Click here to load reader

Desain Simbiosis Industri dalam Suatu Kawasan Industri

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Desain Simbiosis Industri dalam Suatu Kawasan Industri

Menuju Eco-Industrial Park
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Penulis: Fatah Sulaiman
Editor: Firman Hadiansyah
Desain Sampul & Tata Letak: Desma Yuliadi Saputra
Cetakan Pertama: Januari 2021 vi + 108 hlm.: 14 x 21 cm ISBN 978-602-5587-88-7
Diterbitkan UNTIRTA PRESS Tercatat sebagai Anggota APPTI dan IKAPI Jl. Raya Jakarta, Km. 4, Telp. (0254) 280330 Ext 111 Serang Gedung UPBK Universitas Sultan Ageng Tirtayasa email: [email protected] | website: http://press.untirta.ac.id
Kutipan Pasal 44, Ayat 1 dan 2, Undang-Undang Republik Indonesia tentang HAK CIPTA. Tentang Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang HAK CIPTA, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987 jo, Undang-Undang No. 12 Tahun 1997, bahwa: 1 Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau
2
menyebarkan suatu ciptaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
PRAKATA
Puji syukur Alhamdulillah atas terbitnya buku pidato pengukuhan Guru Besar Uni-
versitas Sultan Ageng Tirtayasa, yang saya beri judul Desain simbiosis industri dalam suatu kawasan industri menuju Eco Industrial Park.
Buku ini ditulis dan disiapkan dalam rangka mendokumentasikan beragam informasi ter- kait desain industri baik industri yang berdiri sendiri, maupun industri-industri yang akan ditempatkan dalam suatu kawasan industri, dengan mempertimbangkan paradigma baru aktifitas industri dalam seluruh aspeknya yaitu menerapkan konsep teknologi dan produksi bersih.
Refrensi yang menjadi basis dalam penu- lisan buku ini adalah beragam teksbook dan jurnal terkait implementasi teknologi produksi bersih di Industri, juga hasil penelitian melalui
iv Pidato Pengukuhan Guru Besar
observasi dan diskusi langsung terkait kawasan industri di Kota Cilegon.
Bagian cuplikan dari buku ini juga merupakan maka- lah yang terkait dengan Desain simbiosis Industri Proses Kimia dalam Kawasan Industri, yang disampaikan dalam pengukuhan Guru Besar Bidang Teknik Kimia Universi- tas Sultan Ageng Tirtayasa.
Semoga buku ini bermanfaat bagi para mahasiswa, maupun industriawan atau pengambil kebijakan terkait perencanaan industri dan kawasan industri, sekaligus juga sebagai refrensi yang mendukung secara dinamis perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa datang. Kritik dan saran pembaca, sangat kami butuhkan untuk perbaikan edisi mendatang. Akhirnya semoga buku ini catatan amal baik bagi penulis dan semua yang membantu terlibat dalam pembuatan buku ini, terutama bagi sivitas akademika Untirta.
