisi luka diketahui

- Menjelaskan kepada klien dan

keluarganya tentang pentingnya perawatan

dengan hasil klien sudah mengetahui tentang

penyakitnya

- Memberikan obat antibotik

- Mengkaji tingkat kecemasan

klien dan keluarganya dengan hasil tingkat

kecemasan klien dan keluarganya berkurang

- Mengkaji tingkat pengetahuan

klien dan keluarganya dengan hasil klien dan

keluarganya paham tentang penyakit klien

- Memberikan dukungan kepada keluarga klien

31

Page 32: Fraktur (Lp)

32

Page 33: Fraktur (Lp)

CATATAN PERKEMBANGAN

TGL NDX JAM EVALUASI / SOAP

O9-05-2006 1

2

3

11.00

12.00

12.30

S : Klien mengatakan nyeri pada daerah kaki kiri

dengan skala sedang

O : Ekspresi wajah meringis

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1-5

1. Kaji tingkat nyeri

2. Atur posisi senyaman

mungking

3. Observasi TTV

4. HE tentang tekhnik

mengurangi nyeri

5. Pemberian obat

analgetik

S : -

O : Nampak terpasang gips pada kaki kiri

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1.2.3

1. Observasi luka

2. Jelaskan tentang

pentingnya pemberian perawatan

3. Pemberian obat

antibiotik

S : Klien dan keluarganya tidak banyak tahu

tentang kesehatanya

O : Klien nampak cemas

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1.2.3

1. Mengkaji tingkat

33

Page 34: Fraktur (Lp)

10-05-2006

11-05-2006

1

2

3

1

10.00

11.00

12.00

13.30

kecemasan

2. Mengkaji tingkat

pengetahuan klien dan keluarganya

3. Memberi dukungan

kepada klien dan keluarga klien.

S : Klien mengatakan nyeri pada daerah kaki

kiri dengan skala sedang

O : Ekspresi wajah meringis

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1-5

1. Kaji tingkat nyeri

2. Atur posisi senyaman

mungkin

3. Observasi tanda-

tanda vital

4. HE tentang tekhnik

mengurangi nyeri

5. Pemberian obat

analgetik

S :-

O : Tampak terpasang gips pada kaki kiri

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

1. Observasi luka

2. Jelaskan tentang pentingnya perawatan

3. Pemberian obat

S: Klien dan keluarganya tidak banyak tahu tentang

keadaannya

O : Klien nampak cemas

A : Masalah belum teratasi

34

Page 35: Fraktur (Lp)

2

3

14.00

15.00

P : Lanjutkan intervensi 1 dan 3

1. Mengkaji tingkat kecemasan

3. Memberi dukungan kepada klien dan keluarga

klien.

S : klien mengatakan nyeri pada daerah kaki kiri

dan skala sedang

O : Ekspresi wajah meringis

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1-5

1. Kaji tingkat nyeri

2. Atur posisi senyaman mungkin

3. Observasi tanda-tanda vital

4. HE tentang tekhnik mengurangi nyeri

5. Pemberian obat analgetik

S :-

O : Tampak terpasang gips pada kaki kiri

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

1. Observasi luka

2. Jelaskan tentang pentingnya perawatan

3. Pemberian obat

S : Klien dan keluarganya tidak banyak tahu

tentang keadaannya

O : Klien nampak cemas

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1 dan 3

1. Mengkaji tingkat kecemasan

3. Memberi dukungan kepada klien dan

keluarga klien.

35

Page 36: Fraktur (Lp)

36

Page 37: Fraktur (Lp)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat tuhan yang maha esa karena atas berkat, rahmat dan

hidayahnya kami dari kelompk V dapat menyelesaikan/menyusun Asuhan

Keperawatan ini.

Kami menyadari didalam penyusunan Asuan keperawatan ini masih banyak

kekurangan- kekurangan yang perlu di perbaiki bersama oleh karena itu saran

dan kritik dari pembimbing baik dari institusi maupun dari lahan sangat kami

butuhkan demi kesempurnaan Asuhan keperawatan ini.

Dan pada kesempatan ini kami tak lupa mengucapkan banyak- banyak terima

nkasih kepada bapak Direktur beserta Staf/anggota RS sanglah Denpasar Bali

yang telah menerima kami dengan tangan terbuka untuk praktek di RS sanglah

ini dimana di dalam PKL (praktek kerja lapangan ) ini kami banyak mendapatkan

keterampilan yang sebelumya belum pernah kami dapatkan sebelumya kami

mengucapakan terimakasih.

Wassalam

Penyusun

i

Page 38: Fraktur (Lp)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

A. BAB I

Pengertian................................................................................................ 1

Etiologi………………………………………………………………… 1

Patofisiologi………………………………………………………… … 1

Klasifikasi fraktur……………………………………………………… 1

Manifestasi klinis…………………………………………………… … 2

Komplikasi………………………………….…………………………. 3

Penatalaksanaan kedaruratan…..……………………………………… 3

Prinsip penanganan fraktur…………….……………………………… 3

Perawatan pasien fraktur tertutup.. ………………………………… ... 5

Perawatan pasien frktur terbuka…. ……………………………………. 5

Uji Laboratorium dan diagnostik………………………………………. 6

Proses penyembuhan……………..……………………………………. 6

Proses keperawatan……………… ……………………………………. 6

Penyimpangan KDM……………..………………………………… … 12

B. BAB II

Pengkajian……………………………………………………………… 13

Data fokus……………………………………………………………… 21

Analisa data……………………………………………………………. 22

Daignosa keperawatan…………………………………………………. 24

Intervensi………………………………………………………………. 25

Implementasi…………………………………………………………… 28

Evaluasi………………………………………………………………… 31

C. Kesimpulan dan saran

ii