Buletin Kawasan Edisi 26-2010

  • View
    217

  • Download
    3

Embed Size (px)

Transcript

  • PENANGGULANGAN BENCANA DI INDONESIA

    b u l l e t i nK a w a s a n

    Publ ikas iDIREKTORAT KAWASAN KHUSUS DAN DAERAH TERTINGGAL KEDEPUTIAN PENGEMBANGAN REGIONAL DAN OTONOMI DAERAH BAPPENAS

    E D I S I 2 6 . 2 0 1 0 ISSN 1693-6957

    POTRET

    Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat

    Konsep Kesiapsiagaan Terhadap Bencana di Tingkat Komunitas

    Bencana Wasior, Merapi dan MentawaiRehabilitasi dan Rekonstruksi

    Pascabencana

  • Dari reDaksiDaftar isi

    Bencana yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai wilayah Indonesia telah memberikan pelajaran dan pengalaman berharga bagi semua pihak baik pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat luas termasuk masyarakat yang terkena bencana. Berbagai institusi/lembaga baik lokal, nasional maupun internasional telah turut berkontribusi dan berpartisipasi dalam membantu penanganan korban bencana.

    Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dengan jelas menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukan sekadar aksi tanggap darurat sesaat setelah bencana terjadi, akan tetapi meliputi proses mitigasi (prabencana) dan rekontruksi-rehabilitasi (pascabencana). Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana memberikan prioritas yang proporsional terhadap ketiga tahap penanggulangan bencana tersebut, khususnya pada tahap mitigasi, rekonstruksi, dan rehabilitasi.

    Dengan adanya rangkaian bencana yang dialami dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengembangkan kesadaran mengenai kerawanan dan kerentanan masyarakat terhadap bencana. Sikap reaktif dan pola penanggulangan bencana yang dilakukan kini dirasakan tidak lagi memadai dan sangat disadari bahwa kebutuhan untuk mengembangkan sikap baru yang lebih proaktif, menyeluruh, dan mendasar dalam menyikapi bencana.

    Berdasarkan kenyataan di atas maka Redaksi Bulletin Kawasan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal Bappenas, Edisi 26 Tahun 2010 kali ini mengangkat tema Potret Pananggulangan Bencana di indonesia sebagai laporan utama.

    Dalam rubrik fokus diulas mengenai berbagai penanganan bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Rubrik Opini, menampilkan tulisan mengenai penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang disampaikan oleh Ahyudin. Selain itu terdapat tulisan Petrasa Wacana yang mengulas tentang bencana ekologi sebagai dampak perubahan iklim global dan upaya peredaman risiko bencana.

    Selanjutnya Rubrik Daerah menampilkan mengenai Sejarah pengetahuan PRBBK di Indonesia; studi kasus NTT, dan mengulas upaya penanggulangan bencana di Provinsi Aceh.

    Pada rubrik Potret, pembaca diajak melihat sisi lain dari bencana Wasior, Mentawai dan Merapi. Terakhir pada Rubrik Pustaka menampilkan resensi buku terbitan Bakornas PB, dan sebuah buku terbitan Bina Swadaya Konsultan yang mengajak kita melihat secara dekat upaya penanggulangan bencana yang dilakukan oleh komunitas masyarakat.

    Akhirnya, kami ucapkan selamat membaca, semoga bermanfaat..!

    b u l l e t i nK a w a s a n

    PELINDUNG: Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Bappenas, Max H. Pohan. PENANGGUNG JAWAB DAN PEMIMPIN REDAKSI: Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Suprayoga Hadi. DEWAN REDAKSI: Rohmad Supriyadi, Samsul Widodo, Sutiman, Kuswiyanto, Hermani Wahab, Moris Nuaimi, Aruminingsih, Diah Lenggogeni, Rayi Paramita, Andri Narti Mardiah. REDAKTUR: Pringgadi Kridiarto, Rahman Nidi, Yelda Rugesty, Samantha Prakosa Jati. KONTRIBUTOR: Ahyudin, Petrasa Wacana, Jonatan A Lassa, Asmadi Syam, Priyantono Djarot Nugroho. EDITOR: Prof. Dr. Ir. M. Ikhwanuddin, M.Sc. KESEKRETARIATAN DAN DISTRIBUSI: M. Fadholi, Okta. TATA LETAK: Agung Cahyanto.

    ALAMAT REDAKSI Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Jalan Taman Suropati No. 2 Jakarta Pusat 10310

    Telp. 3926249, 3101984, Faks. (021) 3926249, Situs: http://kawasan.bappenas.go.id.

    Redaksi menerima tulisan dari pembaca dengan panjang tulisan maksimal 5 halaman pada kertas ukuran A-4.

    Redaksi berhak mengubah maupun mengedit tulisan.

    fokus Potret Penanggulangan Bencana di

    Indonesia ---1

    Konsep Kesiapsiagaan Terhadap Bencana di Tingkat Komunitas --- 8

    Opini Ahyudin, Penanganan Bencana Berbasis

    Masyarakat ----12

    Petrasa Wacana, Bencana Ekologi Sebagai Dampak Perubahan Iklim Global dan Upaya Peredaman Risiko Bencana---15

    Daerah Sejarah Pengetahuan PRBBK di

    Indonesia: Studi Kasus NTT --- 19 Penanggulangan Bencana di Provinsi

    Aceh ----- 22

    Potret BencanaWasior,Mentawaidan Merapi ---27 Rehabilitasi dan Rekonstruksi

    Pascabencana --- 30

    Pustaka Pengenalan Karakteristik Bencana dan

    Upaya Mitigasinya di Indonesia ----30

    Menata Asa dari Reruntuhan Gempa: Pengalaman Pendampingan Pelaku Industri Mikro Korban Gempa

    Jogjakarta ---- 32

  • 1 EDISI NOMOR 26 TAHUN 2010 BULLETIN KAWASAN.

