CONTOH LATAR BELAKANG

  • Published on
    04-Dec-2015

  • View
    25

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

latar belakang tentang membuat laporan

Transcript

<p>PENDAHULUAN</p> <p>LATAR BELAKANGIndonesia adalah Negara yang berada di bawah garis khatulistiwa. Letak tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara beriklim tropis yang kaya akan berbagai macam sumber daya alam, baik hayati maupun non hayati. Namun, letak Indonesia yang demikian tersebut juga menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang berisiko terhadap berbagai macam bencana alam, baik bencana gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir, kekeringan, maupun bencanabencana alam lain. Salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia adalah banjir. Banjir banyak terjadi di daerah-daerah yang dilewati oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Hal tersebut disebabkan karena aliran air sungai yang sangat besar pada saat turun hujan sehingga tampungan sungai melebihi kapasitasnya, maka air tersebut meluap dan menimbulkan banjir. Setiap tahunnya permasalahan banjir terus terjadi di Indonesia bahkan mengalami peningkatan, tidak terkecuali Provinsi Jawa Timur. Jawa Timur merupakan daerah yang dilewati oleh 2 sungai besar yaitu Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo, sehingga tidak tabu jika Jawa Timur sering tertimpa bencana banjir. Ngawi, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik adalah beberapa daerah di Jawa Timur yang sering mengalami bencana banjir. Guna menanggulangi bencana tak terkecuali bencaa banjir, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berdasarkan Perda No. 3 tahun 2010 tentang Penanggulangan Bencana di Provinsi Jawa Timur, pada pasal 13 (1) menyatakan bahwa fungsi BPPD adalah Koordinasi, komando dan fungsi pelaksana dalam penyelengaraan penanggulangan bencana di wilayah provinsi Jawa Timur. Dalam penanganan penanggulangan bencana ditahap pasca bencana dilakukan kegiatan rehabilitas dan rekonstruksi. Pada tahap rehabilitasi kegiatan yang dilakukan meliputi : a) Perbaikan lingkungan daerah bencana, b) Perbaikan prasarana dan sarana umum, c) Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat, d) Pemulihan sosial psikologis, e) Pelayanan kesehatan, f) Rekonsiliasi dan resolusi konflik, g) Pemulihan sosial ekonomi budaya, h) Pemulihan keamanan dan ketertiban, i)Pemulihan fungsi pemerintah, j) Pemulihan fungsi pelayanan publik, dan k) Ketentuan lain mengenai rehabilitasi diatur dengan peraturan pemerintah. Sedangkan pada tahap rekonstruksi kegiatan pembangunan yang dilakukan, antara lain: a) Pembangunan kembali sarana dan prasarana, b) Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat, c) Membangkitkan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat, d) Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana, e) Partisipasi dan peran serta lembaga organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan masyarakat, f) Peningkatan kondisi sosial, ekonomi dan budaya, g) Peningkatan fungsi pelayanan publik, h) Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat, dan i) Ketentuan lain mengenai rekonstruksi diatur dengan peraturan pemerintah.Berdasarkan latar belakang diatas, maka pentinglah adanya panduan dalam pelaksanaan pemenuhan kebutuhan guna pemulihan pasca banjir yang terjadi di Provinsi Jawa Timur.TUJUAN UMUM Memberikan panduan dasar dalam menganalisa kebutuhan pasca bencana banjir di Provinsi Jawa Timur. Memberikan pemahaman dasar tentang program-program pemulihan pasca bencana banjir di Provinsi Jawa Timur.TUJUAN KHUSUS Stake holder terkait dapat menganalisa kebutuhan dalam pemulihan sosial, dan ekonomi produktif pasca bencana banjir di Provinsi Jawa Timur Stake holder terkait dapat menerapkan program-program pemulihan pasca bencana banjir di Provinsi Jawa Timur ke dalam lingkungan sekitar. Menyediakan format panduan pelaksanaan dalam menganalisa kebutuhan pasca banjir.PENGGUNA MODULPengguna modul ini adalah: BPBD Provinsi Jawa Timur selaku badan yang dibentuk khusus untuk menangani permasalahan bencana termasuk bencana banjir yang terjadi di Jawa Timur. Dinas yang terkait dengan pelaksanaan pemulihan sosial dan ekonomi produktif pasca bencana banjir.METODOLOGI</p> <p>METODOLOGI PEKERJAANMetodologi yang digunakan pada pekerjaan ini adalah:1. Studi Literatur2. Mengumpulkan Data primer kejadian banjir di Jawa Timur Khususnya wilayah Ngawi, Madiun, Bojonegoro, Tuban, lamongan dan Gresik.3. Survei Lapangan yang merupakan data sekunder yang menguatkan data primer yang ada.4. Proses Pembuatan Modul Pemulihan Sosial dan Ekonomi Produktif Pasca BanjirSILABUSDIAGRAM