Click here to load reader

Cover dalam depan belakang - Yayasan BPK · PDF filetarget kurikulum, sistem evaluasi formatif dan sumatif memberikan kesan kental pada pengukuran kecerdasan bukan pada kepribadian

  • View
    248

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Cover dalam depan belakang - Yayasan BPK · PDF filetarget kurikulum, sistem evaluasi formatif...

  • Diterbitkan oleh:

    BADAN PENDIDIKAN KRISTEN PENABUR (BPK PENABUR)

    I S S N : 1412-2588

    Jurnal Pendidikan Penabur (JPP) dapat dipakaisebagai medium tukar pikiran, informasi dan

    penelitian ilmiah antar para pemerhati masalah pendidikan.

    Penanggung JawabIr. Budi Tarbudin, MBA.

    Pemimpin RedaksiProf. Dr. BP. Sitepu, M.A.

    Sekretaris RedaksiRosmawati Situmorang

    Dewan EditorProf. Dr. BP. Sitepu, M.A.

    Prof. Dr. Theresia K. BrahimDr. Ir. Hadiyanto Budisetio, M.M.

    Ir. Budyanto Lestyana, M.Si.Dra. Vitriyani Pryadarsina, M.Pd.

    Alamat Redaksi :Jln. Tanjung Duren Raya No. 4 Blok E Lt. 5, Jakarta Barat 11470

    Telepon (021) 5606773-76, Faks. (021) 5666968http://www.bpkpenabur.or.id

    E-mail : [email protected]

  • iJurnal Pendidikan Penabur - No. 20/Tahun ke-12/Juni 2013

    Jurnal Pendidikan PenaburNomor 20/Tahun ke-12/Juni 2013

    ISSN: 1412-2588

    Daftar Isi i

    Pengantar Redaksi ii - v

    Meningkatkan Kreativitas Guru TK Melalui Pengembangan Motivasi Berprestasi dan KompetensiPedagogik, Kristina Suci Retnowati, 1-12

    Membangun Karakter BEST Melalui Kegiatan Membaca Bersama di Kelas, Kristianto,13-22

    Membangun Karakter BEST Pada Diri Siswa untuk Pembentukan Karakter, Felucia Hendriette,23-30

    Peran Guru Dalam Menumbuhkembangkan Karakter BEST, Inge Pudjiastuti Adywibowo,31-39

    Membangun Generasi Tangguh, Sih Retno Hastuti, 40-49

    Metode Perumpamaan untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, Maria Evvy Yanti, 50-62

    Membumikan Konsep Etnometodologi Dalam Pola Berpikir Siswa, Ignatius Eko Hadi Purnomo,63-77

    Kebermaknaan Evaluasi Program Pendidikan, Marni Serepinah, 78-86

    Revolusi Pembelajaran: Tantangan Atau Peluang?, Desmon Simanjuntak, 87-97

    Teknik Menyusun Resensi Buku, B.P. Sitepu, 98-105

    Isu Mutakhir: Pengajaran Versus Pendidikan, Mudarwan, 106-113

    Resensi buku: Guru-Guru Kecil Melly Kiong, Tri Esti Handayani, 114-117

  • ii Jurnal Pendidikan Penabur - No.19/Tahun ke-11/Desember 2012

    Pengantar Redaksi

    einginan mulia membentuk manusia Indonesiaseutuhnya, dalam arti memiliki kemampuan kognitif,psikomotorik, dan afektif, tercermin dalam tujuanpendidikan nasional yang dirumuskan dalam Pasal 3,

    UU No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional(Sisdiknas). Bahkan, hal yang sama pada Pasal 4, UU No. 2 Tahun1989, juga telah memuat ciri ketiga ranah kemampuan itusungguhpun dengan kata dan rumusan yang berbeda. Dalamtujuan Pendidikan Nasional (2003), ciri atau penanda bangsaIndonesia yang dihasilkan melalui proses pendidikanmenggunakan kata-kata beriman dan bertakwa kepada TuhanYang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, sertabertanggung jawab. Dengan ciri yang demikian, diharapkanbangsa Indonesia akan menjadi bangsa bermartabat serta tangguhdalam mempertahankan dan mengembangkan jati dirinya sehinggadapat disejajarkan dengan bangsa lainnya dalam peradaban yangmaju dan modern. Rumusan itu juga memperlihatkankeseimbangan antarkompetensi yang perlu dimiliki bangsa yangmemiliki nilai-nilai Pancasila.