Banten, Januari 2021
PRAKATA iii DAFTAR ISI v
BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Pendahuluan 1 1.2 Latar Belakang 2
1.2.1 Kawasan Industri 2 1.2.2 Kawasan Industri di Kota Cilegon 3 1.2.3 Hambatan dan Tantangan Pengembangan
Kawasan Industri 9 1.3 Ruang Lingkup 13
BAB II TINJAUAN FILOSOFIS 15 2.1 Simbiosis Industri 15 2.2 Eco-industrial park 43 2.3 Pengembangan EIP di Kawasan Industri
Kota Cilegon 63
vi Pidato Pengukuhan Guru Besar
2.4 Framework of New Digital Eco Industrial Park 71 2.5 Contoh Implementasi Skenario Simbiosis
Industri dalam Kawasan 78
BAB III PENUTUP 91 3.1 Simpulan 91 3.2 Rekomendasi 94 3.3 Harapan 96
UCAPAN TERIMA KASIH 97 DAFTAR PUSTAKA 103
1Fatah Sulaiman
1.1 Pendahuluan
Pembangunan sektor industri masih di- gunakan sebagai pendekatan untuk me-
ngatasi pengangguran dan kemiskinan. Dunia industri milik pemerintah dan swasta menjadi tulang punggung dalam penyerapan tenaga kerja. Perekonomian negara diharapkan men- jadi meningkat karena dengan proyek industri maka ketergantungan terhadap barang-barang import ditargetkan menjadi berkurang. Dunia industri juga diharapkan mampu mendorong bangsa menjadi lebih produktif, inovatif dan kreatif sehingga dalam beberapa tahun bangsa kita bisa menghilangkan sifat konsumtif. Dalam perspektif lingkungan aktivitas industri juga harus selaras dengan aspek-aspek yang terkait dengan pengendalian pencemaran lingkungan termasuk di dalamnya mempertimbangkan efisiensi dan produktivitas dalam proses pro-
BAB I PENDAHULUAN
duksi, termasuk pertimbangan keberlanjutan baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2019), sektor industri masih tetap menjadi kontributor terbesar pereko- nomian Indonesia. Sumbangan dari sektor ini mencapai 2.947,3 triliun atau 19,82% dari PDB nasional yang sebe- sar Rp14.837 triliun.
1.2 Latar Belakang 1.2.1 Kawasan Industri Pembangunan kawasan industri (KI) dipandang sebagai salah satu bagian penting dari strategi pembangunan se- buah negara. Pembangunan kawasan industri yang teren- cana dengan baik akan mendorong desentralisasi pemba- ngunan sehingga pembangunan di daerah dapat berkem- bang dengan baik (Singhal dan Kapur, 2002). Pengem- bangan kawasan industri dapat mendukung dan mening- katkan perekonomian suatu negara. Negara yang berhasil menciptakan serta mengembangkan kawasan industri serta memelihara iklim usaha yang kondusif akan dapat menarik investor untuk berinvestasi di negara tersebut (Budiyanto, dkk, 2015).
Data pada Kementerian Perindustrian menunjuk- kan bahwa pembangunan kawasan industri di Indone- sia pertama dimulai pada tahun 1973 yaitu dengan ber- dirinya Jakarta Industrial Estate Pulo Gadung (JIEP), kemudian tahun 1974 dibangun Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), selanjutnya dibangun Kawasan Industri Cilacap (tahun 1974), menyusul Kawasan Indus- tri Medan (tahun 1975), Kawasan Industri Makasar (tahun
3Fatah Sulaiman
1978), Kawasan Industri Cirebon (tahun 1984), dan Kawas- an Industri Lampung (tahun 1986) (Kwanda, 2004). Dalam kurun waktu 20 tahun, Kawasan Industri telah tumbuh di 13 Provinsi dengan jumlah 81 Kawasan Industri dengan luas 23.449 hektar, yang sudah operasional dan masih banyak lagi yang sedang mempersiapkan pemba- ngunan Kawasan Industri.
Bertumbuhnya pengembangan kawasan industri di Indonesia didorong dengan adanya Keputusan Presiden No. 53/1989 tentang pembukaan bisnis pembangunan kawasan industri untuk sector swasta. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya anggaran yang dialokasi untuk program.
Saat ini, terdapat 103 kawasan industri yang telah ber- operasi dengan cakupan wilayah seluas 55.000 hektare. Sebanyak 58 di antaranya berada di Pulau Jawa, sisanya tersebar di pulau Sumatera (33 kawasan industri), Kali- mantan (8), dan Sulawesi (4). Sejak tahun 2014, peningkat- an hingga 20 kawasan industri atau sebesar 28,15 persen. Pengembangan industri teknologi tinggi, industri padat karya, dan industri dengan konsumsi air rendah. Pengem- bangan industri industri berbasis sumber daya alam dan peningkatan efisiensi sistem logistik. Kawasan industri prioritas tahun 2020-2024 difokuskan pada industri ber- basis agro, minyak dan gas bumi, logam dan batubara serta industri teknologi tinggi dan aerospace. Terdapat 19 KI prioritas berada di luar pulau Jawa.