    FOKUS

    Potret Penanggulangan Bencana Di indonesia

    Beberapa tahun terakhir keseharian kita senantiasa diwarnai berbagai berita kejadian bencana seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus, longsor, banjir, kekeringan dan bencana alam lainnya. Dampak bencana pun dirasakan semakin parah, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain kerusakan lingkungan yang parah, meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana, rendahnya tingkat kesiapsiagaan dan mitigasi serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana. Sementara itu, perkembangan teknologi media yang berdampak pada pergerakan arus informasi, sehingga peristiwa bencana yang terjadi dapat menarik perhatian jutaan penduduk dunia hanya dalam hitungan jam.

    Posisi Indonesia yang berada pada zona rawan bencana, menyebabkan ratusan ribu penduduk telah menjadi korban bencana dalam satu dekade terakhir. Walaupun respon secara cepat dan reaktif terhadap bencana telah diupayakan seoptimal mungkin, namun dampak psikologis dan sosio-ekonomi jangka panjang berpengaruh pada komunitas masyarakat yang terkena bencana dalam waktu relatif lama.

    Pengalaman menangani bencana yang terjadi di Aceh, Nias, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Bengkulu serta beberapa daerah lainnya telah mengalami perkembangan seiring dengan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka pemulihan pascabencana termasuk pemulihan ekonomi dan kepercayaan masyarakat.

    Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, menyatakan bahwa penanggulangan bencana merupakan salah satu bagian dari kebijakan pembangunan nasional dalam serangkaian kegiatan baik sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Selain itu, penanggulangan bencana merupakan tangung jawab bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dilaksanakan selaras dengan kebijakan dan prioritas pembangunan nasional dan daerah.

    Pada masa lalu bencana seringkali dipandang sebagai suatu kejadian yang terjadi secara acak, dimana respon reaktif hanya dibutuhkan ketika bencana terjadi. Namun, fakta sejarah dan bukti empiris membuktikan bahwa banyak peristiwa bencana yang berulang dan terjadi secara periodik di suatu wilayah tertentu. Walaupun sulit memprediksi waktu dan skala intensitas suatu kejadian dengan tepat di masa depan, namun Pemerintah dan masyarakat dapat melakukan suatu tindakan pencegahan yang berdampak positif dalam kaitannya dengan upaya mitigasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Hingga saat ini, manajemen bencana seringkali hanya sebatas respon reaktif jangka pendek, namun kurang berorientasi pada tindakan proaktif kesiapsiagaan serta upaya mitigasinya.

    Berkaitan dengan hal di atas dalam Bulletin Kawasan Edisi

    Bangunan Fisik yang Rusak Parah Akibat Bencana Tanah Longsor

    Sum

    ber

    : Doc

    BN

    PB

  • 2 EDISI NOMOR 26 TAHUN 2010 BULLETIN KAWASAN.

    ini membahas mengenai upaya penanggulangan bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia khususnya di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Papua Barat, dan Jawa Tengah.

    Provinsi Aceh sebagaimana kita ketahui dalam beberapa tahun belakangan kerap dilanda bencana alam bahkan yang terbesar dan tercatat dalam sejarah peradaban manusia adalah bencana gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004. Sementara Provinsi Sumatra Barat memiliki catatan penting dalam penanganan bencana gempa bumi di Indonesia. Wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir sering mengalami gempa bumi. Papua Barat salah satu wilayah di bagian timur Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam besar juga menyimpan potensi bencana alam yang besar, seperti banjir bandang di Wasior yang terjadi pada awal Oktober

    2010. Sementara Jawa Tengah DIY adalah daerah yang memiliki potensi ancaman bencana gunung Merapi yang selalu aktif dan secara periodik terus mengalami erupsi. Sementara disisi lain karakteristik dan kultur masyarakat jawa yang unik dalam menghadapi bahaya gunung Merapi kerap menjadi perbincangan di tingkat nasional dan dunia internasional.

    Penanggulangan Bencana Provinsi aceh

    Sejarah penanggulangan bencana di Aceh telah memberikan dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya. Bencana alam tsunami yang terjadi di Aceh tahun 2004 merupakan kejadian besar terakhir yang tercatat di samping bencana-bencana skala yang lebih kecil seperti banjir, abrasi, Kejadian Luar Biasa (KLB), dan kebakaran. Bencana tersebut memberikan dampak negatif terhadap hasil pembangunan dan proses pembangunan yang sedang berlangsung.

    Kombinasi dari keadaan geografis, geologis, dan aspek pembangunan menyebabkan Aceh memiliki sejarah bencana yang kompleks. Kendati telah terjadi bencana besar tsunami, Aceh masih tetap berpotensi terjadi bencana

    yang sama atau timbul bencana baru. Secara hidro-meteorologis, Aceh telah mengalami bencana banjir, kekeringan,