    Menjadi bangsa bermartabat, maju, dan berdaulat merupakantujuan antara dalam proses mewujudkan bangsa yang adil danmakmur sebagaimana dicita-cita proklamasi kemerdekaan NegaraKesatuan Republik Indonesia, yang secara tegas dinyatakan dalamPembukaan UUD 1945. Landasan konstitusional Negara danBangsa Indonesia secara jelas memberikan rambu-rambu bahwamanusia Indonesia yang dicita-citakan memiliki kemampuan yangberimbang atau proporsional antarranah kognitif, psikomotorik,dan afektif. Manusia Indonesia yang diinginkan bukan semata-matacerdas secara intelektual dan unggul dalam berbagai bidangdisiplin ilmu di tingkat internasional atau cekatan dalam berbagaijenis keterampilan, tetapi juga memiliki akhlak mulia. ManusiaIndonesia diharapkan dapat mengungguli persaingan dalam ketigaranah kompetensi itu serta dapat menunjukkan kinerja yangdibanggakan pada waktu, tempat, dan situasi yang sesuai.

    Kenyataan yang dihadapi setelah hampir 58 tahun merdeka,masih belum seperti diharapkan. Sisdiknas belum berfungsimenghasilkan manusia Indonesia sesuai dengan tujuan yangdimuat dalam Sisdiknas itu sendiri, sungguh suatu paradoks.Praktek penyelenggaraan pendidikan nasional masih berkutat padapeningkatan kemampuan intelektual serta psikomotorik dan merasabangga dengan prestasi yang diperoleh dalam beberapa lomba/olimpiade (matematika atau fisika) di tingkat regional atauinternasional. Kebanggaan itu berlanjut tanpa mencermati apakahprestasi segelintir siswa itu benar-benar merupakan hasil prosespembelajaran di sekolah atau hasil inisiatif siswa/orang tua siswa

    K

  • iiiJurnal Pendidikan Penabur - No.19/Tahun ke-11/Desember 2012

    sendiri menambah kemampuannya di luar sekolah dengan berbagaipelajaran atau kursus tambahan karena tidak puas dengan kualitaspembelajaran di sekolah.

    Di samping praktek pembelajaran bertumpu pada pencapaiantarget kurikulum, sistem evaluasi formatif dan sumatif memberikankesan kental pada pengukuran kecerdasan bukan pada kepribadianyang utuh. Lebih memprihatinkan lagi kemampuan yang diuji dalamUjian Nasional setiap tahun, berfokus pada aspek kecerdasanintelektual dan bukan pada akhlak mulia. Proses pembelajaran disekolah serta sistem evaluasi yang dialami oleh siswa, mengajarimereka mengutamakan kecerdasan intelektual dalam berprilaku danmeraih prestasi tidak jarang dengan cara yang tidak mendidik dantidak bermartabat. Pengalaman yang demikian niscaya dapatmempengaruhi kepribadian dan prilaku mereka ketika sudah bekerjadi tengah-tengah masyarakat. Hasilnya terlihat dari kenyataan,banyak yang pintar tetapi kurang menunjukkan akhlak muliaapakah di pemerintahan atau swasta. Belakangan ini kerapterdengar berbagai kekerasaan terjadi antarindividu atau kelompok,intoleransi, penyalahgunaan wewenang, dan korupsi di berbagai linipenyelenggara Negara di lembaga eksekutif, legalistatif, danjudikatif. Gejalanya mengarah ke dekadensi dan krisis moral.