1.2.2 Kawasan Industri di Kota Cilegon Salah satu kawasan industri yang berkembang di Provinsi Banten yaitu kawasan industri di Kota Cilegon. Berdasar-
4 Pidato Pengukuhan Guru Besar
kan laporan kinerja Pemerintah Kota Cilegon Tahun 2016, industri di Kota Cilegon dapat diklusterisasi menjadi 3 jenis industri, yaitu industri baja, industri petrokimia dan nonbaja, serta industri UMKM yang termasuk di dalam- nya industri kecil (home industry).
Kluster industri baja didominasi oleh industri - indus- tri yang menggunakan material baja kasar (crude steel) untuk diproses menjadi komoditas final. Kluster industri petrokimia dan non baja di Kota Cilegon umumnya seba- gian besar adalah industri kimia dan pengolahan. Di sam- ping itu juga eksis kluster industri kecil yang merupakan basis masyarakat kelas menengah ke bawah yang meng- gunakan teknologi sederhana, diantaranya adalah indus- tri genting/batu bata, industri makanan/minuman, indus- tri kapur dan lain-lain.
Berdasarkan hasil penelitian penulis menggunakan data sekunder (berasal dari penelitian terdahulu) dan data primer (observasi langsung, wawancara, hasil analisis lab, uji statistik) yang analisis datanya meliputi dua hal; (1) Studi kondisi eksisting kawasan industri menggunakan metode analisis spasial dan analisis gap, (2) Identifikasi potensi dan kualitas limbah di kawasan industri Cilegon menggunakan metode analisis deskriptif. Diperoleh beberapa poin seba- gai berikut: 1) Kondisi eksisting kawasan industri Cilegon a. Perubahan Tutupan Lahan
Hasil citra landsat tutupan lahan di kawasan industri Cilegon pada tahun 1982, 1992, 2003, dan 2006 diperoleh data sebagai berikut:
5Fatah Sulaiman
Sumber: Citra landsat 2006
Sumber: Citra landsat 2003
7Fatah Sulaiman
Hasil tersebut menunjukkan perubahan peruntukan lahan secara signifikan sekalipun secara umum masih dido- minasi oleh vegetasi. Kelas penutupan lahan yang meng- alami penerunan para kurun waktu 1983-2006 adalah hutan, kebun, tegalan dan rawa. Sedangkan kelas penutup- an lahan yang mengalami kenaikan adalah lahan terbangun.
Perubahan bentuk ruang terbuka hijau yang terjadi di Kota Cilegon disebabkan karena meningkatnya kebu- tuhan lahan untuk penggunaan kawasan dan zona indus- tri, serta lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya.
b. Potensi Gap Potensi gap yang terjadi dilihat dari parameter kri-
teria-kriteria penetapan suatu kawasan industri menjadi kawasan industru berbasis ekologi yang meliputi landasan operasional, proses produksi dan dampak yang ditimbul- kan.
Tabel 1. Potensi gap di kawasan industri kota Cilegon
Landasan Operasional Penyelenggaran Kawasan Indikator EIP Kondisi Exisiting Gap Konservasi lingkungan
Terdapat parameter fisik dan kimia ling- kungan di atas baku mutu
Menimbulkan pence- maran lingkungan
Pemilihan lokasi untuk pengembangan KI
KI sesuai dengan RTRW adan ada ren- cana pengembangan KI di luar kawasan
Kawasan belum diman- faatkan optimal pe- ngembangan kawasan baru akan meningkat- kan konservasi lahan produktif tidak sesuai peruntukkan
Kerja sama industri Pemanfaatan produk Belum ada kerja sama
8 Pidato Pengukuhan Guru Besar
2) Studi potensi dan kualitas limbah di kawasan industri di Kota Cilegon Didasarkan pada hasil analisis beberapa parameter
fisik dan kimia lingkungan di sekitar kawasan yang di- bandingkan dengan baku mutu lingkungan. Hasil anali-
Landasan Operasional Penyelenggaran Kawasan Indikator EIP Kondisi Exisiting Gap Kerja sama industri Pemanfaatan produk
didasarkan pada ke- butuhan. Pengelolaan limbah dilakukan sendiri
Belum ada kerja sama antar industri dalam pe- manfaatan produk dan pengelolaan limbah se- cara terpadu
Partisipasi aktif masyarakat lokal di KI
Perencanaan banyak dilakukan secara top down
Aspirasi masyarakat kurang tertampung & cenderung menimbul- kan aksi-aksi sosial.