ALIR ANALISA PEKERJAAN</p> <p>MATERI I</p> <p>IDENTIFIKASI BANJIR1.1. BANJIRSebuahbanjiradalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Pengarahan banjirUni Eropa mengartikan banjir sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air.Dalam arti "air mengalir", kata ini juga dapat berarti masuknyapasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air sepertisungaiatau danauyang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya. Ukuran danau atau badan air terus berubah-ubah sesuai perubahan curah hujan dan pencairan salju musiman, namun banjir yang terjadi tidak besar kecuali jika air mencapai daerah yang dimanfaatkan manusia seperti desa, kota, dan permukiman lain.Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain, orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik.Banjir merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun di Indonesia terutama pada musim hujan. Berdasarkan kondisi morfologinya, bencana banjir disebabkan oleh relief bentang alam Indonesia yang sangat bervariasi dan banyaknya sungai yang mengalir di antaranya. Banjir pada umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian Barat yang menerima curah hujan lebih banyak dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian Timur. Populasi penduduk Indonesia yang semakin padat yang dengan sendirinya membutuhkan ruang yang memadai untuk kegiatan penunjang hidup yang semakin meningkat secara tidak langsung merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya banjir. Penebangan hutan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peningkatan aliran air permukaan yang tinggi dan tidak terkendali sehingga terjadi kerusakan lingkungan di daerah satuan wilayah sungai. Penebangan hutan juga menyebabkan peningkatan aliran air (run off) yang dapat menimbulkan banjir bandang seperti yang terjadi di Kecamatan Bahorok dan Langkat (Sumatera Utara) pada tahun 2003, Kecamatan Ayah di Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) dan Aceh Tamiang pada akhir tahun 2006 yang juga memakan banyak korban jiwa dan kerugian harta. Selama tahun 2006 telah terjadi beberapa bencana besar seperti tanah longsor dan banjir bandang di Jawa Timur di daerah Jember yang menyebabkan 92 orang meninggal dan 8.861 orang mengungsi serta daerah Trenggalek yang menyebabkan 18 orang meninggal. Di Manado (Provinsi Sulawesi Utara) juga terjadi banjir disertai tanah longsor yang menyebabkan 27 orang meningal dengan jumlah orang yang terpaksa mengungsi mencapai 30.000 orang. Banjir disertai tanah longsor juga melanda Sulawesi Selatan pada bulan Juni 2006 dengan korban lebih dari 200 orang meninggal dan puluhan orang dinyatakan hilang (data BAKORNAS PB, 23 Juni 2006).1.2. BANJIR BANDANGBanjir bandang adalah banjir besar yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung hanya sesaat yang yang umumnya dihasilkan dari curah hujan berintensitas tinggi dengan durasi (jangka waktu) pendek yang menyebabkan debit sungai naik secara cepat. Banjir jenis ini biasa terjadi di daerah dengan sungai yang alirannya terhambat oleh sampah.1.3. BANJIR PANTAI (ROB)Banjir yang disebabkan angin puyuh laut atau taifun dan gelombang pasang air laut. Banjir ini terjadi karena air dari laut meresap ke daratan di dekat pantai dan mengalir ke daerah pemukiman atau karena pasang surut air laut. Banjir ini biasanya terjadi di daerah pemukiman yang dekat dengan pantai. Contoh daerah yang biasanya terkena ROB adalah Semarang.1.4. IDENTIFIKASI BANJIRIdentifikasi kerawanan banjir dipilah antara identifikasi daerah rawan terkena banjir (kebanjiran) dan daerah pemasok air banjir atau potensi air banjir. Hal ini penting untuk difahami agar memudahkan cara identifikasi sumber bencana secara sistematis sehingga diperoleh teknik pengendalian yang efektif dan efisien. Untuk membantu identifikasi banjir digunakan formula banjir dalam buku Sidik Cepat Degradasi Sub DAS (Paimin, et al., 2006). Dalam formula banjir tersebut dipilah antara faktor (parameter) alami (sulit dikelola), dan faktor manajemen (mudah dikelola). Setiap parameter diberi bobot yang berbeda, sesuai dengan pertimbangan perannya dalam proses banjir, kemudian diklasifikasi dalam 5 (lima) kategori dengan diberi skor 1 5.Tingkat kerawanan daerah yang terkena banjir (kebanjiran) diidentifikasi dari karakter wilayahnya seperti bentuk lahan, lereng kiri-kanan sungai, meandering, pebendungan alami, dan adanya bangunan pengendali banjir. Bentuk lahan (landform) dari sistem lahan seperti dataran aluvial, lembah aluvial, kelokan sungai, dan rawa-rawa merupakan daerah yang rentan terkena banjir karena merupakan daerah rendah atau cekungan dengan lereng </p>