    Apabila keadaan ini berlangsung terus, citra bangsa Indonesiaakan semakin terpuruk serta kepribadiannya semakin tercemar.Sistem pendidikan nasional pun terkesan mandul dalam melahirkantokoh-tokoh nasional yang berkualitas dan berintegritas karenaketidaktulusan mengelola pendidikan nasional. Sistem pendidikanberfungsi terbatas pada memenuhi hak azasi masyarakat dalammemperoleh pendidikan. Sungguh memprihatinkan danmemalukan, khususnya bagi lembaga pendidikan penghasil sumberdaya manusia. Ungkapan penyelenggaraan pendidikan merupakantanggung jawab bersama antar orang tua, masyarakat, danPemerintah adalah benar, tetapi tudingan terhadap lembagapendidikan jauh lebih tajam dan kritis daripada pihak lain.

    BPK PENABUR sebagai lembaga pendidikan tentu merasaterpanggil mengambil bagian dalam mencerdaskan anak bangsasecara utuh dan berimbang. Visi BPK PENABUR sangat lugasmenegaskan kehendak itu dengan memberikan nilai-nilai kristianipada proses penyelenggaraan pendidikannya sehingga tidak hanyaunggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga dalamiman. Untuk lebih memantapkan Pendidikan Karakter BerdasarkanNilai-nilai Kristiani (PKBN2K), BPK PENABUR mengacu padakarakter yang berciri BEST yang merupakan singkatan dari Be of goodintegrity, Excellent indeeds, Share with society, and Trust in God yangbermakna berintegritas baik, unggul, bermasyarakat, dan berimankepada Tuhan. Singkatan BEST dapat juga dipanjangkan sebagai Betaugh, Excel worldwide, Share with society, and Trust in God yangbermakna tangguh, mendunia, bermasyarakat, dan beriman kepadaTuhan. Moto itu diharapkan semakin mempertegas karakter siswadan lulusan semua lembaga pendidikan BPK PENABUR di manapun lokasinya dan siapapun siswanya.

  • iv Jurnal Pendidikan Penabur - No.19/Tahun ke-11/Desember 2012

    Supaya visi yang dianut dan karakter siswa dan lulusan yangdiharapkan terwujud secara nyata, semua guru BPK PENABURdiharapkan mengetahui, memahami,menghayati, dan secaraterintegrasi menanamkan nilai-nilai itu dalam setiap kegiatanpendidikan. Tugas ini bukanlah mudah dan memerlukan keahliandan teladan. Akan tetapi dengan memiliki semangat kristiani sertaketulusan, mendidik dengan hati di samping menggunakan otaktentu memberikan kelegaan sendiri bagi setiap guru BPK PENABUR.Untuk lebih memasyarakatkan PKBN2K, khususnya bagaimanaBEST dapat diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran di kalanganguru, BPK PENABUR Jakarta menyelenggarakan lomba penulisannaskah ilmiah dengan tema implementasi BEST. Lomba ini jugasekaligus dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi gurumelakukan kajian ilmiah dan menyajikan gagasan yang dihasilkandalam bentuk tulisan ilmiah pula.

    Jurnal Pendidikan Penabur, No 20, Edisi Juni 2013 inimengangkat tema pendidikan karakter yang berkaitan dengan BEST.Menerapkan pendidikan karakter secara nyata dan berhasil,memerlukan kiat tersendiri dan dipengaruhi terutama oleh karaktersiswa, keadaan lingkungan, serta keahlian guru. Kalau pendidikankarakter diintegrasikan ke dalam pembelajaran mata pelajaran, ciridan substansi mata pelajaran itu sendiri juga ikut menentukan teknikdan keberhasilan pembentukan karakter BEST itu. Oleh karenapendidikan karakter berbasis BEST ini masih dalam proses danbelum dilakukan penelitian khusus, isi yang dimuat dalam Jurnal inimerupakan gagasan sebagai wacana untuk ditindaklanjuti olehguru. Gagasan yang ditawarkan terutama tentang metode dan teknikmenanamkan dan mengembangkan karakter BEST pada diri siswadengan tetap mematuhi prinsip pedagogi.

    Dalam pendekatan pembelajaran berpusat kepada siswa,pemahaman atas pribadi siswa secara utuh sangat diperlukan olehguru dalam memilih dan melaksanakan model serta metodepembelajaran yang membuat siswa aktif belajar secara individu dankelompok. Teori ko