Faktor Dampak Aktivitas Kawasan Indikator EIP Kondisi Exisiting Gap Peningkatan ekonomi dan kesejateraan masyarakat sekitar kawasan
Peningkatan kesejateraan masyarakat sekitar kawas- an belum dirasakan secara merata
Adanya kesenjangan kese- jahteraan masyarakat seki- tar industri dengan komu- nitas industri
Hubungan sosial masyarakat yang harmonis
Perekrutan tenaga kerja dari masyarakat lokal belum sesuai aspirasi mas- yarakat. Pembinaan mela- lui CSR belum berjalan optimal.
Munculnya kecemburuan sosial dengan tenaga kerja dari luar kawasan. Dana CSR masih kecil dan tidak tepat sasaran.
Faktor Proses Produksi dalam EIP Indikator EIP Kondisi Exisiting Gap Efisiensi penggunaan sumber daya
Industri masih bergan- tung pada sumber energi fosil, bahan baku impor dan menghasilkan lim- bah industri yang belum termanfaatkan
Keterbatasan kemampuan inovasi proses dan tekno- logi untuk diversifikasi energi dan bahan baku.
Sustainable Competitive Advantage
Akses persaingan ekonomi global terbatas karena kinerja manajemen ling- kungan rendah
9Fatah Sulaiman
sis menunjukkan beberapa parameter berada di atas baku mutu lingkungan.
1.2.3 Hambatan dan Tantangan Pengembangan Kawas- an Industri
Kondisi existing dan gap Kawasan industri di Kota Cilegon telah menunjukkan terdapat beberapa hambatan dan tantangan dalam pengembangan Kawasan industri, disamping banyak keuntungan yang dapat diambil dari pembangunan kawasan industri. Hal ini juga ditunjuk- kan pada penelitian yang dilakukan oleh Kimberly pada tahun 2011, beberapa hambatan yang dialami dalam pe- ngembangan kawasan industri, antara lain: a. Adanya kecenderungan peningkatan harga lahan yang
tinggi apabila terdapat pembangunan pada suatu Kawasan;
b. Pembangunan kawasan industri yang kurang didu- kung oleh kebijakan pembangunan infrastuktur pen- dukung, seperti: jaringan jalan, pelabuhan, listrik, air bersih, serta fasilitas pengolahan limbah;
c. Beberapa industri baru masih diizinkan untuk didiri- kan di luar kawasan industri;
d. Transportasi darat, laut dan udara untuk kelancaran arus barang, baik bahan mentah maupun bahan jadi, masih belum efisien sehingga seringkali menimbulkan biaya yang tidak efisien sehingga mengurangi minat investor;
e. Belum adanya insentif khusus yang diberikan oleh pemerintah bagi pengembang kawasan industri mau- pun industri yang telah berlokasi di kawasan industri;
10 Pidato Pengukuhan Guru Besar
f. Belum terimplementasinya regulasi yang mengatur kewenangan pusat dan daerah dalam pengembangan kawasan industri;
g. Keterkaitan antara kawasan industri sering terganggu oleh peraturan daerah masing-masing;
h. Pembatasan pemanfaatan alokasi lahan untuk ka- wasan industri belum sepenuhnya ditetapkan oleh masing-masing daerah.
Selain itu, aktivitas pada kawasan industri seringkali menemui hambatan pada proses produksi di kawasan in- dustri yang belum sepenuhnya menerapkan konsep pe- ngelolaan produksi bersih. Banyak pekerjaan pembangun- an industri maupun kegiatan lingkungan produksi serta proses kimia yang ada didalamnya tidak mampu menjaga kaidah hidup. Daerah sekitar pabrik industri banyak yang mengalami pencemaran tanah, air dan udara. Gangguan kesehatan banyak terjadi pada masyarakat di sekitar pabrik. Muncul fenomena-fenomena penyakit kulit, ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) dan masalah pencernaan pada masyarakat di sekitar daerah industri.
Oleh karenanya perwujudan green industry melalui sebuah kawasan industri yang ramah lingkungan menjadi tantangan sekaligus menhadirkan hambatan untuk perwujudannya. Terdapat 4 kelompok hambatan yang secara eksplisit telah tampak di Indonesia diantaranya (1) perkembangan kesadaran dan awareness sektor swasta terhadap pentingnya mewujudkan industri hijau. Ku- rangnya implementasi perwujudan industri hijau karena adanya keharusan mengalokasikan modal untuk peles-
11Fatah Sulaiman
tarian lingkungan; (2) keterbatasan teknologi, kurangnya inisiatif dan prakarsa untuk mengembangkan konsep ke- giatan produksi yang ramah lingkungan; (3) Mayoritas perusahaan di Indonesia berskala usaha kecil dan mene- ngah, yang bersifat modal terbatas dan profit-oriented; (4) Lebarnya rentang dan keragaman kondisi geografis dengan tipe negara kepulauan membuat kesulitan tersen- diri dalam pengelolaan teknologi yang tepat.
Dalam proses produksi, seringkali digunakan bahan- bahan kimia. Pada perspektif input, bahan-bahan kimia ini sering sekali mengakibatkan keracunan bagi orang yang tidak sengaja mengenainya. Bahan-bahan kimia ter- sebut antara lain HCl, H2S H2SO4, HNO3. Bahan ini umumnya digunakan dalam melarutkan cat, vernis, lemak, oli dan karet. Bahan-bahan tersebut ada yang ber- sifat basa dan asam. Umumnya bahan-bahan inilah yang seringkali mengakibatkan gangguan pernapasan dan iritasi pada kulit karena sifat asam.
Paradigma baru di era modern dalam menjalankan aktivitas industri saat ini adalah dengan mengimplemen- tasikan konsep teknologi produksi bersih (clean technology/ clean production) dalam seluruh rangkaian aspek proses industri, mulai dari penyiapan input, proses maupun out- put, bahkan pasca pengunaan produk yang dihasilkan. Hal ini untuk menjaga keberlanjutan dan keberlangsungan industri, baik industri yang berada di non kawasan mau- pun yang berada di kawasan industri. Aspek keberlanjutan industri yang harus menjadi pertimbangan meliputi mini- mal 3 aspek yaitu, ekonomi, sosial dan lingkungan.
12 Pidato Pengukuhan Guru Besar
Dari ketiga jenis industri yang menonjol di Cilegon dapat kita lihat bahwa ketiganya memberikan potensi terjadinya pengaruh buruk terhadap lingkungan. Bahan- bahan kimia yang direaksikan dalam proses ketiga jenis industri tersebut menghasilkan NPO (Non-Product Out- put) yang berpotensi polutif.
Dalam industri petrokimia, karena input dasar dari industri tersebut adalah unsur hidrokarbon (C dan H), maka NPO atau keluaran bukan produk nya adalah CO2, CO dan H2 yang tentu saja berpotensi menjadi polutan. Lebih jauh kalau bereaksi di udara akan menyebabkan potensi hujam asam. Sementara itu pada industri Baja yang telah dibahas di atas, bahan bakunya adalah oksida besi yang dirubah menjadi Fe. Maka dari itu Oksigen pada oksida besi akan berusaha direduksi menggunakan gas reduktor: Artinya, akan ada keluaran selain Fe yang akan terbentuk yakni CO2 dan H2O.
Keluaran bukan produk berupa CO2 dalam jumlah besar berpotensi menjadi polutan gas buang. Dalam kon- teks simbiosis industri, potensi ini dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku untuk pembuatan produk lain misal- nya asam karbonat.
Keluaran bukan produk H2O dalam konteks simbio- sis industri bisa dimanfaatkan kembali dan diolah untuk menjadi air bersih setelah dilakukan treatment bisa diman- faatkan untuk berbagai keperluan, air bahan baku steam, air rumah tangga dll, sesuai spesifikasi. Industri kimia harus
Fe3O4 + gas reduktor CO CO2 + Fe Fe3O4 + gas reduktor H2 H2O (steam panas) + Fe
13Fatah Sulaiman
dirancang agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan untuk generasi mendatang agar menjadi kekuatan pendo- rong bagi pengembangan eco-industri.
1.3 Ruang Lingkup Dalam naskah pidato pengukuhan Guru Besar ini akan diuraikan gagasan desain simbiosis industri melalui pe- ngembangan eco-industrial park yang didasarkan pada studi kasus pengembangan kawasan industri berbasis eko- logi di kota Cilegon berbasis proses kimia yang ramah ling- kungan dengan harapan dapat menjadi referensi kebijakan dalam penyiapan suatu kawasan industri.
14 Pidato Pengukuhan Guru Besar
15Fatah Sulaiman
Simbiosis industri merupakan suatu bentuk kerja sama diantara industri-industri yang
berbeda. Bentuk kerja sama ini dapat mening- katkan keuntungan masing-masing industri dan pada akhirnya berdampak positif pada lingkungan. Dalam proses simbiosis ini limbah suatu industri diolah menjadi bahan baku industri lain. Berikut ini karakteristik simbiosis industri yang efektif meliputi: 1. Industri anggota simbiosis ditempatkan
dalam satu kawasan dan memiliki bidang produksi yang berbeda-beda.
2. Jarak antar industri dibuat dekat sehingga meningkatkan efisiensi tranportasi bahan.
3. Masing-masing industri membuat suatu kesepakatan bersama dengan berprinsip ekonomi yaitu saling menguntungkan.
BAB II TINJAUAN FILOSOFIS
4. Masing-masing industri harus dapat berkomunikasi dengan baik.
5. Tiap industri bertangung-jawab pada keselamatan lingkungan dalam kawasan tersebut.
Inisiasi grand-design simbiosis industri Dalam rangka merancang sebuah simbiosis industri
berbasis proses kimia pada suatu kawasan industri dari awal, perlu disiapkan sebuah grand design yang kompre- hensif sebagai berikut:
a) Mengetahui proses dasar kimiawi industri yang akan dibangun Aspek fundamental sebelum melakukan perancang-
an sebuah simbiosis industri berbasis proses kimia yaitu pengetahuan menyeluruh tentang proses dasar kimiawi industri yang akan dibangun. Dari pengetahuan ini akan muncul pemahaman juga tentang pencegahan limbah se- minimum mungkin. Lebih baik mencegah limbah dari- pada mengolah atau membersihkan limbah setelah limbah dibuat. Pencegahan terhadap limbah dapat dilakukan me- lalui pilihan reaksi, desain proses, dan daur ulang. Proses kimia dalam Industri bertujuan untuk menggunakan reaksi kimia dan proses yang memanfaatkan metode dan sumber daya yang tersedia seefektif mungkin serta meng- hasilkan bahan limbah dalam jumlah sekecil mungkin.
Salah satu cara untuk mengukur efisiensi suatu pro- ses adalah dengan menghitung hasil, yang membanding- kan kuantitas produk yang diharapkan dengan jumlah aktual yang diperoleh (walaupun beberapa produk po-
17Fatah Sulaiman
tensial mungkin ‘hilang’ sebagai akibat dari reaksi). Con- tohnya adalah pembuatan fenol. Awalnya, fenol dibuat dari benzena menggunakan asam sulfat dan natrium hid- roksida dalam proses multi-tahap, yang, secara keselu- ruhan, dapat dinyatakan sebagai:
Persamaan kimia menunjukkan bahwa 1 mol benzena (78 g) harus menghasilkan 1 mol fenol (94 g). Dalam prak- tiknya, jumlah fenol yang dihasilkan ditemukan hanya sekitar 77 g. Artinya hanya menghasilkan 82% dari nilai yang diharapkan, yang dapat dianggap cukup baik. [Hasil (%) = produksi massal/massa diharapkan x 100%]
Namun, dalam reaksi tersebut ditemukan fakta bahwa reaksi juga menghasilkan Non-Product Output (NPO) be- rupa 1 mol (126 g) natrium sulfat untuk setiap mol fenol yang diproduksi. NPO mungkin dapat diterima jika ada cukup permintaan untuk natrium sulfat, tetapi jika tidak, ini menimbulkan masalah serius dalam pengelolaan limbah dan menambah biaya produksi secara signifikan. Hal ini berarti, jika natrium sulfat tidak dijadikan input bahan untuk pabrik lainnya yang membutuhkan sehingga dapat dikata- kan bahwa reaksi ini bukan reaksi yang paling sesuai untuk pembuatan fenol di kawasan industri tersebut. Umumnya, natrium sulfat digunakan dalam proses kimia pembuatan deterjen dan pembuatan pulp kertas (proses kraft).
b) Lakukan analisis terhadap keluaran bukan produk (KBP atau Non Product Output: NPO) Metode sintetis harus dirancang untuk memaksimal-
kan simbiosis penggabungan bahan-bahan yang diguna-
C6H6 + H2SO4 + 2NaOH → C6H5OH + NA2SO3 + 2H2O
18 Pidato Pengukuhan Guru Besar
kan dalam proses kimiawi pada kawasan industri. Seba- gai alternatif kontrol untuk mengukur sebuah hasil reaksi kimia, digunakan sebuah konsep ekonomi atom.
Konsep ini menghitung proporsi atom reaktan dalam output produk yang bermanfaat, dan juga dapat menen- tukan jumlah atom dari bahan awal yang berakhir seba- gai produk yang diinginkan. Disamping itu juga bisa me- nentukan jumlah atom yang akan menjadi non-product output. Konsep ekonomi atom didefinisikan sebagai
Semakin dekat nilainya ke 100, semakin sedikit NPO- nya. Perhitungan ini memberikan nilai ekonomi atom untuk pembuatan fenol hanya sekitar 37% apabila meng- gunakan proses konvensional (dengan asumsi natrium sulfat adalah NPO). Nilai 37% merupakan indikator yang jelas bahwa produk utama yang ingin dihasilkan malah lebih sedikit diproduksi daripada NPO-nya. Artinya, perlu dilakukan pengembangan proses alternatif yang meng- hasilkan lebih sedikit NPO.
Sementara bila kita cek pembuatan fenol dari benzena dan propena, dalam proses berurutan sebagai berikut:
Keluaran sampingan dari proses ini adalah propanon yang merupakan bahan kimia yang berharga untuk proses kimia lainnya, sehingga nilai ekonomi atom untuk proses ini dapat dianggap 100%.
% =
19Fatah Sulaiman
buruk sehingga perlu dipertimbangkan baik ukuran efisien- si, hasil dan ekonomi atom. Nilai ekonomi atom bisa ditentu- kan dalam tahap perencanaan, dengan menggunakan perhitungan. Sementara kualitas hasil produk dari reaksi kimia hanya dapat ditemukan secara eksperimental.
Dalam kimia organik, beberapa jenis reaksi memiliki nilai ekonomi atom yang lebih…

Search related